MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

200 views
Skip to first unread message

Mochtar Naim

unread,
Jan 15, 2013, 9:35:15 AM1/15/13
to rantaunet rantaunet rantaunet, su...@yahoogroups.com, ba...@yahoogroups.com, Meuthia Naim, Elvira Naim, Emil Pk, Amelia Indrajaya
 
 
 
Kawan2 di Dunia Maya,
 
Naskah berikut yang semula saya persiapkan untuk dibacakam sebagai Orasi pada upacara 80 Tahun
Mochtar Naim di Aula Gubernuran, hari Kamis tgl 10 Januari 2013 yl, ternyata tidak jadi dibacakan.
Saya jadinya menyampaikan Orasi saya secara lisan-spontan seperti diharapkan oleh Panitia. 
 
Silahkan baca bagi yang berminat...
 
 
 
MERANTAU SEPANJANG MASA,
MERANTAU DITINJAU KEMBALI
Mochtar Naim
 
Orasi yang disampaikan pada Acara
80 Tahun Mochtar Naim,
Kamis, 10 Januari 2013,
Di Aula Gubernuran Pemda Sumatera Barat, Padang.
 
I
E
MPAT PULUH TAHUN sudah sejak saya menyampaikan Disertasi mengenai “Merantau: Minangkabau Voluntary Migration” di University of Singapore Dept of Sociology (1973). Terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia oleh sahabat saya: Ansari dan Rustam St Rumah Tinggi (alm): Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau diterbitkan oleh Gadjah Mada Univ Press, tahun 1979, dan Edisi ke II nya tahun 1984. Sementara Edisi ke III nya dengan Penerbit Rajawali, terbit baru kemarin ini, bertepatan dengan hari maulid-natal ke 80 penulis sendiri, 25 Desember 2012 yl, yang juga dirayakan oleh seluruh dunia Masehi.        
            Kuliah-kuliah di bidang Sosiologi untuk tingkat PhD sudah saya selesaikan sebelumnya di New York University, New York, sambil mengajar Bahasa Indonesia di universitas yang sama dan bekerja di Perwakilan Indonesia ke PBB, dsb, di mana saya sempat bermukim selama 8 tahun, dan isteri, Asma, 6 tahun, di kota metropolitan NY itu, ketika Indonesia sedang bergolak karena pemberontakan PRRI dan Permesta.
            Sebelum ke New York, selama dua tahun, saya merantau ke Kanada, ke kota Montreal yang berbahasa dobel, Inggeris dan Perancis, melanjutkan studi tentang Islam untuk Master di Institute of Islamic Studies, McGill Univ. Dan itupun langsung tancap dari Yogya dengan mutar-mutar dulu di Baghdad, Kairo dan beberapa kota di Eropa. Dengan hanya sebuah surat rekomendasi dari Buya Hamka yang waktu itu adalah profesor Tasawuf dan Sejarah Islam di PTAIN saya berangkat ke Kanada tanpa mengepit gelar Drsnya dalam bidang Studi Islam di PTAIN ataupun bidang studi ekonomi di UII, di Yogya. Saya begitu tamat dari SMA Negeri Birugo di Bukittinggi th 1951, langsung tancap ke Yogya memasuki Univ Gadjah Mada Fakultas HESP (Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik), dan dapat beasiswa dari Kemdikbud. Di PTAIN pun sesudah itu saya juga dapat beasiswa, semua karena nilai baik yang saya bawa dari SMA Negeri Birugo Bukittinggi. Namun UGM kemudian saya tinggalkan dan saya konsentrasi ke studi Islam dan Ekonomi. Saya memerlukan setahun lagi di tingkat doktoral untuk mendapatkan gelar Drs di kedua sekolah tinggi tersebut. 
          
         Selama 8 tahun di negeri Paman Sam itu, sayapun sempat menete ke sana ke mari. Saya sempat setahun, sebelum ke New York, jadi asisten peneliti di Yale University, di bawah Prof Karl Pelzer yang ahli ekonomi geografi perkebunan di Sumatera Timur, dan Prof Isidore Dyen, ahli bahasa-bahasa Malayo-Polinesia. Lalu jadi pengajar Bahasa Indonesia sebagai instruktur dan native speaker di Cornell Univ, dan di SUNY Oswego College, NY State, di tepi danau Ontario, sebagai profesor tamu.
            Sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang dari rantau Amerika itu, kami mendapatkan dua anak belahan jiwa: Amelia Indrayeni (1965) dan Emil Hasan (1966), yang sekarang juga sudah jadi orang, dengan masing-masing punya 4 anak. Yang tertua dari anak Amelia, cucu pertama kami, Affan Rizki, 23 tahun, bahkan sudah menamatkan studi Ekonomi Internasionalnya di Univ Tilburg, Negeri Belanda. Anak kami yang ketiga, Elvira Endajelita, hasil satu-satunya dari ranah kampung halaman sendiri, setelah pulang kembali ke sarang, lahir di Padang, ketika sedang kasak-kusuknya menyiapkan Seminar Kebudayaan Minangkabau di Batu Sangkar, tahun 1970. Sebagai oleh-oleh anak terakhir, bungsu, untuk dibawa pulang dari rantau Singapura, Meuthia Alvernia, lahir di rumah sakit Mount Alvernia, Singapura tahun 1972, ketika juga bersihening menyiapkan disertasi Merantau itu. Kemana orang tua ke sana juga anak-anak, sehingga merekapun menjadi pengembara dunia ke berbagai penjuru benua. Ke empat-empatnya lulusan ITB yang dua di antaranya sekarang juga mengikuti jejak Dad-nya mengambil gelar Dr, satu yang tua di UI dan satu lagi yang bungsu, sudah hampir selesai, di Griffith U, Brisbane, negara ‘Kang Guru,’ Australia. Sedang Masternya, Amelia dapatkan di  Univ of Colorado, Boulder, AS; Elvira di National Univ of Singapore dan Meuthia di Univ of Leeds, England. Meuthia ditemani oleh anak satu-satunya, sibiran tulang, Ismail Halim Suyudi, 10 tahun, lahir di Leeds, England, bersekolah di Brisbane, Australia. Emil, anak laki-laki kami satu-satunya, walau tidak melanjutkan tapi punya kedudukan cukup mantap di perusahaan minyak Chevron di Balik Papan, dan aktif sebagai ustadz menyuarakan gerakan Khilafah ke masa depan, di bawah bendera Hizbut Tahrir.
            Belum pula dengan suami-suami dan isteri dari anak-anak kami yang adalah menantu-menantu kami. Mereka tanpa kecuali juga punya pendidikan yang baik. Suami Amelia, Indrajaya Putera Januar –kami besanan dengan Pak Ir Yanuar Muin--, lulusan ITB, PhD di Univ of Colorado di Boulder, USA; isteri Emil, Nina Rosalina Rusli Dahlan, sarjana Bahasa Jepang – kami besanan dengan Rusli Dahlan SH, kawan sekuliah Asma di UII Yogya, orang Banuhampu juga; Ir. Eri Rusli, suami Elvira, insinyur metalurgi dari UI, orang Kubang Putiah, Banuhampu; dan Yudi Suyudi, satu2nya menantu non-Minang dari Sunda, lulusan ITB dan Master di bidang Environment dari Leeds Univ, England, bersama dengan Meuthia. Semua, juga tanpa kecuali, suka berlanglang-buana manca-negara dan merantau ke mana-mana. Dan perangai ini juga menurun ke cucu-cucu yang juga sudah ikut merayap di dunia ini ke mana-mana ke mancanegara.
 
LIHAT SELANJUTNYA DI ATTACHMENT!
II
130110 1 MERANTAU DIKUNJUNGI KEMBALI.docx

taufiq...@rantaunet.org

unread,
Jan 15, 2013, 3:29:59 PM1/15/13
to rant...@googlegroups.com

Memang nampaknyo baliau ko "ba bana surang"

Hanyo babuek nan takana dek baliau sajo, tanpa memikirkan/merespon berbagai tanggapan thd baliau sabalunnyo di palanta iko

Sahinggo berbagai tanggapan sabalunnyo hanyo bagaikan batu jatuh kelubuk sajo

---TR
58 th, bandera sirah, mangakeh di banua etam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Mochtar Naim <mocht...@yahoo.com>
Date: Tue, 15 Jan 2013 22:35:15 +0800 (SGT)
Cc: Meuthia Naim<meuthia...@yahoo.com>; Elvira Naim<elvir...@yahoo.com>; Emil Pk<emi...@yahoo.com>; Amelia Indrajaya<ameli...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
 
 
 

Zulkarnain Kahar

unread,
Jan 15, 2013, 4:04:15 PM1/15/13
to rant...@googlegroups.com

Berterima kasihlah pada si buruk Indonesia ini karena tak banyak anak negeri yang mendapat kesempatan seperti Bapak. Kalau urusan pintar berjibun orang pintar dinegeri ini tapi kesempatan belum menemui mereka..

Ini lagu Elvis untuk Bapak dengarkan lah sambil berleha leha dihari tua....
 
What a Wonderful Life
It’s a wonderful life
This life I’m livin’
What a wonderful life, days with a life of ease, oh-ho-oh
Well, I’ve got no job to worry me
No big bad boss to hurry me
It’s a wonderful life life’s good to me

It’s a wonderful road
This road I’m travelin’
It’s a wonderful road headin’ beyond the hills, oh-ho-oh
Oh it may go straight or it may detour
But one thing that I know for sure
It’s a wonderful life, life’s good to me

Don’t know where I’m goin’
Don’t care where I’m goin’
Like the four winds are blowin’ I go on
Laughin’ the day away, lovin the night away
Till the moon is gone
It’s a wonderful life
This life I’m livin’
What a wonderful life
Livin’ the life I love, oh yeah
Well I’ve got neighbors, I’ve got friends
Just about anywhere the rainbow ends
It’s a wonderful life, life’s good to me

Don’t know where I’m goin’
Don’t care where I’m goin’
Like the four winds are blowin’ I go on
Laughin’ the day away, lovin the night away
Till the moon is gone
It’s a wonderful life
This life I’m livin’
What a wonderful life
Livin’ the life I love, oh yeah
Well I’ve got neighbors, I’ve got friends
Just about anywhere the rainbow ends
It’s a wonderful life, life’s good to me
What a wonderful life, life’s good to me, yeah
Crazy life, life’s good to me
Oh what a life
 
Zulkarnain Kahar

From: Mochtar Naim <mocht...@yahoo.com>
To: rantaunet rantaunet rantaunet <Rant...@googlegroups.com>; "su...@yahoogroups.com" <su...@yahoogroups.com>; "ba...@yahoogroups.com" <ba...@yahoogroups.com>
Cc: Meuthia Naim <meuthia...@yahoo.com>; Elvira Naim <elvir...@yahoo.com>; Emil Pk <emi...@yahoo.com>; Amelia Indrajaya <ameli...@yahoo.com>
-- -- .* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.===========================================================UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:- DILARANG:1. E-mail besar dari 200KB;2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner.- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.===========================================================Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/   

ajo duta

unread,
Jan 15, 2013, 6:46:12 PM1/15/13
to rant...@googlegroups.com
Terima kasih Uda Mochtar telah berbagi orasinya. Ada rasa kebanggan
terutama anak2 juga berhasil dalam studi dan tetap ber ABSSBK.


2013/1/15 Mochtar Naim <mocht...@yahoo.com>
--
--
.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
 
 
 



--
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------

Evy Nizhamul

unread,
Jan 15, 2013, 8:53:30 PM1/15/13
to rant...@googlegroups.com, su...@yahoogroups.com, ba...@yahoogroups.com, Meuthia Naim, Elvira Naim, Emil Pk, Amelia Indrajaya

Kawan kawan di dunia maya,
(meminjam istilah sebutan pak MN :D) 

Mengutip QS A Rahman : ' Nikmat mana lagi kah yang engkau dustakan '? 

Semoga cerita pak MN ini tidak membuat yang lain berkecil hati. Semua fungsi dan peran kita sudah dalam takdir Allah. 
Karena itu, Jadikan diri untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita.

Saya kutip sketsa perjalanan dari buku Kunang-kunang ~ Sketsa Perjalanan : 

Jikalau ber-angan menjadi matahari
Bersiaplah menyinari bumi dengan segala ikhtiar
Jikalau ber-angan menjadi jadi bulan atau bintang
Bersiaplah menyinari  malam yang gelap

Jika kau tak pernah jadi matahari
Berusahalah menjadi bulan
Ketika kau tak mampu menjadi bulan
Berusahalah menjadi bintang

Ketika kau tak menjadi matahari, bulan dan atau bintang
Jadilah  kau seekor kunang-kunang
Kunang-kunang tak mampu menyinari yang lain
Namun dapat menyinari dirimu sendiri



Selamat buat pak Mochtar atas perjalanan hidupnya yang indah.

Wassalam,

3vy Nizhamul
(Tanah Merah, Pomalaa, Kolaka)





________________________________
Dari: Mochtar Naim <mocht...@yahoo.com>
Kepada: rantaunet rantaunet rantaunet <Rant...@googlegroups.com>; "su...@yahoogroups.com" <su...@yahoogroups.com>; "ba...@yahoogroups.com" <ba...@yahoogroups.com>
Cc: Meuthia Naim <meuthia...@yahoo.com>; Elvira Naim <elvir...@yahoo.com>; Emil Pk <emi...@yahoo.com>; Amelia Indrajaya <ameli...@yahoo.com>
Dikirim: Selasa, 15 Januari 2013 21:35
Judul: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

ak...@rantaunet.org

unread,
Jan 15, 2013, 9:22:13 PM1/15/13
to rant...@googlegroups.com

Alhamdulillah, senang membaca bagaimana Pak MN dan keluarga besar mendapatkan kelimpahan hidup yang mungkin hanya mimpi bagi sebagian besar orang Minang.

Dalam konteks kontribusi keilmuan, selain riset Pak MN tentang merantau, adakah bentuk aplikatif dari hasil studi bapak itu yang pernah (sudah) diterapkan untuk meningkatkan taraf hidup rang Minang? Nilai dasar apa yang bisa dilekatkan pada rang Minang semisal "American Dream", "Japanese Bushido" atau kalau pada kategori sosial yang horisontal konsep "Protestant Ethic" yang pernah diteliti Max Weber, dan dikaitkan dengan kebangkitan kapitalisme (Protestant Ethic and The Spirit Capitalism).

Jika merantau adalah aktivitas fisik, apa sebenarnya value urang Minang itu, Pak MN?
Kemandirian? Survival? Atau apa?

Kita ingat menyusul huru-hara 1998 di mana banyak pemodal dan industrialis besar, terutama di sektor keuangan, masuk "karantina" dan menjadi pasien BPPN, ekonomi di level mid dan grass root yang banyak diisi rang Minang praktis bertahan tak tergoyah oleh imbas gonjang-ganjing. Apakah ini salah satu "value" yang bisa diduplikasi dan diterapkan bagi sektor lain dalam kehidupan etnis Minangkabau?

Mohon pencerahan Pak MN.

Salam,

Akmal N. Basral
44+, Cibubur

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Mochtar Naim <mocht...@yahoo.com>
Date: Tue, 15 Jan 2013 22:35:15 +0800 (SGT)
Cc: Meuthia Naim<meuthia...@yahoo.com>; Elvira Naim<elvir...@yahoo.com>; Emil Pk<emi...@yahoo.com>; Amelia Indrajaya<ameli...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

--

Eri Bagindo Rajo

unread,
Jan 15, 2013, 9:49:44 PM1/15/13
to rant...@googlegroups.com
ASSALAMUALAIKUM WW

ALHAMDULILLAH pak MN, sabana sanang dan gembira kami mambaco kisah keluarga pak MN.

Boneh satangkai nyo sampai ka ujuang, luar biaso kurnia ALLAH SWT kapado pak MN.

Ambo manyampaikan tarimokasih karano DESERTASI pak MNjadi acuan anak ambo dalam manulih tesis no tentang pedagang Minang Tanah Abang dalam kajian social network, community, trust dan patron-client relationship.

Wassalam
Erinos M Tanjung Bagindo Rajo
jkt,55




Dari: ajo duta <ajo...@gmail.com>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Dikirim: Rabu, 16 Januari 2013 6:46
Judul: Re: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

andi...@rantaunet.org

unread,
Jan 16, 2013, 12:25:19 AM1/16/13
to rantaunet rantaunet
Uni Evy dan Dunsanak palanta RN

Ya saya termasuk kawan Uni Evy jugakan di dunia Maya :-)

Jika pribadi saya jauh dari berkecil hati dan insya Allah saya bersyukur apapun yang saya dapat di NKRI sebagai orang minang yang merantau mulai tamat SMA dengan segala suka dukanya dan segala sesuatu memang saya merantau terutama memasuki dunia kerja dimulai dari NOL

Kalaupun saya sedikit katakanlah "emosional" menanggapi atas "gugatan" NKRI pak MN itu tidak lebih tidak kurang karena saya melihat kondisi lansung betapa memang terutama sejak era Otonomi ini saya tidak atau belum bisa merasa yakin jika apa yang di bilang beliau Pak MN kebentuk Federal "kerjasama dan persatuan lebih kuat"

Alhamdulillah Pak MN boleh dikatakan sangat sempurna sekali perjalanan hidupnya merantau dan mendidik anaknya menjadi "orang" di negara yang berbentuk NKRI ini bolehlah dikatakan beliau berada pada "zona nyaman"

Kita orang minang yang merantau ke seluruh penjuru Nusantara (NKRI) ini berbagai profesi , tingkat pendidikan dan berusaha mencari nafkah di daerah orang lain di NKRI baik dalam usaha produk, barang dan jasa disektor formal (birokrasi, PNS, Militer) , Swasta dan non formal (manggaleh dll)

Ada yang memicu saya memang jika mengkritisi wacana atau orasi "menggugat NKRI" pak MN tsb.

Jika kita lihat sekarang di akar rumput (grass root) sejak otonomi tsb memang sentimen kedaerahan cukup tinggi dalam arti jika ada hal-hal yang sepele bisa melebar dan berkobar menjadi konflik horizontal dan vertikal berbau SARA

Kalau kita bisa membaca dan menyimak nama organisasi-organisasi kedaerahan seperti "Gasak Libas, Palak, Laskar ini itu, lalu diembel-embeli nama binatang buas seperti Harimau, Macan dll" itu bagi saya sebuah peringatan bagi (orang minang) yang merantau kesuatu daerah kira2 saya terjemahkan nama2 organisasi kedaerahan tsb adalah ;

"Hati-hati kalian merantau ke daerah kami,ini daerah kami dengan segala kekayaan SDA nya...dst dst"

Mau faktanya

ini saya alami sendiri dan sudah menjadi berita nasional di daerah kutai Barat bagaimana hanya masalah sepele saja awalnya di SPBU ada kesalahan pahaman anatara putra daerah dengan pendatang (perantau tapi non minang) akhirnya melebar kemana-kemana yang berakibat tindakan anarkhis, pembakaran kantong2 ekonomi ditingkat masy terutama di pasar tradisional dan berlanjut tindakan sweeping yang membuat perantau ketakutan dan mencari perlindungan dan terpaksa beberapa karyawan kami suku tertentu karena perusahaan saya punya helikopter beberapa unit melakukan evakuasi dan ada beberapa toko/kedai orang awak yang merantau ikut terbakar dan kena sweeping.

Pertanyaan apakah kawan dunia maya merasa yakin jika Federal akan lebih baik terutama ditingkat akar rumput jika dikaitkan orang minang yang Merantau begitu banyak jumlahnya di NKRI ini.

Tapi kalau Pak MN mengkritisi ketimpangan sosial, sistim kekuasaan yang korup dll itu masih dalam hal2 yang normatif saja, saya pikir ya itu tadi beliau dan klga di NKRI ini berada posisi "Zona nyaman" atas segala kesuksesan beliau , apa tidak mencoba sedikit "manenggang" orang2 minang yang merantau di NKRI terutama yang masih jauh dari zona nyaman hidup mencari nafkah, mau dikemanakan orang minang yang merantau ini kelak jika Federal dan diusir oleh suku lain karena sentimen kesukuan dan mereka memahami Federal itu secara awam.

Lalu Pak MN dari pandangan beliau begitu sinis dan cendrung benci pada sistim-sistim Kapitalis, seolah-seolah semua seakan runtuh di NKRI yang buruk ini (pakai istilah Pak Zul) dan mau tidak mau kita harus akui (mudah2an Pak MN mengakui juga) apapun barang2, produk dan jasa yang kita gunakan sehari-hari (80 persen tidak akan lari) memang diciptakan dengan mengadop sistim kapitalis (secara ekonomi ya) tidak banyak sektor-sektor usaha seperti kondisi ideal yang dipikirkan Pak MN (diatas kertas) yang mandiri berdiri diatas diri sendiri yaitu Koperasi atau bank-bank (pro)kerakyatan.

Seperti kata Akmal apa aplikasi dari Pak MN jika Pak MN memang melakukan sebuah gerakan (aksi) paling tidak ada contoh "gugatan atau pandangan beliau" dia yang menjadi pemicu bagi masyarakat lain semisal beliau membuat koperasi kerakyatan, mengandal apa yang ada bangsa ini tabu memakai produk yang diciptakan oleh sistim kapitalis dan lain sebagainya seperti dicontohkan oleh tokoh intelektual Bangladesh (Bank Rakyat itu) saya lupa namanya ? Atau mungkin yang lebih revolusioner ya seperti Mahatma Gandhi ..dan berdampak begitu hebat bagi sebuah perubahan dimana rakyat semua lapisan terutama ditingkat bawah kearah yang lebih sejahtera boleh lah beliau jika saya mengutip sebuah judul lagu Iwan Falls dikatakan "Manusia 1/2 Dewa" (mohon disikapi sebuah metafora saja)


Demikian banyak maaf

Salam-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Cc: Meuthia Naim<meuthia...@yahoo.com>; Elvira Naim<elvir...@yahoo.com>; Emil Pk<emi...@yahoo.com>; Amelia Indrajaya<ameli...@yahoo.com>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 16, 2013, 12:49:31 AM1/16/13
to rant...@googlegroups.com


Pada Rabu, 16 Januari 2013, menulis:
Uni Evy dan Dunsanak palanta RN

Ya saya termasuk kawan Uni Evy jugakan di dunia Maya :-)

...


Seperti kata Akmal apa aplikasi dari Pak MN jika Pak MN memang melakukan sebuah gerakan (aksi) paling tidak ada contoh "gugatan atau pandangan beliau" dia yang menjadi pemicu bagi masyarakat lain semisal beliau membuat koperasi kerakyatan, mengandal apa yang ada bangsa ini tabu memakai produk yang diciptakan oleh sistim kapitalis dan lain sebagainya seperti dicontohkan oleh tokoh intelektual Bangladesh (Bank Rakyat itu) saya lupa namanya ? 

....


Demikian banyak maaf

Salam-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

--------

ANB: Namanya Prof. Muhammad Yunus, kanda Jepe, pendiri Grameen Bank, dan Nobelis Perdamaian 2006. Waktu saya masih di TEMPO, saya pernah mewawancarai beliau. Orang yang sederhana, banyak bergurau, dan memakai pakaian khas Bangladesh seperti gamis Arab itu kemana-mana.

Prof Yunus memang luar biasa. Lahir dari keluarga berada, dan sudah nyaman hidup di Barat, tapi memutuskan pulang kampung dan membenahi ekonomi rakyat lewat gebrakan mikro kredit dalam bentuk pinjaman uang untuk beli payung sampai pulsa telpon, agar semua benda yang sebelumnya akrab dengan masyarakat tapi tak punya nilai ekonomis, bahkan konsumtif, menjadi aset produksi.

Lebih dari itu, Prof Yunus membalikkan stereotipe negatif nasabah kecil yang sebelumnya dikaitkan dengan kredit macet (non-performing loan tinggi) yang membuat bank-bank konvensional ogah membantu mereka, justru menjadi kesan positif karena NPL di segmen ini justru amat sangat rendah. Mereka disiplin mengembalikan pinjaman mikro kredit sesuai jatuh tempo. 

Ini yang sebelumnya pernah saya sebutkan dalam posting juga tentang Organisasi Minang sebagai pressure group. Kalau Prof Yunus diundang ke Minang, atas dasar persahabatan sesama komunitas Muslim Asia, dan cara kerja Grameen diduplikasi, sangat mungkin perbaikan di level ekonomi rakyat ini akan berkembang signifikan.

Wassalam,

ANB
Cibubur

 
 
 
 


 
 
 

andi...@rantaunet.org

unread,
Jan 16, 2013, 1:46:40 AM1/16/13
to rantaunet rantaunet
Terima kasih atas penjelasannya Dinda Akmal, ya Prof M Yunus itu yang saya maksud, maklum lah kadang2 antene suko manakua jadi gelombang nan randah2 sajo tatangkok :-)

Nah sy pikir Pak MN bisa jadi Prof M Yunusnya orang awak paling tidak aplikasi nyata secara lansung di ranah minang yang lansung dieksekusinya dilapangan segala pemikiran beliau yang jernih "diatas kertas" itu

Kalaupun perlu modal awal dari hati saya yang paling dalam mau "share" tentunya sesuai kemampuan saya.

Jujur saya katakan sebagai orang minang yang merantau ke daerah orang dalam NKRI saya memang mencari penghidupan pada usaha yang dikelola oleh sistim Kapitalis dalam kontek ekonomi bahasa sederhanya

"Pemilik modal (kapital) boleh mengeruk untung sebanyak-banyaknya dan sebaliknya boleh juga rugi melarat sebesar-besarnya"

Beliau posting orasinya disini dan kita baca, silahkan simak sendiri (karena kita baca toh dengan detail) anak beliau yang sukses2 itu saya pikir juga merantau dan bekerja pada sistim Kapitalis disebuah perusahaan minyak negara Barat..alhamdulillah sebuah kenikmatan bagi beliau dan klga sebagai orang minang yang merantau di NKRI, dari sekian banyak orang minang lainnya yang berada pada "zona nyaman"

Wass-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>
Date: Wed, 16 Jan 2013 12:49:31 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

Lies Suryadi

unread,
Jan 16, 2013, 5:08:36 AM1/16/13
to rant...@googlegroups.com
Salam Dunsanak di lapau kasado alahe,
 
Manuruik pandangan ambo nan awam, reflesi Sanak Jepe ko sabana baranjak dari realitas sosial. Dalam abaik ka-19 etnis2 nan kini manyabuik dirinyo 'urang Indonesia' ko masih namuah dipacakak'an dek Ulando baru: Urang Jawa dibao parang ka Minang, urang Madura dibao parang ka Makasar, dll. Kalau kito caliak midiak2 jo taropong sosiologi, pemahaman nations-states masiang2 etnis dalam negara Indonesia nan laweh ko babeda2 tingkeknyo. Urang Minang, basyukur dek budaya marantaunyo nan lah relatif tuo, jauah labiah leba alam pancaliak'anyo dibandiang etnis lain. Bacolah refleksi Djamaluddin Adinegoro tentang iko dalam bukunyo Kembali dari Melawat ke Barat (1930). Iko bukan mangapik daun kunik. Urang Jawa, lapisan sosial tingkek ateh lumayanlah, tapi di kelas gras root --maminjam istilah Sanak Jepe -- masih relatif ekslusif juo baru.
 
Kalau kito pai ka wilayah timur Indonesia, taraso, sentimen etnis di daerah2 tu masih kareh. Saketek sajo dipantiak isu etnisitas ko, bisa jadi api manggabubu. Baitu juo soal agamo. Namun, hal itu tak kurang tampak di Indonesia bagian barat. Konsep 'otonomi daerah' nan rancak tu, nan dibuek dek urang2 badasi-bapintalon di Jakarta, nan pinta e tidak kepalang tu, 'diterjemahkan' sacaro kaliru dan sempit dek daerah2. Tumah kini, lah tampak 'hasil'nyo: friksi2 antar etnis, antar golongan, makin mengkhawatirkan, malah labniah banyak nan cenderung maadu fisik daripado maadu argumen dalam debat dan diskusi.
 
Bagi ambo, gambaran Sanak Jepe tentang namo2 banyak organisasi massa nan mengandung arti kekerasan itu sangaik menarik. Iko jaleh bahan kajian atropolinguistik nan menarik (pasti ado scholar nan tertarik manaropong fenomena ko sacaro ilmiah). Jaleh bahaso itu adolah semacam 'cultural site' melalui mano kito dapek maresek2 'cultural significance' nan ado di baliak namo2 tu, nan dek banyak urang mungkin kelihatan sepele. SANAK JEPE JAN MARANDAH BANA, MANURUIK AMBO, REFLEKSI SANAK JEPE DALAM EMAIL DI BAWAH LABIAH MAH DARI PENOROPONGAN ILMIAH SORANG MAHASISWA S2 SOSIOLOGI. Sacaro pribadi, ambo satuju dengan pandangan Sanak Jepe.   
 
Sadangkan sistem OTONOMI DAERAH sajo lah co itu. Apolai kalau sistem NEGARA FEDERAL. Baa agak hati nasib provinsi2 nan agak kakurangan dari segi sda dan sdm sarupo NTT atau nan lain? Mungkin provinsi2 nan kayo bantuak Riau dll. cenderung akan mangecek: mati sorang sae lah waang, indak urusan den.
 
Soalnyo, perjalanan politik sebuah nasion-states ko indak bisa dikacau2 sajo bantuak urang mambuek tangguli doh. KOK TAU BANA SAJAK 17 AGUSTUS 1945 KITO SUPAKAIK JADI NEGARA FEDERAL, MUNGKIN KINI AKAN JADI TABIASO. Tapi kalau diubah2 sajo tanpa perhitungan, resiko politiknyo gadang. Mungkin ado nan indak setuju, tapi buliah kito diskusikan. Lieklah negara2 maju: umumnyo sistem politiknyo stabil, indak baubah2. Tapi perangkat2nyo nan selalu di-upgrade, diperbaharui, disempurnakan.
 
Jauah di baliak itu, nan ambi ingin diskusikan adolah: BANGSA INDONESIA INI MAU APA, MAU KEMANA? MASIH MAU JADI BANGSA INDONESIA ATAU MAU JADI BANGSA PAPUA, BANGSA MINANGKABAU, BANGSA BALI, dll.? Rentang waktu 1945-2013 alah kito lalui sebagai sebuah 'BANGSA', tapi sacaro hakikat masih dalam tando kutip baru. Masih bayi merah. Mah lah samo kito caliak bahaso pemahaman NATION kito tu masih gaca baru, ibaraik manusia, masih baumua 2 bulan. Maraknyo budaya korupsi di negara ko, tarutamo di kalangan politikus dan birokrat, merefleksikan bahaso dalam hati dan utak banak mereka alun tumbuah lai apo itu NATION-STATE: sebuah konsep nan semestinyo mambuek urang batenggang raso satu samo lain, saling membantu, dalam sebuah kerangka geografis antaro Sabang sampai Merauke, dengan idak maliek warna kulik, tingkek pendidikan, agamo, kelas sosial dll. 
 
Jadi, kok ka mambuek negara FEDERAL juo: cubo pikia2 banalah dulu. Aniang saribu aka, nanang ulu bicaro. SETIAP BANGSA MEMERLUKAN SISTEM POLITIK YANG BERBEDA DENGAN MEMPERHITUNGKAN FAKTOR2 KULTURAL, DEMOGRAFIS, SEJARAH, dan TINGKAN PENDIDIKAN BANGSA YANG BERSANGKUTAN. Jan mancaliak konsep negara federal di Amerika rancak, mensejahterakan rakyaiknyo, lalu co ilmu koncek sajo ingin pulo kito menerapkannyo di Indonesia, samantaro faktor2 kultural, demografis, sejarah, dan pendidikan antaro kedua bangsa itu sangaik berbeda.
 
Baak agak hati Dunsanak di lapau tu? Iko pikiran nan kalua dek manuang2 sambia marosok tapi kain saruang surang di nagari urang nan disabuik 'negara maju' tu. Padohal, rumpuik sajo cuma bisa tumbuah 3 bulan dalam sataun nyeh di nagari e tu.
 
Wassalam,
Suryadi

Zuhrizul

unread,
Jan 16, 2013, 5:33:03 AM1/16/13
to rant...@googlegroups.com

Iko iyo mantap disskusi ko. Sato ambo ciek. Sabananyo alah banyak urang rantau nan buek bpr di ranah. Tapi maaf Malah bungonyo samo yo rentenir. Sudahtu caro karajonyo samo lo yo bank convensional. 
Mancari urang minang nan batua2 ikhlas condo prof yunus ko yo agak payah. 
Maaf ateh kritikan ambo ko.
Zuhrizul/ 40 th. chaniago
Sent from my iPhone

andi...@rantaunet.org

unread,
Jan 16, 2013, 6:48:00 AM1/16/13
to rantaunet rantaunet
Salam Sanak Suryadi dan dunsanak RN

Itu fakta Sanak Sur sudah puas jugalah rasanya saya bermain-main dan mengamati hal-hal yang berbaun kedaerahan/etnis ini ditingkat grass root

Nama-nama galak itu memang ada saya temui, sebuah singkatan memang apa itu SIKAT LIBAS, GASAK dan PALAK serta embel-embel binatang buas khas daerah masing-masing seperti Harimau dan Macan yang banyak dijumpai, tentu menjadi pikiran bagi kita orang yang merantau/ bukan putra daerah, apa di balik nama2 tersebut, kalau kecek si Jibun konco sanak dilapau Ajo Badek tu

"Saluang je lah nan manyampaikan Sur..aa maksuik e namo organisasi kedaerahan itu"

Saya pikir Pak MN hanya "meng adu-adu" buku aja selama ini dikamar kerjanya jika melihat federal itu, bagus dinegara ini, maju dinegara itu, semakin kuat persatuan..itulah dalam pikirannya di buku (mungkin) tapi sebagai seorang sosiolog intelektual kenamaan harusnya juga melihat pemahamam-pemahaman di masyarakat banyak di daerah2 NKRI yang awam dan bercermin terhadap konflik2 berbau SARA yang terjadi selama ini, ditingkat masyarakat awam jalan pemikiran mereka Federal itu kasarnya ;

"Ko nagari den.. Manga kalian disiko mangakeh cari makan, pulang ka daerah masiang-masiang"

Atau seperti yang disampaikan Suryadi "mati sorang sea lah waang, bukan urusan den"

Pak MN N.A.H, bpk mau tahu bagaimana sentimen kedaerahan ditingkat masyarakat bawah itu begitu mudah terjadi hanya hal-hal yang sepele dan bisa dimanfaatkan buat sebuah kekacauan serta tindakan anarkhis yang berakibat lumpuhnya aktivitas ekonomi disuatu tempat dan ujung2nya memakan korban serta biaya yang mahal dalam penyelesaiannya

Begini simak baik-baik

Awalnya sebuah suku pendatang punya SPBU, karena BBM terbatas suku ini secara kebetulan melayani suku dia yang beli bbm, pas suku tempatan datang minyak habis atau tidak dilayani, mereka ngotot dan marah2 mungkin sedikit adu mulut dan ada benturan fisik.

Putra daerah melapor dan didramatisir dipukul oleh si A suku ini, lalu serang secara kelompok kecil, suku A meladani, masuk bumbu2 sentimen SARA berantai panas konflik ini bukan deret hitung ℓągȋ̊ tapi sudah deret ukur yang berlipat akhirnya tindakan anarkis menjalar ke pusat ekonomi seperti pasar trad, besok sudah mulai main sweeping

Tapi saya setuju dengan apa yang disampaikan Suryadi pemahaman kita orang minang cukup bagus dalam merantau ke suatu daerah di NKRI mungkin karena orang kita lebih cendrung menghindari benturan fisik dan sedikit mengalah dan bisa bertolerasi, mungkin pesan yang paling klasik sebagai orang minang selalu tertanam adalah ;

"Dima bumi dipijak disinan langik dijunjuan" lalu masuak kandang kambiang mangembek, masuak kandang harimau mangaum lebih bijaksana ℓągȋ̊

'Ketika sudah jadi harimau didaerah orang tentu tidak akan menggertak-gertak petantang petenteng kambing orang kampung dimana merantau"

Tapi ya sudahlah Pak MN ini saya pikir dia sudah berada pada "Zona Nyaman" jadi pemikiran2 dia itu tidak perlu diaplikasi secara kongkrit dilevel grass root apalagi berharap menjadi Prof M Yunus-nya ranah minang dalam kontek penerapan sistim2 ekonominya itu di ranah minang khususnya,jadi memang kurang rasa "manenggang" pak MN bagi kebanyakan orang minang yang merantau di NKRI lalu mengeluarkan pernyataan (bahasa media ; Menggugat NKRI ke bentuk Federal)


Karena beliau tokoh intelektual..paling tidak akan di baca pernyataan beliau di propinsi tetangga yaitu Riau, ini semakin memicu juga sentimen kedaerahan yang kita sama2 tahu bagaimana saat ini sikap orang Riau (putra daerah) terutama dikalangan birokrasi dan kekuasaan yang memang ada "primodial yang sempit" melihat orang minang seperti yang sudah berulang kali di bahas di palanta RN ini.

Demikian dan banyak maaf

Wass-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Lies Suryadi <niad...@yahoo.co.id>
Date: Wed, 16 Jan 2013 18:08:36 +0800 (SGT)
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU KEMBALI

--
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages