Jumat, 28/06/2013 09:42 WIB
Ini Video Saat Munarman Menyiram Tamrin Tomagola di TVOne
Rachmadin Ismail - detikNews

Jakarta - Insiden penyiraman sosiolog Tamrin Tomagola oleh jubir FPI Munarman terekam dalam video dan disiarkan langsung. Ini video detik-detik saat kejadian.
Dari video berdurasi 17 detik yang diupload di YouTube, Jumat (28/6/2013) itu terlihat Munarman emosi saat diskusi tengah berlangsung. Tamrin yang disiram pun tak mau meladeni aksi tersebut. Dia menyebut apa yang dilakukan Munarman sebagai tingkah preman.
Insiden itu terjadi sekitar pukul 07.45 WIB saat acara diskusi Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne membahas pelarangan sweeping tempat hiburan malam. Semula diskusi berlangsung tenang dan saling berargumen, namun Munarman terpancing emosinya saat saling sanggah dengan Tamrin.
Saat insiden itu terjadi, dua orang presenter TvOne yang memandu acara berusaha merelai. Tapi baju sang sosiolog sudah tampak basah.
Sebetulnya ada beberapa video lain yang muncul di situs jejaring sosial dan menayangkan aksi tersebut. Namun ini yang paling singkat:
Simak aneka berita penting dan menarik hari ini di "Reportase Sore", pkl.16.30 Wib hanya di TRANS TV
(mad/rvk)
Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.
Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.
Secara bahasa,
الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ
rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Penafsiran Para Ahli Tafsir
1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Tafsir Ibnul Qayyim:
“Pendapat yang lebih benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa rahmat disini bersifat umum. Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran:
Pertama: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus.
Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.
Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain.
Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah Ta’ala tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Kedua: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana jika dikatakan ‘Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit’. Andaikan fulan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat”
2. Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir:
“Makna ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat’ ”
3. Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam Tafsir Ath Thabari:
“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mu’min dan kafir? Ataukah hanya manusia mu’min saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini:
من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”
dalam riwayat yang lain:
تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل
“Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu”
Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini:
فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة , وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين . والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه
“Dengan diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah, walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya”
Pendapat yang benar dari dua pendapat ini adalah pendapat yang pertama, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. Yaitu Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, baik mu’min maupun kafir. Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah” (diterjemahkan secara ringkas).
4. Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi dalam Tafsir Al Qurthubi
“Said bin Jubair berkata: dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
كان محمد صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس فمن آمن به وصدق به سعد , ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق
“Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan membenarkan ajaran beliau, akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau, diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau ditenggelamkan dengan air”
Ibnu Zaid berkata:
أراد بالعالمين المؤمنين خاص
“Yang dimaksud ‘seluruh manusia’ dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman” ”
5. Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir
“Maksud ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk’. Sebagaimana dalam sebuah hadits:
إنما أنا رحمة مهداة
“Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)” (HR. Al Bukhari dalam Al ‘Ilal Al Kabir 369, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/596. Hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 490, juga dalam Shahih Al Jami’, 2345)
Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala tidak mengatakan ‘rahmatan lilmu’minin‘, namun mengatakan ‘rahmatan lil ‘alamin‘ karena Allah Ta’ala ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air”
Pemahaman Yang Salah Kaprah
Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat ini secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya. Diantaranya pemahaman tersebut adalah:
1. Berkasih sayang dengan orang kafir
Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107)
Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.
Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)
Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.
Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ
“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)
Juga firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)
Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا
”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)
Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.
2. Berkasih sayang dalam kemungkaran
Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata : “Islam khan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.
Padahal bukanlah demikian tafsir surat Al Anbiya ayat 107 ini. Islam sebagai rahmat Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaiman dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya di atas, “Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.
Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.
Dan sikap rahmat pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:
إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من شيء إلا شانه
“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya. Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya” (HR. Muslim no. 2594)
3. Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama
Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”. Sungguh aneh.
Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.
Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107: “Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus”. Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku‘”
Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)
Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:
إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها
“Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi.
4. Menyepelekan permasalahan aqidah
Dengan menggunakan ayat ini, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Renungkanlah perkataan Ash Shabuni dalam menafsirkan rahmatan lil ‘alamin: “Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran tauhid. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga. Dan inilah inti ajaran para Rasul. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut’ ” (QS. An Nahl: 36)
Selain itu, bukankah masalah aqidah ini yang dapat menentukan nasib seseorang apakah ia akan kekal di neraka atau tidak? Allah Ta’ala berfirman:
نَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72)
Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari masalah ini?
Kesimpulannya, justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk rahmat dari Allah Ta’ala. Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat? Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Ruum: 31-32)
Pemahaman Yang Benar
Berdasarkan penafsiran para ulama ahli tafsir yang terpercaya, beberapa faedah yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah:
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, yang dengan sebab rahmat-Nya tersebut kita dikumpulkan di dalam Jannah-Nya.
Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimmush shalihat..
Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
Dari artikel 'Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin — Muslim.Or.Id'
Tadi ada cuplikan kejadian tersebut di TVOne. Menurut saya, inilah contoh bahwa debat terbuka di hadapan publik tidak terlalu berguna untuk pencarian kebenaran. Orang akan cenderung menginterpretasikan debat sebagai kemenangan di pihaknya.
Tindakan Munarman jelas bukan langkah pencitraan yang baik. Namun, jika Munarman diam saja, mungkin akan dikatakan bahwa dia tidak berdaya menghadapi lawannya. Jadi posisinya serba salah juga.
Untuk itu, ketimbang berdebat tanpa argumen yang disepakati ukurannya, biarlah kita coba timbang dengan tenang seraya berdoa memohon hidayah kepada Allah Ta'aala.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
Wassalaamu'alaykum,
---
Ahmad Ridha
Adityanugroho – Selasa, 12 Safar 1432 H / 18 Januari 2011 07:31 WIB
MUNGKIN
Thamrin Amal Tomagola lupa, bahwa ia hidup bukan dalam ruang hampa. Ia
hidup di tengah-tengah masyarakat berbudaya, beretika, dan beragama.
Ketika mengeluarkan pernyataan sebagai saksi ahli dalam kasus zina Ariel
Peterporn, yang disidang karena video mesum bikinannya sendiri beredar
di masyarakat; Thamrin lebih cenderung memberikan pernyataan yang bebas
nilai. Padahal ia konon menganut agama tertentu.
Menurut Thamrin, video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan bagi sebagian masyarakat Indonesia, karena sebagian masyarakat Indonesia menganggap hal itu biasa. Contohnya, menurut Thamrin, dapat dilihat pada masyarakat suku Dayak, sejumlah masyarakat Bali, Mentawai, dan masyarakat Papua. Thamrin juga mengatakan, “Dari hasil penelitian saya di Dayak itu, bersenggama tanpa diikat perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks.”
Ternyata, hasil penelitian Thamrin di Dayak itu, justru diprotes warga Dayak sendiri. Menurut Agustin Teras Narang Gubernur Kalimantan Tengah sekaligus Ketua Umum Majelis Adat Dayak Nasional, Thamrin telah melukai perasaan, harkat dan martabat masyarakat Dayak, sekaligus melecehkan adat istiadat suku Dayak yang mengedepankan Belom Bahadat (hidup bertata krama dan beradat).
Sedangkan menurut Sabran Akhmad (Tokoh Dayak Kalimantan Tengah), pernyataan Thamrin sangat menghina warga Dayak Kalimantan Tengah. Karena, warga Dayak tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak senonoh, sebagaimana diungkap Thamrin. Masyarakat Dayak, menurut Sabran, justru menjunjung tinggi falsafah Huma Betang, hidup jujur, kebersamaan, sifat sosial, dan kesetaraan.
Tokoh wanita Dayak yang juga anggota DPR Kalimantan Tengah, Tuty Dau, merasa tersinggung sekaligus merasa dilecehkan oleh Thamrin melalui pernyataannya yang disampaikan pada sidang Ariel, di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat. Menurut Tuty, dalam adat Dayak perilaku sebagaimana dilakukan Ariel-Luna tergolong perbuatan tidak senonoh yang tidak dibenarkan dan akan dikenakan Jipen atau denda adat. Menurut Tuty pula, wanita Dayak sangat menjunjung tinggi adat, sopan satun, dan tatakrama yang diajarkan nenek moyang mereka, sekaligus mengedepankan falsafah Huma Betang yang terjaga hingga saat ini.
Thamrin Minta Maaf
Akhirnya, Thamrin Amal Tomagola meminta maaf kepada masyarakat Dayak, secara terbuka. Menurut Thamrin, ketika ia menjadi saksi ahli pada persidangan Ariel, 30 Desember 2010 lalu, ia mengacu pada temuan penelitian kualitatif sewaktu dirinya menjadi konsultan di Depertemen Transmigrasi tahun 1982-1983 di Kalimantan Barat dan Papua Selatan. Pada masing-masing lokasi Thamrin melalukan wawancara mendalam dengan 10 ibu-ibu usia subur sebagai informannya. Pada sidang Ariel, dalam kapasitasnya sebagai saksi ahli, Thamrin juga telah menjelaskan bahwa karena informan penelitiannya hanya 10 ibu-ibu, maka temuannya itu sama sekali tidak dapat digeneralisasi terhadap semua puak dan warga Dayak, dan hanya dapat dijadikan sebagai petunjuk sementara yang masih perlu diuji lagi.
Pernyataan di atas disampaikan Thamrin dalam sidang tertutup. Sedangkan pernyataan yang dirilis media massa, menurut Thamrin, adalah kutipan sepotong-sepotong yang out of context. Hal ini bisa terjadi karena Thamrin tidak menyiapkan penjelasan tertulis untuk dibagikan kepada wartawan.
Lagi pula, sudah merupakan naluri jurnalis untuk memberitakan materi yang unik, khas, agak berbeda, dan agak kontroversial. Oleh karena itu, para jurnalis yang dinilai Thamrin memuat pernyataannya sepotong-sepotong dan out of context, sama sekali tidak bisa disalahkan. Yang salah, justru Thamrin sendiri. Karena, pendapatnya sebagai saksi ahli disandarkan pada sesuatu yang belum tentu reliable. Dalam kaidah penelitian, kalau reliable saja tidak, maka sudah bisa dipastikan hasil penelitiannya tidak valid. Buktinya, ia didemo oleh masyarakat Dayak sendiri.
Artinya, Thamrin sebagai profesor dan peneliti sudah terjangkiti penyakit asma (asal mangap). Sepertinya ia kebablasan membawa misi kebhinekaan, sampai-sampai hal-hal kecil saja yang belum tentu signifikan dan belum tentu representasi dari suatu kelompok, keberadaannya ia posisikan seolah-olah penting untuk disosialisasikan dan diakomodasi.
Boleh jadi, memang masih ada sebagian kecil dari suku-suku tertentu yang membenarkan hubungan seks (senggama) tanpa ikatan perkawinan. Tapi bukan berarti layak dijadikan pembenar terhadap perilaku Ariel-Luna yang memvideokan adegan mesumnya. Seharusnya, dijadikan pembanding yang arahnya justru memposisikan perilaku Ariel-Luna sebagai sesuatu yang negatif, mengingat keduanya punya agama, dan hidup dalam lingkungan sosial yang punya nilai, punya etika, punya hukum, dan sebagainya. Ariel-Luna bukan dua makhluk yang hidup di era primitif, di sebuah ruang hampa dan bebas nilai. Begitu juga dengan Thamrin Amal Tomagola.
Kalau putri kandung Thamrin Amal Tomagola, misalnya, melakukan hubungan seks (senggama) tanpa ikatan perkawinan dengan laki-laki yang disukainya, kemudian divideokan dan beredar luas; saat ditanya orangtuanya lalu sang putri beralasan: “Video mesum saya tidak meresahkan, karena ada contohnya di sebagian masyarakat atau suku tertentu yang membolehkan senggama seperti ini sebagai pembelajaran seks, sehingga anda sebagai orangtua saya tidak berhak melarang perbuatan saya ini, karena saya sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidup saya sendiri.” Kira-kira bagaimana?
Kalau toh memang ada sebagian masyarakat primitif yang mempraktekkan senggama tanpa ikatan perkawinan, dan dijadikan pembelajaran seks, pastinya perilaku itu tidak divideokan dan disebar-luaskan, sebagaimana terjadi pada video mesum Ariel-Luna dan Ariel-Cut Tari. Nampaknya Thamrin sudah kebablasan.
Soal kebablasan, bukan kali ini saja. Pernah diberitakan oleh Tribun Batam edisi Kamis tanggal 28 Oktober 2010, bahwa Thamrin Amal Tomagola menjadi salah satu undangan pada Musda (Musyawarah Daerah) Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGWI) Kepulauan Riau (Kepri). Thamrin diundang sebagai tokoh Islam. Sejauh ini belum ditemukan konfirmasi kedatangan Thamrin pada acara tersebut. Kalau Thamrin hadir sebagai tokoh Islam, jelas tidak pada tempatnya.
Alasannya, pertama, tidak semua orang Islam yang menjadi profesor dan tokoh masyarakat serta-merta menjadi tokoh Islam. Kedua, Thamrin adalah tokoh masyarakat Halmahera, yang jauh dari Kepri (Kepulauan Riau). Kalau ia diundang oleh PGWI Halmahera atau Maluku, barangkali masih bisa dimengerti. Ketiga, latar belakang akademis Thamrin adalah sosiologi, bukan teologi. Apa relevansinya?
Thamrin dan Kasus Ambon
Kasus Ambon berdarah terjadi pada 19 Januari 1999. Menurut Thamrin, empat Jenderal (Wiranto, Suaidi Marasabessy, Djaja Suparman, dan Sudi Silalahi) paling bertanggung jawab atas konflik berdarah di Ambon. Pernyataan itu disampaikan Thamrin pada tahun 2001, ketika ia diwawancarai harian Jawa Pos di Washington DC. Pada masa Abdurrahman Wahid jadi Presiden, Thamrin diangkat sebagai Advisor Gus Dur untuk kasus Maluku.
Uniknya, pernyataan Thamrin tersebut mendapat sambutan positif dari kalangan kristen, sebagaimana tercermin melalui surat elektronik yang disebarluaskan Joshua Latupatti (joshu...@hotmail.com), tanggal 14 Mei 2001. Menurut Joshua, Thamrin adalah salah satu dari segelintir putra Maluku yang berani menyatakan kebenaran untuk menelanjangi kejahatan orde baru terhadap Maluku, dan terhadap Negara ini, dengan taruhan yang tidak kecil.
Menurut Joshua pula, empat Jenderal orde baru (Wiranto, Suaidi Marasabessy, Djaja Suparman, dan Sudi Silalahi), mencoba memanfaatkan kekalutan politik Nasional saat ini, untuk mengubur dosa mereka, dengan menggugat Thamrin ke pengadilan, dengan gugatan perdata dan pidana.
Pada tanggal 10 Oktober 2002, Pengadilan Negeri Cibinong, Jawa Barat, memutuskan Thamrin Amal Tomagola bersalah, karena telah mencemarkan nama baik empat perwira tinggi TNI (Wiranto, Suaidi Marasabessy, Djaja Suparman, dan Sudi Silalahi). Untuk itu, Thamrin diharuskan membayar denda Rp50 juta, dan diharuskan meminta maaf lewat media massa selama tiga hari.
Rupanya, bukan kali ini saja Thamrin berani melempar pernyataan yang faktanya masih perlu dikaji. Boleh jadi itu sudah menjadi bagian dari strateginya untuk tetap diingat masyarakat.
Liberal, membela kepornoan dan aliran penoda agama
Kembali kepada kasus zina dengan perkaranya penyebaran video porno, pernyataan kebablasan Thamrin yang dinilai menyinggung perasaan suku Dayak itu perlu dilacak latar belakangnya. Kenapa Thamrin semenggebu itu.
Jauh-jauh hari Detiknews memberitakan, Dukung Ariel, Thamrin Amal Tamagola Bersedia Jadi Saksi. Intinya, ia bersedia jadi saksi yang meringankan kasus (zina dan tersebarnya video porno) trio artis: Ariel-Luna Maya-Cut Tari. (lihat detiknews, Sabtu, 26/06/2010 13:07 WIB).
Rupanya Thamrin ini merupakan jago dari Kelompok liberal yang “mendukung” pornografi, di antaranya Thamrin adalah salah seorang yang maju untuk menyampaikan suaranya sebagai saksi ahli dalam permohonan uji materi Undang-undang Pornografi. Thamrin mengatakan di Mahkamah Konstitusi: “UU Pornografi tidak terlalu urgen untuk diterbitkan dan jadi mubazir,” tegas dosen sosiologi FISIP UI ini dalam sidang lanjutan uji materi UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (8/10). (lihat suarapembaruan online, 9 Okt 2009)
Sudah sampai Thamrin katakan UU Pornografi itu mubazir, namun pihak MK tetap menolak permohonan Uji Materi UU Pornogafi itu.
Diberitakan, Sidang uji materiil UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi tiba pada putusan akhir. Majelis Hakim Konstitusi (MK) yang dipimpin oleh Hakim Ketua Mahfud MD menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon. Majelis Hakim berpendapat, setelah mencermati norma yang diujikan dengan pasal yang diujikan di UUD 1945, Majelis Hakim menilai Undang-Undang tersebut tidak bertentangan dengan UUD 1945. (JPNN, Kamis, 25 Maret 2010 , 20:50:00).
Di samping itu, suara islam online menyebut Tharimn Amal Tomagola adalah orang liberal dan pembela Ahmadiyah(aliran sesat, penoda agama). Sementara itu kelompok liberal pun ditolak oleh MK (Mahkamah Konstitusi) mengenai permohonan mereka tentang uji materi UU Penodaan Agama –yang biasa dirujuk oleh para aktivis Islam untuk menilai aliran sesat di antaranya Ahmadiyah sebagai penoda agama.
Mahkamah Konsitusi (MK) menolak pengujian materi UU Penodaan Agama yang diajukan oleh pemohon dari berbagai LSM. MK menilai pasal-pasal yang diujimaterikan pemohon tidak bertentangan dengan UUD 1945.
“Mahkamah Konstitusi menolak permohonan pemohon seluruhnya,” kata Ketua MK Mahfud MD dalam pembacaan putusan di Gedung MK, Jakarta, Senin (19/4). Lalu, membahana pekik “Allahhuakbar!!” dari massa FPI yang selalu memantau sidang di MK. (eramuslim.com, Selasa, 20/04/2010 09:41 WIB).
Kekecewaan demi kekecewaan tampaknya telah mendera Thamrin Amal Tomagola khususnya dan konco-konconya pada umumnya. Jadilah Thamrin Amal Tomagola seorang professor yang tersandung-sandung dengan ucapannya seperti tersebut. Sehingga menambah daftar sosok-sosok yang tidak bermutu dan berbicara ngawur dari kalangan liberal.
Professor sekelas dengan orang-orang liberal yang ngawur
Dalam kasus tersebut professor ini dalam sejarah hidupnya akan sekelas dengan mereka yang tercatat bicaranya ngawur, dari kalangan liberal di antaranya:
1. A. Mustofa Bisri yang menganggap tidak apa-apa kalau mengangan-angan untuk menzinai bintang film. Ungkapan dia: Jadi, kalau pemikirannya sendiri, gagasan-gagasan, tidak bisa diharamkan. Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa. (Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH Mustofa Bisri, Kamis (4 Agustus 2005) lalu mengenai dampak fatwa itu). (Lihat nahimunkar.com, April 30, 2008 5:18 am, Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah, http://www.nahimunkar.com/ngawurnya-a-mustofa-bisri/)
Perkataan itu ngawur bahkan telah berani menganggap tidak apa-apa alias halal apa yang telah jelas haram dalam Islam. Istilah haram itu sendiri (karena A Mustofa Bisri sering disebut Kyai, bahkan dia memimpin pesantren), tentu saja berkaitan dengan istilah Islam yang rujukannya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sedangkan dalam hadits ditegaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
Dari Abu Hurairah, dia berkata; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Setiap anak cucu Adam telah tertulis bagiannya dari zina, maka kedua mata berbuat zina dan zina mata adalah melihat, kedua tangan berzina dan zina kedua tangan adalah memegang, kedua kaki berzina dan zina kedua kaki adalah melangkah, mulut berzina dan zina mulut adalah mengucapkan, hati berharap dan berangan-angan, adapun kemaluan ia yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Ahmad, shahih atas syarat Muslim menurut Syu’aib al-Arnauth, dan riwayat Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Ad-Dailami).
Dalam hadits itu hati berharap dan berangan-angan adalah rangkaian dalam hal zinanya anggota-anggota tubuh. Bukan tidak apa-apa seperti kata A Mustofa Bisri itu. Ini jelas haram, karena ada larangan mendekati zina. itu jelas dalam Al-Quran:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa’ [17] : 32).
2. Luthfi Assyaukanie tokoh JIL. Beritanya sebagai berikut: Bukti Dungunya Tokoh JIL
Tokoh JIL: Kesalahan Lia Eden Sama dengan Kesalahan Nabi Muhammad. “Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam,” kata Luthfi Assyaukanie tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) dalam sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, (17/2/2010) .
Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) itu mengakui pernyataan itu sangat sensitif dan telah memikirkan secara matang tentang pernyataan tersebut.
Siapa Lia Aminuddin itu?
Pos Kota memberitakan, Ny. Aminudin alias Lia Eden akhirnya divonis 2,5 tahun penjara oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat, Selasa (2/6 2009) sore.
Sementara Wahyu Andito, sebagai pelayanan penerima wahyu dari Lia Eden, juga divonis majelis hakim dengan 2 tahun penjara.
Lia Eden terbukti melakukan penistaan terhadap agama, yakni membuat beberapa risalah kepada Presiden RI SBY, Kejaksaan, Kepolisian dan beberapa lembaga Ormas Islam. Intinya, Lia Eden minta Agama Islam dihapuskan di Indonesia. (poskota.co.id, Selasa, 2 Juni 2009 – 17:55 WIB).
Bagaimana tokoh JIL itu bisa menyamakan kesalahan Lia Eden dengan apa yang dia sebut kesalahan Nabi Muhammad waktu munculnya Islam. Lia Eden jelas mau menghapus Islam, agama dari Allah Ta’ala; sedang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah untuk menghapus agama berhala kemusyrikan.
Menyamakan Lia Eden yang mau menghapus Islam dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berdakwah menghapus kemusyrikan adalah lebih buruk sama sekali dibanding anak kecil yang menyamakan antara babi dan unta. Orang yang sedang naik unta pun akan marah ketika dikatakan naik babi. (lihat nahimunkar.com, February 17, 2010 11:45 pm, http://www.nahimunkar.com/bukti-dungunya-tokoh-jil/)
3. Gusti Randa. Beritanya sebagai berikut: Membela Jupe Melecehkan Nabi.
Ditolak NU, Artis Seronok Jupe Malah Disamakan dengan Kisah Nabi.
Bertandangnya artis seronok ke kancah pilkada (pemilihan kepala daerah) tampak semakin menambah masalah. Bukan hanya masalah yang berkaitan dengan pilkada itu sendiri, namun telah merendahkan bahkan melecehkan martabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Diberitakan, Jupe (Julia Perez) artis seronok yang akan mencalonkan diri sebagai cawabup (calon wakil bupati) Pacitan Jawa Timur ditolak oleh NU dan berbagai ormas Islam. Namun penolakan itu justru dikilahi dengan membawa-bawa kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Gusti Randa, seorang pengacara, yang saat ini juga salah satu tim sukses Jupe menegaskan, Jupe pantang mundur dari pertarungan calon orang nomor satu di Pacitan.
Gusti pun sempat membandingkan penolakan terhadap Jupe dengan kisah Nabi. “Pada zaman nabi, nabi itu ditolak sama daerah asalnya,” ujar Gusti.
Membandingkan lakon Jupe dengan kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu perbandingan yang sangat ngawur. Jupe, ditolaknya oleh NU dan lain-lain itu karena berbagai factor tentunya. Di antaranya lantaran perempuan inisudah dikenal di masyarakat, dia suka buka-bukaan, berpenampilan seronok, mabuk-mabukan, dan sebagainya. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditolak oleh daerah asalnya karena mengajarkan tauhid, mengesakan Allah Ta’ala, sedang para penolaknya adalah orang-orang yang sesat yakni kafir musyrik, menentang Tauhid.
Penyamaan kisah Nabi dengan lakon Jupe hanya karena sama-sama ditolak oleh daerah asalnya itu penyamaan yang paling dungu. Dan itulah yang telah dilakukan oleh tokoh JIL ketika di Mahkamah Konstitusi ketika menginginka Undang-Undang Penodaan Agama dicabut (yang akhirnya tuntutan JIL dan lainnya itu kalah, sedang UU Larangan Penodaan Agama tetap diberlakukan) beberapa waktu lalu. Pentolan JIL itu menyamakan Lia Eden pentolan sesat yang ingin menghapus Islam justru disamakan dengan Nabi Muhammad shallalhu ‘alaihi wa sallam, hanya karena awalnya sama-sama ditolak masyarakat.
Dalam kasus ini, berarti pendukung Jupe ini sudah ketularan atau memang sama-sama dungunya dengan tokoh JIL yang tidak mampu membedakan emas dengan kotoran manusia hanya karena sama-sama kuningnya. (lihat nahimunkar.com, April 28, 2010 11:23 pm, http://www.nahimunkar.com/membela-jupe-melecehkan-nabi/).
Masih ada yang lain-lain lagi. Tetapi sebagai contoh sudah cukuplah. Dan ini sudah cukup membuktikan, kelompok liberal yang membela kepornoan, maksiat, sampai aliran sesat penoda agama terbukti walau sampai tingkat professor atau kyai pun mutunya seperti itu. Di dunia saja mereka sudah sulit mempertahankan argumennya. Apalagi di akherat kelak. Dan itu semua harus dipertanggung jawabkan. Betapa memalukannya! (haji/tede)
Ado pulo nan gampang manuduah urang amoral...?. Ambo mendukung keberadaan FPI, sebab alah indak ado nan bisa melawan kemaksiatan di muka bumi nusantara ini, kecuali mereka. Kalau dikatakan mereka preman, silahkan aja. Banyak yg lebih "preman" dari FPI, kok.
Marindo Palar
Laki laki 52 th
Suku: Tanjuang
Kampuang: Kuraitaji Piaman
Astaghfirullah..., si Jupe nyo samokan jo Nabi.....ck...ck...ck..
Marindo Palar
Laki laki 52 th
Suku: Tanjuang
Kampuang: Kuraitaji Piaman
Salut ambo samo munarman dan FPI...
Lanjutkan perjuangan...!
Mereka telah berbuat...! Tidak hanya bicara...!
---------- Pesan terusan ----------
Dari: "Tasrilmoeis" <tasri...@banuacitra.com>
Tanggal: 28 Jun 2013 11.18
Subjek: [R@ntau-Net] Heboh di acara TV ONe pagi ko
Kepada: <rant...@googlegroups.com>
Jumat, 28/06/2013 09:42 WIB
Ini Video Saat Munarman Menyiram Tamrin Tomagola di TVOne
Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Insiden penyiraman sosiolog Tamrin Tomagola oleh jubir FPI Munarman terekam dalam video dan disiarkan langsung. Ini video detik-detik saat kejadian.
Kalau ingin tau tentang islam dunsanak2 di siko harus mempelajari sejarah(sirrah nabawiyah)...
Di situ kito akan tau baa bana rasululloh dalam menegak an islam tu...
Apapun yg dilakukan dek urang islam selagi berpedoman ka alquran dan sunnah adolah rahmatan lil alamin... Karano itulah sumber dr segala sumber hukum....
Rasululloh juga memerangi orang atau kelompok yang menghina dan memusuhi Islam pak...
Saat rasululloh sakit menjelang wafat pun masih mengirim pasukan perang...!
Baitu caro nabi pak stahu ambo pak...!
JIKA KITA ENGGAN MEMAAFKAN MAKA ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KITA :::
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Memang, melupakan sekaligus memaafkan kesalahan orang lain termasuk perbuatan yang sangat berat. Seolah-olah pekerjaan memindahkan sebuah gunung dan bukit. Apalagi luka yang mereka ukir di dalam sanubari kita begitu dalam dan lebar. Sepertinya mudah di ucapkan tapi tidak semua orang mampu melakukan dengan ikhlas.
Namun kita tetap di tuntut untuk memaafkannya, terlebih ketika dia sudah meminta maaf kepada kita .
Mengapa demikian? Bukankah kita ketika berbuat salah juga ingin dimaafkan? Karena itu maafkanlah dia .
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya, apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan), niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)
“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)
“Barangsiapa senang melihat bangunannya dimuliakan, derjatnya di tingkatkan, maka hendaklah dia mengampuni orang yang bersalah kepadanya, dan menyambung (menghubungi) orang yang pernah memutuskan hubungannya dengan dia “ (HR Al-Hakim)
“Jika hari kiamat tiba, terdengarlah suara panggilan, “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)
Fudail bin Iyad berkata : “Jiwa kesatria ialah memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”
Anas RA berkata : “Ketika Rasulullah shalallahu Alaihi Wassallam duduk diantara kami, tiba-tiba ia tersenyum sehingga nampak gigi serinya, maka umar bertanya :
”Apakah yang menyebabkan tertawamu Ya Rasulullah ?”
jawab beliau : ”Ada dua orang berlutut di hadapan Tuhan Rabbul Izzati. Lalu yang satu berkata :”Aku menuntut hakku yang dianiaya oleh kawanku itu.”
Maka Allah menyuruh orang yang menganiaya :”Kembalikan haknya” .
Orang itu menjawab :”Tiada sesuatupun hasanahku (kebaikanku)”.
Maka berkatalah orang yang menuntut itu :”Suruhlah ia menanggung dosaku”.
Tiba-tiba Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mencucurkan airmatanya menangis sambil bersabda :” Sesungguhnya hari itu sangat ngeri, hari dimana tiap-tiap orang ingin kalau orang lain menanggung dosanya. Lalu Allah Ta’ala berfirman kepada yang menuntut :
“Lihatlah keatas kepalamu, perhatikanlah surga-surga itu. Maka ia mengangkat kepalanya lalu berkata : “Ya Tuhan, aku melihat gedung-gedung dari emas yang bertaburkan mutiara, untuk nabi yang manakah?”
Allah menjawab :”Itu untuk siapa saja yang membayar harganya.”
Ia bertanya : “Siapakah yang dapat membayar harganya?”
Allah menjawab :” Engkau mempunyai harganya.”
Ia berkata : “Apakah itu Ya Tuhan?”
Allah menjawab :” Memaafkan kawanmu itu.”
Lansung ia berkata : “Aku memaafkan dia “
Maka Allah berfirman :”Peganglah tangan kawanmu itu dan masuklah kalian berdua ke surga “
Kemudian rasulullah membaca “Fattaqullaaha wa ashlihuu dzaata bainikum , sebab Allah memperbaiki (mendamaikan) antara kaum mukminin dihari kiamat “ (HR Abu ya’la Al Maushili)
Nabi Muhammad Shalallahu bersabda kepada Uqbah ; “Ya Uqbah maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama? “Apa itu Ya Rasulullah? . “Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu “ (HR Al-Hakim dari Uqbah bin Amir Al-Juhani )
Sementara itu, kalau ia belum mau taubat dan minta maaf, maka doakanlah agar suatu saat dia menyadari akan kesalahan yang dia lakukan dan bertaubat atasnya,Kalau kita tidak mau memafkannya sama artinya kita membiarkannya menanggung dosa dan berjalan menuju ke neraka. Jika demikian alangkah naifnya kelak kita di hadapan Allah.
Janganlah kita bersikukuh untuk enggan memaafkan orang lain, karena akan menyebabkan dosa kita tidak pernah diampuni oleh NYA. Bukankah ini merupakan kerugian besar yang menimpa seseorang?!
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS An-Nuur :22)
“Barangsiapa yang tidak mau memberi ampun kepada orang, maka ia tidak akan di beri ampun “ (HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah Ra)
--
Tanya : Assalamu’alaikum ust, mau tanya, apakah dosa orang yang tidak memaafkan orang lain yang berbuat salah dg tanpa sengaja, padahal orang tersebut sudah menjelaskan dan meminta maaf kepadnya? terus apakah benar lebih mulia orang yang memaafkan dari pada orang yang minta maaf?
Terima kasih.(UDIN KURIAK)
Jawab : Wa’alaikumussalam, Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: "Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT". Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah.Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.
***
Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut balas (qishas) atasnya atau denda kepadanya. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran al’afwu yang berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahap"masih menahan amarah". Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.
Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi
bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat
luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. Allah swt berfirman:
"...Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas
tanggungan Allah." (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata:
"Rasulullah SAW bersabda, "wahai Uqbah, bagaimana jika
kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling
utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang
memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau
memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu." (HR.Ahmad,
Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Dalam berbagai ayat dalam Al-Quran adalah perintah untuk memberi maaf. Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, "Tiada maaf bagimu", karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt.
Memaafkan atau-pun meminta maaf adalah perbuatan mulia. Jadilah pemaaf dan siaplah untuk meminta maaf. Allahu A’lam
CONFIDENTIALITY This e-mail message and any attachments thereto, is intended only for use by the addressee(s) named herein and may contain legally privileged and/or confidential information. If you are not the intended recipient of this e-mail message, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this e-mail message, and any attachments thereto, is strictly prohibited. If you have received this e-mail message in error, please immediately notify the sender and permanently delete the original and any copies of this email and any prints thereof. ABSENT AN EXPRESS STATEMENT TO THE CONTRARY HEREINABOVE, THIS E-MAIL IS NOT INTENDED AS A SUBSTITUTE FOR A WRITING. Notwithstanding the Uniform Electronic Transactions Act or the applicability of any other law of similar substance and effect, absent an express statement to the contrary hereinabove, this e-mail message its contents, and any attachments hereto are not intended to represent an offer or acceptance to enter into a contract and are not otherwise intended to bind the sender, Sanmina Corporation (or any of its subsidiaries), or any other person or entity.
--
Maaf kalo alah disabuik Jo,
Ado nan lain laih Jo
1. Janjang Minang nan dakek situ ado toko sepatu Yapyek atau toko kodak Minang.
2. Janjang sek kami sabuik dulu, janjang nan maminteh dari pasa aua tajungkang ka pasa lereang. Mungkin dek janjang ketek2 jo mananjak luruih makonyo acok barasaki nan mandaki dari bawah.
3. Janjang apolah namonyo ambo ndak tau tapi janjang tu salurusan jo janjang gantuang taruih naiak ka pasa ateh lalunyo di pasa dagiang lamo, kalau kini tembus di pasa putiah (pasa wisata). Di janjang ko dulu ado amai-amai nan manjua gulo2 tare langganan ambo.
Itu saisuak nan acok bajajak i Jo
Wassalam
Rina