Pariaman Buru Lokomotif Uap ke Lipek Kain

55 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
Aug 12, 2014, 4:54:46 AM8/12/14
to RN - Palanta RantauNet
August 12, 2014 



BANGUN MUSEUM KERETA API — PARIAMAN – Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman bekerja sama dengan PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) Divisi Regional (Divre) II Sumbar sepakat mengembangkan akses transportasi kereta api. Bahkan, di Pariaman telah direncanakan pembangunan sebuah museum kereta api.
Untuk kebutuhan pembangunan museum dibutuhkan sebuah lokomotif uap untuk dijadikan monumen. Wakil Walikota (Wawako) Pariaman, Genius Umar dan sejumlah jajaran dinas terkait serta Vice Presiden PT. KAI Divre II Sumbar, Zulkarnaen beserta jajaran, Sabtu dan Minggu (9-10/8) melakukan kunjungan ke Desa Lipek Kain, Kampar, Riau melihat lokomotif uap sisa penjajahan yang ada di daerah tersebut.

Wawako Genius mengatakan, lokomotif uap aset PT. KAI tersebut rencananya akan diupayakan bisa diangkut ke Pariaman guna mendukung rencana pembangunan museum kereta api. Namun, karena kondisi loko yang telah hancur dan tak memungkinkan direhabilitasi, pihaknya membatalkan rencana memakai loko tersebut.
“Informasi keberadaan lokomotif uap di Lipek Kain didapat dari pihak PT. KAI Sumbar. Setelah kita lihat langsung, ternyata kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sebagian besar besi bagian loko hilang dicuri orang tak bertanggung jawab dan dijual kiloan,” kata Genius Umar.

Selanjutnya akan mengupayakan bisa mendapatkan loko uap yang ada di daerah lain. Museum kereta api rencananya akan dibangun di lokasi Stasiun Kereta Api Pariaman. Museum tersebut selain upaya pelestarian sejarah perkeretaapian, sekaligus sebagai bagian dari pengembangan pariwisata, khususnya potensi wisata sejarah.

Ditambahkan, pengembangan akses layanan kereta api dengan mengaktifkan kembali jalur rel sampai ke Stasiun Nareh serta rencana pembangunan museum, telah dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau MoU antara Pemko Pariaman dan PT. KAI Divre II Sumbar.

Sebagai tindak lanjut, PT. KAi dalam beberapa pekan terakhir telah mulai melakukan pembenahan dan pembersihan jalur rel kereta api sepanjang 7 kilometer dari Stasiun Pariaman menuju Stasiun Nareh. Tahap awal jalur rel tersebut diupayakan bisa ditempuh dengan lori biasa.
Masa kejayaan

Sementara, Vice President PT. KAI Divre II Sumbar, Zulkarnaen mengatakan, pihaknya sangat mendukung rencana Pemko Pariaman dalam mengembangkan akses layanan kereta api kemudian merencanakan membangun museum kereta api di Pariaman. Selaku operator, pihaknya akan memfasilitasi rencana tersebut.
“Kita apresiasi rencana Pemko Pariaman mengembangkan akses layanan kereta api dan rencana pembangunan museum. Kunjungan ke Lipek Kain melihat keberadaan lokomotif uap salah satu bentuk kerja sama kita. PT. KAI akan fasilitasi rencana Pemko tersebut,” ujar Zulkarnaen.

Nantinya tiga stasiun yang ada di Pariaman yakni Stasiun Kurai Taji, Stasiun Pariaman dan Stasiun Nareh akan dijadikan kawasan heritage. Lahan yang ada akan dibenahi dan dibebaskan dari bangunan liar. Pembenahan jalur rel Pariaman akan dilaksanakan 2015.

Zulkarnaen berharap, kebijakan mengaktifkan kembali jalur rel kereta api yang digagas Pemko Pariaman hendaknya jadi motivasi dan ditiru pemerintah daerah lain, termasuk Pemprov Sumbar. Dengan demikian, jalur kereta api yang selama ini ‘mati suri’ di Sumbar bisa diaktifkan kembali.
Pihaknya di PT. KAI berharap, semua jalur rel kereta api di Sumbar bisa ‘dihidupkan’ kembali. Mulai dari Padang sampai ke Limapuluh Kota, Padang sampai ke Sijunjung. Sehingga, ke depan jasa kereta api bisa jadi alternatif moda transportasi massal guna mengurangi beban angkutan jalan raya. (301)

--

Wassalam

Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

Nofend St. Mudo

unread,
Aug 13, 2014, 1:06:13 AM8/13/14
to RN - Palanta RantauNet
Jejak Sepur Zaman Romusha di Lipek Kain
August 13, 2014 



TOMI SYAMSUAR | Wartawan Muda

Sebuah lokomotif uap tua dengan kondisi bekas dipreteli terpajang di tengah rerimbunan perkebunan karet di Desa Lipek Kain, Kecamatan Kampar Kiri, Riau. Kondisinya rusak parah. Besi di beberapa bagian bangkai loko hilang dicuri dan dijual kiloan oleh mereka tak bertanggungjawab.

Bangkai lokomotif usang itu adalah seonggok cerita tentang sejarah kelam perjalanan bangsa ini. Cerita tentang pedihnya penderitaan bangsa Indonesia hidup dalam belenggu penjajah. Lokomotif tua di Lipek Kain adalah sedikit bukti yang tersisa tentang lenyapnya jejak sepur (kereta api) zaman Romusha.

Sabtu dan Minggu (9-10/8), Singgalang bersama Wakil Walikota Pariaman Genius Umar dan jajaran beserta Vice President PT. KAI Divre II Sumbar, Zulkarnaen beserta jajaran direksi mengunjungi lokasi lokomotif uap tua di Lipek Kain.
Rencananya, lokomotif uap itu akan dibawa oleh PT. KAI Sumbar ke Pariaman dan akan dijadikan sebagai simbol museum kereta api yang akan dibangun di Pariaman. Namun, karena kondisi lokomotif yang rusak parah dan banyak bagian yang hilang, rencana tersebut dibatalkan.

Setelah menempuh perjalanan sembilan jam lamanya dengan rute Pariaman via Kiliran Jao, Taluak Kuantan, Sabtu (9/8) pukul 17.30 WIB rombongan tiba di lokasi bangkai lokomotif uap Lipek Kain. Waktu singkat dimanfaatkan pihak PT. KAI Sumbar untuk mendata lokasi lahan di sekitar lokomotif uap tua itu.

Selain bangkai lokomotif tua yang berdiri diatas tembok beton, di lahan perkebunan karet itu masih bisa dijumpai bekas-bekas pondasi bangunan tua dan beberapa jejak bantalan rel. Diperkirakan lokasi lokomotif tua di tengah belantara itu berdiri, dulunya merupakan sebuah stasiun kereta api.

Sisa-sisa bangunan yang ditemukan berada radius 500 meter dari bangkai lokomotif. Jejak yang tersisa itu diantaranya, sebuah sumur septictang, tak jauh dari septictang terdapat lantai bekas kamar mandi berikut porselin toilet yang tinggal separoh.

Tak jauh dari sumur septictang itu terdapat pula beberapa patok beton yang tinggi sama rata dengan tanah. Patok-patok tersebut tersebar di beberapa titik. Radius 500 meter dari lokasi yang diperkirakan bangunan stasiun itu, terdapat pula bekas jejak bantaran rel.

Setelah ditelusuri beberapa ratus meter sampai ke tengah rerimbunan areal perkebunan, PT. KAI dan Singgalang tak menemukan satupun potongan besi bekas rel kereta api. Menurut warga setempat, besi rel dan besi sisa bangunan telah dicuri oleh orang-orang tak bertanggungjawab sejak 1980 lalu.

Ali (60), warga Desa Lipek Kain yang menemani rombongan menceritakan, pencurian besi bangkai lokomotif dan besi rel kereta api di Lipek Kain mulai marak terjadi sejak 1980-an. Pencuri menggunakan mesin las untuk memotong besi bagian lokomotif.

Aksi pencurian besi sisa rel dan lokomotif tak hanya masif terjadi di Lipek Kain, tapi juga terjadi di beberapa lokasi lain di Kampar, salah satunya di daerah Bukit Rimbang Bukit Baling, Taluak Kuantan.
“Di lokasi Bukit Rimbang saat ini masih terdapat sisa bangkai lokomotif uap,” katanya.
Ali menceritakan, pada periode 1970-an, ia masih sempat melihat lokomotif dan bangunan serta bentangan rel kereta di Lipek Kain.

Bahkan, lokomotif tua yang ada sekarang di Lipek Kain, kondisinya masih utuh, ada atap gerbong, ada roda dan tersambung dengan rangkaian rel.

Namun, pada 1980-an sampai 2000-an terjadi pencurian masif terhadap aset kereta api peninggalan sejarah penjajahan tersebut. Rel yang ada dibongkar dan dibawa oleh orang-orang tak bertanggungjawab ke Pekanbaru. Setelah itu, silih berganti warga datang mengambil sisa-sisa besi rel.

Ali menuturkan, ayahnya dulu pernah bercerita tentang kejayaan kereta api masa lalu. Bahkan, ayahnya sendiri ikut bekerja membangun rel di Lipek Kain bersama para pekerja Romusha yang didatangkan penjajah Jepang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan Romusha dari luar negeri.

Vice President PT. KAI Divre II Sumbar, Zulkarnaen didampingi Manajer Aset PT. KAI, Barmansyah Nasution mengatakan, sisa-sisa material bangunan yang ditemukan di lokasi lokomotif uap di Lipek Kain diduga dulunya adalah sebuah stasiun kereta api.

Melihat dari bentuk dan luas bekas bangunan, stasiun itu dulunya diperkirakan merupakan akses penting bagi aktifitas kereta api. Ia memperkirakan stasiun tersebut dulunya ramai dengan aktivitas lalu-lalang kereta api.
Ia juga memperkirakan, lokomotif uap serta sisa-sisa bangunan yang diduga stasiun di Lipek Kain itu diperkirakan terakhir beroperasi pada zaman penjajahan Jepang. Stasiun Lipek Kain tersebut merupakan rangkaian panjang jalur rel kereta api yang pernah eksis di jaman penjajahan.

Jalur rel tersebut menghubungkan kawasan pantai Barat ke Pantai Timur Sumatera. Dari sejarahnya, jalur rel tersebut merupakan akses utama transportasi penjajahan Jepang untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto, Sijunjung, dari Logas tangko menuju ke Pelabuhan Bengkalis.

Dari Bengkalis, batu bara tersebut oleh Jepang kemudian diangkut dengan kapal melintasi Selat Malaka menuju Birma. Birma sendiri saat itu merupakan pusat pangkalan militer Jepang di Asia Timur. Batubara tersebut merupakan cadangan energi untuk kebutuhan perang.

Zulkarnaen mengaku, meski Riau termasuk wilayah operasional PT. KAI Divre II Sumbar, namun ia tak mengetahui banyak tentang sejarah peninggalan kereta api zaman penjajahan yang terdapat di beberapa daerah di Bumi Lancang Kuning tersebut. Jalur KA di Riau belum terpetakan dengan baik oleh PT. KAI.

Dikatakan, jalur rel kereta api yang sudah masuk ground card atau yang telah dipetakan PT. KAI Divre II baru di sekitar Sumbar, paling jauh arah Timur dari Padang sampai Sijunjung dan arah Utara sampai ke Limapuluh Kota. Kedepan pihaknya akan mengupayakan memetakan jalur rel ke Riau.

Zulkarnaen mengatakan, dari sejarahnya jalur rel kereta api Sumbar-Riau via Sijunjung, Logas, Lipek Kain sampai Pekanbaru pertama kali dibangun oleh Belanda sekitar 1891. Jalur tersebut tak rampung.

Baru pada zaman pendudukan Jepang jaur tersebut disempurnakan. Proses pembangunan jalur rel kereta api Sumbar-Riau waktu itu dikerjakan pekerja yang merupakan tahanan perang penjajah Jepang. Kerja paksa tersebut dikenal juga dengan nama Romusha.

Diperkirakan ratusan ribu pekerja terlibat dalam proses pembangunan jalur rel tersebut.
WWF Pekanbaru pernah melakukan penelusuran terhadap aset sejarah kereta api zaman Romusha yang kini hilang tersebut. Dari keterangan warga, WWF mencatat pada medio tahun 2000-an masih ditemukan sedikitnya tujuh unit lokomotif tua di Bukit Rimbang Bukit Baling, Desa Pencong, Taluak Kuantan.

Desa Pencong sendiri merupakan desa mati yang ditinggal oleh penduduknya. Lokasi 7 lokomotif peninggalan zaman penjajahan Jepang itu berjarak 18 kilometer dari jalan lintas Taluak Kuantan, persisnya berada di areal hutan Taman Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.

Namun, kini keberadaan 7 lokomotif tua dan rel di Bukit Rimbang yang lokasinya turun baik bukit dan melintasi sejumlah sungai itu sudah tak ditemukan lagi jejaknya. Bangkai lokomotif habis dipreteli tangan-tangan tak bertanggungjawab, besinya dipotong-potong dan kemudian dijual kiloan.

Bukit Rimbang Bukit Baling, lokasinya berbatasan langsung dengan lokasi pertambangan batu bara Logas Tangko yang beroperasi pada zaman penjajahan Jepang. Logas Tangko sendiri merupakan cerita panjang kelamnya sejarah ekploitasi para pekerja paksa di zaman Romusha.

Cerita kejayaan kereta api zaman Romusha kini tenggelam, seiring hilang lenyapnya bangkai-bangkai lokomotif, besi-besi jalur rel kereta api dan bangunan-bangunan stasiun yang dijarah oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab lalu dijual sebagai barang rongsokan.

Tak banyak bukti yang tersisa tentang kereta api zaman Romusha yang ada sekarang. Tak sepotongpun rel kereta api tersisa dan ditemukan di sepanjang jalur Sijunjuang, Logas Tangko, Taluak Kuantan, Lipek Kain sampai ke Pekanbaru.
Salah satu bukti sejarah yang tersisa dan bisa mengungkap sejarah kereta api zaman Romusha mungkin hanya keberadaan sebuah lokomotif uap tua yang kini tersungkur reot di belantara perkebunan karet di Desa Lipek Kain, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau.

Kondisi lokomotif tua itupun nyaris punah. Jika tak segera diselamatkan, bukan hal mustahil jejak kereta api zaman Romusha itu semua akan hilang. Jika itu terjadi, maka akan hilang pula sebuah rangkaian sejarah tentang getir pekerja Romusha yang pernah menghiasi perjalanan bangsa ini.

Tak banyak literatur yang bercerita tentang sejarah kejayaan kereta api di Sumatera Tengah yang eksis pada zaman penjajahan. Cerita yang tersisa hanya dari mulut ke mulut oleh warga setempat maupun dari mulut kakek-kakek yang notabene mantan pekerja paksa Romusha di zamannya.

Catatan tentang kejayaan kereta api di Sumatera, justru lebih dihargai oleh bangsa asing. Catatan tentang itu kini diabadikan di Staffordhire Inggris dalam bentuk monumen bernama Sumatera railway yang terdapat di Taman National Memorial Arboretum Inggris. Lalu, ada apa dengan bangsa kita? (*)-- 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages