Tentang Pertanyaan Ibu Hifny malewakan Gala

136 views
Skip to first unread message

Jupardi

unread,
Sep 24, 2008, 10:13:25 PM9/24/08
to Rant...@googlegroups.com

Uni Evy , Pak Syaaf , Para Mak Datuk serta Sanak sa Palanta

 

Menarik pertanyaan Poin III, Uni Evy ini, saya memang tidak (bisa) menjawab atas pertanyaan dari segi “teknis” pemberian gelar (malewakan gala) bagi seseorang di Minang, mungkin para pemangku Adat yang bisa menjelaskannya. Saya mungkin ingin bertanya juga sehubungan “Malewakan Gala kepada Pejabat Negara”

 

Faktanya memang begitu terutama sejak bergulirnya Era Reformasi (tapi ada orang lebih nyaman menyebutnya “Orde Paling Baru’ he..he) hampir setiap daerah berlomba-lomba memberikan gelar adat bagi pejabat Negara sebut saja di Riau, daerah kita (Sumbar), Banjar, Jawa dan daerah lainnya. Sungguh semarak dan boleh dikatakan Alek malewakan Gelar Adat ini menghabiskan biaya yang tidak tanggung2 agar acaranya sukses, diliput oleh Media baik cetak dan elektronik pokoknya sangat wah dan gemerlap bukan baralek gadang lai tapi lah Baralek superb Gadang. Gelar Adat yang dilewakan bagi pejabat Negara ini pun dengan nama-nama yang “menggetarkan” (sakti dan bertuah)

 

Kita masih ingat ketika Ibu Mega menjadi Presiden, betapa meriahnya acara malewakan atau memberikan gelar pada suaminya Pak Taufik Kiemas, perlu saya garis bawahi dulu biar tidak salah persepsi dalam hal ini saya tidak menggugat gelar Datuk buat Pak TK,  faktanya menurut yang saya baca, dengar dan amati Pak TK ini setelah ditelusuri keturunan/silsilahnya memang berhak menjadi/ mendapatkan gelar Datuk, nah yang menjadi pertanyaan saya kenapa kok harus dilewakan atau diberikan gelar ketika Ibu Mega berkuasa, seharusnya jauh sebelum Ibu Mega jadi Presiden Pak TK ini sudah bisa diberi/dilewakan Gala Datuk.

 

Dari sini atau menyimak fenomena yang terjadi di daerah2 yang memberikan gelar adat, nampaknya sedikit banyak Adat dan kebudayaan kita sudah dipengaruhi oleh (siapa) yang berkuasa di Pemerintahan dan juga (mungkin) “money talk”, sebab ada juga saya dengar di kampung istri saya tentang saudaranya yang berhak jadi datuk bukan dia tidak mau tapi kecek kawan ambo nan suko bagarah, “KANAI PITI-PITINYO” makanya dia tidak bisa membiayai alek malewakan gala yang biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah (Mungkin para Sanak atau Datuk2 kita di Palanta ini bisa hendaknya mencarikan solusi agar orang2 tidak mampu di nagari kito secara materi untuk biaya alek ini, tapi secara adat silsilah keturanan etc dia berhak jadi Datuk)

 

Ada sesuatu yang menarik saya simak dari “carito lapau” masyarakat badarai ketika Istano Baso Pagaruyuang terbakar habis rata dengan tanah, tentang kejadian ini tentu kita sepakat (mudah2an) bahwa terbakarnya Istana tersebut memang sudah takdir dan kehendak yang Kuasa Allah Swt, nah carito bagarah urang lapau ini begini kira2 mereka sambil mengopi berkata “

 

Lah berang bundo kanduang, inyiak2, penghulu2, Datuak2, tetuo kito nan dulu2 (maksudnya Almarhum ) nan indak patuik di agiah gala dilewakan juo, lah bala nan tibo dinagari awak tabaka habis Istano Baso Pagaruyuang awak, indak tangguang-tangguang habis bangunan tonggak tuo dan barang2 pusako nan tasimpan, kini kok ka dibangun juo jo kepeang banyak apolah artinyo mungkin ampia samo sajo jo mambangun gedung modern/monument  tapi babantuak rumah gadang awak (rumah bagonjong), tonggak tuo nan basejarah tu bana alah tabaka.

 

Terserah bagi kita atau hak kita masing-masing menyikapi ciloteh “urang dilapau” diatas tentu bisa  marah,kesal, mengutuk, prihatin, diam saja, sedikit atau banyak perjaya, tidak perjaya sama sekali dengan berkata..ahhhh…itu klenik atau bisa jadi seperti lagu si Maia..EGP

 

Menurut saya kedepannya perlu lebih arif dan bijaksana lagi para pengambil keputusan terutama pemangku adat atau orang2 yang berkompeten dalam penentuan atau malewakan gala ini, intinya ini masalah Adat dan budaya atau Tradisi yang telah berakar berurat jangan sampai dipengaruhi oleh kekuasaan yang boleh dikatakan tidak “berakar berurat” buktinya setiap 5 tahun kedepan tentu berbeda juga peta Kekuasaan dan satu lagi  tentunya juga tidak dipengaruhi oleh “money talk”

 

Pertanyaan Uni Evy ini “bagaimana acuan” ini sangat menarik  atau istilah sekarangnya bagaimana sih SOP melewakan/memberikan Gala ini dari segi biaya apa syarat-syarat normative yang harus disediakan (misal bara ikua bali Kabau untuak dibantai katiko baralek) , mudah2an sanak di Palanta ini ada yang bisa memberikan jawabannya secara “teknis” sesuai dengan Adat dan Budaya Nagari kito.

 

Dari uraian saya diatas kalaulah boleh saya ingin minta pendapatnya Pak Syaaf yang selalu mempunyai energi yang lebih jika berbicara tentang ABS-SBK, Ibaratnya mendapat sedikit second opinion..lah atau hal-hal lainnya penambah wawasan kami nan ka manjalang gaek ko, apolai ambo kini sadang “tababan” lo masalah jo gala ko.

Tapi ambo alun sanggup malewakan di Palanta ko, apo nan kiro2 manjadi baban ambo tu.

 

 

Terakhir jika ada kurang berkenan atau ada kata-kata saya salah atas postingan diatas untuk itu mohon maaf, intinya saya (kita) semua mencintai sNagari kito Ranah Minang tacinto dengan segala Adat, Budaya, Tradisi, Kearifan Lokal yang memang telah membumi alias berakar berurat.

 

Wass-Jepe (43, Pku)

 

Maaf Rang Dapua indak mandelete nan dibawah bia agak manyambuang

 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Wednesday, September 24, 2008 6:08 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: MH Bachtiar Abna SH; azmi datuk bagindo; Datuk Endang
Subject: [R@ntau-Net] Re: MARI KITO PASANG NAMO SUKU DI BALAKANG NAMO KITO ---> Gelar panggilan

 

Waalaikumsalam w.w. Rangkayo Hifni dan para sanak sa palanta,

Gala saya sendiri -- Soetan Madjolelo -- warisan dari mamak saya suku Tanjuang, jarang sekali saya pakai. Juga jarang sekali orang memanggil saya dengan gala itu, kecuali almarhumah ibu mertua saya, yang kemudian menggantinya dengan memanggil saya 'haji' setelah saya naik haji tahun 1994, yang juga jarang saya pakai.

Entah bagaimana, sekarang orang sering memanggil saya 'Prof'', mungkin karena gelar akademik saya 'doktor' serta rambut saya yang sudah putih. Nyaman juga mendengarnya, karena saya memang dosen S1 dan S2 di beberapa perguruan tinggi, walau tidak ada SK jadi profesor. Namakanlah 'profesor praktek'. [ Ada juga yang memanggil saya 'jenderal'. Lumayan].
Tentang penjelasan dan jawaban terhadap masalah 'gala' ini dari segi adat, saya teruskan kepada yang lebih ahli, yaitu pak Bachtiar Abna S.H., M.H., Dt Rajo Penghulu,  Angku Azmi Dt Bagindo, atau Angku Dt Endang Pahlawan.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta)

Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;




--- On Wed, 9/24/08, HIFNI HFD <hy...@yahoo.com> wrote:

From: HIFNI HFD <hy...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: MARI KITO PASANG NAMO SUKU DI BALAKANG NAMO KITO ---> Gelar panggilan
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Wednesday, September 24, 2008, 12:53 PM

Yang ambo muliakan Mamaak Saaf, adik-adik/kemenakan serta sanak saparatian yang ambo hormati.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakhatuh.

Menarik juga topik mengenani suku yang kemudian,  berkembang menjadi gelar panggilan pada pria minang yang sudah menikah, dimana akhirnya kita harapkan akan menemukan suatu resume dalam pembentukan ABS-SBK. Sekedar berbagi informasi diantara kito badusanak, maka ingin pulo saya ikut serta bergabung memperbincangkan masalah yang satu ini, melalui pengalaman pribadi saya.

I.   Memang betul bahwa tidak semua pepatah 'ketek banamo gadang      bagala'  balaku umum secara umum di Ranah kito , seperti di Luhak nan      bungsu (Payokumbuah) dan juga luhak tanah datar. Di keluarga kami ada      ipar yang berasal dari Batusangkar yang tidak mempunyai gelar      panggilan sebagai seorang menantu - sehingga kami sering agak kagok      (tagigik lidah . ...???) bila menyebut namanya saja.
     Akhirnya untuk berakrab-akrab terpaksalah kami memanggil mereka      Oom.. A

II. Tinjauan matrilinial dan patrilinial :
a.   Ibu Mertua saya - adalah seorang Puti disalah satu wilayah kota Padang. Entah adat  atau luhak mana yang dipakai - atas status sosial ini - semua anak keturunan puti -  puti  akan bergelar Puti dan Sutan, bagi anak perempuan dan laki-laki sejak ia lahir..
      - Dalam tinjauan matrilinial, maka Puti puti ini bila menikah dengan siapun, baik minang  atau non minang, maka anak-anaknya tetap akan bergelar Puti dan Sutan sejak lahir.
        Akan tetapi bila, si Sutan menikah dengan wanita minang atau non minang, maka anak laki-lakinya akan bergelar " Marah" didepan namanya  dan Siti bagi perempuan. Gelar ini diperolehnya juga sejak anak itu lahir.
 
b.   Bapak Mertua saya - adalah seorang Sutan yang berasal dari " Pasia" - Pariaman. Menurut adat di Pariaman, maka ia mewariskan kepada anak laki-lakinya gelar Sutan, seperti halnya bagindo atau Sidi. Inilah yang akan menjadi nama panggilan bagi anaknya bila kelak sudah menikah.
      Dalam penerapan panggilan demikian, kita menyimpulkan bahwa telah berlaku sistem patrilinial di Pariaman itu.
      Alhasil suami saya  saat ini bergelar - Sutan Kwadrat ( begitu ambo secara bergurau menyebutkan kepadanya... ), karena gelar yang diperoleh dari Ibu dan dari ayahnya itu..
      Pada saat  sang suami menjadi raja sehari, kening keluarga saya pun berkerut karena heran... karena ternyata pada saat itu  - ia dilewakan lagi gelar kaum kepadanya oleh Mamak-mamaknya dengan nama " Sutan Perhimpunan".
Nah Lho.....

c. Seandainya anak laki-laki saya menikah, pastilah ia  dipanggil "Marah" karena gelar keturunan yang diperoleh dari Ayahnya - sebagai Sutan di kota Padang. Namun Ia anak yang lahir dan besar di rantau, pastilah aneh jika ia dipanggil Marah. Seandainya ia dipanggil Sutan pun - sah sah aja, karena gelar itu juga diperoleh dari papanya yang ayahnya orang pariaman (menganut sistem patrilinial). Akan tetapi saya rikuh jika anak saya ini dipanggie " Sutan ".

d. Jika sistem matrilinial yang ingin diterapkan kepada anak-anak saya ini, maka tentuia akan memperoleh gelar panggilan dari Mamak-mamaknya (saudara laki-laki) saya, semisal Marah Sutan, Marah Marajo, Sutan Kulipah, Sutan Makhudum dan Rajo Kaciek. Ini adalah gelar-gelar turunan yang ada dikeluarga kami yang masih menjunjung sistem Matrilinial.
Karena kami bersuku Tanjung - berarti ia dapat pula menambahkan  nama Tanjung dibelakang namanya. 

Dengan uraian yang ambo sebutkan pada butir II ini, maka ambo ingin manumpang batanyo saketek.... Baa bana sabananyo ketentuan gala..iko di ranah kita. Benarkah ada luhak atau nagari tidak menganut sistem gelar panggilan sebagaimana pepatah "ketek banamo gadang bagala". ?
Barangkali kita di rantau ini perlu diberi panduan oleh para pemangku adat sehingga kami bisa pula meneruskan kepada generasi muda minang tentang khazanah budaya - mengenai panggilan dan sebutan pria..

III. Ada pertanyaan saya, mengapa ada pemangku adat yang melewakan gala gadang kepada para pejabat negara kita. Bagaimana acuan ? dan siapakah yang memberi ? Apakah sama halnya seperti pemberian gelar di keraton-keraton di tanah jawa ? jika  ada nilai kontribusi seseorang  pada sebuah keraton di Jawa.

Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf, karena saya terpaksa mengambil kasus yang terjadi pada keluarga saya. Terima kasih kepada sanak yang bersedia merespon pertanyaan saya pada butir III.

Demikian dan terima kasih,

Wassalam,

 



 

--- On Tue, 9/23/08, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:

jadi alah samakin jaleh kini bahaso pepatah 'ketek banamo gadang bagala' indak balaku umum di Ranah, tamasuak di Payokumbuah jo Lintau.

Dek karano ituah salamo ko indak bosan-bosannyo ambo mandorong supayo ado semacam 'buku petunjuak' nan basifat komprehensif -- langkok -- tantang adat Minangkabau, jan tabateh di nagari kito surang-surang.

Kalau memang indak umum di Ranah kaum pria nan alah dewasa diagiah gala, mako pepatah tasabuik paralu kito 'amandemen' sahinggo babunyi: 'ketek banamo, gadang --kadang-kadang ado nan -- bagala'. Jadi 'namo ABS SBK' kito, baiak untuk padusi maupun laki-laki, cukuik tigo unsur sajo: 1) namo ketek; 2) bin atau binti namo Ayah; 3) namo suku.

Baa tu Angku Azmi Dt Bagindo?

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta)

Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;




--- On Tue, 9/23/08, Ephi Lintau <ephi....@gmail.com> wrote:

From: Ephi Lintau <ephi....@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: MARI KITO PASANG NAMO SUKU DI BALAKANG NAMO KITO ---> NAMO ABS SBK
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Tuesday, September 23, 2008, 6:11 PM

dulu ambo pun sempat batanyo di milisko tamasuak di forum cimbuak.com, satantang petatah minang, "ketek banamo gadang bagala", namun di kampuang ambo, lintau, suku mandahiliang, nan bagala tu persis sprti nan disampaikan dek Mak Tan Lembang. dan dek istri ambo urang piaman, mako ambo di bari gala (mungkin disabuik gala kehormatan) Sutan Marajo. Gala ikopun hanyo dipakai jiko ambo barado di lingkungan keluarga istri. ambo disinan dipanggia sutan, bukan namo. Namun jiko di kelurga lintau, gala ko ndak dipakai doh. Makonyo...Gala tuh jarang dipakai dibulakang namo.

salam
Yuhefizar a.K.a Ephi Lintau
Padang, 32 thn.

On Tue, Sep 23, 2008 at 4:51 PM, Boediman Moeslim <boed...@yahoo.com> wrote:

Manolah Mamanda Saaf Stn Majolelo jo dunsanak sapalanta nan Tan Lembang hormati,

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi wa barrakatuh.

--------------- gunting ----------------------------

Tan Lembang baurang tuo asa dari Lintau, tapeknyo gaek padusi urang jorong jo nagari Tanjuang Bonai Kacamatan Lintau Nagari nan samo tapi jorong babeda, yaitu jorong Tanjuang Kaciak samo-samo dari  Tanjuang Bonai, Lintau, Tanah Data.

Sapangatahuan kami di sinan indak baagiah gala untuak nan lah barumah tangga doh, kacuali baa kecek kawan awak nan mamilis di bawahko bahaso nan bagala adolah panghulu suku, saroman Datuak Marajo, Datuak Patiah, Datuak Tamangguang, dsbnyo. Untuak itulah, supayo nan lain tau, hal iko Tan Lembang baritokan, supayo indak salah kaprah bilo bacarito ka suku lain. Mungkin labiah tau tantangan gala-bagalako mamak-mamak nan ado di ranah minang. Ado suatu kasus nan tajadi di Jakarta alun lamoko, wakatutu anak dari adiak ipa Tan Lembang dipasandiangkan jo urang batawi, nan manjadi marapulai adolah pihak laki-laki nan barasa dari Batawi. Acara mamakai adaik minang (basuntiang jo basaluak urang awak). Dek nan ka manjadi wakia sapangka adolah urang nan indak urang kami (dari Bukik Tinggi kalau indak salah), mako batanyolah kawantu ka kami, baa ka baagiah gala apo ka marapulai? Dek kami indak biaso co itu, tapaso harus bakumpua dulu bamupakaik. Tanyato di tampek-tampek lain ado nan mamakai caroko. Mako disimpuakanlah bahaso indak ado balatak gala untuak marapulai tu, sabab di kami indak sakalipun manggunokan acara bantuakko. Yo, lain lubuak lain ikannyo, mak. Tantu mamak nan labiah tau. Cuma itu sajo jawaban dari Tan Lembang. Talabiah takurang, kalau ado kato nan salah mohon dimaafkan.

Oh yo tarimo kasih atas saran tantang tanah ulayat mak, saran sangaik bahago bagi kami.

 

Wassalam,

 

Tan Lembang, baurang gaek urang Lintau (L,52)

Bandung 

 

 

----- Original Message ----
From: Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com>

Manolah Pak Saaf Stn Majolelo & Mak Tan Lembang,

Kalau di daerah luhak nan bonsu 50 koto kampungnyo Bundo Nismah, nan diagiah gala Cuma pangulu sabagai Datuak.

Jadi gala pusako pasukuan dipacik dek pangulu, misanyo Datuak Suri Dirajo.

Sagitu nan ambo tau

Salam

Nofiardi Rj Mntr 41+0+1

 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto: Rant...@googlegroups.com ] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Wednesday, September 17, 2008 9:17 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: MARI KITO PASANG NAMO SUKU DI BALAKANG NAMO KITO ---> NAMO ABS SBK

 

Tarimo kasih ateh info Sanak Tan Lembang ko, bahaso indak sadonyo nagari mangharuskan laki-laki nan alah kawin mamakai gala. Jadi memang macam-macam adat kito ko. Ado  nagari nan justru maagiah gala ka nan alun kawin, sarupo dijalehkan fek pak Darul.

Kok buliah ambo batanyo dima persisnyo nagari Sanak nan punyo kabiasaan indak maagiah gala ?  Kok iyo saroman tu, yo cukuik tigo unsur sajolah.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta )

Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;

 

 






 

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Sep 24, 2008, 11:00:16 PM9/24/08
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Jupardi jo para sanak sa palanta,
Saparati ambo jalehkan sabalun ko, soal gala ko tahap pikiran ambo kini baru tahap manampuang kabutuhan dari para sanak kito dari nagari-nagari nan biaso maagiah gala, untuak disatukan dalam 'namo ABS SBK'. Manuruik Dt Endang, ruponyo gala adat tu takaik jo fungsi dalam suku. [ Ambo masih batanyo-tanyo dalam hati soal makna dari babarapo gala nan bunyinyo 'wah', nan kadang-kadang taraso indak ado hubuangannyo jo fungsi kini atau jo 'postur' dan 'posisi' urang nan manyandangnyo, sahinggo taraso kurang fungsional].
Soal maagiah gala ka pejabat iko nampaknyo balatar belakang politik, mungkin dimuloi sajak zaman Soekarno jadi presiden dulu. Baliau sandiri kan suko jo gala 'Pemimpin Besar `Revolusi', dan sagalo 'agung'. Untuak maso kini indak jauah bana bedanyo doh. Urang batagak gala baru biasonyo kalau alah dakek ka pemilu atau ka pilkada, tantu untuak gala nan 'tinggi' derajatnyo. Ampia indak ado nan batagak gala 'sutan', 'marah', 'katik', atau 'sidi', karano mungkin kurang 'wah'.
Kalau ambo ditanyo, ambo maanjurkan ka nan mudo-mudo, indak usah  mancari atau manunggu diagiah sagalo macam 'gala politik' tu, karano nampaknyo sasudah diagiah gala, indak ado nan mangana atau manyabuik gala tu lai -- tamasuak nan diagiah gala tu surang -- tapi rabuiklah gala maso kini nan dicapai jo prestasi awak surang, saparati gala insinyur, dokter, sarjana hukum, dan nan sejenis, kalau ado kesempatan rabuik doktor, profesor. Labiah dari tu, rabuik Hadiah Nobel, Hadiah Magsaysay. Jadi gala nan takaik jo fungsi jo prestasi.
Tapi baa kok urang maagiah gala juo ? Kabaa juo lai, tarimo sajolah, sekedar sopan santun dan manambah kawan. Indak ado mudharatnyo, malah ado manfaatnyo, paliang kurang kok baminat nanti sato jadi caleg, capres, cagub, cabup, cawali. Lagi pulo kan dapek baju jo kupiah baru, kadang-kadang dapek karih, sarato makan bajamba, lumayan.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Thu, 9/25/08, Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ> wrote:

 

Wass-Jepe (43, Pku)

 

(L, masuk 72 th, Jakarta )

Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;

--- On Wed, 9/24/08, HIFNI HFD < hy...@yahoo.com > wrote:

From: HIFNI HFD < hy...@yahoo.com >
Subject: [R@ntau-Net] Re: MARI KITO PASANG NAMO SUKU DI BALAKANG NAMO KITO ---> Gelar panggilan
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Wednesday, September 24, 2008, 12:53 PM

Yang ambo muliakan Mamaak Saaf, adik-adik/kemenakan serta sanak saparatian yang ambo hormati.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakhatuh.

Menarik juga topik mengenani suku yang kemudian,  berkembang menjadi gelar panggilan pada pria minang yang sudah menikah, dimana akhirnya kita harapkan akan menemukan suatu resume dalam pembentukan ABS-SBK. Sekedar berbagi informasi diantara kito badusanak, maka ingin pulo saya ikut serta bergabung memperbincangkan masalah yang satu ini, melalui pengalaman pribadi saya.

I.   Memang betul bahwa tidak semua pepatah 'ketek banamo gadang      bagala'  balaku umum secara umum di Ranah kito , seperti di Luhak nan      bungsu (Payokumbuah) dan juga luhak tanah datar. Di keluarga kami ada      ipar yang berasal dari Batusangkar yang tidak mempunyai gelar      panggilan sebagai seorang menantu - sehingga kami sering agak kagok      (tagigik lidah . ...???) bila menyebut namanya saja.
     Akhirnya untuk berakrab-akrab terpaksalah kami memanggil mereka      Oom.. A

II. Tinjauan matrilinial dan patrilinial :

a.   Ibu Mertua saya - adalah seorang Puti disalah satu wilayah kota Padang . Entah adat  atau luhak mana yang dipakai - atas status sosial ini - semua anak keturunan puti -  puti  akan bergelar Puti dan Sutan, bagi anak perempuan dan laki-laki sejak ia lahir..


      - Dalam tinjauan matrilinial, maka Puti puti ini bila menikah dengan siapun, baik minang  atau non minang, maka anak-anaknya tetap akan bergelar Puti dan Sutan sejak lahir.
        Akan tetapi bila, si Sutan menikah dengan wanita minang atau non minang, maka anak laki-lakinya akan bergelar " Marah" didepan namanya  dan Siti bagi perempuan. Gelar ini diperolehnya juga sejak anak itu lahir.
 
b.   Bapak Mertua saya - adalah seorang Sutan yang berasal dari " Pasia" - Pariaman. Menurut adat di Pariaman, maka ia mewariskan kepada anak laki-lakinya gelar Sutan, seperti halnya bagindo atau Sidi. Inilah yang akan menjadi nama panggilan bagi anaknya bila kelak sudah menikah.
      Dalam penerapan panggilan demikian, kita menyimpulkan bahwa telah berlaku sistem patrilinial di Pariaman itu.
      Alhasil suami saya  saat ini bergelar - Sutan Kwadrat ( begitu ambo secara bergurau menyebutkan kepadanya... ), karena gelar yang diperoleh dari Ibu dan dari ayahnya itu..
      Pada saat  sang suami menjadi raja sehari, kening keluarga saya pun berkerut karena heran... karena ternyata pada saat itu  - ia dilewakan lagi gelar kaum kepadanya oleh Mamak-mamaknya dengan nama " Sutan Perhimpunan".

Nah Lho.....

c. Seandainya anak laki-laki saya menikah, pastilah ia  dipanggil "Marah" karena gelar keturunan yang diperoleh dari Ayahnya - sebagai Sutan di kota Padang . Namun Ia anak yang lahir dan besar di rantau, pastilah aneh jika ia dipanggil Marah. Seandainya ia dipanggil Sutan pun - sah sah aja, karena gelar itu juga diperoleh dari papanya yang ayahnya orang pariaman (menganut sistem patrilinial). Akan tetapi saya rikuh jika anak saya ini dipanggie " Sutan ".



d. Jika sistem matrilinial yang ingin diterapkan kepada anak-anak saya ini, maka tentuia akan memperoleh gelar panggilan dari Mamak-mamaknya (saudara laki-laki) saya, semisal Marah Sutan, Marah Marajo, Sutan Kulipah, Sutan Makhudum dan Rajo Kaciek. Ini adalah gelar-gelar turunan yang ada dikeluarga kami yang masih menjunjung sistem Matrilinial.
Karena kami bersuku Tanjung - berarti ia dapat pula menambahkan  nama Tanjung dibelakang namanya. 

Dengan uraian yang ambo sebutkan pada butir II ini, maka ambo ingin manumpang batanyo saketek.... Baa bana sabananyo ketentuan gala..iko di ranah kita. Benarkah ada luhak atau nagari tidak menganut sistem gelar panggilan sebagaimana pepatah "ketek banamo gadang bagala". ?
Barangkali kita di rantau ini perlu diberi panduan oleh para pemangku adat sehingga kami bisa pula meneruskan kepada generasi muda minang tentang khazanah budaya - mengenai panggilan dan sebutan pria..

III. Ada pertanyaan saya, mengapa ada pemangku adat yang melewakan gala gadang kepada para pejabat negara kita. Bagaimana acuan ? dan siapakah yang memberi ? Apakah sama halnya seperti pemberian gelar di keraton-keraton di tanah jawa ? jika  ada nilai kontribusi seseorang  pada sebuah keraton di Jawa.

Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf, karena saya terpaksa mengambil kasus yang terjadi pada keluarga saya. Terima kasih kepada sanak yang bersedia merespon pertanyaan saya pada butir III.

Demikian dan terima kasih,

Wassalam,

 

--- On Tue, 9/23/08, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:

jadi alah samakin jaleh kini bahaso pepatah 'ketek banamo gadang bagala' indak balaku umum di Ranah, tamasuak di Payokumbuah jo Lintau.

Dek karano ituah salamo ko indak bosan-bosannyo ambo mandorong supayo ado semacam 'buku petunjuak' nan basifat komprehensif -- langkok -- tantang adat Minangkabau, jan tabateh di nagari kito surang-surang.

Kalau memang indak umum di Ranah kaum pria nan alah dewasa diagiah gala, mako pepatah tasabuik paralu kito 'amandemen' sahinggo babunyi: 'ketek banamo, gadang --kadang-kadang ado nan -- bagala'. Jadi 'namo ABS SBK' kito, baiak untuk padusi maupun laki-laki, cukuik tigo unsur sajo: 1) namo ketek; 2) bin atau binti namo Ayah; 3) namo suku.

Baa tu Angku Azmi Dt Bagindo?

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta )

Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;

--- On Tue, 9/23/08, Ephi Lintau <ephi....@gmail.com> wrote:

From: Ephi Lintau <ephi....@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: MARI KITO PASANG NAMO SUKU DI BALAKANG NAMO KITO ---> NAMO ABS SBK
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Tuesday, September 23, 2008, 6:11 PM

dulu ambo pun sempat batanyo di milisko tamasuak di forum cimbuak.com, satantang petatah minang, "ketek banamo gadang bagala", namun di kampuang ambo, lintau, suku mandahiliang, nan bagala tu persis sprti nan disampaikan dek Mak Tan Lembang. dan dek istri ambo urang piaman, mako ambo di bari gala (mungkin disabuik gala kehormatan) Sutan Marajo. Gala ikopun hanyo dipakai jiko ambo barado di lingkungan keluarga istri. ambo disinan dipanggia sutan, bukan namo. Namun jiko di kelurga lintau, gala ko ndak dipakai doh. Makonyo...Gala tuh jarang dipakai dibulakang namo.

salam
Yuhefizar a.K.a Ephi Lintau

Padang , 32 thn.

Jupardi

unread,
Sep 24, 2008, 11:32:16 PM9/24/08
to Rant...@googlegroups.com

Pak Syaaf dan sanak sapalanta

 

Tarimo kasih penjelasannyo, intinyo ambo dapek memahaminya baik yang tersirat maupun yang tersurat apa yang Bapak sampaikan, apalagi ada sedikit “sense of humour” nya..kalau yang begini atau bahasa2 canda yang bersayap..ambo bana Pak atau istilah dima Pak Syaaf marantau (Gue banget geto)…ambo hanyo manggaris bawahi sajo kalimat terakhir “makan bajamba lumayan”..onde Pak ambo paliang suko bana mah kok ado makan bajamba dikampuang katiko baralek diateh rumah gadang pasukuan ambo. Nan jaleh lah sato lo ambo mah duduak dibando rumah gadang tu. Sekedar Tips makan bajamba ko, jaan diharok tibo diateh duduak, baco Bismillah, buka tuduang jamba, makan lai..iyo baputa-puta dulu sambah manyambah ko sabalun makan.

 

Lah harok ambo katiko mandanga “lah sampai tu dek Mak datuak” dalam hati ko makan lai awak

Ondeee samakin panjang ruponyo lai..samantaro paruik lah mangaranyam mancaliak samba nan lamak2 di Jamba ha..ha..ha

Kecek Mak tuo ambo(Tips makan bajamba)..kok ka makan bajamba juo diateh rumah gadang, sabalun naik aleh paruik agak saketek dulu

Urang diateh rumah gadang tu ka baretong dan sambah manyambah mah…lamo

Lalu kecek Mak tuo ambo ko..ituangan tu puta kaputa disinan sajo..itulah Adaik

 

Ibaratnyo nan dicaritokan lah jaleh “pungguang sabuik ko bungkuak dibahas juo” ha..ha..ha..baitulah adaik kito

 

Samantaro urang baretong sambah manyambah..nan mato ambo samakin lia maintai  jamba dihadoan kiri kanan jangkauan ambo ;)

Dima yo goreng ayam kampuang balah ampek balado nan di goreng jo minyak tanak  ;)

Alah tu Pak Syaaf…malakik tanga hari ko bacarito samba nan lamak di jamba tu mambuek paruik ambo malipek ka pungguang

Nan jaleh abih lebaran ko dikampuang ambo ka baralek lo anak kamanakan..lah kaduduak lo ambo ka ateh rumah gadang makan bajamba

Intaian ambo he..he..he Goreng Ayam kampuang balado balah ampek jo gulai putiah (kurma)…

 

Terakhir  Pak Syaaf mengenai malewakan Gala ko (Topik awak) samantaro dek ambo nan diambiak “Makan Bajamba lumayan”  he..he

Mudah2an kok lai tacapai cita2 ambo maambiak gala S2 dulu

 

 

Kecek kawan ambo di kampuang nan bijak “Kok maagiah Gala (Datuak) bisa sajo/gampang, nan PATUIK diagiah Gala tu nan pantiang”

 

Wass-Jepe

 

 

 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR


Sent: Thursday, September 25, 2008 10:00 AM
To: Rant...@googlegroups.com

Subject: [R@ntau-Net] Re: Tentang Pertanyaan Ibu Hifny malewakan Gala

 

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Sep 24, 2008, 11:53:23 PM9/24/08
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Jupardi jo para sanak sa palanta,
Alhamdulillah, ambo doakan studi S2 Sanak salasai pado wakatunyo jo judicium 'summa cum laude' handaknyo. Iyo baitu. Sasudah S2 taruihkan nanti ka S3.[Bia honor batambah kalau baceramah, he he.].
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Thu, 9/25/08, Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ> wrote:
From: Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Tentang Pertanyaan Ibu Hifny malewakan Gala
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Thursday, September 25, 2008, 10:32 AM

Pak Syaaf dan sanak sapalanta

 

Tarimo kasih penjelasannyo, intinyo ambo dapek memahaminya baik yang tersirat maupun yang tersurat apa yang Bapak sampaikan, apalagi ada sedikit “sense of humour” nya...kalau yang begini atau bahasa2 canda yang bersayap..ambo bana Pak atau istilah dima Pak Syaaf marantau (Gue banget geto)…ambo hanyo manggaris bawahi sajo kalimat terakhir “makan bajamba lumayan”..onde Pak ambo paliang suko bana mah kok ado makan bajamba dikampuang katiko baralek diateh rumah gadang pasukuan ambo. Nan jaleh lah sato lo ambo mah duduak dibando rumah gadang tu. Sekedar Tips makan bajamba ko, jaan diharok tibo diateh duduak, baco Bismillah, buka tuduang jamba, makan lai..iyo baputa-puta dulu sambah manyambah ko sabalun makan.

Datuak Arifz

unread,
Sep 25, 2008, 2:49:11 AM9/25/08
to RantauNet
Assallamualikum pak Saaf, bundo Hifni, mak Datuak Endang, Sanak Jepe
dan Mamak sarato sanak di palanta,

bari mauih sato pulo ambo saketek panukuak tambah diskusi 'gala' iko.
dari berbagai sumber

sasuai jo undang nan tuo

"adat salingka nagari
cupak salingka suku
buek salingka kampuang"

---> tiok nagari punyo undang undang nagari adokalonyo babeda tiok
nagari, sasuai jo kondisi nagari : nagari kurai=kota bkt, nagari
babateh jo lauik tantunyo sangat babeda jo nagari didarek. Kerapatan
Adat Nagari -KAN punyo 'otonom' mambuek undang undang nagari jo
parangkat nagari/wali nagari, bundo kanduang, cadiak pandai, alim
ulamo, anak mudo, dll,

----> buek salingka kampuang ;tiok kampuang/jorong dalam nagari
buliah mambuek suatu kesepakatan sakampuang untuak manjago
keharmonisan dalam masyarakat kampuang, biasonyo "buek" mangacu ka UUN
undang undang nagari.

"ulayat nagari : musajik, lapangan/medan nan bapaneh, balai nagari,
pakan/pasa, tabek nagari, tali banda nagari, rimbo nagari, parik
nagari, tanah nagari/tanah rajo"

ulayat salingka kampuang --> "ulayat kaum/suku saparuik : tanah sako
tinggi/tanah turiah an, pandam pakuburan, dll"

pangulu diminangkabau 'ditinggikan sarantiang, didulukan salangkah'

sangat menarik karano gala adat nan di sandang mamak mamak pangulu/
datuak dari sapasukuan/kaum biasonyo adolah "Kapalo Warih" dari kaum/
kaum tersebut kabayakan dinagari-nagari di minangkabau bagala datuak,
dikelompokkan ka pangulu andiko/mamak kapalo suku sakaum/saparuik.
suku babuah paruik, tiok paruik ba kapalo suku (datuak/pangulu andiko)
sasuai jo "tiok lasuang baayam gadang"
karano dalam nagari ado banyak suku (nagari baampek suku--biasonyo
labiah dari ampeksuku)
dari pangulu paruik ko ado dipiliah pangulu kapalo suku untuak duduak
dalam Kerapatan Adat Nagari,
sasuai jo "adat salingka nagari" biasonyo pangulu pucuak nan duduak
disiko, (dt sati, dt marajo, dt mangiang, dt kayo, dll) atau secara
turun temurun galanyo tatap sasuai jo nagari masiang masiang,

baitu pulo jo 'gala' nan dipakai anak nagari apakah ketek banamo
gadang bagala atau ketek banamo lah bakeluarga indak diagiah gala
tantunyo tiok nagari babeda, sasuai jo adat nan lah biaso dipakai
dalam suatu nagari.

sasuai jo kamajuan zaman, mako tantunyo banyak pulo pangulu nan
basikola tinggi, untuak mambimbiang anak kamanakan.

gala pangulu di sangkuik an ka anak atau cucu bilo ado mamak lah
maningga buliah dari mamak kakamanakan, buliah malongkang mamak, dari
inyiak kacucu nan saparuik.
atau bilo mamak lah 'ka bukak baju' mako gala datuak bakisa ka
kamankan sadang gala barubah manjadi angku
atau dilipek dulu, manunggu kamanakan "nan patuik" manarimo gala
pusako

biasonyo "sapakat kaum sasuku" barulah gala di sangkuik an, jiko alek
nagari lah siap baru diadokan alek nagari batagak gala pusako, ado
nagari nan mamotong kabau saikua kabau surang datuak, ado lo nagari
baiyua basamo mamotong saikua kabau untuak babarapo urang
pangulu..babeda tiok nagari.

di nagari panampuang
kalau seorang pemuda ka barumah tanggo, biasonyo dimintakan gala ka
kaumnyo dulu, buliah juo dimintakan gala ka bako nyo, atau dipakai
gala nan lah ado di badan dirinyo /datuak, atau gala nan dibari induak
bako, salaku anak pisang baliau lah dibari gala wakatu malewakan
datuak tipak dibakonyo, biasonyo bagala sutan

nan tasuo gala ko disasuaikan jo kurenah nan kamanyandang gala
urang surau --> katik, imam, sidi, bila, pakiah, tuangku, kali/kadhi
(nyiak kali tuo)
cadiak pandai/profesi --> muncak, mantari, sutan, bagindo, pono,
marah, lenggang,kayo, menan, bandaro,dll,
pangulu/pemimpin --> datuak, pangka tuo, yang dipituan, nyiak angku,
tuan gadang, tuo, rajo, dll

adokalonyo bilo nagari/kaum lah sapakat gala Tuangku dapek pulo di
pakai langsuang ka rang mudo kabarumah tanggo jiko syarat nyo lah
tapanuhi yaitu mangarati Qur'an jo hadis, mantiak, maani, biasonyo
lulusan sikola tarbiyah canduang/pesantren lansuang dibari gala
Tuangku, kadang dibari gala pakiah dulu baru sidang nagari mambari
gala Tuangku, contoh : Tuangku Rajo Endah, Tuangku Rajo Mangkuto,
Tuangku Ampek Rasua, etc basaratuoan jo Angku Imam jo Angku Kadhi/
Kali kampuang/sidang musajik.

gala iko paralu untuak saling memuliakan, mintuo, sumando, rang
kampuang,
salain gala kaum untuak anggota kaum dan gala kehormatan untuak
'minantu' dari lua,
gala dari bako, gala dari nagari/KAN,
gala ko dapek pulo diberikan Istana Basa Pagaruyuang (gala Sangsako
Adat/Gelar kehormatan)

gala Sangsako adat antaro lain untuak Dr.Susilo Bambang Yudhoyono Yang
Dipertuan Maharaja Pamuncak Sari Alam
merupakan gelar Sangsako Adat dari KAN Tanjung Alam lalu dilewakan
Istano Basa Pagaruyuang.

Sri Sultan Hamengkubowono X Yang Dipertuan Maharajo Alam Sati (Rajo/
Gubernur DIY)

DYMM Tuanku Ja'afar ibnu Tuanku Abdurrahman Perkasa Alam Johan
Berdaulat (Yang Dipertuan Agong Malaysia/Yang Dipertuan Besar Negeri
Sembilan)

sedangkan Gala
Yusril Ihza Mahendra Datuak Rajo Palinduang adalah gala pusako dari
kaum suku Malayu payokumbuah, siabu, bangkinang.
Taufik Kiemas Datuak Basa Batuah adolah gala sako adat dari kaumnya
Nagari Sabu, batipuah, tanah datar

sakitu dulu, mohon maaf kalau ado nan salah, mari kito basamo
maluruihkan.

kito minta pulo pancerahan dari Lembaga Kerapatan Adat Alam
Minangkabau Sumatera Barat- LKAAM ,
Yth Mamak YZ Dt. Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang,
Pucuak Adat Nagari Silungkang - Padang Sibusuak
sarato
Yth.Mamak Datuak Endang dari Lembaga Adat dan Kebudayaan Minangkabau -
LAKM dijabodetabek


wassallam,
Ir.AZ Dt Rajo Alam (37+/dibaliakpapan)
Sikumbang, nagari Panampuang,Agam


=bakuduang==
> Terakhir Pak Syaaf mengenai malewakan Gala ko (Topik awak) samantaro dek ambo nan diambiak “Makan Bajamba lumayan” he..he
> Mudah2an kok lai tacapai cita2 ambo maambiak gala S2 dulu
> >
> Kecek kawan ambo di kampuang nan bijak “Kok maagiah Gala (Datuak) bisa sajo/gampang, nan PATUIK diagiah Gala tu nan pantiang”
>
> Wass-Jepe
>
===bapapek===

auliah azza

unread,
Sep 25, 2008, 3:10:01 AM9/25/08
to Rant...@googlegroups.com
Maaf, ambo batanyo seketek untuak Dt. Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang, yang mememang jabatan sudah diganti ya ?

Tahun 2002 yang memangku jabatan tersebut adalah DR. IR. Nuzirwan MS yang bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang untuk Padang Sibusuk dan Irwan Husein Sutan Bagindo bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang untuk Silungkang.

auliahazza.35.f.supanjang.dj


On 9/25/08, Datuak Arifz <arif...@yahoo.com> wrote:

kito minta pulo pancerahan dari Lembaga Kerapatan Adat Alam
Minangkabau Sumatera Barat- LKAAM ,
Yth Mamak YZ Dt. Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang,
Pucuak Adat Nagari Silungkang - Padang Sibusuak
sarato
  Yth.Mamak Datuak Endang dari Lembaga Adat dan Kebudayaan Minangkabau -
LAKM dijabodetabek


wassallam,
Ir.AZ Dt Rajo Alam (37+/dibaliakpapan)
Sikumbang, nagari Panampuang,Agam


=bakuduang==
> Terakhir  Pak Syaaf mengenai malewakan Gala ko (Topik awak) samantaro dek ambo nan diambiak "Makan Bajamba lumayan"  he..he
> Mudah2an kok lai tacapai cita2 ambo maambiak gala S2 dulu
>  >
> Kecek kawan ambo di kampuang nan bijak "Kok maagiah Gala (Datuak) bisa sajo/gampang, nan PATUIK diagiah Gala tu nan pantiang"
>
> Wass-Jepe
>
===bapapek===





--
http://auliahazza.com/
http://auliahazza.belajar-islam.com/

Datuak Arifz

unread,
Sep 25, 2008, 4:53:32 AM9/25/08
to RantauNet
Sanak Auliahazza jo mamak di palanta,

ambo luruih an baliak,

Mamak Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS Dt. Pahlawan Gagah Panungkek Gajah
Tongga
Koto Piliang,Pucuak Adat Nagari Silungkang - Padang Sibusuak

tamasuak Langgam nan tujuah
Silakan mambaco : Titah Pagaruyuang
www.silungkang.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=66 -

Langgam Nan Tujuh itu adalah sebagai berikut:
1. Sungai Tarab Salapan Batu, disebut Pamuncak Koto Piliang
2. Simawang Bukik Kanduang, disebut Perdamaian Koto Piliang
3. Sungai Jambu Lubuak Atan, disebut Pasak Kungkuang Koto Piliang
4. Batipuah Sepuluh Koto disebut Harimau Campo Koto Piliang
5. Singkarak Saniang Baka, disebut Camin Taruih Koto Piliang
6. Tanjung Balik, Sulik Aia, disebut Cumati Koto Piliang
7. Silungkang, Padang Sibusuak, disebut Gajah Tongga Koto Piliang

silakan cigok di
http://www.scribd.com/doc/3611543/Kompilasi-Hukum-ABSSBK-YUZIRWAN-PPT.

wassallam,
AZ Dt Rajo Alam (37+)
dibaliakpapan

==potong==
On Sep 25, 2:10 pm, "auliah azza" <auliaha...@gmail.com> wrote:
> Maaf, ambo batanyo seketek untuak Dt. Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga
> Koto Piliang, yang mememang jabatan sudah diganti ya ?
>
> Tahun 2002 yang memangku jabatan tersebut adalah DR. IR. Nuzirwan MS yang
> bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang untuk Padang
> Sibusuk dan Irwan Husein Sutan Bagindo bergelar Datuak Pahlawan Gagah
> Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang untuk Silungkang.
> ==potong==

Zulidamel

unread,
Sep 25, 2008, 6:06:40 AM9/25/08
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w.
 
....Kabaa juo lai, tarimo sajolah, sekedar sopan santun dan manambah kawan. Indak ado mudharatnyo..........
 
Kalau manuruik pandapek ambo, ketek banamo gadang  bagala, masih bagian dari estafet kepemimpinan di alam Minangkabau, sekali gus menunjuakan status sosial. Tapi baa juo, itu adolah status sosial di jaman jayanyo kerajaan Pagaruyuang. Kiniko tantunyo ndak paralu lai. Bahkan banyak nan manyandang gala adat datuak ndak bakatantuan di Jakarta sahinggo ndak ado pulo raso hormat dari keponakannyo sendiri. Kalau bantuak itu apo paralunyo dipatahankan.
 
Ambo sasuai jo kato mak saaf, kajalah gala maso kini, Ir, dr, Drs, Dra, Msc dll. Jadi gala dari hasia usoho manuntuik ilimu. Cubo juo baa caronyo marabuik gala presiden. itu baru mantap. Angku nan jadi presiden ambo cuman ikuik sanang sajo. Mudah-mudahan
 
 
 
Wassalam,
 
Zulidamel (45)
Jakarta
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, September 25, 2008 10:00 AM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Tentang Pertanyaan Ibu Hifny malewakan Gala

boes

unread,
Sep 25, 2008, 6:15:28 AM9/25/08
to Rant...@googlegroups.com
dapat dari kawan ttg kegiatan ramadhan
di pelosok dunia islam dan kebiasaan² mereka

http://www.boston.com/bigpicture/2008/09/observing_ramadan.html

wassalam
boes

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Sep 25, 2008, 6:52:51 AM9/25/08
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Datuak Arifz jo sanak sa palanta,
Samakin langkok juo pamahaman kito soal gala ko. Nampak dek ambo memang gala tu sabaiaknyo disasuaikan jo tampilan dan fungsi urang nan manyandangnyo. Jan jauah bana bedanyo.
Adonyo gala rangkap labiah rancak. Salain ado gala adat, ado pulo gala akademik, dilangkoki pulo jo gala agamo.Sasuai jo ABS SBK.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Thu, 9/25/08, Datuak Arifz <arif...@yahoo.com> wrote:
From: Datuak Arifz <arif...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Tentang Pertanyaan Ibu Hifny malewakan Gala

Datuak Arifz

unread,
Sep 25, 2008, 10:29:09 AM9/25/08
to RantauNet
iko nan taicia

RAJO ADAT
Raja Adat yang berkedudukan di Buo adalah salah seorang dari Rajo Duo
Selo di samping Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Juga
menjadi salah seorang dari Rajo Tigo Selo yang dikepalai oleh Raja
Alam. Raja Adat berwenang memutuskan perkara-perkara masalah
peradatan, apabila pihak Basa Ampek Balai tidak dapat memutuskannya.
Apabila ada persoalan adat yang tidak mungkin pula dapat diputuskan
oleh Raja Adat, persoalan tersebut dibawa kepada Raja Alam. Raja Alam
lah memutuskan segala sesuatu yang tidak dapat diputuskan oleh yang
lain.
Seorang Portugis bernama Thomas Diaz pada tahun 1684 diizinkan Belanda
untuk memasuki daerah pedalaman Minangkabau. Menurut laporan Thomas
Diaz, dia bertemu dengan Raja Adat di Buo. Raja Adat tinggal pada
sebuah rumah adat yang berhalaman luas dan mempungai pintu gerbang. Di
pintu gerbang pertama dikawal sebanyak 100 orang hulubalang sedangkan
di pintu gerbang kedua dikawal oleh empat orang dan dipintu masuk
dijaga oleh seorang hulubalang. Dalam menyambut Thomas Diaz, Raja Adat
dikeliling oleh para tokoh-tokoh berpakaian haji. Kemudian Raja Adat
memberi Thomas Diaz gelar kehormatan Orang Kaya Saudagar Raja Dalam
Istana.

silakan cigok disiko
http://palantaminang.wordpress.com/pagaruyuang/bab-iii-rajo-tigo-selo/

wassallam,
AZ Dt Rajo Alam

====cut====
On Sep 25, 1:49 pm, Datuak Arifz <arif_...@yahoo.com> wrote:
> Assallamualikum pak Saaf, Rangkayo Hifni, mak Datuak Endang, Sanak Jepe
> dan Mamak sarato sanak di palanta,
> > bari mauih sato pulo ambo saketek panukuak tambah diskusi 'gala' iko.
> dari berbagai sumber
> > sasuai jo undang nan tuo
>
> "adat salingka nagari
> cupak salingka suku
> buek salingka kampuang"

> ====cut=====

auliah azza

unread,
Sep 26, 2008, 6:06:12 AM9/26/08
to Rant...@googlegroups.com
oo ic ...

saya lihat yang asli di tabloid silungkang edisi keempat Oktober, pidato sama titahnya namanya beda. Yang di tabloid itu foto copy yang ada ttd Raja Pagaruyungnya.

Di pidato Raja Pagaruyung tertulis Nuzirwan MS tapi di surat titahnya Yuzirwan Rasyid, MS

Kebetulan saat acara tersebut saya hadir.

Nanti saya koreksi saja di pidato Rajo Pagaruyungnya untuk nama Pak Yuzirwan

Kebetulan Pak Arifz, saya yang admin di silungkang.com

terima kasih atas koreksinya.

auliahazza.f.35.supanjang
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages