(OOT) Cerpen Tsunami Aceh & Fukushima .. fwd: [antologiranah] Fresh from the oven: Project Sunshine for Japan

130 views
Skip to first unread message

Akmal Nasery BASRAL

unread,
Dec 26, 2012, 1:06:20 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum Wr. Wb sanak palanta RN nan budiman,
hari ko cuplikan Tsunami Aceh 8 tahun silam ditayangkan di sejumlah saluran TV. (Saat itu ambo sampek pulo ka "ground zero" nan sangaik menyedihkan)

Kebetulan tahun iko ambo diundang oleh sebuah komite internasional yang berpusat di Dortmund, Jerman, untuk berpartisipasi mewakili Indonesia dalam buku bertema "Project Sunshine for Japan" yang akan diisi oleh para penulis dari 25 negara. Kenapa disebut PSJ? Karena subyek tulisan  menyangkut "triple disaster" yang dialami Jepang, Maret 2011, khususnya di Fukushima (hoyak gampo, tsunami dan kebocoran reaktor nuklir). Penulis boleh memilih salah satu atau sekaligus ketiga jenis bencana. Ambo mengambil tsunami, dan menautkan dengan bencana Tsunami Aceh.

Buku PSJ  sendiri akan terbit Maret 2013, dilanjutkan dengan pameran internasional design poster dan visual art dari karya-karya dalam buku yang berlangsung sepanjang 2013 dari Dortmund sampai Osaka. Seluruh proyek bersifat pro-bono, sebagai solidaritas internasional sesama penulis.

Cerpen asli ambo dalam bahaso Inggris tapi untuk Palanta RN ko (alah dilewakan pulo di milis Antologi Ranah duo pakan lalu) diterjemahkan ka dalam bahaso Indonesia.

Semoga berkenan.

Wassalam,

Akmal N. Basral
Cibubur

 

Project Sunshine for Japan

 

 

JERIT ANGSA DI LANGIT FUKUSHIMA

Akmal Nasery Basral

 

 

Aizu Wakamatsu,  11 Maret 2011

 

            MEUTIA sedang berada di dalam ruang kuliahnya yang terletak di lantai 3 Universitas Aizu ketika dari jendela terlihat sekawanan angsa terbang ke arah Gunung Ono di Selatan.  Tak ada kawannya yang memperhatikan karena semuanya  sedang serius mendengarkan kuliah Profesor Kenzaburo Kan,  pakar rekayasa komputer terkemuka.

Mahasiswi asal Aceh itu melirik arlojinya: 14.30 JST. Sekilas pikirannya berkelebat. Tidak biasanya angsa-angsa yang memenuhi pantai Danau Inawashiro itu terbang sebelum musim panas tiba. “Meu-tia Ah-mad Su-lee-mang?” Suara keras Profesor Kan dalam dialek yang kental membuyarkan lamunannya.

“Ya, Sensei,” jawabnya tergagap.  Namun panggilan dengan nama lengkap yang jarang terjadi itu justru lebih dulu membawa kenangan Meutia ke kampung halamannya beberapa tahun silam.

 

Banda Aceh,  Februari 2005

 

            “MEUTIA Ahmad Sulaiman?”

Sepotong suara lelaki melengking mencoba mengalahkan kebisingan di sebuah barak pengungsi tsunami. “Mohon tenang bapak ibu …”

            Suara bising mendadak lenyap. Kepala-kepala mereka berputar menatap pintu masuk di mana berdiri seorang lelaki Aceh petugas sebuah lembaga kemanusiaan internasional. Di sampingnya ada lelaki paruh baya berwajah Oriental dan seorang wanita muda.  “Mana Meutia Ahmad Sulaiman?”  

            Seorang remaja putri berdiri sambil mengacungkan tangan dengan wajah bingung. “Saya Meutia,” sahutnya gugup

            “Jangan takut, dik. Mari ke sini,” katanya sambil melambaikan tangan.  “Pak Edogawa Rampo dari Kedutaan Jepang mau bicara.”

            Meutia melangkah membelah kerumunan pengungsi yang memberinya jalan,  sebelum sampai di depan lelaki Jepang yang mengangguk ramah. “Edogawa Rampo,” katanya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, dan memberikan isyarat kepada perempuan muda di sampingnya untuk memulai pembicaraan. Perempuan itu berdehem sebentar sebelum menjelaskan dalam bahasa Indonesia yang lancar. “Begini dik Meutia. Sebuah keluarga di Jepang ingin mengadopsi dik Meutia sebagai anak angkat mereka …”

            “Mengadopsi saya?” sambar Meutia terkejut. “Tapi saya sebentar lagi ujian kelas 3 SMP. Tidak mau!”

            Perempuan muda itu menerjemahkan perkataan Meutia kepada Edogawa yang memberikan jawaban dalam bahasa Jepang dan kembali diterjemahkan sang perempuan. “Ya, Pak Edogawa sudah tahu kisahmu yang banyak dimuat media massa. Justru kisahmu itu pula yang membuat keluarga Mishima di Aizu Wakamatsu tertarik untuk mengadopsi. Ini pembicaraan awal dulu, Meutia. Kamu konsentrasi saja untuk ujian akhirmu. Bagaimana?”

            “Tidak mau!” jawab Meutia dengan nada tinggi. “Keluargaku mati semua di sini. Semuanya. Meutia tak mau pergi ke mana pun, hanya mau di Aceh.”

           

            MEUTIA adalah salah seorang survivor bencana tsunami yang menghantam Aceh dan sejumlah negara di Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.2 Skala Richter. Lebih dari 200.000 jiwa menjadi korban dari amuk ombak laut setinggi 8 meter yang menyerbu daratan, termasuk mengempaskan sebuah kapal laut seberat 30 ton ke tengah lingkungan warga tempat Meutia tinggal.

            Ayah, ibu, dan tiga adik Meutia tewas dalam bencana dahsyat itu. Dan nyawa Meutia pun nyaris terpisah dari raganya saat tim penyelamat menemukannya tersangkut pada salah satu tiang kapal laut.  Kisah penyelamatannya yang dramatis menjadi salah satu berita yang paling sering disiarkan.

Media jatuh cinta dengan kisah Meutia, apalagi setelah mereka menemukan fakta bahwa nilai pelajarannya selalu tak pernah di bawah 9, meski kehidupan orang tuanya yang sangat miskin membuatnya tak bisa memiliki buku cetak pelajaran.  

Kisah tragis Meutia yang ikut dimuat koran Mainichi Shimbun menuai simpati Hiroshi Mishima dan istrinya  Harumi yang tinggal Aizu Wakamatsu, Prefektur Fukushima. Usia dan postur tubuh Meutia yang hampir sebaya dengan Reiko, anak tunggal mereka yang meninggal lima tahun silam akibat leukemia, membuat pasangan itu tak berpikir panjang untuk mengadopsi gadis Aceh itu. Sehingga saat mereka mendapatkan kabar dari Indonesia tentang penolakan Meutia, Harumi langsung mengajak suaminya ke Banda Aceh menemui langsung Meutia di barak pengungsi.  

            Jantung Harumi nyaris berhenti ketika melihat Meutia dari kejauhan.  Meski kulit anak itu jauh lebih hitam dari Reiko, bentuk mata lebih lebar, serta mengenakan jilbab, namun bentuk bibir, rahang bawah dan dagunya mirip putri tunggal mereka. Hiroshi pun menyadari kemiripan itu sehingga dia menggenggam erat tangan istrinya. “Kuatkan perasaanmu. Mungkin ini memang rencana Tuhan. Kita kehilangan anak, dia kehilangan orang tua.” Harumi tak menjawab, selain lewat setetes air mata yang meluncur cepat.

Serangkaian pembicaraan kemudian terjadi sebelum akhirnya Meutia  bersedia dengan usulan yang disampaikan pasangan Mishima: dia menyelesaikan bangku SMP di Aceh, sebelum  melanjutkan SMA di Jakarta atas bantuan biaya keluarga Mishima. Selama di Jakarta, Meutia juga akan mengikuti kursus bahasa Jepang sebagai bekal untuk mengikuti kuliah di Negeri Sakura.

 

Fukushima, 2009

            MESKI  Meutia berhasil menyelesaikan pendidikan SMA dengan baik pada 2008 dan masuk 10 lulusan terbaik tingkat Nasional, namun baru pada tahun ajaran berikutnya dia terdaftar di Universitas Aizu sebagai mahasiswi Jurusan Rekayasa dan Ilmu Komputer.  

Kedatangannya di Jepang disambut tangis haru Harumi yang memeluknya begitu erat seperti melihat Reiko hidup kembali.  Komunikasi intensif dengan Harumi sebelum kedatangannya ke Jepang, membuat Meutia tahu penderitaan Reiko  menghadapi leukemia. Dia sudah tak ragu lagi memanggil Harumi dengan panggilan “Haha” (ibu) dan Hiroshi sebagai “Chichi” (ayah).  “Terima kasih sudah menjadi orang tua baru bagi saya  Haha dan Chichi,” ujar Meutia sambil mencium tangan Harumi dan Hiroshi, sebuah kebiasaan anak-anak Aceh terhadap orang tua mereka, saat mereka bertemu lagi di bandara.

Meutia diberikan kamar Reiko yang sama saat dia masih hidup. Ada foto besar Reiko di dinding dan sebuah Salib Perak di atasnya. Meutia sempat terpana melihatnya. “Salib itu akan kami copot, Meutia,” ujar Hiroshi sambil mengambil sebuah kursi terdekat.

“Oh, jangan. Saya tidak terganggu, Chichi,” jawab Meutia sambil menatap Harumi dan menunjuk jilbab yang dipakainya sendiri. “Tapi karena saya muslimah, apakah saya boleh shalat di sini?”

“Tentu saja, anakku,” jawab Harumi sambil kembali memeluk Meutia dengan haru. “Sudah lama tak terdengar doa-doa kepada Sang Pencipta dari kamar ini seperti dulu sering dilakukan Reiko. Kami malah senang sekali jika kau melakukannya. Kami juga akan menjaga makananmu agar tak tercampur makanan yang dilarang agama Islam.”

“Terima kasih, Haha,” sahut Meutia yang sangat terkesan dengan toleransi orang tua barunya.

Rumah keluarga Mishima berjarak  sekitar 7-8 menit bersepeda dari bibir danau Inawashiro, di tengah Prefektur Fukushima. Keindahan telaga terbesar keempat di Jepang yang dijuluki masyarakat sebagai “Danau Cermin Langit” itu membuat Meutia terpesona. Apalagi setelah dia menyaksikan serombongan angsa bermigrasi ke pantai di seputaran danau pada musim dingin dan menetap sampai datangnya musim panas.

Pekik riuh angsa-angsa itu membuat gigil musim dingin yang mencapai - 30 Celsius di awal tahun dan menyiksa Meutia yang sebelumnya tak pernah melihat salju seumur hidupnya, akhirnya bisa melewati musim dingin pertamanya dengan baik.

Kedatangan musim semi yang menyuburkan pohon-pohon akamatsu (pinus merah),  berkembangnya  bunga hollyhock  (Alcea rosa) dan ramai cericit burung yang mengepung kawasan kuali raksasa berpenghuni 125.000 warga itu, menjadi keriaans istimewa bagi mata dan telinga Meutia.

            Satu ketika Meutia diajak Harumi mengunjungi rinkaku, rumah teh yang berada di bagian bawah kastil atap merah Tsuruga-jo. Di sana Harumi mengajarkan Meutia upacara minum teh matcha yang sudah berusia ratusan tahun.  “Kalau di Aceh tempat asal saya, teh diminum secepat dibuat, Haha,” ujar Meutia sambil mencontohkan tingkah orang kehausan yang membuat Harumi tergelak. “Kamu ini lucu juga, Cantik,” katanya.

Pada hari lain, Harumi mengajaknya melihat keindahan Taman Oyakuen, yang juga lokasi makam pemimpin klan utama Aizu dan 19 makam byakkotai, kumpulan samurai muda bunuh diri massal pada Perang Boshin.  Meutia sempat bergidik melihat barisan makam itu sebelum Harumi menenangkannya. “Bukan mereka yang mati yang menakutkan kita, Meutia, tapi lebih sering dari mereka yang hidup.”

            Saat datang mekar bunga sakura pada pertengahan April, dan dirayakan seluruh kota dengan festival yang berpusat di Tsuruga-jo (Tsuruga-jo Sakura Matsuri), hati Meutia meleleh melihat keindahan surgawi itu. “Terima Chichi, Haha, telah mengangkatku sebagai anak di tempat seindah ini,” katanya dengan airmata kebahagiaan sambil merangkul Hiroshi dan Harumi

            “Justru kami yang bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan seorang pengganti Reiko,” ujar Hiroshi dengan suara bergetar. “Terima kasih telah mencerahkan hari-hari kami lagi, Meutia.”

 

 

Aizu Wakamatsu,  11 Maret 2011

 

            MEUTIA melirik arlojinya: 14.45. Kepalanya mendadak pusing dan perutnya mual. Masih ada 15 menit lagi sebelum Profesor Kan menyelesaikan sesinya. Semenit kemudian Meutia merasakan lantai bergetar keras sekali, dan benda-benda di dalam ruangan bergoyang sampai  ada terjatuh.

            “Gempa bumi!” teriak spontan mahasiswa.

            “Jangan panik,” ujar Profesor Kan. “Lakukan penyelamatan diri standar.”

             Meutia segera mengikuti tindakan mahasiswa lain. Sambil berlindung dia membuka laptop mencari informasi. Ternyata pusat gempa di Prefekture Miyagi, Tohoku, dengan kekuatan 9.0 SR. Gempa sebesar itu mengingatkannya pada kejadian serupa yang mendahului tsunami di Aceh, Desember 2004. Tsunami yang menewaskan seluruh keluarganya. Semoga masyarakat di Miyagi tidak …

            Miyagi?

            Jantung Meutia berdegup lebih cepat karena teringat orang tua angkatnya berangkat tadi pagi untuk liburan akhir pekan di salah satu hotel Oshika Peninsula, Sendai, ibukota Prefektur Miyagi. Diambilnya telepon seluler untuk mengontak Harumi.  Saluran komunikasi sudah terputus!

            Meutia berlari keluar kelas, tak mempedulikan lagi panggilan teman-temannya agar dia berhati-hati. Dia menuju parkir sepeda, meluncur menuju rumahnya.  Suasana jalan raya kacau balau. Sekilas terdengar oleh Meutia orang-orang menyebut soal tsunami.

            Tsunami? Astaghfirullah al-‘Adzim, jangan lagi aku mengalami tragedi yang sama di sini. Tolong ya Tuhan Yang Maha Baik!

            Meutia menemukan rumahnya kosong melompong. Hiroshi dan Harumi tak ditemukan di ruangan mana pun. Meutia  menyalakan televisi. Gelombang tsunami setinggi 10 meter sudah menjilat daratan, mengamuk, merusakkan apa saja yang ada di depannya. Tak terhambat.  Mimpi buruknya kembali terjadi. Wajah Meutia memucat, napasnya terengah-engah.  Lalu pingsan.

            Saat siuman, Meutia mendapati dirinya terbaring lunglai di RS Aizu.  Tak ada Harumi dan Hiroshi. Suasana RS kacau balau dengan banyaknya korban gempa bumi dan tsunami. Televisi tak henti-hentinya menyiarkan tragedi yang menghancurkan Fukushima. Sehari kemudian dua orang staf Universitas Aizu menjenguknya, memberi kabar bahwa Harumi dan Hiroshi Mishima ditemukan sebagai dua dari sekitar seribu korban meninggal. Meutia kembali pingsan dan merasakan tubuhnya terdampar di tepi danau Inawashiro.

            Dalam mimpinya yang dipenuhi warna kelam, Meutia melihat angsa-angsa danau Inawashiro memekik-mekik ketakutan di tengah badai petir yang memecut-mecut dari angkasa.  Lalu langit terbelah, satu persatu angsa terhisap naik, melayang menuju cakrawala.

Rangkaian petir yang menyambar dan menerangi semesta menampakkan dengan jelas wajah delapan angsa di mata Meutia: orang tua kandung dan tiga adiknya, kedua orangtua angkatnya  dan anak mereka Reiko Mishima. Reiko tersenyum seperti dalam fotonya yang terpampang di kamar tidur. Meutia ingin menjerit namun tak ada suaranya yang keluar. Samar-samar justru terdengar olehnya perkataan Harumi, “Jangan bersedih untuk kami, Meutia. Sebab, bukan mereka yang mati yang menakutkan, tapi justru mereka yang hidup. Jaga dirimu baik-baik, anakku. Kamu harus terus melangkah.  Jangan biarkan kesedihan menghentikan usahamu meraih mimpi.”

 

Desember 2012

 

Akmal Nasery Basral is Indonesian novelist, scriptwriter, columnist, and lecturer for “Fiction Writing” in ALINEA Academy, Jakarta (Managed by Association of Indonesian Publishers). His historical novel “The Enlightener” (“Sang Pencerah”, about the life and struggle of KH Ahmad Dahlan, founder of Islamic second largest organization Muhammadiyah, also a blockbuster movie with the same title) was crowned as The Best Fiction in Islamic Book Fair 2011.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (2)
Recent Activity:
.

__,_._,___

Darwin Chalidi

unread,
Dec 26, 2012, 2:25:27 AM12/26/12
to Rantau Net

dinda ANB sabana tabao jiwa ambo mambaco cerpen iko. tarimo kasih yo atas sharingnyo.

--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
 
 
 

rn.ami...@gmail.com

unread,
Dec 26, 2012, 3:12:35 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Sanak Akmal apokah buliah ambo copas cerito bagus iko,tks
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Akmal Nasery BASRAL <akmal.n...@gmail.com>
Date: Wed, 26 Dec 2012 13:06:20 +0700
Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen Tsunami Aceh & Fukushima .. fwd: [antologiranah] Fresh from the oven: Project Sunshine for Japan

--

Muchlis Hamid

unread,
Dec 26, 2012, 4:11:32 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Bung Akmal,
Tarimo kasih banyak.
Alurnya bagus, resolusinya itu!
Duo kali musibah, duo kali kehilangan.
Membaca sambil belajar, panduan jalan ke ranah.
Salam,
Muchlis Hamid
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Akmal Nasery BASRAL <akmal.n...@gmail.com>
Date: Wed, 26 Dec 2012 13:06:20 +0700
Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen Tsunami Aceh & Fukushima .. fwd: [antologiranah] Fresh from the oven: Project Sunshine for Japan

--

Akmal Nasery Basral

unread,
Dec 26, 2012, 7:07:10 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih apresiasi Mak Darwin Chalidi, Mak Muchlis Hamid dan sanak RN Amiroeddin ateh cerpen ambo. Buliah dicopas untuk kebutuhan sendiri, jangan disebarluaskan dulu sebelum versi buku beredar (meski versi buku dalam bahasa Inggris).

Cuma tadi ambo dapek notifikasi dari Twitter bahwa akun RN di Twitter alah mang-kicau-kan pulo halaman web nan ado cerpen ko. (Saharuihnyo "embargo" hanya untuk bacaan anggota Palanta RN dan Antologi Ranah sajo).

Salam,

Akmal N. Basral
--

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Dec 26, 2012, 7:25:21 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Di hari nan agak istimewa ko taragak sajo hati manayangkan ulang carito duo tahun nan lapeh ko.....
 
MISIONARIS

Wanita muda itu ber-sirobok[1] pandang lagi denganku. Ini adalah yang ke empat kali, kalau aku tidak salah, kami bertemu di dalam metro[2] ini. Kali ini dia duduk di bangku diagonal berseberangan denganku. Sepertinya dia tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman pula. Melihat wanita yang warna kulitnya sama denganku memang menyuruhku untuk terlihat ramah kepadanya. Ingin juga aku menyapanya sekedar berbasa basi, tapi tentu tidak mungkin kulakukan dari jarak sejauh ini.

Ketika metro mendekati pemberhentian Lourmel, aku segera berdiri dari tempat dudukku dan memutar tubuhku menuju ke arah pintu, membelakangi wanita muda itu. Aku bergegas turun. Di luar gerbong metro udara terasa dingin sekali. Aku melilitkan syal ke leher dan menutupi sebahagian telinga. Aku melangkah cepat menuju keluar, menuju ke tempat tinggalku di rue de Lourmel[3]. Orang berduyun-duyun menaiki tangga untuk menyembul dari stasiun bawah tanah. Semua kedinginan. Semua tergopoh-gopoh. Memang begitu caranya di sini. Di Paris ini.

Lamat-lamat aku mendengar orang memanggil ‘Monsieur[4]! – Monsieur!’ di belakangku. Tentu saja aku tidak menyangka bahwa panggilan itu ditujukan kepadaku, di tengah kerumunan sebegitu banyak orang. Sampai akhirnya si pemanggil itu menepuk pundakku. Aku menoleh dan ternyata si wanita muda di metro tadi. Dia berdua dengan seorang wanita lain berkulit putih.

Oui[5]?!’ kataku dengan pandangan setengah tidak percaya.

‘Bolehkah kami minta waktu anda sebentar?’ tanyanya dengan bahasa Prancis yang fasih.

Sok benar wanita ini, pikirku dalam hati. Atau mungkin dia menjaga hati temannya yang wanita kulit putih itu sehingga dia berbahasa Perancis kepadaku? Ah, sesuka hatinyalah.

‘Ada apa? Apa yang bisa saya perbuat untuk anda?’ jawabku berbasa basi.

Tanganku seperti beku kedinginan. Aku meremas-remaskan kedua telapak tanganku menahan dingin. Di sebuah toko di depan sana terpampang pada sebuah running text informasi temperatur saat itu; satu derajad celcius.

‘Maukah anda kami ajak minum kopi di café itu? Disana kita berbicara sebentar? Disini dingin sekali,’ katanya. Mungkin memperhatikan keadaanku yang ‘mati’ kedinginan.

‘Kalian mau berbicara apa?’ tanyaku sambil setengah melotot kepada wanita muda berparas Solo itu.

‘Ayolah kita ke café itu,’ ajaknya lagi.

Aku menurut sambil bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan wanita muda ini sedang ada masalah dengan wanita kulit putih itu lalu ingin meminta bantuanku. Kami masuki café itu dan mengambil tempat duduk di bagian dalam. Wanita muda itu memesan tiga cangkir kopi.

‘Maaf, kalau kami mengganggu anda. Kami ingin berkenalan dengan anda,’ katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

‘Anda orang Indonesia, kan? Kenapa dari tadi berbahasa Perancis terus? Ada apa sebenarnya?’ tanyaku dalam bahasa Indonesia.

Dia mengangkat alis matanya dan tersenyum.

‘Anda berbicara kepada saya?’ tanyanya lagi dalam bahasa Perancis.

‘Ya,’ kataku. ‘Anda bukan orang Indonesia?’ tambahku lagi.

‘Ah…. Bukan. Tentu anda mengira saya orang Indonesia,’ katanya tersenyum.

‘Anda……… orang Pilipina?’

Non plus[6]…… Saya orang Madagaskar katanya.’

Aku terperangah. Aku langsung ingat guru sejarah di SMA dulu yang bercerita bahwa, ‘nenek moyangku orang pelaut, menempuh badai tiada takut,’ lalu nenek moyang kita itu berhanyut-hanyut sampai ke Madagaskar dengan rakit pohon kelapa. Inilah bukti keterangan sejarah pak guruku itu. Sekarang di depan mataku. Wanita muda yang aku sangka orang Solo, ternyata adalah orang Madagaskar.

‘Mais….. Vous n’ êtes pas d’origine Madagascar quand même[7]?’

Si, si[8]…. Anda mengira saya orang Indonesia ?’ tanyanya tersenyum.

 ‘Kulit anda dengan kulit saya persis sama.’

 ‘Anda orang Indonesia rupanya. Saya menyangka anda orang Jepang,’ katanya.

 ‘Ya sudahlah….. Apa maksud anda? Apa yang anda perlukan dari saya?’

‘Baiklah….. Agar anda tidak penasaran…. Kami ingin menyampaikan pesan kepada anda. Mudah-mudahan anda berkenan mendengarnya.’

‘Pesan? Pesan apa?’
 
‘Baik…. Saya mulai. Saya ingin bertanya. Apakah anda seorang yang beragama?’
 
Waaaw.. Aku mulai bisa menebak.

‘Ya. Saya beragama,’ jawabku pendek.

‘Anda bukan seorang Kristen?’

Malheureusement non. Pourquoi[9]?

Oui…. Malheureusement non. Pasti anda akan tertarik kalau anda saya tunjukkan jalan yang menuju keselamatan.’

Aku tersenyum. Ber-sobok[10] lawan aku rupanya, kataku dalam hati.

‘Jalan apa itu maksud anda?’ tanyaku.

‘Jalan juru selamat. Ikutilah, anda pasti selamat.’

‘Bagaimana kalau anda berdua saya ajak untuk berbicara di tempat tinggal saya saja? Mungkin di tempat ini kita kurang leluasa untuk bercerita panjang,’ ajakku.

Wanita muda Madagaskar berwajah Solo itu tersenyum sumringah. Mungkin dalam hatinya dia berkeyakinan bahwa kailnya sudah dimakan ikan pancingannya.

‘Seandainya hal itu tidak mengganggu anda, kami akan sangat bersenang hati. Anda tinggal di mana?’ tanyanya.

‘Tidak akan mengganggu. Lagi pula saya sudah ditunggu istri saya. Ayolah kita ke tempat saya,’ ajakku.  

Kami tinggalkan café itu, menuju ke apartemenku di rue de Lourmel.

‘Anda tinggal dekat sini?’ tanya wanita berkulit putih. Baru sekali itu suaranya terdengar.

‘Ya,’ jawabku. ‘Di bangunan di depan itu,’ aku menunjuk ke bangunan beberapa puluh meter di hadapan kami.

Aku persilahkan kedua wanita itu masuk ke apartemen kecil kami. Istriku sedikit terheran-heran melihat mereka.

‘Sebelum kita lanjutkan pembicaraan tadi, saya minta izin untuk beberapa saat. Mungkin sekitar sepuluh menit. Mudah-mudahan anda tidak keberatan.’

‘Pasti tidak. Terima kasih, anda telah baik hati sekali mengajak mampir. Silahkan anda melakukan keperluan anda. Biar kami tunggu,’ kata wanita kulit putih, yang tiba-tiba sekarang jadi banyak bicara.

Apartemen kami itu kecil. Hanya ada satu kamar tidur, lalu ruangan tamu yang sempit dan dapur merangkap ruangan makan. Di ruangan terakhir ini biasanya kami shalat berjamaah. Aku memberi isyarat kepada istriku untuk mengerjakan shalat isya.

Kami shalat isya berjamah. Dengan bacaan dijahar tentu saja. Sesudah shalat dan berzikir barulah aku menghampiri mereka.

‘Sebelumnya, walaupun kita belum saling kenal, tapi saya ingin memberitahu anda bahwa ini istri saya.’

Istriku menyalami kedua wanita itu.

‘Lalu….., silahkanlah lanjutkan cerita anda tadi.’

‘Jadi….. Anda orang Islam ?’ tanya wanita kulit putih.

‘Ya…. Saya beragama Islam.’

Bon[11]…. Tidak apa-apa….. Kami ini dari gereja Hati Kudus. Kami ingin mengajak anda untuk mengikuti juru selamat. Dia yang menyelamatkan umat manusia semuanya….’ Si wanita kulit putih agak terbata-bata.

‘Siapa itu juru selamat anda?’

‘Jesus. Dia yang mati di tiang salib untuk menyelamatkan semua manusia dari hukuman atas dosa-dosa mereka,’ giliran si wanita Madagaskar berbicara.

‘Begini…… Pertama, saya sudah mempunyai ‘juru selamat’ saya sendiri. Dia adalah Allah, Sang Maha Pencipta alam raya ini. Dia yang menciptakan bumi yang kita huni sebagaimana juga Dia yang menciptakan matahari, bulan dan bermilyar-milyar bintang……’

‘Ya….. itulah Tuhan. Dan Tuhan itu mengutus anak Nya yang tunggal untuk menyelamatkan semua manusia. Kita tidak akan sampai ke rumah Tuhan kalau tidak melalui anak Nya itu,’ kata wanita kulit putih memotong pembicaraanku.

‘Saya tidak percaya. Bagaimana dia akan menyelamatkan manusia sementara dia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri?’

‘Dia tidak mau menyelamatkan dirinya karena dia mengorbankan dirinya untuk keselamatan manusia.’

‘Siapa yang mengatakan itu? Yang mengatakan bahwa dia membiarkan dirinya disalibkan orang untuk menyelamatkan manusia?’

‘Dia sendiri yang mengatakan.’

‘Anda punya bukti bahwa itu kata-katanya sendiri? Bahwa dia mengatakan dirinya disalib untuk keselamatan manusia? Apa bukan dia malahan merintih memanggil Tuhan dan protes kenapa Tuhan meninggalkan dia ? Apa bukan dia yang mengatakan Eli..Eli Lama sabakhtani[12]?’

‘Anda tahu itu ?’

‘Ya saya tahu itu.’

‘Tapi dia adalah juru selamat……’

‘Tidak…. Dia adalah seorang nabi utusan Tuhan. Nabi Allah. Dia mengajak manusia, khususnya Bani Israel agar menyembah Allah. Allah Yang Maha Satu. Yang tidak ada Tuhan selain dari Dia. Yang tidak ada yang setara dengan Nya.’

‘Anda pernah mendengar tentang Jesus?’

‘Kami menyebutnya Nabi Isa. Dia seorang di antara nabi-nabi utusan Allah.’

‘Dia anak Tuhan. Dia lahir dari seorang perawan suci yang tidak bersuami.’

‘Dia bukan anak Tuhan. Dia adalah manusia biasa, makhluk ciptaan Tuhan. Ciptaan Allah.’

‘Dia bukan manusia biasa. Dia terlahir dari seorang wanita.  Wanita suci yang tidak pernah disentuh manusia.’

‘Ya…. Wanita itu Maryam, seoarng wanita tidak bersuami. Lalu Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta meniupkan ruh ke dalam rahimnya, sehingga dia mengandung kemudian melahirkan Isa. Kami juga menyebutnya sebagai Isa putera Maryam.’

‘Dia bukan manusia biasa. Dia anak Tuhan, diutus Tuhan untuk menyelamatkan anak-anak manusia yang berdosa.’

‘Terserah anda mau menyebutnya seperti itu. Tapi bagi kami orang Islam, Isa putera Maryam adalah seorang utusan Allah untuk Bani Israel. Kelahirannya tanpa ayah adalah hal yang mudah bagi Allah Yang Maha Pencipta. Sebagaimana mudahnya bagi Allah menciptakan Adam yang tidak punya ayah dan ibu.’

‘Jadi anda tidak mempercayainya sebagai juru selamat ?’

‘Dia seorang utusan Allah, dikhususkan untuk Bani Israel. Anda menyebutnya untuk menyelamatkan domba-domba yang hilang dari anak-anak Israel. Begitu kan?’

‘Dari mana anda tahu ?’

‘Saya membaca juga kitab anda sedikit-sedikit.’

‘Jadi anda mempunyai penyelamat sendiri? Anda yakin bahwa dia akan menyelamatkan anda? Tanpa bantuan sang juru selamat?’

‘Ya… Penyelamat dan penolong saya adalah Allah. Saya tidak memerlukan juru selamat selain Dia’

‘Maaf…. Tadi… Sebelum ini apa yang anda kerjakan berdua dengan istri anda?’

‘Kami mengerjakan shalat. Kami menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta.’

‘Dimana Tuhan anda itu berada?‘  

Dia berada di tempat-Nya. Yang tidak dapat dilihat oleh mata. Tapi Dia Maha Melihat. Dia menyaksikan dan mendengar apa yang sedang kita perbincangkan saat ini karena Dia Maha Mendengar.’

‘Pernahkah anda berjumpa dengan-Nya ?’

‘Tidak pernah. Karena Dia tidak terjangkau oleh panca indera kita.’

‘Baiklah…… Kalau begitu…….. Karena anda sudah mempunyai penyelamat anda sendiri…. Mungkin kami tidak perlu lagi meneruskan…..’

‘Terserah anda.’

‘Maaf, kami telah mengganggu anda. Biarlah kami mohon diri kalau begitu…’

 Kedua wanita itu meninggalkan apartemen kami.

‘Siapa mereka? Kenal di mana dengan mereka?’ tanya istriku setelah mereka pergi.

‘Kan kamu dengar sendiri tadi siapa mereka. Tadi aku disamperi setelah keluar dari metro. Mula-mula diajak ke café. Setelah itu aku ajak sekalian ke sini,’ jawabku menjelaskan.
                                                           
                                                                        *****
 


[1] Bertemu (pandang)
 
[2] Kereta api bawah tanah
 
[3] Jalan Lourmel
 
[4] Tuan
 
[5] Ya
 
[6] Juga tidak
 
[7] Tapi..... anda bukan asli orang Madagaskar sejatinya
 
[8] Sebaliknya (benar kok)
 
[9] Sayang sekali bukan. Kenapa?
 
[10] Bertemu, mendapatkan
[11] Baiklah
 
[12] Tuhan- tuhan! Jangan tinggalkan aku


Wassalamu'alaikum,

Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi



wannofri samry

unread,
Dec 26, 2012, 7:43:33 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Salam,
Begitu menarik membaca cerpen sudara akmal, bahasanya memukau, ia memang dari kata-kata dan ayat-ayat terpilih dari seorang pengarang yang talenta. Latar cerpen ini Tsunami (bagi saya khabar tsunami sudah pengerathuan umum). Yang tidak umum tentu "kandungan" atau "pengarang" yang ada di dalamnya. Cerpen ini dibuat di bulan Desember, bertepatan dengan ulang tahun tsunami, mungki kebetulan juga dengan natal dan akhir tahun . Boleh saya agak berdalam sedikit dan bertanya: Benarkah Anak Aceh saat ini tidak lagi mempermasalahkan gambar salib yang besar di kamarnya? Sebagai imajinasi pengarang tentu tidak masalah, sebab pengarang mempunyai kebebasan untuk membuat realitas dan menghadirkan realitas baru. Tetapi sebagai realitas sebagaimana itu ada, saya yakin masih ada perbedaan antara pengarang dan "Aceh".
Saya ingin  membuat tanggapan yang berbeda. Salam untuk Bung Akmal N B


Wassalam
WNS




From: Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>
To: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Sent: Wednesday, December 26, 2012 7:07 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen Tsunami Aceh & Fukushima .. fwd: [antologiranah] Fresh from the oven: Project Sunshine for Japan

Elthaf Hidjaz

unread,
Dec 26, 2012, 8:43:58 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Mamak ambo, luar biasa tulisan mamak, raso ikuik dan larut ambo jo kisah ko.

Ambo tunggu kelanjutan carito mamak.

Mokasih mamak, smg manjadio amal bagi mamak.

Salam

Elthaf


On 12/26/12, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com> wrote:
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
> Di hari nan agak istimewa ko taragak sajo hati manayangkan ulang carito duo
> tahun nan lapeh ko.....
>
>
> MISIONARIS
>
> Wanita muda itu ber-sirobok[1] pandang lagi denganku. Ini adalah yang ke
> empat kali, kalau aku tidak salah,
> kami bertemu di dalam metro[2] ini. Kali ini dia duduk di bangku diagonal
> berseberangan denganku. Sepertinya
> dia tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman pula. Melihat wanita yang
> warna kulitnya sama denganku memang menyuruhku untuk terlihat ramah
> kepadanya.
> Ingin juga aku menyapanya sekedar berbasa basi, tapi tentu tidak mungkin
> kulakukan dari jarak sejauh ini.
>
> Ketika metro mendekati pemberhentian Lourmel, aku
> segera berdiri dari tempat dudukku dan memutar tubuhku menuju ke arah
> pintu,
> membelakangi wanita muda itu. Aku bergegas turun. Di luar gerbong metro
> udara terasa dingin sekali. Aku melilitkan syal ke leher dan menutupi
> sebahagian telinga. Aku melangkah cepat menuju keluar, menuju ke tempat
> tinggalku di rue de Lourmel[3].Orang berduyun-duyun menaiki tangga
> Madagascarquand même[7]?’
> Kami tinggalkan caféitu, menuju ke
> apartemenku di rue de Lourmel.
>
> ‘Anda tinggal dekat sini?’ tanya wanita
> berkulit putih. Baru sekali itu suaranya terdengar.
>
> ‘Ya,’ jawabku. ‘Di bangunan di depan
> itu,’ aku menunjuk ke bangunan beberapa puluh meter di hadapan kami.
>
> Aku persilahkan kedua wanita itu masuk
> ke apartemen kecil kami. Istriku sedikit terheran-heran melihat mereka.
>
> ‘Sebelum kita lanjutkan pembicaraan
> tadi, saya minta izin untuk beberapa saat. Mungkin sekitar sepuluh menit.
> Mudah-mudahan
> anda tidak keberatan.’
>
> ‘Pasti tidak. Terima kasih, anda telah
> baik hati sekali mengajak mampir. Silahkan anda melakukan keperluan anda.
> Biar
> kami tunggu,’ kata wanita kulit putih, yang tiba-tiba sekarang jadi banyak
> bicara.
>
> Apartemen kami itu kecil. Hanya ada
> satu kamar tidur, lalu ruangan tamu yang sempit dan dapur merangkap ruangan
> makan. Di ruanganterakhir ini biasanya kami shalat
> [8]Sebaliknya(benar kok)
>
> [9]Sayang sekali bukan. Kenapa?
>
> [10]Bertemu, mendapatkan
> [11]Baiklah
>
> [12]Tuhan- tuhan! Jangan tinggalkan aku
>
>
> Wassalamu'alaikum,
>
>
> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H,
> Jatibening - Bekasi
>
>
> ________________________________
>
> --
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
>
>
>

--
Sent from my mobile device

Akmal Nasery Basral

unread,
Dec 26, 2012, 10:41:39 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Carito menarik Mak Dave, kajadian sarupo paranah terjadi jo ambo di Sydney. Cuma pelakunyo laki-laki.

Saketek tanyo soal baso Parancih di footnote no 6 dan 7, apokah mukasuidnyo:

6. "Non" bukan "non plus", dek karano "non" (indak) sedangkan "non plus" (indak lai). Saroman judul lagu  "Je t'aime moi non plus" (I don't love you any more). 

Rasonyo agak jangga kalau ado pertanyaan, "Anda orang Filipina?" dan dijawab, "Non plus .. Saya orang Madagaskar," katanya.

Dugaan ambo kalau dialog ko dalam logika baso Parancih adolah:

"Vous êtes des Philippines?"
"Non. Je suis de Madagascar." bukan "Non plus. Je suis de Madagascar."

7. Kalimat "Mais….. Vous n’êtes pas d’origine Madagascar quand  même[7]?’ yang Mak Dave tulih, dqn dijawab, "Si, si ... Anda mengira saya orang Indonesia?"

Menurut ambo struktur pertanyaan dalam baso Prancis untuak mukasuik tanyo sarupo itu adolah:

"Mais ... Vous ne ressemblez pas à tous ceux qui sont venus de Madagascar."
(But ... You don't look like anyone who came from Madagascar).

"Mais, si. Pensez-vous que je suis indonésienne?"
(But I am. Do you think that I'm Indonesian?)

Maaf kalau 'naluri' sebagai editor muncul mendadak saroman ko Mak Dave. :)

Il s'agit d'une bonne écriture. Felicitation!

Bonne repos.

Akmal N. Basral
Cibubur


mais vous ne ressemblez pas à venir de Madagascar, pensez-vous ?

Pada Rabu, 26 Desember 2012, Elthaf Hidjaz menulis:
Mamak ambo, luar biasa tulisan mamak, raso ikuik dan larut ambo jo kisah ko.

Ambo tunggu kelanjutan carito mamak.

Mokasih mamak, smg manjadio amal bagi mamak.

Salam

Elthaf


On 12/26/12, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com> wrote:
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 
> MISIONARIS

kurnia...@yahoo.com

unread,
Dec 26, 2012, 11:23:05 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Ass Wr Wb Pak Saaf,Da Nofrin,Mak Darul,Dinda Ronald Chandra,sanak Miko Mikardo,Sanak Asfarinal,Dinda Henry Yoserizal,Dinda Epi Lintau,Pak Chairul Djamal, serta rekan2 MPKAS semuanya,syukur Alhamdulilah bersyukur kita kepada Allah SWT hari ini kita menerima sms dari Kahumas PT.KAI Divre II Sumbar Pak Romeyo yang mengingformasikan bahwa pengiriman Railbus untuk menunjang program KA Bandara BIM sedang dalam perjalanan dg kapal menuju Padang,diperkirakan Railbus ini akan sampai Teluk Bayur dan dibumikan pada hari Sabtu 29 Des 2012 ini.Bagi rekan2 MPKAS yg mempunyai kesempatan dan waktu, kami sangat menghahapkan kehadirannya.Kami mengucapkan ribuan terimakasih dan penghargaan yg setinggi2nya atas partisipasi aktif dan dukungan kuat dari rekan2 MPKAS semuanya selama ini untuk mendatangkan Railbus ini ke Ranah Minang,InsyaAllah kejayaan dunia PerkeretaApian di Ranah Minang,akan dapat kita wujudkan kembali dalam waktu yg tidak lama lagi,amin yarrabal'alamin.

wasalam,
Kurnia Chalik
(MPKAS)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Elthaf Hidjaz <elth...@gmail.com>
Sender: rant...@googlegroups.com

Lies Suryadi

unread,
Dec 26, 2012, 11:45:34 AM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Soal misionaris ko, menarik mambaco pandangan Adi Negoro dalam bukunyo ko:
 
Negoro, Adi. 1930. Kembali dari perlawatan ke Europa, Djilid I. Medan - Deli: N.V. Handel Mij. & Drukkerij Sjarikat Tapanoeli.
 
Salam,
Suryadi

Afda Rizki

unread,
Dec 26, 2012, 7:35:00 PM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Menarik sekali Mak Dave
 
Jadi ingek carito seorang kawan, tepatnyo ambo anggap mentor ambo sajo dek jadi kawan diskusi dan guru dek ambo. Saat beliau baru kuliah alun tertarik untuak benar-benar mendalami Islam. Mungkin caro awaknyo Islam KTP sajo...
 
Jadi katiko itu, di musim dingin di London, di maso-maso urang jarang-jarang  kalua rumah, malah inyo basuo jo urang yang manjojokan flyer barisi ajakan kepado "domba-domba yang tersesat". Hal yang "nampaknyo sepele" yang manggugah kawan ambo ko. Urang yang jaleh-jaleh sasek sae namuah kalua di hari-hari dingin basalju untuk maajak urang ikuik sato jo nyo. Qodarullah, akhirnyo setelah kejadian itu, kawan ambo ko jadi rajin baraja Islam. Bahkan sempat aktif di ISNET bagai setelah itu..
 
Sekali lai, luar biaso Mak Dave. Mokasih untuak postingan nyo
 
Salam hangat
 
Afda Rizki Piliang
Lk/34/Grissik - Palembang
 
*******
Pada 26 Desember 2012 19:25, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com> menulis:
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Di hari nan agak istimewa ko taragak sajo hati manayangkan ulang carito duo tahun nan lapeh ko.....
 
MISIONARIS


Tanganku seperti beku kedinginan. Aku meremas-remaskan kedua telapak tanganku menahan dingin. Di sebuah toko di depan sana terpampang pada sebuah running text informasi temperatur saat itu; satu derajad celcius.

‘Maukah anda kami ajak minum kopi di café itu? Disana kita berbicara sebentar? Disini dingin sekali,’ katanya. Mungkin memperhatikan keadaanku yang ‘mati’ kedinginan.

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Dec 26, 2012, 7:42:24 PM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuhu

Tarimo kasih untuak sado komentar jo apresiasi (Elthaf, Akmal, Afda, Suryadi).... Carito ko ka paangek-angekan saluang sajo. Dulu alah panah dikambangan di Palantako sakitar Oktober 2010. Carito sungguahan nan tajadi ka diri ambo di tahun 1984 di Paris........

Wassalamu'alaikum


 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi

From: Afda Rizki <afda...@gmail.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Thursday, December 27, 2012 7:35 AM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Tayang ulang cerpen: Misionaris

syaf...@gmail.com

unread,
Dec 26, 2012, 9:13:55 PM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Sabana mantap gerakan dan gebrakan MPKAS ko. Cuma baduo urang penggerak aktifnyo, tapi kompak.
Selamat.

Salam

Syaf AL/MAPPAS

alhaqir...@yahoo.com

unread,
Dec 26, 2012, 9:22:25 PM12/26/12
to Rant...@googlegroups.com


Ribuan tahniah juga diucapkan kpd dunsanak nan la bakarajo kareh....

Alhamdulillah...




Wassalam,
anwardjambak 44+,
mudiak Pyk, kanakan Dt Rajo Malano(Maulana),

"Maminteh Sabalun Hanyuik....!!!

Sent from my BlackBerry® smartphone powered by U Mobile

kurnia...@yahoo.com

unread,
Dec 26, 2012, 9:39:05 PM12/26/12
to rant...@googlegroups.com
Alhamdulilah,terimakasih banyak atas apresiasinya Da Al dan Sanak Anwar,semoga semua niat tulus Ikhlas dan kerja keras kita semua untuk memajukan Ranah Minang Kampuang halaman kita bersama yang tercinta,akan selalu diridhoi dan dicatat oleh Allah SWT sebagai tabungan amal ibadah untuk kita semua di akhirat kelak,amin yarrabal'alamin.

Wasalam,
Kurnia Chalik
(MPKAS)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: syaf...@gmail.com
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:13:55

Darwin Chalidi

unread,
Dec 26, 2012, 11:22:20 PM12/26/12
to Rantau Net

alhamdulillah. Akhirnyo karajo kareh sekelompok penggiat ranah berhasil. Tahniah sanak, insya Allah tabangkik juo batang tarandam di Perkereta Apian Ranah Minang.

Akmal Nasery Basral

unread,
Dec 30, 2012, 1:00:35 PM12/30/12
to rant...@googlegroups.com

Senang sekali jika cerpen ambo itu mau 'dibuat tanggapan yang berbeda' oleh Sanak Wan Samry. Pasti banyak manfaatnyo bagi ambo.

"Pengarang sudah mati," seru Barthes, "begitu karyanya selesai."

Wassalam,

ANB


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages