Project Sunshine for Japan
JERIT ANGSA DI LANGIT FUKUSHIMA
Akmal Nasery Basral
Aizu Wakamatsu, 11 Maret 2011
MEUTIA sedang berada di dalam ruang kuliahnya yang terletak di lantai 3 Universitas Aizu ketika dari jendela terlihat sekawanan angsa terbang ke arah Gunung Ono di Selatan. Tak ada kawannya yang memperhatikan karena semuanya sedang serius mendengarkan kuliah Profesor Kenzaburo Kan, pakar rekayasa komputer terkemuka.
Mahasiswi asal Aceh itu melirik arlojinya: 14.30 JST. Sekilas pikirannya berkelebat. Tidak biasanya angsa-angsa yang memenuhi pantai Danau Inawashiro itu terbang sebelum musim panas tiba. “Meu-tia Ah-mad Su-lee-mang?” Suara keras Profesor Kan dalam dialek yang kental membuyarkan lamunannya.
“Ya, Sensei,” jawabnya tergagap. Namun panggilan dengan nama lengkap yang jarang terjadi itu justru lebih dulu membawa kenangan Meutia ke kampung halamannya beberapa tahun silam.
Banda Aceh, Februari 2005
“MEUTIA Ahmad Sulaiman?”
Sepotong suara lelaki melengking mencoba mengalahkan kebisingan di sebuah barak pengungsi tsunami. “Mohon tenang bapak ibu …”
Suara bising mendadak lenyap. Kepala-kepala mereka berputar menatap pintu masuk di mana berdiri seorang lelaki Aceh petugas sebuah lembaga kemanusiaan internasional. Di sampingnya ada lelaki paruh baya berwajah Oriental dan seorang wanita muda. “Mana Meutia Ahmad Sulaiman?”
Seorang remaja putri berdiri sambil mengacungkan tangan dengan wajah bingung. “Saya Meutia,” sahutnya gugup
“Jangan takut, dik. Mari ke sini,” katanya sambil melambaikan tangan. “Pak Edogawa Rampo dari Kedutaan Jepang mau bicara.”
Meutia melangkah membelah kerumunan pengungsi yang memberinya jalan, sebelum sampai di depan lelaki Jepang yang mengangguk ramah. “Edogawa Rampo,” katanya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, dan memberikan isyarat kepada perempuan muda di sampingnya untuk memulai pembicaraan. Perempuan itu berdehem sebentar sebelum menjelaskan dalam bahasa Indonesia yang lancar. “Begini dik Meutia. Sebuah keluarga di Jepang ingin mengadopsi dik Meutia sebagai anak angkat mereka …”
“Mengadopsi saya?” sambar Meutia terkejut. “Tapi saya sebentar lagi ujian kelas 3 SMP. Tidak mau!”
Perempuan muda itu menerjemahkan perkataan Meutia kepada Edogawa yang memberikan jawaban dalam bahasa Jepang dan kembali diterjemahkan sang perempuan. “Ya, Pak Edogawa sudah tahu kisahmu yang banyak dimuat media massa. Justru kisahmu itu pula yang membuat keluarga Mishima di Aizu Wakamatsu tertarik untuk mengadopsi. Ini pembicaraan awal dulu, Meutia. Kamu konsentrasi saja untuk ujian akhirmu. Bagaimana?”
“Tidak mau!” jawab Meutia dengan nada tinggi. “Keluargaku mati semua di sini. Semuanya. Meutia tak mau pergi ke mana pun, hanya mau di Aceh.”
MEUTIA adalah salah seorang survivor bencana tsunami yang menghantam Aceh dan sejumlah negara di Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.2 Skala Richter. Lebih dari 200.000 jiwa menjadi korban dari amuk ombak laut setinggi 8 meter yang menyerbu daratan, termasuk mengempaskan sebuah kapal laut seberat 30 ton ke tengah lingkungan warga tempat Meutia tinggal.
Ayah, ibu, dan tiga adik Meutia tewas dalam bencana dahsyat itu. Dan nyawa Meutia pun nyaris terpisah dari raganya saat tim penyelamat menemukannya tersangkut pada salah satu tiang kapal laut. Kisah penyelamatannya yang dramatis menjadi salah satu berita yang paling sering disiarkan.
Media jatuh cinta dengan kisah Meutia, apalagi setelah mereka menemukan fakta bahwa nilai pelajarannya selalu tak pernah di bawah 9, meski kehidupan orang tuanya yang sangat miskin membuatnya tak bisa memiliki buku cetak pelajaran.
Kisah tragis Meutia yang ikut dimuat koran Mainichi Shimbun menuai simpati Hiroshi Mishima dan istrinya Harumi yang tinggal Aizu Wakamatsu, Prefektur Fukushima. Usia dan postur tubuh Meutia yang hampir sebaya dengan Reiko, anak tunggal mereka yang meninggal lima tahun silam akibat leukemia, membuat pasangan itu tak berpikir panjang untuk mengadopsi gadis Aceh itu. Sehingga saat mereka mendapatkan kabar dari Indonesia tentang penolakan Meutia, Harumi langsung mengajak suaminya ke Banda Aceh menemui langsung Meutia di barak pengungsi.
Jantung Harumi nyaris berhenti ketika melihat Meutia dari kejauhan. Meski kulit anak itu jauh lebih hitam dari Reiko, bentuk mata lebih lebar, serta mengenakan jilbab, namun bentuk bibir, rahang bawah dan dagunya mirip putri tunggal mereka. Hiroshi pun menyadari kemiripan itu sehingga dia menggenggam erat tangan istrinya. “Kuatkan perasaanmu. Mungkin ini memang rencana Tuhan. Kita kehilangan anak, dia kehilangan orang tua.” Harumi tak menjawab, selain lewat setetes air mata yang meluncur cepat.
Serangkaian pembicaraan kemudian terjadi sebelum akhirnya Meutia bersedia dengan usulan yang disampaikan pasangan Mishima: dia menyelesaikan bangku SMP di Aceh, sebelum melanjutkan SMA di Jakarta atas bantuan biaya keluarga Mishima. Selama di Jakarta, Meutia juga akan mengikuti kursus bahasa Jepang sebagai bekal untuk mengikuti kuliah di Negeri Sakura.
Fukushima, 2009
MESKI Meutia berhasil menyelesaikan pendidikan SMA dengan baik pada 2008 dan masuk 10 lulusan terbaik tingkat Nasional, namun baru pada tahun ajaran berikutnya dia terdaftar di Universitas Aizu sebagai mahasiswi Jurusan Rekayasa dan Ilmu Komputer.
Kedatangannya di Jepang disambut tangis haru Harumi yang memeluknya begitu erat seperti melihat Reiko hidup kembali. Komunikasi intensif dengan Harumi sebelum kedatangannya ke Jepang, membuat Meutia tahu penderitaan Reiko menghadapi leukemia. Dia sudah tak ragu lagi memanggil Harumi dengan panggilan “Haha” (ibu) dan Hiroshi sebagai “Chichi” (ayah). “Terima kasih sudah menjadi orang tua baru bagi saya Haha dan Chichi,” ujar Meutia sambil mencium tangan Harumi dan Hiroshi, sebuah kebiasaan anak-anak Aceh terhadap orang tua mereka, saat mereka bertemu lagi di bandara.
Meutia diberikan kamar Reiko yang sama saat dia masih hidup. Ada foto besar Reiko di dinding dan sebuah Salib Perak di atasnya. Meutia sempat terpana melihatnya. “Salib itu akan kami copot, Meutia,” ujar Hiroshi sambil mengambil sebuah kursi terdekat.
“Oh, jangan. Saya tidak terganggu, Chichi,” jawab Meutia sambil menatap Harumi dan menunjuk jilbab yang dipakainya sendiri. “Tapi karena saya muslimah, apakah saya boleh shalat di sini?”
“Tentu saja, anakku,” jawab Harumi sambil kembali memeluk Meutia dengan haru. “Sudah lama tak terdengar doa-doa kepada Sang Pencipta dari kamar ini seperti dulu sering dilakukan Reiko. Kami malah senang sekali jika kau melakukannya. Kami juga akan menjaga makananmu agar tak tercampur makanan yang dilarang agama Islam.”
“Terima kasih, Haha,” sahut Meutia yang sangat terkesan dengan toleransi orang tua barunya.
Rumah keluarga Mishima berjarak sekitar 7-8 menit bersepeda dari bibir danau Inawashiro, di tengah Prefektur Fukushima. Keindahan telaga terbesar keempat di Jepang yang dijuluki masyarakat sebagai “Danau Cermin Langit” itu membuat Meutia terpesona. Apalagi setelah dia menyaksikan serombongan angsa bermigrasi ke pantai di seputaran danau pada musim dingin dan menetap sampai datangnya musim panas.
Pekik riuh angsa-angsa itu membuat gigil musim dingin yang mencapai - 30 Celsius di awal tahun dan menyiksa Meutia yang sebelumnya tak pernah melihat salju seumur hidupnya, akhirnya bisa melewati musim dingin pertamanya dengan baik.
Kedatangan musim semi yang menyuburkan pohon-pohon akamatsu (pinus merah), berkembangnya bunga hollyhock (Alcea rosa) dan ramai cericit burung yang mengepung kawasan kuali raksasa berpenghuni 125.000 warga itu, menjadi keriaans istimewa bagi mata dan telinga Meutia.
Satu ketika Meutia diajak Harumi mengunjungi rinkaku, rumah teh yang berada di bagian bawah kastil atap merah Tsuruga-jo. Di sana Harumi mengajarkan Meutia upacara minum teh matcha yang sudah berusia ratusan tahun. “Kalau di Aceh tempat asal saya, teh diminum secepat dibuat, Haha,” ujar Meutia sambil mencontohkan tingkah orang kehausan yang membuat Harumi tergelak. “Kamu ini lucu juga, Cantik,” katanya.
Pada hari lain, Harumi mengajaknya melihat keindahan Taman Oyakuen, yang juga lokasi makam pemimpin klan utama Aizu dan 19 makam byakkotai, kumpulan samurai muda bunuh diri massal pada Perang Boshin. Meutia sempat bergidik melihat barisan makam itu sebelum Harumi menenangkannya. “Bukan mereka yang mati yang menakutkan kita, Meutia, tapi lebih sering dari mereka yang hidup.”
Saat datang mekar bunga sakura pada pertengahan April, dan dirayakan seluruh kota dengan festival yang berpusat di Tsuruga-jo (Tsuruga-jo Sakura Matsuri), hati Meutia meleleh melihat keindahan surgawi itu. “Terima Chichi, Haha, telah mengangkatku sebagai anak di tempat seindah ini,” katanya dengan airmata kebahagiaan sambil merangkul Hiroshi dan Harumi
“Justru kami yang bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan seorang pengganti Reiko,” ujar Hiroshi dengan suara bergetar. “Terima kasih telah mencerahkan hari-hari kami lagi, Meutia.”
Aizu Wakamatsu, 11 Maret 2011
MEUTIA melirik arlojinya: 14.45. Kepalanya mendadak pusing dan perutnya mual. Masih ada 15 menit lagi sebelum Profesor Kan menyelesaikan sesinya. Semenit kemudian Meutia merasakan lantai bergetar keras sekali, dan benda-benda di dalam ruangan bergoyang sampai ada terjatuh.
“Gempa bumi!” teriak spontan mahasiswa.
“Jangan panik,” ujar Profesor Kan. “Lakukan penyelamatan diri standar.”
Meutia segera mengikuti tindakan mahasiswa lain. Sambil berlindung dia membuka laptop mencari informasi. Ternyata pusat gempa di Prefekture Miyagi, Tohoku, dengan kekuatan 9.0 SR. Gempa sebesar itu mengingatkannya pada kejadian serupa yang mendahului tsunami di Aceh, Desember 2004. Tsunami yang menewaskan seluruh keluarganya. Semoga masyarakat di Miyagi tidak …
Miyagi?
Jantung Meutia berdegup lebih cepat karena teringat orang tua angkatnya berangkat tadi pagi untuk liburan akhir pekan di salah satu hotel Oshika Peninsula, Sendai, ibukota Prefektur Miyagi. Diambilnya telepon seluler untuk mengontak Harumi. Saluran komunikasi sudah terputus!
Meutia berlari keluar kelas, tak mempedulikan lagi panggilan teman-temannya agar dia berhati-hati. Dia menuju parkir sepeda, meluncur menuju rumahnya. Suasana jalan raya kacau balau. Sekilas terdengar oleh Meutia orang-orang menyebut soal tsunami.
Tsunami? Astaghfirullah al-‘Adzim, jangan lagi aku mengalami tragedi yang sama di sini. Tolong ya Tuhan Yang Maha Baik!
Meutia menemukan rumahnya kosong melompong. Hiroshi dan Harumi tak ditemukan di ruangan mana pun. Meutia menyalakan televisi. Gelombang tsunami setinggi 10 meter sudah menjilat daratan, mengamuk, merusakkan apa saja yang ada di depannya. Tak terhambat. Mimpi buruknya kembali terjadi. Wajah Meutia memucat, napasnya terengah-engah. Lalu pingsan.
Saat siuman, Meutia mendapati dirinya terbaring lunglai di RS Aizu. Tak ada Harumi dan Hiroshi. Suasana RS kacau balau dengan banyaknya korban gempa bumi dan tsunami. Televisi tak henti-hentinya menyiarkan tragedi yang menghancurkan Fukushima. Sehari kemudian dua orang staf Universitas Aizu menjenguknya, memberi kabar bahwa Harumi dan Hiroshi Mishima ditemukan sebagai dua dari sekitar seribu korban meninggal. Meutia kembali pingsan dan merasakan tubuhnya terdampar di tepi danau Inawashiro.
Dalam mimpinya yang dipenuhi warna kelam, Meutia melihat angsa-angsa danau Inawashiro memekik-mekik ketakutan di tengah badai petir yang memecut-mecut dari angkasa. Lalu langit terbelah, satu persatu angsa terhisap naik, melayang menuju cakrawala.
Rangkaian petir yang menyambar dan menerangi semesta menampakkan dengan jelas wajah delapan angsa di mata Meutia: orang tua kandung dan tiga adiknya, kedua orangtua angkatnya dan anak mereka Reiko Mishima. Reiko tersenyum seperti dalam fotonya yang terpampang di kamar tidur. Meutia ingin menjerit namun tak ada suaranya yang keluar. Samar-samar justru terdengar olehnya perkataan Harumi, “Jangan bersedih untuk kami, Meutia. Sebab, bukan mereka yang mati yang menakutkan, tapi justru mereka yang hidup. Jaga dirimu baik-baik, anakku. Kamu harus terus melangkah. Jangan biarkan kesedihan menghentikan usahamu meraih mimpi.”
Desember 2012
Akmal Nasery Basral is Indonesian novelist, scriptwriter, columnist, and lecturer for “Fiction Writing” in ALINEA Academy, Jakarta (Managed by Association of Indonesian Publishers). His historical novel “The Enlightener” (“Sang Pencerah”, about the life and struggle of KH Ahmad Dahlan, founder of Islamic second largest organization Muhammadiyah, also a blockbuster movie with the same title) was crowned as The Best Fiction in Islamic Book Fair 2011.
__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (2) .![]()
__,_._,___
dinda ANB sabana tabao jiwa ambo mambaco cerpen iko. tarimo kasih yo atas sharingnyo.
--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
--
Mamak ambo, luar biasa tulisan mamak, raso ikuik dan larut ambo jo kisah ko.
Ambo tunggu kelanjutan carito mamak.
Mokasih mamak, smg manjadio amal bagi mamak.
Salam
Elthaf
On 12/26/12, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com> wrote:
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
> MISIONARIS
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhuDi hari nan agak istimewa ko taragak sajo hati manayangkan ulang carito duo tahun nan lapeh ko.....
MISIONARIS
Tanganku seperti beku kedinginan. Aku meremas-remaskan kedua telapak tanganku menahan dingin. Di sebuah toko di depan sana terpampang pada sebuah running text informasi temperatur saat itu; satu derajad celcius.‘Maukah anda kami ajak minum kopi di café itu? Disana kita berbicara sebentar? Disini dingin sekali,’ katanya. Mungkin memperhatikan keadaanku yang ‘mati’ kedinginan.
alhamdulillah. Akhirnyo karajo kareh sekelompok penggiat ranah berhasil. Tahniah sanak, insya Allah tabangkik juo batang tarandam di Perkereta Apian Ranah Minang.