Lebar Rel Kereta Api

325 views
Skip to first unread message

Arnoldison

unread,
May 4, 2007, 12:58:49 PM5/4/07
to Rant...@googlegroups.com
Dari suatu blog (maaf ambo lupo mengutip sumbernyo)

Lebar Rel Kereta Api
Tahukah anda kalau lebar rel kereta api itu 143,5 cm atau 4 kaki 8,5 Inchi.
Kenapa tidak 145 atau 150 cm saja?
Kenapa tidak 4 kaki atau 5 kaki saja ?

Kenapa bukan angka yang pasti saja ? (bukan "angka pasti" karena angka
pasti beda lagi defenisi secara matematis)

Ternyata lebar yang sama dipakai angkatan perang dahulu untuk membawa
senjata dorong seperti meriam. Namun jika ditarik jauh ke belakang
semuanya bermula dari orang-orang Romawi. Mereka membuat jalan untuk
memudahkan transportasi di dalam kota maupun untuk memudahkan
pemindahan senjata-senjata mereka ke daerah2 di luar kota sebagai
bagian invasi.

Lebarnya jalan selebar dua kuda yang berdiri berjejer. Sejak saat
itulah semua jalan dibuat selebar itu.

Penentuan lebar itu ternyata sangat mempengaruhi jalur transportasi
terutama kereta api sampai saat ini. Ketika kereta uap pertama kali
ditemukan, para penemu "terpaksa" membuat rel dengan panjang yang sama
sebab mereka butuh dana yang besar jika harus melebarkan lagi.
Demikian juga ketika kereta diesel dan kereta api super cepat
ditemukan. Para ahli dan penemu tetap menggunakan jalur yang sama
seakan-akan semua ini takdir yang digariskan orang-orang Romawi :).

Yang terbaru adalah kabar dari badan luar angkasa AS. Ketika membuat
pesawat ulang-alik, mereka merasa tangki bahan bakar perlu sedikit
lebar untuk menampung bahan bakar lebih banyak. Apa hasil ? Pabrik
pembuatan tangki itu ada di Utah, sedangkan untuk membawa tangki bahan
bakar ke Florida (pusat angkasa luar AS) harus menggunakan kereta api.
Dengan sangat terpaksa, mereka mengikuti "takdir" lagi, yaitu mengubah
lebar tangki.

Sejarah yang menarik, bukan ?

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
May 4, 2007, 12:22:57 AM5/4/07
to Rant...@googlegroups.com
Kalau boleh nambah catatan:
 
Blog nya mungkin di itpin.com ? - Penulisnya menyebut ukuran ini dengan "lebar pantat kuda"
 
Ini cerita tentang Amrik, yang lebar standar jalan KA nya 4' and 8.5" (Walaupun dulunya di bagian Selatan lebih lebar)
 
Di negara lain beda-beda. Indonesia 1,067mm, ini = swiss ; eropa umumnya 1,488 mm; ; rusia malah hampir 1,6 m. Di indonesiapun, 1,067mm itu "baju seragam"nya, walaupun sebelumnya (mungkin masih ada) di beberapa perkebungan masih menggunakan ukuran lain.
 
Tentang perubahan lebar tangki, mungkin kejadiannya bukan "baru-baru" ini, karena Thiokol sudah mulai membuat tangki sejak dapat kontrak tahun 1974; dan ini sudah dipakai oleh 4 pesawat ulang alik; termasuk Challenger yang meledak tahun 1986.
 
Riri 


Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar
alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

Arnoldison

unread,
May 4, 2007, 2:33:12 PM5/4/07
to Riri - Mairizal Chaidir
Terima kasih infonya,

Mau tanya , kalau kita beli kereta baru (build in) ataukan kereta bekas dari
Eropah, sedangkan lebar rel mereka tidak sama dengan yang
terpasang dikita, mestikah ada penyesuaian terlebih dahulu kereta
tersebut dengan rel yang terpasang di Indonesia ?

Arnoldison

Thursday, May 3, 2007, 9:22:57 PM, you wrote:

RMC> Kalau boleh nambah catatan:

RMC> Blog nya mungkin di itpin.com ? - Penulisnya menyebut ukuran ini dengan "lebar pantat kuda"

RMC> Ini cerita tentang Amrik, yang lebar standar jalan KA nya 4' and 8.5" (Walaupun dulunya di bagian Selatan lebih lebar)

RMC> Di negara lain beda-beda. Indonesia 1,067mm, ini = swiss ; eropa umumnya 1,488 mm; ; rusia malah hampir 1,6 m. Di indonesiapun, 1,067mm itu "baju seragam"nya, walaupun sebelumnya (mungkin
RMC> masih ada) di beberapa perkebungan masih menggunakan ukuran lain.

RMC> Tentang perubahan lebar tangki, mungkin kejadiannya bukan "baru-baru" ini, karena Thiokol sudah mulai membuat tangki sejak dapat kontrak tahun 1974; dan ini sudah dipakai oleh 4 pesawat ulang
RMC> alik; termasuk Challenger yang meledak tahun 1986.

RMC> Riri

Darul M

unread,
May 4, 2007, 3:34:31 AM5/4/07
to Rant...@googlegroups.com
Ya, biasanya, sebelum shipment telah disesuaikan terlebih dahulu, atau
sesuai kontraknya.

Salam
Da

-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of Arnoldison
Sent: Saturday, May 05, 2007 1:33 AM
To: Riri - Mairizal Chaidir
Subject: [R@ntau-Net] Re: Lebar Rel Kereta Api


Terima kasih infonya,

Mau tanya , kalau kita beli kereta baru (build in) ataukan kereta bekas
dari
Eropah, sedangkan lebar rel mereka tidak sama dengan yang
terpasang dikita, mestikah ada penyesuaian terlebih dahulu kereta
tersebut dengan rel yang terpasang di Indonesia ?

Arnoldison

--~------~--~---

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
May 4, 2007, 4:19:29 AM5/4/07
to Rant...@googlegroups.com
Sama sama
 
Kalau beli kereta memang harus sesuai ukuran rel yang ada. Kalau baru ga masalah, bisa ngomong ke pabriknya. Kalau bekas, ex jalur2 tertentu di Eropa atau Jepang (ex jalur Shinkansen). Tapi kalau dapatnya yang beda ukuran, ya disesuaikan dulu - kalau memang bisa.
 
Tetapi kalau si pemilik tidak bisa (atau tidak mau) menyesuaikan ukuran ada berbagai cara untuk mengatasi.
 
Kalau kereta beda ukuran harus berjalan di jalur yang sama, biasanya pakai double atau triple gauge. Satu bantalan dengan 3 atau 4 rel. Jaman Belanda kita pernah punya itu antara Yogya - Solo yang tadinya dibangun untuk standard gauge (4';8/5" yang digunakan lebih dari separo jalan kereta di dunia); di sebagian tempat ditambah rel ketiga untuk 3'6". Sampai akhir 60an, di Sumut - Aceh juga masih ada double gauge (3'6" dan tram 2';5 1/2")
 
Triple gauges dulu ada beberap di Austraia, sekarang cuma di Perancis dan - katanya - di sekitar Niagara.
 
Kalau kereta beda ukuran "ketemu" di satu titik, jalan keluarnya macam2. Bisa penumpangnya pindah kereta. Bisa juga, kalau selisihnya bebete - beda beda tipis, cuekin aja (antara Finland dan Rusia cuma beda 4 mm).
 
Ada juga jalan lain dengan mengganti as dan/ atau roda kereta. Bisa juga "dari sono" nya pakai produknya  Talgo, dimana roda bisa digeser-geser, atau as nya yang dipanjang-pendekin.
 
Riri

Arnoldison <arn...@spij.co.id> wrote:

Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check out new cars at Yahoo! Autos.

Arnoldison

unread,
May 7, 2007, 4:41:30 PM5/7/07
to Riri - Mairizal Chaidir
Terima kasih infonya, menarik juga soal kereta ini ya,
ini ada artikel

JIKA MESIN KENDARAAN TIBA-TIBA MATI DI TENGAH REL KERETA

Mengapa jika mesin kendaraan bermotor tiba-tiba mati di
lintasan rel kereta api sulit dihidupkan lagi ?
Ternyata itu disebabkan adanya pengaruh gesekan antara roda
kereta dengan relnya. "Jadi, bukan semata-mata karena sopirnya gugup
sehingga tidak bisa menghidupkan mesin kendaraannya, " kata Dr Ir. Djoko
Sungkono, kepala Laboratorium Motor Bakar Teknik Mesin Institut
Teknologi Surabaya (ITS).

Selama ini sering terjadi kendaraan bermotor tiba-tiba mati
mesinnya saat melintas di atas rel kereta api. Itu terjadi terutama
ketika ada kereta yang mau lewat. Pengendaranya kesulitan menghidupkan
kembali mesin kendaraannya itu. Akibatnya, kendaraan bermotor itu
ditabrak
kereta dalam hitungan sekian puluh detik berikutnya.

Kasus terbaru adalah seperti yang dialami Rektor dan Pembantu
Rektor III Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Keduanya tewas karena
mobil yang sedang melintas rel dihantam kereta api. Djoko lalu
mengingatkan, jika mesin mobil tiba-tiba mati di atas rel, maka
hendaknya penumpangnya segera keluar dan mendorongnya . Jika tidak, akan
sangat membahayakan jika kereta segera lewat. Dan jangan berusaha
menghidupkan mesin! Yang anda lakukan adalah, keluar! dan mendorongnya!
Kalopun anda gak sempat mendorong, setidaknya anda sudah berada diluar
kendaraan dan bisa sewaktu-waktu lari menghindar.

Mengapa mesin bermotor susah dihidupkan? Kata Djoko, terjadi
impedansi yang ditimbulkan oleh pergesekan roda kereta api dan relnya.
Dan, impedansi itu yang cukup untuk mengakibatkan mesin mobil yang mati
sulit menyala kembali. Kejadian itu terutama berpengaruh pada mobil atau
kendaraan yang berbahan bakar bensin, meskipun kendaraan berbahan bakar
solar juga ada yang terpengaruh. "Pada kendaraan yang berbahan bakar
bensin, starternya digerakkan oleh dinamo," paparnya. Dari dinamo ini
dihasilkan medan magnet yang selanjutnya menggerakkan mesin mobil. Djoko
mengatakan, hal tersebut tidak jadi masalah bila mesin mobil tersebut
tidak mati. Namun bila mesin tersebut mati maka akan sulit untuk
dihidupkan lagi. Medan impedansi tersebut tidak diperlukan jarak yang
dekat untuk itu. Hal tersebut sudah mulai dapat berpengaruh ketika
kereta api masih berjarak 1,5 km lokasi lintasan di mana kendaraan
bermotor itu melintas rel.

Jadi langkah terbaik yang harus dilakukan : dorong kendaraan (
kalau mobil, segera keluar dari kendaraan) anda dari rel kereta baru
setelah itu coba hidupkan kembali mesin mobil anda.

http://www.mediakonsumen.com/Artikel254.html


Arnoldison

Friday, May 4, 2007, 1:19:29 AM, you wrote:

RMC> Sama sama

--delete --

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
May 7, 2007, 4:02:26 AM5/7/07
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Arnold,
 
Informasi ini sangat berharga.
 
Tadi saya lihat juga link ke mediakonsumen yang disebutkan, ada komentar di bawahnya ada komentar : "Yang paling baik dalam hal ini "disiplin"kalau sdh tahu kereta mau liwat jangan terus aja jalan"
 
Disiplin itu yang susah. Waktu pintu pelintasan sedang bergerak menutup masih banyak yang mencoba lewat. Bahkan setelah tertutuppun banyak kendaraan, terutama sepeda motor yang mencoba menyeberang rel melalui celah pintu.
 
Tetapi, ada cerita lain. Suatu sore saya lewat di Jl. Pahlawan Revolusi - Pdk Bambu. Lalulintas tersendat. Ternyata kasusnya: Karena angin sangat kencang, orang2 takut kalau pohon dipinggir jalan roboh. Jadi setiap mobil yang mendekati pohon berhenti dulu, setelah yakin bisa melewati pohon baru jalan. Mobil2 di belakangnya juga begitu.
 
Apakah ini artinya kita lebih takut ketimpa pohon dibanding ketabrak kereta?
Kadang-kadang kita aneh juga yah ...
 
Riri (45)
 
 
 


Arnoldison <arn...@spij.co.id> wrote:


JIKA MESIN KENDARAAN TIBA-TIBA MATI DI TENGAH REL KERETA

Jadi langkah terbaik yang harus dilakukan : dorong kendaraan (
kalau mobil, segera keluar dari kendaraan) anda dari rel kereta baru
setelah itu coba hidupkan kembali mesin mobil anda.

http://www.mediakonsumen.com/Artikel254.html


Arnoldison

Friday, May 4, 2007, 1:19:29 AM, you wrote:

RMC> Sama sama

--delete --





No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

muhammad syahreza

unread,
May 7, 2007, 9:51:21 PM5/7/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum wr.wb.
 
Untuak maaja disiplin bagi kebanyakan warga Indonesia adalah dengan cara "learning by doing"
Supayo tertib dan disiplin di jalan jadi budaya, syarat yang harus dipenuhi warga waktu mambuek SIM harus ditingkekan dan praktek percaloan mambuek SIM tembak harus dihilangkan. Iko tugas jajajran Kepolisian yang berwenang mereformasi Institusinya. Kemudian dilengkapi dengan Undang-undang yang menyediakan kepastian hukum dan sangsi yang keras dan jelas bagi pelanggarnya, hilangkan peluang kata-kata yang bermakna bias. Ada baiknya waktu membuat SIM, semua peserta yang ikut ujian SIM diharuskan menonton film dan melihat photo-photo asli korban kecelakaan kereta api dan jalan raya..mungkin yang kepalanya pecah, yang badannya terpisah, kendaraannya hancur, dll karena tidak disiplinnya yang mengemudi kendaraan atau pengguna jalan raya. Sadis dan ekstrim memang, tapi cukup untuk memprogram memory otak peserta ujian membuat SIM supaya lebih hati-hati di jalan raya dan perlintasan kereta api.. Kalau kami yang bekerja di perusahaan industri swasta asing, perusahaan membuat peraturan sendiri bagi karyawan yang menggunakan kendaraan pribadi pergi kerja ke kantor. Dimana tiap pengendara harus melengkapi diri dengan SIM, perlengkapan safety berkendara, presentasi rutin tiap 3 bulan dari Direktorat Lalu Lintas Polres, dan harus lulus ujian disiplin mengemudi kendaraan yang diadakan khusus oleh perusahaan bagi karyawan (aturan lalu lintas dan cara berkendara yang benar).
 
 
wassalam
Reza
 

 

Arnoldison

unread,
May 8, 2007, 12:37:09 PM5/8/07
to muhammad syahreza
Ini ada artikel menarik mengenai kedisiplinan,

Belajar dari Kedisiplinan Semut
Oleh ZEILY NURACHMAN

BISA dipastikan bahwa Bandung dan kota-kota besar lain tanpa hari
tanpa kemacetan. Kondisi ini diperparah dengan ego pengendara yang
tidak mampu mengedalikan emosi, ingin menang sendiri, dan memaksa
menerobos sehingga keadaan berubah menjadi macet total. Berbeda dengan
semut. Walau keadaan ramai dan jumlahnya sangat banyak, mereka tidak
pernah ingin menang sendiri. Dalam keadaan berdesakan, semut-semut
pekerja mencoba mencari penyelesaian masalah untuk mengendalikan
rekan-rekannya di daerah kemacetan.

Pada saat menghadapi kemacetan lalu lintas, semut-semut lebih suka
menyeret rekan yang lain keluar dari jalan tersebut dan memaksanya
untuk mengambil rute alternatif. Strategi ini memungkinkan semut-semut
menghemat waktu untuk mengangkut makanan. Semut-semut pekerja
meninggalkan jejak berupa isyarat bau yang memungkinkan rekan-rekannya
mengikuti rute antara sarang dan sumber makanan. Semakin banyak semut
mengikuti jejak tersebut, rambu-rambu kimia ini makin diperkuat dan
menjadi lebih atraktif. Rute ini dipakai untuk berangkat dan balik.

Hal menarik adalah kejadian kemacetan lalu lintas semut tidak pernah
terjadi. Demikian hasil riset Vincent Fourcassii dan timnya dari
Universitas Paul Sabatier di Toulouse, Prancis. Untuk menghindari
kemacetan, semut mendorong satu sama lain keluar dari jalan utama dan
mencari jalan alternatif baru. Semut hitam (lasius niger) diteliti
untuk mencari sumber gula, yang hanya bisa dicapai melalui sebuah
jembatan yang dibagi dua cabang dengan lebar sama. Bila lebar
masing-masing cabang 10 mm, lalu lintas dua arah hanya terkonsentrasi
pada satu dari dua cabang itu. Ini menunjukkan bahwa semut-semut lebih
suka mengikuti rute yang ditandai dengan baik.

Namun, bila cabang dipersempit (6 mm atau kurang), aliran semut
sepanjang dua rute cabang lebih seimbang. Ini karena semut yang
meninggalkan sarang untuk mencari gula bertemu dengan semut yang balik
dengan membawa gula, dan mereka beradu sehingga mengakibatkan semut
yang akan mencari gula ini memilih mengambil jalan cabang lain.

Padahal setelah beradu kepala, semut-semut yang berangkat diharapkan
berbalik dan pulang kembali ke sarang. Namun, kenyataannya tidak dan
mereka menemukan solusi lebih baik untuk mengatasi masalah melalui
pencarian rute baru. Strategi ini membuat semut-semut memelihara
aliran balik yang sama bila keadaan mulai macet. Proses serupa di atas
ternyata juga dipakai mengendalikan lalu lintas jaringan sarang semut
di terowongan bawah tanah.

Pelajaran yang dipetik dari kelakuan semut di atas adalah kemacetan
lalu lintas diatasi melalui kedisiplinan. Di sini tampak bahwa semut
yang berangkat tidak memaksa untuk menorobos arus dan mereka ”tahu
diri” untuk memprioritaskan arus lalu lintas bagi rekannya yang balik
membawa makanan. Sementara itu, agar tidak memacetkan, semut-semut itu
mencari jalan alternatif baru.

Refleksi dari semut untuk mengatasi kemacetan lalulintas adalah
penyediaan jalan-jalan alternatif, yang tidak harus berukuran besar
namun layak untuk dilewati. Jalan-jalan kecil di Kota Bandung
jumlahnya banyak, namun kondisinya sangat memprihatinkan sehingga
tidak layak dilewati. Adapun yang kondisinya baik, mereka ”terpaksa”
ditutup dengan portal dengan alasan keamanan. Kalaupun dapat dilewati,
banyak warga memasang ”ranjau darat” berupa polisi tidur. Itu sebabnya
jalan-jalan alternatif itu tidak optimal fungsinya, sehingga
kebanyakan kendaraan tumpah ke jalan-jalan utama sehingga kemacetan
tidak terelakkan.

Kelakuan semut-semut menyeret rekan yang lain keluar dari kemacetan
dan memaksanya untuk mengambil rute alternatif, dapat diterjemahkan
sebagai pengaturan lampu lalu lintas kota terintegrasi. Rambu-rambu
ini untuk mengarahkan dan mengendalikan aliran kendaraan di
waktu-waktu sibuk.

Belajar dari semut, seharusnya kemacetan kota dapat diminimalkan
dengan cara pedisiplinan pengguna jalan, penyediaan sarana jalan yang
layak, dan pengaturan sistem pengaturan lampu lalu lintas kota yang
terintegrasi. Pelajaran dari semut di atas tampaknya dapat diterapkan
juga untuk aliran data seperti sistem jaringan telefon. Kelakuan semut
ini juga memberikan inspirasi bagaimana merancang sistem komputer yang
mampu menghindari kemacetan jaringan. Caranya adalah melalui
penyediaan rute-rute jalan kecil dengan jumlah lebih banyak.***

Penulis adalah Guru Biokimia, Kimia ITB


Monday, May 7, 2007, 6:51:21 PM, you wrote:

>>
>> Assalamu'alaikum wr.wb.

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
May 8, 2007, 2:56:31 AM5/8/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam wr.wb
 
"learning by doing" nya harus dijaga dengan law enforcement.
 
Law kita udah punya banyak, enforcement yang belum. Untuk di jalanan, misalnya peraturan sudah banyak banget, tapi siapa yang pernah memperhatikan (ha ha, saya pernah baca UU lalu lintas, tapi ga khatam).
 
Kalau memang niat sih, semua yang sanak Syahreza sampaikan itu bisa saja. Bahkan kalau memang "tukang law enforcement" nya kurang banyak, jaga di "hilir" nya saja dulu, ntar baru naik ke hulu. Tangkap dan hukum beneran (sesuai peraturan yang ada) para pelanggar. Dan lakukan itu secara intensif, berkelanjutan dalam periode tertentu sampai masyarakat khatam "learning by doing" nya, Abis itu pengawasan secara fisik bisa diperlonggar.
 
Saya pikir itu tidak terlalu sulit, kalau mau. Tapi kalau mau lho.
 
Tahun 85-87 saya kerja di Padang. Waktu itu Sumbar lagi serius2 nya dengan masalah kebersihan. Orang buang sampah sedikit aja dihukum (tapi tempat sampah disediakan, jangan lupa).
 
Sekarang pengawasannya kelihatan agak longgar, tetapi masyarakat Sumbar kelihatannya sudah "lulus sekolah learning by doing". Jadi biar tidak dijaga polisi/ kamtib, masyarakat sudah terbiasa menjaga kebersihan lingkungan. Kota2 di Sumbar - menurut saya - relatif terbersih diantara kota2 lain di Indonesia.
 
Riri

muhammad syahreza <muhammad...@gmail.com> wrote:
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages