Februari 8, 2008 oleh yerri
Bahasa adalah sistem lambang bunyi,
dikeluarkan oleh alat ucap dan bersifat arbitrer serta konfensional. Pengertian
defenisi bahasa di atas dapat dipahami bahwa bahasa merupakan sebuah produk
kebudayaan suatu masyarakat didasarkan situasi dan kondisi pemaknaan dan
disepakati secara bersama oleh masyarakat lainnya dalam satu lingkup kebudayaan.
Kebebasan memaknai sesuatu oleh suatu kelompok masyarakat dibatasi dengan
kesepakatan bersama dalam pemakaiannya, jadi bisa dikatakan bahwa sesuatu
yang dikategorikan dengan bahasa sangat bergantung pada kesepatakan dari
masyarakat penuturnya.
Perkembangan pola pikir serta meningkatnya
kebutuhan hidup manusia akan kebutuhan-kebutuhan primer maupun sekunder,
yang sudah barang tentu banyak menghadirkan perubahan-perubahan, merupakan
faktor utama yang melatarbelakangi perubahan suatu bahasa. Bahasa-bahasa
lama yang dulu banyak dipergunakan, lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat
penuturnya, dan pada akhirnya hilang, digantikan dengan bentuk bahasa lainnya.
Akibat yang ditimbulkan dari perkembangan tersebut tidak saja berpengaruh
pada jumlah -apabila didasarkan ata kuantitas- penutur, namun juga terjadi
pergeseran pada nilai-nilai normatif yang terkandung dalam adat istiadat,
oleh masyarakat penutur bahasa tersebut.
Bahasa Minangkabau sebagai salah
satu bentuk bahasa etnik, bukan tidak mengalami perubahan, atau yang lebih
tepat apabila kita namai dengan krisis eksistensional. Di tengah-tengah
masyarakat penuturnya, yang berjumlah lebih kurang empat belas juta jiwa
tersebut, bahasa Minangkabau cenderung dikesampingkan atau dinomorduakan.
Hal tersebut terjadi tak lain karena sebagian besar penutur bahasa Minangkabau
merasa “minder” apabila berbahasa Minang. Alhasil, perkembangan
bahasa Minang kini, turut mempengaruhi pola hidup serta pola kebudayaan
masyarakat Minang itu sendiri.
RAGAM BAHASA MINANGKABAU
Dalam Bahasa Minang terdapat empat
ragam bahasa, yang mempengaruhi dan sangat bergantung pada situasi dan
kondisi pada saat bahasa tersebut akan dipergunakan. Keempat ragam bahasa
tersebut, antara lain 1). Ragam Bahasa Adat, 2). Ragam Bahasa Surau, 3).
Ragam Bahasa Parewa, 4). Ragam Bahasa Biasa.
Ragam bahasa adat, biasanya banyak
dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan ada. Dalam ragam ini mengandung, petatah
petitih, pantun adat, mamangan dan bentuk-bentuk bahasa kias
lainnya. Ragam bahasa ini tertuang dalam pidato adat –pasambahan–
para penghulu, ninik mamak, serta tokoh-tokoh adat lainnya.
“…di awal kato nan sapatah, menjadi ujuik jo makasuik, nan sarapak papeknyolah. Beliau nan hadir di ateh rumah nanko. Indak dibilang ka diator, hanyo pambilang ka paatok, pambilang pamuliakan sambah…”
Ragam bahasa Surau, merupakan suatu bentuk bahasa yang banyak dipergunakan oleh para ulama. Ragam ini dapat ditemui dalam setiap aktivitas keagamaan di surau. Perbedaannya dengan ragam bahasa adat, ragam bahasa surau ini banyak mengandung ajaran-ajaran agama, dan juga banyak dipengaruhi unsur-unsur serapan dalam bahasa arab.
“…sesuatu barang, nan kito tamui secaro indak sengajo, itu hukumnyo dalam islam adalah subhat. Artinyo labiah dakek kepado haram dari halalnyo. Andaikato suatu saat kito menemukan urang nan punyo barang tersebut, heloklah kito batarus terang kepadonyo, mintak ke ridhoan urang tasabut, Isnya Allah, Tuhan akan mengampuni doso kito…”
Ragam Bahasa ketiga yakni, ragam bahasa parewa. Ragam bahasa ini dipergunakan oleh kaum muda (parewa), dalam berkomunikasi antar sesama. Ragam bahasa ini memiliki ciri-ciri, antara lain: bahasanya sedikit kotor, kasar, dan tak jarang juga muncul bahasa-bahasa sindiran.
“…apo nan ang baok tu?” “tep oto, sia kiro-kiro nan namuah mambalinyo, yo?”“tep oto sia nan ang cilok tu, angku lai, ndak tapikia sansai urang tuo manggadangkan ang!”
Ragam bahasa yang keempat, yakni, ragam biasa, atau juga bisa disebut sebagai bahasa Minang umum. Dikatakan biasa karena, ragam ini biasa dipergunakan oleh masyarakat Minang dalam bertutur atau berkomunikasi. Ciri khas dari ragam ini, yakni tidak kentaranya dialek yang dipergunakan oleh si penutur bahasa Minang. Arti yang lebih implisit dari kondisi ini adalah ragam inilah yang sering dipergunakan oleh orang Minang (dari berbagai daerah) dalam bekomunikasi antar sesama orang Minang, walau pada prinsipnya mereka berbeda daerah dan dialek.
“ka pai kama angku kini?” “ambo ka pai ka rumah buya, ado paralu jo buya.” “apo makasuik ka rumah buya, tuh”“indak ado, doh, cuman ambo dulu pernah banazar, kini ambo ka mambayianyo” KONOTASI BAHASA
Dalam bahasa Minang, dikenal empat
jenis pula konotasi bahasa. Dalam penerapannya, keempat jenis tersebut
dapat di bagi lagi menjadi beberapa bagian, sehingga makna yang terlahir
lebih spesifik. Keempat jenis konotasi bahasa tersebut, yakni:
1). Konotasi baik. Konotasi baik
terbagi atas dua bentuk konotasi, yakni a). Konotasi Tinggi, dan b). Konotasi
Ramah. a). Konotasi tinggi di dalamnya termasuk bahasa-bahasa seperti pasambahan,
pantun, petatah petitih, yang saat ini sangat jarang ditemui kecuali didalam
karya-karya kaba dan cerita rakyat Minangkabau lainnya.
“…kok diliek kabangun tabuah,
dipandang dalia nan nyato, ayah indak cadiak pandai. Sebab dek pancuran
lapuak batang sampia, balumuik balamun tanah, lah lapuak dek ujan patang
pagi, tapi caliak garanak aia tajun nan janiah samisa kutu kuciang, ulunyo
dilubuak hati balabuah diujung lidah, tiang dianak mangapuangkan…”
“…oi ayah kanduang, badan dek ambo usah ragu ayah dek nantun, samisa ujan dilubuak awan, bararak dirandang angin, baguluang dilunta kabuik, naiak yah kadenai mati juo…”
b). Sedangkan konotasi ramah, sering ditemukan dalam pembicaraan masyarakat umumnya. Dalam pemakaiannya, konotasi ini dapat menunjukkan identitas kelas pembicaranya. Misalnya:
“…Inyo baa dek amak, kalau cewek itu nan kacinto ka aden, kan indak mungkin aden tulak cintono tu dek amak…” “…iyo tapi pengeceran urang kampuang ko, nan manimbuahkan ati amak kurang sanang…”
2). Konotasi tidak baik, memiliki dua spesifikasi makna, yang masing-masing
memiliki tingkatan tersendiri. Kedua spesifikasi makna tersebut antara
lain: a). Konotasi Kasar, dan b). Konotasi keras.
a). Konotasi kasar biasanya dipergunakan oleh penutur yang sedang
mimiliki tingkat emosional yang tinggi. Akibat tingkat emosional yang tinggi
tersebut, seorang penutur cenderung mengeluarkan kata-kata yang kasar dan
terkadang disertai dengan carut marut dan maki-makian.
“…baruak ang!!! Jo iko ang baleh budi baiak apak den, urang indak bautak ang!! Dasar setan!! Ibilih ang namonyo!!”“…bacirik muncuang ang mah!! Kanciang!! Waang nan iri jo aden, kok itu nan ang paso kan ka aden, sampai mati indak ka den turuikkan, bialah den ang kecek indak bautak, duako, ambo indak paduli!!”
b). Konotasi keras, lebih utamanya difungsikan sebagai gaya untuk menyindir seseorang. Kadangkala, gaya sindiran yang dikeluarkan bisa langsung menjatuhkan harga diri seseorang disindir. Tanda bahwa seseorang itu mencemeeh atau menyombongkan diri, dapat dilihat dari tinggi rendahnya intonasi suara yang dikeluarkan, atau bisa juga dilihat dari seberapa besar pengaruh kata-katanya untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari pada diri orang yang disindir.
“…ondeh, rancak bana corak baju adiak ko mah, saroman jo corak kain saruang awak nan hilang ka patang…”“…jan sambarang bakicau jo muncuang tu da, indak ado kain saruang nan samo dasarnyo jo dasar baju den ko, rancak bana kain saruang tu kalo iyo samo…”
3). Konotasi tak pantas. Berbeda
dengan bentuk kedua konotasi di atas, konotasi tak pantas tidak ada pembagiannya.
Dalam konotasi ini, si penutur mengeluarkan tuturan tak pantas dan sangat
menyakitkan. Tuturan-tuturan tak pantas itu dalam Bahasa Indonesia dicari
padanan katanya sehingga lebih halus bunyinya, seperti lonte, babu,
bekas, pakak, buto, dan lain sebagainya.
4). Konotasi tak enak. Dalam konotasi
ini mengandung unsur kepercayaan terhadap hal-hal mistik atau gaib. Biasanya,
dalam kondisi tertentu si penutur dilarang menuturkan kata-kata yang dianggap
tabu di sembarang tempat. Misalnya, jika sipenutur sedang berada di tengah
hutan, maka secara tidak langsung ia telah diikat dengan aturan-aturan
dalam bicara dan mengeluarkan kata-kata. Kata-kata yang tidak pantas seperti,
hantu, harimau dan kata-kata kotor atau juga kata-kata yang menyombongkan
diri dan takabur dilarang diucapkan untuk kondisi ini, karena jika aturan
itu dilanggar dipercaya akan ada balasan yang setimpal bagi yang mengatakannya,
saat itu juga.
Demikianlah ragam dan konotasi
bahasa yang terdapat dalam bahasa Minangkabau. Saat ini, sesuai dengan
perubahan zaman, bahasa Minangkabau berkembang ke arah yang tidak lagi
memandang aturan adat tradisi. Oleh karena itu, masalah ini sudah sepatutnya
mendapat perhatian yang lebih serius, mengingat perkembangan generasi muda
Minang saat ini telah jauh dari norma-norma budaya Minangkabau tersebut.
Bahasa adalah cermin sebuah bangsa, baik dan buruknya. (Yerri S. Putra)
Wallahu a‘lam bishawab