Pak Donard,
Manuruik ambo sih, keunggulan urang awak ko indak gampang kanai tipu dalam barusaho, tapi agak gamang untuak spekulasi usaho sahinggo banyak nan jalan ditempat.
Wassalam
Rina, 35, batam
--
Ambo tertarik jo statemen "nampak bahwa urang Minang ko yo sadang masa transisi, dimana banyak pengusaha di Sumbar khususnya kesulitan menaikkan level usahonyo." Jiko tuan Donard pernah baca Christine Dobbins "Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement, 1784-1830", ada pernyataan senada yang menyatakan kelas pedagang/ pebisnis di Sumatera Barat saat itu pasti sulit memupuk kekayaan yang sangat besar. Dobbins menyebut, problemnya ada pada struktur masyarakat yang banyak sekali memiliki ritus-ritus yang boros spt perkawinan, tegak penghulu, atau pesta-pesta adat. Faktor-faktor adat yang begini jadi salah satu pemicu munculnya gerakan Paderi. (Jadi Dobbins membantah keras Perang Paderi adalah perang agama, melainkan adalah perang sosial-ekonomi utk meruntuhkan 'adat' usang yang bikin miskin rakyat). Artinyo, jika menilik penelitian Dobbins ko, problem "kesulitan menaikkan level usaha" iko bukan transisional karena sudah dari dulu terjadi di Sumatera Barat. Jangan-jangan problemnya masih samo spt di abad 17-18. Itu sebab, umumnyo, konglomerat Minang sebagian besar bisnisnya besar di luar dulu, macam Basrizal Koto gadang di Riau dulu, baru pulang ke Padang. Is Anwar berbisnis di Jakarta. Yang agak pengecualian sih Suka Fajar (distributor Mitsubishi), namun ambo ragu, apakah bisnis ini bisa sampai ke generasi ketiga karena kini dipegang generasi kedua. Saketek, - Arfi NB: Jika sasakolah jo Bot, berarti awak sakolah pulo. Ambo setahun di ateh Bot di SMA 1 Padang :) --- On Fri, 4/12/13, Donard Games <donar...@gmail.com> wrote: |
Bukan artikel, tapi buku, Donard. Alah ado terjemahannyo. Scr struktur, laki-laki Minang itu berdimensi ganda. Sebagai mamak sekaligus sebagai ayah. Sebagai ayah, ikut menikahkan anak, hidupi anak, sementara sebagai mamak, ikut 'mengembala kaum'. Semakin kaya, yang 'bermamak' ke dia pun makin banyak. Tak usah jauh-jauh, jika Donard pulang kampung dari merantau, sepupu-sepupu bakal datang menemui Donard, bawa kemenakan-kemenakan sekalian. Selanjutnya tentu ada sedikit pitih diselipkan untuk para kemenakan. Kekayaan jadinya hanya bisa dipupuk maksimal ketika seorang Minang jauh dari struktur adatnya. Merantau misalnya, membuat seorang Minang hanya terikat pada orang-orang yang dibawanya merantau atau ayah-ibunya saja. Di rantaulah seorang Minang bisa mengakumulasi modal, meningkatkan level usahanya. Ini sebab orang-orang Minang justru lebih sukses berbisnis jika pusat bisnisnya bukan di Sumatera Barat. Saketek dari ambo. - Arfi |