Pak Saaf - ada turntable kereta di Padangpanjang

19 views
Skip to first unread message

Riri Chaidir

unread,
Jan 16, 2009, 11:07:07 AM1/16/09
to Rantau Net, WSTB, MPKAS
Pak Saaf,
 
Waktu saya baca lagi posting pak tentang obyek wisata potensial di Padangpanjang, saya ingat dulu di stasiun Padangpanjang, di sebelah Selatan, dekat jalan ke Kampuang Teleng ada suatu alat untuk memutar arah lokomotif.
 
Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia, tapi di internet saya ketemu istilah "turntable". Salah satu penjelasan berikut gambarnya ada di http://en.wikipedia.org/wiki/Turntable_(railroad).
 
Kalau saya baca di bbrp referensi, tujuan memutar arah kereta ini karena pada jenis kereta tertentu, kekuatan lokomotif bergerak maju dengan bergerak mundur itu berbeda.
 
Seringkali turntable ini menjadi satu dengan bengkel, pake atap, sehingga bengkelnya disebut turnhouse.
 
 
 
Untuk penggerak/ pemutar, ada yang elektrik (ini yang modern), ada juga yang hidrolik, dan ada yang manual (!!! di dorong dengan tenaga manusias)
 
Nah, yang manual ini yang langka di dunia, dan dijadikan obyek wisata. Seingat saya, di Sumbar, itu hanya ada di Padangpanjang. Kalau yang di jawa, setahu saya tidak manual lagi.
 
Kalau ini masih ada di Padangpanjang, ini mungkin bisa menjadi bagian  dari obyek wisata di stasiun kereta padangpanjag.
 
Mudah2an masih ada, pak Saaf.
Mudah2an bukan termasuk besi2 yang telah dikonversi menjadi panci untuk dapur ...
 
Riri
Bekasi, L 46

Indra Jaya Piliang

unread,
Jan 16, 2009, 12:07:50 PM1/16/09
to Rantau Mail
Waktu SD dan SMP, saya banyak menghabiskan waktu membaca buku di toko2 buku di Padang Panjang, termasuk komik2. Habis uang buat minjam buku, kadang harus jln kaki ke Aie Angek.

Barangkali, sebuah perpustakaan perlu juga dibangun, spt Pustaka Bung Hatta di Bukik. Atau sudah ada? Mungkin Pustaka Rahmah El Yunusiah namanya, mengingat kegigihannya mencari dana sampai ke Turki utk Sumatera Thawalib.

Ijp

Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network


From: "Riri Chaidir"
Date: Fri, 16 Jan 2009 23:07:07 +0700
To: Rantau Net<rant...@googlegroups.com>; WSTB<ws...@googlegroups.com>; MPKAS<mak...@yahoogroups.com>
Subject: [R@ntau-Net] Pak Saaf - ada turntable kereta di Padangpanjang

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 7:10:00 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Riri, bung Indra, alat pemutar kereta api tidak hanya ada di Padang Panjang, tetapi ada di setiap lokasi dimana lokomotif harus diputar. Seingat saya ada di Batu Tebal, Kayu Tanam, Padang Panjang, dan Koto Baru. Beberapa waktu yang lalu saya pernah meninjau ke Koto Baru. Di atas tempat pemutar lokomotif itu ternyata sudah dibuat rumah !
 
Saya selalu kagum melihat masinis bersama pembantunya memutar loko uap 40 ton itu dengan tangan saja.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/17/09, Indra Jaya Piliang <pi_l...@yahoo.com> wrote:

From: Indra Jaya Piliang <pi_l...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Pak Saaf - ada turntable kereta di Padangpanjang
To: "Rantau Mail" <Rant...@googlegroups.com>
Date: Saturday, January 17, 2009, 12:07 AM

Waktu SD dan SMP, saya banyak menghabiskan waktu membaca buku di toko2 buku di Padang Panjang, termasuk komik2. Habis uang buat minjam buku, kadang harus jln kaki ke Aie Angek.

Barangkali, sebuah perpustakaan perlu juga dibangun, spt Pustaka Bung Hatta di Bukik. Atau sudah ada? Mungkin Pustaka Rahmah El Yunusiah namanya, mengingat kegigihannya mencari dana sampai ke Turki utk Sumatera Thawalib.

Ijp
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network

From: "Riri Chaidir"
Date: Fri, 16 Jan 2009 23:07:07 +0700
To: Rantau Net<rant...@googlegroups.com>; WSTB<ws...@googlegroups.com>; MPKAS<mak...@yahoogroups.com>
Subject: [R@ntau-Net] Pak Saaf - ada turntable kereta di Padangpanjang
Pak Saaf,
 
Waktu saya baca lagi posting pak tentang obyek wisata potensial di Padangpanjang, saya ingat dulu di stasiun Padangpanjang, di sebelah Selatan, dekat jalan ke Kampuang Teleng ada suatu alat untuk memutar arah lokomotif.
 
Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia, tapi di internet saya ketemu istilah "turntable". Salah satu penjelasan berikut gambarnya ada di http://en.wikipedia.org/wiki/Turntable_(railroad)..

Maifil Eka Putra

unread,
Jan 16, 2009, 7:30:28 PM1/16/09
to rant...@googlegroups.com
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Dr.Saafroedin BAHAR"
<saaf10leo@...> wrote:
>
> Riri, bung Indra, alat pemutar kereta api tidak hanya ada di Padang
Panjang, tetapi ada di setiap lokasi dimana lokomotif harus diputar.
Seingat saya ada di Batu Tebal, Kayu Tanam, Padang Panjang, dan Koto
Baru. Beberapa waktu yang lalu saya pernah meninjau ke Koto Baru. Di
atas tempat pemutar lokomotif itu ternyata sudah dibuat rumah !
>  
> Saya selalu kagum melihat masinis bersama pembantunya memutar loko
uap 40 ton itu dengan tangan saja.


Pak Saaf Sabana kuek masinis di kampuang kito tu, layaknyo Spiderman
dari kayu tanam.

salam

maifil


> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta)
> Alternate e-mail address: saaf10leo@...;
> saafroedin.bahar@...
>
>
>
> --- On Sat, 1/17/09, Indra Jaya Piliang <pi_liang@...> wrote:
>
>
> From: Indra Jaya Piliang <pi_liang@...>
> Subject: [R@ntau-Net] Re: Pak Saaf - ada turntable kereta di
Padangpanjang
> To: "Rantau Mail" <Rant...@googlegroups.com>
> Date: Saturday, January 17, 2009, 12:07 AM
>
>
> Waktu SD dan SMP, saya banyak menghabiskan waktu membaca buku di
toko2 buku di Padang Panjang, termasuk komik2. Habis uang buat minjam
buku, kadang harus jln kaki ke Aie Angek.
>
> Barangkali, sebuah perpustakaan perlu juga dibangun, spt Pustaka
Bung Hatta di Bukik. Atau sudah ada? Mungkin Pustaka Rahmah El
Yunusiah namanya, mengingat kegigihannya mencari dana sampai ke Turki
utk Sumatera Thawalib.
>
> Ijp
> Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network
>
>
> From: "Riri Chaidir"
> Date: Fri, 16 Jan 2009 23:07:07 +0700
> To: Rantau Net<rant...@googlegroups.com>;
WSTB<ws...@googlegroups.com>; MPKAS<mak...@yahoogroups.com>
> Subject: [R@ntau-Net] Pak Saaf - ada turntable kereta di Padangpanjang
>
>
> Pak Saaf,
>  
> Waktu saya baca lagi posting pak tentang obyek wisata potensial di
Padangpanjang, saya ingat dulu di stasiun Padangpanjang, di sebelah
Selatan, dekat jalan ke Kampuang Teleng ada suatu alat untuk memutar
arah lokomotif.
>  
> Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia, tapi di internet
saya ketemu istilah "turntable". Salah satu penjelasan berikut
gambarnya ada di http://en.wikipedia.org/wiki/Turntable_(railroad).
>  

Riri Chaidir

unread,
Jan 16, 2009, 8:03:05 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Setuju sekali. Kalau ada perpustakaan lengkap di sana (dengan nama yang sanak Indra usulkan, tentunya lebih tepat ini dibangun di Dinniyah) akan "memperkuat" justififikasi bahwa Padangpanjang itu kota pendidikan.
 
BTW, kita2 para perantau Padangpanjang, Batipuah, dan X Koto bulan lalu, dalam suatu rapat, merencanakan untuk menyelenggarakan suatu seminar (atau workshop atau apalah namanya), yang tujuannya untuk mengetahui apa sih yang diinginkan orang padangpanjang mengenai pengembangan pendikan - mulai dari apa yang mereka pikir bagus, dan kemudian bagaiman cara mencapainya.
 
Nah, semua pembicaranya adalah orang2 yang berdomisili di Padangpanjang, baik itu praktisi pendidikan, birokrat, senior citizen dst. Kami perantau hanya memfasilitasi terlaksananya seminar itu, dan kemudian, membantu menjembatani pencapaian tujuannya. Kami sepakat tidak akan menjadi pembicara, apalagi pengarah, karena - pengalaman selama ini - sering2 para perantau ini "terlalu ahli", sehingga berbicara tanpa melihat circumstance yang bener2 ada di sana.
 
Tadinya rencananya sekitar April - Mei
 
Makasih, sanak Indra
 
 
Riri
Bekasi, L 46
 
 
 
 


 
2009/1/17 Indra Jaya Piliang <pi_l...@yahoo.com>

Riri Chaidir

unread,
Jan 16, 2009, 8:15:21 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Pak Saaf dan Sanak Maifil,
 
Iya ya, baru ingat saya, logikanya memang di ketiga tempat lain yang pak Saaf itu juga harus ada "turntable" itu, karena prinsipnya untuk tanjakan tinggi itu Lokomotig Uap harus berada di ujung yang lebih rendah, dan "menghadap: ke rangkaiannya. Jadi misalnya kalau dair Padangpanjang sampai Kayutanam yang menurun tajam, fungsi Mak ITam itu lebih banyak "menahan" rangkaian, jadi dia harus berada di ujung depan, tapi berjalan "mundur" untuk menahan "anak2nya" Sampai di kayu tanam, mak Itam harus dibalik, tidak lagi berjalan mundur supaya "larinya lebih cepat".
 
Kalau yang di Kotobaru itu sudah jadi rumah, mudah2an yang di Padangpanjang masih ada dan bisa dioperasikan. Saya lihat di berbagai sites di internet, turn table ini dijadikan obyek wisata, apalagi yang manual itu, yang - kata sanak Maifil - dijalankan oleh superman, he he
 
Riri
Bekasi, L 46

2009/1/17 Maifil Eka Putra <mai...@gmail.com>

Nofiardi

unread,
Jan 16, 2009, 9:58:20 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com

Minangkabau, dan Masalah Kedirian Yang Menahun

 

Minggu, 11 Januari 2009

TIPIKAL kebanyakan orang Minang dewasa ini cenderung stagnan dan, mengalami degradasi. Hal-hal yang di tahun 1930-an dikritik Hamka, seperti mengagung-agungkan kebesaran zaman baheula serta mengelu-elukan orang kaya lagi terkenal, tetap berlanjut.

 

Di tengah santernya masyarakat dunia mengupayakan kesejahteraan dan kemajuan kita berkutat merawikan kehebatan serta kemuliaan Iskandar Zulkarnain (leluhur etnik Minang menurut Tambo). Dan dalam setiap kesempatan kita pun selalu menyebut kiprah dan keteladanan KH Agus Salim, Tan Malaka, Rohana Koedoes, Hatta, Sjahrir atau tokoh masa lampau lainnya.

 

Kecuali itu, saat berbagai negara ngotot memformulasikan wujud persamaan dan demokrasi yang ideal kita meninggalkannya, memasuki lingkaran sistem feodalistik dengan cara, misalnya, habis-habisan menelusuri asal-usul orang. Kemudian berbesar hatilah kita karena Taufik Kiemas pernah jadi First Gentleman Republik Indonesia, sementara Wapres Jusuf Kalla adalah orang semenda awak pula.

 

Apalagi —berdasarkan sejarah ekstra panjang ekspedisi Pamalayu kedua tahun 1292— nenek moyang Sri Sultan Hamengkubuwono X, Dara Petak, bersaudara dengan Dara Jingga, ibunda raja Minangkabau Adityawarman alias Aji Montrolot.

 

Ironi

 

Sejumlah intelektual (asal) Minang masa kini, seperti Sjafri Sairin, Saafroedin Bahar, Edi Utama atau Darman Moenir, dalam berbagai forum diskusi/seminar maupun melalui media massa, juga sering melancarkan (oto)kritik. Mereka mengisyaratkan bahwa urang awak (baca: orang Minang) sedang mengalami krisis kedirian dan kebangkrutan (ke)budaya(an).

 

Tak pelak, dengan beragam elah kita memang proaktif mengembangbiakkan sikap mental “asal yang di atas senang”. Dengan aneka motivasi kita mengobral gelar-pusaka-adat “Datuk” ke seantero jagat. Dengan semangat epigonisme kita berpartisipasi aktif mempopulerkan istilah dan atau tradisi asing. Dengan tujuan-tujuan tertentu banyak di antara kita yang mengekor kepada sesuatu yang dianggap “wah”, dan latah mengagumi sekaligus membeli sekian macam titel akademik.

 

Lebih dari itu, tidak sedikit pemangku adat dan pemuka agama teperdaya (atau diberdayakan?) untuk memihak, sehingga terkadang, tak segan-segan mendukung sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Wakil rakyat apalagi para pejabat yang secara kasat mata begitu khusyuk beribadah di muka umum, sesampai di kantor… maling sembari beretorika ria.

 

Implikasinya, setelah berbusa memprihatinkan mutu pendidikan, mekanisme rekrutmen tenaga edukatif maupun kepala sekolah dipermainkan. Sehabis memuji dan berkata wajib menghormati guru, (rapel) gaji dan honor serta insentif para “pahlawan tanpa tanda jasa” itu dipenggal, kenaikan pangkatnya dipersulit.

 

Selagi beroptimis-optimis dengan program pariwisata dan upaya meningkatkan pendapatan daerah, dalam birahi malu-malu tapi mau mengutuk pangkal susu cewek bule yang menyembul dari balik blus atau kutangnya yang (di)longgar(kan). Terkait ini, dikernyit-kernyitkanlah kening untuk membuat Perda Antimaksiat yang, sejatinya sudah sejak lama terdapat di lingkungan masyarakat adat-beragama (di) ranah Minang. Tidak lupa, diteriakkan juga tema besar “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, yang ditengarai menjadi acuan hidup lahir batin orang Minang, sekalipun belum pernah ditafsirkan atau dijabarkan secara konkret dan cerdas oleh pemikir maupun cendekiawan yang berkompeten. 

 

Dan sekadar berwacana, dirancang sekaligus didengung-dengungkan pula proyek mercu impian “kembali ke nagari” dan “kembali ke surau”. Sejenak orang-orang boleh bernostalgia, mengenang spontanitas akar rumput dalam melaksanakan dan menyambut, sebutlah alek nagari. Tidak ada mobilisasi dan politisasi, tidak dimanipulasi dan, mungkin juga tidak dikorupsi oleh para penguasa.

 

Selintas orang-orang pun bisa berfantasi tentang sebuah surau yang sinkron dengan kekinian: dilengkapi fasilitas modern seperti perpustakaan, sarana dan prasarana olah raga, peralatan musik, televisi, komputer serta P(lay)-(S)tation yang game-gamenya bernuansa Islam(i), sehingga anak-anak maupun remaja betah.

 

Dalam pada itu, Ahmad Syafii Maarif ternyata berhasil menyabet Magsaysay Award 2008. Betapa berbunganya perasaan kita. Dan, bak padi masak jaguang maupiah, perjuangan panjang kita juga tidak sia-sia. Salah seorang putra terbaik kita, Moh Natsir, berdasarkan SK Presiden Nomor 041/TK/TH/2008 tanggal 6 November 2008 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adiprana. Selain itu, tanggal 19 Desember —hari pencanangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi tahun 1948— dikukuhkan sebagai Hari Bela Negara.

 

Upacara selamatan serta pidato sambutan Presiden SBY menyangkut momen-momen penting tersebut di atas berulang kali ditayangkan stasiun televisi-stasiun televisi yang ada di Sumbar. Terdengar bisik, sumbang, wajar kalau urang awak larut sejenak dalam euphoria

 

Kesejatian Minangkabau  

 

Orang Minang dikenal luas sebagai etnik yang menjunjung tinggi paham egalitarian. Hal mana terpatri dalam pepatah adat duduak samo randah, tagak samo tinggi. Konon di sinilah kelebihan orang Minang, sebagaimana dibuktikan, umpamanya, oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang konsisten, yang tidak mau melalukan saikere, sekalipun di muka para petinggi militer(isme) Jepang.

 

Namun kelebihan atau kekuatan orang Minang itu tak bakalan mangkus jika tidak ditunjang oleh sifatnya yang terbuka menghadapi/menerima realitas dan perubahan. Pertanyaannya, realitas dan perubahan yang bagaimana? Pandangan mungkin bisa ditukikkan ke falsafah adat raso dibaok naiak, pareso dibaok turun. Artinya adalah, yang dihadapi/diterima ditilik dengan mata-hati dan dicerna dengan nalar, sebaliknya, yang diperbuat perlu dipikir direnungkan dan disaring dengan nurani. 

 

Esensi pepatah dan falsafah adat dimaksud menyiratkan fatwa bahwa orang Minang, seharusnya, memang tak mudah terjerembab atau tenggelam dalam ironi, pendewaan maupun emosi yang berlebihan.

 

Karenanya, kembali kepada rasionalitas serta kebijakbestarian Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, dua filsuf penggagas dasar-dasar keminangkabauan, tepat sekali kiranya bilamana kita berupaya merevitalisasi alias memfungsikan kembali unsur-unsur tungku tigo sajarangan: para pemangku adat, alim-ulama dan cerdik-pandai, yang secara substansial berperan mutlak lagi sangat menentukan dalam rangka membangun nagari (baca: bangsa dan negara) serta memecahkan masalah-masalah sosial-kemasyarakatan di ranah tercinta ini.*)                                                                                                                                                                               

                                                                                                                                                                                                                                  Nelson Alwi, pemerhati budaya, tinggal di Padang

 

http://www.padangekspres.co.id/content/view/27778/131/

 

The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 10:39:20 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Sanak Nofiardi dan para sanak sa palanta,

Terima kasih Sanak telah mem-forward artikel Sanak Nelson Alwi di bawah ini, yang saya setujui sepenuhnya.

Tantangan yang kita hadapi dewasa ini adalah bagaimana caranya me-dekonstruksi dan me-rekonstruksi  kehidupan kita sebagai suatu suku bangsa, sehingga kita bisa menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang yang terbuka pada masa kini dengan sikap percaya diri, dan mengurangi sikap saling menjatuhkan seperti yang lazim terjadi selama ini.

Secara pribadi saya berpendapat bahwa hal itu perlu dilakukan pada dua tataran, yaitu tataran nilai, serta tataran kelembagaan untuk melaksanakan nilai itu.

Tataran nilai sudah mulai kita tangani secara lebih konsepsional, dengan membentuk sebuah Tim Perumus ABS SBK, yang sudah mulai mengadakan sosialisasi untuk menampung masukan.

Tataran kelembagaan rasanya baru mulai disentuh, dengan mengadakan penelitian latar belakang sejarah, khususnya tentang sejarah nagari dan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada d  Minangkabau ini, tentu juga dengan membahas keterkaitannya dengan NKRI yang ikut kita dirikan bersama..



Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
--- On Sat, 1/17/09, Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> wrote:

From: Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com>
Subject: [R@ntau-Net] Minangkabau, dan Masalah Kedirian Yang Menahun
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Saturday, January 17, 2009, 9:58 AM

Minangkabau, dan Masalah Kedirian Yang Menahun

 

Minggu, 11 Januari 2009

TIPIKAL kebanyakan orang Minang dewasa ini cenderung stagnan dan, mengalami degradasi. Hal-hal yang di tahun 1930-an dikritik Hamka, seperti mengagung-agungkan kebesaran zaman baheula serta mengelu-elukan orang kaya lagi terkenal, tetap berlanjut.

 

Di tengah santernya masyarakat dunia mengupayakan kesejahteraan dan kemajuan kita berkutat merawikan kehebatan serta kemuliaan Iskandar Zulkarnain (leluhur etnik Minang menurut Tambo). Dan dalam setiap kesempatan kita pun selalu menyebut kiprah dan keteladanan KH Agus Salim, Tan Malaka, Rohana Koedoes, Hatta, Sjahrir atau tokoh masa lampau lainnya.

 

Kecuali itu, saat berbagai negara ngotot memformulasikan wujud persamaan dan demokrasi yang ideal kita meninggalkannya, memasuki lingkaran sistem feodalistik dengan cara, misalnya, habis-habisan menelusuri asal-usul orang. Kemudian berbesar hatilah kita karena Taufik Kiemas pernah jadi First Gentleman Republik Indonesia, sementara Wapres Jusuf Kalla adalah orang semenda awak pula.

 

Apalagi —berdasarkan sejarah ekstra panjang ekspedisi Pamalayu kedua tahun 1292— nenek moyang Sri Sultan Hamengkubuwono X, Dara Petak, bersaudara dengan Dara Jingga, ibunda raja Minangkabau Adityawarman alias Aji Montrolot.

 

Ironi

 

Sejumlah intelektual (asal) Minang masa kini, seperti Sjafri Sairin, Saafroedin Bahar, Edi Utama atau Darman Moenir, dalam berbagai forum diskusi/seminar maupun melalui media massa, juga sering melancarkan (oto)kritik. Mereka mengisyaratkan bahwa urang awak (baca: orang Minang) sedang mengalami krisis kedirian dan kebangkrutan (ke)budaya(an).

 

Tak pelak, dengan beragam elah kita memang proaktif mengembangbiakkan sikap mental “asal yang di atas senang”. Dengan aneka motivasi kita mengobral gelar-pusaka-adat “Datuk” ke seantero jagat. Dengan semangat epigonisme kita berpartisipasi aktif mempopulerkan istilah dan atau tradisi asing. Dengan tujuan-tujuan tertentu banyak di antara kita yang mengekor kepada sesuatu yang dianggap “wah”, dan latah mengagumi sekaligus membeli sekian macam titel akademik.

 

Lebih dari itu, tidak sedikit pemangku adat dan pemuka agama teperdaya (atau diberdayakan?) untuk memihak, sehingga terkadang, tak segan-segan mendukung sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Wakil rakyat apalagi para pejabat yang secara kasat mata begitu khusyuk beribadah di muka umum, sesampai di kantor… maling sembari beretorika ria.

 

Implikasinya, setelah berbusa memprihatinkan mutu pendidikan, mekanisme rekrutmen tenaga edukatif maupun kepala sekolah dipermainkan. Sehabis memuji dan berkata wajib menghormati guru, (rapel) gaji dan honor serta insentif para “pahlawan tanpa tanda jasa” itu dipenggal, kenaikan pangkatnya dipersulit.

 

Selagi beroptimis-optimis dengan program pariwisata dan upaya meningkatkan pendapatan daerah, dalam birahi malu-malu tapi mau mengutuk pangkal susu cewek bule yang menyembul dari balik blus atau kutangnya yang (di)longgar( kan ). Terkait ini, dikernyit-kernyitkanlah kening untuk membuat Perda Antimaksiat yang, sejatinya sudah sejak lama terdapat di lingkungan masyarakat adat-beragama (di) ranah Minang. Tidak lupa, diteriakkan juga tema besar “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, yang ditengarai menjadi acuan hidup lahir batin orang Minang, sekalipun belum pernah ditafsirkan atau dijabarkan secara konkret dan cerdas oleh pemikir maupun cendekiawan yang berkompeten. 

 

Dan sekadar berwacana, dirancang sekaligus didengung-dengungkan pula proyek mercu impian “kembali ke nagari” dan “kembali ke surau”. Sejenak orang-orang boleh bernostalgia, mengenang spontanitas akar rumput dalam melaksanakan dan menyambut, sebutlah alek nagari. Tidak ada mobilisasi dan politisasi, tidak dimanipulasi dan, mungkin juga tidak dikorupsi oleh para penguasa.

 

Selintas orang-orang pun bisa berfantasi tentang sebuah surau yang sinkron dengan kekinian: dilengkapi fasilitas modern seperti perpustakaan, sarana dan prasarana olah raga, peralatan musik, televisi, komputer serta P(lay)-(S)tation yang game-gamenya bernuansa Islam(i), sehingga anak-anak maupun remaja betah.

 

Dalam pada itu, Ahmad Syafii Maarif ternyata berhasil menyabet Magsaysay Award 2008. Betapa berbunganya perasaan kita. Dan, bak padi masak jaguang maupiah, perjuangan panjang kita juga tidak sia-sia. Salah seorang putra terbaik kita, Moh Natsir, berdasarkan SK Presiden Nomor 041/TK/TH/2008 tanggal 6 November 2008 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adiprana. Selain itu, tanggal 19 Desember —hari pencanangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi tahun 1948— dikukuhkan sebagai Hari Bela Negara.

 

Upacara selamatan serta pidato sambutan Presiden SBY menyangkut momen-momen penting tersebut di atas berulang kali ditayangkan stasiun televisi-stasiun televisi yang ada di Sumbar. Terdengar bisik, sumbang, wajar kalau urang awak larut sejenak dalam euphoria

 

Kesejatian Minangkabau  

 

Orang Minang dikenal luas sebagai etnik yang menjunjung tinggi paham egalitarian. Hal mana terpatri dalam pepatah adat duduak samo randah, tagak samo tinggi. Konon di sinilah kelebihan orang Minang, sebagaimana dibuktikan, umpamanya, oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang konsisten, yang tidak mau melalukan saikere, sekalipun di muka para petinggi militer(isme) Jepang.

 

Namun kelebihan atau kekuatan orang Minang itu tak bakalan mangkus jika tidak ditunjang oleh sifatnya yang terbuka menghadapi/menerima realitas dan perubahan. Pertanyaannya, realitas dan perubahan yang bagaimana? Pandangan mungkin bisa ditukikkan ke falsafah adat raso dibaok naiak, pareso dibaok turun. Artinya adalah, yang dihadapi/diterima ditilik dengan mata-hati dan dicerna dengan nalar, sebaliknya, yang diperbuat perlu dipikir direnungkan dan disaring dengan nurani. 

 

Esensi pepatah dan falsafah adat dimaksud menyiratkan fatwa bahwa orang Minang, seharusnya, memang tak mudah terjerembab atau tenggelam dalam ironi, pendewaan maupun emosi yang berlebihan.

 

Karenanya, kembali kepada rasionalitas serta kebijakbestarian Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, dua filsuf penggagas dasar-dasar keminangkabauan, tepat sekali kiranya bilamana kita berupaya merevitalisasi alias memfungsikan kembali unsur-unsur tungku tigo sajarangan: para pemangku adat, alim-ulama dan cerdik-pandai, yang secara substansial berperan mutlak lagi sangat menentukan dalam rangka membangun nagari (baca: bangsa dan negara) serta memecahkan masalah-masalah sosial-kemasyarakatan di ranah tercinta ini.*)                                                                                                                                                                                

                                                                                                                                                               &nbs p;                                                                  Nelson Alwi, pemerhati budaya, tinggal di Padang

 


Zulkarnain Kahar

unread,
Jan 17, 2009, 12:07:57 PM1/17/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum. w.w
Menurut saya artikel seperti inilah yang membuat kita menjadi lemah dan terus menerus dipojokkan.

Cobalah ada berapa banyak dari kita yang pernah diberitahu oleh orang tua kita, Pekerjaan atau kesuksesan itu adanya ditempat lain bukan dibelakang rumah kita atau dikota tempat kita lahir tapi nun jauh disana mungkin diseberang lautan atau dibalik bumi. Ini sudah sejak saisuak ditanamkan nenek moyang kita bahkan agama yang kita anutpun mengajarkan kata hidjrah untuk mencapai keberhasilan dan keluar dari termenung panjang.

Jauh sebelum dunia berteriak Globalisasi. Mak ngah, Ajo Duta dan Sanak RN lainya sudah menglobalkan diri. Dan ada ribuan orang lainya tak terpengaruh akan keberhasilan Hatta dan kawannya yang lahir dari keluarga berada.

Segelintir orang dengan fikiran dangkal dan kalau boleh dikatakan oportunis lewat berbagai media secara terus menerus meramu cerita gagal. Kita bukan bangsa yang gagal hanya saja orang lebih cepat belajar dari kita. Tak ada short cut untuk kini selain merobah cara pandang dengan mulai berfikir menempatkan orang muda dengan wawasan abad 21 baik dipemrintahan maupun di dewan rakyat.

Marilah bersama kita melawan musuh bersama kita yang bernama ketertinggalan"

Wassalam
Zulkarnain Kahar, 50th+, Houston Texas



Masoed Abidin

unread,
Jan 17, 2009, 11:32:00 PM1/17/09
to Rant...@googlegroups.com

Ta'aruf dan Egaliter

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Sesunguhnya hidup bermasyarakat di manapun di dunia ini keutuhannya akan  terjamin serta kebahagiaan akan tercipta manakala individu sebagai anggota masyarakat atau sebagai rakyat dan warga negara benar-benar mengakui dan sama-sama berusaha menghormati dan menegakkan supremasi hukum,  yang di ikat selalu dengan terpeliharanya hubungan vertical dengan Allah (hablum minallah) dan kuatnya hubungan horizontal dengan saling kenal mengenal (ta’aruf) sesama manusia (hablum minan-nas).

Terjalinnya hubungan yang baik, sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan menjamin keamanan di tengah hidup bermasyarakat. Firman Allah telah menyerukan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal satu sama lainnya. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ” (QS.49, al Hujurat, ayat 13).

Keberhasilan masyarakat Minangkabau dalam menata hubungan kekeluargaan selama ini sangat ditunjang oleh penerapan nilai-nilai yang kita warisi dan tampak jelas dalam hubungan kekerabatan duduk sama rendah dan tegak sama tinggi. Nilai-nilai adat yang bersendikan syara’ senantiasa mengutamakan pendekatan manusiawi dengan selalu memandang manusia menurut fithrah kesuciannya baik secara individu maupun kelompok masyarakat, yang disadari sesungguhnya memiliki segala kelebihan dan kekurangannnya, di antaranya dengan mengakui martabat (‘izzah) dan menghormati harga diri masing-masing. Hal ini dimungkinkan karena sejak awal telah tertanam pendidikan dengan aqidah agama dan ajaran tauhid yang berbuah pada akhlak sebagai intisari dari kandungan Kitabullah. Karena itu mereka tidak takut dengan berjibun perubahan yang terjadi di tengah perputaran globalisasi sekalipun, karena ada benteng kokoh di dalam hati.

Semua nilai-nilai itu selalu terpelihara baik, selama prinsip saling menghargai satu sama lain, dan saling menghormati di tengah perbedaan-perbedaan pendapat yang berkembang harus selalu dipelihara bahkan ditingkatkan dalam hubungan kesaudaraan yang bersih dan ikhlas.

Kata basilang kayu dalam tungku di sinan api mangko nyo hiduik telah menjadi kelikat kehidupan dengan kemampuan tinggi bisa mengamalkannya di dalam katan ibadah sebagai mata rantai   penyerahan diri kepada Allah dalam arti tawakkal secara benar.

Sangatlah susah memungkiri bahwa sebenarnya nilai budaya Adat basandi syara’ dan syara’ basandi Kitabullah di Minangkabau sejak lama tmampu menjadi  alas dasar utama kehidupan berdemokrasi yang tumbuh dengan subur dan berkembang di tengah masyarakat ranah bundo di Sumatera Barat.

Kedudukan pemimpin di tengah masyarakatnya hanyalah karena di dahulukan selangkah dan di tinggikan seranting. Ikatan itu bertambah kokoh dengan ikatan saling tolong menolong dan bantu membantu, baik dengan moril dan buah pikiran atau usul-usul yang berfaedah.

Sebagai pemimpin yang di dahulukan selangkah itu amat wajar bila dituntut harus memperbanyak lawan ba iyo dan bermusyawarah serta melipat gandakan teman berunding. Kalau tidak demikian akan terasa sempitlah dunia ini, karena kemungkinan sekali akan dipenuhi oleh sikap saling dengki mendengki, halang menghalangi penuh curiga, apalagi bila telah berkembang menjadi saling memfitnah, yang akan berakibat kebinasaan dan kehancuran bersama pula.

Kita sama-sama meyakini bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahman akan selalu melindungi dan membukakan pintu berkah-Nya dari langit dan dari bumi selama masyarakat dan lembaga-lembaga pemerintahan di ranah bundo senantiasa teguh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta kejujuran dalam rangka menunaikan amanat Allah dan menjalankan kepercayaan dari rakyat banyak.

Inilah inti kekuatan ruhani urang awak setiap masa bergelut dalam perubahan dan reformasi bahkan globalisasi karena yang dituju adalah membangun  diri dan nagari di Sumatera Barat, termasuk di abad ini.***

 

Padang, Januari 2009




Yogi Sikumbang

unread,
Jan 18, 2009, 10:10:32 AM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
ass
Angku Riri, di Koto Baru pun ado lo tampek mamuta kapalo
KA tu, ambo wakatu ketek-ketek acok sato mamutanyo, makatu
itu ambo tingga diateh pasa koto baru tu, malam acok pulo
urang di satiun tu mamainkan saluang sampai tangah malam (
takah nyo ado karamaian... ).
kalo di Padang Panjang takahnyo rel kereta api tu lah ndak
ado lai doh , alah batuka jo ruko, pas di muliuk jalan
dakek jalan di muko gedung kesenian tu ado pintu neng-nong
ambo acok jo rang gaek ambo disinan makan pecel, kabatulan
nan manjago pintu tu urang jawa...... ha...ha..., dari
pintu neng-nong tu sampai kantua pulisi, dulu tu parak nan
banyak pohon jeruknyo....
sambuanglah taruh ngku.....
wass....


Yogi Agam Sikumbang
Kota dingin Malang
============================================================================================================================
"Flexi - Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta."

"Speedy - Gratis internetan unlimited dari pkl. 20.00 s/d 08.00 se-Jabodetabek, Banten, Karawang dan Purwakarta."
============================================================================================================================
“Nikmati akses TelkomNet Instan Week End Net hanya Rp 1.000/jam. Berlaku untuk Sabtu-Minggu, khusus Jawa Tengah dan DIY s/d

31 Desember 2008”.
============================================================================================================================
"Kini telah hadir Protector, layanan keamanan online yang dapat digunakan langsung saat menjelajahi internet kapan saja dan

di mana saja. Dapatkan secara GRATIS layanan Protector hingga 31 Desember 2008. Klik ke: http://protector.telkomspeedy.com".

============================================================================================================================

Ikuti Speedy Blogging Competition 2008, ajang kompetisi Blog yang terbuka bagi semua Blogger dengan tema: Seperti Apa Konten Hebat Menurutmu? Dapatkan hadiah utama 1 Buah Notebook Mininote. Informasi lebih lanjut kunjungi http://lomba.blog.telkomspeedy.com

Zulkifli Taher

unread,
Jan 31, 2009, 12:08:53 PM1/31/09
to Rant...@googlegroups.com
Wa'alaikumsalam W. W.

Uda Zul Kahar, dulu ambo caliak Uda karajo di Afrika Selatan dan kini
lah di Amerika pulo. Baa caritonyo tu? Caritoan pulo lah saketek kalau
lai ado wakatu.

Ambo salalu mambaco posting dari Uda dan banyak bana nan boneh paliang
tidak mambangkik samangaik. Kito mungkin samo samo alumni Aceh Utara,
Uda pernah di Lhoksukon dan ambo di Lhokseumawe.

Wassalam,

Zulkifli Taher
Berharap selalu bersyukur


2009/1/18 Zulkarnain Kahar <kahar_zu...@yahoo.com>:


>
> Assalamualaikum. w.w
> Menurut saya artikel seperti inilah yang membuat kita menjadi lemah dan terus menerus dipojokkan.
>

--

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages