Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network
Riri, bung Indra, alat pemutar kereta api tidak hanya ada di Padang Panjang, tetapi ada di setiap lokasi dimana lokomotif harus diputar. Seingat saya ada di Batu Tebal, Kayu Tanam, Padang Panjang, dan Koto Baru. Beberapa waktu yang lalu saya pernah meninjau ke Koto Baru. Di atas tempat pemutar lokomotif itu ternyata sudah dibuat rumah !
Saya selalu kagum melihat masinis bersama pembantunya memutar loko uap 40 ton itu dengan tangan saja.
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;
--- On Sat, 1/17/09, Indra Jaya Piliang <pi_l...@yahoo.com> wrote: |
|
|
|
|
|
Minangkabau, dan Masalah Kedirian Yang Menahun |
|
|
Minggu, 11 Januari 2009 |
|
|
TIPIKAL kebanyakan orang Minang dewasa ini cenderung stagnan dan, mengalami degradasi. Hal-hal yang di tahun 1930-an dikritik Hamka, seperti mengagung-agungkan kebesaran zaman baheula serta mengelu-elukan orang kaya lagi terkenal, tetap berlanjut. |
|
|
|
|
|
Di tengah santernya masyarakat dunia mengupayakan kesejahteraan dan kemajuan kita berkutat merawikan kehebatan serta kemuliaan Iskandar Zulkarnain (leluhur etnik Minang menurut Tambo). Dan dalam setiap kesempatan kita pun selalu menyebut kiprah dan keteladanan KH Agus Salim, Tan Malaka, Rohana Koedoes, Hatta, Sjahrir atau tokoh masa lampau lainnya. |
|
|
|
|
|
Kecuali itu, saat berbagai negara ngotot memformulasikan wujud persamaan dan demokrasi yang ideal kita meninggalkannya, memasuki lingkaran sistem feodalistik dengan cara, misalnya, habis-habisan menelusuri asal-usul orang. Kemudian berbesar hatilah kita karena Taufik Kiemas pernah jadi First Gentleman Republik Indonesia, sementara Wapres Jusuf Kalla adalah orang semenda awak pula. |
|
|
|
|
|
Apalagi —berdasarkan sejarah ekstra panjang ekspedisi Pamalayu kedua tahun 1292— nenek moyang Sri Sultan Hamengkubuwono X, Dara Petak, bersaudara dengan Dara Jingga, ibunda raja Minangkabau Adityawarman alias Aji Montrolot. |
|
|
|
|
|
Ironi |
|
|
|
|
|
Sejumlah intelektual (asal) Minang masa kini, seperti Sjafri Sairin, Saafroedin Bahar, Edi Utama atau Darman Moenir, dalam berbagai forum diskusi/seminar maupun melalui media massa, juga sering melancarkan (oto)kritik. Mereka mengisyaratkan bahwa urang awak (baca: orang Minang) sedang mengalami krisis kedirian dan kebangkrutan (ke)budaya(an). |
|
|
|
|
|
Tak pelak, dengan beragam elah kita memang proaktif mengembangbiakkan sikap mental “asal yang di atas senang”. Dengan aneka motivasi kita mengobral gelar-pusaka-adat “Datuk” ke seantero jagat. Dengan semangat epigonisme kita berpartisipasi aktif mempopulerkan istilah dan atau tradisi asing. Dengan tujuan-tujuan tertentu banyak di antara kita yang mengekor kepada sesuatu yang dianggap “wah”, dan latah mengagumi sekaligus membeli sekian macam titel akademik. |
|
|
|
|
|
Lebih dari itu, tidak sedikit pemangku adat dan pemuka agama teperdaya (atau diberdayakan?) untuk memihak, sehingga terkadang, tak segan-segan mendukung sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Wakil rakyat apalagi para pejabat yang secara kasat mata begitu khusyuk beribadah di muka umum, sesampai di kantor… maling sembari beretorika ria. |
|
|
|
|
|
Implikasinya, setelah berbusa memprihatinkan mutu pendidikan, mekanisme rekrutmen tenaga edukatif maupun kepala sekolah dipermainkan. Sehabis memuji dan berkata wajib menghormati guru, (rapel) gaji dan honor serta insentif para “pahlawan tanpa tanda jasa” itu dipenggal, kenaikan pangkatnya dipersulit. |
|
|
|
|
|
Selagi beroptimis-optimis dengan program pariwisata dan upaya meningkatkan pendapatan daerah, dalam birahi malu-malu tapi mau mengutuk pangkal susu cewek bule yang menyembul dari balik blus atau kutangnya yang (di)longgar(kan). Terkait ini, dikernyit-kernyitkanlah kening untuk membuat Perda Antimaksiat yang, sejatinya sudah sejak lama terdapat di lingkungan masyarakat adat-beragama (di) ranah Minang. Tidak lupa, diteriakkan juga tema besar “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, yang ditengarai menjadi acuan hidup lahir batin orang Minang, sekalipun belum pernah ditafsirkan atau dijabarkan secara konkret dan cerdas oleh pemikir maupun cendekiawan yang berkompeten. |
|
|
|
|
|
Dan sekadar berwacana, dirancang sekaligus didengung-dengungkan pula proyek mercu impian “kembali ke nagari” dan “kembali ke surau”. Sejenak orang-orang boleh bernostalgia, mengenang spontanitas akar rumput dalam melaksanakan dan menyambut, sebutlah alek nagari. Tidak ada mobilisasi dan politisasi, tidak dimanipulasi dan, mungkin juga tidak dikorupsi oleh para penguasa. |
|
|
|
|
|
Selintas orang-orang pun bisa berfantasi tentang sebuah surau yang sinkron dengan kekinian: dilengkapi fasilitas modern seperti perpustakaan, sarana dan prasarana olah raga, peralatan musik, televisi, komputer serta P(lay)-(S)tation yang game-gamenya bernuansa Islam(i), sehingga anak-anak maupun remaja betah. |
|
|
|
|
|
Dalam pada itu, Ahmad Syafii Maarif ternyata berhasil menyabet Magsaysay Award 2008. Betapa berbunganya perasaan kita. Dan, bak padi masak jaguang maupiah, perjuangan panjang kita juga tidak sia-sia. Salah seorang putra terbaik kita, Moh Natsir, berdasarkan SK Presiden Nomor 041/TK/TH/2008 tanggal 6 November 2008 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adiprana. Selain itu, tanggal 19 Desember —hari pencanangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi tahun 1948— dikukuhkan sebagai Hari Bela Negara. |
|
|
|
|
|
Upacara selamatan serta pidato sambutan Presiden SBY menyangkut momen-momen penting tersebut di atas berulang kali ditayangkan stasiun televisi-stasiun televisi yang ada di Sumbar. Terdengar bisik, sumbang, wajar kalau urang awak larut sejenak dalam euphoria |
|
|
|
|
|
Kesejatian Minangkabau |
|
|
|
|
|
Orang Minang dikenal luas sebagai etnik yang menjunjung tinggi paham egalitarian. Hal mana terpatri dalam pepatah adat duduak samo randah, tagak samo tinggi. Konon di sinilah kelebihan orang Minang, sebagaimana dibuktikan, umpamanya, oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang konsisten, yang tidak mau melalukan saikere, sekalipun di muka para petinggi militer(isme) Jepang. |
|
|
|
|
|
Namun kelebihan atau kekuatan orang Minang itu tak bakalan mangkus jika tidak ditunjang oleh sifatnya yang terbuka menghadapi/menerima realitas dan perubahan. Pertanyaannya, realitas dan perubahan yang bagaimana? Pandangan mungkin bisa ditukikkan ke falsafah adat raso dibaok naiak, pareso dibaok turun. Artinya adalah, yang dihadapi/diterima ditilik dengan mata-hati dan dicerna dengan nalar, sebaliknya, yang diperbuat perlu dipikir direnungkan dan disaring dengan nurani. |
|
|
|
|
|
Esensi pepatah dan falsafah adat dimaksud menyiratkan fatwa bahwa orang Minang, seharusnya, memang tak mudah terjerembab atau tenggelam dalam ironi, pendewaan maupun emosi yang berlebihan. |
|
|
|
|
|
Karenanya, kembali kepada rasionalitas serta kebijakbestarian Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, dua filsuf penggagas dasar-dasar keminangkabauan, tepat sekali kiranya bilamana kita berupaya merevitalisasi alias memfungsikan kembali unsur-unsur tungku tigo sajarangan: para pemangku adat, alim-ulama dan cerdik-pandai, yang secara substansial berperan mutlak lagi sangat menentukan dalam rangka membangun nagari (baca: bangsa dan negara) serta memecahkan masalah-masalah sosial-kemasyarakatan di ranah tercinta ini.*) Nelson Alwi, pemerhati budaya, tinggal di Padang |
|
http://www.padangekspres.co.id/content/view/27778/131/
| Assalamualaikum w.w. Sanak Nofiardi dan para sanak sa palanta, Terima kasih Sanak telah mem-forward artikel Sanak Nelson Alwi di bawah ini, yang saya setujui sepenuhnya. Tantangan yang kita hadapi dewasa ini adalah bagaimana caranya me-dekonstruksi dan me-rekonstruksi kehidupan kita sebagai suatu suku bangsa, sehingga kita bisa menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang yang terbuka pada masa kini dengan sikap percaya diri, dan mengurangi sikap saling menjatuhkan seperti yang lazim terjadi selama ini. Secara pribadi saya berpendapat bahwa hal itu perlu dilakukan pada dua tataran, yaitu tataran nilai, serta tataran kelembagaan untuk melaksanakan nilai itu. Tataran nilai sudah mulai kita tangani secara lebih konsepsional, dengan membentuk sebuah Tim Perumus ABS SBK, yang sudah mulai mengadakan sosialisasi untuk menampung masukan. Tataran kelembagaan rasanya baru mulai disentuh, dengan mengadakan penelitian latar belakang sejarah, khususnya tentang sejarah nagari dan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada d Minangkabau ini, tentu juga dengan membahas keterkaitannya dengan NKRI yang ikut kita dirikan bersama.. |
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) |
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com; |
| --- On Sat, 1/17/09, Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> wrote: |
|
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||
| ||
Cobalah ada berapa banyak dari kita yang pernah diberitahu oleh orang tua kita, Pekerjaan atau kesuksesan itu adanya ditempat lain bukan dibelakang rumah kita atau dikota tempat kita lahir tapi nun jauh disana mungkin diseberang lautan atau dibalik bumi. Ini sudah sejak saisuak ditanamkan nenek moyang kita bahkan agama yang kita anutpun mengajarkan kata hidjrah untuk mencapai keberhasilan dan keluar dari termenung panjang.
Jauh sebelum dunia berteriak Globalisasi. Mak ngah, Ajo Duta dan Sanak RN lainya sudah menglobalkan diri. Dan ada ribuan orang lainya tak terpengaruh akan keberhasilan Hatta dan kawannya yang lahir dari keluarga berada.
Segelintir orang dengan fikiran dangkal dan kalau boleh dikatakan oportunis lewat berbagai media secara terus menerus meramu cerita gagal. Kita bukan bangsa yang gagal hanya saja orang lebih cepat belajar dari kita. Tak ada short cut untuk kini selain merobah cara pandang dengan mulai berfikir menempatkan orang muda dengan wawasan abad 21 baik dipemrintahan maupun di dewan rakyat.
Marilah bersama kita melawan musuh bersama kita yang bernama ketertinggalan"
Wassalam
Zulkarnain Kahar, 50th+, Houston Texas
|
Ta'aruf dan Egaliter Oleh : H. Mas’oed Abidin
Sesunguhnya hidup bermasyarakat di manapun di dunia ini keutuhannya akan terjamin serta kebahagiaan akan tercipta manakala individu sebagai anggota masyarakat atau sebagai rakyat dan warga negara benar-benar mengakui dan sama-sama berusaha menghormati dan menegakkan supremasi hukum, yang di ikat selalu dengan terpeliharanya hubungan vertical dengan Allah (hablum minallah) dan kuatnya hubungan horizontal dengan saling kenal mengenal (ta’aruf) sesama manusia (hablum minan-nas). Terjalinnya hubungan yang baik, sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan menjamin keamanan di tengah hidup bermasyarakat. Firman Allah telah menyerukan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal satu sama lainnya. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ” (QS.49, al Hujurat, ayat 13). Keberhasilan masyarakat Minangkabau dalam menata hubungan kekeluargaan selama ini sangat ditunjang oleh penerapan nilai-nilai yang kita warisi dan tampak jelas dalam hubungan kekerabatan duduk sama rendah dan tegak sama tinggi. Nilai-nilai adat yang bersendikan syara’ senantiasa mengutamakan pendekatan manusiawi dengan selalu memandang manusia menurut fithrah kesuciannya baik secara individu maupun kelompok masyarakat, yang disadari sesungguhnya memiliki segala kelebihan dan kekurangannnya, di antaranya dengan mengakui martabat (‘izzah) dan menghormati harga diri masing-masing. Hal ini dimungkinkan karena sejak awal telah tertanam pendidikan dengan aqidah agama dan ajaran tauhid yang berbuah pada akhlak sebagai intisari dari kandungan Kitabullah. Karena itu mereka tidak takut dengan berjibun perubahan yang terjadi di tengah perputaran globalisasi sekalipun, karena ada benteng kokoh di dalam hati. Semua nilai-nilai
itu selalu terpelihara baik, selama prinsip saling menghargai satu sama
lain, dan saling menghormati di tengah perbedaan-perbedaan pendapat yang
berkembang harus selalu dipelihara bahkan ditingkatkan dalam hubungan
kesaudaraan yang bersih dan ikhlas. Kata basilang kayu dalam tungku di sinan api mangko nyo hiduik telah menjadi kelikat kehidupan dengan kemampuan tinggi bisa mengamalkannya di dalam katan ibadah sebagai mata rantai penyerahan diri kepada Allah dalam arti tawakkal secara benar. Sangatlah susah memungkiri bahwa sebenarnya nilai budaya Adat basandi syara’ dan syara’ basandi Kitabullah di Minangkabau sejak lama tmampu menjadi alas dasar utama kehidupan berdemokrasi yang tumbuh dengan subur dan berkembang di tengah masyarakat ranah bundo di Sumatera Barat. Kedudukan pemimpin di tengah masyarakatnya hanyalah karena di
dahulukan selangkah dan di tinggikan seranting. Ikatan itu bertambah kokoh
dengan ikatan saling tolong menolong dan bantu membantu, baik dengan moril dan
buah pikiran atau usul-usul yang berfaedah. Sebagai pemimpin yang di dahulukan selangkah itu amat wajar bila dituntut harus memperbanyak lawan ba iyo dan bermusyawarah serta melipat gandakan teman berunding. Kalau tidak demikian akan terasa sempitlah dunia ini, karena kemungkinan sekali akan dipenuhi oleh sikap saling dengki mendengki, halang menghalangi penuh curiga, apalagi bila telah berkembang menjadi saling memfitnah, yang akan berakibat kebinasaan dan kehancuran bersama pula. Kita
sama-sama meyakini bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahman akan selalu melindungi
dan membukakan pintu berkah-Nya dari langit dan dari bumi selama masyarakat dan
lembaga-lembaga pemerintahan di ranah bundo senantiasa teguh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta kejujuran
dalam rangka menunaikan amanat Allah dan menjalankan kepercayaan dari rakyat
banyak. Inilah inti kekuatan ruhani urang awak setiap masa bergelut dalam perubahan dan reformasi bahkan globalisasi karena yang dituju adalah membangun diri dan nagari di Sumatera Barat, termasuk di abad ini.***
Padang, Januari 2009 |
Uda Zul Kahar, dulu ambo caliak Uda karajo di Afrika Selatan dan kini
lah di Amerika pulo. Baa caritonyo tu? Caritoan pulo lah saketek kalau
lai ado wakatu.
Ambo salalu mambaco posting dari Uda dan banyak bana nan boneh paliang
tidak mambangkik samangaik. Kito mungkin samo samo alumni Aceh Utara,
Uda pernah di Lhoksukon dan ambo di Lhokseumawe.
Wassalam,
Zulkifli Taher
Berharap selalu bersyukur
2009/1/18 Zulkarnain Kahar <kahar_zu...@yahoo.com>:
>
> Assalamualaikum. w.w
> Menurut saya artikel seperti inilah yang membuat kita menjadi lemah dan terus menerus dipojokkan.
>
--