Dikarenakan hari ini hari bersejarah PRRI, 15 Februari, dan juo pada setiap taun dibulan Februari dipalanta selalu menarik dinikmati diskusi tentang PRRI ini, maka sebagai panambah2 bacaan, berikut diteruskan tulusan Mak Epi Buchari di Kadai Kopi Baliau nan diposting sataun kurang 5 hari lalu di : http://kadaikopi.carpediem123.com/?p=1517
Diantaranya banyaknya Subjek2 tentang PRRI yang tasimpan di Palanta dari taun 2000 sampai kini, nan judul dari pak EB ko secara keseluruhan alun ado nampak lai, namun sebagian-sebagian dari cerita beliau dibawah memang sering dibicarakan di palanta.
Mohon maaf kalau lah ado nan mambaconyo.
Salam
Nofend/34M
15 Februari 1958 Proklamasi PRRI : “Kok Bakisa Duduak Jan Bakisa dari Lapiak Nan Salai….”
Tepat 51 tahun yang lalu, tanggal 15 Februari 1958 terjadi peristiwa bersejarah yang amat sangat penting di ranah Minang, yang mampu mengubah sejarah perkembangan kawasan ini pada masa berikutnya. Pada tanggal itu Dewan Perjuangan memproklamirkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, disingkat PRRI. Proklamasi ini merupakan puncak dari rentetan peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang bermula dari rasa ketidak puasan daerah-daerah di luar Jawa atas ketimpangan pembangunan yang terjadi antara Jawa dan luar Jawa.
Republik
Indonesia telah exist sejak 17 Agustus 1945, perjuangan mempertahankan
kemerdekaan berlangsung sampai dengan 19 Desember 1949, sewaktu pemerintahan
kerajaan Belanda menyerahkan sepenuhnya kedaulatan kepada pemerintahan Republik
Indonesia. Upaya pengisian kemerdekaan dengan demikian baru bisa dimulai sejak
tahun 1950. Inipun berlangsung ditengah pertentangan politik yang sangat tajam,
yang antara lain ditandai dengan mulai bangkitnya kembali Partai Komunis
Indonesia.
Ketidak puasan diatas mula-mula dinyatakan dengan berdirinya Dewan Banteng,
Dewan Gajah, Dewan Garuda di Sumatera dan PERMESTA di Sulawesi pada tahun 1956
yang diprakarsai oleh panglima militer setempat, yang melepaskan ketergantungan
perdagangan yang selama ini dikelola pemerintah pusat di Jakarta, dan
menggantikannya dengan sistim barter yang dilaksanakan langsung antara daerah
dengan luar negeri.
Pertentangan pemerintah pusat dan beberapa daerah ini terus berlangsung, walau
upaya untuk mengatasinya juga terus dilakukan. Di sisi lain daerah-daerah yang
bergolak juga merapatkan barisan, yang antara lain ditandai dengan pertemuan
rahasia di Sungai Dareh yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 1958. Dan
ternyata bulan berikutnya disusul dengan proklamasi dan pembentukan PRRI
tersebut diatas.
Sudah sangat
banyak buku, tulisan, artikel, di berbagai media dan internet yang membahas dan
mengupas peristiwa PRRI ini dari berbagai sudut pandang. Campur tangan asing,
khususnya Amerika, juga terjadi dalam permasalahan yang pada hakekatnya
merupakan permasalahan internal Republik ini yang saat itu masih berumur sangat
muda.
Bagi generasi muda Minang yang ingin mengetahui peristiwa bersejarah ini, dapat
mengikutinya dari copy 3 buah tulisan yang dapat dilihat pada bagian akhir dari
artikel ini.
Banyak hal yang dapat dipelajari dan hikmah yang dapat disimpulkan dari
rentetan peristiwa PRRI ini.
Saya sendiri berada di Palembang antara tahun 1950-1958, yang merupakan wilayah dari “Dewan Garuda” (Teritorium II=TT II Sriwijaya).
Sebagai siswa
SMP saya mengikuti suasana pergolakan daerah ini melalui cerita orang-orang
yang lebih dewasa, koran, siaran radio RRI, dan kemudian Radio PRRI yang
disiarkan dari Malaysia dengan suaranya yang sangat jernih dan jelas. Suara
bariton penyiarnya sangat khas, dan ada yang mengatakan bahwa penyiarnya itu
adalah Des Alwi.
Pada waktu sejumlah pimpinan daerah Sumatera Selatan (Lampung dan Bengkulu
masih termasuk Sumsel) masih banyak yang dipegang urang awak, seperti antara
lain Dr. Isa, Dr. Adnan Kapau (AK) Gani, Kol. Hasan Kasim.
Yang paling terlihat jelas dengan jelas adalah suasana harian yang diwarnai
oleh semangat perjuangan yang tampak melalui latihan tentara sukarela
“Sriwijaya Training Center” (STC) yang setiap hari berlangsung di
dekat kediaman saya di daerah Bukit Kecil, Palembang.
Acara-acara latihan ini sangat menarik bagi anak-anak, karena dapat mengamati
senjata-senjata baru yang tidak pernah dilihat sebelumnya, dengan para
sukarelawan yang memakai pakaian tentara Amerika yang kedodoran (belum sempat
divermaak). Kalau mereka memakai singlet hijau militer, belahan singlet bagian
bawah sudah sampai di pinggang mereka. Walau demikian dengan senjata barunya
mereka tetap terlihat gagah.
Semangat kedaerahan sangat menonjol saat itu, yang juga merasuki anak-anak
dengan tingkat pemahaman yang masih terbatas.
Sampailah pada suatu pagi di awal tahun 1958, sewaktu saya mengayuh sepeda
menuju sekolah yang terletak di jalan Pagar Alam, pemandangan yang sama sekali
tidak biasa tampak di sepanjang jalan Pagar Alam tersebut : pasukan berpakaian
tempur lengkap berdiri berjaga pada jarak-jarak tertentu. Sikap mereka tampak
sangat profesional, dan ternyata mereka adalah pasukan KKO-AL (Korps Komando
AL, sekarang: Marinir). Tidak ada pertempuran, tidak ada kekacauan, tidak ada
kerusuhan sama sekali, dan….tidak ada tembakan.
Sekolah berjalan seperti biasa. Sepulang sekolah ternyata mereka masih standby,
tetapi tidak dengan wajah sangar atau menakutkan.
Kami para anak-anak kecewa dan tidak mengerti (tidak habis pikir, bahasa
populernya), karena Palembang diduduki secara sangat mudah oleh “tentara
pusat”. Tentara TT II Sriwijaya dan STC ternyata tidak melakukan
perlawanan sama sekali. Lapangan terbang Talang Betutu kemudian juga diduduki,
dan sejak itu sejumlah pesawat fighter Harvard dan Mustang selalu ada di
lapangan terbang tersebut. Kalau tidak salah, komando tentara pusat berada
dibawah LetKol Juhartono.
Yang jelas, sejak itu zaman terasa berubah. Radio PRRI tetap jadi favorit, juga
koran dari Padang yang penuh dengan cerita-cerita pertempuran. Berita
pendudukan Pekanbaru, Padang, yang dari waktu ke waktu diikuti pula dengan
kota-kota lainnya, sangat memukul warga Palembang, terutama yang berasal dari
Minang.
Kehidupan terasa sulit atau dipersulit antara lain dengan adanya keharusan
mengurus “Surat-Jalan” jika akan pergi antar kota/daerah. Surat
Jalan ini harus pula diketahui dan dicap di tempat tujuan.
Orang Minang (yang sering disebut sebagai “orang Padang”) berada
dalam posisi terpojok mulai saat itu.
Menjelang akhir peristiwa PRRI, tahun 1960-1961, banyak pasukan PRRI yang
mayoritas anak muda yang menyingkir ke daerah Sumatera Selatan dan sebagian ada
yang tertangkap oleh tentara TT II Sriwijaya. Di Palembang mereka ditahan di
Rumah Tahanan Militer (RTM) di Sekojo (bekas lapangan terbang militer Jepang).
Sesudah
permasalahan PRRI ini diselesaikan pada tahun 1961, situasi & kondisi
“urang awak” sudah sangat berbeda. Suasana dan semangat yang paling
menonjol adalah rasa dikalahkan yang menyakitkan, dan rasa luka dan tertekan
yang berlangsung bertahun-tahun.
Saya pulang kampung tahun 1963 melalui Pakanbaru. Gubernur Riau dan Sumbar
waktu itu sama-sama bernama Kaharuddin. Yang satu Kaharuddin Nasution, dan yang
satunya lagi Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa.
Pada tahun itu jalan Pekanbaru-Bukittinggi rusak parah, terutama di wilayah
Sumatera Barat. Jalan dengan batu-batu besar lebih mirip sungai kering, dengan
penyeberangan di sejumlah tempat masih berupa pelayangan/rakit karena belum ada
jembatan. Sejumlah besar jalan aspalnya telah terkupas habis.
Cerita di kampung masih didominasi cerita-cerita peperangan, seperti kedatangan
tentara pusat, pertempuran, perampasan, korban, dan lain sejenisnya,
serta…. trauma kekalahan.
Tentara pusat berada sampai ke kampung-kampung dalam format
“Babinsa” (Bintara Pembina Desa).
Pada tahun 1968
saya bertugas menginventarisasi seluruh jaringan jalan beserta jembatan di
seluruh Sumbar dalam rangka pembuatan jalan Lintas Sumatera dan rencana
perbaikan seluruh infrastruktur jalan sebagai bagian dari PELITA I.
Pada saat itu luka-luka lama PRRI sudah berangsur pulih, pemerintahan Sukarno
sudah berganti dengan Suharto yang anti komunis. Warga Sumbar merasa lega
karena salah satu tujuan PRRI menyangkut PKI telah sejalan dengan kebijaksanaan
pemerintahan yang baru. Kepercayaan mulai tumbuh kembali kepada pemerintah
pusat di Jakarta.
Program “mambangkik batang tarandam” oleh gubernur Harun Zein
menggugah kembali semangat warga Minang di Sumbar, dan berbagai hambatan yang
selama ini dirasakan sebagai orang yang kalah perang berangsur pupus sesuai
dengan perkembangan zaman.
Itulah sekelumit kecil persentuhan saya dengan peristiwa PRRI, dengan kenang-kenangan sebagaimana diatas, dan rasa penasaran kenapa waktu itu TT II Sriwijaya “membelot” dan tidak ikut berjuang sesuai kesepakatan semula.
Sampailah kemudian saya membaca 2 buah tulisan dengan isi yang sangat mirip di internet. Yang satu ditulis oleh Syafri Segeh (wartawan senior Sumatera Barat), dan satunya lagi dimuat dalam “BlueFame Forum” (mungkin tulisan Syafri Segeh dicopy oleh forum ini). Bagian menarik dari tulisan itu saya cuplikkan bersama ini :
*********************************************************************************
Menanggapi rapat rahasia di
Sungai Dareh itu, Bung Hatta mengirim pesan yang kemudian disiarkan Pers di
Jakarta: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiek nan salai, kok bakisa
tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah”. Sekitar tanggal 16 Januari
1958 Bung Hatta dan Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-daerah bergolak
seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu
adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis
Indonesia (PSI).
Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”. Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya.PRRI terperangkap ke dalam strategi Amerika Serikat.
Djoeir Moehamad juga
menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan
Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk
membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya
akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu
generasi. Pesan ini kemudian menjadi kenyataan. Dapat dirasakan sekarang.
Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini, akan
tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan
Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman
militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.
*************************************************************************************
Isi tulisan itu
menyadarkan saya akan kualitas Bung Hatta sebagai bapak bangsa yang ingin
mempertahankan keutuhan NKRI, dan kemampuan beliau untuk membaca apa kira-kira
akibat buruk dari sesuatu kebijaksanaan yang akan diambil.
Dan bagi saya pertanyaan sejak masa SMP di Palembang terjawablah sudah, kenapa
TT II Sriwijaya dibawah komando Let Kol Barlian tidak meneruskan perlawanan
terhadap pemerintahan pusat. Beliau patuh mengikuti petunjuk dan permintaan
dari Bung Hatta tersebut. “Wong Kito Palembang” selamat tanpa
korban baik jiwa maupun masa depan daerahnya. Tidak ada trauma pada mereka.
Dan Bung Hatta amat sangat benar, Sumatera Barat tidak mengikuti saran beliau, dan memang kemudian menjadi tertinggal selama minimal 1 generasi. Sesudah tumbangnya PKI pada tahun 1966, barulah secara berangsur masyarakat Minang, baik yang di ranah maupun yang di rantau secara berangsur mulai pulih dari trauma akibat peristiwa tersebut.
Semogalah dengan
mengingat dan mengenang kembali peristiwa proklamasi PRRI pada tanggal 15
Februari 1958 yang lalu ini, kita dapat menjadi lebih dewasa, arif dan
bijaksana bertolak dari salah satu pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa
ini, yaitu bahwa kekerasan dan peperangan bukanlah suatu solusi yang baik dan
sejauh mungkin harus dihindari.
Khususnya bagi orang Minang, Allah memberi mereka kemampuan berfikir dan
berdiplomasi yang memadai. Kalau tidak, mereka tidak akan menang dalam kisah
adu kerbau di zaman silam. Peperangan dan korban yang banyak ternyata dapat
dihindarkan dengan kemampuan diplomasi dan kecerdikan. [EB]
Bagi generasi muda yang ingin mengetahui latar belakang & sejarah peristiwa PRRI dapat mengikutinya dari copy tulisan-tulisan berikut :
===========================================================================
Dari BlueFame Forum
WALAUPUN antara Dewan Banteng yang dibentuk tanggal 20 Desember 1956, 52 tahun yang lalu, dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamirkan oleh Dewan Perjuangan (bukan oleh Dewan Banteng) tanggal 15 Pebruari 1958, 50 tahun yang lalu, ibarat mata uang logam yang satu sisinya hampir sama dengan sisinya yang lain, namun berbeda tujuan, “seiring batuka jalan”.
Maksudnya walaupun Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Banteng di satu sisi, tetapi di sisi lain Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan yang memproklamasikan PRRI. Dewan Banteng dibentuk bertujuan untuk membangun Daerah sedangkan PRRI membentuk Pemerintahan tandingan melawan Pemerintah Jakarta yang sah waktu itu.
Gagasan membentuk Dewan Banteng timbul di Jakarta pada 21 September 1956 dari sejumlah Perwira Aktif dan Perwira Pensiunan bekas Divisi IX Banteng di Sumatera Tengah dulu setelah mereka melihat nasib dan keadaan tempat tinggal para prajurit yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dalam perang Kemerdekaan melawan Belanda tahun 1945 -1950, keadaan Kesehatan amat sederhana, anak-anak mereka banyak yang menderita penyakit dan kematian.
Ada asrama yang ditinggalkan oleh KNIL (tentera Belanda), akan tetapi tidak mencukupi, karena jumlah mereka yang banyak. Para perwira aktif dan perwira pensiunan dari eks. Divisi Banteng juga melihat nasib masyarakat yang semakin jauh dari janji-janji dalam perang Kemerdekaan, hidup mereka semakin susah,tidak bertemu janji keadilan dan kemakmuran bersama itu.Pemerintah Pusat lebih mementingkan Daerah Pulau Jawa ketimbang Daerah diluar pulau Jawa dalam hal pembagian “kue” pembangunan, sedang daerah di luar pulau Jawa adalah penghasil devisa yang terbanyak.
Pertemuan sejumlah perwira aktif dan perwira pensiunan eks. Divisi Banteng di Jakarta itu kemudian dilanjutkan dengan mengadakan Reuni di Padang dari perwira-perwira aktif dan pensiunan eks. Divisi Banteng pada tanggal 20 –24 Nopember 1956 yang pada pokoknya membahas masaalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah. Reuni yang dihadiri oleh sekitar 612 orang perwira aktif dan pensiunan dari eks. Divisi Banteng itu akhirnya membuat sejumlah keputusan yang kemudian dirumuskan di dalam tuntutan Dewan Banteng.
Untuk melaksanakan keputusan-keputusan Reuni itu,maka dibentuklah suatu Dewan pada tanggal 20 Desember 1956 yang dinamakan “ Dewan Banteng”mengambil nama Banteng dari Divisi Banteng yang sudah dibubarkan. Di dalam perang Kemerdekaan tahun 1945 -1950 melawan Belanda dulu di Sumatera Tengah dibentuk sebuah Komando militer yang dinamakan dengan Komando Divisi IX Banteng.
Sesudah selesai perang Kemerdekaan dan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1950, maka Komando Divisi Banteng ini diciutkan dengan mengirim pasukan-pasukannya ke luar Sumatera Tengah seperti ke Pontianak, Ambon, Aceh dan Jawa Barat. Pengalaman yang sangat menyedihkan dialami oleh Batalyon “Pagar Ruyung” yang sesudah bertugas di Ambon, lima dari delapan kompinya dipindahkan ke Jawa Barat. Pasukannya dilebur ke dalam Divisi Siliwangi dan hubungan dengan induk pasukannya Divisi Banteng diputus.
Terjadi berbagai hal sehingga ada yang meninggal dunia dan ditahan. Komando Divisi Banteng makin lama makin diciutkan, sehingga akhirnya tinggal satu Brigade yang masih memakai nama Brigade Banteng, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein. Kemudian pada bulan April 1952 Brigade Banteng diciutkan menjadi satu Resimen yang menjadi Resimen Infanteri 4 di dalam Komando Tentera Teritorium (TT) I Bukit Barisan (BB) di bawah Komando Panglimanya Kolonel Simbolon.Letkol. Ahmad Husein diangkat kembali menjadi Komandan Resimen Infanteri 4 TT I BB itu.
Pemecahan Batalion-batalion dan pembubaran Komando Divisi Banteng itu menimbulkan bibit-bibit dendam dari para pejuang perang Kemerdekaan melawan Belanda yang bernaung di bawah panji-panji Divisi Banteng itu. Pengurus Dewan Banteng terdiri dari 17 orang, yang terdiri dari 8 orang perwira aktif dan pensiunan, 2 orang dari Kepolisian dan 7 orang lainnya dari golongan sipil, ulama, pimpinan politik, dan pejabat.
Lengkapnya susunan Pengurus Dewan Banteng itu adalah :Ketua,Letkol, Ahmad Husein,Komandan Resimen Infanteri 4, Sekretaris Jenderal Mayor (Purn) Suleman, Kepala Biro Rekonstruksi Nasional Sumatera Tengah, sedangkan anggota-anggotanya adalah Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa, Kepala Polisi Sumatera Tengah, Sutan Suis, Kepala Polisi Kota Padang, Mayor Anwar Umar, komandan Batalion 142 Resimen 4. Kapten Nurmatias Komandan Batalyon 140, Resimen Infanteri 4. H. Darwis Taram Dt. Tumanggung, Bupati 50 Kota, Ali Luis Bupati d/p di Kantor Gubernur Sumatera Tengah, Syekh Ibrahim Musa Parabek Ulama, Datuk Simarajo, Ketua Adat (MTKAAM).
Kolonel (Purn) Ismael Lengah, Letkol (Purn) Hasan Basri (Riau), Saidina Ali Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Kampar, Riau, Letnan Sebastian Perwira Distrik Militer 20 Indragiri, Riau, A. Abdulmanaf, Bupati Kabupaten Merangin, Jambi, Kapten Yusuf Nur, Akademi Militer, Jakarta dan Mayor Syuib, Wakil Asisten II Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta.
Selain itu Dewan Banteng didukung oleh segenap Partai Politik, kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI), juga didukung oleh segenap lapisan masyarakat seperti para pemuda, alim ulama, cadiak pandai, kaum adat sehingga waktu itu lahirlah semboyan,” timbul tenggelam bersama Dewan Banteng”. (***)
Dewan Banteng Tetap Mengakui Sukarno, Juanda dan Nasution
TUNTUTAN Dewan Banteng yang terpenting diantaranya adalah:
• Menuntut pemberian serta pengisian otonomi luas bagi daerah-daerah dalam rangja pelaksanaan sistem Pemerintahan desentralisasi serta pemberian perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang wajar,layak dan adil.
• Menuntut dihapuskan segera sistem sentralisme yang dalam kenyataannya mengkaibatkanb birokrasi yang tidak sehat dan juga menjadi pokok pangkal dari korupsi, stagnasi pembangunan daerah, hilangnya inisiatif dan kegiatan daerah serta kontrol.
• Menuntut suatu Komando Pertahanan Daerah dalam arti Teritorial, operatif dan administratif yang sesuai dengan pembagian administratif dari Negara Republik Indonesia dewasa ini dan merupakan komando utama dalam Angkatan Darat.Juga menuntut ditetapkannya eks. Divisi Banteng Sumatera Tengah sebagai kesatuan militer yang menjadi satu korps dalam Angkatan Darat.
Walaupun Letkol Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengambil alih jabatan Gubernur Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Mulyoharjo, namun Ahmad Husein tidak ditindak sebagai Komandan Resimen 4 TT. I. BB, malah sebaliknya tuntutan Dewan Banteng agar dibentuk satu Komando Militer di Sumatera Tengah yaitu Komando Militer Daerah Sumatera Tengah (KDMST) dipenuhi lepas dari TT. I BB dan Letkol, Ahmad Husein diangkat menjadi Panglima KDMST. Dewan Banteng tetap mengakuo Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia, tetap mengakui Pemerintahan Juanda dan tetap mengakui Jenderal A.H. Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Berbeda dengan Dewan Banteng, Kolonel Maluddin Simbolon, Panglima TT. I BB setelah mengumumkan pembentukan Dewan Garuda yang seluruh pengurusnya militer pada tanggal 22 Desember 1956, dua hari sesudah Dewan Banteng, pada hari itu juga Simbolon menyatakan melepaskan diri dari Pemerintahan Juanda dan menyatakan daerah TT. I BB dalam keadaan Darurat Perang (SOB). Pemerintah Juanda cepat memberikan jawaban.Pada hari itu juga memerintah KSAD memecat Simbolon dari jabatan Panglima TT.I BB dan mengangkat Kepala Stafnya Letkol.Jamin Ginting menggantikan Simbolon menjadi Panglima TT.I BB. Simbolon bersama sejumlah anak buahnya akhirnya melarikan diri ke Sumatera Barat, Padang dan tidak kembali lagi ke Medan.
Setelah Pemerintah Pusat tidak memperhatikan usul alokasi dana untuk pembangunan daerah Sumatera Tengah,maka Dewan Banteng tidak mengirimkan lagi seluruh penghasilan Daerah Sumatera Tengah ke Pusat, ditahan di daerah dan digunakan untuk pembangunan Daerah. Masalah ini meningkatkan konlik dengan Pemerintah Pusat. Selanjutnya, Dewan Banteng melakukan “Barter”, pedagang langsung dengan luar negeri, tanpa melalui prosedur yang lazim yaitu melalui Departemen Perdagangan dan Bea Cukai. Yang dibarter adalah teh, karet dan hasil bumi Sumatera Tengah lainnya. Dana yang diperoleh dari hasil barter itu digunakan untuk mendatangkan alat-alat berat untuk pembangunan jalan seperti traktor, buldozer, aspal dan berbagai alat berat lainnya.
Dalam beberapa bulan saja keadaan pembangunan di Sumatera Tengah meningkat, sehingga ada jalan dinamakan orang “ Jalan Dewan Banteng”.Pembangunan Sumatera Tengah di bawah Dewan Banteng dianggap terbaik waktu itu di Indonesia. Untuk mempercepat pembangunan di daerah-daerah Kabupaten dan Kota, Dewan Banteng pernah membagi-bagikan uang Rp. 1juta kepada tiap Kabupaten dan Kota.Kalau sekarang uang Rp.1 juta tidak punya harga, akan tetapi pada tahun 1957 itu uang Rp. 1 juta punya nilai yang tinggi. Keadaan ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua tahun, karena situasi politik di Jakarta bertambah panas disebabkan sikap dan tingkah laku Presiden Sukarno yang membela Partai Komunis Indonesia (PKI) yang waktu itu berakiblat ke Moskow. Waktu itu Sukarno akrab dengan Moskow.
Setelah pemilihan umum tahun 1955 PKI keluar sebagai partai politik nomor empat besar sesudah PNI, Masyumi dan NU. Di Sumatera Tengah sendiri PKI hanya mendapat suara sekitar 5.7%. Akibatnya adalah : muncul konsep Presiden yang ingin membentuk Kabinet Kaki Empat yang disebutnya sebagai Kabinet Nasakom, Nasional (PNI), agama (Masyumi dan NU) dan Komunis (PKI).Konsep Sukarno ini ditentang oleh banyak pihak terutama partai-partai Islam yang kemudian melahirkan gerakan anti Komunis. Suasana Politik di Jakarta semakin panas.
Di dalam bulan Agustus 1957 rumah Kol. Dahlan Jambek di granat, tetapi tidak menimbulkan korban. Akibatnya Kol. Dahlan Jambak dan keluarganya hijrah ke Padang. Sejak itu Kol.Dahlan Jambek bersama dengan Yazid Abidin menggiatkan kampanye anti komunis di Sumatera Tengah. Di Padang dibentuk Gerakan Bersama Anti Komunis (Gebak) yang dipimpin langsung oleh Kol Dahlan Jambek bersama Yazid Abidin. Gerakan anti komunis di Sumatera Tengah itu secara tidak disadari atau mungkin memang disengaja untuk menarik bantuan dari Amerika Serikat, karena sejak tahun 1953, tiga tahun sebelum Dewan Banteng, Amerika telah memperhatikan perkembangan Komunisme di Indonesia.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat waktu itu John Foster Dullas menginstruksikan Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Hugh S. Cumming: Di atas segalanya lakukanlah apa yang dapat anda gunakan untuk memastikan, bahwa Sumatera tidak jatuh ke tangan komunis. Menurut Dullas, dipeliharanya suatu negara kesatuan dapat mempunyai bahaya-bahaya khusus dan saya mengacu kepada Tiongkok (kekalahan Chiang Kai Shek oleh Mao Tse Tung di daratan Cina) tidak berarti lagi pada saat Tiongkok jatuh ketangan komunis. Pada akhirnya kita mendapatkan suatu wilayah Tiongkok yang utuh, tetapi demi keuntungan kaum komunis.
Ditegaskan oleh Dullas, kalau antara suatu Indonesia yang wilayahnya utuh, tetapi condong dan maju menunjuk komunis dan perpecahan negara itu menjadi kesatuan-kesatuan geografis, maka saya lebih suka pada kemungkinan ke dua, sebab menyediakan suatu tempat bertumpu yang dapat dipergunakan Amerika Serikat untuk menghapus komunisme di suatu tempat atau tempat yang lainnya dan lalu pada akhirnya, kalau menghendaki begitu, tiba kembali pada suatu Indonesia yang bersatu.
Dalam pada itu, Wakil Presiden Amerika Serikat RichardNixon menganjurkan agar Amerika Serikat bekerja melalui kalangan militer Indonesia. Dewan Keamanan Nasional AS kemudian memutuskan membentuk suatu Panitia Ad Hoc antara Departemen tentang Indonesia untuk menyiapkan suatu laporan mengenai implikasi-implikasi dari peristiwa akhir-akhir ini terhadap keamanan AS rencana-rencana tindak yang mungkin diambil (dari buku 50 tahun Amerika Serikat—Indonesia, oleh Paul F. Gardner). Dapat dilihat dari kutipan-kutipan di atas, bahwa betapa seriusnya Amerika Serikat terhadap komunisme di Indonesia, jauh sebelum pemilu tahun 1955. (***)
Kok Bakisa Duduak Jan Bakisa dari Lapiek Nan Salai
MENANGGAPI rapat rahasia di Sungai Dareh itu, Bung Hatta mengirim pesan yang kemudian disiarkan Pers di Jakarta: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiek dan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah”. Sekitar tanggal 16 Januari 1958 Bung Hatta dan Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-daerah bergolak seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”. Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya.PRRI terperangkap ke dalam strategi Amerika Serikat.
Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi. Pesan ini kemudian menjadi kenyataan. Dapat dirasakan sekarang. Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini, akan tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.
Kol Dahlan Jambek berkata lewat pidato-pidatonya, bahwa keadaan sekarang sudah berada pada titik, ”the point of no return”. Pada tanggal 9 Februari 1958 Badan Aksi Rakyat Sumatera Tengah (BARST) mengadakan rapat akbar di Padang untuk mendorong Ahmad Husein mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan kuatk terhadap Pemerintah Jakarta. Dalam rapat akbar itu berpidato Kol. Dahlan Jambek dan Kol. Simbolon yang kemudian rapat akbar itu mengeluarkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada Ahmad Husein.
Sebagian besar dari isi resolusi itu yang diapopsi ke dalam ultimatum Dewan Perjuangan yang diumumkan lewat radio tanggal 10 Pebruari 1958 yaitu :
* Agar Ahmad Husein mengirim tuntutan kepada Perdana Menteri Juanda dan Kabinetnya di Jakarta supaya mengembalikan mandatnya dan menunjuk Hatta dan Hamengkubowono IX sebagai formatur pembentukan Kabinet baru.
* Agar Pemerintah Pusat mencabut larangan terhadap barter.
* Agar Presiden Soekarno kembali ke UUD 1950 dalam membentuk kabinet. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Ahmad Husein harus mengambil langkah-langkah bijaksana dan kuat.
Esok harinya, tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Perjuangan mengeluarkan ultimatum yang ditujukan kepada Pemerintah Pusat melalui RRI Padang yang isinya antara lain:
* Menuntut supaya dalam waktu 5 x 25 jam: a. Kabinet Juanda mengembalikan mandatnya kepada Presiden/pejabat Presiden ( waktu itu Presiden Sukarno sedang berada di luar negeri dan Pejabat Presiden waktu itu adalah Ketua DPR Sartono). b. Presiden/Pejabat Presiden mengambil kembali mandat Kabinet Juanda.
* Menuntut segera setelah tuntutan dalam angka 1 dilaksanakan supaya Hatta dan Hamengkubowono IX ditunjuk untuk membentuk satu Zaken Kabinet Nasional menurut ketentuan-ketentuan konstitusi yang terdiri dari tokoh-tokoh yang sudah terkenal sebagai pemimpin-pemimpin yang jujur, cakap dan disegani serta bersih dari anasir-anasir anti-Tuhan. a. Untuk menyelamatkan negara dari desintegrasi dan kekacauan sekarang dan kembali bekerja menurut UUDS menunggu terbentuknya UUD oleh kontituente. b. Meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi pembangunan Negara dan Bangsa lahir dan bathin dengan arti yang sesungguhnya.
Tuntutan ke lima: a. Bersedia kembali kepada kedudukannya yang konstitusionil serta menghapuskan segala akibat dari tindakan-tindakannnya yang melanggar UUD serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan. b. Memberikan kesempatan sepenuhnya serta bantuannya menurut konstitusi kepada Zaken Kabinet Nasional Hatta- Hamengkubowono IX ini, agar sungguh-sungguh dapat melakukan kewajibannya sampai pemilihan umum yang akan datang.
Tuntutan ke enam: Apabila tuntutan tersebut pada angka 1 dan 2 tidak dipenuhi,maka kami mengambil langkah-langkah kebijaksanaan sendiri. Tuntutan ke tujuh: a. Apabila tuntutan tersebut pada angka 1 dan 2 dilaksanakan oleh pejabat Presiden, tetapi ternyata bahwa tuntutan tersebut pada angka 5 tidak dipenuhi oleh Presiden, ataupun. b. Apabila tuntutan tersebut pada angka 1 dan 2 dilaksanakan pejabat Presiden, tetapi kemudian ternyata bahwa tuntutan tersebut pada angka 5 tidak dipenuhi oleh Presiden Soekarno.
Maka dengan ini kami menyatakan, bahwa sejak itu kami menganggap diri kami terbebas dari pada wajib taat kepada Dr. Ir. Soekarno sebagai Kepala Negara. Maka sebagai akibatnya dari tidak dipenuhinya semua tuntutan di atas, menjadi tanggung jawab dari mereka yang tidak memenuhinya, terutama Presiden Soekarno. Esok harinya, tanggal 11 Februari 1958, Kabinet Juanda menolak Ultimatum Dewan Perjuangan itu dan memerintahkan KSAD untuk memecat dari dinas militer Letkol Ahmad Husein dan Kol. Simbolon serta Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST) dibekukan dan hubungan darat, maupun udara dengan Sumatera Tengah dihentikan sama seperti yang sudah dilakukan di Sulawesi Utara. (***)
Peristiwa Cikini Membatalkan Rekonsiliasi
PADA tanggal 30 Nopember 1957 terjadilah suatu peristiwa di Jakarta dengan apa yang dikenal kemudian sebagai “Peristiwa Ciniki 2.Malam tanggal 30 Nopember itu, Presiden Sukarno menghadiri pesta ulang tahun sebuah sekolah di Cikini dimana putra dan putrinya bersekolah. Waktu akan pulang malam itu sekelompok anak-anak muda yang bertempat tinggal di asrama dekat sekolah itu yang diketahui sebagai anggota Gerakan Anti Komunis Jakarta (GAK) melemparkan granat kearah mobil Sukarno.
Sukarno dan putra-putrinya selamat,akan tetapi dipihak lain terdapat korban jatuh meninggal dunia sekitar 9 orang dan sekitar 100 orang lainnya luka-luka berat.Korban yang terbanyak adalah murid-murid sekolah itu. Menanggapi peristiwa Cikini itu,Perdana Menteri Juanda mengatakan kepada Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Allison, bahwa usaha pembunuhan tersebut (t erhadap Sukarno) yang dikenal dengan “Peristiwa Cikini”membatalkan pendekatan-pendekatan rekonsiliasi yang direncanakan sebelumnya terhadap Dewan Banteng. Dengan pernyataan Juanda itu,maka usul kompromi Ahmad Husein untuk menyelesaikan konflik Dewan Banteng dan Pemerintah Pusat jadi sirna. Ahmad Husein mengusulkan agar dibentuk suatu dalam suatu wadah Dewan Nasional dan diisi oleh wakil dari daerah-daerah. Dewan Nasional itu kemudian dibentuk oleh Sukarno, akan tetapi isinya orang- orang dekatnya saja.
Sesudah peristiwa Cikini itu, Sukarno meninggalkan Indonesia untuk selama 6 minggu beristirahat ke luar negeri seperti ke Eropa dan Asia. Peristiwa Cikini dibesar-besarkan oleh surat kabar surat kabar PKI seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti, Bintang Timur dan Harian Pemuda. Sejumlah tokoh-tokoh politik dari partai Masyumi dikait-kaitkan dengan Peristiwa Cikini itu.Mereka kemudian diteror dan diancam akan ditangkap dan ditahan dengan tuduhan korupsi. Rumah Mohd. Rum sampai-sampai dikepung, tetapi Mohd.Rum dan keluarganya selamat. Akibatnya, para politisi dari partai Masyumi merasa tidak aman lagi tinggal di Jakarta. Satu demi satu mereka berangsur-angsur hijrah ke Padang,seperti Syafruddin Prawira Negara,Mohd.Natsir dan Burhanuddin Harahap. S
yafruddin Prawira negara waktu itu menjadi Direktur Bank Indonesia. Prof, Sumitro Joyohadikusumo bukan politisi dari partai Masyumi melainkan dari Partai Sosialis Indonesia (PSI), akan tetapi Sumitro kemudian hijrah pula ke Padang,akan tetapi dia lebih banyak bolak balik keluar negeri, seperti ke Singapura, Amerika Serikat dan negara-negara lain yang anti Komunis. Akhirnya semua politisi baik dari tokoh militer, dari Masyumi dan PSI ( Sumitro) berkumpul di Padang. Gagasan untuk melawan Sukarno yang dituduh condong kepada PKI itu semakin kuat kerika para tokoh-tokoh militer dan politisi sipil itu mengadakan rapat rahasia di Sungai Dareh pada tanggal 9 Januari 1958. Rapat rahasia di Sungai Dareh itu diadakan dalam dua putaran.Pada putaran pertama rapat rahasia itu hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh militer saja,kecuali Prof. Sumitro, ikut dalam rapat itu.
Rapat putaran ke dua, baru diadakan rapat gabungan antara tokoh-tokoh militer dengan politisi sipil. Tidak banyak yang diketahui orang dari rapat Sungai Dareh itu, kecuali terbetik berita, bawha Simbolon akan mendirikan negara Sumatera. Berkenaan dengan issu negara Sumatera itu,Perdana Menteri Juanda memberi penjelasan dihadapan sidang DPR pada tanggal 3 Pebruari 1958. Perdana Menteri Juanda mensinyalir, bahwa dalam bulan Desember 1957 dan Januari 1958 terdengar lagi berita-berita tentang adanya usaha-usaha untuk memproklamirkan berdirinya Negara Sumatera. Ada pula berita-berita tentang pembentukan Pemerintah Pusat baru Republik Indonesia0
Bung Nofend, Pak Hatta memang mengutus pak Djoeir Moehamad untuk menemui Letkol Ahmad Husein agar tidak melanjutkan rencana memberontak, tapi rupanya -- karena sesuatu hal -- pesan tersebut tidak sampai. Dan apa akibatnya kita semua sudah tahu. Dari perspektif militer, sesungguhnya memang PRRI sama sekali tidak siap. Mungkin dari segi politik semangat sudah berkobar-kobar, tapi walaupun terkait dengan politik, namun cara berperang kan lain dari cara berpolitik. [von Clausewitz menulis bahwa perang adalah lanjutan politik, dengan cara lain]. Ada tiga catatan saya mengenai artikel di bawah ini: 1) gerakan yang dilancarkan pak Harun Zein pada tahun 1968 bukan 'gerakan mambangkik batang tarandam' seperti tercantum dalam artikel di bawah ini, tetapi 'strategi harga diri". Saya tahu benar, oleh karena pak Harun mengumandangkan strategi tersebut di depan sidang DPRD GR Provinsi Sumatera Barat, dan waktu itu saya masih jadi anggota DPRD GR tersebut. Dalam hubungan ini masyarakat Sumatera Barat perlu berterima kasih secara khusus kepada pak Harun, yang merupakan tokoh pertama yang mengangkat topik harga diri orang Minang ini, setelah sepuluh tahun , antara 1958 - 1968, jatuh moril dan 'baibo-ibo' terus. 2) Pada tahun 1958 seingat saya belum ada lembaga 'Bintara Pembina Desa' (Babinsa). Yang adalah 'Bintara Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat" disingkat "Buterpra'. Di atasnya ada "Perwira Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat" (Puterpra). 3) Nama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada saat itu bukan John Foster Dullas, tapi John Foster Dulles. Wassalam, Saafroedin Bahar (Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) --- On Mon, 2/15/10, Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org> wrote: |
|
|
|
Pak Saaf dan sanak sapalanta yang ambo hormati,
Terima kasih atas koreksi pak Saaf atas 3 hal yang perlu diluruskan
dari artikel yang saya tulis tersebut, disamping penegasan atas pesan
bung Hatta serta peranan pak Harun Zein dalam membangkitkan harga diri
urang awak tersebut.
Tulisan saya sendiri dalam artikel tersebut ditambah dengan sejumlah
'copy-paste' dari beberapa sumber lain, dibuat dengan tujuan
memberikan informasi dasar yang memadai untuk generasi anak saya/
generasi muda Minang menyangkut peristiwa pergolakan daerah, yang
terjadi hanya 13 tahun setelah proklamasi, atau 9 tahun setelah
penyerahan kedaulatan.
Disini ada faktor internal ketidak puasan daerah, dan faktor external
fase awal perang dingin antara 2 kelompok negara adidaya yang masing-
masingnyanya memiliki kepentingan mereka sendiri-sendiri.
Banyak pelajaran positif yang bisa diambil berupa langkah-langkah
koreksi dari pihak pemerintah sendiri yang dilakukan pada awal Orde
Baru, yang kemudian dilanjutkan oleh orde Reformasi setelahnya,
seperti pemberantasan PKI dan faham komunisme, serta pemberian otonomi
daerah seluas-luasnya.
Ini adalah bagian dari perjalanan bangsa yang pencapaiannya masih jauh
dari tujuan ideal bangsa Indonesia, yang dari waktu ke waktu berkali-
kali terganjal oleh permasalahan pesatuan dan kesatuan bangsa.
Sulit untuk mengatakan bahwa salah satu tujuan PRRI menyangkut otonomi
daerah telah kita nikmati, pada saat ternyata PAD Sumbar sendiri
ternyata tidak cukup untuk membiayai pembangunan di daerah ini
sendiri.
Fakta ini menunjukkan bahwa hidup dalam naungan NKRI memang masih
merupakan pilihan terbaik.
Luka-luka lama akibat peristiwa pergolakan ide yang kemudian
dimanifestasikan dalam bentuk peperangan, tentunya masih membekas bagi
sejumlah pelaku dan anak keturunannya (kalau sebagian petinggi PRRI/
Permesta pada awal Orde Baru telah diberi peluang dalam pengelolaan
HPH, perdagangan, Kontraktor, dll).
Salah satu akibat awal dari peristiwa PRRI adalah kehilangan harga
diri, serta rasa tidak senang pada orang Jawa.
Kehilangan harga diri tampaknya sudah tidak ada lagi (terkait dengan
jasa besar pak Harun Zein diatas).
Rasa tidak senang pada orang Jawa ini yang tampaknya masih tersisa,
sebagaimana terkadang juga terefleksikan dalam beberapa postingan di
RN ini.
Masih perlukah sikap seperti ini dipertahankan, pada saat sebagian
besar warga Minang masa kini struktur kekeluargaannya terkait dengan
suku Jawa ini ? Atau sebagian besar urang awak justru dewasa ini hidup
di tanah Jawa ?
Maaf dan Wassalam,
Epy Buchari
L-66, Ciputat Timur
Kini diskusi kito ttg SDA, SB baik diangkat dalam seminar yang akan diadakan nantinya, ABSSBK, atau judulnya saya lupa, mungkin pak Saaf bisa menjelaskan.
Saya rasa SDA dan SDM Sumbar ini menarik untuk kita seminarkan, paling sedikit buat "oleh-oleh" anak kemenakan kita. Kan mereka jadikan"suluah panarang jalan".
Gimana bapak-bapak???
Wass,
dasriel
--- Pada Sel, 16/2/10, Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com> menulis:
> --
>
> .
>
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika
> dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya:
> ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>
> ===========================================================
>
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>
> - DILARANG:
>
> 1. Email besar dari 200KB;
>
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui
> jalur pribadi;
>
> 3. One Liner.
>
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata!
> Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
>
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam
> melakukan reply
>
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan
> mereply email lama
>
> ===========================================================
>
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah
> konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>
>
"Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com"
Sanak Dasriel, khusus masalah SDA lai disingguang dalam salah satu tema Kongres Kebudayaan Minangkabau nanti .Salah satu topik nan akan kito angkek adolah mamanfaatkan potensi maritim sampai ka Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Soal SDM kito pusatkan dulu manduduakkan ABS SBK sacaro formal [indak lai sacaro informal sarupo kini]. |
| --- On Tue, 2/16/10, Dasriel Noeha <dasrie...@yahoo.com> wrote: |
On 16 Feb, 14:47, Abraham Ilyas <abrahamil...@gmail.com> wrote:
> Seandainya SB tidak disubsidi oleh pusat seperti jaman pemerintahan nagari
> nagari di luhak, maka ketika itulah muncul kreativitas anak nagari
> (merantau!), kini ?
Pak Abraham yang ambo hormati,
Salam kenal juo untuak pak Abraham.
Maaf, ambo kurang faham dengan logika bahwa kalau SB tidak disubsidi
pemerintah pusat maka kreativitas anak nagari dalam format 'merantau'
akan muncul.
Sajauah nan ambo tahu semangat merantau ko sampai hari ko masih
menggebu-gebu, mulai dari nan tamaik SMP sampai nan berpendidikan S1
sampai S3. Malahan urang gaek-gaekpun kini lah dibaok anak-anaknyo
untuak hiduik basamo di rantau.
Nan gaek-gaek di rantau (hehehe, ambo contohnyo) pun jarang nan kini
amuah maabihkan maso tuonyo di ranah.
Baa logikanyo Sumbar akan makmur, maju dan berkembang dengan
'kreativitas marantau ko ?
Apokah 'ekonomi wesel' nan pak Abraham mukasuik?
Kalau manuruik pemikiran ambo, awak urang Minang ko seyogianyo
berorientasi ka masa depan, dan optimis dengan masa depan yang masih
mengandung seribu satu kemungkinan untuak diperjuangkan oleh generasi
Minang masa kini.
Kegemilangan masa lalu (kalau iyo pernah gemilang), biarlah menjadi
kenangan indah dan sumber motivasi.
Kondisi, jenis dan bobot permasalahan maso lalu alah jauah babedo jo
maso kini.
Perjuangan atau pergolakan PRRI kini adolah sebuah sejarah yang
mewariskan nilai-nilai berharga bagi generasi masa kini kalau bisa
maambiak hikmahnyo.
Nan jaleh situasi dan kondisi geografisnyo alah sangaik berbeda antaro
kini dan tahun 1957an katiko PRRI akan diproklamirkan.
Sumatera Tengah sangat tidak identik jo Sumatera Barat masa kini.
Pado maso itu awak ketahui basamo bahwa Riau dan Jambi masih bagian
dari Sumatera Tengah yang merupakan wilayah Dewan Banteng. Lampung dan
Bengkulu masih masuak ka Provinsi Sumatera Selatan nan merupakan
wilayah Dewan Garuda. Sumatera Utara dan Aceh masuk wilayah Dewan
Gajah.
Dapatlah dibayangkan bahwa dengan setting seperti ini otonomi daerah
akan merupakan jaminan kemakmuran, mengingat potensi rieel masing-
masing wilayah.
Kini, Sumbar (nan alah jauah labiah ketek dari Sumater Tengah) alah
tabagi dalam hampia 20 Kabupaten dan Kota, nan kabanyo tidak memiliki
rencana pembangunan nan terintegrasi satu dengan lainnyo (mantan
gubernurnyo kabanyo angkek tangan dalam mengkoordinasikan belasan
'raja-raja kecil' ini).
Pertempuran PRRI jo tentara Pusat jelas merupakan perang saudara.
Untuak setiap perang saudara sikap terbaik adalah 'to forgive, but not
to forget'.
Adolah langkah yang baik untuak mangumpuakan kisah-kisah sejarah yang
tercecer dan mengenang serta mendoakan mereka yang jadi korban dari
kedua belah pihak.
Tapi 'the show must go on'. Sejarah masa lalu ini tidak perlu memberi
'beban' pada generasi sekarang dalam bentuk sikap mental yang tidak
mendukung persatuan, kesatuan, dan perjuangan memakmurkan Minangkabau
dan Indonesia.
Dengan sagalo sikon masa kini, perjuangan ini tetap harus dilanjutkan.
Maaf pak Abraham kalau ado pemikiran kito nan kurang sejalan, wasalam,
Pak Abraham, Sanak Epy Buchari ,dan para sanak sa palanta,
Buliah ambo sato manyalo ?
Rasonyo memang kito urang awak alah saatnyo harus mulai mampu manilai kondisi strategis sacaro labiah realistik, dan sacaro pelahan-lahan mulai maninggalkan apo nan panah disabuik dek surang pakar urang awak juo sabagai 'alam pikiran romantisme'.
Dunia di sakuliliang kito alah banyak barubah. Batua sakali, Sumatera Barat kini jauh labiah ketek dari Sumatera Tengah dahulu. Riau dan Jambi nan dahulu masuak Sumatera Tengah, kini alah jadi provinsi sandiri-sandiri nan jauh labiah makmur dan labiah capek bakambangmyo dari Sumatera Barat.
Sadangkan Sumatera Barat sandiri diarak dek macam-macam masalah: anak kurang gizi, tingkek kamatian ibi nan tinggi, tanah ulayat nan alah ampia abih, moral nan samakin rusak, suasana acuah indak acuah, indak ado persatuan dan kesatuan pandangan.Hanyo ciek nan masih unggul: yaitu alam nan bukan main indahnyo, nan kalau dikelola sacaro baiak, bisa manjadi tambahan mato pancarian baru dek penduduk dalam pariwisata.Tapi kito kan samo tahu, bahaso pengelolaan pariwisata ko sabana basilemak peak. Patah salero bahkan untuak mangomenarinyo.
Tantang pengelolaan 'nagari' tu sandiri -- nan dirujuk dek pak Abraham sabagai 'ideal type' -- sampai kini masih kabinguangan kito mancari imbangan peran antaro limbago-limbago tradisional kito [sarupo 'urang ampek jinih'] jo limbago-limbago baru nan tumbuah belakangan saparti partai politik atau karang taruna. Masalah penanggulangan bencana masih tagantuang sapanuahnyo ka pamarentah..
Labiah dari itu, bahkan tantang ABS SBK nan kito nyatokan sabagai'jati diri dan identitas kultural' Minangkabau indak jaleh bana baa isi dan formatnyo. [Kok lai diizinkan Allah swt, kito cubo manjaniahkannyo dalam Kongres Kebudayaan Minangkabau bulan Juli atau Agustus mandatang.]
Baitulah, asumsi-asumsi nan salamo ko kito anuik tantang Ranah juo alah banyak nan indak 'valid' lai. Kok tatap juo kito bapacik ka alam asumsi tu, bisa-bisa samakin jauah kito ditinggakan urang.
Ambo satuju jo pandapek Sanak Epy Buchari. Mari kito mancaliak ka maso datang, dalam alam NKRI. Indak bisa indak. |
| --- On Tue, 2/16/10, bandarost <epybu...@gmail.com> wrote: |
Ass Wr Wb Pak Saaf, Pak Jacky Mardono Tjokrodiredjo,Pak Abraham,Pak Epi Buchari,Pak Iqbal Rahman,Da Riri,Da Jepe,Adinda Ari Noviandi sarato adi dunsanak kasadonyo,
Pertama2 saya mohon ma’af karena secara tidak sengaja telah mengirimkan reply email kosong ke rantau net ini .Rencananya mau menulis dulu,tidak tahunya sudah terkirim saja.
Walaupun saya tidak ikut berdiskusi, tapi cukup banyak pengetahuan sejarah yang berhubungan dengan PRRI yang saya dapatkan dari hasil diskusi Bapak2 disini.Untuk itu izinkan saya mengucapkan ribuan terimakasih kepada Bapak2 dan dunsanak2 semua yang telah berbagi pengetahuan dengan kami yang muda2 seputar masalah PRRI di rantau net ini.
Apalagi Pak Abraham dengan hebatnya bisa merangkai cuplikan sejarah PRRI itu dalam untaian kata2 yang luar biasa,sehingga kita dapat merasakan alangkah pedihnya masa2 itu.
Sebagaimana kata Pak Iqbal Rahman,bahwa PRRI muncul karena adanya tuntutan perubahan system pemerintahan yang Sentralistik menjadi Desentralistik dan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Walaupun berliku dan butuh waktu yang panjang (+/- 50 tahun), akhirnya tuntutan itu sedikit banyaknya sudah tercapai sekarang ini dengan adanya Otonomi Daerah.
Dari peristiwa PRRI dan hal2 lainnya,menurut hemat saya dan boleh jadi tidak terlalu berlebihan, kalau saya mengatakan bahwa Orang Minang ini sesungguhnya adalah pioneer dalam banyak hal sebetulnya di Negara Indonesia yang kita cintai ini.
Berikut ada sedikit beberapa fakta yang saya koleksi secara pribadi :
Dalam menghadapi AFTA/CAFTA,mungkin sudah saatnya kita sebagai Orang Minang memikirkan untuk menjadi pioneer juga dalam penyelematan Negara Indonesia ini, dalam kepemimpinan/Leadership dan Perdagangan di era global ini,dengan motto :
Dalam menghadapi kondisi yang ektrim,seseorang hanya bisa bertahan dengan pola yang ektrim juga.
Hanya dengan 2 motto di ataslah kita InsyaAllah, Negara Indonesia ini akan dapat survive di dalam ketatnya persaingan pasar bebas dan membanjirnya produk2 impor sekarang ini.
Demikianlah sedikit urung rembug saya pagi ini,terlebih terkurang saya mohon ma’af.
Wasalam,
Kurnia Chalik
Quote
Apo nan dapek dek Pioneer Karupuak Sanjai tu?
Mudah2an bukan cuma dapek embe plastik merk Pioneer :
-------------------------------------------------------------------------
Ass Wr Wb Da Riri sarato adi dunsanak kasadonyo,
Untuk itulah kita perlu menjadi menjadi pioneer dalam mengappresiasi Pioneer Karupuak Sanjai yang asli di Bukittinggi itu dengan motto “Belilah dan pakailah produk dalam negeri walaupun mahal dan kualitasnya rendah”. Beli dan makanlah kerupuk sanjai Bukittinggi,walaupun….
Bukan hanyo karupuak sanjai sajo Da Riri,galeh kumango (galeh kelontong) baitu juo,yang untung banyak tetap saja supermarket atau minimarket sekarang ini walaupun pioneernya adalah galeh kumango.Untuk mengappresiasi Pioneer galeh kumango ko,tetaplah kita berbelanja di kedai2 kelontong misalnya, walaupun….
Dst…dst..
Hanya dengan motto inilah,InsyaAllah kita akan dapat mengappresiasi para pioneer2 ini dan membuatnya survive sampai nanti.
Dan pada gilirannya nanti,Negara Indonesia pun akan ikut survive juga sampai nanti.
Wassalam,
Kurnia Chalik
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Riri Chaidir
Sent: Wednesday, February 17, 2010
11:01 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: Urang Minang Pioneer dalam banyak hal : RE: [R@ntau-Net] Dampak PRRI
Dek [Kurnia]
Koleksi yang sangat berharga (di luar masalah ada beberapa item yang debatable)
Cuma begini, Pioneer kalau sasudah tu antok2 sajo, sangat disayangkan.
Misalnya, kalau Adek katakan urang Minang pioneer Karupuak Sanjai, tapi kalau kemudian ternyata yang lebih banyak untuang itu "tukang Kripik Balado" "tukang kripik balado" iko pulo nan dapek Award sebagai "usahawan Minang"; bahkan tukan kripik balado ko pulo nan dapek sebutan "Kartini Sumatera Barat dek pak Gubernur"
Apo nan dapek dek Pioneer Karupuak Sanjai tu?
Mudah2an bukan cuma dapek embe plastik merk Pioneer :(
riri
bekasi, l, 47
2010/2/17 Kurnia Chalik <kurnia...@inpex.co.jp>
Dari peristiwa PRRI dan hal2 lainnya,menurut hemat saya dan boleh jadi tidak terlalu berlebihan, kalau saya mengatakan bahwa Orang Minang ini sesungguhnya adalah pioneer dalam banyak hal sebetulnya di Negara Indonesia yang kita cintai ini.
Berikut ada sedikit beberapa fakta yang saya koleksi secara pribadi :
--
Ass Wr Wb Da Riri sarato adi dunsanak kasadonyo,
Untuk itulah kita perlu menjadi menjadi pioneer dalam mengappresiasi Pioneer Karupuak Sanjai yang asli di Bukittinggi itu dengan motto “Belilah dan pakailah produk dalam negeri walaupun mahal dan kualitasnya rendah”. Beli dan makanlah kerupuk sanjai Bukittinggi,walaupun….
Dek [Kurnia]Koleksi yang sangat berharga (di luar masalah ada beberapa item yang debatable)Cuma begini, Pioneer kalau sasudah tu antok2 sajo, sangat disayangkan.Misalnya, kalau Adek katakan urang Minang pioneer Karupuak Sanjai, tapi kalau kemudian ternyata yang lebih banyak untuang itu "tukang Kripik Balado" "tukang kripik balado" iko pulo nan dapek Award sebagai "usahawan Minang"; bahkan tukan kripik balado ko pulo nan dapek sebutan "Kartini Sumatera Barat dek pak Gubernur"Apo nan dapek dek Pioneer Karupuak Sanjai tu?Mudah2an bukan cuma dapek embe plastik merk Pioneer :(riribekasi, l, 47
2010/2/17 Kurnia Chalik <kurnia...@inpex.co.jp>
Dari peristiwa PRRI dan hal2 lainnya,menurut hemat saya dan boleh jadi tidak terlalu berlebihan, kalau saya mengatakan bahwa Orang Minang ini sesungguhnya adalah pioneer dalam banyak hal sebetulnya di Negara Indonesia yang kita cintai ini.
Berikut ada sedikit beberapa fakta yang saya koleksi secara pribadi :
- Pioneer Otonomi Daerah.Tuntutan PRRI tahun 1958 tentang usulan otonomi daerah,itu berasal dari Orang Minang.
- Pioneer Pendidikan di Surau,yang akhirnya banyak diadopsi menjadi pendidikan Pesantren.
- Pioneer Karupuak sanjai, akhirnya diadopsi menjadi Kripik Balado.
- Pioneer Galeh Kumango nan sagalo ado,diadopsi jadi Supermarket atau minimarket.
- Pioneer Penegakan Hukum tanpa pandang bulu dengan memenjarakan semua anggota DPRD yang terbukti korupsi,pertama sekali juga dimulai di Sumatera Barat.
- Pioneer dalam prinsip “lamak dek awak,katuju di urang”,akhirnya diaposi menjadi “Win Win Solution”.
- Pioneer dalam menentang Komunisme oleh Bung Hatta, dengan mengundurkan diri dari Wakil Presiden karena tidak setuju dengan idealis Nasakomnya Presiden Soekarno.
- Pioneer KA Wisata,sehingga akhirnya PT.KAI secara resmi membuat anak perusahaan khusus PT.KA Wisata yang akan mengelola khusus bisnis KA Wisata di Indonesia ini.
- Pioneer dalam dunia perdagangan dan rumah makan.Dan sekarang yang lagi trend adalah ”Pasar Malam”,yang hampir 95% pedagangnya adalah orang Minang,yang berdagang dari sore sampai malam, di daerah2 perumahan.
- Pioneer dalam pembuatan Portland Cement tahun 1910, sehingga muncullah Motto PT.Semen Padang : “KAMI TELAH MEMBUAT SEBELUM ORANG LAIN MEMIKIRKAN”.
__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature database 4872 (20100216) __________
The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.
http://www.eset.com
On Feb 17, 2:51 am, "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf10...@yahoo.com> wrote:
Ambo satuju jo pandapek Sanak Epy Buchari. Mari kito mancaliak ka
maso datang, dalam alam NKRI. Indak bisa indak.
Assalamu'alaikumWrWb,
Pak Saaf dan sanak sapalanta yang ambo hormati,
Dengan statement pak Saaf diatas, ambo maraso lega bahwa masih ado
banang merah nan menghubungkan pasan peringatan bung Hatta ka
pettinggi Dewan Banteng labiah dari satangan abad nan lampau, jo
generasi masa kini Minangkabau : ..."kok bakisa duduak, jan bakisa
dari lapiak nan saalai...."
Lapiak nan saalai ko kini terkenal dengan namo "NKRI", sebagaimana
yang pak Saaf tegaskan diateh ("indak bisa indak").
Tarimo kasih pak Saaf, sebab itulah prins diateh.ip yang melata
belakangi ambo manulih artikel ko satahun nan lampau.
Ambo ingin mangomentari saketek tentang kepioniran urang awak nan
dirinci oleh bung Kurnia, yaitu pionir dalam Otonomi Daerah. Catatan
sejarah manunjuakkan bahwa proklamasi PRRI terjadi pado tanggal 15
Februari 1958 ; sadangkan Piagam Perjuangan Semesta Alam (PERMESTA)
diproklamirkan kiro2 satahun sabalunnyo, yaitu pado tanggal 2 Maret
1957. Piagam PERMESTApun sacaro jaleh manyabuikkan otonomi daerah dan
sentralisasi ko.
Ketimpangan pembangunan daerah zaman itu bukan cuman dirasokan dek
urang awak, tapi alah merupokan perasaan urang-urang daerah sacaro
umum.
Rentetan kejadian pado awal pertumbuhan NKRI kok memang menarik untuak
dicermati.
Kalau ado beberapo postingan (dengan judul lain) 2 a 3 hari terakhir
ko di RN yang mengaitkan peringatan PRRI ko jo militerisme (antara
lain bung Andi ko dan bung Zalmahadi Syamsuddin), fakta sejarah
berikut ini menunjukkan bahwa pemerintahan yang sangat sipil alah
berjalan dari tahun 1950-1957.
Sayangnyo dengan sistim demokrasi parlementer pemerintahan sipil ko
berjalan sangat lemah yang kemudian menumbuhkan rasa ketidak puasan
daerah tersebut.
Ikolah awal dari 'koreksi' dari pihak tentara : 20 Desember 1956 Ahmad
Husein mengambil alih kekuasaan sipil di Bukittinggi atas nama Dewan
Banteng (tapi masih mengakui pemerintah pusat), 2 hari kemudian
Simbolon mencoba pula mengambil alih kekuasaan sipil di Medan
membentuk Dewan Gajah dan melepaskan diri dari pemerintahan pusat,
disusul dengan kolonel Barlian yang membentuk Dewan Garuda tapi tidak
mengambil alih kekuasaan sipil, yang kemudian disusul pula dengan
pengambil alihan kekuasaan sipil oleh Ventje Sumual pada 2 Maret 1957
dengan proklamasi PERMESTA.
Sebagai reaksi dari "pembangkangan" sejumlah kolonel daerah ini dan
sesudah proklamasi PRRI, Sukarno menyatakan negara dalam keadaan
perang (SOB=Staat van Orlog & Beleg), disusul dengan Dekrit Presiden
tahun 1959 yang menghentikan sistim Demokrasi Parlementer dan
menggantinya dengan Demokrasi Terpimpin, yang kemudian antara lain
menyangkut peranan tentara berkembang pula menjadi dwifungsi ABRI.
Sejak inilah militer mulai unjuk gigi dalam kehidupan harian di
seluruh Indonesia, antara lain dalam bentuk batasan kecepatan
kendaraan yang liwat di muka kompleks militer di seluruh Indonesia
sebagaimana disebutkan 2 sanak diatas.
Jadi militerismen di Indonesiapun terkait secara langsung atau tidak
langsung dengan peristiwa PRRI, yang sekarang masih tersisa dalam
bentuk pakaian loreng, penggunaan atribut ala militer, dll oleh
organisasi sipil di Indonesia.
Inilah yang kemudian dikoreksi pula oleh Orde Reformasi. Selain OTDA,
antara lain ABRI 'dikembalikan ke tangsi" sebagaimana yang diceritakan
tampak lebih ekstrim di Kamboja itu.
Sudah cukup banyak langkah koreksi yang dilakukan dalam perjalanan
NKRI ini.
Bagi generasi Minang masa kini, inilah bagian dari sejarah Sumbar dan
sekaligus sejarah perjalanan bangsa ini. Ada harga mahal yang harus
dibayar dari perjalanan sejarah ini.Harga mahal yang akan sia-sia
belaka kalau kita tidak bisa mengambil pelajaran berharga dari
rentetan kejadian yang saling berkaitan ini.
Maaf, bahaso nan dipakai dari bahaso awak lah barubah se jadi bahaso
Melayu Tinggi. Oh ya pak Saaf, ambo sangaik setuju dengan pendapat
menyangkut "alam fikiran romantisme" itu.
Maaf dan Wassalam,
Epy Buchari
L-66, Ciputat Timur.
Quote:
Ambo ingin batanyo baa sikap nan tapek untuk suatu kegiatan dimano kito masih leading tapi mungkin ndak lamo lai mungkin ka lapeh pulo ka tangan urang. Contohnyo tanun kain songket dari Pandai Sikek..
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Wa’alaikumsalam Pak Adyan sarato adi dunsanak kasadonyo,
Izinkan ambo saketek ingin memberikan pandangan mengenai pertanyaan Pak Adyan di atas.
Sudah menjadi Sunatullah bahwa segala sesuatu di dunia ko berubah/bergerak.Dan kalau dapek tentunyo,perubahan itu ke arah yang lebih baik.
Mengenai tanun kain songket dari Pandai Sikek,menurut hemat ambo tentunya haruslah diusahakan ada peningkatan2 dari waktu ke waktu supaya tetap eksis.
Kalau di Manufature orang menyebutnya harus ada R & D, (Research and Development) untuk melakukan perubahan2 ke arah yang lebih baik lagi (Sustainable improvement). Misalnya,bagaimana supaya waktu pembuatan bisa dipercepat,sehingga harga songket bisa lebih bersaing misalnya.Apakah bisa dibuatkan mesin yang sederhana untuk mempercepat proses produksi misalnya. Karena sekarang satu kain Songket saja bisa menghabiskan waktu 2 bulan membuatnya,sehingga harga jual songket juga tidak bisa murah (Bisa Rp.2 s/d 3 juta/buah).
Tidak jauh berbeda dengan tanun kain Songket dari Pandai Sikek ini, pandai Emas/pengrajin Emas dari Guguak Randah Bukittinggi adalah kerajinan rakyat yang turun temurun sifatnya,sehingga menurut hemat ambo InsyaAllah akan tetap eksis sampai nanti,karena sangat sulit untuk di duplikasi oleh orang lain.
Wassalam,
Kurnia Chalik
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Adyan
Sent: Wednesday, February 17, 2010
11:54 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: Urang Minang Pioneer
dalam banyak hal : RE: [R@ntau-Net] Dampak PRRI
--
Wa’alaikumsalam Sanak Alhaqirwalfaqir sarato adi dunsanak kasadonyo,
Terimakasih banyak atas tambahan informasinya,ambo baru tahu kalau Tuanku Abdulrahman dan Tuan Yusuf Ishak ko adalah orang2 Minang.
Ambo pikir Malaysia dan Singapore dulunya boleh jadi memang mempunyai kekerabatan yang sangat dekat dengan Minangkabau.
Jadi sebetulnya tidak salah juga kenapa Malaysia dan Singapore bisa maju2 seperti sekarang ini,karena boleh jadi karena memang banyak orang2 Minang di situ dulunya sebagai pioneer kemajuan Malaysia dan Singapore…he..he…Mungkin iko yang dimaksud dengan “Mangapik Daun Kunyik”…he..he…
Wasalam,
Kurnia Chalik
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Haqir WalFaqir
Sent: Wednesday, February 17, 2010
10:54 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [SPAM] Re: Urang Minang Pioneer dalam banyak hal : RE: [R@ntau-Net] Dampak PRRI
Assalamualaikum Dunsanak sapalanta...
Ado tambahan duo lai satantang Pioneer nyo urang Minang ko..
1. Tuanku Abdulrahman, Yang dipertuan Agung Malaysia nan Partamo, adolah urang Minangkabau, dek inyo adolah Yang Di Pertuan Besar Negeri Sembilan, sampai kini diabadikan fotonyo/gambarnyo di muko Pitih Ringgit Malaysia
2. Tuan Yusuf Ishak, Presiden Partamo Singapura, adolah urang Minangkabau asal Painan, sampai kini wajahnyo diabadikan di Pitih Dollar Singapore, dan juo pengarang lagu Majulah Singapura (national Anthem Singapore) adolah urang Bukittinggi.,
Jadi urang Minangkabau ko yo pioneer2 nampaknyo
Sakitu dari ambo,
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42-,KL
Waalaikumsalam Sanak Epy Buchari dan para sanak sa palanta, Mancaliak 'meriah'-nyo postings di Rantau Net ko, mungkin ado rancaknyo suatu kali kito adokan FGD, bahkan kalau paralu seminar bana. untuak mambahas sagalo aspek tantang PRRI tu. Rasonyo masih ado babarapo palaku nan masih hiduik, baiak nan bapihak ka PRRI maupun nan barado di pihak NKRI [pak Jacky Mardono jo ambo di siko]. Kito sigi bana batanang-tanang, apo latar belakangnyo, baa mako pajanjian jo Simbolon dan Barlian indak talaksana, baa mako pak Husein indak mamatuhi pasan pak Hatta, baa curitonyo pertempuran antaro pasukan PRRI jo TNI plus OPR, baa mako Amerika babaliak dari mambantu PRRI kudian jadi mambantu TNI, bara korban kaduo balah pihak dll. Kabatulan wakatu ambo manyusun disertasi, ambo mangumpuakan banyak bahan soal PRRI ko, tamasuak mamawancarai Kolonel George Benson, mantan atase pertahanan Amerika di Jakarta. Apolagi ambo panah jadi Hakim Perwira mangadili Jayusman nan manjadi Ketua Biro Khusus PKI untuak Daerah Sumatera Barat. Bilo wakatunyo ? Kalau ambo haruih ikuik, yo sasudah Kongres Minangkabau, sakitar bulan September, kalau dapek di Jakarta. |
| --- On Wed, 2/17/10, bandarost <epybu...@gmail.com> wrote: |
|
Wa’alaikumsalam Sanak Alhaqirwalfaqir sarato adi dunsanak kasadonyo,
Da Riri dan adi dunsanak Kasadonyo,
Karano Da Riri alah batanyo,tantunyo kini saatnyo kito menjawab.
Jawabannya:
Mari kita orang Minang ini untuk ke sekian kalinya menjadi Pioneer sekali lagi, khususnya dalam Penyelamatan Negara Indonesia yang kita cintai ini dari serbuan pasar bebas dan membanjirnya produk2 impor saat ini dengan motto:
1. Memimpin adalah pengabdian bukan mencari kekayaan.
2. Beli dan pakailah produk dalam negeri walaupun mahal dan kualitasnya rendah
Paling tidak motto ini dapat kita mulai dari diri dan keluarga kita sendiri dan harus dimulai saat ini juga.
Wasalam,
Kurnia Chalik
--
Wa’alaikumsalam Sanak Alhaqirwalfaqir sarato adi dunsanak kasadonyo,
Terimakasih banyak atas tambahan informasinya,ambo baru tahu kalau Tuanku Abdulrahman dan Tuan Yusuf Ishak ko adalah orang2 Minang.
Ambo pikir Malaysia dan Singapore dulunya boleh jadi memang mempunyai kekerabatan yang sangat dekat dengan Minangkabau.
Jadi sebetulnya tidak salah juga kenapa Malaysia dan Singapore bisa maju2 seperti sekarang ini,karena boleh jadi karena memang banyak orang2 Minang di situ dulunya sebagai pioneer kemajuan Malaysia dan Singapore…he..he…Mungkin iko yang dimaksud dengan “Mangapik Daun Kunyik”…he..he…
Wasalam,
Kurnia Chalik
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Haqir WalFaqir
Sent: Wednesday, February 17, 2010 10:54 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [SPAM] Re: Urang Minang Pioneer dalam banyak hal : RE: [R@ntau-Net] Dampak PRRI
Assalamualaikum Dunsanak sapalanta...
Ado tambahan duo lai satantang Pioneer nyo urang Minang ko..
1. Tuanku Abdulrahman, Yang dipertuan Agung Malaysia nan Partamo, adolah urang Minangkabau, dek inyo adolah Yang Di Pertuan Besar Negeri Sembilan, sampai kini diabadikan fotonyo/gambarnyo di muko Pitih Ringgit Malaysia
2. Tuan Yusuf Ishak, Presiden Partamo Singapura, adolah urang Minangkabau asal Painan, sampai kini wajahnyo diabadikan di Pitih Dollar Singapore, dan juo pengarang lagu Majulah Singapura (national Anthem Singapore) adolah urang Bukittinggi.,
Jadi urang Minangkabau ko yo pioneer2 nampaknyo
Sakitu dari ambo,
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42-,KL
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Mak Darul sarato adi dunsanak kasadonyo,
Quote : tingkatkan daya saing produksi dalam negeri
Konsep Mak Darul ko,sabananyo alah dimuloi sajak zaman ORLA dulu.Tetapi alah sampai pulo kini zaman Reformasi kini,hal ini belum pernah terwujud juga.Karena Motto nomor satu, Memimpin adalah pengabdian bukan mencari kekayaan,sesungguhnya belum pernah ada.
Kalau Mak Darul, bicara Motto.2 tidak logis,sebetulnya sewaktu orang bercita2 pergi ke Bulan dulu juga dianggap tidak logis.Tetapi akhirnya menjadi logis juga, kata Orang Amerika karena mereka akhirnya berhasil juga mendaratkan astronotnya di bulan sana,tetapi bagi Orang Indonesia tetap saja pergi ke bulan tidak logis,karena memang tidak mampu dan belum pernah ke sana.....
Wasalam,
Kurnia Chalik
| Saya pernah mengikuti pembicaraan orang-orang Rawa (keturunan Rao di Malaysia menyebutnya Rawa) di http://sriandalas.multiply.com/journal/item/106 Dan memang mereka tidak mau disebut berasal dari Sumatera Barat, Padang, atau bahkan menyebutkan bahwa mereka berbeda dengan orang Minang. Bagi mereka Rumah Bagonjong buknlah rumah adat mereka, adat Minangkabau tidak ebrlaku di tanah mereka, apalagi mengakui daulah Pagaruyung. Dalam pembicaraan di milist tersebut mereka cendrung antipati terhadap Pagaruyung, dan mengatakan bahwa Pagaruyung adalah salah satu alasan dibumi hanguskannya Rao oleh Belanda dan akhirnya mereka akspanasi ke Malaysia. Sebenarnya bagaimana sih sejarah Rao ini? Apakah memang Rao merupakan sebuah wilayahs endiri yang tidak termasuk dalam bentang adat alam Minangkabau, atau hanya trend latah ikut2an mencari jati diri seperti saudara sekandung kita lain Gurbernur di Bangkinang dan Kuantan sana?? Mohon pencerahan dari Dunsanak, Mamak dan Bundo semuanya di milst tercinta ini Salam Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 --- On Wed, 2/17/10, Haqir WalFaqir <alhaqir...@yahoo.com> wrote: |
|
|
Pak Saaf. Mungkin ada baiknya kita adakan semacam brainstorming
terlebih dahulu mengenai masalah ini.
Peserta BS jangan banyak-banyak cukup
5 - 7 orang, namun benar-benar yang
menjadi pelaku sejarah.
Dari kelompok itu mudah2an saja muncul nama-nama
yang perlu diundang dalam pertemuan berikut.
Sebagai contoh, Brigjen Pol (Purn) Jusuf Huseinsaputra,
beliau terlibat sejak persiapan, pelaksanaan
dan dampak PRRI.
Sementara saya terlibat dalam dampak PRRI sampai
dengan peristiwa G30S.
Dalam dialog dengan dengan Pak Jusuf H, ada kesamaan
visi, bahwa kami hanya bercrita tentang apa yang kami alami
dan apa yang kami perbuat.
Generasi sekaranglah yang menilai, apa perbuatan kami
sebagai "orang luar" menambah keruhnya situasi pada
waktu itu, atau punya andil dalam merajut keutuhan NKRI.
Wassalam, Jacky Mardono (L-76).
Vila CInere Mas, Ciputat-Tangerang.
|
Kurnia manulih:
"Bali produksi dlm negeri walau mau dan buruak"
St.P manyalo:
Urang awak nan jadi pendobrak alah lamo dikatahui, malah dimanfaatkan, tamasuak di organisasi pak Saaf. Sudah babungo dan babuah dimanfaatkan urang.
Baa mangko baitu, rang awak bangga jo prestasi nan dicapaino. Jadilah dia orang paling pintar, paling berprestasi, dan paling lainnya. Sehingga dia meroket sendirian, tak perlu orang lain, tak perlu saudara, tak perlu urang awak. Takano lo nan mbo tarok di footer milist Gebu Minang sasudah Munas Sawahlunto no dulu: "Urang awak bisa samo bakarajo, tapi indak bisa bakarajo samo. Tabuktilo gerbong Gebu Minang nan gapuak dg pengurus 200 urang labiah, indak bisa jalan. Malah alun pernah rapek seluruh pengurus. Eh tabelok.
Kini baa jikok awak batanyo karumpuik nan bagoyang, cubo caliak camin, cubo mancaliak kabulakang. Tarutamo awak nan bisa malejit. Apokoh awak lai mangana pasan rang Gaek, pasan mak Ngah: elo maelo.
Tanyo kadiri surang, alah bara urang awak nan dibao sato manikmati kue prestasi nan awak capai. Dalam manajemen seorang manager dianggap berhasil bila dia berhasil menciptakan penggantinya.
Kini alah bara uranga awak (selain anak) nan sata berprestasi dibidang nan awak pacik?
Sia nan namuah manjkadi contoh untuak iko, rancaklah dikatangahlkan. Rancaklah dipuji jo diaguangkan. Diimbauan ditangah medan nan bapaneh.
Baa jikok program elo maeloko awak jadi ciek program, diagiah medali nan alah banyak manfotokopi diri.
Nan nampak diambo nan banyak malakukan adolah pedagang K5 nan berhasil mancetak banyak K5 nan lain. Juo pengusaha restoran. Siapo lai.
Maaf jan dikecekan pulo mangipik daun kunyik ndak. Ambo barasa dari kaki gunuang Marapi Canduang, tapasah bakacimpuang dilauik. Alhamdulillah dapek salah surang nan mandapek MPB1 diumua termuda (30th). Dan rang Canduang patamu nan jadi lurah diateh ikan basi.
Dek ambo maraso nan samudra ko lamak juo diarungi, mako mbo cubo program elo maelo cako. Alhamdulillah alah punyo junior 3 urang Canduang nan jadi lurah. Dan ado duo calon lurah. Dan labiah 25 urang Canduanmg nan sato bakacimpuang dilauik.
Tabayang ndak, jikok satiok awak nan lai bisa malejit, bisa mambulka jalan ka junior rang awak untuak sato malejit niscaya rang awa akan banyak nan bisa malejit. Jikok alah banyak rang awak mako posisi awak akan aman dan langgeng.
Berbuatlah rela mambantu urang lain, pasti dari anda akan dibantu oleh tangan tuhan.
Bah orang Batak bisa, kenapa rang Minang ndak bisa. Awak pasti bisa. Si Minang pasti bisa. Pasti bisa. Ayo sia nan bisa berteriak "ambo pasti bisa". Muloilah program elo maelo, kalau bisa surang awak maelo 3 urang (salain anak).
Eeeeeelllllloooooooo
Elo eh salah
Salam
St. P
"Ndeh maaf nak mudo, ambo yo latiah bana. Bia lah ambo lap jo sapu tangan ko ha."
"Jan lain, bialah," kecek abak wakko, nan sabananyo ndak kanai liua gae doh.
Akhir-akhirnyo maota-maota, ruponyo gaek ko tukang ubek di pasa pusat Pakanbaru. Patuiklah ado tas echolac nan dikapik-kapiknyo.
"Patuiklah raso-raso panah basuo," kecek abakko dalam hati.
Jadilah bacaritonyo tantang macam-macam urang nan lah cegak diubeki nyo. Ado nan dek kurok manaun, dek kuhua, dek biriang, si jundai, pendeknyo sagalo macam panyakik. Pokoknyo otanyo ndak putuih-putuih tentang kahebatan baliau.
Mato abak lah mangantuak, gaek ko taruih se maota. "Baalah caro maantikannyo," abak yo bapikia kareh. Inyo paling maleh kalau urang lah "ma nden".
"Anak mudo ka kama koo?" keceknyo.
"Ambo ka kampuang Mak, sajak parang alun tacaliak lai"
"Aa dima tu?" Suasanalah mulai caia.
"Di mudiak, Koto Tinggi, ado nan sakik lo Mak"
"Aa sakiknyo," keceknyo basumangaik sambia mamuta pingguanyo ka arah abak wak. Deknyo jago lalok, yo haonyo agak taraso saketek kecek abak.
"Agiah tau lah ambo, ndak ado sakik nan dak bisa diubeki"
"Sakik lah bataun Mak"
"Iyo ndak baa doh, aa tu?"
"Langiah dari ketek Mak"
"Oii rang mudo bagarah mah, tu ndak sakik namonyo tu doh"
Oto baranti, "makan..makan.. Nan ka sumbayang sumbayang..," pakiak stokar.
Lah di Lubuak Bangku ruponyo kecek abak maninggaan gaek tu.
Banyak maaf...
Wassalam,
ZulTan,
L, 49+, Bogor
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
| Assalammualaikum WR WB bapak Saaf Yth Menurut hanifah, paralu. Bagi bapak mungkin prinsipnya MEMAAFKAN TAPI TIDAK DILUPAKAN Tapi menurut para korban kemungkinan akan berkata MELUPAKAN TAPI TIDAK MEMAAFKAN Mungkin YKRN bisa menindaklanjuti kegiatan ini nantinya. Kami kaum muda bukan kaum yang trauma, bukan pula kaum yang cengeng yang terlena pada kejayaan masa lalu. Kami adalah kaum yang sipa berkompetisi di bidang kami masing-masing. Kami ingat-ingat saja pesan orang tua kami " seorang pemuda tidak akan berkata anak siapa dia, tapi akan berkata siapa dia " Peluang untuk berkompetisi secara sehat sepertinya sudah mulai muncul lagi, di tandai dengan kepercayaan SBY kepada putra minang untuk membantunya memimpin negara. Oh ya bapak Saaf Sekarang hanifah semakin mengerti kenapa bapak risau dengan budaya Minang. Sebagai orang yang besar di stasiun, tentu kehidupan yang bapak jalani sangat keras, di lingkungan yang keras. Pergaulan di tentara tampaknya juga sangat keras ... lihat saja di tipi bagaimana senior mempertlakukan yuniornya. Trus ketika kembali ke ranah sebagai tentara ... bapak bermitra dengan PKI, musuh dari musuh ... Yah wajarlah.... bapak tidak merasakan betapa indahnya budaya Minang sebenarnya, yang dirasakan sebagian besar penduduk yang berada diperkampungan. Dulu dikampung ABSSBK berjalan dengan indah di Banuhampu, entahlah kalau sekarang. Mohon maaf kalau tidak berkenan Wass Hanifgah --- On Wed, 2/17/10, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote: |
salamo ko ambo ambo berpatokan, asal murah, ndak peduli
soal kualitas.
kini ko ajakan sanak ambo ko, walau mahal dan rendah kualitasnyo.
iyo sabana dalam bagi ambo, antah bagi nan dunsanak lain.
disiko ado pengorbanan 2 kali bagi sipembeli.
TAPI demi kehidupan dan perlindungan kapado banso sendiri dan generasi
selanjutnyo, iko sabana tapek dan itu paralu komitmen tinggi.
hebat ide ko. salut ambo ka sanak ambo Kurnia ko.
insyaALLAH akan ambo turuti ajakan ko.
ambo akan pinjam dan lewakan ka kawan2 disiko semboyan/ide ko,
tolong bari izin.
wassalam
boes
Kurnia Chalik wrote:
>>
> Jawabannya:
>
>
>
>
> *1. Memimpin adalah pengabdian bukan mencari kekayaan.* **
>
> *2. Beli dan pakailah produk dalam negeri walaupun mahal dan kualitasnya
> rendah*
Assalamualaikum w.w. Sanak Zulkarnain Kahar dan pasa sanak sa palanta, Sungguh, setelah 44 tahun 'berminang-minang' (ini istilah Prof Fasli Jalal sewaktu beliau menjadi Ketua Umum Gebu Minang dahulu) saya akhirnya juga sampai pada kesimpulan yang sama dengan Sanak, yaitu : apakah memang ada yang dinamakan 'orang Minang'' itu ? Apakah kita ini -- seperti halnya dengan orang Arab -- hanya kumpulan warga suatu suku/kabilah, dan hanya secara kebetulan secara kolektif punya bahasa dan adat yang kurang lebih sama, dan tanpa suatu struktur yang bisa menyatukan kita untuk merancang dan mewujudkan suatu cita-cita bersama, kalau ada ? Saya merumuskan gejala yang Sanak tengarai ini sebagai Minangkabau yang 'terfragmentasi' dan Minangkabau yang merupakan suatu 'low trust society'. Rasanya tidak ada konsep lain yang bisa menerangkan mengapa demikian sulit untuk mengajak kita orang Minang untuk membuat program atau kegiatan bersama. Rumusan Sanak bahwa 'kita bukan sapulidi, kita lebih memilih jadi tiang-tiang sendiri" merangkum dengan baik sekali seluruh kepribadian kita sebagai orang Minang. Capt. Darul Makmur merumuskannya sebagai berikut: 'kita bisa sama-sama bekerja, tetapi tidak bisa bekerja sama". Secara harfiah rumusannya berbeda, tetapi intinya sama. Baru-baru ini pak Mochtar Naim menambah pensifatan ini dengan menyatakan bahwa kita orang Minang adalah orang yang 'melankolik', orang yang suka 'baibo-ibo', yang dalam pandangan saya hanya merupakan akibat saja dari keseluruhan akar masalah kita. Menurut penglihatan saya, memang hal itulah satu-satunya konsep yang bisa menerangkan seluruh peristiwa sejarah [yang rasanya bersifat tragis] yang besar-besar yang terkait dengan Minangkabau: sejak dari Gerakan dan Perang Paderi (1803-1838), demikian banyak pemberontakan melawan Belanda, konflik antara Kaum Tuo dan Mudo; PDRI, PRRI, dan jangan lupa: juga kasus tuntutan 'spin off'' Semen Padang, yang lenyap berlalu demikian saja, setelah digerakkan demikian riuh rendah. Hal itu juga yang bisa menerangkan mengapa hampir mustahilnya membentuk 'West Sumatra Tourism Development Board/WSTB" yang saya coba bersama beberapa teman untuk membentuknya beberapa tahun terakhir ini. Lantas apa yang bisa kita perbuat selanjutnya ? Kelihatannya ada dua pilihan: 1) menyerah dan membiarkan saja keadaan tersebut, dan mengatakan : 'yah, memang itulah Minangkabau'; dan 2) mencoba mencari jalan agar kita bukan hanya bisa 'sama-sama bekerja', tetapi juga bisa 'bekerja sama'. Saya memilih yang kedua, walau saya sadar pilihan ini bagaikan kata pepatah : 'coba-coba menanam mumbang'. Bisa berhasil dan bisa -- amat bisa -- tidak berhasil. Secara rohaniah, saya sangat termotivasi oleh Surah Al Hujurah yang mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya. Secara pribadi saya teringat pada ajaran agama, bahwa suatu amal yang didorong oleh niat baik, jika berhasil dapat dua pahala, dan jika gagal dapat satu pahala. Lumayan. Inilah yang melatar belakangi obsesi saya dalam tahun-tahun terakhir ini untuk mencoba dengan tidak putus-putusnya merumuskan serta menindaklanjuti doktrin ABS SBK, yang secara informal kita percayai sebagai 'jati diti' Minangkabau. Dalam pandangan saya secara pribadi, sungguh heran mengapa semua orang Minang [?] seakan-akan sepakat bahwa ABS SBK adalah 'jati diri' Minangkabau, namun ketika akan dicoba merumuskan secara lebih jernih, lebih konsisten, dan lebih koheren. segera muncul berbagai persyaratan ['conditionalities'] dan keengganan mengenai banyak hal, sehingga tidaklah mudah untuk bersikap 'istiqomah', koheren, dan konsisten. [ Namun hal ini pasti menarik secara intelektual, yang tertarik dengan gejala yang disebut sebagai 'anomali' ini] Syukur Alhamdulillah, setapak demi setapak akhir-akhir ini kelihatannya sudah mulai ada kemajuan. Mungkin belum terlihat nyata, namun beberapa rumusan awal sudah bisa disepakati,minimal di antara pegiat Rantau Net ini. [Di lapangan, keadaannya belum banyak berubah. Saya menemukan kenyataan tersebut sewaktu mencoba mengundang tokoh-tokoh Ranah untuk membentuk sebuah Sekretariat Bersama Penanggulangan Bencana di Sumatera Barat baru-baru ini.Bahkan untuk menghadiri undangan saja, banyak yang enggan. Undangan rapat baru dihadiri setelah saya minta tolong kepada Korem 032 Wirabraja !] Dalam bulan-bulan mendatang, bersama rekan-rekan di Gebu Minang, saya akan terus berusaha agar kita orang Minang tidak hanya bisa menjadi 'tiang-tiang sendiri', tetapi juga bisa jadi 'sapu lidi'. Wahananya adalah Kongres Kebudayaan Minangkabau, Juli atau Agustus mendatang. Apakah mungkin berhasil ? Saya tidak tahu. Bagaimana kalau tidak berhasil ? Itu terserah Allah swt. Beban pada saya -- dan mungkin juga pada kita semua -- adalah berikhtiar. Wallahualambissawab. |
| --- On Wed, 2/17/10, Zulkarnain Kahar <kahar_zu...@yahoo.com> wrote: |
|
|
walau mahal dan kualitas rendah.
disiko ado pengorbanan 2 kali bagi sipembeli
-------------------------------------------------
Ass Wr Wb Pak Boes sarato adi dunsanak kasadonyo,
Alhamdulillah dan terimakasih banyak atas apresiasi Pak Boes.
Silahkan dilewakan ke keluarga,dunsanak dan kawan2 Pak Boes.
Kalau dulu nenek moyang kito berperang pakai senjato dan berani bekorban
nyawa untuk mencapai suatu kemerdekaan karena tidak mau dijajah oleh bangsa
lain.
kini kita berperang dengan pasar bebas & membanjirnya produk2
import,tentunya kita juga harus berani bekorban demi survivenya bangsa kita
dan generasi yang akan datang.Karena hanya bangsa yang berani bekorbanlah
yang akan berani berjuang dan akan survive di muka bumi ini.
Wasalam,
Kurnia Chalik
-----Original Message-----
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of boes
Sent: Thursday, February 18, 2010 5:46 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [SPAM] Re: [SPAM] Re: Urang Minang Pioneer dalam banyak hal : RE:
[R@ntau-Net] Dampak PRRI
wassalam
boes
--
ambo ubah ajakan awalnyo dek kami disiko hanyo
ambo surang nan Minangkabau.
mudah2an ndak keberatan.
wassalam
boes
Kurnia Chalik wrote:
> Quote :
>
> walau mahal dan kualitas rendah.
> disiko ado pengorbanan 2 kali bagi sipembeli
> -------------------------------------------------
>
> Ass Wr Wb Pak Boes sarato adi dunsanak kasadonyo,
>
> Alhamdulillah dan terimakasih banyak atas apresiasi Pak Boes.
> Silahkan dilewakan ke keluarga,dunsanak dan kawan2 Pak Boes.
>
>///
> Wasalam,
> Kurnia Chalik
>
> ///
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Waalaikumsalam ww Inyiak Lako dan para sanak sa palanta, Alhamdulillah dan tarimo kasih ateh pituah Inyiak. Baa juo bareknyo baban, kalau kito pikua basamo -- barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang -- ambo yakin sacaro basiansua akan sampai juo kito ka tujuan, insya Allah. Memang -- saparati ambo tulih -- kini nampak alah mulai ado parubahan. Tapi rasonyo jalan masih panjang nan paralu ditampuah sabalun kito bisa manikmati hasianyo. Karano kito-kito ko alah gaek-gaek, ambo raso paralu bana dipikiakan dan dilaksanakan soal kaderisasi. Btw soal iko kan alah Inyiak singguang juo dalam buku Inyiak, dan alah ambo masuakkan ka dalam Draft 10 Keputusan KKMP. |
| --- On Thu, 2/18/10, inyia...@yahoo.co.id <inyia...@yahoo.co.id> wrote: |
Betul sekali Da Jepe,ambo juo batanyo2 kenapa jeruk impor hargonyo bisa jauh
lebih murah dari jeruk lokal?Padahal kalau pakai hitung2an bisnis
normal,seharusnya lebih mahal karena adanya biaya transportasi antar negara
dan biaya masuknya ke Indonesia juga besar.Tetapi kenapa bisa dijual sangat
murah di pasaran kita,sehingga mengalahkan Jeruk Medan maupun Jeruk
Pontianak?
Kita tidak tahu persis, apakah ada oknum pemerintah yang bermain,ada
prosedur yang dilanggar,ada bea masuk yang tidak dibayar,dsb...dsb..,yang
pasti itu semua jelas di luar kemampuan kontrol kita.
Yang bisa kita kontrol adalah diri kita sendiri disaat kita hendak membeli
jeruk itu.
Maka sebaiknya belilah Jeruk Medan atau jeruk Pontianak,walaupun lebih mahal
dan kulitnya tidak semerah jeruk impor.InsyaAllah, dengan begitu kita
sedikit banyaknya telah ikut menyelamatkan hajat hidup orang banyak,
saudara-saudara kita di Republik yang kita cintai ini,khususnya para Petani
jeruk Medan dan Petani Jeruk Pontianak.
Wasalam,
Kurnia Chalik
Dinda Adek
Wass-Jepe
Sent from my BlackBerryR smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi
Wa’alaikumsalam Pak Adyan sarato adi dunsanak kasadonyo,
| Ass. WW. Kalau di Palu, Sulawesi Tengah, mungkin tamasuak kategori PIONEER pulo Urang gaek dari Minangkabau nan namonyo di bawah iko : Datuak Karamah Penyiar Agama islam Pertama thn 1560-an di Palu, serta datuak Mangaji pada tahun yang sama di Parigi Sulawesi tengah. Rajo Tiangso...Ahli Teknik jalan raya yang bekerja di zaman Pemerintahan Belanda membuka jalan raya Lintas Sulawesi dari Palu- Parigi- Teluk Tomini thn 1920-an (informasi dari anak cucunyo di palu) Anwar Datuak Rangkayo Basa nan Kuniang , Urang Payakumbuah yang menjadi Gubernur Pertama di Sulawesi Tengah thn 1960-an, serta dilanjutkan oleh Munafri (urang wak juo). Drh. Nazri Gayur , adalah pendiri Universitas Tadulako thn 1960-an, Universitas Negeri Kebanggaan Urang Sulawesi Tengah... Ir. Masril Bustami, MSc, Urang Solok yang mendirikan Fakultas Pertanian di Univ. Tadulako, dll........ Kini dek Era Otonomi iyoalah batuka colok''''e....... Wassalam, Ramadanil pitopang Palu-46 tahun --- Pada Rab, 17/2/10, Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com> menulis: |
|
Tanggal: Rabu, 17 Februari, 2010, 1:02 PM |
|
|
|
|
| Tarimo kasih kembali, Inyiak. Kito pasamokanlah karajo barek tapi mulia ko. Disaratoi jo doa sumago Allah swt maagiah kalapangan ka kito sadonyo. Amin. |
Wa’alaikumsalam Pak Ramadanil Pitopang sarato adi dunsanak kasadonyo,
Terimakasih banyak atas informasinya mengenai para pioneer Minang yang ada di Sulawesi Tengah, apalagi Drh. Nazri Gayur sebagai pendiri Universitas Tadulako thn 1960-an, Universitas Negeri Kebanggaan Urang Sulawesi Tengah dan Ir. Masril Bustami, MSc, Urang Solok yang mendirikan Fakultas Pertanian di Univ. Tadulako.
Boleh jadi kualitas beras yang ada di Tadulako sekarang tidak jauh berbeda dengan beras Solok yang terkenal itu,karena pioneer pertanian di sana adalah orang Solok juga.
Tetapi boleh jadi, bukan di Provinsi Sulawesi Tengah saja orang Minang ini jadi pioneer, karena baru2 ini saya bertemu dengan orang Bima (Nusa Tenggara Barat) dan dia memakai kata yang sama untuk sebutan uang yaitu “PITIH” juga.Jangan2 nenek moyangnya orang Bima itu juga berasal dari Minang dahulunya.
Mungkin ada di antara dunsanak di rantau net ini yang tahu sejarahnya?
Wasalam,
Kurnia Cha
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Ramadhanil pitopang
Sent: Thursday, February 18, 2010
11:05 PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: Urang
Minang Pioneer dalam banyak hal : PIONIR DI PALU-SULAWESI TENGAH
| Ass. Dunsanak Kurnia Khalik, Sulawesi Tengah kini Surplus Beras, karena banyak areal transmigrasi spt urang dari Bali, dan Jawa yang berhasil sukses khusunya di Kabupaten Parigi, dan Luwuk Timur. Tingkat kesejahteraan mereka cukup bagus. Mengenai BIMA tu, ambo pernah danga carito, bahwa penyiar agama islam di Bima dulu Juga Datuk-datuk dari Minangkabau ( Datuk nan Batigo penyiar islam di Sulawesi Selatan). Tapi ndak tahulah mungkin sanak di palanta iko banyak nan tahu infonya.... Wassalam, Ramadhanil Palu 46 thn --- Pada Rab, 24/2/10, Kurnia Chalik <kurnia...@inpex.co.jp> menulis: |
|
|
Wa’alaikumsalam Pak Ramadhanil Pitopang sarato adi dunsanak kasadonyo,
Terimakasih banyak sekali lagi atas informasinya.Sekarang kecurigaan saya sedikit banyaknya sudah terjawab,ternyata Datuk2 dari Minangkabau lah penyiar agama Islam di Bima sana dahulunya. Cukup hebat juga ternyata Syiar agama Islam di sana oleh Datuk2 kita zaman dahulu itu dan sekarang sebagai hasilnya Bima sering disebut orang sebagai kota Seribu Masjid,karena begitu banyaknya Masjid di sana.
Wasalam,
Kurnia Chalik