POLISI TAK IZINKAN PENOBATAN GALA RAJO ALAM

83 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
Jul 6, 2015, 3:37:42 AM7/6/15
to RN - Palanta RantauNet

Senin, 06 Juli 2015 02:40

SIMBOL ISTANA MINANGKABAU SISAKAN ‘BARA’

Tahun 2007 lalu, Istano Basa Pagaruyung terbakar. Lalu, tahun 2010 lalu, Istana Silinduang Bulan terbakar pula. Seluruh bangunan simbol kerajaan Minangkabau itu hangus, tak berbekas. Kabarnya, banyak dokumen penting yang tak terselamatkan. Keduanya kini sudah tampil rancak lagi.

Namun, keba­ka­ran itu sepertinya masih me­nyi­sa­kan ‘bara’. Hal itu diperkirakan bisa memicu simbol itu ‘terbakar’ kem­bali.  Bara itu, bukan fisik sebagaimana biasa yang dili­hat secara fisik. Bara yang dimaksud tak menghasilkan api yang menggelora, tapi silang sengketa terkait de­ngan klaim gelar Daulat yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau.

Penobatan gelar raja ter­sebut kepada Muchdan Ta­her Bakrie rencananya akan digelar, Minggu (5/7) di Nagari tuo, Pariangan. Pa­dahal, sebelumnya, nama SM.Taufik Thaib-lah yang menyandang gelar tersebut, Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau. Nama ini, sudah begitu akrab di semua kalangan di Sumbar maupun hingga nasional. Bahkan, ia beberapa kali sudah menobatkan gelar kehormatan kepada banyak tokoh nasional.

Rencana penobatan Much­dan Taher Bakrie seba­gai Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau oleh Tampuak Tangkai oleh Datuk Bandaro Kayo di Pariangan, pada Minggu (5/7), tertunda. Sementara, Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau Sultan Taufiq Thaib, menyatakan penobatan Muchdan Taher Bakrie tidak sah tanpa lim­bago tinggi pucuk adat alam Minangkabau.

Namun, Muchdan punya klaim lain terkait tertun­danya penobatan tersebut. Kepada Haluan, ia menga­takan pelaksanaan peno­batan gelar itu tak mendapat izin dari pihak keamanan, Polres Tanah Datar.

“Agenda adat penobatan yang direncanakan hari ini (kemarin-red) di Pariangan, mendapatkan larangan oleh Polres Tanah Datar. Kami tunda, hal itu karena terjadi kesalahan teknis. Ini kami akui, agenda yang akan di­lak­sanakan yaitu penobatan sedangkan pada izin yang diajukan pada Polres beri­sikan silaturahmi,” sebut Muchdan kepada Haluan, Minggu (5/7) di Wisma Puri Juwita, Lima Kaum.

Dikatakan Muchdan, ke­ha­dirannya di Pagaruyung saat ini merupakan atas panggilan jiwa lantaran ia merupakan keturunan Raja Minangkabau Sultan Alam Bagagarsyah. “Pada tahun 2005 ada seseorang dari Gudam Nagari Pagaruyung yang meminta saya pulang ke Pagaruyung, dia me­nyebutkan saya lah yang seha­rusnya Raja Alam Daulat Yang Pertuan di Pagaruyung, Minang­kabau, beliau juga memberikan ranji saat itu,” sebutnya.

Lalu, setelah kepulangan per­ta­ma pada tahun 2005, Muchdan yang lahir dan besar di Jakarta itu sering kembali pulang ke Paga­ruyung dan daerah lain di Su­matera Barat. Hingga saat ini, ia sering pulang mengunjungi karib-kerabat, kemenakan dan keluarga yang segaris keturunan untuk menjalin silaturahmi.

Muchdan menyebutkan ke­pulangannya ke Minangkabau tersebut berjalan hingga sepuluh tahun. Sepanjang waktu itu, tiga tahun dari awal berkunjung hingga 2008 dirinya dekat dengan Daulat Yang Dipertuan, Sultan Taufiq Thaib, namun setelah itu terjadi berbagai hal yang membuat diri­nya renggang.

“Selama ini orang tua saya tidak pernah kasih tahu bahwa saya pewaris kerajaan ini, mung­kin saja ayah saya berprinsip lantaran dalam kehidupan mo­dern di Jakarta saat itu, tidak melirik keberadaan kerajaan di Pagaruyung tersebut, lalu setelah saya ke Pagaruyung pertama kali itu, berikutnya keinginan selalu pulang ke sini, dan ini berjalan dengan sendirinya sedemikian lama untuk bertemu dengan keluarga dan kemenakan saya, hingga banyak orang memanggil saya Sultan dan hingga rencana akan dilakukan penobatan,” sebut Muchdan menyampaikan per­jalanannya di Ranah Minang.

Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Pagaruyung, Minangkabau SM. Taufik Thaib menanggapi hal tersebut, mengatakan bahwa pe­no­batan Muchdan tersebut tidak sesuai menurut aturan adat Mi­nang­kabau dan sudah seharusnya dibatalkan. “Itu karena Dt Ban­daro Kayo yang akan melakukan penobatan itu tidak berhak untuk memproses pengangkatan Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Paga­ruyung, Minangkabau, Rajo Adat Buo dan atau Rajo Ibadat Sumpur Kudus.

Kewenangan itu, kata Taufik karena kewenangan ini berada di tangan Basa Ampek Balai, Rajo Tigo Selo, Langgam nan Tujuah, Tanjuang nan Ampek, Lubuak nan Tigo, Karabat Istana Silinduang bulan, raja-raja sapiah balahan kuduang karatan kapak radai timbang pacahan dari Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Mi­nang­kabau serta Datuak-datuak nan tujuah di Pagaruyung dan Datuak-datuak istano Silinduang Bulan,” sebut Taufiq Thaib.

Dikatakannya, jika pun raja-raja sapiah balahan datang mela­kukan ritual adat bersama Much­dan akan tidak berlaku lantaran tidak diundang oleh basa ampek balai dan tidak dilakukan di Istano Silinduang Bulan dan hal tersebut akan dapat dilakukan apabila, pertama jika terdapat kekosongan Raja Alam Minang­kabau Pagaruyung, Raja Adat Buo dan Raja Ibadat Sumpur Kudus, selanjutnya basa ampek balai mengadakan musyawarah untuk meminta kepada kaum ahli waris Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau atau ahli waris raja adat dan raja ibadat.

Selanjutnya atas permintaan basa ampek balai tersebut diki­rim­kan nama-nama ahli waris yang telah dimusyawarahkan, mengundang limbago tinggi pu­cuak adat untuk musyawarah dan mengeluarkan fatwa sakato alam untuk metetapkan sebagai yang Dipertuan Raja Alam Minang­kabau beserta timbalannya dan atau raja adat Buo dan raja ibadat Sumpur Kudus, sebut Taufiq Thaib. (*)

 

Laporan: 
FERI MAULANA

--

Wassalam

Nofend St. Mudo
38th+/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

Muchwardi Muchtar

unread,
Jul 7, 2015, 5:41:13 PM7/7/15
to rant...@googlegroups.com
Karena saya semenjak 26 Oktober 1970 (tamat SLP) sudah merantau ke Jakarta, dan sampai hari ini --alhmadulillah---ada sehat wal afiat selalu, izinkanlah saya bertanya guna mampakayo pangatahuan saputa "dinasti kerajaan pagaruyuang".

Apakoh urang nan buliah disabuik katurunan rajo pagaruyuang tu dilek dari sia ayah-inyiak-ayah dari inyiak-inyiak dari inyiaknyo, ataukah diliek dari sia induaknyo-induak dari induaknyo-sampai ka ateh sia nenek/iyak/anduang dari nenek/iyak/anduangnyo?

Tarimo kasih buek Dunsanak nan ka mambarikan panjanihan (asa kato : pencerahan) buek ambo (kami?) nan sabana awam soal adiak turunan di Minangkabau.

Salam......................................,
😀

mm***
Lk-2; >60 th; Bks.

asa :  Agam, SumBar
suku : Koto Dtk Tumangguang
gala : Rangkayo Kaciak
bini :  gadih Lubuakbasuang
karajo : pensiunan BUMN

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+...@googlegroups.com.
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Sjamsir Sjarif

unread,
Jul 7, 2015, 9:33:04 PM7/7/15
to rant...@googlegroups.com
Tanyo nan rancak tu Angku mmm*,
Apokoh rajo Minangkabau tu turun-tamurun dari Mamak ka Kamanakan (matrilineal) atau dari Bapak ka Anak (patrilineal).

Karano indak ado silsilah nan jaleh sia-sia Rajo Minangkabau di Pagaruyuang tu, kini takana di ambo Studi-Tur kami dari SGA Payakumbuh keliling Sumatera Barat 1953. Waktu kami sampai naik Ustano Radjo di Pagaruyung tu, Ustano Rajo tu alah buruak sarupo indak tapaliharo. Atok ijuaknyo lah ditumbuahi daun paku takulai-kulai. Pakarangannyo alah basamak-samak indak dapek dipanggakkan. Indak impressif doh sabagai bayangan Istana nan dibayangkan.

Waktu kami sampai naiak Ustano Rajo tu, di tangah rumah, cahayo rumah agak takalam-kalam, situasi hiasan parabotnyo pun indak teratur. Tampak di kami ado duduak tamanuang-manuang mancaliak kami, Saurang Padusi nan waktu itu disabuik Katurunan Rajo.

Masih tangiang-ngiang kecek, komentar, dan tanyo sambia tacongang-congang salah saurang kawan padusi kami...
"Eeee... Iko Radjo Awak eeeh? Baa mangko bantuak Urang Muno tu ...?"

Masih takana kalimat kawan Makngah tu sampai kini alah labiah 60 tahun, sabab waktu itu baru partamu kali kenal dan mandanga kenal isitilah "Muno" dan baa batuaknyo "Urang Muno" tu....

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif

Ilham Mustafa

unread,
Jul 8, 2015, 9:21:35 AM7/8/15
to rant...@googlegroups.com
Solusiny apo tu dunsnak? :)
--
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages