HARTA PUSAKA TINGGI

341 views
Skip to first unread message

azhari qa

unread,
Mar 10, 2008, 5:34:24 AM3/10/08
to Rant...@googlegroups.com
Mambaco file diskusi di rantaunet sabalunnyo tantang harato pusako tinggi, tagarak ambo manulih masalah tu.. Mudah-mudahan ado gunonyo untuak kito sadonyo.
 
Azhari (45 th)
Jakarta
 
HARTA PUSAKA TINGGI
Oleh: Azhari
 
 
Dalam adat Minang harta pusaka terdiri dari 2 macam: 1) Harta pusaka tinggi dan 2) Harta pusaka rendah. Harta pusaka tinggi diwariskan secara turun-temurun kepada satu kaum, sedangkan harta pusaka rendah merupakan hasil pencaharian seseorang dan diwariskan menurut hukum Islam (faraidh). Jadi, kita tidak akan bahas harta pusaka rendah disini karena sudah sesuai dengan hukum waris Islam (faraidh).
 
Terlihat ada kegamangan orang Minang disini, satu sisi mengaku tunduk pada syara’ tetapi di sisi lain tidak menggunakan hukum waris Islam (faraidh) dalam hal harta pusaka tinggi.
 
Ulama Minang yang paling keras menentang pengaturan harta pusaka tinggi yang tidak mengikuti hukum waris Islam adalah Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mekah, Syaikh Thahir Jalaluddin di Perak Malaysia dan KH Agus Salim.Lihat 4, hal 23 Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, imam dan khatib Masjidil Haram Mekah,  menyatakan bahwa harta pusaka tinggi termasuk harta syubhat sehingga haram untuk dimanfaatkan. Beliau konsisten dengan pendapatnya itu dan tidak mau kembali kekampungnya,  Beliau meninggal di Mekah tahun 1916.Lihat 4, hal 103 Hanya murid-murid Beliau yang pulang ke kampung halaman dan menyebarkan Islam, seperti: Syaikh M. Jamil Jambek, DR. Abdul Karim Amrullah (Bapak Buya Hamka), DR. Abdullah Ahmad, Syaikh Jamil Jaho, KH. Ahmad Dahlan dan lain-lain.
 
Sementara para pahlawan Perang Paderi yang di kenal keras merubah adat Minang yang bertentangan dengan Islam tidak mengusik masalah harta pusaka tinggi, Beliau antara lain H. Miskin, H. Abdurrahman Piabang, Tuanku Lintau, Tuanku Nan Renceh dan lain-lain. Syaikh Abdulkarim Amrullah (Bapak Buya Hamka) mengambil jalan tengah dengan memfatwakan bahwa harta pusaka tinggi termasuk kategori wakaf.Lihat 4, hal 103
 
Harta Pusaka Tinggi
 
Harta pusaka tinggi adalah harta milik seluruh anggota kaum dan diperoleh secara turun temurun melalui jalur wanita (padusi).Lihat 3, hal 5 Biasanya harta ini berupa rumah, sawah, ladang, kolam dan hutan. Harta pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan dan hanya boleh digadaikan. Anggota kaum memiliki hak pakai dan biasanya di kelola oleh Mamak Kepala Waris (Angku).
 
Hak pakai dari harta pusaka tinggi ini antara lain: hak membuka tanah, memungut hasil, mendirikan rumah dan hak menggembala. Jika berupa air (tabek) maka hak pakainya adalah memanfaatkan air dan menangkap ikan.Lihat 3, hal 23
 
Disamping harta pusaka tinggi, masih ada harta pusaka lain yang dimiliki oleh masyarakat Minang, seperti: tanah ulayat nagari dan tanah ulayat suku, tetapi status tanah seperti ini sudah punah dan jarang ditemukan di Minang karena perkembangan penduduk dan sosial ekonomi.Lihat 3, hal 5
 
Harta pusaka tinggi tidak boleh di jual dan hanya boleh digadaikan. Menggadaikan harta pusaka tinggi hanya dapat dilakukan setelah dimusyawarahkan diantara petinggi kaum, diutamakan digadaikan kepada suku yang sama tetapi dapat juga digadaikan kepada suku lain.
 
Tergadainya harta pusaka tinggi karena 4 hal:
 
1.  Gadih gadang indak balaki (perawan tua yang tak bersuami)
Jika tidak ada biaya untuk mengawinkan anak wanita, sementara umurnya sudah telat.
2.  Mayik tabujua di ateh rumah (mayat terbujur di atas rumah)
Jika tidak ada biaya untuk mengurus jenazah yang harus segera dikuburkan.
3.  Rumah gadang katirisan (rumah besar bocor)
Jika tidak ada biaya untuk renovasi rumah, sementara rumah sudah rusak dan lapuk sehingga tidak layak huni.
4.  Mambangkik batang tarandam (membongkar kayu yang terendam)
Jika tidak ada biaya untuk pesta pengangkatan Penghulu (Datuk) atau biaya untuk menyekolahkan seorang anggota kaum ke tingkat yang lebih tinggi.
 
Klan Wanita
 
Adat Minang mengikuti klan Wanita, artinya mereka menggunakan sistem Matrilineal sehingga nasab (hubungan kekeluargaan) mengikuti jalur ibu.Lihat 1
 
Sistem klan wanita ini dijelaskan dari 4 Tapak Pijakan orang Minang:
 
1.  Ba-nasab pado ibu.
2.  Ba-sandi pado syarak.
3.  Ba-sako ka pusako.
4.  Ba-ulayat ka tanah tinggi /pusako tinggi.Lihat 2
 
Terkait dengan nasab yang mengikuti jalur wanita maka struktur adat juga mengacu kepada jalur wanita: 1) Suku (kumpulan dari beberapa kaum), 2) Kaum (kumpulan dari beberapa jurai), 3) Perut (kumpulan dari beberapa keluarga komunitas seibu), 4) Jurai (kumpulan dari beberapa keluarga inti dari garis ibu yang sama), 5) Keluarga inti (kumpulan ibu dan anak, tidak termasuk ayah).Lihat 1; juga 4, hal 23
 
Jika kaum ini semakin besar dan keluarga dari kaum tersebut makin berkembang maka kumpulan dari beberapa kaum ini bisa membentuk sebuah suku dan mengangkat seorang Datuk sebagai pemimpinnya.
 
“Anduang” adalah nenek tertua dari kaum. “Angku” adalah saudara laki-laki tertua dari nenek, sedangkan paman adalah saudara laki dari ibu. Kumpulan Angku dan Paman ini di sebut “Ninik Mamak”
 
Angku merupakan pemimpin kaum dan mempunyai kewenangan mengelola harta pusaka tinggi. Namun demikian, pemilik asli dari harta pusaka tinggi berada di pihak wanita yang dikepalai oleh Anduang. Anduang pula yang mempunyai kewenangan komersialisasi, menyimpan dan mendistribusikannya harta pusaka tinggi.Lihat 3
 
Sehingga tidak lazim di daerah Minang jika pemilik tanah pusaka menggunakan nama laki-laki, karena pemilik aslinya adalah wanita. Misal: Ini tanah Anduang Rukayah, bukan tanah Sutan Bagindo!
 
Sialnya Laki-laki Minang
 
Laki-laki Minang adalah korban dari sistem matrilineal, dimana nasab anak mengacu kepada Ibu, kepemimpinan di tangan Mamak dan harta pusaka tinggi turun temurun jatuh ke jalur wanita. Sehingga laki-laki Minang paling sial di dunia!, ini bukan sekedar ungkapan tetapi begitulah kenyataannya. Kesialan ini terjadi karena  keteguhan menjalankan adat dan meninggalkan ajaran Islam, “Adat indak lakang jo paneh, indak lapuak jo hujan” (adat tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan).
 
Seperti dijelaskan di atas bahwa sitem matrilineal menjadikan wanita sebagai penguasa penuh atas harta pusaka tinggi. Sistem matrilineal juga menempatkan Angku/Mamak sebagai penguasa di tengah kaumnya.
 
Anak laki-laki dari anggota kaum tidak memiliki hak atas rumah yang ditempatinya karena kepemilikan turun temurun kepada jalur wanita. Ketika anak laki-laki sudah mulai beranjak baligh maka dia harus meninggalkan rumah dan tinggal di surau (mesjid), memalukan bagi anak laki-laki remaja masih tinggal di rumah ibunya. Di surau dia di tempa menjadi mandiri dan sekaligus belajar Islam dari para Buya (ulama).
 
Ketika dewasa dia menikahi seorang wanita dari suku lain maka dia akan tinggal di rumah istrinya, rumah yang merupakan milik anggota suku istrinya dan bukan miliknya. Di tengah suku isterinya dia tidak memiliki kekuatan apapun, kewajiban nafkah ada di tangan Mamak (saudara laki-laki isterinya), bahkan malu seorang isteri meminta nafkah kepada suaminya karena dianggap mamaknya tidak bertanggung jawab. Segala keputusan ada di tangan Mamak, hanya saat menikahkan anaknya saja sang Mamak berunding dengan dirinya. Konsekuensi dari tanggung jawab nafkah di tangan Mamak, laki-laki Minang dengan mudah kawin lagi dengan wanita lain kemudian keluarganya baru  itu dinafkahi lagi oleh sang Mamak. Bisa jadi kerjanya hanya nongkrong di warung kopi, main koa, berburu babi, mengurus perkutut dan mengadu ayam.
 
Ketika laki-laki ini bekerja dan memperoleh kekayaan, jika dia belikan rumah buat isterinya maka harta itu menjadi milik isterinya, jika isterinya meninggal maka dia tidak berhak lagi menempati rumah itu karena rumah dimiliki oleh suku isterinya, sementara sukunya berbeda dengan suku isterinya. Jika rumah dibelikan buat kemenakan yang satu suku dengannya, maka rumah itu juga bukan miliknya karena kepemilikan semua harta jatuh ke tangan wanita, laki-laki Minang tidak berhak menerima warisan menurut adat.Lihat 4, hal 39 Di rumah isteri dia tidak punya hak, di rumah kemenakan tidak punya waris, ketika tua dia terdampar kembali di surau menunggu ajal menjemputnya.
 
Ketika remaja terusir dari rumah ibunya dan tinggal di surau, serta berusaha menghidupi dirinya. Dewasa dan menikah dia tinggal di rumah isterinya, tidak punya wewenang dan tanggung jawab atas keluarganya. Setelah tua terusir lagi dari rumah isterinya dan kembali tinggal di surau. Bahkan Mamak-mamak yang tadinya berkuasa, di hari tuanya akan bernasib sama, padahal dia telah berjasa mengolah harta pusaka tinggi tetapi tidak bisa menikmati hasilnya. Laki-laki Minang hanya sebagai “Kabau pahangkuik abu, gajah palajang bukik” (pekerja keras). Benar-benar sial! Alhamdulillah, adat jahiliyah seperti ini sudah mulai punah.
 
Akibatnya banyak laki-laki Minang memilih merantau dan tidak kembali lagi kekampungnya akibat sistem adat yang tidak adil ini. Sebut saja Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mekah, Syaikh Thahir Jalaluddin di Perak Malaysia, Rajo Bagindo di Sabah dan Serawak Malaysia (Rajo Bagindo juga mengembara hingga ke Mindanao Pilipina dan menurunkan Raja-raja Sulu), Rajo Malewar mendirikan kerajaan di Negeri Sembilan Malaysia dan masih eksis hingga kini, Makhudum Sati yang merantau ke Aceh.Lihat 4, hal 110
 
Pendekatan Hukum Islam
 
Kedatangan agama Islam ke ranah Minang di terima dengan baik oleh tokoh adat, hanya saja dalam masalah harta pusaka tinggi mereka tidak mau mewariskan kepada anaknya karena bertentangan dengan adat.Lihat 4, hal 25 Akhirnya di ambil jalan tengah bahwa harta pusaka rendah (harta pencaharian) dibagi menurut hukum waris Islam (faraidh) dan harta pusaka tinggi ditetapkan sebagai Wakaf Ahli (zurri). Tetapi betulkah pendekatan seperti ini, cukupkah syarat harta tersebut ditetapkan sebagai Wakaf Ahli?
 
Perpindahan harta dari satu pihak ke pihak lain menurut Islam antara lain karena sedekah, jual beli, barter dan waris. Wakaf bisa dimasukkan dalam kategori sedekah.
 
Wakaf terdiri dari: wakaf umum, khusus dan ahli. Harta pusaka tinggi sendiri termasuk wakaf ahli, yakni wakaf dimana si pewakaf menentukan penggunaan harta untuk keluarga dan keturunannya (dalam hal ini hanya melalui jalur wanita).Lihat 3, hal 39
 
Syarat wakaf adalah adanya waqif (pewakaf), nadzir (yang menerima wakaf), mauquf (benda yang diwakafkan), sighat (ikrar wakaf), tujuan peruntukan wakaf dan jangka waktu wakaf.Lihat 5, hal 642 Sighat (ikrar wakaf) harus dilafadzkan ketika menyerahkan wakaf kepada nadzir dan disaksikan oleh 2 orang saksi.
 
Kritik Terhadap Adat
 
Nasab
Aplikasi dari sistem matrilineal ini adalah nasab si anak mengikuti nasab ibunya, suku anak sesuai dengan suku ibunya, bukan bapaknya. Hal ini jelas bertentangan dengan Islam, karena menurut Islam nasab seorang anak berdasarkan bapaknya.
 
Siapa saja yang mengaku-ngaku (sebagai anak) kepada orang yang bukan bapaknya, padahal dia tahu bahwa orang itu bukan  bapaknya, maka syurga baginya haram (HR Ibnu Majah).
 
Seorang yang bernama Syamsuar Koto maka dia masih bernasab kepada ibunya karena dia menggunakan suku Ibunya (Koto) di belakang namanya. Jika Bapaknya bernama Nazaruddin maka namanya yang benar menurun Islam adalah Syamsuar bin Nazaruddin.
 
Sehingga kita temukan nama-nama Islam, seperti: Muhammad bin Abdullah, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan lain-lain. Ketika anak angkat Rasulullah saw yang bernama Zaid dinasabkan kepada Rasulullah saw dan di beri nama Zaid bin Muhammad, Rasulullah saw di tegur oleh Allah swt melalui surah Al-Ahzab ayat 5 dan dinasabkan kembali kepada Bapaknya menjadi Zaid bin Haritsah.Lihat 6, hal 827
 
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka (Al-Ahzab 5).
 
Wakaf
Harta pusaka tinggi boleh saja diwakafkan kepada ahli waris dan keluarga tertentu saja, misal: hanya kepada wanita.Lihat 5, hal 643
 
Jika harta pusaka tinggi ini mau ditetapkan hukumnya sebagai wakaf maka syarat wakaf harus dipenuhi, yakni Lafadz sighat (ikrar wakaf) ketika diserahkan kepada Nadzir.
 
Lantas apakah syarat wakaf telah dipenuhi ketika harta pusaka tinggi berubah statusnya menjadi wakaf?. Jika belum, maka tentu saja harta tersebut masih syubhat seperti difatwakan oleh Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
 
Kesimpulan
 
Tujuan pengaturan adat Minang terhadap harta pusaka tinggi bertujuan baik yakni agar keluarga besar kaum tidak melarat dan mempunyai bekal ketika ahli waris meninggal, “Ganggam Bauntuak, Hiduik Bapangadok” Juga, untuk membentengi tanah-tanah Minang dari penguasaan orang-orang dari luar Minang. Tetapi tujuan baik ini (maslahat) jangan sampaikan mengabaikan syara’ (syari’at) yang menjadi landasan adat Minang.
 
Indak ado kusuik nan tak salasai, indak ado karuah nan tak janiah (tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan). Tapi penyelesaian masalah (kusuik) tetap harus mengacu kepada syara’, jika ada syara’ yang tidak terpenuhi maka harus disempurnakan agar sesuai dengan hukum syara’.
 
Jika di rasa bahwa ada hukum Islam yang belum dipenuhi dalam masalah harta pusaka tinggi ini, maka adat harus mengikuti syara’ karena posisi syara’ lebih tinggi daripada adat (adat basandi syara’). Adat bukanlah suatu yang sakral dan bisa saja di ubah jika memang kondisinya menghendaki, “Sakali aia gadang, sakali tapian barubah” (sekali air besar, sekali tepian berubah).
 
Wallahua’lam
 
Sumber bacaan:
 
1.  http://my.opera.com/: Menanti Badai Sawit Reda; Kisah Kelam dari Lubuak Pudiang.
3.  Hubungan Tanah Adat dengan Hukum Agraria di Minangkabau, Sajuti Thalib, Bina Aksara, cetakan I, Oktober 1985.
4.  Islam dan Adat Minangkabau, Hamka, Pustaka Panjimas, cetakan II, Agustus 1985.
5.  Pedoman Hidup Muslim, Abu Bakar Jabir al-Jaziri, Pustaka Litera Antar Nusa, cetakan I, 1996.
6.  Tafsir Ibnu Katsir, Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Gema Insani Press, cetakan V, Januari 2003.
 
 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

hambociek

unread,
Mar 11, 2008, 9:56:41 AM3/11/08
to Rant...@googlegroups.com
Maa Angku Azhari sarato Rang Lapau nan Basamo,

Cucuapaparan nan rancak, jaleh, dapek dikunyah dek Rang Banyak,
dapek dipikiakan dek Nan Ahli.

Kok buliah ado catatan jo tanyo dari ambo saketek.
1. Ambo kutip, "Anduang" adalah nenek tertua dari kaum. "Angku"

adalah saudara laki-laki tertua dari nenek, sedangkan paman adalah
saudara laki dari ibu. Kumpulan Angku dan Paman ini di sebut "Ninik

Mamak".

Rasonyo istilah "paman" ko bukanlah Caro Awak, tapi Melayu,
Indonesia. Istilah CaroAwak nan dipakai untuak "saudara laki-laki
dari ibu" adolah "Mamak". Adat Minangkabau adolah Adat "Mamak-
Kamanakan" indak samo jo pemakaian kato Melayu, Indonesia dalam
dyad "paman-keponakan".

Istilah "Anduang" dan "Angku" funksinyo jaleh di siko, tapi istilah
tu babeda atau ado variasinyo di lain-lain nagari. Kok dapek
dijalehkan di nagari maa istilah "Anduang" dan "Angku" ko digunokan
sabagai latar bulakang artikel ko.

2. Lah acok kato "nasab" digunokan di Lapau ko. Tapi ambo kurang
jaleh bana, kok buliah ado nan kamanarangkan apo sabananyo arati
kato "nasab" tu?

3. Dalam referensi tasabuik namo Sajuti Thalib, apokoh baliau ko
Dosen Fakultas Hukum Unand dahulu?

4. Satantangan untuang parasaian laki-laki Minang ado duo pandapek
manuruik garah kami saisuak; memang dari satu segi inyo indak punyo
rumah, tapi dicaliak dari suduik lain inyo barumah duo, rumah mandeh
jo rumah bini... :)

5. Ambo raso Angku Saaf dapek pulo mamasuakkan cucuapaparan Angku
Azhari ko ka Dim baliau.

Sakitulah dahulu dari ambo, tarimo kasih.
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In Rant...@yahoogroups.com, azhari qa <azhari_qa@...> wrote:
>
> Mambaco file diskusi di rantaunet sabalunnyo tantang harato pusako
tinggi, tagarak ambo manulih masalah tu.. Mudah-mudahan ado gunonyo
untuak kito sadonyo.
>
> Azhari (45 th)
> Jakarta
>
> HARTA PUSAKA TINGGI
> Oleh: Azhari
>

> http://mafahim-azhari.blogspot.com/

Ahmad Ridha

unread,
Mar 11, 2008, 10:14:11 AM3/11/08
to Rant...@googlegroups.com
2008/3/11 hambociek <hamb...@yahoo.com>:

> 2. Lah acok kato "nasab" digunokan di Lapau ko. Tapi ambo kurang
> jaleh bana, kok buliah ado nan kamanarangkan apo sabananyo arati
> kato "nasab" tu?
>

Saya juga ingin bertanya masalah suku. Jika seorang laki-laki Minang
menikah dengan perempuan bukan Minang, bagaimanakah posisi anak-anak
mereka dalam adat Minangkabau? Apakah mereka teranggap orang Minang
atau bukan? Dari yang saya pahami selama ini mereka bukan dianggap
orang Minang. Mohon koreksinya jika keliru.

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Derisma ramawir

unread,
Mar 11, 2008, 6:53:19 AM3/11/08
to Rant...@googlegroups.com
fadli koto (25 thn)
web: http://minangdigitalphotography.blogspot.com




Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Mar 11, 2008, 8:10:09 PM3/11/08
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaiakum w.w. Mak Sunguik dan para sanak sa palanta,

Sasuai jo pamintaan Sanak, masalah harato pusako tinggi ko ambo agiah nomor registrasi DIM 36. Sabana sero wacana manganai adaik kito dalam RantauNet ko, saroman mambukak 'kotak Pandora'. Asyik ambo mambaconyo.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+29, Jakarta)
'Taqdir di tangan Allah, Nasib di tangan Manusia'
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi'
''Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya'
'Mari berlomba berbuat kebaikan'
'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'.
'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya'
'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'


--- On Tue, 3/11/08, hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote:

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 11, 2008, 10:17:45 PM3/11/08
to azhari qa, Rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum Uda Azhari.

 

Wakatu manikah ambo dulu, bunyinyo “Saya nikahkan, fulin bin fulan (lain ndak binti do)” ba’a manuruik uda?

Iko adat nikah di kampuang ambo Muaro Labuah jo urang Rumah dari koto Marapak?

 

Apokah dengan menyebut iko, kito secarao Islam indak ba mahzab ka ayah sebagai darah dagiangnyo?

Dan nan manikahkan, sadoalahyo pasti nan batalian darah.

 

Patalian darah biaso disabuik untuak Bapak, saudara laki2 bapak, Ayah dr bapak, dan seterusnya sesuai ketentuan.

 

Anduang, (jadi taingek anduang ambo nan bungkuak) sangek banyak dipakai di daerah ambo (anduang lawannyo gaek)

Disampiang anduang, ado juo kami ba uwak, nan ba nenek kalau lah iduik dikota stek, hehe..

 

Salam.

 


From: azhari qa [mailto:azha...@yahoo.com]
Sent: 12 Maret 2008 8:56
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Re: HARTA PUSAKA TINGGI

 

Assalamu'alaikum w,

1. Tarimo kasi mak Ngah alah dipelok-i kato nan tapek, sarancaknyo mamak, bukan paman.

Istilah Anduang jo Angku ko ado di Bukittinggi, urang rumah ambo urang Pasisia ado juo istilah ko.

 

2. Nasab dari bahaso Arab, istilah awaknyo "katurunan" Manuruik Islam awak maangkek anak tatap anak tu banasab ka apaknyo, sarupo latar balakang (asbabun nuzul) turunnyo ayaik al-Ahzab 5. Samantang itu kalo awak maangkek anak, katiko inyo alah baraka wajib di agiah tau siapa orang gaeknyo, supayo jan sampai kawin inyo jo mahramnyo atau jaleh hak warisnyo.

 

3. Pak Sajuti ko ambo ndak tau mak.

 

4. Rumahnya duo tapi indak ado nan inyo punyo :)

 

Wassalam ww,

azhari (45 th)

Jkt


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.518 / Virus Database: 269.21.7/1324 - Release Date: 10/03/2008 19:27

azhari qa

unread,
Mar 11, 2008, 9:56:06 PM3/11/08
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum w,
1. Tarimo kasi mak Ngah alah dipelok-i kato nan tapek, sarancaknyo mamak, bukan paman.
Istilah Anduang jo Angku ko ado di Bukittinggi, urang rumah ambo urang Pasisia ado juo istilah ko.
 
2. Nasab dari bahaso Arab, istilah awaknyo "katurunan" Manuruik Islam awak maangkek anak tatap anak tu banasab ka apaknyo, sarupo latar balakang (asbabun nuzul) turunnyo ayaik al-Ahzab 5. Samantang itu kalo awak maangkek anak, katiko inyo alah baraka wajib di agiah tau siapa orang gaeknyo, supayo jan sampai kawin inyo jo mahramnyo atau jaleh hak warisnyo.
 
3. Pak Sajuti ko ambo ndak tau mak.
 
4. Rumahnya duo tapi indak ado nan inyo punyo :)
 
Wassalam ww,
azhari (45 th)
Jkt

hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote:

Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Bandaro Labiah

unread,
Mar 12, 2008, 11:12:07 PM3/12/08
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaykum w.w.
 
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim sarato sidang palanta
 
dek tanyo talewa ka nan rami, sato pulo manjawek atau manambahkan, untuang kok lai didalam barih nan tapahek.

apobilo surang laki-laki Minangkabau manikah jo padusi nan bukan Minangkabau, mako anak nan lahia adolah "anak urang Minangkabau", tapi bukan "urang Minangkabau"
 
baa dek baitu ???,
sapanjang pangatahuan dan pamahaman ambo, syarat sebagai urang Minangkabau tu (minimal, karano ado nan manyabuik syarat lain barupo pandam  pakuburan dll) ado duo, yaitu ba"suku" dan ba"ugamo" Islam
 
Didalam "daerah" Minangkabau ado urang lain nan baugamo Islam, tapi indak punyo suku, mako inyo alun bisa disabuk sebagai urang Minangkabau
Baitu pulo, apobilo samulo urang Minangkabau (tantu no muslim) kalua dari ugamo Islam, mako urang nantun l;ah tamasuak pulo bukan urang Minangkabau li
 
Satantangan "lapeh kalua" tu, indak di pabiakan sajo doh, adat Minangkabau manyadiokan satu lembaga (jalan upaya) untuak manjadikan "anak urang Minangkabau" tadi tu manjadi urang Minangkabau, namono "Malakok"
disiko lah prosesno "urang nan bukan Minangkabau" bisa manjadi "urang Minangkabau",
 
Proses no baa ??? jawekno adolah
rumah gadang bari bapintu
nak tarang sampai ka dalam
jikok dipalun sabalun kuku
kalau dikambang saleba alam
 
mungkin sakitu nan dapek disampaikan, untuang lai baguno, jikok tasuo di nan bukan, toloang aliah ka nan bana
 
wassalamu'alaykum w.w.
 
Bandaro Labiah

Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:


Saya juga ingin bertanya masalah suku. Jika seorang laki-laki Minang
menikah dengan perempuan bukan Minang, bagaimanakah posisi anak-anak
mereka dalam adat Minangkabau? Apakah mereka teranggap orang Minang
atau bukan? Dari yang saya pahami selama ini mereka bukan dianggap
orang Minang. Mohon koreksinya jika keliru.

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Ahmad Ridha

unread,
Mar 13, 2008, 10:06:03 PM3/13/08
to Rant...@googlegroups.com
2008/3/13 Bandaro Labiah <zhen...@yahoo.com>:
> Assalamu'alaykum w.w.
>

Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

> dek tanyo talewa ka nan rami, sato pulo manjawek atau manambahkan, untuang
> kok lai didalam barih nan tapahek.
>

Tarimo kasih, Mak Bandaro Labiah. Maaf baru tabaco jadi batanyo lo baliak.

> sapanjang pangatahuan dan pamahaman ambo, syarat sebagai urang Minangkabau
> tu (minimal, karano ado nan manyabuik syarat lain barupo pandam pakuburan
> dll) ado duo, yaitu ba"suku" dan ba"ugamo" Islam
>

"Suku"-nyo masuak ka suku bapaknyo, Mak? Apo syarat untuk "basuku" tu?

> mungkin sakitu nan dapek disampaikan, untuang lai baguno, jikok tasuo di nan
> bukan, toloang aliah ka nan bana
>

Alhamdulillah lai baguno, Mak. Jazakallahu khayran.

Dewis...@prima.co.id

unread,
Mar 13, 2008, 10:16:55 PM3/13/08
to Rant...@googlegroups.com

Sanak Ridha,
Ambo cubo pulo manjalehkan saketek nan satahu ambo

Ridha :

"Suku"-nyo masuak ka suku bapaknyo, Mak? Apo syarat untuk "basuku" tu?

Biasonyo nan padusi dilakokkan ka bako awak, jadi suku nan padusi mamakai suku bako, kok syarat bia nan labiah mangarati manjalehkan.


Ridha :
Nah, kok memang keturunan laki-laki Minang tu tetap dianggap orang
Minang, rasonyo beda jo matrineal taka Yahudi Ortodoks nan indak
menganggap keturunan dari pernikahan laki-laki Yahudi perempuan
nonYahudi sebagai orang Yahudi.

Dek itulah kito danga pencerahan buya, sampai ma bana matrilinial di minangkabau, sampai manyalahi syarak ndak!

Salam

Bandaro Labiah

unread,
Mar 17, 2008, 3:07:20 AM3/17/08
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaykum  warahmatullahi wabarakaatuh
 
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
bari mauh pulo, karano talalai pulo ambo mambaleh
 
utang tanyo bajawek, utang gayuang basambuk, baitu adat nan bapakai, untuang lai tajawek di nan bana, kok indak, luluh mintak basilami, anyuk mintabapinteh-i

karano di awak nan babini ka lua suku, mako suku bini (nan bukan urang Minangkabau tu) dilakukokkan ka suku salain suku awak, karano kalau dilakokkan ka suku awa, barati awak alah mampabini dunsanak atau  adiak atau kamanakan surang (manuruk pandangan adat Minangkabau)
 
Nan acok dilakukan urang adolah, malakokkan bini cako (sacaro otomatis lah jo anak nan kalahia bagai tu) ka suku apak awak (bako awak), bararti nan bini cako lah jadi kamanakan di apak awak tu, disiko lah namonyo pulang ka bako, Kuah talenggang ka nasi, nan nasi ka dimakan juo
 
syarat untuak basuku ndak ado doh (nan bisa hanyo urang Islam), nan ado baa caronyo punyo suku
 
carono punyo suku ado duo :
1  partamo karano awak dilahiakan surang induak nan lah punyo lsuku, otomastis awak lah punyo pulo
2. kaduo adolah jo caro "malakok" tu
 
mungkin dituka saketek tanyo, dari apo sayaratno "basuku" manjadi baa carono mampunyoi "suku' jo caro malakok tu ???
 
carono adolah
kayu banamo kayu kamaik
buahno labeh jo pusako
baurek taguah ka bumi
pucuak malepai awan biru
batang ka sandi jo andiko
nan rajo kato mupakaik
nan bana kato baiyo
putuh rundiangan di Panghulu
kito nan indak buliah manyudahi
itu lah adat salamono
 
aratino bana
babaju kasumbo lusuah
pakaian rajo tigo jurai
tanunan puti di ulak-an
dapek lah paham nan saukua
batammu bana nan sasuai
jatuahlah kato kabulatan
bulek lah buliah digolongkan
picak lah buliah dilayangkan
lah tibo golek di nan data
 
nan isino
sapakaik kaum (suku) nan kamanarimo cako untuak manarimo urang nan kadilakokkan tadi tu untuak manjadi anggota kaum pasukuan
 
kini baa palaksanaanno ??
kalau na palaksanaanno, diulua amuah panjang, dipunta amuah singkek, singkek sakiro kapaguno,
bisa "baralek" gadang, bisa manangah, bisa pulo taro "bacilukkan aia" sajo 
sadono ko, kalau dipasarik (sulik), bisa sarik, kalau dipamudah bisa pulo
 
nyampang kok "baurang rumah" barasa dari arab  Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim bisuakko, bialah masuak pasukuan ambo bagai baliau tu nanti, ko lai taniaik go eh
 
mungkin sakitu dulu, mauh juo kok ado nan indak pado tampaikno
 
Wassalamu'alaykum  warahmatullahi wabarakaatuh
 
Bandaro Labiah
 
 
Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:

2008/3/13 Bandaro Labiah :

> Assalamu'alaykum w.w.
>

Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
==


Tarimo kasih, Mak Bandaro Labiah. Maaf baru tabaco jadi batanyo lo baliak.

==

"Suku"-nyo masuak ka suku bapaknyo, Mak? Apo syarat untuk "basuku" tu?

==

Alhamdulillah lai baguno, Mak. Jazakallahu khayran.

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)



Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages