PDRI, Sumpur Kudus dan Sjafruddin Prawiranegra

272 views
Skip to first unread message

Afrinaldi Sumpur

unread,
Dec 20, 2013, 4:29:14 AM12/20/13
to rant...@googlegroups.com
PDRI, Sumpur Kudus dan Sjafruddin Prawiranegra
(Memperingati  64 Tahun Lahirnya PDRI)
Oleh: Afrinaldi Sumpur*
Sejarah memerlukan peristiwa.
Peristiwa memerlukan tokoh.
Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa.
Bagi yang tak tewas dalam peristiwa,
nasibnya akan dipertimbangkan lewat sejarah.
(Prof. DR. Mestika Zed)
Mengapa Sejarah? Mengapa PDRI? Mengapa Sumpur Kudus? Pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan mengapa, selalu menerbitkan liur setiap orang untuk ingin tahu dan mengetahui lebih jauh apa yang melatarbelakangi sesuatu “terjadi” dan “menjadi”. Seluruh pertanyaan historiografi selalu diawali dengan pertanyaan mengapa dan mengapa. Bukan pertanyaan yang diawali oleh kata bagaimana dan macam mana sesuatu “terjadi” dan “menjadi”.
Mengapa Sumpur Kudus dipilih menjadi salah satu tempat basis perjuangan pada masa PDRI. Mengapa Sumpur Kudus terletak jauh tersuruk di lembah bukit barisan.  Mengapa keadaan Sumpur Kudus tetap menjadi nagari yang lengang dan miskin setelah setengah abad lebih Indonesia merdeka, kendatipun punya andil dalam satu atau dua peristiwa sejarah. Mengapa dan mengapa. Silakan ajukan pertanyaan bernada mengapa dan mengapa!!!
Ibarat anak yang hilang, PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia), Sumpur Kudus dan beberapa daerah yang terakait dengan peristiwa PDRI beberapa tahun belakangan kembali disebut-sebut, setelah sekian lama sejarahnya ditimbun dibawah rezim penguasa yang sengaja menyembunyikannya.  Bukittinggi, Koto Tinggi, Halaban, Bidar Alam dan Sumpur Kudus adalah beberapa nama tempat yang tidak bisa dipisahkan jika orang menelusuri sejarah PDRI.
Sekilas Sejarah PDRI (1948-1949)
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) adalah penyelenggara pemerintahan Republik Indonesia periode 22 Desember 1948 - 13 Juli 1949, dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara yang disebut juga dengan Kabinet Darurat. Sesaat sebelum pemimpin Indonesia saat itu, Sukarno dan Hatta ditangkap Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, mereka sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara.
Namun mandat itu tidak pernah sampai kepada Sjafruddin Prawiranegara. Barulah setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki ibukota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari, Mr. Sjafruddin Prawiranegara bersama Kol. Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera, mengunjungi Mr. Teuku Mohammad Hasan, Gubernur Sumatera/Ketua Komisaris Pemerintah Pusat di kediamannya, untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka meninggalkan Bukittinggi menuju Halaban, sebuah daerah yang terletak sekitar 15 Km di selatan kota Payakumbuh.
Sejumlah tokoh pimpinan republik yang berada di Sumatera Barat dapat berkumpul di Halaban, dan pada 22 Desember 1948 mereka mengadakan rapat yang dihadiri antara lain oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. T. M. Hassan, Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Kolonel Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir. Indracahya, Ir. Mananti Sitompul, Maryono Danubroto, Direktur BNI Mr. A. Karim, Rusli Rahim dan Mr. Latif. Walaupun secara resmi kawat Presiden Soekarno belum diterima, tanggal 22 Desember 1948, sesuai dengan konsep yang telah disiapkan, maka dalam rapat tersebut diputuskan untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Dari peristiwa inilah perjalanan sejarah PDRI dimulai, yang kemudian meninggalakan kenangan nostalgis disetiap daerah yang pernah dilalui dan dijadikan tempat basis perjuangan oleh para pejuangnya. Berbagai kisah suka-duka telah tersimpan dalam memori para pejuang dan masyarakat yang hidup pada masa itu.  Kendati dikemudian hari, berbagai peristiwa itu ada yang ditulis dan diketahui oleh publik, dan ada juga yang tidak ditulis yang hanya dituturkan oleh beberapa kelompok masyarakat secara oral history. Seperti halnya di Sumpur Kudus, begitu banyak cerita-cerita masa perjuangan PDRI yang berkembang, yang barangkali juga layak untuk dituliskan. Karena akan menjadi nuansa tersendiri ketika sejarah ditulis dari sudut pandang masyarakat bawah (grass root), yang barangkali luput dari para ahli dan pakar sejarah.
Kronologi Perjuangan PDRI di Sumpur Kudus
Sebelum kita membahas kronologis perjuangan PDRI di Sumpur Kudus, alangkah baiknya penulis menuturkan sekilas tentang Sumpur Kudus. Sumpur Kudus yang dijuluki Makkah Darek (Makkah Daratan) merupakan salah satu daerah yang terdiri dari beberapa nagari, yang terletak di Kabupaten Sijunjung bagian Utara,  daerah paling Timur Propinsi Sumatera Barat, dengan posisi koordinat 00 – 26,49 Lintang Selatan dan 100 – 54,29 Bujur Timur. Dengan ketinggian 365 Meter dari permukaan laut dan luas 8.880 Ha. Sumpur Kudus terbentang di lembah sempit sepanjang Sungai Batang Sumpur yang mengalir dari Unggan,  Silantai sampai ke Sisawah yang diapit oleh dua Bukit Barisan Timur dan Barat.
Barangkali dengan letak geografis Sumpur Kudus yang jauh tersuruk di lembah Bukit Barisan dan pihak musuh akan sulit untuk bisa sampai ke Sumpur Kudus, makanya Sumpur Kudus dipilih sebagai salah satu basis perjuangan. Tentu hal ini tidak mudah kita jawab. Sekalipun bisa jadi itu juga menjadi salah satu pertimbangan para pemimpin PDRI pada masa itu.
Menurut Prof. DR. Mestika Zed di dalam bukunya Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Sebuah Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan (Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1997), menulis bahwa pada tanggal 4 Mei 1949 rombongan Gubernur Militer Mr. Rasjid dari Koto Tinggi dan Mr. Moh. Nasroen, mantan Wakil Gubernur Sumatera Tengah yang diangkat sebagai Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera Tengah, tiba di Sumpur Kudus.
Selanjutnya, baru pada tanggal 5 Mei 1949 Rombongan PDRI Sjafruddin Prawiranegara, secara lengkap juga tiba di Calau, Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui nagari-nagari antara lain Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tapus, Durian Gadang, Menganti dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.
Di Calau, Sumpur Kudus rombongan Sjafruddin Prawiranegara tinggal di Surau Balai dan Rumah Gadang milik keluarga ayah Buya Ahmad Syafi’i Maarif. Rumah Gadang dan Surau Balai tersebut sampai saat sekarang masih bisa kita jumpai. Sedangkan Surau Batu Banyak yang terletak di tepi Batang Sami, yang dulu dipergunakan sebagai tempat radio atau sender PDRI telah lama roboh karena tidak dirawat, kini yang tersisa hanya tanah bekas bangunannya saja.
Pada tanggal 9 Mei 1949, rombongan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Calau, menuju ke Sumpur Kudus. Setelah menempuh sekian lama perjalanan, rombongan tiba disebuah dataran tinggi. Saat itu anggota rombongan dipecah tiga : Sjafruddin Prawiranegara ke Nagari Silantai, Stasiun Radio Sjafruddin ke Nagari Guguk Siaur dan rombongan Keuangan ke Nagari Padang Aur dan nagari-nagari lain sekitarnya. Di Daerah Ampalu, kru Stasiun Radio AURI bertemu dengan Kru Stasiun Radio PTT di Nagari Tamparunggo, Sungai Naning dan nagari-nagari lain. Sejak saat itu, kegiatan Stasiun Radio Dick Tamimi semakin intensif.
Pada tanggal 14 – 17 Mei 1949, diadakan Sidang Paripurna Kabinet PDRI di Silantai, Sumpur Kudus. Di tempat itu berkumpul semua anggota Kabinet PDRI yang berada di Bidar Alam dan Koto Tinggi, untuk membicarakan reaksi PDRI terhadap prakarsa perundingan yang dilakukan oleh para pemimpin yang ditawan di Bangka (Pimpinan Soekarno - Hatta). PDRI mengeluarkan pernyataan yang menolak prakarsa perundingan kelompok Bangka. Barulah pada tanggal 18 Mei 1949, Sjafruddin bersama seluruh anggota rombongan meninggalkan Silantai, Sumpur Kudus dan berangkat menuju Koto Tinggi.
Rumah tempat Sidang Paripurna Kabinet PDRI di Silantai, sampai saat sekarang masih terawat dengan baik dan telah dijadikan sebagai situs cagar budaya oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Barat.
Dari kronologis peristiwa sejarah diatas, kita bisa menyimpulkan betapa strategisnya posisi Sumpur Kudus pada masa itu, karena di Silantai, Sumpur Kudus sempat diadakan Sidang Paripurna Kabinet PDRI, yang juga menentukan nasib bangsa ini, sekalipun PDRI hanya bermukim selama lebih-kurang tiga minggu di Sumpur Kudus.
Kemunculan para pejuang PDRI dan Sjafruddin Prawiranegara sebagai pemimpinnya di Sumpur Kudus telah banyak meninggalkan cerita, yang ternyata dikemudian hari memberikan berkah tersendiri bagi nagari ini.  Sekiranya PDRI tidak pernah menjadikan Sumpur Kudus sebagai basis perjuangannya selama tiga minggu, penulis tidak bisa membayangkan apa mungkin pemerintah mau memperhatikan nagari yang tersuruk itu. Barangkali nagari ini akan tetap terisolir dan lengang, karena memang letaknya yang jauh tersuruk dilembah Bukit Barisan.
Barulah pada tahun 2005 pemerintah mulai memperhatikan nagari yang telah ikut memberi andil dalam masa perjuangan PDRI itu dengan memasukan jaringan listrik dan membangun sarana jalan, serta jaringan telkomsel untuk sarana komunikasi. Dengan demikian masyarakat Sumpur Kudus baru merasakan kemerdekaan setelah 56 tahun lebih peristiwa PDRI berlalu, mengutip apa yang di tulis oleh Buya Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya di Resonansi Republika.
Pembelajaran Sejarah
PDRI bukan hanya milik mereka yang pernah berjuang dan hidup pada masanya, PDRI adalah milik kita semua, milik bangsa Indonesia. Kita harus bercermin dan mengambil pelajaran dari sejarah bangsa ini. Tidak boleh lagi sejarah dihapuskan dan diselewengkan demi kepentingan rezim dan penguasa. Jika kita ingin melihat bangsa ini menjadi bangsa yang kuat, bangsa yang dihargai dan diperhitungkan dikancah dunia.
Sengaja penulis kutip tulisan Prof. DR. Mestika Zed diawal tulisan ini. Tak lebih sebagai seruan bagi kita, bahwa sejarah itu tidak bisa terlepas dari peristiwa, tokoh, ruang dan waktu. Semoga kita bisa menjadikan sejarah PDRI sebagai momentum untuk kembali menghargai dan melestarikan nilai-nilai sejarah. Mudah-mudahan dengan cara itu, Sumpur Kudus sebagai salah satu basis perjuangan PDRI disamping daerah-daerah lainnya  yang juga punya andil, serta Sjafruddin Prawiranegara sebagai salah satu tokohnya, kembali dikenang orang.  Semoga. Wallahu a’lam bi showab.
*Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seorang peminat sejarah, bergiat di Sumpur Kudus  Institute. Sekarang tinggal di Pekanbaru.

Riyan Permana Putra

unread,
Dec 20, 2013, 4:53:43 AM12/20/13
to rant...@googlegroups.com
Sumpur Kudus tak cukup hanya dikenang. Sumpur Kudus juga harus maju tidak gelap terus. Masih ada daerah di Sumpur Kudus yang belum dialiri listrik bukan? 


--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Abraham Ilyas

unread,
Dec 22, 2013, 10:42:21 AM12/22/13
to Rantau Net Groups
Kmd. Afrinaldi Sumpur sarato Riyan Permana Putra, .........................Ya, mungkin ritual ketika seseorang hendak berkunjung ke nagari Sumpur Kudus (yang ditafsirkan dengan tindakan nyata) sangat bemanfaat untuk mengurangi pemanasan global, ...............think globally, act locally  sarupo di kodak iko !

Selamat membangun nagari Sumpur Kudus

Salam
ritual.jpg

yusrinal bayma

unread,
Dec 22, 2013, 11:41:21 PM12/22/13
to rant...@googlegroups.com, Rantau Net Groups
Sato ciek Mamak2,
Sebenarnya Generasi Thn 70an ke bawah msh ingat Sejarah PDRI namun oleh Rezim Soeharto yang mementing kan Sejarah di Jawa saja begitu juga pembangunan yg sentralistik hanya di Jawa.
Didampingi itu juga orang tua tua kita (terutama asal Minang) apalagi yg di Rabtau ,juga tidak mengingatkan Sejarah ini kepada Anak Cucu.

Maka tak Salah Slogan Bing Karno. " Jangan lupakan Sejarah - JASMERAH "

yusrinal 54 th
Kapau.Kiktenggi

Dikirim dari iPhone saya
<ritual.jpg>

Akmal Nasery Basral

unread,
Dec 23, 2013, 7:28:06 AM12/23/13
to rant...@googlegroups.com
Pak Yusrinal Bayma n.a.h.
Untuk anak cucu agar tahu (saketek) tentang PDRI, bisa dicoba lewat novel "Presiden Prawiranegara".

Beberapa link yang mungkin berguna:




Tapi yang jelas, alhamdulillah Pak Sjaf sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2011. Sayangnya, Hari Deklarasi/Proklamasi PDRI (22 Desember, kemarin) selalu kalah gaungnya dengan Hari Ibu. Padahal ini aset besar bagi Sumatra Barat dalam mengingatkan bangsa Indonesia bahwa tanpa adanya PDRI, republik ini sudah karam pada 1948-1949. 

Wass,

ANB
45, Cibubur


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages