Sumber: http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2049
Kamis, 25 November 2010
Tsunami Mengintai, Isu Meruyak
Pak SBY, Tolonglah Kami...
Khairul Jasmi
Pak SBY, kami warga di pesisir Sumbar, mati saja yang belum. Kalaulah Bapak berkantor di Padang, takkan terpicingkan mata oleh bapak, meski malam telah larut. Pak Gubernur kami, sekarang sudah kurus. Kemarin bersama Waka Polda, Wagub, Walikota Padang, mengimbau rakyat untuk tidak resah. Pejabat kami kurang tidur sekarang, Pak. Bagaimana bisa tidur, di mana-mana rakyat ketakutan akan isu gempa besar. Sudahkah Bapak tahu akan hal itu?
Pak SBY yang terhormat...
Maksud hati hendak membangun jalan evakuasi, membangun shelter, mendinding laut, tapi kami tak punya uang. Pemerintah pusat tak peduli. Kami tahu tak peduli, karena kata Bappenas, tak ada dana pusat untuk membuat shelter di Sumbar. Akan Bapak biarkan saja kami mati disapu tsunami, jika monster itu datang?
Sekarang Pak, tiap sebentar isu meruyak, lewat SMS, dari mulut ke mulut, resume rapat interen pejabat pemerintah disebar PNS tak bertanggungjawab. Kalau SMS terorisme, secepat kilat Densus 88 bergerak. Dijemput malamnya orang. Tapi tiba di SMS teror gempa, kenapa tak bisa, Pak?
Kami seperti terhukum mati menunggu eksekusi. Ulama kami sudah bertunas mulutnya memberi nasihat, tapi kami takut juga. Jiwa yang resah adalah penyakit, sedang hati yang riang adalah obat.
Yang terjadi hati kami diperparah oleh pakar. Tim Sembilan yang Bapak bentuk datang ke Padang, hanya untuk bilang: “Itu gempa di Mentawai baru buntutnya, yang akan kita tunggu bapaknya, ini bukan mempertakut, tapi harus disampaikan,” katanya.
Tim ini, melibas urusan BMKG. Padahal negara memercayakan kepada BMKG, namun Tim Sembilan lebih jago dan merasa berkompeten. Maka takutlah seisi kota, takutlah seisi kampung, dari ujung ke ujung. Setelah itu tim hebat tersebut pergi ke Jakarta, ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Ketika gempa datang, yang sibuk justru BMKG.
Pak SBY yang tercinta...
Waktu pemilu 80 persen suara rakyat Sumbar untuk Bapak, maka sewajarlah kini, ketika kami memerlukan bantuan, Bapak bantu kami. Suratkabar Singgalang menawarkan, agar laut Sumbar didinding. Biayanya takkan sampai Rp. 20 triliun. Sekali angguk saja oleh Bapak, beres semua. Ini lebih penting dibanding Jembatan Selat Sunda.
Dinding laut itu ada di Jepang, di Korea dan di sejumlah negara lainnya. Bentuknya seperti Tembok Cina. Bisa untuk jalan di atasnya. Kira-kira tingginya 10 sampai 15 meter. Panjangnya, orang PU yang bisa mengukurnya Pak. Sekalian bisa untuk lokasi rekreasi, bahkan jalan tol bisa dibuat di atasnya Pak. Bukankah Bapak akan membuat jalur lintas barat Sumatra? Dinding laut itu saja jadikan jalan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau.
Bisa Bapak bayangkan musibah tsunami Aceh, untuk rehab rekon (RR)nya saja habis uang minimal Rp75 triliun. Kerugian yang terjadi, empat kali lipatnya, barangkali. Akibat amuk alam ini, tidak kurang dari 132 ribu orang Aceh meninggal dan 37 ribu orang dinyatakan hilang.
Apalah artinya yang Rp. 20 triliun untuk mendinding laut Pak. Atau habis dulu orang Minang oleh tsunami, baru kemudian dibentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Sumbar.
Okelah, tak ada uang untuk dinding laut, untuk shelter juga boleh. Padang memerlukan setidaknya 100 shelter. Sebanyak itu pula di wilayah lain di Sumbar. Tiap shelter Rp30 miliar. Kata Bappenas, tak ada dana untuk itu. Disuruhnya pemerintah daerah “kreatif”. Itu sama dengan membunuh namanya. Bagaimana perencanaan pembangunan, bisa melupakan mitigasi? Lupa akan nasib rakyat, kecewa berat kami dengan Bappenas.
Hentikanlah agak sejenak membangun jalan tol di Pulau Jawa itu, alihkan uangnya untuk Sumbar. Apakah untuk membangun shelter, escape building, dan jalan evakuasi atau dinding laut.
Pak SBY, jalan evakuasi saja di Padang sudah tujuh tahun tak selesai. Uang untuk membebaskan tanah tak kunjung cukup. Kasihlah kami uang untuk pembebasan jalan itu saja dulu, sudah besar hati kami, Pak. Ini kan tidak, selalu saja jawabannya klise, “pusat tak ada uang untuk pembebasan tanah”.
Kalau untuk proyek biasa, bisa diterima, tapi untuk proyek kemanusiaan, apa tidak bisa pusat turun tangan?
Kadang kami di Sumbar merasa jauh dan sepi sendiri. Kenapa pemerintah pusat tak peduli lagi pada kami. Sedih hati kami di sini.
Mohon temani kami dalam masa-masa sulit ini Pak. Kami sedang gamang. Hanya kepada Tuhan kami bisa mengadu, berdoa, berserah diri.
Kalau Bapak mau membantu, kami tawarkan tujuh hal untuk meminimalkan dampak tsunami di Sumbar. Ketujuhnya dinding laut, relokasi penuh warga pesisir Sumbar, relokasi zone merah saja, buat shelter, buat ecape building, jalur evakuasi, tanam trembesi dan bakau di pantai atau reklamasi. Sampai hari ini, hanya satu yang sudah ada yaitu satu unit shelter yaitu SMA 1 Padang. Itupun bantuan Yayasan Budhi Suci, bukan uang pemerintah.
Pemerintah daerah takkan bisa berbuat apa-apa, kalau pusat tak membantu. Penyakitnya Pak, kementerian dan Bappenas, kalau tak dilobi, tak dihiraukannya nasib rakyat. Apa perlu lagi lobi-lobi semacam itu, sementara kami sedang gundah gulana?
Jika Bapak memerlukan sepucuk surat yang ditandatangani seluruh rakyat, kami siap membuatnya. Kami tak takut mati Pak, sebab ajal sudah tersurat di Arasy. Mati hari ini, pasti mati. Tapi, bukankah kita perlu berikhtiar? Apalagi rakyat Sumbar adalah bagian integral dari Indonesia.
Pak SBY yang terhormat...
Jujur saja, bangsa yang besar ini, berhutang sejarah pada kami orang Minang. Kami tak minta dibayar, tapi berbuat baiklah pada saat yang tepat. Saatnya sekarang.
Kalau pada 2011 hanya rapat ke rapat saja, janji ke janji saja, maka kami akan menjadi rakyat yang patah arang.
Pak SBY...
Maafkan saya yang sudah lancang menulis seperti ini. Apa boleh buat ditangkap intel pun sudah risiko saya. Tak ada pilihan lain, Bapak harus turun tangan.
Ah, jika saja Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Yamin, Agus Salim, masih hidup, mungkin nasib kami takkan semalang sekarang. Hari ini pasti dipanggilnya Bapak ke rumahnya.
“Tolong kampuang kami ya, Pak Presiden,” kata Hatta, suara beliau antara terdengar dan tidak.
“Tolong itu Sumbar, lumbungnya demokrasi,” kata Sjahrir.
“Demi rakyat jelata yang menderita setiap hari, bantu Ranah Minang,” kata Datuk Tan Malaka.
“Minangkabau adalah libero dalam pembentukan Negara Kesatuan RI, bantu sekarang, rakyatnya sedang nestapa,” kata Pak Yamin.
“Belum bersekolah orang di tempat lain, orang Minang sudah studi ke Belanda, buat sekolah jadikan shelter,” kata Agus Salim.
Tapi tidak. Beliau telah tiada. Kami sepi sendiri Pak Presiden SBY.
Wassalam. (*)
Baca juga KOMPAS.com:
http://regional.kompas.com/read/2010/11/26/2119027/Isu.Gempa.dan.Tsunami.Bikin.Warga.Panik.-5
Kutipan paragraf terakhir:
"Bagi saya, jika dana untuk dinding laut, atau shelter atau jalan evakuasi tak diberi pemerintah pusat, dengan alasan dana terbatas, atau pemerintah daerah harus kreatif, maka itu, sama dengan pembunuhan. Makin berjaraklah kita dengan pemerintah pusat..."
Tidak bisakah alternatif-alternatif tadi dilakukan dengan swadaya?
Katanya orang Minang punya perantau jutaan orang di luar terlepas
sukses atau tidak? Katanya wakil-wakil rakyat di DPR piawai-piawai
melobby. Sayangnya banyak juga wakil-wakil rakyat jadi koruptor
berjamaah. Sampai kapan sikap sudah patah arang ini berkembang di
masyarakat? Potensi untuk bangkit dengan kemapuan diri sendiri itu
besar, asal semua masyarakat di ranah dan di rantau bersatu dan mau
lepaskan dulu sekat nagari, suku, agama, ras, dll yang membuat
perpecahan. Kita manusia terlahir sebagai pemenang.
Hormat saya
Muhammad Syahreza
HP : 0811 193 646 / 0817 169 015
Blog bisnis : http://ohiofreshyoghurt.wordpress.com
Setiap pengusaha
sekecil apapun kita
semuda apapun kita
dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik!
Mulailah dari diri kita sendiri, jika setiap kita menjadi lebih baik,
maka Indonesia pasti menjadi lebih baik!
Kunjungi Sumbar online di :
www.west-sumatra.com
www.mentawaiislands.com
www.newsikuaiisland.com
www.visitminangkabau.com
www.aloitaresort.com/diving
www.cimbuak.net
Muhammad Gifari Suryanegara pohon butuh waktu lama untuk tumbuh pak.. bagaimana itu? dan tidak semua area pesisir bisa ditanam pepohonan ?
Evy Nizhamul saya setuju sekali dengan usulan Pak Abraham. Untuk megantisipasi masalah gempa tidak bisa mengandalkan sumber daya PEMDA saja namun memotivasi masyarakat dengan cara yang sederhana namun terjaminan manfaatnya...
Datuk Soda Iyo Bu Evy. Meskipun lama waktu pertumbuhan tanaman pelindung, tapi itulah upaya yang bisa dan mampu dikerjakan sekarang, alih alih berharap yang tidak pasti dan membuat frustrasi. Bila frustrasi maka itu bahaya yang lebih besar lagi sebelum bahaya nyata terjadi.
Evy Nizhamul Usulah
ini sudah pernah saya sampaikan di Dukung Pemda kota Padang bangun penahan
tsunami. Saya bersuara basmi dulu payung payung pendek muaksiat yang bertebaran
ditepi pandai padang..
Saya punya pengalaman untuk menanam pohon trembesi hanya... butuh waktu 5
tahun. Hasilny rindang dan dapatmenahan pengikisan pantai..Lihat Selengkapnya
Isral Naska selain
menanam pohon, pembuatan shelter sebanyak mungkin adalah pilihan yang paling
tepat. masyarakat menjadi paranoid karena pengalaman yang lalu, bahwa jika
terjadi gempa, jalan-jalan evakuasi yang mengarah ke ketinggian langsung
"hang" a......lias 300 meter untuk satu jam. tersedianya shelter
yang cukup, sudah cukup untuk membuat masyarakat tepi pantai lebih tenang.
kendala utama yang harus dipecahkan pemerintah
untuk pembuatan shelter adalah kendala biaya.
Romi Mardela
Tapi Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, tak akan pernah mengemis seperti itu. Mereka tahu orang (bangsa) Minang adalah
bangsa yang besar. Dengan orang-orang yang kuat. Dan mereka tiada pernah mengeluh
seperti itu kepada pemerintah. Saya yakin itu. ...Karena saya juga seperti itu.
Tak layak rasanya menyebut para pahlawan besar
seperti itu. Apalagi kutipan ini. "Jujur saja, bangsa yang besar ini,
berhutang sejarah pada kami orang Minang". Mereka tidak pernah menganggap
apa yang mereka lakukan itu sebagai suatu hutang.
Selain itu, jika dalam berkarya (artikel/kolom)
terbawa emosi, maka persoalan yang ada menjadi terasa kurang jernih.
Fuadi Madjboer Iyo gantuang aie mato ambo dek mambaco 'ratapan' ko pak.., semoga didengar pak BeYe, dan pastinyo didanga dek Allah..
Saafroedin Bahar Bana, Sanak Fuadi. Hanyo urang nan indak punyo hati nurani lai nan indak balinang aia matonyo mambaco kolom bung Kaje di ateh.
Muharmein Zein Chaniago Kito punyo, Irman Gusman, Gamawan Fauzi, Patrialis Akbar, Tifatul, Basriel Arief, Nudirman munir, Fasli jalal, Dino Pati, dan banyak tokoh terkini yg dekat sekali dgn pusat kekuasaan, akankah mereka mau dikenang seperti Natsir, Agus Salim, Hatta, tan Malaka ?..
Bahrul Sjamsir Saridam Ternyata saya masih cinta kampung, terbukti dari derasnya gejolak hati. Kemana nama "besar" yang disebut sanak MZC diatas?.
MenArmedi Edi Koto Sebaiknya Gubernur Irwan Prayitno dan Pks Sumbar janganlah terlalu ekslusif , rangkullah semua tokoh yg berpengalaman dipemerintahan , sedangkan agama mengajarkan : Tunggulah kehancuran apabila sesuatu tidak diurus oleh ahli.
Guru On Line Pak Syaaf, lai ado sanak awak nan lai bagigi di pusat mambantuak dan manggalang terujudnya Tanggul Penanggulangan Tsunami di Pantai Barat Kota Padang (Sumatera Barat)..?.
Guru On Line Aalangkah rancaknyo kiro-kiro diateh tanggulko di buek Jalan Kareta Api dari Pusat Kota ka Bandara dan taruih ka Pariaman dan Pasaman, dari pado ka maiduik jalan Kareta Api ka Payokumbuah. Jadi iko usul untuk Komunitas Pecinta KA di Sumatera Barat
Muharmein Zein Chaniago Pak Bachrul,..mudah2an tokoh yg disebutkan tadi membantu SBY untuk membuatkan konsep surat balasan
Guru On Line @Pak Muharmein, bukan membatu SBY membuat "surat balasan" tapi sekalian bentuk Satgas Pembuatan Tanggul secepatnya.
Guru On Line Kami di Padang, khusus nan tingga di
Perumahan yang barado di daerah Pantai, alah mangundang Bpk. Ade Edwar pakar geologi Ka Badan Penanggulangan
Bencana Daerah Prop. Sumbar, baliau alah memaparkan baa sabana carito gampo
gadang nan katajad...i tu. Baliau menjalehkan gampo gadang diperkirakan 8.9 SR
itu manuruik analisis para pakar memang akan terjadi, karano siklus pergerakan
lempeng bumi akan terjadi stiap 200 th. gampo pada th 1787 nan alah tajadi di
padang yang manimbulkan tsunami mancapai jangkauan 3 km kearah darat.
Dalam siklus 200 th. baliau prediksi penyimpangan
sebesar 40%, ibarat kandungan belum tentu akan lahir pas 9 bulan, ada deviasi
sebesar 40%, dengan arti bayi dalam kandungan ada 7 bl telah lahir dan bahkan
ada 11 bulan baru lahir.
Jadi kesimpulannya dari 200 th. siklus gempa tsb ko
diperkirakan mampunyai deviasi antara 30 - tahun sabalunnyo dan sasudahnyo
(yaitu antara tahun 1997 - 2029 gempa besar ini akan terjadi). Besar energi
yang tersimpan antara tubrukan lempeng disebelah barat Pulau Siberut ko adolah sebesar
8,9 SR dan berpotensi tsunami dengan ketinggian gelombang tsunami setinggi 25
m, sepanjang 80 km di Pulau Siberut dan diperkirakan dengan kecepatan yang
tinggi dan sampai di pantai Padang, pariaman dan psesisir selatan setinggi 6
meter, sesudah 30 - 40 menit sesudah gempa terjadi.
Jadi nampak tanggul pananggulangan bencana tsunami
ko harus segera dibuek dan tuntas sebelum 30 tahun sejak hari ini. Kalau tidak
apakah kita akan membiarkan aset negara terdapat di pantai seperti antara lain,
kampus UNP, Bung Hata dll, serta bandara katapiang nan utang ka lua nagari ko
alun lunas akan dibiarkan hancur..????Lihat
Selengkapnya
MenArmedi Edi Koto Sudah tahu kondisi keungan susah tapi ide pemborosan masih juga didengungkan ,banyak kebutuhan mendesak di Sumbar...mungkin dengan membangun banyak irigasi mikro akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan tsunami yang paling utama adalah pengetahuan dan kesiagaan dari masyarakat serta adanya sistem peringatan dini dari pemerintah.
El Harsa pemerintah yg dipikirkn daerah jawa se nyo, tp kok lah msuak sumatra bapikia 2 x nyo, mknyo trjdi kecemburuan sosial didaerah, akhrnya daerah mrasa dianak tirikan, ikolah yg trjdi di aceh slama 30 thn lbh, akhrnya urng aceh mamberontak ni bntk negara surang, cubolah pemerintah bapikia kasiko, tentu ngk akn ada yg namanya pembrontakan didaerah.
Guru On Line @MenArmedi: Dek sanak barado dirantau tantu iyo pambuatan pananggulangan tsunami ko adolah pamborosan, Untuak aa kiro-kiro irigasi ko dek sanak..? pulanglah sawah kiniko alah jadi parumahan..!!
Guru On Line Kadang-kadang sanak dirantau asa lai kamangecek sen, tambah ibo hati kami, ndak terenyuh gai doh inyo jo tangisan sanan Kharul Jasmi, alah basah, surek kaba ko di baco dek sanak kami nan harok bana bantuaan pambutan tanggulko.
Guru On Line Nampak kami nan ranah ko disuruah kasawah sen nampaknyo ieehh..!
MenArmedi Edi Koto Guru On Line @ Caliak tulisan Ambo diateh apo nan labiah rancak , daerah Sumbar adalah daerah pertanian .
Guru On Line Heee..,hee.., Pak Suharto dulu alah banayak mambangun sawah di Sumbar kiniko alah jadi hutan baliak. Kabutuhan kampuang bukan di tantukan oleh urang rantau, tapi nan labiah tahu kami nan di ranah Pak..!
MenArmedi Edi Koto Kalau sudah tahu bangunlah jangan mengeluh juga , mengeluh tidak baik .......
Guru On Line Iyo lah sanak kalau baitu, jan pulang-pulang yo..?
MenArmedi Edi Koto Ambo klo taragak pulang Ndak urusan disitu doh ...
Guru On Line Hee., sudah diluar topik, ambo mohon maaf ka Pak Saaf dan sanak MenArmedi.
Fitri Yanti
@ Wan Saaf..Sebaiknya dana KKM, di alokasikan saja membangun
shelter - dinding laut. Pasti bisa dibangun pondasinya saja dulu ....
Wannofri Samry Sudah saatnya buat perhitungan yg tepat sama poemerintah pusat, khusunya sby. Apresiasi saay untuk Da KJ
Romi Mardela Tapi
Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, tak akan pernah mengemis seperti itu. Mereka tahu
orang (bangsa) Minang adalah bangsa yang besar. Dengan orang-orang yang kuat.
Dan mereka tiada pernah mengeluh seperti itu kepada pemerintah. Saya yakin
itu. ...Karena
saya juga seperti itu.
Tak layak
rasanya menyebut para pahlawan besar seperti itu. Apalagi kutipan ini.
"Jujur saja, bangsa yang besar ini, berhutang sejarah pada kami orang
Minang". Mereka tidak pernah menganggap apa yang mereka lakukan itu
sebagai suatu hutang.
Selain itu, jika dalam berkarya (artikel/kolom)
terbawa emosi, maka persoalan yang ada menjadi terasa kurang jernih.
Fitri Yanti @ Romi..... situasi sekarang tak sama dengan zaman dulu. kalau dulu kita berhadapan dengan penjajah yang bisa kita lawan dengan nyawa dan bambu runcing. Tapi sekarang kita berhadapan dengan alam yang tak bisa kita lawan dengan apapun juga. Jadi ini bukan masalah meratap - merintih - memohon. Ini untuk melindungi rakyat dari bencana alam. Tolong pula dikaji denan jernih.
Ya,
tapi, kenapa harus dikaitkan dengan pahlawan itu.
Apa benar para pahlawan tersebut akan berkata demikian.
Itu yang saya tulis.
Dan mari dibaca lagi dengan seksama tulisan Pak KJ itu.
Ada beberapa persoalan, yang menurut saya, ia sebagai pem...impin redaksi, dan
wartawan senior, sudah tahu jawabannya.
Guru On Line Kenapa yaa kok yang diperdebatkan yang tidak
substansi dari tulisan nya Pak KJ diatas..???
Kalau co iko urang minang kiniko indak jadi Pak SBY terenyuh, indak saciok bak
ayam dan sadancing bak basi lai doh..!, saling mamcaliak santiang suran...g-surang.Lihat Selengkapnya
Guru On Line Pada hal Pak Saaf, telah memberi mukadimah
diawal tulisaan Pak Khairul
Jami, ssb:
---"Saya sungguh trenyuh membaca kolom bung Kaje ini, dan berharap ada
respons dari Presiden SBY dan atau para petinggi Minang yang ada dalam
Pemerintahan. Seg...era, setidak-tidanya sebagai 'gesture'. Jangan kedahuluan
tsunami"---
Nah, kenapa yang tidak ini yang kita sokong
bersama-sama..?Lihat Selengkapnya
Syam Hidayat
telaah ka telaah , kaji mengkaji, analisa ke analisa , kita memang juara, tapi
kok karajo.........., amak paja sadang baranak ketek.........nasib .........,
Unyuak sanak nan di kampuang, pabanyak sajo lah mandoa, sabab usulan Pak KJ tu
ka d...ikaji
kaji juo baru.
Pak Romi, saya sanagt setuju dengan ucapan bapak,
lebih baik kita miskin asal sombong yo pakLihat
Selengkapnya
Saafroedin Bahar Deal all, ambo alah manyarankan ka bung Kaje untuak mambuek Petisi, supaya didanga dek baliau-baliau nan di Pusat. Bung Kaje nampaknyo setuju.a
Saafroedin Bahar Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.
Tanpa mengenyampingkan isu sunami besar yang disebabkan oleh gempa
tektonik dari pergerakan lempeng bumi di pesisir pantai Sumatra, saya
hanya ingin mengajak berpikir jernih, jangan sampai semua ketakutan
mengalahkan akal sehat sehingga membuat keputusan yang merugikan diri
sendiri.
Sunami besar mungkin saja terjadi di pesisir Sumatra, tapi kapan,
berapa besarnya dan sejauh mana ancamannya baru sebatas prediksi yang
juga diantisipasi oleh Pemda dengan prediksi berdasarkan prediksi dari
ahli-ahli. Saya justru lebih khawatir (sebatas analisa ambo), isu
sunami besar dengan SMS yang membuat warga cemas itu dihembuskan oleh
:
1. Spekulan tanah di daerah ketinggian
2. Perpanjangan tangan pemodal besar yang ingin menguasai tanah di
pesisir untuk kepentingan bisnis nya
3. Lawan politik pemerintah daerah tertentu sepanjang pesisir untuk
melemahkan kinerja Pemda dan mengambil untung ditengah kegalauan
masyarakat.
Kenapa hal diatas lebih dikhawatirkan, karena akan membuat masyarakat
mengambil jalan pintas dengan menjual tanah milik mereka, tanah ulayat
dan property yang mereka miliki dengan harga murah tanpa ada tawar
menawar. Siapa yang diuntungkan? Tentu yang punya rencana jangka
panjang dan melihat sisi bisnis di Sumatra Barat. Kalau tanpa isu
besar mereka akan kesulitan mendapatkan tanah tersebut. Karena semua
orang tahu, untuk investasi di Sumbar sangat besar biaya non teknis
nya.
Spekulan tanah di dataran tinggi juga bisa menaikkan harga tanah
mereka dengan berkali-kali lipat, karena kalau tanpa isu besar belum
tentu tanah mereka cepat laku.
Sangat disayangkan kalau ada tokoh-tokoh yang didengar suaranya oleh
masyarakat di Sumbar malah mengeluarkan statemen yang membuat warga
panik.
Karena kalau warga panik, perekonomian akan terganggu, pendidikan akan
terganggu, dan Sumbar semakin tertinggal.