Memanjakan Lidah Bukittinggi

17 views
Skip to first unread message

Nofiardi

unread,
Oct 17, 2009, 12:22:05 AM10/17/09
to rant...@googlegroups.com

Memanjakan Lidah Bukittinggi

 

Friday, 16 October 2009

Image

IKON BUKITTINGGI,
Jam Gadang dan Jembatan Limpapeh merupakan ikon kebanggaan masyarakat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Berkeliling Kota Bukittinggi mengunjungi pelbagai lokasi kuliner bisa dengan bendi atau delman berkuda.


BUKITTINGGI adalah surga makanan.Pusat jajanan,restoran besar,hingga kedai-kedai kecil selalu ramai oleh penikmat kuliner.Apalagi,perkara makan bagi orang Minangkabau itu prioritas. Orang “awak” ini tidak saja melahirkan makanan-makanan yang enak rasanya, tetapi juga menghargainya.

Jika rasanya oke menurut lidah mereka, laris manislah. Jika hambar, rugilah toke. Apresiasi mereka terhadap makanan sangat tinggi.Mereka benar-benar menikmati sehidangan makanan. “Kalau mau kenyang,kita makan di rumah saja. Kita makan di luar untuk menikmatinya,” tutur Trides, seorang budayawan di Bukittinggi.

Trides menuturkan, di Sumatera Barat,rumah makan biasa timbul- tenggelam. Tempat makan yang menjaga kualitas rasa akan bertahan. Perjalanan kuliner di Bukittinggi akan dimulai dari nikmatnya Sate Saiyo, nama generiknya Sate Biaro—di Jabotabek disebut sate padang.

Sate Saiyo, adanya di Simpang Biaro,4 km dari Bukittinggi menuju Payakumbuh– Pekan Baru. Sate Saiyo berupa warung kecil di pinggir jalan. Mejanya hanya empat. Namun begitu dibuka sore hari, buru-burulah ke sana.Sebentar saja habis. Bergerak sekitar 15 km ke timur,menuju Kota Payakumbuh, terdapat pula sate terkenal.

Namanya Sate Danguang Danguang. Dinamakan demikian, sesuai dengan nama daerahnya, Danguang Danguang.Sate Danguang Danguang yang berupa restoran ini, unggul di dagingnya. Kuahnya agak merah, tapi tidak sekental kuah Sate Agam. Berbicara soal sate padang,tak lengkap rasanya bila tak mencoba Sate Mak Syukur, di Padang Panjang, atau Sate Mak Anjang di Bukittinggi.

“Dulu terkenal Sate Mak Aciak.Adanya di Pasar Atas Bukittinggi. Mak Aciak meninggal,diteruskan oleh keluarganya. Sate tersebut ditinggalkan oleh pelanggannya, karena tidak serupa dengan sate orangtuanya,”terang Trides. Tradisi kepandaian memasak, ini menjadi soal penting di sana.

Jika keturunan Mak Aciak mengabaikan tradisi tersebut, tidak demikian dengan Rumah Makan Selamat, Rumah Makan Simpang Raya,Martabak “Kaka”,misalnya. Rumah Makan Selamat adanya di Kampuang Chino, di ruas Jalan AYani,Bukittinggi.Rumah makan ini usianya sudah lebih dari setengah abad.

Kita boleh acungkan jempol, karena rasanya terjaga. Mau merasakan makanan klasik Minangkabau,rumah makan Selamatlah tempatnya.Tukang masaknya, turun-temurun. Ketika tukang masak utama absen memasak, asisten senior yang menggantinya.

Dengan demikian,rumah makan yang sudah ada sejak tahun ‘60- an tersebut terjaga tradisi rasanya. Apa yang khas di Rumah Makan Selamat? Hampir semua menunya excellent. Artinya, inilah masakan Minang sebenar Minang. Rendang, cincang kambing, dendeng batokok, nasi goreng, benarbenar terkesan di mulut.

Untuk nasi goreng khas Minang, Selamatlah tempatnya. Nasi goreng Selamat, digoreng dengan telur dan dibubuhi potongan daging garing. Dan, ditambahi telur mata sapi, potongan sayur, tomat dan mentimun.Meski porsinya cukup besar, nasi goreng Selamat tidak membuat mulut jenuh.

Keberhasilan sebuah masakan, dapat ditandai ketika sesi makan sedang berjalan. Tandanya adalah jenuh atau tidaknya di mulut. Bila mulut jenuh, makanan tersebut membuat orang bosan. Mencari kesamaan nasi goreng Selamat di Jakarta, adanya di Rumah Saiyo, Jatinegara, dekat Stasiun Kereta Api.

Ada pula soto. Di Jakarta dinamai Soto Padang. Bila pernah merasakan Soto Sutan Mangkuto di Pintu Air,Jakarta Pusat,seperti itulah rasa soto di Selamat. Di ujung Jalan A Yani, tidak jauh dari rumah makan Selamat, tertera Martabak “Kaka”.Ini jenis martabak telur,namun bukan Martabak Kubang, atau Martabak Mesir sebagaimana dikenal di Jakarta.

Martabak “Kaka” yang sudah berusia 70 tahun ini, tidak memakai daun bawang, tetapi daun kucai - yang rasanya mirip dengan daun bawang. Makanan lain yang harus dinikmati di sini adalah kerupuk sanjai. Asal-usul kerupuk sanjai berasal di Nagari Sanjai yang terletak sekitar 3 km dari Kota Bukittinggi.

Sedangkan singkong, didatangkan dari Nagari Gadut,juga di seputaran kota Bukittinggi, arah jalan ke Medan. Singkong dari tempat lain, tidak dipakai orang Sanjai,karena alasan rasa. Pasar Ateh menjadi ikon wisata Bukittinggi.

Di pasar tradisional inilah dapat ditemukan pakaian muslim yang unik buatan tangan, makanan siap saji terbaik di Indonesia dan makanan kecil seperti kerupuk sanjai, bika, ampiang dadiah, lemang, kerupuk kulit,dan sebagainya.

Dekat Pasar Batingkek (pertokoan), ada ampiang dadiah dan es tebak. Apa itu ampiang dadiah? Orang Minang menggolongkan makanan ini sebagai makanan ringan.Padahal dilihat dari bahannya, makanan ini cukup berat kandungan lemaknya.ampiang dadiah terbuat dari dadiah (dadih), susu kerbau yang dikentalkan di bambu muda sampai asam.

Mau tahu rumah makan Simpang Raya, Roda Baru berasal? Bukittinggi-lah kota kelahirannya. Simpang Raya menjadi nama generik untuk rumah makan Minangkabau. Nama rumah makan ini banyak ditemui, namun sebenarnya pemiliknya adalah sebanyak rumah makan tersebut.(*)

Oleh RIZAL BUSTAMI
Culinary Traveler       

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/277312/38/

 

The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.
image001.jpg

jupar...@yahoo.com

unread,
Oct 17, 2009, 12:59:52 AM10/17/09
to rant...@googlegroups.com
Nah dari sate saja begitu banyak ragam kuliner makanan kita yang memang tradisi turun temurun

Belumlagi sate laweh Piaman nan kuahnyo babeda raso jo warnanyo jo sate uran darek sarupo sate pdg panjang danguang2 sulik aia dan lain2

Lalu sate lokan ala pasisia..iko mantap bana lo rasonyo

Sanak Nofiardi

Hari2 ambo karajo kamuko labiah banyak di blok songo Kota Pinang kami samo bakantua jo kawan2 dari Pec-Tech disiko, kok ado batugas ka Blok Songo bisa wak basuo

Salam_Jepe. (44 Kota Pinang Sumut)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages