|

IKON BUKITTINGGI, Jam Gadang dan Jembatan Limpapeh
merupakan ikon kebanggaan masyarakat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Berkeliling Kota Bukittinggi mengunjungi pelbagai lokasi kuliner bisa dengan
bendi atau delman berkuda.
BUKITTINGGI adalah surga makanan.Pusat jajanan,restoran besar,hingga kedai-kedai
kecil selalu ramai oleh penikmat kuliner.Apalagi,perkara makan bagi orang
Minangkabau itu prioritas. Orang “awak” ini tidak saja melahirkan
makanan-makanan yang enak rasanya, tetapi juga menghargainya.
Jika rasanya oke menurut lidah mereka, laris manislah. Jika hambar, rugilah
toke. Apresiasi mereka terhadap makanan sangat tinggi.Mereka benar-benar
menikmati sehidangan makanan. “Kalau mau kenyang,kita makan di rumah
saja. Kita makan di luar untuk menikmatinya,” tutur Trides, seorang
budayawan di Bukittinggi.
Trides menuturkan, di Sumatera Barat,rumah makan biasa timbul- tenggelam.
Tempat makan yang menjaga kualitas rasa akan bertahan. Perjalanan kuliner di
Bukittinggi akan dimulai dari nikmatnya Sate Saiyo, nama generiknya Sate
Biaro—di Jabotabek disebut sate padang.
Sate Saiyo, adanya di Simpang Biaro,4 km dari Bukittinggi menuju
Payakumbuh– Pekan Baru. Sate Saiyo berupa warung kecil di pinggir
jalan. Mejanya hanya empat. Namun begitu dibuka sore hari, buru-burulah ke
sana.Sebentar saja habis. Bergerak sekitar 15 km ke timur,menuju Kota
Payakumbuh, terdapat pula sate terkenal.
Namanya Sate Danguang Danguang. Dinamakan demikian, sesuai dengan nama
daerahnya, Danguang Danguang.Sate Danguang Danguang yang berupa restoran ini,
unggul di dagingnya. Kuahnya agak merah, tapi tidak sekental kuah Sate Agam.
Berbicara soal sate padang,tak lengkap rasanya bila tak mencoba Sate Mak
Syukur, di Padang Panjang, atau Sate Mak Anjang di Bukittinggi.
“Dulu terkenal Sate Mak Aciak.Adanya di Pasar Atas Bukittinggi. Mak
Aciak meninggal,diteruskan oleh keluarganya. Sate tersebut ditinggalkan oleh
pelanggannya, karena tidak serupa dengan sate orangtuanya,”terang
Trides. Tradisi kepandaian memasak, ini menjadi soal penting di sana.
Jika keturunan Mak Aciak mengabaikan tradisi tersebut, tidak demikian dengan
Rumah Makan Selamat, Rumah Makan Simpang Raya,Martabak
“Kaka”,misalnya. Rumah Makan Selamat adanya di Kampuang Chino, di
ruas Jalan AYani,Bukittinggi.Rumah makan ini usianya sudah lebih dari setengah
abad.
Kita boleh acungkan jempol, karena rasanya terjaga. Mau merasakan makanan
klasik Minangkabau,rumah makan Selamatlah tempatnya.Tukang masaknya,
turun-temurun. Ketika tukang masak utama absen memasak, asisten senior yang
menggantinya.
Dengan demikian,rumah makan yang sudah ada sejak tahun ‘60- an tersebut
terjaga tradisi rasanya. Apa yang khas di Rumah Makan Selamat? Hampir semua
menunya excellent. Artinya, inilah masakan Minang sebenar Minang. Rendang,
cincang kambing, dendeng batokok, nasi goreng, benarbenar terkesan di mulut.
Untuk nasi goreng khas Minang, Selamatlah tempatnya. Nasi goreng Selamat,
digoreng dengan telur dan dibubuhi potongan daging garing. Dan, ditambahi
telur mata sapi, potongan sayur, tomat dan mentimun.Meski porsinya cukup
besar, nasi goreng Selamat tidak membuat mulut jenuh.
Keberhasilan sebuah masakan, dapat ditandai ketika sesi makan sedang
berjalan. Tandanya adalah jenuh atau tidaknya di mulut. Bila mulut jenuh,
makanan tersebut membuat orang bosan. Mencari kesamaan nasi goreng Selamat di
Jakarta, adanya di Rumah Saiyo, Jatinegara, dekat Stasiun Kereta Api.
Ada pula soto. Di Jakarta dinamai Soto Padang. Bila pernah merasakan Soto
Sutan Mangkuto di Pintu Air,Jakarta Pusat,seperti itulah rasa soto di
Selamat. Di ujung Jalan A Yani, tidak jauh dari rumah makan Selamat, tertera
Martabak “Kaka”.Ini jenis martabak telur,namun bukan Martabak
Kubang, atau Martabak Mesir sebagaimana dikenal di Jakarta.
Martabak “Kaka” yang sudah berusia 70 tahun ini, tidak memakai
daun bawang, tetapi daun kucai - yang rasanya mirip dengan daun bawang.
Makanan lain yang harus dinikmati di sini adalah kerupuk sanjai. Asal-usul
kerupuk sanjai berasal di Nagari Sanjai yang terletak sekitar 3 km dari Kota
Bukittinggi.
Sedangkan singkong, didatangkan dari Nagari Gadut,juga di seputaran kota
Bukittinggi, arah jalan ke Medan. Singkong dari tempat lain, tidak dipakai
orang Sanjai,karena alasan rasa. Pasar Ateh menjadi ikon wisata Bukittinggi.
Di pasar tradisional inilah dapat ditemukan pakaian muslim yang unik buatan
tangan, makanan siap saji terbaik di Indonesia dan makanan kecil seperti
kerupuk sanjai, bika, ampiang dadiah, lemang, kerupuk kulit,dan sebagainya.
Dekat Pasar Batingkek (pertokoan), ada ampiang dadiah dan es tebak. Apa itu
ampiang dadiah? Orang Minang menggolongkan makanan ini sebagai makanan
ringan.Padahal dilihat dari bahannya, makanan ini cukup berat kandungan
lemaknya.ampiang dadiah terbuat dari dadiah (dadih), susu kerbau yang
dikentalkan di bambu muda sampai asam.
Mau tahu rumah makan Simpang Raya, Roda Baru berasal? Bukittinggi-lah kota
kelahirannya. Simpang Raya menjadi nama generik untuk rumah makan
Minangkabau. Nama rumah makan ini banyak ditemui, namun sebenarnya pemiliknya
adalah sebanyak rumah makan tersebut.(*)
Oleh RIZAL BUSTAMI
Culinary Traveler
|