(OOT) Cerpen "Boyon"

74 views
Skip to first unread message

akmal n. basral

unread,
Aug 31, 2012, 2:44:53 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Sanak sapalanta nan budiman,
talampia adalah cerpen ambo "Boyon" (2006) nan ado dalam kumpulan cerpen "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku", antologi nan masuak long list Khatulistiwa Literary Award 2007.

Iko bacaan ringan untuak akhia pakan.

Mangingek ambo lahia dan gadang di Jakarta, mohon maaf jiko ado detail kisah tentang kampuang nan indak sasuai.(Saluruah namo urang dan tampek dalam kisah ko iyo hasil imajinasi ambo sajo).

http://athinktokill.blogspot.com/2008/10/boyon.html

Tapi ruponyo kisah ringan ambo ko dibedah serius oleh surang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, banamo Puji Pramesti dengan judul "barek" manjadi "A Portrait of Human Culture Toward Nature: An Ecocritical Analysis of The Short Stories by Akmal Nasery Basral"

Pengantar
http://repository.upi.edu/abstrakview.php?no_abstrak=1009

Abstrak
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_033781_c0351__abstract.pdf

Metodologi
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_033781_c0351_chapter3.pdf

Kesimpulan
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_033781_c0351_chapter5.pdf


Salam,

Akmal Nasery Basral
Cibubur

* * *

Cerpen

BOYON
Akmal Nasery Basral


NAMAKU Boyon. Jems Boyon. Nama ini diberikan ayah setelah menonton film yang dibintangi Sean Connery di bioskop lusuh Pasar Atas, Bukittinggi, Sumatera Barat. Atau lebih tepatnya, setelah ayah dan ibuku yang hamil tua menonton film itu. Mereka tidak tinggal di Bukittinggi melainkan sekitar 14 kilometer ke arah Payakumbuh, di desa Kapau yang terkenal dengan kelezatan nasinya. Mungkin karena perjalanan yang cukup jauh, kontraksi perut ibu berlangsung lebih cepat tiga pekan dari perkiraan. Malam harinya ibu melahirkan dengan bantuan bidan.

"Aku ingin namanya Hatta, agar sikapnya harum wangi seperti proklamator kita," kata ibu sembari berulang kali menciumi pipiku. Tentu saja aku tak ingat kejadian itu kalau tidak diceritakan lagi oleh ibu.

"Nama yang bagus, tapi ..." Ayah jelas tak setuju. Setelah beberapa detik gagal menemukan kata-kata yang pantas, sikap ayahku yang gadang ota, alias omong besar, tak bisa disembunyikan lagi. "Pak Hatta hidupnya terlalu sederhana. Aku tak mau anakku hidup menderita di jamannya."

"Kalau begitu...Hamka?"

"Itu lebih berat lagi. Nama ulama besar jangan sembarang diberikan. Kalau tidak kuat, anak kita bisa gila."

"Bagaimana kalau Navis, katanya itu nama penulis." Ibu pantang menyerah.

"Ah tidak. Penulis hidupnya miskin."

"Kita toh sudah melarat."

"Karena itu jangan ditambah-tambah lagi." Lidah ayahku seperti pesilat lincah. Setelah beberapa menit yang hingar oleh dengung nyamuk di rumah kami yang sumuk, ayah menjentikkan jarinya seperti mendapatkan ilham.

"Kita namakan saja Jems Boyon seperti film yang kita lihat tadi. Itu nama modern. Pintar, tampan, dan disenangi padusi."*

Ibuku seorang yang santun. Dia hanya berkata pendek. "Uda yakin itu nama yang benar?"

"Yakin. Saya pernah berdagang di Negeri Sembilan. Di sana, begitulah mereka mengucapkannya. Lidah warisan Inggris mereka tentu tak keliru seperti milik urang awak."

Begitulah. Pendidikan ayahku yang kandas setingkat kelas 4 Ibtidaiyah, bergabung sempurna dengan sifat gadang ota-nya yang selalu membanggakan diri pernah ke luar negeri, meskipun hanya sebagai penjual bubur kampiun di Malaysia. Dua bulan kemudian beliau pulang kampung saat mendengar Polis Diraja Malaysia akan melancarkan razia terhadap pendatang haram. Seperti halnya para gadang ota sejati, ayah tak punya cukup nyali untuk kembali mengejar mimpinya. Semua terhenti sebatas kata-kata.

~

SEWAKTU bersekolah di SD dekat rumah, teman-teman memanggilku Boyon. Aku merasa biasa saja, mungkin karena belum punya konsep tentang keren tidaknya sebuah nama. Menginjak SMP aku baru tahu yang dimaksud ayah dengan Jems Boyon tak lain dari James Bond. Maka di sekolah, aku menulis namaku sebagai James. Kalaupun harus dipanjangkan, ya James B saja. Nama Boyon terdengar seperti bloon, istilah yang dipakai seorang teman kelasku dari Jakarta untuk memanggil orang dungu. Tapi seorang guru mengaji di surau dekat rumahku satu kali menasehati. "James itu nama orang kafir. Tidak pantas orang Minang yang menjunjung adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah memakai nama seperti itu."**

Aku diam saja, meski hatiku panas. Sholatku memang seperti saringan teh yang bolong-bolong. Tapi kalau disamakan dengan orang kafir aku tersinggung juga. Bukankah kata seorang pujangga Inggris, apalah artinya sebuah nama? Masalahnya, kendati tubuhku semontok karung beras, guru ngaji itu juga mengajar silat. Jadi apa yang bisa kuperbuat?

Sepulang dari surau, aku langsung ke sawah. Menjelang pucuk malam, aku mengendap-endap mendekati surau dengan karung di pundak. Di Minang ada kebiasaan anak-anak lelaki yang mulai dewasa tidak tidur lagi di rumah orang tuanya, tapi di surau. Malam itu ternyata hanya sedikit murid tidur di sana. Sedangkan guru mengaji yang rajin berkhalwat kepada Allah Ta'ala itu kuintip tengah mengerjakan shalat malam. Saat yang pas untuk melepaskan 15 katak dan 23 belut tangkapan malam itu ke dalam surau.

Lalu aku menjauh, menunggu. Tak lama kemudian, terdengar kehebohan luar biasa dari surau gelap itu. Hampir semuanya memekik histeris. Lalu pintu terbuka, guru mengajiku keluar seperti hendak mencari si pelaku. Untungnya bulan malas bercahaya. Aku melangkah pulang dengan hati puas. Baru sebulan kemudian aku berani mengaji lagi, setelah yakin guru itu lupa dengan serangan katak dan belut.

Lalu aku melanjutkan sekolah di SMA 1 Bukittinggi. Saat itu film Catatan Si Boy yang meledak di Jakarta bergaung juga gemanya sampai ke ruang kelas kami. Maka aku lupakan nama James. Namaku menjadi Boy. Aku bergaya seperti Onky Alexander dengan kerah baju diluruskan ke atas, meskipun kalau mau setia pada tokoh di film, wajahku terlihat lebih mirip Emon karena rambut ikalku serta postur dengan berat 82 kilogram dan tinggi 164 sentimeter. Terlalu berat? Tidak juga. Jangan lupa aku berasal dari Kapau. Kalau baru menyantap sepiring nasi, rasanya seperti baru makan sehelai roti.

Jumlah kehadiranku di dalam kelas sebanding dengan jumlah ketidakhadiranku. Aku lebih suka nongkrong bersama beberapa teman di jembatan Limpapeh yang menghubungkan Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock. Jembatan itu terbentang di atas Jalan Achmad Yani, jalan utama di Bukittinggi. Jembatan ini tempat paling nyaman untuk melihat turis asing lalu lalang. Terutama turis wanita yang sering malas berpakaian lengkap seperti perempuan kita. Tak ada turis yang berbaju kurung, apalagi berkerudung. Jika mereka tersenyum, aku merasa melayang seperti balon gas.

Bosan di Limpapeh, aku menyelinap ke bioskop yang pernah diceritakan ibu, meski aku harus hati-hati karena warung bubur kampiun ayahku ada di dekat situ. Pertama agar tidak tertangkap basah sedang bolos. Kedua, aku tak mau ada teman yang tahu bahwa ayahku tukang bubur kampiun. Sekali kenyataan ini tersebar, duniaku kiamat selamanya. Maka semua film di bioskop itu kutonton tanpa peduli. Aku lebur dalam segala peran. Ketika menonton Rambo, aku melihat wajahku di tubuh kekar Sylvester Stallone. Tampan sekali. Aku bahkan menirukan gaya bicaranya yang terdengar seperti sapi mengunyah kelereng.

Betapa pun seringnya aku bolos, aku tak pernah tinggal kelas. Bahkan aku selalu bisa masuk tiga besar. "Beruntunglah otakmu encer, Buyung," kata guru sejarah yang selalu menolak memanggilku Boy. Menurut teorinya, Buyung itu justru versi lokal Minang terhadap boy dan young. Aku tak tahu apakah ia serius atau bergurau. Yang jelas terhadap pendapat ini, aku bercita-cita ingin membuat sebuah film dokumenter tentang legenda Minang yang syahdan pernah disinggahi Iskandar Zulkarnain Yang Agung ketika "dunia masih sebesar telur ayam". Saat pengumuman kelulusan SMA diumumkan, aku menjadi juara umum kedua. Hampir tak ada yang percaya. Tapi inilah hidup, tak semua fakta bisa kita percaya, bukan? Tekadku sebulat tubuhku: masuk Institut Kesenian Jakarta. Aku ingin menjadi aktor.

Di Jakarta nama Boy ternyata banyak sekali. Aku ingin berbeda, modern sekaligus khas. Maka kupilih nama Jems Boy Chaniago. Panggilan: Jembi. Ketika teman-teman mendengar ini mereka tertawa terbahak-bahak.

Para mahasiswa beramai-ramai menyiramku dengan es cendol di depan Kafe Alex. Mendadak rambutku seperti Bob Marley. Mahasiswi terkekeh-kekeh geli. "Idih, jorok sekali sih namamu," teriak salah seorang. Aku jadi malu setelah seseorang membisiki betapa mengerikannya bila mereka harus memanggil namaku di tengah keramaian. Setelah mengutak-atik beberapa pilihan, hatiku berkata: Jaby Chan. Ya, ini pilihan terbaik. Jaby tentu saja dari James Boy. Yang penting terdengar mirip Jacky Chan, idolaku saat itu setelah tahu Jacky hampir tak pernah menggunakan stunt man dalam film-filmnya.

Aku pun mulai serius membentuk tubuh biar terlihat mirip Jacky. Lumayan juga hasilnya. Beratku turun dari 82 menjadi 74 kilo. Otot-otot perutku mulai terlihat six-pack. Aku pun ikut kursus tertulis ortopedi. Tinggi tubuhku terdongkrak 2 senti dari 164 menjadi 166 cm. Aku juga berterima kasih kepada para penemu matematika, sehingga jika angka itu dibulatkan, maka tinggiku sekarang 1,7 meter. Lumayan. Tinggi dan berat badan baru inilah yang kupasang di curriculum vitae sebelum kusebar ke beberapa artist management.

~

MEMASUKI kuliah tahun kedua, ayahku wafat. Aku tak sempat menghadiri pemakamannya karena terikat kontrak dengan sebuah produksi film laga. Jika aku nekad pulang, bukan saja kontrak diputus, aku malah harus bayar ganti rugi. Sialan!

Di dunia film aku mulai merasakan ritme kehidupan Jacky Chan – meski cuma urusan stunt man. Soalnya peran utama tetap jatah bintang film terkenal meski berotak bagal. Aku hanya pemeran pengganti. Ada di film, tapi tak dikenali penonton. Yang mengenaliku justru dukun urut patah ulang di Jakarta Selatan. Itupun setelah beberapa kali aku ke sana.

Hari kelima setelah pemakaman aku bisa pulang melihat tanah pusara yang masih merah. Ibu bertanya apakah aku tak ingin melanjutkan usaha bubur kampiun. Aku menggeleng tegas. Ia mengangguk lemah seraya mengangsurkan sepucuk surat.

"Dari ayahmu."

"Kapan ayah memberikan?"

"Dia menulisnya sudah lama sekali. Pesannya tolong diberikan kepadamu jika dia meninggal."

Aku masuk kamar, membuka surat itu. Tanggalnya menjelang aku lulus SMA. Isinya singkat:

Anakku,
maafkan jika selama ini ayah membuatmu malu di hadapan teman-temanmu. Ayah memberimu nama yang salah. Kebodohan dan sifat besar kepala ayah yang menyebabkan itu, bukan niat hati. Karena itu jangan kau ulangi lagi kebodohan ini pada anakmu kelak. Jika ajal menjemput ayah lebih cepat, semoga kau bisa memaafkan kesalahan tukang bubur tua ini yang membuatmu menanggung malu seumur hidup.

Ayahmu.

~

SURAT itu kini tersimpan rapi meski sudah kubaca ratusan kali selama 10 tahun terakhir. Aku tak bermimpi lagi menjadi aktor. Aku beralih profesi menjadi sutradara. Bulan depan aku berangkat ke Sundance Film Festival. Film pertamaku berhasil menembus seleksi resmi mereka. Di situs mereka tertulis sebaris informasi tentang judul filmku: Ode to My Father (Jems Boyon – Indonesia). Kalimat itu terlihat kabur di mataku yang basah.

Seaneh apa pun ayah memberi nama, yang ia hadiahkan adalah segunung cinta. Aku saja yang terlambat melihat.

Jakarta, 11 Mei 2006


*padusi = perempuan

**adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah = adat bersendi syariat (Islam), syariat bersendi Kitab Allah.


 
minds are like parachutes. they work best when open.

Dasriel Noeha

unread,
Aug 31, 2012, 3:11:58 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
"Rancak", itu kalimat kekaguman ambo, ka sdr Akmal, tentang cerpen Boyon.
Ambo SMA di Padang Panjang lulus 71, acok juo manulis cerpen dan puisi utk  koran di Padang dan Jakarta,
tapi indak sarancak nan  ditulis sanak Akmal
 
salam,
dasriel

--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
 
 
 


Lies Suryadi

unread,
Aug 31, 2012, 3:47:29 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Menarik cerpennyo, Pak Akmal.
Sacara etimologis dari ma asa kato BOYON ko ko, Pak Akmal. Saingek ambo di Minang banyak urang mudo banamo OYON atau OYONG. Ambo kiro iko derivasi dari kato JONG dalam bahaso Balando atau YOUNG dalam bahaso Inggirih. Tapi mungkin juo ambo salah.
 
Wassalam,
Suryadi
 
 

Dari: akmal n. basral <an...@yahoo.com>
Kepada: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Dikirim: Jumat, 31 Agustus 2012 8:44
Judul: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Aug 31, 2012, 4:07:05 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Sato taragak lo ambo mangatangahan baliak cerpen barikuik ko. Balain jo sanak Akmal, Cerpen jo tulisan ambo hanyo paisi-isi blog sajono. 

Thursday, December 18, 2008

YANG TERHORMAT

Dia dapat julukan seperti itu. Yang Terhormat. Dia anggota Dewan Yang Terhormat. Di Malaysia predikat dan panggilan itu bahkan resmi dan harus disebutkan. Orang harus menyandangkan predikat itu di depan namanya. Yang Berhormat Haji Masri. Itu kalau di Malaysia. Dengan sebutan atau panggilan lengkap seperti itu, orang banyak akan langsung tahu bahwa dia adalah seorang wakil rakyat.

Masri dulu teman sekantorku. Karena dia jauh lebih muda dan ditempatkan di bagianku, dia otomatis jadi anak buahku. Hubungan pergaulan kami sangat baik. Kami sama-sama aktif di pengajian mingguan yang dilakukan secara teratur di kalangan karyawan. Masri lebih berpengatahuan dariku dalam masalah agama. Dia hafal dan faham beberapa hadits dengan pemahaman yang baik. Teman-teman sekantor menjulukinya ustad. Sepertinya julukan itu pas-pas saja untuknya.


Masri selalu kritis di setiap pengajian di kantor. Kekritisan yang kadang-kadang agak mirip-mirip pamer. Dia senang berdebat dengan ustad pemberi ceramah. Sekali lagi aku harus mengakui bahwa pemahaman agamanya cukup luas. Kebalikannya, prestasi kerjanya biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu memerlukan tegoran. Meski beberapa kali perlu juga aku ingatkan.


Di awal masa reformasi, Masri ikut-ikutan aktif di sebuah partai. Partai yang bernafaskan Islam tentu saja. Kegiatan partai itu tidak mengganggu sedikitpun pada pekerjaan kantor. Aku terheran-heran waktu di akhir tahun 2003 dia mengajukan surat pengunduran diri dari pekerjaan. Katanya dia akan lebih berkonsentrasi di kegiatan partai. Dan Masri ternyata tidak main-main. Dia terpilih jadi anggota Dewan. Menjadi anggota Dewan Yang Terhormat itu. Sejak itu Masripun menghilang dari pandanganku.


Tiba-tiba baru-baru ini dia muncul di rumahku. Penampilannya sangat berbeda dengan Masri yang kukenal dulu. Dulu, Masri seperti diriku, adalah orang yang biasa-biasa saja.


Masri yang sekarang lebih pantas dikategorikan sebagai seorang selebriti. Baunya wangi. Entah parfum merek apa yang dipakainya. Padahal dulu dia pernah bertanya kepadaku bagaimana cara menghilangkan bau badan dan aku menganjurkan agar menggunakan bedak penyerap bau merek Hibka. Efektif menghilangkan bau badan dan tidak wangi, karena wangi-wangian itu kurang pas untuk laki-laki. Begitu dulu pendapatku yang disetujui pula oleh Masri.


Baju yang dipakainya sangat pas dan elok potongan dan jahitannya. Pokoknya Masri sangat parlente. Bahkan istriku yang sok tahu menyimpulkan bahwa Masri melakukan perawatan khusus untuk kuku dan kulitnya. Aku bertambah terheran-heran.


Masri datang dengan sebuah mobil yang mereknya cukup wah. Dan disopiri. Hebat tenan.


Aku mempersilahkannya masuk ke rumah. Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja kepadanya.


‘Cukup lama kita tak jumpa, bang. Abang masih tetap bekerja di kantor itu kan?’ tanyanya.


‘Ya. Sudah lebih lima tahun. Saya masih bekerja di tempat dulu dan masih seperti dulu,’ jawabku.


‘Kawan-kawan kita dulu masih lengkap disana, bang ? Bagaimana dengan pengajian mingguan? Masih tetap jalan?’ dia mencecarku dengan pertanyanan-pertanyaan.


‘Masih... Masih seperti dulu. Ada satu dua orang karyawan yang berganti. Yang berhenti atau pensiun dan ada pula karyawan yang baru masuk. Pengajian, alhamdulillah masih jalan. Bahkan bertambah jamaahnya,’ jawabku.


‘Syukurlah. Dan abang sehat-sehat saja, kan ? Tetap tidak berminat untuk ikut aktif di partai?’ tanyanya lagi.


Dulu memang pernah dia mengajakku untuk ikut aktif di partainya. Dia selalu menggejobohkanku bahwa aku sangat potential untuk aktif di partai. Dikatakannya bahwa aku teguh memegang prinsip, pandai berdiplomasi, selalu punya ide-ide yang merakyat. Begitu katanya, tentang aku.


Tapi aku tidak pernah tertarik sedikitpun.


‘Alhamdulillah, saya ya begini-begini saja. Cukup sehatlah meski harus diakui dengan bertambahnya umur sudah mulai ada yang berkurang. Rambut sudah tambah banyak yang putih. Partai? Saya masih tetap sama. Biarlah jadi orang luar partai saja..’ jawabku.


‘Sayang sebenarnya bang. Orang seperti abang ini tidak mau menyumbangkan tenaga dan pikirannya. Banyak sekali yang dapat kita perbuat di partai. Untuk kemaslahatan umat. Apa lagi kalau abang duduk di Dewan. Akan lebih banyak lagi manfaatnya,’ tambahnya lagi.


‘Mana pantas orang seperti saya ikut-ikutan duduk di Dewan,’ aku sengaja agak sedikit menyindir.


Baru saja mataku menangkap bahwa Masri ternyata memakai kalung emas. Jadi tidak hanya dua cincin emas besar berbatu permata berwarna hijau yang melekat di jarinya saja perhiasannya.


‘Ah, abang tidak pernah berubah. Selalu saja merendah. Padahal sangat banyak yang bisa kita sumbangkan di Dewan itu bang. Banyak sekali pemikiran-pemikiran yang perlu kita tuangkan disana. Untuk kepentingan bangsa dan negara,’ dia semakin bersemangat.


Aku mulai agak sedikit kurang enak melihatnya.


‘Kamu benar. Saya memang masih begini-begini saja. Tidak berubah. Dan mudah-mudahan tidak perlu berubah. Kecuali perubahan yang tidak bisa dihindari seperti bertambah tua, bertambah lemah dan akhirnya akan mati,’ jawabku sekenanya.


‘Ya, tidak boleh begitu dong, bang. Kita ini diingatkan Rasulullah SAW agar memiliki hari ini yang lebih baik dari hari kemarin. Orang yang hari ininya sama seperti kemarin, rugi namanya. Orang yang hari ininya lebih buruk dari hari kemarin bangkrut namanya,’ katanya mulai berkhutbah.


Aku mematut-matutnya sambil sedikit mengangguk-angguk. Hebat sekali si Masri ini kataku dalam hati.


‘Jadi karena itu penampilanmu sekarang sangat berubah?’ tanyaku.


‘Maksud abang?’ tanyanya tersenyum.


‘Sekarang kau terlihat sangat makmur. Sangat parlente. Baumu saja wangi,’ aku berkata hati-hati.


‘Kalau inikan hanya kulit-kulitnya saja bang. Ini kan untuk menyeimbangkan dengan lingkungan. Tentu kurang elok kalau kita sendiri saja yang berbeda. Ibaratnya, saya sekedar menyesuaikan rentak dengan irama gendanglah..he..he..he..’ jawabnya sambil tertawa.


‘Jadi maksudmu, semua anggota Dewan Yang Terhormat itu harus berpenampilan licin mengkilat sepertimu ini?’


‘Ya, iyalah bang. Bagaimana mungkin kita akan berkonsentrasi kalau di dalam ruangan sidang ada yang memelihara bau badan. Bisa buyar segala-galanya,’ jawabnya.


‘Tapi maaf. Bagaimana dengan hadits yang melarang laki-laki menggunakan perhiasan emas yang dulu sekali pernah kau jelaskan itu?’ aku jadi tidak sabar.


‘Begini, bang. Para anggota Dewan itu mewakili rakyat. Mewakili penampilan rakyat yang diwakilinya. Dan mereka harus terlihat berwibawa. Setiap anggota Dewan itu mesti memelihara wibawanya kalau tidak ingin dijatuhkan dan dilecehkan oleh anggota yang lain. Ada banyak kepentingan di Dewan itu bang. Sebanyak kepentingan rakyat yang kita wakili. Ada kalanya kepentingan itu saling berbenturan. Kami saling berdebat. Saling jatuh menjatuhkan pendapat. Disini perlunya wibawa, bang. Disini perlunya menjaga penampilan. Jadi saya, harus mengikuti irama gendang. Agar rentak tarian saya juga diakui. Itulah yang abang lihat pada diri saya saat ini,’ Masri berceloteh panjang lebar.


‘Jadi? Dengan penampilanmu seperti sekarang, hadits tadi tidak berlaku lagi? Dan apakah dengan demikian kamu selalu berhasil memelihara wibawamu di kalangan anggota yang lain?’ tanyaku pula.


‘Yang penting kan hatinya bang. Penampilan itu kan hanya dunia saja. Perhiasan dunia semata,’ dia menambahkan mulai sedikit ngawur.


‘Ooo begitu... Baiklah. Jadi... kehidupan setiap anggota Dewan Yang Terhormat itu memang sangat makmur rupanya? Tapi? Aneh juga ya? Bagaimana caranya mereka bisa menjadi kaya raya sesudah menjadi anggota Dewan?’


‘Yaaa. Bagaimana bang ya? Terus terang kita memang banyak mendapat pemberian. Mendapat hadiah. Ada orang, entah perseorangan entah pemilik suatu usaha, yang merasa terbantu kemajuan usahanya oleh kita, lalu mereka memberi hadiah. Memberi sesuatu dengan ikhlas. Bagaimana tidak akan kita terima? Tentulah kita terima. Itulah yang abang lihat seolah-olah sebuah kemakmuran. Yang padahal tidak seberapa artinya.’


‘Saya jadi ingat cerita pengumpul zakat di zaman Rasulullah yang dulu pernah kau jelaskan. Bahwa pemberian orang di luar zakat yang diterima si pengumpul itu, oleh Rasulullah dinyatakan bukan milik pribadinya. Karena orang lain tidak akan memberinya hadiah seandainya dia bukan pengumpul zakat. Kamu masih ingat kisah itu?’ tanyaku.


‘Iyalah bang. Ceritanya tidak sama. Abang harus menyadari bahwa penampilan saya ini adalah penampilan rakyat yang saya wakili. Jadi bukan penampilan saya pribadi saja.’


Wah! Semakin kacau, kataku dalam hati.


‘Tapi, maaf. Apakah ada sesuatu yang dapat saya bantu? Apakah kedatanganmu ini ada maksudnya yang agak khusus barangkali?’ aku mengalihkan pembicaraan.


‘Abang masih aktif jadi pengurus mesjid?’ tanyanya.


‘Masih. Kenapa rupanya?’


‘Kalau begitu saya ingin minta tolong bang. Tolonglah diundang saya berceramah di mesjid dekat rumah abang itu,’ jawabnya.


‘Maksudnya?’ tanyaku pura-pura bodoh.


‘Saya ingin bersilaturrahmi dengan masyarakatlah, bang. Dalam rangka persiapan tahun depan,’ tambahnya.


‘Oo begitu. Nantilah, akan saya coba menanyakan ke pengurus yang lain,’ jawabku.


‘Terima kasih kalau begitu bang. Ngomong-ngomong kalau boleh saya tahu, masyarakat di sekitar komplek abang apa afiliasi politik mereka?’


‘Disini sejauh yang saya tahu masyarakatnya sangat alergi dengan politik. Sangat jijik dengan tingkah laku kebanyakan wakil rakyat seperti yang disiarkan televisi,’ jawabku terus terang.


‘Mudah-mudahan pandangan itu bisa berubah nantinya,’ Masri berharap.


‘Mudah-mudahan,’ tambahku pendek.


Masri segera berpamitan.


Agak kasihan aku melihat anggota Dewan Yang Terhormat yang satu ini. Sepertinya dunia telah menjadikan dia tidak seberapa terhormat.



*****

Wassalamu'alaikum,
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi

From: akmal n. basral <an...@yahoo.com>
To: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Sent: Friday, August 31, 2012 1:44 PM
Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

akmal n. basral

unread,
Aug 31, 2012, 4:13:58 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih kanda Dasriel. Ambo lulusan SMAN 8 Jakarta, tahun '86.
Subhanallah kalau kanda produktif manulih cerpen. Ambo justru jarang.
Cerpen ambo baru 14 jumlahnyo, saketek bana bagi ukuran cerpenis.
Nan 13 ado dalam kumpulan cerpen ASdKyBA itu (dengan pengantar Prof. Dr. Budi Darma, 2006), satalah itu ambo vakum panjang, limo tahun indak manulih cerpen.

Ambo baru manulih cerpen baliak tahun kapatang (2011), bajudua "Epitaf Bagi Sebuah Alibi" dimuek di Kompas Minggu, Oktober 2011. Salah satu tokohnyo banamo Wali Nagari.

Iko lamannyo jika amuah dibaco:


Tapi satalah iko alun ado lai cerpen nan bisa ambo tulih sampai kini. 

Kok buliah tanyo saketek, baa caro kanda Dasriel produktif dalam manulih cerpen tu? Mudah-mudahan bisa ambo terapkan pulo. Tarimo kasih.

Salam,

Akmal N. Basral
Cibubur
 
minds are like parachutes. they work best when open.

From: Dasriel Noeha <dasrie...@yahoo.com>
To: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Sent: Friday, August 31, 2012 2:11 PM
Subject: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

akmal n. basral

unread,
Aug 31, 2012, 4:38:17 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com

Ambo indak tahu secara etimologis soal namo BOYON tu, Uwan Sur. Barangkali ado dunsanak lain nan labiah tahu tantang ko.

Ide ambo manulih cerpen ko mulonyo dek di sebuah milis penulis (yang didominasi banyak penulis muda), banyak sekali para penulis itu memakai nama pena, sebagian besar eksotis seperti "ilalang senja", "langit rekah" dan semacam itulah.

Ambo iyo binguang, manga para panulih mudo itu manghabihkan banyak wakatu untuak mancari namo pena, bukannyo manghabihkan waktu untuk mambaco dan manulih dengan namo asli pambarian urang tuo masing-masing. Satu wakatu pernah ambo sampaikan bahwa paro panulih gadang tu ampia sadonyo mamakai namo asli dari urang tuo, entah penyair (Sitor Situmorang, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad) atau prosais (Budi Darma, AA Navis, Pramoedya Ananta Toer, dll). Kalau pun ado nan mamakai namo pena itu dek karano kalau inyo manulih jo namo asli, maka keselamatannyo tarancam (saroman Multatuli, Tjamboek Berdoeri, sampai Moliere). 

Jadi ado salah pangaratian di panulih mudo saakan-akan namo pena tu adalah "kosmetik" untuk mamparancak sosok no sabagai panulih (penyair atau prosais).

Sadang mamikia-mikia soal tu, taringek jo ambo namo surang kawan maso ketek nan basobok tiok ambo pulang kampuang amak di Tilatang Kamang, Magek. Namono yo BOYON (Ndak ado James no). Dari sinan, sadonyo langsung takumpua di kapalo jo sagalo disgresi (lanturan) soal film dan pop culture bagai nan dakek jo anak mudo.

Tapi nan mambuek ambo surprise adolah satalah cerpen ko tabik dan ambo posting di milis panulih mudo tu baliak, datang 2 tanggapan japri dari duo panulih nan salamo ko mamakai namo pena dalam manulis. Nan surang yo "sabana manangih" liwaik kato-katonyo dek maraso gadang bana dusonyo indak mamakai nama pambarian urang tua salamo ko. Nan surang lai agak mampu manahan diri dan mauco'an tarimo kasih dek karano sampai baginyo pasan utamo cerpen ko. Kaduonyo mamutuihkan sajak itu akan manggunanakan namo asli pambarian urang tuo masing-masing dalam berkarya. Alhamdulillah.

Salam,

Akmal Nasery Basral
Cibubur

 
minds are like parachutes. they work best when open.

From: Lies Suryadi <niad...@yahoo.co.id>
To: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Sent: Friday, August 31, 2012 2:47 PM

Subject: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

akmal n. basral

unread,
Aug 31, 2012, 4:55:40 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Mamak Sutan Lembang nan ambo hormati,
ide cerpen Mamak bagus. Hanya kalau ambo buliah maagiah saran, penyampaian cerpen "Yang Terhormat" ko alun tuntas. Cerpen bukan bagian dari carito panjang (novel, roman). Cerpen adalah cerita nan harus tuntas, dan biasonyo "twist ending" di ikua cerpen itu nan mambuek pambaco tasintak, antah tagalak, mandapek caro pandang baru,marasoan ironi, dsb.

Cubo Mak Sutan Lembang baco cerpen "Mubaligh Kondang" karya Gus Mus (A. Mustofa Bisri) di bawah ko. Ampia saluruah elemennyo samo jo nan Mak Sutan Lembang caritoan dalam "Yang Terhormat". Cuma Gus Mus mancaritoan dari kronologis nan balawanan dari caro Mak Sutan Lembang.

Semoga bermanfaat, dan mohon maaf kalau usulan ambo kurang bakanan. Taruih manulih yo, Mak.

Salam,

Akmal Nasery Basral
Cibubur

* * *


Mubalig Kondang


Cerita Pendek : A Mustofa Bisri [Diklik 506 kali]
Media Indonesia - 10/27/2002


KETIKA jauh-jauh hari istriku menginformasikan bahwa di kota kami
akan kedatangan seorang dai kondang dari Ibu Kota, aku tak begitu
memerhatikan. Waktu itu pikiranku sedang mengembara ke soal-soal
lain. Hari ini dia mengingatkan lagi.

"Pak, nanti malam Sampeyan ikut ke kota apa tidak?" katanya sambil
mendekati saya yang sedang duduk termenung di lincak*) depan rumah.

"Ada apa ke kota?" tanyaku malas.

"Lo, Sampeyan ini bagaimana sih; kan nanti malam ada pengajian
akbar?!" dia jatuhkan pantatnya yang tambun ke lincak bambu hingga
menimbulkan suara berderak; aku sedikit bergeser sambil berdoa mudah-
mudahan lincak kesayanganku tak ambrol. "Orang sedesa upyek**)
membicarakan dai kondang Ibu Kota yang akan mengisi pengajian nanti
malam, kok Sampeyan tenang-tenang saja. Makanya Sampeyan itu jadi
orang mbok kumpul-kumpul. Jangan mengurung diri di rumah saja,
seperti katak dalam tempurung!"

Istriku berhenti sebentar, merogoh dunak di bawah lincak, meraup biji-
biji jagung dan menebarkannya ke halaman. Tak lama ayam-ayam
peliharaannya ribut, riuh rendah suaranya, berebut jagung.
Disenggolnya pundakku dengan pundaknya sendiri yang gempal hingga aku
hampir terjengkang sambil berkata melanjutkan omelannya:

"Ustaz makin bikin rombongan nyewa colt. Ibu-ibu juga bikin rombongan
sendiri. Bu Lurah menyiapkan bus mini dan truk. Tadi saya sudah
daftar dua orang. Kalau Sampeyan enggak pergi, biar nanti saya sama
simbok. Ini pengajian akbar, mubalignya dari Jakarta. kita mesti
datang agak gasik supaya dapat tempat."

Istriku --seperti kebanyakan warga kampung yang lain-- mungkin maniak
pengajian. Di mana saja ada pengajian --di kota kecamatan atau di
desa-desa-- dia mesti mendengar dan datang menghadirinya. Saya tak
tahu apa saja yang diperolehnya dari pengajian-pengajian yang begitu
rajin ia ikuti itu. Nyatanya, kelakuannya --seperti kebanyakan warga
kampung yang lain-dari dulu tidak berubah. Kesukaannya menggunjing
orang tidak berkurang. Hobinya bohong juga berlanjut. Senangnya
kepada duit malah bertambah-tambah. Seperti juga Haji Mardud yang
sering menjadi panitia pengajian itu, sampai sekarang tak juga
berhenti merentenkan uang. Si Salim dan Parman yang rajin mendatangi
pengajian juga masih terus rajin merekap togel. Imron itu malah
sambil ngaji sambil nggodain cewek-cewek. Lalu apa gunanya pengajian-
pengajian itu jika tak mengubah apa-apa dari perilaku masyarakat
pengajian?

Mubalig kondang dari Ibu Kota? Apa istimewanya? Mubalig di mana-mana
ya begitu itu. Tidak sedikit dari mereka yang cuma pinter ngomong;
ngompor-ngompori; menakut-nakuti; melawak. Ngapusi masyarakat yang
awam. Kalau hanya tidak konsekuen --mengajak baik tapi diri sendiri
tak bisa melakukannya-- masih lumayan. Ini tidak, mengajak baik tapi
diri sendiri justru melakukan yang sebaliknya. Menganjurkan hidup
sederhana, diri sendiri bermewah-mewah. Menganjurkan kerukunan, diri
sendiri provokator. Bahkan ada yang keterlaluan. Dengan berani
menggunakan ayat-ayat Quran dan hadis Nabi untuk kepentingan politik
praktis dan menyebar kebencian. Bangga jika agitasinya melecehkan
pihak lain --sering kali malah pribadi-- ditepuki.

"Hei, Kang!" aku kaget, kembali istriku menyenggolkan pundak-
gempalnya ke pundakku, sekali lagi aku hampir terjengkang, "diajak
ngomong, malah bengong! Piye? Berangkat apa enggak?"

"Sudahlah kau berangkat saja dengan simbok!" kataku biar dia tidak
terus ngomel. Kalau enggak malas nanti aku berangkat sendiri,
nyepeda."

"Ya sudah!" katanya agak ketus. Diambilnya lagi segenggam jagung dan
disebarkannya ke arah ayam-ayam yang memang seperti menunggu. Lalu
bangkit dari lincak, meninggalkanku sendirian lagi. Alhamdulillah,
aku bisa melamun lagi.

***

Menjelang isyak rupanya istriku dan simbok sudah berdandan. Begitu
selesai sembahyang langsung rukuh mereka copot dan memperbaiki
sebentar dandanan mereka.

"Mau mengaji kok seperti mau mendatangi ngantenan," kataku begitu
datang dari surau dan melihat mereka sibuk membedaki muka mereka.

"Cerewet!" kata mereka hampir serempak.

"Kalau makan, ambil sendiri di grobok!" teriak istriku begitu
melewati pintu rumah. Dan, ditinggalkannya aku sendirian. Kudengar
keriuhan dari kelurahan yang tak jauh dari rumahku. Pastilah itu ibu-
ibu sedang rebutan naik bus mini dan anak-anak-anak muda rebutan naik
truk. Dari arah surau juga kudengar kesibukan rombongan mau berangkat
ke kota. Mereka yang akan mendengarkan --atau melihat atau sekadar
kepingin tahu-- mubalig kondang dari Ibu Kota.

Tak lama kemudian suasana menjadi sepi. Rombongan-rombongan sudah
berangkat. Setelah makan, aku rebahkan badanku di balai-balai,
berharap bisa tertidur, tapi mata tak mau terpejam juga. Aku menyesal
juga tadi tidak ikut, ketimbang bengong sendirian begini. Kalau bosan
dengan pengajiannya, aku kan bisa jalan-jalan, cuci mata. Terpikir
begitu, akhirnya aku pun bangkit. Kukenakan baju, kuambil sepeda
pusakaku, dan kututup pintu rumahku.

Kukayuh sepedaku pelan-pelan menuju kota. Aku toh tidak sedang
mengejar apa-apa. Hampir tak kujumpai manusia dan yang kudengar hanya
sesekali lenguh sapi dan suara jengkerik. Untunglah listrik sudah
masuk desaku. Meskipun lampu-lampu yang terpasang di pinggir jalan
hanya jarang-jarang dan tidak begitu terang, cukup membantu juga.
Apalagi lampu berko sepedaku nyalanya byarpet. Bersepeda malam-malam
begini, aku jadi teringat Sudin, kawanku di pesantren dulu yang suka
mengajakku balapan mengayuh sepeda bila ngluyur bersama. Dia sering
dimarahi Pak Sahlan yang menyewakan sepeda kepada santri-santri,
karena sering merusakkan sepedanya. Di mana kira-kira anak badung itu
sekarang?

Sudin anak orang kaya kota yang konon sudah putus asa melihat
kelakuan anaknya dan terpaksa 'membuangnya' ke pesantren. Sering kali
dulu aku ditraktir Sudin nonton bioskop dan makan-makan di restoran.
Dan, tidak jarang pulangnya ke pesantren sudah larut malam. Karena
sudah berkali-kali ditakzir, dihukum, sebab nonton, aku pun lalu
menolak jika Sudin mengajak nonton. Aku malu dengan kawan-kawan
santri yang lain. Sudin sendiri sepertinya berpedoman sudah telanjur
basah. Karena sudah terkenal sebagai langganan takzir, dia pun cuek.
Menganggap takzir sebagai perkara biasa yang tidak perlu ditakuti.
Dia tidak hanya ditakzir karena nonton, tapi juga karena melanggar
banyak larangan dan menyalahi banyak peraturan pesantren; seperti
berkelahi dengan kawan, membolos, mengintip santri putri, dlsb.
Berbagai macam bentuk takzir sudah dicobanya, mulai dari membersihkan
kakus; membayar denda; mengisi kulah masjid; dlsb. Rambutnya tak
sempat tumbuh, karena sering kena hukuman gundul. Terakhir Sudin
diusir dari pesantren karena kedapatan mencuri kas pesantren.

"Eit!" hampir saja aku terjatuh. Akar pohon asam di tepi jalan
membuat sepedaku oleng. Untung aku segera bisa menguasainya.
Lamunanku buyar. Tapi aku bersyukur, tak terasa kota sudah kelihatan
dekat.

Di pinggir jalan menuju alun-alun yang kulalui, berderet-deret mobil
diparkir. Ada colt, ada bus, dan terbanyak truk. Rupanya --melihat
nomor-nomor polisi berbagai kendaraan itu-- mereka yang datang
menghadiri pengajian, tidak hanya dari dalam kota. Dari luar kota
juga banyak. Dari suara pengeras suara yang sudah terdengar, aku tahu
ceramah mubalig kondang sudah mulai.

Dua orang anak muda gondrong tiba-tiba menghadangku dan menyeret
sepedaku ke sebuah halaman yang di depannya ada papan tulis
bertuliskan 'TITIPAN SEPEDA Rp1000'. Untung di kantongku ada persis
seribu rupiah. Kuulurkan satu-satunya lembaran uang yang kumiliki itu
kepada salah seorang anak muda yang kelihatan tidak sabar. Aku terus
ngeloyor menyibak kerumunan orang di mana-mana. Termasuk mereka yang
mengerumuni pedagang-pedagang yang mremo menjual berbagai macam
makanan dan mainan anak-anak.

Luar biasa. Lautan manusia meluber ke mana-mana. Suara pengeras suara
bergaung-gaung ke berbagai penjuru, melantunkan pidato mubalig yang
berkobar-kobar dan sesekali menyanyi atau menyampaikan lelucon-
lelucon. Setiap kali disusul dengan gemuruh teriakan dan tepuk tangan
hadirin.

Dari kejauhan mubalig itu sudah kelihatan, karena panggung yang
tinggi dan lampu yang luar biasa terangnya. Entah berapa watt saja.
Hanya beberapa puluh pengunjung di bagian depan, di kanan-kiri
panggung, yang duduk di kursi; lainnya lesehan di rerumputan alun-
alun. Banyak ibu-ibu yang menggelar selendangnya untuk tidur anaknya
yang masih kecil, bahkan bayi. Tapi, aku tak melihat istriku dan
simbok. Entah di mana mereka duduk. Aku terus menerobos pelan-pelan
dan kadang harus melingkar-lingkar dan berjalan miring di antara
pengunjung, agar bisa lebih dekat ke panggung.

Semakin dekat, semakin jelas sosok mubalig kondang yang dari kejauhan
suaranya menggelegar itu. Ternyata tubuhnya sedang-sedang saja. Yang
membuat tampak gagah justru pakaiannya. Dia mengenakan setelan baju
koko, tapi tidak seperti yang biasa dikenakan orang di kampungku.
Baju kokonya mengilap, mungkin dari sutra. Di bagian leher dan
dadanya ada bordiran kembang-kembang dari benang emas. Sorban yang
disampirkan di pundaknya juga tidak seperti umumnya sorban. Warna dan
coraknya serasi benar dengan setelan bajunya. Ada dua cincin bermata
zamrud dan pirus, besar-besar, di jari-jari manisnya. Penampilan
mubalig kondang memang lain dengan mubalig lokal yang biasa kami
saksikan. Bicaranya mantap. Gerakan tubuh dan tangannya benar-benar
sejiwa dengan isi ceramahnya.

Dan, wajahnya.... Dan, wajahnya.... Nanti dulu. Wajah itu seperti
sudah aku kenal. Tapi tak mungkin. Tak mungkin! Masa dia? Tapi persis
sekali. Dahinya yang sempit itu, matanya yang agak sipit dengan sorot
yang nakal itu, hidungnya yang bulat itu, mulutnya yang lebar dan
seperti terus mengejek itu, dagunya yang terlalu panjang itu, dan
telinganya yang lebar sebelah itu, ah tak mungkin lain. Aku tak salah
lagi, pastilah itu dia. Sudin!

Aku tiba-tiba kepingin mendengarkannya.

"Jadi sekali lagi, Saudara-saudara, maksiat yang sudah merajalela itu
harus kita perangi! Juga kenakalan remaja sekarang ini sudah sangat
mengkhawatirkan. Apa jadinya generasi kita yang akan datang bila
kenakalan remaja itu tidak segera kita tanggulangi sekarang juga.
Kalau di waktu muda malas, apa jadinya bila sudah tua? Kere, saudara-
saudara! Kere! 'Tul enggak?!"

"Betuuul!! Kereee!!" teriak hadirin serempak.

"Kalau di waktu muda sudah suka jambret, apa jadinya bila sudah tua.
Apa, saudara-saudara? Ko... ko...!"

"Korupsiii!!!" sekali lagi hadirin berteriak menyambutnya, disusul
tempik-sorak gegap gempita.

"Ya, korupsi!" ulangnya berwibawa.

Ah, Sudin, kau masih belum juga bisa fasih melafalkan huruf 'r'
sampai sekarang.

Memang ajaib. Sudin kawan di pesantren yang tadi baru saja datang di
lamunanku, kini --meski juga seperti tidak nyata-- berdiri di
depanku. Apa tadi itu firasat? Baru dilamun, tiba-tiba ketemu! Sudin
yang nakal. Sudin yang di pesantren langganan takzir. Sudin yang
diusir karena mencuri uang kas pesantren. Ah, siapa mengira kini jadi
mubalig kondang seperti itu. Bagaimana ceritanya Sudin sampai
memunyai karamah begitu besar? Bagiku itu sungguh musykil.

Kalau ini nanti kuceritakan kepada orang-orang kampung --kalau
kukatakan bahwa Almukarram KH Drs Samsuddin, mubalig kondang yang
baru saja berceramah di alun-alun itu adalah Sudin, kawan nakal saya
di pesantren-- pasti tak ada yang percaya. Istriku sendiri pun pasti
akan menertawakan. Lebih baik kuceritakan kepadamu saja.

***

*)semacam balai-balai sederhana

**) ribut; sibuk membicarakan

 
minds are like parachutes. they work best when open.

From: Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com>
To: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Sent: Friday, August 31, 2012 3:07 PM
Subject: [R@ntau-Net] Cerpen (tayang ulang): Yang Terhormat

muchwardi.muchtar

unread,
Aug 31, 2012, 4:51:06 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com

Dinda Akmal N. Basral n.a.s.

 

Barutuang Dinda hiduik di dunia tulih manulih dalam era multi media dan ado “alam maya”, sahinggo capek dibaco dan dimamah urang. Babeda jo zaman kutiko ambo (dan mungkin Sanak Dasriel

Akmal N. Basral

unread,
Aug 31, 2012, 6:01:59 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Mak MM (atau kanda?) nan juo panulih senior,
ado batuanyo pandapek Mamak tantang manulih di era multi media ko nan capek dibaco urang dan diberi tanggapan. Tapi sacaro kategoris, ambo dan 95 %  labiah panulih Indonesia (tuo mudo, tamasuak Mak MM) bukan panulih era multi media by definition. Kito-kito ko masih manunjuakkan ciri panulih era pre-hyper text (sabalun internet ditemukan), hanyo sajo "outlet" untuk menayangkan hasia karajo jadi labiah banyak dibanding era pre-hyper text tu.

Ambo lai mandanga kalau Mak MM ko juo seorang penyair hebat, dek karano antologi puisi Mamak nan bajudua "Berita Aneh: Kumpulan Puisi 1973-1977" diindex oleh National Library of Australia:


Baa caronyo ambo bisa mandapek kumpulan puisi jo tanda tangan Mamak tu?


Salam,

Akmal Nasery Basral
Cibubur


Sent from my iPad2
--

muchwardi.muchtar

unread,
Aug 31, 2012, 6:11:01 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com

Dinda Akmal N. Basral n.a.s, basarato Dunsanak komunitas r@ntau-net nan dirakhmati Allah Swt.

 

Barutuang Dinda hiduik di dunia tulih manulih dalam era multi media dan ado “alam maya” saroman kini, sahinggo capek dibaco dan dimamah urang tulisan awak babantuak cerpen nantun. Babeda jo zaman kutiko ambo era tahun 1975-1986 di Jakarta (dan mungkin Sanak Dasriel Noeha, 1971 di Padangpanjang), nan manulih pakai mesin tik dan naskah diantakan ka Redaksi (koran, majalah) atau dikirim malalui surek pakai parangko (Tercatat atau Kilat Khusus).

 

Kalau cerpen Dinda Akmal baru 14 judul, dan balakangan ---ambo like-- alah mulai disarang panyakik maleh pulo, mako ambo kalau dietong dari mulai cerpen ambo dipublikasikan di koran-koran atau majalah ibukota era tahun 70-an sampai tahun 80 akhia, lai indak kurang dari 60 judul. Sayangnyo di google.com kutiko ambo sigi malaui search namo entry Muchwardi Muchtar, indak ciek pun ado mancogok judul-judul cerpen nantun di sinan, (maklum kutiko cerpen-cerpen kritis dan satire tu dimuek di koran/majalah alun dikenal lai media on line sarupo kini ko). Paliang-paliang, kalau dicubo juo mancukia-cukia di google.com tu, nan kalua hanyo ciek cerpen ambo nan tampaknyo manjadi BAHAN BACAAN WAJIB BUEK ANAK-ANAK SMP (kelas IX?) di Jawa Tengah.  Sayangnyo, Tim Guru di Provinsi JaTeng nantun indak sangenek pun “kulo nuwun” bake Si mm karano cerpen ambo dipakai sabagai bahan pelajaran Sastra di bangku SMA.

Antahlah….., antahlah……!!!!!

 

Di ujuang surek Dinda Akmal N. Basral, mancibo mamanciang, “Baa caro supayo awak produktif manulih cerpen, tu?”

 

Jawaban dari ambo, normatif sajo. “Taruihlah mancintoi dunia tulih manulih”.

Kalau kini Dinda Akmal indak talakik lai (saroman jo ambo sapuluah tahun tarakhie ko di “dunia cerpen”) mangarang carito pendek, mako iko aratinyo Dinda indak lai mancintoi dunia tulih manulis cerpen. Mungkin alah maloncek atau alah labiah lamak basitungkin manjadi kuli disket, atau kuli flash disk atau kuli sinetron, dllsb.

 

Tapi……., sabagai paingek buek Dinda Akmal N. Basral, turun naiak kreativitas tulih manulih tu adolah suatu hal nan wajar tajadi bake diri anak manusia. Tanpa kecuali. Dulu, mantan narapidana Wendo (Arswendo Atmowiloto) di era tahun 80-90an paliang gilo manulih fiksi nan babantuak novel silek. Tapi di tahun 2000-an sampai hari ko, wanyo alah “pugaik sabalun mati” di dunia fiksi. Baitu pulo, surang kawan ambo di Yogyakarta nan banamo (mendiang) Mayon Sutrisno. Kutiko sumangaiknyo sadang tabudua, mako mambuek cerpen atau novelette  sarupo urang “tacirik sajo” (maaf, ambo pakai baso seniman). Dan……, biasonyo era manurun nantun akan salalu dialami dek saluruah panulih fiksi di ateh dunia. Saingek ambo, hanyo “Amai” Barbara Cartland sajo rasonyo, nan manjalang wanyo baliak ka alam baqa di umua 87 tahun, masih bisa maninggakan ciek novel “cinta”.

 

Suruik baliak ka subjek utamo, basamo surek listrik ko sangajo ambo salek-an ciek cerpen (dari >60 cerpen ambo nan panah dimuek koran Jakarta --indak tamasuak Koran Singgalang atau Canang di Padang) nan kabanyo hinggo tahun 2012 ko cerpen  nan bajudul HARGA DIRI (dimuek dalam majalah Sastra Horison, No. IX, Jakarta, September 1981), masih juo manjadi bacaan wajib di babarapo SMP di kota Jawa Tengah.

 

Salamaik manikmati cimeeh Si m.m via cerpen nan (kabanyo) sempat mambuek talingo Mantari PDK –ukatu tu--  Nugroho Notosusanto merah nyalo (?) kutiko mambaconyo.

Antahlah……………….

 

Tampaknyo, sakali-sakali “malakek-an baju sampik tu, ado lamaknyo, yo MakNah? Atau dalam garah urang Gasan-gadang, : ”Ubek panjang umua dari urang-2 nan panah jaya adolah mangana-ngana surang kutiko wanyo bahagia tu ”.  Baitu, kan Jo Dut?

He he hehe…….

 

Salam………………………………………………..,

 mm***

NB : Rang Dapua, maaf sabaleh jo kapalo, karano memori attachment sakali ko agak malabiahi kuota 200KB.

 

From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of akmal n. basral


Sent: Friday, August 31, 2012 3:14 PM
To: rant...@googlegroups.com

Subject: @ Dasriel Noeha ... Re: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

CERPEN MM DIBUAT JADI BAHAN PELAJARAN ANAK SEKOLAH LANJUTAN PERTAMA - 11 Bab 9.pdf

Hanifah Damanhuri

unread,
Aug 31, 2012, 11:11:11 AM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Assalammualaikum Wr Wb pak Akmal

Iyo Rancak dan lasuah mambaco tulisan bpk

Takana lo di awak katiko SMA
Namo awak babedo sen surang di tangah namo nan rancak-rancak
Yulfidesy, desy yunio sari, susiana, tinawati, medya rosha dll
Sahinggo alah ibo lo ati, sudahlah indak rancak, namo kuno pulo...

Kato papa, papa agiah namo hanifah, supayo nanti ipah jadi urang jujur....

Nah baru tasadar namo itu rancak
Katiko basuo jo mantan mahasiswi yang cantik namanya EKA  di angkot. EKA jadi guru, dan alah punyo anak.
" Bu, saya sudah punya anak, nama anak saya HANIFAH..."

Wass

Hanifah

Akmal N. Basral

unread,
Aug 31, 2012, 8:25:48 PM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Wa'alaikumsalam Wr Wb Bu Hanifah,

Ado carito satu kutiko ambo mambao anak-anak ambo ka dokter anak, beberapa tahun silam. Ibu dokter ko urang awak lo, bajilbab, usia alah  50-an, tipikal amai-amai Minang. Dicaliaknyo wajah anak-anak ambo, lalu buku info pasien di tangannyo barulang kali.

"Nggak salah nih, Pak Akmal?" keceknyo.

"Nggak salah apanyo, Dok?" jawek ambo agak binguang sambia mancaliak istri.

"Putrinya cantik-cantik begini, kok namanya nama kampung semua," lanjuiknyo sambil mambaco buku anak ambo nan sulung "JIHAN MAGHFIRA," keceknyo, lalu mambaco buku anak bungsu, "MARYAM AYLATIRA," lanjuiknyo kareh-kareh. Anak kaduo (tangah) ndak ikuik wakatu itu. Lalu bu dokter mangecek ka Jihan, "Minta tuker saja namanya sama Papa biar keren seperti anak Jakarta lain, Jihan," keceknyo tersenyum mambuek kito sadonyo tagalak.

"Anak-anak lahir di bulan Ramadhan, Dok," jawek ambo. "Jihan tanggal 11 Ramadhan, makanya namanya Maghfira dari periode Maghfira. Kalau Ayla itu 3 Ramadhan, maka namanya Aylatira, Anugerah Yang LAhir TIga RAmadhan."

"O begitu," jawab si dokter. "Nama ibu saya juga Maryam kok."

Lalu kejadian lain saat Ayla berumur 3 tahun, ambo diundang buko puaso oleh Pak Haz Pohan, saat itu masih Dubes Indonesia di Polandia. Basamonyo ado pulo dosen Indonesia asal Bandung nan maaja di Poznan, salah satu kota di Poland. Pembicaraan manyenggol pulo soal namo anak-anak. Manuruik dosen asal Bandung tu, di Poland banyak bana namo Maryam dipakai dengan variasi panulihan Mariam/Meriam. "Tapi biasanya nama panggilan mereka Mayla, bukan Ayla," kecek dosen ko. Anak ambo diam sajo salamo awak mangecek ko.

Bisuak pagi di rumah, baitu bangun Ayla langsung mangecek ka ambo. "Ayla namanya ganti jadi Mayla aja, Pa," keceknyo. Ruponyo didanganya nyo bana pambicaraan kapatang. Sajak itulah namo panggilannyo baganti hinggo kini manjadi Mayla. 

Akhia September muko umua Mayla 6 tahun, dan alah didapeknyo Piala Presiden nan labiah tinggi dari badannyo kutiko April lalu inyo dan kawan-kawannya memenangkan juara umum Kids Marching Band Festival VII (menang di tujuah kategori) nan diikuti TK Se-Indonesia. Piala asli ditempatkan di sekolah, setiap anggota mendapatkan replikanya.

Salam,

Akmal N. Basral


On Aug 31, 2012, at 10:11 PM, Hanifah Damanhuri <ifa...@gmail.com> wrote:

Assalammualaikum Wr Wb pak Akmal

Iyo Rancak dan lasuah mambaco tulisan bpk.

Hanifah Damanhuri

unread,
Aug 31, 2012, 9:14:49 PM8/31/12
to rant...@googlegroups.com
Jadi takana pulo sangkek kuliah s1 dulu
Biasolah, sasudah dosen manjalehkan materi, lalu dosen manyuruah mhs maju kamuko manyalasaikan soal.
HANIFAH kato pak dosen mamanggia
tagak wak...
baru tagak langsuang pak dosen batanyo, ISLAM ya?
Tantu alah tacangang sen wak
mode rambuik sangkek itu, iyo ba poni
rok singkek, di ateh lutuk senek
mato jo kulik gon kali nan mambuek ragu urang
Bisuakno galak -galak pak dosen dun.... den kiro cino katono

Amak wak sanano rancak sangaik, kayak bule
Yaaa nasib awak sen nan mangkon ka baa juo li he he he
Papa mamanggia awak ipah
mama wak mamanggia awak ANIP
kawan-kawan nan acok main karumah pasti mamanggia awak anip
tapi kini urang acok mamanggia awak jo panggilan  bu hanifah .... langkok jadino  he he he

Wass

Hanifah

ZulTan

unread,
Sep 1, 2012, 6:12:28 AM9/1/12
to Rant...@googlegroups.com


Sanak Akmal YSH,

Ambo yo salut dengan Sanak. Ndak sumbarang panulis bisa cerpennyo dimuek di Kompas Minggu. Sanak Akmal lah mambuktikannyo. Iko cito-cito ambo sajak sari, namun aluh panah kasampaian. Alun ciek juo cerpen ambo nan ambo kirim ka Kompas karano memang alun panah manulis cerpen. Hampia tiok tahun ambo mambali kumpulan Cerpen Pilihan Kompas terbitan Gramedia. "Bilolah kamasuak namo ambo di situ?"

Baa triknyo mambuek cerpen tu Sanak Akmal?

Ambo suko cerpen Boyon ko karano ndak banyak kato-kato babungo sarupo: angin semilir, bulan tersenyum di balik awan yang merekah, derik pintu menikam keheningan malam, matahari bersinar lembut, dlsb. Bukannyo ambo alergi hanyo kadang-kadang bakalabihan.

Ambo bisa sajo bakomentar "mantap" taradok Si Boyon ko, tapi ambo ndak dapek baraja dari siko. Dek ingin baraja itulah, makonyo ado babarapo partanyaan satantang Si Boyon ko.
Satiok pertanyaan ambo dahului jo kutipan yang marupakan penggalan kalimat dari Cerpen Boyon.

Kutipan:
"... di desa Kapau yang terkenal dengan kelezatan nasinya."

Apakah nasinya atau masakannya yang terkenal lezat? Tentu kelezatan nasi Kapaunya.

Kutipan:
"... kontraksi perut ibu berlangsung lebih cepat tiga pekan dari perkiraan. Malam harinya ibu melahirkan dengan bantuan bidan."

Kapan Boyon lahir? Apakah sudah ada cara mendeteksi kelahiran pada masa itu?

Belakangan saya dapat perkirakan si Boyon lahir antara tahun 1970-1971. Ini saya duga dari saat dirilisnya film Catatan Si Boy tahun 1987, Si Boyon baru masuk SMA, umur 16 tahun.

Apa iya, tahun 1970, sudah dapat diperkirakan kapan seorang ibu hamil melahirkan, yang tinggalnya jauh dari peradaban moderen? Apakah dihitung sejak bulan tidak haid? Bisakah tahu tiga minggu lagi?

Kutipan:
"... Tentu saja aku tak ingat kejadian itu kalau tidak diceritakan lagi oleh ibu."

Ada dua kata yang terasa kurang pas: ingat dan lagi. "Tidak ingat" berarti sesuatu pernah diketahui pada masa lalu dan kini lupa. Tidakkah kata "tidak tahu" lebih cocok di sini.

Kata "lagi" dalam konteks itu, tentu "bercerita kembali". Apakah memang demikian?

Tidakkah kalimat di bawah ini lebih cocok untuk menggambarkan kalimat di atas.

"... Tentu saja aku tidak tahu kejadian itu, jika ibu tidak pernah menceritakannya."

Kutipan:
'"Nama yang bagus, tapi ..." Ayah jelas tak setuju.'

Kenapa kata "jelas" yang digunakan. Kata ini memberikan makna "kepastian", padahal Ayah belum menyelesaikan kalimatnya. Entah apa yang akan dikatakannya sesudah itu. Apakah kata "tampaknya", "seperti", atau "seakan" tidak lebih sesuai. "Ayah tampaknya tidak setuju."

Kutipan:
"Setelah beberapa detik gagal menemukan kata-kata yang pantas, sikap ayahku yang gadang ota,..."

Apa fakta yang telah diungkapkan sejauh ini, sehingga pembaca dapat menerima kesimpulan si Boyon (si Penulis) bahwa Ayahnya "gadang ota"?

Selain itu, saya melihat kata "gadang ota" terlalu dipaksakan hadir dalam kisah ini. Setidaknya, kata ini diulang tiga kali. Bahkan, ada satu alinea sampai mengulangnya dua kali. Jika perilaku ayah digambarkan dengan tepat, sifat "gadang ota" ini tentu dengan sendirinya akan muncul dibenak pembaca. Kepulangan Ayah ke tanah air karena takut polisi, bagi saya lebih cocok disebut "gadang kalang" daripada "gadang ota".

Kutipan:
"... ayah menjentikkan jarinya seperti mendapatkan ilham."

Saya bertanya, apakah seseorang akan "menjentikkan" jarinya ketika mendapat ilham?

Apakah maksudnya menggesekkan ibu jari dan jari manis hingga mengeluarkan bunyi?
"Menjentikkan" biasanya digunakan ketika mengusir lalat yang hinggap di bibir gelas atau ketika guru menghukum murid.

Kutipan:
"Pendidikan ayahku yang kandas setingkat kelas 4 Ibtidaiyah,..."

Bukankah kata-kata "setingkat" dan "kelas" kedua-duanya bermakna serupa? Tidakkah jadi "redundant" alias mubazir?

Menurut saya dapat saja keduanya digunakan dalam satu kalimat dalam makna yang berbeda jika kalimatnya seperti ini, "Pendidikan ayahku kandas di kelas 4 Ibtidaiyah, setingkat Sekolah Dasar di kota-kota."

Kutipan:
"SEWAKTU bersekolah di SD dekat rumah, teman-teman memanggilku Boyon. Aku merasa biasa saja, .."

Ada dua kata yang ingin saya tanyakan. Satu, kata "SEWAKTU". Apakah sebelum SD, Boyon tidak dipanggil "Boyon"? Kedua, "Aku merasa biasa saja, ..". Ucapan ini membingungkan. Bukankah memang seharusnya dipanggil Boyon? Lain jika di SD itu ia dipanggil "Bonyok", lalu bersikap "biasa saja" wajar adanya.

Kutipan:
"Menjelang pucuk malam,... Sedangkan guru mengaji yang rajin berkhalwat kepada Allah Ta'ala itu kuintip tengah mengerjakan shalat malam."

Jam berapa "pucuk malam" itu? Saya menangkapnya pukul 00.00. Jika pengertian "pucuk malam" seperti pemahaman saya, tentu guru mengaji ini melakukan amalan yang tidak ada contohnya. Namun pertanyaan saya tentu tidak relevan jika "pucuk malam" diganti dengan "selepas tengah malam" atau di "sisa malam".

Kutip:
".., wajahku terlihat lebih mirip Emon karena rambut ikalku serta postur dengan berat 82 kilogram dan tinggi 164 sentimeter. Terlalu berat?"

Apakah tepat menggambarkan wajah mirip karena rambut, berat dan tinggi badan? Bukankah penggambaran wajah dengan elemen rambut dan bobot badan, lebih menggambarkan postur "ketimbang" wajah. "Postur tubuhku lebih mirip Emon."

Selain itu kata "terlalu berat" jarang kita dengar digunakan dalam mencocokkan seseorang dengan orang lain. Biasanya digunakan kata-kata "terlalu gemuk, terlalu besar, atau terlalu tinggi".

Kutipan:
"... Jangan lupa aku berasal dari Kapau. Kalau baru menyantap sepiring nasi, rasanya seperti baru makan sehelai roti.

Jumlah kehadiranku di dalam kelas sebanding dengan jumlah ketidakhadiranku..."

Apa yang saya lihat dari kutipan di atas? Ini adalah dua alinea yang tidak berada dalam satu ide alur cerita. Ada loncatan berpikir/ide. Jika benar, tidakkah seharusnya ada tanda bintang tiga (***) sebagai pemisahnya pada baris tersendiri? Atau dapat pula menandakannya dengan kata pertama aliena kedua tadi dengan huruf kapital. Dalam hal ini, "JUMLAH kehadiranku..."

Kutipan:
"Saat pengumuman kelulusan SMA diumumkan, ...".

Tidakkah pengulangan kata "umum" terkesan pemborosan dan dapat menyebabkan pembaca bosan?

Tidakkah lebih sederhana kalimat seperti ini, "Saat kelulusan SMA diumumkan, ..."

Kutipan:
'"Idih, jorok sekali sih namamu," teriak salah seorang. Aku jadi malu setelah seseorang membisiki betapa mengerikannya ...'

Hal serupa juga saya temukan pada dua kalimat ini. Mengulang kata "orang" dalam kalimat-kalimat yang berdekatan.
Bagaimana jika diubah menjadi; '"Idih, jorok sekali sih namamu," teriak seseorang. Aku jadi malu setelah ada yang membisikiku betapa mengerikannya ...'

Kutipan:
"... Jacky Chan..."

Bolehkah mengganti nama tokoh nyata seperti Jakie Chan menjadi Jacky Chan? Atau memang kesalahan ketika belaka.

Kutipan:


"Tinggi tubuhku terdongkrak 2 senti dari 164 menjadi 166 cm."
Perlukah memberikan kalimat matematis seperti ini? Tidakkah cukup mengatakan "Tinggi tubuhku terdongkrak 2 senti menjadi 166 senti" tanpa menyebut ulang angka 164? Saya pernah melihat iklan yang menggunakan seleb top tapi masih menuliskan namanya pada iklan tersebut. Ini memberi kesan pemirsa/pembaca itu "tidak pintar".

Kali ini tanpa kutipan.
Ada fakta yang terlihat janggal. Di masa pertumbuhan, sejak usia masuk SMA hingga kuliah si Boyon tidak bertambah tingginya, tetap 164. Ketika kuliah, ia sampai memerlukan kursus ortopedi, padahal ini masih dalam usia pertumbuhan (18-19 tahun). Demikian pula beratnya, tidak naik tidak turun sejak itu; 82 kg sejak dulu. Apakah ini kealpaan si Penulis?

Kutipan:

"Dia menulisnya sudah lama sekali. Pesannya tolong diberikan kepadamu jika dia meninggal."

Apakah penggunaan kata "lama sekali" sudah benar di sini? Kata lama sekali memang relatif karena tergantung konteks. Surat almarhum Ayah ditulis dua tahun menjelang wafat. Ini saya tahu dari tanggal surat menjelang Boyon lulus SMA dan wafat saat di tingkat dua. Tampaknya kata "lama sekali" kurang tepat untuk periode singkat tersebut. Namun, entahlah bagi orang tua di kampung.

Tanpa kutipan.
Pertanyaan lain, apakah kata seperti "ayah" dan "ibu" di sini tidak sebaiknya ditulis dengan huruf awal kapital (Ayah/Ibu) karena ditujukan kepada orangtua Si Boyon, guna menggambarkan rasa hormat?

Ada beberapa kata asing yang seharusnya dicetak miring, tapi di sini tidak. Sumuk, keren, ngaji, nongkrong, modern, dan
bagal. Apakah ini memang lazim dalam penulisan cerpen?

Demikian pula kata-kata seperti: sedang, maka, yang, dan tapi, apakah boleh jadi awal kalimat? (Saya bisa maklum bila itu merupakan ucapan langsung, tentu tidak mengapa.)

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan orang yang ingin belajar, Pak. Banyak maaf.

Salam,
ZulTan, L, Bogor

Action cures fear.

From: "akmal n. basral" <an...@yahoo.com>
Date: Thu, 30 Aug 2012 23:44:53 -0700 (PDT)
Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

--

ronald...@gmail.com

unread,
Sep 1, 2012, 6:47:27 AM9/1/12
to rant...@googlegroups.com
Kanda ZulTan yb,

Satu ambo sakaki, kalau buliah...

Satahu ambo, dlm panulisan sebuah cerpen, penulis bebas manggunokan berbagai gaya bahasa dan kosakata. Mako tak jarang awak temui berbagai kosakata, yg terkadang, sengajo dibuek jumpalitan agar sasuai Jo imajiasi si panulis.

Cerpen adolah "samudra imajinasi" si panulis yg dituangkan dlm bantuak kata Dan kalimat. Cerpen bukanlah sebuah Karya ilmiah, yg harus memenuhi standar penulisan bahasa yg baik. Bahkan terkadang, si penulis sangajo mambuek istilah - yg hanyo inyo yg tahu :-) - sampai kamudian di kutip baliak pado cerpen barikuiknyo sarato maknanyo. Justru iko kelebihan sebuah cerpen manuruik ambo. Maajak pambaco ikuik berkelana dalam lautan imajinasi penulis. Terkadang pambaco langsuang mangarati, terkadang pambaco jadi penasaran sampai manunggu cerpen barikuiknyo.

Sangenek, maaf kalau salah Yo kanda.

Wassalam
Ronald - depok
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "ZulTan" <zul...@yahoo.com>
Date: Sat, 1 Sep 2012 10:12:28 +0000
Subject: Re: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

Akmal N. Basral

unread,
Sep 1, 2012, 9:36:46 PM9/1/12
to rant...@googlegroups.com
Selamat pagi kanda ZulTan di Bogor,
Wah pertanyaannya kelas berat semua, seperti sedang dalam kelas Teknik Editing atau Apresiasi Prosa :)

Cerpen "Boyon" ini pertama kali muncul di Koran Tempo Minggu, dengan editor (tamu) sastrawan Nirwan Dewanto. (Kalau tidak salah, sampai sekarang Nirwan masih di posisi ini). Syarat teknis cerpen koran yang maksimal 10.000 karakter membuat versi koran agak sedikit berbeda dengan cerpen asli yang hampir 15.000 karakter, atau 1,5 kali lebih panjang. 

Secara umum, cerpen tak ubahnya seperti Asinan Bogor atau Pecal. Di Cibubur ada Asinan Bogor Ibu Yenny yang terkenal (bukan Asinan Bogor Ibu "Non-Yenny"). Di Bukittinggi, ada Pical Si Kai. Kalau kedua kandungan makanan ini dianalisis ahli nutrisi atau ahli gizi secara cermat, mungkin tak ada lagi orang yang mau berkunjung makan. Tapi seringkali enaknya makanan bukanlah tergantung pada pengetahuan si pencecap tentang komposisi karbo, protein, dll. 
Horace mempostulasikan sifat ini dalam sastra sebagai "dolce et utile" (manis dan berguna).
"Manis" adalah sebuah kondisi yang berbeda dengan "normal". Kadar "manis" pun berbeda bagi setiap orang. Begitu juga dengan "berguna". Apa yang menurut Horace "berguna" dari sebuah karya, mungkin kurang gunanya bagi pembaca lain. Tetapi, secara rata-rata, pembaca/pendengar/penonton paling awam bisa mengetahui mana karya sastra/film/musik yang "manis dan berguna". Karya-karya yang "benar" secara aturan gramatika, seringkali menjadi "klinis", kering, dan akibatnya, tak memenuhi kaidah "dolce et utile".

Itu sebabnya sastra bisa menerima gaya penulisan "mubazir" yang disebut Pleonasme, bentuk majas yang "lebay" meminjam istilah anak muda sekarang. (Badu maju ke depan, contohnya. Masak sudah jelas "maju" masih perlu ditambah "ke depan" pula, menurut logika bahasa yang efektif. Tapi dalam konteks sebuah karya ini yang menjadi "manis"-nya karya itu).

Ada contoh lucu tentang seseorang yang punya kebiasaan menakar pemakaian bahasa secara kritis, ketika orang ini berkunjung ke pasar. Dia mampir ke sebuah los penjual ikan yang memasang tulisan "DI SINI JUAL IKAN SEGAR" yang ditulis indah untuk menarik minat pembeli.

Sang "kritikus" langsung bertanya, "Kemarin saya lihat belum ada tulisan itu, kapan dipasangnya? Dan apa gunanya?"

"Memang baru dipasang Tuan," jawab penjual ikan. "Semoga semakin banyak pengunjung pasar ini yang membeli ikan saya setelah membaca tulisan itu."

"Tetapi itu mubazir," jelas Sang Kritikus. "Semua pengunjung pasar ini tahu bapak menjualnya di sini, bukan di sana. Jadi mengapa harus ada tulisan DI SINI? Coba bapak pikirkan."

Seperginya Sang Kritikus, penjual ikan memutuskan bahwa pendapat itu benar, sehingga dia memotong bagian kayu yang bertuliskan kata "DI SINI", sehingga yang tersisa hanya "JUAL IKAN SEGAR"

Keesokan harinya Sang Kritikus datang lagi ke los ikan itu, melihat pada tulisan yang sudah lebih pendek dan bertanya kepada si penjual ikan, "Jadi selama ini bapak menjual ikan TIDAK segar ya?"

Kagetlah si penjual ikan sampai berteriak, "Demi Allah dan RasulNya, tak pernah sekali pun saya menjual ikan busuk yang menipu pembeli."

"Kalau begitu untuk apa ada kata SEGAR di sana?" tunjuk Sang Kritikus pada kalimat di atas kepalanya.

Sepulangnya Sang Kritikus, penjual ikan yang merasakan ada benarnya pendapat itu, memotong tulisan SEGAR, sehingga kini yang tersisa hanya JUAL IKAN.

Besok harinya, Sang Kritikus kembali ke pasar itu. Sambil melewati los ikan, dia berkata kepada sang penjual, "Saya tidak tahu kalau sebelum ini bapak selalu memberikan gratis ikan-ikan kepada orang lain."

Bingunglah si penjual ikan dan bertanya, "Kenapa bapak berpikir begitu? Bukankah bapak tahu bahwa ini pasar, tempat jual beli."

"Kalau begitu kenapa harus dijelaskan dengan kata JUAL," sambar Sang Kritikus. "Bukankah tanpa tulisan itu pun orang-orang tahu bahwa bapak menjual ikan, bukan membagi-bagikan dengan gratis?"

Maka untuk ketiga kalinya si penjual ikan pun menghilangkan tulisan itu sehingga hanya tersisa kata "IKAN" saja.

Selesai? Belum sama sekali.

Keesokan harinya lagi Sang Kritikus yang lewat di depan los ikan memanggil seorang anak kecil yang ada di dekatnya, membuat si penjual ikan bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Zang Kritikus. Rupanya lelaki itu bertanya kepada sang bocah, "Nak, kau tahu hewan apa itu?" katanya sambil menunjuk pada tumpukan ikan si penjual.

"Ikan," jawab si anak.

"Nah, bapak lihat sendiri bukan," ujar Sang Kritikus kepada si penjual ikan, "bahkan anak kecil pun tak perlu dibantu dengan tulisan IKAN untuk tahu bahwa yang bapak jual adalah ikan. Kecuali bapak menjual hewan yang namanya tak diketahui pengunjung pasar, maka tak ada guna sama sekali tulisan IKAN itu masih bapak pampang selain menunjukkan kemubaziran saja."

Akhirnya pada akhir hari yang malang itu, sembari membereskan los dagangan, si penjual ikan membuang kata terakhir IKAN di losnya ke dalam tong sampah bersama sisa-sisa kotoran ikan.

Moral of the story: jangan berjualan ikan pada kritikus bahasa, juallah pada ibu-ibu rumah tangga yang membutuhkan, hehehe.... 


Selamat berakhir pekan bersama keluarga Kanda ZulTan.

Salam,

Akmal Nasery Basral
Cibubur


Sent from my iPad2

ZulTan

unread,
Sep 2, 2012, 3:35:02 AM9/2/12
to Rant...@googlegroups.com

Sanak Akmal NB,
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu

Saya makin paham atas penjelasan tadi bahwa cerpen itu tidak harus kaku. Mungkin selama ini saya terlalu baku sehingga sulit merangkai sebuah kisah agar layak dihadirkan. Namun, bagi saya sebuah cerita yang melibat satu saja fakta nyata haruslah konsisten dengan fakta-fakta nyata berikutnya sampai kisah diakhiri. Sebuah cerita haruslah benar-benar hidup, melibatkan emosi, masuk akal, hingga terkesan seperti kisah nyata. Bacalah cerpen Dawam Rahardjo,"Si Gila dari Dusun nCuni" yang dimuat di KOMPAS Minggu, mencerminkan apa yang saya maksud.

Cerita yang baik haruslah dapat dijadikan sebagai hadiah yang setimpal bagi pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membacanya dan mungkin juga telah membelinya. Saya sangat jarang membaca cerpen, novel, atau pun Kho Ping Hoo, termasuk Cerpen Minggu di Kompas karena enggan meluangkan waktu untuk itu. Namun, saya terbantu ketika membaca Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas tanpa khawatir akan kehilangan waktu karena cerpen yang ada hasil seleksi yang cukup ketat. Walau saya mengatakan jarang tidak berarti tidak pernah. Sekali waktu, saya sempat membaca karya IYUT FITRA yang ditulis di Payakumbuh tahun 2005 dan dimuat pada edisi KOMPAS Minggu, 30 Oktober, dengan tajuk "Langit Malam". Saya beruntung karena saya menyukainya. Cerpen itu saya ketik ulang dan tersimpan di komputer saya hingga entah kapan.
Bagi saya, sekali lagi, bagi saya, cerpen yang baik haruslah mendorong lahirnya komentar pembaca seperti, "kok bisa ya! Kok kepikiran ya bikin cerita gini!" Atau "luar biasa..." dan ia pun berkeinginan berbagi kisah ini dengan orang lain. Jika tidak, berarti itu cerpen "hambalala"1).

Sanak Akmal YSH,

Jujur, saya baru pertama kali mendengar kisah Kritikus dan Tukang Ikan tadi. Cerita yang bagus. Pesan moralnya adalah "Don't believe everything you hear." Ini, tentulah bukan cerita "hau-hau"2). Saya teramat penasaran dan ingin tahu siapa Kritikus "lebay" ini sebenarnya. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya tahu Kritikus Sastra Senior yang berasal dari Jawa Tengah ini suatu ketika pernah di karantina di sebuah rumah sakit jiwa karena kritik-kritik yang dilontarkannya terlalu pedas dan tajam, keluar dari norma-norma kepatutan, etika dan tata krama, tanpa mengindahkan perasaan si penulis. 

Menurutnya "triangle" ilmu sastra meliputi kritik sastra, teori sastra dan sejarah, bila dapat berjalan normal, fungsional dan optimal, maka kemajuan ilmu sastra dapat tercapai.  Idealis memang.  Namun demikian, beberapa rekannya menganggap Kritikus ini rada ”sedeng”.

Hasil pemeriksaan psikater menyarankan supaya memberikan buku-buku untuk membantu percepatan penyembuhannya selama masa karantina.

Setiap tiga hari kitikus "gaek" ini dikirimi berbagai buku, terutama yang berkaitan dengan sastra. 
Beliau mampu melahap 2-3 buku hanya dalam tiga empat hari saja, lalu
mengkritiknya.  Empat lima buku
dikirim, seminggu selesai lalu dikritik. 
Demikian seterusnya. Tak ada yang luput dari kritikannya.  Aneh, ”sakit”-nya tambah menjadi-jadi.  Teman-teman dan keluarga kewalahan buku apalagi yang sebaiknya dikirim.  Akhirnya diputuskan untuk memberikan sebuah buku yang agak tebal agar dibaca lebih lama.

Setelah tiga hari tidak ada kabar darinya meminta buku baru seperti biasa.  Selang dua minggu kemudian demikian pula; tak ada permintaan. Temannya jadi penasaran dan membezoeknya didampingi teman lain.
Setelah menanyakan keadaan si Kritikus, teman itu bertanya, ”Bagaimana dengan buku yang dikirim dua minggu lalu, Pak?”
”Saya masih membacanya!”
”Kenapa sekarang Bapak membaca lebih lama dan tidak seperti biasanya?” tanyanya lagi.
”Buku ini unik. Terlalu banyak tokoh yang terlibat.  Pola hubungan antara satu tokoh dengan tokoh lain tidak dijelaskan.  Alur ceritanya melompat-lompat.  Peran masing-masing tokoh sangat samar.  Tak ada karakter yang menonjol. Si apa ayah, siapa ibu, mana anak?  Siapa yang lebih muda, lebih tua, dll, sulit ditebak.  Mungkin harus dibaca berulang baru bisa dipahami,” katanya antusias.
”Satu-satunya hal yang paling jelas adalah domisili masing-masing
tokohnya,” lanjutnya.
”Baik Pak,” katanya sambil mengangguk-angguk. 
”Silakan Bapak lanjutkan membacanya dan kami mohon pamit.”
Setelah di luar ruangan, si pendamping yang sejak tadi diam bertanya penasaran, ”Buku apa sih yang diberikan?”
”Buku telepon,” kata temannya tak acuh!

Salam,
ZulTan, L, Bogor


Bahasa Minang:
1. "Hambalala": tak ada rasa apa-apa
2. "Hau-hau": asal-asalan, sembarangan


Action cures fear.

ZulTan

unread,
Sep 2, 2012, 8:05:54 AM9/2/12
to Rant...@googlegroups.com


Dinda Ronald YBH,

Sapandapek ambo jo Ronald, baso manulis cerpen bisa labiah bebas ndak saroman manyusun karya ilmiah. Namun ambo caliak ada juo cerpen yang ditulis dengan bahaso EYD dan tatap lamak dibaco. Iko ambo rasokan kalau mambaco cerpen Dawan Rahardjo. Mungkin paralu waktu dan karajo kareh untuak mambuek cerpen jenis iko.

Tarimo kasih atas masukan Dinda nan lah mampalueh pamahaman ambo tantang tulih manulih.

Armen Zulkarnain

unread,
Sep 3, 2012, 12:11:32 AM9/3/12
to rant...@googlegroups.com

Kok ditanyo jaleh-jaleh, ambo bukan fotografer, labiah cocok disabuik suko mamoto atau hobby sajo. Namun pun baitu, ado sajo nan mintak baraja untuak mamoto ko. Ambo sendiri indak pulo barek untuak share pengetahuan nan ado. Jadi kalau ado nan ingin baraja, selalu ambo suruah bao kamera, kudian cobo dipatiak, baru inyo bisa batanyo apo nan paralu ditanyo.

Baraja babeda jo badebat, ilmu nan kito punyo indak pulo banyak, hanyo bisa di share nan kito tahu pulo. Mangko dek itu ambo alun bisa manyabuik awak ko fotografer. Kok ado nan mangajak badebat mengenai foto, ambo galak sajo, sabab wakatu ko sabana baharogo daripado dihabihkan untuak batikai jo kato-kato. Kok ka baraja, iyo didanga jo dikarajokan apo nan disuruah, saroman baraja silek maso ketek daulu.

wasalam

AZ/lk/34th/caniago
Kubang, sadang di kampuang
babako ka Canduang Koto Laweh, Agam



Dari: Akmal N. Basral <an...@yahoo.com>
Kepada: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Dikirim: Minggu, 2 September 2012 8:36
Judul: Re: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"

Akmal N. Basral

unread,
Sep 3, 2012, 12:23:37 PM9/3/12
to rant...@googlegroups.com
Iko jawaban sanak Armen untuak sia sabananyo? Untuak ambo kah atau kanda ZulTan? 
Bataruih tarang se lah :)

Kalau untuak ambo, ado carito sangenek.  Kok pandapek sanak Armen "baraja babeda jo badebat" ko dikece'an di muko Deddy Mizwar, alah pasti inyo akan manjawek, "badebat itu bagian dari baraja." 

Tahun 2006-awal 2007 saat ambo manulih novel "Nagabonar Jadi 2" basamo DM jo timnyo nan mambuek film "NJ2", DM bacarito banyak tentang proses kreatif film "Nagabonar" (1986) nan ditulih Asrul Sani. "Asrul itu pengetahuannya luas sekali, kalau bikin cerita dia seperti tinggal ambil bahan dari otaknya seperti orang biasa ambil buku dari lemari," ungkap DM. "Cuma kalau ditanya langsung, biasanya dia malas menjawab. Jadi ane punya cara supaya Asrul mau bagi ilmu. Ane ngomong ngaco aje ngedebat die, lama-lama Asrul panas. Kalo udah panas, keluar deh semua teori dari mulut die. Ane langsung inget dalam hati semua penjelasan die. Die kagak tahu kalo ane sengaja ngelakuin itu, hahaha....," keceknyo jo galak badarai-badarai.

Salam,

Akmal Nasery Basral 
L/44/Koto
Cibubur

Armen Zulkarnain

unread,
Sep 3, 2012, 3:12:06 PM9/3/12
to rant...@googlegroups.com

Tantu untuak nan ka baraja pak Akmal.

Ambo manulih agak tagageh-gageh dek pagi tadi ka bajalan ka Padang. LPM Marapalam rencananyo akan mamasarkan madu dari ranah minang, kabatulan cubo kito bali kapatang di Sijunjuang & akan dikirim ka Jakarta via Padang. Salain itu ambo harus ka Padang dek buku tabungan batinggaan di kantua BNI Syariah (kabatulan uni ipa ambo karajo disinan), agak rumik maambiak jo ATM dek takadang nan punyo jawi simmental ko indak punyo rekening pulo atau indak tabiaso transaksi liwaik rekening.

Urang awak ko tamasuak santiang jo gemar badebat, namun sayang dek suko badebat ko, apo nan alah didebatkan jarang nan dikarajokan, sahinggo muluiklah kariang, manfaatnyo kurang pulo. Pangulu kami daulu pernah bapasan kapado anak kamanakannyo, nan ambo danga dari anaknyo nan katigo wakatu harirayo kapatang, Sabuiknyo, "Mancari kawan rancak di masajik, ijan cari di palanta. Di palanta labiah banyak hao sajo nan didapek, tampek habih gisia manggisia". Anak pangulu kami ko kini umuanyo 83 tahun, adiak nenek tibo diambo sabab pangulu ko mamak kontan dari nenek ambo.

Di palanta ko takadang ado perdebatan, nan kito urang minang ko kadang suko manggunokan kato kiasan nan indak mudah maartikan mukasuik nan disampaikan. Bahubuang media milis ko hanyo bantuak tatulih nan bisa ditampilkan, nan takadang mimik jo intonasi mempengaruhi daya tangkap mukasuik nan disampaikan.

Tahun 2010 nan lalu alah habih satahun tapakai di palanta nan ko badebat nan indak kunjuang habihnyo. Ambo kiro, hal itu mambuang banyak wakatu jo energi nan sabana baharago. Jadi manuruik ambo, kok ka badebat, ijan melalui milis atau email, rancak batamu lansuang sahinggo indak tajadi salah takok.

wasalam

AZ/lk/34th/caniago
Kubang, baru sajo sampai di kampuang  
babako ka Canduang Koto Laweh, Agam.

Dikirim: Senin, 3 September 2012 23:23
Judul: Re: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon"
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages