TANGKELEK

71 views
Skip to first unread message

rinapermadi

unread,
Jan 7, 2011, 4:56:41 AM1/7/11
to rant...@googlegroups.com

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak Palanta nan mulie,

 

Mengenang keberadaan sandal rumahan gaul ala jadul yang penuh dengan kenangan masa kecil. Inspirasi tulisan ini berasal dari sebuah percakapan dengan seorang kawan lama dan juga melihat banyaknya kayu bekas palet yang terbuang-buang percuma karena sudah rusak sebagian.

 

TANGKELEK

By : Ritrina

 

Tangkelek adalah sebutan untuk sebuah sandal yang terbuat dari kayu dan karet ban. Di design sedemikian rupa oleh pengrajinnya sehingga Tangkelek ini bisa menjadi sandal favorite gaul ala jadul yang nyaman dipakai dan menggemaskan. Bagaimana bisa pula sandal ini saya bilang menggemaskan Kawan..???

 

Tangkelek bila dipakai di waktu subuh di jalan aspal yang tidak terlalu rata akan menimbulkan suara yang khas dan berirama. Irama alunan ayunan langkah yang dihasilkan oleh Tangkelek ini akan membangunkan orang-orang yang berumah di pinggir jalan besar sehingga suaranya juga bisa disebut sebagai alarm yang khas ala Ranah Minang untuk segera bangun shubuh. Walaupun di daerah dan Negara lain juga ada yang namanya Bakiak dan sandal yang dipakai cewek Jepang yang berperan sebagai Oshin di Telenovela Jepang yang diputar berseri di TVRI jaman dulu, sehingga disebut Sandal Oshin dan mendunia dimanapun Telenovela itu diputar, begitu juga di kota Bukittinggi tempat Tangkelek banyak diperjual belikan.

 

………….

 

 “Tinggalkan yang buruk-buruk dan bawalah yang baik-baik”  sering disindir Sang Ustad yang memberi ceramah agama sewaktu Ramadhan datang. Sindiran bagi yang maling sandal di Mesjid. Mengantisipasi hal ini, orang tua sering membelikan semua anak-anaknya masing-masing sepasang Tangkelek ini. Harganya yang murah meriah dan ukiran di kayunya yang lumayan lunak untuk diukir dengan nama pemiliknya, membuat si maling sandal kurang meminatinya.  Tangkelek menjadi primadona yang aman dan nyaman bila memakainya bisa dibuat irama yang khas ketika diseret ke aspal jalan yang kurang rata di jalan-jalan kampung dahulu. Sehingga hati menjadi riang gembira dengan kebisingan khas ala Tangkelek.

 

Mak Ijah adalah satu-satunya penjual Tangkelek di daerah Pasar Lereng Bukittinggi untuk saat ini. Dulu ada dua pedagang yang berdekatan, namun kawan Mak Ijah sudah ‘Mandahulu’. Tinggalah Mak Ijah sendirian berjualan Tangkelek di Pasar yang jalannya melereng itu. Kata Mak Ijah kepada kawan yang suka membeli Tangkelek ke Mak Ijah ini, persaingan sudah tidak ada dalam berjualan semenjak Kawannya ini ‘pergi’ namun orang-orang sudah lupa dengan keberadaan sandal yang terbuat dari kayu ini.

 

Terkadang ada yang sengaja mencari Tangkelek ini untuk dibawa ke Rantau. Belinyapun banyak, selusin bahkan berlusin-lusin.Terkadang Mak Ijah tidak bisa memenuhi pesanan dalam jumlah banyak itu, sebab kayu pembuat Tangkelek ini lumayan susah untuk didapatkan. Menebang kayu di ‘parak’ sendiripun sekarang harus ada ijin, apalagi Kayu Surian. Pohon sawo yang sudah sangat tua dan tidak berbuah lagi adalah kayu yang cocok untuk material Tangkelek ini selain ban kendaraan.  Tak cuma hal diatas yang membuat Tangkelek menjadi semakin langka, sang pengrajin disekitaran Tanjung Alampun sudah mulai hilang satu persatu seiring berangsurnya waktu. Pilihan untuk menjadi pengrajin Tangkelek barangkali susah untuk dijadikan pilihan hidup. Sehingga lambat laun Tangkelek menjadi langka.

 

Bila kita para perantau tidak ingin Tangkelek menjadi langka dan dilupakan, tentunya kita harus ikut berpartisipasi menjaga kelanggengan si Tangkelek. Bila permintaan pengiriman ke Rantau banyak, maka dengan sendirinya bisnis Tangkelek akan kembali dilirik oleh orang-orang yang terlibat dengan hal ini di kampung kita. Mak Ijah seorang nenek itu adalah salah satu mata rantai bisnis Tangkelek yang masih bisa ditemukan di seputar Pasar Lereng. Jangan sampai mata rantai ini berhenti di garis tangan Mak Ijah sebagai pelestari sandal gaul ala jadul yaitu Tangkelek. Ayo Kawan…belikan Tangekelek untuk hadiah bagi keluarga dan teman-teman. Semoga dengan begitu Tangkelek tidak jadi hilang ditelan masa..

 

Batam, 7 Januari 2011

 

Wassalam

Rina

 

 

 

 

Reni Sisri Yanti

unread,
Jan 7, 2011, 5:04:07 AM1/7/11
to rant...@googlegroups.com
Wa'alaikumsalam Uni

takana pulo Reni wakatu ketek2, satiok ka puaso , Mak Iyah ( nenek ) mambalian cucu padusinyo tangkelek warna merah yang bagambar bungo, jadi wakatu salasai babuko pai tarawiah ka masajik, la bagageh kaki ko pakai tangkelek tu......balari2 ketek sapanjang jalan bia babunyi tangkelek ko hehehhehe.......


Renny,Ancol


From: rinapermadi <rinap...@gmail.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Fri, January 7, 2011 4:56:41 PM
Subject: [R@ntau-Net] TANGKELEK


Darwin Chalidi

unread,
Jan 7, 2011, 6:00:48 AM1/7/11
to rant...@googlegroups.com
Sato pulo sakaki sanak palanta RN. Sebagai DKM kami menghadapi
masyalah dlm mengelola Sandal utk dlm Toilet spy tetap barasiah yang
suko bana dibao jemaah.
Kami cubo juo mangganti jo tangkelek. Ondeh dibao juo dek jemaah nan
indak kami tahu.
Akhirnyo kami menyimpulkan utk mangganti model toiletnyo sajo.
Tagantilah toilet jo ruang wudhu jo pambiayaan habih 800jt plus dek
kisah sarato ulah tangkelek kalera.

> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages