Di bawah adalah email dari seorang sahabat (Dhimas) yang mengikuti program "Indonesia Mengajar" dan ditempatkan di Kepulauan Tanimbar. Bagi yang tidak tahu di mana letaknya, Kepulauan Tanimbar adalah gugusan pulau-pulau di sebelah Tenggara Ambon, antara Timor Leste dan Papua, dan hanya 3 jam by boat dari Darwin, Australia.
Dhimas adalah salah seorang pemuda Indonesia yang terpanggil untuk membangun negara ini, bukan di kota besar, tapi di daerah yang paling terpencil, jauh dari hingar bingar peradilan sesat dan tangkap tangan narkoba/korupsi. Walau begitu, dia kelihatannya begitu menikmati suasana di sana dan benar-benar menjadi 'agent of change' bagi masyarakat di sana. Menyimak kisahnya, I personally think Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan punya banyak pe-er yang lebih prioritas ketimbang memaksakan ujian nasional.
Happy reading ...
Cerita dari Tanimbar
..............................Yth.,
Apa kabar?
Semoga sehat dan baik-baik saja.
Kabar saya di sini, di Kepulauan Tanimbar, juga sangat baik dan sehat.
Kabupaten ini, meskipun hanya berjarak 3 jam dengan speedboat dari Darwin yang sudah maju itu, desa di mana saya tinggal belum terjangkau sinyal telepon dan listrik PLN. Meski begitu, saya sangat menikmati hari-hari saya 7 bulan terakhir ini, terutama karena interaksi dengan anak-anak SD yang penuh semangat dan juga masyarakat setempat yang
ramah, ditambah pemandangan alam yang luar biasa indahnya.
Hidup di daerah yang remote seperti ini, membuat saya melihat lebih dekat persoalan-persoalan apa yang sebenarnya dihadapi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama pada tataran akar rumput.
Dalam bidang pendidikan misalnya, jika berkunjung ke sini, akan menemukan bahwa masih ada anak SMA yang kesulitan
membaca. Hasil survei terakhir kami di Kecamatan Molu Maru, tingkat kemampuan calistung (baca, tulis hitung) untuk siswa SD hanya 37,33%, sedangkan di Wadankou, tempat saya bertugas, merupakan yang terendah di kecamatan, yaitu 23,73%. juga masih bisa menemukan
siswa SD yang tak bersepatu. Namun demikian, kekayaan terbesar anak-anak itu adalah semangat yang tak pernah pudar untuk terus berlari (meskipun tanpa sepatu) untuk mengejar cita-cita mereka.
Begitu juga dengan guru. Ketika saat ini Jakarta sedang ribut-ribut
dengan kurikulum terbaru, guru-guru di sini masih asing dengan
kurikulum yang lama, KTSP 2006. Pada satu kesempatan, ketika ditanya apa kepanjangan dari KTSP, sebagian besar guru tidak mampu menjawab. Jika kepanjangannya saja tidak tahu, bagaimana mungkin akan
mengimplementasikan kurikulum dengan baik. Konsep-konsep pelajaran yang sederhana menurut Jakarta, pun terasa sulit untuk dipahami bagi guru-guru di sini. Belum lagi persoalan tindak kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa, khas Indonesia bagian timur.
Selain mengajar, IM (Indonesia Mengajar) juga mengamanatkan kami untuk menginisiasi kegiatan pengembangan masyarakat. Yang sudah saya coba lakukan adalah kampanye makan sayur melalui pembuatan kebun sekolah
bertepatan dengan hari tani nasional yang lalu. Anak-anak di sini makan ikan cukup banyak, hanya kurang sayur. Kalau keduanya dikombinasikan, maka hasilnya pasti akan sangat baik untuk menunjang perkembangan mereka. Selain itu juga saya selalu menghimbau (dengan
cara memberi teladan) masyarakat untuk mengonsumsi sumber karbohidrat lokal seperti sagu, singkong, ubi, dan sukun yang tersedia dengan melimpah di desa. Mereka menyebutnya sebagai makanan tanah, dan heran bahwa pendatang dari kota mau memakannya. Sayangnya, mereka lebih suka menunggu raskin yang selalu terlambat dikirim dari Bulog di Jakarta
sana, atau makan mi instan yang terigunya diimpor dari negara yang jaraknya ribuan mil dari desa. Saya juga akan mencoba ngajarin masyarakat teknologi tepat guna, misalnya membuat abon ikan, keripik pisang/ubi/singkong, dendeng ikan, ikan asin, manisan rumput laut,
dll.
Dengan begitu mereka bisa mulai belajar mengelola their own local
resources menjadi lebih bernilai. Ke depan saya ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak-anak, dikaitkan dengan performa akademik mereka di sekolah.
Saat ini, saya sedang di Saumlaki, ibukota kabupaten Maluku Tenggara Barat, karena beberapa waktu lalu ada kunjungan dari IM Jakarta. Sudah hampir sebulan ini saya menunggu kapal yang akan berangkat ke desa.
Jika cuaca sedang baik, feri jalan dua kali dalam sebulan, tapi jika
cuaca sedang kurang baik seperti sekarang ini frekuensinya bisa
berkurang. Saya mengisi waktu dengan mengunjungi desa-desa di sekitar Saumlaki sekaligus melakukan advokasi pendidikan di level kabupaten.
Sekian dulu cerita dari Tanimbar.
Salam pendidikan :)
dhimas
Powered by Telkomsel BlackBerry®