Gafar Salim, Sang Perintis Jurusan Akuntasi Unand

1,434 views
Skip to first unread message

Riri Mairizal Chaidir

unread,
Aug 22, 2010, 8:53:38 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com

Dunsanak Sadonyo.

 

Tadi ambo basuo  tulisan di http://www.titianserantau.com/?Profil/Sisi_Kehidupan

 

Menarik juga lika-liku Gafar Salim ini dalam merintis dan menjadikan institusi pendidikan menjadi seperti Jurusan Akuntansi Unand saat ini.

 

Bravo Gafar Salim, Bravo Jurusan Akuntansi Unand

 

Riri

48/l/bekasi

 

 

 

 

Profil/Sisi Kehidupan


Profil Pilihan: Posting: 31 Juli 2010

Gafar Salim, Sang Perintis http://www.titianserantau.com/images/Gafar%20Salim.jpg

Jurusan Akuntasi  Unand 



Setelah 32 tahun menjadi dosen Gafar Salim yang memiliki nama asli Lian Tiong Djin dosen senior dan perintis jurusan Akuntasi Unand pada Februari 2010 lalu memasuki masa pensiun, ia berpendapat dosen adalah sebagai profesi terhormat. TIDAK TERLINTAS dalam fikiran Gafar Salim muda untuk menjadi dosen. Bahkan, bercita-cita pun tidak, tapi perjalanan [panjang hidupnya ia adalah seorang dosen. Hermes menampilkan bagaimana perjalanan dosen senior ini selama berada di Universitas Andalah, dan pada bagian tulisan lain kami tampilkan juga kenangan beberapa mantan mahaasiswa beliau terhadap tokoh kampus ini. 

Gafar Salim yang baru saja lulus akuntansi UGM datang ke Universitas Andalas pada tahun 1977, semula hanya untuk sekedar mengikuti wajib kerja sarjana. Wajib kerja sebagai salah satu syarat untuk mendirikan Kantor Akuntan Publik. Waktu itu. “Target saya 3 tahun mengajar, dan setelah itu akan konsentrasi di  Kantor Akuntan Publik,”ujarnya. Tapi, tahun 1978 ia diangkat sebagai PNS. 


Pertama kali di Unand, bertemu dengan Hasrul Kahar yang biasa dipanggil Pak Boy. sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Unand waktu itu. Menjadi dosen pada jurusan Manajemen karena belum ada jurusan Akuntansi. Mata kuliah yang diajarkan adalah anggaran (budgeting) dan mendapat seorang asisten, Syukri Lukman. Sedangkan Dosen yang pertama kali dikenalnya adalah Nurmal Said, Chaidir Anwar dan Lukmanul Hakim. Ia masih ingat beberapa mahasiswa yang diajarnya, antara lain Syahrial Syarif, dan Agoes Subekti.



Sebagai dosen, ia menerima honor Rp 25 ribu sebulan. “Padahal belanja saya sebulan waktu itu Rp 35 ribu,” katanya ketawa. “Tapi yang penting happy aja,”ujarnya. Untunglah kala itu ada kerja sampingannya, untuk mencukupkan biaya hidup waktu itu. Setelah tiga tahun menjadi dosen, sebenarnya Gafar Salim bisa saja meninggalkan Unand, karena targetnya sudah selesai. Tapi itu tak dilakukan, akan  berdampak terhadap mahasiswa. Di samping itu, ternyata ia merasakan mengajar itu enak juga. “Kalau saya tinggalkan Unand waktu itu, pasti banyak orang yang kecewa,”katanya. Itulah saat ia meneguhkan pilihannya menjadi dosen. Orang tuanya yang pedagang terus-terang merasa kecewa dengan pilihan tersebut. Apalagi ia diterima juga bekerja di Caltex,  tetapi memilih jadi dosen. “Ini seperti jalan yang diberikan Tuhan,”katanya. Waktu itu, ia tidak terlalu memikirkan uang

.

Pertama menjadi dosen bagai memasuki dunia baru bagi Gafar Salim, karena tidak pernah belajar ilmu pendidikan. Oleh karenanya ketika pertama kali mengajar, mengaku agak gemetar. Ia pun sering-sering berlatih bicara di depan kaca. Sangat disadari  dirinya bukan tipe orang yang lancar bicara di depan orang banyak. Tapi lama kelamaan hal itu dapat diatasi, dan  lancar mengajar di depan mahasiswa. “Waktu yang menentukan,”katanya.



Kurang Dosen, Kurang Buku


Pada tahun 1978, tak berapa lama setelah Gafar Salim menjadi dosen, jurusan akuntansi pun dibuka. Dekan waktu itu Alfian Lains. kendala utama yang dihadapi jurusan Akuntansi yang baru lahir itu adalah kekurangan dosen dan kekurangan buku.  Untuk mengatasi masalah tersebut, diminta bantuan dosen dari BPKP, Bapindo, dan Semen Padang. Ia ingat, Djoni Marsinih, Direktur Utama Semen Padang kala itu mengirim beberapa stafnya untuk mengajar di Akuntansi, seperti Amri Zaman, Jusli Djoemak, dan Aulia untuk membantu mengajar di Unand. “Yang mengajar itu dikasih uang bensin saja,”katanya. Dirut Semen Padang sangat mendukung peningkatan kualitas dosen. Dengan beasiswa Semen Padang, dikirim dua orang dosen ke UGM yakni Fauzi Saad dan Syafril Agus.

Untuk mengatasi masalah kurangnya buku, Gafar Salim mendatangi beberapa perusahaan di kota Padang, antara lain Lembah Karet, Lembah Karya, Natraco, dan Family Raya. Perusahaan-perusahaan itu memberi dana dan bukunya dibeli Gafar di Jakarta dan di Singapura. Buku itu kemudian distempel nama perusahaan. “Kalau masih ada sekarang ini, buku tebal-tebal yang import, itu sumbangan perusahaan-perusahaan itu,”katanya.



Tidak Jadi Dibina USU


Waktu itu, jurusan Akuntansi yang baru berdiri itu sebenarnya akan dibina oleh Universitas Sumatera Utara (USU), karena USU sudah lama berdiri dan wilayahnya meliputi Sumatera Barat. Tapi dalam suatu rapat yang membicarakan hal tersebut, beberapa tokoh Ekonomi Unand seperti Hendra Esmara, Rustian Kamaluddin, Alfian Lains dan Mawardi Yunus, tidak setuju Akuntansi Unand berada di bawah binaan USU. Pendekatan dengan UI pun dilakukan. Untunglah Hendra Esmara dan Mawardi Yunus punya kedekatan hubungan dengan Dekan Fakultas Ekonomi UI. Itulah yang menyebabkan hubungan dengan UI terlaksana dalam waktu singkat. Sejak itulah, UI yang membina Unand. 


Dalam pendirian awal jurusan akuntansi Unand, Gafar Salim menyatakan bahwa peran PT Semen Padang sangat besar, terutama dalam membantu pendanaan. Itu karena Djoni Marsinih, sejak jadi Direktur Keuangan PT Semen Padang, secara diam-diam punya obsesi tersendiri untuk mendirikan jurusan akuntansi, namun tidak kunjung berhasil, pun ketika ia jadi Dirut PT Semen Padang. “Jadi, bisa dibilang, apa saja yang saya usulkan, pasti Pak Joni membantu,”kata Gafar. Ia menceritakan, pernah ada kunjungan mahasiswa ke Palembang di Pusri, waktu itu Pak Djoni Marsinih menjadi dirutnya, mulai dari makan dan mobil ditanggung oleh Pusri. “Sampai panitia kelebihan duit,”katanya. “Jasa Pak Joni dan Semen Padang itu jangan dilupakan,”katanya.


Yang penting, dosen UI yang datang dilayani dan perhatikan dengan sebaik-baiknya. Sebetulnya, menurut Gafar Salim, honor yang diberikan pada dosen UI yang mengajar di Akuntansi Unand itu relatif kecil. Tapi, beberapa dosen itu punya hubungan psikologis dengan daerah Minang ini. “Seperti Pak Dalil kan orang Padang, Pak Rudy Koesnadi istrinya orang Padang, Pak Hamdi Adnan juga orang awak,”katanya. Sedangkan dosen UI yang lain, mau mengajar di Unand karena merasa diperhatikan. Gafar Salim juga menceritakan, saking dosen kurang, ada beberapa dosen luar Unand yang pernah memberikan sumbangsihnya mengajar di Akuntansi Unand. Ia menyebut nama, antara lain: Sukrisno Agus, Anwardi, Ahmad Gazali, Amri Zaman. Sedangkan dosen UI yang pernah mengajar di Unand antara lain T. Tuanakotta , Amir AbadiJusuf, Katjep Abdulkadir, Salim Siagian, Mawar Napitupulu, Indra Djaya, dan Dean Arslan. 
Mahasiswa Akuntansi Unand pun tercatat terbanyak lulusan UNA pertama kali, berkat intensif bimbingan dari Dahlizar Hasrul (Ida Boy) dan Zainal Abidin.



Dosen yang Independen



Waktu jurusan Akuntansi dibuka, jumlah mahasiswanya 35 orang. “Saya tidak begitu ingat semua nama mahasiswa angkatan pertama itu,”katanya. Eddy Kaslim, Zulwarsih, Jufri Rivai, Erlinda Bahri dan Rinaldi Munaf adalah beberapa mahasiswa generasi pertama yang ia ingat. Namun, meskipun ada beberapa mahasiswa yang juga bekerja di Kantor Akuntan Publik miliknya, tapi kalau nilainya tidak bagus, ia tidak akan meluluskannya. “Kalau ada yang mempertanyakan, mungkin orang itu tidak mengerti pendidikan,”tegasnya. Menurutnya, memang cukup berat menjadi dosen yang independen. “Independen itu berat, tapi di pendidikan kita memang harus ketat,”ujarnya. Prinsipnya, sebagai dosen ia tidak memperbolehkan dirinya menolong atau mendongkrak nilai mahasiswanya. “Sebab, tolong satu, tolong semua,”tambahnya. “Kadang-kadang idealisme itu menyakitkan orang lain,”katanya mengakui tantangan batin yang dihadapinya.
Selain itu, Gafar Salim tidak pernah mengubris katabeletje mendukung seseorang jadi mahasiswa Akuntansi Unand. “Anak saya sendiri tidak bisa masuk Unand,”katanya. Gafar bangga, selama 32 tahun menjadi dosen ia tidak pernah neko-neko. “Itu mungkin kelebihan saya,”katanya. “Yang lain ngak ada lebihnya,”tambahnya ketawa. Pernah ada orang yang terbilang keluarga minta tolong agar anaknya masuk ke Unand. Ketika ditanya apakah anaknya bisa masuk Unand, Gafar bilang bisa. “Karena pintu Unand tidak pernah dikunci,”katanya sambil ketawa. 



Namun, rupanya mahasiswa angkatan pertama tersebut mengeluh waktu lulusnya tidak sama dengan mahasiswa seangkatan dari jurusan Fekon lainnya. Karenanya, ia sempat membicarakan hal tersebut ke Dekan Fekon waktu itu, Alfian Lains. Dekan menyatakan bahwa jurusan Akuntansi ingin menghasilkan lulusan akuntan, bukan hanya sarjana jurusan akuntansi. “Tapi mahasiswa sudah menuntut, Pak,”desak Gafar Salim. Gafar tidak mau mengecewakan mahasiswa, walau usulnya tidak diterima Dekan. Ia mengakui, keinginan Dekan Alfian adalah benar, karena memang jurusan akuntansi seharusnya menghasilkan akuntan. “Akhirnya, kita menghasilkan lulusan pertama tahun 1984,”katanya gembira. Ia menyebut Syahril Ali, yang kini dosen di Akuntansi Unand, sebagai salah satu lulusan angkatan pertama itu. 
Dalam mengajar, Gafar Salim mementingkan adanya persiapan. Dalam proses mengajar, ia selalu memperhatikan muka mahasiswanya untuk mengetahui apakah yang dijelaskannya dapat dimengerti atau tidak.“Saya senang dan puas kalau mahasiswa mengerti,”katanya. Sebaliknya, ia akan kecewa kalau mahasiswa masih belum paham penjelasannya. Terkadang, diakuinya, ia mengajar tanpa persiapan. “Kalau sudah begitu, saya gunakan modal ‘kecap’ saja, antara lain menceritakan pengalaman saya,”akunya. Menurutnya, cerita pengalaman selalu menarik bagi mahasiswa. Terus-terang, kalau tidak ada persiapan, ia merasa malu juga, terutama kalau mahasiswa menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya. Secara umum, ia senang sekali membagi ilmunya. 



KAP dan Gaji Dosen

Gafar menilai, profesi yang digelutinya adalah pekerjaan terhormat. Ia menunjuk kolega dosennya yang jadi beralih pejabat negara dan kemudian ‘terhinakan’. “Coba kalau mereka tetap jadi dosen, pasti tidak dibegitukan orang, dibikin karikatur segala,”katanya. 
Cita-cita Gafar Salim untuk mendirikan Kantor Akuntan Publik kesampaian. Ia punya KAP di Padang dengan cabang di Batam dan Pekanbaru. Ia mengaku, KAP-nya tidak begitu terlalu ia urus, bagai ‘hidup segan mati tak mau’. “Tapi kalau saya tidak ada kantor akuntan publik, saya tak bisa hidup,”katanya terus terang. 
Gajinya sebagai dosen menurutnya tidak mencukupi. “Dengan gaji dosen itu, saya tidak akan bisa menyekolahkan anak saya kemana-mana,”katanya. Ia bandingkan gaji seorang profesor yang sudah berpengalaman 30 tahun mengajar, kalah dibanding gaji seorang akuntan yang baru kerja di perusahaan asing dan punya pengalaman 2 tahun bekerja. “Coba bayangkan, ada sistem yang tidak adil,”katanya. Selain itu, sistem remunerasi dosen itu, membuat orang yang pintar tidak mau jadi dosen. Ia mencontohkan pernah ada lulusan yang berpotensi jadi dosen kemudian ‘lari’ jadi pegawai Bank Indonesia. “Kita tak bisa salahkan hal itu,”kata Gafar.
 Namun, saat ini menurutnya penghasilan dosen sudah membaik, terutama yang sudah jadi profesor. Ia mendorong orang-orang pintar menjadi dosen. Tapi bukan hanya sekedar idealis. “Sebab kalau hanya idealis, nanti jadi gilais,”candanya lagi. Secara serius ia pun mengingatkan, gaji yang membaik pun bukan jaminan kualitas dan disiplin mengajar yang lebih baik. Menurutnya, yang diperlukan adalah dosen yang tidak hanya pintar, tapi cadiak. Baginya, dalam kata cadiak, ada nilai lain yang lebih dari sekedar pintar.  

Diperiksa BPKP

Ketika menjadi Sekretaris Jurusan Akuntansi, Gafar Salim pernah diperiksa BPKP, antara lain karena jurusan Akuntansi memungut Rp 30 ribu untuk mendatangkan dosen dari UI (dosen terbang). Waktu diperiksa, ia menjelaskan bahwa walaupun ia tidak memegang uang, tapi ia menyatakan siap bertanggung jawab. 
Auditor BPKP menyatakan bahwa jurusan telah menyalahi prosedur karena memungut uang langsung ke mahasiswa. “Tapi saya kan tidak merugikan mahasiswa, malah menguntungkan mahasiswa,”kata Gafar. “Kalau mahasiswa datang ke Jakarta, berapa ongkosnya,”tambahnya lagi. Ia menjelaskan bahwa yang penting, pungutan itu diniatkan hanya untuk kebaikan mahasiswa. 


Ia sempat diancam tidak akan naik pangkat gara-gara hal itu. “Tidak apa-apa nggak naik pangkat,”kata Gafar Salim. Ketika auditor BPKP itu bilang pungutan itu tidak diperbolehkan, ia menyatakan kesetujuannya. “Asal rektor kasih uang ke saya untuk mendatangkan dosen UI itu,”katanya. 
Setelah auditor meneliti pembukuan dana tersebut, ternyata dana yang dikelola itu ada yang minus. Ketika ditanyakan, Gafar Salim bilang itu menggunakan uang pribadinya untuk menutupi pengeluaran operasional. Auditor tersebut hanya geleng-geleng kepala saja. Namun, ia sempat mencandai auditor tersebut dengan mengaku ikut ‘memakan’ uang itu. “Masak saya menjamu (mengajak makan) dosen UI itu, saya nonton aja,”katanya sambil ketawa. Ini memang gaya melucu khas Gafar Salim. 



Beberapa Nostalgia

Ketika ditanya hal-hal yang bersifat nostalgia, dalam kamus hidupnya, ia tidak terlalu senang membicarakan hal-hal yang kurang baik. “Kalau bicara yang jelek-jelek, kita lambat untuk maju,”katanya. “Yang negatif kita hilangkan, kita ingat yang positif saja,”katanya. 
Ketika jadi Sekretaris Jurusan, uniknya, karena merasa tidak sesuai dengan hati nuraninya, ia tak pernah datang setiap upacara bendera. Tapi ia tetap dapat baju batik korpri yang biru itu. Baju itu ia simpan saja dan selalu dalam keadaan bagus, karena tidak pernah dipakainya. Ketika ada koleganya dari Australia datang, ia memberikan baju batik Korpri tersebut sebagai kenang-kenangan. “Orang Australi itu senang dengan oleh-oleh dari saya, “katanya ketawa. Gafar mengatakan, ia bekerja sesuai dengan nurani. Istrinya pun tidak pernah terlibat dalam organisasi Darma Wanita. Menurut nuraninya, istri tidak usah ikut kegiatan itu. “Mungkin itu salah, tapi itu nurani,”katanya lagi. Dengan berprinsip begitu,  mungkin ia dicap tidak patuh. “Tapi dalam banyak hal, saya selalu menurutkan kata nurani,”ujarnya. 
Dengan beberapa tokoh Fakultas Ekonomi, Gafar Salim juga punya beberapa nostalgia. Misalnya dengan Syahruddin, Dekan yang mengantikan Alfian. Suatu kali ia rapat di Jakarta, istrinya sedang hamil tua. Tahu-tahu pas pulang dari Jakarta, istrinya sudah melahirkan. “Untung ada tetangga yang membawa istri saya ke rumah sakit,”katanya.


Suatu kali, untuk mengurus proyek Bank Dunia, ia pergi ke Amerika dengan Syahruddin. Ketika bepergian itulah ia mengetahui kebiasaan makan sang Dekan. “Kalau pagi selalu dengan roti pakai strowberry dan malamnya makan nasi goreng, tak pernah berubah,”katanya mengenang. 
Dengan Rustian Kamaluddin, yang juga pernah jadi Dekan sekaligus Ketua Bappeda Sumbar, ia punya cerita lain. Waktu itu ia dan Dekan Rustian ada acara di Medan. Ia diajak naik becak berdua. “Becak kami hampir tabrakan,”katanya. Lalu ia bilang ke Dekan Rustian, kalau tadi itu benar terjadi tabrakan, akan jadi berita besar. “Bayangkan, Ketua Bappeda Sumbar sekaligus Dekan Unand ditabrak sedang naik becak,”katanya ketawa membayangkan headline koran seperti itu. Langsung ia diajak Dekan Rustian naik taksi. 

Ada juga pengalamannya mengikuti penataran P4, waktu mau jadi pegawai negeri. Penataran P4 itu diadakan di Masjid Nurul Iman. Terakhir, ada ujian berupa wawancara. Gafar ditanya, kapan ulang tahun korpri. Ia menjawab,”Maaf Pak, saya tidak tahu, ulang tahun Bapak saja saya tidak tahu”. Lalu ketika ditanya apa benar ia mau jadi pegawai negeri. Gafar menjawab, kalau diterima oke, diberhentikan juga ngak apa-apa. Ia yakin, jawaban itu tidak akan banyak pengaruhnya, karena tahu persis waktu itu dosen sangat dibutuhkan di Unand.


Gafar Salim pernah dikirim belajar short course di Amerika. “Karena dosen kurang, kan ngak mungkin saya lama-lama di luar negeri,”katanya. 
Hal lain yang dikenangnya, dan mungkin banyak dikenang para kolega dan mahasiswanya waktu itu, yakni Gafar Salim sering ke kampus dengan vespa lama (tahun 1966). Vespa itu kepunyaan orang tuanya. Vespa itu pernah copot knalpotnya di daerah Khatib Sulaeman. “Keluar orang semua,”katanya terkekeh. Setelah itu, ia kredit Vespa yang lebih bagus. Ketika ia ada rezeki, Gafar kemudian membeli mobil datsun. Mobil itu juga pernah buat ulah. Datsun itu mogok, padahal sedang membawa bule-bule. “Punya mobil jelek itu enak, karena tidak perlu dikunci, pasti tidak ada yang mau mencuri,”katanya. Ia masih ingat, Dalil Hasan (dosen terbang yang sekarang sudah almarhum) bilang suara mobil Datsunnya itu seperti suara kerbau. 



Hal Penting untuk Unand

“Sekarang ada ngak ada saya, semua di (jurusan Akuntansi) Unand sudah jalan,”katanya. Bahkan, menurutnya, semua sudah berjalan dengan baik. Jurusan akuntansi paling banyak peminatnya dibanding jurusan lain di Fakultas Ekonomi, walau merupakan jurusan yang termuda. Yang penting menurutnya, dosen Akuntansi Unand bukan hanya butuh dosen yang punya gelar banyak, tapi dibutuhkan dedikasi, mau berkorban dan disiplin. Ia cerita, ada dosen yang diberi kesempatan untuk sekolah di Australia, tidak mau balik lagi. “Mutu Unand ke depan akan sangat ditentukan dedikasi, mau berkorban dan disiplin itu,”tandasnya. Gafar juga menceritakan bahwa semua dosen Akuntansi selama ini mau berkorban. Bahkan dosen UI yang disebut sebagai ‘dosen tamu’ atau ‘dosen terbang’ mau menguji mahasiswa hingga jam 12 malam. Ia bangga, profesor pertama Jurusan Akuntansi adalah Niki Lukviarman dan yang kedua adalah Eddy Rasyid. “Itu tentu menambah kebanggaan kita,”katanya.
Sekarang di jurusan Akuntansi sudah banyak kemajuan, antara lain adanya kelas internasional dan ada PPAK (Pendidikan Profesi Akuntansi). “Tapi S2 akuntansi nantinya harus ada,”katanya. Ia pun mengusulkan, ke depan, agar jurusan Akuntansi Unand punya jurusan Pajak. “Pajak itu cukup menarik,”katanya.



Setelah Pensiun

Sekarang, walaupun sudah pensiun sebagai pengajar tepat di usia 60 tahun, Gafar Salim masih mendarmabaktikan dirinya untuk dunia pendidikan. Karenanya, ia buka sekolah baru. Sekarang ia fokus dengan sekolah yang didirikannya, yang berada di bawah yayasan DEK, di Padang. Sedang di Kantor Akuntannya, perannya tidak penuh lagi. “Saya punya sekolah TK, SD, SMP, SMK,”katanya.  SMK itu mempunyai jurusan akuntansi dan pajak. Walau siswa SMK-nya belum ada yang tamat, tapi sudah diminta banyak perusahaan. Yang dipentingkannya dari sekolah itu adalah mutunya. Yang mengajar itu ia utamakan bukan tenaga akademis, tapi juga praktisi. Ia mengaku, sekolah tersebut banyak anak orang kaya di sana, namun sekolahnya miskin. “Karena tidak punya gedung,”katanya. Gedung sekolahnya masih disewa. Di SMP-nya itu tahun pertama, murid ada 13, sedang gurunya 15 orang. Ia happy dengan sekolah itu. “Sekolah itu kebanggaan tersendiri bagi saya,”katanya. Sekolahnya itu memiliki hubungan kerjasama dengan sekolah di Australia. Dulu, ia berpikir akan membuat sekolah internasional, namun sekarang ia lebih memilih pendekatan wawasan nusantara. “Banyak orang Indonesia sudah tidak percaya diri lagi,”alasannya. Saat ini memang banyak sekolah yang menyatakan standar internasional.“Tapi toiletnya standar kampung,”katanya mencimeeh. (O ya, mencimeeh adalah hal yang lazim baginya, karena kedua orang tuanya lahir di Pariaman. Ia sebut orang tuanya mapia, kependekan dari MAsyarakat PIAman).

 
Secara lengkap, visi sekolahnya adalah adalah berwawasan nusantara, mampu mandiri dan terampil serta berakhlak dan berbudi pekerti. Ia mengarisbawahi budi pekerti yang saat ini langka ditemui. “Lihat saja prilaku wakil kita di DPR itu,”katanya mengugat. Wawasan nusantara perlu dihidupkan lagi, supaya anak-anak Indonesia tahu lagu-lagu perjuangan, tahu sejarah bangsa ini. “Padahal nusantara ini luar biasa cantik dan kayanya,”katanya. Menurutnya bangsa ini berada dalam keadaan yang gawat.  Murid-murid di sekolahnya ia wajibkan hafal lagu-lagu perjuangan dan kesenian seluruh daerah. “kita harus kembali ke jati diri bangsa,”katanya. Karena itu, Gafar Salim sering memberikan ceramah tentang bagaimana guru yang benar. Di Indonesia, roh pendidikan yakni kejujuran, sudah terkikis, karena yang dipikirkan hanya lulus dan lulus. Fenomena lainnya adalah 400 ribu orang Indonesia  berobat ke Singapura setiap tahunnya. Menurutnya, ini juga kontribusi dosa para guru, karena 40% guru kita tidak memenuhi syarat minimum sebagai guru “Tambah lagi gaji kecil,”katanya. Slogan ‘guru pahlawan tanpa tanda jasa’ juga berkontribusi atas ‘kerusakan’ itu. “Guru harus profesional dan dibayar tinggi,”katanya. Makanya di yayasannya, kepala sekolah SD sudah dikasih mobil dinas. “Tidak ada sekolah SD di Padang yang berani seperti itu,”katanya. Masalahnya, murid-muridnya berasal dari orang kaya. “Jangan sampai, guru minder duluan,”katanya lagi.



Penghargaan Mantan Mahasiswa

Meskipun ia adalah dosen yang ‘keras’ dalam hal penilaian, tapi ia merasakan penghargaan dari para eks mahasiswanya. Pernah ia makan di sebuah warung kopi, ia dihampiri seseorang yang berpakaian dinas pajak. Ia disalami, dan makanannya dibayarin. “Orang warung kopi itu sampai heran, kok orang Cina dibayarin,”katanya ketawa lepas. Ia selalu disapa dimanapun bertemu mantan mahasiswanya. Bahkan dalam suatu seminar, salah seorang mantan mahasiswanya yang menjadi pembicara menyapanya dari podium, untuk menghargainya. “Padahal saya biasa-biasa saja, jadi ngak enak saya,”katanya. Ada juga dalam sebuah seminar yang dihadirinya, mantan mahasiswanya bilang, “Maaf Pak Gafar, kali ini saya yang bicara di depan,”katanya. Ia senang melihat banyak mantan mahasiswanya sudah maju. 

Anak dan Joke

Gafar memiliki empat anak. yang pertama ia kuliahkan di Jogya, tapi ternyata tidak tertarik masuk akuntansi dan memilih kuliah di bagian pariwisata. “Ia jadinya lebih banyak jalan-jalan,”katanya. Sedangkan yang kedua masuk jurusan akuntansi, di Ekstensi Unand. Anak keduanya ini rupanya punya bakat mengajar, seperti dirinya. “Ia mengajar pajak dan akuntansi,”katanya. Anaknya yang nomor tiga kuliah di AKBP. Ia mengharapkan anak ketiganya ini bisa meneruskan kantor akuntan publiknya. Sedang yang nomor empat, baru masuk kuliah di jurusan akuntansi. Ia memang sengaja anak-anaknya sekolah di Padang, untuk menemani istrinya yang sedang sakit.

Untuk mengambarkan keempat anaknya ini, Gafar Salim punya joke: Gara-gara ‘gempa Padang’ lalu, semua nama anaknya diganti karena selamat semua. Yang pertama diganti jadi Awaluddin. Yang kedua menjadi Sabaruddin, karena sudah ditunggu kelahirannya cukup lama. Yang ketiga, Akhiruddin. “Karena diharapkan menjadi anak terakhir,”katanya. Ternyata, masih ada anak yang lahir, dan dinamainya Salaudin . Memang, Gafar Salim punya banyak simpanan joke. Itulah yang membuatnya tetap segar. Dulu, ia sering jogging ke Bukit Air Manis selama satu-dua jam. Ia juga dulu sering berenang. “Saya suka berenang,”katanya. Sekarang aktivitas olah raga itu sudah berkurang. “Paling-paling jalan-jalan di Mall,”katanya. Sering juga, Gafar Salim yang punya kantor cabang di Batam, di hari minggunya pergi ke Singapura. Ia masuk toko keluar toko. “Sampai di rumah badan sudah pegal,”katanya. menutup pembicaraan yang menyenangkan di Mall Taman Anggrek, sore itu. Sehat selalu Pak Gafar!   

Sumber : buku 32 tahun mengabdi untuk kejayaan bangsa

 

image001.jpg

taufiq...@gmail.com

unread,
Aug 22, 2010, 9:38:46 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com

Ado ciek lai nan ambo tahu soal dosen Accounting di Unand sebelumnya.

Mungkin waktu itu alun ado jurusan Accounting di Unand masih sebagai mata kuliah biasa?

Soalnyo tahun 60an dari Fekon Unand baliau pindah ka Rumbai dan alah jadi instructur Accounting di Caltex Rumbai

Baliau adolah pak Donald Situmeang. Nan merupakan bapak dari pak Ramlon Situmeang nan baru2 ko jadi Bupati Dharmasraya

--TR

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: "Riri Mairizal Chaidir" <riri.c...@rantaunet.org>
Date: Mon, 23 Aug 2010 07:53:38 +0700
Subject: [R@ntau-Net] Gafar Salim, Sang Perintis Jurusan Akuntasi Unand

--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
image001.jpg

Dedi Nofersi

unread,
Aug 22, 2010, 10:22:33 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih Sanak Riri jo kiriman berita Pak Gafar Salim.
Liau dosen ambo dan pambimbiang skripsi ambo.
 
Dedi N
"Islam has peaceful and happiness"



riri.c...@rantaunet.org

unread,
Aug 22, 2010, 10:47:38 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com
Da Taufiq, mungkin yang uda mukasuik tu dari Unand, tapi lulus akuntannya (kalau beliau akuntan) dari perguruan tinggi lain. Di artikel tu disabuikan jurusan akuntansi dibukak tahun 78, dan lulusan partamonyo tahun 84.

Yang agak2 "miris" ambo mambaco, pak Gafar tu datang dari lua Sumbar, tapi namuah mengembangkan Unand, bahkan dengan "mengorbankan" pekerjaan lain yang tentunya lebih "menjanjikan" seperti Caltex.

Di sisi lain, urang awak asli, lulusan dan dosen di situ, sasudah pulang sakola di Austrlia justru ndak amuah baliak ka kampus. Itu nan disayangkan pak Gafar tu. (Mungkin nan dimukasuik baliau tu kawan ambo samo sakola di Adelaide - Dedi Nofersi, please confirm?)M

Memang itu pilihan, berkiprah di kampus, balik ke kampus, atau meninggalkan kampus sama sekali, itu adalah pilihan. Cuma kalau ambo pribadi, kagum ka urang yang bertahan ataupun yang back to campus.

Mudah2an banyak dunsanak nan sapakaik jo ambo.

Riri
48/l/bekasi

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Date: Mon, 23 Aug 2010 01:38:46 +0000
Subject: Re: [R@ntau-Net] Gafar Salim, Sang Perintis Jurusan Akuntasi Unand
image001.jpg

taufiq...@gmail.com

unread,
Aug 22, 2010, 10:54:44 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com

Ado juo ekonom Unand nan labiah kesohor yaitu pak Hendra Esmara

Cukup banyak kiprahnyo untuak Sumbar

Baliau non-Minang juo kan ?

zalmahdi syamsuddin

unread,
Aug 22, 2010, 11:08:12 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com
copy paste dari apa yang tertulis pada bagian akhir paragraf satu Setelah Pensiun


Tapi toiletnya standar kampung,”katanya mencimeeh. (O ya, mencimeeh adalah hal yang lazim baginya, karena kedua orang tuanya lahir di Pariaman. Ia sebut orang tuanya mapia, kependekan dari MAsyarakat PIAman).



--- On Mon, 23/8/10, riri.c...@rantaunet.org <riri.c...@rantaunet.org> wrote:
image001.jpg

riri.c...@rantaunet.org

unread,
Aug 22, 2010, 11:23:47 PM8/22/10
to rant...@googlegroups.com
Sanak Zalmahdi.

Nan ambo mukasuik "dari lua Sumbar" itu adalah latar belakang pendidikannya, bukan asal ortu ataupun etnisnya.

Ado ciek lai kawan ambo sesama konsultan yang juga "back to padang, berkiprah di kampus". Namonyo Hefrizal Handra. Kuliah sampai PhD di lua Sumbar, tapi bakaraji di Unand. Toh bisa juga "go national", beliau ko salah satu dari anggota Tim Asistensi MenKeu untuak Desentralisasi Fiskal.


Riri
48/l/bekasi

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: zalmahdi syamsuddin <zsyam...@yahoo.com.sg>
Date: Mon, 23 Aug 2010 11:08:12 +0800 (SGT)
image001.jpg
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages