|
Profil/Sisi
Kehidupan
Profil Pilihan: Posting: 31 Juli 2010
Gafar Salim, Sang
Perintis 
Jurusan
Akuntasi Unand
Setelah 32 tahun menjadi dosen Gafar Salim yang memiliki
nama asli Lian Tiong Djin dosen senior dan perintis jurusan Akuntasi Unand
pada Februari 2010 lalu memasuki masa pensiun, ia berpendapat dosen adalah
sebagai profesi terhormat. TIDAK TERLINTAS dalam fikiran Gafar Salim muda
untuk menjadi dosen. Bahkan, bercita-cita pun tidak, tapi perjalanan
[panjang hidupnya ia adalah seorang dosen. Hermes menampilkan bagaimana
perjalanan dosen senior ini selama berada di Universitas Andalah, dan pada
bagian tulisan lain kami tampilkan juga kenangan beberapa mantan mahaasiswa
beliau terhadap tokoh kampus ini.
Gafar Salim yang baru saja lulus akuntansi UGM datang ke Universitas
Andalas pada tahun 1977, semula hanya untuk sekedar mengikuti wajib kerja
sarjana. Wajib kerja sebagai salah satu syarat untuk mendirikan Kantor
Akuntan Publik. Waktu itu. “Target saya 3 tahun mengajar, dan setelah
itu akan konsentrasi di Kantor Akuntan Publik,”ujarnya. Tapi,
tahun 1978 ia diangkat sebagai PNS.
Pertama kali di Unand, bertemu dengan Hasrul Kahar yang biasa dipanggil Pak
Boy. sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Unand waktu itu. Menjadi dosen pada
jurusan Manajemen karena belum ada jurusan Akuntansi. Mata kuliah yang
diajarkan adalah anggaran (budgeting) dan mendapat seorang asisten, Syukri
Lukman. Sedangkan Dosen yang pertama kali dikenalnya adalah Nurmal Said,
Chaidir Anwar dan Lukmanul Hakim. Ia masih ingat beberapa mahasiswa yang
diajarnya, antara lain Syahrial Syarif, dan Agoes Subekti.
Sebagai dosen, ia menerima honor Rp 25 ribu sebulan. “Padahal belanja
saya sebulan waktu itu Rp 35 ribu,” katanya ketawa. “Tapi yang
penting happy aja,”ujarnya. Untunglah kala itu ada kerja
sampingannya, untuk mencukupkan biaya hidup waktu itu. Setelah tiga tahun
menjadi dosen, sebenarnya Gafar Salim bisa saja meninggalkan Unand, karena
targetnya sudah selesai. Tapi itu tak dilakukan, akan berdampak
terhadap mahasiswa. Di samping itu, ternyata ia merasakan mengajar itu enak
juga. “Kalau saya tinggalkan Unand waktu itu, pasti banyak orang yang
kecewa,”katanya. Itulah saat ia meneguhkan pilihannya menjadi dosen.
Orang tuanya yang pedagang terus-terang merasa kecewa dengan pilihan
tersebut. Apalagi ia diterima juga bekerja di Caltex, tetapi memilih
jadi dosen. “Ini seperti jalan yang diberikan Tuhan,”katanya.
Waktu itu, ia tidak terlalu memikirkan uang
.
Pertama menjadi dosen bagai memasuki dunia baru bagi Gafar Salim, karena
tidak pernah belajar ilmu pendidikan. Oleh karenanya ketika pertama kali
mengajar, mengaku agak gemetar. Ia pun sering-sering berlatih bicara di
depan kaca. Sangat disadari dirinya bukan tipe orang yang lancar
bicara di depan orang banyak. Tapi lama kelamaan hal itu dapat diatasi,
dan lancar mengajar di depan mahasiswa. “Waktu yang
menentukan,”katanya.
Kurang Dosen, Kurang Buku
Pada tahun 1978, tak berapa lama setelah Gafar Salim menjadi dosen, jurusan
akuntansi pun dibuka. Dekan waktu itu Alfian Lains. kendala utama yang
dihadapi jurusan Akuntansi yang baru lahir itu adalah kekurangan dosen dan
kekurangan buku. Untuk mengatasi masalah tersebut, diminta bantuan
dosen dari BPKP, Bapindo, dan Semen Padang. Ia ingat, Djoni Marsinih,
Direktur Utama Semen Padang kala itu mengirim beberapa stafnya untuk
mengajar di Akuntansi, seperti Amri Zaman, Jusli Djoemak, dan Aulia untuk
membantu mengajar di Unand. “Yang mengajar itu dikasih uang bensin
saja,”katanya. Dirut Semen Padang sangat mendukung peningkatan
kualitas dosen. Dengan beasiswa Semen Padang, dikirim dua orang dosen ke
UGM yakni Fauzi Saad dan Syafril Agus.
Untuk mengatasi
masalah kurangnya buku, Gafar Salim mendatangi beberapa perusahaan di kota
Padang, antara lain Lembah Karet, Lembah Karya, Natraco, dan Family Raya.
Perusahaan-perusahaan itu memberi dana dan bukunya dibeli Gafar di Jakarta
dan di Singapura. Buku itu kemudian distempel nama perusahaan. “Kalau
masih ada sekarang ini, buku tebal-tebal yang import, itu sumbangan
perusahaan-perusahaan itu,”katanya.
Tidak Jadi Dibina USU
Waktu itu, jurusan Akuntansi yang baru berdiri itu sebenarnya akan dibina
oleh Universitas Sumatera Utara (USU), karena USU sudah lama berdiri dan
wilayahnya meliputi Sumatera Barat. Tapi dalam suatu rapat yang
membicarakan hal tersebut, beberapa tokoh Ekonomi Unand seperti Hendra
Esmara, Rustian Kamaluddin, Alfian Lains dan Mawardi Yunus, tidak setuju
Akuntansi Unand berada di bawah binaan USU. Pendekatan dengan UI pun
dilakukan. Untunglah Hendra Esmara dan Mawardi Yunus punya kedekatan
hubungan dengan Dekan Fakultas Ekonomi UI. Itulah yang menyebabkan hubungan
dengan UI terlaksana dalam waktu singkat. Sejak itulah, UI yang membina
Unand.
Dalam pendirian awal jurusan akuntansi Unand, Gafar Salim menyatakan bahwa
peran PT Semen Padang sangat besar, terutama dalam membantu pendanaan. Itu
karena Djoni Marsinih, sejak jadi Direktur Keuangan PT Semen Padang, secara
diam-diam punya obsesi tersendiri untuk mendirikan jurusan akuntansi, namun
tidak kunjung berhasil, pun ketika ia jadi Dirut PT Semen Padang.
“Jadi, bisa dibilang, apa saja yang saya usulkan, pasti Pak Joni
membantu,”kata Gafar. Ia menceritakan, pernah ada kunjungan mahasiswa
ke Palembang di Pusri, waktu itu Pak Djoni Marsinih menjadi dirutnya, mulai
dari makan dan mobil ditanggung oleh Pusri. “Sampai panitia kelebihan
duit,”katanya. “Jasa Pak Joni dan Semen Padang itu jangan
dilupakan,”katanya.
Yang penting, dosen UI yang datang dilayani dan perhatikan dengan
sebaik-baiknya. Sebetulnya, menurut Gafar Salim, honor yang diberikan pada
dosen UI yang mengajar di Akuntansi Unand itu relatif kecil. Tapi, beberapa
dosen itu punya hubungan psikologis dengan daerah Minang ini.
“Seperti Pak Dalil kan orang Padang, Pak Rudy Koesnadi istrinya orang
Padang, Pak Hamdi Adnan juga orang awak,”katanya. Sedangkan dosen UI
yang lain, mau mengajar di Unand karena merasa diperhatikan. Gafar Salim
juga menceritakan, saking dosen kurang, ada beberapa dosen luar Unand yang
pernah memberikan sumbangsihnya mengajar di Akuntansi Unand. Ia menyebut
nama, antara lain: Sukrisno Agus, Anwardi, Ahmad Gazali, Amri Zaman.
Sedangkan dosen UI yang pernah mengajar di Unand antara lain T. Tuanakotta
, Amir AbadiJusuf, Katjep Abdulkadir, Salim Siagian, Mawar Napitupulu, Indra
Djaya, dan Dean Arslan.
Mahasiswa Akuntansi Unand pun tercatat terbanyak lulusan UNA pertama kali,
berkat intensif bimbingan dari Dahlizar Hasrul (Ida Boy) dan Zainal Abidin.
Dosen yang Independen
Waktu jurusan Akuntansi dibuka, jumlah mahasiswanya 35 orang. “Saya
tidak begitu ingat semua nama mahasiswa angkatan pertama
itu,”katanya. Eddy Kaslim, Zulwarsih, Jufri Rivai, Erlinda Bahri dan
Rinaldi Munaf adalah beberapa mahasiswa generasi pertama yang ia ingat.
Namun, meskipun ada beberapa mahasiswa yang juga bekerja di Kantor Akuntan
Publik miliknya, tapi kalau nilainya tidak bagus, ia tidak akan
meluluskannya. “Kalau ada yang mempertanyakan, mungkin orang itu
tidak mengerti pendidikan,”tegasnya. Menurutnya, memang cukup berat
menjadi dosen yang independen. “Independen itu berat, tapi di
pendidikan kita memang harus ketat,”ujarnya. Prinsipnya, sebagai
dosen ia tidak memperbolehkan dirinya menolong atau mendongkrak nilai
mahasiswanya. “Sebab, tolong satu, tolong semua,”tambahnya. “Kadang-kadang
idealisme itu menyakitkan orang lain,”katanya mengakui tantangan
batin yang dihadapinya.
Selain itu, Gafar Salim tidak pernah mengubris katabeletje mendukung
seseorang jadi mahasiswa Akuntansi Unand. “Anak saya sendiri tidak
bisa masuk Unand,”katanya. Gafar bangga, selama 32 tahun menjadi
dosen ia tidak pernah neko-neko. “Itu mungkin kelebihan
saya,”katanya. “Yang lain ngak ada lebihnya,”tambahnya
ketawa. Pernah ada orang yang terbilang keluarga minta tolong agar anaknya
masuk ke Unand. Ketika ditanya apakah anaknya bisa masuk Unand, Gafar
bilang bisa. “Karena pintu Unand tidak pernah dikunci,”katanya
sambil ketawa.
Namun, rupanya mahasiswa angkatan pertama tersebut mengeluh waktu lulusnya
tidak sama dengan mahasiswa seangkatan dari jurusan Fekon lainnya.
Karenanya, ia sempat membicarakan hal tersebut ke Dekan Fekon waktu itu,
Alfian Lains. Dekan menyatakan bahwa jurusan Akuntansi ingin menghasilkan
lulusan akuntan, bukan hanya sarjana jurusan akuntansi. “Tapi
mahasiswa sudah menuntut, Pak,”desak Gafar Salim. Gafar tidak mau
mengecewakan mahasiswa, walau usulnya tidak diterima Dekan. Ia mengakui,
keinginan Dekan Alfian adalah benar, karena memang jurusan akuntansi
seharusnya menghasilkan akuntan. “Akhirnya, kita menghasilkan lulusan
pertama tahun 1984,”katanya gembira. Ia menyebut Syahril Ali, yang
kini dosen di Akuntansi Unand, sebagai salah satu lulusan angkatan pertama
itu.
Dalam mengajar, Gafar Salim mementingkan adanya persiapan. Dalam proses
mengajar, ia selalu memperhatikan muka mahasiswanya untuk mengetahui apakah
yang dijelaskannya dapat dimengerti atau tidak.“Saya senang dan puas
kalau mahasiswa mengerti,”katanya. Sebaliknya, ia akan kecewa kalau
mahasiswa masih belum paham penjelasannya. Terkadang, diakuinya, ia
mengajar tanpa persiapan. “Kalau sudah begitu, saya gunakan modal
‘kecap’ saja, antara lain menceritakan pengalaman
saya,”akunya. Menurutnya, cerita pengalaman selalu menarik bagi
mahasiswa. Terus-terang, kalau tidak ada persiapan, ia merasa malu juga,
terutama kalau mahasiswa menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya. Secara
umum, ia senang sekali membagi ilmunya.
KAP dan Gaji Dosen
Gafar menilai,
profesi yang digelutinya adalah pekerjaan terhormat. Ia menunjuk kolega
dosennya yang jadi beralih pejabat negara dan kemudian
‘terhinakan’. “Coba kalau mereka tetap jadi dosen, pasti
tidak dibegitukan orang, dibikin karikatur segala,”katanya.
Cita-cita Gafar Salim untuk mendirikan Kantor Akuntan Publik kesampaian. Ia
punya KAP di Padang dengan cabang di Batam dan Pekanbaru. Ia mengaku,
KAP-nya tidak begitu terlalu ia urus, bagai ‘hidup segan mati tak
mau’. “Tapi kalau saya tidak ada kantor akuntan publik, saya
tak bisa hidup,”katanya terus terang.
Gajinya sebagai dosen menurutnya tidak mencukupi. “Dengan gaji dosen
itu, saya tidak akan bisa menyekolahkan anak saya
kemana-mana,”katanya. Ia bandingkan gaji seorang profesor yang sudah
berpengalaman 30 tahun mengajar, kalah dibanding gaji seorang akuntan yang
baru kerja di perusahaan asing dan punya pengalaman 2 tahun bekerja.
“Coba bayangkan, ada sistem yang tidak adil,”katanya. Selain
itu, sistem remunerasi dosen itu, membuat orang yang pintar tidak mau jadi
dosen. Ia mencontohkan pernah ada lulusan yang berpotensi jadi dosen
kemudian ‘lari’ jadi pegawai Bank Indonesia. “Kita tak
bisa salahkan hal itu,”kata Gafar.
Namun, saat ini menurutnya penghasilan dosen sudah membaik, terutama
yang sudah jadi profesor. Ia mendorong orang-orang pintar menjadi dosen.
Tapi bukan hanya sekedar idealis. “Sebab kalau hanya idealis, nanti
jadi gilais,”candanya lagi. Secara serius ia pun mengingatkan, gaji
yang membaik pun bukan jaminan kualitas dan disiplin mengajar yang lebih
baik. Menurutnya, yang diperlukan adalah dosen yang tidak hanya pintar,
tapi cadiak. Baginya, dalam kata cadiak, ada nilai lain yang lebih dari
sekedar pintar.
Diperiksa
BPKP
Ketika menjadi
Sekretaris Jurusan Akuntansi, Gafar Salim pernah diperiksa BPKP, antara
lain karena jurusan Akuntansi memungut Rp 30 ribu untuk mendatangkan dosen
dari UI (dosen terbang). Waktu diperiksa, ia menjelaskan bahwa walaupun ia
tidak memegang uang, tapi ia menyatakan siap bertanggung jawab.
Auditor BPKP menyatakan bahwa jurusan telah menyalahi prosedur karena
memungut uang langsung ke mahasiswa. “Tapi saya kan tidak merugikan
mahasiswa, malah menguntungkan mahasiswa,”kata Gafar. “Kalau
mahasiswa datang ke Jakarta, berapa ongkosnya,”tambahnya lagi. Ia
menjelaskan bahwa yang penting, pungutan itu diniatkan hanya untuk kebaikan
mahasiswa.
Ia sempat diancam tidak akan naik pangkat gara-gara hal itu. “Tidak
apa-apa nggak naik pangkat,”kata Gafar Salim. Ketika auditor BPKP itu
bilang pungutan itu tidak diperbolehkan, ia menyatakan kesetujuannya.
“Asal rektor kasih uang ke saya untuk mendatangkan dosen UI
itu,”katanya.
Setelah auditor meneliti pembukuan dana tersebut, ternyata dana yang
dikelola itu ada yang minus. Ketika ditanyakan, Gafar Salim bilang itu
menggunakan uang pribadinya untuk menutupi pengeluaran operasional. Auditor
tersebut hanya geleng-geleng kepala saja. Namun, ia sempat mencandai
auditor tersebut dengan mengaku ikut ‘memakan’ uang itu.
“Masak saya menjamu (mengajak makan) dosen UI itu, saya nonton
aja,”katanya sambil ketawa. Ini memang gaya melucu khas Gafar Salim.
Beberapa Nostalgia
Ketika ditanya
hal-hal yang bersifat nostalgia, dalam kamus hidupnya, ia tidak terlalu
senang membicarakan hal-hal yang kurang baik. “Kalau bicara yang
jelek-jelek, kita lambat untuk maju,”katanya. “Yang negatif
kita hilangkan, kita ingat yang positif saja,”katanya.
Ketika jadi Sekretaris Jurusan, uniknya, karena merasa tidak sesuai dengan
hati nuraninya, ia tak pernah datang setiap upacara bendera. Tapi ia tetap
dapat baju batik korpri yang biru itu. Baju itu ia simpan saja dan selalu
dalam keadaan bagus, karena tidak pernah dipakainya. Ketika ada koleganya
dari Australia datang, ia memberikan baju batik Korpri tersebut sebagai
kenang-kenangan. “Orang Australi itu senang dengan oleh-oleh dari
saya, “katanya ketawa. Gafar mengatakan, ia bekerja sesuai dengan
nurani. Istrinya pun tidak pernah terlibat dalam organisasi Darma Wanita.
Menurut nuraninya, istri tidak usah ikut kegiatan itu. “Mungkin itu
salah, tapi itu nurani,”katanya lagi. Dengan berprinsip begitu,
mungkin ia dicap tidak patuh. “Tapi dalam banyak hal, saya selalu
menurutkan kata nurani,”ujarnya.
Dengan beberapa tokoh Fakultas Ekonomi, Gafar Salim juga punya beberapa
nostalgia. Misalnya dengan Syahruddin, Dekan yang mengantikan Alfian. Suatu
kali ia rapat di Jakarta, istrinya sedang hamil tua. Tahu-tahu pas pulang
dari Jakarta, istrinya sudah melahirkan. “Untung ada tetangga yang
membawa istri saya ke rumah sakit,”katanya.
Suatu kali, untuk mengurus proyek Bank Dunia, ia pergi ke Amerika dengan
Syahruddin. Ketika bepergian itulah ia mengetahui kebiasaan makan sang
Dekan. “Kalau pagi selalu dengan roti pakai strowberry dan malamnya
makan nasi goreng, tak pernah berubah,”katanya mengenang.
Dengan Rustian Kamaluddin, yang juga pernah jadi Dekan sekaligus Ketua
Bappeda Sumbar, ia punya cerita lain. Waktu itu ia dan Dekan Rustian ada
acara di Medan. Ia diajak naik becak berdua. “Becak kami hampir
tabrakan,”katanya. Lalu ia bilang ke Dekan Rustian, kalau tadi itu
benar terjadi tabrakan, akan jadi berita besar. “Bayangkan, Ketua
Bappeda Sumbar sekaligus Dekan Unand ditabrak sedang naik
becak,”katanya ketawa membayangkan headline koran seperti itu.
Langsung ia diajak Dekan Rustian naik taksi.
Ada juga
pengalamannya mengikuti penataran P4, waktu mau jadi pegawai negeri.
Penataran P4 itu diadakan di Masjid Nurul Iman. Terakhir, ada ujian berupa
wawancara. Gafar ditanya, kapan ulang tahun korpri. Ia menjawab,”Maaf
Pak, saya tidak tahu, ulang tahun Bapak saja saya tidak tahu”. Lalu
ketika ditanya apa benar ia mau jadi pegawai negeri. Gafar menjawab, kalau
diterima oke, diberhentikan juga ngak apa-apa. Ia yakin, jawaban itu tidak
akan banyak pengaruhnya, karena tahu persis waktu itu dosen sangat
dibutuhkan di Unand.
Gafar Salim pernah dikirim belajar short course di Amerika. “Karena
dosen kurang, kan ngak mungkin saya lama-lama di luar
negeri,”katanya.
Hal lain yang dikenangnya, dan mungkin banyak dikenang para kolega dan
mahasiswanya waktu itu, yakni Gafar Salim sering ke kampus dengan vespa
lama (tahun 1966). Vespa itu kepunyaan orang tuanya. Vespa itu pernah copot
knalpotnya di daerah Khatib Sulaeman. “Keluar orang semua,”katanya
terkekeh. Setelah itu, ia kredit Vespa yang lebih bagus. Ketika ia ada
rezeki, Gafar kemudian membeli mobil datsun. Mobil itu juga pernah buat
ulah. Datsun itu mogok, padahal sedang membawa bule-bule. “Punya
mobil jelek itu enak, karena tidak perlu dikunci, pasti tidak ada yang mau
mencuri,”katanya. Ia masih ingat, Dalil Hasan (dosen terbang yang
sekarang sudah almarhum) bilang suara mobil Datsunnya itu seperti suara
kerbau.
Hal Penting untuk Unand
“Sekarang ada
ngak ada saya, semua di (jurusan Akuntansi) Unand sudah
jalan,”katanya. Bahkan, menurutnya, semua sudah berjalan dengan baik.
Jurusan akuntansi paling banyak peminatnya dibanding jurusan lain di
Fakultas Ekonomi, walau merupakan jurusan yang termuda. Yang penting
menurutnya, dosen Akuntansi Unand bukan hanya butuh dosen yang punya gelar
banyak, tapi dibutuhkan dedikasi, mau berkorban dan disiplin. Ia cerita,
ada dosen yang diberi kesempatan untuk sekolah di Australia, tidak mau
balik lagi. “Mutu Unand ke depan akan sangat ditentukan dedikasi, mau
berkorban dan disiplin itu,”tandasnya. Gafar juga menceritakan bahwa
semua dosen Akuntansi selama ini mau berkorban. Bahkan dosen UI yang
disebut sebagai ‘dosen tamu’ atau ‘dosen terbang’
mau menguji mahasiswa hingga jam 12 malam. Ia bangga, profesor pertama
Jurusan Akuntansi adalah Niki Lukviarman dan yang kedua adalah Eddy Rasyid.
“Itu tentu menambah kebanggaan kita,”katanya.
Sekarang di jurusan Akuntansi sudah banyak kemajuan, antara lain adanya
kelas internasional dan ada PPAK (Pendidikan Profesi Akuntansi). “Tapi
S2 akuntansi nantinya harus ada,”katanya. Ia pun mengusulkan, ke
depan, agar jurusan Akuntansi Unand punya jurusan Pajak. “Pajak itu
cukup menarik,”katanya.
Setelah Pensiun
Sekarang, walaupun
sudah pensiun sebagai pengajar tepat di usia 60 tahun, Gafar Salim masih
mendarmabaktikan dirinya untuk dunia pendidikan. Karenanya, ia buka sekolah
baru. Sekarang ia fokus dengan sekolah yang didirikannya, yang berada di
bawah yayasan DEK, di Padang. Sedang di Kantor Akuntannya, perannya tidak
penuh lagi. “Saya punya sekolah TK, SD, SMP,
SMK,”katanya. SMK itu mempunyai jurusan akuntansi dan pajak.
Walau siswa SMK-nya belum ada yang tamat, tapi sudah diminta banyak
perusahaan. Yang dipentingkannya dari sekolah itu adalah mutunya. Yang
mengajar itu ia utamakan bukan tenaga akademis, tapi juga praktisi. Ia
mengaku, sekolah tersebut banyak anak orang kaya di sana, namun sekolahnya
miskin. “Karena tidak punya gedung,”katanya. Gedung sekolahnya
masih disewa. Di SMP-nya itu tahun pertama, murid ada 13, sedang gurunya 15
orang. Ia happy dengan sekolah itu. “Sekolah itu kebanggaan
tersendiri bagi saya,”katanya. Sekolahnya itu memiliki hubungan
kerjasama dengan sekolah di Australia. Dulu, ia berpikir akan membuat
sekolah internasional, namun sekarang ia lebih memilih pendekatan wawasan
nusantara. “Banyak orang Indonesia sudah tidak percaya diri
lagi,”alasannya. Saat ini memang banyak sekolah yang menyatakan
standar internasional.“Tapi toiletnya standar kampung,”katanya
mencimeeh. (O ya, mencimeeh adalah hal yang lazim baginya, karena kedua
orang tuanya lahir di Pariaman. Ia sebut orang tuanya mapia, kependekan
dari MAsyarakat PIAman).
Secara lengkap, visi sekolahnya adalah adalah berwawasan nusantara, mampu
mandiri dan terampil serta berakhlak dan berbudi pekerti. Ia mengarisbawahi
budi pekerti yang saat ini langka ditemui. “Lihat saja prilaku wakil
kita di DPR itu,”katanya mengugat. Wawasan nusantara perlu dihidupkan
lagi, supaya anak-anak Indonesia tahu lagu-lagu perjuangan, tahu sejarah
bangsa ini. “Padahal nusantara ini luar biasa cantik dan
kayanya,”katanya. Menurutnya bangsa ini berada dalam keadaan yang
gawat. Murid-murid di sekolahnya ia wajibkan hafal lagu-lagu
perjuangan dan kesenian seluruh daerah. “kita harus kembali ke jati
diri bangsa,”katanya. Karena itu, Gafar Salim sering memberikan
ceramah tentang bagaimana guru yang benar. Di Indonesia, roh pendidikan
yakni kejujuran, sudah terkikis, karena yang dipikirkan hanya lulus dan
lulus. Fenomena lainnya adalah 400 ribu orang Indonesia berobat ke
Singapura setiap tahunnya. Menurutnya, ini juga kontribusi dosa para guru,
karena 40% guru kita tidak memenuhi syarat minimum sebagai guru
“Tambah lagi gaji kecil,”katanya. Slogan ‘guru pahlawan
tanpa tanda jasa’ juga berkontribusi atas ‘kerusakan’
itu. “Guru harus profesional dan dibayar tinggi,”katanya.
Makanya di yayasannya, kepala sekolah SD sudah dikasih mobil dinas.
“Tidak ada sekolah SD di Padang yang berani seperti
itu,”katanya. Masalahnya, murid-muridnya berasal dari orang kaya.
“Jangan sampai, guru minder duluan,”katanya lagi.
Penghargaan Mantan Mahasiswa
Meskipun ia adalah
dosen yang ‘keras’ dalam hal penilaian, tapi ia merasakan
penghargaan dari para eks mahasiswanya. Pernah ia makan di sebuah warung
kopi, ia dihampiri seseorang yang berpakaian dinas pajak. Ia disalami, dan
makanannya dibayarin. “Orang warung kopi itu sampai heran, kok orang
Cina dibayarin,”katanya ketawa lepas. Ia selalu disapa dimanapun
bertemu mantan mahasiswanya. Bahkan dalam suatu seminar, salah seorang
mantan mahasiswanya yang menjadi pembicara menyapanya dari podium, untuk
menghargainya. “Padahal saya biasa-biasa saja, jadi ngak enak
saya,”katanya. Ada juga dalam sebuah seminar yang dihadirinya, mantan
mahasiswanya bilang, “Maaf Pak Gafar, kali ini saya yang bicara di
depan,”katanya. Ia senang melihat banyak mantan mahasiswanya sudah
maju.
Anak
dan Joke
Gafar memiliki empat
anak. yang pertama ia kuliahkan di Jogya, tapi ternyata tidak tertarik
masuk akuntansi dan memilih kuliah di bagian pariwisata. “Ia jadinya
lebih banyak jalan-jalan,”katanya. Sedangkan yang kedua masuk jurusan
akuntansi, di Ekstensi Unand. Anak keduanya ini rupanya punya bakat
mengajar, seperti dirinya. “Ia mengajar pajak dan
akuntansi,”katanya. Anaknya yang nomor tiga kuliah di AKBP. Ia
mengharapkan anak ketiganya ini bisa meneruskan kantor akuntan publiknya.
Sedang yang nomor empat, baru masuk kuliah di jurusan akuntansi. Ia memang
sengaja anak-anaknya sekolah di Padang, untuk menemani istrinya yang sedang
sakit.
Untuk mengambarkan
keempat anaknya ini, Gafar Salim punya joke: Gara-gara ‘gempa
Padang’ lalu, semua nama anaknya diganti karena selamat semua. Yang
pertama diganti jadi Awaluddin. Yang kedua menjadi Sabaruddin, karena sudah
ditunggu kelahirannya cukup lama. Yang ketiga, Akhiruddin. “Karena diharapkan
menjadi anak terakhir,”katanya. Ternyata, masih ada anak yang lahir,
dan dinamainya Salaudin . Memang, Gafar Salim punya banyak simpanan joke.
Itulah yang membuatnya tetap segar. Dulu, ia sering jogging ke Bukit Air
Manis selama satu-dua jam. Ia juga dulu sering berenang. “Saya suka
berenang,”katanya. Sekarang aktivitas olah raga itu sudah berkurang.
“Paling-paling jalan-jalan di Mall,”katanya. Sering juga, Gafar
Salim yang punya kantor cabang di Batam, di hari minggunya pergi ke
Singapura. Ia masuk toko keluar toko. “Sampai di rumah badan sudah
pegal,”katanya. menutup pembicaraan yang menyenangkan di Mall Taman
Anggrek, sore itu. Sehat selalu Pak Gafar!
Sumber : buku 32 tahun
mengabdi untuk kejayaan bangsa
|