PUSAKO : Muningsyah, Raja Alam Minangkabau

389 views
Skip to first unread message

Nofendri T. Lare

unread,
May 11, 2011, 8:44:53 AM5/11/11
to rant...@googlegroups.com

Oleh: PUTI RENO RAUDHA THAIB

Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat

PADA dua minggu lalu berturut-turut telah disampaikan tentang institusi Rajo Alam, Rajo Adat dan Rajo Ibadat. Selanjutnya kita melihat pula cuplikan tentang seorang raja Minangkabau, di antara banyaknya raja-raja yang turun naik silih berganti.

Tuanku Raja Muning Alamsyah atau juga yang disebut Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah adalah raja alam Pagaruyung yang secara luar biasa selamat dari tragedi pembunuhan di Koto Tangah, Tanah Datar pada tahun 1809 dalam masa Perang Paderi berkecamuk di Minangkabau. Tahun terjadinya tragedi ini dipertikaikan. Christine Dobin mencatatkan dalam Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, (Inis, Jakarta 1992) tragedi tersebut terjadi pada tahun 1815, sebagaimana yang juga ditulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, (Sinar Harapan, Jakarta 1981).

Menurut A.A. Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru (Penerbit PT Pustaka Grafiti pers, Jakarta 1984 cetakan pertama) tragedi tersebut bermula dari pertengkaran antara kaum Paderi dengan kaum adat yang diwakili oleh raja beserta pembesar kerajaan lainnya. Menurut MD Mansur dkk., dalam Sejarah Minangkabau (Penerbit Bharata, Jakarta, 1970) perundingan tersebut diadakan pada tahun 1809. Padamulanya dilakukan dengan iktikad baik oleh Tuanku Lintau, telah beralih menjadi sebuah pertengkaran. Menurut Muhamad Radjab dalam bukunya Perang Paderi, (Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 1964 cetakan kedua) hal itu terjadi juga pada tahun 1809. Karena ikut campurnya Tuanku Lelo, salah seorang tokoh Paderi yang ambisius dari Tapanuli Selatan. Beberapa orang dari keluarga raja seperti Tuanku Rajo Naro, Tuanku di Talang dan seorang putra raja lainnya dituduh tidak menjalankan aqidah Islam secara benar, oleh karena itu mereka anggap kapir dan harus dibunuh.

Perundingan berubah menjadi pertengkaran dan berlanjut menjadi pembunuhan. Semua rombongan raja beserta Basa Ampek Balai dan para penghulu lainnya terbunuh. Daulat Yang Dipertuan Muningsyah dapat menyelamatkan dengan cara yang ajaib sekali. Baginda bersama cucu perempuannya Puti Reno Sori menghindar ke Lubuk Jambi Kuantan.

Menurut silsilah raja-raja Pagaruyung, Puti Reno Sori bersaudara dengan Sultan Alam Bagagar Syah, pada masa yang sama menyingkir ke Padang. Sultan Alam Bagagar Syah, Puti Reno Sori dan tiga saudara mereka lainnya adalah anak dari Tuan Gadih Puti Reno Janji dan ayahnya Yang Dipertuan Fatah. Sewaktu Sultan Alam Bagagar Syah dinobatkan menjadi raja alam menggantikan datuknya Sultan Alam Muningsyah, saudara sepupunya Sultan Abdul Jalil yang berada di Buo dikukuhkan menjadi Raja Adat dengan gelar Yang Dipertuan Sembahyang.

A.A. Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru, mencatat bahwa Daulat Yang Dipertuan Muningsyah wafat pada 1825 dalam usia 80 tahun. Baginda dimakamkan di pemakaman raja-raja Minangkabau, ustano rajo di Pagaruyung. 􀂄

E-Paper harian Haluan : MINGGU, 24 APRIL 2011

Armen Zulkarnain

unread,
May 11, 2011, 10:46:32 AM5/11/11
to rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum wr wb,

Angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta RN nan ambo muliakan,

Dari nan ambo danga curito urang-urang tuo daulu, setelah peristiwa Koto Tangah yang menyebabkan terbunuhnya hampir seluruh keluarga Pagaruyung oleh pasukan Paderi pimpinan Tuanku Lintau, Sultan Muningsyah - usia 80 tahun (1745 - 1825) berhasil selamat bersama-sama cucunya & mengungsi ke Lubuk Jambi melalui Sumpu Kudus lalu maahilia ka Batang Kuantan sehingga sampai disana. Sebelum Sultan Muningsyah pergi dari Sumpu, baliau sempat memberikan mandat Rajo Alam kepada Rajo Ibadat. Yang menjadi pertanyaan, mengapa hal ini tidak diserahkan kepada Bagagarsyah - usia 60 tahun (1789 - 1849) sebagai cucu dari Sultan Muningsyah?

Dari kaba nan ambo dapek dari urang-urang tuo di agam tuo, dahulunyo samaso mudo Bagagarsyah adolah anak dagang dari Kompeni Balando nan ba markas di Padang. Sebagai pedagang, balando punyo 2 komoditi barang nan digaleh ka palosok-palosok ranah minang - seperti halnyo di seluruh wilayah nusantara - yaitu candu & minuman keras. Candu nan ko disabuik santo (penyelamat dalam artian bulando) nan dibawo dari Padang sampai ka palosok-palosok ranah minang. Kudian namo santo ko malakek ka tanaman tembakau seperti nan umum disabuik di agam tuo.

Hal ikolah menjadi salah satu pemacu pecahnya perang Paderi era pertama (konflik kaum adat & kaum paderi) dimana banyak terjadi kemaksiatan di ranah minang sehingga perlu dimusyawarahkan di Koto Tangah. Lacur yang terjadi, bukanlah musyawarah yang didapat, namun pertikaian senjata yang terjadi. 

Hal yang sangat fatal dilakukan oleh Bagagarsyah adalah membawa 19 niniak mamak yang memihak pada pagaruyuang untuk menemui Kolonial Belanda yang berkedudukan di Padang untuk menandatangani perjanjian pada tanggal 10 Februari 1821, dimana Bagagarsyah membuka akses masuk pasukan Belanda ke Ranah Minang.  

Pada masa Inggris menguasai pantai Barat Sumatera (1795 - 1819), Gubernur Thomas Stamford Raffles pernah mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, melalui yang dmasuk ke ranah minang melalui Malalo yang dikuasai oleh Tuan Gadang Batipuah untuk menemui Rajo Alam dengan keperluan mendirikan pos dagang di Simawang (hulu batang Ombilin saat ini). Hasil kesepakatan mendirikan pos di Simawang dilakukan dengan niniak mamak kanagarian Simawang, bukanlah dengan Rajo Alam.    

Yang menjadi problem adalah, keluarga Pagaruyuang yang berasal dari dinasti Mauli di Siguntua (dharmasraya) ini tidak bisa sinkron dengan adat istiadat yang berlaku di ranah minang, yaitu :

Kamanakan barajo ka mamak,
Mamak barajo ka pangulu,
Pangulu barajo ka mufakat,
Mufakat barajo ka alua jo patuik, 
Alua jo patuik nan barajo ka nan bana
Nan bana tagak sandirinyo.      

Oleh sebab itu ada pemeo dari masyarakat Kurai (Bukittinggi saat ini), kok angku Adityawarman indak ka manggaduah urusan kanagarian kami, silahkan manjadi rajo, silahkankan mamarentah alam laweh ko, mangko disabuik Rajo Alam.

Mungkin itu sajo nan bisa ambo sampaikan, mungkin kok ado nan salah mohon dari angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak sapalanta RN untuak memaafkan. Kok ado nan bana tantunyo iko datang dari Allah SWT, kok ado nan salah iko adolah khilaf dari ambo, mohom tukuak jo bilai dari angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak sapalanta.

wasalam

AZ/lk/33th
Padang



Kurun (masehi)↓Nama raja↓Ibu kota /
pusat pemerintahan↓
Prasasti, catatan dan peristiwa↓
1300AkarendrawarmanSuruaso atau PagaruyungPrasasti Suruaso (Kab. Tanah Datar sekarang).
1347Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli WarmadewaSuruaso atau PagaruyungPiagam pada bahagian belakangArca Amoghapasa bertarikh 1347 di Sitiung (Kab. Dharmasraya sekarang).
1375AnanggawarmanSuruaso atau PagaruyungPrasasti Batusangkar
1411-1515Tidak ada berita
Sultan AlifPagaruyung
1668Sultan AhmadsyahPagaruyungSurat dari regent VOC di Padang Jacob Pits kepada Penguasa Pagaruyung[6]
1691Sultan IndermasyahPagaruyungKorespondensi surat-menyurat dengan VOC
1694Surat dari raja Jambi (Sultan Ingalaga) kepada VOC pada tahun 1694 yang menyebutkan Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan masyarakat di Batang Hari[7]
1717Surat Raja Kecil dari Pagaruyung kepada VOC untuk menuntut balas pada penguasa Johor[8]
1773Pengiriman Raja Melewar ke Negeri Sembilan
1780Sultan Arifin MuningsyahPagaruyung
1803Meletus Perang PadriYang Dipertuan Pagaruyung menyingkir ke Lubukjambi
1821Sultan Tangkal Alam Bagagar setelah membuat perjanjian dengan Belanda diangkat menjadi Regent Tanah Datar[9]
1825Sultan Arifin Muningsyah meninggal dunia, dan dimakamkan di Pagaruyung
1833Tuan Gadang di Batipuh mengantikan Sultan Tangkal Alam Bagagar menjadi Regent Tanah Datar
 
Rujukan :
a b c Dobbin, C.E. (1983). Islamic revivalism in a changing peasant economy: central Sumatra, 1784-1847. Curzon Press. ISBN 0-7007-0155-9.
Nain, Sjafnir Aboe, (2004), Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB), transl., Padang: PPIM.
Stuers, Hubert Joseph Jean Lambert (1850). De vestiging en uitbreiding der Nederlanders ter westkust van Sumatra. 2. P.N. van Kampen.
a b Amran, Rusli (1981). Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Penerbit Sinar Harapan.
Raffles, Sophia (1835). "Chapter XII". Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles. Volume I. J. Duncan.
Graves, E.E. (2007). Asal-usul elite Minangkabau modern: respons terhadap kolonial Belanda abad XIX/XX. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 979-461-661-3.

     


Dari: Nofendri T. Lare <nof...@gmail.com>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Rab, 11 Mei, 2011 05:44:53
Judul: [R@ntau-Net] PUSAKO : Muningsyah, Raja Alam Minangkabau
--

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages