Sanak sapalanta
Ini sekedar selingan akhir pekan tentang kayu kelapa, Ranah Minang sangat berlimpah dan banyak tumbuh pohon kelapa yang telah berumur tua (tidak produktif lagi berbuah), mungkin ini sebuah peluang bisnis…ada yang berminat mengelolanya ? sambil meremajakan tanaman kelapa tua masyarakat ranah minang terutama yang tumbuh dipesisir pantai bisa dimanfaatkan kayu, hal ini sempat saya diskusikan dengan Bung Nofrins, beliau sangat tertarik sekali dalam hal ini, bagaimana Da Nofrins kelanjutan tentang kayu kelapa ini.Mungkin lebih dalam lagi tentang kayu kelapa dari segi isu lingkungan Bung Ricky bisa menjelaskannya.
Wass-Jepe
SEKILAS KAYU KELAPA
Oleh : Jepe
Kayu kelapa, ini sangat menarik sekali jika ada investor yang berminat untuk mengusahakan kayu kelapa sebagai bahan bangunan (konstruksi), mebel, souvenir dan design interior bagi rumah, kantor dan lain sabagainya. Kayu kelapa unggul dalam segi estetika dengan corak dekoratif yang unik (fancy wood) kelemahannya memang gampang terserang jamur dan rayap (blue stain) tapi dengan adanya perlakuan (treatment) seperti pengeringan dan pengawetan maka kayu kelapa tidak kalah dengan kayu konvesional yang selama ini kita kenal (kayu hutan tropis).
Latar belakang pendidikan saya yaitu Kehutanan (Forestry) lebih spesifik lagi jurusan saya adalah Teknologi Hasil Hutan, dulunya sedikit banyak saya mempelajari karakter kayu kelapa ini baik dari segi anatomi maupun konstruksi (kekuatan dan keawetan). Daerah kita sangat berlimpah bahan baku kayu pohon kelapa tua yang tidak produktif lagi dari segi buah yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama didaerah pesisir sepanjang pantai barat Ranah Minang.
Jaman kita kecil dulu sebenarnya kayu kelapa sudah dimanfaatkan oleh orang tua dan ninik kita sebagai bahan bangunan yang diolah secara tradisional, setelah ditebang pohon kelapa yang tua lalu dibuat balok (kayu atau papan) dengan menggunakan kapak tajam berbentuk cangkul kecil (beliung) lalu diawetkan dengan merendamkan atau membenamkan dalam rawa yang berlumpur setelah itu dikering anginkan sebelum digunakan dan itu terbukti cukup awet rumah-rumah kampung yang memakai kayu kelapa ini “lah baruyuang” begitu kita dengar istilah kayu kelapa yang kuat ini.
Kayu kelapa yang sangat bagus dimanfaatkan buat konstruksi dan interior rumah serta mebel adalah kayu kelapa yang berumur lebih dari 50 Tahun, tapi yang paling bagus adalah umur 60 tahun keatas intinya semakin tua semakin bagus dengan diameter rata-rata sekitar 40 Cm Up, kita hanya memanfaatkan sekitar 8-10 meter saja dari pangkal pohon semakin keatas maka kayu terasnya (bagian luar) semakin lunak, sedangkan kayu gubal (inti) kurang bagus dimanfaatkan karena “ruyuang” nya tidak banyak, ruyuang inilah sebenarnya kekuatan dari kayu kelapa. Bagian gubalnya banyak mengandung zat gula (fruktosa), tentu kita pernah merasakan pucuk kelapa yang manis tersebut bisa dimakan atau yang dikenal di Minang dengan sebutan “Umbuik Karambia”.
Kayu kelapa berbeda seratnya dengan kayu konvesional yang kita kenal, seratnya (selulosa) putus-putus dan tidak menyatu seperti serat kayu konvensional yang tidak terputus dari pangkal sampai ke ujung, disini memang agak riskan jika memang digunakan sebagai bahan konstruksi terutama untuk menahan beban yang cukup berat ka seperti kuda-kuda dan plafon, tapi jika tidak menahan beban yang tidak terlalu berat seperti partisi, kusen pintu dan jendala, bilah pintu, lantai, dinding kayu kelapa sangat artistic penampilannya jika dipoles atau diplitur.
Saya dulu berselancar di dunia maya ternyata di Philipina sudah dimanfaatkan kayu kelapa tua masyarakat ini dan sudah ada pabriknya serta diekspor ke pasar Eropa begitu juga disalah satu negara Afrika, nah di Indonesia juga sudah ada pabrik kayu kelapa yaitu di Sulawesi (lupa namanya perusahaan dan di Sulawesi mana), produknya juga diekspor ke Eropa, harganya cukup mahal dan menggiurkan sekitar 12-10 Juta/M3 (2006), malah saya dengar kabar Korea dan Jepang sedang mencari kayu kelapa ini.
Kayu Kelapa ini mendapat apresiasi terutama masyarakat Uni Eropa apalagi isu lingkungan negara kita yang masih memanfaatkan kayu hutan tropis dengan menebang dan menggunduli hutan tanpa diperbaharui dan lestari, mereka menolak memakai kayu tropis ini bukan tidak sanggup beli tapi lebih kepada isu lingkungan apalagi negara Skandinavia isu lingkungan dan sosial sudah menjadi “Agama” bagi mereka, maksudnya begini kira-kira produk-produk dari negara kita yang berbahan baku kayu seperti kertas, mebel dan lain-lain yang diekspor harus lolos sertifikasi tiga aspek penting yaitu produksi, sosial dan lingkungan dengan segala indikatornya yang sangat banyak bahasa sederhananya “Mereka tidak mau membeli produk kayu yang dihasilkan dari merusak lingkungan dan social masyarakat tempatan tempat kayu/pohon ditebang”
Mereka sadar jika memakai barang dari kayu/pohon yang merusak lingkungan maka mereka berpikir di hutan sana hancur ekosistim dan masyarakat, mereka tidak mau santai-santai duduk di kursi goyang yang terbuat dari kayu hutan tropis kita sambil minum teh sore tapi akibat kursi goyang yang didudukinya tersebut dibelahan dunia sana (hutan Tropis kita) telah gundul yang mengakibatkan banjir longsor dan rusaknya ekosistim (flora dan fauna serta plasma nutfah) tentu berakibat sengsaranya masyarakat.
Mereka mau membeli mahal produk yang berbahan dasar kayu yang dikelola ramah lingkungan dan social dari pada membeli produk yang murah berkualitas tapi menghancurkan hutan tropis, jadi bukan mahal murah sebuah produk yang mereka lihat tapi lebih kepada isu lingkungan dan social.
Nah kayu kelapa tentunya salah satu alternative untuk memenuhi pasar luar negri seperti Eropa, Jepang dan Korea jika sudah menyangkut isu lingkungan dan social.
Satu tahun lebih saya bekerja disebuah NGO German kenamaan yang berpusat di Bonn yaitu German Agro Action atau dalam bahasa jerman dikenal Welt Hunger Hilfe ikut berperan serta membantu korban gempa dan Tsunami yang dahsyat di NAD pada tanggal 26 Desember 2004 yang meluluh lantakan bangunan fisik dan mental psikologis masyarakat Aceh yang berada di sepanjang pantai barat sumatera itu termasuk di Kepulauan Simeulue, disanalah saya bertugas satu tahun dengan program membangun 150 Unit rumah sederhana tahan gempa bagi masyarakat Simeulue yang rumahnya hancur oleh Gempa dan Tsunami.
NGO GAA ini tidak mau menggunakan kayu bagi konstruksi bangunan dari kayu konvesional tersebut walau ini sangat mudah didapat disana dan harga murah, maka alternatifnya adalah kayu kelapa dari pohon kelapa masyarakat yang sudah tua dan tidak produktif lagi berbuah, Inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab saya dengan jabatan kala itu “Timber Specialist” menyiapkan kayu kelapa, bahkan GAA rela mengeluarkan biaya sangat besar untuk mendatangkan 6 Unit mesin gergaji buatan Australia (Lucas Mill) dimana harga per Unitnya sekitar Rp 175. juta serta mendatangkan 2 Unit Unimog Built Up dari jerman lansung untuk menarik kayu kelapa masyarakat yang ditebang..luar biasa memang, tapi saya pikir ini bukan kepentingan bisnis lebih kepada bantuan jadi tidak berhitung biaya produksi serta rugi laba.
Sistim yang saya terapkan pada saat itu, GAA memberikan uang pengganti untuk menanamkan kembali pohon nkelapa (Replanting) sebesar Rp 40.000. Uang sebesar itu untuk penyediaan 2 bibit kelapa siap tanam dan sekedar biaya penanaman bagi masyarakat pohonnya yang ditumbang. Motto saya ketika itu TEBANG SATU TANAM DUA.
Berdasarkan pengalaman saya tersebut tidak ada salahnya dilirik peluang ini secara bisnis kayu kelapa di ranah minang dengan pohon kelapa tua yang jumlahnya sangat banyak lalu diremajakan dengan kelapa hibrida. (Oh ya kayu kelapa yang berkualitas dimanfaat adalah varietas local yang umurnya mencapai puluhan tahun, bukan kelapa Hibrida). Saya pernah mendengar kabar dari kakak saya yang bekerja di Dinas Kehutanan Sumbar bahwa dulu di Ranah Minang akan diusahakan membuat pabrik penggergajian kayu kelapa di daerah Pariaman atas permintaan pasar Korea tapi entah kenapa tidak jalan lagi.
Jika nanti ada kebijakan pemerintah monotorium terhadap hutan tropis (penghentian segala aktivitas bisnis terutama penebangan pohon hutan tropis kita) apalagi Indonesia telah ikut menandatangani pengurangan gas karbon serta isu-isu lingkungan seputar hutan tropis maka mau tidak mau Industri Kehutanan dari Hulu sampai ke Hilir harus memanfaatkan kayu dari pohon yang ditanam serta bisa di perbarahui (renewable) dan lestari/berkelanjutan (Sustainable).
Pku, 3 April 2009

Saya bersama jurnalis TV dari Jerman yang
Ingin meliput apa dan bagaimana Kayu Kelapa
Istirahat sejenak di camp tempat pengolahan kayu kelapa
Di Simeulue NAD

Siap-siap diwawancarai

Kameramen Televisi Jerman lagi meliput
Kegiatan seputar pengolahan kayu kelapa

Penolahan kayu kelapa tua sebagai bahan
bangunan
Bisa jadi suatu saat dikumpuakan Tulisan Uda Jepe diterbitkan oleh ‘RantauNet Media’ nantinya baa manuruik sidang Palanta..
Taruih Da
DYEK
| Assalamu'alaikum wr.wb. Saya lihat di Padang sdh banyak jg yg menggunakan kayu kelapa untuk lantai rumah atau sofa, kursi makan dsb nya.Saya perhatikan kayu kelapa kalau dipakai makin lama makin bagus dan halus, justru waktu msh baru agak kasar ,makin lama makin bagus, sayangnya harganya agak mahal. Kalau memang ada investor yang mau mengusahakan kayu kelapa, bagus sekali, karena adik saya untuk mendapatkannya melalui petani kelapa di Pariaman yang sdh pandai mengolahnya supaya tahan terhadap jamur dan rayap. Mungkin itu masih jarang yg mengerti. Semoga pak Jepe bisa menggerakan minat orang khususnya di Pariaman ber Bisnis KAYU KELAPA. Wassalam. Dewi Mutiara, suku Sikumbang. --- On Fri, 4/3/09, Jupardi <jup...@ANUGRAH-MGT.BIZ> wrote: |
|
| Assalamu'alaykum Warahmatullahi wa barakatuh, Sedikit pandangan Buya terhadap kayu kelapa ini. Memang menjadi salah satu bahan bagi perdagangan kayu yang menjanjikan untuk semasa. Semestinya penebangannya di iringi dengan penanaman kembali. Jangan asal tebang tebas saja, Satu ketika Pariaman kehabisan kelapa. Untuk menungu kelapa berbuah atau batangnya dapat dijadikan kayu yang kuat itu, memerlukan waktu sampai sepuluh tahun. Menebangnya tidak terlalu memakan waktu panjang. Karena harga kayunya menggiurkan, maka petani karambie yang tradisional itu kadang-kadang lupa menanam kembali. Buya terkesan pesan Bupati Muslim Kasim, "JANGAN MUDAH MENEBANG KELAPA", Sosialisasikanlah kayu kelapa, tapi iringi dahulu dengan keinginan untuk menanamnya. Wassalam BuyaHMA (L.74,Majo Kayo, Piliang, Kotogadang di Padang) --- On Fri, 4/3/09, andi jepe <andi...@gmail.com> wrote: |