Sabtu, 23 Februari 2013
  Â
   Cuaca mendung usai hujan yang sempat menyiram Cibubur dan sekitarnya pada pagi hari, menemani perjalanan saya dan Ajo Duta dari Tamini Square, meeting point kami, menuju Jl. Banyumas 2, Menteng, Jakarta Pusat, tempat akan diadakannya Silaturahim &  Pengajian ISNET. Kebetulan kami berdua menjadi narasumber untuk acara hari itu.
   Kami tiba di rumah sahibul bait, Faisal Motik, yang terletak di seberang Masjid Agung Sunda Kelapa itu menjelang masuk waktu Zuhur, bersamaan dengan Rang Dapua, Katua Miko Mikardo. Di dalam rumah, selain beberapa anggota ISNET yang sudah hadir, tampak pula beberapa warga RantauNet seperti Buya Zubir Amin dan nyonya, Mas Asmardi Arbi, Mak Muchlis Hamid, dan Qashiratu Taqarrabie (Bie), anggota penulis "Ranah", anak kanda Aslim Sutan Sati yang berhalangan hadir (dari Bie saya dapat kabar bahwa kanda Aslim sedang sibuk FGD petisi anti-miras bersama kelompok Gerakan Indonesia Damai yang dimotori Fahira Idris). Mak Asmun Sju'eib datang tak lama kemudian.Â
    Satu persatu anggota ISNET terus berdatangan. Silaturahim belum dibuka resmi karena penjab pertemuan Laurel Heydir Ph.D belum terlihat batang hidungnya sehingga sebagian hadirin mengerumuni pesawat TV di ruang tengah untuk menunggu perkembangan berita tentang Anas Urbaningrum. Zuhur masuk, dan hadirin memutuskan untuk shalat berjamaah di Masjid Sunda Kelapa lebih dulu.
     Usai Zuhur, acara dimulai dengan saya sebagai pembicara pertama membahas sejarah Buya Hamka masa kanak-kanak, remaja dan dewasa muda sampai berusia 30 tahun (1938) yang merupakan isi novel "Tadarus Cinta Buya Pujangga". Masa-masa "pembangkangan" seorang Malik muda yang menurut saya sebaiknya dipahami oleh para orang tua saat ini -- dan terutama oleh para motivator dalam seminar-seminar parenting -- agar lebih bersabar dalam mendidik anak, bukan hanya mengharapkan agar sang anak "saleh, taat ibadah, tak suka mendebat, dll" berdasarkan standar sang orang tua sekarang.Â
     Usai paparan pertama yang dilanjutkan diskusi kritis dari beberapa hadirin (termasuk Mak Asmun dan bang Laurel), acara dilanjutkan dengan paparan Ajo Duta tentang Masyarakat Diaspora Indonesia. Ajo Duta membuka sesinya dengan pengantar yang menautkan kedua tema dengan sangat baik. "Jika sebelum ini kita melihat masa silam lewat kisah Buya Hamka dan relevansinya bagi kita sekarang, saya akan melanjutkan dengan antisipasi kita melihat ke masa depan."
     Ajo Duta memaparkan estimasi jumlah diaspora Indonesia ("Orang Kawanua merupakan etnis yang paling aktif dalam menggalang pertemuan di AS," ungkap Ajo Duta), program-program yang sudah dan sedang digodok (termasuk peluang diberlakukannya Dapil LN bagi masyarakat diaspora). Usai paparan, diskusi pun kian menghangat dengan "curcol" (curhat colongan) antara lain dari Jaha Nababan (Nababan muslim yang langka, induaknyo dari Maninjau), pakar media dan teknologi pendidikan dari Boston Uni. Bekas tangan kanan Prof. Yohannes Surya dari Surya Institute ini  menjelaskan bagaimana perjuangannya kembali ke Indonesia yang tidak mulus, karena bahkan situasi akademik di sebuah kampus negeri terkenal pun tidak kondusif baginya. Sinyalemen Jaha mendapat banyak komentar peserta lain yang rata-rata mengalami hal serupa sepulang dari LN. Mereka berharap agar hal seperti itu juga bisa dipikirkan oleh Ajo Duta dkk pengurus Masyarakat Diaspora.
    Jelang silaturahim ditutup, Buya Zubir Amin memberikan "closing statement" yang sangat menarik dan menyentuh. Dibuka dengan ucapan terima kasih karena RantauNet sudah diundang dalam acara ISNET, Buya Zubir lalu mengungkap kenangannya dengan rumah Banyumas No. 2 yang dulu kediaman ayah Faisal, yakni Basyaruddin Rahman (B.R.) Motik, sebagai tempat "nongkrong" pada masa-masa usai G30S dan maraknya aksi kesatuan mahasiswa. Sebagai penutup, Buya Zubir menyatakan seandainya dalam silaturahim dan pengajian ISNET selanjutnya RantauNet diundang lagi, tentu warga RN akan dengan senang hati menghadirinya.
    Ajo Duta lalu menambahkan bahwa secara tidak langsung RN dan ISNET punya titik temu karena server awal RantauNet di awal 90-an pada awalnya (diizinkan) menumpang di server milik ISNET yang, saat itu, dikelola mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di AS.
   Alhamdulillah acara berlangsung lancar (meski moderator ISNET, Arief M. Utama, awalnya sempat khawatir tentang kedatangan peserta karena biasanya pengajian ISNET berlangsung Jumat malam, yang memudahkan peserta langsung datang usai kerja, dibandingkan pada weekend di mana anggota sudah punya beragam agenda lain. Untungnya, kekhawatiran Arief tak terbukti. Peserta terus berdatangan, sampai sekitar 50-an orang).
   Usai silaturahim, Mak Asmun yang tinggal di Depok menyatakan ingin bergabung pulang dengan saya dan Ajo Duta.
  Nah! Ini dia "korban empuk" untuk dibelokkan ke Bika Si Mariana di dekat exit toll Cibubur! :)
  Jelang magrib itu akhirnya saya dan Ajo Duta menyantap gulai kambing yang menurut Ajo Duta, "rasa karinya mantap, seperti di Malaysia". Semantap apa? Membuat Ajo Duta tambuah ciek, seporsi lagi gulkam! (Di luar icip-icip Bika si Mariana).
  Sementara Mak Asmun terpaksa harus mengikhlaskan tak menyicip gulkam karena tekanan darah sedang tinggi, sehingga memesan soto Padang dan membawa pulang bika yang "Indak Dibali Takana-kana" itu.
  Kami berpisah di Bika Si Mariana dengan Mak Asmun, yang harus balik arah sedikit lagi ke Depok, sementara saya dan Ajo Duta melanjutkan perjalanan ke Vila Nusa Indah rumah anak Ajo Duta, yang lokasinya ternyata "di belakang" rumah saya.Â
  Sebuah hari yang berkesan.
Wassalam,
ANB
Cibubur
Â