|
Kamis,
20 Agustus 2009 , 09:42:00
Pasan
ka Puaso
Petang
Senin, 18 Agustus lalu, satu pesan pendek masuk ke telepon genggam saya.
Ternyata pesan itu datang dari sahabat masa kecil, Wirman Effendi, yang
domisili di Kotopanjang, Batusangkar. Luar biasa! Benar-benar luar biasa.
Pesan pendek itu, dengan kata disingkat-singkat, disampaikan dalam bahasa
Minangkabau menakjubkan.
Izinkan saya menjelaskan, Wirman Effendi yang oleh semua kerabat dipanggil
Man Pendi, saya bersua lagi di sebuah upacara pemakaman di Sawahtangah,
Kecamatan Pariangan, dua bulan lalu. Kini usia kami hampir berkepala enam.
Ketika itu kami saling mencatat nomor telepon genggam. Dan Man Pendi adalah
salah seorang teman, kemudian saya sebut sahabat, masa kecil. Satu kelas,
lebih-kurang 30 murid, di akhir tahun 50-an, kami sama-sama memasuki Sekolah
Rakyat (SR), sekarang SD (Sekolah Dasar). Selama lebih-kurang enam setengah
tahun (pada tahun 60-an itu kalender awal akademik diubah dari Januari ke
Juli sehingga usia semua anak-sekolah jadi “mubazir” sekitar enam
bulan) jadi teman sepermainan, seperguruan, memungkinkan kami bena-benar dekat,
akrab, saling mengenal.
Man Pendi dan saya pun sama-sama masuk SMP. Tetapi setelah itu
“nasib” bicara lain. Sejak pertengahan 1968 saya berkatepe Kota
Padang. Sayup-sayup pernah saya dengar Man Pendi masuk ke salah satu SMA di
Batusangkar atau Padangpanjang. Setiap pulang kampung saya nyaris tak jumpa
Man Pendi, biarpun bila bersua jabat tangan kami alangkah erat (tanpa
cipika-cipiki). Dan ota kami memang lebih banyak berbalik ke masa silam, nun
jauh ke masa pergolakan PRRI.
Kemudian, Man Pendi jadi pakar pidato tagak, pasambahan, pakolahan untuk
iven-iven kultural, tentu saja, berwarna etnik Minangkabau. Pernah dalam
acara baralek manjapuik rang sumando, persembahan Man Pendi tak terpatahkan
(oleh lawan bicara). Pernah pula, dalam iven batagak pangulu, di hadapan Bupati
Tanahdatar, Man Pendi mengisahkan tambo (silsilah?) Minangkabau secara amat
memesona.
Saya tak tahu di mana, berapa lama, bagaimana Man Pendi belajar pakolahan.
Kepadanya, melalui satu pesan pendek saya pernah mengatakan, kalau mungkin
onggok-onggok pasambahan itu direkam, ditranskripsikan, dan diterbitkan dalam
bentuk buku. Dengan rendah hati Man Pendi membalas, “dicubo molah
daolu.”
Hal ini pernah saya diskusikan dengan Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto,
seorang yang juga hafiz di bidang pasambahan. Saya pernah membaca sejumlah
buku Idroes Hakimy Datuak Radjo Panghoeloe yang mungkin berakar dari
pakolahan.
Saya pun pernah berdiskusi panjang dengan Kamardi Rais Datuak P Simulie
menyangkut bagaimana upaya konkret untuk mengawetkan sastra lisan Minangkabau.
Dan beberapa tahun belakangan saya senang (tentu saja belum mungkin berpuas
diri) ketika di beberapa perguruan (baca: sekolah-sekolah formal atau tak
formal) di beberapa daerah di seantero Sumatera Barat kembali diperkenalkan,
diajarkan dan dikhatamkan kemampuan berorasi kultural ini. Mungkin harapan
bisa ditaruh: tiap nagari punya Man Pendi-Man Pendi, siapa tahu, bisa selevel
dengan Idroes Hakimy dan Kamardi Rais.
Saya memang tak habis mengerti saat televisi publik menayangkan program
adat-istiadat Minangkabau menggunakan bahasa Indonesia baku, biarpun presenter berpakaian
ninik-mamak dan bundo kanduang. Ba a lo tu maajaan adat, tamasuak bahaso
Minangkabau, jo bahaso Indonesia?
Nan bana selah ngku? Tetapi memukau ketika
ada pula televisi swasta menyampaikan berita dengan bahasa Minangkabau dalam
idiolek tertentu. Sangat khas dan unik!
Kembali ke Man Pendi, dalam pesan pendek dia berujar (sengaja saya salin
utuh, tanpa penerjemahan ke bahasa Indonesia): Assalamualaikum.
Ditabang batuang ka lantak, dikuduang sambilan jari, rila jo maaf samo
dipintak, dari lubuak hati sanubari. Siriah jo pinang alah tasusun, gambia jo
sadah samo ditata, dalam carano pusako adat, kapado Allah maminta ampun,
sasamo umat barila-rila, nak tarang jalan ka akhirat. Adat jo syarak kok nyo
tarang, lahia jo batin nak nyo tantu, karano Ramadan alah datang, samo
tunaikan sunat jo fardu. Dek lidah indak batulang, dek bibia indak babingkai,
nan buruak samo kita buang, nan elok samo kito pakai. Samoga amal ibadah kito
ditarimo Allah. Amiiin... Salam maaf lahir dan batin dari kami sekeluarga.
Alangkah relijius, puitik dan penuh metafor pesan pendek Man Pendi. Dan
betapa rasa bahasa (sense of language, ujar sosiolinguis), bahasa ibu, mother
tongue, Minangkabau terbantun anggun. Betapa larik-larik yang disampaikan
berpesan secara jelas. Nak tarang jalan ka akhirat (supaya terang jalan ke
akhirat) adalah makna substansial dari minta ampun kepada Allah SWT. Dan
antarsesama kita saling merelakan. Bukankah ungkapan ini amat relijius?
Biarpun ungkapan lidah tidak bertulang sudah klise, tetapi baris dek bibia
indak babingkai menjadi sampiran menakjubkan. Menemukan ungkapan bibir tidak
berbingkai itu benar-benar merupakan kreativitas berbahasa tak tertandingi.
Kajian-kajian linguistik dan semantik serta temuan-temuan kebahasaan bersifat
“lokal” (dalam konteks berbangsa: Indonesia) tentu saja dilakukan
perguruan-perguruan tinggi. Kebanggaan atau, sebutlah, kelegaan, pemakaian
bahasa Minangkabau di kurun ini diintai pelbagai soal, termasuk bahasa
“gado-gado” (baca: berbagai dialek bahasa Indonesia,
termasuk Jakarte, sih, dong, dan bahasa Inggris, sesudah
“pengaruh” bahasa Belanda dan Arab meredup) yang pelik.
Mungkinkah mengkhawatirkan bahasa Minangkabau jadi, menggunakan istilah ahli
bahasa, extinct language, bahasa mati? Tanpa harus berspekulasi, saya kira
tidak atau belum mengkhawatirkan. Pesan pendek Man Pendi jadi indikator,
keberadaan bahaso awak masih kuat. Bukankah melalui pesan pendek itu Man
Pendi mengirim pasan ka puaso, ingin bermaaf-maafan dengan sahabat masa
kecilnya sebelum memasuki Bulan Ramadan?
Dan banyak indikator lain memerkuat premis ini. Penggunaan nama (terutama
negari) oleh media cetak dan elektronik sesuai dengan nama asli masing-masing
negari tetap diupayakan dengan bersungguh-sungguh. Di Kota Padang, kini,
sudah ada pelang Jalan Dama dan GOR Agussalim Rimbokaluang sebagaimana nama
jalan itu sesungguhnya Jalan Dama dan kawasan GOR itu berada di Kelurahan
Rimbokaluang. Kota-kota Padangpanjang, Bukittinggi, Batusangkar, Solok,
Pariaman dan kota-kota lain serta kabupaten-kabupaten se-Sumbar sudah
mengembalikan nama-nama negari kepada yang asli, yang Sulik Aie, bukan Sulit
Air (apalagi Difficult Water), yang Ikua Koto, bukan Ikur Koto.
Pers daerah ini dan ibukota dengan elegan menulis: Saok Laweh, Pauah Kamba,
Kampuang Kalawi, Batipuah Panjang, Baruang-baruang Balantai, Muaro Paneh,
Bukik Sundi, Durian Taruang, Pasie Nan Tigo, Ampiang Parak, Situjuah Batua,
Sitapuang, Talang Babungo, Katapiang. Nama-nama ini indah dan penuh makna,
dan nama asli negari mana pun di Minangkabau sangat indah dan penuh arti.
Betapa tidak indah nama Parak Laweh Pulau Aie Nan Duopuluah!
Dalam bertutur pun urang awak tangkas. Di Pasa Banto atau Pasa Ateh
orang-orang berbahasa Minangkabau idiolek setempat, tetapi ketika bersua
dengan Pak Camat, Pak Wali Kota atau Bupati dalam acara resmi, mereka
langsung menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pula murid-murid Kota
Batusangkar: dalam kelas mereka berbahasa Indonesia secara baik dan benar,
tetapi saat keluar-main mereka langsung berbahasa Songkau. Baopo di Wan?
tanya adik kelas ke kakak kelas. Yo molah, salamat puaso nde meang. (*)
*Darman Moenir, Sastrawan
|