Agresi Militer I Belanda sangat dirasakan akibatnya oleh Republik Indonesia. Untuk menembus blokade Belanda terhadap daerah Republik Indonesia, telah ditempuh berbagai cara. Salah satu adalah lewat udara. Republik Indonesia berhasil menarik simpati dunia luar antara lain dengan datangnya pesawat-pesawat asing ke Indonesia. Selain itu dirasakan pula betapa pentingnya perhubungan antara Jawa dan Sumatera. Kedunya merupakan daerah terpisah yang harus dapat dihubungi satu sama lain. Baru pada tahun 1947 dilakukan usaha nyata ke arah itu. Pesawat-pesawat bermotor satu buatan Jepang tidak sesuai untuk Sumatera. Daerahnya masih berhutan rimba luas, jarak satu kota dengan kota lainnya jauh, penduduk jarang dan jalan-jalan buruk. Berhubungan dengan itu pada permulaan tahun 1947 disewa sebuah pesawat pengangkut Dakota dari luar negeri. Ibukota Sumatera waktu itu Bukittinggi harus mempunyai hubungan langsung dengan Yogyakarta. Sesudah lapangan terbang disiapkan secara gotong royong oleh rakyat, tepat pada hari yang telah ditentukan mendarat sebuah pesawat Dakota yang pertama di Bukittinggi. Akan tetapi berhubung dengan suasana politik, perhubungan udara itu tidak dapat diselenggarakan secara tetap. Karena kesulitan perhubungan itu konsolidasi di lingkungan AURI sulit pula dilaksanakan. Namun oleh Pemimpin Tertinggi Tentara telah digariskan, bagaimana pun juga AURI harus dibangun di Sumatera. Keputusan ini diambil mengingat situasi politik semakin genting, dimana Belanda sewktu-waktu dapat merebut dan menduduki pangkalan-pangkalan udara yang berada di Jawa. Apabila hal tersebut terjadi, maka Sumatera dijadikan basis perjuangan dan persiapan ke arah itu harus dilakukan jauh-jauh sebelumnya.
Tugas untuk membangun AURI di Sumatera dipercaya kepada Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Beliau sangat erat berhubungan dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pendapat dan sarannya tentang Angkatan Udara sering diminta oleh Jenderal Soedirman. Pemerintah menugaskan Halim ke Sumatera dan diangkat sebagai pejabat AURI di Komandemen Tentara Sumatera . Selama melaksankan tugas , Halim berhasil menjalin kerjasama dengan Panglima Tentara di Sumatera dan masyarakat di daerah itu. Bahkan lebih daripada itu ia berhasil menghimpun dana mengumpulkan emas dari rakyat untuk kemudian digunakan membeli pesawat. Salah satu bukti hasil pengumpulan dana adalah dengan berhasil dibelinya sebuah pesawt Avro Anson dengan registrasi VH-BBY. Pesawat itu dibeli dengan harga 12 kg emas murni yang kemudian diberi nomor registrasi RI-003.
Usaha pembinaan keluar dan ke dalam terus ditingkatkan. Setelah Bukittinggi menyusul perbaikan beberapa buah pangkalan lain. Satu konsep yang akan dipakai sebagai dasar bagi pembangunan AURI khususnya di Sumatera telah disusunnya pula. Juga usaha membuka hubungan dengan luar negeri untuk mendapatkan bantuan senjata dan logistik lainnya untuk keperluan perjuangan, terus dilakukan. Dalam kaitan usaha mencari bantuan ke luar negeri inilah Halim bersama Opsir Udara I Iswahjudi pergi ke Bangkok pada bulan Desember 1947.
......| PESAWAT AVRO ANSON SUMBANGAN AMAI-AMAI | ![]() |
![]() |
![]() |
| Senin, 11 Maret 2013 01:44 |
Sekitar 5 km dari Kota Bukitinggi, tepatnya di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang, pada pinggir jalan raya menuju Medan terdapat taman wisata seluas lapangan sepakbola. Pada taman itu dipajang sebuah replika pesawat terbang berwarna putih bertuliskan AVRO ANSON dan RI 003. Di bawah pesawat dipajang lagi sejumlah patung para pejuang. Bagi kebanyakan pengunjung keberadaan replika pesawat mengejutkan, mengundang pesona tetapi juga mengundang pertanyaan, apa hubungan pesawat itu dengan Gadut? Hubungannya, lokasi di sekitar taman wisata itu dulu merupakan lapangan terbang yang pernah didarati pesawat avro anson, sementara pesawat avro anson produk A.V.Roe and Company di Manchester yang didirikan oleh Alliot Verdon Roe juga pernah dibeli oleh amai-amai dari Bukittinggi, Agam dan sekitarnya dengan emas perhiasan mereka, berupa kalung, lontin, subang, gelang, cincin, termasuk cincin kawin. Tujuan pembelian pesawat untuk mendukung kebijakan ekonomi dan membantu perjuangan Republik Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajah. Proses pembeliannya, pada 27 September 1947 atas instruksi Wakil Presiden M.Hatta dibentuk panitia pengumpul emas untuk pembelian kapal terbang di Bukittinggi dengan ketua Mr.Abdul Karim(Direktur Bank Negara),anggota terdiri dari Suryo, R.S Suryaatmaja dan residen Sumatra Barat Mr. M. Rasyid. Selama lebih kurang 2 bulan panitia bekerja dengan bantuan tokoh masyarakat terkumpul emas perhiasan amai-amai sebanyak 1"belek” atau 1 kaleng biskuit, lalu emas itu dilebur menjadi emas batangan yang beratnya 14 kg lebih. Waktu itu mengumpulkan emas sebanyak itu tidak begitu sulit karena semangat amai-amai untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan juga bergelora, lagian amai-amai di tanah minang banyak yang memiliki emas perhiasan karena emas bagi mereka merupakan benda penyimpan kekayaan dan lambang kemuliaan seperti diungkap pepatah, “bapak kayo, mandeh baameh, mamak disambah urang pulo”. Setelah emas terkumpul dibentuk lagi panitia pembelian pesawat diketuai oleh Abu Bakar Lubis. Untuk melakukan pembelian panitia berangkat ke Singapura menemui Perwakilan RI di sana yang juga orang awak minang Dick Tamimi dan anak “nyiak” H.Agussalim bernama Ferdi Salim yang bertugas sebagai Supply Mission AURI di negara singa itu. Bersama dengan petinggi RI di Singapura dan melalui H.Savega seorang broker dari Birma ditawar pesawat avro anson milik H.Kegan seorang warga Australia, pemilik bersedia menjualnya dan disepakati bahwa transaksi akan dilakukan di Bukittinggi, namun pembayarannya di Songkhla(Thailand) dengan harga 12 kg emas. Awal Desember 1947 pesawat avro anson yang akan dibeli itu mendarat di lapangan udara Gadut, kedatangannya disambut antusias warga masyarakat. Pada 9 Desember 1947 Avro Anson diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma ke Songhkla Tailand, penumpangnya termasuk Dick Tamimi dan H.Kegan sendiri, tiba di negeri gajah itu sore hari, namun naas avro anson diusir pejabat setempat karena dituduh melakukan penyeludupan barang perhiasan, penumpangnya turun melanjutkan perjalanan ke Penang. Sementara Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma diperintahkan menerbangkan pesawat menuju tanah air, namun naas lagi, tak lama berselang pejabat di Malaka menyatakan avro anson jatuh di Tanjung Hantu negara bagian Perak. Dalam kejadian itu jenazah Halim Perdanakusuma diketemukan namun Iswahyudi tidak diketahui nasibnya sampai sekarang. Penyebab jatuhnya pesawat juga tidak diketahui secara pasti, apakah karena kerusakan, cuaca buruk atau karena sabotase. Sebagai pejuang pilot avro anson Iswahyudi diabadikan menjadi nama pelabuhan udara di Jawa Tengah dan nama navigatornya Halim Perdanakusuma diabadikan menjadi nama lapangan udara di Jakarta. Sedangkan bagi amai-amai minang jatuhnya pesawat avro anson nasib mereka bagaikan sudah jatuh ditimpa tangga, emas perhiasan sudah dikorbankan, pesawat yang diidamkan tidak dapat digunakan, namun kadang ya begitulah perjuangan itu, penuh onak duri dan pengorbanan. Sebagai pembangkit kenangan dan bukti pisik perjuangan replika avro anson dipajang sebagai monumen sejarah berskala nasional di Gadut kecamatan Tilatang Kamang(Kasra Scorpi) |
Assalamu'alaikum wr.wb.
.......
Agresi Militer I Belanda sangat dirasakan akibatnya oleh Republik Indonesia. Untuk menembus blokade Belanda terhadap daerah Republik Indonesia, telah ditempuh berbagai cara. Salah satu adalah lewat udara. Republik Indonesia berhasil menarik simpati dunia luar antara lain dengan datangnya pesawat-pesawat asing ke Indonesia. Selain itu dirasakan pula betapa pentingnya perhubungan antara Jawa dan Sumatera. Kedunya merupakan daerah terpisah yang harus dapat dihubungi satu sama lain. Baru pada tahun 1947 dilakukan usaha nyata ke arah itu. Pesawat-pesawat bermotor satu buatan Jepang tidak sesuai untuk Sumatera. Daerahnya masih berhutan rimba luas, jarak satu kota dengan kota lainnya jauh, penduduk jarang dan jalan-jalan buruk. Berhubungan dengan itu pada permulaan tahun 1947 disewa sebuah pesawat pengangkut Dakota dari luar negeri. Ibukota Sumatera waktu itu Bukittinggi harus mempunyai hubungan langsung dengan Yogyakarta. Sesudah lapangan terbang disiapkan secara gotong royong oleh rakyat, tepat pada hari yang telah ditentukan mendarat sebuah pesawat Dakota yang pertama di Bukittinggi. Akan tetapi berhubung dengan suasana politik, perhubungan udara itu tidak dapat diselenggarakan secara tetap. Karena kesulitan perhubungan itu konsolidasi di lingkungan AURI sulit pula dilaksanakan. Namun oleh Pemimpin Tertinggi Tentara telah digariskan, bagaimana pun juga AURI harus dibangun di Sumatera. Keputusan ini diambil mengingat situasi politik semakin genting, dimana Belanda sewktu-waktu dapat merebut dan menduduki pangkalan-pangkalan udara yang berada di Jawa. Apabila hal tersebut terjadi, maka Sumatera dijadikan basis perjuangan dan persiapan ke arah itu harus dilakukan jauh-jauh sebelumnya.
......
--
Mimpi Terbang dr Bandara GADUT Bukittinggi
Tiba2 bbrp hari lalu dapat undangan utk
mencoba terbang dg Private Jet kapasitas 6 kursi dari Padang ke Jakarta. Agak
luar biasa undangan ini, krn yang mengundang sampai merelakan seat nya agar
bisa saya pakai. Beliau kembali ke Jakarta besoknya dg pesawat biasa. Tujuannya
cuman satu, siapa tahu foto-foto liputan saya bisa mendorong dibuka dan
diaktifkannya Bandara kecil-kecil diluar Padang. Dulu ada Bandara Gadut,
Piobang, dll. Sebagai perbandingan, menurut Bang Zukri Saad, di Papua ada 258
buah bandara besar kecil (airstrip).
Pasaman termasuk yang berhasil dengan membuka bandaranya yg dibuka Desember
2011. Krn Pasaman sangat menyadari dampaknya untuk daerah mereka. Ke Pasaman
sekarang cuman 35 menit, sehingga Pengusaha, Investor, Pejabat, Wisatawan, dll
bisa mencapai Pasaman dengan mudah. Akhir tahun lalu saya pernah menemani
pengusaha Malaysia di Solok Selatan. Katanya cukuplah sekali itu naik mobil
kesana. Jalannya jauh dan berbelok-belok. Kalau ada pesawat kecil atau chopper,
saya pilih itu aja katanya...
Dilihat dari Industri Pariwisata, menurut Ketua PHRI Sumbar, jumlah kamar hotel
saat ini sudah cukup. Kadang malah berlebih. Yang kita perlukan sekarang adalah
kelas POOL VILLA Hotel. Yaitu Luxury Hotel yang sewanya per malam diatas Rp. 5
juta. Sumbar perlu investor untuk Pool Villa Hotel ini. Kalau sudah mulai masuk
ke kategori ini, keperluan Bandara kecil-kecil sudah cukup mendesak. Wisatawan
kelas ini biasanya gak mau susah. Semua maunya serba cepat dan lebih pasti
waktunya. Padang – Bukittinggi aja sekarang bisa berjam-jam kalau lagi apes
kena macet.
Kenapa harus kita pikirkan kelas ini...? Karena jumlah uang yang mereka
belanjakan biasanya luar biasa besar.Beli Songket, biasanya bukan yg 2 juta, tp
yg 10 juta keatas, dsjnya.
Dari Ibu Eti Yusuf, VP dari perusahaan yg menyewakan pesawat ini, katanya cukup
sering pesawat dia di charter ke Padang. Saya tanya siapa penumpangnya...?
Orang awak katanya... Untuk bisnis...? Bukan, katanya pulang kampung aja... Nah
lho...
Makanya saya berandai-andai, sekiranya Bandara Gadut Bukittinggi bisa dibuka
dan diaktifkan lagi, mugkin bisa mendorong investor besar masuk ke Bukittinggi
dan Agam. Dua daerah ini merupakan ikon penting pariwisata Sumbar. Saat
peresmian The Great Wall of Kotogadang, Ustadz Tifathul Sembiring dalam
pidatonya mengatakan: “Obsesi saya ada satu lagi, yaitu mengaktifkan Bandara
GADUT...!”.
Semoga segera terealisir... Aah...inilah sisi lain jadi Tukang Kodak
jalanan...:) Sekali lagi, terima kasih untuk undangan ini. Semoga foto-foto
seadanya ini bisa menggugah banyak pihak untuk bersama-sama memikirkan dan
mendorong diaktifkannya Bandara GADUT...! Dan bbrp Bandara lainnya. Insya
allah...
FB Nofrins Napilus
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151547286559047.1073741826.666199046&type=1
PESAWAT AVRO ANSON SUMBANGAN AMAI-AMAI
Senin, 11 Maret 2013 01:44 Sekitar 5 km dari Kota Bukitinggi, tepatnya di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang, pada pinggir jalan raya menuju Medan terdapat taman wisata seluas lapangan sepakbola. Pada taman itu dipajang sebuah replika pesawat terbang berwarna putih bertuliskan AVRO ANSON dan RI 003. Di bawah pesawat dipajang lagi sejumlah patung para pejuang.
Bagi kebanyakan pengunjung keberadaan replika pesawat mengejutkan, mengundang pesona tetapi juga mengundang pertanyaan, apa hubungan pesawat itu dengan Gadut?
Pemkab Agam Jajaki Bangun Bandara
Padang | Selasa, 10 Jan 2012
Pemerintah Kabupaten Agam menjajaki pembangunan bandara pengumpang (feeder) guna mengoptimalkan pengembangan bisnis dan investasi di Bukit Tinggi.
"Rencana strategis Agam pada 2013 yakni membangun Bandara," kata Bupati Agam Indra Catri, Senin (9/1) pada Jurnal Nasional.
Menurut dia, pembangunan bandara bagi Agam bukan untuk gagah-gagahan tapi sudah urgen melihat mobilitas transportasi yang saat ini tidak mampu menampung arus kendaraan bermotor. "Lihat saja bagaimana macetnya ruas jalan Padang-Bukittinggi, selama ini bisa ditempuh 1 jam 45 menit sekarang butuh waktu dua sampai tiga jam," ujarnya.
Keberadaan Bandara di Agam, justru menopan pesatnya kemajuan Bukittinggi. Terutama mewujudkan Bukittinggi Nation Businis dan Maninjau Nation Businis. Dia mengatakan lokasi pembangunan bandara di sekitar kawasan Matur atau Lubukbasung. "Butuh kesempurnaan infrastruktur jalan terutama jalan penghubung antar kabupaten dan kota, karena umumnya ruas jalan di Agama interkoneksi dengan kabupaten dan kota lain di Sumbar, seperti ruas jalan Sicincin-Malalak yang saat ini masih belum optimal menjadi jaluir alternatif dari dan ke Padang," ujarnya.
Anggota DPR asal Agam, Taslim, mendukung rencana Pemkba Agam tersebut. "Saya sangat mendukung dan memahami bahwa transportasi udara bagi Agam tidak hal baru lagi, bahkan dulu di era penjajahan Lapangan Udara Gadut juga sudah ada," katanya.
Menurut dia, pilihan lokasi lain perlu kajian komprehensif agar bandara yang akan dibangun memang sesuai standardisasi dunia kedirgantaraan.
Bandara Laban Hadiah HUT Pasbar Usia Kabupaten Pasaman Barat 7 Januari 2011 sudah delapan tahun, keberadaan Bandara Laban di kabupaten tersebut, bagi rakyat bak hadiah hari jadi kabupaten pemekaran dari Pasaman tersebut. "Sepertinya jadi hadiah berharga sangat dalam HUT Pasaman Barat," kata Syahrul Tanjung, tokoh warga Simpangtigo Pasaman Barat.
Bupati Pasaman Barat, Baharuddin R mengatakan adanya Bandara Laban yang uji coba dan pendaratan perdananya sudah dilakukan menjadi kebanggaan masyarakat kabupaten ini. "Secara teknis penerbangan Bandara Laban sudah tidak ada masalah, sekarang tinggal pembenahan manajemen administrasi bandara dan kelengkapan infrastruktur tambahan dari bandara," katanya.
Baharuddin saat HUT Pasbar ke delapan telah menyerahkan MoU Pemkab Pasbar dengan Maskapai Shusi Air pada Gubernr Sumbar Irwan Prayitno. "Capekanlah beroperasi bandara tu Pak Bupati, buliah dakek ka Padang (Lekaskanlah beroperasi Bandara ini Pak Bupati, boleh dekat jarak Simpangempat ke Padang," ujar Ramdan warga Simpangempat.
Selain Bandara, pasaman barat juga terus mengkebut penyelesaian Pelabuhan Laut Teluk Tapang di Air Bangis. "Terus dilakukan pembangunan fisik dermaganya, untuk jalan sepanjang 40 kilometer menuju pelabuhan telah selesai pengerasannya tinggal pengaspalan," ujarnya. n Adrian Tuswandi (www.jurnas.com)
***Bandara atau pangkalan udara/ Lanud Gadut (GDT) di Bukiktinggi sudah termasuk dalam master plan dari TNI AU (dulu namanya AURI) untuk dibangun.
(Id.wikipedia.org/wiki/Daftar_bandar_udara_di_Indonesia).
Tipe A :
Tipe B :
Tipe C :
Tipe D :
Rencana Pembangunan :
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
Sayangnya, Halim Perdanakusuma dan Husein Sastranegara yang terbang untuk membawa beras dari Tahiland, tapi pesawatnya jatuh dan hilang di Tanjung Hantu. Dua pahlawan inilah yang diabadikan namanya dilapangan terbang Jakarta dan Bandung.
Ambo paralu konfirmasi ka Minto ko baliak soal peran bandara Gadut, terutama hubungannyo jo PDRI karano dek suaro baliau lamah bana kalau ditelpon. Maklum faktor usia dan baliau pun sudah 20 th duduak di kursi roda.
Wassalam,
Evy Nizhamul
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Koreksi kecil Fen, Bandara/Lanud Iswahyudi bukan di Jawa Tengah, tetapi di Jawa Timur, tepatnya di Madiun
Wassalam, St Bandaro Kayo
===
Re: [R@ntau-Net] Pangkalan Udara Gadut dan Halim Perdanakusuma
Mon Mar 11, 2013 8:20 pm (PDT) . Posted by: "Nofend St. Mudo"