Pangkalan Udara Gadut dan Halim Perdanakusuma

796 views
Skip to first unread message

muhammad syahreza

unread,
Mar 11, 2013, 4:51:10 AM3/11/13
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum wr.wb.

.......

Agresi Militer I Belanda sangat dirasakan akibatnya  oleh Republik Indonesia.  Untuk menembus blokade  Belanda terhadap daerah Republik Indonesia, telah ditempuh berbagai cara.   Salah satu adalah lewat udara.  Republik Indonesia berhasil  menarik simpati dunia luar  antara lain dengan datangnya pesawat-pesawat  asing ke Indonesia.  Selain itu dirasakan pula betapa pentingnya  perhubungan antara Jawa dan Sumatera.   Kedunya merupakan daerah terpisah  yang harus dapat dihubungi satu sama lain.    Baru pada tahun 1947 dilakukan usaha nyata  ke arah itu.  Pesawat-pesawat bermotor  satu buatan Jepang tidak sesuai untuk Sumatera.   Daerahnya masih berhutan rimba luas, jarak satu kota dengan kota lainnya jauh, penduduk jarang dan jalan-jalan buruk.  Berhubungan dengan itu  pada permulaan tahun 1947 disewa sebuah pesawat pengangkut  Dakota dari luar negeri.  Ibukota Sumatera waktu itu Bukittinggi harus mempunyai hubungan langsung dengan Yogyakarta.  Sesudah lapangan terbang disiapkan secara gotong royong oleh rakyat, tepat pada hari yang telah ditentukan  mendarat sebuah pesawat Dakota yang pertama  di Bukittinggi.  Akan tetapi berhubung dengan suasana politik, perhubungan udara itu tidak dapat diselenggarakan  secara tetap.  Karena kesulitan perhubungan itu konsolidasi di lingkungan AURI sulit pula dilaksanakan.  Namun oleh Pemimpin Tertinggi Tentara telah digariskan, bagaimana pun juga AURI harus dibangun di Sumatera.  Keputusan  ini diambil  mengingat situasi politik semakin genting, dimana Belanda  sewktu-waktu dapat merebut dan menduduki pangkalan-pangkalan udara yang berada di Jawa.   Apabila hal tersebut terjadi, maka Sumatera dijadikan basis perjuangan dan persiapan ke arah itu harus dilakukan jauh-jauh sebelumnya.

Tugas untuk membangun AURI di Sumatera  dipercaya kepada Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma.   Beliau sangat erat berhubungan dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.  Pendapat dan sarannya  tentang Angkatan Udara sering diminta oleh Jenderal Soedirman.   Pemerintah menugaskan Halim ke Sumatera dan  diangkat sebagai  pejabat AURI di Komandemen  Tentara Sumatera .  Selama melaksankan tugas , Halim berhasil menjalin kerjasama  dengan Panglima Tentara di Sumatera dan masyarakat di daerah itu.   Bahkan lebih daripada itu ia berhasil menghimpun dana mengumpulkan emas dari rakyat untuk kemudian digunakan membeli pesawat.   Salah satu bukti hasil pengumpulan dana adalah dengan berhasil dibelinya sebuah pesawt Avro Anson dengan registrasi VH-BBY.  Pesawat itu dibeli dengan harga 12 kg emas murni yang kemudian diberi nomor registrasi RI-003.

Usaha pembinaan keluar dan ke dalam terus ditingkatkan. Setelah  Bukittinggi menyusul perbaikan beberapa buah pangkalan lain.  Satu konsep yang akan dipakai sebagai dasar bagi pembangunan AURI khususnya di Sumatera  telah disusunnya pula. Juga usaha membuka hubungan dengan luar negeri untuk mendapatkan bantuan senjata dan logistik lainnya untuk keperluan perjuangan, terus dilakukan.  Dalam kaitan usaha mencari bantuan ke luar negeri inilah Halim bersama Opsir Udara I Iswahjudi pergi ke Bangkok pada bulan Desember 1947.

......


Detail silahkan baca di link berikut : http://tni-au.mil.id/content/halim-perdanakusuma


Salam
Reza

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 11, 2013, 5:17:49 AM3/11/13
to rant...@googlegroups.com
PESAWAT AVRO ANSON SUMBANGAN AMAI-AMAI PDF Cetak Surel
Senin, 11 Maret 2013 01:44

Sekitar 5 km dari Kota Bukitinggi, tepatnya di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang, pada pinggir jalan raya menuju Medan terdapat taman wisata seluas lapangan sepakbola. Pada taman itu dipajang sebuah replika pesawat terbang berwarna putih bertuliskan AVRO ANSON dan RI 003. Di bawah pesawat dipajang lagi sejumlah patung para pejuang.

Bagi kebanyakan pengunjung keberadaan replika pesawat mengejutkan, mengundang pesona tetapi juga mengundang pertanyaan, apa hubungan pesawat itu dengan Gadut?

Hubungannya, lokasi di sekitar taman wisata itu dulu merupakan lapangan terbang yang pernah didarati pesawat avro anson, sementara pesawat avro anson produk A.V.Roe and Company di Manchester yang didirikan oleh Alliot Verdon Roe juga pernah dibeli oleh amai-amai dari Bukittinggi, Agam dan sekitarnya dengan emas perhiasan mereka, berupa kalung, lontin, subang, gelang, cincin, termasuk cincin kawin.

Tujuan pembelian pesawat untuk mendukung kebijakan ekono­mi dan membantu perjuangan Republik Indonesia mempertahan­kan kemerdekaan dari ancaman penjajah.

Proses pembeliannya,  pada 27 September 1947 atas instruksi Wakil Presiden M.Hatta  dibentuk panitia pengumpul emas untuk pembelian kapal terbang di Bukit­tinggi dengan ketua Mr.Abdul Karim(Direktur Bank Negara)­,anggota terdiri dari Suryo, R.S Suryaatmaja dan residen Sumatra Barat Mr. M. Rasyid.

Selama lebih kurang 2 bulan panitia bekerja dengan bantuan tokoh masyarakat terkumpul emas perhiasan amai-amai sebanyak  1"belek” atau 1 kaleng biskuit, lalu emas itu dilebur menjadi emas batangan yang beratnya 14 kg lebih.

Waktu itu mengumpulkan emas sebanyak itu tidak begitu sulit karena semangat amai-amai untuk berjuang mempertahankan kemer­dekaan juga bergelora, lagian amai-amai di tanah minang banyak yang memiliki emas perhiasan karena emas bagi mereka merupakan benda penyimpan kekayaan dan lambang kemuliaan seperti diung­kap pepatah, “bapak kayo, mandeh baameh, mamak disambah urang pulo”.

Setelah emas terkumpul diben­tuk lagi panitia pembelian pesawat diketuai oleh Abu Bakar Lubis. Untuk melakukan pembelian pani­tia berangkat ke Singapura menemui Perwakilan RI di sana yang juga orang awak minang Dick Tamimi dan anak “nyiak” H.Agussalim bernama Ferdi Salim yang bertugas sebagai Supply Mission AURI di negara singa itu.

Bersama dengan petinggi RI di Singapura dan melalui H.Savega seorang broker dari Birma ditawar pesawat avro anson  milik H.Kegan seorang warga Australia, pemilik bersedia menjualnya dan disepakati bahwa transaksi akan dilakukan di Bukittinggi, namun pemba­yarannya di Songkhla(Thailand) dengan harga 12 kg emas.

Awal Desember 1947 pesawat avro anson yang akan dibeli itu mendarat di lapangan udara Gadut, kedatangannya disambut antusias warga masyarakat. Pada 9 Desem­ber 1947 Avro Anson diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perda­nakusuma ke Songhkla Tailand, penumpangnya termasuk Dick Tamimi dan H.Kegan sendiri, tiba di negeri gajah itu sore hari, namun naas  avro anson diusir pejabat setempat karena dituduh melakukan penyeludupan barang perhiasan, penumpangnya turun melanjutkan perjalanan ke Penang.

Sementara Iswahyudi dan Ha­lim Perdanakusuma diperin­tahkan menerbangkan pesawat menuju tanah air, namun  naas lagi, tak lama berselang pejabat di Malaka menyatakan avro anson jatuh di Tanjung Hantu negara bagian Perak. Dalam kejadian itu jenazah Halim Perdanakusuma diketemu­kan namun Iswahyudi tidak dike­tahui nasibnya sampai sekarang. Penyebab jatuhnya pesawat juga tidak diketahui secara pasti, apakah karena  kerusakan, cuaca buruk atau karena sabotase.

Sebagai pejuang  pilot avro anson Iswahyudi diabadikan men­jadi nama pelabuhan udara di Jawa Tengah dan nama naviga­tornya Halim Perdanakusuma diabadikan menjadi nama lapangan udara di Jakarta.

Sedangkan  bagi amai-amai minang jatuhnya pesawat avro anson nasib mereka   bagaikan sudah jatuh ditimpa tangga, emas perhia­san sudah dikorbankan, pesawat yang diidamkan tidak dapat digu­nakan, namun kadang ya begitulah perjuangan itu, penuh onak duri dan pengorbanan.

Sebagai pembangkit kenangan dan bukti pisik perjuangan replika avro anson dipajang sebagai monu­men sejarah berskala nasional di Gadut kecamatan Tilatang Ka­mang(Kasra Scorpi)




Pada 11 Maret 2013 15.51, muhammad syahreza <muhammad...@gmail.com> menulis:
Assalamu'alaikum wr.wb.

.......

Agresi Militer I Belanda sangat dirasakan akibatnya  oleh Republik Indonesia.  Untuk menembus blokade  Belanda terhadap daerah Republik Indonesia, telah ditempuh berbagai cara.   Salah satu adalah lewat udara.  Republik Indonesia berhasil  menarik simpati dunia luar  antara lain dengan datangnya pesawat-pesawat  asing ke Indonesia.  Selain itu dirasakan pula betapa pentingnya  perhubungan antara Jawa dan Sumatera.   Kedunya merupakan daerah terpisah  yang harus dapat dihubungi satu sama lain.    Baru pada tahun 1947 dilakukan usaha nyata  ke arah itu.  Pesawat-pesawat bermotor  satu buatan Jepang tidak sesuai untuk Sumatera.   Daerahnya masih berhutan rimba luas, jarak satu kota dengan kota lainnya jauh, penduduk jarang dan jalan-jalan buruk.  Berhubungan dengan itu  pada permulaan tahun 1947 disewa sebuah pesawat pengangkut  Dakota dari luar negeri.  Ibukota Sumatera waktu itu Bukittinggi harus mempunyai hubungan langsung dengan Yogyakarta.  Sesudah lapangan terbang disiapkan secara gotong royong oleh rakyat, tepat pada hari yang telah ditentukan  mendarat sebuah pesawat Dakota yang pertama  di Bukittinggi.  Akan tetapi berhubung dengan suasana politik, perhubungan udara itu tidak dapat diselenggarakan  secara tetap.  Karena kesulitan perhubungan itu konsolidasi di lingkungan AURI sulit pula dilaksanakan.  Namun oleh Pemimpin Tertinggi Tentara telah digariskan, bagaimana pun juga AURI harus dibangun di Sumatera.  Keputusan  ini diambil  mengingat situasi politik semakin genting, dimana Belanda  sewktu-waktu dapat merebut dan menduduki pangkalan-pangkalan udara yang berada di Jawa.   Apabila hal tersebut terjadi, maka Sumatera dijadikan basis perjuangan dan persiapan ke arah itu harus dilakukan jauh-jauh sebelumnya.

......



Detail silahkan baca di link berikut : http://tni-au.mil.id/content/halim-perdanakusuma


Salam
Reza

-- 
--

Wassalam

Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 11, 2013, 5:22:07 AM3/11/13
to rant...@googlegroups.com

 

 Mimpi Terbang dr Bandara GADUT Bukittinggi

 

Tiba2 bbrp hari lalu dapat undangan utk mencoba terbang dg Private Jet kapasitas 6 kursi dari Padang ke Jakarta. Agak luar biasa undangan ini, krn yang mengundang sampai merelakan seat nya agar bisa saya pakai. Beliau kembali ke Jakarta besoknya dg pesawat biasa. Tujuannya cuman satu, siapa tahu foto-foto liputan saya bisa mendorong dibuka dan diaktifkannya Bandara kecil-kecil diluar Padang. Dulu ada Bandara Gadut, Piobang, dll. Sebagai perbandingan, menurut Bang Zukri Saad, di Papua ada 258 buah bandara besar kecil (airstrip). 

Pasaman termasuk yang berhasil dengan membuka bandaranya yg dibuka Desember 2011. Krn Pasaman sangat menyadari dampaknya untuk daerah mereka. Ke Pasaman sekarang cuman 35 menit, sehingga Pengusaha, Investor, Pejabat, Wisatawan, dll bisa mencapai Pasaman dengan mudah. Akhir tahun lalu saya pernah menemani pengusaha Malaysia di Solok Selatan. Katanya cukuplah sekali itu naik mobil kesana. Jalannya jauh dan berbelok-belok. Kalau ada pesawat kecil atau chopper, saya pilih itu aja katanya... 

Dilihat dari Industri Pariwisata, menurut Ketua PHRI Sumbar, jumlah kamar hotel saat ini sudah cukup. Kadang malah berlebih. Yang kita perlukan sekarang adalah kelas POOL VILLA Hotel. Yaitu Luxury Hotel yang sewanya per malam diatas Rp. 5 juta. Sumbar perlu investor untuk Pool Villa Hotel ini. Kalau sudah mulai masuk ke kategori ini, keperluan Bandara kecil-kecil sudah cukup mendesak. Wisatawan kelas ini biasanya gak mau susah. Semua maunya serba cepat dan lebih pasti waktunya. Padang – Bukittinggi aja sekarang bisa berjam-jam kalau lagi apes kena macet. 

Kenapa harus kita pikirkan kelas ini...? Karena jumlah uang yang mereka belanjakan biasanya luar biasa besar.Beli Songket, biasanya bukan yg 2 juta, tp yg 10 juta keatas, dsjnya. 

Dari Ibu Eti Yusuf, VP dari perusahaan yg menyewakan pesawat ini, katanya cukup sering pesawat dia di charter ke Padang. Saya tanya siapa penumpangnya...? Orang awak katanya... Untuk bisnis...? Bukan, katanya pulang kampung aja... Nah lho... 

Makanya saya berandai-andai, sekiranya Bandara Gadut Bukittinggi bisa dibuka dan diaktifkan lagi, mugkin bisa mendorong investor besar masuk ke Bukittinggi dan Agam. Dua daerah ini merupakan ikon penting pariwisata Sumbar. Saat peresmian The Great Wall of Kotogadang, Ustadz Tifathul Sembiring dalam pidatonya mengatakan: “Obsesi saya ada satu lagi, yaitu mengaktifkan Bandara GADUT...!”. 

Semoga segera terealisir... Aah...inilah sisi lain jadi Tukang Kodak jalanan...:) Sekali lagi, terima kasih untuk undangan ini. Semoga foto-foto seadanya ini bisa menggugah banyak pihak untuk bersama-sama memikirkan dan mendorong diaktifkannya Bandara GADUT...! Dan bbrp Bandara lainnya. Insya allah...

 

FB Nofrins Napilus

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151547286559047.1073741826.666199046&type=1



Pada 11 Maret 2013 16.17, Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org> menulis:
PESAWAT AVRO ANSON SUMBANGAN AMAI-AMAI PDF Cetak Surel
Senin, 11 Maret 2013 01:44

Sekitar 5 km dari Kota Bukitinggi, tepatnya di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang, pada pinggir jalan raya menuju Medan terdapat taman wisata seluas lapangan sepakbola. Pada taman itu dipajang sebuah replika pesawat terbang berwarna putih bertuliskan AVRO ANSON dan RI 003. Di bawah pesawat dipajang lagi sejumlah patung para pejuang.

Bagi kebanyakan pengunjung keberadaan replika pesawat mengejutkan, mengundang pesona tetapi juga mengundang pertanyaan, apa hubungan pesawat itu dengan Gadut?


Abraham Ilyas

unread,
Mar 11, 2013, 10:03:42 AM3/11/13
to rant...@googlegroups.com
Menurut catatan sejarah pribumi 
Cikal bakal pesawat AURI 
Kapal terbang pertama sekali 
Sumbangan penduduk anak nagari

Untuk mendapatkan senjata perang 
Orang kampung banyak menyumbang 
Berbentuk perhiasan seperti Gelang 
Emas dibarter kapal terbang 

Meski bukan fatwa Kyai 
Ibu-ibu dan Amai-amai 
Melepas kalung yang sedang dipakai 
Tak terhitung apabila dinilai

Bukannya menghasut atau mengasung-asung 
Menyebut anak tak tahu diuntung 
Bak melawan ibu Kandung 
KETIKA AURI MENYERANG KAMPUNG

Cerita kisah di syair ini 
Untuk mengingatkan kesalahan terjadi 
Jangan sampai terulang kembali 
Jakarta menyerang nagari-nagari

Muchwardi Muchtar

unread,
Mar 11, 2013, 10:17:03 AM3/11/13
to rant...@googlegroups.com

Sanak Muhammad Syahreza, Sanak Novend St.Mudo, dan Sanak Nofrin Napilus, basarato komunitas r@ntaunet n.a.c.

Ha ha ha...... alah suko pulo awak tampaknyo "malakekan baju sampik", di RN ko, yo?

Kalau bisalah harian Kompas edisi lamo mangecek, sakitar bulan Maret 1988 ambo alah panah manulih di halaman 5 opini (Red Yth-nyo) tantang pantiangyo mambangun baliak bandara Gaduik di Bukiktinggi nantun. Ukatu tu ambo baalasan, normatif sajo :

1)K
alau Yogyakarta ka Solo (Surakarta) nan bajarak
sakitar 65 KM sajo, masiang masiang ado bandara, apo pulo salahnyo "di kampuang ambo"  di sampiang Tabiang  ado pulo ciek lai bandara di Bukiktinggi nan jaraknyo 91 KM dari kota Padang?

2)M
aiduikan baliak bandara basajarah Padang Gaduik, nan panah mandarek-an kapatabang Amir Syarifuddin
(Perdana Menteri: 3 Juli 194729 Januari 1948) adolah sabagai bantuak pambuktian bahaso urang Pusek tu iyo indak lupo ka pasan Sukarno : Jasmerah (ijan suko malupokan sejarah).

Tapi, walau ukatu surek ambo dibuek di Kompas tu nan manjadi mantari pahubuangan (Menhub 1988-1993) adolah Ir. Azwar Anas, indak saketek pun ado tanggapan dari Pamarintah (Ditjen Hubra). Babedo, kutiko ambo manulih tantang patugeh BC di palabuhan nan acok mamalak & marampok barang crew kapa : "Dari Pelaut Buat Dirjen B&C"
(di Kompas, 1983) tigo hari kamudian langsuang Dirjen B&C Wahono manjawaok habih.

Nah, supayo "ruok komunitas RN" ko ado gauangnyo, dan dapek dibuek sabagai pe-er dek Mak Datuak Irwan "PKS" Praytno (salaku "rajo ketek" di Sumbar) iyo indak baa doh dibuek ciek petisi nan ---kalau bisa--- ditandotangani dek sabagian komunitas RN ko. Mancaliek ka pangalaman nan sudah-sudah memang "gaya demokrasi nan mamakai alaik komunikasi petisi" banyak nan dapek sambutan dari fungsi takaik. Kalau cuma adu santiang atau adu pangalaman sajo nan awak pabuek di RN ko, sarupo nan biaso-biaso (kecuali mungkin buah : YPRN, LPM MARAPALAM dan RANAH) satalah maruok bakaruak arang, kamudian langang. "Emangnya gue pikirin", kato Si Pudin nan manggaleh di Tanah Abang.

Sajauah pangana ambo, Bupati Agam (Indra Catri Datuak) tanggal 9 Januari 2012 alah panah "maruok" ka Jurnal Nasional, bahaso baliau (sabagai "rajo ketek" di Agam) ka mambangun bandara di Agam.
Nan meherankan awak urang rantau ko, rencana rancak dari Bupati Agam nantun, nan alah didukuang pulo dek salah surang anggota DPR-RI do Senayan, alah labiah satahun indak tadanga lai baa jadinyo.

Padohal, kalau dicibuak pulo rencana pembangunan pertahanan udara semesta "republik zamrud di khatulistiwa" ko, sabana jaleh digarih bawahi dek panaruih cito-cito funding father, bahaso bandara Padang Gaduik (GDT) di Bukiktinggi alah ado master plan-nyo di NKRI ko.
Cuma mawujuikan niaik di bibia jo di hati tu ka bantuak nyato ---sarupo nan biaso-biasonyo---- urang awak nan sadang basaiang kini masih banyak "nan gadang sarawa". He he he......

Maaf.................., maaf...dan maaf.
Salam...........................,
mm***

PANUKUAK KAJI :

Pemkab Agam Jajaki Bangun Bandara

Padang | Selasa, 10 Jan 2012

Pemerintah Kabupaten Agam menjajaki pembangunan bandara pengumpang (feeder) guna mengoptimalkan pengembangan bisnis dan investasi di Bukit Tinggi.

"Rencana strategis Agam pada 2013 yakni membangun Bandara," kata Bupati Agam Indra Catri, Senin (9/1) pada Jurnal Nasional.

 

Menurut dia, pembangunan bandara bagi Agam bukan untuk gagah-gagahan tapi sudah urgen melihat mobilitas transportasi yang saat ini tidak mampu menampung arus kendaraan bermotor. "Lihat saja bagaimana macetnya ruas jalan Padang-Bukittinggi, selama ini bisa ditempuh 1 jam 45 menit sekarang butuh waktu dua sampai tiga jam," ujarnya.

 

Keberadaan Bandara di Agam, justru menopan pesatnya kemajuan Bukittinggi. Terutama mewujudkan Bukittinggi Nation Businis dan Maninjau Nation Businis. Dia mengatakan lokasi pembangunan bandara di sekitar kawasan Matur atau Lubukbasung. "Butuh kesempurnaan infrastruktur jalan terutama jalan penghubung antar kabupaten dan kota, karena umumnya ruas jalan di Agama interkoneksi dengan kabupaten dan kota lain di Sumbar, seperti ruas jalan Sicincin-Malalak yang saat ini masih belum optimal menjadi jaluir alternatif dari dan ke Padang," ujarnya.

 

Anggota DPR asal Agam, Taslim, mendukung rencana Pemkba Agam tersebut. "Saya sangat mendukung dan memahami bahwa transportasi udara bagi Agam tidak hal baru lagi, bahkan dulu di era penjajahan Lapangan Udara Gadut juga sudah ada," katanya.

Menurut dia, pilihan lokasi lain perlu kajian komprehensif agar bandara yang akan dibangun memang sesuai standardisasi dunia kedirgantaraan.

 

Bandara Laban Hadiah HUT Pasbar Usia Kabupaten Pasaman Barat 7 Januari 2011 sudah delapan tahun, keberadaan Bandara Laban di kabupaten tersebut, bagi rakyat bak hadiah hari jadi kabupaten pemekaran dari Pasaman tersebut. "Sepertinya jadi hadiah berharga sangat dalam HUT Pasaman Barat," kata Syahrul Tanjung, tokoh warga Simpangtigo Pasaman Barat.

Bupati Pasaman Barat, Baharuddin R mengatakan adanya Bandara Laban yang uji coba dan pendaratan perdananya sudah dilakukan menjadi kebanggaan masyarakat kabupaten ini. "Secara teknis penerbangan Bandara Laban sudah tidak ada masalah, sekarang tinggal pembenahan manajemen administrasi bandara dan kelengkapan infrastruktur tambahan dari bandara," katanya.

 

Baharuddin saat HUT Pasbar ke delapan telah menyerahkan MoU Pemkab Pasbar dengan Maskapai Shusi Air pada Gubernr Sumbar Irwan Prayitno. "Capekanlah beroperasi bandara tu Pak Bupati, buliah dakek ka Padang (Lekaskanlah beroperasi Bandara ini Pak Bupati, boleh dekat jarak Simpangempat ke Padang," ujar Ramdan warga Simpangempat.

Selain Bandara, pasaman barat juga terus mengkebut penyelesaian Pelabuhan Laut Teluk Tapang di Air Bangis. "Terus dilakukan pembangunan fisik dermaganya, untuk jalan sepanjang 40 kilometer menuju pelabuhan telah selesai pengerasannya tinggal pengaspalan," ujarnya. n Adrian Tuswandi (www.jurnas.com)

 ***

Lanud Gadut di Bukittinggi

Bandara atau pangkalan udara/ Lanud Gadut (GDT) di Bukiktinggi sudah termasuk dalam master plan dari TNI AU (dulu namanya AURI) untuk dibangun. 

(Id.wikipedia.org/wiki/Daftar_bandar_udara_di_Indonesia).

 Tipe A :

  1. Lanud Halim Perdanakusuma (HLP}, Jakarta
  2. Lanud Atang Sendjaja (ATS), Bogor

Tipe B :

  1. Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh
  2. Lanud Medan (MDN), Medan
  3. Lanud Pekanbaru (PBR), Pekanbaru
  4. Lanud Husein Sastranegara (HSN), Bandung
  5. Lanud Suryadarma (SDM), Subang
  6. Lanud Supadio (SPO), Pontianak

 

 


Tipe C :

  1. Lanud Maimun Saleh (MUS), Sabang
  2. Lanud Tanjung Pinang (TPI), Tanjung Pinang
  3. Lanud Hang Nadim, Batam
  4. Lanud Ranai (RNI), Natuna
  5. Lanud Padang (PDA), Padang
  6. Lanud Palembang (PLG), Palembang
  7. Lanud Tanjung Pandan (TDN), Belitung
  8. Lanud Wiriadinata (TSM), Tasikmalaya

Tipe D :

  1. Lanud Astra Kestra (ATK), Lampung
  2. Lanud Sugiri Sukani (SKI), Cirebon
  3. Lanud Wirasaba (WSA), Purwokerto
  4. Lanud Singkawang II (SWII), Singkawang

 

Rencana Pembangunan :

  1. Lanud Piobang (PBG) , Payakumbuh
  2. Lanud Gadut (GDT) , Bukittinggi

 



Pada 11 Maret 2013 15.51, muhammad syahreza <muhammad...@gmail.com> menulis:
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
 
 

sjamsir_sjarif

unread,
Mar 11, 2013, 10:18:59 AM3/11/13
to rant...@googlegroups.com
Pelabuhan Kapal Terbang Gadut, Bukittinggi dibangun oleh Jepang di Masa Jepang kan? Saya melihat Kapal Terbang pertama kali di Gadut waktu masih anak-anak. Waktu itu masih dalamtaraf pembangunan. Saya ingat baling-balingnya diengkol (diputar) untuk start. Sudah itu mereka terbang ke udara keliling untuk test dan kemudian mendarat. Kami bersorak sorai. Alangkah bahagianya saya ikut bersama ayahanda dengan pengalaman melihat kapal terbang pertama itu dari dekat.

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, CA Mar 11, 2013

hyv...@yahoo.com

unread,
Mar 11, 2013, 10:58:11 AM3/11/13
to milis rang minang
Salam pak AI,
Salam sanak sadonyo,


Sekedar mengingatkan nama Halim Perdanakusuma dan perannya di Bandara Gadut, saya dapat cerita dari Mintuo alias Tante saya (isteri mamak) Hj. Nurbana Saleh, usia 94 Tahun, sekarang tinggal di Bandung.

Beliau bacarito, banyak tentara ex Inggris dan Belanda yang berkebangsaan Indonesia kembali kepangkuan pertiwi setelah kemerdekaan.

Pilot RAF Halim Perdanakusumah yang telah teruji dalam pendaratan Normandy (D Day) dan punya jam terbang yang tinggi, bersama kakak beliau yang bernama Mansyur Saleh sangat mahir memperbaiki pesawat-pesawat yang ditinggalkan Belanda di bandara Gadut itu.
Kata Mintuo itu, Operasi pada masa Republik Darurat itu adalah operasi untuk menyelundupkan senjata dari India dan Thailand untuk Pemerintahan darurat.

Sayangnya, Halim Perdanakusuma dan Husein Sastranegara yang terbang untuk membawa beras dari Tahiland, tapi pesawatnya jatuh dan hilang di Tanjung Hantu. Dua pahlawan inilah yang diabadikan namanya dilapangan terbang Jakarta dan Bandung.

Ambo paralu konfirmasi ka Minto ko baliak soal peran bandara Gadut, terutama hubungannyo jo PDRI karano dek suaro baliau lamah bana kalau ditelpon. Maklum faktor usia dan baliau pun sudah 20 th duduak di kursi roda.

Wassalam,

Evy Nizhamul

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

From: Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com>
Date: Mon, 11 Mar 2013 21:03:42 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] Pangkalan Udara Gadut dan Halim Perdanakusuma
--

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 11, 2013, 11:19:46 PM3/11/13
to rant...@googlegroups.com

Uni Evy..

Penerbang Avro Anson ke Tailand tersebut Halim Perdanakusuma dan Husein Sastranegara atau Ha­lim Perdanakusuma jo Iswahyudi (nan diabadikan di bandara di Jawa Tengah).

Yang dibawa mereka itu beras dari Thailand atau dek disuruh balik karano dianggap penyeludupan emas dan senjata (emas untuak mambayia pesawat) tu seperti Fwd Postingan ambo No. 2 diateh?

=====

Dari Biografi Marsma TNI. Anm. R.ISWAHYUDI http://id.shvoong.com/books/biography/2129618-biografi-marsma-tni-anm-iswahyudi/

Untuk melakukan tugasnya, AURI memerlukan pesawat yang cukup. Sewaktu bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut Bukittinggi, ia mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembelian pesawat terbang . Himbauan itu berhasil baik, secara bergotong royong masyarakat Bukittinggi membeli sebuah pesawat terbang jenis AVRO ANSON dari seorang pedagang Amerika bersama Keegan. Pesawat itu kemudian diberi nama Registrasi RI-003. Sesuai dengan perjanjian Keegan akan diantarkan kembali ke Bangkok.

Husein Sastranegara Meninggal di Jogja saat melakukan test fight (uji terbang) sebuah pesawat Cukiu peninggalan Jepangd atas kota Yogyakarta. Pesawat Cukiu yang diterbangkan Husen mengalami kerusakan mesin hingga jatuh terbakar di atas Gowongan Lor Yogyakarta sekaligus menewaskan Husein bersama juru teknik Rukidi... http://sastranegara.blogspot.com/2010/11/sejarah-husein-sastranegara.html

===

Salam


Pada 11 Maret 2013 21.58, <hyv...@yahoo.com> menulis:
 
 
Sayangnya, Halim Perdanakusuma dan Husein Sastranegara yang terbang untuk membawa beras dari Tahiland, tapi pesawatnya jatuh dan hilang di Tanjung Hantu. Dua pahlawan inilah yang diabadikan namanya dilapangan terbang Jakarta dan Bandung. 

Ambo paralu konfirmasi ka Minto ko baliak soal peran bandara Gadut, terutama hubungannyo jo PDRI karano dek suaro baliau lamah bana kalau ditelpon. Maklum faktor usia dan baliau pun sudah 20 th duduak di kursi roda.

Wassalam,

Evy Nizhamul

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone



Darwin Bahar

unread,
Mar 12, 2013, 3:37:51 PM3/12/13
to Palanta Rantaunet

Koreksi kecil Fen, Bandara/Lanud Iswahyudi bukan di Jawa Tengah, tetapi di Jawa Timur, tepatnya di Madiun

Wassalam, St Bandaro Kayo

 

===

Re: [R@ntau-Net] Pangkalan Udara Gadut dan Halim Perdanakusuma

Mon Mar 11, 2013 8:20 pm (PDT) . Posted by: "Nofend St. Mudo"

sjamsir_sjarif

unread,
Mar 12, 2013, 5:22:14 PM3/12/13
to rant...@googlegroups.com
Seperempat abad yanglalu kita baca berita bahwa di Piobang, Payakaumbuah akan dibangun stasiun observasi NASA. Apa hasilnya?

Sampai sekarang, Piobang pun tidak disebut-sebut seperti dianggap tidak ada sama sekali.

-- MakNgah
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages