http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=9984
Syekh Ibrahim, Penyebar Islam di Sumpur Kudus
Ajarkan Islam dengan Bercocok Tanam
Semasa Rajo Gagah Gumpito memimpin kerajaan di wilayah Sumpur Kudus, datanglah syekh asa Kudus, Jawa, bernama Syekh Ibrahim. Konon, dialah membawa, mengajarkan, sekaligus meng-Islamkan masyarakat Sumpur Kudus abad 16. Syekh Ibrahim kemudian menulis sumpah di atas sebuah batu besar menegaskan masyarakat Sumpur Kudus tidak boleh menganut agama lain selain Islam.
Hingga kini,
masyarakat masih mempercayai sejarah tersebut. Menurut cerita, Syekh
Ibrahim menulis, kalau ada masyarakat Sumpur Kudus menganut agama lain,
seluruh wilayah itu akan mendapat kutukan.
Pada masa jaya Partai Komunis
Indonesia (PKI), partai ini melebarkan sayap ke Sijunjung. Namun, tak
seorang pun masyarakat Sumpur Kudus bergabung. Berbagai tekanan mereka
hadapi, tetapi komunis tetap saja tak bisa masuk.
Syekh Ibrahim sendiri mengajarkan
Islam kepada masyarakat dengan bijaksana, melalui wadahilmu perdukunan
dan bercocok tanam. Tiap memulai pekerjaan, dia menganjurkan penduduk
membaca basmalah. Begitu juga setiap menyelesaikan pekerjaan, dia
anjurkan membaca hamdallah. Dengan begitu, Syekh Ibrahim mengatakan,
hasil pekerjaan lebih baik. Ucapan Syekh Ibrahim tersebut ternyata
benar.
Jika seseorang mendapat penyakit,
misalnya penyakit kulit, Syekh Ibrahim melarang masyarakat memakan
daging babi. ”Alhasil, penderita penyakit kulit berangsur-angsur pulih,”
ungkap Damhoeri Gafur, 77, salah seorang tokoh masyarakat Sumpur Kudus.
Melihat ajaran Syekh Ibrahim—akrab
dipanggil Syekh Baraih—itu, membuat Rajo Gagah Gumpito tertarik dan
berkeinginan masuk Islam. Saat Rajo Gagah Gumpito memeluk Islam,
masyarakat pun memiliki hasrat sama. Akhirnya mereka di-Islamkan di
suatu tempat bernama Payo Syahadat. Di sebuah batu dalam sungai, janji
atau sumpah yang disetujui masyarakat ditulis Syekh Ibrahim dengan
menggunakan tulisan kawi, Jawa. Di sana tertulis masyarakat tidak akan
lagi pindah agama meski ada agama baru.
Bila janji itu dilanggar, negeri itu
akan mendapat kutukan dan musibah berkepanjangan. Makanya, tak heran
kalau masyarakat Sumpur Kudus selalu taat beribadah dan meramaikan
masjid. Hingga kini, sungai tempat batu bertulis itu dinamakan Batang
Karangan. Batu ini akhirnya diangkat masyarakat dan diletakkan kira-kira
10 meter dari Syekh Ibrahim. Makam Syekh Ibrahim sendiri terletak di
Jorong Kototuo, Nagari Sumpur Kudus. Lokasinya persis di Muara Batang
Karangan.
Hingga kini, paling tidak sekali
dalam setahun masyarakat datang berziarah ke makam tersebut. Tempat itu
kemudian dijadikan sebagai salah satu tempat cagar budaya oleh Dinas
Pariwisata Sijunjung bekerja sama dengan Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala (BP3) Batusangkar. Kasi Bina Budaya Dinas Pariwisata
Sijunjung, Faldi Mahendra mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan
pariwisata budaya seperti itu. (***)