oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*
A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wa sahbihi wasallim
Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.
Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"
Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!
Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!"
Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"
Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintainya
Powered by Telkomsel BlackBerry®
| Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada. sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se.. Salam BP --- Pada Kam, 25/2/10, ksuh...@yahoo.com <ksuh...@yahoo.com> menulis: |
|
Beliau meluruskan, yang kita ingkari dalam hal perayaan maulid adalah ketika ada pencampuradukkan dengan kemungkaran, ketika perayaan maulid itu bercampur-aduk dengan hal-hal yang menyalahi syari’at, ketika perayaan maulid itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an, sebagaimana praktek-praktek ini masih ada di sebagian negara Islam.
Contohnya, praktek syirik, dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.
Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan bid’ah?
Pernyataan beliau yang dimuat dalam media online pribadi beliau itu juga ditambahkan:
“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Allah swt. memerintahkan demikian kepada kita dalam banyak firman-Nya. Misalnya:
(يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ جاءتكم جنود فأرسلنا عليهم ريحاً وجنوداً لم تروها وكان الله بما تعملون بصيرًا، إذ جاءوكم من فوقكم ومن أسفل منكم وإذ زاغت الأبصار وبلغت القلوب الحناجر وتظنون بالله الظنونا)
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikuruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan( mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Al-Ahzab:9- 10)
Allah memerintahkan kita mengingat suatu peperangan, misalnya perang Khandaq atau perang Ahzab, di mana kafir Quraisy dan Suku Ghathfan mengepung Rasulullah saw. Dalam kondisi serba sulit ini, Allah swt. menurunkan bala bantuannya berupa angin kencang dan bantuan Malaikat.
Ingatlah peristiwa itu, ingatlah, jangan kalian lupakan itu semua.
Ini jelas menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mengingat nikmat dan tidak melupakannya.
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
(يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ هم قوم أن يبسطوا إليكم أيديهم
فكف أيدهم عنكم واتقوا الله وعلى الله فليتوكل المؤمنون)
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal:30)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ telah besepakat untuk mengkhianati Rasulullah saw. di Madinah, mereka membuat makar, mereka membuat tipu daya, namun makar dan tipu daya Allah swt. lebih kuat dan lebih cepat dari mereka.
ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين
“Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar (juga), Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.”
Perayaan yang demikian tidaklah bid’ah, bahkan dianjurkan. Wallahu a’lam.
Wassalaamu'alaikum wr. wb.
Abrar.
di RantauBaruah.
Saya meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam adalah
manusia terbaik yang paling paham al-Qur'an dan jika ada suatu
kebaikan yang dapat beliau lakukan, tentu beliau tidak lupa untuk
menyampaikannya. Saya juga percaya bahwa para shahabat beliau
radhiyallahu 'anhum adalah generasi terbaik yang menerima didikan
langsung beliau Shallallahu 'alayhi wa Sallam. Tentunya mereka yang
paling tahu cara menghormati Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam.
Setahu saya, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam dan para
shahabat beliau radhiyallahu 'anhum tidak merayakan kelahiran beliau
Shallallahu 'alayhi wa Sallam setiap tahunnya. Oleh karena itu, saya
memilih mengikuti mereka.
Wabillahit taufiq.
--
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)
Wa'alaykumus salaam warahmatullah,
> Sanak Ridha,
> Bararti sanak Ridha alah basobok langsuang jo Rasul Saw...
> atau jo Para Sahabat Rasul Saw nan rami tu???
>
> Sadarilah...kito baraja ko tali batali...
>
Pak Haqir, kok ado riwayat shahih nan manarangkan bahaso Rasulullah
Shallallahu 'alayhi wa Sallam jo shahabat beliau radhiyallahi 'anhum
marayokan maulid tiok tahun tanggal 12 Rabi'ul Awwal silakan
dipaparkan di siko. Sabalun itu ado, ambo indak sato doh.
> Mungkin nas nan tasurek sacaro langsuang nan dibuek Rasul Saw dan sahabat
> indak basuo. Dan mungkin dek Rasul Saw barado diantara mereka tu mako indak
> paralu.
>
Apo ado riwayat shahih setelah Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam wafat para shahabat marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal?
Atau mungkin dari tabi'in (murid shahabat)? Ambo iyo yakin bana
mereka tuh teladan dalam mencintai Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam dek ado keterangan tasurek dari Rasulullah bahaso mereka
generasi terbaik.
| Assalammualaikum Wr Wb. Manuruik ambo Islam tu Universal dan Rahmatan lil alamin , Manganai yang bid'ah nan dimukasuik setiap bid’ah pasti sasek , dan satiok nan sasek pasti masuak narako, indak sadonyo batua do , benar kalau nan kito ado-adokan atau kito tingga-tinggakan manganai perkara syariat , pendek kato perayaan Maulid Nabi bukanlah syariat mamparingati nyo labih banyak mamfaatnyo dari mudaratnyo dan juo untuk mampalanca kaji , bayangkan kalau satiok surau / langgar/ musajik mengsosialisasikan tantang Nabi Muhammad bara urang nan mandanga ?. Kalau yo ado satiok bid’ah pasti Sasek , baa kalau kito kaji adokah Nan Mulie Nabi Muhammad SWT manyuruh Mambukukan Al Qur'an nul Karim dan Hadist Baliau ? Kalau alasannyo nan manyuruah mambukukan adolah sahabat beliau , nan jaleh bukan dari Nabi. Muhammad SWT Tapi walaupun baitu jaan perbedaan manjadikan kito ba paca balah , perbedaan itu indah itulah pandapek ambo nan singkek ilmu agamo , kapado Allah Subhanahuwata'Allah kito basarah diri . Salam Iqbal Rahman Lk. 57 --- On Fri, 26/2/10, abrar yusuf <aby...@yahoo.com> wrote: |
> Barati Sanak Ridha lah kenal bana jo Rasul Saw, Para Sahabat , dan Tabiin
> nampaknyo.
>
> Cubo pulolah sanak Ridha sabuik nasnyo nan malarang mangenang Maulud Nabi
> ko..
>
Nde, Pak Haqir. Kok iyo indak ado riwayat tu, indak paralu lah
mambuek tuduhan nan indak-indak ka ambo. Aneh lo ambo diminta mancari
bukti sesuatu indak ado. Nan harus maagiah bukti justru urang nan
mengklaim sesuatu ado.
Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
> Kalau yo ado satiok bid’ah pasti Sasek , baa kalau kito kaji adokah Nan Mulie Nabi Muhammad SWT manyuruh
> Mambukukan Al Qur'an nul Karim dan Hadist Baliau ?
> Kalau alasannyo nan manyuruah mambukukan adolah sahabat beliau , nan jaleh bukan dari Nabi. Muhammad SWT
>
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam menyampaikan
pesan ke para shahabat. Lalu ada seseorang meminta agar pesan beliau
dituliskan untuknya lalu beliau Shallallahu 'alayhi wa Sallam bersabda
(yang artinya):
"Tuliskan untuk Abu Shah." (HR. Muslim)
'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu juga pernah bertanya boleh atau
tidak mencatat perkataan beliau Shallallahu 'alayhi wa Sallam lalu
dijawab (yang artinya):
"Tulislah." (HR. Abu Dawud)
Al-Qur'an juga telah dituliskan oleh para shahabat sejak beliau
Shallallahu 'alayhi wa Sallam masih hidup.
| Assalammualaiku Wr Wb Nabi Muhammad SWT pun pernah basapda " Kamu yang lebih tahu tentang dunia mu " " Lakukanlah yang baik " Salam Iqbal Rahman --- On Fri, 26/2/10, Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote: |
|
|
Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
> Nabi Muhammad SWT pun pernah basapda " Kamu yang lebih tahu tentang dunia mu "
> " Lakukanlah yang baik "
>
Jadi maulid tu urusan dunia atau agama, Pak? Kalau urusan agama, saya
yakin bahwa yang paling tahu adalah Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam.
--
| Assalammualaikum Wr Wb Ambo raso iyo mamparingati Maulid Nabi urusan dunia nan baiak , baa supayo urang sadunia baik nan Islam maupun nan indak , dapek informasi nan bana tantang Nabi kito ko , kalau kito aniang-aniang sajo dima urang ka tau , dalam rangka marayokan maulid nabi ko kalua informasi di media elektronik , cetak dan di media pangareh suaro di surau2 dan musajik2 takambang untauak saluruh dunia tamasuak nan sadamng kito diskusikanko .. |
Salam Iqbal Rahman --- On Fri, 26/2/10, Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote: |
|
|
Da Riri, tambah ciek lai (tapi ndak dalam kapasitas mangaji juo do) dikampung kami kini (tadi) sadang ba hari rayo, dikenal jo rayo mulud, samo seperti pado rayo lainnyo, dikampung ambo urang mamasak2, mambuek lamang jo kue bagai, mando’a kasatiok rumah (silaturahim), dan khasnyo ari rayo mulut ko, ado acara ma arak bungo lamang (di WS.com ado gambarnyo) badikiu (zikir) rabana, atau salawat dulang bagai.
Sayang link sarupo da riri sampaikan, ndak ado diambo do, heheee
Iko alah tradisi dari zaman saisuak, samanjak zaman niniak kami masih ado/banyak nan bagala syech
Kok masuak acara iko ka bid’ah, mako dari niniak moyang kami daulu, sampai kini nan barado dikampuang, akan masuak narako menurut pemahaman sebagian dunsanak awak, dan kito semua tau, Hanya ALLAH lah nan maha tahu.
Btw.. bacaramah dan menyampaikan kebajikan lewat Internet (dunia maya ko) tamasuak bid’ah juo ndak yoo??
Soalnyo ambo masih yakin, dizaman dahulu alun ado Internet lai.
Wassalam
Nofend.34M CKR.
Saharian tadi mambayang sanak dikampuang makan lamak jo Pangek Paki nan bakawan jo Tilan dan Kapare…
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Riri
Mairizal Chaidir
Sent: Friday, February 26, 2010 8:50 PM
Dunsanak Sadonyo.
Maaf, ambo indak dalam kapasitas untuak ikuik berdiskusi buliah atau indaknyo Maulud Nabi, tapi tadi ambo tanyo ka Mak Google, apokah ado di tampek lain peringatan ko.
Kato Mak Google, lai, dan ditunjuakknyo links antara lain:
Uni Arab Emirates (dengan catatan, dek iko memang kebetulan hari libur, jadi ndak ado kompensasi do) - http://gulfnews.com/news/gulf/uae/government/prophet-mohammad-s-birthday-on-friday-1.587518
Turki (namonyo Mervid Kandili) http://www.todayszaman.com/tz-web/news-202566-100-muslims-to-commemorate-prophets-birth-today.html
Brunei Darussalam (Dikir Maulud) http://www.rtbnews.rtb.gov.bn/?c=newsDetail&news_id=5981
Canada http://www.southasianfocus.ca/community/article/86470
Berbagai negara (keceknyo) The event has received registrants from 40 countries. Viewing centers are being set up in many communities, including cities in New Zealand, India, UK, Canada, Pakistan, Saudi Arabia, and Australia http://www.startribune.com/yourvoices/85332492.html?elr=KArksLckD8EQDUoaEyqyP4O:DW3ckUiD3aPc:_Yyc:aUKcOy9cP3DieyckcUsI
Selain itu di http://en.wikipedia.org/wiki/Mawlid?loc=interstitialskip ado carito tentang iko, dan istilah2 yang digunakan dalam berbagai bahasa
Sekali lagi, ambo ndak dalam kapasitas berdiskusi do, Cuma tadi batanyo2 ka Mak Google (makonyo untuak nan iko subject nyo ambo tambahi saketek)
Riri
Bekasi, l, 47
------------- DIKAREK DISIKO---------------
Sanang pulo awak urang awam di Lapau ko mandanga salengkang suluah bendang nan mudah-mudahan batambah tarang.
Angku Haqir WalFaqir, dek kami di Lapau banyak urang awam, mungkin indak banyak nan tahu bana tantang istilah-isilah nan lah manjadi aia matah sajo di antaro suluah Bendang. Kok buliah ambo batanyo, dan kok buliah angku uraikan apo aratinyo:
1. Syamul
2. Kaffah
Sudah tu sanang lo kami mandanga kaji:
> Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;
> ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas.
Kalau kini awak danga urang mampakatokan ABS SBK, tampaknyo Syarak Basandi Kitabullah tu sajo sabanyo alun cukuik kaji lai mah yo? Tampaknyo Syarak ko iyobana laweh dari Piaman yo?
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Kuruih Kalipornia
--- In Rant...@yahoogroups.com, Haqir WalFaqir <alhaqirwalfaqir@...> wrote:
>
> sanak Ridha,
>
> Kalau lah agamo Islam ko hanyo nan di hadis sahih nan sanak paham tu sajo, iyo sampik bana dunia Islam ko mah jadinyo, sbb kehidupan Rasullullah Saw itu kalau ka ditulis malabihi jumlah hadis sahih tu. Sedangkan Islam itu syumul dan kaffah dan sempurna.
>
> Cubo pulo sanak baco kitab2 Imam Nawawi atau Imam Zawawi, dan kitab2 Tuo lainnyo .
>
> Bahkan Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali pun banyak nan indak mamakai hadis nan sahih nan sanak paham tu.
>
> Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;
> ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas
>
> Kalau sacaro hakikatnyo; wahyu, ilham, ladunni, dan firasat
>
> Bahkan Mimpi yang benar pun sebagai sumber ilmu (seperti mimpi Nabi Yusuf AS dan Nabi Ibrahim AS)
>
> Jadi ilmu Allah tu amatlah luasnyo, bahkan kalau tujuah lautan dijadikan tinta dan ditambah sabanyak itu lai mako indak akan mampu manulih ilmu Allah.
>
> Jadi ijan hanyo tapaku dek bacaan Kitab dan hadis sahih sajo (walaupun memang AlQuran dan Hadis Sahih sebagai sumber ilmu )
>
> wassalam,
> alhaqirwalfaqir,
> anwarjambak42,KL
>
>
>
> ________________________________
> From: Ahmad Ridha <ahmad.ridha@...>
> To: rant...@googlegroups.com
> Sent: Friday, February 26, 2010 21:21:54
> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
>
> 2010/2/26 Haqir WalFaqir <alhaqirwalfaqir@...>:
> Btw.. bacaramah dan menyampaikan kebajikan lewat Internet (dunia maya ko)
> tamasuak bid’ah juo ndak yoo??
>
> Soalnyo ambo masih yakin, dizaman dahulu alun ado Internet lai.
>
Dek alun ado Internet apo iyo bisa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam, para shahabat, dan tabi'in dakwah via Internet? Tentu iyo
indak bisa. Jadi apo nan menghalangi mereka tu marayokan maulid? Apo
ado nan kurang dipahami dek mereka?
---
> Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;
> ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas
>
Apo ado ambo manulak ijma' jo qiyas dalam istidlal, Pak? Jaleh-jaleh
ambo mananyokan juo tentang amalan shahabat dan tabi'in dek mereka tu
ulama mujtahid. Manga lo mereka tu basapakaik indak marayokan maulid
tanggal 12 Rabi'ul Awwal?
Sabalunnyo Bapak manulihkan:
> Tapi nas nan tasurek nan tasirek kan banyak tu, al;
> "Dan tidak kami Utuskan (Rasul Saw) melainkan untuk menjadi Rahmat Sekalian
> Alam"
> Jadi berdasarkan ayat ini titik tolak kedatangan Rasul Saw itu tentu saja
> waktu kelahirannya. Jadi sebagai tanda hamba yang bersyukur ya seharusnya
> kita mengenang kelahirannya yang penuh makna tsb.
>
"Mengenang kelahirannya yang penuh makna" itu apo harus liwaik
marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal? Apo indak bersyukur
kasadoalahan urang nan indak marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal?
Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
> Ambo raso iyo mamparingati Maulid Nabi urusan dunia nan baiak , baa supayo urang sadunia baik nan Islam maupun
> nan indak , dapek informasi nan bana tantang Nabi kito ko , kalau kito aniang-aniang sajo dima urang ka tau , dalam
> rangka marayokan maulid nabi ko kalua informasi di media elektronik , cetak dan di media pangareh suaro di surau2 dan
> musajik2 takambang untauak saluruh dunia tamasuak nan sadamng kito diskusikanko ..
>
Apo setuju Pak Haqir tu maulid tu bukan urusan ugamo? Masalah
aniang-aniang, apo iyo indak marayokan maulid berarti aniang-aniang?
Indak doh, Pak. Masih banyak nan wajib alun tertunaikan.
> Kenyataannyo di Doha Qatar, yo indak pernah nampak pemerintah dan Qatary
> merayakan maulid Nabi SAW paling tidak salamo 12 tahun terakhir ko. Dan hari
> kelahiran Nabi SAW pun bukan manjadi hari besar atau tanggal merah sarupo di
> awak.
>
Nah, apo urang di Doha tu aniang-aniang sajo sepanjang tahun, Pak?
Aniang-aniang dalam artian, indak nampak syi'ar Islam di sinan.
Misanya apo shalat berjama'ah langang sajo, apo indak ado nan puaso
Senin-Kamih atau indak ado info tentang Islam & Rasulullah Shallallahu
'alayhi wa Sallam, majelis ta'lim, dll. Baa kok dibandingkan samo
Indonesia, Pak?
Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada.
sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..
Salam
BP
--- Pada Kam, 25/2/10, ksuh...@yahoo.com <ksuh...@yahoo.com> menulis:
Dari: ksuh...@yahoo.com <ksuh...@yahoo.com>
Judul: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
Kepada: "Sma" <SMA...@yahoogroups.com>, "Rantau" <Rant...@googlegroups.com>
Tanggal: Kamis, 25 Februari, 2010, 11:30 AMEsok kita memepringati Maulud Nabi Muhammad
Saya teriingat sahabat lama saya Ndirsyah hosen
Ngn saya sajikan tuliisannya
[Hikmah Maulid Nabi] Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam

oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*
A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wa sahbihi wasallim
Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.
Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"
Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!
Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!"
Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"
Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintainya
Powered by Telkomsel BlackBerry®
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
--
> nio nanyo ciek.
> Jadi kito bisa memakai kaidah keterhalangan pada masa Nabi gitu yo utk
> membedakan apakah itu bidah atau muamalah biasa?
> Soalnyo iko tapikian taruih.
>
Sanak Andre,
Ibnu Katsir dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala (yang artinya):
"Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Kalau
sekiranya dia (Al Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka
tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak
mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: "Ini adalah
dusta yang lama"." (QS. al-Ahqaf 46.11)
juga menyinggung posisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah terhadap setiap
perbuatan dan pendapat (dalam urusan agama) yang tidak tetap (shahih)
dari shahabat bahwa itu adalah bid'ah, kalau sekiranya hal itu adalah
kebaikan, mereka akan mendahului kita dalam mengerjakannya, karena
mereka tidak meninggalkan sesuatu dari kebaikan; mereka akan bersegera
mengerjakannya. [Terjemahan bebas karena khawatir jadi membingungkan;
CMIIW]
Oleh karena itu, adalah hal yang aneh jika ada suatu amal shalih yang
mampu dikerjakan di masa itu namun tidak ada yang mengerjakan atau
setidaknya mengungkapkan keinginan itu.
Allahu Ta'ala a'lam.
--
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)
وأما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة: هو
بدعة؛ لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه، لأنهم
لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها
MakNgah baru baliak dari Musajik SBIA http://sbia.info/site/ di San Jose sato marayokan Maulid Nabi. San Jose ko jaraknyo kiro-kiro sajarak Maninjau jo Bukittinggi (40 miles) dari Musajik MakNgah di Santa Cruz. Jalannyo Hy-17 babelok-belok babahayo pulang baliak, namun MakNgah lai salamat pulang pai, 45 minik salincam, agak kisok manuruik standard.
Di San Jose ado lo MCA http://www.mcabayarea.org/ musajik nan langkok jo sikolanyo sampai-sampai SMA dan pangunjuangnyo labiah banyak dan beragam daerah asa. MakNgah acok mangikuti acara kaduonyo. Tapi nan samalam ko ado duo acara nan batumbuak wakatu samo. MCA maadokan dinner untuak Fundraising Sekolah Granada, SBIA maadokan acara Maulid Nabi.
Pikia-pikia kama ka pai eh, MakNgah putuihkan pai ka SBIA. Baa mangko mantun? Di MCA dinnernyo mambaia, sudah tu awak manyumbang pulo ala kadarnyo. Urang manyumbang basorak saroman urang malelang kue. Di SBIA dinnernyo perai, Makngah alah tahu gulai karinyo lamak.
Badasarkan kaji awak di Lapau nan hangek kini ABS-SBK -- Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah, bagi Makngah interpretasinyo hampia samo jo kaji lamo Urang Awak, nan MakNgah pedekkan IBMB -- Iduik Baraka Mati Bariman. Jadi, badasarkan IBMB ko pai lah MakNgah ka SBIA. Pado mambaia, eloklah perai. Kok indak pahalo nan ka dapek, saindak-indaknyo salero lapeh juo... :)
Sasudah dinner, makanan lamak, kami sumbayang Mugarik. Sabalun sumbayang mugarik ado saurang mambaco-baco "Assalamuialaika ya Habibullah" baulang-ulang jo variasi ungkapan-ungkapan lain. Nan ciek ko lai takana, karano acok diulang-ulangnyo. Salasai sumbayang mugarik pembicara mambari kaji satu jam. Panjang caritonyo. Salasai maagiah kaji, Isya pun tibo, sumbayang jamaah jo Imam Musajik.
Salasai sumbayang Isya sabagian urang muloi tagak, saroman mambuek lingkaran agak marapek ka mihrab. Sabagian urang lah muloi pulang. Imam musajik indak tampak dalam kelompok ko doh. Urang banyak nan tingga tu tagak basamo, MakNgah duduak basanda ka dindiang untuak maobservasi acara.
Sudah tu saurang induak kelompoknyo manyanyi-nyanyi, antah salawat antah apo, tapi tadanganyo babantuak pantun atau syair dalam bahaso Urdhu. Sababian nan lain nan tagak tu, manyimak manggarik-garikan bibia saroman lai sato pulo, tapi suaronyo indak tadanga amek. Sudah tu batuka tukang nyanyinyo, batigo kasadonyo.
[Observasi ko maingekkan parangai Makngah katu mangaji di surau sisuak. Kok mato alah takantuak, anak-anak masih mangaji, awak manggarik-garikan bibia pulo pura-pura maapa kaji, tapi kaji indak luruih lai, dek mato lah takantuak, duduakpun alah maakuak-akuak. :)]
Sudah salasai manyanyi baco-bacoan tu, mareka basalam-salaman, satangah ado nan bapaguik-paguik saroman urang middleeast pulo. MakNgah indak sato doh. Lupo MakNgah tadi, balain jo MCA, SBIA ko jamaahnyo banyak urang India.
MakNgah masih duduak basanda, tacongang-congang juo. Datang kawan lamo mandakeki MakNgah. MakNgah batanyo, Bahaso aa tu nan dinyanyikan? Keceknyo, Urdhu, Campua Arab, Campua Inggirih. Sudah tu MakNgah dibimbiangnyo tagak. Urang lah bapisah salamat jalan. MakNgah pulang ka Santa Kuruih, 55 minik sampai di rumah. Tibo di rumah dibuek postiang laporan ko. Itulah sakadar pancaliakan MakNgah dalam bapartisipasi Maulid tahun ko.
Salam,
MakNgah
Sjamsir Sjarif
di Tapi Riak nan Badabua
http://www.santacruzsentinel.com/localnews/ci_12030675
assalamualaikum wr.wbsanak Al Haqir, Ahmad ridha, Taufiqurrasyid, Ahmad Iqbal, dan lain2 yg di rahmati Allah...setelah ambo baco keseluruhan koment mengenai sambutan Maulidurrasul ko...sampai yg terakhir amo baco dari sanak Ahmad Ridha yg di tulis jam 10:35:08 WMsia...kesimpulan ambo, selain masaalah ko furu'iyah..sabanta lai nyo jadi polemik nan ndak ado kesudahan..wal hal puluhan tahun nan lalu lah kalua buku taba2 nan mengandungi polemik antaro Ulam wakil kaum Mudo Vs Ulama kaum Tuo...jan mubazirkan tanago jo pitih untuak ma ulangi polemik ko...ndak kan ado gai penghujungnyo..picayo lah sanak2 sekalian...sabanta tadi Mak Ngah lah manyindia dari subarang lauik...tapi ulamak mudo kito ndak taraso, cumo sanak Alhaqir nan agak capek tanggap...sudah-sudah lah tuuuu.....atau mananti Rang Dapua ma agiah lampu kuniang??????sesungguhnya setinggi manapun ilmu yang kita miliki tidak sedikitpun mewakili ilmu yang sebenarnya telah diberikan oleh Allah Ta'ala kepada hamba2 yang di Cintainya...jangan pula nanti karena sesuatu amalan yang belum tentu di terima atau di tolah oleh Allah, mengurangi rasa hormat kita kepada para Ulama terdahulu yang jauh lebih soleh,lebih alim dan lebih zuhud dari pada kita, yang hanya membaca ratusan kitab kuning, berbanding mereka yang hafal ribuan bahkan puluh ribuan hadis......wallahua'lamryan 42 ipoh
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
--
Tentang hal diateh, dalam HR Muslim "Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”
Mohon pencerahan dari sanak-sanak perihal jenis bid'ah diateh dan juo tentang hadis tersebut diatas.
Wassalam
Nofend/34M CKR
On Behalf Of Ibnu Mas'ud
Sent: Monday, March 01, 2010 2:59 PM
Setuju pak Bujang. Rasulullah, sahabat, tabi'in dan para ulama yang dakek jo zaman Rasulullah dan sahabat indak ado malakukan. kito hanyo malakukan tradisi nan indak jaleh. Kalau kito ingin mengenang rasulullah mari kito serius amalkan sunnah baliau.
Wassalam,
Ibnu
2010/2/26 Bujang Pono <bujan...@ymail.com>
Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada.
sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..
Salam
BP
============= DIKAREK DISIKO ==================
Kalau kito cuman Fwd atau mancari tanggapan sajo, nan pro pun juo banyak pak
yansen, heheee..
Silakan juo caliak : Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid Nabi)
oleh Syekh 'Atiyyah Saqr dan Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid
Nabi) oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi di
http://www.dhuha.net/id/content/islam/islam/Merayakan-hari-kelahiran-Nabi-Mu
hammad-Saw-Maulid-Nabi juo di Fwd mak Abrar kapatang.
Bisa juo caliak tanggapan yg pro dan kontra di
http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/29/122-tentang-maulid-nabi-muhammad-
saw/
Juo
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/article/1-tanya-
jawab/898-peringatan-maulid-nabi-saw-dan-bidah
Iyolah kalau baitu..
Wassalam
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On
Dunsanak,
Manuruik ambo, salamo karajo ko indak awak anggap ibadah (kalau ditinggalkan berdosa)/perayaan hari besar (karena diislam hanya ada 2 hari yang perlu dirayakan yaitu kurban dan fitri), makanya ini ngak ada masalah, sekedar menunjukkan cinta kita kerasul, itu wajar, bukankah kita kalau mencintai seseorang akan mengenang hari specialnya…
Masalah Bid’ah ngakperlu dibahas, karena masing masing orang beda pendapat. Kalau yang ragu,ngak usah diingat ingat …tapi ngak bener juga kalau orang kita sayangi kita ngak mengingat hari lahirnya, walau hanya dengan membuat suatu yang lebih, mengundang tetangga makan dan lain sebagainya.
Mauled nabi ini dimulai pada zaman Salahuddin, dimana tentara salib dengan gampang , mengalahkan orang islam, sehingga mereka menduduki palestina, dengan mengingat hari lahirnya Rasul ini,makanya Salahuddin bisa mengumpulkan tentara tetara islam untuk memerangi tentara salib, dan itu terbukti berhasil,sekarang terserah kita menilainya..kalau untuk kebaikan ya apa salahnya, selama jangan kita anggap itu merupakan ibada…
malinSutan.
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of andre suchitra
Sent: Monday, March 01, 2010 4:50
PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net]
Maulud Nabi Muhammad
Ambo sobok link dgn pertanyaan yg samo sanak Nofend, tp dlm bahaso Inggris.
http://www.islam-qa.com/en/ref/864
2010/3/1 Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>
Dek karano urang kampuang ambo, selalu bahari rayo disetiap tanggal
merah Islam, dan tantu iko bagi sebagian sanak awak tamasuak bid’ah, dan kito
alah maklum, bid'ah2 nan acok dikamukokan kini. Dulu waktu ketek2 acok maikui-i
mamak ambo nan suko ma agiah kuliah subuah disurau2, pernah ambo dangan Bid’ah
Hasanah, diantari bid'ah yang lain, ba'a manuruik Pak Ibnu dan pak Bujang Pono
tentang pengertian Bid’ah Hasanah ko?
Tentang hal diateh, dalam HR Muslim "Nabi saw memperbolehkan kita
melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah,
sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik
dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang
buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan
tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”
Mohon pencerahan dari sanak-sanak perihal jenis bid'ah diateh dan juo tentang
hadis tersebut diatas.
Wassalam
Nofend/34M CKR
On Behalf Of Ibnu Mas'ud
Sent: Monday, March 01, 2010 2:59 PM
Setuju pak Bujang. Rasulullah, sahabat, tabi'in dan para ulama yang dakek jo
zaman Rasulullah dan sahabat indak ado malakukan. kito hanyo malakukan tradisi
nan indak jaleh. Kalau kito ingin mengenang rasulullah mari kito serius amalkan
sunnah baliau.
Wassalam,
Ibnu
2010/2/26 Bujang Pono <bujan...@ymail.com>
Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi
ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak
ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak
disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian
salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali
semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk
perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada
larangan dengan ketentuan aturan yang ada.
sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..
Salam
BP
============= DIKAREK DISIKO ==================
Walau babantu jo kamus, tapi banyak saketek lai ambo paham maksud dari link
artikel tersebut, jadi ciek lai pertanyaannyo, apokah melaksanakan kegiatan
atau marayoan maulid nabi ko jo caro nan baiak (beramal yg diantaranya
silaturahim, berzikir, dlsb) tamasuak ka bid'ah nan dimaksud??
Ambo baco postingan uni rahima yang sangat panjang dibiliak sabalah hari ko,
ambo ambiak sa paragraf inti pertanyaan sajo == Yang intinya sebenarnya
begini saja. Silahkan bagi mereka ingin merayakan maulid Nabi tersebut,
dengan dalil untuk lebih mencintai Rasulullah, padahal, kalau dipikir-pikir,
apakah bukti cinta kita dengan mengadakan perayaan tersebut, bukti cinta
Rasulullah yang dengan melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya,
mengikuti sunnahnya dan menjauhi apa yang
tidak disunnahkannya. Dalil, karena cinta Rasulullah itu saya rasa kurang
tepat==.
Jadi ambo manangkok, masih sah-sah sajo, asa tidak menimbulkan perbuatan
yang melanggar syariah.
Salam
Nofend.
On Behalf Of andre suchitra
Sent: Monday, March 01, 2010 4:50 PM
Ambo sobok link dgn pertanyaan yg samo sanak Nofend, tp dlm bahaso Inggris.
http://www.islam-qa.com/en/ref/864
============== TATAP DIKAREK ===================
5] Semua Umat Islam Indonesia bahkan para Kyai dan Ustadz Melakukan Hal Ini
Ada juga yang berargumen ketika ritual bid’ah –seperti Maulid Nabi- yang ia lakukan dibantah sembari mengatakan, “Perayaan (atau ritual) ini kan juga dilakukan oleh seluruh umat Islam Indonesia bahkan oleh para Kyai dan Ustadz. Kok hal ini dilarang?!”
Alasan ini justru adalah alasan orang yang tidak pandai berdalil. Suatu hukum dalam agama ini seharusnya dibangun berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin). Adapun adat (tradisi) di sebagian negeri, perkataan sebagian Kyai/Ustadz atau ahlu ibadah, maka ini tidak bisa menjadi dalil untuk menyanggah perkataan Allah dan Rasul-Nya.
Barangsiapa meyakini bahwa adat (tradisi) yang menyelisihi sunnah ini telah disepakati karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya, maka keyakinan semacam ini jelas salah dan keliru. Ingatlah, akan selalu ada dalam umat ini di setiap waktu yang melarang berbagai bentuk perkara bid’ah yang menyelisihi sunnah seperti perayaan maulid ataupun tahlilan. Lalu bagaimana mungkin kesepakatan sebagian negeri muslim dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan umat Islam), apalagi dengan amalan sebagian kelompok?
Ketahuilah saudaraku semoga Allah selalu memberi taufik padamu, mayoritas ulama tidak mau menggunakan amalan penduduk Madinah (di masa Imam Malik) –tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah- sebagai dalil dalam beragama. Mereka menganggap bahwa amalan penduduk Madinah bukanlah sandaran hukum dalam beragama tetapi yang menjadi sandaran hukum adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin kita berdalil dengan kebiasaan sebagian negeri muslim yang tidak memiliki keutamaan sama sekali dibanding dengan kota Nabawi Madinah?! (Disarikan dari Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 2/89 dan Al Bid’ah wa Atsaruha Asy Syai’ fil Ummah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, 49-50, Darul Hijroh)
Perlu diperhatikan pula, tersebarnya suatu perkara atau banyaknya pengikut bukan dasar bahwa perkara yang dilakukan adalah benar. Bahkan apabila kita mengikuti kebanyakan manusia maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah dan ini berarti kebenaran itu bukanlah diukur dari banyaknya orang yang melakukannya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am [6] : 116)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita taufik untuk mengikuti kebenaran bukan mengikuti kebanyakan orang.
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Terima kasih sanak Sri Yansen. Alah jaleh kiniko dalil -dalil hukumnyo menegnai maulid nabiko. MUdah2an kita semua bisa mendahulukan syara' daripada akal (argumentasi) karena kebenaran mutlak milik Allah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : |
|
--- Pada Sen, 1/3/10, Sri Yansen <sya...@yahoo.com> menulis: |
|
