Maulud Nabi Muhammad

50 views
Skip to first unread message

ksuh...@yahoo.com

unread,
Feb 25, 2010, 6:30:24 AM2/25/10
to Sma, Rantau
Esok kita memepringati Maulud Nabi Muhammad
Saya teriingat sahabat lama saya Ndirsyah hosen
Ngn saya sajikan tuliisannya
[Hikmah Maulid Nabi] Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam


oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wa sahbihi wasallim

Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!"

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"
Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintainya
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Bujang Pono

unread,
Feb 26, 2010, 3:51:05 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada.

sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..

Salam
BP

--- Pada Kam, 25/2/10, ksuh...@yahoo.com <ksuh...@yahoo.com> menulis:
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe


Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 26, 2010, 6:17:35 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
assalamualaikum sanak sadonyo..
 
sanak bujang pono...
 
apo juo nan indak jaleh lai tu..
kan lah jaleh didalam AlQuran," Innalloha wa malaikatahu yusholluna alannabi.........Sesungguhnya Allah dan Malaikat berselawat keatas Nabi (Muhammad SAW)...." Jadi itu kan lah isyarat mah dalam Quran supayo kito mamuliakan Rasul SAW, bahkan satiok Sumbayang Jumaik kito danga pasan Khatib nan sarupo itu.
 
Jadi salah satu caro mamuliakan Rasul SAW ko yo dengan maingeki kelahiran baliau ko nan panuah hikmah dan pangajaran.
 
Bahkan kalahiran Nabi Ismail AS dan kehidupan Nabi Ibrahim AS sakaluarga manjadi sabagian rukun ibadah haji, apolai kalahiran Junjuangan basa kito Nabi Muhammad Rasullullah SAW kalau kito muliakan indak ado salahnyo . Sabab saluruah kehidupan Rasul SAW itu adolah AlQuran tamasuaklah kalahirannyo nan panuah hikmah dan pangajaran, kan?
 
Ijan tapangaruah dek pemahaman yg dangkal nan cubo mangebiri agamo Tuhan nan laweh ko.
 
wassalam ,
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42_,KL
 


From: Bujang Pono <bujan...@ymail.com>
ent: Friday, February 26, 2010 16:51:05
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad



Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

abrar yusuf

unread,
Feb 26, 2010, 6:42:51 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum WW.
Ikut menambahkan dengan berbagi bacaan sbb: semoga bermanfat.
Apa kata Ketua Persatuan Ulama Internasioanl tentang bid'ah ini, mari kita simak:

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional menyatakan bahwa anggapan merayakan maulid Nabi saw. adalah bid’ah, dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka, tidak semuanya benar.

Beliau meluruskan, yang kita ingkari dalam hal perayaan maulid adalah ketika ada pencampuradukkan dengan kemungkaran, ketika perayaan maulid itu bercampur-aduk dengan hal-hal yang menyalahi syari’at, ketika perayaan maulid itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an, sebagaimana praktek-praktek ini masih ada di sebagian negara Islam.

Contohnya, praktek syirik, dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan bid’ah?

Pernyataan beliau yang dimuat dalam media online pribadi beliau itu juga ditambahkan:

“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”

Allah swt. memerintahkan demikian kepada kita dalam banyak firman-Nya. Misalnya:

(يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ جاءتكم جنود فأرسلنا عليهم ريحاً وجنوداً لم تروها وكان الله بما تعملون بصيرًا، إذ جاءوكم من فوقكم ومن أسفل منكم وإذ زاغت الأبصار وبلغت القلوب الحناجر وتظنون بالله الظنونا)

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikuruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan( mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Al-Ahzab:9- 10)

Allah memerintahkan kita mengingat suatu peperangan, misalnya perang Khandaq atau perang Ahzab, di mana kafir Quraisy dan Suku Ghathfan mengepung Rasulullah saw. Dalam kondisi serba sulit ini, Allah swt. menurunkan bala bantuannya berupa angin kencang dan bantuan Malaikat.

Ingatlah peristiwa itu, ingatlah, jangan kalian lupakan itu semua.

Ini jelas menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mengingat nikmat dan tidak melupakannya.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

(يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ هم قوم أن يبسطوا إليكم أيديهم

فكف أيدهم عنكم واتقوا الله وعلى الله فليتوكل المؤمنون)

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal:30)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ telah besepakat untuk mengkhianati Rasulullah saw. di Madinah, mereka membuat makar, mereka membuat tipu daya, namun makar dan tipu daya Allah swt. lebih kuat dan lebih cepat dari mereka.

ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين

“Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar (juga), Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.”

Perayaan yang demikian tidaklah bid’ah, bahkan dianjurkan. Wallahu a’lam.


Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Abrar.

di RantauBaruah.





From: Haqir WalFaqir <alhaqir...@yahoo.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Fri, 26 February, 2010 10:17:35 PM
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
--

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 6:58:35 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

Saya meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam adalah
manusia terbaik yang paling paham al-Qur'an dan jika ada suatu
kebaikan yang dapat beliau lakukan, tentu beliau tidak lupa untuk
menyampaikannya. Saya juga percaya bahwa para shahabat beliau
radhiyallahu 'anhum adalah generasi terbaik yang menerima didikan
langsung beliau Shallallahu 'alayhi wa Sallam. Tentunya mereka yang
paling tahu cara menghormati Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam.

Setahu saya, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam dan para
shahabat beliau radhiyallahu 'anhum tidak merayakan kelahiran beliau
Shallallahu 'alayhi wa Sallam setiap tahunnya. Oleh karena itu, saya
memilih mengikuti mereka.

Wabillahit taufiq.
--
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 26, 2010, 7:12:40 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum sanak sapalanta nan dimuliakan...
 
Sanak Ridha,
 
Bararti sanak Ridha alah basobok langsuang jo Rasul Saw...
 
atau jo Para Sahabat Rasul Saw nan rami tu???
 
Sadarilah...kito baraja ko tali batali...
 
Kalau ado urang nan mangecek inyo langsuang maikuik Rasul Saw dan Sahabat atau AlQuran dan Sunnah, itu aratinyo inyo langsuang basobok jo Rasul Saw atau Para Sahabat.
 
Kalau indak aratinyo inyo baduto.
 
Nan sabananyo inyo maikuik urang nan mangecek sarupo jo inyo itu...
 
Wassalam,
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42-,KL


From: Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Friday, February 26, 2010 19:58:35

Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 7:24:19 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 Haqir WalFaqir <alhaqir...@yahoo.com>:

> Assalamualaikum sanak sapalanta nan dimuliakan...
>

Wa'alaykumus salaam warahmatullah,

> Sanak Ridha,
> Bararti sanak Ridha alah basobok langsuang jo Rasul Saw...
> atau jo Para Sahabat Rasul Saw nan rami tu???
>
> Sadarilah...kito baraja ko tali batali...
>

Pak Haqir, kok ado riwayat shahih nan manarangkan bahaso Rasulullah
Shallallahu 'alayhi wa Sallam jo shahabat beliau radhiyallahi 'anhum
marayokan maulid tiok tahun tanggal 12 Rabi'ul Awwal silakan
dipaparkan di siko. Sabalun itu ado, ambo indak sato doh.

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 26, 2010, 7:50:22 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Sanak Ridha dan dunsanak sapalanta nan dimuliakan.
 
Mungkin nas nan tasurek sacaro langsuang nan dibuek Rasul Saw dan sahabat indak basuo. Dan mungkin dek Rasul Saw barado diantara mereka tu mako indak paralu.
 
Tapi nas nan tasurek nan tasirek kan banyak tu, al;
"Dan tidak kami Utuskan (Rasul Saw) melainkan untuk menjadi Rahmat Sekalian Alam"
Jadi berdasarkan ayat ini titik tolak kedatangan Rasul Saw itu tentu saja waktu kelahirannya. Jadi sebagai tanda hamba yang bersyukur  ya seharusnya kita mengenang kelahirannya yang penuh makna tsb.
 
Dan juga kita disuruh banyak2 berselawat ke atas Rasul Saw dan mengenalinya lebih dekat untuk menyayanginya dan menjadikannya uswatun hasanah.
 
Jadi bukan hanya kelahiran Rasul Saw yang harus kita kenang bahkan seluruh sejarah kehidupan Rasul Saw harus kita imbas kembali.
 
Dan indak ado pulo nas nan melarang secaro langsuang merayakan Maulid Nabi ko, antah kok lah basuo dek sanak Ridha.
 
wassalam
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42,KL
 

Sent: Friday, February 26, 2010 20:24:19

Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
--


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 7:56:15 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 Haqir WalFaqir <alhaqir...@yahoo.com>:

> Mungkin nas nan tasurek sacaro langsuang nan dibuek Rasul Saw dan sahabat
> indak basuo. Dan mungkin dek Rasul Saw barado diantara mereka tu mako indak
> paralu.
>

Apo ado riwayat shahih setelah Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam wafat para shahabat marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal?
Atau mungkin dari tabi'in (murid shahabat)? Ambo iyo yakin bana
mereka tuh teladan dalam mencintai Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam dek ado keterangan tasurek dari Rasulullah bahaso mereka
generasi terbaik.

iqbal rahman

unread,
Feb 26, 2010, 8:13:13 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalammualaikum  Wr  Wb.

Manuruik ambo Islam tu Universal dan Rahmatan lil alamin , Manganai yang bid'ah nan dimukasuik setiap bid’ah pasti  sasek , dan satiok nan sasek  pasti masuak narako, indak sadonyo batua do , benar kalau nan  kito ado-adokan atau kito tingga-tinggakan manganai perkara syariat , pendek kato perayaan Maulid Nabi bukanlah syariat mamparingati nyo labih banyak mamfaatnyo dari mudaratnyo dan juo untuk mampalanca kaji , bayangkan kalau satiok surau / langgar/ musajik mengsosialisasikan tantang Nabi Muhammad bara urang nan mandanga ?.

Kalau yo ado satiok bid’ah pasti  Sasek , baa kalau kito kaji adokah  Nan Mulie Nabi Muhammad SWT  manyuruh Mambukukan Al Qur'an nul Karim dan  Hadist Baliau ?
Kalau alasannyo nan manyuruah mambukukan  adolah sahabat beliau , nan jaleh  bukan dari Nabi. Muhammad SWT

Tapi walaupun baitu jaan perbedaan manjadikan kito ba paca balah , perbedaan itu indah

itulah pandapek ambo nan singkek ilmu agamo , kapado Allah Subhanahuwata'Allah kito basarah diri .

Salam

Iqbal Rahman

Lk. 57

--- On Fri, 26/2/10, abrar yusuf <aby...@yahoo.com> wrote:

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 26, 2010, 8:16:58 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
sanak Ridha dan dunsanak sapalanta nan dimuliakan...
 
Barati Sanak Ridha lah kenal bana jo Rasul Saw, Para Sahabat , dan Tabiin nampaknyo.
 
Cubo pulolah sanak Ridha sabuik nasnyo nan malarang mangenang Maulud Nabi ko..
 
Sabananyo mengenang dan mampalajari kehidupan Rasul Saw bukan hanyo pado tgl 12 Rabiulawal, tapi satiok saat dan waktu, bahkan satiok sumbahyang awak mangenang Rasul Saw.
 
wassalam,
alhaqirwalfaqir
anwarjambak42,KL


From: Ahmad Ridha ahmad...@gmail.com

Apo ado riwayat shahih setelah Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam wafat para shahabat marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal?
Atau mungkin dari tabi'in (murid shahabat)?  Ambo iyo yakin bana
mereka tuh teladan dalam mencintai Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam dek ado keterangan tasurek dari Rasulullah bahaso mereka
generasi terbaik.

--
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 8:21:54 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 Haqir WalFaqir <alhaqir...@yahoo.com>:

> Barati Sanak Ridha lah kenal bana jo Rasul Saw, Para Sahabat , dan Tabiin
> nampaknyo.
>
> Cubo pulolah sanak Ridha sabuik nasnyo nan malarang mangenang Maulud Nabi
> ko..
>

Nde, Pak Haqir. Kok iyo indak ado riwayat tu, indak paralu lah
mambuek tuduhan nan indak-indak ka ambo. Aneh lo ambo diminta mancari
bukti sesuatu indak ado. Nan harus maagiah bukti justru urang nan
mengklaim sesuatu ado.

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 8:27:47 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 iqbal rahman <yesb...@yahoo.com>
>
> Assalammualaikum  Wr  Wb.
>

Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

> Kalau yo ado satiok bid’ah pasti  Sasek , baa kalau kito kaji adokah  Nan Mulie Nabi Muhammad SWT  manyuruh
> Mambukukan Al Qur'an nul Karim dan  Hadist Baliau ?
> Kalau alasannyo nan manyuruah mambukukan  adolah sahabat beliau , nan jaleh  bukan dari Nabi. Muhammad SWT
>

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam menyampaikan
pesan ke para shahabat. Lalu ada seseorang meminta agar pesan beliau
dituliskan untuknya lalu beliau Shallallahu 'alayhi wa Sallam bersabda
(yang artinya):

"Tuliskan untuk Abu Shah." (HR. Muslim)

'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu juga pernah bertanya boleh atau
tidak mencatat perkataan beliau Shallallahu 'alayhi wa Sallam lalu
dijawab (yang artinya):

"Tulislah." (HR. Abu Dawud)

Al-Qur'an juga telah dituliskan oleh para shahabat sejak beliau
Shallallahu 'alayhi wa Sallam masih hidup.

iqbal rahman

unread,
Feb 26, 2010, 8:33:56 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalammualaiku  Wr  Wb

Nabi Muhammad SWT pun pernah basapda " Kamu yang lebih tahu tentang dunia mu "
" Lakukanlah yang baik " 

Salam

Iqbal Rahman


--- On Fri, 26/2/10, Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:

From: Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
To: rant...@googlegroups.com
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 8:36:18 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 iqbal rahman <yesb...@yahoo.com>
>
> Assalammualaiku  Wr  Wb
>

Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

> Nabi Muhammad SWT pun pernah basapda " Kamu yang lebih tahu tentang dunia mu "
> " Lakukanlah yang baik "
>

Jadi maulid tu urusan dunia atau agama, Pak? Kalau urusan agama, saya
yakin bahwa yang paling tahu adalah Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam.

--

Message has been deleted

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 26, 2010, 8:50:32 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
sanak Ridha,
 
Kalau lah agamo Islam ko hanyo nan di hadis sahih nan sanak paham tu sajo, iyo sampik bana dunia Islam ko mah jadinyo, sbb kehidupan Rasullullah Saw itu kalau ka ditulis malabihi jumlah hadis sahih tu. Sedangkan Islam itu syumul dan kaffah dan sempurna.
 
Cubo pulo sanak baco kitab2 Imam Nawawi atau Imam Zawawi, dan kitab2 Tuo lainnyo .
 
Bahkan Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali pun banyak nan indak mamakai hadis nan sahih nan sanak paham tu.
 
Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;
ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas
 
Kalau sacaro hakikatnyo; wahyu, ilham, ladunni, dan firasat
 
Bahkan Mimpi yang benar pun sebagai sumber ilmu (seperti mimpi Nabi Yusuf AS dan Nabi Ibrahim AS)
 
Jadi ilmu Allah tu amatlah luasnyo, bahkan kalau tujuah lautan dijadikan tinta dan ditambah sabanyak itu lai mako indak akan mampu manulih ilmu Allah.
 
Jadi ijan hanyo tapaku dek bacaan Kitab dan hadis sahih sajo (walaupun memang AlQuran dan Hadis Sahih sebagai sumber ilmu )
 
wassalam,
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42,KL


From: Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Friday, February 26, 2010 21:21:54

Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
--
.
 


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

iqbal rahman

unread,
Feb 26, 2010, 9:04:11 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalammualaikum  Wr  Wb

Ambo raso iyo  mamparingati  Maulid Nabi urusan dunia nan baiak , baa supayo urang sadunia baik nan Islam maupun nan indak , dapek informasi nan bana tantang  Nabi kito ko , kalau kito aniang-aniang sajo dima urang ka tau , dalam rangka marayokan maulid nabi ko  kalua informasi di media elektronik , cetak dan di media pangareh suaro di surau2 dan musajik2  takambang untauak saluruh dunia tamasuak nan sadamng kito diskusikanko ..

Salam

Iqbal Rahman

--- On Fri, 26/2/10, Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:

From: Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Nofend St. Mudo

unread,
Feb 26, 2010, 9:13:32 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com

Da Riri, tambah ciek lai (tapi ndak dalam kapasitas mangaji juo do) dikampung kami kini (tadi) sadang ba hari rayo, dikenal jo rayo mulud, samo seperti pado rayo lainnyo, dikampung ambo urang mamasak2, mambuek lamang jo kue bagai, mando’a kasatiok rumah (silaturahim), dan khasnyo ari rayo mulut ko, ado acara ma arak bungo lamang (di WS.com ado gambarnyo) badikiu (zikir) rabana, atau salawat dulang bagai.

Sayang link sarupo da riri sampaikan, ndak ado diambo do, heheee

 

Iko alah tradisi dari zaman saisuak, samanjak zaman niniak kami masih ado/banyak nan bagala syech

Kok masuak acara iko ka bid’ah, mako dari niniak moyang kami daulu, sampai kini nan barado dikampuang, akan masuak narako menurut pemahaman sebagian dunsanak awak, dan kito semua tau, Hanya ALLAH lah nan maha tahu.

 

Btw.. bacaramah dan menyampaikan kebajikan lewat Internet (dunia maya ko) tamasuak bid’ah juo ndak yoo??

Soalnyo ambo masih yakin, dizaman dahulu alun ado Internet lai.

 

 

Wassalam

Nofend.34M CKR.

 

Saharian tadi mambayang sanak dikampuang makan lamak jo Pangek Paki nan bakawan jo Tilan dan Kapare…

 

From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Riri Mairizal Chaidir
Sent: Friday, February 26, 2010 8:50 PM

Dunsanak Sadonyo.

 

Maaf, ambo indak dalam kapasitas untuak ikuik berdiskusi buliah atau indaknyo Maulud Nabi, tapi tadi ambo tanyo ka Mak Google, apokah ado di tampek lain peringatan ko.

Kato Mak Google, lai, dan ditunjuakknyo links antara lain:

 

Uni Arab Emirates (dengan catatan, dek iko memang kebetulan hari libur, jadi ndak ado kompensasi do) - http://gulfnews.com/news/gulf/uae/government/prophet-mohammad-s-birthday-on-friday-1.587518

Turki (namonyo Mervid Kandili) http://www.todayszaman.com/tz-web/news-202566-100-muslims-to-commemorate-prophets-birth-today.html

Brunei Darussalam (Dikir Maulud) http://www.rtbnews.rtb.gov.bn/?c=newsDetail&news_id=5981

Jordan http://www.fananews.com/look/english/article.tpl?IdLanguage=1&IdPublication=2&NrArticle=763521&NrIssue=1&NrSection=1

Canada http://www.southasianfocus.ca/community/article/86470

Berbagai negara (keceknyo)  The event has received registrants from 40 countries.  Viewing centers are being set up in many communities, including cities in New Zealand, India, UK, Canada, Pakistan, Saudi Arabia, and Australia http://www.startribune.com/yourvoices/85332492.html?elr=KArksLckD8EQDUoaEyqyP4O:DW3ckUiD3aPc:_Yyc:aUKcOy9cP3DieyckcUsI

Selain itu di http://en.wikipedia.org/wiki/Mawlid?loc=interstitialskip ado carito tentang iko, dan istilah2 yang digunakan dalam berbagai bahasa

 

Sekali lagi, ambo ndak dalam kapasitas berdiskusi do, Cuma tadi batanyo2 ka Mak Google (makonyo untuak nan iko subject nyo ambo tambahi saketek)

 

Riri

Bekasi, l, 47

 

------------- DIKAREK DISIKO---------------

sjamsir_sjarif

unread,
Feb 26, 2010, 9:21:42 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

Sanang pulo awak urang awam di Lapau ko mandanga salengkang suluah bendang nan mudah-mudahan batambah tarang.

Angku Haqir WalFaqir, dek kami di Lapau banyak urang awam, mungkin indak banyak nan tahu bana tantang istilah-isilah nan lah manjadi aia matah sajo di antaro suluah Bendang. Kok buliah ambo batanyo, dan kok buliah angku uraikan apo aratinyo:

1. Syamul
2. Kaffah

Sudah tu sanang lo kami mandanga kaji:


> Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;

> ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas.

Kalau kini awak danga urang mampakatokan ABS SBK, tampaknyo Syarak Basandi Kitabullah tu sajo sabanyo alun cukuik kaji lai mah yo? Tampaknyo Syarak ko iyobana laweh dari Piaman yo?

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Kuruih Kalipornia

--- In Rant...@yahoogroups.com, Haqir WalFaqir <alhaqirwalfaqir@...> wrote:
>
> sanak Ridha,
>
> Kalau lah agamo Islam ko hanyo nan di hadis sahih nan sanak paham tu sajo, iyo sampik bana dunia Islam ko mah jadinyo, sbb kehidupan Rasullullah Saw itu kalau ka ditulis malabihi jumlah hadis sahih tu. Sedangkan Islam itu syumul dan kaffah dan sempurna.
>
> Cubo pulo sanak baco kitab2 Imam Nawawi atau Imam Zawawi, dan kitab2 Tuo lainnyo .
>
> Bahkan Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali pun banyak nan indak mamakai hadis nan sahih nan sanak paham tu.
>
> Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;
> ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas
>
> Kalau sacaro hakikatnyo; wahyu, ilham, ladunni, dan firasat
>
> Bahkan Mimpi yang benar pun sebagai sumber ilmu (seperti mimpi Nabi Yusuf AS dan Nabi Ibrahim AS)
>
> Jadi ilmu Allah tu amatlah luasnyo, bahkan kalau tujuah lautan dijadikan tinta dan ditambah sabanyak itu lai mako indak akan mampu manulih ilmu Allah.
>
> Jadi ijan hanyo tapaku dek bacaan Kitab dan hadis sahih sajo (walaupun memang AlQuran dan Hadis Sahih sebagai sumber ilmu )
>
> wassalam,
> alhaqirwalfaqir,
> anwarjambak42,KL
>
>
>
> ________________________________

> From: Ahmad Ridha <ahmad.ridha@...>


> To: rant...@googlegroups.com
> Sent: Friday, February 26, 2010 21:21:54
> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
>

> 2010/2/26 Haqir WalFaqir <alhaqirwalfaqir@...>:

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 26, 2010, 9:36:46 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum....
 
Mak Ngah jo sanak sapalanta nan di muliakan
 Ondeeeh....... Mak Ngah malu ambo jadinyo...
 
Tantu Mak Nga jo urang Lapau nan Basa Batuah nan labiah tau..
 
Dek lah dulu makan garam
 
Lah talonsong bana ambo mah    ....hehehehe..
 
Bari rila jo maaf lah ambo Mak...
 
Ambo nan patuik baguru ka Niniak Mamak2 sadonyo...
 
 
wassalam
alhaqirwalfaqir,
anwarjambak42,KL

From: sjamsir_sjarif <hamb...@yahoo.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Friday, February 26, 2010 22:21:42
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 10:49:47 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>:

> Btw.. bacaramah dan menyampaikan kebajikan lewat Internet (dunia maya ko)
> tamasuak bid’ah juo ndak yoo??
>
> Soalnyo ambo masih yakin, dizaman dahulu alun ado Internet lai.
>

Dek alun ado Internet apo iyo bisa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa
Sallam, para shahabat, dan tabi'in dakwah via Internet? Tentu iyo
indak bisa. Jadi apo nan menghalangi mereka tu marayokan maulid? Apo
ado nan kurang dipahami dek mereka?

---

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 10:55:08 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 Haqir WalFaqir <alhaqir...@yahoo.com>:

> Sumber ilmu Islam ko sabana laweh sanak, kalau sacaro ilmiahnyo;
> ado 4 sumber; AlQuran, Sunnah, Ijmak Ulama Mujtahid, dan Qiyas
>

Apo ado ambo manulak ijma' jo qiyas dalam istidlal, Pak? Jaleh-jaleh
ambo mananyokan juo tentang amalan shahabat dan tabi'in dek mereka tu
ulama mujtahid. Manga lo mereka tu basapakaik indak marayokan maulid
tanggal 12 Rabi'ul Awwal?

Sabalunnyo Bapak manulihkan:

> Tapi nas nan tasurek nan tasirek kan banyak tu, al;
> "Dan tidak kami Utuskan (Rasul Saw) melainkan untuk menjadi Rahmat Sekalian
> Alam"
> Jadi berdasarkan ayat ini titik tolak kedatangan Rasul Saw itu tentu saja
> waktu kelahirannya. Jadi sebagai tanda hamba yang bersyukur ya seharusnya
> kita mengenang kelahirannya yang penuh makna tsb.
>

"Mengenang kelahirannya yang penuh makna" itu apo harus liwaik
marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal? Apo indak bersyukur
kasadoalahan urang nan indak marayokan maulid tiok 12 Rabi'ul Awwal?

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 10:58:57 AM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/26 iqbal rahman <yesb...@yahoo.com>
>
> Assalammualaikum  Wr  Wb
>

Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

> Ambo raso iyo  mamparingati  Maulid Nabi urusan dunia nan baiak , baa supayo urang sadunia baik nan Islam maupun


> nan indak , dapek informasi nan bana tantang  Nabi kito ko , kalau kito aniang-aniang sajo dima urang ka tau , dalam
> rangka marayokan maulid nabi ko  kalua informasi di media elektronik , cetak dan di media pangareh suaro di surau2 dan
> musajik2  takambang untauak saluruh dunia tamasuak nan sadamng kito diskusikanko ..
>

Apo setuju Pak Haqir tu maulid tu bukan urusan ugamo? Masalah
aniang-aniang, apo iyo indak marayokan maulid berarti aniang-aniang?
Indak doh, Pak. Masih banyak nan wajib alun tertunaikan.

DIMANGGIS. MOHD

unread,
Feb 26, 2010, 1:18:47 PM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Wa'alaykumsalaam w.w..
Kenyataannyo di Doha Qatar, yo indak pernah nampak pemerintah dan Qatary merayakan maulid Nabi SAW paling tidak salamo 12 tahun terakhir ko. Dan hari kelahiran Nabi SAW pun bukan manjadi hari besar atau tanggal merah sarupo di awak.  
Salam, Elham

2010/2/26 Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>

Ahmad Ridha

unread,
Feb 26, 2010, 8:12:10 PM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/27 DIMANGGIS. MOHD <mhdim...@gmail.com>:

> Kenyataannyo di Doha Qatar, yo indak pernah nampak pemerintah dan Qatary
> merayakan maulid Nabi SAW paling tidak salamo 12 tahun terakhir ko. Dan hari
> kelahiran Nabi SAW pun bukan manjadi hari besar atau tanggal merah sarupo di
> awak.
>

Nah, apo urang di Doha tu aniang-aniang sajo sepanjang tahun, Pak?
Aniang-aniang dalam artian, indak nampak syi'ar Islam di sinan.
Misanya apo shalat berjama'ah langang sajo, apo indak ado nan puaso
Senin-Kamih atau indak ado info tentang Islam & Rasulullah Shallallahu
'alayhi wa Sallam, majelis ta'lim, dll. Baa kok dibandingkan samo
Indonesia, Pak?

taufiq...@gmail.com

unread,
Feb 26, 2010, 8:35:20 PM2/26/10
to rant...@googlegroups.com
Untuak scope Minangkabau

Mungkin iko salah satu beda antaro Kaum Tuo jo Kaum Mudo dalam mendalami Islam di Minangkabau

Ado nan menyambutnya dengan melantunkan Barzanji disertai pujian lain serta berbagai upacara termasuk makan bersama dll untuk syiarnya Islam itu

Sedang kaum muda lebih mengutamakan aplikasi dari kedatangan Muhammad itu untuk kehidupan kita terkini

Jadi keduanya baik saja. Cuma yang satu focus ke target sedang yang lain masih menggunakan sarana untuk menarik massa.

Yang jadi masalah kadang acaranya agak menyimpang seperti perayaan Sekaten oleh tetangga kita. Akhirnya hura-huranya lebih banyak dari pada mendalami ajaran Islam itu sendiri

Sama seperti acara Balimau menyambut bulan suci Ramadhan yang pernah kita diskusikan dulu

Wass
TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>
Date: Sat, 27 Feb 2010 08:12:10
To: <rant...@googlegroups.com>
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad

andre suchitra

unread,
Feb 27, 2010, 1:54:58 AM2/27/10
to rant...@googlegroups.com
Ambo lebih sreg jo pandapek seperti iko.

Ambo pernah baco, klo kaidah yg lah umum di kalangan ulama2 Islam, bahwa sagalo ibadah-ibadah adalah haram kecuali ado 'perintah' (dalil) dari Allah dan RasulNya.

Dek maulid ko memang dianggap sebagai bagian dari agama, tantu harus ado pulo ayat di Al-Qur'an atau contoh dari Rasulullah sallallaahu 'alayhi wa sallam.

Masalahnyo kini, alun ado nash-nash shahih bahwa Rasulullah pernah merayakan Ulang Tahunnyo (12 Rabiul Awwal).

Jadi, secara logika sederhananyo, tantu kito nuruik bahwa klo memang iyo ndak ado, ndak paralu awak maado-adokan.

Ambo pernah baco:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".


2010/2/26 Bujang Pono <bujan...@ymail.com>
Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada.

sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..

Salam
BP

--- Pada Kam, 25/2/10, ksuh...@yahoo.com <ksuh...@yahoo.com> menulis:

Dari: ksuh...@yahoo.com <ksuh...@yahoo.com>
Judul: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
Kepada: "Sma" <SMA...@yahoogroups.com>, "Rantau" <Rant...@googlegroups.com>
Tanggal: Kamis, 25 Februari, 2010, 11:30 AM

Esok kita memepringati Maulud Nabi Muhammad
Saya teriingat sahabat lama saya Ndirsyah hosen
Ngn saya sajikan tuliisannya
[Hikmah Maulid Nabi] Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam


oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wa sahbihi wasallim

Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!"

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"
Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintainya
Powered by Telkomsel BlackBerry®


--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe


Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

andre suchitra

unread,
Feb 27, 2010, 1:59:24 AM2/27/10
to rant...@googlegroups.com

Sanak Ridha,

nio nanyo ciek.

Jadi kito bisa memakai kaidah keterhalangan pada masa Nabi gitu yo utk membedakan apakah itu bidah atau muamalah biasa?

Soalnyo iko tapikian taruih.

2010/2/26 Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>
--

Ahmad Ridha

unread,
Feb 27, 2010, 9:35:08 PM2/27/10
to rant...@googlegroups.com
2010/2/27 andre suchitra <89.a...@gmail.com>:

> nio nanyo ciek.
> Jadi kito bisa memakai kaidah keterhalangan pada masa Nabi gitu yo utk
> membedakan apakah itu bidah atau muamalah biasa?
> Soalnyo iko tapikian taruih.
>

Sanak Andre,

Ibnu Katsir dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala (yang artinya):

"Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Kalau
sekiranya dia (Al Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka
tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak
mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: "Ini adalah
dusta yang lama"." (QS. al-Ahqaf 46.11)

juga menyinggung posisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah terhadap setiap
perbuatan dan pendapat (dalam urusan agama) yang tidak tetap (shahih)
dari shahabat bahwa itu adalah bid'ah, kalau sekiranya hal itu adalah
kebaikan, mereka akan mendahului kita dalam mengerjakannya, karena
mereka tidak meninggalkan sesuatu dari kebaikan; mereka akan bersegera
mengerjakannya. [Terjemahan bebas karena khawatir jadi membingungkan;
CMIIW]

Oleh karena itu, adalah hal yang aneh jika ada suatu amal shalih yang
mampu dikerjakan di masa itu namun tidak ada yang mengerjakan atau
setidaknya mengungkapkan keinginan itu.

Allahu Ta'ala a'lam.

--

Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)


وأما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة: هو
بدعة؛ لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه، لأنهم
لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها

Ryan Firdaus

unread,
Feb 27, 2010, 11:51:58 PM2/27/10
to rant...@googlegroups.com
assalamualaikum wr.wb
 
sanak Al Haqir, Ahmad ridha, Taufiqurrasyid, Ahmad Iqbal, dan lain2 yg di rahmati Allah...setelah ambo baco keseluruhan koment mengenai sambutan Maulidurrasul ko...sampai yg terakhir amo baco dari sanak Ahmad Ridha yg di tulis jam 10:35:08 WMsia...
 
kesimpulan ambo, selain masaalah ko furu'iyah..sabanta lai nyo jadi polemik nan ndak ado kesudahan..wal hal puluhan tahun nan lalu lah kalua buku taba2 nan mengandungi polemik antaro Ulam wakil kaum Mudo Vs Ulama kaum Tuo...jan mubazirkan tanago jo pitih untuak ma ulangi polemik ko...ndak kan ado gai penghujungnyo..picayo lah sanak2 sekalian...
 
sabanta tadi Mak Ngah lah manyindia dari subarang lauik...tapi ulamak mudo kito ndak taraso, cumo sanak Alhaqir nan agak capek tanggap...
 
sudah-sudah lah tuuuu.....atau mananti Rang Dapua ma agiah lampu kuniang??????
 
sesungguhnya setinggi manapun ilmu yang kita miliki tidak sedikitpun mewakili ilmu yang sebenarnya telah diberikan oleh Allah Ta'ala kepada hamba2 yang di Cintainya...jangan pula nanti karena sesuatu amalan yang belum tentu di terima atau di tolah oleh Allah, mengurangi rasa hormat kita kepada para Ulama terdahulu yang jauh lebih soleh,lebih alim dan lebih zuhud dari pada kita, yang hanya membaca ratusan kitab kuning, berbanding mereka yang hafal ribuan bahkan puluh ribuan hadis......
 
wallahua'lam
ryan 42 ipoh

Sent: Sun, February 28, 2010 10:35:08 AM
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad - DI BERBAGAI NEGARA

sjamsir_sjarif

unread,
Feb 28, 2010, 1:53:57 AM2/28/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamaualaikum warahmaullahi wabarakatuhu,

MakNgah baru baliak dari Musajik SBIA http://sbia.info/site/ di San Jose sato marayokan Maulid Nabi. San Jose ko jaraknyo kiro-kiro sajarak Maninjau jo Bukittinggi (40 miles) dari Musajik MakNgah di Santa Cruz. Jalannyo Hy-17 babelok-belok babahayo pulang baliak, namun MakNgah lai salamat pulang pai, 45 minik salincam, agak kisok manuruik standard.

Di San Jose ado lo MCA http://www.mcabayarea.org/ musajik nan langkok jo sikolanyo sampai-sampai SMA dan pangunjuangnyo labiah banyak dan beragam daerah asa. MakNgah acok mangikuti acara kaduonyo. Tapi nan samalam ko ado duo acara nan batumbuak wakatu samo. MCA maadokan dinner untuak Fundraising Sekolah Granada, SBIA maadokan acara Maulid Nabi.

Pikia-pikia kama ka pai eh, MakNgah putuihkan pai ka SBIA. Baa mangko mantun? Di MCA dinnernyo mambaia, sudah tu awak manyumbang pulo ala kadarnyo. Urang manyumbang basorak saroman urang malelang kue. Di SBIA dinnernyo perai, Makngah alah tahu gulai karinyo lamak.

Badasarkan kaji awak di Lapau nan hangek kini ABS-SBK -- Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah, bagi Makngah interpretasinyo hampia samo jo kaji lamo Urang Awak, nan MakNgah pedekkan IBMB -- Iduik Baraka Mati Bariman. Jadi, badasarkan IBMB ko pai lah MakNgah ka SBIA. Pado mambaia, eloklah perai. Kok indak pahalo nan ka dapek, saindak-indaknyo salero lapeh juo... :)

Sasudah dinner, makanan lamak, kami sumbayang Mugarik. Sabalun sumbayang mugarik ado saurang mambaco-baco "Assalamuialaika ya Habibullah" baulang-ulang jo variasi ungkapan-ungkapan lain. Nan ciek ko lai takana, karano acok diulang-ulangnyo. Salasai sumbayang mugarik pembicara mambari kaji satu jam. Panjang caritonyo. Salasai maagiah kaji, Isya pun tibo, sumbayang jamaah jo Imam Musajik.

Salasai sumbayang Isya sabagian urang muloi tagak, saroman mambuek lingkaran agak marapek ka mihrab. Sabagian urang lah muloi pulang. Imam musajik indak tampak dalam kelompok ko doh. Urang banyak nan tingga tu tagak basamo, MakNgah duduak basanda ka dindiang untuak maobservasi acara.

Sudah tu saurang induak kelompoknyo manyanyi-nyanyi, antah salawat antah apo, tapi tadanganyo babantuak pantun atau syair dalam bahaso Urdhu. Sababian nan lain nan tagak tu, manyimak manggarik-garikan bibia saroman lai sato pulo, tapi suaronyo indak tadanga amek. Sudah tu batuka tukang nyanyinyo, batigo kasadonyo.

[Observasi ko maingekkan parangai Makngah katu mangaji di surau sisuak. Kok mato alah takantuak, anak-anak masih mangaji, awak manggarik-garikan bibia pulo pura-pura maapa kaji, tapi kaji indak luruih lai, dek mato lah takantuak, duduakpun alah maakuak-akuak. :)]

Sudah salasai manyanyi baco-bacoan tu, mareka basalam-salaman, satangah ado nan bapaguik-paguik saroman urang middleeast pulo. MakNgah indak sato doh. Lupo MakNgah tadi, balain jo MCA, SBIA ko jamaahnyo banyak urang India.

MakNgah masih duduak basanda, tacongang-congang juo. Datang kawan lamo mandakeki MakNgah. MakNgah batanyo, Bahaso aa tu nan dinyanyikan? Keceknyo, Urdhu, Campua Arab, Campua Inggirih. Sudah tu MakNgah dibimbiangnyo tagak. Urang lah bapisah salamat jalan. MakNgah pulang ka Santa Kuruih, 55 minik sampai di rumah. Tibo di rumah dibuek postiang laporan ko. Itulah sakadar pancaliakan MakNgah dalam bapartisipasi Maulid tahun ko.

Salam,
MakNgah
Sjamsir Sjarif
di Tapi Riak nan Badabua
http://www.santacruzsentinel.com/localnews/ci_12030675

andre suchitra

unread,
Feb 28, 2010, 12:00:30 PM2/28/10
to rant...@googlegroups.com
Ambo picayo diskusi-diskusi ko sehat sanak Ryan.
Sanak Alhaqir dengan pendapat beliau, sanak Ridha dengan pendapat beliau dan argumen2nyo.

Anggap sajo iko sebagai bahan renungan.. insha allah mungkin sanak2 bisa maambiak banang merahnyo. yang ma pilihan tantulah ditangan sanak2 sadonyo.

Insha Allah bisa jadi sajo mungkin ado sanak-sanak kito nan alun tapikian atau mgkn alun tau bahwa "polemik antaro Ulam wakil kaum Mudo Vs Ulama kaum Tuo" nan sanak Ryan sabuik an ko alah pernah tajadi sabalunnyo. Mudah2an se jo diskusi ko jadi tahu toh, bahwa Maulid Nabi ko ado macam2 pendapat tentangnyo.





2010/2/28 Ryan Firdaus <ryanfi...@yahoo.com>

Haqir WalFaqir

unread,
Feb 28, 2010, 12:54:49 PM2/28/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum Dunsanak Sapalanta..
 
Iko sakadar ingatan untuak kito basamo, tarutamo ambo nan punyo diri..
 
MUJADALAH DAN MUBAHASAH

Biasanya bermujadalah susah menjaga ego dan megah
Suka berbahas-bahas biasanya menebalkan ego,
riyak dan mencari nama
Selalunya di dalam bermujadalah dan bermubahasah
Ingin mahu menang, tidak mahu rasa kalah
Payah menerima kebenaran
Sekalipun terpaksa menegakkan benang basah
Begitu juga di dalam majlis forum
Payah hendak mengelak daripada menunjuk-nunjuk
dan bermegah-megah
Malu rasanya kalau tidak pandai berhujah
Berbunga hati jika pandai berhujah dan bercakap petah
Hadirin yang bertanya pula, menyoal kerana megah
Agar orang ramai menganggap dia
orang yang pandai mencungkil masalah
Kalau panel tidak pandai menjawab, itulah yang dia hendak
Supaya orang ramai menganggap dia lebih pandai
dari ahli panel atau penceramah
Apa sudah jadi majlis forum dan ceramah?
Penceramah atau ahli panel dengan para pendengar
Sama-sama hatinya rosak dan punah
Masing-masing tidak dapat menjaga dirinya
Daripada bermegah-megah dan riyak
Kerana itulah di dalam Islam
Bermujadalah dan bermubahasah sangat ditegah
Lantaran dari sinilah timbulnya riyak, megah,
glamour, cari nama dan berpecah-belah
Kerana itulah di dalam kitab dikatakan
“Tidak akan rosak sesuatu kaum itu
Kecuali apabila didatangkan mujadalah”
Mujadalah dan mubahasah bukan mendatangkan
kebaikan pada umat
Tapi dari sinilah akan suburnya mazmumah yang ditegah
Tapi malangnya para ulama
Mujadalah dan mubahasah telah dijadikan budaya
Budaya yang mengajak umat Islam berlalai-lalai
dan bermegah-megah
Di dalam Islam, yang disuruh bermesyuarat dan muzakarah
Itu pun ada mempunyai disiplin, adab dan tata tertib
Agar ia berjalan dengan penuh ukhwah
Agar jadi ibadah

8.11.1999 Menjelang Tidur



From: andre suchitra <89.a...@gmail.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Monday, March 1, 2010 1:00:30

Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad - DI BERBAGAI NEGARA

Ambo picayo diskusi-diskusi ko sehat sanak Ryan.
Sanak Alhaqir dengan pendapat beliau, sanak Ridha dengan pendapat beliau dan argumen2nyo.

Anggap sajo iko sebagai bahan renungan.. insha allah mungkin sanak2 bisa maambiak banang merahnyo. yang ma pilihan tantulah ditangan sanak2 sadonyo.

Insha Allah bisa jadi sajo mungkin ado sanak-sanak kito nan alun tapikian atau mgkn alun tau bahwa "polemik antaro Ulam wakil kaum Mudo Vs Ulama kaum Tuo" nan sanak Ryan sabuik an ko alah pernah tajadi sabalunnyo. Mudah2an se jo diskusi ko jadi tahu toh, bahwa Maulid Nabi ko ado macam2 pendapat tentangnyo.





2010/2/28 Ryan Firdaus <ryanfi...@yahoo.com>
assalamualaikum wr.wb
 
sanak Al Haqir, Ahmad ridha, Taufiqurrasyid, Ahmad Iqbal, dan lain2 yg di rahmati Allah...setelah ambo baco keseluruhan koment mengenai sambutan Maulidurrasul ko...sampai yg terakhir amo baco dari sanak Ahmad Ridha yg di tulis jam 10:35:08 WMsia...
 
kesimpulan ambo, selain masaalah ko furu'iyah..sabanta lai nyo jadi polemik nan ndak ado kesudahan..wal hal puluhan tahun nan lalu lah kalua buku taba2 nan mengandungi polemik antaro Ulam wakil kaum Mudo Vs Ulama kaum Tuo...jan mubazirkan tanago jo pitih untuak ma ulangi polemik ko...ndak kan ado gai penghujungnyo..picayo lah sanak2 sekalian...
 
sabanta tadi Mak Ngah lah manyindia dari subarang lauik...tapi ulamak mudo kito ndak taraso, cumo sanak Alhaqir nan agak capek tanggap...
 
sudah-sudah lah tuuuu.....atau mananti Rang Dapua ma agiah lampu kuniang??????
 
sesungguhnya setinggi manapun ilmu yang kita miliki tidak sedikitpun mewakili ilmu yang sebenarnya telah diberikan oleh Allah Ta'ala kepada hamba2 yang di Cintainya...jangan pula nanti karena sesuatu amalan yang belum tentu di terima atau di tolah oleh Allah, mengurangi rasa hormat kita kepada para Ulama terdahulu yang jauh lebih soleh,lebih alim dan lebih zuhud dari pada kita, yang hanya membaca ratusan kitab kuning, berbanding mereka yang hafal ribuan bahkan puluh ribuan hadis......
 
wallahua'lam
ryan 42 ipoh

 
 

Ibnu Mas'ud

unread,
Mar 1, 2010, 2:59:21 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Setuju pak Bujang. Rasulullah, sahabat, tabi'in dan para ulama yang dakek jo zaman Rasulullah dan sahabat indak ado malakukan. kito hanyo malakukan tradisi nan indak jaleh. Kalau kito ingin mengenang rasulullah mari kito serius amalkan sunnah baliau.

Wassalam,


Ibnu

2010/2/26 Bujang Pono <bujan...@ymail.com>
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

--

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 1, 2010, 3:45:30 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Dek karano urang kampuang ambo, selalu bahari rayo disetiap tanggal merah Islam, dan tantu iko bagi sebagian sanak awak tamasuak bid’ah, dan kito alah maklum, bid'ah2 nan acok dikamukokan kini. Dulu waktu ketek2 acok maikui-i mamak ambo nan suko ma agiah kuliah subuah disurau2, pernah ambo dangan Bid’ah Hasanah, diantari bid'ah yang lain, ba'a manuruik Pak Ibnu dan pak Bujang Pono tentang pengertian Bid’ah Hasanah ko?

Tentang hal diateh, dalam HR Muslim "Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”

Mohon pencerahan dari sanak-sanak perihal jenis bid'ah diateh dan juo tentang hadis tersebut diatas.

Wassalam
Nofend/34M CKR

On Behalf Of Ibnu Mas'ud
Sent: Monday, March 01, 2010 2:59 PM

Setuju pak Bujang. Rasulullah, sahabat, tabi'in dan para ulama yang dakek jo zaman Rasulullah dan sahabat indak ado malakukan. kito hanyo malakukan tradisi nan indak jaleh. Kalau kito ingin mengenang rasulullah mari kito serius amalkan sunnah baliau.

Wassalam,

Ibnu

2010/2/26 Bujang Pono <bujan...@ymail.com>

Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada.

sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..

Salam
BP
============= DIKAREK DISIKO ==================

Sri Yansen

unread,
Mar 1, 2010, 4:02:48 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com

PERINGATAN MAULID NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MENURUT SYARI'AT ISLAM

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/2586/slash/0

Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah menyempurnakan agama
Islam untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjadikan Sunnah
Rasul-Nya sebagai sebaik-baik petunjuk yang diikuti. Semoga shalawat
serta salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
keluarga, dan para Shahabatnya.

Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama Islam bagi umatnya;
menyempurnakan nikmat-Nya bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak
mewafatkan Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali setelah
beliau selesai menyampaikan segala sesuatu yang disyari’atkan Allah
Azza wa Jalla dengan jelas, baik berupa perkataan maupun perbuatan;
juga setelah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa
setiap hal baru yang diada-adakan oleh manusia dan disandarkan kepada
agama Islam, baik berupa i’tiqâd (keyakinan), perkataan maupun
perbuatan semua itu adalah bid’ah dan tertolak, walaupun maksudnya
baik. Semua ini karena bid’ah merupakan penambahan terhadap ajaran
agama dan mensyari’atkan sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu
wa Ta'ala serta merupakan tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh
Allah Azza wa Jalla dari golongan Yahudi dan Nasrani. Selain itu,
melakukan bid’ah berarti pelecehan terhadap agama Islam dan
menganggapnya tidak sempurna. Keyakinan ini mengandung kerusakan yang
besar dan bertentangan dengan firman Allah Azza wa jalla dan sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang memperingatkan terhadap
bid’ah.

Mengada-ada hal baru dalam agama, seperti peringatan Maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, berarti beranggapan bahwa Allah
Subhanahu wa Ta'ala belum menyempurnakan agama-Nya bagi umat ini, atau
beranggapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam belum menyampaikan
segala sesuatu yang mesti dikerjakan umatnya. Tidak diragukan lagi,
anggapan seperti ini mengandung bahaya besar lantaran menentang Allah
dan Rasul-Nya. Karena Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama
ini bagi hamba-Nya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah Nabi paling mulia dan terakhir. Nabi yang paling sempurna
penyampaian dan ketulusannya. Seandainya Peringatan Maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam itu benar-benar termasuk ajaran agama
yang diridhai Allah Azza wa Jalla, niscaya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah menerangkannya kepada umatnya; Atau paling
tidak, pasti telah dikerjakan oleh para Shahabatnya. Tetapi, semua itu
tidak terjadi. Dengan demikian, jelaslah hal itu bukan bagian dari
ajaran Islam dan termasuk perkara yang diada-adakan (bid’ah) dan
termasuk tasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam
hari-hari besar mereka

Diantara hal aneh dan mengherankan ialah banyak orang yang giat dan
bersemangat menghadiri acara-acara yang bid’ah, bahkan membelanya,
sementara mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang Allah Azza wa
Jalla syari’atkan seperti shalat wajib, shalat Jum’at, dan shalat
berjama’ah bahkan sebagian mereka terbiasa dengan perbuatan maksiat dan
dosa-dosa besar. Mereka sadar bahwa mereka telah melakukan kemungkaran
yang besar. Ini semua dikarenakan oleh lemahnya iman, dangkalnya
pemikiran, serta banyaknya noda yang mengotori hati.

Lebih aneh lagi, sebagian pendukung maulid mengklaim bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam datang menghadiri acara tersebut. Karena
itu, mereka berdiri untuk menghormati dan menyambutnya. Ini merupakan
kebatilan yang paling besar dan kebodohan yang amat buruk. Karena
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari
kuburnya sebelum hari Kiamat, tidak berkomunikasi dengan seorang
manusia pun, dan tidak menghadiri pertemuan-pertemuan umatnya sama
sekali.

Mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah dengan
menyelenggarakan acara-acara perayaan maulid semacam itu, akan tetapi
dengan mentaati perintahnya, membenarkan semua yang dikabarkannya,
menjauhi segala yang dilarang dan diperingatkannya, dan tidak beribadah
kepada Allah Azza wa Jalla kecuali dengan yang beliau syari’atkan.

A. ORANG YANG PERTAMA KALI MENGADAKAN MAULID NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Peringatan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bid’ah yang
mungkar. Kelompok yang pertama kali mengadakannya adalah Bani ‘Ubaid
al-Qaddah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah pada
abad ke- 4 Hijriyah. Mereka menisbatkan diri kepada putra ‘Ali bin Abi
Thalib Radhiyallahu 'anhu. Padahal mereka adalah pencetus aliran
kebatinan. Nenek moyang mereka adalah Ibnu Dishan yang dikenal dengan
al-Qaddah, salah seorang pendiri aliran Bathiniyah di Irak.[1]

Para ulama ummat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa
mereka adalah orang-orang munafik zindiq, yang menampakkan Islam dan
menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi bahwa mereka
orang-orang beriman, berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak
diketahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keimanan
mereka, sebaliknya banyak hal yang menunjukkan atas kemunafikan dan
kezindikan mereka.[2]

B. BEBERAPA ALASAN DILARANGNYA MEMPERINGATI MAULID NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Para ulama dahulu dan sekarang telah menjelaskan kebathilan bid’ah
memperingati Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan membantah
para pendukungnya. Memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam itu adalah bid’ah dan haram berdasarkan alasan-alasan
berikut:

Pertama: Peringatan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
bid’ah yang dibuat-buat dalam agama ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala
tidak menurunkan keterangan sedikit pun dan ilmu tentang itu. Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkannya baik
melalui lisan, perbuatan maupun ketetapan beliau. Padahal Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah...” [al-Hasyr/59:7]

Juga berfirman yang maknanya : “Sesungguhnya telah ada pada diri
Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah k dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak
mengingat Allah Azza wa Jalla.” [al-Ahzâb/33: 21]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِـيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa yang mengadakan suatu yang baru yang tidak ada dalam urusan agama kami, maka amalan itu tertolak".

Dalam riwayat Imam Muslim, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak".

Kedua: Khulafa-ur Rasyidîn dan para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam lainnya tidak pernah mengadakan peringatan Maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak pernah mengajak untuk
melakukannya. Padahal mereka adalah sebaik-baik umat ini setelah Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda :

...فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْـخُلَـفَاءِ الْـمَهْدِيِّيْنَ
الرَّاشِدِيْنَ ، تَـمَسَّكُوْا بِـهَـا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ ؛ فَإِنَّ
كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

”…Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah
Khulafâ-ur Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan
gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang
diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan
adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.” [3]

Peringatan maulid tidak pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam dan para Shahabatnya. Seandainya perbuatan itu baik niscaya
mereka telah lebih dahulu melakukannya. al-Hâfizh Ibnu Katsîr t
berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa setiap perkataan
dan perbuatan yang tidak ada dasarnya dari Shahabat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam adalah bid’ah. Karena bila hal itu baik, niscaya
mereka akan lebih dahulu melakukannya daripada kita. Sebab mereka tidak
pernah mengabaikan satu kebaikan pun kecuali mereka telah lebih dahulu
melaksanakannya.”[4]

Ketiga: Peringatan hari kelahiran (ulang tahun/maulid) adalah kebiasaan
orang-orang sesat dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.
Karena yang pertama kali menciptakan kebiasaan tersebut adalah para
penguasa generasi Fathimiyah Ubaidiyah, sebagaimana keterangan diatas.
Mereka sebenarnya berasal dari kalangan Yahudi, bahkan ada pendapat
mereka berasal dari kalangan Majusi. Bisa jadi, mereka adalah
orang-orang Atheis.[5]

Orang yang pertama menciptakannya adalah al-Mu’iz Lidînillah al-‘Ubaidi
al-Maghribi yang keluar dari Maroko menuju Mesir pada bulan Ramadhan
tahun 362 H.[6]

Apakah layak bagi orang Muslim berakal untuk mengikuti Rafidhah dan
mengikuti kebiasaan mereka serta menyelisihi petunjuk Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam ?

Keempat.: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku
cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…”
[al-Mâ-idah/5:3]

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini
merupakan nikmat AllahSubhanahu wa Ta'alal terbesar yang diberikan
kepada umat ini, tatkala Allah Azza wa Jalla menyempurnakan agama
mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula
Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau
sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan
jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak
ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali
yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan
tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali.
Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : وَتَـمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ
صِدْقًا وَّعَدْلاًً “Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur-an),
(sebagai kalimat) yang benar dan adil ...” [al-An’âm/6:115]

Maksudnya, benar dalam kabar yang disampaikan dan adil dalam seluruh
perintah dan larangan. Setelah agama disempurnakan bagi mereka, maka
sempurnalah nikmat yang diberikan kepada mereka.

Maka ridhailah Islam untuk diri kalian, karena ia agama yang dicintai
dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karenanya Allah Azza wa Jalla
mengutus Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling utama dan
menurunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur`an).

Mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (al-Mâ-idah/5:3), ‘Ali bin
Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu 'anhuma, “Maksudnya
adalah Islam. Allah Azza wa Jalla telah mengabarkan kepada Nabi-Nya
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum Mukminin bahwa Dia telah
menyempurnakan keimanan untuk mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan
penambahan sama sekali. Dan Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan
Islam sehingga Allah Azza wa Jalla tidak akan pernah menguranginya,
bahkan telah meridhainya sehingga Allah Azza wa Jalla tidak akan
memurkainya selamanya.”[7]

Orang yang melaksanakan Sunnah-Sunnah dan meninggalkan bid’ah-bid’ah
-termasuk bid’ah Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam- maka mereka
menjadi asing di masyarakat, pendukung perayaan ini. Padahal Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dengan sangat jelas.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan satu jalan pun
yang dapat menghantarkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan
telah beliau jelaskan kepada umatnya. Kalau peringatan Maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam itu termasuk ajaran agama yang diridhai
Allah Azza wa Jalla, tentu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
menjelaskannya atau melakukannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda :

مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ
أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَـهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا
يَعْلَمُهُ لَـهُمْ

"Tidaklah Allah Azza wa Jalla mengutus seorang Nabi, kecuali wajib
baginya untuk menunjukkan kebaikan yang diketahuinya kepada ummatnya
dan memperingatkan mereka terhadap keburukan yang diketahuinya kepada
mereka." [8]

Kelima: Dengan mengadakan bid’ah-bid’ah semacam itu, timbul kesan bahwa
Allah Azza wa Jalla belum menyempurnakan agama ini, sehingga perlu
dibuat ibadah lain untuk menyempurnakannya. Juga menimbulkan kesan,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam belum tuntas menyampaikan
agama ini kepada umatnya sehingga kalangan ahli bid’ah merasa perlu
menciptakan hal baru dalam agama ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya.

Keenam: Dalam Islam tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah adalah sesat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

 كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka" [9]

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata.

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

"Barangsiapa menganggap baik sesuatu (ibadah) maka ia telah membuat satu syari’at" [10]

Diantara kaidah ahli ilmu yang telah ma’ruf ialah bahwa “Perbuatan baik
ialah yang dipandang baik oleh syari’at dan perbuatan buruk ialah apa
yang dipandang buruk oleh syari’at.”[11]

Syaikh Hâfizh bin Ahmad bin ‘Ali al-Hakami rahimahullah (wafat th. 1377
H) berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa semua bid’ah itu tertolak tidak
ada sedikitpun yang diterima; Semuanya jelek tidak ada kebaikan
padanya; semuanya sesat tidak ada petunjuk sedikitpun di dalamnya;
Semuanya adalah dosa tidak berpahala; Semuanya batil tidak ada
kebenaran di dalamnya. Dan makna bid’ah ialah syari’at yang tidak
diizinkan Allah Azza wa Jalla dan tidak termasuk urusan (agama) Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.”[12]

Para ulama Islam dan para peneliti kaum Muslimin secara terus-menerus
mengingkari budaya perayaan maulid tersebut dan mengingkarinya demi
mengamalkan nash-nash dari Kitabullah dan Sunnah Rasul yang memang
memperingatkan bahaya bid’ah dalam Islam, memerintahkan agar mengikuti
Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta memperingatkan juga
agar tidak menyelisihi beliau dalam ucapan, perbuatan, dan amalan.

Ketujuh: Memperingati kelahiran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak membuktikan kecintaan terhadap Rasululah Shallallahu 'alaihi wa
sallam karena kecintaan itu hanya dapat dibuktikan dengan mengikuti
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, mengamalkan Sunnah beliau, dan
mentaati beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah Azza wa Jalla, maka
ikutilah aku, niscaya Allah Azza wa Jalla mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu.’ Dan Allah Azza wa jalla Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
[Ali Imrân:31]

al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini
sebagai pemutus hukum atas setiap orang yang mengaku mencintai Allah
Subhanahu wa Ta'ala tetapi tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia dusta dalam pengakuannya
mencintai Allah Azza wa Jalla sampai ia mengikuti syari’at dan agama
yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam setiap
perkataan, perbuatan, dan keadaannya. Disebutkan dalam kitab
ash-Shahîh, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

 مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak.”[13]

Oleh karena itu, maksud firman Allah Azza wa Jalla yang maknya :
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah Azza wa Jalla, maka
ikutilah aku. Niscaya Allah Azza wa Jalla mengasihimu” adalah kalian
akan mendapatkan sesuatu yang melebihi kecintaan kalian kepada-Nya,
yaitu kecintaan-Nya kepada kalian. Ini lebih besar daripada kecintaan
kalian kepada-Nya. Seperti yang dikatakan ulama ahli hikmah, “Yang jadi
ukuran bukanlah jika engkau mencintai, tetapi yang jadi ukuran adalah
jika engkau dicintai.” al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ada
suatu kaum yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, lalu Allah Azza
wa Jalla menguji mereka melalui ayat ini ...”

Kemudian firman Allah Azza wa Jalla yang maknanya, “Dan mengampuni
dosa-dosamu.’ Dan Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Maksudnya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, kalian akan memperoleh pengampunan, berkat keberkahan
utusan-Nya.”

Kedelapan: Memperingati Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
menjadikannya sebagai perayaan berarti menyerupai orang-orang Yahudi
dan Nashrani dalam hari raya mereka, padahal kita telah dilarang untuk
menyerupai mereka dan mengikuti gaya hidup mereka. [15]

Kesembilan: Orang yang berakal tidak mudah terperdaya dengan banyaknya
orang yang memperingati maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
karena tolok ukur kebenaran itu bukan jumlah orang yang mengamalkannya,
namun berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman
Salafush Shâlih.

Kesepuluh: Berdasarkan kaidah syariat yaitu mengembalikan perkara yang
diperselisihkan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi
wa sallam.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

" … Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu
beriman kepada Allah k dan hari Kemudian" [an-Nisâ'/ 4:59]

Demikian juga dengan firman-Nya yang bermakna: Tentang sesuatu apa pun
yang kamu berselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah Azza
wa Jalla.” [asy-Syûra/42: 10]

Orang yang mengembalikan persoalan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam ini kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dia akan mendapati
bahwa Allah Azza wa Jalla memerintahkan manusia agar mengikuti
Nabi-Nya. Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah
memerintahkan ataupun memperingati kelahiran beliau dan beliau sendiri,
juga para sahabat beliau. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
peringatan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah berasal
dari Islam, tetapi merupakan perbuatan bid’ah.

Kesebelas: Yang disyariatkan bagi seorang Muslim pada hari Senin adalah
berpuasa, bila ia mau. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
ditanya tentang puasa pada hari Senin, beliau bersabda, “Itu adalah
hari kelahirkanku, hari aku diutus sebagai nabi, serta hari aku
diberikan wahyu.” [16]

Yang disyariatkan adalah meneladani beliau, yaitu berpuasa pada hari
Senin, bukan merayakan hari kelahiran beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam.

Kedua belas: Perayaan hari kelahiran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
merupakan perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan/melampaui batas) terhadap
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya melarang berbuat ghuluw.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.

"Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama,
karena sesungguhnya sikap ghuluw dalam agama ini telah membinasakan
orang-orang sebelum kalian.” [17]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak suka disanjung melebihi dari
ssanjungan yang Allah berikan dan ridhai. Tetapi banyak orang melanggar
larangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut, sampai-sampai ada
yang berdo’a dan meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan
namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta
kecuali kepada Allah. Sebagian dari perbuatan-perbuatan ini dilakukan
ketika peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu 'anhu berkata, “Ketika aku
pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid
(tuan/penguasa) kami!” Spontan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab:

اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Sayyid (tuan/penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”

Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan
paling agung kebaikannya.” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengatakan :

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.

"Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau
seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret
oleh syaithan" [18]

Kebanyakan qashidah dan puji-pujian yang dinyanyikan oleh yang
melaksanakan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam itu tidak lepas
sikap berlebih-lebihan dan kultus individu terhadap Rasulullah bahkan
terkadang mengandung ucapan-ucapan syirik. Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:

لَا تُطْرُوْنِـيْ كَمَـا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ ،
فَإِنَّمَـا أَنَا عَبْدُهُ ، فَقُوْلُوْا : عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ.

"Janganlah kalian mengkultuskan diriku sebagaimana orang-orang Nashrani
mengkultuskan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya" [19]

Maksudnya, janganlah kalian memujiku dengan cara bathil dan janganlah
kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana yang telah
dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihissalam. Sehingga
mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku
sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku. Katakanlah: “Hamba Allah
dan Rasul (utusan)-Nya.”[20]

Ketiga belas: Berbagai perbuatan syirik, bid’ah, dan haram yang terjadi
dalam peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

Dalam perayaan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sering terjadi
hal-hal yang diharamkan, seperti kesyirikan, bid’ah, bercampur baurnya
kaum laki-laki dan wanita, menggunakan nyanyian dan alat musik, rokok,
dan lainnya. Bahkan sering terjadi perbuatan syirik Akbar (besar),
seperti istigâtsah kepada Rasulullah n atau para wali, penghinaan
terhadap Kitabullah, di antaranya dengan merokok pada saat majelis
Al-Qur’an, sehingga terjadilah kemubadziran dan membuang-buang harta.
Sering juga diadakan dzikir-dzikir yang menyimpang di masjid-masjid
pada acara Maulid Nabi tersebut dengan suara keras diiringi tepuk
tangan yang tak kalah kerasnya dari pemimpin dzikirnya. Semuanya itu
adalah perbuatan yang tidak disyariatkan berdasarkan kesepakatan para
ulama yang berpegang teguh kepada kebenaran.[21]

Keempat belas: Dalam peringatan maulid terdapat keyakinan batil bahwa
ruh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadiri acara-cara
maulid yang mereka adakan.

Dengan alasan itu mereka berdiri dengan mengucapkan selamat dan
menyambut kedatangan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itu jelas
perbuatan paling bathil dan paling buruk sekali. Karena Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan keluar dari kubur beliau
sebelum hari kiamat dan tidak akan berhubungan dengan seseorang (dalam
keadaan sadar), tidak pula hadir dalam pertemuan-pertemuan mereka.
Beliau akan tetap berada dalam kubur beliau hingga hari Kiamat. Ruh
beliau berada di ‘Illiyyin yang tertinggi di sisi Rabb beliau dalam
Dârul Karâmah.[22]

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya engkau
(Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula).” (Qs az-Zumar/39:30).
Dan dalam ayat yang lain, Allah k berfirman yang maknanya, “Kemudian,
sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu)
di hari Kiamat.” [al-Mukminûn/23: 15-16].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

"Aku adalah penghulu manusia di hari Kiamat nanti dan orang yang
pertama kali keluar dari alam kubur, serta orang yang pertama kali
memberi syafa’at dan yang menyampaikan syafa’at"[23]

Ayat dan hadits di atas serta berbagai ayat dan hadits senada lainnya
menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang
yang sudah mati lainnya akan keluar dari kubur mereka pada hari Kiamat
nanti. al-Allâmah Abdul Aziz bin Abdullâh bin Bâz rahimahullah
menyatakan, “Ini adalah pendapat yang sudah disepakati oleh para ulama
kaum Muslimin, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka.” [24]

Sebagai tambahan, ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masih
hidup, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mau dihormati dengan
berdiri. Lalu bagaimana bisa mereka menghormati beliau n dengan cara
berdiri setelah beliau wafat.

C. HAKIKAT MENCINTAI RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah orang yang menampakkan tanda-tanda tertentu pada dirinya.
Diantaranya adalah:
1). Mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, mentauhidkan Allah
Azza wa Jalla, menjauhi syirik, mengerjakan Sunnahnya, mengikuti
perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
beradab dengan adabnya.
2). Lebih mendahulukan perintah dan syari’at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam daripada hawa nafsu dan keinginan dirinya.
3). Banyak bershalawat untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai dengan Sunnahnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan para malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Wahai orang-orang yang
beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi k dan ucapkanlah salam dengan
penuh penghormatan kepadanya" [al-Ahzâb/33:56]

4). Mencintai orang yang dicintai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
baik keluarga maupun Shahabatnya yang Muhajirin dan Anshar serta
memusuhi orang-orang yang memusuhi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan membenci orang yang membencinya.
5). Mencintai al-Qur’ân yang diturunkan kepada beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam, mencintai Sunnahnya, dan mengetahui
batas-batasnya.[25]

D. FATWA PARA ULAMA TENTANG BID’AHNYA PERAYAAN MAULID NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Berikut ini adalah beberapa fatwa para ulama yang menyatakan bahwa
peringatan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bid’ah
dhalâlah.

1. al-‘Allâmah asy-Syaikh Tâjuddin al-Fakihani rahimahullah (wafat th. 734 H) berkata :
“Saya tidak mengetahui dasar dari peringatan Maulid ini, baik dari
al-Qur-an, Sunnah, dan tidak pernah dinukil pengamalan salah seorang
ulama umat yang diikuti dalam agama dan berpegang teguh dengan
atsar-atsar generasi yang telah lalu. Bahkan perayaan (maulid) tersebut
adalah bid’ah yang diada-adakan oleh para pengekor hawa nafsu...”[26]

2. Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
“Menjadikan suatu hari raya selain dari hari raya yang disyari’atkan,
seperti sebagian malam di bulan Rabi’ul Awwal yang disebut dengan malam
Maulid, atau sebagian malam di bulan Rajab, atau hari ke-18 di bulan
Dzul Hijjah, atau hari Jum’at pertama di bulan Rajab, atau hari ke-8
bulan Syawwal yang dinamakan ‘îdul abrâr oleh orang-orang bodoh, maka
semua itu termasuk bid’ah yang tidak pernah dianjurkan dan tidak pernah
dilakukan oleh para ulama Salaf. Wallâhu a’lam.”[27]

3. al-‘Allâmah Ibnul Hajj rahimahullah (wafat th. 737) menjelaskan
tentang peringatan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
“...Hal itu adalah tambahan dalam agama, bukan perbuatan generasi
Salaf. Mengikuti Salaf, lebih utama bahkan lebih wajib daripada
menambahkan berbagai niat (tujuan) yang menyelisihi apa yang pernah
dilakukan Salafush Shalih. Sebab, Salafush Shalih adalah manusia yang
paling mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
(paling) mengagungkan beliau dan Sunnahnya Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Mereka lebih dahulu bersegera kepada hal itu, namun tidak
pernah dinukil dari salah seorang dari mereka bahwa mereka melakukan
maulid. Dan kita adalah pengikut mereka, maka telah mencukupi kita apa
saja yang telah mencukupi mereka.”[28]

4. Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullâh berkata:
“Tidak diperbolehkan melaksanakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam dan peringatan hari kelahiran selain beliau karena
hal itu merupakan bid’ah dalam agama. Sebab, Rasul Shallallahu 'alaihi
wa sallam tidak pernah melakukannya, tidak juga para Khulâfâ-ur
Râsyidîn, dan tidak pula para Shahabat lainnya, dan tidak juga
dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada
generasi-generasi yang diutamakan. Padahal mereka adalah manusia yang
paling mengetahui Sunnah, paling mencintai Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, dan paling mengikuti syari’at dibandingkan
orang-orang setelah mereka...”[29]

5.  Syaikh Hamûd bin ‘Abdillah at-Tuwaijiri rahimahullah berkata:
“...Dan hendaklah juga diketahui bahwa memperingati malam Maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai peringatan
tidak termasuk petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tetapi ia adalah perbuatan yang diada-adakan yang dibuat setelah zaman
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah berlalu sekitar enam ratus
tahun. Oleh karena itu, memperingati perayaan yang diada-adakan ini
masuk dalam larangan keras yang Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam
firman-Nya,[30]

“...Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut
akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” [an-Nûr/24:63]

Jika dalam acara maulid yang diada-adakan ini ada sedikit saja kebaikan maka para Shahabat telah bergegas melakukannya...”

6. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Pertama: bahwa malam kelahiran Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak diketahui secara pasti, bahkan sebagian ahli sejarah menetapkan
bahwa malam kelahiran Rasul adalah malam ke-9 Rabi’ul Awwal, bukan
malam ke-12. Dengan demikian, menjadikannya malam dua belas bulan
Rabi’ul Awwal tidak memiliki dasar dari sudut pandang sejarah.

Kedua: dari sudut pandang syari’at maka peringatan ini tidak memiliki
dasar. Karena jika ia termasuk syari’at Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melakukannya atau
menyampaikannya kepada umatnya. Seandainya beliau telah melakukannya
atau telah menyampaikannya maka hal itu pasti terjaga karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Kami-lah
yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.”
[al-Hijr/15:9]

Karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi dari hal itu maka dapat
diketahuilah bahwa Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak
termasuk agama Allah. Jika tidak termasuk agama Allah maka kita tidak
boleh beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Apabila
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meletakkan jalan tertentu agar dapat
sampai kepada-Nya yaitu apa yang dibawa Rasul Shallallahu 'alaihi wa
sallam, maka bagaimana bisa kita selaku hamba Allah diperbolehkan untuk
membuat jalan sendiri yang mengantarkan kepada Allah ? Ini merupakan
kejahatan terhadap hak Allah Azza wa Jalla, yaitu mensyari’atkan dalam
agama Allah sesuatu yang bukan bagian darinya. Juga hal ini mengandung
pendustaan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya :
“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku
cukupkan nikmat-Ku bagimu…” [al-Mâidah/5: 3]” [31]

7. Syaikh Shâlih bin Fauzân bin ‘Abdullâh al-Fauzan hafizhahullâh berkata:
“Melaksanakan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bid’ah.
Tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak
dari para Khulafâ-ur Râsyidîn, dan tidak juga dari generasi yang
diutamakan bahwa mereka melaksanakan peringatan ini. Padahal mereka
adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan paling semangat melakukan kebaikan. Mereka tidak melakukan
suatu bentuk ketaatan pun kecuali yang disyari’atkan Allah Azza wa
Jalla dan Rasul-Nya sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala, yang maknanya : “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka
terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah...”
[al-Hasyr/59:7]

Maka ketika mereka tidak melakukan peringatan maulid ini, dapat diketahuilah bahwa perbuatan itu adalah bid’ah…

Kesimpulannya bahwa menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk perbuatan bid’ah yang diharamkan
yang tidak memiliki dalil baik dari Kitabullâh maupun dari Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam…”[32]

Demikian uraian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.
Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad n, juga
kepada keluarganya, para Shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik hingga hari Akhir. Dan akhir seruan kami ialah
segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Marâji’ :
1. Tafsîr Ibni Katsîr, cet. Dâr Thayyibah.
2. Majmû Fatâwâ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
3. Iqtidhâ ash-Shirâtil Mustaqîm.
4. al-Madkhal, Imam Ibnul Hajj.
5. Siyar A’lâmin Nubalâ.
6. al-Bâ’its ‘ala Inkâril Bida’ wal Hawâdits.
7. Ma’ârijul Qabûl, Syaikh Hafizh al-Hakami.
8. al-Bida’ fii Madhâril ‘Ibtida’, Syaikh ‘Ali Mahfuzh.
9. Rasâ-il fii Hukmil Ihtifâl bil Maulidin Nabawi.
10. Nûrus Sunnah wa Zhulumaatul Bid’ah, Syaikh Sa’id al-Qahthani.
11. Tanbîhu Ulil Abshâr, Syaikh Shâlih as-Suhaimi.
12. ‘Ilmu Ushûl Bida’, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.
13. al-Bida’ al-Hauliyyah.
14. Majmû Fatâwâ Syaikh ‘Utsaimin.
15. al-Muntaqa min Fatâwâ Syaikh Shâlih Fauzân.
16. Fatâwa al-Lajnah ad-Dâ-imah.
Dan kitab-kitab lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_________
Footnotes
[1]. Lihat al-Bida’ al-Hauliyah (hlm. 137).
[2]. Fadhâ-ih al-Bâthiniyyah (hlm. 37) karya Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah rahimahullahj . Lihat al-Bida’ al-Hauliyah (hlm. 143).
[3]. Shahîh: HR. Ahmad (IV/126-127), Abû Dâwud (no. 4607) dan
at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Dârimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus
Sunnah (I/205), al-Hâkim (I/95), dishahîhkan dan disepakati oleh Imam
adz-Dzahabi. Lihat Irwâ-ul Ghalîl (no. 2455) dari Shahabat al-‘Irbâdh
bin Sariyah.
[4]. Tafsîr Ibni Katsîr (VII/278-279) cet. Dâr Thayyibah
[5]. Lihat Siyar A’lâmin Nubalâ (XV/213)
[6]. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah oleh Ibnu Katsîr (XI/272-273, 345,
XII/267-268, VI/232, XII/ 63, XI/161, XII/13, XII/266). Lihat juga
Siyar A’lâmin Nubalâ oleh adz-Dzahabi (XV/159-215). Dikisahkan bahwa
Raja al-Ubaidiyah yang terakhir adalah al-Adidh Lidînillah. Ia dibunuh
oleh Shalâhuddin al-Ayyûbi th. 564 H. adz-Dzahabi menyatakan :
“Kekuasaan al-Adidh mulai luntur bersamaan dengan masuknya Shalâhuddin
al-Ayyûbi sampai akhirnya beliau melepas kekuasaan itu dari al-Adidh.
Beliau t bekerja sama dengan Bani Abbâs, menghancurkan Bani Ubaid dan
melenyapkan keyakinan Syî’ah Râfidhah. Jumlah mereka adalah empat belas
raja yang mengaku sebagai khalîfah, padahal bukan khalifah. al-Adidh
secara bahasa artinya adalah sang pemotong. Karena dia yang memotong
kekuasaan keluarganya.” (XV/212).
[7]. Tafsîr Ibni Katsîr (III/26-27) dengan diringkas.
[8]. Shahîh: HR. Muslim (no. 1844).
[9]. Shahîh: HR. an-Nasâ-i (III/189).
[10]. al-Bâ’its ‘alâ Inkâril Bida’ wal Hawâdits (hlm. 50).
[11]. Lihat ‘Ilmu Ushûl Bida’ (hal. 119-120).
[12]. Ma’ârijul Qabûl (II/519-520).
[13]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2697) dan Muslim (no. 1718)
[14]. Tafsîr Ibni Katsîr (II/32).
[15]. Lihat Iqtidhâush Shirâtil-Mustaqîm Mukhâlafatu Ash-hâbil Jahîm
oleh Ibnu Taimiyyah (II/614-615), juga dalam Zâdul Ma’âd oleh Ibnul
Qayyim (I/59).
[16]. Shahîh: HR. Muslim (no. 1162).
[17]. Shahîh: HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasâ-i (V/268), Ibnu Mâjah
(no. 3029), Ibnu Khuzaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Ibnu ‘Abbâs  .
[18]. Shahîh: HR. Abû Dâwud (4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhâri dalam
al-Adâbul Mufrad (211/ Shahîhul Adâbil Mufrad no 155), an-Nasâ-i dalam
‘Amalul Yaum wal Lailah (247, 249).
[19]. Shahîh: HR. Al-Bukhâri (3445).
[20]. Aqîdatut Tauhîd (hal 151).
[21]. Lihat al-Ibdâ’ fîi Madhâril Ibtidâ’ oleh Syaikh Ali Mahfûzh (251-252).
[22]. Lihat at-Tahdzîr minal Bida’ oleh al-Allâmah Imam Abdul Aziz bin Bâz (13).
[23]. Shahîh: HR. Muslim (2278).
[24]. At-Tahdzîr minal Bida’ (hal. 14)
[25]. Dinukil dari al-Bida’ al-Hauliyah (hal. 192-193) dengan diringkas.
[26]. Al-Maurid fii ‘Amalil Maulid. Dinukil dari Rasâ-il fî Hukmil Ihtifâl bi Maulidin Nabiy (I/7-14) dengan ringkas.
[27]. Majmû’ Fatâwâ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXV/298).
[28]. Al-Madkhal (II/234-235).
[29]. Hukmul Ihtifâl bil Maulid an-Nabawi. Dinukil dari Rasâ-il fii Hukmil Ihtifâl bi Maulidin Nabiy (I/57) dengan ringkas.
[30]. Ar-Raddul Qawiy ‘ala ar-Rifâ’i wal Majhûl wa Ibni ‘Alawi wa Bayân
Ahkhtâ-ihim fil Maulidin Nabawi. Dinukil dari Rasâ-il fii Hukmil
Ihtifâl bi Maulidin Nabiy (I/70) dengan ringkas.
[31]. Majmû’ Fatâwâ wa Rasâ-il Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (II/298) dengan diringkas.
[32]. Al-Muntaqâ min Fatâwâ Syaikh Shâlih Fauzân (II/185-186) dengan diringkas.Dari: Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sen, 1 Maret, 2010 15:45:30
Judul: RE: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad

andre suchitra

unread,
Mar 1, 2010, 4:49:42 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Ambo sobok link dgn pertanyaan yg samo sanak Nofend, tp dlm bahaso Inggris.

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 1, 2010, 5:17:48 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Ndehh.. Panjang Reply/ Fwdnyo lai pak yansen, tapi ambo cari2 alun basuo
Hadis nan ambo tanyokan sabalunnyo tadi, serta apa yg dimaksud Bid'ah
Hasanah diantaro banyak Bid'ah tu.. apakah hadis itu sahih, atau hanyo
untuk2 kebaikan nan lain sajo, samantaro barayo mulud ko indak baik.

Kalau kito cuman Fwd atau mancari tanggapan sajo, nan pro pun juo banyak pak
yansen, heheee..

Silakan juo caliak : Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid Nabi)
oleh Syekh 'Atiyyah Saqr dan Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid
Nabi) oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi di
http://www.dhuha.net/id/content/islam/islam/Merayakan-hari-kelahiran-Nabi-Mu
hammad-Saw-Maulid-Nabi juo di Fwd mak Abrar kapatang.

Bisa juo caliak tanggapan yg pro dan kontra di
http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/29/122-tentang-maulid-nabi-muhammad-
saw/

Juo
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/article/1-tanya-
jawab/898-peringatan-maulid-nabi-saw-dan-bidah


Iyolah kalau baitu..

Wassalam

Sri Yansen

unread,
Mar 1, 2010, 5:27:55 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
mungkin link iko bisa maagiah pandangan nan lain mengenai Bid'ah



salam,
Yansen


Dari: Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sen, 1 Maret, 2010 17:17:48
Judul: RE: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad

Ndehh.. Panjang Reply/ Fwdnyo lai pak yansen, tapi ambo cari2 alun basuo
Hadis nan ambo tanyokan sabalunnyo tadi, serta apa yg dimaksud Bid'ah
Hasanah diantaro banyak Bid'ah tu.. apakah hadis itu sahih, atau hanyo
untuk2 kebaikan nan lain sajo, samantaro barayo mulud ko indak baik.

Kalau kito cuman Fwd atau mancari tanggapan sajo, nan pro pun juo banyak pak
yansen, heheee..

Silakan juo caliak : Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid Nabi)
oleh Syekh 'Atiyyah Saqr dan Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid
Nabi) oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi di
http://www.dhuha.net/id/content/islam/islam/Merayakan-hari-kelahiran-Nabi-Mu
hammad-Saw-Maulid-Nabi juo di Fwd mak Abrar kapatang.

Bisa juo caliak tanggapan yg pro dan kontra di
http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/29/122-tentang-maulid-nabi-muhammad-
saw/

Juo
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/article/1-tanya-
jawab/898-peringatan-maulid-nabi-saw-dan-bidah


Iyolah kalau baitu..

Wassalam



Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru
Kini dengan update real-time, panggilan video, dan banyak lagi!

Sri Yansen

unread,
Mar 1, 2010, 5:27:59 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
mungkin link iko bisa maagiah pandangan nan lain mengenai Bid'ah



salam,
Yansen

Dari: Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sen, 1 Maret, 2010 17:17:48
Judul: RE: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad

Ndehh.. Panjang Reply/ Fwdnyo lai pak yansen, tapi ambo cari2 alun basuo
Hadis nan ambo tanyokan sabalunnyo tadi, serta apa yg dimaksud Bid'ah
Hasanah diantaro banyak Bid'ah tu.. apakah hadis itu sahih, atau hanyo
untuk2 kebaikan nan lain sajo, samantaro barayo mulud ko indak baik.

Kalau kito cuman Fwd atau mancari tanggapan sajo, nan pro pun juo banyak pak
yansen, heheee..

Silakan juo caliak : Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid Nabi)
oleh Syekh 'Atiyyah Saqr dan Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid
Nabi) oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi di
http://www.dhuha.net/id/content/islam/islam/Merayakan-hari-kelahiran-Nabi-Mu
hammad-Saw-Maulid-Nabi juo di Fwd mak Abrar kapatang.

Bisa juo caliak tanggapan yg pro dan kontra di
http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/29/122-tentang-maulid-nabi-muhammad-
saw/

Juo
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/article/1-tanya-
jawab/898-peringatan-maulid-nabi-saw-dan-bidah


Iyolah kalau baitu..

Wassalam



Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

Aslim

unread,
Mar 1, 2010, 5:27:31 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com

Dunsanak,

 

Manuruik ambo, salamo karajo ko indak awak anggap ibadah (kalau ditinggalkan berdosa)/perayaan hari besar (karena diislam hanya ada 2 hari yang perlu dirayakan yaitu kurban dan fitri), makanya ini ngak ada masalah, sekedar menunjukkan cinta kita kerasul, itu wajar, bukankah kita kalau mencintai seseorang akan mengenang hari specialnya…

Masalah Bid’ah ngakperlu dibahas, karena masing masing orang beda pendapat. Kalau yang ragu,ngak usah diingat ingat …tapi ngak bener juga kalau orang kita sayangi kita ngak mengingat hari lahirnya, walau hanya dengan membuat suatu yang lebih, mengundang tetangga makan dan lain sebagainya.

 

Mauled nabi ini dimulai pada zaman Salahuddin, dimana tentara salib dengan gampang , mengalahkan orang islam, sehingga mereka menduduki palestina, dengan mengingat hari lahirnya Rasul ini,makanya Salahuddin bisa mengumpulkan tentara tetara islam untuk memerangi tentara salib, dan itu terbukti berhasil,sekarang terserah kita menilainya..kalau untuk kebaikan ya apa salahnya, selama jangan kita anggap itu merupakan ibada…

 

 

malinSutan.

 


From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of andre suchitra
Sent: Monday, March 01, 2010 4:50 PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad

 

Ambo sobok link dgn pertanyaan yg samo sanak Nofend, tp dlm bahaso Inggris.

 

http://www.islam-qa.com/en/ref/864

2010/3/1 Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>

Dek karano urang kampuang ambo, selalu bahari rayo disetiap tanggal merah Islam, dan tantu iko bagi sebagian sanak awak tamasuak bid’ah, dan kito alah maklum, bid'ah2 nan acok dikamukokan kini. Dulu waktu ketek2 acok maikui-i mamak ambo nan suko ma agiah kuliah subuah disurau2, pernah ambo dangan Bid’ah Hasanah, diantari bid'ah yang lain, ba'a manuruik Pak Ibnu dan pak Bujang Pono tentang pengertian Bid’ah Hasanah ko?

Tentang hal diateh, dalam HR Muslim "Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”

Mohon pencerahan dari sanak-sanak perihal jenis bid'ah diateh dan juo tentang hadis tersebut diatas.

Wassalam
Nofend/34M CKR

On Behalf Of Ibnu Mas'ud
Sent: Monday, March 01, 2010 2:59 PM


Setuju pak Bujang. Rasulullah, sahabat, tabi'in dan para ulama yang dakek jo zaman Rasulullah dan sahabat indak ado malakukan. kito hanyo malakukan tradisi nan indak jaleh. Kalau kito ingin mengenang rasulullah mari kito serius amalkan sunnah baliau.

Wassalam,

Ibnu

2010/2/26 Bujang Pono <bujan...@ymail.com>

Maaf Pak Suheimi,,, manyolo ambo saketek..ambo kurang setuju kalo maulud nabi ko dirayakan,,, karano indak ado sunnahnyo do....nan awak takuikkan,,, masuak ka bid,ah beko,,,banyak urang kini ko indak tau sunnah, jadi banyak yang indak disuruah Rasullullah dikarajoan urang....Ambo takana waktu ikuik pangajian salah satu ustad mangatokan bahwa konsepny semua ibadah itu haram,,, kecuali semua yang diperintahkan yaitu dari alquran dan hadist. sedangkan untuk perniagaan ,konsepnya berbeda yaitu semua perniaggaan halal kecuali ada larangan dengan ketentuan aturan yang ada.

sakali lagi ambo minta maaf karano sato manyolo tibotibo se..

Salam
BP

============= DIKAREK DISIKO ==================

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 1, 2010, 5:44:10 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Mokasi Sanak Andree.

Walau babantu jo kamus, tapi banyak saketek lai ambo paham maksud dari link
artikel tersebut, jadi ciek lai pertanyaannyo, apokah melaksanakan kegiatan
atau marayoan maulid nabi ko jo caro nan baiak (beramal yg diantaranya
silaturahim, berzikir, dlsb) tamasuak ka bid'ah nan dimaksud??

Ambo baco postingan uni rahima yang sangat panjang dibiliak sabalah hari ko,
ambo ambiak sa paragraf inti pertanyaan sajo == Yang intinya sebenarnya
begini saja. Silahkan bagi mereka ingin merayakan maulid Nabi tersebut,
dengan dalil untuk lebih mencintai Rasulullah, padahal, kalau dipikir-pikir,
apakah bukti cinta kita dengan mengadakan perayaan tersebut, bukti cinta
Rasulullah yang dengan melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya,
mengikuti sunnahnya dan menjauhi apa yang
tidak disunnahkannya. Dalil, karena cinta Rasulullah itu saya rasa kurang
tepat==.

Jadi ambo manangkok, masih sah-sah sajo, asa tidak menimbulkan perbuatan
yang melanggar syariah.

Salam
Nofend.

On Behalf Of andre suchitra

Sent: Monday, March 01, 2010 4:50 PM

Ambo sobok link dgn pertanyaan yg samo sanak Nofend, tp dlm bahaso Inggris.

http://www.islam-qa.com/en/ref/864

============== TATAP DIKAREK ===================

Haqir WalFaqir

unread,
Mar 1, 2010, 6:02:24 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com

 
Assalamualaikum Adidunsanak Sapalanta.
 
Sanak Bujang Pono, Sanak Ridha, Sanak Ibnu Mas'ud, Sanak Yansen  nan dikasihi...
 
Berdakwah tu ijan melulu sajo, kok iyo kito ka mancaliak kisah si Yahudi Buto ranuangkan bana dulu apo nan dibuek Rasulullah Saw tu.
 
Lah jaleh si Yahudi Buto tu mancaci maki dan mangecekan Muhammad (Rasul Saw) sasek dan gilo bagai, namun Rasul Saw masih manyuokannyo dengan kasiah sayang makanan ka inyo tu.
 
Sadangkan awak alun manga2 lah manuduah bid'ah dan sasek ka sasamo muslim nan masih bersyahadah dan bahkan sabagiannyo Ulama2 besar nan baraja indak tangguang2.
Jadi kok iyo bid'ah dan sasek Marayokan Maulud Nabi tu mako saluruah pengikut Perti, NU, sabagian Muhammadiah, Al Wasliah, dll, tamasuak "Alim Ulamanyo sasek tu yo?
 
Jadi marilah kito badakwah bil hikmah dan hasanah kok iyo ka maikuik Nabi juo.
 
Ambo dulu mangaji pun macam sanak juo, maklumlah urang mudo dulu di Ikhwan Kampus Aia Tawa, asa baliak ka kampuang atau rumah mandeh di Pakanbaru tu sibuk mancari bid'ah se lai karajo. Tapi lamo2 ambo bapikia apo nan dapek dari mangaji sarupo iko??
 
Satiok basuo jo urang awak asik  babantah-bantahan sajo nyo lai, dek mancari nan sahih, jadi pabilo masonyo awak ka babaiak dan bakasiah sayang sasamo Mukmin, sedangkan awak baagamo tu untuak mampaeloki akhlak,
bahkan kadang jo urang gaek sendiri bisa babalah.
 Sampai ado kawan ambo nan indak baelok jo Urang Gaeknyo. Sadangkan Ridho Allah maniti diateh Ridho kaduo Ibu Bapak, baa tu?
Bahkan jo Guru tampek mangaji nan maajakan bid'ah sasek tu pun bisa bacakak juo jadinyo (iko pengalaman nan ambo caliak walaupun Guru tu labiah tuo )
 
Sadangkan Rasul Saw jo Yahudi nan sarupo itu pun masiah bakasiah sayang dan maagiah makan, (kok ambo mungkin lah ambo ladiang inyo tu atau diracun sajo). Hebatnya Engkau Wahai Rasulullah Saw.
 
Dan dalam baagamoko kito musti ado contoh tauladan nan sarupo/mirip jo Rasul Saw, bukan hanyo dari segi mambaco dan memahami Kitab (AlQuran dan Sunnah). Jadi timbua pangana ambo jadinyo.
 
Ado nan mangganja di pikiran ambo ukatu itu,
 
"Kalaulah agamoko bisa diamalkan hanyo dengan mambaco AlQuran jo Kitab Hadist(nan Sahih sajo tantunyo),  mako niscaya Allah hanyo akan manurunkan penulis Kitab sajo, jadi untuak apo diturunkan Rasul Saw"
 
Jadi dek kito indak ka bisa baagamo jo hanyo mambaco Kitab, mako diutuslah Rasul Saw sebagai Uswatun Hasanah dalam baagamo tu. Dan Kitab tu/Wahyu hanyo diagiah ka Rasul Saw, para sahabat lah mandapek huraiannyo sajo dalam bentuk akhlak Nabi, nan mudah dicontoh.
 
Jadi sia urang nan ka manjadi Uswatun Hasanah kito saat kiniko?
 
Nan ka bisa dicaliak dan dicontoh,
 
_Tauhidnyo
_Akhlaknyo,
_Ibadahnyo
_Muamalahnyo
_Rumah Tanggonyo
_Kepemimpinannyo
_Kesabarannyo
_Kasiah Sayangnyo
_Perjuangannyo
_Dll sabagainyo
 
Sedangkan kito baraja / kuliah ilmu akademik sasudah teori ado praktikum dan katu praktikum ko adolo nan mambimbiang/asisten, sudahtu adolo KKN nyo dsbnyo.
 
Apolagi iko agamo nan sangat samparono dan banyak musuahnyo bayiak  nan indak nampak (nafsu jo syeitan) jo nan nampak
Yahudi,Nasrani,Majusi,Kafirun, Muslim Hasad dengki, Muslim Munafiq, Kafir Zindiq dsbnyo.
 
Jadi kito paralu  Ulama Pewaris Nabiko (kalau namonyo  dalam KItab) nan ka mancontohi dalam malaksanakan agamoko.
 
Jadi jan hanyo sakadar mambaco, kito harus mancontoh, sbb kini banyak urang/Ulama nan hanyo bisa mangecek tapi jauah panggang dari api.
 
Sakitu dulu untuak di ranuangkan
 
Wassalam
alhaqirwalfaqir
anwarjambak42,KL
 


New Email addresses available on Yahoo!

Abraham Ilyas

unread,
Mar 1, 2010, 10:59:45 AM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Sanak Sri Yansen yth.

Kalau dipareso materi diskusi Maulud Nabi, tampaknyo nan indak ado kesepakatan iolah
satantangan ibadah, bid'ah.

Alah ambo klik pulo link: http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html nan katonyo manjalehkan bid'ah, tapi indak pulo tasuo mukasuik bid'ah tsb.

Cuma ado penjelasan sbb:
[Definisi Secara Istilah]

Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah: bla, bla.......

[Definisi Secara Bahasa]

Bid’ah secara bahasa berarti "membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya". (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

Penjelasan penjelasan sarupo nan ditulihkan iko tantu hanyo bisa rasokan kebenarannyo kalau kito alah mambaco/mempelajari seluruh buku buku nan direkomendasikan tsb.

Baa kok kito minta tolong ka Dunsanak kito Syafroni Malin Marajo untuk manjalehkan mukasuik kato bid'ah dan ibadah tsb. Apokoh masdar atau fiil apo ucapan tsb., sebab manuruik para ahli dengan bahasalah orang berpikir.

Jaan sampai ado anak jo mandeh basalisiah dek mempertahankan pandapek "mualim" nan berbeda.

Salam
Abraham Ilyas

Sri Yansen

unread,
Mar 1, 2010, 9:00:46 PM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum Pak  Abraham

Maaf Pak Abraham, cubo baco juo Artikel terkait nan ado disampingnyo

Kalau untuak mancari kato Maulud, .....disiko ambo kuduang saketek tulisan nan ado di artikel Mengenal Seluk Beluk BID’AH (3): Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah [Bagian Ketiga dari 4 Tulisan] ... 

5] Semua Umat Islam Indonesia bahkan para Kyai dan Ustadz Melakukan Hal Ini

Ada juga yang berargumen ketika ritual bid’ah –seperti Maulid Nabi- yang ia lakukan dibantah sembari mengatakan, “Perayaan (atau ritual) ini kan juga dilakukan oleh seluruh umat Islam Indonesia bahkan oleh para Kyai dan Ustadz. Kok hal ini dilarang?!”

Alasan ini justru adalah alasan orang yang tidak pandai berdalil. Suatu hukum dalam agama ini seharusnya dibangun berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin). Adapun adat (tradisi) di sebagian negeri, perkataan sebagian Kyai/Ustadz atau ahlu ibadah, maka ini tidak bisa menjadi dalil untuk menyanggah perkataan Allah dan Rasul-Nya.

Barangsiapa meyakini bahwa adat (tradisi) yang menyelisihi sunnah ini telah disepakati karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya, maka keyakinan semacam ini jelas salah dan keliru. Ingatlah, akan selalu ada dalam umat ini di setiap waktu yang melarang berbagai bentuk perkara bid’ah yang menyelisihi sunnah seperti perayaan maulid ataupun tahlilan. Lalu bagaimana mungkin kesepakatan sebagian negeri muslim dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan umat Islam), apalagi dengan amalan sebagian kelompok?

Ketahuilah saudaraku semoga Allah selalu memberi taufik padamu, mayoritas ulama tidak mau menggunakan amalan penduduk Madinah (di masa Imam Malik) –tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah- sebagai dalil dalam beragama. Mereka menganggap bahwa amalan penduduk Madinah bukanlah sandaran hukum dalam beragama tetapi yang menjadi sandaran hukum adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin kita berdalil dengan kebiasaan sebagian negeri muslim yang tidak memiliki keutamaan sama sekali dibanding dengan kota Nabawi Madinah?! (Disarikan dari Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 2/89 dan Al Bid’ah wa Atsaruha Asy Syai’ fil Ummah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, 49-50, Darul Hijroh)

Perlu diperhatikan pula, tersebarnya suatu perkara atau banyaknya pengikut bukan dasar bahwa perkara yang dilakukan adalah benar. Bahkan apabila kita mengikuti kebanyakan manusia maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah dan ini berarti kebenaran itu bukanlah diukur dari banyaknya orang yang melakukannya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am [6] : 116)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita taufik untuk mengikuti kebenaran bukan mengikuti kebanyakan orang.

ciek lai Pak Abraham bari maaf ambo sabalunyo, karano ambo indak punyo kapasitas jo ilmu nan cukuik untuak memperdebatkan masalah agamo ko,. 

ambo cuma manaruihkan artikel nan pernah ambo baco, siapo tahu ado nan bisa maagiah penjelasan nan labiah.


salam,
Sri Yansen Tanjung bagala Panduko Sutan
38/lk/bojongsari 






Kenapa BBM mesti naik? Apakah tidak ada solusi selain itu?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!

andre suchitra

unread,
Mar 1, 2010, 9:27:25 PM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Sato saketek Sanak Abraham.

Ambo sebagai pemula dalam hal2 bid'ah ko, alhamdulillah bisa dapek - saketek banyak - esensi dari tulisan tu.
Manuruik ambo, memang diperlukan pembedaan definisi ko, bahwa ado manuruik bahaso jo ado manuruik istilah dari agamo.

Misal, definisi bahaso:

Bid’ah secara bahasa berarti "membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya". (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

Jelas kok. Bahwa iko mencakupi semua hal2 baru secara umum, misal teknologi, internet, oto, dsb.

definisi istilah:
"....adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalamBasho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)"

Jadi, secara bidah secara istilah iko lah nan dimaksud di hadith Rasulullah sallallaahu 'alayhi wa sallam.
Jadi iko nan Ambo tangkok saketek banyak dr artikel tu.

Mgkn sanak Abraham ado pandapek interpretasi lain? Mungkin kito diskusikan juo disiko.

2010/3/1 Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com>

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Ryan Firdaus

unread,
Mar 1, 2010, 10:21:49 PM3/1/10
to rant...@googlegroups.com
Angku doto Abraham na di muliakan, sanak Yansen dan Andre sucitra yg dihormati......
 
stelah duo hari mengamati koment2 dari antum semua, saya setuju sekali kepada paragraf terakhir dari tulisan angku doto Abraham, bahwasanya kita berselisih faham karena kita mempertahankan "muallim" yang berbeda fahaman...di mana para"muallim" ini bukan hanya berbeda dari segi pandangan tentang furu'iyyah dalam agama, tetapi dari basic lagi sudah berbeda...yaitu dari cara pendekatan mereka memahami ilmu Tauhid(ushuluddin)...tentu saja pereka pun akan berbeda dari segi Fikh...dan akan lebih jauh berbeda jika mereka melangkah ke Tasawwuf....apakah antum sadar akan hal ini???? jadi sebenarnya antum bukan berdalil...tetapi hanya mengemukakan dalil yg antum baca dari ulama yg antum ikuti saja, dalam bahasa ilmu nya bertaqlid...sebagai contoh, antum membawakan dalil dari nash alquran...bahwa Agama islam itu sudah sempurna, tak seorang pun yg mengikngkarinya..masalalahnya para ulama berbeda pendapat mentafsirkan perkataan sempurna yg di maksudkan oleh Allah itu konotasinya kemana???ayat sebelumnya membicarakan tentang apa...dan ayat setelahnya menyebul tentang apa???kalau kita mentafsirkan ayat2 alquran untuk membentengi pendapat kita saja, tidak adil rasanya...di sini lah perlunya Ulama yang bertaraf Tajdid atau di sebut Mujaddid...beliau bisa mentafsirkan sesuatu ayat itu sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul, tetapi bisa difahami oleh umat yg berada di akhir zaman seperti kita2 ini....
 
silakan bertaqlid kepada siapa antum semua bertaqlid, tanpa memfonis sesuatu amalan orang lain sebagai perbuatan ahlul bid'ah...karena mereka juga bertaqlid kepada ulama yg mereka yaqini bisa memimpin amal ibadah mereka di terima oleh Allah azza wa jalla...
 
selain hanya membaca referensi kita2 yg biasa antum baca, cobalah telusuri sejarah para ulama yg terdahulu...seperti Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi, atau Imam Syafi'i..telusuri bagai mana mereka menuntut ilmu, bagai mana proses ilmu itu mereka ambil...ketelitian mereka dalam membuat kesimpulan terhadap hukum sesuatu...dan yang terpenting...sifat wara' mereka...dalamnya mereka mengenali Rabb...mereka bukan hanya menjauhi yang haram, bahkan mereka sangat takut kepada yang makruh, yg subhahpun mereka jauhi..mereka bukan hanya beramal dengan yang wajib, bahkan mereka juga mewajibkan atas diri sendiri sesuatu yang sunnat....dan yang paling penting...pelajari sifat toleransi mereka jika mereka tak sependapat tentang sesuatu hukum...
 
bandingkan dengan diri kita yang hanya baca kitab yang mutaakkhir...kadang2 cuma foto copy saja...malu deh.....
 
ini kali kedua saya menghimbau supaya polemik ini di hentikan, ini bukan indahnya diskusi seperti yang di utarakan oleh sanak andre sucitra ( kalo ngga salah)...
 
akhia nyo ambo minta maaf ka mamak2 nan mungkin lah geleang kapalo mancaliak kamanakan2 ba sitagang urek dek karano amal nan hanyo bak cando rantiang aluih di dalam gadangnyo ugamo nan kito sanjungi ko...dek sibuk dek mampatangkakan nan Bid'ah lah lupo gereja lah baserak......
 
wassalam, ryan 42 suku piliang, domisili Ipoh


From: Sri Yansen <sya...@yahoo.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Tue, March 2, 2010 10:00:46 AM
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
--

Bujang Pono

unread,
Mar 2, 2010, 2:04:42 AM3/2/10
to rant...@googlegroups.com

Terima kasih sanak Sri Yansen. Alah jaleh kiniko dalil -dalil hukumnyo menegnai maulid nabiko. MUdah2an kita semua bisa mendahulukan syara' daripada akal (argumentasi) karena kebenaran mutlak milik Allah  sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :


 … Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu
beriman kepada Allah k dan hari Kemudian" [an-Nisâ'/ 4:59]

 


--- Pada Sen, 1/3/10, Sri Yansen <sya...@yahoo.com> menulis:


Dari: Sri Yansen <sya...@yahoo.com>
Judul: Bls: [R@ntau-Net] Maulud Nabi Muhammad
Kepada: rant...@googlegroups.com
Tanggal: Senin, 1 Maret, 2010, 9:02 AM


PERINGATAN MAULID NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MENURUT SYARI'AT ISLAM

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/ content/2586/slash/0



Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!

andre suchitra

unread,
Mar 2, 2010, 11:03:58 AM3/2/10
to rant...@googlegroups.com
Ndak apo2 doh.. Pak Ryan.... memang itu pilihan kito masiang2..
nan penting kito berusaha taruih ntuk mancari tahu apo dalil nyo dari tiok2 amalan kito.

Soalnyo iko juo nan diutarakan dari Al-quran bahwa tiok2 kito akan diminta pertanggungjawaban pilihan dan sadonyo dari diri kito. 

Dalam pandangan ambo, iko termasuk dalam amalan2 nan kito piliah.
Jadi, andre maimbau sanak2 sapalanta dan tamasuak andre juo, mgkn barusaho saketek banyak utk cari tau dasar2 dr amalan2 kito.. memang andre kini alun sampai tingkatan tiok2 amalan sampai nan saketek2nyo dicari tau dalilnyo.. tp insya allah ado niatan utk itu...

Btw, mengenai iko:
"silakan bertaqlid kepada siapa antum semua bertaqlid, tanpa memfonis sesuatu amalan orang lain sebagai perbuatan ahlul bid'ah...karena mereka juga bertaqlid kepada ulama yg mereka yaqini bisa memimpin amal ibadah mereka di terima oleh Allah azza wa jalla... "

Indak andre yg mamutuihan bahwa amalan tu bid'ah  Pak Ryan, tp ulama2 yg alah tau dan labiah mangarati.. kito manyampaian sajo...masik ketek ilmu andre nyo... 

Mudah2nn kito  diberit taufik oleh Allah..

2010/3/2 Ryan Firdaus <ryanfi...@yahoo.com>

Abraham Ilyas

unread,
Mar 2, 2010, 12:37:49 PM3/2/10
to rant...@googlegroups.com
Dnda/sanak/kmd Andre Suchitra, Ryan, Sri Yansen dan Syafroni Malin Marajo

Ambo indak akan bakomentar satantangan padapek pandapek adinda adinda tsb. karano referensi nan biaso ambo pakai untuak memecahkan masalah masalah sehari hari sarupo nan alah babarapo kali ambo lewakan di lapau kito iko dengan kalimat: Tahu di nan Ampek (kato), paham di nan Duo (cupak/ukuran), yakin kapado Yang Esa (aso/asa kito)

Satantangan kato (bahaso Arab), ado ampek macam pulo fiil nyo (Kmd Malin Marajo ahlinyo itu). Itulah sababnyo fiil bahaso Arab iko masuak ka dalam materi nan Ampek, karano ado ampeknyo!

Ambo indak bisa babahaso Arab, tapi pengenalan sistem/grammar bahaso Arab ambo raso paralu kito ketahui (nan maksudnyo supayo kito paham pada pemakaian raso pareso urang urang Arab nan menggunokan bahaso Arab sebagai bahaso ibu mereka.).
Bukankah dengan bahasa orang berpikir?

Sebagai ilustrasi: cubo dicaliak bacaan asmaul husna nan diterjemahakan ke dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa 99 nama tsb. terjemahannya yang hampir sama dalam bahasa Indonesia, padahal asma itu berbeda tulisan maupun ucapannya di dalam bahasa Arab.

Untuk paham satu persatu makna asmaul husna, sekurang kurangnya orang harus menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf.

Nah tentunya demikian pula dengan istilah (kato) ibadah dan bid'ah.
Di sinilah kita perlu mengikuti pendapat ulama ahli tafsir sepanjang dia mengetahui "ibu" dan "bapak" ilmu tsb. tanpa perlu bertahan bahwa pendapat mualim kitalah yang benar.

Tahu pada nan Empat jenis fi'il dalam ilmu Nahwu dan Sharaf

                        1. Fi'il Madhi
                        2. Fi'il Mudhorik
                        3. Fi'il Amr
                        4. Fi'il Nahi

Sumber ilmu yang benar ialah Alquran yang ditulis dalam bahasa Arab Fushoha, bahasa Alquran.

Bahasa sehari-hari orang Arab ialah bahasa Arab Ammiyah.
Tidak semua orang Arab menguasai bahasa Arab Fushoha.

Untuk memahami bahasa Arab Fushoha, pertama-tama orang harus menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf.
Barulah kemudian ditambah dengan ilmu-ilmu lainnya seperti balagho, maani…. dst.

Ilmu Nahwu adalah bapaknya semua ilmu, sedangkan ilmu Sharaf merupakan ibunya.

Ilmu Nahwu, ilmu tata bahasa Arab, sedangkan ilmu Sharaf mempelajari perubahan kata (dalam bahasa Arab disebut kalimat).

Kalimat, menunjukkan pengertian-pengertian yang berubah sesuai dengan maksud, tujuan, waktu serta pelaku kalimat tersebut.

Bentuk asal dari semua kata adalah Fi'il Madhi (menunjukkan kejadian yang telah selesai dikerjakan), dapat diubah menjadi Fi'il Mudhorik (menunjukkan waktu kejadian sekarang atau yang akan datang), Fi'il Amr (kalimat yang bersifat perintah) dan Fi'il Nahi (kalimat yang bersifat menidakkan).

Untuk mempelajari ilmu yang benar, mutlak harus dimulai dari ilmu Nahwu dan Sharaf.

Jika ada pertanyaan apakah ilmu yang dipelajari tanpa mempelajari ilmu Nahwu dan Sharaf itu tidak benar, jawabannya adalah, selama ilmu tersebut tidak bertentangan dengan Alquran, maka ilmu-ilmu tersebut adalah benar.

Allah ajarkan semua nama
Ketika Adam turun di bumi
Asma ul husna kata prima
Dengan nahwu syaraf kalimat dipahami

Karena lidah tak bertulang
Berbeda orang, lain intonasi
Ada yang lunak, ada yang lantang
Makanya bahasa tergantung
lokasi

Kembali ke daftar judul

Ahmad Ridha

unread,
Mar 2, 2010, 8:19:26 PM3/2/10
to rant...@googlegroups.com

Pak Abraham, setahu ambo, kato bid'ah jo 'ibadah itu masuaknyo ka ism, bukan fi'l. (SOL)

Abraham Ilyas

unread,
Mar 2, 2010, 9:13:36 PM3/2/10
to rant...@googlegroups.com
Pak Abraham, setahu ambo, kato bid'ah jo 'ibadah itu masuaknyo ka ism, bukan fi'l. (SOL)

Pak Ahmad Ridha yth.

Terima kasih Pak. Kalau bisa tolong Bapak bagikan saketek uraian/kedudukan tentang ism bid'ah jo 'ibadah tersebut.

Salam

Abraham Ilyas

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages