Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sebagai seorang pengamat masalah adat Minangkabau, secara pribadi saya memperhatikan secara cermat perwujudan norma adat dalam kenyataan hidup sehari-hari termasuk masalah tanah, yang termasuk dalam tema sako dan pusako.
Sangat menarik perhatian saya betapa masalah ini merupakan salah satu sumber konflik sosial yang tidak putus-putusnya dalam masyarakat Minangkabau,sampai berlarut-larut ke Mahkamah Agung. Masalah ini telah dibahas secara mendalam oleh Prof Dr Keebet von Benda-Beckmann dalam disertasi beliau "Goyahnya Tangga Menuju Mufakat".
Dalam hubungan ini ada dua hal yang menjadi perhatian saya:
Pertama, sistem penyelesaian sengketa menurut adat kelihatannya tidak berjalan mulus, karena hampir selalu -- atau sering sekali -- sengketa sako dan pusako ini berujung di pengadilan negeri, bahkan sampai ke Mahkamah Agung, seperti dalam kasus di bawah ini. Menurut catatan fihak pengadilan, sengketa mengenai tanah di Sumatera Barat termasuk yang tertinggi di Indonesia.
Kedua, saya sungguh merasa heran bahwa untuk menyelesaikan sengketa tanah pusako seluas 13.000 meter persegi -- jadi kurang dari dua hektar -- kedua pihak yang sama-sama satu pesukuan tersebut menyatakan 'siap perang'.
Mengapa tak didorong 'panarukoan' lahan baru melalui program transmigrasi, dimana setiap, saya ulangi setiap, KK bisa memperoleh dua hektar setengah? Mengapa tanah pusako yang sudah amat sempit itu juga yang diperebutkan? Apa tidak ada lagi semangat pionir, semangat perintis, di kalangan pemuka adat? Mengapa tidak dimanfaatkan demikian banyak peluang yang terbuka dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara yang ikut kita dirikan bersama ? Mengapa demikian senang hidup 'di bawah tampuruang'?
Saya pernah menghubungi salah seorang direktur jenderal Depnakertrans bersama Bp H Azaly Djohan SH, Sekjen Seknas MHA, dan mendapat keterangan bahwa pada saat ini masih terbuka peluang untuk menjadi transmigran. Dengan kata lain, daripada 'berperang' memperebutkan tanah yang kurang dari dua hektar tersebut untuk sebuah suku, mengapa tak diambil langkah yang lebih konstruktif melalui semacam 'bedol desa' yang dapat kita namakan sebagai 'manaruko nagari baru' ? [Jika dikehendaki, dengan segala senang hati, dalam rangka kegiatan saya di Seknas MHA secara pribadi saya bersedia membantu memfasilitasi terwujudnya program 'manaruko nagari baru' ini dengan Depnakertrans].
Bagaimana pendapat para sanak sa palanta ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com
|
Pak Saaf dan sanak sapalanta yang ambo hormati.
Memang masalah tanah ulayat masih menjadi persoalan sejak UUPA 5/1960 hingga saat ini. Ada hal yang belum diselesaikan secara perundang-undangan dan kelihatannya belum menjadi prioritas kebijakan pemerintah.
Pertama saya sampaikan bila pengakuan terhadap hak asal-usul dan kelanjutan sistem hukum telah dijamin melalui UUD 1945, dan sebenarnya saya melihat dalam UUPA juga telah memberi peluang terhadap hal tersebut. Namun kebijakan lanjutan belum mengatur lebih lanjut, sehingga pegangan yang digunakan oleh aparat pemerintah selama ini hanya perundang-undangan dalam hukum positif kita, yang mungkin kurang tepat karena sistem nilai yang berbeda. Padahal belum tergali Hukum Adat dan Hukum Islam sebagai bagian dari Hukum Nasional kita, yang telah tumbuh berkembang hingga sebelum masa kemerdekaan.
Penyelesaian sengketa adat (sako dan pusako) memang harus diselesaikan secara adat, melalui bajanjang naiak batanggo turun; dan putus mufakat di balairungsari. Dalam kasus di bawah saya belum melihat masalah ini diselesaikan seperti itu, dan sepertinya langsung menggunakan sistem peradilan umum.
Saya dulu berharap banyak kepada organ seperti Komnas HAM dll untuk mendudukkan kembali sistem Hukum Nasional kita, untuk mengisi berbagai kekurangan sistem nilai yang dibutuhkan oleh masyarakat, baik secara nyata maupun secara laten, dan memecahkan berbagai permasalahan kemasyarakatan dan pembangunan dewasa ini. Namun kelihatannya belum terlihat usaha dan upaya untuk itu.
Pemecahan yang dilakukan akhirnya kembali dengan mekanisme peradilan umum, yang terikat dengan sistem nilai hukum positif (baca: UUPA), dan mungkin kurang menimbang sistem nilai Hukum Adat dan rasa keadilan yang tumbuh di dalam masyarakat. Untuk itu perlu keserasian dalam mengembangkan sistem Hukum Nasional kita, yang berdasarkan sejarahnya ditumbuhkan oleh tungku nan tigo sajarangan (Hukum Hindia Belanda, Hukum Adat, dan Hukum Islam). Mudah-mudahan ini dapat menjadi perhatian dalam Program Legislasi Nasional kita ke depan.
Demikian terlebih terkurang pendapat dan pandangan disampaikan.
Wassalam,
|
Pak Saaf dan sanak sapalanta yang ambo hormati.
Memang masalah tanah ulayat masih menjadi persoalan sejak UUPA 5/1960 hingga saat ini. Ada hal yang belum diselesaikan secara perundang-undangan dan kelihatannya belum menjadi prioritas kebijakan pemerintah.
Pertama saya sampaikan bila pengakuan terhadap hak asal-usul dan kelanjutan sistem hukum telah dijamin melalui UUD 1945, dan sebenarnya saya melihat dalam UUPA juga telah memberi peluang terhadap hal tersebut. Namun kebijakan lanjutan belum mengatur lebih lanjut, sehingga pegangan yang digunakan oleh aparat pemerintah selama ini hanya perundang-undangan dalam hukum positif kita, yang mungkin kurang tepat karena sistem nilai yang berbeda. Padahal belum tergali Hukum Adat dan Hukum Islam sebagai bagian dari Hukum Nasional kita, yang telah tumbuh berkembang hingga sebelum masa kemerdekaan.
Penyelesaian sengketa adat (sako dan pusako) memang harus diselesaikan secara adat, melalui bajanjang naiak batanggo turun; dan putus mufakat di balairungsari. Dalam kasus di bawah saya belum melihat masalah ini diselesaikan seperti itu, dan sepertinya langsung menggunakan sistem peradilan umum.
Saya dulu berharap banyak kepada organ seperti Komnas HAM dll untuk mendudukkan kembali sistem Hukum Nasional kita, untuk mengisi berbagai kekurangan sistem nilai yang dibutuhkan oleh masyarakat, baik secara nyata maupun secara laten, dan memecahkan berbagai permasalahan kemasyarakatan dan pembangunan dewasa ini. Namun kelihatannya belum terlihat usaha dan upaya untuk itu.
Pemecahan yang dilakukan akhirnya kembali dengan mekanisme peradilan umum, yang terikat dengan sistem nilai hukum positif (baca: UUPA), dan mungkin kurang menimbang sistem nilai Hukum Adat dan rasa keadilan yang tumbuh di dalam masyarakat. Untuk itu perlu keserasian dalam mengembangkan sistem Hukum Nasional kita, yang berdasarkan sejarahnya ditumbuhkan oleh tungku nan tigo sajarangan (Hukum Hindia Belanda, Hukum Adat, dan Hukum Islam). Mudah-mudahan ini dapat menjadi perhatian dalam Program Legislasi Nasional kita ke depan.
Demikian terlebih terkurang pendapat dan pandangan disampaikan.
Wassalam,
|
From: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> |
Waalaikumsalam w.w. Sanak Fitr Tanjuang dan para sanak sa palanta,
Tarimo kasih ateh panjalasan Sanak manganai kasus nan tajadi dalam kaum Sanak, manambah ciek lai kasus sako jo pusako kito ko.
Ambo jo Sanak Ir Mohammad Zulfan Tadjoeddin tahun 2004 nan lalu alah mancubo mambahas masalah adat Minangkabau ko sacaro mandasar dan sacaro komprehensif dalam buku kami baduo nan bajudul "Masih Ada Harapan: Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara". Salain mambahas akar masalahnyo -- saparati nan Sanak sabuikkan dalam posting Sanak -- juo ado kami sarankan baa jalan kaluanyo.
Saparati dapek diduga, dari kaum penghulu kurang sakali dukungan ka gagasan kami tu. Salah surang malah manabikkan buku nan bajudul "Duabelas Jurus Pertahanan Melawan Serangan" (sic!). Tapi banyak kaum mudo jo kalangan kampus mandukuang pandangan kami tu.
Ambo manaruihkan analisa taradok masyarakat hukum adat Minangkabau tu dalam tahun 2007 jo maadokan Semiloka Masyarakat Hukum Adat Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, dan awal tahun 2008 di Arsip Nasional Jakarta, tantang Perang Paderi, nan malahiakan ABS SBK. Pak Gubernur alah mambuek sabuah panitia perumus untuak marumuskan ABS SBK tu, nan mancubo mancari rumusan umum tantang norma adat Minangkabau dan agamo Islam. [Draft rumsuan tu alah diserahkan ka Pemerintah Daerah untuak sosialisasinyo labiah lanjuik].
Sapanjang untuak ambo surang sebagai pengamat, rasonyo ambo alah mangaruak sahabih-habih karuak. Alah cukuik rasonyo pamahaman ambo tantang apo bana akar masalah Minangkabau tu, baa mako indak amuah maju-maju. Alah cukuik pulo saran ambo tantang kabijakan apo nan bisa dipiliah untuk mamelokinyo sacaro mendasar.
Apo saran ambo ditarimo atau indak, itu soal lain. Tasarah ka baliau-baliau nan manjadi pamimpin di Ranah. Nampak dek ambo, sampai kini samo sakali indak ado garak di Ranah untuk mameloki akar masalah Minangkabau tu. Sadonyo bajalan saparati nan lamo.Business as usual. Karano tu bisa kito pakirokan silang sangketo soal harato pusako akan samakin banyak di maso datang, karano urang kambang sadang tanah kan nan itu-itu juo. Kasus sangketo Suku Melayu nan hampia badarah-darah ko hanyo salah satu nan mancuat ka pamukoaan, samo jo sangketo bateh nagari di Kabupaten Solok nan alah sampai baka mambaka bagai. Kok memang baitu nan dikehendaki, apo buliah buat.
Kini ko nan manjadi paratian ambo sebagai Ketua Dewan Pakar Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat --Seknas MHA-- jo kawan-kawan ambo adolah ikuik mamperjuangkan adonyo RUU Tentang Hak Masyarakat Hukum Adat. Mungkin ado manfaatnyo. Wassalam, Saafroedin Bahar |
|
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com |
| --- On Sat, 8/2/08, Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> wrote: |
Assalamualaikum w.w. Datuk Endang dan para sanak sa palanta,
Rintisan perjuangan mencarikan dasar hukum untuk masyarakat hukum adat yang sudah saya mulai di Komnas HAM, kini saya lanjutkan dalam Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat (Seknas MHA), yang sudah dibadanhukumkan di Pekanbaru pada bulan Januari 2007 yang lalu.
Dapat saya sampaikan bahwa senior saya di Komnas HAM Bp Dr Enny Soeprapto sudah menyiapkan draft ratifikasi Konvensi ILO 169/1989 serta sudah menyiapkan draft Naskah Akademik RUU Masyarakat Hukum Adat. Dalam keseluruhan kegiatan ini kerjasama dengan Komnas HAM dan Mahkamah Konstitusi tetap dipelihara.
Dalam kaitannya dengan Minangkabau, saya mengadakan kerjasama dengan LKAAM Sumatera Barat cq Angku Bachtiar Abna Dt Rajo Penghulu SH MH, Ketua Bidang Advokasi Adat dan Syarak LKAAM dan Dosen Hukum Adat& Hukum Adat Minangkabau Fakultas Hukum Universitas Andalas. Bersama beliau, saya juga bekerjasana dengan Bp. Ilhamdi Taufik SH,MH, dari Fakultas Hukum Universitas`Andalas. Dapat saya sampaikan, bahwa masalah hukum adat yang dihadapi oleh masyarakat hukum adat Minangkabau sungguh teramat unik. Jika masyarakat hukum adat lainnya di Indonesia bernasalah dengan negara, masyarakat hukum adat Minangkabau bermasalah dengan dirinya sendiri. Bagaimana cara menyelesaikannya secara mendasar dan menyeluruh, tentu terpulang kepada para pemangku adat serta anak kemenakannya. Rangkaian kasus-ksus yang terjadi selama ini dapat dijadikan masukan untuk perumusan kebijakan yang lebih baik. |
|
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com |
| --- On Sat, 8/2/08, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote: |
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> |
|
|
Assalamualaikum w.w. Sanak Datuk Ariefz dan para sanak sa palanta,
Mawakafkan harato pusako tinggi ka musajik adolah salah satu jalan kalua. Dek karano maraso punah -- ambo manantang habi-habisan konsep punah ko karano ambo raso indak islami -- Ayah ambo alah malaksanakannyo dahulu, walau kudian indak talaksana karano dipakarokan dek kamanakan baliau, dan kalah. Kini alah tajua ka urang.[Hebat ndak tuh?].
Ambo samo jo Datuk Ariefz, daripado paniang kapalo dek silang sangketo soal tanah pusako ko, ambo sakaluarga alah mamutuihkan 'marantau cino'. Pulang sasakali kalau taragak sajo. Baa nasibnyo tanah pusako pasukuan ambo di Ranah, iyo alah cincai. Tapi indak baa doh. Bumi Allah kan laweh. |
|
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com |
| --- On Sat, 8/2/08, Datuak Arifz <arif...@yahoo.com> wrote: |
From: Datuak Arifz <arif...@yahoo.com> |
Waalaikumsalam w.w. Sanak Fitr Tanjuang jo para sanak sa palanta,
Sayang buku ambo tu alun ado versi e-book-nyo lai. Tapi bagian-bagian dari pandapek ambo nan ado dalam buku tu alah ambo tampilkan dalam bamacam-macam posting di RN ko.
Saparati juo jo pangalaman Sanak Fitr Tanjuang, pangalaman ambo jo wujud adat Minangkabau dalam kenyataannyo tu yo indak baitu nyaman, tautamo manganai konsep punah nan dahulu sabana mambabani pikiran Ayah ambo almarhum, walaupun konsep tu indak sasuai jo ajaran Islam tantang nasab. Bagi ambo surang, karano ambo sapanuahnyo manganuik ajaran Islam tantang nasab, ambo bukan sajo indak talalu paduli jo soal punah mamunah ko, tapi juo jo soal sako dan pusako nan takaik jo itu. Ambo maaja anak-anak ambo untuak 'manaruko' dan marintis samacam sahala harajoan-nyo surang-surang, dan jan bagantuang ka masalah warih-mawarih nan manjadi sumber persengketaan bakapanjangan di kalangan urang awak ko.
Untuak sanak kito nan lain tantu tasarah ka masiang-masiang. Hanyo ambo sabana kasihan ka Ayah ambo almarhum, nan sacaro mental sabana menderita mangana akan habihnyo katurunan jurai baliau manuruik adat. Kini tanyato harato pusako jurai baliau tu dipasokokkan dek kaum baliau dan kudian ko dijua habih dek datuak baliau dari suku Koto. Nah. Homo homini lupus, kato urang.
Manuruik pandapek ambo, rasonyo paralu bana landasan filsafat, mekanisme, sarato prosedur pelaksanaan sako jo pusako ko dikaji bana-bana, bukan hanyo sakadar untuak dibagi, tapi juo untuak dikambangkan dan dimanfaatkan basamo sacaro dinamis. Pangkajian tu bukan hanyo paralu dilakukan kalangan para niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan bundo kanduang sajo, tapi juo di kalangan nan mudo-mudo nan kini alah banyak nan tapalajar. Penelitian dan pengkajian tu paralu dilakukan sacaro mendalam khususnyo taradok baitu banyak kasus-kasus nan tajadi, dihadokkan pado tantangan nan dihadoki masyarakat Minangkabau dalam maso datang.
Mancari kasus kan indak sulik bana, salain mampalajari pakaro-pakaro nan bajibun di pangadilan, juo banyak di arsip berita media massa di Sumbar. Salain itu juo ado kritik-kritik sosial taradok adat dan kaum adat, sajak dari Gerakan Paderi, taruih ka Syech Achmad Chatib al Minangkabauwi, taruih pulo ka rangkaian pengarang Pujangga Baru, sampai ka kito-kito kini nan mancaliak dan marasokan adonyo masalah dalam adat Minangkabau tu, nan babedo antaro papatah-patitih jo kaadaan nyato di lapangan. Babarapo netters di RN ko alah manyampaikan pangalamannyo surang-surang tantang masalah ko, tentu ado nan nyaman-nyaman sajo, tapi indak kalah banyaknyo pengalaman nan menyeramkan sarupo nan Sanak Fitr Tanjuang alami.
Masalah dasarnyo adolah: 1) harato pusako tu indak batambah, sadangkan katurunan bakambang biak, tantu basisalak kasudahannyo; 2) adat kito indak mandorong kagiatan manaruko lahan baru, sarupo nan diajakan dek adat Batak jo ajaran sahala harajoan, tapi hanyo baputa-puta di soal mambagi harato pusako, nan makin lamo makin ketek tu; 3) tanyato harato pusako itu sandiri sacaro diam-diam alah banyak dipajua-balikan, mungkin indak jo caro nan sasuai jo adat, tapi jo macam-macam aka dan tricks.
Susahnyo: indak banyak bana niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai dan anak mudo Minang nan basalero maadokan penelitian jo pengkajian sacaro mandalam manganai masalah sako jo pusako ko, sahinggo wacana manganai masalah sako jo pusako ko tapaso baputa-puta di papatah jo patitih sajo, indak mainjak bumi. [ Sekedar catatan, baru-baru ko ambo mandapek buku ketek di kios buku Upi Titi Sundari di Hypermart Kelapa Gading, Jakarta, nan bajudul "Rancak di Labuah". Iyo tabasuik galak ambo mambaco, karano basamo jo adonyo anam urang sumando, tanyato ado pulo anam macam pulo panghulu tu. Inti pasannyo: dari anam macam urang sumando dan anam macam panghulu tu hanyo satu macam nan elok. Jadi 85% buruak, 15% elok. Patuiklah co itu jadinyo nagari kito tu]. Akhirulkalam, masalah sako jo pusako ko sabananyo kan masalah para sanak kito di Ranah, indak lai masalah kito di Rantau. Baa juo, kito di Rantau kan alah 'manaruko nagari baru', dan sadar atau indak sadar alah mangambangkan ABS SBK versi Rantau nan labiah barek ka Islam daripado ka adat. Kalau para sanak kito di Ranah labiah suko anok-anok sajo manangguangkan sagalo silang sangketo soal sako pusako tu, yo ka dipangaan lai.
Namun, baa juo, suko indak suko, siap indak siap, adat tu alah barubah, sadang barubah, dan akan barubah taruih, dan kama arah parubahannyo banyak saketeknyo bisa kito pakirokan. Syukurnyo, alah ado babarapo penghulu sandiri nan sacaro jujur mangatokan manurunnyo pangaruah adat. Soalnyo ado nan amuah mancaliak kenyataan dan basadio manyusun samacam kabijakan jo strategi nan diparalukan untuak maadoki parubahan tu, dan ado pulo nan suko 'basihanyuik' [maaf istilah ko] sajo.
Yo sudahlah kok baitu. Banyak nan lain nan bisa kito karajokan. |
|
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com |
| --- On Sat, 8/2/08, Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> wrote: |
From: Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> |
Waalaikumsalam w.w. Sanak Fitr Tanjuang jo para sanak sa palanta,
Masalah dasarnyo adolah: 1) harato pusako tu indak batambah, sadangkan katurunan bakambang biak, tantu basisalak kasudahannyo; 2) adat kito indak mandorong kagiatan manaruko lahan baru, sarupo nan diajakan dek adat Batak jo ajaran sahala harajoan, tapi hanyo baputa-puta di soal mambagi harato pusako, nan makin lamo makin ketek tu; 3) tanyato harato pusako ituandiri sacaro diam-diam alah banyak dipajua-balikan, mungkin indak jo caro nan sasuai jo adat, tapi jo macam-macam aka dan tricks.
Susahnyo: indak banyak bana niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai dan anak mudo Minang nan basalero maadokan penelitian jo pengkajian sacaro mandalam manganai masalah sako jo pusako ko, sahinggo wacana manganai masalah sako jo pusako ko tapaso baputa-puta di papatah jo patitih sajo, indak mainjak bumi. [ Sekedar catatan, baru-baru ko ambo mandapek buku ketek di kios buku Upi Titi Sundari di Hypermart Kelapa Gading, Jakarta, nan bajudul "Rancak di Labuah". Iyo tabasuik galak ambo mambaco, karano basamo jo adonyo anam urang sumando, tanyato ado pulo anam macam pulo panghulu tu. Inti pasannyo: dari anam macam urang sumando dan anam macam panghulu tu hanyo satu macam nan elok. Jadi 85% buruak, 15% elok. Patuiklah co itu jadinyo nagari kito tu].
Waalaikumsalam w.w. Sanak Fitr Tanjuang jo para sanak sa palanta,
|
Lumayan juo, Sanak satuju jo duo dari tigo hal nan ambo sabuikkan (=66 2/3%). Nan jaleh memang ado masalah dalam limbago adat kito tu.
Pilihannyo kini: dipeloki atau dipabiakan. Nan ambo karajokan salamo ko adolah mandorong supayo dipeloki. Apo nan kadipeloki dan baa caro mamelokinyo bisa kita rundiangkan basamo.
Nan susah kan sikap nan maraso indak ado masalah, karano itu bukan sajo indak tahu apo nan kadipeloki tapi juo indak tahu baa pulo caro memelokinyo.
Dapek ambo sampaikan bahaso kini alah ado surang sanak kito dari Bengkulu nan baminat kapado gagasan 'manaruko nagari baru' ko. Baa pakambangannyo kito caliak sasudah ko. |
|
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
|
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com |
--- On Sun, 8/3/08, Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> wrote: |
From: Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> |
Sanak Fitr yang ambo hormati.
Uraian nan sanak sampaikan iyo nampaknyo analisis obyektif, paralu pulo ditanggapi nak saketek.
Masalah-masalah nan disampaikan sabananyo alah lamo dirasokan, dan memang alun nampak lai jalan pamacahannyo. Kok baitu kito baradaik, memang alah tibo pulo di usang-usang dipabaharui, lapuak-lapuak dikajangi. Nan mano ka diparelok, tantu awak manimbang ka barih balabeh (struktur) adat, karono aturan adat pun ado pulo kaedah ushul-nyo.
Nan 1, kito memperhatikan bilo ketentuan adat tu dulu tapakai bilo masih banyak urang nan tinggal di kampuang, sahinggo hetongan gadang-ketek pambagian pusako kaum itu disasuaikan jo kondisi anak-kamanakan pado maso itu. Nan mambagi iyo tantu pertimbangan ninik-mamak, khususnyo mamak kapalo warih. Namun tampaknyo pembagian pusako itu bakaturunan, hinggo sampai ka maso kini nan ko.
Nan di ambo kini, memang hal itu alah manjadi perhatian, karono perkembangan keturunan itu tarnyato indak samo di satiok paruik. Hinggo ado 2 hal nan dapek dilakukan : partamo, kumbali ka khittah pembagian pusako itu, nan bararti pambagian itu bakaadaan, atau fleksibel sasuai jo kondisi anak-kamanakan. Dengan caro itu niniak-mamak paralo satiok wakatu mengevaluasi penguasaan tanah pusako itu, untuak manjamin kesejahteraan anak kamanakan.
Nan kaduo, dapek dimasuakkan unsur baru, yaitu penguasaan kembali lahan tidur. Iko tantu awak manambah saketek ketentuan dalam hukum adat. Mukasuiknyo, lahan-lahan pusako nan alah tabagi ka anak-kamanakan, bilo dalam suatu ukuran wakatu indak ditaruko atau dimanfaatkan oleh kamanakan, maka dapek baliak dalam penguasaan umum pusako. Dari penguasaan baliak itu, kasudahannyo dapek didistribusikan kembali penguasaannyo kapado anak-kamanakan yang mambutuahkan. Ukuran wakatu itu dapek ditantukan basamo, misal 1 generasi (20 tahun), 2 generasi, dst.
Dalam kaidah hukum acara adat nan pernah kami lakukan di peradilan adat, hal iko ambo berlakukan untuak tanah sengketa. Jadi perkara nan alah sampai ka KAN, kutiko awak mamulai peradilan dinyatokan bilo tanah itu berada dalam penguasaan Hakim Adat.
Nan 3, masalah jual-gadai pusako ado ketentuannyo dalam adat. Kalau ado upayo pengelabuan dalam hal itu, tantu itu adolah permasalahan pidana adat nan harus menjadi perhatian kito basamo.
Baitu sanak saketek banyak, talabiah takurang mohon dimaafkan.
Wassalam,
-datuk endang |
From: Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> |
Yth Pak Dr.Saafroedin BAHAR.
Kalimat ini "....mengapa tak diambil langkah yang lebih konstruktif melalui semacam 'bedol desa' yang dapat kita namakan sebagai 'manaruko nagari baru' ?" mendorong ambo untuk ikut urun rembug dalam topik ini.
Bila maksud 'bedol desa' yang Bapak usulkan tersebut memindahkan seluruh penduduk suatu desa (di SB disebut suku atau nagari) ke daerah lain maka mungkin sulit dilaksanakan.
Kondisi kehidupan sosial (kepadatan penduduk, pendidikan, komunikasi/trasportasi, perbedaan kaya-miskin, termasuk bathtub dan model kloset dlsb.) penduduk di nagari-nagari saat ini hampir sama kondisinya dengan penduduk kota-kota besar lainnya di Indonesia, kecuali di beberapa kabupaten saja.
Hampir mustahil rasanya memindahkan seluruh penduduk dari suatu pasukuan atau nagari kecuali bila daerah tsb. ditimpa oleh bencana alam. Mereka, penduduk nagari di SB, kini merasa nyaman/senang bermukim di kampuang yang sebagian besar sarana pelayanan masyarakat disubsidi oleh pemerintah RI.
Ambo mengambil contoh sbb: Kini, asal cukup biaya, seseorang kapan saja bisa berangkat ke Jakarta langsung dari kampuangnya atau berhubungan dengan HP dari dangaunya yang terletak di tangah sawah ke seantero jagat.
Dulu, hal-hal yang demikian mustahil terjadi. Pada tahun limapuluhan untuk berangkat ke Jakarta, ambo/dan kebanyakan urang Darek lainnya harus menunggu jadwal pemberangkatan kapal KPM di rumah dunsanak-dunsanak jauah (sepasukuan atau 'kenalan dari kenalan') di kota Padang selama berminggu-minggu. Kami membawa beras dan randang untuk bekal selama menumpang gratis di rumah dunsanak tersebut. Kondisi kehidupan sosial/ekonomi penduduk nagari-nagari di ranah kini mirip dengan kehidupan kota-kota lainnya di Indonesia, banyak yang miskin harta dan sedikit orang kaya.
Mungkin hal yang membedakan dengan kota, hanyalah jenis pekerjaan, yaitu sebagian besar masih tetap sebagai petani/buruh tani. Kecuali tukang kredit dan tukang sales promotion barang-barang konsumtif, komposisi penduduk tetap homogen/pribumi asli.
Bagi kaum petani atau keturunannya (mungkin juo diri ambo!) 'tanah' dan 'air' di ranah, apalagi yang dipusakai/pusako tuo dianggap 'sumber hidup', ibarat darah di dalam tubuh manusia yang harus dijaga. Darah yang suci untuk kehidupan.
Penduduk bertambah banyak, luas tanah tetap, maka untuk menjaga agar tanah tersebut tidak menjadi sumber persengketaan maka cara pandang 'anak-nagari' terhadap tanah harus diubah.
Ke depannya tanah di kampuang agar dipandang sebagai 'lambang' persatuan se kaum, se suku atau se nagari dan bukan lagi sebagai sumber utama nafkah pemiliknya.
Di atas tanah itulah berdiri rumah gadang tegak berdiri untuk menjaga martabat kekeluargaan sebagai anak-nagari. Termasuk pandapek dari dari salah seorang anggota milis ini yang mengusulkan pewakafan tanah kepada nagari oleh kaum telah punah secara adat.
Dalam adat Minang Kabau anak-turunan kaum yang punah, tak punya kaitan dengan nagari ybst., akan tetapi bukankah bapak atau datuak mereka adalah anak-nagari Minang Kabau.
Bukti ini bisa dilegalkan oleh KAN/dilewakan oleh nagari dalam bentuk surat wakaf termasuk ketentuan-ketentuan setelah tanah tersebut diwakafkan misalnya status hubungan anak-keturunan si pewakaf dengan nagari ybst. Untuk mencari 'sumber hidup' yang lain, maka pekerjaan anak-nagari harus diubah dari petani menjadi pekerja di bidang lainnya misalnya sebagai profesional, panggaleh/saudagar atau pekerjaan lain yang bermartabat di tempat-tempat lain (kebiasaan marantau dikembangkan/dimodali dengan keterampilan), nan indak di bawah tampuruang kalapo seperti Bapak sebutkan.
Ini semua membutuhkan pendidikan oleh pemerintah ataupun masyarakat.
Untuk lebih lengkapnya tulisan iko bisa di klik di :http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=29 atau
http://nagari.org/palanta.php?no=89 atau dengan judul: Paradigma Minang Kabau untuk pembangunan Sumatera Barat.
Maaf bila tulisan ini dan isi situsnya tidak berkenan untuk Dunsanak sapalanta.
Wa Allohu aklamu bish showab
Hormat ambo
|
Sanak Fitr ysh.
Ado babarapo dimensi nan sanak sampaikan, kiro-kiro ambo pajaleh saketek :
1. Tanah nan alah tabagi habis, kiro-kiro sado kaum itu tinggal di ranah, tantu manimbulkan masalah ekonomi baru. Karono tanah alah manjadi barang ekonomi; tarutamo nan tajadi di daerah perkotaan. Nan iko salaruik salamo nanko alun tapacahkan, alun tasadio aturan adatnyo. Elok kasus iko dijadikan bahan kajian oleh Tim Solok itu.
2. Masalah kaum saparuik nan bagak, inyo mahimpik ka subalah, tantu manjadi masalah. Dek karono awak mamiliki raso-pareso, kadang masalah iko tasimpan babarapo generasi. Namun paralu manjadi kasadaran di awak, nan busuak tasimpan akan babaun juo. Indak bisuak, mungkin 10 tahun lagi, atau 100 tahun lagi. Awak mungkin manganiayo generasi di muko awak. Maanyo awak tahu, do'a urang nan taimpik (mustadh'afin) labih dikabulkan Allah; sampik pulo kuburan awak kasudahannyo, baitu pulo anak keturunan nan awak lahirkan. Atau, dapek pulo urang nan taimpik itu suatu maso akan labiah bagak dari awak. Karono dek itu, awak pareso ka diri awak masiang-masiang, mungkin perbuatan awak atau urang gaek-gaek awak ado nan maimpik suatu kaum, kironyo dapek diperbaiki, semampu usaho nan ado. Insya Allah akan ado balasannyo ka awak kelak, baitu kiro-kiro nan ambo danga dari Buya HMA.
3. Masalah rumah balenggek, memang ado situasi tapakso nan dihado'i urang terdahulu. Sabananyo ado aturan khusus untuak pemanfaatan rumah gadang, nan kini rancak mulai awak sigi baliak. Di ambo pun rangkiang alah hilang, namun paralu perlahan-lahan dicari jalan kaluarnyo. Memang ado runcano ekstrim nan tabayang di ambo, misalnyo, dipatenggikan tanah pelataran rumah gadang itu nak 3-4 meter, sahinggo tasadio ruang di bawahnyo nan dapek dimanfaatkan. Namun tantu paralu dana dan wakatu.
Kalau di tanah-tanah pusako kaum dilenggekkan bangunan itu, sabananyo alah ado kebutuhan kaidah hukum adat baru. Kalau dalam caro awak di rantau 'strata title' namanyo. Namun untuak hukum adat awak, tantu paralu dikambangkan baru kaidahnyo. Karono tanah dalam pengertian bidang datar sarato nilainyo batambah, baitu bapangaruah terhadap 'nilai pusako' nan dikanduangnyo. Mungkin Tim Solok jo Unand itu dapek mansigi sampai sajauah iko.
Sangan itu senyo sanak. Talabiah takurang.
wassalam,
-datuk endang |
From: Fitr Tanjuang <fitr.t...@gmail.com> |
Pak Abraham,
Ambo setuju jo penjelasan Pak Abraham bahaso bagi urang awak -- bahkan pado dasarnyo bagi seluruh masyarakat petani -- tanah jo air warisan nenek moyang tu penting bana dalam hiduik, dan bahaso indak mudah untuak mamindahkan seluruh desa. Kan urang Jawa punyo pepatah :mangan ora mangan asal kumpul; sedhumuk bathuk senyari bumi, ditohi waneng pati.
Ambo juo setuju bahaso paralu diambiak langkah-langkah supayo anak nagari kito nan salamo ko hanyo bagarak dalam bidang pertanian paralu dialihkan supayo juo pandai dalam bagadang dan macam-macam profesi lain di lua batani. Sudah barang tantu gagasan ko paralu dioperasionalkan, saparati : sia nan ka maabiah prakarsa untuak itu, bara urang nan namuah dan babakat untuak kajo lainnyo itu, baa proses dan baa pulo caro malaksanakannyo, dan lain-lain.
Gagasan 'bedol desa' atau 'manaruko nagari baru' nan ambo anjurkan adolah khusus untuak para sanak kito nan hanyo bisa batani sajo, tapi tanah tu bana nan indak ado sampai amuah 'siap perang'. Jadi nan jadi masalah hanyo soal tanah sajo. Kalau itu sajo, ado jalan kaluanyo, yaitu 'transmigrasi lokal' sarupo nan ambo curitokab, dan alah mulai ambo rintis ka Depnakertrans jo pak Azaly Djohan SH, urang Riau nan jadi urang sumando awak juo. Kamungkinan daerahnyo adolah di Riau atau Kalimantan. Kalau di Riau di Kampar atau Bengkalis.
Ado ciek lai, yaitu tantang apo nan ka ditanam. Tantu nan laku di pasa. Tapi ado juo nan labiah gadang untuangnyo, yaitu mananam tanaman tuo saparati: kayu gaharu, nan banyak digunokan dek industri farmasi. Kayu gaharu nan alah matang panjang sameter haragonyo : RP 12.000.000,- (duo baleh juta rupiah!!). Kini kayu gaharu itu hanyo ado di Merauke, hampai habih pulo.
Ambo dapek penjelasan dari Depnakertrans -- kalau alun barubah situasinyo -- bahaso ado investor Taiwan nan sanggup maadokan bibit, teknologi, kredit, dan mambali kayu gaharu tu, sahinggo nan paralu dikarajokan dek patani praktis hanyo merawat. Persis jo sistem plasma di perkebunan sawit ini.
Sudah barang tantu paralu bana dipiliah-piliah sia nan ka bisa sato jo program transmigrasi lokal ko. Harus nan sabana-bana tahan tapo, bajiwa perintis, bukan nan caliah, ciluah, atau pamaleh. Alun manga-manga alah banyak 'cirik minyak'-nyo. Untuak 'kloter partamo' mungkin sekitar 20-30 urang dulu, nan akan manggarap sekitar 50-75 hektar. Pemerintah maagiah bantuan jaminan hidup ('jadup') salamo duo tahun.
Kalau misalnyo dapek dimuloi tahun muko, hasilnyo baru ado limo sampai anam tahun nan akan datang. [Kacuali kalau samantaro tu mananam tanaman mudo sarupo ubi kayu, jaguang, kacang-kacangan, mantimun, taruang, dan nan sarupo itu]. Baa juo, soal tanah nan acok dipacakakan tu, dapek diatasi. |
|
Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com |
| --- On Mon, 8/4/08, Abraham Ilyas <abraha...@yahoo.com> wrote: |
Sanak yth.
Pertemuan kemarin sore di Litbang Depdagri dengan pembicara Walikota Solok, sebenarnya memperjelas permasalahan tanah ulayat sebagaimana diuraikan di bawah. Yang dibicarakan adalah aspek pendaftaran tanah (Pasal 19.1 UUPA), pengakuan hak ulayat, pemanfaatan tanah untuk investasi, dst. Hingga saat ini diakui bila Pemerintah belum mengembangkan lebih lanjut ketentuan Pasal 5 UUPA, sehingga perlakuan terhadap tanah ulayat masih disamakan dengan tanah-tanah partikelir lainnya. Dan hal ini terbukti menimbulkan banyak permasalahan di ranah; begitupun penyelesaiannya masih menggunakan sistem peradilan umum.
Dari kasus Koto Kaciak di bawah dapat dilihat pada akhirnya penyelesaian masalah tanah kaum tersebut diselesaikan secara musyawarah, walaupun telah ada keputusan Pengadilan. Mungkin ini kasus pertama bila suatu keputusan peradilan umum dapat diabaikan oleh kuatnya kehendak untuk mufakat adat. Mudah-mudahan Dt. Bagindo dapat meneruskan.
Wassalam,
-datuk endang
Subject: [R@ntau-Net] SATU KASUS LAGI TENTANG GOYAHNYA TANGGA MENUJU MUFAKAT |
Sanak yth.Pertemuan kemarin sore di Litbang Depdagri dengan pembicara Walikota Solok, sebenarnya memperjelas permasalahan tanah ulayat sebagaimana diuraikan di bawah. Yang dibicarakan adalah aspek pendaftaran tanah (Pasal 19.1 UUPA), pengakuan hak ulayat, pemanfaatan tanah untuk investasi, dst. Hingga saat ini diakui bila Pemerintah belum mengembangkan lebih lanjut ketentuan Pasal 5 UUPA, sehingga perlakuan terhadap tanah ulayat masih disamakan dengan tanah-tanah partikelir lainnya. Dan hal ini terbukti menimbulkan banyak permasalahan di ranah; begitupun penyelesaiannya masih menggunakan sistem peradilan umum.Dari kasus Koto Kaciak di bawah dapat dilihat pada akhirnya penyelesaian masalah tanah kaum tersebut diselesaikan secara musyawarah, walaupun telah ada keputusan Pengadilan. Mungkin ini kasus pertama bila suatu keputusan peradilan umum dapat diabaikan oleh kuatnya kehendak untuk mufakat adat. Mudah-mudahan Dt. Bagindo dapat meneruskan.Wassalam,-datuk endang
---
Saya pernah menghubungi salah seorang direktur jenderal Depnakertrans bersama Bp H Azaly Djohan SH, Sekjen Seknas MHA, dan mendapat keterangan bahwa pada saat ini masih terbuka peluang untuk menjadi transmigran. Dengan kata lain, daripada 'berperang' memperebutkan tanah yang kurang dari dua hektar tersebut untuk sebuah suku, mengapa tak diambil langkah yang lebih konstruktif melalui semacam 'bedol desa' yang dapat kita namakan sebagai 'manaruko nagari baru' ? [Jika dikehendaki, dengan segala senang hati, dalam rangka kegiatan saya di Seknas MHA secara pribadi saya bersedia membantu memfasilitasi terwujudnya program 'manaruko nagari baru' ini dengan Depnakertrans].
Satu lagi kasus tanah ulayat.
NRM
Tanah Ulayat Dicaplok, Warga Pasaman Barat Ngadu ke DPRD Sumbar
PadangKini.com | Senin, 25/8/2008, 15:47 WIB
PADANG--Sekitar 100 lebih warga Kampung Air Meluap Kabupaten Pasaman
Barat mendatangi DPRD Sumbar, Senin (25/8).
Mereka mendatangi kantor dewan menumpang satu bus dan dua mobil minibus untuk
mengadukan persoalan tanah ulayat ke Komisi 1 DPRD Sumbar.
Ninik mamak Kampung Air Meluap, Zulkarnain Datuak Sampono mewakili warga
mengatakan tanah ulayat mereka yang ditanami sawit seluas 200 hektar telah
dicaplok PT Tiara Jaya. Akibatnya, panen yang seharusnya dinikmati warga, malah
diambil perusahaan.
"Padahal sawit itu ditanam oleh warga sendiri, bukan milik
perusahaan," kata Zulkarnain.
Ia mengisahkan, awal sengketa tanah terjadi pada zaman orde baru lalu dimana
pemerintah mengklaim tanah tersebut merupakan tanah verponding 372 (tanah
negara). Karena itu tanah tersebut dikelola PT. Tunas Rimba.
Namun setelah dilakukan penelusuran oleh tim B yang terdiri dari Kantor Agraria
Sumbar, BPN Pasaman, Dinas Kehutanan Sumbar dan Kantor Perkebunan Sumbar, tanah
tersebut bukanlah tanah verponding.
Karena itu pada tahun 2000, masyarakat mengambil alih tanah tersebut dan
menanamnya dengan pohon kelapa sawit.
Namun tiba-tiba tahun 2007, sejumlah mantan anggota dewan periode 1992 - 1997
menjual tanah tersebut kepada PT Tiara Jaya.
"Mereka memiliki sertifikat tanah tersebut," kata Zulkarnain tanpa
menyebut nama-nama mantan anggota DPRD tersebut.
Dan saat ini PT Tiara Jaya telah memanen sawit tersebut sehingga memicu konflik
masyarakat.
"Ada tiga warga kami yang ditahan Polres setempat gara-gara konflik ini,
mereka Kasmir, Bandaro (tokoh adat setempat) dan Malangik (hakim tungga
Kinali)," kata Zulkarnain.
Tindakan aparat dalam menangani kasus ini dianggap warga tidak proporsional
bahkan cenderung mengintimidasi.
"Sebanyak 150 jiwa warga kampung merasa terancam jiwanya, bahkan ada
beberapa orang yang pergi dari kampung karena tidak tahan ditakut-rakuti,"
kata Zulkarnain.
Karena itu Zulkarnain dan warga lainnya meminta agar Tiara Jaya menghentikan
proses panen hingga persoalan tanah jelas, selain itu aparat kepolisian diminta
menghentikan proses pidana terhadap tiga warga hingga sengketa tanah jelas.
Aparat juga diminta tidak lagi mengintimidasi warga.
"Kami minta DPRD membantu menyampaikan tuntutan kami ini," kata
Zulkarnain.
Menanggapi pengaduan warga, anggota Komisi 1 DPRD Sumbar, Erizal Lazran
mengatakan akan menampung aspirasi tersebut.
"Kami akan membawanya kedalam rapat komisi, sekarang belum bisa diputuskan
karena beberapa anggota komisi sedang reses," kata Erizal.
Untuk menghindari konflik makin meruncing, Erizal meminta kedua pihak yang
bersengketa (warga dengan perusahaan) tidak melakukan aktivitas panen hingga
persoalan jelas.
"Kami akan tindak lanjuti, kalau dapat kami akan tinjau ke lapangan,"
kata Erizal. (bening/o)
Angku Z, nan itu bana menjadi perhatian ambo. Masalah tanah ulayat nan terlantar seharusnyo dapek diolah oleh kaum bersangkutan, paling tidak nan dapek diproses dalam jangka panjang (> 20 tahun), misalnya untuk perkebunan atau tanaman palawija.
Memang alun dapek lai hukumnyo bilo tanah itu indak diolah dalam babarapo generasi. Memang ado ketentuan bila tanah itu alah pernah ditaruko, maka sangan itulah batas-batas penguasaan kaum yang bersangkutan. Namun dihitung dari sajak bilo?
Karono itu dalam kaidah lapuak-lapuak dikajangi, usang-usang dipabahaui, awak paralu pulo mambarikan bateh nan tegas tentang jarak wakatu manaruko itu. Kalau disaran ambo iyolah jarak 1 generasi (~ 20 tahun). Jadi kalau pusako tinggi itu indak pernah diawai dalam 20 tahun, mako penguasaannyo baliak kapado Mamak Kapalo Warih (penghulu) kaum bersangkutan (ulayat penghulu), untuak dapek didistribusikan kembali kapado kamanakan nan mambutuahkan.
Kudian, bilo alah 2 generasi (~ 40 tahun), mako dapek diurus oleh suku yang bersangkutan, sabagai ulayat suku.
Dan bilo alah 3 generasi (~ 60 tahun) dapek dipacik oleh Nagari (: KAN), sabagai ulayat nagari.
Tantu ketentuan iko merupakan saran untuak cupak buatan, nan dapek dipertimbangkan salingkah nagari.
Wassalam,
-datuk endang |
Karena Saya Indonesier
Minggu, 29 Juni 08 - oleh : admin

Judul:KELAH SANG DEMANG JAHJA DATOEK KAJO
PIDATO OTOKRITIK DI VOLKSRAAD 1927-1939
Penulis: Azizah Etek, Mursyid A. M., Arfan B. R.
Penerbit: LkiS, Yogyakarta
Cetakan: 1, Mei, 2008
Tebal: xvi + 512 hal
Kita mulai perbincangan ini dengan sebuah kisah. Juni 1927. Didepan sidang
Volksraad, Hadji Agus Salim berpidato dengan lantang. Pemimpin sidang,
Vorzitter, memperingatkannya agar berbahasa Belanda. Namun Agus Salim mengelak
sembari berargumen bahwa sekalipun ia mahir bahasa Belanda peraturan Dewan
menjamin haknya untuk bicara dalam bahasa Indonesia. Majelis pun terdiam.
Baru beberapa jenak Agus Salim menyebut sebuah istilah yang tak mungkin
dihindarinya: ekonomi. Mendadak Bergmeyer menyela sambil mengolok-olok.
"Apa kata ekonomi dalam bahasa melayu?" Tanpa pikir panjang, Agus
Salim sontak membalas,"Coba, Tuan sebutkan apa kata ekonomi itu dalam
bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Indonesianya!"Bergmeyer tertohok
keras. Ia baru tersadar bahasa Belanda tak punya padanan kata dengan istilah
dari Yunani itu (Rahzen: 2007).
Potongan kisah dalam sejarah Volksraad itu menunjukan bahwa selain sebagai
perantara wicara, bahasa adalah juga soal martabat, harga diri, cara berpikir,
dan kebanggaan terhadap tanah air. Terlebih di muka persidangan Volksraad,
bahasa menjadi persoalan yang amat sensitif. Saat itu, bahasa Indonesia masih
sulit diterima sebagai bahasa resmi, sekalipun sejak 1918 Sri Ratu
memperbolehkan penggunaannya dengan catatan bahasa Belanda tetap diutamakan.
Sebagai bangsa, kita berutang budi pada tokoh-tokoh Volksraad yang berupaya
"merumahkan" bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan formal
pemerintahan. Bersama Agus Salim, Jahja Datoek Kajo secara efektif dan
konsisten memelopori penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kritik dan
perlawanan di parlemen. Nama Jahja memang jarang disebut dalam kurikulum
pelajaran sejarah di negeri ini. Kata Buya Syafi'i Maarif, pernik-pernik kecil
dalam sejarah kita sebagai bangsa kerap dilupakan. Seolah-olah hal itu tidaklah
penting dibicarakan dan diingat, meski sesungguhnya gerak pikir dan kesadaran
kita dalam berbangsa sering ditentukan peristiwa-peristiwa kecil yang
terlewatkan.
Jahja Datoek Kajo lahir di tanah Minang, Koto Gadang, pada 1 September 1874.
Masa kecilnya dihabiskan di banyak tempat, berpindah-pindah merantau bersama
mamaknya. Selesai membantu mamaknya yang menjadi kepala gudang kopi di Baso,
Jahja magang di kantor Residen Padang Barat. Inilah momentum pertama
pergesekannya dengan birokrasi kolonial. Mula-mula, sebab dianggap
"berkondite" baik, kariernya terus menanjak. Dari sekadar juri tulis
(1892), melompat menjadi Tuanku Laras IV Koto (1895) dengan gelar Datoek Kajo.
Pada 1913, ia ditugaskan merangkap jabatan sebagai Kepala Laras Banuhampu.
Selanjutnya ia sempat menjabat sebagai Demang di Bukittinggi (1914-1915),
Payakumbuh (1915-1919), dan Padang Panjang (1919-1928).
Titik kisar perlawanan Jahja terhadap kolonial terbaca ketika pada tahun 1915
Asisten Residen James memberinya rapor merah. Sebagai demang, Jahja dinilai
kelewat lunak memerintah, tidak suka menghukum orang, slordig dalam surat-surat
berharga, dan jalan-jalan di distriknya tak sebagus distrik lain. Di Koto Gadang,
Jahja melambari kepemimpinannya dengan kearifan lokal yang banyak tertuang
dalam pepatah-petitih Minangkabau. Khazanah Minangkabau ini pula yang kelak
menghantarkannya menuju kesadaran berbahasa Indonesia.
Jahja akhirnya "dibuang" oleh pemerintah ke Volksraad untuk periode
1927-1931. Meskipun posisi itu adalah jabatan ambtenar tertinggi untuk ukuran
Minangkabau, pemerintah setempat lebih merasa aman jika Jahja dijauhkan dari
tanah kelahirannya. Perseteruan terbukanya dengan Residen Whitlau beberapa waktu
sebelumnya menimbulkan kekhawatiran akan munculnya konflik-konflik baru antara
pemerintah dan masyarakat.
Menjadi anggota Volksraad berarti kemewahan menikmati fasilitas. Jahja memang
mendapat itu semua, namun hati nuraninya tak bisa dibohongi. Jahja juga harus
berhadapan dengan tradisi Volksraad lebih tampil sebagai penasihat pemerintah
ketimbang penyalur aspirasi rakyat.
Bagi Jahja, seburuk apapun, keberadaan Volksraad menerbitkan harapan baru. Ia
percaya bahwa Volksraad berada pada posisi yang tepat namun digunakan dengan
cara dan tujuan yang keliru. Wajar jika ia menyesalkan penolakan Dr. Soetomo
dan H.O.S Tjokroaminoto untuk diangkat menjadi anggota Volksraad bersamaan
dengan dirinya. Kedua tokoh itu melihat ada ketidakberesan dalam konsep "mayoritas
bumiputera" (Inlandsche Meederheid) yang hendak diterapkan pemerintah
Belanda dalam keanggotaan Volksraad.
Rumah Bahasa di Parlemen
Sejak Tirti Adhi Soerjo dengan Medan Priaji-nya (1908) merumahkan bahasa Indonesia,
pengandaian tentang nasion menjadi dimungkinkan (Rahzen:2007). Rumah itulah
yang kemudian dihuni banyak orang dari masa ke masa. Jahja Datoek Kajo tentu
saja satu dari sekian banyak penghuni yang merawat baik-baik "rumah"
itu.
Dalam hal berbahasa,Jahja dan Agus Salim memang segendang-sepenabuhan. Bedanya,
jika Agus Salim cenderung blak-blakan, Jahja menempuh cara
"menyerang" sambil "membelakangi". Otokritik sang demang
dibalut dengan daya retorika yang lugas, sopan, dan terarah. Pada persidangan
Juli 1938, misalnya, Jahja mengakui Belanda masih menuntun Indonesia
menuju kemajuan. Namun, antara yang memerintah dan diperintah tidak ada
kesepahaman bahasa dan perasaan. "Saya ulangkan lagi, Tuan Vorizitter! Di
Indonesia ini baik ambtenar, baik partikelir, belum 99.99 persen mengerti dan
kenal bahasa Indonesia, sebaliknya bumiputra boleh jadi 0.001 persen yang
mengerti bahasa Belanda."
Jahja berhasil membuktikan vitalitas bahasa Indonesia. Ia tak pernah disanggah
seperti halnya Agus Salim. Koran-koran pribumi menyebutnya "Si Jago
Berbahasa Indonesia di Volksraad". Julukan yang tak berlebihan karena di
kemudian hari rintisannya itu memberi pengaruh besar pada Fraksi Nasional yang
digawangi Soeroso, Thamrin, Iskandar Dinata, Abdoel Rasjid, Soangkoepon, dan
Wirjopranoto. Fraksi ini konsisten mengangkat dan mengembangkan bahasa
Indonesia di parlemen dan kancah politik.
Jahja sering mengungkap keburukan perilaku pejabat Belanda. Ia melihat bahwa
alam keselarasan yang tadinya diterangi elok
kato dengan mufakat, buruk
kato di luar mufakat tak lagi diindahkan. Masyarakat tak punya
saluran berpendapat, tak punya kesempatan bersuara. Dalam situasi seperti ini,
bagi Jahja, bahasa Indonesia bisa menjadi titik temu untuk mengatasi problem
pemerintah dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik mendorong permufakatan yang
baik pula. Dan mufakat, kerja sama (samenwerken)
yang adil bisa diselenggarakan.
Nah, lagi-lagi kita nampaknya perlu mengaca pada masa lalu, pada Jahja, si
demang, si djago, yang telah wafat 66 tahun lampau itu. Ada baiknya kita simak kutipan pidato bernada
testimoni berikut:
"...Saya lebih suka didalam bahasa Indonesia, karena saya sendiri
seorang Indonesier. Tuan tentu memaklumi bahwa sekalian bangsa dalam dunia ini
lebih suka berbahasa dalam bahasanya sendiri. Sebabnya perasaan indonesier
tinggal di orang Indonesier, perasaan Belanda di Belanda."
Ah, bukankah kita kini kian merasa malu untuk mengucap,"karena saya
Indonesier..."
Ahmad Musthofa Haroen, Pustakawan Cabeyan
Scriptorium
Sumber" Koran Tempo/Ruang Baca/ Edisi 51/ Juni 2008
Kotogadang © 2006, Pemerintah Nagari Kotogadang
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.
Sanak, sato saketek, walaupun bukan ahlinyo. Di maso nan lampau memang ambo danga banyak urang-urang gadang di awak nan menonjol di kancah nasional. Karono agak ati Bahasa Melayu/Indonesia itu pas bana pronounciation-nyo (aa tu MakNgah?) di talingo urang-urang Indonesia ko. Jaan kan bicaro, jo tulisan pun urang Minang santiang; hinggo revolusi persuratkabaran pun alah dimulai di Minangkabau sajak pertengahan abad 19.
Nan mungkin menonjol dari caro berbahasa itu adolah vocabulary (aa lai tu MakNgah?) cukuik langkok nan melebihi dari kosakata Melayu sendiri. Sudah tu pandai mamainkan kato malereng, karono alah biaso bapitatah-patitih. Nan pokok manuruik ambo iyolah pronounciation itu : tadanga tegas dan lantang. Dek urang-urang lain langgam tu taraso tuahnyo, dirabo latar belakangnyo, nampak sado nan tuah di kehidupan urang Minang.
Sabananyo nan ambo raso, Bahaso Balando pun terkesan lugas dan tegas, iyo tu sanak Suryadi? Karono mereka mamakai juo suaro rongkong, raso ka kalua dahak tu sakali. Mungkin karono negeri dingin dan lai banyak pulo anginnyo. Jadi kalau indak kareh bunino, indak tadanga jo nan lain. Jadi urang Minang jo urang Balando tu sabananyo klop dalam babahaso, nan surang mamakai suaro rongkong nan lain mamakai urek ilie. Jadi indak pun saling mandanga, lah tantu curitonyo dari masiang-masiang maliek roman mukonyo.
Ambo raso hanyo Soekarno nan dapek menandingi kemampuan berbahaso urang Minang maso itu. Itu pun karono liau banyak bagaua jo urang Minang, dan banyak pulo menghabiskan maso di pengasingan. Banyak kepandaian awak nan dipakainyo.
Baa to kini, ambo lai sasuai jo Rahima, bahaso ado kesan cimeeh dalam satiok urang awak babahaso. Indak tahulah, mungkin ado pengalaman awak di maso lampau maubah caro itu, dan kini alah menjadi turun-temurun. Kok dapek cimeeh tu digantikan jo garah, itupun kalau pandai. Kok kini, maliek urang Minang babicaro Bahasa Indonesia pun taraso lucu. Maafkan ambo sanak. Rasonyo tuah tu alah habis.
Nan kini, nan nampak di kito iyolah urang Batak tu nan pandai ber-pronounciation. Posisi tukang ota pun lah banyak dikuasainyo, aa tu pengacara, politikus, pejabat, hinggo ka manggaleh. Baa gak ati, lai talawan liak jo kito, ado nan paralu awak benahi. Picayo diri, sadar kapado kebesaran sejarah awak, raso sahilie samudiak, cerdik namun tidak picik, hinggo dapek awak suarokan sucaro tegas dan lantang. Dimaalah tuah tu kini ka dicari. Tantu maharok awak ka nan mudo. Karono itu, sigilah sado nan gadang dan nan elok di awak. Mudah-mudahan babaliak li tuah babahaso Indonesia tu ka awak, saroman angku Dt. Kayo, pahlawan, dan pujangga terdahulu.
Baitu senyo, kok babaliak ka ambo tantu indak katajawek lai. Talabiah takurang mohon dimaafkan.
-datuk endang |
From: Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
UU Agraria Harus Diubah |
|
Jumat, 29 Agustus 2008 |
|
Solok, Padek-- Persoalan pertanahan sangat krusial di Sumbar. Hal ini juga terasa di Kota Solok. Untuk itu, tak ada jalan lain selain perlunya perubahan UU No 5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Keagrarian. Hal inilah yang disampaikan Wali Kota Solok Syamsu Rahim dalam acara Focused Group Discussion (FGD) tentang Masalah Pertanahan di Indonesia di Balitbang Depdagri Jakarta, Rabu (27/8). Menurut Syamsu, persoalan itu muncul karena regulasi nasional tentang masalah pertanahan yaitu UU No 5 tahun 1960 belum mengadopsi dan mengakomodasi hukum adat yang ada di tiap-tiap daerah. Walaupun telah ada beberapa aturan teknis seperti peraturan daerah, tetapi tetap belum mampu secara signifikan mengatasi problematika pertanahan di Kota Solok. “Uniformalitas regulasi nasional tentang pertanahan menimbulkan masalah yang sampai sekarang belum menemukan titik temunya. Untuk itu diharapkan kepada BPN RI harus bisa merekomendasikan perubahan UU 5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Keagrarian, sehingga mampu menjawab tantangan zaman yang semakin komplek di bidang pertanahan,” ujarnya. Diharapkan ke depan jika telah ada perubahan tentang UU Pokok-pokok Keagrarian di tanah air, akan membuat nyaman investor menanamkan investasinya di Kota Solok, Sumatera khususnya dan Indonesia umumnya, sehingga law enforcement di bidang pertanahan akan kondusif. Kota Solok siap sebagai contoh model dalam melakukan perubahan dimaksud. (mg16) |