“ What is name ?” Apa benarlah arti sebuah nama. Begitu kira kira orang Inggris bertanya. Jawabnya macam-macam. Ada yang begini, ada yang begana. Sementara bagi orang awak, nama bukan sekadar tanda, tapi adalah juga ‘tuah' berharga. Nama yang bersahaja, apabila ditambah dengan gala (gelar) yang tepat, akan naik staratanya. Sebaliknya, nama yang tidak cocok, berat, atau malah tak menentu, banyak sedikitnya mempengaruhi kepribadian si empunya nama. Si Udin Kuriak Letoy misalnya, bisa mirip seperti itu pula perangainya. Letoy, lemah alias lepai.
Sebagai misal, nama dari kata yang tadinya berbunyi sederhana, bila diubah, ditambah dengan gelar yang pantas, nama sederhana itu akan menjelma menjadi gagah. Kadang malah bisa mendapatkan tuah. Nama Udin Kuriak Letoy, yang tadi bunyinya kurang bagus, akan membebani si pemakai nama dengan kata “kuriak letoy,” di belakangnya. Namun , kalau diberi gala yang bagus, rancak atau manih , Udin Kuriak Letoy akan jadi Udin rancak manih - yang benar-benar bagus dan manis kelakuannya.
Apalagi kalau Udin tadi pakai gelar datuak misalnya, kemudian ada pula embel-embel, Udin bisa langsung jadi Udin yang bermentagi. Sebutlah, Datuak Rajo Batuah. Datuak Bandaro Basa, Sutan Mangkuto, Bagindo, Sidi, Sutan sampai ke Marah. Ucapkanlah, dianya akan langsung terdengar berdegap. Nama dan gelar seperti ikut menegakkan mentagi yang punya diri. Cobalah, kalau tidak percaya - tanya pada Da Udin Datuak Nangkudun - Mamak sepesukuan saya. Sejak dia bergelar dan berharta, entah kenapa, segan saja saya pada dia. Dulu, tidak.
Demikian pula halnya dengan nama-nama daerah. Nama daerah yang tepat dan pantas, segan orang mendengar dan menyebut, apalagi mempermain-mainkannya. Nama yang tegap dan bagus akan terkesan jelas mewakili makna kultur budaya, bahkan menegakkan kekokohan karakter masyarakatnya.
Di Sumatra, ada beberapa nama provinsi yang terdengar berwibawa, gagah dan bermentagi. Menyebut dan mendengar nama itu, langsung terkesan kultur masyarakat beserta alamnya. Masyarakatnya bangga pula menyebut nama daerah kelahiran, atau daerah yang dia diami.
Baca, sebut dan dengarlah contoh nama-nama provinsi ini. Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, Provinsi Riau, Provinsi Lampung, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu, Provinsi Bangka Belitung dan sekian nama lagi yang setara. Dalam nama itu menjulang kebanggaan kultur yang tak gampang ditara. Makna yang dukung-mendukung, antara bunyi dan pesan yang dikandungnya, terasa lebih berharga dan segan orang berlantasangan padanya.
Tak dapat dipungkiri, kebanggaan budaya memang langsung mengangkat harkat masyarakat yang hidup di buminya. Sejarah dan butir informasi antropologi, ikut tercantum bersama makna dari bunyi kata yang dipikulnya. Inilah kami, kalian, tuan-tuan, di mana kini menyuruk?
Dari sekian provisni yang ada di Sumatra, entah kenapa, hanya Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Sumatra Selatan saja yang nama provinsinya berbau geografis. Nama yang sekadar bersandar pada sepotong kecil mata angin, ringan saja bobotnya. Padahal, kultur dan budaya di tiga daerah ini, tak sesederhana arti bunyi yang dilekatkan di pundak daerah tersebut. Namun, dari selentingan kabar, provinsi Sumatra Selatan sedang siap-siap menjulangkan nama Provinsi Sriwijaya bagi daerahnya.
Maka, coba pikir dan inap-inapkan. Apa buruknya, kalau provinsi kita Sumatra Barat ini, namanya agak bernilai budaya pula? Ya, untuk apa malu, kalau kita ubah namanya menjadi lebih baik. Provinsi Minangkabau saja, apa salahnya? Angkat salam kepada dunia - Inilah provinsi yang masyarakatnya menganut - ‘Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabbullah. Provinsi Minangkabau, yang mewarnai keanekaragaman budaya paling penting di Asia.
Sumatra Barat, apalah itu Mak oii? Kalimat geografis biasa yang sekadar menunjuk arah, tak mencerminkan apa apa. Sumatra Barat, hanya sebuah tanda kecil, dari sesudut mata angin yang entah di mana. Di barat, tidak berbarat. Di timur tidak bertimur. Di tengah tengah digirik kumbang. Ya, sekadar tanda saja untuk posisi garis-garis alit di bentangan peta. Tak lebih!
Sebenarnya, Sumatra Barat ini memang nama baru, yang sama sekali tak berkesan sejarah, apalagi kesan budaya. Hambar kalau didengar. Mungkin masaknya setengah matang. Agaknya, karena sedikit dipaksakan memberi nama. Tak perlu benar indah, bagus, apalagi bertuah segala. Asal ada saja bunyinya, sudahlah. Letaknya di pulau Sumatra, di bagian agak ke barat, ya, Sumatra Barat sajalah, habis perkara. Jangan mangecek juga lagi.
Padahal, kalau memang Sumatra bagian barat, dari Lampung sampai ke ujung pesisir Aceh, itu baru sebenar-benarnya Sumatra bagian barat. Ini, Sumatra sebagian agak di tengah dekat ke barat, rencong ke tenggara. Sebelumnya, di awal kemerdekaan, Sumatra Tengah pula namanya. Riau, Jambi, masuk pelukan kita. Ya, jadi jugalah, ada ‘kontribusinya.' Rasa-rasa cocok posisi dengan luasnya. Mantap! Ssst....(berbisik, terdengar oleh pusat nanti) Berlaba kita, kalau sampai kini masih terus bersama mereka.
Akan halnya nama Provinsi Sumatra Barat, kalau tak salah, dalam catatan saya, nama ini dikarang di sekitar awal enam puluhan (?) Semasa daerah ini habis terpukul dalam kalah perang saudara. Ya, tepatnya selepas padamnya pemberontakan. Ketika itu, orang Minang banyak menekur (menunduk) karena merasa malu, sehingga malas menegakkan muka. Apa saja nama atau gelar dilekatkan orang, awak akan menekur menerima. Sambil menggeleng-mengangguk juga. Sambil mengangguk-menggeleng juga. Orang diarak perasaianlah namanya. Sebutlah sesuka hati awak. Awak bagak tentu iya. Tibalah apa yang akan tiba. Jangankan Sumatra Barat, Sumatra Berat, Sumatra Berurat-urat, mau juga kita. Asal tidak kena lapuk (tampar). Sudahlah! Kita tidak akan bicara politik. Namun di era globalisasi dan keterbukaan ini - di masa pembangunan yang bermartabat begini. Kita perlu bangkit, sambil menyapu lutut berpasir dan air mata. Kita coba jajakan lagi apa yang bisa kita banggakan ke seluruh penjuru Nusantara - ke pentas dunia. Satu dari sedikit kebanggaan kita, adalah budaya. Nama Minangkabau jelas bernilai budaya. Kita angkat pesan dan nilai yang membanggakan dari nenek moyang kita. Gelegak kultur budaya Minangkabau diakui termasuk yang terunik di dunia.
Tidak perlu pening memikirkan ke mana kita mendaftarkan nama gelar bertuah ini ? LKAAM atau DPRD tinggal mengangguk dan menggeleng saja agaknya. Pikirlah! Kalau nama provinsi yang sekadar menyebut bagian mata angin kita pertahankan, banyak orang yang akan salah masuk nanti. Asal di bagian barat pulau Sumatra , boleh Sumatra Barat namanya. Kita klaim seluruh Sumatra bagian barat ini daerah kita, marah orang Sibolga, tersinggung orang Bengkulu, merentak orang Aceh. Tapi, kalau kita ajak orang ke Minangkabau, saya percaya, banyak orang yang membentangkan lapik, memberikan carano bersirih untuk dicabik.
Bagaimana, kalau Provinsi Minagkabau saja nama propinsi kita? *
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date: 10/02/2008 12:21
“ What is name ?” Apa benarlah arti sebuah nama. Begitu kira kira orang Inggris bertanya. Jawabnya macam-macam. Ada yang begini, ada yang begana. Sementara bagi orang awak, nama bukan sekadar tanda, tapi adalah juga ‘tuah' berharga. Nama yang bersahaja, apabila ditambah dengan gala (gelar) yang tepat, akan naik staratanya. Sebaliknya, nama yang tidak cocok, berat, atau malah tak menentu, banyak sedikitnya mempengaruhi kepribadian si empunya nama. Si Udin Kuriak Letoy misalnya, bisa mirip seperti itu pula perangainya. Letoy, lemah alias lepai.
Sebagai misal, nama dari kata yang tadinya berbunyi sederhana, bila diubah, ditambah dengan gelar yang pantas, nama sederhana itu akan menjelma menjadi gagah. Kadang malah bisa mendapatkan tuah. Nama Udin Kuriak Letoy, yang tadi bunyinya kurang bagus, akan membebani si pemakai nama dengan kata “kuriak letoy,” di belakangnya. Namun , kalau diberi gala yang bagus, rancak atau manih , Udin Kuriak Letoy akan jadi Udin rancak manih - yang benar-benar bagus dan manis kelakuannya.
Apalagi kalau Udin tadi pakai gelar datuak misalnya, kemudian ada pula embel-embel, Udin bisa langsung jadi Udin yang bermentagi. Sebutlah, Datuak Rajo Batuah. Datuak Bandaro Basa, Sutan Mangkuto, Bagindo, Sidi, Sutan sampai ke Marah. Ucapkanlah, dianya akan langsung terdengar berdegap. Nama dan gelar seperti ikut menegakkan mentagi yang punya diri. Cobalah, kalau tidak percaya - tanya pada Da Udin Datuak Nangkudun - Mamak sepesukuan saya. Sejak dia bergelar dan berharta, entah kenapa, segan saja saya pada dia. Dulu, tidak.
Demikian pula halnya dengan nama-nama daerah. Nama daerah yang tepat dan pantas, segan orang mendengar dan menyebut, apalagi mempermain-mainkannya. Nama yang tegap dan bagus akan terkesan jelas mewakili makna kultur budaya, bahkan menegakkan kekokohan karakter masyarakatnya.
Di Sumatra, ada beberapa nama provinsi yang terdengar berwibawa, gagah dan bermentagi. Menyebut dan mendengar nama itu, langsung terkesan kultur masyarakat beserta alamnya. Masyarakatnya bangga pula menyebut nama daerah kelahiran, atau daerah yang dia diami.
Baca, sebut dan dengarlah contoh nama-nama provinsi ini. Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, Provinsi Riau, Provinsi Lampung, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu, Provinsi Bangka Belitung dan sekian nama lagi yang setara. Dalam nama itu menjulang kebanggaan kultur yang tak gampang ditara. Makna yang dukung-mendukung, antara bunyi dan pesan yang dikandungnya, terasa lebih berharga dan segan orang berlantasangan padanya.
Tak dapat dipungkiri, kebanggaan budaya memang langsung mengangkat harkat masyarakat yang hidup di buminya. Sejarah dan butir informasi antropologi, ikut tercantum bersama makna dari bunyi kata yang dipikulnya. Inilah kami, kalian, tuan-tuan, di mana kini menyuruk?
Dari sekian provisni yang ada di Sumatra, entah kenapa, hanya Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Sumatra Selatan saja yang nama provinsinya berbau geografis. Nama yang sekadar bersandar pada sepotong kecil mata angin, ringan saja bobotnya. Padahal, kultur dan budaya di tiga daerah ini, tak sesederhana arti bunyi yang dilekatkan di pundak daerah tersebut. Namun, dari selentingan kabar, provinsi Sumatra Selatan sedang siap-siap menjulangkan nama Provinsi Sriwijaya bagi daerahnya.
Maka, coba pikir dan inap-inapkan. Apa buruknya, kalau provinsi kita Sumatra Barat ini, namanya agak bernilai budaya pula? Ya, untuk apa malu, kalau kita ubah namanya menjadi lebih baik. Provinsi Minangkabau saja, apa salahnya? Angkat salam kepada dunia - Inilah provinsi yang masyarakatnya menganut - ‘Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabbullah. Provinsi Minangkabau, yang mewarnai keanekaragaman budaya paling penting di Asia .
Sumatra Barat, apalah itu Mak oii? Kalimat geografis biasa yang sekadar menunjuk arah, tak mencerminkan apa apa. Sumatra Barat, hanya sebuah tanda kecil, dari sesudut mata angin yang entah di mana. Di barat, tidak berbarat. Di timur tidak bertimur. Di tengah tengah digirik kumbang. Ya, sekadar tanda saja untuk posisi garis-garis alit di bentangan peta. Tak lebih!
Sebenarnya, Sumatra Barat ini memang nama baru, yang sama sekali tak berkesan sejarah, apalagi kesan budaya. Hambar kalau didengar. Mungkin masaknya setengah matang. Agaknya, karena sedikit dipaksakan memberi nama. Tak perlu benar indah, bagus, apalagi bertuah segala. Asal ada saja bunyinya, sudahlah. Letaknya di pulau Sumatra , di bagian agak ke barat, ya, Sumatra Barat sajalah, habis perkara. Jangan mangecek juga lagi.
Padahal, kalau memang Sumatra bagian barat, dari Lampung sampai ke ujung pesisir Aceh, itu baru sebenar-benarnya Sumatra bagian barat. Ini, Sumatra sebagian agak di tengah dekat ke barat, rencong ke tenggara. Sebelumnya, di awal kemerdekaan, Sumatra Tengah pula namanya. Riau, Jambi, masuk pelukan kita. Ya, jadi jugalah, ada ‘kontribusinya.' Rasa-rasa cocok posisi dengan luasnya. Mantap! Ssst....(berbisik, terdengar oleh pusat nanti) Berlaba kita, kalau sampai kini masih terus bersama mereka.
Akan halnya nama Provinsi Sumatra Barat, kalau tak salah, dalam catatan saya, nama ini dikarang di sekitar awal enam puluhan (?) Semasa daerah ini habis terpukul dalam kalah perang saudara. Ya, tepatnya selepas padamnya pemberontakan. Ketika itu, orang Minang banyak menekur (menunduk) karena merasa malu, sehingga malas menegakkan muka. Apa saja nama atau gelar dilekatkan orang, awak akan menekur menerima. Sambil menggeleng-mengangguk juga. Sambil mengangguk-menggeleng juga. Orang diarak perasaianlah namanya. Sebutlah sesuka hati awak. Awak bagak tentu iya. Tibalah apa yang akan tiba. Jangankan Sumatra Barat, Sumatra Berat, Sumatra Berurat-urat, mau juga kita. Asal tidak kena lapuk (tampar). Sudahlah! Kita tidak akan bicara politik. Namun di era globalisasi dan keterbukaan ini - di masa pembangunan yang bermartabat begini. Kita perlu bangkit, sambil menyapu lutut berpasir dan air mata. Kita coba jajakan lagi apa yang bisa kita banggakan ke seluruh penjuru Nusantara - ke pentas dunia. Satu dari sedikit kebanggaan kita, adalah budaya. Nama Minangkabau jelas bernilai budaya. Kita angkat pesan dan nilai yang membanggakan dari nenek moyang kita. Gelegak kultur budaya Minangkabau diakui termasuk yang terunik di dunia.
Tidak perlu pening memikirkan ke mana kita mendaftarkan nama gelar bertuah ini ? LKAAM atau DPRD tinggal mengangguk dan menggeleng saja agaknya. Pikirlah! Kalau nama provinsi yang sekadar menyebut bagian mata angin kita pertahankan, banyak orang yang akan salah masuk nanti. Asal di bagian barat pulau Sumatra , boleh Sumatra Barat namanya. Kita klaim seluruh Sumatra bagian barat ini daerah kita, marah orang Sibolga, tersinggung orang Bengkulu, merentak orang Aceh. Tapi, kalau kita ajak orang ke Minangkabau, saya percaya, banyak orang yang membentangkan lapik, memberikan carano bersirih untuk dicabik.
Bagaimana, kalau Provinsi Minagkabau saja nama propinsi kita? *
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date: 10/02/2008 12:21
Wassalam
Yoel St Palito Alam
37+ 16 hari
Minangkabau dari segi Alam Minangkabau
Alam Minangkabau adalah suatu daerah di tengah pulau
Perca, yang meliputi keresidenan Sumatera Barat,
Kuantan dan Kampar Kiri. Ke Utara sampai ke Sikilang
Air Bangieh (berbatas dengan keresidenan Tapanuli), ke
Timur sampai ke Taratak Air Hitam, berbatas dengan
Indragiri sampai ke Sipisak Pisau Hanyut, Durian di
Takuk Raja, Tanjung Simalidu yaitu berbatas dengan
Jambi dan ke Barat sampai ke Laut Nan Sadidih
(Samudera Hindia).
Menurut Tambo, batas-batas daerah asli Minangkabau
adalah sebelah selatan sampai ke Riak nan berdebur
(Negeri Bandar Sepuluh, sekarang Kabupaten Pesisir
Selatan dan Kerinci). Sebelah timur sampai ke Durian
di Takuk Raja (sekarang batas Sumatera Barat dengan
Indragiri) sampai ke Muara Takung Mudik (sekarang
Alahan Panjang), sekeliling gunung Merapi, selingkung
gunung Singgalang, sederetan gunung Pasaman sampai ke
Sikilang Aie Bangieh (sebelah barat) dan sampai ke
Taratak Air Hitam.
Dalam tambo berbahasa Minangkabau tertulis batas-batas
daerah Minangkabau, yaitu:
... Nan saliliek gunuang Merapi, nan saedaran gunuang
Pasaman. Dari sirangkak ka badangkang, sinan buayo
putieh daguak, sampai ka pintu rajo hilieh, durian di
takuak rajo, sipisau-pisau hanyuik sialang balantak
basi, dakek aie babaliek mudiak. Sailiran batang
bangkaweh, sampai ka ombak nan badabuah, hinggo lawiek
nan sadidieh, sahinggo Sikilang Aie Bangieh. Pasisieh
Banda Sapuluah, hinggo taratak aie hitam, sampai ka
Tanjuang Samalidu.
Dalam pantun adat Minangkabau berbunyi:
Batambah laweh Minangkabau
saedaran Marapi jo Singgalang
salilik Batang Bangkaweh
sampai ka Luhak bapilin tigo
ombak badabua di tapi lawik
Pasisia banamo 'Rantau'
laweh daerah bukan kapalang
Sikilang jo Aie Bangieh
sampai Durian di Takuk Rajo
lalu sipisau-pisau hanyuik
Masuak Kurinci jo Kuantan
sampai ka ranah Batang Hari
Kampa Kiri jo Kampa Kanan
daerah rantau samo sakali
Berdasarkan hal di atas, maka daerah yang didiami oleh
suku bangsa Minangkabau dapat dibedakan atas daerah
asal (inti) yaitu Luhak dan daerah rantau. Daerah
Luhak tersebut dibagi atas tiga macam, yaitu:
1. Luhak Tanah Datar
2. Luhak Agam
3. Luhak 50 Kota
Sedangkan daerah rantau dapat dibedakan atas dua
macam, yaitu: Daerah Rantau Pesisir (meliputi daerah
pantai Sumatera).
Daerah Rantau Pedalaman (meliputi daerah pedalaman
Sumatera Barat seperti daerah Sijunjung dan Pasaman
serta Pedalaman Luhak 50 Kota).
Berdasarkan tambo Minangkabau itu juga dapat
disimpulkan bahwa wilayah Minangkabau lama (alam
Minangkabau) itu lebih luas dari wilayah propinsi
Sumatera Barat yang sekarang. Waktu itu wilayahnya
meliputi propinsi Sumatera Barat, Riau dan sebagian
propinsi Jambi.
Wassalam
Ronal Chandra
--- Rahmatullah Sjamsudin <mattm...@gmail.com>
wrote:
> Wah ahrus rapek dulu LKAN. Soalnya dulu nan
> dianomakan Minangkabau adolah
> daerah darek yaitu luhak nan tigo. Samantaro daerah
> lain disebut rantau.
> Liek sajolha rumah gadang hanyo ado di daerah Luhak
> nan tigo. Indak ado di
> Padang, di Pasaman atau di Painan.
> Jadi kalau daerah Minangkabau akan diperluas menjadi
> seluruh wilayah Sumbar
> kini, paralu kesepakatan dari seluruh pemangku adat.
>
> 2008/2/11 kabaMinang OnLine <kora...@gmail.com>:
>
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs