SC ANAK MAHAL KARENA PRIMIPARA TUA DAN ABORTUS BERULANG Dr.Yandi Jayaprana PPDS OBGYN FK UNAND Terlihat rasa haru dan gembira juga cemas yang terpancar dari raut muka istriku saat berada di kamar periksa dokter kandungan langganan kami. Beliau menyatakan " Pak dan Bu Umar, sudah siap nich menentukan tanggalnya ?" sembari jari jemari dokter yang memegang probe USG yang bergerak-gerak diatas perut istriku tercinta. Terlihat dari layar monitor USG gerakan dari janin anak kami serta bagian-bagian tubuhnya, tangannya yang mungil, kepalanya yang bergerak, serta jantungnya yang berdetak. Subhanallah....kami takjub dan terpana melihatnya. Inilah anak yang benar-benar kami harapkan dan kami tunggu setelah sekian lama. Usia kami yang semakin senja dimana istri saya berumur 39 tahun dan kami belum pernah sekalipun mendapatkan momongan penerus keturunan buah cinta kami sejak awal pernikahan sampai saat ini. Diawal-awal kehamilan dokter selalu berpesan “Bu...... cukuplah istirahat, makan yang teratur, bergizi.....kontrol juga sesuai jadwal, ya.....” . “ Iya dok, saya akan ingat pesan dokter “ kata istriku. Sambil tersenyum dokter berkata “ ingat lho...Bu, ini anak mahal.... dan ibu beresiko tinggi”. “ Iya....dok, nanti akan saya ingatkan juga istri saya, agar bayi kami akan baik-baik saja.” Jawab ku. Termenung saya dalam hati mengingat pikiranku yang melayang kembali ke masa awal pernikahan, dimana setelah memasuki tahun ketiga pernikahan kami, di pagi hari saat saya masih terlelap di pembaringan sayup-sayup saya mendengar istri saya “ Alhamdulillah.....akhirnya saya positif juga “. Saya terbangun dari ranjang menuju kamar mandi. “Tok...tok...” ketukan pintu kamar mandi oleh jemariku. “Sayang .....buka pintu, ada apa ?”. “ Ini....mas, saya positif hamil”. Sembari pintu dibuka, segera saya hampiri istri, saya kecup kening istriku sembari melihat alat test kehamilan di tangan kanan istriku.Terlihat 2 strip garis merah pada alat test kehamilan tersebut. “ Besok kita ke dokter Bawono untuk memastikan kehamilan mu !”. “ Iya mas...saya setuju, biar lebih memastikan kehamilan ini ”. Pikiranku masih menerawang jauh ke masa lalu, dimana dalam perjalanan kehamilannya istriku mengalami keguguran. Saat itu saya sedang mengajar di SD Inpres, dengan terengah-engah di depan pintu kelas Pak Warno penjaga SD berkata “Pak Umar .......cepat pulang, istrinya perdarahan”. Tanpa banyak tanya saya langsung menuju tempat parkir motor. Bagaikan kesetanan, aku langsung memacu motorku menelusuri jalan yang berdebu untuk segera sampai ke rumah. Aku berusaha untuk tetap tenang dan berkonsentrasi memperhatikan jalan yang ramai, sambil mengenyahkan hal-hal buruk yang menari-nari dalam pikiranku. Sesampainya di rumah dengan langkah cepat saya menuju kamar dimana istriku berbaring di ranjang, terlihat darah membasahi baju dan tempat tidur. Dengan wajah yang pucat dan berkata lirih. “Tadi saya sendang menyapu rumah mas...., perut saya sakit melilit dan keluar darah bergumpal begitu saja”. “Tenang...sayang jangan panik...., ayo kita ke Rumah sakit sekarang !”. “Mas.....bayi kita mas.....” kata istriku diantara isak tangisnya. Sambil terus membimbing istri ke depan rumah, rupanya para tetangga sudah mengetahui perihal perdarahan istriku dari mertua perempuan yang tinggal serumah dengan kami. Dengan bantuan mobil pinjaman tetangga, kami menuju ke Rumah sakit. Aku berusaha untuk tetap tenang di depan istriku yang cemas dan pucat. Sesampainya di RS kami menuju ke dalam ruang IGD, dokter jaga melakukan pemeriksaan awal dan memasang infus. Kami harap-harap cemas menunggu keterangan perihal keadaan istriku. “ Pak...yang sabar ya...Istri bapak sepertinya mengalami keguguran, kami akan mengkonsulkan ke dokter kandungan, nanti beliau yang akan memutuskan penanganan lebih lanjut” ,kata dokter IGD. “ Baik dok....kami sudah pasrah atas kehendak Tuhan” ,kata ku. Akhirnya istriku dilakukan kuret karena kegugurannya. Rasa sedih, cemas, dan takut sempat juga menghampiriku. Untungnya kehadiran orangtua,mertua, saudara serta tetangga yang memberi dukungan sedikit banyak bisa membuatku tenang. Tersentak dari lamunanku ketika dokter kandungan kami bertanya “Bagaimana...Pak ? sudah di putuskan ?”. “Waduuh sudah berapa lama ya saya melamun”, di dalam hatiku , “Saya minta waktu dalam beberapa hari ini Dok....” , Saya saat ini belum bisa menentukan harinya walaupun dokter sudah mengatakan bahwa bayi kami sudah cukup bulan, tetapi masukan dari orang tua dan mertuaku haruslah juga didengarkan karena ini adalah cucu pertama bagi mereka. “Sekedar mengingatkan Pak.... usia ibu sudah cukup tua untuk dapat melahirkan kembali, apalagi ibu sudah 3 X keguguran....”, kata dokter. “Ijinkan saya terangkan lebih lanjut ya Pak..... ”, Dalam terminologi kedokteran, abortus adalah pengeluaran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup berkembang untuk dapat bertahan hidup di luar kandungan. Di Amerika Serikat defenisi ini dikhususkan untuk pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu atau berat badan janin lebih kecil dari 500 gram yang didasarkan pada tanggal hari pertama menstruasi normal terakhir. Menurut kejadiannya dibagi atas abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi dari luar sedangkan abortus provokatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan ataupun secara mekanis dengan bantuan alat Insiden abortus spontan umumnya tercatat sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Dalam perjalanan klinisnya abortus spontan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Abortus imminens (threatened) Suatu abortus imminens dicurigai bila terdapat pengeluaran vagina yang mengandung darah, atau perdarahan pervaginam pada trimester pertama kehamilan. Suatu abortus imminens dapat atau tanpa disertai rasa mulas ringan, sama dengan pada waktu menstruasi atau nyeri pinggang bawah. Perdarahan pada abortus imminens seringkali hanya sedikit, namun hal tersebut berlangsung beberapa hari atau minggu. Pemeriksaan vagina pada kelainan ini memperlihatkan tidak adanya pembukaan serviks. Sementara pemeriksaan dengan real time ultrasound pada panggul menunjukkan ukuran kantong amnion normal, jantung janin berdenyut, dan kantong amnion kosong. 2. Abortus insipiens (inevitable) Merupakan suatu abortus yang tidak dapat dipertahankan lagi ditandai dengan pecahnya selaput janin dan adanya pembukaan serviks. Pada keadaan ini didapatkan juga nyeri perut bagian bawah atau nyeri kolik uterus yang hebat. Pada pemeriksaan vagina memperlihatkan dilatasi ostium serviks dengan bagian kantong konsepsi menonjol. Hasil pemeriksaan USG mungkin didapatkan jantung janin masih berdenyut, kantong gestasi kosong (5-6,5 minggu), uterus kosong (3-5 minggu) atau perdarahan subkhorionik banyak di bagian bawah. 3. Abortus inkompletus (incomplete) Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Pada USG didapatkan endometrium yang tipis dan irreguler. 4. Abortus kompletus (complete) Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Selain ini, tidak ada lagi gejala kehamilan dan uji kehamilan menjadi negatif. Pada pemeriksaan USG didapatkan uterus yang kosong. 5. Missed abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. 6. Abortus habitualis (habitual abortion) Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi berturut-turut tiga kali atau lebih. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, namun kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. Etiologi Abortus spontan dapat terjadi pada trimester pertama kehamilan yang meliputi 85% dari kejadian abortus spontan dan cenderung disebabkan oleh faktor-faktor fetal. Sementara abortus spontan yang terjadi pada trimester kedua lebih cenderung disebabkan oleh faktor-faktor maternal termasuk inkompetensia serviks, anomali kavum uterus yang kongenital atau didapat, hipotiroid, diabetes mellitus, nefritis kronik, infeksi akut oleh penggunaan kokain, gangguan immunologi, dan gangguan psikologis tertentu. Faktor-faktor penyebab terjadinya abortus spontan : a. Faktor fetal Sekitar 2/3 dari abortus spontan pada trimester pertama merupakan anomali kromosom dengan ½ dari jumlah tersebut adalah trisomi autosom dan sebagian lagi merupakan triploidi, tetraploidi, atau monosomi 45X. b. Faktor maternal 1. Faktor-faktor endokrin Beberapa gangguan endokrin telah terlibat dalam abotus spontan berulang, termasuk diantaranya adalah diabetes mellitus tak terkontrol, hipo dan hipertiroid, hipersekresi luteinezing hormone, insufisiensi korpus luteum atau disfungsi fase luteal dan penyakit polikistik ovarium . Pada perkembangan terbaru peranan hiperandrogenemia dan hiperprolaktinemia telah dihubungkan dengan terjadinya abortus yang berulang. 2. Faktor-faktor anatomi Anomali uterus termasuk malformasi kongenital, defek uterus yang didapat (Astherman’s syndrome dan defek sekunder terhadap dietilestilbestrol), leiomyoma, dan inkompentensia serviks . Meskipun anomali-anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden, klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti . Abnormalitas uterus terjadi pada 1,9% dalam populasi wanita, dan 13 sampai 30% wanita dengan abortus spontan berulang . Penelitian lain menunjukkan bahwa wanita dengan anomali didapat seperti Asherman’s syndrome, adhesi uterus, dan anomali didapat melalui paparan dietilestilbestrol memiliki angka kemungkinan hidup fetus yang lebih rendah dan meningkatnya angka kejadian abortus spontan . 3. Faktor-faktor immunologi Pada kehamilan normal, sistem imun maternal tidak bereaksi terhadap spermatozoa atau embrio. Namun 40% pada abortus berulang diperkirakan secara immunologis kehadiran fetus tidak dapat diterima . Respon imun dapat dipicu oleh beragam faktor endogen dan eksogen, termasuk pembentukan antibodi antiparental, gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan antibodi autoimun (antibodi antifosfolipid, antibodi antinuclear, aktivasi sel B poliklonal), infeksi, bahan-bahan toksik, dan stress . 4. Trombofilia Trombofilia merupakan keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan predisposisi terhadap trombolitik. Kehamilan akan mengawali keadaan hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara jalur prekoagulan dan antikoagulan . Trombofilia dapat merupakan kelainan yang herediter atau didapat. Terdapat hubungan antara antibodi antifosfolipid yang didapat dan abortus berulang dan semacam terapi dan kombinasi terapi yang melibatkan heparin dan aspirin telah direkomendasikan untuk menyokong pemeliharaan kehamilan sampai persalinan. Pada sindrom antifosfolipid, antibodi antifosfolipid mempunyai hubungan dengan kejadian trombosis vena, trombosis arteri, abortus atau trombositopenia. Namun, mekanisme pasti yang menyebabkan antibodi antifosfolipid mengarah ke trombosis masih belum diketahui. Pada perkembangan terbaru, beberapa gangguan trombolitik yang herediter atau didapat telah dihubungkan dengan abortus berulang termasuk faktor V Leiden, defisiensi protein antikoagulan dan antitrombin, hiperhomosistinemia, mutasi genetik protrombin, dan mutasi homozigot pada gen metileneterhidrofolat reduktase . 5. Infeksi Infeksi-infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV, dan malaria . Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan . Suatu penelitian retrospektif terbaru di Saudi Arabia menemukan bahwa hampir separuh (43%) wanita hamil yang didiagnosa menderita brusellosis akut pada awal kehamilannya mengalami abortus spontan pada trimester pertama atau kedua kehamilannya . 6. Faktor-faktor eksogen, meliputi: • Bahan-bahan kimia: - Gas anestesi Nitrat oksida dan gas-gas anestesi lain diyakini sebagai faktor resiko untuk terjadinya abortus spontan . Pada suatu tinjauan oleh Tannenbaum dkk , wanita yang bekerja di kamar operasi sebelum dan selama kehamilan mempunyai kecenderungan 1,5 sampai 2 kali untuk mengalami abortus spontan. Pada suatu penelitian meta analisis yang lebih baru, hubungan antara pekerjaan maternal yang terpapar gas anestesi dan resiko abortus spontan digambarkan adalah 1,48 kali daripada yang tidak terpapar. - Air yang tercermar Beberapa penelitian epidemiologi telah mendapatkan data dari fasilitas-fasilitas air di daerah perkotaan untuk mengetahui paparan lingkungan . Suatu penelitian prospektif fi California menemukan hubungan bermakna antara resiko abortus spontan pada wanita yang terpapar trihalometana dan terhadap salah satu turunannya, bromodikhlorometana. Demikian juga wanita yang tinggal di daerah Santa Clara, daerah yang dengan kadar bromida pada air permukaan paling tinggi tersebut, memiliki resiko 4 kali lebih tinggi untuk mengalami abortus spontan. - Dioxin Dioxin telah terbukti menyebabkan kanker pada manusia dan binatang, dan menyebabkan anomali reproduksi pada binatang . Beberapa penelitian pada manusia menunjukkan hubungan antara dioxin dan abortus spontan. Pada akhir tahun 1990, dioxin ditemukan di dalam air, tanah, air minum, di kota Chapaevsk Rusia. Kadar dioxin dalam air minum pada kota itu merupakan kadar dioxin tertinggi yang ditemukan di Rusia, dan ternyata frekuensi rata-rata abortus spontan pada kota tersebut didapatkan lebih tinggi dari kota-kota yang lain. - Pestisida Resiko abortus spontan telah diteliti pada sejumlah kelompok pekerja yang menggunakan pestisida. Suatu peningkatan prevalensi abortus spontan terlihat pada istri-istri pekerja yang menggunakan pestisida di Italia , India , dan Amerika Serikat, pekerja rumah hijau di Kolombia dan Spanyol , pekerja kebun di Argentina , petani tebu di Ukraina , dan wanita yang terlibat di bidang agrikultural di Amerika Serikat dan Finlandia . Suatu peningkatan prevalensi abortus yang terlambat telah diamati juga di antara wanita peternakan di Norwegia, dan pekerja agrikultural atau hortikultural di Kanada . • Gaya hidup seperti merokok dan alkoholisme. Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan menemukan bahwa merokok tembakau dapat sedikit meningkatkan resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun, hubungan antara merokok dan abortus spontan tergantung pada faktor-faktor lain termasuk konsumsi alkohol, perjalanan reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal, dan status sosioekonomi . Peningkatan angka kejadian abortus spontan pada wanita alkoholik mungkin berhubungan dengan akibat tak langsung dari gangguan terkait alkoholisme . • Radiasi Radiasi ionisasi dikenal menyebabkan gangguan hasil reproduksi, termasuk malformasi kongenital, restriksi pertumbuhan intrauterine, dan kematian embrio . Pada tahun 1990, Komisi Internasional Terhadap Perlindungan Radiasi menyerankan untuk wanita dengan konsepsi tidak terpapar lebih dari 5mSv selama kehamilan . Penelitian-penelitian mengenai kontaminasi radioaktif memperlihatkan akibat Chernobyl yang meningkatkan angka kejadian abortus spontan di Finlandia dan Norwegia . Patofisiologi Abortus biasanya disertai dengan perdarahan di dalam desidua basalis dan perubahan nekrotik di dalam jaringan-jaringan yang berdekatan dengan tempat perdarahan. Ovum yang terlepas sebagian atau seluruhnya dan mungkin menjadi benda asing di dalam uterus sehingga merangsang kontraksi uterus dan mengakibatkan pengeluaran janin. Diagnosis Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering pula terdapat rasa mulas. Kecurigaan tersebut dapat diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis (Galli Mainini) atau imunologi (Pregnosticon, Gravindex) bilamana hal itu dikerjakan. Harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, dan adanya jaringan dalam kavum uterus atau vagina. Komplikasi Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada fase abortus yang tidak aman (unsafe abortion) walaupun kadang-kadang dijumpai juga pada abortus spontan. Komplikasi dapat berupa perdarahan, kegagalan ginjal, infeksi, syok akibat perdarahan dan infeksi sepsis. 1. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. 2. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati dengan teliti jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh seorang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi. 3. Infeksi Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (unsafe abortion) 4. Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik). Secara skematis penyebab abortus yang berulang dapat dilihat pada tabel berikut: Etiologi Prakiraan insiden 1. Faktor genetik: a. Kromosomal b. Multifaktorial 5% 2. Faktor anatomik: a. Kongenital - ”Incomplete mullerian fusion or septum reabsorbtion” - Eksposur diethylstillbestrol - Anomali arteria uterina - Inkompentetia serviks b. Didapat/akuisita - Inkompentetia serviks - Sinekhia - Leiomioma - Endometriosis, adenomiosis 12% 3. Faktor endokrin: a. Insufisiensi fase luteal termasuk kelainan ”luteinizing hormone” b. Kelainan tiroid c. Diabetes mellitus d. Kelainan androgen e. Kelainan prolaktin 17% 4. Faktor infeksi: bakteria, virus, parasit, zoonotik, fungus 5% 5. Faktor immunologi: a. Mekanisme humoral - Antibodi antifosfolipid - Antibodi antisperma - Antibodi antitrofoblast - ”Blocking antibody deficiency” b. Mekanisme seluler - Respon immun seluler THI pada antigen reproduksi - Sitokin TH2, ”growth factor” dan defisiensi onkogen - “Supressor cell and factor deficiency” - “Major histocompability antigen expression” 50% 6. Faktor-faktor lain: a. Lingkungan b. ”Drugs” c. Abnormalitas plasenta d. ”Medical illness” e. ”Male factors” f. ”Dissychronous fertilization” g. Koitus h. Latihan/exercise 10% Manajemen Penatalaksanaan Untuk penatalaksanaan abortus berulang dibutuhkan anamnesis yang terarah mengenai riwayat suami istri dan pemeriksaan fisik ibu baik secara anatomis maupun laboratorik. Apakah abortus terjadi pada trimester pertama atau trimester kedua juga penting untuk diperhatikan. Bila terjadi pada trimester pertama maka banyak faktor yang harus dicari sesuai kemungkinan etiologi atau mekanisme terjadinya abortus berulang. Bila terjadi pada trimester kedua maka faktor-faktor penyebab lain cenderung pada faktor anatomis terjadinya inkompetensia serviks dan adanya tumor mioma uteri serta infeksi yang berat pada uterus atau serviks. Tahap-tahap penatalaksanaan tersebut meliputi: 1. Riwayat penyakit dahulu: - Kapan abortus terjadi, apakah pada trimester pertama atau pada trimester berikutnya, adakah penyebab mekanis yang menonjol. - Mencari kemungkinan adanya toksin, lingkungan dan pecandu obat terlarang. - Infeksi ginekologi dan obstetri. - Gambaran asosiasi terjadinya ”antiphospholipid syndrome” (trombosis, fenomena autoimun, false positive test untuk sifilis). - Faktor genetika antara suami istri (consanguinity). - Riwayat keluarga yang pernah mengalami terjadinya abortus berulang dan sindroma yang berkaitan dengan kejadian abortus ataupun partus prematurus yang kemudian meninggal. - Pemeriksaan diagnostik yang terkait dan pengobatan yang pernah didapat. 2. Pemeriksaan fisik: 1. Pemeriksaan fisik secara umum 2. Pemeriksaan ginekologi 3. Pemeriksaan laboratorium: a. Kariotik darah tepi kedua orang tua b. Histerosangografi diikuti dengan histeroskopi atau laparoskopi bila ada indikasi c. Biopsi endometrium pada fase luteal d. Pemeriksaan hormon TSH dan antibodi anti tiroid e. Antibodi antifosfolipid (cardiolipin, fosfatidilserin) f. Lupus antikoagulan (apartial thromboplastin time atau russel viper venom) g. Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit Kultur cairan serviks (mycoplasma, ureaplasma, chlamydia) bila diperlukan. Pengobatan Setelah didapatkan anamnesis yang maksimal, bila sudah terjadi konsepsi baru pada ibu dengan riwayat abortus berulang maka support psikologis untuk pertumbuhan embrio intra uterine yang baik perlu diberikan pada ibu. Kenali kemungkinan terjadinya anti fosfolipid sindrome atau mencegah terjadinya infeksi intra uterine. Pemeriksaan kadar -HCG secara periodik pada awal kehamilan dapat membantu pemantauan kelangsungan kehamilan sampai pemeriksaan USG dapat dikerjakan. Gold standard untuk monitoring kehamilan dini adalah pemeriksaan USG, dikerjakan setiap dua minggu sampai kehamilan ini tidak mengalami abortus. Pada keadaan embrio tidak terdapat gerakan jantung janin maka perlu segera dilakukan evakuasi serta pemeriksaan kariotip jaringan hasil konsepsi tersebut. Pemeriksaan serum α-fetoprotein perlu dilakukan pada usia kehamilan 16-18 minggu. Pemeriksaan kariotip dari buah kehamilan dapat dilakukan dengan melakukan amniosintesis air ketuban untuk menilai bagus atau tidaknya kehamilan. Bila belum terjadi kehamilan, pengobatan dilakukan sesuai dengan hasil penilaian yang ada. Pengobatan di sini termasuk memperbaiki kualitas sel telur atau spermatozoa, kelainan anatomi, kelainan endokrin, infeksi dan berbagai variasi hasil pemeriksaan reaksi immunologi. Pengobatan pada penderita yang mengidap pecandu obat-obatan perlu dilakukan juga. Konsultasi psikologi juga akan sangat membantu. Bila kehamilan kemudian berakhir dengan kegagalan lagi maka pengoatan secara intensif harus dikerjakan secara bertahap baik perbaikan kromosom, anomali anatomi, kelainan endokrin, infeksi, faktor immunologi, anti fosfolipid sindrom, terapi imunoglobulin atau imunomodulator perlu diberikan secara berurutan. Hal ini merupakan suatu pekerjaan yang besar dan memerlukan pengamatan yang memadai untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kesimpulan Abortus berulang memiliki gejala klinik yang signifikan, diperlukan evaluasi dan penatalaksanaan yang lebih lanjut. Kekurangan kriteria diagnostik yang dapat diterima membuat diagnostik ini lebih sulit karena problem yang heterogen. Sebaiknya evaluasi dilakukan secara berpasangan yang komprehensif sebelum diputuskan tindakan yang lebih lanjut(1, 13). Tes diagnostik untuk pasangan dengan abortus berulang Tes genetik Karyotipe tes pada kedua pasangan Evaluasi uterus Histerosalpingogram (HSG) USG transvaginal Histeroscopy dan laparoscopy Tes servikal kompetens Histerosalpingogram (HSG) USG transvaginal pada servik bumil Tes endokrin Serum progesteron pada fase luteal dan biopsi endometrial Kadar LH Kadar androgen TSH Tes DM Kadar prolaktin Tes Trombopilia Anti kardiolipin anti body (ACA) Lupus anti koagulan (LAC) Tes Alo imun Anti body sitotoksik anti paternal pada wanita “Inilah penjelasan panjang lebar saya, semoga pak umar bisa paham.... kembali kepertanyaan awal saya, jadi bagaimana maunya bapak mengenai kemungkinan pilihan proses kelahiran bayi nantinya ? ” “Iya.....Dok, saya maunya di operasi saja karena ini anak yang sangat kami dambakan, kami tidak mau mengambil resiko.....”,kata ku Dua hari kemudian kami datang ke Rumah Sakit dengan tekad bulat untuk istriku dirawat sebagai persiapan operasi. Aku menyerahkan semua kepada dokter dan menandatangani surat ijin persetujuan untuk operasi. Penantian yang sangat melelahkan dengan waktu yang begitu panjang. Kenangan demi kenangan keguguran istriku yang masih hangat kadang terbayang kembali dalam ingatanku. Ketika ku tatap mata istriku teringat pengorbanan yang dilakukannya termasuk meninggalkan kehidupan metropolisnya dan mengikuti kehidupanku ke kota kecil ini sebagai tuntutan profesi sebagai seorang guru SD. Istriku lebih memilih menemaniku dan hidup susah daripada hingar bingar kota Jakarta. Setiap hari dia memberiku kekuatan lewat doa dan senyumannya, aku sadar aku tak kan bisa bertahan tanpa sosok seperti dirinya. Akhirnya pintu kamar operasi terbuka, sayup-sayup terdengar jerit tangis bayi....seorang perawat keluar menyampaikan kabar gembira bahwa istri dan anak perempuanku dalam keadaan baik. “Alhamdullilah....Ya Allah terima kasih, Engkau telah memberikan kami keturunan setelah sekian lama kami dambakan”, kataku dalam hati. Ucapan selamat dan syukur datang dari seluruh keluarga dan kerabat yang menemani saat ini. Inilah akhir yang penantian panjang yang akhirnya berbuah manis. “Semoga anakku nanti dapat mengetahui alur cerita ini serta dapat mengambil hikmah dan manfaat di balik ini semua sehingga dapat menjadi anak yang Sholehah, berbakti kepada orangtua, dan berguna bagi bangsa negara..........AMIN ”, dalam batinku. |
Pak Prof K Suheimi nan dimuliakan dan dunsanak palanta budiman,
Dulu sewaktu menamatkan S1 skripsi saya membahas masalah abortus ini. Skripsinya berjudul Iddah Wanita yang melakukan abortus. Sangat susah bagi saya yang awam dengan Kedoteran untuk dapat literature apalagi zaman itu saya belum bisa akses internet (maklum gaptek pak). Satu2nya bahan saya untuk bab abortus ini saya dapatkan dari mahasiswa kedukteran Unand dan itupun dia punya kamus istilah kedokteran yang setebal kira2 12 cm. Alhamdulillah apa yang saya analisa dahulunya dengan penjelasan-penjelasan Bapak ini lebih memberikan kelengkapan pengetahuan saya mengenai abortus ini. Literatur lainnya bukan dari buku-buku kedokteran yang bisa saya dapatkan di perpustakaan.
Hasil pendapat hukum saya yang saya simpulkan kalo wanita hamil yang melakukan abortus provocatus criminalis itu harus tetap menjalani 4 bulan 10 hari masa iddahnya. Dan saya puas dengan kesimpulan saya itu walaupun banyak dosen senior saya yang menentangnya. Dan saya berhasil pertahankan itu sampai siding akhir skripsi itu. Alhamdulillah…
Bisa Bapak bayangkan kalo penelitian saya tidak begitu tentunya wanita yang abortus provocatus criminalis bisa seenaknya langsung kawin lagi dengan yang lain begitu dia selesai di curret begitu dia bercerai dari suaminya untuk pergi ke suami berikutnya. Saya pikir ini sangat sadis sekali.. Wallahua’lam.
Wassalam
Rina, 33, batam
Bagus sekali skripsi Rina kalau bisa bisa di kirimkan ke milis boleh bermanfaat bagi pembaca Terima Kasih Prof.H.K.Suheimi, SpOG(K) --- Pada Kam, 21/1/10, rinapermadi <rinap...@gmail.com> menulis: |
|
Itulah lalainya Rina Pak Emi,
Skripsi itu Rina ada simpan di disket jaman dahulu yang berbentuk kotak tipis kira2 12 cm x 12 cm
Nah, beberapa tahun kemudian rina coba bukak kembali sudah tidak bisa dibukak lagi. Hanya hardcopy yang dijilid bewarna hitam dengan kulit yang mengkilap cantik masih tersimpan di rumah Bukittinggi sana.
Namun penelitian itupun kalo dilepas di Palanta Rina takut ada masalahnya, sebab jumlah halamannya saja kira2 200 halaman A4 spasi 1,5.
Namun apa yang rina tulis di skripsi masih jelas teringat di dalam kepala sampai saat ini. Terima kasih banyak almarhum Dosen Pembimbing Rina yang menentang penelitian ini. Masih setengah jalan Dosen Pembimbing Rina itu sudah keburu dipanggil Yang Kuasa. Mudah2an apa yang diajarkannya mengenai sikap tegasnya itu yang mana masih Rina pakai sampai sekarang bisa menjadi amal jariah yang tetap mengharumi alam barzah beliau, amin.
Wassalam
Rina, 33, batam
kalau masih jelas teringat kan lebih bagus di lepas seumur dunia ini apa yg kita tulis disini tak akan hilang atau terhapus andai kelak kita tiada tulisan kita akan masih terukir indah juga dalam kalbu pembacanya insyaallah kalau bermafaat pahala mengalir dg tak putus2nya jika tulisannya panjang bisa diangsur kayak "ketika pasien bertutur" atau pitaruah ayah selamat berkarya yg bermanfaat bagi orang banyak |
Terima Kasih Prof.H.K.Suheimi, SpOG(K) --- Pada Kam, 21/1/10, rinapermadi <rinap...@gmail.com> menulis: |
|
|
|