PADANG - Tiga orang ibu, satu di antaranya, sudah nenek-nenek, kemarin
menangis di Harian Singgalang. Nenek datang dari Pariaman. Seorang dari
Pesisir Selatan dan satu lagi dari Padang. Ketiganya datang dengan anak
tercinta yang diterima di perguruan tinggi. Anak-anak mereka pintar bukan
buatan.
Anak yang dari Pesisir Selatan misalnya, dipanggil ke Universitas Leiden di
Belanda, tapi gagal berangkat karena tak ada uang. Dipanggil Universitas
Indonesia (UI), juga gagal karena hal yang sama. Lalu sekarang dipanggil
oleh Universitas Brawijaya.
Seorang anak tukang cuci, nyaris kehilangan masa depan, karena kemiskinan.
Lantas, seperti biasa, suratkabar tercinta ini, mengetuk Anda, sudilah
kiranya membagi rezeki untuk tunas-tunas bangsa, titipan Tuhan, demi masa
depan mereka.
Afdal
Kabar lulusnya Afdal Tanjung, putra kesebelas dari seorang ibu bernama
Anuar, membuat hatinya campur aduk. Di satu pihak, ia merasa bangga karena
anaknya berhasil merebut bangku kuliah di Unand, dari sekian banyak pesaing.
Tapi di sisi lain ia gundah gulana, mengingat tidak ada satupun yang bisa
dijualnya untuk biaya kuliah. Apalagi tubuh tuanya baru saja sembuh dari
sakit-sakitan yang beberapa waktu lalu terkena stroke.
"Amak alah jando nak... apak anak-anak alah lamo maningga. Tapi anakko kareh
juo hatinyo ndak kuliah. Hanyo iko dayo amak, mintak bantuan dermawan Harian
Singgalang (Ibu sudah janda nak... Ayah anak-anak sudah lama meninggal. Tapi
anak saya ini keras juga hatinya ingin kuliah. Hanya ini yang bisa ibu
lakukan, meminta bantuan dermawan Harian Singgalang-red)," kata Anuar dengan
berlinang air mata kepada Singgalang, sewaktu mengutarakan maksudnya datang
ke Harian Singgalang, Senin (19/7).
Anuar mengusap air matanya yang sedari tadi ia coba menahan supaya tidak
jatuh. Afdal sendiri hanya bisa menunduk, karena memang inilah yang bisa ia
lakukan saat ini.
Sebenarnya, Afdal sudah menganggur dua tahun. Ia lulus SMA I Nagari Nan
Sabaris Kab. Padang Pariaman 2008 lalu. Melihat kondisi keluarganya yang
miskin, ia memutuskan untuk bekerja di Pekanbaru dan diterima di bagian
suntik ayam.
"Sebenarnya saya ingin menabung untuk biaya kuliah. Tapi itu tidak terwujud,
karena ibu sakit-sakitan, sementara keluarga saya butuh makan. Uang gaji
akhirnya saya kirim ke kampung untuk biaya hidup ibu dan keluarga lainnya,"
imbuh Afdal.
Hasrat ingin kuliah kembali memenuhi hatinya di tahun 2010. Ia pun
memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan balik ke Jorong Muaro,
Kanagarian Kurai Taji Pariaman. Sejak saat itu, ia mulai tekun membolak
balik buku pelajaran.
Hasilnya, ia pun lulus SNMPTN di Agro Eko Teknologi Fakultas Pertanian
Unand. Hatinya sangat gembira karena bisa lulus, di tengah keterbatasan yang
ada. Rasa khawatir datang, ketika membaca biaya pendaftaran yang mencapai
Rp5 juta lebih.
"Tanggal 20 besok, terakhir saya harus mendaftar. Kalau uangnya tidak ada,
punah sudah harapan saya untuk kuliah. Swasta jelas tidak akan sanggup saya
menjalaninya. Saya sangat berharap, agara para dermawan mau membantu saya,"
kata Afdal menghiba.
Jika nantinya bisa kuliah, Afdal sudah berencana kuliah sambil kerja. Ia
akan banting tulang mengumpulkan uang, untuk biaya hidup dan uang kuliah
semester berikutnya.
Nova
Bersamaan dengan Afdal, datang pula Nova. Ia lulus SNMPTN. Diantara ribuan
orang yang ikut SNMPTN, namanya tertera menjadi satu dari sedikit yang
diterima. Namun itu hanya sejurus. Tak sampai sepeminuman teh, perasaan
cemas menghampiri. Tatkala melihat sejumlah uang yang harus disediakan demi
mengecap bangku kuliah itu.
Adalah Nova Susilawatiwitri (18), anak seorang tukang cuci di kawasan Lapai,
Padang, diterima di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri
Padang. Namun untuk bisa berkuliah di perguruan tinggi terkemuka di Sumbar
itu, Nova harus menyediakan biaya mencapai Rp4,5 juta yang dibayar dalam dua
tahap. Tahap pertama harus dilunasi Rp2,75 juta paling lambat 24 Juli 2010.
Sedangkan tahap selanjutnya Rp1,75 juta lagi yang harus dilunasi pada
Desember nanti.
Pusing kepala Nova memikirkannya. Mau mengadu, kepada siapa akan mengadu.
Bapaknya Amin Moron sudah lama tiada. Sedang ibunya Lindawati (43) hanya
seorang tukang cuci.
Berderai airmata Nova memikirkannya. Di matanya terbayang masa depan yang
akan dirajutnya. Namun banyangan itu kembali terhenti saat jumlah uang yang
harus dibayar melintas lagi dibenaknya.
Sehabis akal ia memberanikan diri datang ke Redaksi Singgalang. Dengan penuh
haru ia bercerita tentang cita-citanya. Namun uang pangkal penebus bangku
kuliah itu serasa sangat berat.
"Tak tahu kemana kami akan mengadu pak. Kalaulah saya bisa kuliah, saya
satu-satunya dari empat bersaudara yang bisa mengecap pendidikan di
perguruan tinggi," ungkapnya.
Entah rezeki yang sedang baik, saat bersamaan ada seorang dermawan yang akan
menyumbang. Saat itu juga bantuan untuk Nova mengalir. Uang sejumlah Rp3
juta pembayar uang tahap pertama pun sudah di tangan.
"Alhamdulillah, ada dermawan yang membantu. Mudah-mudahan rezeki bapak itu
dilipatgandakan Allah," ujarnya.
Ikhsan
Otaknya benar-benar pintar dan cerdas. Apalagi, wajahnya begitu tampan. Dia
bernama M Ikhsan Putra, 19. Berkat kecerdasannya itu putra kembar asal
Pesisir Selatan itu berhasil lulus sebagai mahasiswa Bisnis International di
Universitas Brawijaya setelah mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN). Pernyataan kelulusan tersebut dibacanya di koran
Sabtu lalu dan disana tertera nomor ujian 310-17-150407005 dinyatakan lulus
pada pilihan ke tiga di Universitas Brawijaya.
Sayangnya, keinginannya terpaksa ditunda karena orang tuanya tidak memiliki
biaya untuk menyekolahkannya. Orang tua laki-laki lumpuh di rumah, sementara
sang ibu Nurmayantini hanya seorang guru ngaji di kampungnya. Untuk biaya
uang masuk di Universitas Brawijaya membutuhkan biaya Rp9.260.000. "Dengan
penghasilan uang orang tuanya pas-pasan tersebut mana mungkin bisa membiayai
saya sekolah," ungkap M Ikhsan Putra.
Sebelumnya anak tampan yang pintar berbicara dengan Bahasa Inggris secara
otodidak ini telah melewatkan tawaran kesempatan beasiswa baik dari dalam
negeri maupun dari luar negeri. Dalam negeri seperti Sampoerna dan CIMB
Niaga. Sedangkan dari luar negeripun, dia dianggurkan begitu saja. Dua di
antaranya dari Universitas Leiden dan dari Rotterdam Belanda.
"Semuanya, waktu pendaftaran ulangan untuk penerima beasiswa sudah lewat.
Karena saya tidak punya biaya tiket untuk pergi ke sana melakukan
pendaftaran ulang," ucapnnya dengan nada sedih.
Tapi, tahun ini dia memiliki kebulatan tekad untuk melanjutkan pendidikan.
Korbaran api semangat di jiwanya masih ada, walaupun selama enam bulan ini
telah bekerja pada sebuah rumah makan di Pasar Raya Padang. "Tapi uang dari
hasil kerja itu belum cukup untuk biaya kuliah," ungkap lelaki pekerja kerja
keras dan pintar itu.
Hanya dengan kepintarannya itu siswa SMA 1 Tarusan Pesisir Selatan ini
berhasil mendapatakan tawaran beasiswa dari beberapa universitas ternama di
Indonesia maupun di luar negeri. Dia sangat mengharapkan bantuan supaya bisa
berkuliah kembali, mengembangkan potensi dirinya, demi mambangkik batang
tarandam. Dia agak deg-degkan sebab waktu pembayaran masuk di Universitas
Brawijaya dilakukan dimulai tanggal 19-30 Juli ini.
Ibunya, Nurmayantini, yang guru mengaji itu, matanya sabak. Sulit bisa
mendapatkan anak sepintar anaknya. Tapi, kepintaran anaknya sekaligus bagai
sembilu, mengiris hatinya. Ia meneteskan air mata dan menyapunya
cepat-cepat, seolah ia tak ingin anaknya melihat ia menangis.
Andakah yang ditunjuk Allah SWT sebagai dermawan yang akan membantu Afdal,
Ikhsan dan Nova? Silahkan salurkan donasi anda lewat Harian Singgalang,
nomor telepon 0751-36923.
(Hendri Nova/Bambang/Lenggo)
http://berita.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=39
PADANG - Maida, anak Solok Selatan yang gigih itu, bergerilya dari kantor ke
kantor meminta sumbangan agar ia bisa masuk Unand. Nida Ria, anak yatim itu,
terhantuk langkahnya ketika ia dinyatakan diterima di UNP. Ibu tercinta
hanyalah seorang penjual lontong. Lalu Anggun nyaris terhempas di ujung
malam, karena ketiadaan uang. Motor kakaknya sudah digadai, tapi uang untuk
menuju universitas Padjadjaran Bandung, masih belum cukup.
Sementara Nova, Afdal sebagaimana disiarkan Singgalang, kemarin mulai agak
lega. Nova sudah mengantongi bantuan dari Hamba Allah Rp3 juta dan Bazda
Kota Padang Rp4 juta. Akan halnya Afdal, sudah dijanjikan, tapi belum
diserahkan. Meski begitu, ia sudah diterima mendaftar di Unand. "Tak ada
anak miskin yang ditolak di sini," kata Rektor Unand, Musliar Kasim.
Sedangkan M. Ikhsan yang diterima di Universitas Brawijaya, baru dapat Rp2
juta, sementara kebutuhannya Rp9 juta.
Bukan pengemis
Hari ini ada kisah tentang Maida Solvianti. Gadis remaja itu bukan pengemis,
tapi pelajar ulet yang ingin masuk perguruan tinggi. Namun karena
orangtuanya miskin, ia nekat menjajakan daftar sumbangan. Walau hasilnya tak
cukup, bermodal sumbangan itulah ia mendaftar jadi mahaiswa di Fakultas
Pertanian, Universitas Andalas, Padang. Namanya Maida Solvianti, tamat SMA
Negeri 1 Solok Selatan. Maida lulus Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SMPTN) yang diumumkan 17 Juli lalu. Kepastian diterima di PTN ternama di
Sumbar itu diketahuinya lewat pengumuman di surat kabar terbitan Padang.
Maida anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Syamwil dan Somi. Orangtua
petani miskin di kampungnya Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu. Jangankan
untuk biaya masuk perguruan tinggi, untuk makan sehari-hari saja, orangtua
Maida sudah pontang panting.
Saat membaca hasil seleksi di media massa yang menyatakan ia lulus, mata
Maida berkaca-kaca. Wajahnya sumringah, gembira. Betapa gembiranya hati anak
pertama dari empat bersaudara ini.
Namun di balik kegembiraan dan kebahagiaan itu, ada rona sedih di wajahnya,
sebab orangtuanya miskin, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah.
Dalam pengumuman tersebut dicantumkan, bagi yang lulus segera mendaftar
ulang dengan biaya Rp5 juta. Maida sedikit kecewa, ketiga adik-adiknya juga
tengah memerlukan biaya sekolah pula. Waktu mencari uang pinjaman terlalu
singkat.
Bermodalkan nekad, Maida berjalan gontai menemui pihak sekolah untuk
dicarikan jalan keluarnya. Bagaimana untuk mendapatkan uang pendaftaran Rp5
juta.
Maida sadar, kalau diminta kepada orangtuanya, kemana akan dicarikan uang
sebanyak itu.
"Untuak makan sajo indak cukuik nak!," kata Maida mengulang jawaban dari
ayahnya Syamwil.
Keluhkan Maida direspon SMA 1 Solsel. Kepala sekolah, Ridwan.Spd, MM secara
spontan mengumpulkan sumbangan dari dari guru dan pegawai di sekolah
tersebut. Tak hanya sumbangan, pihak sekolah juga memberikan rekomendasi
untuk dilanjutkan ke Dinas Pendidikan dan pemerintah kabupaten.
Tanpa didamping orang lain, Meida datang ke Padang Aro dengan menaiki angkot
dengan membawa uang pas-pasan. Berupaya mengumpulkan sumbangan dari
orang-orang yang peduli terhadap nasibnya.
Hari itu Senin (19/7) siang, nafasnya sedikit sesak, keringatnya bercucuran
di tengah teriknya matahari. Satu persatu langkahnya diayunkan di tangga
menuju lantai dua kantor bupati Solok Selatan yang terletak di Padang Aro.
Maida masih berseragam SMA dan berjilbab. Di tangannya ada sebuah map dan
kotak kecil berisikan uang sumbangan dari beberapa orang yang sudah
ditemuinya. Maida naik ke lantai dua kantor bupati itu dengan maksud bertemu
bupati Syafrizal, namun tak berhasil. Bupati tidak berada di tempat.
Seperti yang di perlihatkan kepada Singgalang, sumbangan beberapa orang yang
peduli terdiri SMAN 1 Solsel sebesar Rp1,3 juta, Dinas Pendidikan Rp800
ribu, sekretariat kantor bupati Rp750 ribu dan lainya. Totalnya terkumpul
Rp2.850.000.
Tekad gadis memang sudah bulat. Bermodalnya uang hasil sumbangan itu ia pun
berangkat ke Padang mendaftar di Unand. Selasa kemarin, dari informasi yang
diperoleh Singgalang melalui kepala sekolah SMA Neg 1, Ridwan, Meida sudah
berada di Padang berhasil mendaftar dari uang pinjaman orang lain.
Mida Ria
Nida Ria begitu kalut saat mengetahui dirinya lolos dalam Seleksi Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 yang diumumkan 17 Juli 2010 lalu.
Bukan karena tak suka, tapi hatinya gundah gulana karena memikirkan biaya
masuk sebesar Rp2.750.000 yang harus dipenuhinya untuk bisa kuliah di
jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)
Universitas Negeri Padang (UNP) yang memang sangat dicita-citakannya.
Yang jauh lebih gundah adalah Nelmawati, sang ibu. Penghasilannya sebagai
penjual lontong jelas tidak dapat memenuhi hasrat anaknya melanjutkan
pendidikan ke PTN. Berapalah uang yang didapatkan dari menjual lontong yang
hanya sekali dalam seminggu di Pasar Lubuk Buaya, Padang itu. Uang tersebut
tidak hanya untuk modal penjualan lontong selanjutnya, tapi di sanalah
bergantung semua kebutuhan hidup mereka anak beranak. Seperti untuk makan
pagi dan petang, biaya sekolah anak dan kebutuhan hidup lainnya.
Suaminya, Usman sudah meninggal dunia dua tahun lalu. Kalaulah suaminya
tersebut masih ada, maka tidak sesusah itu hatinya. Tapi, bukan dia hendak
menyesali takdir Allah, hanya dia tak dapat berpikir lagi kemana hendak
mengadu. Dia sangat berkeinginan pula anaknya itu bisa kuliah. Tapi untuk
meminjam ke tetangga juga sulit baginya. Bukan saja karena sulit membayar
kembali, tapi mereka tak hendak menyusahkan para tetangga yang selama ini
sudah sering membantu.
"Untuk membeli formulir ujian SNMPTN itu saja, Nida sudah dibantu oleh para
tetangga yang memberinya dana Rp200 ribu," sela Merize, sang kakak yang kini
sudah menikah.
Kekalutan mereka kian bertambah, mengingat waktu pendaftaran tinggal
beberapa hari lagi. Bila biaya masuk itu tak bisa dibayarkan sebelum waktu
pendaftaran ditutup 24 Juli mendatang, maka pupus sudah harapan Nida untuk
menggapai asa yang sudah lama dipendamnya. "Ini cita-cita Nida sejak lama,
menjadi guru PLB mendidik anak-anak berkebutuhan khusus," ujarnya sedih.
Tidak hanya asanya saja yang akan terkubur, keinginan untuk mengubah nasib
keluarganya juga akan lenyap seketika. "Nida tak ingin hidup dari menjual
lontong saja, Kak. Nida ingin mengubah nasib kami," kata kelahiran Kasang,
14 April 1992 tersebut dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca kepada
Singgalang, Selasa (20/7).
Nida bercerita, sejak semula dia tahu ini sulit baginya. Ketika tamat SMA
beberapa bulan lalu, dia sempat berniat untuk mencari kerja saja dan
mengubur impiannya menjadi guru. Namun tetangga yang kasihan melihatnya,
memberikan dorongan dan uang untuk biaya mendaftar SNMPTN. Uang itulah yang
dipakai membeli formulir IPC. "Nida memilih tiga jurusan, PGSD, PLB dan
Biologi di UNP. Alhamdullilah lulus di PLB yang sesuai keinginan Nida,"
kenang lulusan IPA di SMA Pertiwi I, Padang itu.
Walau tahu akan kesulitan keuangan bila dia lulus SNMPTN, tidak membuat Nida
asal-asalan dalam menjawab pertanyaan. Dia tetap bersungguh-sungguh dalam
menyelesaikan pertanyaan demi pertanyaan yang ada. Sampai kemudian dalam
pengumuman Sabtu lalu itu, dia dinyatakan lulus pada jurusan PLB, jurusan
yang memang sudah diimpikannya sejak dulu. "Nida sebenarnya merasa beruntung
bisa lulus dalam SNMPTN ini, karena banyak anak-anak lain tidak lulus, tapi
kondisi keuangan kami yang tak memungkinkan membuat saya sedih," katanya.
Merize, sang kakak juga tak tega melihat adiknya yang sering menangis. Tapi
apa daya, dia juga tak sanggup membantu, karena suaminya hanya guru honor
sebuah sekolah dasar di dekat kediaman mereka di Simpang Tanjung, Batas Kota
Padang dengan Padang Pariaman.
"Kalaupun bisa membantu, berapalah yang mampu saya bantu," ujarnya ikut
sedih.
Menemui Singgalang merupakan harapan terakhir Nida dan keluarganya untuk
mendapatkan biaya masuk kuliah itu. Dia berharap, ada orang yang hiba dengan
nasibnya dan mau membantu meringankan beban ibunya yang kini menjadi
penopang utama kehidupan keluarga mereka. "Saya sangat berharap ada yang
bisa membantu kami," ujar gadis manis ini penuh harap.
Anggun
Mata indah Reski Anggun Syarif terlihat berkaca-kaca ketika dinyatakan lulus
sebagai mahasiswa sarjana-S1, Fakultas Sastra dengan Program Studi (Prodi)
Sastra Jepang pada Universitas Padjadjaran. Sayangnya rona wajahnya tersirat
antara kecemasan, kegamangan bercampur dengan girang tak terkira. Mengingat
biaya kuliah di Unpad senilai Rp6.000.000 belum jua terkumpul. Walapun,
keluarganya telah menjual sepeda motor. Tetapi uangnya tak mampu menutupi
biaya kuliahnya. Belum lagi untuk biaya kos di negeri orang.
"Kami telah menjual sepeda motor dengan harga Rp5 juta. Tapi uang belum
mencukupi untuk biaya kuliah di sana," kata Reski Anggun Syarif memulai
pembicaraan dengan Singgalang, Selasa (20/7).
Apalagi pekerjaan orang tua lelaki Syarifuddin hanya seorang buruh kasar
(tukang). Sedangkan sang bunda, Surtini hanya seorang ibu rumah tangga.
Tekad Reski Anggun Syarif yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Jalan
Andalas Gang Surga Indah nomor 30 Padang sangat kuat. Ingin melanjutkan
pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Tentunya didukung dengan prestasinya
yang berhasil memperoleh nem rata-rata 7,9 saat Ujian Nasional (UN). Anaknya
terbilang cerdas dan kreatif.
Ketika duduk di bangku sekolah, SMAN 10 Padang, Reski Anggun Syarif
terbilang anak yang pintar dengan segudang prestasi. Walaupun penghasilan
orang tua yang pas-pasan. Kondisi perekonomian keluarga itu membuatnya untuk
minder. Dia tetap berprestasi di sekolah bertaraf internasional itu.
Buktinya selama di SMA selalu menduduki peringkat sepuluh besar.
Malah, dia juga terbilang bibit berprestasi. Dia berhasil memperoleh mendali
perak tingkat Sumbar di dunia tekondow. Saat ini dalam dunia itu telah
memiliki sabuk hijau.
Anggun tersedu, matanya hampa, ketika datang ke Singgalang. Bisa jadi,
seorang dermawan akan membantunya.
Ikhsan
Tangis Muhammad Ikhsan Putra berhenti mendengar ia lulus SNMPTN di
Universitas Brawijaya. Sebelumnya Ikhlan mengabaikan tawaran beasiswa
belajar di Universitas Leiden, serta Rotterdam Belanda karena terkendala
uang. Kini sejumlah donatur meyumbangkan sebagian rezekinya untuk anak
pintar ini.
Dipelopori Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, H. Dian Wijaya dihubungi
sejumlah donatur. Hasilnya, sementara terkumpul Rp2 juta, berasal dari
karyawan Dinas Pendidikan Pessel Rp1 juta, M. Zein Sadan, Padang Rp500 ribu
dan H. Nizar Abbas, Rp500 ribu.
Tidak cukup sampai di situ, orang nomor satu di Dinas Pendidikan Pessel
tersebut berjanji akan mencari upaya lain menanggulangi biaya masuk kuliah
Ikhsan, siswa tamatan SMAN I Tarusan.
Rencananya Rabu ini, dalam rapat kepala SMA/K se- Pesisir Selatan di Balai
Selasa, Dian Wijaya akan menggugah para kepala sekolah untuk badoncek.
"Setelah saya mendapat telepon dari Pemred Harian Singgalang, Khairul Jasmi
dan membaca Singgalang Selasa (20/7), saya langsung berusaha mencarikan para
donatur. Alhamdulillah sementara sudah terkumpul Rp2 juta. Nanti kita
upayakan lagi dalam rapat kepala-kepala sekolah," kata Dian Wijaya Selasa
sore kemarin.
Kata Dian, melihat potensi Ikhsan, sangat sayang sekali jika tidak kuliah
hanya gara-gara ketiadaan uang. "Ini menjadi tanggungjawab moral masyarakat
Pessel menanggulanginya," katanya.
Ikhsan berasal dari keluarga miskin, terkendala masuk perguruan tinggi
karena ketiadaan biaya.
Afdal
Afdal Tanjung akhirnya bisa juga kuliah di Unand. Ia pun sudah dites urin,
sebagai persyaratan menjadi mahasiswa Unand. Afdal sangat bahagia, karena
keinginannya sudah tercapai.
"Saya sudah dites. Terimakasih saya pada Harian Singgalang yang telah sudi
menjadi tempat mengadu bagi kami orang miskin. Semoga Harian Singgalang
tetap menjadi nomor satu dan semakin banyak pelanggannya," doa Afdal sewaktu
dikonfirmasi tentang kondisi terakhirnya terkait masalah kuliah, Selasa
(20/7).
Suksesnya Afdal menjadi mahasiswa Unand, karena adanya niat baik dari Rektor
Musliar Kasim. Menurutnya, tak satupun anak miskin yang tidak bisa kuliah di
Unand.
Sementara Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi mengatakan,
Sumbar sebenarnya ada dana Rp500 juta untuk menunjang pendidikan anak tak
mampu. Yayasan itu bernama Yayasan Pendidikan Sumbar. Sayangnya hingga saat
ini belum juga beroperasi, padahal banyak anak miskin yang butuh.
"Kalau tidak mampu mengelolanya, percayakan saja pada Harian Singgalang,
biar disalurkan pada yang berhak. Saya harap uang itu tidak lama-lama
tersimpan dan segera dicairkan," katanya.
Adakah yang masih peduli untuk anak-anak kita yang cerdas ini?
(104/204/alex/109/304)
http://www.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=63
Pertama saya turut prihatin atas keadaan yang menimpa anak-anak kita ini. sesungguhnya banyak lagi anak-anak seperti mereka yang bahkan menutup mimpi mereka lebih awal dengan berinisiatif tidak melanjutkan ke bangku kuliah, namun langsung mencari rezki di dunia kerja. Bahkan banyak lagi nasib anak-anak kita yang lebih susah dari ini. Di dekat tempat usaha saya, bahkan orang tuanya ingin menunda anaknya masuk SD karna tidak punya uang, padahal usianya sudah usia sekolah. Masuk SD negeri yang katanya gratis tidak bisa karena sekolah lebih menerima anak-anak dengan kemampuan yang lebih tinggi, dan kebanyakan mereka keluarga berada (yang kaya malah dapat subsidi) dengan terpaksa masuk kesekolah swasta yang harus bayar. Alhamdulillah kami bisa bantu sepenuhnya.
Sekarang kalau sudah begini pertanyaannya, siapa yang harus bertanggung jawab? Masyarakat? Masyarakat tentunya secara moral dan agama punya kewajiban, terutama mereka yang bertetangga dengan anak-anak tersebut. Namun disisi lain, perkembangan pembangunan membuat masyarakat kita terkotak, si kaya dengan perumahan kayanya. Simiskin dengan komunitasnya.
Setiap insan juga punya kewajiban yang sudah di syariat kan melalui zakat, infak dan sadaqah. Pertanyaannya, sudah kah kita membayar zakat? Menyisihkan infak? Dan mengeluarkan sadaqah? Jika saja kita semua punya kesadaran membayar zakat, Insya Allah jelaslah tempat mereka mengadu.
Setiap warga negara juga punya kewajiban melalui pajak dan retribusi. Naaaah... yang ini kebanyakan kita mengelak dengan berbagai alasan, pemerintah koruplah, penyaluran tak jelas, bahkan dianggap tidak wajib dalam agama, yang wajib hanya zakat.
Pertanyaannya, sudahkah kita membayar pajak dengan benar dan jujur?
Siapa lagi yang bertanggung jawab ? Pemerintah? Ya, pemerintah adalah orang yang dipercaya masyarakat untuk mengatur negaranya. Tapi yang kita saksikan saat ini adalah mereka malah sibuk mengurus diri sendiri, memperkaya diri, tanpa merasa berdosa telah lalai terhadap anak-anak ini. Padahal UU sudah mengatur tanggung jawab ini.
Semua salah masyarakatnya juga, karena memilih pemimpin yang tidak peduli dengan masyarakat, yang tidak merakyat, yang suka menumpuk harta.
Pemimpin adalah cerminan masyarakatnya, kalau kita lihat banyak pemimpin yang melakukan kemungkaran saat ini, yakinlah masyarakat kita juga gemar melakukan hal yang sama (dalam kasus yang berbeda, mungkin lebih kecil atau lebih besar saja nilainya)
Sekarang kalau masyarakatnya tidak bertanggung jawab, pemerintahnya tidak bertanggung jawab...akan kah kita serahkan semuanya kepada Allah Swt
Wassalam,
Haris Jumadi, 34, Pekanbaru
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message-----
From: "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org>
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Wed, 21 Jul 2010 13:45:13
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
PADANG - Afdal Tanjung sangat bersyukur dengan dana pendidikan yang
diterimanya dari orang yang tidak mau disebutkan namanya. Kebahagiaan itu
melengkapi rasa syukurnya, karena sudah bisa mendaftar di Unand walau belum
menyetorkan uang pendaftaran.
"Unand memberi tenggat waktu pembayaran, sehingga saya bisa mendaftar.
Terimakasih sekali pada bapak yang berhati emas mau membantu saya membayar
uang kuliah. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan hati bapak. Semoga
rezeki berlipat-lipat segera Allah curahkan kepada bapak sekeluarga,
amin..." doa Afdal dalam getar jantungnya yang mendadak terharu, sewaktu
menerima bantuan sejumlah Rp. 7.000.000 di Harian Singgalang, Rabu (21/7).
Uang sebanyak itu, baru saja ditransfer oleh seseorang. "Untuk uang masuk
dan beli-beli buku," kata seseorang itu.
Dengan uang sebesar itu, Afdal bisa melunasi uang kuliah sebesar Rp.
5.300.000 lebih. Sisanya akan ia gunakan untuk kepentingan lain, dan akan
dimasukkan dalam tabungan.
"Saya akan buka rekening atas nama saya, untuk memudahkan bapak itu membantu
pendidikan saya. Saya berjanji akan belajar sebaik mungkin, sehingga
hasilnya tidak mengecewakan bapak penanggung kuliah saya," ujarnya.
Seseorang yang baik hati tersebut, memang telah berjanji memberi biaya
bulanan untuk Afdal.
Afdal pun berjanji mencari sumber penghasilan uang halal, untuk mendukung
dana selama menempuh pendidikan. Rencananya, Afdal akan tinggal di asrama
mahasiswa Unand.
Tanggal 12 Agustus yang akan datang, Afdal akan memulai pendidikan di Unand.
Tekad sudah ia bulatkan, untuk memberi hasil terbaik bagi dermawan
penyandang dana dan juga keluarga.
Sementara itu, Anggun, anak SMA 10 Padang, yang diterima di Universitas
Padjadjaran, kemarin juga menerima bantuan dari Wakil Ketua DPRD Sumbar,
Trianda Farhan Satria sebesar Rp1 juta. Farhan menyerahkan bantuan Rp3 juta
untuk anak-anak yang yatim atau yang mendesak dibantu. Rp1 juta lagi untuk
Maida Solvianti yang diterima di Unand. Anak Solok Selatan ini, sudah
mendaftar. Sedang Rp1 juta lagi, untuk M Ikhsan yang diterima di Universitas
Brawijaya, Malang. Ikhsan juga telah dapat dari guru-guru di Pessel sebesar
Rp4 juta. "Besok kami antar," kata salah seorang dari mereka, tadi malam.
Akan halnya Mida Ria, hari ini akan menemui calon orangtua angkatnya. Orang
yang sama, beberapa waktu lalu juga telah menjadikan seorang anak miskin
yang diberitakan Singgalang, sebagai anak angkatnya.
Sebagaimana diberitakan sejak beberapa hari belakangan, setidaknya ada enam
orang anak miskin, anak yatim yang diterima di berbagai perguruan tinggi
negeri di Indonesia yang kesulitan keuangan. Mereka datang ke Redaksi
Singgalang guna mengadukan nasibnya. Untuk merekalah para dermawan
memberikan bantuannya. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=88
Dek hanyo baru bisa malewakan, dan lai ado rasaki adiak2 awak tu melalui RN
Secaro pribadi ambo cukuik bangga, mudah mudahan sanak wak nan lai agak
Balabiah nan lain, lai sato pulo sakaki.
Semoga amal baiak sanak2 awak sebagai donatur mandapek pahalo nan ndak
terhingga, Amin....
wassalam
Nofend
-----Original Message-----
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of dasrie...@yahoo.com
Sent: Thursday, July 22, 2010 9:51 PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Derai Air MATA Ibu-ibu Miskin di Singgalang
Alhamdulillah moga Allah memberi rejeki lebih pada para dermawan dan adik2
berhasil penddidikannya dibawah bimbingan-Nya
Amiin
Wass
Sent from my BlackBerryR
SOLOK SELATAN - Derita Maida Solfianti anak miskin dari Solok Selatan,
sekaligus menguak kegagalan sebelumnya yang dialami kakak sepupunya, Tiana
Yanesra. Tiana pada 2007 diterima di Unand lewat jalur PMDK, namun karena
ketiadaan biaya tak bisa kuliah.
Tiana Yanesra anak dari Gustiar (ayah) Yumliatif (ibu) adalah kakak ibu
Maidia, kakak sepupunya itu dinyatakan diterima melalui jalur PMDK 2007.
Namun karena waktu itu tak ditemukan solusi mengatasi biaya, peluang emas
itu tak bisa dipenuhi.
Sebagaimana ditururkan Yumliatif ibu Tiana Yanesra kepada Singgalang,
kemarin, "ini yang kedua kali dalam keluarga kami yang berhasil menembus
kuliah di perguruan tinggi ternama di Sumbar," Sewaktu Tiana dulu, mereka
pasrah saja, tidak seperti Maidia sekarang. "Kemiskinanlah yang membuat kami
tidak mampu menguliahkan anak. Jalan yang akan kami tempuh waktu itupun tak
tau, kelam. Terpaksalah anak kami itu mencari kerja ke Padang. Sekarang
Tiana sudah bekerja di PT Raturi Marino," kata Yumliatif.
Dia berharap, seperti juga harapan orangtua lainnya, semoga Maidia dapat
melanjutkan pendidikan di Unand, tanpa kendala yang berarti. Ini tidak
berlebihan, dengan harapan keberhasilan Maidia diharapkan keluarga bisa
berhasil mencapai kesejahteraan keluarga.
Tentang Maida Solfianti
Akan halnya Maida Solfiati sementara ini bolehlah berlega hati. Ia sudah
mendaftar di Fakultas Pertanian Unand berkat bantuan dermawan, baik yang
dikumpulkan di Solok Selatan maupun sumbangan yang diperoleh melalui Harian
Singgalang.
Seperti diberitakan sebelumnya, Maida tamatan SMA 1 Solok Selatan, lulus
SNMPTN di Fakultas Pertanian Unand. Karena tak punya uang Maida menjajakan
daftar sumbangan atas rekomendasi Dinas Pendidikan Solsel. Dari uang
sumbangan yang terkumpul itulah yang mendaftar ke ke Unand.
Simpati untuk Maida terus mengalir, seorang karyawati Unand, Kamis siang
kemarin menelepon Redaksi Singgalang menawarkan, jika Maida mau, ia bersedia
menampung tinggal di rumahnya sampai Maida tamat kuliah dengan catatan
kebutuhan makan, minum dan tinggal disediakan. Trianda Farhan Satria Anggota
DPRD dari PKS membantu Rp1 juta dan dananya sudah ditransfer ke rekening
Maida di Bank Nagari Muara Labuh.
Sedangkan di Nagari Pasir Talang Muara Labuh Rabu malam lalu, dua PNS kantor
bupati Solok Selatan, Firdaus Firman dan Zainal datang mengantarkan bantuan
Rp1 juta, diterima langsung Maida didampingi orangtuanya Syamwil-Somi. Maida
pun menyatakan terima kasih. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=111
PADANG - Musim awal tahun ajaran seakan jadi masa bercucuran air mata bagi
orang susah. Niat hati merebut masa yang layak agar kehidupan bisa berubah,
namun cita-cita itu tersandung biaya.
Terkadang memang tak jamak antara kemampuan akademis dengan kehidupan
ekonomi. Berlebih kemampuan akademis, kantong orangtua malah kempes.
Akibatnya, cita-cita bisa kandas sebelum lepas landas.
Kini, air mata duka tumpah dari anak tukang ojek dari Pasaman Barat.
Lantaran kemiskinan, seolah terlalu jauh harapan bisa jadi sarjana.
'Kemana lagi saya mencari uang kuliah,' begitu jeritan hati Yetti Sumarni.
Ia bahagia ketika melihat nomor ujiannya 31017150608009 tertera dalam
pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN).
Ia berasal dari Pasaman Barat yang lulus di Pendidikan Bahasa Sastra
Indonesia dan Daerah. Ia dinyatakan dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 18165
UNP.
Namun, kemudian langkahnya lunglai. Wajahnya sendu. Matanya menerawang
ketika melihat biayanya kuliahnya hampir Rp5 juta. "Keluarga saya tidak
memiliki uang sebanyak itu," ungkap Yetti begitu sapaan akrab Yetti Sumarni
kepada Singgalang, Kamis (22/7).
Dia terlahir dari keluarga tidak mampu. Bapaknya, Syafril 60, hanya seorang
tukang ojek yang penghasilan tak menentu setiap hari.
Sedangkan sang bunda, Nurbaya, 41 hanya ibu rumah tangga. "Saya tiga orang
bersaudara. Ayah seorang tukang ojek. Yang penghasilan satu hari hanya mampu
untuk kebutuhan sehari-hari. Kadang-kadang uang hasil ojek itu bisa untuk
makan satu hari. Kadang tidak ada sama sekali. Maklum saat ini orang-orang
yang banyak memiliki sepeda motor. Sehingga, jarang menyewa ojek,"
ceritanya.
Untuk membiayai kuliah ini, kata Yetti, keluarganya harus menjual semua
peralatan di rumah. Sayangnya, tidak cukup jua. Ke mana lagi wanita berparas
cantik itu harus mengadu.
Selama duduk di bangku SMA, Yetti merupakan siswa berotak encer dan cerdas.
Dia masuk ke dalam kelas unggul di SMAN 1 Pasaman Barat. Sehingga, perempuan
yang tinggal di Jalan Kartini Nomor 64 Aur Badidik Kinali Pasaman Barat
dibiayai oleh Pemerintah Daerah bimbingan tes persiapan SNMPTN. Adakah
donatur yang bersedia membantu anak itu? (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=113
PADANG - Nelmawati tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis bukan karena
sedih, tapi terharu akhirnya anak gadisnya, Nida Ria bisa melanjutkan
pendidikannya ke Universitas Negeri Padang (UNP).
Seorang hamba Allah di Kota Wisata Bukittinggi tidak hanya membayarkan biaya
masuk sebesar Rp2.750.000, juga akan menanggung biaya pendidikan Nida sampai
menamatkan pendidikannya di Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas
Ilmu Pendidikan (FIP) UNP.
"Rasanya darah saya sudah kembali ke jantung," katanya kepada Singgalang
yang menemani ibu dan anak itu ke kota Sanjai itu, Kamis (22/7).
Seperti diberitakan Singgalang dua hari lalu, Nida Ria yang diterima di PLB
FIP UNP tersandung biaya masuk akibat ketiadaan biaya. Ibunya, hanya penjual
lontong gulai di Pasar Lubuk Buaya, Padang. Itupun berjualan sekali dalam
seminggu pada hari Minggu saja.
Menurut Nelmawati, sejak Nida (sapaan putrinya) dinyatakan lulus Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 17 Juli lalu, hatinya tiada
senang lagi. Susah hatinya memikirkan biaya pendidikan anaknya itu,
sementara di lubuk hatinya dia berharap anak kedua dari tiga bersaudara
tersebut bisa melanjutkan pendidikannya sampai perguruan tinggi.
"Sedih saya tak terperi melihat Nida selalu menangis memikirkan biaya
pendidikannya yang tak mampu saya miliki. Kini, saya benar-benar lega.
Alhamdullilah! Puji syukur pada Allah dan terimakasih buat dermawan berhati
mulia yang sudah membantu biaya pendidikan Nida," ujarnya.
Syukurnya Nen, sapaan akrabnya tidak terkatakan. Apalagi, dermawan tersebut
berjanji akan membiayai pendidikan anaknya sampai tamat. Sungguh tak
menyangka, tapi ini kuasa Allah SWT yang telah menunjukkan jalan bagi
putrinya yang tercinta.
"Saya sangat-sangat berterimakasih, karena saya juga khawatir nanti Nida
putus di tengah jalan kuliahnya, tapi dermawan itu telah memberikan jalan
keluar yang sangat melegakan hati saya," sebutnya lagi.
Tak hanya Nen yang sangat berbahagia. Nida pun tak kalah sukacitanya. Senyum
terus tersungging di bibir gadis manis itu. Dia sama seperti ibunya, tak
kalah bersyukur dan berterimakasih kepada hamba Allah SWT.
"Nida merasa sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan dermawan tersebut,"
katanya pula.
Di hadapan sang Bunda, gadis yatim yang sudah dua tahun ditinggal sang
ayahnya Usman, Nida berjanji akan belajar sungguh-sungguh. Juga akan
berupaya untuk selalu mendapatkan nilai-nilai terbaik di tempat
perkuliahannya nanti.
"Insya Allah. Doakan Nida ya Kak," ujarnya kepada wartawati Singgalang.
Sang dewa penolong sendiri tak ingin disebutkan jati dirinya. Dia ingin apa
yang diberikannya bisa memberikan berkah bagi anak-anak yang telah
ditolongnya, terutama untuk diri sendiri dan keluarga yang ditolongnya. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=110
Padang, Singgalang
Langkah Ihsan menuju Universitas Brawijaya makin lapang. Nama lengkapnya,
Muhammad Ihsan Putra anak Pesisir Selatan yang lulus SNMPTN kembali mendapat
tambahan dana pendidikan.
Kali ini datang dari organisasi bernama Musyawarah Kerja Kepala-Kepala
Sekolah SMA Kabupaten Pesisir Selatan. Lewat ketuanya yang juga Kepala
Sekolah SMAN 2 Koto XI Tarusan, Mardanus, Ihsan mendapat tambahan uang
sebesar Rp4.000.000.
Bantuan tersebut merupakan hasil sumbangan organisasi ini, yang turut
tersentuh dengan keadaan Ihsan dan keluarga. Mardanus berharap, bantuan
dapat mencukupi dana pendidikan Ihsan.
"Hanya ini yang dapat kami bantu bagi anak kami tersebut. Belajarlah yang
rajin, dan pulanglah ke kampung jika sudah tamat nanti. Abdikan ilmu di
kampung, karena Pesisir Selatan sangat butuh orang-orang seperti Ihsan,"
kata Mardanus, Kamis (22/7). Ihsan sendiri menurut Khairul, akan berangkat
ke Unibraw Malang Sabtu depan. Tiketnya sudah dibelikan, begitu juga dengan
dana pendidikan. Jika masih ada juga donatur yang berbaik hati, Harian
Singgalang siap menyalurkan pada yang berhak. Tadi malam datang bantuan Rp8
juta dari Hamba Allah untuk dibagi kepada anak-anak miskin yang akan kuliah.
Kemudian seorang mahasiswa IAIN Imam Bonjol tingkat dua dibantu oleh
Walikota Solok Rp1 juta. Yang bersangkutan disuruh pulang orangtuanya karena
tidak sanggup memnbayar uang kuliah, tapi Bupati Solok terpilih ini
menyelamatkan anak Alahan Panjang itu. (Hendri Nova)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=112
Buliah dikatokan ampia tiok tahun salasai tahun ajaran atau tamaik SMA, yo banyak siswa2 berprestasi lulus dan masuak ka PTN2, tapi karano faktor biaya juo mako banyak kendala ndak dihadoi, lah manjadi "tren" juo kini dek siswa jo urang tuonyo agar bisa diekspos dek media dan wartawannyo siap maangkek carito kesusahan, kesedihan dan kesulitan ekonomi nan dihadoi dengan harapan ado dermawan nan basadio mambantu sacaro materi
Nampaknyo memang lai ado nan tergugah baik manyumbang ala kadarnyo samai nan agak badago, paliang indak biaya masuak kuliah pertamo tu teratasi sedang biaya salanjuiknyo antah baa pulo bisuak nan ka dihadoi
Disuatu sisi buliah lah awak kecekan pemerintah kito ko yo lah gagal manyadiokan biaya pendidikan nan gratis atau paliang indak samurah2nyo buek rakyat,
Disuati sisi memang tidak realistis kito simak, gedung2 proyek han nan dibiayai pemerintah sampai ratusan miliar nan sakiro kalau bicara skala prioritas dan terbatasnyo dana tantu anggaran untuak pendidikan ko nan paliang utamo dulu (ikolah amanah dari Undang2 tentang pendidikan bagi semuya Rakyat)
Banyak2 hal2 sakiro yo ndak logis lai caro bapikia pemimpin dan penguasa kito ko sarupo namuah juo hatinyo maambiak dana APBD untuak mambiayai klub sepak bola tujuannyo lah jaleh dek ulah kepala daerah diberbagai level lah jabatan politis akibatnyo dipasoan juo dek Kada ko mengelontor dana APBD ka klub sepak bola nan sakaligus biasonyo mereka sebagai pembina dengan harapan inyo dapek namo dimato masyarakat melalui olah raga sepak bola
Ambo adolah pecandu berat sepak bola tapi kok lah manyangkuik pendidikan buek anak bangsa ambo yo ndak peduli ka sepak bola tu do, kalaupun kolaps klub sepak bola tu..kolaps sajo lah dek ndak ado pitih dari pado mamakai anggaran APBD, ancak dilapiakan kan piti tu buek mambantu biaya pendidikan anak2 nan kurang mampu tapi berprestasi dan masuak ka PTN
Contoh
Jiko samusim klub tu maabih atau di doping dana 5 Milyar, jiko rato2 mambantu siswa nan indak mampu ko per orang agak 5 juta sorang lah1000 urang nan tabantu
Sabananyo penguasa tu harus malu maliek kondisi ko, kito2 manyumbang buek siswa2 nan kesulitan nan diekspos dek wartawan
Kalau pendidikan nan skala bisnis (mancari untuang) lah ado pulo tampeknyo malalui Univ Swasta itu wajar2 sajo karano iduik mereka dalam menjalan roda pendidikan yo dari uang masuk, uang semesteran, uang pembangunan dan iuran lainnyo , tapi ko PTN masih juo bajuta2 yo ndak abih pikia dek ambo do, nan tabayang dek ambo kini bara jurta pulo anak ambo bisuak masuak PTN ko
Disuatu sisi disikolah nan ambo rasokan hebatnyo rezim orde baru di tangan Pak Harto, sabana murah biaya sakolah..ndak ado pusiang urang gaek deknyo, malah kawan ambo dulu kuliah urang gaeknyo sabana miskin kiriman pitih balanjo Rp 25.000 sabulan (1985 an) bisa salasai kuliah, tinggak diasrama aia, listrik, kasua, lamari, dipan meja baraja dll sarana umum lainnyo gratis
Ditarimo kuliah dulu apo kah tanpa test atau test, indak ado biaya doh hanyo maisi formulir pendaftaran, ibaraiknyo kok paralu pitih juo ndak labiah ndak kurang untuak foto kopi ijazah dll sarato mancetak foto hitam putiah sajo
Uang semesteran sangkek ambo tu satahun Rp 45.000 nyo kalau dikurs dolarkan kini ko mungkin sekitar 450.000 sajo, kalaupun ado nan indak mampu dibuktikan jo surek miskin, lah perai sajo, jadi pemerintah orba tu yo habis2an mandroping dana buek pendidikan dulunyo ndak sarupo kini tapao PTN ngos2an mamuta roda pendidikan, bahkan tapasao pulo babnisnis kayu (HPH) nan hanyo maharok fee sajo diateh meja samantaro nan bakarajo sacaro bisnis kontraktor sajo, PTN hanyo punyo hak konsesi melalui usaho yayasan artau koperasi
Anrah lah..baa lah sabananyo kebijakan dan dana pendidikan kito ko yo, disiko lai ado Bapak Wakil Menteri kito Pak Fasli Jalal, tolong lag jalehkan ka kami2 ko Pak, kok lai manjadi anggota milist RN ko
Mdah2an Pak Wakil Menteri Pendidikan awak ko lai tersentuh jo kisah2 nan diberirtakan koran tru dan manjahkannyo ka kito
Dan kito tantu ndak baharok ka Pak Wakil Menteri Pendidikan ko sarupo mantari nan maimbau arago lado maha " mako diimbau rakyaik baranti makan lado"
Mudah2 jaan pulo diimbau dek Mantari Pendidika ko
'Bagi rakyaik nan indak sanggup mambayia uang sakolah, baranti sajo sakolah"
Itu sajo nan ambo sampaikan, jujur sajo ambo yo gak gamang kini maliek dunia pendidiukan negeri kito nan babiaya maha, kini sajo anak masuak SMU Negeri lah jutaan pulo di Kota Pekanbaru ko,antah bara pulo jutaannyo anak ambo bisuak masuak kuliah PTN..
Was Jepe
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
| Assalammu'alaikum Wr, Wb Sekolah sekarang betul2 mengejar bisnis ,dengan alasan dibuat sekolah dengan sistim Standart Internasional , dengan sistim bilingual segala rupalah ,dengan standart angka minimal rata-rata 8,5 ,padahal ini sekolah Negeri,untuk diterima disekolah tersebut harus membayar uang masuk 9 juta rupiah dan uang bulanannya Rp 500.000 , disisakanlah kelas reguler 2 kelas. Kalau menurut Uni , Pemerintah sudah tidak faham pentingnya pendidikan ,kalau faham tidak akan terjadi hal2 diatas, janji sekolah gratis mungkin ada tingkat SD atau SMP namun demikian selalu ada pungutan2 yang gak jelas. Kalau di urut bukan hanya bidang pendidikan saja yang bermasalah , bidang perekonomian ,pertanian ,kayaknya hampir semua deh berat urusannya , Uni bukan seorang yang ahli ,hanya
merasakan apa yang dirasakan masyarakat menengah kebawah . MUDAH2AN PEMERINTAH SADAR akan PENTINGNYA PENDIDIKAN bagi ANAK INDONESIA , sehingga segala kesulitan yang ada cepat diatasi , masih ribuan anak2 yang tidak bersekolah atau putus sekolah. Wassalam |
|
Masalah Pendidikan ini kita semua tahu ini amanah konstitusi nan harus dijalankan serta diselenggarakan oleh pemerintah yang berkuasa dari manapun iapapun dan dari partai apapun dia jika memegang jabatan menteri Pendidikan dari mengakomadasi para politikus dan dibantu oleh wakil meteri yang biasanya (kecendrungan wakil ini tentu orang teknis yang menguasai bidang atau punya pengalaman yang panjang seperti halnya WaMen Pendidikan kita Bapak Fasli Jalal)
Menurt saya Hal hal seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi. Dimana siswa2 yang pintar dan berprestasi karena kesulitan ekonomi ”mengemis” melalui pemberitaan media dengan segala ceritanya yang sedikit di dramtisir dengan harapan ada pihak dermawan yang terrsentuh hatinya dan akan membantu dan terasa lucu juga jika seorang Kada lalu ikut2an menyumbang padahal Kada ini adalah bagian dari pemerintah yang harus memikirkan berapa mahalnya biaya pendidkan di negara kita ini
Bertambah ironisi memang para penguasa dan petinggi negeri ini berlomba2 membangunan bangunan fisik serupa gedung2 bertingkat yang berbiaya ratusan milyars erta mealokasi APBD unuk hal hal sebenarnya bukan skala prioritas ya seperti klub sepak bola yang dibiayai APBD acara seremonial yang berbiaya tinggi serta berbagai kegiatan baik pembangunan fisik yang sekira belum mendesak hanya merupakan ambisi dari para petinggi negara ini
Seharunya pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan baik pusat dan daerah tentu sudah punya data terhadap siswa2 yang miskin ini dan berprestai diterima di PTN2 tapi karena kesulitan dalam membayar biaya masuk yang sangat memberatkan mereka
Karen ini menyangkut amanah kontitusi seharusnya pemerintah membebaskan mereka dengan segala biaya tsntu harus didukung degan surat keterangan miskin atau orang tua tidak mampu yang dikeluarkan oleh lurah kepala desa atau wali nagari
Untuk itu di mohon bpk Wakil Menteri anggota RN ini sedikit memberikan penjelasan pada kami2 ini bagaimana kebijakan pemerintah dalam dunia pendidkan bagi siswa tamatan sMU yang diterima di PTN tapi ketika mereka mendaftar kesulitan dalam biaya masuk dan apa langkah kedepan mengatasi agar biaya pendidkan kita ini kalaupun tidak gratis paling tidak sangat murah sekali seperti jaman keemasan Pendidkan yang pernah saya rasakan
Semoga Pak Falsi Jalal ibsa menjelaskan pada kita semua dan berharap jangan hanya muncul ketika kami mengucapkan.
Selamat atas terpilihnya Bpk jadi Wamen2 semoga sukses diiringi teriring salam dan doa bla bla ... Aminnnn lalu Bapak baru muncul disini mengucapakan terima kasih bla bla bla .. Amin
Mudah2an Bapak sebagai Wamen bisa mencarikan jalan keluar bagi siswa yang masuk PTN yang tidak mampu dan orang tuanya miskin sampai mereka menjadi sarjana
Kondisi pendidikan kita memang sedag miris dengarlah lagu Iwan fall Pak dalam album fifty fifty dunia pendidikan kita bagaian anak tiri yang kesepian kata IF dan juga bagaimana kelak anak banga akan nanti anak2 kita bisa mengarungi samudra karena sdm nya semakin tertinggal dengan negara2 tetangga
Terima kasih kalau ada tanggapan dari Bapak secara pribadi terkadang menjadi sebuah mimpi buruk bagi saya nantinya kelak bagi anak saya dan juga apalagi anak yang orang tuanya miskin terhadap biaya pendidikan kita [yang dikelola Pemerintah/PTN] dan juga berulang kali postingan di milist RN mengetengahkan subject tentang dunia pendidikan dan ketidak mampuan orang tua siswa yang orang tuanya miskin sementara anaknya cukup brprestasi dan diterima di PTN2 di RI ini
Lebih kurang kalau ada yang terlonsong juga mohon maaf
Wass Jepe
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-----Original Message-----
From: jupar...@yahoo.com
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Fri, 23 Jul 2010 11:51:23
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Derai Air MATA Ibu-ibu Miskin di Singgalang
PADANG - Para dermawan berhati emas, sungguh sangat banyak di Ranah Minang.
Berkat bantuan mereka, semua anak yang kesulitan dana pendidikan dan
mengadukan nasibnya ke Harian Singgalang, berhasil dibantu uang kuliahnya.
Kemarin (Jumat (23/7) saja, redaksi menerima banyak bantuan dana yang
langsung diberikan pada anak-anak pintar tersebut. Bantuan untuk anak
miskin, datang dalam jumlah yang besar.
Kemarin pula, anak-anak itu dilepas oleh Pemimpin Umum Singgalang, Basril
Djabar untuk mengejar masa depannya.
"Selamat jalan Ananda, timba ilmu sebaik-baiknya, pulanglah nanti dengan
kepala tegak, bangun kampung halaman," kata Uda Bas berpesan.
Di redaksi juga dilepas sedemikian rupa. Ada yang ke ITB, ke Brawijaja, ke
Padjadjaran, UNP dan Unand. Semua berangkat dengan bekal yang memadai. Awak
redaksi dan staf Dompet Dhuafa Singgalang, terlihat lega. Kemarin, Zukri
Saad, atas nama teman-teman alumninya sesama alumni ITB, "Minang Bandung"
mengantarkan bantuan Rp10 juta untuk Fu'ad yang diterima di ITB. Ia juga
memberi rekomendasi untuk kos di asrama Minang yang tak jauh dari kampus.
"Muhammad Ihsan Putra sudah terkumpul uangnya sebanyak Rp10 juta + Rp750.000
untuk tiket. Ia sudah dalam perjalanan menuju Universitas Brawijaya Malang,"
kata Pemimpin Redaksi Khairul Jasmi. Malah kemudian datang lagi tambahan
Rp750 ribu untuk jajan di jalan. Seorang ibu bergegas membuatkan rekening
untuk Ikhsan di BNI dan tentu saja akan mengirimi anak itu uang.
Sedang Fu'adi, sehari kemarin sibuk menghitung uangnya. Kebutuhan mendasar
sekitar Rp6 juta, tapi ia dapat lebih Rp15 juta.
Sementara Anggun yang diterima di Universitas Padjajaran, juga sudah bisa
mendaftar. Hal yang sama juga berlaku untuk Nida Ria, Yetti Sumarni dan
Maida Solfianti. Total dana yang terkumpul dari sumbangan para dermawan
mencapai Rp49.250.000. Sementara dana yang diperlukan untuk keseluruhan anak
kurang mampu tersebut, mencapai Rp50.500.000.
"Aman, bantuan akan terus mengalir," kata Redpel Singgalang, Syamsoedarman.
Menurut Syamsoedarman, batin awak redaksi Singgalang puas, karena,
suratkabar ini telah dijadikan tempat mengadu oleh kaum dhuafa. "Bayangkan
ulama terkemuka saja menyuruh anak-anak dhuafa datang ke Singgalang, itu
pertanda Singgalang dipercaya," kata dia.
Bagi dermawan yang masih ingin membantu, Harian Singgalang dan Dompet Dhuafa
Singgalang, siap menyalurkan pada anak miskin. Soalnya, masih banyak lagi
anak miskin butuh bantuan dana. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=137
Muharmein Zein Chaniago
Send from my iPad
Sent from my BlackBerry®Bold powered by ZulTan, L, 49+, Bogor
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Nampaknyo kito ka babaliak mambangkik batang tarandam barek samo dipikua kok ringan samo dijinjiang atau biaso disabuik bagotong royong. Namun satantang pun baitu dek babuek baiak pado2i mako kito ado lahan masiang-2 untuak tolong manolong nantu. Ijan nanti sampai over lap.
Kalau dalam agamo, ado tangguang jawab ka diri dan kaluarga untuak manjago dari api narako, ado tangguang jawab bajiran tetangga sahinggo ampek puluah rumah sakaliliang muko balakang kiri dan kanan.
Jadi untuak jalur normal mako tangguang jawab nan partamo iyo urang nan kayo di lingkuangan tetangga sinan untuak mambantu nan miskin, tangguang jawab urang cadiak pandai di lingkungannyo untuak mambari ilmu pengetahuan ka urang sakuliliang tu. Baitu juo urang nan alim ulama mako tangguang jawabnyo nan partamo adolah untuak urang nan sakuliliangnyo (jiran tetangganyo). Kecuali lah indak ado lai nan labiah disinan, mako kejiranan nan tadakek nan patuik mambantu. Sabab kito kan ado RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dst. Kalau birokrasi nan ado indak bisa dipakai mako untuak apo lai kito mamakai pemerintahan nan ado.
Falsafah urang tani dikampuang , Baraia sawah diateh mako barayia pulo sawah di baruah, makonyo dahulu hiduik di kampuang sanang sajo baiak nan kayo atau nan miskin dek mereka saliang tolong manolong tanpa diminta/otomatis sajo. Raso jo pareso mereka amat tinggi, alun maminta lah diagiah, nampak atok rumah jiran atau dunsanak nan lah lapuak capek dipaeloki. Apolai Wali Nagari lai proaktif pulo mangatur anak nagarinyo. Indak paralu pitih/proposal tapi sado karajo langsuang.
Daripado pai haji/umrah banyak kali, labiah rancak pitih tu dipakai dek urang miskin untuak makan, sikolah, baraja agamo, dll
Sakitu dulu sanak
Wassalam
anwarjambak
LUBUK BASUNG - Guru-guru SMA 1 Lubuk Basung bergegas membuka dompetnya.
Mereka berpatungan demi seorang anak bernama Yosri Fernando. Mereka, bukan
hanya mendidik, tapi juga melihat masa depan anak-anaknya. Seorang guru
sabak matanya. Hiba hatinya, sebab anak didiknya yang pintar, jika patah di
tengah jalan, maka sia-sialah ilmu selama ini.
Cita-cita Yosri Fernando, 18, anak didik mereka memang sedang menggebu. Ia
ingin menjadi seorang dosen. Demi cita-cita itulah para gurunya mengumpulkan
uang. Cuma yang terkumpul hanya Rp1 juta, sedang Yosri perlu Rp4 juta untuk
mendaftar di Unand. Ia diterima di perguruan tinggi itu melalui jalur
SNMPTN.
"Cita-cita ingin menjadi dosen itu sudah terpatri sejak dari bangku SMP,"
kata Yosri Fernando kepada Singgalang didampingi ibunya Nurbaiti, 50 dan
sejumlah guru SMAN 1 Lubuk Basung, Sabtu pekan lalu.
Yosri Fernando lulusan SMAN 1 Lubuk Basung 2010 diterima di di program studi
kimia. Namun karena ketiadaan biaya, keluarganya tak bisa berbuat banyak.
Anak berprestasi di sekolahnya ini acapkali meriah prestasi dalam lomba
olimpiade tingkat Sumatra Barat.
Didirong guru-gurunya ditambah bantuan lainnya, Yosri Fernando akhirnya bisa
mendaftar ulang untuk mewujudkan cita-citanya.
Karena dari gurtu sudah dapat Rp1 juta, maka sisanya yang Rp3 juta dipinjam
ke sana-kemari. Orangtua Yosri benar-benar pontang-panting mencari pinjaman
ke sana-sini.
Nurbaiti, 50 dengan nada perih tak bisa menahan rasa sedih lantaran
tingginya keinginan anaknya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,
sementara hidupnya susah yang hanya mendapatkan Rp30 ribu perhari dari hasil
bercocok tanam atau bekerja serabutan.
Yosri anak keempat dari lima bersaudara dan dia memiliki semangat cukup
keras untuk melanjutkan pendidikannya guna meraih kehidupan yang lebih layak
demi masa depannya nanti.
Sedangkan sanak saudaranya yang lainnya, hanya lulusan SMP dan SMA.
Ayah Yosri Fernando, Lismar, 60 yang kini sakit-sakitan tak lagi mampu
menutupi biaya hidup sehari-hari. Kini ekonomi keluarga hanya mengandalkan
Nurbaiti, sang ibu yang terus beranjak tua.
Nurbaiti berharap dengan semangat baja yang dimiliki anaknya melanjutkan
pendidikannya di perguruan tinggi menjadi perhatian dari donatur lainnya,
sehingga semangatnya yang kini menggebu tak patah arang.
Wakil Kepala SMAN 1 Lubuk Basung, Drs. Suhatril, mengatakan pihak sekolah
mendukung dan mendorong siswanya, seperti Yosri Fernando selama ini cukup
berprestasi dan menjadi yang terbaik di kelasnya. Tambahan lagi dia selalu
dipercaya mewakili sekolah mengikuti berbagai lomba yang bersifat
mengandalkan kemampuan daya pikir, seperti kimia, matematika dan lomba
lainnya.
Menurutnya, pihak sekolah tak memiliki kemampuan banyak membantu siswanya
yang berprestasi dan miskin itu. Hanya saja sudah diupayakan mem bantu
secara iyuran guru-guru dan terkumpul Rp1 juta, sedangkan tambahan dana
lainnya difasilitasi dalam bentuk pinjaman, supaya Yosri dapat mendaftar di
Unand.
"Kita berharap, ada bantuan dari pihak lainnya dalam membantu meneruskan
pendidikannya hingga tamat. Sebab jika diperhatikan tingkat ekonominya
sangat sulit untuk menggapainya. Namun kalau ada donatur yang bermurah hati,
cita-cita Yosri menjadi dosen mungkin bisa diwujudkan.
Yosri dan ibunya kini gamang, dengan apa uang pinjaman itu akan dibayar,
bagaimana pula untuk memenuhi kebutuhan lain. Kepada dermawan kami kadukan.
(*)
Bantuan untuk Ikhsan Terus Mengalir
Padang, Singgalang
Bantuan para dermawan untuk anak nagari berprestasi yang terbentur biaya
pendidikan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi masih mengalir
melalui Singgalang.
Kali ini adalah cerita perjuangan siswa lulusan SMA 1 Terusan, Pesisir
Selatan, M.Ikhsan Putra, 19 yang kembali berhasil mengetuk hati dermawan
untuk membantunya mewujudkan impiannya kuliah.
Ikhsan membutuhkan R9.200.000 untuk biaya masuk kuliah di Universitas
Brawijaya. Walaupun pemuda pintar itu sekarang sudah berhasil sampai ke
Malang dengan bekal cukup uang dari para dermawan, bantuan untuk Ikhsan
masih tetap mengalir.
Sabtu, (24/7), Kasi kurikulum Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, Yusmardi
sengaja datang ke Redaksi Singgalang mengantarkan bantuan untuk Ikhsan.
"Ini Rp3 juta hasil badoncek pegawai-pegawai di Dinas Pendidikan Pesisir
Selatan," kata Yusmardi. Sebelumnya Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMA
se-Pesisir Selatan juga mengantarkan bantuan Rp4 juta.
Yusmardi bercerita sumbangan beramai-ramai itu bermula saat Kepala Dinas
Pendidikan Pesisir Selatan Dian Wijaya ketika apel pagi bercerita tentang
berita yang ia baca di Singgalang sebelum apel dimulai. Berita itu memuat
cerita Ikhsan, siswa di daerah mereka, Pesisir Selatan yang tak bisa
melanjutkan pendidikan karena tak ada biaya.
"Kami semua diminta membaca berita itu seusai apel. Lalu beramai-ramai kami
berkumpul, badoncek sumbangan yang diletakkan tiap orang ke atas koran
Singgalang," cerita Yusmardi.
Hasil badoncek itu kinilah yang diantarkan Yusmardi ke Singgalang. Yusmardi
berharap bantuan itu dapat meringankan Ikhsan. Hati siapa, cerita Yusmardi
yang tak iba membaca cerita tentang perjuangan Iksan untuk melanjutkan
pendidikan.
Sudah sempat pula Ikhsan bekerja di rumah makan di Padang selama enam bulan
tapi tak juga cukup uangnya untuk biaya masuk perguruan tinggi yang sekarang
ini sudah sangat menjulang jumlahnya. Belum lagi, ayahnya yang lumpuh.
Tapi niat Ikhsan kuat, didampingi ibunya yang hanya bekerja sebagai guru
mengaji, Nurmayantini Ikhsan datang ke Singgalang dengan harapan. Ia tak mau
lagi melewatkan kesempatan berkuliah setelah lulus Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Universitas Brawijaya. Sebelumnya iba
hati Ikhsan dan Nurmayantini mengenang dua kesempatan beasiswa telah lepas
dari Ikhsan, beasiswa Sampoerna, CMIB Niaga terlewatkan olehnya karena tak
ada biaya untuk tiket pergi mendaftar ke sana. Begitu juga kesempatan
beasiswa dari universitas negeri, Univ Leiden dan dari Rotterdam Belanda.
Sekarang Ikhsan yang berniat kuliah sampai bekerja ini mungkin sudah
tersenyum bahagia. Status mahasiswa telah disandangnya berkat bantuan
dermawan yang mau mengulurkan bantuan untuknya.
(Septri)
Ambo raso Gampo Panayabuangan jo Gampo Nieh babeda sumber dan daerah kawasannyo. Iko cuma pandapek pribadi MakAngah, bukan ahli, cuma mancaliak garak garik Hoyak-hoyak Gampo ko sajak Gampo Kurinci kiro-kiro 10 tahun nan lalu.
Gampo Panyabuangan patang tu puseknyo di Utara Panyabungan, tapeknyo di Siabu:
http://maps.google.com/maps?f=q&q=0.99%20N,99.45%20E&ie=UTF8&t=p&z=5&om=1
Gampo ko manuuruik ambo adolah Tektonik dalam garis Sumatra Fault (Patahan Sumatra, Sesar Semangko):
http://id.wikipedia.org/wiki/Patahan_Semangko
Sadangkan Gempoa Nias, termasuk dari Utara ke Selatan -- Nikobar, Andaman, Simeulu, Mentawai, Bengkulu, taruih ka Selatan Jawa adolah dari Jurang Lempeng Sumatra. Caliaklah aktifitas terakhir:
http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/recenteqsww/Maps/region/Australia.php
Note:
Ambo acok mamostingkan Hoyak-hoyak Gampo ko supayo kito mangingekkan masyarakat kito di Kampuang Halaman nan bahaso kito duduak di ateh duo Jurang Peka Gampo ko. Supayo persipan-persiapan menghadapi gampo ko manjadi keseiap-siagaandarah dagiang masyarakat dan pribadi.
Di Rantau MakNgah, di California, Daerah Gampo, nan bantuaknyo mereng saroman Pulau Sumatra ko, kesadaran ko iyobana dipentingkan. Petunjuk-petunjuk baa kalau tajadi gampo disiapkan digedung-gedung. Sakali-sakali diadokan latihan peringatan gampo. Sakali satahun saindak-indaknyo diadokan latiahan besar-besaran langkok dengan parisipasi sagalo lapisan masyarakat saroman iyobana tajadi gampo.
Katu Ulang Tahun ka 20 Gampo Santa Cruz 1989 (nan dikenal jo Gempa San Francisco) episenternyo cuma 10 mil dari Santa Cruz, Rantau Makangah, kami secara besar-besaran memperingatinyo. MakNgah aktif sebagai anggota DHRC ARC (Disaster Human Resource Service American Red Cross) Setempat. Itu mungkin sabanyo MakNgah agak nyinyia supayo masyarakat awak selalu siap siaga dalam masalah Gampo ko.
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, "sjamsir_sjarif" <hambociek@...> wrote:
>
> Angku Taufiq,
>
> Ambo raso Gampo Panayabuangan jo Gampo Nieh babeda sumber dan daerah kawasannyo. Iko cuma pandapek pribadi MakAngah, bukan ahli, cuma mancaliak garak garik Hoyak-hoyak Gampo ko sajak Gampo Kurinci kiro-kiro 10 tahun nan lalu.
>
> Gampo Panyabuangan patang tu puseknyo di Utara Panyabungan, tapeknyo di Siabu:
>
> http://maps.google.com/maps?f=q&q=0.99%20N,99.45%20E&ie=UTF8&t=p&z=5&om=1
>
> Gampo ko manuuruik ambo adolah Tektonik dalam garis Sumatra Fault (Patahan Sumatra, Sesar Semangko):
> http://id.wikipedia.org/wiki/Patahan_Semangko
>
> Sadangkan Gempoa Nias, termasuk dari Utara ke Selatan -- Nikobar, Andaman, Simeulu, Mentawai, Bengkulu, taruih ka Selatan Jawa adolah dari Jurang Lempeng Sumatra. Caliaklah aktifitas terakhir:
>
> http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/recenteqsww/Maps/region/Australia.php
>
> Note:
> Ambo acok mamostingkan Hoyak-hoyak Gampo ko supayo kito mangingekkan masyarakat kito di Kampuang Halaman nan bahaso kito duduak di ateh duo Jurang Peka Gampo ko. Supayo persipan-persiapan menghadapi gampo ko manjadi keseiap-siagaandarah dagiang masyarakat dan pribadi.
>
> Di Rantau MakNgah, di California, Daerah Gampo, nan bantuaknyo mereng saroman Pulau Sumatra ko, kesadaran ko iyobana dipentingkan. Petunjuk-petunjuk baa kalau tajadi gampo disiapkan digedung-gedung. Sakali-sakali diadokan latihan peringatan gampo. Sakali satahun saindak-indaknyo diadokan latiahan besar-besaran langkok dengan parisipasi sagalo lapisan masyarakat saroman iyobana tajadi gampo.
>
> Katu Ulang Tahun ka 20 Gampo Santa Cruz 1989 (nan dikenal jo Gempa San Francisco) episenternyo cuma 10 mil dari Santa Cruz, Rantau Makangah, kami secara besar-besaran memperingatinyo. MakNgah aktif sebagai anggota DSHR (the American Red Cross Disaster Services Human Resource System) Setempat. Itu mungkin sababnyo MakNgah agak nyinyia supayo masyarakat awak selalu siap siaga dalam masalah Gampo ko.
>
> Salam,
> --MakNgah
> Sjamsir Sjarif
Yosri Fernando, anak Kampung Sawah, Kecamatan Lubuk Basung yang miskin tapi
juara bidang studi kimia tingkat Sumatra itu kini tak lagi sendiri. Bantuan
mulai mengalir kepada tamatan SMA 1 Lubuk Basung yang diterima di Unand ini.
Di antara bantuan itu datang dari Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah,
kandidat Bupati Agam 2010-2015 sebesar Rp4 juta, melalui Kepala SMAN 1 Lubuk
Basung, Taslim, Senin (26/7). Kemudian Hamba Allah di Padang memberi Rp500
ribu.
Menurut Indra Catri kepada Singgalang, bantuan diperolehnya dari hasil
sumbangan rekan-rekannya di perantauan, antara lain Firdaus Syahril di
Surabaya, Rina Nofita (Bandung), Diki Mansyur dan Imun di Jakarta serta
lainnya.
Dengan adanya bantuan tersebut otomatis Yosri Fernando tak lagi berhutang
untuk biaya masuk ke jurusan Kimia, Unand.
Dengan merendah Dt Malako Nan Putiah itu mengatakan, dia hanya berperan
memfasilitasi bantuan kepada yang membutuhkannya. Seperti bantuan kepada
Yosri Fernando, anak miskin berprestasi di sekolahnya, terutama di bidang
mata pelajatan kimia dan eksakta.
"Saya turut prihatin dengan kondisi yang dirasakan Yosri Fernando seperti
yang diberikan Singgalang, Senin (26/7) dan sebagai bentuk kepedulian
diberikan bantuan sesuai kemampuan yang dimiliki," katanya.
Kepala SMAN 1 Lubuk Basung, Taslim mengucapkan terima kasih atas kepedulian
Indra Catri yang telah membantu meringankan beban Yosri melanjutkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Dijelaskannya, potensi dan kemampuan anak didiknya tersebut cukup besar dan
keinginannya meujudkan cita-citanya menjadi orang besar sangat tinggi.
Terbukti dengan kemauan kerasnya keluhannya disampaikan kepada guru-guru
yang ada di sekolah.
"Rasanya sangat besar hutang kita sebagai guru, jika semangatnya melanjutkan
pendidikannya di perguruan tinggi kandas lantaran ketiadaan biaya,"
jelasnya.
Untuk itu, sebagai solusi ia 'menggadaikan' diri menjadi penanggungjawab
hutang yang dibuat di koperasi sekolah yang dipimpinnya itu.
Dengan bantuan dari Indra Catri, hutang itu dilunasi dan pihaknya akan
mengupayakan terobosan lainnya, mencari bantuan tambahan dari pihak lainnya,
supaya kelanjutan pendidikan anaknya didiknya yang miskin dapat melanjutkan
pendidikannya sama dengan anak-anak lainnya.
Senin kemarin bantuan juga datang dari Hamba Allah, diantar ke Redaksi
Singgalang di Padang sebesar Rp1,5 juta. Masing-masing untuk Yosri Fernando
Rp500 ribu, Fia anak seorang penjual koran di Padang Rp500 ribu dan untuk
Yetti di Kininali Pasaman Rp500 ribu.
Ketua Komite SMA1 Lubuk Basung, Zarfinus Makmur merespon positif bantuan
yang diberikan donatur untuk anak miskin dalam melanjutkan pendidikan masuk
perguruan tinggi.
Zairfinus berterima kasih atas bantuan yang diberikan, sementara anak yang
menerima diharapkannya menggunakan bantuan tersebut dengan baik. (210)
=========
Selasa, 27 Juli 2010
ANAK PENJUAL KORAN : Si Cantik Itu Lulus Unpad
YOSERIZAL
PADANG - Ita, 46, tak sanggup menahan sedih. Pasrah, entah kemana lagi
hendak mengadu. Beban biaya di depan mata begitu berat, membuat mulutnya
kelu untuk membicara. Apalagi untuk meminjam uang pada tetangga. Alangkah
berat rasanya mengingat hutang yang tak mungkin bisa terbayarkan oleh
seorang penjual koran.
Beban biaya itu adalah, Fia Anggrainy, puteri keempatnya yang cantik itu
baru saja lulus di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Fia sangat
ingin melanjutkan kuliah tersebut, karena jurusan yang didapatnya juga di
jalur yang diinginkan, Sastra Jerman. Tapi apa dikata, uang tidak ada. Usaha
sehari-hari juga hanya penjual koran.
"Menangis saja saya yang bisa. Karena mendengarkan biaya yang dibutuhkan
untuk mendaftar di Unpad itu saja sangat besar. Bahkan, teman-teman Fia yang
lulus melalui penerimaan mahasiswa mandiri, sudah mendaftar paling tidak
membutuhkan Rp15 juta. Mendengar jumlahnya saja saya sudah tidak sanggup,"
kata Ita kepada Singgalang.
Keluh kesah itu disampaikannya Ita di Redaksi Singgalang Senin, (26/7).
Bersama anaknya Fia, Ita menuturkan dengan harap agar anaknya segara bisa
melanjutkan kuliah. Apalagi lulus di Unpad juga berdasarkan usahanya melalui
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
"Sebenarnya saya masih bersyukur Fia itu lulus melalui SNMPTN di Unpad.
Sementara teman-temannya yang lain lulus melalui jalur khusus dan sudah
berangkat ke Bandung. Fia tambah sedih saja, sedih mendengarkan kabar
teman-temannya sudah berada di Unpad lebih dulu," sebutnya.
Fia anak pintar di SMAN 6 Padang. Selama di SMA, Fia selalu berada pada
kelas unggul. Lulus dengan nilai evaluasi murni (NEM) 45 mengantarkanya ke
Unpad, namun kini terkendala biaya.
Penuturan Ita di Singgalang, awalnya ia mencoba untuk meminjam uang kepada
tetangga. Namun setelah dipikir-pikir dengan apa pula akan dibayar. Hasil
menjual koran berapalah!
Ita adalah warga Gurun Laweh, Nanggalo Padang. Untuk menambah biaya hidup
hari-harinya yang tidak cukup dari ayahnya Syawaluddin, maka Ita memutar
otak untuk berjualan koran. Dari hasil jualan koran inilah Ita bisa membantu
suaminya menambah biaya sekolah anak-anak mereka. Beruntung anaknya yang
pertama juga sudah bisa kuliah. Kini giliran Fia, karena mengambil di Unpad
Ita benar-benar kesulitan.
Kini Ita hanya bisa pasrah. Terlalu menuntut pada suaminya juga tidak
mungkin. Hatinya makin gundah gulana begitu melihat Fia juga sering murung.
Apalagi setelah mendengarkan kawan-kawannya dari SMA 6 sudah mendaftar
ulang.
"Teman-temannya sudah pada mendaftar ulang. Sementara waktu untuk mendaftar
ulang bagi Fia paling lambat akhir bulan ini. Uang untuk mendaftar belum
juga ada. Jika memang ini bukan rezeki kita pasrahkan saja pada yang di
atas. Mau menangis air mata saya juga sudah kering untuk meratapi hidup,"
tutur Ita lirih.
Ternyata hari baik sudah menghampiri Fia, salah seorang dermawan terenyuh
mendengarkan kabar Fia yang terlantar tidak kuliah terganjal biaya. Atas
nama hamba Allah salah seorang pengusaha angkutan di Kota Padang memberikan
sumbangan Rp2,5 juta. Tentu itu tidak cukup untuk biaya pendaftaran ulang.
Adakah di antara pembaca Singgalang yang peduli? (*)
Bisa melalu Pemred Singgalang seperti ambo Fwd email da riri dibawah ko.
Dan Alhamdulillah, dengan Fwd ka RN ko lai ado juo nan tersentuh untuak sato
sakaki bahkan secara penuh
Mambantu adiak2 kito di ranah ko.
Wassalam
Nofend.
======
-----Original Message-----
On Behalf Of Riri Chaidir
Sent: Wednesday, July 21, 2010 8:46 PM
Bisa melalui Pemred Singgalang, Rek BCA 0320919002 Khairul Jasmi. No telp
nya +6281363262661
Kalau jumlah yang dibutuhkan untuak uang masuak berbeda2, itu ado di artikel
Singgalang yang dilewakan Nofend. Mungkin paralu ditambah untuak settlement
cost.
Kalau untuak biaya selanjutnya (uang kos, makan, uang kuliah smesteran dll)
bisa difasilitasi / melalui Singgalang atau bisa jg langsung ke orangnya.
Kalau ambo tadi deal dgn Afdal, biaya selanjutnya langsung ke dia krn dia
belum bisa memprediksi kebutuhan bulanannya
Riri
PADANG - Mahrani Rahma, 19, nama anak itu. Ibunya tukang sterika kain
tetangga. Ayahnya tukang tambal ban. Ibunya, tak bisa bekerja kuat lagi,
karena tulang rusuk kanannya patah saat gempa tempo hari. Ibu dan anak,
kemarin tiba di Harian Singgalang, mengabarkan anak kesayangannya itu, lulus
di Universitas Negeri Padang (UNP).
Keluarga ini tinggal di Parak Karakah Nomor 8 RT 01/RW 12 Kelurahan Kubu
Dalam, Kecamatan Padang Timur. Di depan rumahnya itulah, sang ayah membuka
usaha tambal ban.
Beruntung dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN)
lalu, anaknya lulus sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari
dan Musik di Universitas Negeri Padang. Sayangnya, biaya untuk masuk ke PTN
tersebut tidak terjangkau kedua orangtuanya. Ia membutuhan biaya sekitar Rp5
juta biaya selama satu tahun pendidikan. Kemarin sudah dapat Rp1 juta.
Sang Bapak, Yusrizal hanya seorang penambal ban. Sedangkan ibunda, Ernita
hanya seorang tukang sterika di sekitar lingkungan rumah. Sungguh
menyedihkan ibunda merupakan salah satu korban gempa 30 September lalu.
Sehingga, tenaganya untuk menyeterika pakaian terbatas. Tentunya,
perekonomian keluarga hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari.
"Saat itu, saya sedang membawa seorang anak majikan di lantai V, Rocky
Hotel. Secara tiba-tiba bumi bergoyang. Sehingga, tubuhnya terhimpit balok.
Tulang rusuk sebelah kanan patah. Beruntung ada pengobatan gratis kapal
terapung yang didirikan pihak asing. Di sana saya dioperasi. Selama lima
bulan saya tidak bisa berjalan. Selama itu, perekomian keluarga terus
menipis," cerita Ernita kepada Singgalang, Selasa (27/7).
Di tengah kesulitan perekonomian keluarga tersebut, Rani terus menuai
prestasi. Rani mendapat peringkat 10 besar di SMKN 7 Padang. Mengikuti
pergelaran tari yang diadakan di sekolah baik itu di Padang maupun luar
kota.
"Saya bisa menari, seperti indang dan pasambahan," ungkapnya.
Hasrat dan keinginannya untuk terus berjuang mengasah kemampuannya bergelora
di dada. Selepas ikut ujian nasional, Ia mendaftar masuk SNMPTN. Alhasil,
nomornya 31017170405018 masuk dalam list diterima sebagai mahasiswa jurusan
Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik Universitas Negeri Padang dengan Nomor
Induk Mahasiswa (NIM), 18316.
"Awak ingin kuliah, sehingga dengan berkuliah ini saya bisa menjadi guru dan
membahagiakan kedua orangtua," harapannya.
Terimakasih
Harian Singgalang terus mempublikasikan anak-anak yang membutuhkan biaya.
Tentunya dengan goresan tinta emas. Kelak anak-anak itu bisa mengkilap
sekemilau emas pula.
Seperti halnya, Fia Anggrainy baru saja lulus di Universitas Padjadjaran
(Unpad) menerima bantuan dari Hamba Allah asal Sawahlunto Rp1 juta. Bantuan
terus mengalir untuk si cantik itu, tentunya dari Hamba Allah di Padang
Rp7,5 juta. Sedangkan si gesit Yetti, anak Kinali itu mendapat tambahan
rezeki lagi Rp500 ribu.
Doa dan harapan kami menyertai mereka untuk menimba ilmu mengapai harapan
menjadi genarasi penerus kebanggan orangtua, teman, sanak saudara hingga
bangsa dan negara. (Lenggogeni)
==========
AHMAD FAUZI TAK PUNYA BIAYA KULIAH - Jadi Pesuruh, Lulus di IPB
WAITLEM
SOLOK - Ahmad Fauzi merasakan langit gelap dan semua jalan seakan tertutup
ketika ia akan melangkahkan kaki ke IPB (Institut Pertanian Bogor).
Mantan Ketua OSIS SMA Negeri 2 Gunung Talang, Kabupaten Solok ini lulus di
IPB melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada
jurusan Ilmu Ekonomi Syariah. Pada 3 Agustus 2010, ia sudah harus berada di
Bogor, namun di sinilah ia rasakan mendung kian pekat, dan jalan semakin
gelap.
"Saya harus membayar uang masuk Rp3,5 juta," ujarnya kepada Singgalang,
Senin (26/7) di Solok. Itu uang pangkal yang harus dilunasi pada awal
Agustus 2010, sementara ongkos berangkat, biaya hidup, biaya selanjutnya
belum terpikirkan. Karena untuk mendapatkan uang Rp3,5 juta saja ia masih
bingung, ke mana harus mengadu.
Kelahiran 13 Februari 1991 ini terpisah jauh dari orangtuanya. Keinginannya
untuk mendapatkan pendidikan layak membuatnya 'nekad' meninggalkan kedua
orangtuanya sejak SMP. Sejak kelas II SD hingga kelas II SMP, ia bisa
merasakan bahagianya hidup bersama keluarga. Namun ketika kasih sayang ia
butuhkan, biaya sekolah ia harapkan, orangtuanya yang hanya sebagai buruh
serabutan 'angkat tangan', tidak mampu lagi membiayainya sekolah.
"Saya mencari bapak angkat hingga bisa menyelesaikan SMP," ujarnya. Selama
di SMP, Ahmad Fauzi membantu bapak angkatnya. Beragam pekerjaan yang
diberikan kepadanya ia kerjakan dengan sepenuh hati. Saat bapak angkatnya
berdagang beras, ia pun ikut membantu. Begitu juga ketika ia diminta untuk
mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ia kerjakan dengan tulus ikhlas. Seberat
apapun pekerjaan yang ia lakukan, selelah apapun ia sepulang bekerja, ibadah
dan belajar tetap dilakukannya. Karena itulah, gelar juara tidak pernah
lepas dari genggamannya.
Selesai SMP, Ahmad Fauzi bukannya bisa bernafas lega. Yang ia miliki hanya
kemauan keras, sementara biaya tidak ada. Bahkan biaya masuk pun ia tidak
punya. Karena itulah ketika diterima di SMA Negeri 2 Gunung Talang, ia
justru bingung, dengan apa pendidikannya akan dibiayai. Namun ada sebuah
keyakinan dalam dirinya, di mana ada kemauan di sana ada jalan. Manjada
wajada
Ketika sekolah mengetahui dirinya sebatang kara, karena kedua orangtuanya
yang buruh serabutan menetap di Medan mencari penghidupan, Ahmad Fauzi
diminta untuk menjadi pesuruh sekolah. Ia tidak keberatan. Baginya, ini
sebuah berkah. Jadilah sejak masuk ke SMA tiga tahun lalu ia tinggal di
sekolah. Belajar dan tidur di sekolah. Menyapu, mengepel, mengunci dan
membuka sekolah, memasak air untuk para guru dan pegawai sekolah
dilakukannya, asal ia tetap bersekolah. Sesibuk apapun ia, belajar tetap
lebih utama baginya. Karena itulah sejak masuk SMA hingga menyelesaikan
pendidikan, ia tetap menjadi juara. Bukan hanya juara kelas, ia juga pernah
meraih juara umum.
Kesibukan sebagai pesuruh sekolah dan kesibukan dalam belajar tidak
mengurangi kemampuannya dalam berorganisasi di SMA tersebut. Ahmad Fauzi
juga aktif di OSIS. Bahkan ia dipercaya sebagai Ketua OSIS SMAN 2 Gunung
Talang. Kemampuannya dalam bidang akademik ternyata berjalan sama dengan
kemampuannya dalam bidang organisasi. Ia juga mengharumkan nama sekolah
lewat berbagai perlombaan. Ia pernah meraih juara scrable se-Kabupaten
Solok, menjadi juara lomba fisika dan menjadi juara Quis contest (Quis
berbahasa Inggris) se-Kabupaten Solok.
Anak kelima dari tujuh bersaudara, yang pintar berbahasa Inggris dan jago
fisika, serta mahir berorganisasi ini, kini justru melihat mendung
menggantung rendah. Ia berharap hujan dan badai tidak menghantam dirinya.
Keinginannya untuk meneruskan pendidikan ke IPB pada jurusan Ilmu Ekonomi
Syariah begitu kuat. Namun ketika keinginan itu semakin kuat, saat itu pula
ia merasakan langit semakin gelap.
"Uang yang saya miliki masih nol," akunya. Sementara waktu yang tersisa
tinggal seminggu lagi. Ia pun tidak lagi menjadi 'pesuruh sekolah' karena
sudah menyelesaikan pendidikan di sana. Untuk sementara ia ditampung oleh
salah seorang guru SMA-nya. Para guru berusaha mengumpulkan sumbangan untuk
dirinya agar bisa melanjutkan pendidikan ke IPB tersebut. Bagi guru, ini
juga sebuah kebanggaan karena Ahmad Fauzi mampu memperkenalkan SMA Negeri 2
Gunung Talang ke IPB.
Menurut Kepala SMAN 2 Gunung Talang, Anwardin sebelum Ahmad Fauzi, belum ada
lulusan SMA Negeri 2 Gunung Talang yang diterima di IPB. Namun, rencana
badoncek para guru tersebut menunggu bulan baru, sementara ia butuh
kepastian, apakah akan bisa berangkat ke Bogor atau tidak karena pada 3
Agustus 2010 ia sudah harus berada di IPB tersebut.
Mengharapkan bantuan orangtua, bagi Ahmad Fauzi bagai mengharapkan hujan di
musim kemarau. Dari tujuh bersaudara, hanya dirinya yang bisa menembus
perguruan tinggi. Sementara saudaranya yang lain sudah meninggalkan bangku
sekolah. Sebagai buruh serabutan dan tidak berpenghasilan tetap, Ahmad Fauzi
menyadari tidak mungkin berharap pada orangtuanya. Apalagi saudaranya yang
lain pun bernasib hampir sama dengan orangtuanya, tidak memiliki pekerjaan
tetap.
Dalam gelapnya langit dan kian rendahnya mendung menggantung, Ahmad Fauzi
masih berharap bisa menyibak kegelapan itu dan dirinya bisa menjadi
mahasiswa IPB pada 2010 ini. Remaja yang taat beribadah ini selalu berdoa,
agar Tuhan memberi jalan terbaik kepadanya. Walau masih gelap, tetapi ia
optimis di balik kegelapan itu masih ada cahaya, namun entah kapan dan dari
mana cahaya itu akan muncul. (*)
Mak MH.
Mungkin lansung ka No rek Pemred Singgalang lansung yo Mak, seperti nan sudah2 sesuai subjecti diateh.
Iko ambo Fwd baliak apo nan di Fwd da Riri dulu di Palanta.
Wassalam.
-----Original Message-----
On Behalf Of Riri Chaidir
Sent: Wednesday, July 21, 2010 8:46 PM
Bisa melalui Pemred Singgalang, Rek BCA 0320919002 Khairul Jasmi. No telp nya +6281363262661
Kalau jumlah yang dibutuhkan untuak uang masuak berbeda2, itu ado di artikel Singgalang yang dilewakan Nofend. Mungkin paralu ditambah untuak settlement cost.
Kalau untuak biaya selanjutnya (uang kos, makan, uang kuliah smesteran dll) bisa difasilitasi / melalui Singgalang atau bisa jg langsung ke orangnya. Kalau ambo tadi deal dgn Afdal, biaya selanjutnya langsung ke dia krn dia belum bisa memprediksi kebutuhan bulanannya
GUSLIYANTI dan PUTRI VADISSA
PADANG - Dua remaja, anak-anak kita, mengantarkan ceritanya yang gontai
untuk pembaca sekalian. Pertama Afrili Suyari, alumni SMA Negeri Cendekia,
Kabupaten Agam 2010 datang bersama ibunya. Ia mau kuliah dan diterima di
Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad). Kedua Ferjoko, 20, pada jurusan
Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.
Kami para awak redaksi, berharap bisa lekas membantu tunas bangsa ini. Namun
apa daya, kecepatan itu, tergantung pada kemurahan hati para dermawan.
Semoga Allah menyayangi dan memurahkan rezeki kita semua.
Rili
Rosmanida, 55, menemani anaknya ke Singgalang, Rabu (28/7). Anak gadisnya
Afrili Suyari akrab disapa Rili ini menceritakan kecemasannya, tak bisa
mendaftar ulang pada jurusan Psikologi, Universitas Padjadjaran (Unpad)
Bandung, karena tak ada biaya sejumlah Rp6 juta.
Rili, alumni SMPN 34 Padang ini lulus pada jurusan Psikologi, ilmu yang
selama ini ia idam-idamkan untuk dipelajarinya. Ia lulus melalui Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Nasional (SNMPTN).
Jurusan yang sama ada di Universitas Sumatra Utara (USU) Medan, Universitas
Andalas (Unand) dan Unpad. Namun ia lebih memilih Unpad karena biaya
masuknya lebih murah dibandingkan dua perguruan tinggi lainya itu, seperti
di Unand untuk jurusan psikologi, uang pangkal pendidikan jurusan ini
berjumlah Rp12,5 juta.
Meski Unpad hanya menetapkan biaya Rp6 juta untuk uang pangkal, namun ia dan
keluarga tetap kesulitan mencari uang sebanyak itu. Ibunya, Rosmanida
hanyalah seorang janda yang sehari-hari pedagang kaki lima. Rosmanida setiap
hari harus menjual aneka mainan di depan SDN 11 Lubuk Buayo. Dengan kaki
yang sudah menderita penyakit rematik, ia tetap harus menjajakan daganganya
itu. “Kaki saya sudah susah untuk dibawa berjalan. Kalau sudah duduk, untuk
jalan kembali, mesti dipapah dulu,” ujar wanita janda ini.
“Sementara ayahnya, sudah meninggal dunia sejak Rili usia lima tahun.
Ayahnya Rili,” ujar Rosmanida, jujur saja, memang seorang PNS golongan 1 B.
Setiap bulan untuk biaya hidupnya beserta dua saudaranya yang lain sudah
ditanggung dengan uang pensiun ayah mereka sejumlah Rp933.000. “Tapi untuk
biaya sekolah ini, kemana harus saya cari,” katanya.
Di sekolahnya, SMAN Cendekia, Rili tergolong siswa yang pintar. Ia
bercita-cita ingin menjadi orang yang lebih baik dengan cara menjadi seorang
psikolog dan membantu sesama, disamping tetap mensyukuri apa yang ada. “saya
tidak minta yang muluk-muluk, saya hanya berharap dapat melanjutkan
pendidikan meskipun ada halangan ekonomi,” katanya.
Rili berkesempatan menempuh pendidikan di SMAN Cendekia Agam karena ia murid
berprestasi di SMPN 34 Padang. Atas prestasinya itu, Rili yang tinggal
dengan orang tuanya ini di Pratama I Blok C nomor 23 Lubuk Buaya tersebut,
berhasil menyisihkan peserta tes lainya masuk sekolah di SMAN Cendekia.
Rili berhasil menyelesaikan pendidikan di SMAN Cendekia dengan nem terbilang
bagus, sejumlah 47,25.
Kini yang ia pikirkan dan cemaskan, apakah pada 3 Agustus mendatang, batas
waktu registrasi ulang bagi calon mahasiswa yang lulus di Unpad, dapat ia
penuhi. Pada 3 Agustus 2010 itu, ia sudah harus membawa selembar kertas
kwitansi dari Bank sebagai bukti sudah membayar uang masuk jurusan psikologi
sejumlah Rp6 juta.
Joko
Sebenarnya dia sangat bangga, tapi hatinya galau di tengah kelelahan
fisiknya. Ferjoko, 20, lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SNMPTN) 2010 pada jurusan Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman,
Samarinda, Kalimantan Timur. Namun ia tidak punya biaya. Karena itulah ia
datang ke Redaksi Harian Singgalang, Rabu (28/7) menyampaikan kegalauan dan
berkeluh kesah atashal ia hadapi.
Terlahir dari keluarga dan serba kekurangan, Ferjoko —akrab disapa Joko —
selama ini ia tidak pernah menyesali apa yang dihadapinya. Anak keempat dari
enam bersaudara ini mengatakan selalu berusaha untuk membantu ibunya yang
sudah menjadi single parent sejak ayahnya meninggal pada 2007 akibat
penyakit parur-paru.
Tidak berhenti di sana, saudara-saudaranya pun membutuhkan kerja keras Joko
untuk biaya sekolah dan mempertahankan hidup sehari-hari. “Semua pekerjaan
sudah saya lakoni untuk membantu ibu dan kakak-adik saya. Mulai dari ngamen,
jual kue, cuci pakaian, kerja di bengkel, hingga jadi garin dan guru ngaji
di masjid,” ungkap Joko.
Walau hidup susah, Joko mengaku selalu bersyukur, sekalipun waktunya banyak
dihabiskan untuk bekerja. Joko masih diizinkan untuk bersekolah di SMA PGRI
6, Jati, Padang, tamat 2009 lalu.
Namun setelah tamat, Joko mengaku harus pasrah memendam hasratnya untuk
kuliah. Sebab keuangan keluarga sangat memprihatinkan, dan kedua adik Joko
butuhkan biaya pendidikan pula. Tidak hanya itu, kedua saudara perempuannya
membutuhkan biaya untuk menikah.
“Keinginan kuliah sangat besar, tapi tidak bisa karena harus cari uang untuk
biaya sekolah adik dan biaya nikah kakak”, kenang Joko pilu.
Setelah bekerja satu tahun, Joko kembali membuka lembaran impian yang sempat
tertunda. Pada 2010, dengan bermodalkan uang pemberiaan tetangga, Joko
membeli formulir SNMPTN seharga Rp150 ribu. Joko juga merental (sewa)
buku-buku soal ujian kepada temannya untuk mempersiapkan diri. “Rentalnya
Rp1.000 per jam,” kenangnya.
Upayanya berhasil untuk menggapai cita-cita jadi seorang duta besar, namun
kini terbentur biaya.
Si yatim yang tinggal di Perumahan Villa Mega B7 No 20, Mata Air, Padang
Selatan ini kini semakin galau. Tidak tau lagi cara untuk mendapatkan uang
biaya pendaftaran kuliah yang semakin mendekati deadline.
“Pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Mulawarman berakhir 16 Agustus
mendatang. Kalau tidak mendaftar, keinginan untuk kuliah hangus sudah,” kata
Joko dengan raut muka sedih.
Joko menjelaskan biaya yang diperlukan saat ini sekitar Rp5 juta, terdiri
uang masuk Rp3 juta, uang SPP Rp610 ribu dan biaya transportasi ke
Samarinda.
Adakah yang peduli? (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=243
PADANG - Anwardin, 56, adalah Kepala Sekolah SMAN 2 Gunung Talang Kabupaten
Solok. Profesi yang ia jalani, hal yang biasa dipandang orang. Namun ada
kebiasaan lain yang jarang dilakoni kepala sekolah yang ada di daerah ini.
Ia kepala sekolah yang gigih, gelisah melihat anak didiknya terhempas.
Anak-anak pintar miskin, ia panggil agar berusaha keras untuk bisa kuliah.
Bahkan pernah ia menjemput anak didiknya sampai ke tengah sawah. Anak
perempuan itu kini sudah jadi orang. "Jika saya tak mampu, saya minta tolong
pada orang lain," katanya.
Seorang bekas anak didiknya yang sudah kuliah dan bekerja, suatu hari datang
padanya saat ia dirawat di rumah sakit.
"Pak, saya sudah bekerja, jadi PNS, sudah bersuami, sekarang saya sedang
hamil tiga bulan," kata bekas anak didiknya itu penuh santun. Serasa pak
guru kita ini, cegak seketika. Ia bahagia. Anak yang ia didik, kini sudah
jadi orang. Kebahagiaan guru tak tertara tak lain, melihat anak didiknya
jadi orang.
Selain itu, ada seorang anak yang tiba-tiba menyatakan niatnya berhenti
sekolah karena ketiadaan uang. Guru kita ini, gelisah bukan main. Akhirnya,
si anak didik ia ajak tinggal di rumahnya sampai tamat.
Begitulah membantu anak-anak dengan ekonomi lemah berprestasi, agar
pendidikan mereka tidak terputus di tengah jalan. Inilah pekerjaan yang
dilakukannya sejak 1981 lalu. Selama itu pula sudah 18 anak yang ia bantu.
Dengan apa ia mampu menyekolahnya anak-anak hebat itu hingga mereka tamat?
Padahal ia hanyalah seorang PNS yang kini menjabat kepala sekolah.
Berikut cerita singkat hidupnya kepada Singgalang tadi malam, saat
mengantarkan Ahmad Fauzi, 19 tahun yang lulus ke IPB. Menggalang dana dari
para dermawan, baik secara langsung maupun melalui Harian Singgalang. Dengan
cara inilah bantuan banyak mengalir. Setiap bantuan yang datang diserahkan
kepada anak-anak hebat dari keluarga miskin itu. Anak-anak itu terbantu,
hati Anwardin begitu bahagia.
"Motivasi saya hanya untuk membantu anak-anak pintar itu, agar pendidikan
mereka tidak terputus di tengah jalan. Saya juga " terang Anwardin.
Dulu kata bapak tiga anak ini, hidupnya juga susah. Tapi dengan semangat
tinggi dijalaninya hidup tanpa keluh kesah, caranya dengan kerja keras.
Melakukan apa saja yang bisa menghasilkan uang, yang penting halal. Alhasil,
jerih payahnya itu membuahkan hasil. Suami dari Farida ini mampu menamatkan
pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Semangat ini yang saya tanamkan ke anak-anak yang pernah saya bantu, karena
tanpa semangat, hidup tidak akan berjalan. Mimpi yang direncanakan tidak
akan terwujud," ujarnya.
Dalam menjalani hidup, ia punya semboyan biar kaki patah sebelah dari pada
patah hati. Artinya kerja keras mesti dilakukan sepenuh hati, karena bekerja
dengan setengah-setengah tidak akan membuahkan hasil.
Selain menggalang dana dari para dermawan baik langsung maupun melalui media
massa, Anwardin, juga mengumpulkan uang dengan cara berinfak. Dana itu untuk
anak-anak berprestasi dari keluarga miskin. Dia bekerjasama dengan
teman-temannya.
"Ketika ada yang butuh kami bantu, karena dana itu memang untuk mereka yang
membutuhkan," ujarnya.
Sementara, dana untuk Ahmad Fauzi, yang lulus di IPB jurusan ekonomi syariah
itu terkumpul sebanyak Rp17 juta. Uang itu diserahkan kembali kepada
Singgalang Rp1 juta, untuk anak lain yang membutuhkan. "Banyak kawan awak
kiroe Pak nan miskin nan ka kuliah, dek awak lah banyak dapek Pak, agiahan
ka kawan-kawan awak tu yo Pak," katanya.
Dana yang terkumpul melebihi dari dana yang dibutuhkan Rp3,5 juta. Uang
sebanyak itu datang dari banyak pihak, seperti hamba Allah yang ada di
Bukittinggi, Payakumbuh, Padang, BAZ Kabupaten Solok, BAZ kecamatan, Dr.
Rafli Riza dan dermawan lainnya. "Saya ucapkan terima kasih kepada bapak
atau ibu yang dermawan itu. Semoga kebaikan mereka dibalas Allah. Karena
tanpa bantuan mereka saya tidak akan bisa kuliah. Saya juga ucapkan terima
kasih kepada pak Anwar, tanpa semangat dari beliau saya tidak akan kuliah,"
terang Fauzi.
Fauzi adalah seorang anak buruh, yang bekerja serabutan. Namun karena
keinginannya yang begitu besar untuk sekolah Fauzi mencari bapak angkat
hingga tamat. (107)
=======
Jumat, 30 Juli 2010
Terkumpul Rp17 juta : Ahmad Fauzi Dibantu Hamba Allah
WAITLEM
SOLOK - Langit tersibak, mendung terkuak, mata Ahmad Fauzi tampak sabak
ketika jalan mulai terbuka, hamba Allah mengulurkan tangannya. Mendung yang
menggantung rendah sehari sebelumnya mulai tersapu angin. Walau lamban
tetapi pasti. Keinginannya untuk mengecap pendidikan di IPB (Institut
Pertanian Bogor) jurusan Ilmu Ekonomi Syariah bakal terwujud.
"Alhamdulillah, ada hamba Allah yang membantu uang pendaftaran," ujarnya
kepada Singgalang, Kamis (29/7).
Sepanjang Rabu, Ahmad Fauzi didampingi gurunya menuju Kota Sanjai
Bukittinggi. Ada hamba Allah yang menghubunginya untuk menjemput dana Rp3
juta. Itulah secercah cahaya yang mulai muncul dari kegelapan. Walau
sebelumnya ia melihat semua jalan seakan tertutup, tetapi Singgalang membuka
matanya, hamba Allah melempangkan jalannya, Allah tetap menuntun jalannya.
"Terima kasih, terima kasih, telah memuat profil saya di Singgalang,"
ujarnya berkali-kali. Bersamaan dengan dimuat profil dirinya pada Rabu
(28/7) di bawah judul "Ahmad Fauzi Tak Punya Biaya Kuliah; Jadi Pesuruh,
Lulus di IPB," bantuan pun mulai mengalir. Ada yang menghubungi redaksi ada
juga yang menghubungi dirinya secara langsung. Walau bukan hujan yang
mengguyur, tetapi rinaipun cukup baginya untuk melepas dahaga.
Ahmad Fauzi adalah bagian dari kaum dhuafa yang berjuang tanpa mengenal
lelah. Ia terpisah dari orangtuanya sejak SMP. Walau kedua orangtuanya masih
ada, tetapi mereka sudah "angkat tangan", tidak mampu lagi menyekolahkan
dirinya. Dalam kekalutan dan kegelapan seperti itu, Ahmad Fauzi berusaha
menaklukkan beratnya medan yang harus dilalui. Hingga akhirnya ia berhasil
menyelesaikan pendidikannya di SMP dengan nilai bagus. Maklum gelar juara
selalu dalam genggamannya.
Setiap kali mendung menggantung rendah untuk menutup pemandangannya, selalu
muncul cahaya dari kegelapan. Walau tidak terang benderang, tetapi cukup
baginya untuk tetap meneruskan perjalanan panjangnya. Tamat SMP bukannya ia
bisa tersenyum lega karena untuk melanjutkan ke SMA pun ia tidak punya dana.
Dalam kekalutan itulah ia terdampar ke SMA Negeri 2 Gunung Talang, Kabupaten
Solok.
Mendaftar ke SMA bukan karena ia sudah memiliki uang di kantong untuk uang
pendaftaran, membeli pakaian dan peralatan sekolah, yang ia bawa hanya
kemauan dan keyakinan bahwa Tuhan masih bersamanya.
Karena itulah ketika teman-temannya sudah membayar kewajiban terhadap
sekolah, Fauzi masih belum tahu, dengan apa beragam kewajiban itu akan
dibayar. Saat itu jalan masih gelap baginya.
Mengetahui kondisinya yang sebatang kara karena terpisah jauh dari orangtua,
kepala sekolah Anwardin menawarkan kepadanya untuk menjadi pesuruh sekolah
di SMA tersebut. Bagi Ahmad Fauzi mendapat kesempatan ini bagai mendapatkan
segelas air di tengah padang pasir yang terik. Tidak terkira kegembiraannya.
Inilah secercah cahaya yang selama ini ditunggunya.
Menjadi pesuruh selama SMA, tidak membuat prestasinya jatuh. Ia justru
selalu menggondol juara kelas, bahkan juara umum. Kemampuannya di bidang IPA
dan bahasa Inggris pun terlihat menonjol. Ia mampu menjuarai lomba fisika
se-Kabupaten Solok, ia sanggup mengalahkan teman-teman seangkatannya dalam
lomba bahasa Inggris. Namun batu karang kembali menghadangnya saat
menyelesaikan pendidikan di SMA.
IPB menunggunya. Jurusan Ilmu Ekonomi Syariah yang menjadi pilihannya
memberikan sebuah kursi kepadanya, tetapi Ahmad Fauzi harus mampu memecah
batukarang untuk menggapai keinginannya itu. Ia kembali terbentur masalah
dana. Dalam kondisi seperti itulah, ia datang ke Singgalang, menyampaikan
untung parasaiannya. Bagaikan baut bertemu dengan mor, Singgalang
menyalurkan keinginannya. Ahmad Fauzi muncul di Singgalang, hamba Allah pun
mengulurkan tangannya. Secercah harapan mengikuti langkahnya.
Setelah mendapatkan bantuan dari hamba Allah di Bukittinggi sebesar Rp3
juta, Ahmad Fauzi, mantan Ketua OSIS SMAN 2 Gunung Talang ini juga diberi
tahu ada bantuan dari BAZDA (Badan Amil Zakat Daerah) Kabupaten Solok dan
BAZ Kecamatan X Koto Singkarak sebesar Rp1,5 juta. Rabu malam kembali
bantuan diterima sebesar Rp5 juta dari Hamba Allah berhati mulia. Sementara
pada Kamis (29/7) selain menerima bantuan dari BAZ, Ahmad Fauzi juga
menerima bantuan dari Wakil Bupati Solok, Desra Ediwan Rp1 juta, Ketua DPRD
Syafri Dt. Siri Marajo Rp1 juta, Rumah Makan Aur Duri Sumani Rp1 juta,
guru-guru SD 31 Sumani Rp400.000, mahasiswa KKN Rp400.000 dan Kepala Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Solok Rp200.000. Total bantuan yang diterima Rp5
juta. Ini bantuan di luar BAZDA Kabupaten Solok sebesar Rp1 juta. Mendapat
kan bantuan dari Wakil Bupati Solok. Seorang dokter di Solok juga akan
memberikan bantuan Rp2 juta. Bantuan direncanakan diserahkan Jumat (30/7) di
Solok.
"Sesampai di Bogor sudah ada hamba Allah yang menawarkan pemondokan selama
kuliah secara gratis," ujar Ahmad Fauzi, Kamis (29/7). Ia benar-benar
bersyukur mendapat perhatian dan rahmat-Nya tanpa diduga sama sekali. Kini
jalan menuju IPB kian terbuka. Derai air mata duka, berubah menjadi suka dan
rasa haru mendalam. Ia terharu karena begitu besar perhatian hamba Allah.,
donatur yang berhati mulia kepadanya. Bukan hanya dirinya, kepala sekolah,
guru dan teman-temannya ikut gembira mengetahui Ahmad Fauzi bisa melanjutkan
pendidikan ke IPB. Dana yang terkumpul sekitar Rp16 juta. Jumlah ini jauh di
atas kebutuhan awalnya Rp3,5 juta. Sebenarnya jumlahnya Rp17 juta, tapi satu
juta diserahkan kembali ke Singgalang untuk anak-anak yang membutuhkan.
Sementara Azmi Aulia, perantau Solok di Jakarta juga akan membantu
sesampainya Ahmad Fauzi di Jakarta.

Assalamu'alaikum.w.w.
Dik Nof, diskusi ko jadi maleba kama-kama, samantaro pak Muljadi manunggu bilo
konvergennyo. Nak jan baserak-serak, beko susah mangamehannyo, rancak kito pilah-
pilah. Dari tulisan terakhir dik nof tadi, ambo pilah jadi tigo.
Nan partamo urusan konsep demokrasi jo Musyawarah ko dulu. Nan kaduo urusan
sejarah Islam. Nan katigo urusan qaualifikasi sia nan berhak duduak di parlemen. Rasonyo
ndak ado nan ka ampek do, ... antah kok silap ambo, ... beko kito caliak.
..aaa... Mungkin urusan Islam abangan atau KTP ... .
Baiaklah, nan paratamo, urusan konsep dasar ide antaro demokrasi jo Musyawarah.
Ambo taruihkan nan batulih jo bung Muzirman patang.
Dalam demokrasi, orang berlomba-lomba menjadi pemimpin atau orang besar atau
orang berpengaruh dan banyak pengikut. Karena tujuannya kedudukan, pengaruh, dan harta bahkan wanita. Sedangkan dalam Musyawarah orang takut menjadi pemimpin
karena memimpin itu amanah, dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah swt.
Pemimpin itu kalau 'adil, maka tempatnya dekat dengan para Nabi di sorga, beda satu
tingkat saja. Tapi kalau pemimpin itu zhalim maka tempatnya di atas sedikit dari orang
kafir di neraka, beda satu tingkat saja. Makanya dalam musyawarah orang berpikir seribu
kali untuk menjadi pemimpin sebelum yakin betul akan berlaku 'adil. Contohnya dapat
dilihat dalam sejarah, ketika Nabi saw. tidak dapat mengimami shalat, maka tiada siapa
pun yang berani menjadi imam (ini baru soal menjadi imam yang bagi kita seolah sepele
dan tidak pernah tahu pula apa syarat-syarat menjadi imam dan bagaimana urutan pe-
milihannya). Abu Bakar ra. yang ketika itu merasa bertanggung jawab dan memang dia qualified (hmm... ini dibahas nanti), maka beliau berinisiatif mengimami shalat tanpa se-
orangpun membantahnya.
Dalam demokrasi orang-orang mencalonkan dirinya dan mengatakan dirinya yang
terbaik melalui kampanye. Sementara dalam musyawarah orang tidak mencalonkan diri
karena akan terlihat berambisi sementara Nabi saw. melarang mengangkat orang-orang
yang berambisi sebagai pemimpin. Contoh nya dapat dilihat ketika pemilihan khalifah
pertama, Abu Bakar ra. mengatakan Umar ra yang terbaik, sebaliknya Umar
ra mengatakan Abu Bakar ra yang terbaik. Jadi dalam hal ini tiada seorangpun yang
dengan sombong mengatakan bahwa ia lah yang terbaik (sebagaimana yang terjadi dalam demokrasi). Seseorang dicalonkan oleh orang lain seperti keadaan Umar ra dan Abu Bakar
ra di atas, artinya orang lain yang menilai bahwa ia mampu jadi pemimpin dan ia
dicalonkan.
... oooppsss... panjang lo jadinyo dik Nof, samataro pertanyaan dik Nof alun terasosiasi-
kan lai....
... ndak baa do,... kito sambuang pulo bisuak ... jan bosan urang mambaco butir demi
butir... (he he he he... bantuak P4 pulo)...
Wassalam
St. Sinaro
|
Wa'alaikum salam. w.w.
Da Zul,...
batua tu, pada waktu dan gelombang yang sama kini ko..aaa... iyo ndak ado doh.
Tu bilo contoh nyata nyo ... kecek ambo nantik...
nanti akan ado pemimpin kalau indak sarupo Nabi saw, atau Umar bin Khatab,...
setidak-tidaknya seperti Umar bin 'abdul 'Aziz...
Lai ka mungkin tu ?.... kecek ambo... dari kini diusaokan...
tagantuang di awak-awak ko mempublikasikannyo (da'wah)..mensosialisasikannyo..... mempromosikannyo... bilo paralu tatitiak di ranah bundo dulu...
Insya Allah ... da Zul...
Wassalam
St. Sinaro
|
BUKITTINGGI - Jumat kemarin cuaca di Bukittinggi cerah, namun tidak demikian
dengan hati Wulan Mulyani, gadis belia tamatan SMAN 4 Kota Wisata itu. Hati
benar-benar galau, sedih bercampur kecewa. Wulan lulus Seleksi Nasional
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 di Jurusan Aministrasi
Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri (UNP) Padang, tapi
tak punya uang, akhirnya batal mendaftar dan tidak bisa kuliah.
Ditemui di rumah orangtuanya di kawasan Simpang Kapau, Sawah Dangka, Nagari
Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Wulan -begitu sapaan gadis
remaja ini, mengaku harus menunda keinginan untuk kuliah di perguruan
tinggi.
Orangtuanya, Mulyono, 58, asal Jawa Tengah dan Marnida, 53, asal Ambun Pagi,
Matua, selama ini hidup seadanya. Untuk makan sehari-hari saja tak pernah
cukup, dengan apa pula MulyonoMarnida akan membiayai kuliah anak gadisnya.
Beberapa waktu lalu, ketika membaca pengumuman SNMPTN di media cetak, hati
Wulan berubunga-bunga. Gembira sekali dia, sekaligus bersyukur karena
keinginannya untuk kuliah di perguruan tinggi terkabul. Kegembiraan itu
hanya sesaat, lalu berubah menjadi kekecewaan dan kesedihan, karena
menyadari tidak mampu membayar uang pendaftaran masuk ke UNP.
Semula dikuat-kuatkannya juga hatinya untuk mendatangi UNP bersama ibunya.
Matanya terbelalak begitu mengetahui untuk mendaftar dan uang semester
pertama dibutuhkan dana Rp2.750.000. Mana mungkin dia sanggup, dan balik
kanan ke Bukittinggi.
"Bapak Wulan hanya pedagang bakso keliling. Pendapatannya pas-pasan. Kami
juga harus memikirkan biaya sekolah adik-adik Wulan. Ada yang masuk SD dan
SMP ditambah biaya untuk Khatam Alquran yang akan masuk SMP itu. Kalau
tidak, tidak bisa masuk ke SMP," ujar Marnida kepada Singgalang, Jumat
(30/7).
Selain sebagai penjual bakso keliling, ayah Wulan, Mulyono juga mencari
tambahan penghasilan dengan bekerja serabutan.
Orangtua Wulan sudah berusaha ke sana-kemari mencari pinjaman, tapi tidak
membuahkan hasil.
"Kami bingung harus mencari biaya kemana agar Wulan bisa kuliah. Saat ini,
kami betul-betul dalam kesulitan," kata Mulyono lirih.
Wulan siswa yang pintar dan berprestasi di SMA 4 Bukittinggi. Selalu masuk
10 besar sejak duduk di bangku SMP sampai SMA. Bahkan di SD pernah juara
kelas.
Ketika tamat SMA, Wulan mendapat NEM 43.05 di jurusan IPS, karena itu ia
memiliki keiinginan yang sangat besar untuk kuliah. Tapi apalah daya.
Batas waktu pendaftaran di UNP sudah berlalu tanggal 24 Juli lalu. Kini
Wulan terpaksa harus melupakan cita-citanya untuk menjadi mahasiswa UNP.
Wulan juga pernah mengikuti pelatihan jurnalistik di SMA 4 Bukittinggi tahun
2009 dan Seminar Dialog Sastra Indonesia se-Sumatra Barat tahun 2007 di SMA
1 Baso bersama Penyair terkenal
Taufiq Ismail.
Jiwa dan perasaan anak ke lima dari 8 bersaudara sempat berontak dan kecewa.
Ia tidak henti-hentinya menangis dan mengurung diri menutupi kekecewaan
karena tidak bisa kuliah.
"Saya pasrah! Belum terfikir akan melakukan apa. Saya kecewa dan sedih tidak
bisa kuliah, tapi harus bagaimana lagi. Apalagi keadaan ayah-ibu yang tak
berpunya," tutur Wulan dengan wajah sedih. Ia luka dan terhempas.
Sekarang adakah yang peduli dan bisa membantu Wulan dalam mewujudkan
cita-citanya jadi seorang pendidik? (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=292
Assalamu'alikum. w.w.
Kito taruihkan nan kapatang dik Nof dan dunsanak kasadonyo... (dek ari satu, mungkin dik Nof alun ka mancogok lai do,... ndak baa do kito taruihkan...
ambopun, ampia lo indak mancogok lai....soal cogok mancogok ko tanyo se lah ka Murai
kukuban....he he he he).
Dalam demokrasi setiap orang mendahulukan kepentingannya sendiri, itu sebabnya banyak yang berbisik-bisik, "urang ko mamulangkan pitihnyo nan abih untuak kampanye
dulu mah..., kemudian kepentingan partai sehingga tidak ada kawan yang abadi,
yang ada kepentingan yang abadi. Makanya dua partai yang berseteru bisa jadi berkawan baik pada lain masa. Sementara dalam musyawarah dan mufakat, kepentingan bersama
(ummat) di atas segala-galanya. Bukan hanya kawan yang abadi, malah kawan itu adalah
saudara, "innamal mu'minuunan ikhwah" sesungguhnya setiap mu'min itu bersaudara.
Dalam demokrasi boleh beroposisi selama-lamanya (lihat dalam sistem dua partai seperti di Amerika, juga antara barisan nasional dan pembangkang di Malaysia)
tanpa harus peduli masing masing kubu benar atau salah. Sementara dalam musywarah
mufakat, tidak boleh berargumen lagi bila didapati hasil tela'ah menunjukkan kebenaran
orang tersebut diukur dari sumber Islam yang empat.
Dalam demokrasi.... alaah ... lupa pulak... ooo yaa dalam demokrasi kebenaran mutlak tidak ada, yang ada hanya kebenaran dari
suara terbanyak, oleh sebab itu yang haram dapat menjadi halal dan sebaliknya. Ini sesuai
dengan hadits Rasulullah saw. "akan datang suatu zaman nanti dimana yang haram
menjadi menjadi halal dan yang halal men jadi haram......." (hadits ini panjang, kita ambil
cuilannya saja, bagi yang ingin tahu, confirmasi pada dunsanak Ahmad Ridha)...
artinya dengan demokrasi, keadaan itu semakin cepat datangnya dan bahkan sudah terjadi, oleh sebab itu perlu segera diantisipasi (so... discard it immediately, it is better).
Sementara dalam musyawarah mufakat kebenaran mutlak ada, ya'ni kebenaran yang dimiliki oleh Yang Punya Jagad Raya. "Al-haqqu mir rabbikum, falaa takuu nanna minal
mumtariin" Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, oleh sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu." (QS:2:147)
Dalam demokrasi pertanggungan jawaban seseorang hanyalah kepada rakyat, sementara rakyat hanya kadang-kadang dapat menuntut balik, itupun kalau mampu
dibuktikan. (ingat pertanggungan jawab Soekarno, Soeharto dan para penerusnya serta
kuncu-kuncunya, siapa yang bisa membuktikan dan menuntut balik ?.).
Sementara dalam musyawarah mufakat, pertanggunggan jawaban seseorang adalah kepada Tuhan, itu sebabnya ketika Umar bin khattab ra., begitu mendapati ada diantara
rakyatnya yang merebus batu malam-malam untuk "maantokkan" anaknya yang
kelaparan, bergegas mengambil gandum di baitul mal dan memikulnya sendiri (cerita ini
sangat populer bagi telinga kita), lalu bujangnya berkata "Wahai Amirul mu'minin, biarlah
aku yang memanggulnya", lalu jawab Umar ra. "Di Padang mahsyar nanti, sanggupkah
engkau memikul dosa-dosaku ?, kalau tidak, biar aku pikul sendiri". Hmm... Umar sendiri
yang memikul gandum tersebut sampai ke rumah orang itu, karena saking takutnya bila
ditanya oleh Allah nanti. Begitu pertanggung jawaban yang digambarkan oleh seorang
hamba Allah yang sudah dijamin masuk surga (Umar salah satu dari 10 sahabat yang kata Nabi saw. dijamin masuk surga).
Akhirnya, dalam demokrasi yang memerintah adalah orang yang terpilih menjadi pemimpin, sehingga walaupun sudah dibagi-bagi menjadi eksekutif, legislatif, yudikatif,
menurut John Lock dan Montesque, tetap saja dapat bermain memanipulasi negara
tanpa rasa takut. Sementara dalam musyawarah mufakat, yang memerintah adalah
Tuhan, si pemimpin hanyalah yang memikul amanah dari Tuhannya, itu sebabnya ketika
Umar bin Khattab menerima kedatangan anaknya (Abdullah bin Umar)sewaktu
ia menela'ah lembaran negara, ia memadamkan lampu, lalu Abdullah bertanya mengapa ia memadamkan lampu, Umar menjawab, lampu ini milik negara, kalau urusanmu datang
adalah urusan negara, mari kita nyalakan lagi, tapi kalau tidak,... biarkan ia padam....
aaa... begitu gambaran seorang hamba yang diamanahi menjadi pemimpin
oleh Tuhannya. Bayangkan yang terjadi pada kita sekarang ini, pitih bamilyard-milyard bahkan triliunan kemana raib nya ? (ndak usahlah di sabuik kasus-kasus bank-bank maa).
... Nah, demikian konsepnya dasarnya dik Nof, dan dunsanak kasadonyo... (inipun hanya summary nya saja, kelengkapannya dan penjabarannya bisa lebih panjang untuk
bisa menjawab pertanyaan dik Nof).
Lalu kita masuk ke yang kedua pula....soal sejarah Islam..
tapi lah panjang banako... bisuak pulo lai,... Wassalam
St. Sinaro |
>AssWrWB,
Wa'alaikum salam. w.w.
>Bung St Sinaro,: izinkan saya mengunakan bung, bung St Sinaro yg memulai >menggunakan bung, saya jadi senang juga pakai bung, kalau bung ngak suko tolong
>kasih tahu saya, dan saya tidak perlu minta maaf, ini respon saya terhadap tulisan bung
>Sinaro.
...............(dikarek).... >Coba bung Sinaro terangkan sedikit, dimana dan apa nya yg salah, krn premise (dasar
> pemikiran ) kita berbeda., maka cara kita berpendapat juga akan berbeda.
>Bunb St Sinaro menulis : >.yang ini pemisalan demokras yang mendekati Musyawarah .... .......()....
Ha ha .... bung Murzirman, disitulah letak salahnya....
Kita sedang membahas beda demokrasi dengan Musyawarah Mufakat, kita sedang
mencari mana yang sesuai dan cocok untuk kita, mana yang akan membuat bangsa ini
jaya dan diredhai oleh Yang punya jagad raya ini dan diberi surga jannatun na'im untuk
kehidupan kekal abadi nanti. Lalu bung Muzirman mengemukakan pemakaian demokrasi
di Padang dengan segala permasalahannya dan mencoba membetulkannya. Tentu saja
dalam hati saya berkata...kenapa dipakai... ide (paham) ini beracun kok... yaa... salah
sendiri. Itu sebabnya saya mengatakan, kalau dari pangkal sudah salah, yaaa ujungnya
salah dan merugikan.
>Respon saya ; Sbg contoh ttg nelayan dgn Jembatan Siti Nurbaya tsb diatas. Pemda > KOta Pdg dan DPRD bermusyawarah dan mufakat bangun Jembatan Siti NUrbaya,
> Apakah ada di ajak nelayan (rakyat)bermusyawarah juga? Kan tidak. Itulah yg saya
> sebutkan proses pengambilan keputusan nya tidak bermusyawarah, bersama rakyat
>dan tidak demokratis, Di putuskan di atas saja.
>Saya ulangi, dalam pemilihan suara,(bukan musyawarah) dan informasi terbuka, nelayan >tahu siapa yg tidak sesuai dgn dan memenuhi kepentingan nelayan , krn informasi nya
> terbuka, maka Pemilu Kada berikutnya kami nelayan tidak pilih lagi. Kalau musyawarah
> kan yg tahu satu suara bulat yg keluar ,.. ok bangun jembatan.Dgn pemilihan suara jelas
> tahu hitam putih, siapa yg milih bangun Jembatan, siapa yg milih kredit lunak utk
> nelayan, Utk pemilihan berikit nya nelayan akan pikir dua kali milih siapa.
.... haa... nampak ?... rancunya pikiran.... urusan ini demokrasi yang dipakai,... lalu pada
kalimat kedua, "Pemda KOta Pdg dan DPRD bermusyawarah dan mufakat...." .. campur aduk,... antara eksekutif (pemerintah) dan legislatif (DPRD) bertemu dan
berbincang,... itu sistem demokrasi bukan musyawarah. Akibatnya rakyat(nelayan) jadi
korban. Musyawarah punya majlis syuro, bukan eksekutif, legislatif yudikatif.
>Kalau St Sinaro mengatakan sia-sia saja, memang dmk sementara ini krn kekuatan dan >kepentingan personal dan kepenting partai lbh kuat dari kepentingan rakyat banyak,
> walaupun suara pers mulai agak kuat terdengar, tp kepenting partai dan personal yg
> akan unggul. Kenapa?
>Kata buku, " masyarakat menengah kita masih sedikit, dan rakyat sebahagian besar > penddidikan nya masih perlu di tingkat kan."Krn masyarakt menengah ini menuntut ada
> dan tersedia nya nilai 2 demokrasi utk kepentingan mereka juga. Jadi begitu lah kita
> akan selalu " konflik kepentingan, Nah siapa yg akan melerai nya. siapa jadi wasit dan
> peraturan yg adil, 'lamak dek awak , katuju dek urang,
Sia-sia saya katakan bukan karena alasan di atas yang bung Muzriman sebutkan, tapi
akan sia-sia karena kita memakai ide (paham) yang salah yang kita sendiri tidak tahu
bagaimana membetulkannya. Salah di pangkal salah di ujung. Bagaimanapun kita mendi-
dik rakyat, kalau paham yang dipakai salah, akan tetap menyengsarakan rakyat.
Mengapa tidak kita ikut pepatah Minang, kalau salah diujung jalan kembali ke pangkal
jalan. So discard it (buang saja sistem itu), use the best one (pakai yang terbaik) yang
datang dari Penguasa jagad raya ini, yang tahu dan Mahatahu bagaimana kurenah
manusia dan Mahatahu pula bagaimana mengatasinya. Mari kita renungkan ayat itu baik-
baik.
Afaghaira diinillaahi yabghuun, wa laHu aslama man fis samaawaati wal ardhi thau'an
wa karHan, wa ilaihi yurja'uun.
"Maka apakah mereka mencari (petunjuk) agama yang lain dari (petunjuk) agama Allah,
padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS:3:83)
Mengapa kita mencari/memakai petunjuk/cara/paham (demokrasi) selain dari
petunjuk/paham/cara yang telah diturunkan Allah swt. (Musyawarah dan Mufakat),
padahal kita akan kembali kepada Allah, apa dan bagaimana pertanggung jawaban kita
nanti ?.
>Sekian dulu bung St Sinaro. Ok, bung Muzirman, have a nice day, good luck, may God bless us.
>Wass. Muzirman Tanjung Wa'alaikum salam, warahmatullah..
St. Sinaro |
PADANG - Wifa Wahyudi, 19, nama remaja itu. Lelaki cerdas asal MAN 2
Batusangkar itu dinyatakan lulus sebagai mahasiswa Universitas Al Azhar,
Cairo Mesir tahun ini. Girang tak terkira. Sayangnya, biaya melanjutkan
pendidikan sungguh selangit senilai Rp34.834.000. Dengan rincian, biaya
keberangkatan dan administrasi Rp25.150. 000 dan biaya kitab-kitab
Rp9.684.000.
Alamak... uang kuliahnya setinggi itu. Amat menyedihkan, Wifa Wahyudi
terlahir dari keluarga yang perekonomiannya biasa-biasa saja. Sang bapak,
Amril Rusli merupakan seorang tenaga honor Madrasah Mualimin Muhammadiyah
Lintau Buo Utara Batusangkar. Ibunda, Lili Suryani seorang ibu rumah tangga
biasa.
Kemana lagi, pria asal Jorong Ranah Kodok, Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan
Lintau Buo Utara, Tanah Datar ini harus mengadu. Hingga hari ini uang baru
terkumpul Rp5 juta bantuan keluarga dan sumbangan dari beberapa orang yang
peduli. Kemana lagi remaja ini harus berkeluh kesah untuk mencukupi biaya
uang kuliahnya.
"Awalnya saya ikut tes belajar ke Universitas Al Azhar Cairo di IAIN Medan.
Tak tahunya hasil pengumuman 7 Juni lalu saya dinyatakan lulus dan diterima
di Universitas Al Azhar Cairo," ungkap Wifa Wahyudi berkaca-kaca, kemarin di
Redaksi Singgalang.
Ia tak menyangka kalau terpanggil sebagai mahasiswa di sana. Semua usaha
telah dilakukan, namun uangnya belum juga terkumpul.
Remaja yang pernah meraih perunggu Porseni antara Madrasah 2009 tak putus
asa. Proposal demi proposal perihal mohon bantuan beasiswa untuk belajar di
Universitas Al-Azhar Cairo dimasukan ke beberapa instansi pemerintah.
Lelaki genius itu, sungguh mengharapkan sekali bantuan itu agar kelak bisa
memperdalam ilmu pengetahuan di negeri orang. Sebab, dia diajarkan orang tua
pendidikan adalah usa ha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan dan
masyarakat.
Berkat penerapan ilmu pengetahuan adalah segalanya itu, Wifa Wahyudi
berhasil mendapatkan penghargaan, Juara II Hifzil 5 Juz Tilawah Putra dalam
MTQ ke XXXIII tingkat provinsi Sumbar. Juara II Hifzil 5 juz MTQ Kabupaten
Limapuluh Kota. Juara III MTQ Tingkat SLTA Se-Sumbar dan harapan II Hifzil 5
Juz.
Kelanjutan studi merupakan sebuah harapan dari anak bangsa, namun dalam
mencapainya terkadang sering mengalami hambatan, baik dari segi moral maupun
materil.
Bupati Tanah Datar, Shadiq Pasadigue kepada Singgalang, menyatakan, setiap
anak miskin di daerahnya yang berprestasi dan diterima di PTN, pasti
dibantu. "Apalagi ke Al Azhar, pasti dibantu, suruh dia datang menemui saya
atau pejabat berwenang, akan kita urus," kata dia. Namun Shadiq menyatakan,
besarnya bantuan akan ditentukan kemudian. "Tapi pasti kita bantu, kalau
bisa tolong urus oleh wartawan Singgalang, biar cepat tuntas," kata dia. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=308
Assalmu'laikum. w.w.
Maa..Mak Datuak Endang, ... Sadonyo lah ado mak, nan sederhana liek di kitab fiqih...
Dalam fiqih tu kan ado, kitab ibadah, kitab mu'amalah, kitab jinayah dan (...iko na ndak pernah di liek ...) kitab khilafah (kepempinan). duo nan terakhir tu nan jarang di liek dan dipelajari bana dek urang awak yakni jinayah dan khilafah.
Antah dek karano maraso fardhu kifayah, atau dek karano indak kamungkin di nagari nan indak negara Islam... ambo ndak tau tu. Jadi lah ado soal kepemimpinan ko mak, bahkan di buku sederhana Sulaiman ... nan kuniang nan banyak di pasa tu pun ado kitab Khilafah... kalau buku lain lah banyak, sampai ka Fiqih Negara. Jadi awak nan lalai sabananyo salamoko, dan awak jarang mambaco kitab fiqih, antah dek karano alah dicekoki pengetahuan umum ala barat atau maanggap itu kuno dan sia-sia ... Kini baliak ka kito, kito mamiliah ala barat atau nan dibaok dek Rasulullah ?.
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta'ati orang-orang yang kafir itu,
niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi." (QS:3:149) "....Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ...." (QS:5:03) "Maka apakah mereka mencari petunjuk (agama) yang lain dari petunjuk (agama) Allah, |
|
padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik
|
dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan" (QS:3:83)
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS:3:85) Wassalam
St. Sinaro
|
Bapak Sutan Sinaro :
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
> Kini baliak ka kito, kito mamiliah ala barat atau nan dibaok dek
> Rasulullah ?.
Menurut pendapat saya pribadi, , selama tidak mementingkan ego dengan kata lain demi menguntungkan/berfaedah untuk pihak yang MURNI untuk rakyat, mau pakai ala manapun terserah. Karena tidak semua ALA BARAT itu buruk dan atau haram menurut Islam.
Jangan tergiur dengan slogan cliché orang orient yang bersabda semua dari Barat itu buruk dan atau haram.
Bapak Datuak Endang:
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Malah caronyo labiah
> ekstrim lai, kalau ado surang nan indak setuju, mako indak tercapai mufakat
> dalam musyawarah, karono masiah ado rantiang nan badatak murai nan bakicau;
> buleknyo masih basagi, indak dapek dilayangkan. Antau kalau caro iko nan ka
> diganti, supayo sampai pado "perubahan", raso-rasonyo alah hilang kita
> ba-Minang.
Maaf beribu maaf Bapak Datuak, ini secara tidak langsung VETO yang Bapak maksudkan, seperti di PBB "only The Big Five" mempunyai HAK VETO. Apakah ini bagus ataupun mendekati ideal? (Ingat kenapa Soeharto tidak bakal bisa digugat di Den Haag)
Menurut saya pribadi, selama menguntungkan pihak Rakyat (MURNI lho... bukan ada udang dibalik batu, untuk sebagian kelompok ataupun lobby) dan tidak bertentangan dengan Islam, yah silahkan saja jalan.
Faktor waktu ini parameter dimensi yang doeloe kurang diperhatikan. Menanti beberapa gelintir person yang argumentnya tidak/kurang relevan serta menghambat kemajuan, disamping itu jarum jam berputar pesat.
Yach itulah tugas pemimpin yang MULIA sebagai decision maker, bukan menguntungkan diri sendiri, kelompok ataupun donaturnya.
(live and let live)
Maaf kalau sekiranya tidak/kurang sependapat,
Wassalam,
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Sun, 1 Aug 2010 22:32:36 -0700 (PDT)
> Von: Sutan Sinaro <stsi...@yahoo.com>
> An: rant...@googlegroups.com
> Betreff: Re: Beda Demokrasi dengan Musyawarah Mufakat Re: [R@ntau-Net] Fw: [Koran-Digital] IJP: MENGAKHIRI TRANSISI DEMOKRASI
--
Neu: GMX De-Mail - Einfach wie E-Mail, sicher wie ein Brief!
Jetzt De-Mail-Adresse reservieren: http://portal.gmx.net/de/go/demail
Wa'alaikum salam. w.w.
Ini, Muljadi yang Datuk (pangulu kaum), atau bukan ya ?... maaf bila saya panggil bapak saja.
Saya agak tercegang dengan komen pak Muljadi, seperti orang bangun tidur... lalu baturo-turo. Memang tidak semua yang dari barat itu buruk dan haram pak, kami tidak mengatakan begitu. Justru yang sedang didiskusikan adalah buruk baik diantara kedua sistem tersebut. Kedua sistem yang sangat mempengaruhi hidup orang banyak, ummat atau rakyat. Didiskusikan ditimbang buruk baiknya berdasarkan keyakinan yang kita punya (Islam), dan dipilih atau direkomendasikan mana yang baik untuk dipakai oleh para pemimpin nantinya. (Saya sangka pak Mujadi mengikutinya dari awal....???? ). Atau memang sudah sifat orang zaman sekarang yang selalu ingin tampil beda lalu berkata "Saya tidak sependapat", tanpa tela'ah dan inap renung lebih dulu. Maaf pak Mujadi bila tidak berkenan
(Kok Muljadi nan pangulu kaum ko, ...ndeh bari maaf ambo).
Wassalam
St. Sinaro |
Suatu Gelar yang (hanya) buat orang Pilihan yang sangat bagus sekali.
Pertama-tama saya tak punya dan tak BAKALAN punya gelar adat, Pak Sutan Sinaro. Kononpula Datuk(Pangulu kaum), saya tak bakalan dicalonkan menjadi Datuk ataupun sejenisnya, seandainya ada dibisiakkan pun, juga MUTLAK tidak bersedia menjadi Datuk. Karena saya adalah orang lahir/besar di-rantau, (mungkin)kurang taratik.
Selain itu, jangankan berbahasa Minangkabau, sedangkan berbahasa Indonesia saja, saya kurang becus.
Buktinya apa yang saya maksudkan, yakni yang saya tuliskan sebelum YANG ini (YANG DIBAWAH INI) kepada Bapak Sutan Sinaro yang berpendidikan tinggi lain tangkapan/pengertian Bapak Sutan Sinaro jadinya. Bagaimana runyamnya nanti seandainya saya kebetulan berkomunikasi kepada urang awak yang kurang berezeki berpendidikan, kan bisa runyam... jadinya.
Bagaimana mungkin saya dicalonkan ataupun bersedia menjadi Datuak, mendingan saya menjadi rakyat jelata dirantau orang Barat, bebas lepas, hanya bertanggung jawab selain ke yang diATAS, ke microcosmos yaitu keluarga saya serta kelangit tempat saya berpijak.
Disini manusianya ngak banyak "cik minyak", saya bukannya mendahului Allah, rasanya lebih dulu Matahari terbit diBarat, daripada saya jadi Datuk.
Mengenai saya dipanggil apa, ... saya copy paste saja tulisan saya yang saya alamatkan keBapak Epy Buchari (Minangkabau & Jerman, Dulu & Sekarang)
http://service.gmx.net/de/cgi/g.fcgi/mail/print?folder=inbox&uid=MzcyMfI5ViYvKWxJ12dsNZhYa3meG1Um&header_query=muljadi&allfolders=false&CUSTOMERNO=10693705&t=de437661004.1280739021.7ff0fe21
Wah... Bapak Sutan Sinaro, kalaulah saya, dipanggil (dengan) apa saja saya tidak mengapa, jujur....karena saya lebih mementingkan isi/inti daripada bungkusnya disamping intonasi serta mimik dan gestik dari sipembicara, rhetorisnya boleh juga tetapi itu hanya pelengkap yang sekunder.
Selebihnya, komentar lainnya... yang dari Bapak Sutan Sinaro, rasanya tak perlu lagi saya jawab.
Karena mendingan saya préventif saja, daripada saya makin bersalah, selain bahasa saya yang kurang baik/bagus, mungkin2 frequensi kita juga berbeda jauh.
Sembah sujud serta mohon maaf se-besar2nya dari saya kehadapan Bapak Sutan Sinaro.
Serta terimakasih atas pemaafan serta kemakluman Bapak Sutan Sinaro atas kekurangan2 saya.
Wassalam,
Muljadi
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Mon, 2 Aug 2010 03:59:27 -0700 (PDT)
> Von: Sutan Sinaro <stsi...@yahoo.com>
> An: rant...@googlegroups.com
> Betreff: Re: Beda Demokrasi dengan Musyawarah Mufakat Re: [R@ntau-Net] Fw: [Koran-Digital] IJP: MENGAKHIRI TRANSISI DEMOKRASI
> Wa'alaikum salam. w.w.
--
GMX DSL: Internet-, Telefon- und Handy-Flat ab 19,99 EUR/mtl.
Bis zu 150 EUR Startguthaben inklusive! http://portal.gmx.net/de/go/dsl
Pak Muljadi yth.
Dalam babarapo upacaro adat memang ado nan bantuak itu, saroman batagak penghulu, khususnyo pado acaro pancokoan (gadang garundang di kubangan) atau sapakaik sasuku. Karono itu acaro biasonyo bamulo ba'da maghrib hinggo malakik ukatu subuah. Nan diparundiangkan hanyo itu-itu sajo, manjalani alua sarato patuik. Nan bahabih ukatu karono satiok buah parundiangan di paiyo-patidokan dalam satiok paruik. Kadang untuak pasambahan minum kopi abih ukatu satangah jam, karono nan itu sajo paralu kesepakatan. Memang ado ide tarutamo dari rantau untuak manyingkek sagalo bantuak parundiangan, nan aratinyo: langsuang ka pokok masalah, sarupo nan biaso dilakukan di parantauan. Namun tarnyato indak bisa, karono nan pokok penilaian dalam adat adolah "proses", dan bukan "hasil", inyo bajanjang dan batanggo. Nan itu ado pulo kaji hikmahnyo.
Baitu caro barundiang di rumah, nan jauah labiah mendalami hakikat demokrasi. Indak pulo model veto, karono satiok paruik hinggo sumando, bako-baki, mamiliki kekuasaan nan samo, singkeknyo bauleh, ganjianyo manggono'i. Struktur berjalan sucaro utuah. Kalau diambiak persamaan, mungkin samo jo 'doktrin korsa' dalam ketentaraan. Jadi tangguang jawab sasaurang itu manjadi tangguang jawab basamo, baitu pulo sabaliaknyo.
Walau parundiangan bajalan sarik karono kapalo samo babulu namun nan utak balain-lain, sangaik jarang ado kegagalan dalam maambiak keputusan. Karono banyak pidoman dalam adat nan dapek dipagunokan. Ado tulisan saketek tentang caro itu dapek disilau baliak:
Sumantaro demikian, dan tarimo kasiah atas komentarnyo.
Wassalam,
-datuk endang |
|
Tarimo kasiah Banyak ateh panjalehan jo panarangan sarato informasi nan luweh, nan ambo tarimo dari Bapak Datuk Endang.
Kalau lah baitu kultur budaya adat istiadat Minangkabau, kan susah untuak mancangkok faktor wakatu kadalam ritus nan kito mukasuik-kan, yo kan Pak Datuk?.
Andaikato bisapun itu raso2-nyo pasti mamakan tempo nan agak relativ lamo, kiro2 satireh jo therorie evolusi tapi mungkin indak salamo theorie evolusi maso transisi dari era Pithecanthropus Erectus ka-zaman Paleo-/Neo- lithicum.
Tanyo ambo ciek lai... Pak Datuk Endang apo identik jo Pak Ekadj. Dt. Endang Pahlawan nan manulih "Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso" iko?
Rancak bana baiak rupo maupun isi baso panuturannyo, manuruik ambo nan kurang literaris iko.
Sakali lai tarimokasiah banyak, jo informasinyo, jo mohon maoh jo maklum, jikok raso pareso, kato/baso jo taratik ambo nan gak kurang patuik.
Bilo2nyo pabuliahkan lah pintak ambo nan ka ba-tanyo2 Ka Bapak Datuk Endang, pabilo ado par-tanyo2an nan mungkin gak pandia bunyinyo di-talingo Pak Datuk Endang.
Wassalam,
Muljadi
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Mon, 2 Aug 2010 09:16:08 -0700 (PDT)
> Von: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
> An: rant...@googlegroups.com
> CC: minan...@yahoogroups.com
> Betreff: [R@ntau-Net] Re: Beda Demokrasi dengan Musyawarah Mufakat
--
PADANG - Tiba-tiba saja, Wulan Mulyani dan ibunya berada di ruang kerja
Rektor UNP, Z. Mawardi Effendy. Profesor itu menyambut dengan ramah,
memersilahkannya duduk dan mendengarkan cerita anak beranak ini dengan
sabar.
Senin (2/8) mengalir landai. Wulan meluncur dari Bukittinggi bersama ibunya
dan ditemani wartawan Singgalang. Tujuannya UNP, untuk mendaftar sebagai
mahasiswi di sana, karena sebelumnya ia lulus lewat SNMPTN. Semua orang
sudah mendaftar, Wulan belum. Terlambat lebih sepekan karena ketiadaan uang.
"Ananda, masuk Ananda, silahkan duduk," sapa Mawardi. Dengan langkah
malu-malu Wulan menapaki lantai ruangan kerja Mawardi. Ibunya lebih
malu-malu lagi. Tak dinyana, ia sudah berada di ruang rektor, padahal
anaknya saja belum tentu bisa diterima.
Wulan terlihat was-was. Ia bertanya-tanya apakah kira-kira ia masih bisa
diterima menjadi mahasiswa di jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu
Pendidikan sesuai kelulusan SNMPTN itu. Pasalnya, tenggat waktu pendaftaran
ulang dan pembayaran uang masuk kuliah UNP sudah lewat sekitar seminggu yang
lalu.
Ibu Wulan pun terlihat cemas. Namun, saat melihat Prof. Mawardi menerima
Wulan dan ibunya dengan ramah di ruangannya ibu Wulan terlihat lebih lega.
Beban berat lenyap sudah. Senin memang hari yang landai dan indah.
"Oh, masalah keterlambatan pendaftaran itu tak apa-apa. Saya bisa bantu urus
itu yang penting Wulan bisa kuliah," ujar Mawardi setelah mendengar kisah
tentang Wulan, gadis berprestasi asal SMA 4 Bukittinggi yang lulus di UNP
namun terbentur masalah biaya.
Mendengar perkataan Mawardi, Wulan terlihat lega. Akhirnya impian Wulan
untuk bisa melanjutkan studi sebagai mahasiswa terwujud. Sungguh alangkah
bahagianya hati Wulan bersama ibunya Marnida setelah mengetahui kalau
kesempatan menjadi mahasiswa UNP bisa terwujud.
Ekspresi kebahagiaan kedua ibu anak itu hanya bisa terpancar melalui sorot
mata dan senyum keduanya. Mungkin saja Wulan ingin melepaskan rasa bahagia
dan haru itu dengan berlonjak girang atau memeluk sang ibu. Namun, rasa
segan pada Mawardi yang sekarang menjadi rektornya membuat Wulan hanya duduk
sedikit gelisah. Tak sabar ia ingin langsung menjalani proses mendaftar
bersama beberapa teman-temannya yang juga lulus SNMPTN sebagai mahasiswa
UNP.
"Nanti kalau Wulan bisa mempertahankan prestasi akademik selama paling tidak
dua semester awal, Wulan bisa dapat beasiswa," kata Mawardi. Wulan dan
ibunya hanya bisa tersenyum dan berkali-kali mengucapkan terima kasih dengan
tulus dan sungkan.
Mawardi juga menjelaskan pada Wulan cara mendaftar administari mahasiswa di
UNP setelah memastikan staf pusat komunikasi (Puskom) UNP telah mengaktifkan
akun Wulan di database pendaftaran ulang secara online UNP.
"Sudah tahu nomor NIM (nomor induk mahasiswa-red)nya?" tanya Mawardi.
Wulan menggeleng malu. Awalnya Wulan yang ragu bisa mendapatkan biaya
bantuan untuk membayar uang masuk sebanyak dua juta lebih itu, ia pun tak
mencatat NIM yang tertera pada pengumuman SNPMTN UNP. Mawardi lalu
memberikan secarik kertas yang sudah tertulis nomor NIM Wulan sambil sekali
lagi menjelaskan cara mendaftar administrasi mahasiswa dan mengingatkan
Wulan untuk rajin belajar.
"Nanti cek kesehatan dan mengukur baju almamaternya bareng Ani saja Bu. Ani
juga lulus di UNP," ujar Wulan tak sabaran pada ibunya. Ani, tak lain teman
akrabnya yang juga lulus di UNP. Ibunya langsung mengiyakan Wulan, terlihat
ia senang melihat Wulan telah terdaftar menjadi mahasiswa.
Diantar ke Padang
begitulah Senin pagi yang cerah kemarin, Wulan, alumni SMA 4 Bukittinggi itu
bersama ibunya Marnida pergi ke Padang untuk mendaftarkan diri ke
Universitas Negeri Padang.
Singgalang pun menemani kepergian Wulan dan membantunya untuk mengurus
administrasi dan pendaftaran di Kampus UNP tersebut. Ia tidak menyangka dan
sangat berterimakasih karena ada pihak donatur atau dermawan di kota wisata,
Bukittinggi yang bersedia untuk membantu dan membiayai kuliah Wulan mulai
dari awal pendaftaran sampai ia diwisuda nanti. Sang donatur itu bahkan
berjanji juga akan mencarikan tempat kos untuk Wulan.
"Ibu bersyukur sekali karena Wulan sudah bisa kuliah. Kami merasa beban yang
dipikul selama ini sudah lepas rasanya. Keresahan kami karena Wulan tidak
bisa kuliah akhirnya sirna seketika. Dan, kami dari orang tua berharap Wulan
bisa berhasil dan sukses dalam perkuliahannya. Selain itu, kami mengucapkan
terima kasih kepada dermawan yang sudaj bersedia membantu Wulan demi masa
depannya," ujar Marnida kepada Singgalang
Ketika mengunjungi kantor Redaksi Harian Singgalang di Padang, Wulan bersama
ibunya diterima Redaktur Pelaksana Widya Navies. Mereka menyampaikan banyak
terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan, akhirnya Wulan resmi menjadi
mahasiswa berkat informasi yang sudah disampaikan kepada masyarakat.
Pihak Singgalang juga menyampaikan selamat kepada Wulan karena sudah bisa
mendaftarkan diri ke UNP dan resmi sebagai mahasiswa.
"Kita hanya mencoba membantu kesulitan yang dialami Wulan, dan semoga ia
bisa meraih kesuksesan dan impiannya selama ini. Kami berharap Wulan dapat
menjalani perkuliahan dengan baik dan rajin. Semoga Wulan dapat mewujudkan
harapan dan cita-cita hidupnya di kemudian hari," ujar Widya.
Singgalang memberitakan nasib Wulan pada edisi Sabtu pekan lalu. Senin, ia
mendaftar.
Manjada wajada Terimakasih dermawan. Terimakasih Pak rektor. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=329
Ildia Murni dan Gusti Rahma - Tersandera Dana ke Al Azhar
Padang - Gusti Rahma Yeni, 19 dan Ildia Murni, 19 melangkah gontai ke
redaksi Harian Singgalang. Mereka adalah dua anak hebat yang diterima di
Universitas Al-Azhar. Namun status mereka sebagai mahasiswa nyaris pupus.
Sebab mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk menimba ilmu ke sana.
Tapi keinginan dua gadis dari keluarga ekonomi lemah itu begitu besar, dalam
mengejar impian di masa depan.
Gusti Rahma merupakan anak dari seorang petani yang mengandalkan setumpak
sawah. Sedangkan Ildia Murni adalah piatu, yang telah ditinggal ayahnya
sejak duduk di kelas dua sekolah dasar.
Mereka senasib seperjuangan dalam menggapai asa. Mereka dipertemukan dalam
sebuah kompetisi untuk masuk ke Universitas Al-Azhar.
"Saya dan Ildia punya cita-cita yang sama. Kami juga berasal dari keluarga
yang sama. Keluarga pas-pasan, namun punya cita-cita setinggi langit," kata
Gusti, kepada Singgalang, Kamis (5/8).
Menurutnya, dulu ayahnya adalah seorang pemotong kayu di hutan, dengan hasil
itulah mereka di sekolahkan. Namun, sejak maraknya penangkapan kayu ilegal,
profesi ayahnya beralih menjadi petani, yang mengelola setumpak sawah yang
tersisa dari harta yang ada.
Ketika lulus dari MAN Koto Baru Padang Panjang, Gusti, mencoba peruntungan
dengan mengikuti PMDK. Alhasil dia lulus di dua perguruan tinggi negeri.
Namun ada keinginan lain untuk mengapai cita-cita di negeri Sungai Nil itu.
"Dari dulu saya berkeinginan untuk belajar di Mesir. Saya pupuk mimpi itu
agar menjadi nyata. Caranya hanya dengan belajar dan belajar, khususnya di
bidang keagamaan," cerita anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Lalu, saat ada kesempatan untuk tes masuk ke Universitas Al-Azhar, ia
mencobanya. Dengan keyakinan yang teguh, ia jalani tes tersebut. Hasilnya
sangat mengejutkan, anak pasangan Muhammad Taher ini lulus dan dinyatakan
diterima di Universitas Al-Azhar.
"Saya sangat bersyukur karena lulus, tapi saya juga gamang karena ketiadaan
biaya. Hati saya menjerit, ingin sekali berteriak tapi mulut ini terkunci,"
beber gadis jolong gadang itu.
Lalu mengadulah ia kepada ayah ibunya, dengan niat ada harapan untuk
mendapatkan biaya pendidikannya di Mesir kelak. Namun, orangtuanya tak
berdaya, mereka tampak pasrah.
"Ketika itu bapak/ibu begitu gembira mendengar saya lulus di Al-Azhar, namun
kegirangan mereka sirna dalam sekejap. Mengingat biaya yang saya paparkan
begitu besar untuk masuk ke Al-Azhar" sebut gadis kelahiran, Batusangkar, 8
Agustus 1991 ini.
Tapi Gusti berusaha meyakinkan kedua orangtuanya, jika Allah, memberi
kesempatan kepadanya, kuliah di Mesir hal itu pasti bisa terwujud. Ia pun
memutar otak mencari cara mendapatkan dana, dengan mengajukan proposal.
Mulai ke pemerintah Kabupaten Tanah Datar hingga ke BAZ Sumbar. Hasilnya
terkumpul dana sebesar Rp5 juta.
"Dana itu juga dari keluarga saya di kampung, mereka mendorong saya untuk
sekolah di mesir. Namun dana itu belum cukup dibanding biaya yang dibutuhkan
untuk pendidikan," terangnya.
Untuk masuk ke Universitas Al-Azhar, membutuhkan dana sebesar Rp35 juta.
Lain lagi perjuangan yang dilakukan Ildia Murni, anak piatu alumni MAN 2
Padang ini. Meski sedari kecil sudah ditinggal ayahnya, yang namanya
keinginan untuk mengejar cita-cita itu begitu tinggi.
"Ibu dan kakak saya awalnya sudah lepas tangan, namun saya tetap bisa
meyakinkan mereka. Kalau saya bisa sekolah di Mesir. Lalu saya ajukan
proposal, hasilnya baru Rp5,5 juta. Dana itu masih jauh dari biaya yang
dibutuhkan," sebut Ildia, yang berasal dari Air Bangis, Pasaman Barat ini.
Putri pasangan Maswardi dan (almarhum) Marnis ini punya keyakinan, di mana
kemauan sana ada jalan.
Gusti dan Ildia, berharap uluran tangan dermawan untuk mendapatkan biaya
penyambung cita-cita yang kini tergantung di langit. Kelak ketika mereka
lulus dari universitas ternama di Timur Tengah itu, mereka berencana
mengabdikan diri untuk masyarakat di daerahnya masing-masing. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=352
Jumat, 06 Agustus 2010
Ildia Murni dan Gusti Rahma - Tersandera Dana ke Al Azhar
Padang - Gusti Rahma Yeni, 19 dan Ildia Murni, 19 melangkah gontai ke
redaksi Harian Singgalang. Mereka adalah dua anak hebat yang diterima di
Universitas Al-Azhar. Namun status mereka sebagai mahasiswa nyaris pupus.
Sebab mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk menimba ilmu ke sana.
e.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kamanakan Z
Itu manandokan lah ado nilai2 itu nan mulai luntur
Samo jo awak mandanga masalah judi, miras dll
Walau sabalun Islam ado di Minangkabau soal pekat itu umpamo lumrah di Minangkabau
Tapi kini disebagian daerah dengan banyaknyo masalah itu ibaratnyo awak masuak era Jahiliyah baliak
Kini tagantuang dek kito basamo apo memang akan baitu akhianyo
Samantaro di Agam Tuo ambo liek nan banamo : sahino-samalu itu insyaallah lai banyak nan jalan.
Bukan mangapik daun kunyik. Didaerah ambo walau apaknyo baparak lado jo kapelo. Amaknyo manjaik bordir/ sulaman. Insyaallah banyak juo tamatan SMA Ampek Angkek nan lumayan tinggi peringkatnyo itu sacaro nasional dan alumninya bisa masuak PTN baiak di Jawa atau Padang
Dek karano itu insyaallah indak ado padusi kami nan jadi PRT. Karano punyo ketrampilan sulaman itu
Sakali lai itu hanyo tagantuang kondisi masiang2 Nagari
Salam
TRSent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Nakan Z
Sabananyo mamak nan dikampuang atau dirantau pasti tahu masalah ereng jo gendeng, kalabihan dan kekurangan anak kamanakannyo
Kalau soal mamak nan lempar handuk ka Harian SInggalang iko ambo memang indak pas juo untuak manjawabnyo
Tapi sebagai nan pernah ambo sampaikan, kemungkinan iko karano ego keluarga besar juo
Misalnyo iko mirip jo untuak manyarahkan keluarga supayo dirawat dan dipelihara lebih baik apakah anak yatim melalui Panti Asuhan atau para Manula lewat Panti Werdha
Banyak keluarga besar nan alun bisa manarimo iko. Walau akhirnya si anak putus sekolah dan orang tua kurang terawat
Tapi bagi mereka itu tidak jadi masalah. Karena kalau menyerahkan anggota keluarga kepada pihak lain keluarga besar akan merasa malu dan terhina
Itu sajo nan nampak dek ambo...mungkin masih kurang pas...para pakar bisa lebih menjelaskan fenomena ini
Wass
St.R.A
be.