Suatu Hari Jam Setengah Satu Siang di Bandara Tabing, Padang

87 views
Skip to first unread message

Darwin Bahar

unread,
Mar 5, 2011, 12:11:26 AM3/5/11
to Palanta Rantaunet

Suatu hari sekitar jam setengah satu siang di bandara Tabing di bulan November yang bertepatan dengan Ramadan di tahun 2004. Cuaca teduh karena matahari tertutup awan.

Pesawat Boeing 737 Garuda GA 163 penerbangan Padang – Jakarta mulai bergerak meninggalkan apron menuju landasan pacu. Saya baru saja selesai melakukan kunjungan ke  beberapa kabupaten/kota di Sumatera Barat―yang sejak awal tahun 2002 rata-rata saya kunjungi setiap tiga bulan sekali―dalam perjalanan tugas supervisi  terakhir menjelang  berakhirnya masa bakti program USAID PERFORM  pada akhir Januari tahun 2005, program tempat saya bekerja sejak akhir 1998 ketika program tersebut masih bernama CLEAN Urban.

Pekan sebelumnya saya baru kembali dari Indonesia Timur, berangkat Minggu petang ke Makassar, Selasa  jam dua  malam terbang ke Merauke menggunakan Merpati  dengan ganti pesawat  di Jayapura. Jumat pagi kembali ke Jayapura.  Keesokan harinya kembali ke Jakarta. Manokwari di Papua Barat saya lewati karena tugas di sana sudah saya selesaikan pada kunjungan sebelumnya. Ginting yang menemani saya sejak perjalanan  ke  Indonesia Timur sudah kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.  Tugas ke tiga provinsi di Jawa dilakukan secara paralel oleh anggota Tim saya yang lain. Besok siang saya akan berangkat ke Malang lewat Surabaya  lalu  kembali ke Jakarta lewat jalur yang sama  dan sekaligus mengakhiri kegiatan saya di daerah. 

Di Bandara Sentani, Jayapura kembali saya dapat pelajaran hidup berharga dari Allah SWT. Merasa sudah  membayar,  saya menyerahkan kepada portir handbag berisi printer Canon portable dan ‘cradle’ PDA yang sebenarnya dapat saya bawa sendiri karena saya hanya menenteng Laptop. Tas itu luput dinaikkan ke mobil oleh Jos, pengemudi mobil kantor regional yang menjemput saya dan Ginting. Mengenai printer Canon, saya tinggal membuat laporan ke kantor, namun  kehilangan ‘cradle’ membuat PDA yang hanya mampu saya beli karena disubsidi separuh harga oleh kantor, menjadi besi tua.

Setiba di landasan pacu, pilot membelokkan pesawat ke kiri, pertanda arah angin memungkinkan pesawat lapas landas langsung ke arah bandara Sukarno-Hatta di tenggara tanpa perlu memutar ke utara lalu berbelok ke selatan menyusur  lautan lepas pantai Padang sebelum berbelok ke atas daratan Sumatera .  Beberapa kursi tampak kosong dan penumpang tidak banyak terdengar bebicara. Perasan haru tiba-tiba menyelimuti perasaan saya. Saat ini usia saya sudah 61 tahun lebih, dan belum tentu akan bekerja lagi di program semacam ini  setelah program ini selesai . Akankah saya masih berkesempatan mengunjungi kampung halaman tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, tempat yang banyak menyisakan kenangan indah yang tidak akan pernah terlupakan selama hayat di kandung badan?

Di ujung landasan pesawat berputar, lalu berhenti sejenak, kemudian terdengar derum mesin dan pesawat melaju dengan kencang, lalu melesat ke udara. Saya yang duduk  didekat jendela sebelah kiri masih sempat melihat danau kembar di Solok Selatan di balik perbukitan.

Akankah saya masih berkesempatan mengunjungi kampung halaman saya kembali?

Tidak lama kemudian pesawat mencapai ketinggian jelajah. Dari ketinggian 34 ribu kaki, seperti saat itu, awan kadang-kadang  terlihat seperti lautan kapas yang tenteram.

Saya sudah tidak ingat, telah berapa puluh kali pemandangan seperti itu saya lihat, dan  sudah berapa puluh ribu kilometer wilayah nusantara yang sudah saya jelajahi karena pekerjaan sejak tahun 1981. Dari  33 provinsi di Indonesia, hanya tujuh yang belum pernah saya kunjungi: Bengkulu, Babel, Sulbar, Sultara, NTT, Maluku dan Maluku Utara.  Bahkan saya pernah sampai ke Lirung, pulau kecil di ujung selatan Pulau Talaud,  Sulawesi Utara, yakni ketika bekerja di ENCONA Engineering, tempat saya bekerja selama 14 tahun  di  sejak tahun 1984, 12 tahun di antaranya menjadi anak buah pakar teknik lingkungan Prof  Dr  Ir H Soetiman, MSc (Alm) di Divisi TL. Angan saya melayang ke berbagai peristiwa yang saya alami sejak saya bekerja sejak lulus SLTA di tahun 1963. Masa yang akan segera berakhir. 

Tiba-tiba saya mendengar suara awak pesawat melalui pengeras suara bahwa pesawat akan segera mendarat. Tidak lama kemudian pesawat  menjejakkan roda-rodanya di landasan pacu, melakukan taksi dan merapat di salah satu garbarata di Terminal II bandara Sukarno-Hatta.

Seperti biasa, ketika hendak ke luar dari ruang kedatangan saya selalu celingukan mencari sosok seorang perempuan baya berjilbab berwajah bundar yang sudah mulai berkerut di sana sini dimakan usia, namun selalu saya rindukan jika berada jauh darinya walaupun hanya sehari dua.

Sesuai dengan rencana, kesokan harinya saya berangkat ke Malang dan tiga hari kemudian  kembali ke Jakarta.  Dalam bulan Januari 2005 seluruh kegiatan fisik di lapangan sudah terhenti. Kami hanya mengerjakan penyelesaian laporan dan paper works lainnya. COP kami Robert meminta CV beberapa orang dari kami, termasuk  saya guna diajukan kepada USAID untuk diikutsertakan pada program USAID yang baru: Local Governance Support Program (LGSP). Akan tetapi karena capacity building untuk korporasi daerah (BUMD dan RSUD)  yang menjadi pekerjaan utama dan tanggung jawab saya di program PERFORM tidak lagi dicakup oleh LGSP, saya pesimis untuk masuk sebagai permanent staff di program baru ini.

Tidak ada perasaan yang terlalu luar biasa ketika saya keluar dari ruangan saya di lantai II AMEX Building di Jalan Melawai Raya untuk yang terakhir kalinya pada tanggal 31 Januari 2005, lalu turun ke halaman dan naik mobil untuk pulang ke rumah.

Dan tidak terasa hari itu sudah enam tahun berlalu.

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)

Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat

Depok, 1 Februari  2011.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages