Menyongsong Hari Ibu Aku "Takana Amak" :(

8 views
Skip to first unread message

Nofend Marola

unread,
Dec 21, 2008, 11:51:44 PM12/21/08
to rant...@googlegroups.com, solok-...@yahoogroups.com
Menyongsong Hari Ibu Aku Teringat Amak

Senin, 22 Desember 2008

Penulis memanggil ibu dengan sebutan amak, mungkin karena penulis orang
kampung yang lahir di sebuah desa di kaki Gunung Talang arah ke timur.
Beliau dipanggil Allah dalam usia delapan puluh dua tahun, pada awal tahun
1996 atau lebih kurang hampir tigabelas tahun silam. Beliau meninggal pada
dua hari bulan Ramadhan setelah sakit beberapa waktu lamanya.

Sosok amak bagi penulis sangat menentukan jalan hidup. Walaupun adalah
kewajiban beliau untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya menuju
kedewasaan, namun sosok amak lebih dari segalanya terutama
nasehat-nasehatnya yang masih tetap diberikan saat penulis sudah dewasa
punya istri dan anak-anak. Pada peringatan hari ibu ini sengaja penulis
mengungkapkan kepribadian beliau di samping nasehat-nasehatnya yang mungkin
ada manfaatnya untuk yang lain.
Asam kandih asam galugua.

Masih terngiang pantun amak sewaktu menasehati penulis sewaktu kecil seperti
di bawah ini:
1. Asam kandih asam galugua
Katigo asam siriang-riang
Managih mait dalam kubua
Takana badan tak sumbayang
2. Layang-layang tabang malayang
Sugi-sugi pamaga baniah
Ado eloknyo urang sumbayang
Hatinyo suci mukonyo janiah

Dua pantun di atas sangat sering beliau dengungkan agar kami (penulis
bersama adik-adik) tidak lupa melaksanakan shalat. Tentang shalat ini selalu
disampaikan amak ketika beliau datang melihat penulis sekeluarga atau
sewaktu kami berkunjung kekampung tempat beliau tinggal.

Pertanyaan beliau sangat sederhana: Lai waang sumbayang (Apakah kamu selalu
shalat)? Pertanyaan tersebut selalu berkumandang sampai saat beliau
menghembuskan napas terakhir sementara penulis sudah cukup tua atau lebih
lima puluh tahun. Alhamdulillah sampai saat ini tidak lupa nasehat amak,
semoga nasehat itu disamping kewajiban beliau sebagai Ibu akan menjadi amal
saleh di sisi Allah dan membebaskan beliau dari siksaan kubur dan api
neraka. Amin.

Guru adalah Pekerjaan Mulia

Ditakdirkan penulis adalah anak guru,walaupun amak hanya jadi guru sampai
menikah sedangkan abak alhamdulillah sampai pensiun.Sewaktu penulis kecil
amak bercerita bahwa sewaktu awal kemerdekaan abak pernah ditawari pekerjaan
dalam pemerintahan dan berhenti jadi guru.Setelah bermusyawarah dengan amak
kemudian abak menolak jabatan itu walaupun dimata masyarakat cukup baik.
Alasannya adalah karena menurut amak jabatan guru adalah jabatan mulia,
walaupun penghasilannya tidak sebanyak dalam jabatan yang ditawarkan itu.

Amakpun menasehati penulis dan adik-adik supaya bila sudah dewasa kami juga
jadi guru. Secara halus kami menolak, kami ingin pekerjaan lain. Namun
tampaknya doa amak sangat makbul, kami bertiga semua jadi guru kecuali adik
perempuan tidak jadi tamat SGA nya karena menikah. Penulis dan adik bungsu
ditengah perjalanan karier harus berhenti jadi guru karena dipindahkan untuk
jabatan lain.

Ketika penulis konsultasi dengan amak tentang kepindahan itu amak hanya
diam, melarang tidak menyetujui juga tidak. Salah satu alasan amak mengapa
jabatan guru adalah mulia, karena guru tidak mungkin melakukan hal-hal
negatif termasuk korupsi seperti sekarang. Walaupun tidak sampai pensiun
dari jabatan guru hati cukup puas karena sempat menyenangkan hati amak.

Surat Ibrahim Ayat Tujuh

Penggalan surat Ibrahim ayaut tujuh yang berbunyi "Lain syakartum laa
azidannakum walainkafartum inna adzaabii la syadiid" artinya "jika kamu
bersyukur akan Kutambah nikmatKu kepadamu, jika kamu kafir azabku amatlah
pedih", sangat hafal oleh amak. Bersyukur terhadap nikmat yang diberikan
merupakan hal mutlak bagi amak. Kalau mau tahu bahwa keadaan kita lebih baik
senantia selalulah melihat sekeliling maka akan tampak bahwa banyak lagi
orang yang berada jauh lebih buruk dari kita. Kalau kita bisa makan tiga
kali sehari orang lain mungkin hanya sekali. Kita tinggal di rumah orang
lain mungkin hanya di pondok kecil.

Demikian amak senantiasa mengingatkan agar senantiasa bersyukur terhadap
keberhasilan walaupun kecil atau sedikit. Sekali waktu amak bertanya kepada
adik penulis yang disamping guru juga melibatkan diri dalam usaha pertanian.
Amak bertanya bagaimana hasil pertanian? Dijawab oleh adik penulis "kalau
tidak hujan hasilnya tiga kali lipat dari yang diperoleh sekarang".

Padahal dengan yang ia peroleh saat itu sudah sangat menguntungkan, tetapi
masih tidak bersyukur malahan menyalahkan hujan. Amak marah besar dengan
mengatakan "aden indak kamamintak ka waang doh, tapi waang indak bersyukur
saketek juo".Maksudnya saya tidak akan meminta kepadamu, tapi kamu tidak
mensyukuri terhadap yang sudah diperoleh. Usaha menjalani,untung menyudahi.

Biasanya penggalan surat Ibrahim ayat tujuh di atas berkaitan erat dengan
subjudul ini. Kalimat ini selalu berulang-ulang disampaikan amak agar kami
anak-anaknya tidak suka berkeluh kesah. Di samping beliau benci dengan orang
yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah beliau juga tidak suka kepada orang
yang suka mengeluh. Banyak teman-teman beliau atau siapa saja yang mengeluh
dihadapan beliau selalu dinasehati dengan kalimat di atas.

Bagi beliau bekerja dan berusaha harus dijalankan lebih dulu sebagaimana
juga disampaikan ustad bahwa usaha itu wajib dijalankan. Setelah berusaha,
berusaha, berusaha . tapi belum juga berhasil maka kita harus bersabar dan
jangan hanya mengeluh. Untung atau takdir itu terletak diujung usaha. Bila
sudah berusaha dengan baik jangan lupa berdoa untuk keberhasilan usaha
tersebut.

Perempuan yang keras hati

Semua perempuan yang melahirkan mungkin mempunyai cit-cita yang sama agar
anak-anaknya kelak menjadi orang, mampu hidup tanpa menyusahkan pihak
lain.Punya pekerjaan,punya keluarga atau apa saja sesuai kebutuhan hidupnya.


Mereka mampu menghidupi diri dan keluarganya, paling kurang lebih baik dari
keadaan ibu itu sendiri. Begitu juga amak juga mengharapkan kami
anak-anaknya untuk dapat hidup bahagia setelah dewasa. Untuk itu amak
mendidik dan menyekolahkan kami, agar kami mampu hidup ditengah masyarakat
kelak. Dengan latar belakang ijazah sekolah guru,penulis melanjutkan
kejenjang lebih tinggi FKIP Unand, kelak menjadi IKIP dan kini UNP.

Kehidupan waktu itu sangat sulit, apa lagi hanya ditunjang dengan
penghasilan abak sebagai kepala sekolah yang tidak begitu besar.Pada waktu
serba sulit itu pula penulis diangkat menjadi guru SR (sekolah rakyat) kini
SD.Penulis ingin meringankan beban orang tua dan akan melaksanakan SK
sebagai guru nun disebuah desa. Dengan berbekal SK sudah tentu perkuliahan
harus terputus, karena penulis diangkat jauh dari kota Padang di mana
penulis kuliah.

Walaupun dengan berat hati,niat penulis ini diterima oleh abak, namun amak
menolaknya mentah-mentah dan penulis harus terus kuliah. Apa yang dikatakan
amak (dalam bahasa Indonesia) "Walaupun kami disini akan makan batu (karena
kesulitan ekonomi) namun kamu harus tetap kuliah dan adik-adikmu tetap
sekolah". Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Minang dan masih segar dalam
ingatan punulis amak berurai air mata. Alhamdulillah doa amak makbul,
penulis dapat menyelesaikan Sarjana muda.

Berbekal ijazah sarjana muda inilah penulis kelak menjadi guru, sesuai
dengan pekerjaan yang disukai amak atau pekerjaan yang amat mulia. Sebagai
penutup kenangan kepada amak, penulis kini hanya bisa berdoa sebagaimana doa
yang juga sering diajarkan kepada kita semua "rabbigfirli waliwaalidaiya
warhamhu kamaa rabbaiyaani sagiira". Semoga kedua orang tuaku ditempatkan
pada tempat yang sebaik-baiknya disisi Allah. Amin.
(H Djamhur Sjarif, tinggal di Pariaman)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/26270/114/

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages