Cerpen :
EPOLUSI CINTA
Oleh Muchwardi Muchtar
TERNYATA hukum epolusi tetap berlaku terhadap cinta. Padahal sedari awal, semenjak aku mulai mengenalnya, sedikit pun tidak ada perasaan ketertarikanku terhadapnya. Tapi, kenyataannya sekarang, malah semakin lengket. Aneh…!
Gadis itu kukenal di saat hati ini lagi beku terhadap lingkungan sekitar. Dan ternyata kedatangannya di momen yang tepat, berhasil mengisi kekosongan hati seorang lelaki. Padahal tipe gadis itu, baik dilihat penampilan maupun ditilik kecerdasan, jauh dari idolaku selama ini. Tokh, lama kelamaan bertemu, berdialog, tukar pendapat dan tukar pengalaman, eh………., buntutnya malah jadi serius. Edan!
Ternyata untuk kali ini, Dewi Amor keliru mempertemukan dua anak muda yang (mula-mulanya) terang-terangan saling tidak mencinta. Satu-satunya persamaan yang ada pada kami, hanyalah menyangkut perjalanan hidup di duniawi saja. Kami sama-sama pernah ditinggalkan orang yang dikasihi. Punyanya meninggal dalam kecelakaan di Jalan Raya. Dan punyaku lenyap, korban buasnya paham kuno, bahwa orang tua adalah penentu jodoh anaknya!
Soal lain? Boleh dikatakan jauh berbeda!
Tetapi siapa nyana, kalau dinginnya hati seorang lelaki normal bukanlah keabadian bungkal-bungkal es di kutub sana?
“Yakinlah, Edw! Suatu hari kelak kau akan menemui apa-apa yang diidamkan itu”, demikian tempo hari Hearlin, dengan kesabaran seorang gadis, coba menghiburku.
Ya, aku tahu. Hearlin adalah gadis yang ke sekian ---termasuk penggemar tulisanku yang fanatik--- yang coba-coba mendekatiku setelah mendengar selentingan berita, bahwa Edward Tator gagal menyunting bunga-bunga hidup tempo hari.
Aku ingat, tidak berapa lama kemudian, setelah dia mengucapkan kata hiburan seeprti itu, hubungan surat dan acara saling mengunjungi antara aku dengan Hearlin semakin renggang. Akhirnya, dalam tempo yang relatif singkat putus sama sekali. Sebab, seperti yang telah jadi ketentuan bagi wanita-wanita berusia cukup, pasti ingin kata kepastian dari lelaki menyangkut hubungan mereka. Sedangkan aku, baik terhadap Hearlin, Yulita, Yanti, atau Venty, tidak pernah sekali pun mau menanggapi kalau gadis baik-baik dan manis-manis itu mengajak bicara soal masa depan. Bahtera nan indah…! Padahal hampir di setiap pelabuhan di tempat mana kapal-kapalku merapat, selalu surat mereka datang. Dan setiap aku pulang ke Jakarta, mereka pasti kukunjungi.
Jika Hearlin minta ditemani menonton ---seizin Mamanya--- di hari pertama, pasti hari ke dua buat Venty si mahasiswi IKIP, hari ke tiga bua buat Yulita kasir bank, dan hari ke empat buat Yanti karyawati Biro Kunsultan Pajak. Semua kusayangi. Semua akrab denganku. Semua mengetahui dan mengenalku adalah gara-gara surat penggemar. Mereka ingin kenal dengan pelaut dan penulis yang bernama Edward Tator. Duhh..! Pengen bertemu face to face. Dan sebagaimana lazimnya dunia anak muda, tak kenal maka tak sayang. Salahkah meraka, jika selama ini tergugah dengan kisah gombal seorang pelaut melalui berbagai penerbitan, kalau kemudian menyatakan simpatik? Undang-undang manakah yang melarang, bila seorang gadis mengeluarkan uneg-unegnya setelah sekian kali bertemu dengan tokoh yang dikaguminya?
Di sinilah celakanya!
Entah kenapa, setiap teman gadis tersebut mendesakku buat bertemu dan berterus terang terhadap orangtua mereka, menyangkut hubungan kami, aku selalu tertawa. Aku selalu menanggapi dengan canda. Sampai-sampai mereka pun terbawa emosi. Biasa! Semua wanita ---setelah kuamati--- memang cepat emosional. Sebegitu jauhnyakah dampak patah hati terhadap pelaut semacam Edward Tator? Sebegitu jauhnyakah, wahai???
“Mungkin kau itu abnormal, Edw”, serang Venty suatu malam ketika kami mampir di Air Mancur Monas seusai nonton film di New International Theater.
“Maksudmu?” ujarku sambil menatap bola mata matanya di keremangan lampu Taman Monas.
“Ya, aku kira kau itu ada kelainan, Edw”, ulangnya lagi dengan nada gondok.
“Contohnya?” pancingku lagi, masih tetap meremas jari jemarinya.
“Kau dingin. Nggak agresip!” bisik mahisiswi IKIP ini lagi.
Dan aku tersentak. Kalau sudah menyangkut soal penilaian tentang kelelakian, memang aku tidak bisa terima. Apalagi yang bicara di sampingku adalah calon Pendidik. Lantas aku mencium bibirnya untuk yang ke sekian puluh kalinya. Lama….., lama sekali! Persetan dengan lingkungan. Di sela-sela napas kami yang ngos-ngosan, aku berbisik ke kupingnya:
“Yang kita lakukan pengisi pertemuan selama ini, apa itu tidak agresip, Non? Kalau igin lebih jauh lagi, OK. Mari kita ke hotel sekarang juga. Sembilan bulan sepuluh hari setelah malam ini, kalau Venty tidak resmi jadi ibu, aku akan potong tanda kelelakianku ini….”
Plllaaaaaaakkkk!!!!
“Kau gila, Edw. Otak kotor!” maki gadis ini penuh emosi.
“Lho, siapa yang memulai duluan?” protesku, seraya mengusap-usap bekas telapak tangan Venty yang halus di pipiku.
“Sudah! Memang dasar pelaut edan!”, kemudian ia berdiri. “Bagaimana baiknya tadi kau mengambilku ke rumah, maka sekarang kembalikan aku secara baik ke rumah orang tuaku”, lalu gadis modern ini mengayunkan langkah tanpa mendengar lagi penjelasanku.
Ternyata pertemuan malam itu adalah ending-nya sebuah persahabatan indah antara seorang pelaut muda dengan teman gadisnya. Edan!
Tapi anehnya, meski kami tidak lagi pernah saling mengunjungi yang namanya surat menyurat, kadang-kadang masih juga berlangsung. Aku heran. Persahabatan macam apa ini namanya? Kalau ada tulisanku dimuat di koran atau majalah, selalu teman-teman tersebut ikut mengomentari. Inilah gilanya. Dan ini pula yang membuat aku tidak bisa mendiamkan begitu saja bila surat mereka mendarat via Agen perusahaan tempat aku bekerja. Edan!
***
“AKU baca ceritanya di Mingguan Anu lho. Edw. Koq ente masih juga seperti dulu? Kapan Edw? Ntar keburu qiamat lho, pelaut tegar!”
Ini adalah teks yang tertera dalam kartu pos bergambar dari Hearlin, yang sengaja dipakainya alamat pengirim via kantor suaminya. Maksudnya sudah tentu secara tidak langsung memberi tahu, bahwa ia sudah berumah tangga. Bahagikah dia? Ohho ohhoo! What is bahagia?
***
“KOMENTARMU di harian Palmerah boleh juga ya, Edw!”, tulis Venty dalam surat berwarna hijau muda. “Tapi aku ngeri sobat, membayangi koleksi ‘foto-foto birumu’ seperti yang kau tulis di koran tersebut. Kalau begitu, Edward Tator sekarang sudah berbeda jauh sekali, ya?
Aku sekarang mengajar di SMA Elite. Biar baru setahun ini nyobain gaji gaji sendiri, tapi menggembirakan lho, Bung. Jalan-jalanlah ke rumah. Putraku yang kami beri nama Edwardo, mirip nama tokoh pelaut gombalmu, menunggu Edw sama Papanya”
***
“ALAMATMU kudapat dari koran edisi pagi. Jangan kaget ya, Bung, kalau tumbenan aku menyuratimu. Maukah Edward menghadiri kenduri perkawinanku di Wisma Elang, minggu kedua bulan depan? Undangannya kukirim ke alamat Singapura atau langsung ke alamat rumahmu di Jakarta 13460? Kasi kabar ya, Bung!”
Ini adalah surat Yulita yang diketiknya rapi di atas kertas yang ada kop bank tempat ia bekerja.
Semua tetap akrab. Masih tetap ramah. Oohh, betapa ajaibnya sebuah persahabatan. Betapa dungunya aku. Atau terlalu idealis?
***
MENGINGAT kenangan indah yang begitu menyebalkan itu, akhirnya aku mengalah. Memang, tidak selamanya cita-cita sejalan dengan kenyataan. Betapa banyak di muka bumi ini anak manusia memasuki mahligai rumah tangga tidak dengan modal cinta? Betapa banyak pula, yang kelihatanya bahagia dan mesra dari luar itu, ternyata di dalamnya digerogoti kuman?
“Idealis itu memang boleh, Nak,” tulis Ayahku dalam surat pertama dan terakhirnya. “Tetapi, idealis dalam keadaan begini, sampai kapan kau akan bertahan?”
Kalau selama ini Ayah ---veteran perang yang sangat idelalis dalam hidup itu--- jarang ikut campur menyangkut urusan pribadiku, tapi kali ini sedikit surprise. Ayah sengaja menyuratiku ke Manila. Sudah tentu ini termasuk luar biasa.
“Ingat Edw. Usiamu kini sudah berapa?” tulis Ayah lagi penuh kasih. “Ayah seusiamu ini dulu sudah punya anak dua dari Ibumu. Dan Ayah menikah dengan Ibumu, cuma kenal mengenal jalan tiga hari saja. Langsung Nenek dan Kakekmu menggiring kami menghadap penghulu. Tidakkah kau kasihan kepada Ibumu, Nak? Yang sudah berkali-kali mencalonkan gadis-gadis terpelajar, selalu kamu tolak?
Gadis model mana yang jadi idolamu itu, Nak? Yang cantik, cerdas dan berkepribadian baik? Itu memang ada. Tapi, sadarkah kau Nak, bahwa kau seorang pelaut yang sering-sering meninggalkan rumah serta anak istri kelak? Mungkinkah gadis model idolamu itu bisa memahami, dan sanggup menghadapi kenyataan untuk mendampingi selamanya?
Ini adalah pandangan orangtuamu yang terakhir, Edw. Mungkin rasa-rasanya tidak akan lama lagi kami ini hidup di dunia. Tidak sudikah kau Nak, memberi kesempatan bagi kami berbahagia, melihat nanak bungsunya duduk bersanding di pelaminan…..!”
Jegreng.
Pletok!
Jadi, anak lelaki terakhir yang semenjak lepas dari es-el-a, dan keluar dari perguruan tinggi sebelum waktunya tempo hari, yang sudah mengenyam sukaduka kehidupan di tengah laut, masih juga menjadi pemikiran orangtua? Percuma saja aku payah-payah semaksimal mungkin menggembirakan beliau, kalau masih juga mereka mengatakan susah?
Maka sebuah ketegaran pun tumbang.
Pemuda yang selama ini sangat selektif memilih teman wanita, akhirnya menyerah. Kegembiraan bisa datang bertubi-tubi, tetapi kebahagiaan mungkinkah bisa terulang berkali-kali?
Dan, masuklah gadis itu dalam kehidupan ini. Dan, mulailah tumbuh benih-benih kasih. Meski tidak kukenal latar belakang keremajaannya, kedewasaannya, namun ia bukanlah gadis sembarangan. Inikah barangkali pelabuhan teduh yang ditakdirkanNya itu?
Maka berlakulah hukum epolusi itu. Meski hati ini sangsi, langgengkah sebuah perkawinan ----zaman kini--- yang tidak didasarkan saling mencinta?***
Sembawang Shipyard, 1984.
(Dimuat dalam Buana Minggu, 20 Mei 1984)
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
......"Kisah pernikahan ambo dan istri, ado di kumpulan cerpen "Kisah Kasih Dari Negeri Pengantin" (2005) nan digagas Asma Nadia, salah seorang motor Forum Lingkar Pena (adiak Helvy Tiana Rosa). Di dalam antologi tu, ado kisah pernikahan sejumlah penulis lain seperti Gola Gong, Kurnia Effendi, termasuk Asma sendiri, dll......"Ha ha ha......., mambaco kutipan kalimaik nan ambo ambiak dari sur-el Kamanakanda ANB di ateh (ciguak : Sumba : Tolong Sematkan Rinduku, ANB 23 Aug 2013 : 10.46, 22 jam yang lalu, ) mambuek ambo "baibo hati".
Salam.................................,
mm***
NB : Nah, karano ambo alah basusah payah mangetik ulang cerpen kuno (dimuek 29 tahun nan lalu di koran), supayo awak baduo samo-samo panek ---demi kepuasan pelanggan RN--- iyolah kami nanti cerpen ANB "Kisah Kasih Dari Negeri Pengantin" tu dalam palanta ko. Indak ka bisauk, duo atau tigo hari lai masih ado ukatu kan, ANB?! He hehehe....