Kisah Kasiah Panulih (Fiksi) dalam Carpen?

24 views
Skip to first unread message

Muchwardi Muchtar

unread,
Aug 24, 2013, 4:04:03 AM8/24/13
to rant...@googlegroups.com
......"Kisah pernikahan ambo dan istri, ado di kumpulan cerpen "Kisah Kasih Dari Negeri Pengantin" (2005) nan digagas Asma Nadia, salah seorang motor Forum Lingkar Pena (adiak Helvy Tiana Rosa). Di dalam antologi tu, ado kisah pernikahan sejumlah penulis lain seperti Gola Gong, Kurnia Effendi, termasuk Asma sendiri, dll......"

Ha ha ha......., mambaco kutipan kalimaik nan ambo ambiak dari sur-el Kamanakanda ANB di ateh (ciguak : Sumba : Tolong Sematkan Rinduku, ANB 23 Aug 2013 : 10.46, 22 jam yang lalu, ) mambuek ambo "baibo hati". 

Ibo hati  nan partamo, karano ambo jo kawan-kawan  "panulih angkatan 80-an"  (a.l : Firdaus Alamhudi, Yudhistira Ardi Nugraha  M. Massardi d/h Yan Mulyana, Adri Darmadji Woko; Kurniawan Junaidhi, dll)  indak saketek pun punyo pangana mambuek kumpulan cerpen saputa pernikahan angkatan kami (nan rato-2 manikah di awal tahun 80-an kasadonyo)  sarupo nan dibuek ANB jo kawan-kawannyo di tahun 2005...?

Ibo hati nan kaduo, baa mangko ambo dilahiakan 14 tahun labiah dulu dari ANB, yo? Saandainyo samo-samo saangkatan tantu labiah sero, karano kami (mungkin) bisa saliang malengkapi dan saliang "cido mancido" di RN ko.....   Ha ha ha ha......

Meski pun baitu, untuak mahallo-halloan Sanak di komunitas r@ntaunet nan suko mambaco cerpen, izinkanlah ambo mampelawakan ciek cerpen, dari >60-an judul cerpen  ambo nan panah dimuek di barbagai media massa (koran mingguan, majalah) ibukota era 1972-1984. Cerpen nan di bawah ko, bak kato ANB dalam panjalehannyo di surel tadi, panulihnyo tainspirasi manjalang ambo manggungguang anak gadih Minang nan ambo kenal di daerah Cipinangjaya Jakarta Tmur,(kutiko tu Si m.m bakarajo di kapa tanker mambaok minyak dari palabuahan ka palabuahan di DN atau LN).

Salamaik manikmati "baju sampik" nan dipalewakan Si m.m dalam cerpen nan bajudul EPOLUSI CINTA, he he he...... :


Cerpen :

EPOLUSI CINTA

Oleh Muchwardi Muchtar

TERNYATA hukum epolusi tetap berlaku terhadap cinta. Padahal sedari awal, semenjak aku mulai mengenalnya, sedikit pun tidak ada perasaan ketertarikanku terhadapnya. Tapi, kenyataannya sekarang, malah semakin lengket. Aneh…!

Gadis itu kukenal di saat hati ini lagi beku terhadap lingkungan sekitar. Dan ternyata kedatangannya di momen yang tepat, berhasil mengisi kekosongan hati seorang lelaki. Padahal tipe gadis itu, baik dilihat penampilan maupun ditilik kecerdasan, jauh dari idolaku selama ini. Tokh, lama kelamaan bertemu, berdialog, tukar pendapat dan tukar pengalaman, eh………., buntutnya malah jadi serius. Edan!

Ternyata untuk kali ini, Dewi Amor keliru mempertemukan dua anak muda yang (mula-mulanya) terang-terangan saling tidak mencinta. Satu-satunya persamaan yang ada pada kami, hanyalah menyangkut perjalanan hidup di duniawi saja. Kami sama-sama pernah ditinggalkan orang yang dikasihi. Punyanya meninggal dalam kecelakaan di Jalan Raya. Dan punyaku lenyap, korban buasnya paham kuno, bahwa orang tua adalah penentu jodoh anaknya!

Soal lain? Boleh dikatakan jauh berbeda!

Tetapi siapa nyana, kalau dinginnya hati seorang lelaki normal bukanlah keabadian bungkal-bungkal es di kutub sana?

“Yakinlah, Edw! Suatu hari kelak kau akan menemui apa-apa yang diidamkan itu”, demikian tempo hari Hearlin, dengan kesabaran seorang gadis, coba menghiburku.

Ya, aku tahu. Hearlin adalah gadis yang ke sekian ---termasuk penggemar tulisanku yang fanatik---  yang coba-coba mendekatiku setelah mendengar selentingan berita, bahwa Edward Tator gagal menyunting bunga-bunga hidup tempo hari.

Aku ingat, tidak berapa lama kemudian, setelah dia mengucapkan kata hiburan seeprti itu, hubungan surat dan acara saling mengunjungi antara aku dengan Hearlin semakin renggang. Akhirnya, dalam tempo yang relatif singkat putus sama sekali. Sebab, seperti yang telah jadi ketentuan bagi wanita-wanita berusia cukup, pasti ingin kata kepastian dari lelaki menyangkut hubungan mereka. Sedangkan aku, baik terhadap Hearlin, Yulita, Yanti, atau Venty, tidak pernah sekali pun mau menanggapi kalau gadis baik-baik dan manis-manis itu mengajak bicara soal masa depan. Bahtera nan indah…! Padahal hampir di setiap pelabuhan di tempat mana kapal-kapalku merapat, selalu surat mereka datang. Dan setiap aku pulang ke Jakarta, mereka pasti kukunjungi.

Jika Hearlin minta ditemani menonton ---seizin Mamanya--- di hari pertama, pasti hari ke dua buat Venty si mahasiswi IKIP, hari ke tiga bua buat Yulita kasir bank, dan hari ke empat buat Yanti karyawati Biro Kunsultan Pajak. Semua kusayangi. Semua akrab denganku. Semua mengetahui dan mengenalku adalah gara-gara surat penggemar. Mereka ingin kenal dengan pelaut dan penulis yang bernama Edward Tator. Duhh..! Pengen bertemu face to face. Dan sebagaimana lazimnya dunia anak muda, tak kenal maka tak sayang. Salahkah meraka, jika selama ini tergugah dengan kisah gombal seorang pelaut melalui berbagai penerbitan, kalau kemudian menyatakan simpatik? Undang-undang manakah yang melarang, bila seorang gadis mengeluarkan uneg-unegnya setelah sekian kali bertemu dengan tokoh yang dikaguminya?

Di sinilah celakanya!

Entah kenapa, setiap teman gadis tersebut mendesakku buat bertemu dan berterus terang terhadap orangtua mereka, menyangkut hubungan kami, aku selalu tertawa. Aku selalu menanggapi dengan canda. Sampai-sampai mereka pun terbawa emosi. Biasa! Semua wanita ---setelah kuamati---  memang cepat emosional. Sebegitu jauhnyakah dampak patah hati terhadap pelaut semacam Edward Tator? Sebegitu jauhnyakah, wahai???

“Mungkin kau itu abnormal, Edw”, serang Venty suatu malam ketika kami mampir di Air Mancur Monas seusai nonton film di New International Theater.

“Maksudmu?” ujarku sambil menatap bola mata matanya di keremangan lampu Taman Monas.

“Ya, aku kira kau itu ada kelainan, Edw”, ulangnya lagi dengan nada gondok.

“Contohnya?” pancingku lagi, masih tetap meremas jari jemarinya.

“Kau dingin. Nggak agresip!” bisik mahisiswi IKIP ini lagi.

Dan aku tersentak. Kalau sudah menyangkut soal penilaian tentang kelelakian, memang aku tidak bisa terima. Apalagi yang bicara di sampingku adalah calon Pendidik. Lantas aku mencium bibirnya untuk yang ke sekian puluh kalinya. Lama….., lama sekali! Persetan dengan lingkungan. Di sela-sela napas kami yang ngos-ngosan, aku berbisik ke kupingnya:

“Yang kita lakukan  pengisi pertemuan selama ini, apa itu tidak agresip, Non? Kalau igin lebih jauh lagi, OK. Mari kita ke hotel sekarang juga. Sembilan bulan sepuluh hari setelah malam ini, kalau Venty tidak resmi jadi ibu, aku akan potong tanda kelelakianku ini….”

Plllaaaaaaakkkk!!!!

“Kau gila, Edw. Otak kotor!” maki gadis ini penuh emosi.

Lho, siapa yang memulai duluan?” protesku, seraya mengusap-usap bekas telapak tangan Venty yang halus di pipiku.

“Sudah! Memang dasar pelaut edan!”, kemudian ia berdiri. “Bagaimana baiknya tadi kau mengambilku ke rumah, maka sekarang kembalikan aku secara baik ke rumah orang tuaku”, lalu gadis modern ini mengayunkan langkah tanpa mendengar lagi penjelasanku.

Ternyata pertemuan malam itu adalah ending-nya sebuah persahabatan indah antara seorang pelaut muda dengan teman gadisnya. Edan!

Tapi anehnya, meski kami tidak lagi pernah saling mengunjungi yang namanya surat menyurat, kadang-kadang masih juga berlangsung. Aku heran. Persahabatan macam apa ini namanya? Kalau ada tulisanku dimuat di koran atau majalah, selalu teman-teman tersebut ikut mengomentari. Inilah gilanya. Dan ini pula yang membuat aku tidak bisa mendiamkan begitu saja bila surat mereka mendarat via Agen perusahaan tempat aku bekerja. Edan!

***

“AKU baca ceritanya di Mingguan Anu lho. Edw. Koq ente masih juga seperti dulu? Kapan Edw? Ntar keburu qiamat lho, pelaut tegar!”

Ini adalah teks yang tertera dalam kartu pos bergambar dari Hearlin, yang sengaja dipakainya alamat pengirim via kantor suaminya. Maksudnya sudah tentu secara tidak langsung memberi tahu, bahwa ia sudah berumah tangga. Bahagikah dia? Ohho ohhoo! What is bahagia?

***

“KOMENTARMU di harian Palmerah boleh juga ya, Edw!”, tulis Venty dalam surat berwarna hijau muda. “Tapi aku ngeri sobat, membayangi koleksi ‘foto-foto birumu’ seperti yang  kau tulis di koran tersebut. Kalau begitu, Edward Tator sekarang sudah berbeda jauh sekali, ya?

Aku sekarang mengajar di SMA Elite. Biar baru setahun ini nyobain gaji gaji sendiri, tapi menggembirakan lho, Bung. Jalan-jalanlah ke rumah. Putraku yang kami beri nama Edwardo, mirip nama tokoh pelaut gombalmu, menunggu Edw sama Papanya”

***

“ALAMATMU kudapat dari koran edisi pagi. Jangan kaget ya, Bung, kalau tumbenan aku menyuratimu. Maukah Edward menghadiri kenduri perkawinanku di Wisma Elang, minggu kedua bulan depan? Undangannya kukirim ke alamat Singapura atau langsung ke alamat rumahmu di Jakarta 13460? Kasi kabar ya, Bung!”

Ini adalah surat Yulita yang diketiknya rapi di atas kertas yang ada kop bank tempat ia bekerja.

Semua tetap akrab. Masih tetap ramah. Oohh, betapa ajaibnya sebuah persahabatan. Betapa dungunya aku. Atau terlalu idealis?

***

MENGINGAT kenangan indah yang begitu menyebalkan itu, akhirnya aku mengalah. Memang, tidak selamanya cita-cita sejalan dengan kenyataan. Betapa banyak di muka bumi ini anak manusia memasuki mahligai rumah tangga tidak dengan modal cinta? Betapa banyak pula, yang kelihatanya bahagia dan mesra dari luar itu, ternyata di dalamnya digerogoti kuman?

“Idealis itu memang boleh, Nak,” tulis Ayahku dalam surat pertama dan terakhirnya. “Tetapi, idealis dalam keadaan begini, sampai kapan kau akan bertahan?”

Kalau selama ini Ayah ---veteran perang yang sangat idelalis dalam hidup itu--- jarang ikut campur menyangkut urusan pribadiku, tapi kali ini sedikit surprise. Ayah sengaja menyuratiku ke Manila. Sudah tentu ini termasuk luar biasa.

“Ingat Edw. Usiamu kini sudah berapa?” tulis Ayah lagi penuh kasih. “Ayah seusiamu ini dulu sudah punya anak  dua dari Ibumu. Dan Ayah menikah dengan Ibumu, cuma kenal mengenal jalan tiga hari saja. Langsung Nenek dan Kakekmu menggiring kami menghadap penghulu. Tidakkah kau kasihan kepada Ibumu, Nak? Yang sudah berkali-kali mencalonkan gadis-gadis terpelajar, selalu kamu tolak?

Gadis model mana yang jadi idolamu itu, Nak? Yang cantik, cerdas dan berkepribadian baik? Itu memang ada. Tapi, sadarkah kau Nak, bahwa kau seorang pelaut yang sering-sering meninggalkan rumah serta anak istri kelak? Mungkinkah gadis model idolamu itu bisa memahami, dan sanggup menghadapi kenyataan untuk mendampingi selamanya?

Ini adalah pandangan orangtuamu yang terakhir, Edw. Mungkin rasa-rasanya tidak akan lama lagi kami ini hidup di dunia. Tidak sudikah kau Nak, memberi kesempatan bagi kami berbahagia, melihat nanak bungsunya duduk bersanding di pelaminan…..!”

Jegreng.

Pletok!

Jadi, anak lelaki terakhir yang semenjak lepas dari es-el-a, dan keluar dari perguruan tinggi sebelum waktunya tempo hari, yang sudah mengenyam sukaduka kehidupan di tengah laut, masih juga menjadi pemikiran orangtua? Percuma saja aku payah-payah semaksimal mungkin menggembirakan beliau, kalau masih juga mereka mengatakan susah?

Maka sebuah ketegaran pun tumbang.

Pemuda yang selama ini sangat selektif memilih teman wanita, akhirnya menyerah. Kegembiraan bisa datang bertubi-tubi, tetapi kebahagiaan mungkinkah bisa terulang berkali-kali?

Dan, masuklah gadis itu dalam kehidupan ini. Dan, mulailah tumbuh benih-benih kasih. Meski tidak kukenal latar belakang keremajaannya, kedewasaannya,  namun ia bukanlah gadis sembarangan. Inikah barangkali pelabuhan teduh yang ditakdirkanNya itu?

Maka berlakulah hukum epolusi itu. Meski hati ini sangsi, langgengkah sebuah perkawinan ----zaman kini--- yang tidak didasarkan saling mencinta?***

Sembawang Shipyard, 1984.

(Dimuat dalam Buana Minggu, 20 Mei 1984)


Salam.................................,
mm***
NB : Nah, karano ambo alah basusah payah mangetik ulang cerpen kuno (dimuek 29 tahun nan lalu di koran), supayo awak baduo samo-samo panek ---demi kepuasan pelanggan RN--- iyolah kami nanti cerpen ANB  "Kisah Kasih Dari Negeri Pengantin" tu dalam palanta ko. Indak ka bisauk, duo atau tigo hari lai masih ado ukatu kan, ANB?! He hehehe....


Klipping Epolusi Cinta m.m.jpg
m.m jo anak daro 11-05-1984.jpg

Andiko

unread,
Aug 24, 2013, 11:23:43 AM8/24/13
to rant...@googlegroups.com
Ondehhh

Di koran ma foto baralek mamak ko ?

salam

andiko

rahyussalimrantau

unread,
Aug 25, 2013, 10:31:52 AM8/25/13
to rant...@googlegroups.com
Hahaha....taraso mudo lo ambo dek cerpen epolusi Mak mm ko. 
Izinkan ambo baraja... Ambo yakin banyak nan bisa djadikan iktibar.

Rahyussalim

Sent from my iPad
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Akmal Nasery Basral

unread,
Aug 25, 2013, 7:57:32 PM8/25/13
to rant...@googlegroups.com
Mak MM*** n.a.h.

Maaf ambo salah tulih (alah ambo ralat juo sabalunnyo) soal "Kisah Kasih Negeri Pengantin". Itu bukan kumpulan cerpen, tapi kumpulan tulisan (non-cerpen). Penggagasnya bukan ambo, tapi Asma Nadia, salah seorang penulis produktif dan motor Forum Lingkar Pena (FLP). Kalau indak salah ingek, motif Asma adalah ingin mendorong agar para anggota FLP serius menulis, sekaligus jangan ragu/menunda-nunda pernikahan, meski hidup sebagai penulis sering dianggap orang (dan untuk sebagian besarnya memang betul) adalah hidup yang berat. 

Jadi motifnya bukan untuk sekadar mengabadikan sisi romantis pernikahan para penulis, tapi justru bagaimana memperlihatkan bahwa pernikahan bagi para penulis bisa menjadi sumber energi kreatif, yang tidak harus selalu muncul dalam karya sang penulis.

Asma Nadia sendiri seorang yang inspiratif dengan produktivitas sangat deras. Kalau tidak salah dia pernah bilang bahwa dia mengidap semacam penyakit tertentu di kepalanya yang membuatnya "harus berkejaran dengan waktu" agar hidupnya bisa lebih bermanfaat. Salah satu karyanya yang sudah difilmkan adalah "Emak Ingin Naik Haji".

Wassalam,

ANB
Cibubur

PS: Tarimo kasih ateh cerpen Mak MM nan rancak ko. Untuak mambaleh kebaikan hati Mak MM, dan juo sanak Andiko nan alah manulih catatan perjalanan di Inggris, ambo sertakan cerpen ambo "Dilarang Bercanda Dengan Kenangan" yang kebetulan inspirasinya muncul saat ambo di Inggris tahun 1997.  

Cerpen ini muncul di koran Jurnal Nasional, Juli 2006, waktu itu atas permintaan redaktur budaya Jurnas yang juga cerpenis Arie M.P. Tamba. Untuk versi buku, cerpen ini bersifat "visual", misalnya di bagian saat sang tokoh perempuan (Khaleeda Jderescu) memberikan kartu nama kepada sang tokoh lelaki (Johan), gambar kartu nama itu ada.

Semoga berkenan bagi Mak MM, sanak Andiko dan dunsanak Palanta sebagai bacaan ringan di awal pekan. Terutama bagi yang suka terhanyut dalam kenangan masa silam. :) 

* * *

DILARANG BERCANDA DENGAN KENANGAN
Akmal Nasery Basral
 
 
Neuheun, Aceh, 2006
 
   BARAK-barak pengungsi itu berdiri kokoh menantang mentari. Angin luka meski tak sebenar binasa. Masih tercium aroma asin menguar dari Calang, menggarami berbulan-bulan derita tak kepalang. Dari sebuah belokan muncul empat mobil, lalu berhenti di tanah lapang. Seorang wanita tua keluar. "Di sini tempatnya?" Ia bertanya kepada perempuan lain yang mengiringi. Aku maju membelah kerumunan wartawan sampai berhadapan dengan nenek gesit itu. "Lewat
sebelah sini, Madame."
    Perempuan itu Anselma de Luca, pendiri perusahaan kosmetik raksasa Inner Beauty Inc., akan meresmikan pusat kegiatan masyarakat senilai hampir Rp 2 Miliar. Aku sudah di sini dari kemarin untuk memastikan semua acara berlangsung lancar karena kantorku adalah perusahaan humas Inner Beauty di Indonesia. Aku memandu jumpa pers yang berlangsung tak lebih dari 15 menit.
    Selanjutnya Anselma mengunjungi barak pengungsi yang berbentuk rumah panggung. Seorang kolega menggantikan tugasku menjadi penerjemah. Dari tempatku berdiri, terlihat wartawan televisi berebut mencari tempat terbaik untuk mendapatkan gambar sang maharani industri kosmetika.
    "Apa kabar Johan?" Seorang perempuan berjilbab biru menyapaku. Wajahnya cokelat terbakar matahari.
    "Kabar baik." Aku mencoba mengais arsip ingatan. "Maaf, apakah kita pernah bertemu?"
    "Kamu lupa dengan saya?" Sinar matanya meredup. "Tak apa. Itu sudah lama berlalu." Ia mengembuskan nafas. "Kamu masih ingat Kensington House? Brookwood Cemetery?"
    "Astaga! Aida? Sejak kapan di Indonesia?" Tanyaku tak percaya.
    "15 bulan."
    "Serius?"
    "Aku termasuk gelombang ketiga sukarelawan yang terjun di Aceh."
    "Kamu baik sekali."
    "Tidak Jo. Niat awalku ke sini hanya berharap bertemu denganmu."
    Aida datang ke Indonesia untuk mencariku? Terik matahari Neuheun berubah menjadi pendingin udara terbaik yang pernah diciptakan manusia. Begitu sejuk.
 
London, 1997
 
    AKU ternganga di halaman luar Istana Kensington. Ribuan kuntum bunga membentuk samudera aroma bertabur cuplikan puisi, foto, kliping koran, boneka, dan lilin-lilin yang menyala. Besok adalah hari  penguburan Lady Diana Spencer yang tewas di terowongan Place de l'Alma, Paris, Minggu sebelumnya. Malam semakin matang di cakrawala Britania. Kerumunan orang terus berdatangan. Ada yang menyentuh bahuku.
   "Excuse me?"
   Aku menoleh. Seorang perempuan berambut pendek dengan warna tembaga menyapa ramah. "Apakah aku mengganggumu? Namaku Khaleeda."
   "Johan." Aku menyambut uluran tangannya.
   "Malaysia?"
   "Bukan, Indonesia. Anda?"
   "Irak. Tapi aku bekerja sebagai wartawan koran Yordania. Aku sedang mencari orang yang bersedia kuwawancarai."
   "Mengapa aku? Ada ratusan orang di sini."
   "Kamu berbeda. Maaf bukan maksudku rasialis. Lihatlah dirimu dengan orang lain di sini."
   Tak ada alasan lagi untuk menolak. Aku mulai bercerita bahwa awalnya tak tertarik dengan kejadian ini. Aku pendatang yang kuliah dan tinggal di Leeds, tiga jam perjalanan kereta api dari London. Tapi melihat dunia larut dalam tangis komunal akibat kematian Diana, aku tertarik menyaksikan kesedihan ini langsung di jantungnya. Khaleeda mengangguk. "Bagaimana menurutmu kisah cinta Diana-Dodi Al Fayed?"
   "Itu salah satu drama kehidupan paling tragis yang dialami manusia. Ada lagikah yang lebih pahit dari cinta yang sepatutnya dirayakan berdua, tapi justru
berbalik menjadi belenggu?"
   "Apakah cinta itu menurutmu Jo? Bisakah Diana yang Kristen bersatu dengan Dodi yang muslim?"
   Aku memutuskan sudah saatnya lebih agresif. Maka kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan. "Bagaimana pendapatmu sendiri Aida? Boleh aku memanggilmu Aida?"
   Malam itu kami berpindah ke sebuah pub terdekat dan bertukar komentar tentang cinta sampai Aida melihat arlojinya. "Terima kasih Jo, kamu sudah memberikan banyak bahan. Aku harus istirahat. Besok akan menjadi hari yang melelahkan."
   Kami berjalan keluar. Di depan pintu Aida teringat sesuatu. "Kamu tidur di mana malam ini?"
   "Belum tahu. Mungkin menunggu pagi saja di Kensington."
   "Semoga kau tidak keliru menilaiku jika aku tawarkan untuk menginap. Kita bisa lanjutkan obrolan
tadi."
   Jelas sekali Aida bukan jenis perempuan yang pantang menyerah. Kami berjalan kaki sekitar 25 menit sebelum sampai di depan Harrods, toko serba ada milik keluarga Al Fayed. "Hotelku di belakang sana." Aida menunjuk ke sebuah lokasi di kawasan Knightsbridge. Hotel mungil khas Inggris.
   Aida mengambil kamar single bed. Ia menguap panjang ketika meletakkan ransel dan kameranya. Matanya merah. "Kamu tidak keberatan aku berbaring sebentar, Jo?"
   Detik selanjutnya ia terlelap. Wajah pualamnya seperti dipahat Michelangelo. Alis matanya bak
rombongan semut sedang karnaval. Hidungnya melengkung seperti elang gurun. Pandangan mataku turun ke lehernya, lalu menyapu kedua bukit kewanitaannya yang mencuat seperti gunung kembar Sundoro-Sumbing di desa kelahiranku, Temanggung, Jawa Tengah.
   Darahku berdesir. Aku berjalan menuju satu-satunya sofa di kamar itu, memutar posisinya menghadap jendela membelakangi Aida. Aku pejamkan mata, mencoba melalui beberapa jam tersulit dalam hidupku sebagai lelaki. Wangi lembut yang meruap dari tubuh Aida menari-nari di bawah hidungku.
   Ya Tuhan, bagaimanakah caranya Yusuf mengabaikan godaan Zulaikha?
   Tak berapa lama aku mencium wangi kopi yang membuatku terjaga. Aida sudah rapi, Wajahnya segar.
   "Tidurmu pulas sekali, sehingga aku tidak tega membangunkan," katanya lembut. "Aku harus ke Hyde Park untuk liputan."
   "Aku temani. Kapan lagi bisa melihat prosesi pemakaman seperti ini. Setiap orang bisa ke London
setiap saat, tetapi tidak pada saat pemakaman Diana Spencer, bukan?"
    Aida mengangguk dan tersenyum ringan.
   Setelah rombongan kereta jenazah lewat di depan kami yang berdiri di seberang Hyde Park menuju Gereja Westminster Abbey, Aida berkata. "Aku harus ke Althorp, kediaman keluarga Spencer sebelum jenazah sampai di sana."
   "Aku ingin menemani tapi…" Aku ragu melanjutkan bahwa uangku tak cukup.
   "Kamu mau ikut?"
   "Ya dan tidak. Ya, karena ini peristiwa langka. Tidak, jika kau ingin membayariku."
   "Kamu tega membiarkanku bekerja sendirian di Althorp?"
   Ya Tuhan, mengapa tiba-tiba matanya berubah menjadi anak kucing yang manja? Alhasil siang itu aku berada dalam gerbong kereta yang sama dengan Aida. Usai dari Althorp kami menuju Surrey, ke Pemakaman Brookwood tempat Dodi Al Fayed dikuburkan.
   Kereta memasuki stasiun Brookwood persis ketika gelap mulai rata di cakrawala. Stasiun kecil ini
berada di tengah-tengah lingkungan makam yang luas. Tak ada orang yang bisa kami tanyai.
   Di sebuah tempat aku membaca nisan dengan nama muslim Ismailiyah. "Kita pasti sudah dekat," Aku membesarkan harapan Aida.
   "Mudah-mudahan. Terus terang aku takut di sini," bisiknya.
   Aida merapatkan tubuhnya yang gemetar kepadaku. Aku peluk bahunya. Akhirnya kami temukan juga makam Dodi berkat payung hijau Harrods yang terkenal itu. Kembali menuju stasiun, Aida kembali gemetar karena harus melalui jalan sepi. Sementara aku geletar harus mengalahkan lahar yang menggelegak di kepala akibat dada kiri Aida yang lembut menempel erat pada tubuhku.
Di Stasiun Brookwood tak ada penumpang lain selain kami berdua. Suasana canggung menyergap.
   Keesokan hari Aida minta ditemani ke Madame Tussaud dan Istana Buckingham. Rupanya relaksasi menikmati patung lilin figur-figur ternama dan suasana romantis di depan Istana Buckingham berdampak pada keakraban kami. Malam menjelang tidur, kami takluk pada
panggilan naluri. Kami berciuman selama beberapa detik yang bergelora, saling menjelajahi. Tiba-tiba Aida menarik tubuhnya. "Jo, aku tak bisa melanjutkan ini. Agama kita melarang."
   Pagi tiba. Tak kulihat lagi Aida yang kukenal dalam tiga hari terakhir. Kata-katanya berubah formal.
"Johan, lebih cepat kita berpisah akan lebih baik bagi kita berdua. Aku lebih tua darimu. Umurmu baru 24. Well, aku 29."
   Aku tahu bukan itu alasannya. Tapi aku pun tahu ia tak punya cara lain. Haruskah kami melanjutkan keakraban yang aneh tak berpola ini? Aku cium pipinya dengan cepat. Ia tak menghindar. Matanya memerah, gairahku patah. Di kereta api menuju Leeds aku menangis untuk seorang gadis yang begitu saja merobek hatiku. Mencabik hatinya sendiri.
 
Neuheun, Aceh, 2006
 
   Kini melihat lagi Khaleeda, Aida-ku, membuat seluruh kenangan seperti berebut kembali.
   "Jo," Suara Aida menyadarkanku. "Di kegelapan Brookwood aku merasa tenang dalam pelukanmu. Aku tak sanggup membayangkan kembali ke Yordania selesai liputan, berpisah denganmu. Aku memilih tidak mengakui putik cinta yang mulai tumbuh di hati, meski ternyata membesar dan berbunga bertahun-tahun kemudian. Lalu terjadilah tsunami yang melanda negerimu. Aku berpikir
mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk menemuimu, menemui jodohku. Aku berjudi dengan sejuta kemungkinan. Aku tak tahu Indonesia, dan kamu pun belum tentu di Aceh. Tapi aku harus mencoba."
   "Sekarang aku di depanmu Aida." Suaraku terlalu bersemangat. Aku sendiri belum benar-benar bisa melupakan dirinya ternyata. "Barangkali kamu benar bahwa kita ditakdirkan untuk bersatu. Aku tak keberatan kau lebih tua 5 tahun dariku." Aku mengguyurnya dengan kelakar."Kamu ingin punya anak berapa Aida?"
   "Kalau saja kita bisa bercanda dengan kenangan." Setitik air mata bergulir dengan cepat dari sudut
matanya. "Sayang kita tak bertemu lebih awal.”
    “Maksudmu?” tanyaku kebingungan.
    “Setelah berbulan-bulan aku tak menemukan jejakmu di sini, aku semakin dekat dengan seorang aktivis LSM di Meulaboh. Bulan lalu kami ..." Aida menggigit bibirnya. "Maaf Jo, kami bertunangan. Ternyata jodohku memang di sini, dengan orang Indonesia. Tapi bukan denganmu. Dua bulan lagi kami menikah, Johan," Air matanya runtuh dengan deras.
    Aku terpana. Luka yang telah mengering di hatiku hampir satu dekade kembali mengelupas. Jauh lebih nyeri dibandingkan saat aku menangis dalam perjalanan menuju Leeds.
 
Jakarta, 24 Juni 2006
 
* * * 

Pada Sabtu, 24 Agustus 2013, Muchwardi Muchtar menulis:
......"Kisah pernikahan ambo dan istri, ado di kumpulan cerpen "Kisah Kasih Dari Negeri Pengantin" (2005) nan digagas Asma Nadia, salah seorang motor Forum Lingkar Pena (adiak Helvy Tiana Rosa). Di dalam antologi tu, ado kisah pernikahan sejumlah penulis lain seperti Gola Gong, Kurnia Effendi, termasuk Asma sendiri, dll......"

Ha ha ha......., mambaco kutipan kalimaik nan ambo ambiak dari sur-el Kamanakanda ANB di ateh (ciguak : Sumba : Tolong Sematkan Rinduku, ANB 23 Aug 2013 : 10.46, 22 jam yang lalu, ) mambuek ambo "baibo hati". 



Salam.................................,
mm***
NB : Nah, karano ambo alah basusah payah mangetik ulang cerpen kuno (dimuek 29 tahun nan lalu di koran), supayo awak baduo samo-samo panek ---demi kepuasan pelanggan RN--- iyolah kami nanti cerpen ANB  "Kisah Kasih Dari Negeri Pengantin" tu dalam palanta ko. Indak ka bisauk, duo atau tigo hari lai masih ado ukatu kan, ANB?! He hehehe....


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages