Mamak Noor jo dunsanak di lapau,
Dari segi kebudayaan, ambo iyo salut jo Christine Hakim ko, talapeh iyo keturunan Cino. Mudah2an dengan mengabadikan pantun2 Minang tu di baju kaus tu, ado kontribusinyo dalam merevitalisasi kebudayaan Minangkabau. Kok kurang pantun Chrsitine Hakim ko, suratilah ambo, beko mbo kirim sagarobak pantun Minang lamo ka baliau, pantun2 Minang asli dari naskah2 schoolchriften Minangkabau nan ratusan tasimpan di Leiden.
Wassalam,
|
|
| Sekedar berceloteh (kalau diijinkan..) Saya yakin, kalau bisnis Cici Christine Hakim ini sukses, barulah pengusaha urang awak akan "barudu" membuat hal yang serupa, copy paste tanpa tedeng aling-laing. Semangat berdagang orang Minang memang tidak hilang, tapi (jujur saja) hanya berlaku untuk jualan kaki lima, nasi padang, jahit (garment), tapi bukan berdagang kreatifitas. Entah kreatifitas itu memang bukan bagian dari orang Minang atau memang kreatifitas itu sendiri "terpasung" oleh adat yang disalah artikan oleh sebagian pemegang "fatwa" adat. Entahlah... Padahal, disaat Indonesia dilanda krisis, bisnis kreatif adalah salah satu bisnis yang masih tegak berdiri karena bertumpu pada kreatifitas dan potensi insani. Bandung, Joja dan Bali maju dalam bisnis kreatifitas karena berkreasi di kota-kota tersebut sangat kondusif dan kesempatan anak-anak muda untuk unjukkebolehan diberi ruang gerak yang lapang oleh pemerintah dan masyarakat. Bisnis pun tumbuh subur, bagaimana di Sumbar??? Perasaan sejak saya bisa membaca dan menulis, gambar kaos pariwisata / oleh SUMBAR selalu gambar jam gadang atau rumah gadang... Salut buat Cici Cristhine Hakim, kalau bisa semakin banyak orang non Minang yang mengambil peluang bisnis di SUMBAR, biar orang Minang bisa lebih kompetitif dan kreatif...tidak cuma sibuk bicara masalah "intangible"... Salam Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 --- On Wed, 2/10/10, Noor Indones <noori...@gmail.com> wrote: |
|
| Sapadapek bana ambo Jo Mamak mah...untuk nan bak nan tu (maaf, saya kembali ke bahasa Indonesia saja, takut salah omong kalo pake bahasa Minang) Tapi kalau kita melihat lebih jauh lagi, hampir seluruh jenis rumah makan padang yang disajikan dimana-mana hampir sama. Hampir tidak ada kreasi baru disitu. Coba kita lihat makanan Sunda atau Jawa yang sudah dikreasikan sedemikian rupa, apakah itu pola hidangannya, desain restorannya, temanya, dl, sehingga makanan yang cuma di rebus dan digoreng itu bisa diual dengan harga yang jauh lebih mahal di banding makanan Padang. Akhirnya, ktia kalah branding, dan kembali restoran Padang kini hanya jadi alternatif terakhir orang untuk bersantap siang / malam (case ini saya amati di Jakarta, Bandung dan Denpasar). Mohon maaf sebelumnya, karena saya bukan ahli ekonomi, tapi kondisi yang saya lihat di SUMBAR (bukan dirantau ya Mak), kita cendrung plagiat atas kesuksesan orang lain adlam berbisnis. Saya masih ingat ketika bisnis rumput laut menjamur, hampir disetip sudut kota kita bisa menemukan penjual es rumput laut di jual dengan bentuk dan ragam yang sama. Dan yang paling menyedihkan, kenapa anak-anak muda di Padang dan SUMBAR seperti terpasung kreatifitasnya dalam berbisnis, tapi ketika keluar SUMBAR mereka bisa hidup dan mengembangkan kreatifitasnya. Berarti ada yang salah di SUMBAR, saya juga tidak tahu dimana letaknya. Semua seperti menemukan jalan buntu (kuldesak), sehingga akhirnya lagi-lagi kita bersitungkin menunggu pengumuman CPNS di depan kantor Pos. Mohon maaf kalau lancang dan saya mengakui saya juga tidak bisa berbuat banyak ketika melihat fenomena ini, tapi itulah kenyataan yang terjadi sekarang. |
Salam Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 |
| --- On Wed, 2/10/10, Edi Has <edi...@yahoo.com> wrote: |
|