![]() |
![]() |
![]() |
| Jumat, 29 Agustus 2014 02:37 |
JAKARTA, HALUAN — Menteri Perhubungan EE Mangindaan mendukung usulan sejumlah tokoh masyarakat Sumatera Barat yang ada di Jakarta untuk mengganti nama Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Bandar Udara Sutan Muhammad Rasjid. Dukungan itu disampaikan secara tegas oleh EE Mangindaan ketika menerima tiga orang tokoh masyarakat Sumatera Barat di Jakarta yakni Fahmi Idris, Basrizal Koto dan Firdaus HB. “Bagus itu, kita dukunglah. Kalau semua prosesnya bisa dilakukan cepat dan sudah mendapat persetujuan dari DPR dan gubernur, segera saja kita ganti,” kata EE Mangindaan seperti dituturkan Fahmi Idris seusai pertemuan itu, Rabu (27/8) di Kementerian Perhubungan RI, Jakarta. Menhub kemudian menjelaskan kalau beberapa daerah di Indonesia juga tengah mengusulkan pergantian nama bandaranya. Mangindaan sangat setuju dan mendukung nama bandara berasal dari tokoh tokoh atau pahlawan daerah setempat. Karena selain sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan atas jasa- jasa pahlawan, bisa menjadi ciri khas bagi daerah setempat. “Nama bandaranya pakai nama pahlawan setempat itu sangat bagus,” kata tokoh Partai Demokrat itu. Mangindaan meminta agar segala sesuatu yang diperlukan untuk pergantian nama itu segera dilaksanakan, termasuk persetujuan anggota dewan setempat, bupati dan gubernur. Basrizal Koto sebagai salah seorang putra daerah Pariaman dan tokoh pengusaha nasional akan mengawal penuh upaya pergantian nama bandar udara itu. “Sehabis pertemuan dengan Pak Menteri, saya langsung ke Padang untuk berbicara dengan DPRD, Bupati, dan Gubernur,” kata Basrizal Koto. Menteri Perhubungan sendiri juga bertolak ke Padang untuk mengadakan rapat di Padang. Basrizal menargetkan kalau bisa pergantian nama itu sudah bisa diresmikan oleh pemerintah menjelang akhir tahun ini. “Kita akan bergerak cepat, kalau bisa menjelang akhir tahun sudah diresmikan,” kata Basko, panggilan tokoh pengusaha nasional itu. Fahmi Idris berharap segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rencana. “Saya berharap pertemuan saudara Basko dengan anggota DPRD, Bupati dan Gubernur, bisa segera membuahkan hasil yang maksimal, sehingga proses pergantian nama itu bisa berjalan cepat,” kata mantan menteri Perindustrian itu. Tahun lalu, yakni pada 28 Februari 2013, nama Sutan Muhammad Rasjid, mantan Gubernur Militer Pertama Sumatera Barat dan Sumatera Tengah itu juga diabadikan sebagai nama jalan batas kota menuju Bandara Minangkabau setelah melalui proses di DPRD dan Pemda setempat. Selain sebagai mantan gubernur militer, Sutan Muhammad Rasjid juga mantan Duta Besar RI untuk Italia. Semasa hidupnya, Sutan Muhammad Rasji dikenal sebagai pejuang perintis kemerdekaan nasional. Bandar Udara Internasional Minangkabau berada di wilayah Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 24 km dari Kota Padang. Bandara ini dibangun tahun 2001 dan dioperasikan secara penuh pada 22 Juli 2005, menggantikan Bandar Udara Tabing. (h/ds) |
Nama Minangkabau sudah mendunia dan terkenal. Tidak usah penggantian nama Bandara MIA. Kenapa begitu repot-repot dan ikut latah untuk mengganti nama Bandara? Ada apa dibalik semua ini?
Yang penting service Bandara MIA yg mesti diperbaiki dan dibenahi seperti mushalla yg sempit ruang tunggu, toilet yg kurang dan tidak bersih, bau apik.
Yg perlu dicatat marak nya calo travel gelap di MIA yg memaksa utk naik mobilnya.Kurangnya bus bandara.tdk adanya shutle bus ke luar bandara.
Yg paling menyedihkan ada tamu dari negara jiran yg dipaksa naik mobil pribadi yg katanya travel. Ternyata tamu tsb dibawa ke arah Pariaman sedangkan tujuannya Bukittinggi. Tiba ditempat sepi tamu ini disuruh turun dan mobil ini kabur membawa semua barang bawaan sang tamu.
Masalah rawannya keamanan inilah yg harus jadi perhatian pemerintah.
Wassalam
HZS
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+...@googlegroups.com.
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Sanak dipalanta n.a.h
Tadinya barangkali pemberian nama Minangkabau untuk Bandara bertaraf internasional itu di Sumbar ialah untuk memperkenalkan Sumbar ke dunia luar.
Nama Minangkabau erat hubungannya dengan budaya disamping alamnya yang termasuk indah dengan 4 danau dan ratusan rumah gadang juga didalamnya terkandung budaya ABS SBK dan sisitim Matrilineal yang mungkin tidak dipunyai lagi didaerah lain di dunia ini.
Bagaimanapun budaya ABS SBK dan sisitim matrilineal ini akan menjadi kajian terus bagi dunia dan akan mengalir terus touris budaya ke Sumbar dengan demikian Minangkabau yang digunakan sebagai nama Bandara akan selalu terngiang bagi touris yang telah berkunjung ke Sumbar.
Untuk pak St Muhammmad Rasyid karena beliau bekas Gubenur Militr Sumbar, biliau bisa saja untuk nama apa saja baik jalan maupun bandara.
Karena jalan sudah, Bandara masih bisa bandara yang akan dibangun dimana saja di Sumbar.
Untuk yang sekarang, bandara didaerah ketaping itu sudah tepat dengan nama Minangkabau, dengan nama itu akan menerbangkan Sumabr keseluruh dunia.
Kepala dan mata orang banyak mungkin lebih baik dari pada kepala tiga tokoh tersebut.
Ini rembuk pendapat.
Wass,
Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau
| Jumat, 29 Agustus 2014 02:37 |
JAKARTA, HALUAN — Menteri Perhubungan EE Mangindaan mendukung usulan sejumlah tokoh masyarakat Su |
-- |
--
Mano pak Firdaus HB yg juga anggota Rantaunet ini
Jawek lah pak.....dari suaro Mano apak2 ba3 mewakili org2 SUMBAR minta ganti namo BIM .....yg disiko see ndak do maraso terwakili do ....
Jgn main2 dgn suaro org banyak pak. ...
Renny.Bintara
Rancak kereta ka bandara tu di tolong mamberesan. Atau jln tol pdg kan pakan baru...
Jan yg ndak ba ulah yg dikasuah...
Unan jkt
Setuju dengan usul sanak kito Haswin Darwis (HD) dari Kuala Lumpur tu.
Memang tapek kalau sdr Nofend, mamulangkan pulo baliak ka Haluan, alah baraa lo sampai kini 31/8/14 (sekitar 20 urang) , kawan nan manulak ide manuka BIM jo BI St M. Rasyid.
Mungkin paralu agar urang Jakarta jo pajabat tu indak bacamin sabalah.
Di Forum Umat Islam Bersatu Sumbar dalam FB, ambo cigok io bagaduru lo nan manulak.
Wass,
Maturidi (L/76)
Setuju dengan usul sanak kito Haswin Darwis (HD) dari Kuala Lumpur tu.
Memang tapek kalau sdr Nofend, mamulangkan pulo baliak ka Haluan, alah baraa lo sampai kini 31/8/14 (sekitar 20 urang) , kawan nan manulak ide manuka BIM jo BI St M. Rasyid.
Nama Minangkabau sudah mendunia dan terkenal. Tidak usah penggantian nama Bandara MIA. Kenapa begitu repot-repot dan ikut latah untuk mengganti nama Bandara? Ada apa dibalik semua ini?
Yang penting service Bandara MIA yg mesti diperbaiki dan dibenahi seperti mushalla yg sempit ruang tunggu, toilet yg kurang dan tidak bersih, bau apik.
Yg perlu dicatat marak nya calo travel gelap di MIA yg memaksa utk naik mobilnya.Kurangnya bus bandara.tdk adanya shutle bus ke luar bandara.
Yg paling menyedihkan ada tamu dari negara jiran yg dipaksa naik mobil pribadi yg katanya travel. Ternyata tamu tsb dibawa ke arah Pariaman sedangkan tujuannya Bukittinggi. Tiba ditempat sepi tamu ini disuruh turun dan mobil ini kabur membawa semua barang bawaan sang tamu.
Masalah rawannya keamanan inilah yg harus jadi perhatian pemerintah.
Wassalam
HZS
Pada 29 Agt 2014 20:07, <rn.ami...@gmail.com> menulis:
Kenapa engga nama Sultan Alam Bagagarsyah, atau Dan Tuangku, atau Cindur MatoPowered by Telkomsel BlackBerry®
From: "Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org>Sender: rant...@googlegroups.comDate: Fri, 29 Aug 2014 10:59:06 +0700To: RN - Palanta RantauNet<rant...@googlegroups.com>ReplyTo: rant...@googlegroups.comSubject: [R@ntau-Net] MENHUB DUKUNG PERGANTIAN NAMA BANDARA MINANGKABAU
Jumat, 29 Agustus 2014 02:37
JAKARTA, HALUAN — Menteri Perhubungan EE Mangindaan mendukung usulan sejumlah tokoh masyarakat Sumatera Barat yang ada di Jakarta untuk mengganti nama Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Bandar Udara Sutan Muhammad Rasjid.
Dukungan itu disampaikan secara tegas oleh EE Mangindaan ketika menerima tiga orang tokoh masyarakat Sumatera Barat di Jakarta yakni Fahmi Idris, Basrizal Koto dan Firdaus HB.
“Bagus itu, kita dukunglah. Kalau semua prosesnya bisa dilakukan cepat dan sudah mendapat persetujuan dari DPR dan gubernur, segera saja kita ganti,” kata EE Mangindaan seperti dituturkan Fahmi Idris seusai pertemuan itu, Rabu (27/8) di Kementerian Perhubungan RI, Jakarta.
Menhub kemudian menjelaskan kalau beberapa daerah di Indonesia juga tengah mengusulkan pergantian nama bandaranya.
Mangindaan sangat setuju dan mendukung nama bandara berasal dari tokoh tokoh atau pahlawan daerah setempat. Karena selain sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan atas jasa- jasa pahlawan, bisa menjadi ciri khas bagi daerah setempat. “Nama bandaranya pakai nama pahlawan setempat itu sangat bagus,” kata tokoh Partai Demokrat itu.
Mangindaan meminta agar segala sesuatu yang diperlukan untuk pergantian nama itu segera dilaksanakan, termasuk persetujuan anggota dewan setempat, bupati dan gubernur.
Basrizal Koto sebagai salah seorang putra daerah Pariaman dan tokoh pengusaha nasional akan mengawal penuh upaya pergantian nama bandar udara itu. “Sehabis pertemuan dengan Pak Menteri, saya langsung ke Padang untuk berbicara dengan DPRD, Bupati, dan Gubernur,” kata Basrizal Koto. Menteri Perhubungan sendiri juga bertolak ke Padang untuk mengadakan rapat di Padang.
Basrizal menargetkan kalau bisa pergantian nama itu sudah bisa diresmikan oleh pemerintah menjelang akhir tahun ini. “Kita akan bergerak cepat, kalau bisa menjelang akhir tahun sudah diresmikan,” kata Basko, panggilan tokoh pengusaha nasional itu.
Fahmi Idris berharap segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rencana. “Saya berharap pertemuan saudara Basko dengan anggota DPRD, Bupati dan Gubernur, bisa segera membuahkan hasil yang maksimal, sehingga proses pergantian nama itu bisa berjalan cepat,” kata mantan menteri Perindustrian itu.
Tahun lalu, yakni pada 28 Februari 2013, nama Sutan Muhammad Rasjid, mantan Gubernur Militer Pertama Sumatera Barat dan Sumatera Tengah itu juga diabadikan sebagai nama jalan batas kota menuju Bandara Minangkabau setelah melalui proses di DPRD dan Pemda setempat.
Selain sebagai mantan gubernur militer, Sutan Muhammad Rasjid juga mantan Duta Besar RI untuk Italia. Semasa hidupnya, Sutan Muhammad Rasji dikenal sebagai pejuang perintis kemerdekaan nasional.
Bandar Udara Internasional Minangkabau berada di wilayah Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 24 km dari Kota Padang. Bandara ini dibangun tahun 2001 dan dioperasikan secara penuh pada 22 Juli 2005, menggantikan Bandar Udara Tabing. (h/ds)
WassalamNofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola
--
--
Nakan Nofend, Syaf Al, Yose Hendra, dan sanak di palanta n a h.
Tarimo kasih nakan Nofend nan alah mambari tahu lapau mengenai namo BIM tu ka diusiak.
Tarimo kasih Syaf AL, lah mampadangakan pandapek Paga Nagari ka lapau..
Tarimo aksih jo ka Yose Hendra alah mambantang panjang lebar mengenai BIM.
Memang untuk BIM pelayanan yang perlu ditingkatkan jaan sampai nan datang ke BIM mangaluah.
Mungkin personil yang ado di BIM termasuk Angkasa Pura dan lain yang terlibat layanan ke umum perlu diteliti baik pendidikan maupun pengalaman.
Sampai-sampai ada perbedaan harga makanan direstoran dalam BIM, beda antara domestic (kusus awak Sumbar) dengan tamu dari luar Sumbar seperti yang dikeluhkan kawan dari Malaysia.
Masa warung elit di BIM disamakan pelayanannya dengan warung kapau di pasa bawah /ateh Bukittinggi seperti yang dikeluhkan penumpang travel dari Pekanbaru-Padang, mampir isi bensin tengah di Bukittinggi.
Pemilik restoran, pemilik taxi, masalah parkir dan lain-lain di area BIM dan lain-lain harus dipanggil dan diperingati oleh Dinas perhubungan Sumbar, yang tidak mau memmperbaiki diri cabut izin usah di BIM.
Yang jadi masalah mungkin maaf: baik Restoran, usaha taxi, parkir dll adalah milik oknum Dinas Perhubungan dan oknum pejabat Sumbar.
Baiknya pers/wartawan jeli, coba selidiki.
Memang jadi pertanyaan, kenapa restoran berani membedakan harga makanan untuk domestic-lokal dan luar, taxi berani menodong dipintu keluar masuk.
Kalau tak mangapik kapalo harimau barangali tak barani.
Satu-satunya dibongkar wartawan, karena sudah lama dikeluhkan tapi belum ada perubahan.
Nakan Yose Hendra
Usul Yose Hendra:
4. Nah, ada adagium, jika…
Kito sampai disitunyo, mangaluakan pandapek.
Pandapek nan sairama alah banyak diantaronyo dari PAGA NAGARI alah ditaruihkannyo ka pak Gub dan DPRD Sumbar.
Kito tambah sajo jo suaro dari lapau/RN ko.
Mungkin suaro lapauko bisa Yose Hendra tolong padangakan ke pak Gub dan DPRD Sumbar, apoko malalui email dan media cetak nan mungkin.
Mungkin nan lain sarupo Forum Umat Islam Bersatu Sumbar dan OMMPDIM lai lo banyak nan manulak unjuangnyo ke Gub dan DPRD juo.
Jadi tak usah dibueklo opini babaleh cakak di media soal iko.
Dengan disampaikan pandapek lapauko ke alamat diateh, itu labiah dari menggunokan media cetak.
Lah sampai usul kito ka apak Gub dan DPRD Sumbar itu lah cukuik.
Kalau usul-usul penolakan tu lai ditarimo pak Gub dan DPRD Sumbar dan namo BIM ditetapkan BIM mako parang usai.
Sakitu nakan Yose Hendra.
Maaf saketek kenalkan jolah ka kami uarng baru, bara umua , dima kampuang jo suku, mungkin awak sasuku, iko samato untuak mamudahkan awak komunikasi sacaro minang.
Cukuik disalekan diaakhir surel.
| Senin, 01 September 2014 02:21 | |
Padang, Haluan — Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Sumbar Muslim Kasim sangat mendukung sekali usulan penggantian nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Bandara Mr St Moh Rasjid. Menurut Muslim Kasim, sangat layak dan pantas jika nama Mr St Moh Rasjid dijadikan nama bandara. Rasjid tidak hanya tokoh daerah, tapi juga tokoh nasional yang lahir di Pariaman. Jasa-jasa beliau untuk republik, tidak diragukan lagi. Baginya, Rasjid adalah tokoh sentral PDRI, penyambung nyawa republik. Beliau pejuang, diplomat dan pernah menjadi Dubes di Italia. Sejalan dengan argumentasi yang disampaikan Menteri Perhubungan EE Mangindaan, Muslim Kasim juga berpendapat pergantian nama BIM menjadi nama tokoh adalah hal yang lumrah dan masuk akal. Tidak hanya nama bandara di berbagai daerah di Indonesia yang memakai nama tokoh, nama-nama bandara internasional di luar negeri juga umumnya memakai nama-nama tokoh negara bersangkutan. “Sebagai bentuk konkrit dukungan dari Masyarakat Peduli Sejarah Sumbar, kami sudah membuat surat rekomendasi kepada Gubernur Sumbar dan ditembuskan ke Menhub dan pihak-pihak terkait,” kata Muslim Kasim, Minggu (31/8). Dikatakannya, hari ini, Senin (1/9), rencananya Masyarakat Peduli Sejarah Sumbar akan menemui gubernur untuk memperkuat usulan yang sudah disampaikan Bupati Padang Pariaman sebelumnya. Ditambahkan Muslim, aspirasi untuk menjadikan nama Mr St Moh Rasjid menjadi nama bandara yang berlokasi di wilayah Kabupaten Padang Pariaman itu tidak datang tiba-tiba. Jauh hari, gagasan itu sudah muncul dari berbagai komponen masyarakat. “Waktu saya jadi bupati dulu, sekitar tahun 2006 sudah muncul gagasan untuk mengabdikan nama tokoh kebanggaan nasional asal Pariaman itu menjadi nama jalan,” ujarnya. Kemudian, di tahun 2013 rencana tersebut baru terealisasi. Dan waktu peresmian nama jalan Mr St Moh Rasjid, banyak tokoh termasuk Ketua DPD RI Irman Gusman yang menyampaikan gagasan secara terbuka untuk memakai nama Mr St Moh Rasjid untuk nama bandara internasional itu. Sebelumnya, sewaktu peresmian Jalan Mr St Moh Rasjid 1 Maret 2013 lalu, sejumlah pihak sudah menyatakan keinginan untuk mengganti nama BIM dengan nama tokoh asal Pariaman ini. Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni dalam pidatonya mengatakan, penamaan jalan mulai dari perbatasan Kota Padang sampai BIM sudah sangat pantas, dan sudah selayaknya diberikan dengan nama Mr H St Mohamad Rasjid. Karena menurutnya, perjuangan, dan jasa Mr H St Mohamad Rasjid dalam memperjuangkan bangsa Indonesia sangat besar. “Selain penamaan jalan ini, kami juga akan mengusulkan perubahan penamaan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Bandara Internasional Mr H St Mohamad Rasjid. Penghargaan ini kami berikan sebagai ucapan terimakasih kami terhadap jasa dan pengorbanan beliau,” tutur Ali Mukhni. Hal senada juga dikatakan Ketua DPD RI Irman Gusman. Penamaan jalan ini, adalah langkah awal kita untuk terus memantapkan jasa beliau. Saya dan seluruh pihak-pihak terkait lainnya, akan mengajukan juga penamaan BIM yang selama ini, menjadi nama Mr H St Mohamad Rasjid,” jelas Irman. (h/eni)
|
|
3. Basko sebagai salah satu dr 3 org yang pergi ke Jakarta, lalu pertemuan dengan Kemenhub dimuat di Haluan. Kito harus samo2 tahu, samo2 paham, Basko adalah pemilik Haluan... Dan kito harus mencurigai, iko adalah skenario politik pencitraan, menggambarkan Basko seakan2 merupakan tokoh Sumbar.... Harus dipikirkan lagi, apa beliau tokoh kita?
Dengan kondisi ini kita harapkan sesepuh...niniakmamak...orang tuo yg bisa jadi penengah....
Tapi sangat2 disayangkan....hal ko ndak berlaku.....LATAH KEBABLASAN.....terus berlanjut....
Entah apo yg dalam pikiran2 mrk...labiah memuliakan namo seseorang drpd mamikian persatuan orang2 Minang yg berserakan....
Satiok kesempatan. ..satiok acara slalu mahimbau supayo orang Minang ko bersatu....
Eh yayai.....iko malah....
Emang BIM barado di Pariaman. ...tp jaan dipaso BIM itu cumo pny rang Pariaman. ...BIM punyo rang Minang....la sepantasnyo banamo Minangkabau.....
Azwar Anas Dukung Pergantian Nama BIM
+Berita PilihanSumbar
oleh infoSumbar - Sep 2, 2014
60029347
ilustrasi
Pro dan kontra perubahan nama Bandara Internasional Minangkabau menjadi Bandara Mr. Sutan Mohammad Rasjid terus bergulir.
Salah satu tokoh Sumatera Barat dan mantan Menko Kesra, Ir. H. Azwar Anas menyatakan dukungannya terhadap perubahan nama BIM menjadi Bandara Mr. Sutan Mohammad Rasjid.
“Tepat dan saya mendukung penuh pergantian nama BIM menjadi Bandara Mr Sutan Moh Rasjid. Karena memang sudah selayaknya nama-nama bandara di Indonesia memakai nama tokoh dan pahlawan dari daerah bersangkutan,” kata Azwar Anas dikutip dari Haluan.
Menurut Azwar Anas pemilihan nama Mr. Sutan Mohammad Rasjid sudah sangat tepat, mengingat jasa dan perjuangan beliau untuk NKRI sangatlah besar.
Mr. Sutan Mohammad Rasjid sendiri pernah menjabat sebagai Gubernur Militer Sumatera Tengah dan ditunjuk menjadi Menteri Keamanan/Sosial dan Menteri Perburuhan pada masa PDRI.
Mengenai pergantian nama Bandara Internasional Minangkabau sendiri, Bupati Padang Pariaman, Ali Mukhni telah mengajukan permohonan kepada Menteri Perhubungan.
Renny.Bintara
--
Sanak sapalanta nah!
Petisi utk melawan tirani nan suko maambiak muko sasuai sanak..
Ko ado usul ciek bakeh nan rami.. dari dahulu, sajak Bandara disepakati dinamokan Minangkabau Internasioanal Airport (MIA) alah tadanga ka ado pesawat sipil nan ka dinamokan Minang Airlines. Sampai kini indak ado tadanga kipeh sayoknyo..Baa dan dima tasangkuiknyo kini?
Dari pado basiarak awak sama awak, labiah elok rencana ko kito lanjutkan..
Baa caronyo? Mambali pesawat komersial? kenapa tidak? Kito pasokokkan basamo insya Allah bisa..baiyua 100 ribu surang satiok rang Minang di ranah jo dirantau..lah bara tu?
Baa agak hati sanak?
Wassalam
HZS 71
Sanak di palanta,baa kalau mambuek petisi pulo kito terhadap urang nan mangaku tokoh ko ? Alah jaleh minangkabau di baok dikenal ka saluruah dunia, ka batuka pulo jo namo gubernur militer, kama lah pangana kawan nan batigo ko kiro-kiro ?salamimam satirantau boyo/552014-08-29 21:55 GMT+07:00 Asmardi Arbi <asmard...@rantaunet.org>:
Setuju dengan pendapat pak Zulharbi Salim. Nama Minangkabau sudah pas buat apalagi diganti? Apakah 3 tokoh itu mewakili orang Minang? Siapa yang mengangangkatnya?
Wassalam,
AA
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+...@googlegroups.com.
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
R. Y. Perry Burhan, Prof., Dr.
Laboratorium Geokimia Molekuler
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Kampus ITS Keputih
Surabaya 60111
Tel. +62 31 594 33 53
Faks. + 62 31 592 83 14
Tel. portatif +62 811 313 1810; +62 812 30 00 22 59