On Oct 7, 2:35 pm, suheimi ksuheimi wrote:
> Mak angah yth, dan sanak di Palanta
> Apakah mak angah masih menympan koleksi lagu Oslan Hosen
> kalau ada sudilah mengirimkannya kepada kami
> > salam dan do'a
> > K Suheimi
> > > Semoga kedua pihak berbahagia,
> > > tamasya indah tidak membisu ...
> > > Di Ambang Senja,
> > > Iringan lagu ...
> > > >http://www.youtube.com/watch?v=IdW7UNL8QD0&feature=related
> > > > Salam,
> > > --Makngah
==cut==
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
Banyak lagu-lagu Efendy nan kalua. Sudah tu tatagun pulo ambo
mandanga Lagu Kaparinyo, tapi suaro Efendy indak jaleh.
Tampaklah Siti Nurhaliza, Ketilang Semenanjung, manyanyi jo manari
langkok jo kato-kato pantun Tari Kaparinyo. Partamu kali ambo
mancaliak isi pantun tu tertulis walaupun lah acok mandanga musik jo
gaya tariannyo. Banyak kato-kato tasirek tasimpan di dalamnyo.
Sairama jo Ota di Lapau disirekkannyo "Alam Terkembang Berubah-
ubah ..."
Semenjak Lembah bertambah dalam
Nampaknya Gunung tinggi bertuah
Semenjak Sejarah Hawa dan Adam
Alam Terkembang berubah-ubah
Salam,
--MakNgah
Lagu dan Tari Kaparinyo, Siti Nurhaliza:
http://www.youtube.com/watch?v=swHrnux-jhE&feature=related
Orang berinai berhitam kuku
Mandi dijirus Si Air Mawar
Jikalau sampai hasrat hatiku
Racun ku minum jadi penawar
Belum tersurat dalam hikayat
Ayam keluar mencari Musang
Belum tersilat di dalam adat
Bunga keluar mancari Kumbang
Semenjak Lembah bertambah dalam
Nampaknya Gunung tinggi bertuah
Semenjak Sejarah Hawa dan Adam
Alam Terkembang berubah-ubah
Hasrat nak beli dulang bertepi
Barulah molek untuk hidangan
Hajat nak cari yang sama sehati
Barulah molek Makan Sepinggan
Sungguhlah harum Si Bunga Tanjung
Hati nak petik Si Bunga Mawar
Rindu dan dendam tidak tertanggung
Budi setitik jadi penawar
Sungguh Melati senang dipetik
Harumnya masyhur seluruh alam
Sungguh budi hanya setitik
Langit dan Bumi ada di dalam
--- In Rant...@yahoogroups.com, suheimi ksuheimi <ksuheimi@...>
wrote:
Alun basuo latar bulakang kampuang Oslan Hosen, tapi takileh Saiful
Bahri, nan mangarang lagu Semalam Di Malaya; ruponyo Urang Awak juo
dari Payokumbuah. Silakan baco di bawah.
Salam,
--MakNgah
SAIFUL BAHRI
Born in Payakumbuh, West Sumateraon 19 September 1924, Saiful
received his early education from the Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs (MULO) in Kayutaman, West Sumatera. While at MULO Saiful's
talent and interest music were particularly evident, where he formed
his own band. Soon after he left for Jakarta to seek his fame and
fortune, and landed the role of conductor orkes Studio Jakarta from
1950 to 1960.
In 1960, together with fellow artistes Titiek Puspa, Bing Slamet,
Mochtar Embut dan Sam Saimun, Saiful toured Peninsular Malaysia,
performing at various venues.Saiful's trip to Malaysia left a
lasting impression on him, inspiring him to compose the popular song
Semalam Di Malaya, and later to make Malaysia his permanent home.
After takin up residence in Malaysia, Saiful was appointed Special
Assistant to the information Minister at that time, Senu Abdul
Rahman and then later promoted to Music director of Filem Negara
Malaysia given his extensive musical expertise. Up until his
retirement from Filem Nagara Malaysia in 1975, Saiful composed and
arranged many patriotic pieces, such as Malaysia Berjaya, Malaysia
Berjaya, Dewan Bahasa dan Pustaka and Senjakala. Other famous tunes
composed by Saiful are Dewi Manja, Surat Tak Bernama, Kenangan Masa
dan Fajar Harapan. Before his death in Tokyo on 5 December 1976,
Saiful was also involved in scoring of many films produced by N.V.
Perfini, Golden Arrow, and Bintang Surabaya.
http://bahizal.blogspot.com/2006_05_01_archive.html
Ado nan tahu apo arati kato "Kaparinyo"?
Karano sanang jo Tari, Lagu, dan Lirik "Kaparinyo" (sanang pulo awak
malirik Siti Nurhaliza) takana di ambo apo arati kato "Kaparinyo"
tu? Ambo caliak baiak dalam Kamus Minang, Indonesia ataupun Malayu,
indak ado kato"Kaparinyo" tu tampak tadaftar.
Salam,
--MakNgah
Salam.
=====
Nama : Oslan Husein
Profesi : Aktor
Tempat Lahir : Padang
Tanggal Lahir : 8 April 1931 - 16 Agustus 1972
Pendidikan Formal
= Daisan Kotogokumin Gakko (SD)
= SLP
= SLA Demobilisasi (tidak selesai)
Pendidikan Non Formal
Karya
= 1000 Langkah (1961)
= Kasih Tak Sampai (1961)
= Detik-Detik Berbahaja (1961)
= Hadiah 2.Ooo.Ooo (1962)
= Antara Timur Dan Barat (1963)
= Maut Mendjelang Magrib (1963)
= Operasi Hansip 13 (1965)
= Madju Tak Gentar (1965)
= Belaian Kasih (1966)
= Kini Kau Kembali (1966)
Penghargaan Khusus
Deskripsi
Sebelum terjun ke film Oslan sebagai penyanyi. Bersama Band Kinantan
menyanyikan lagu-lagu untuk film. namun ia baru muncul di layar putih pada
tahun 1961 sebagai pemeran pembantu. Setelah itu ketenarannya sebagai
penyanyi lagu daerah Minang semakin populer. Dalam perfilman ia juga sudah
memegang peran utama, tetapi setelah itu ia hanya sebagai peran pembantu.
Semenjak tahun 1967 ia lebih banyak muncul di panggung sebagai penyanyi dan
pelawak. lalu di tahun 1970 bersama Erni Djohan membentuk grup Erosa (Erni -
Oslan - Alwi). Disamping itu ia juga sebagai pengisi acara tetap Siaran ABRI
RRI Studio Jakarta. Ia meninggal setelah sakit lama di rumah sakit Ancol.
Kontributor/Sumber
Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 / disusun oleh Sinematek
Indonesia.-- Jakarta: Yayasan Artis Film dan Sinematek Indonesia, 1979.
http://jibis.pnri.go.id/sinema/direktori-insan-perfilman/thn/2008/bln/02/tgl
/15/id/2833
Oslan Husein
Oslan Husein telah tiada. ia meninggal di RS Ancol Jakarta, dalam usia 41
tahun. selain sebagai penyanyi, ia duet dengan Alwi. lagu Kampuang Nan Jauh
Dimato, Ombak Buruih, adalah sebagian lagunya.
PADA saat terahir dia tidak menyanyi, meskipun dia seorang penyanyi yang
baik. Di rumah Sakit Ancol sejak bulan Pebruari yang lalu, dia memegang
hari-harinya yang penghabisan.
Kawan-kawannya banyak bersimpati, tetapi hanya simpati. Maut menghampiri
tubuhnya yang tipis dan membawa nyawanya pergi pada usia yang ke-41. Usia
yang sesungguhnya masih banyak mempunyai harapan.
"la seorang kawan yang tak pernah minta balas jasa", puji teman
seperjalanannya sejak tahun 1958 yang beranama Alwi. Kawan ini dapat
bercerita banyak kisah perantaun Oslan dari tanah Minang sampai ke Kramat
Sentiong Jakarta. Oslan Husein nomor empat dalam 7 bersaudara, keturunan
pedagang kain Para Karambia yang bernama Husein itu, telah menemukan dirinya
di Jakarta di awal tahun 1950. Rupanya disamping memiliki sisa keuletan
sebagai bekas Tentara Pelajar, ia juga pandai menghibur. Namun sebagaimana
kata Alwi Oslan bukan pelawak, walaupun memang kelihatan selera humornya
lumayan. Dia tidak salah memilih bidang, sehingga tersalurlah suaranya yang
lantang dan penuh getaran itu dalam rekaman-rekaman yang digemari orang
ramai.
Gelombang suaranya yang memberi warna genit kepada seni vocal pop yang mulai
tumbuh menempatkan lagu-lagunya seperti: Kampuang nan djauh dimato, Ombak
buruih, Urang Tolong, Sinandi-nandi menjajah pasar. Dengan orkes bernama
Taruna Ria, Oslan dapat menjajarkan dirinya setempat dengan orkes Gumarang
dan Kumbang Tjari.
Negara. Diluar jabatan penyanyi duet Alwi dengan Oslan sebagai pelawak,
memang tidak berhasil. Tetapi toh tjukup membuat segar film-film dimana ia
ikut menunjukkan tampangnya yang has. Sejak film bernama "Detik-Detik
Berbahaya" tidak kurang dari 30 buah film yang dicampurinya. Dari sana
kegiatannya merembes ke panggung-panggung hiburan. Perbedaan menjolok antara
struktur tubuh dan materi suaranya, membuat ia selalu muncul dengan menarik.
Apalagi segores kumis tipis yang tak mau dikeroknya, mengumpulkan kesan
optimis diatas mukanya yang selalu cerah, walau pundaknya yang sedikit
lengkung membayangkan suatu derita.
Terahir dia muncul di panggung tatkala menjadi pembawa acara dalam malam
halal bihalal perantau-perantau Minang awal tahun ini. Di sana dengan
lucunya Oslan bertegur sapa dengan para pencopet, agar sementara waktu
menghentikan kegiatannya.
Ahir Juli yang lalu, Oslan masih sempat pulang ke rumahnya dan nonton
permainan raja bola Pele. Kepergiannya kembali ke RS Ancol ternyata
merupakan perpisahan selamanya dengan Kramat Sentiong dimana Darlius Nida
isterinya kemudian menumpahkan air mata untuknya. "Almarhum hanya bilang
akan keluar kota", kata Alimir Husein, adik Oslan mengenang peristiwa itu
dengan perasaan terharu. Sementara itu Alwi, sempat mendengar kalimat
berharga Oslan menjelang kepergiannya. "Kalau saya meninggal", demikian kata
penyanyi gigih itu, "saya baru memberi sedikit saja buat negara dan bangsa".
Tempo Edisi. 26/II/02 - 8 September 1972
http://oplet.blogspot.com/2007/06/oslan-husein.html
Gumarang, Teruna Ria, dan Kumbang Tjari
IRAMA musik Latin sudah masuk dalam ramuan aransemen musik lagu-lagu
Indonesia sejak pertengahan tahun 1955. Pelakunya adalah seorang yang
bernama Asbon Majid, pemimpin orkes Gumarang. Dengan maksud memberi
alternatif lain dari seriosa, keroncong, dan hiburan, Asbon memasuki
unsur-unsur musik Latin yang pada masa itu memang sedang populer di
Indonesia.
SEMENTARA itu, orkes Kumbang Tjari dipimpin oleh Nuskan Syarif, Teruna Ria
oleh Oslan Husein, dan Zaenal Combo oleh Zaenal Arifin. Tiga orkes ini
memasukkan rock'n'roll pada lagu-lagu Minang dan non-Minang, seperti Kampung
Nan Jauh Di Mato, Tirtonadi, dan Bengawan Solo.
Menjelang akhir tahun 1953 dan awal 1954, ada beberapa anak muda asal
Sumatera Barat yang, antara lain, bernama Alidir, Anwar Anif, Dhira Suhud,
Joeswar Khairudin, Taufik, Syaiful Nawas, dan Awaludin yang di kemudian hari
menjadi Kepala Polri. Bersama beberapa orang lainnya mereka berkumpul di
rumah Yus Bahri di Jalan Jambu, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka sepakat
mendirikan sebuah grup musik untuk meneruskan kiprah orkes Penghibur Hati
yang mendendangkan lagu-lagu Minang.
Mereka menamakan grupnya orkes Gumarang. Nama itu diambil dari cerita
legendaris Minang, Cindue Mato, yang tokoh utamanya memiliki tiga binatang
kesayangan. Tiga binatang itu adalah Kinantan si ayam jantan yang piawai,
Binuang si banteng yang gagah perkasa, dan Gumarang si kuda sembrani berbulu
putih yang larinya bagaikan kilat sehingga menurut legenda tersebut bisa
keliling dunia dalam sekejap. Anwar Anif pun didaulat menjadi pemimpin.
Mula-mula yang dibicarakan adalah bagaimana konsep musik yang akan dibawakan
untuk lagu-lagu Minang yang sudah dipopulerkan oleh Penghibur Hati melalui
Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Lagu-lagu Penghibur Hati yang
disiarkan radio itu, antara lain, Kaparinyo, Dayung Palinggam, Nasib
Sawahlunto, dan Sempaya.
Pengaruh lagu-lagu Latin (seperti Melody d'Amour, Besame Mucho, Cachito,
Maria Elena, dan Quizas, Quizas, Quizas) yang sedang digemari tak mampu
mereka tepis. Oleh sebab itulah musik Latin tersebut menjadi unsur baru
dalam aransemen musik Gumarang.
Pada masa itu tidaklah mudah bagi seorang penyanyi atau sebuah grup untuk
tampil di RRI. Mereka harus lulus tes di depan sejumlah juri, sebagaimana
layaknya peserta sebuah lomba.
Walaupun Anwar Anif hanya memimpin selama sembilan bulan, ia berhasil
membawa Gumarang lulus tes RRI. Alidir yang menggantikannya ternyata
bertahan lebih singkat lagi dan kemudian menyerahkan pimpinan Gumarang
kepada Asbon, bulan Mei 1955.
Asbon tidak hanya mempertegas dominasi musik Latin dalam lagu-lagu yang
sudah biasa dibawakan Gumarang, tetapi juga pada lagu-lagu baru ciptaannya
maupun ciptaan personel Gumarang lainnya. Pada masa Asbon inilah bergabung
pianis yang memiliki sentuhan Latin, Januar Arifin, serta penyanyi Hasmanan
(kemudian menjadi sutradara), Nurseha, dan Anas Yusuf.
Kebesaran Gumarang tidak bisa disangkal berkat seringnya grup ini tampil di
RRI dan memeriahkan acara Panggung Gembira. Sukses Gumarang merebut hati
masyarakat menyebabkan penampilan orkes itu berlanjut di tempat-tempat
lainnya, seperti Istana Negara, Gedung Kesenian, dan Istora Senayan.
Pada masa kepemimpinan Alidir, Gumarang sempat merekam sejumlah lagu di
bawah naungan perusahaan negara, Lokananta, di Solo. Rekaman dilakukan di
Studio RRI Jakarta dan hasilnya dibawa ke Lokananta untuk dicetak dalam
bentuk piringan hitam (PH).
Dalam rekamannya yang pertama ini Gumarang bermain dengan gendang, bongo,
maracas, piano, gitar, dan bas betot. Mereka tetap mempertahankan rentak
gamat dan joget sambil memadukannya dengan beguine, rumba, dan cha-cha.
Bunyi alat musik Minang, seperti talempong, memang memberikan asosiasi pada
irama Latin, demikian juga saluang. Itulah sebabnya irama Latin mudah
dipadukan dengan lagu-lagu Minang.
Suyoso Karsono yang memimpin perusahaan rekaman Irama di Jakarta ternyata
diam-diam tertarik pada Gumarang. Sebagai seorang pengusaha, orang yang
dikenal dengan nama Mas Yos itu tahu bahwa irama yang dibawakan Gumarang
bukan saja mampu menyajikan lagu-lagu Minang sesuai dengan aslinya, namun
juga memiliki ramuan irama Latin yang amat disukai masyarakat.
"Sebenarnya irama Latin itu hanya dalam tempo, supaya lagu-lagu Minang bisa
diterima juga oleh masyarakat di luar Minang," kata Asbon ketika menerima
tawaran Irama untuk merekam sejumlah lagu. Gumarang merekam Ayam Den Lapeh
ciptaan A Hamid, Jiko Bapisoh dan Laruik Sanjo ciptaan Asbon, Yobaitu
ciptaan Syaiful Nawas, Takana Adiak ciptaan Januar Arifin, Baju Karuang, Ko
Upiek Lah Gadang, Titian Nan Lapuak, Nasib Sawahlunto, dan lagu lain-lain
yang jelas sekali dipadukan dengan irama cha-cha yang dikenal sebagai
pengiring tarian di Amerika Selatan.
"Cha-cha memang sedang menjadi favorit masyarakat waktu itu, sebagaimana
kami senang naik becak dari tempat indekos menuju Studio Irama. Kalau
selesai rekaman, Nurseha diantar Asbon dengan becak ke rumahnya di Grogol.
Soalnya, rekaman yang dimulai pukul delapan malam biasanya selesai pukul dua
dini hari," ujar salah seorang penyanyi Gumarang, Syaiful Nawas, yang sempat
menjadi wartawan harian Waspada, Pedoman, Purnama, Trio, Aneka, Sinar
Harapan, Abadi, Suara Pembaruan, dan majalah Selecta.
"Sayalah yang bertugas menulis semua kejadian karena ikut di dalam proses
rekaman. Mas Yos memberikan bahan-bahannya dan saya tulis di berbagai surat
kabar serta majalah Selecta dan Varia. Bahkan, harian Pedoman menulis
Gumarang dalam tajuk rencananya. Sementara Asbon langsung memberikan PH yang
baru dari pabrik ke RRI," ungkap Syaiful Nawas, kakek dari lima cucu yang
sekarang setiap hari berkantor di rumah makan miliknya, Padang Raya.
Hasilnya, Laruik Sanjo dan Ayam Den Lapeh berkumandang tidak hanya di RRI,
namun juga di toko-toko yang khusus menjual PH di Jakarta dan luar kota.
Pemutaran lagu-lagu Gumarang itu adalah atas permintaan masyarakat yang
mendatangi toko-toko itu dan membeli PH mereka. Laruik Sanjo yang berarti
larut senja dan Ayam Den Lapeh sebagai analogi kehilangan kekasih, menjadi
lagu-lagu populer secara nasional.
Sedemikian populernya kedua lagu itu, Laruik Sanjo dilayarputihkan oleh
Perfini tahun 1960 dengan sutradara kondang Usmar Ismail serta aktor Bambang
Irawan dan aktris Farida Oetojo sebagai pemeran utama. Sementara Stupa Film
memproduksi Ayam Den Lapeh pada tahun yang sama dengan sutradara H Asby dan
Gondosubroto, sementara Asbon dan Gumarang dipercaya mengisi ilustrasi musik
film ini.
Ceritanya diambil dari lirik lagunya. Si kucapang si kucapai/ saikua tapang
saikua lapeh/Tabanglah juo nan ka rimbo/Oi lah malang juo. Artinya, yang
dikejar luput, yang dimiliki terlepas.
Kumbang Tjari
Sementara itu, di Padang tersebutlah seorang pemuda yang gila musik bernama
Nuskan Syarif. Saking besar keinginannya bermusik dan memiliki gitar, uang
untuk membeli baju Lebaran dibelikannya gitar bekas di tukang loak.
Nuskan, yang bangga dengan popularitas Gumarang, pada tahun 1954 sempat
berlibur ke Jakarta. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan selama berada di
Ibu Kota dan menawarkan lagu ciptaannya, Kok Upiak Lah Gadang, ke Gumarang.
Ternyata lagunya diterima dan dimainkan dalam acara Panggung Gembira di RRI.
"Lagu itu saya tulis notasi dan liriknya karena tape recorder belum
memasyarakat seperti sekarang. Saya kembali ke Padang dan meneruskan karier
sebagai penyanyi amatir sambil memperdalam pengetahuan saya bermain gitar,"
kata Nuskan yang juga dikenal sebagai guru Pendidikan Jasmani di SMP Negeri
I Padang hingga tahun 1960.
Pindah ke Jakarta, Nuskan meneruskan karier sebagai guru olahraga, sementara
kemampuannya bermain gitar dan mencipta lagu semakin meningkat. Atas saran
Anas Yusuf, Nuskan memutuskan bergabung dengan Gumarang. Tetapi, Asbon yang
sudah tahu kemampuan anak muda itu justru menyarankannya membentuk grup
musik sendiri.
"Itulah awal lahirnya orkes Kumbang Tjari pada tahun 1961. Meskipun saya
mengagumi Gumarang, saya berusaha membuat musik yang berbeda. Kalau Gumarang
dominan dengan pianonya, Kumbang Tjari mengedepankan melodi gitar," lanjut
Nuskan, ayah dari sembilan anak dan kakek dari 10 cucu.
Di sinilah Nuskan menunjukkan keperkasaannya sebagai pemain gitar, bukan
hanya dalam soal teknik, namun juga dalam soal eksplorasi bunyi. Petikan
gitarnya mengingatkan pendengarnya akan suara saluang, seruling bambu khas
Minang. Ciri khas ini belum ada duanya sampai sekarang. Hal ini diperjelas
Hasmanan, salah seorang penyanyi Gumarang yang menulis kesan-kesannya di
sampul depan PH.
"Sebagai orkes baru jang masih harus berdjuang memenangkan simpatik dan
popularitas, menarik sekali nafas dan penghajatan jang diberikan 'Kumbang
Tjari' terhadap lagu-lagunja. Hidangan2 mereka terasa masih dekat sekali
kepada tjara lagu2 rakjat asli Minang dibawakan. Petikan2 gitar Nuskan
Sjarif sering mengingatkan orang akan bunji alat2 musik asli Minang seperti
talempong, rebab, dan saluang," demikian tulisan di sampul depan PH itu.
PH Kumbang Tjari yang pertama ini berisi lagu-lagu Asmara Dara yang
dinyanyikan oleh Elly Kasim, Randang Darek dinyanyikan Nuskan Syarif,
Taraatak Tangga (Elly Kasim dan kawan-kawan), Mak Tatji (Nuskan Syarif), Apo
Dajo (Elly Kasim dan kawan-kawan), Tjita Bahagia (Elly Kasim dan Nuskan
Syarif), Cha Cha Mari Cha (Nuskan Syarif), Gadis Tuladan (Nuskan Syarif),
Kumbang Djanti (Elly Kasim), Langkisau (Nuskan Syarif dan kawan kawan),
Kureta Solok (Nusikan Syarif dan kawan-kawan), dan Oi, Bulan (Elly Kasim dan
kawan-kawan).
Bersama Kumbang Tjari inilah Elly Kasim menjadi penyanyi lagu-lagu Minang
yang belum tergantikan sampai sekarang. Perempuan kelahiran Tiku, Kabupaten
Agam, Sumatera Barat, tanggal 27 September 1942, itu terkenal dengan
lagu-lagu seperti Kaparinyo, Dayung Palinggam, Kelok Sembilan, Barek Solok,
Lamang Tapai, Sala-lauak, Si Nona, Lansek Manih, Main Kim, Mudiak Arau, dan
masih banyak lagi. Lagu-lagu itu telah dimuat dalam puluhan PH, kaset,
maupun VCD selama lebih dari 40 tahun.
Namun, Kumbang Tjari kemudian terpaksa vakum ketika Nuskan sebagai guru
olahraga menerima untuk ditempatkan di Sukarnapura (sekarang Jayapura),
Papua, pada bulan Juli 1963. "Saya sangat menikmati profesi sebagai guru
olahraga. Dikirim ke Irian Barat saya anggap sebagai amanat yang harus
dilaksanakan. Setelah saya pergi, sayang teman-teman tidak bersedia
meneruskan Kumbang Tjari," ujar Nuskan.
Selama di Jayapura, ia sempat juga membina bibit-bibit penyanyi dan
menciptakan sejumlah lagu. Lahir di Tebing Tinggi tanggal 4 Januari 1935,
dalam usia menjelang 70 tahun sekarang ini, Nuskan masih rajin joging di
pagi hari dan tetap siap tampil bersama Kumbang Tjari-nya.
Walaupun hanya dua tahun (1961-1963) di belantika musik, Kumbang Tjari
menjadi grup pertama yang tampil di TVRI ketika stasiun televisi pemerintah
itu diresmikan tahun 1962. Orkes ini juga mengisi acara pembukaan Bali Room,
Hotel Indonesia, dan kemudian tampil bersama Gumarang serta Taruna Ria dalam
pertunjukan bertajuk "Tiga Raksasa" di Istora Senayan.
Nuskan kembali ke Jakarta 29 November dan Januari 1969 Kumbang Tjari
dibentuk lagi dengan personel yang berbeda dan tidak pakai embel-embel
"orkes" lagi. Kumbang Tjari pun kembali dipimpin Nuskan dan seperti
sebelumnya mulai masuk studio rekaman dan mengisi berbagai acara panggung
hingga tur ke Malaysia bersama Elly Kasim, Benyamin S, Ida Royani, serta
Ellya Khadam.
Di samping Gumarang dan Kumbang Tjari, juga tidak bisa dilupakan orkes
Teruna Ria yang mempertegas irama rock'n'roll dalam lagu-lagu Minang.
Bubarnya Teruna Ria menyebabkan penyanyi utamanya, Oslan Husein, mendirikan
Osria. Sementara personel lainnya, Zaenal Arifin, mendirikan Zaenal Combo,
yang merajai penataan musik rekaman hampir semua penyanyi pada akhir 1960-an
sampai awal 1970-an.
Penyanyi-penyanyi yang diiringi Zaenal Combo, yaitu Lilies Suryani, Ernie
Djohan, Alfian, duet Tuty Subarjo/Onny Suryono, Retno, Patti Sisters, Tetty
Kadi, Anna Mathovani, Emilia Contessa, Titi Qadarsih, Angle Paff, atau Lily
Marlene.
Zaenal Arifin, pencipta lagu Teluk Bayur, meninggal 31 Maret 2002. Asbon
tutup usia pada 16 Maret 2004, sedangkan Oslan Husein dan Nurseha mendahului
keduanya beberapa tahun sebelumnya.
Mereka memang sudah pergi, tetapi meninggalkan jejak berupa musik Minang dan
Indonesia modern. Gumarang dengan irama Latin dan Teruna Ria
me-rock'n'roll-kan lagu serta musiknya. Sementara gitar bersuara saluang ala
Nuskan Syarif masih bisa dinikmati sampai sekarang bersama Kumbang
Tjari-nya.
Theodore KS Penulis Masalah Industri Musik
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of hambociek
Sent: 08 Oktober 2008 13:42
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] koleksi lagu Oslan Hosen --- Saiful Bahri
Siti Nurhaliza Ayam Den Lapeh:
http://www.youtube.com/watch?v=MEd_WVm7pe4&NR=1
Sebagai bukan Urang Minang, ucapannyo dapek kito nilai rancak.
Salam,
--MakNgah
|
Mak Ngah di pantai santa nan kuruih dan sanak sa palanta, Minang di Pahang
Ambo indak pasti tentang kaluargo
Siti Nurhaliza, walau pun ambo lamo bamukim di Kuala Lipis, Pahang – kampong
Siti Nurhaliza, iaitu dari tahun 1971 hingga 1979. Pahang memang mempunyai agak
rami urang Minang, nan tautamo di daerah Raub, sabab samaso parang Perak –
Pahang zaman daulu, Pahang mangpaggunokan rami tantara dari Minangkabau. Rami
rang gaek Minang masih bicara dalam bahaso Minang di siko – tautamo di Raub, Pintu
Padang, Pamah Kulat dan Dong. Antaro kasukaan mereka yang masih taruih hiduik ialah mamikek jo mamaliharo balam.
Ambo malah tasuo mereka bajualan karupuak jangek di Dong suatu maso daulu. Tampek lain di Malaysia indak ado karupuak jangek. Ciek nan mangherankan ambo, urang Minang di siko, gadang-gadang awaknyo.
Untuak mandanga ciek lai lagu Minang lamo, caro Nagari Sambilan, caliek di siko: http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related
Idris Talu Untuk menikmati keindahan alam semulajadi, layari: http://www.west-sumatra.com/ Untuk menambah maklumat alam Minangkabau, layari: http://www.cimbuak.net/ --- On Thu, 9/10/08, hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote: |
|
Untuak mandanga ciek lai lagu Minang lamo, caro Nagari Sambilan, caliek di siko:
http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related
Idris Talu
Lagu ko rancak lo dipakai untuak Iringan Acara "Pulang Basamo."
http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, Idris Talu <idristalu03@...> wrote:
>
> Mak Ngah di pantai santa nan kuruih dan sanak sa palanta,
>
> Minang di Pahang
>
> Ambo indak pasti tentang kaluargo
> Siti Nurhaliza, walau pun ambo lamo bamukim di Kuala Lipis, Pahang
â€" kampong
> Siti Nurhaliza, iaitu dari tahun 1971 hingga 1979. Pahang memang
mempunyai agak
> rami urang Minang, nan tautamo di daerah Raub, sabab samaso parang
Perak â€"
> Pahang zaman daulu, Pahang mangpaggunokan rami tantara dari
Minangkabau. Rami
> rang gaek Minang masih bicara dalam bahaso Minang di siko â€"
tautamo di Raub, Pintu
> Padang, Pamah Kulat dan Dong. Antaro kasukaan mereka yang masih
taruih hiduik ialah mamikek jo mamaliharo balam.
>
>
> Ambo malah tasuo mereka bajualan
> karupuak jangek di Dong suatu maso daulu. Tampek lain di Malaysia
indak ado karupuak
> jangek. Ciek nan mangherankan ambo,
> urang Minang di siko, gadang-gadang awaknyo.
>
>
> Untuak mandanga ciek lai lagu
> Minang lamo, caro Nagari Sambilan, caliek di siko:
>
> http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related
>
> Idris Talu
>
> Untuk menikmati keindahan alam semulajadi, layari:
>
> http://www.west-sumatra.com/
>
> Untuk menambah maklumat alam Minangkabau, layari:
>
> http://www.cimbuak.net/
>
> --- On Thu, 9/10/08, hambociek <hambociek@...> wrote:
> From: hambociek <hambociek@...>
|
Memang baitu lah sanak Riri! Loghat Nagari Sambilan memang baitu caro no. Bana disabuik botul, babeda jo Minang di Selangor jo Perak. Lamang disabuik lomang. Raso no indak saluruh urang Nagari Sambilan baasa dari Payokumbuah. Ado nan dari Piaman jo tampek-tampek lain.
Di siko bisa diliek foto-foto takaik Muzium Adaik di Kuala Klawang, Jelebu, Nagari Sambilan untuak tatapan sanak kasadonyo.
Muzium Adat Jelebu: http://www.omarbahrin.com/blog/2008/02/03/muzium-adat-jelebu/
Majlis Perasmian Muzium Adat Di Kuala Klawang http://www.heritage.gov.my/image_gallery/muzium_adat/window.php?0
Lembaga Muzium Negeri Sembilan: http://www.ns.gov.my/jabatan/muzium/index.php?option=com_content&task=view&id=32&Itemid=36
Idris Talu (L 57+) Ipoh. |
Untuk menikmati keindahan alam semulajadi, layari: http://www.west-sumatra.com/ Untuk menambah maklumat alam Minangkabau, layari: http://www.cimbuak.net/ |
| --- On Thu, 9/10/08, Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org> wrote: |
From: Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org> |
|
|
Paralu dikana, itu dialek Minang Negeri Sembilan. Mamang banyak
pangauahnyo dari daerah Limopuluah jo daerah Aliran Batang Sinama-
Kuantan dan Aliran Batang Sumpu. Meliputi dari Daerah Suliki ka
Selatan ka Derah Lintau sampai-sampai ka Sijunjung Uara.
Iko teks Dari Lagu Balik Kampung Tunang Pa' Dukun
Negeri Sembilan nan MakNgah cubo tulihkan.Tapi duo barih terakhir
ado nan kurang jaleh kato terakhirnyo. Tolong isi.
Salam,
--MakNgah
http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related
Jauah kito marantau pai marantau
Jalan kampuang salalu takona juo
Pulang lah kito pulang mari lah pulang
Basuo kawan-kawan nan samo gadang
Balari anak ruso duo sajoli
Dapek ditangkok dek anak Rajo Jawo
Kalau indak taleso di musim kini
Dihari tuo tantu ka pulang juo
Jauah kito marantau pai marantau
Jalan kampuang salalu takona juo
Pulang lah kito pulang mari lah pulang
Basuo kawan-kawan nan samo gadang
Eh Rang Mudo ... marilah kito pulang ...
Pandang lah padi kuniang-kuniang mangurai
Gunuang jo Bukik raso malambai-lambai
Bakicau-kicau bunyi Si Buruang Murai
Ibo hati maliek kampuang nan sansai
Jauah kito marantau pai marantau
Jalan kampuang salalu takona juo
Pulang lah kito pulang mari lah pulang
Basuo kawan-kawan nan samo gadang
Eh Rang Mudo ... marilah kito pulang ...
Ka pulang nak pulang ado dulang ….
Kapulang nak pulang ….
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@...>
wrote:
>
Tak dulang, nak dulang. Ado dulang, mintak lomang
Tak pulang, nak pulang. Mintak pulang tacongang congang
Tak dulang, nak dulang. Ado dulang, mintak lomang
Tak pulang, nak pulang. Mintak pulang tacongang congang
> Tak dulang, nak dulang...
> Ado dulang, mintak lomang!
> Tak pulang, nak pulang...
> Mintak pulang tacongang-congang! :)
sarato mancaliak pajalanan otonyo dari Seremban jo Kuala Pilah.
Ado kato antik nan lah lamo bana indak tadonga di awak, "taleso" nan
variasinyo taico, taleco, saleso. Sinonimyo mungkin, talakik, takawo
[terkaha? :)
> Kalau indak taleso di musim kini
> Dihari tuo tantu ka pulang juo
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@...>
wrote:
>
> Mak Ngah jo Uda Idris,
>
> Tarimokasi bana informasiko. Gambar musium sadang ambo bukak2 baru.
>
> Ambo setuju bana jo usul Mak Ngah supayo lagu "Balik Kampung"
jadi "theme
> song" pulang basamo. Kato2 dan beat nyo cocok bana.
>
> Untuak pak Saaf, Sanak Nuraini dan sanak MAPPAS lainnyo, iko
nampaknyo usul
> menarik.
>
> Mungkin da Nof bisa juo mausulkan ka petinggi2 Kereta Api untuak
mamasang
> lagu ko di stasiun2, mungkin cukup diambil irama dasarnya, seperti
lagu
> Sepasang Mata Bola yang jadi "jingle" stasiun di Yogya. Cubo lah
tonton lagu
> ko http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related,
mungkin lai
> sato lo awak maangguak angguak sudah tu.
>
> Mak Ngah, duo baris terakhir tu kalau manuruik pandangaran ambo:
>
>
> *Tak dulang, nak dulang. Ado dulang, mintak lomang*
>
> *Tak pulang, nak pulang. Mintak pulang tacongang congang*
>
> Nampaknyo iko samacam gurindam nan disampaikan dengan irama rap.
Ha ha, dari
> dulu seniman awak alah pandai "nge-rap", jadi bukan cuma Iwa K nan
bbrp
> tahun yll disukoi anak mudo.
>
> DI bawah ambo copy kan baliak catatan mak Ngah.
>
> RIri
> Bekasi, L 46
>
> *Balik Kampung - Tunang Pa'Dukun.*
> http://www.youtube.com/watch?v=j6s2xplTlhs&feature=related
>
> Jauah kito marantau pai marantau
> Jalan kampuang salalu takona juo
> Pulang lah kito pulang mari lah pulang
> Basuo kawan-kawan nan samo gadang
>
> Balari anak ruso duo sajoli
> Dapek ditangkok dek anak Rajo Jawo
> Kalau indak taleso di musim kini
> Dihari tuo tantu ka pulang juo
>
>
> Jauah kito marantau pai marantau
> Jalan kampuang salalu takona juo
> Pulang lah kito pulang mari lah pulang
> Basuo kawan-kawan nan samo gadang
>
> Eh Rang Mudo ... marilah kito pulang ...
>
> Pandang lah padi kuniang-kuniang mangurai
> Gunuang jo Bukik raso malambai-lambai
> Bakicau-kicau bunyi Si Buruang Murai
> Ibo hati maliek kampuang nan sansai
>
>
> Jauah kito marantau pai marantau
> Jalan kampuang salalu takona juo
> Pulang lah kito pulang mari lah pulang
> Basuo kawan-kawan nan samo gadang
>
> Eh Rang Mudo ... marilah kito pulang ...
>
>
> Tak dulang, nak dulang...
> Ado dulang, mintak lomang!
> Tak pulang, nak pulang...
> Mintak pulang tacongang-congang!
Tak dulang, nak dulang. Ado dulang, mintak lomang
Tak pulang, nak pulang. Mintak pulang tacongang congang
|
Wa'alaikumussalam wa rahmatullaahi wa barakaatuhu,
Mak St Lembang Alam jo sanak sa palanta kasadonyo,
Raso ambo indak baitu tanggapan urang awak di Samananjuang. Kalau namonyo rang awak – indak talinteh di hati ba parasaan baitu. Parasaan persaudaraan sa Minangkabau cukup kuek di hati urang awak di Samananjuang. Nan mandudu dari Samananjuang bawisata ka Ranah adalah majoritinya urang awak. Wassalam. |
Idris Talu (L 57+) Ipoh. Untuk menikmati keindahan alam semulajadi, layari: http://www.west-sumatra.com/ Untuk menambah maklumat alam Minangkabau, layari: http://www.cimbuak.net/ |
| --- On Fri, 10/10/08, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com> wrote: |
From: Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com> |
|
|