FW: [kurai_sakato] PDRI : Perjuangan gerilya Pemancar Radio YBJ-6

95 views
Skip to first unread message

Madahar (madahar)

unread,
Dec 19, 2013, 8:18:59 PM12/19/13
to rant...@googlegroups.com, m_ge...@yahoo.com

Assalamu’alaikum ww

Bapak/ibu dunsanak di Palanta Rantau-net, atas seizin dari bapak Mohd. Gempita Dt. Mangkuto Ameh saya teruskan tulisan beliau di Palanta Kurai.

 

Wassalamu’alaikum ww

Madahar Batuduang Ameh – Mato Banyiah Pisang Sarojo Dt Nan Laweh

 

"Learning by Doing"

 

From: kurai_...@yahoogroups.com [mailto:kurai_...@yahoogroups.com] On Behalf Of Mohd. Gempita
Sent: Thursday, December 19, 2013 7:31 PM
To: Kurai_...@yahoogroups.com
Subject: [kurai_sakato] PDRI : Perjuangan gerilya Pemancar Radio YBJ-6

 

 

Perjuangan gerilya Pemancar Radio YBJ-6 pada masa PDRI

Tanggal : 10 November 2013

Oleh:  MOHD. GEMPITA, SH *)

 

PENDAHULUAN :

Tulisan ini tentang epos kepahlawanan perjuangan gerilya sebuah Pemancar Radio Jawatan PTT (Pos Telegrap dan Telepon) Republik Indonesia type lab zender berkekuatan 160 watt, yang beroperasi pada frekuensi 9075 Kcs, dengan call sign (kode panggilan) YBJ-6, atau lebih dikenal dengan nama Pemancar Radio YBJ-6.

 

Pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Pemancar Radio YBJ-6 melakukan perjuangan gerilya yang dimulai dari kota Bukittinggi. Pada masa PDRI itu, Bukittinggi adalah ibu kota Negara Republik Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

 

Dengan Pemancar Radio YBJ-6 inilah pada tanggal 25 Januari 1949 nota telegram Ketua PDRI tentang pengangkatan Mr. Maramis sebagai Menteri Luar Negeri R.I dikawatkan ke New Delhi melalui Pemancar Radio VWX-2 milik India. Nota tersebut dikirim oleh pejuang gerilya Pemancar Radio YBJ-6 dari kampung Bodi di Tangah Padang, Balai Tangah, Lintau, Sumatera Barat.

 

Fisik perangkat Pemancar Radio YBJ-6 yang pernah bergerilya tersebut sudah sejak lama disimpan dan dipamerkan di dalam Museum ABRI di Jl. Panorama Bukittinggi, berwarna hijau, yang kalau dilihat sepintas seperti lemari besi. Ciri Museum ABRI di Jl. Panorama ini, di halaman depannya bertengger pesawat terbang.

Sedangkan diorama pemancar radio perjuangan YBJ-6 dapat dilihat di Museum Telekomunikasi di Taman Mini Indonesia Indah.

 

Pemancar Radio YBJ-6 ini adalah pemancar radio telekomunikasi dengan teknologi HF (high frequency) yang berfungsi mengirim informasi kepada si teralamat melalui stasiun radio telekomunikasi lainnya dengan menggunakan teknologi morse dan broadcast.

Informasi yang dikirim dari Pemancar Radio YBJ-6 hanya dapat diterima oleh pegawai di stasiun radio telekomunikasi yang dituju. Selanjutnya pegawai stasiun radio yang dituju akan menyerahkan kepada si teralamat dalam bentuk surat telegram untuk dibaca.

Jadi, Pemancar Radio YBJ-6 bukanlah jenis pemancar radio siaran seperti yang biasa kita dengar dari pesawat radio di rumah yang materi siarannya berupa warta berita, lagu-lagu, pengumuman dan sebagainya.

 

Pada tanggal 19 s.d 22 Desember 1984 selama 4 hari berturut-turut telah diselenggarakan Napak Tilas Perjuangan Gerilya Pemancar Radio YBJ-6, yang upacara pembukaannya diselenggarakan tanggal 19 Desember 1984 di Lapangan Kantin Bukittinggi dengan inspektur upacara Menteri Perhubungan Ahmad Taher.

 

II. RUTE GERILYA :

Pemancar Radio YBJ-6 milik Jawatan PTT Republik Indonesia tersebut telah melakukan perjuang gerilya pada masa PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) sejak 19 Desember 1948 sampai akhir Desember 1949, menembus rimba menuruni ngarai meniti sungai di daerah pedalaman Sumatera Barat, dengan peristiwa dan rute gerilya sebagai berikut :

 

1. Tanggal 19 Desember 1948 Belanda memulai Agresi Militer Ke-2 dengan membombardir Yogyakarta, Bukittinggi dan kota-kota lainnya, serta presiden Soekarno dan wakil presiden Muhammad Hatta ditawan Belanda.

Di Bukittinggi, bom pertama jatuh pukul 8 pagi dengan sasaran Markas Tentara Republik Indonesia (TRI). Selanjutnya pada hari itu bom jatuh di Kantor Kawat Jawatan PTT di Jl. Birugo, Stasiun Pemancar Radio Jawatan PTT di Ateh Lurah Tarok, Stasiun Penerima Radio Jawatan PTT di Garegeh, Stasiun Pemancar Radio Tentara R.I, dan Radio Republik Indonesia (RRI) di Benteng.

Gedung Stasiun Pemancar Radio Jawatan PTT di Ateh Lurah Tarok termasuk yang rusak dibombardir. Namun mukjizat terjadi, Pemancar Radio YBJ-6 yang ada di dalamnya, selamat, karena sebuah bom yang jatuh di sebelahnya tidak meledak. Ketika itu Jawatan PTT Bukittinggi dipimpin Ahmad Basah seorang republikein.

 

2. Tanggal 19 Desember 1948 malam hari, atas inisiatif Adjas Baheram, maka para anggota Korps Istimewa PTT yang terdiri dari Pegawai Jawatan PTT yang militan dan republikein, membongkar Pemancar Radio YBJ-6 beserta perangkat pendukung pengoperasiannya yang masih ada di Stasiun Pemancar Radio PTT di Ateh Lurah Tarok Bukittinggi, maupun yang ada di Stasiun Penerima Radio PTT di Garegeh Bukittinggi.

Pemancar Radio YBJ-6 beserta perangkat pendukungnya seperti generator, radio penerima merek RCA, kunci-kunci morse, kawat antena, drum oli dan bensin, dinaikkan ke atas truk pada malam itu juga.

 

3. Pemancar Radio YBJ-6 diangkut dari Bukittinggi dengan truk mulai dari Ateh Lurah Tarok (lokasi SMP Negeri sekarang, yang dahulu adalah tempat berdirinya bangunan Stasiun Pemancar Radio PTT) lalu dibawa ke Garegeh (lokasi SD Neg Garegeh sekarang, yang dahulu tempat berdiri bangunan Stasiun Penerima Radio PTT) dan selanjutnya beserta perangkat pendukungnya dibawa ke lokasi berkumpulnya tokoh-tokoh PDRI di Pauh Tinggi Halaban, di daerah perkebunan teh Gunung Sago.

Tanggal 21 Desember 1948 sore, Pemancar Radio YBJ-6 sudah dapat berhubungan dengan stasiun radio lainnya di Indonesia.

 

4. Dalam beberapa hari berikutnya, Bukittinggi dan Baso sudah diduduki Belanda kembali.

PDRI memerintahkan Pemancar Radio YBJ-6 beserta awak yang mengoperasikannya untuk mengungsi dari Pauh Tinggi Halaban ke Bangkinang.

Kemudian tujuan pemindahan Pemancar Radio YBJ-6  tersebut diubah menjadi ke daerah Lintau.

 

5. Dari Pauh Tinggi Halaban, Pemancar Radio YBJ-6 dan perangkat pendukungnya yang beratnya tidak kurang dari total 750 Kg, diangkut pada malam hari dengan dipikul beramai-ramai berjalan kaki ke kampung Bodi di Tangah Padang Balai Tangah, Lintau.

Mulai dari perjalanan dari Pauh Tinggi ke Tangah Padang inilah awal dimulainya Perjalanan Perjuangan Gerilya Pemancar Radio YBJ-6 yang berat dan penuh tantangan.

 

6. Sebelum ibu kota Yogyakarta diserbu Belanda 19 Desember 1948, antara Indonesia dan India mempunyai jalur hubungan radio telegrafi. Yang pernah mengadakan hubungan dengan Pemancar Radio PTT di Yogyakarta adalah Pemancar Radio VWX-2 milik pemerintah India.

Dengan jatuhnya Yogyakarta, maka terputuslah hubungan radio telegrafi tersebut, dan terputus pulalah satu-satunya jalur komunikasi dengan dunia internasional yang dimiliki oleh Pemerintah R.I, sehingga Indonesia terisolir dari dunia luar.

Sementara itu di New Delhi India akan diselenggarakan Konferensi Asia Pertama.

Untuk menyambungkan kembali jalur telekomunikasi dengan dunia internasional, maka PDRI memerintahkan kepada awak Pemancar Radio YBJ-6 untuk mengusahakan tersambungnya jalur telekomunikasi dengan India.

Sedangkan sebelumnya Pemancar Radio VWX-2 India belum pernah mempunyai hubungan dengan Pemancar Radio YBJ-6.

Dengan bermodalkan perkiraan yang serba untung-untungan, maka mulai tanggal 14 Januari 1949 dan terus dilakukan setiap malam, dipanggillah Pemancar Radio VWX-2 India melalui saluran morse radio yang diketok-ketok dengan tangan dan secara broadcast.

Isi nota telegram panggilan terhadap Pemancar Radio VWX-2 di India pada intinya memberitahukan keberadaan Pemancar Radio YBJ-6, lengkapnya sebagai berikut :

“to chief of vwx-2 rri ybt 1= pse be so kind to observe our x-mitters ybj-6 rpt ybj-6 and ybx rpt ybx quote operating respectively on the wavelengths of 9075 kc and 8500 kc rpt 8500 kc comma daily on the air at 1700 hours indian standars time stop hoping to have communication with us fullstop =chief of ybj-6 adjas b”.

Usaha yang dilakukan secara bergantian oleh para operator Korps Istimewa PTT tersebut pada awalnya tanpa hasil, karena VWX-2 selalu berhubungan dengan Hongkong, Sydney dan stasiun lain.

Usaha yang melelahkan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada tanggal 17 Januari 1949, Pemancar Radio VWX-2 India mengirim morse yang merupakan balasan terhadap panggilan Pemancar Radio YBJ-6 :

“ybj-6 de vwx2 – relay reports ybj-6 heard now comma getting faster comma remain callsign”.

Adjas Baheram segera membalasnya :

“to chief of vwx2 new delhi= today January 17th 1949 vwx2 heard comma greatly pleased with your cooperation to have comma with ybj6 daily at 12.30 gmt stop yr brc received fullstop =chief of ybj6 adjas b”.

Dengan demikian tembuslah blokade Belanda di bidang telekomunikasi. Keberhasilan tersebut dilaporkan oleh awak Pemancar Radio YBJ-6 kepada Ketua PDRI dan Gubernur Militer.

 

7. Tanggal 19 Januari 1949, telegram pertama dari Ketua PDRI Mr. Syafrudin Prawiranegara kepada Dr. Sudarsono yang berada di New Delhi India, berhasil dikirim dari Pemancar Radio YBJ-6 melalui Pemancar Radio VWX-2, yang intinya berharap Konferensi Asia di New Delhi dapat menemukan solusi yang adil untuk menghentikan agresi Belanda di Indonesia, jika solusi tersebut tidak bisa dilaksanakan meskipun ada tekanan internasional terhadap Belanda maka rakyat Indonesia siap untuk melanjutkan perjuangan sampai tercapainya tujuan kebebasan dan pemerintahan sendiri.

Isi lengkap telegram tersebut sebagai berikut :

“zz nr 086 19/1 14.33 via zz/ybj-6 – the asia conference through the indonesia representative at new delhi comma dr soedarsono india – no 21/pdri date january 19th 1949 on the occasion of the opening of the asia conference my take opportunity on behalf of the provisions government of the rep of indonesia and its people to express our heartfelt thanks and congratulations to all the governments who comma responding to the invitation of indias prime minister comma ever willing to send the in representatives to this conference stop we realize that the asia conference could not be called together comma the participating governments were not convinced that indon fate is fully connected with that of their countries stop peace and order in indon is not a matter which only concern the indon comma still less the dutch comma but is an important thing for all our neighbour countries and for the world in general stop therefore we are convinced that the asia conference will find the means to stop dutch agression in indon and to lay the foundations for everlasting peace in asia and for the world in general stop may the asia conference further be an example for the uno and the security council how to work and cooperate between nations for the aims as laid down in the atlantic charter stop as we have once put for the h.e pandit jawaharlal nehru comma the indon gov and people are quite willing to accept a just solution in the indon dutch contact following the lineas as laid down in the live principles as stated by the rep gov for a ceasefire order and further discussions with the dutch stop if such a solution could not be reached in spite of international pressure upon the dutch comma the indon people is quite prepared to continue her struggle against dutch imperialism till her aims of freedom and selfgovernment are fully realized fullstop =chief of the provisional gov of the rep indon”.

Telegram tersebut dilkirim dari kampung Bodi di Tangah Padang, Balai Tangah, Lintau.

 

8.       Pada hari yang sama tanggal 19 Januari 1949, Ketua PDRI menulis sebuah telegram lagi yang ditujukan kepada Mr. Maramis melalui Dr. Sudarsono wakil Indonesia di New Delhi, yang intinya mengangkat Mr. Maramis sebagai Menteri Luar Negeri R.I dan berharap Mr. Maramis menyetujui pengangkatan tersebut dan menginformasikan kepada Ketua PDRI semua hal yang penting.

Isi lengkap telegram tersebut sebagai berikut :

“via zz/ybj-6 – dr maramis through dr soedarsono indon representative new delhi nr 22/pdri date january 19th 1949 stop we herewith inform you that by the provisional government you are appointed minister of foreign affairs stop in that quality you are fully empowered by our government to represent her in all matters concerning foreign affairs stop we hope you are willing to accept this appointment stop further please try to get continually in contact with us and to inform us about all important matters fullstop =chief of the provisional government of the rep of indon dr s prawiranegara”.

Namun karena sulitnya medan dan transportasi antara lokasi kedudukan Markas PDRI dengan lokasi Pemancar Radio YBJ-6 di kampung Bodi di Tangah Padang, Balai Tangah, Lintau, maka telegram yang sangat penting tersebut baru dapat dikawatkan oleh Pemancar Radio YBJ-6 kepada Pemancar Radio VWX-2 di India pada tanggal 25 Januari 1949.

Telegram bersejarah yang mengangkat Mr. Maramis sebagai Menteri Luar Negeri R.I ini diterima oleh Mr. Maramis dengan selamat.

Sehubungan dengan diangkatnya Mr. Maramis sebagai Menteri Luar Negeri R.I, maka pada tanggal 29 Januari 1949, selaku Menteri Luar Negeri R.I Mr. Maramis mendapat kesempatan berbicara di corong All India Radio kepada rakyat Indonesia. Ia menyampaikan terima kasih Pandit Jawaharlal Nehru kepada PDRI atas sambutan PDRI pada pembukaan Konferensi Asia Pertama di New Delhi.

 

9. Untuk menyambut peristiwa yang bersejarah tersebut maka Gubernur Militer Sumatera mengirim telegram kepada Pemerintah India dan kepada para anggota delegasi Konferensi Asia Pertama dengan berharap dukungan untuk demokrasi dan kebebasan Indonesia dari tirani Belanda.

Isi lengkap telegram tersebut sebagai berikut :

“his excellency pandit j nehru and all delegates of pan asiatic conference c/o dr soedarsono new delhi – we say our highly healthy congratulation comma thank and respect to his excellency as promotor of the conf and to all delegates and observers stop we fully hope stop will be taken by the president conf to support our struggle for freedom and democracy against dutch tyranny stop our people express more confidence to the present conf than to the security council stop on behalf of the ind people military governor westcoast sumatera”.

 

10.Meskipun presiden Soekarno dan wakil presiden Muhammad Hatta ditawan Belanda, namun dengan berhasilnya pengiriman telegram tersebut, maka dunia luar menjadi tahu bahwa Republik Indonesia masih ada dan tetap berdiri dengan tetap dipenuhinya syarat sebuah negara, yaitu ada wilayah, ada rakyat dan ada pemerintahan yang sah.

 

11.Dengan keberhasilan tersebut, maka Belanda semakin gencar mencari informasi dan menyebar mata-mata mengintai lokasi Pemancar Radio YBJ-6 untuk dihancurkan.

Ketika Halaban diserbu Belanda dari arah Payakumbuh, maka perangkat Pemancar Radio YBJ-6 dibongkar untuk dipindahkan dari kampung Bodi Balai Tangah Lintau ke kampung Lareh Aia di seberang sungai Batang Sinamar.

Kesulitan timbul karena satu-satunya jalan ke Lareh Aia ialah harus menyeberang sungai melalui jembatan gantung yang terbuat dari kayu, yang sangat berisiko untuk dilalui dengan beban yang berat.

Namun dengan tekad bahwa hubungan telekomunikasi dalam keadaan apapun harus dapat dilaksanakan dan apapun konsekuensinya, maka atas bantuan pemuda, dan karena kebesaran Tuhan pula, Pemancar Radio YBJ-6 beserta para pejuang dapat selamat sampai di tujuan.

Sebelum pemindahan ini, Pemancar Radio YBJ-6 telah beroperasi di kampung Bodi Balai Tangah Lintau selama +/- 2 bulan.

 

12.Karena selalu dicari Belanda, maka Pemancar Radio YBJ-6 dari Lareh Aia Lintau terus diangkut berpindah-pindah dengan dipikul melalui jalan setapak di tengah rimba ke Talang, Sangki Tingga, Koto Panjang, Tanjuang Bonai Aua, dan kemudian terus ke Sabiluru.

Di Sabiluru, Pemancar Radio YBJ-6 beroperasi selama 6 bulan, di antaranya dilakukan komunikasi telegram antara Wakil Presiden Moh. Hatta yang sedang berada di Aceh dengan Ketua PDRI Mr. Syafrudin Prawiranegara. Komunikasi tersebut terjadi setelah Soekarno Hatta dibebaskan oleh Belanda. Setelah komunikasi tersebut, Mr. Syafrudin Prawiranegara menyerahkan mandatnya kembali kepada presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949.

 

13.Setelah di Sabiluru, Pemancar Radio YBJ-6 dibawa ke Sipua dan terus ke Sumpur Kudus.

 

14.Setelah rombongan gerilya mendengar informasi Penyerahan Kedaulatan dari Belanda tanggal 19 Desember 1949, Pemancar Radio YBJ-6 dibawa dari Sumpur Kudus ke Unggan, terus melalui hutan belantara dibawa ke Padang Rungo, Tanjuang Lansek, Pamasian, dan terus ke Tembok Halaban dan Alang Laweh Halaban.

 

15.Pada akhir Desember 1949, sebagian rombongan gerilya Pemancar Radio YBJ-6 sudah ada yang berangkat memasuki kota Bukittinggi. Pada awal Januari 1950, Pemancar Radio YBJ-6 telah dapat beroperasi kembali di Bukittinggi.

 

SUMBER tulisan ini :

1. Penjelasan lisan Pelaku Sejarah kepada penulis pada tahun 1984 ketika melakukan perjalanan survey menelusuri rute gerilya Pemancar Radio YBJ-6.

2. Perjuangan Pemancar YBJ-6, terbitan PERUMTEL.

3. Sejarah Pos dan Telokomunikasi di Indonesia, jilid II Masa Perang Kemerdekaan, terbitan Ditjen Postel Departemen Perhubungan.

 

 

KETERANGAN :

*) Pada tahun 1984, penulis yang didampingi beberapa orang pelaku sejarah yang masih hidup dan beberapa anggota lainnya yang tergabung dalam Team Survey, melakukan perjalanan berhari-hari menelusuri rute gerilya Pemancar Radio YBJ-6 :

a. Dengan naik mobil (seperti yang dilakukan pejuang pada masa lalu), mulai dari Ateh Lurah Tarok Bukittinggi, lalu ke Garegeh Bukittinggi, dan terus ke Pauh Tinggi Halaban.

b. Dengan berjalan kaki (seperti yang dilakukan pejuang pada masa lalu), mulai dari Pauh Tinggi Halaban, Tangah Padang Balai Tangah Lintau, Lareh Aia, Talang, Sangki Tingga, Koto Panjang, Tanjuang Bonai Aua, Sabiluru, Sipua, Sumpur Kudus, Unggan, lalu masuk hutan belantara ke Padang Rungo, Tanjuang Lansek, Pamasian, Tembok Halaban, dan berakhir di Alang Laweh Halaban.

Dari hasil survey tersebut maka pada tanggal 19 Desember 1984 diselenggarakan Napak Tilas Pemancar Radio YBJ-6 selama 4 hari berturut-turut yang pesertanya terdiri dari ABRI (AD, AL, AU, POLRI), karyawan PT. Telkom (d/h Perumtel), PT. Pos Indonesia, Veteran, KNPI, Pramuka, Siswa SMP, SMA dan Mahasiswa, yaitu :

Hari ke-1 (19 Desember 1984), etape-1 naik mobil dari Bukittinggi ke Halaban, dan dilanjutkan berjalan kaki sampai Balai Tangah Lintau.

Hari ke-2 (20 Desember 1984), etape-2 berjalan kaki dari Balai Tangah sampai Tanjuang Bonai Aua.

Hari ke-3 (21 Desember 1984), etape-3 berjalan kaki dari Tanjuang Bonai Aua sampai Sumpur Kudus.

Hari ke-4 (22 Desember 1984), etape-4 berjalan kaki dari Sumpur Kudus sampai Alang Laweh Halaban.

Karena etape-4 masuk hutan belantara, maka pesertanya hanya dari ABRI (AD, AL, AU, POLRI).

Upacara pembukaan dan pelepasan peserta Napak Tilas dilakukan di Lapangan Kantin Bukittinggi pada tanggal 19 Desember 1984 dengan inspektur upacara Menteri Perhubungan Ahmad Taher.


TAMAT

__._,_.___

Reply via web post

Reply to sender

Reply to group

Start a New Topic

Messages in this topic (1)

Recent Activity:

.

__,_._,___

Dr. Saafroedin Bahar

unread,
Dec 19, 2013, 8:36:43 PM12/19/13
to rant...@googlegroups.com, rant...@googlegroups.com, m_ge...@yahoo.com
Luar biasa. Lengkap sekali. Terima kasih.

Wassalam ,
SB, 77, Sby. 

Sent from my iPad
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Akmal Nasery Basral

unread,
Dec 19, 2013, 8:50:06 PM12/19/13
to rant...@googlegroups.com

...
    Tetapi di situlah aku mendengar bahwa rupanya pihak AURI bukan hanya para pilot yang mahir menerbangkan pesawat tempur seperti bayanganku sebelumnya. Mereka juga bertanggung jawab atas keselamatan beberapa stasiun radio yang digunakan sebagai alat komunikasi.
     "Lapor Residen, pesawat pemancar radio YBJ-6 yang dibawa ke Halaban kemarin bersama rombongan PDRI, sudah berhasil mengadakan kontak dengan kami," ujar Komodor H. Suyono yang menjabat sebagai Kepala Staf AURI.
     "Bagus," jawab Residen Rasyid. "Siapa yang mengoperasikan di sana?"
     "Ada beberapa orang di bawah pimpinan Mayor D.S. Ardiwinata."
     "Hasilnya bagaimana? Sama sekali tak ada masalah?"
     "Cukup baik, suara bisa terdengar jelas, meski sangat tergantung pada kondisi cuaca."
     "Jadi sekarang kita bisa berkomunikasi dengan Ketua PDRI?"
     "Silakan dicoba Residen."
     Kulihat dua orang anggota AURI mengutak-atik seperangkat alat yang baru pertama kali kulihat. Peserta rapat lainnya memperhatikan dengan cermat. Awalnya seperti tak ada kejadian apa-apa. Dua anggota AURI itu melanjutkan mengutak-atik alat sebelum akhirnya terdengar suara seperti desau angin dan suara  "brrrrrr" yang panjang.
     Komodor Suyono mengambil alih. "Halo, halo ... Halaban? Komodor Suyono dari Bukittinggi di sini."
     Suara desau angin dan "brrrrr" terdengar berganti-ganti.
     "Halaban? Apakah bisa mendengarkan Bukittinggi?" tanya Suyono berkali-kali.
     Wajah hadirin kulihat semakin tegang. Dua petugas AURI bahkan sudah meneteskan keringat. Residen Rasyid menunjukkan raut wajah yang tak bisa kubaca, apakah dia masih ingin melanjutkan percobaan itu atau sebaliknya merasa terganggu.
     "Halaban..." ulang Suyono sekali lagi.
     "Di sini Halaban ..." ujar sebuah suara dari seberang yang terdengar seperti sedang digulung badai persis di belakangnya.
     Begitu mendengar suara itu, sebagian hadirin mengucapkan "alhamdulillah" sambil menengadahkan tangan mereka ke atas. Wajah Komodor Suyono dan Residen Rasyid sama-sama tersenyum.
     "Di sini Residen Rasyid ingin bicara dengan Ketua PDRI. Apakah bisa?" tanya Suyono.
     Terdengar lagi suara desau angin dan "brrrrrrrrr" selama beberapa jenak sebelum terdengar jawaban.  "Di sini Ketua PDRI ... apa kabar Mr. Rasyid?" ujar suara yang di telingaku terdengar timbul tenggelam.
     Namun suara yang sesayup sampai itu mempunyai pengaruh yang berbeda bagi peserta rapat. Mereka berdiri dan berpelukan dengan wajah haru. Bahkan ada yang sampai bertakbir keras sekali. "Allahu Akbar!"
    Suyono segera pindah tempat, memberikan kesempatan kepada Residen Rasyid untuk bicara. "Alhamdulillah kabar baik ... Pak Syaf bagaimana?" tanya Residen.
    "Baik ... baik ..." Lalu senyap selama beberapa saat. "Kami di sini baik-baik. Bagaimana Bukittinggi?"
    "Masyarakat mulai mengungsi..."
    
(Cuplikan novel Presiden Prawiranegara, hal. 192-194).

Wass,

ANB
45, Cibubur


--
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages