Dalam perjalanan dari Sibuhuan menuju Pekanbaru sejenak saya mampir makan siang di Pasir Pangairaian. Seperti biasa jika saya bertugas di ibu Kota Kabupaten Rokan Hulu ini jika urusan "los lambung" maka rumah makan yang terletak di pinggiran jalan utama yang membelah kota ini menjadi pilihan pertama saya dalam menyelesaikan urusan "los lambung"
Dari berbagai pilihan menu masakan orang Pasir (Kampar) yang tidak jauh berbeda dengan cita rasa masakan ranah minang maka saya selalu ingin mencicipi yang rasa-rasanya tampil beda dan jarang dijumpai di rumah makan kebanyakan kota Pekanbaru
Menu itu saya kasih saja namanya "Asam Pedas Telur Ikan Berselimut Daun Kunyit" dari penampilan secara fisik menu ini saya pikir tidak terlalu sulit untuk membuatnya, hanya sebuah variasi lain dari kebanyakan asam pedas sebut saja asam pedas daging, asam pedas ikan baung atau asam pedas jenis ikan laut lainnya
Asam pedas telur ikan ini, kebetulan yang saya cicipin ini telur ikan Mas yang pada intinya apapun jenis telur dari ikan yang ukurannya sangat kecil dan banyak bisa dibuat, apakah itu telur ikan sungai (kolam) ataupun telur ikan laut kita bisa menghadirkan menu ini ditengah keluarga
Sederhana saja cara membuat asam pedas telur ikan ini, menurut Ibu yang punya rumah makan ini, telur ikan yang telah dikumpulkan dalam jumlah yang banyak diberi bumbu bawang merah, bawang putih, jahe yang telah dihaluskan serta sedikit garam lalu diambil beberapa sendiok makan dibungkus dengan daun kunyit utuh dua lapis saling bersilang lalu bisa dikiat dengan tali pelapah pisang atau disemat dengan lidi, bisa juga di ikat seperti "kepala pocong" (saya pikir anda bisa membayangkan bagaimana membungkus telur ikan ini dengan daun kunyit)
Telur ikan yang berselimut daun kunyit ini di gulai dengan kuah asam pedas seperti halnya membuat asam pedas ikan, setelah matang telur ikan didalam daun kunyit tadi saling bersatu dan siap dihidagkan
Rasanya ? Mmm cukup mengundang selera dan meransang nafsu makan yang lagi patah selera, jika patah hati saya pikir memang tidak bisa diobati dengan rasa asam pedas telur ikan ini (mengadu saja Anda sama Mama Loren ya, itu kalo perjaya dunia paranormal dan perdukunan kalau patah hati he he , selingan gaya menulis aja Bro)
Tentunya rasa telur ikan ini "berat" pada rasa dun kunyit yang khas tapi lidah masih bisa mentolerir rasa keras aroma daun kunyit ini karena diimbangi kuah asam pedas yang seger dan rasa yang asam sedang khas dari aroma rasa asam. Kandis apalagi dilumat dengan menyuap nasi panas semua rasa akan menyatu dan lidah serta perangkat alat kunyah dan rasa anda dalam rongga mulut akan menerima dengan "bahagia".dan rasa bahagia itu diterjemahkan sama lidah anda yang bergoyang tak terkendali dengan tarikan yang spontan serta responsif menerima rasa asam pedas telur ikan yang khas ini
Silahkan mencoba memasak asam pedas telur ikan berselimut daun kunyit ini sebagai alternatif dari berbagai hidangan. Bersantap makan anda bersama keluarga di rumah
Soal rasa memang tidak pernah bohong yang enak tetap akan dibilang enak, jika saya kasih nilai "enak" menu khas daerah Kampar ini maka bolehlah B plus, dalam arti saya pernah merasakan yang nilai A di Bangkinang untuk jenis masakan asam pedas telur ikan ini
Salam Kuliner "life on a plate"
Pasir Pengairaian, 14 Januari 2010
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Setiap hari rabu, sering dijual di pasar Sungai Tarab. Karena larisnya,
seringkali sebelum matahari tergelincir dari puncak, pangek telur ikan
dari Ombilin ini sudah habis.
Pangek ikan di bao urang Ombilin
Asam raso katiko mancubo
Bakaringek badan basarato dingin
Damam kuro ruponyo nan Manimpo
Salam
andiko
> Sent from my BlackBerry� smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bendi ko sadang tagak di rantau berangin, sadang mangopi dilapau dilayangkan juo pandangan jauh ka nagari2 kampuang awak tanah data
Dilayangkan pandang kajalan, jalan nan basimpang duo kok kasuokl dielo bendi ko raso kadibawoknyo ambo ka pakan kamih sangka..lah jaleh sore ko anak dagang lah maurak lapak mambaok katidiang pangek tu ka ombilin dan simawang
Yo pangek tu bana nan maimbau kini sadang bamanuang bacaliak juo sungai kampar nan ba hulu diranah awak ko sambia diiruik sadaguak2 kopi angek ko
Tapi katiko dilayang jalan nan bacabang duo ko ka kida ahaa yo induk beras itu betul yang keras memanggil daku
"Pulang lah laii udaaa oii"
Tentu keras hati saya mengambil jalan berbelok kesebalah kiri ini, di sangka Pakan Kamis sekarang adinda, di Pekanbarupun hari ini "Kamis" juga :)
Bila-bila (maksud saya kapan kapan gitu lo) adinda Andiko dan Reni usai lah Pekan Kamis Sangka itu dendangkanlah pangek ombilin dan pangek simawang itu..
Teringat jugalah sama saya Andi sangkek sari itu ketika saya kecil sebelum naik oto APD di Terminal lama ke Padang, etek saya membelikan oleh2 buat emak saya pangek itu, ada sejenis buah putih dia sebesar kelupak jering warna putih itu yang dipangek rasanya khas berderus lembut, apa ini yang dikatakan buah Simawang tahukah Andiko ?
Saya bayar lah lagi kopi ini, tegak saya lagi dari lapau ini, saya hela bendi tentu belok ke kida saya ambil,
Oh ya Andiko tadi saya makan siang tidak banyak peluh saya keluar..karena cuaca mendung hujan gerimis saja..seperti lagu Iwan Fals yang kudengar dalam perjalanan
"Mendung menjadi teman karna matahari tertutup awan ...ada juga keindahannya..la la la la...la la la"
Teringat jugalah saya keringat ketika makan enak ini
Dikampung saya membajak tidak berkeringat tapi malam hari saya dapat demam panas dingin dek kuro dibuatnya
Tapi ketika saya makan di dangau sawah, berkeringat banyak, sampai basah baju dari kain tetoron saya :)
Lalu ketika dikampung orang bnergotong royong membuat tali banda ada terletak cangkul 20 buah tapi yang terpakai hanya 12 buah saja, tersisa 8 cangkul
Ketika makan siang tadi cipia alias piring ada juga 20 buah terpaksa dijemput 20 puluh lagi kerumah gadang ha ha ha
Giliran makan aja..udah deh
Di lajuik lai kudo ko Andiko
Salam_Mat Jepe
Simawang-Bukik Konduang, yo malayang pulo pangana kasinan, ba menhir
diatehnyo, jalan tambuih ka Batu Limbak, taparogok kito tapi danau.
Nagari na pernah legendaris, tampek lokasi Kaba Lareh Sumawang. Panah
ambo pai baralek ka sinan, ikan siam gadang nan jadi pajangan, manitiak
aia liu mancaliaknyo, namun sayang, indak buliah dikicok, karano samba
pajangan.
Satantang buah ko, ambo indak ingek da, tapi nan taingek adolah asam
bareh nan kuniang ketek-ketek dimasuakkan juo ka dalam pangek ko. Asam
bareh ko dulu ukatu ketek-ketek, kami tumbuah jo lado dan garam, yo
sabana manitiak aia liua deknyo. Kadang dibuek urang pulo jadi manisan.
Kini alah jarang asam ko basuo dek ambo. Tapi untuang di suduik rumah
masih ado sabatang.
Elok-elok maracak si-Gumarang tu, jan talalu di antaman kaki ka gas,
ati-ati mamuta stiur.
Salam
andiko
> Sent from my BlackBerry� smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!