Sedikit data menyangkut sejarah Air Bangis (Aia Bangih)

809 views
Skip to first unread message

Lies Suryadi

unread,
Mar 9, 2008, 12:18:25 PM3/9/08
to Rant...@googlegroups.com

Mamak2, Apak2, Uni2 sarato dunsanak di lapau,

 

Di bawah ambo postingkan alihaksara sepucuk surek dari Aia Bagih bertarikh sekitar 1793/1794. Aslinyo surek ko ditulih jo aksara Jawi (Nan mudo2 Minang lai pandai juo mambaco huruf Jawi lai?). Kini surek ko tasimpan di Leiden University Library di bawah kode Cod.Or.2241-IIb 7 [Klt 7/no. 142]. Seperti dapek dikesan dari isi surek ko, dalam surek ko tergambar hubungan panguaso Aia Bangih jo Ulando nan bapusek di Padang di satu pihak dan Aceh  di lain pihak, nan kejayaannyo di pantai barat Sumatra mulai redup menjelang akhir abad ke-19 dek disaingi dek Kompeni Ulando.

 

Ado beberapa kato (batando merah) nan alun yakin bana ambo apo batua, sabab tulisan Jawi surek ko gak sulik dibaco. Angko-angko an diapik dek tando / / manandokan pergantian baris pado surek aslinyo. Huruf-huruf dalam tando kuruang siku adolah tambahan dari ambo (pengalihaksara) sendiri. Sapanjang nan ambo liek, umumnyo tulisan Jawi surek2 dari Minangkabau gak buruak. Jadi, kebanyakan datuak kito dulu, juo ulama, pandai manulih Jawi, tapi seninyo kurang. Surek2 dari Minangkabau jarang nan beriluminasi.

 

Pasan (sasuai jo konvensi dunia ilmiah): kalau ado nan manfaaik'kan surek ko untuak rujukan tulisan ilmiah, sabuiklah sumbernyo. Tantu indak salah juo kalau disabuik namo ambo sebagai pengalihaksara (transliterator), sabab lah pakai kaco pembesar bagai mambaco surek aslinyo, badakek'an incat mato ka laman surek nan baumua labiah 230 thaun tu, he he he.

 

Mudah2an transliterasi/alihaksara surek ko sugiro akan muncul dalam http://www.anu.edu.au/asianstudies/ahcen/proudfoot/MCP/

di bawah judul Nine Letters from West Sumatra. Limo di antaro surek2 itu adolah surek2 dari Panglimo Rajo Di Hilir, pejabat pribumi di Padang pada akhir abad ke-19 nan dikirimkan ka Gubernur Jenderal Kompeni di Batavia. Satu surek malaporkan keadaan kota Padang setelah dijarah dek bajak laut Perancis Le Meme tgl. 7 Desember 1793. Anak buah Le Meme ko sampai manggali kuburan Cino di Gunuang Monyet di Subarang batang Arau karano picayo dalam kuburan tu ado ameh. Lebih jauah mengenai penjarahan Le Meme terhadap kota Padang, lieklah E. Netsher, "Padang in het laat de XVIIIe eeuw [Padang pada akhir abad ke-18], Verhandelingen Bataviaasch Genootschap 41.2 (1881): i - 122.

 

Salam arek,

Suryadi yang daif

 

 

Cod.Or.2241-IIb 7 [Klt 7/no. 142]

 

Bahwa inilah surat al-ikhlas serta hati yang amat putih dan lagi jernih termaktub dalamnya tabe banyak2 tiadalah /1/ berubah dan menukar selama-lamanya selama Kompeni tatkala tinggalkan Negeri Air Bangi[s] yaitu daripada pihak /2/ hamba, Tuanku Raja Air Bangi[s] yang telah ada tinggal sekarang dengan suruh dan tegahnya dalam Negeri Air Bangi[s] /3/. Syahdan, maka barang disampaikan Allah Subhanahu wataala apalah kiranya datang ke bawah Duli Tuan Kumandur /4/ Padang, Kepala yang memerintahkan sekalian daerah Pesisir Barat, dari atas angin sampai ke bawah angin mahar wasiat di Negeri /5/ Padang. Maka, dipohonkan atasnya akan Allah sekalian jenis kebajikan dan kesentosaan serta selamat al-khair umur /6/ panjang dalam dunia ini. Amin! Wabakdahu kemudian daripada itu adalah memberi maklum kepada Tuan Kumandur adapun seperti /7/ hamba datang sekalian orang2 dalam Negeri Air Bangi[s] tiadalah berubah dan man[g]kir pada pihak sahabat bersahabat bersetiawan /8/ dengan Kompeni Walanda. Adalah ia sekarang semuhanya berbuat mendirikan kebun2 lada di daratan dan di Pulau Punjung /9/. Semuhanya ada hanya seperti buahnya tiadalah boleh hamba ketahui dijualnya kesana dan kemari daripada tiada kuasa /10/ pada hamba. Daripada itulah sekarang maka hamba kembalikan ke bawah Duli Tuan Kumandur yang ia kalau ada jua Kompeni mengabar2kan /11/ kasih sayang pada Negeri Air Bangi[s] oleh sebab karena orang Aceh tuhanya itu Lebai Khamis sudahlah mati dan /12/ sekarang itulah yang akan dinantikan titah dan perintah Tuan Kumandur dari Padang. Kabarnya ia segala orang2 Aceh /13/ di Air Bangi[s] hendak memilih seorang2 Aceh hendak mengganti Lebai Khamis itu belumlah hamba mau lagi oleh sebab karena hamba /14/ hendak menanti2 bagaimana titah dan perintah daripada Tuan Kumandur dari Padang, itupun hendaklah segalanya di[a] mengabulkan /15/ permintaan hamba itu ke bawah Duli Tuan Kumandur karena tatkala hamba, Raja, tiadalah daya dan upaya pada hamba /16/ melainkan ia yang kuasa orang Aceh itulah halnya supaya Tuan Kumandur tahu serta harab menanti2 /17/ asma ala aliman Allah 'aza wajalla. Satupun tiada apa2 alamat tanda hidup hanya mintak selamat umur panjang jua adanya. /18/

 

Hijrat al-Nabi Sali Allah alaihi wasallam seribu dua ratus selapan tahun.[1]

 

[1] 1 Muharram 1208 = 9 August 1793 and 29 Zulhijjah 1208 = 28 July 1794. According to Wieringa (1998: 398) this letter was received at Batavia on 28 March 1795.   

  

 


----- Pesan Asli ----
Dari: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Cc: kebud...@yahoogroups.com; minan...@yahoogroups.com; suli...@yahoogroups.com
Terkirim: Minggu, 9 Maret, 2008 16:00:44
Topik: [R@ntau-Net] Re: Air Bangis, Nagari Maritim dari Ufuk Barat I

Sanak Nofend ysh,
Satu hal yang saya catat bila penyerangan awal Belanda tahun 1821 itu adalah ke negeri Sulit Air dan Air Bangis. Perlawanan di Air Bangis cukup seru karena sebagian besar pasukan Paderi pada masa itu dikerahkan ke daerah itu, di antaranya dipimpin Tuanku nan Renceh, Imam Bonjol dll. Tuanku nan Renceh dikabarkan syahid di Air Bangis, dan kepemimpinan Paderi beralih ke Tuanku Imam Bonjol.
Bila Belanda memulai serangan awal di daerah itu, patut dipertanyakan alasannya, yang mungkin menurut perkiraan saya bila Air Bangis merupakan salah satu pintu masuk ke Minangkabau dari barat/laut.
 
Pada dasarnya masyarakat Minangkabau itu adalah 'masyarakat gunung', sehingga bila disebutkan adanya pertemuan 2 rombongan di Air Bangis maka dapat dikatakan bertemunya 'masyarakat gunung/usali' dan 'masyarakat pesisir/Melayu', apalagi bila dikaitkan dengan Inderapura. Sebagai catatan, sebenarnya Raja Pagaruyung tidak begitu peduli dengan daerah pesisir. Namun ketika Raja Aceh mengundang penjagaan di pesisir barat, maka ditempatkanlah kerabat raja di Inderapura dengan proteksi Raja Aceh. Pada suatu masa memang pengaruh Raja Pagaruyung dominan di pesisir, terutama di titik-titik pelabuhan.
 
Pada masa itu lalu lintas di Selat Malaka dikuasai oleh Portugis, sehingga Belanda, Inggris, dll menggunakan perairan barat Sumatera sebagai perlintasan ke Indonesia Timur. Itupun akhirnya terhadang oleh Aceh yang gigih menjaga pesisir barat dan timur Sumatera.
 
Dalam konteks masa kini, memang hubungan 'darek-pasisia' perlu disusun kembali dalam tatanan adat Minangkabau.
 
Demikian sanak.
 
Wassalam,
-datuk endang

"Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote:
Dimana Nagari Air Bangis ?
 
Nagari Air Bangis adalah sebuah Nagari yang terletak ditepi pantai barat Sumatera Barat dengan batas batas sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatas dengan Kec. Natal Kab. Madina Prop. Sumatera Utara
Sebelah Selatan berbatas dengan Nagari Parit
Sebelah Timur berbatas dengan Nagari desa Baru dan Nagari Silaping
Sebelah Barat berbatas dengan Samudera Indonesia .
 
Tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa batas nagari Air Bangis itu adalah :
Sebelah selatan sampai kedaerah pada daerah Ujuang Batu Kuduang (Ujung Sikabau)
Sebelah utara sampai kedaerah dengan Durian ditakuak rajo ( Teluk Sinatal Gadang)
Sebelah timur sampai kedaerah Rimbo tak Baacek (Daerah Sumatera Utara)
Sebelah Barat samapi di Ombak Nan Badabua (Pulau Pinia-Nias)
 
Nagari Air Bangis adalah sebuah nagari terbuka dan sangat pluralistik-heterogen yang terdiri dari enam buah suku diantaranya adalah:
1.Suku Malayu (Suku Raja) dengan beberapa pimpinan yaitu Rang Tuo Rajo, Dt. Bandaro, Dt. Magek Tigarang dan Dt. Mudo.
2.Suku Tanjung dengan pimpinan Dt. Rajo Amat
3.Sikumbang dengan pimpinan Dt. Rajo Mau
4.Chaniago beberapa pimpinan Dt. Rajo Sampono & Dt. Tan Maliputi.
5.Mandahiling (lubis-Sumut) yang dipimpin oeh Dt. Rajo Todung
6.Jambak yang dipimpin oleh Dt. Rangkayo Mardeso.
 
SEJARAH & PERKEMBANGAN NAGARI AIR BANGIS
 
Kerajaan Indrapura
Sama halnya dengan Nagari Punggasan, dipercaya juga bahwa yang mendirikan kerajaan Indrapura adalah juga Inyiak Dubalang Pak Labah yang turun dari Alam Surambi Sungai Pagu. Kerajaan Indrapura adalah sebuah kerajaan yang memainkan peranan penting dalam sejarah Minangkabau yang terletak diujung wilayah Minangkabau arah ke Bengkulu (Selebar) yang saat ini secara administratif tergabung kedalam wilayah Kab. Pesisir Selatan. Kerajaan ini kemudian menjadi kerajaan yang makmur sampai kemudian berbagai interfensi datang dari Aceh, VOC, Inggris, yang mana pergulatan kepentingan perdagangan ketiga eksponen tersebut ikut menentukan perjalanan kerajaan Indrapura.
 
Sebagai daerah rantau dari kerajaan Minang Kabau, kerajaan Indrapura diperintah oleh sultan-sultan, dimana salah satunya adalah Sultan Mohammadsyah yang memerintah sekitar tahun 1663-1687. Sultan Mohammadsyah memerintah ketika berumur sangat muda sekali. Untuk sementara diangkatlah ayahnya yang bernama Sultan Muzafarsyahsebagai pejabat sementara selama selama sultam mohammadsyah belum dewasa.
 
Dibawah pemerintahan Sultan Muzafarsyah, kerajaan Indrapura selalu berada dalam keadaan goyah. Hal ini diakibatkan karena Sultan Muzafarsyah sangat haus kekuasaan, dibenci rakyat dan sangat berpihak kepada VOC. Pada tahun 1687, pemberontakan rakyat berkobar, sehingga memaksa Sultan Mohammadsyah lari ke Majunta untuk minta perlindungan Inggris (EIC). Sedangkan pemerintahan kerajaan Indrapura kemudian dipimpin oleh sepupunya, seorang wanita yang bernama Tuanku Puti. Akhirnya Tuanku Puti digantikan kedudukannya oleh saudaranya Sultan Mansyursyah yang mendapatkan legitimasi dari VOC. Ketika Sultan Mansyursyah meninggal, ia digantikan oleh cucunya yang masih kecil yang bergelar Sultan Pesisir.
 
Tanggal 6 Juni 1701 kantor VOC diserbu rakyat dan semua pegawainya terbunuh. Sebagai balasannya, belanda melakukan pembantaian besar-besaran. Semua yang hidup kemudian melarikan diri keluar dari Indrapura termasuk raja dan keluarganya. Ketika keadaan mulai pulih, VOC kembali mengangkat Sultan Pesisir sebagai raja Indrapura.
 
Antara tahun 1792-1824, kerajaan Indrapura tidak henti-hentinya dilada pemberontakan rakyat. Raja dan keluarganya melarikan diri ke Muko-Muko, terus ke Bengkulu untuk meminta perlindungan kepada Inggris. Pada tanggal 6 Desember 1825, Ahmadsyah, keturunan terakhir raja Indrapura diangkat oleh pemerintahan kolonial Belanda sebagai Regen Indrapura dengan diberikan kekuasaan yang sangat kecil. Sesudah Ahmadsyah, tidak ada lagi pengangkatan raja-raja di Indrapura dan otomatis sejak saat itu, kerajaan Indrapura habis.
 
Kelahiran dan Perkembangan Air Bangis
 
Kemelut politik dan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Indrapura dekade abad XVII (1600-1700), merupakan salah satu penyebab perpindahan beberapa kelompok keluarga raja Indrapura dalam mencari daerah-daerah yang aman. Salah satu rombongan yang berpindah tersebut dipimpin oleh Urang Kayo Lanang Bisai. Ekspedisi ini kemudian sampai ke teluk Air Bangis kemudian memudiki sungai untuk mencari daerah pemukiman.
 
Rombongan Urang Kayo Lanang Bisai dalam perjalanannya memudiki sungai Air Bangis kemudian bertemu dengan salah satu rombongan penduduk yang bermaksud sama, yang dipimpin oleh Naruhum yang berasal dari daerah Padang Lawas yang saat ini terletak di Kab. Tapanuli Selatan Prop. Sumatera Utara. Naruhum di daerah asalnya berkedudukan sebagai "Natoras", seorang cerdik pandai penasehat raja. Setelah beberapa waktu rombongan tersebut bermukim didaerah yang dinamakan dengan Koto Labu. Seiring dengan perjalanan waktu, kampung Koto Labu semakin berkembang dibawah kepemimpinan Urang Kayo Lanang Bisai yang dibantu oleh dua orang penghulu yaitu; Dt. Bandaharo dan Dt. Magek Tigarang.
 
Urang Kayo Lanang Bisai, selama beberapa waktu memerintah Koto Labu tanpa pendamping hidup. Kemudian berdasarkan usulan dari Naruhum, untuk melanjutkan keturunan yang nantinya diharapkan kembali menjadi pimpinan di Koto Labu, maka dicarilah pasangan hidup untuk Urang Kayo Lanang Bisai. Akhirnya terpilihlah seorang putri Raja Kotanopan (Namora Pandai Bosi). Dalam upacara perkawinannya, putri tersebut kemudian diberi nama Puti Reno Bulan. Perkawinan kedua orang inilah yang kemudian melahirkan raja-raja Air Bangis.
 
Dari perkawinan antara Urang Kayo Lanang Bisai dengan Puti reno Bulan, lahirlah dua orang anak yang diberi nama Urang Kayo Indra Bangsawan (laki-laki) dan Puti Sari Daeni (perempuan).
 
Urang Kayo Lanang Bisai kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Urang Kayo Indra Bangsawan. Dalam pemerintahannya, kerajaan diperluas dan pusat kerajaan dipindahkan kedaerah Bunga Tanjung. Sehingga Urang Kayo Indra Bangsawan kemudian diberi gelar Urang Kayo Bunga Tanjung I.
 
Urang Kayo Bungo Tanjung kemudian digantikan oleh ponakannya yang bergelar Urang kayo Batuah. Urang Kayo Batuah kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Urang Kayo Maharajo Indra. Dalam pemerintahan Urang Kayo Maharajo Indra, kemakmuran rakyat mencapai tingkat yang sangat berarti. Sehingga kemudian Urang Kayo Maharajo Indra diberi gelar Urang Kayo Bunga Tanjung II.
 
Urang Kayo Maharajo Indra digantikan oleh Urang kayo Hitam. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan kemudian dipindahkan lebih dekat kepantai. Istana raja kemudian dibangun di Bukit Limau Kaca.
 
Urang Kayo Hitam digantikan oleh adiknya yang bergelar Tuangku Batuah Sikarib Imamul Salim, seorang raja yang sekaligus ahli agama Islam. Seiring dengan itu, gelar Urang Kayo kemudian berubah menjadi Tuangku. Tuangku Batuah Sikarib Imamul Salim digantikan oleh Tuangku Manangah. Tuanku Manangah digantikan oleh adiknya yang bergelar Tuangku Panjang Sisungut, seorang raja gagah perkasa, ahli perang.
 
Tuangku Panjang Sisungut digantikan oleh Tuangku Mudo yang memindahkan pusat kerajaan berikut dengan istana kedaerah Koto IX. Pada masa pemerintahan Tuangku Mudo inilah terjadi Perang Paderi. Dimana bersama dengan pemerintahan kolonial Belanda, Tuanku Mudo bertahan dari serangan kaum Paderi.
Tuangku Mudo digantikan oleh adiknya yang bergelar Tuangku Rajo Mudo. Karena fitnah dari urang sumandonya yang menyebutkan bahwa Tuangku Rajo Mudo akan melawan Belanda, maka kemudian Tuangku Rajo Mudo dibuang ke Padang . Sebagai penggantinya, diangkatlah seorang keturunan raja yang masih kecil bernama Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek. Menjelang dewasa, pemerintahan Air bangis dijalankan oleh ayahnya yang bernama Ali Akbar gelar Sutan Ibrahim. Sedikit demi sedikit, kekuasaan raja dikebiri oleh Belanda. Sehingga ketika Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek mulai memerintah, kedudukannya hanyalah sebagai Tuangku Laras saja (tahun 1850) dengan kekuasaan terbatas pada wilayah Air Bangis saja. Sedangkan daerah Batahan melepaskan diri dan membentuk nagari sendiri. Berdasarkan Stb No. 321 tahun 1913, jabatan Kepala Laras dihapus dan Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek diberikan hak pensiun. Dehingga kemudian ia dikenal dengan gelar Tuangku Laras Pensiun.
 
Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek digantikan oleh Hidayatsyah gelar Tuangku Mudo dengan kedudukan sebagai Kepala Nagari selama 5 tahun. Beliau kemudian digantikan oleh saudara sepupunya yang bernama Abdullah Kala'an gelar Tuangku Rajo Mudo sebagai Kepala Nagari dengan masa jabatan 1917 s/d 1943. Pada masa pendudukan Jepang, Abdullah Kala'an gelar Tuangku Rajo Mudo digantikan oleh Sutan Balia gelar Tuangku Sutan yang dilantik Jepang sebagai Kepala Nagari (sancho).
 
Pada masa kemerdekaan, jabatan Kepala Nagari berubah menjadi jabatan Wali Nagari. Setelah diadakan pemilihan oleh rakyat Air Bangis, maka terpilihlah Sutan Balia gelar Tuangku Sutan sebagai Wali Nagari pertama. Diangkat berdasarkan SK Residen Sumatera Tengah No. 7/46-DPN tanggal 26 November 1946 jo. No. 25/47 tanggal 12 April 1947.
 
Pada perkembangan selanjutnya, Wali Nagari yang Memerintah Air Bangis tidaklah selalu dari keturunan raja saja. Akan tetapi sudah ada yang berasal dari kalangan kaum cerdik cendikia. Sedangkan keturunan raja-raja Air Bangis, lebih dikenal sebagai Pucuk Adat Negari Air Bangis. Beberapa Wali Nagari yang pernah memerintah Air Bangis adalah sebagai berikut:
1.Abdullah Kala'an
2.H. St. Balia
3.A. Mizlan
4.Syaripul
5.Rahmatsyah
6.Darulkutni
7.Abidin Mu'in
8.Amas Dt. Rajo Sampono
9.Khaidir
10.Ruslin St. Batuah
11.Mursal Dt. Magek Tagarang
12.Waisur (pjs)
13.Amirbakran (pjs)
14.Yusman Yahya (pjs)
15.Sukra Tanjung (pjs)
16.Anwar Sutan Mudo
17.Amirsyah
18.Mahiruddin
19.Ahralsyah.
 
Pada saat pemerintahan bernagari tersebut, nagari Air Bangis terbagi atas beberapa jorong sebagai pemerintahan langsung dibawah nagari. Jorong-jorong tersebut diantaranya adalah :
1.Jorong Silawai Timur
2.Jorong Silawai Tengah
3.Jorong Bungo Tanjuang
4.Jorong Pasar Pekan
5.Jorong Pasar Baru
6.Jorong Pasar Saok
7.Jorong Kampung Padang
8.Jorong Pasar Satu
9.Jorong Pulau Panjang
 
Setelah keluarnya UU 5 tahun 1979 yang merubah bentuk pemerintahan bernagari menjadi pemerintahan berdesa-desa maka Nagari Air Bangis pun berubah menjadi desa-desa. Jorong-Jorong yang ada di Nagari Air Bangis berubah menjadi desa-desa diantaranya:
1.Desa Pasar Baru
2.Desa Desa Koto jambua
3.Kampung Padang
4.Desa Koto Sambilan
5.Desa Silawai
6.Desa pulau Panjang
 
Seiring dengan itu, keluar pula Perda No. 13 tahun 1983 tentang Kerapatan Adat Nagari. Maka untuk menghindari dualisme kekuasaan antara keturunan raja yang bertindak selaku Pucuk Adat Nagari Air Bangis dengan jabatan Ketua KAN. Maka di Nagari Air Bangis, jabatan Ketua KAN selalu diisi oleh Pucuk Adat Nagari Air Bangis disamping beberapa jabatan fital lainnya dari susunan pengurus KAN. Terakhir, KAN Air Bangis terdiri atas pengurus-pengurus sebagai berikut:
Ketua: Ednarsyah, Bsc Rangkayo Tanjung
Wakil: Rusdar Ruslan Dt. Rajo Amai
Sekretaris/Manti: Khairman Dt. Bandaro
Mailizar Dt. Tan Malenggang
Bendahara: Asdarsyah Rang Tuo Rajo
 
Urusan Perdamaian & Sengketa Adat
Ketua: Syafrizal B Dt. Rangkayo Mardeso
Anggota: Ust. Zyafri Ahmad. BA
Namlisman Dt. Rajo Sampono
Urusan Pembinaan & Pengembangan Adat
Ketua: Zalsyafrinas Dt. Mudo
Anggota: Dahlia Dt. Tan Maliputi
Auzir Mantan Dt. Sampono
Urusan Kekayaan Nagari
Ketua: Afrizal Dt. Rajo Mau
Anggota: Yudi Fendra Dt. Magek Tagarang
Syafridal Dahlan
 
Urusan Peningkatan Kesejahteraan Nagari
Ketua: Basrul Hendri Dt. Rajo Todung
Anggota: Syafrinal Rangkayo Saramo
Asril Sidi Rajo
 
Urusan Pembangunan Nagari
Ketua: Yuheldy Rangkayo Basa
Anggota: Rosfan Yatim
Yuharlis
 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages