MENELUSURI WISATA SEJARAH DI BATUSANGKAR

48 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
Jul 3, 2011, 2:39:47 AM7/3/11
to rant...@googlegroups.com
Ditulis oleh Teguh
Minggu, 03 Juli 2011 01:17
BENTENG VAN DER CAPELLEN

BATUSANGKAR, HALUAN - Fort Van Der Capellen, kata yang tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Sumatera Barat. Sebuah benteng bekas pertahanan Belanda yang berada di Batusang-kar, Kabupaten Tanah Datar.

Menurut sejarah, benteng ini didirikan saat Perang Padri yang dibangun
antara tahun 1822 dan tahun 1826, dan dinamai menurut nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A.G.Ph. Van Der Capellen. Pada tahun 1949, kawa-san benteng ini berubah nama kolonialnya menjadi Batu-sangkar.

Sampai saat ini Van Der Capellen bekas Markas Kepolisian Resor Tanah Datar ini masih berdiri kokoh dan sudah masuk dalam daftar salah satu benda cagar budaya di Tanah Datar. Keberadaan benteng ini di jantung Kota Batusangkar ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa pepera-ngan antara kaum adat dan kaum agama yang diperkirakan terjadi pada tahun 1821. Pada tahun 2008 lalu,
Peme-rintah Kabupaten Tanah Datar telah melakukan rehabilitas Benteng Van Der Capellen yang dimaksudkan mengembalikan kondisi banguan bernilai kuno ini menjadi bangunan benda cagar budaya bernilai jual tinggi untuk pariwisata Luhak Nan Tuo.

"Selama bangunan kuno ini bisa dipertahankan apalagi me-nyim-pan sejarah yang panjang, pemerintah akan tetap melakukan rehabilitasi yang diharapkan mampu mempertahankan seba-gai-mana aslinya dan menarik dikunjungi," ujar
Kepala Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga Alfian Jamrah.

Saat pengunjung memasuki Benteng Van der Capellen, masih terdapat dua buah meriam kuno peningalan Belanda yang terdapat di sisi kiri dan kanan bangunan benteng. Pengembalian bentuk awal bangunan benteng yang saat ini ditempati
sebagai Kantor Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga Tanah Datar itu masih dipertahankan.

Kilas Sejarah

Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar, Benteng Van der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) untuk proses belajar mengajar yang saat itu diresmikan olah Prof. M. Yamin, SH. Pemakaian bangunan benteng untuk PTPG
berlangsung sampai tahun 1955 dan pada tahun itu juga PTPG dipindahkan ke Bukit Gombak.

Benteng Van Der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Re-publik Indonesia.

Pada saat meletus peristiwa PRRI tahun 1957, Benteng Van der Capellen dikuasai Batalyon 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada Polri pada
tanggal 25 Mei 1960. Oleh Polri kemudian ditetapkan sebagai Mapolres Tanah Datar dan ber-lanjut hingga tahun 2000.

Sejak tahun 2001, Benteng Van der Capellen dikosongkan karena Mapolres Tanah Datar telah pindah ke bangunan baru yang berada di Pagaruyung.

Pada tahun 1984 dilakukan pe-nam-bahan ruangan untuk serse dan dibangun pula TK Bhayang-kari. Parit yang masih ada di sebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, rua-ngan sel tahanan yang semula ter-diri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal
menjadi 3 ruangan. Peru-bahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin dan bangunan untuk gudang.
(aldoris/berbagai sumber).

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=634
2:menelusuri-wisata-sejarah-di-batusangkar-&catid=39:lancong&Itemid=153



Wassalam
Nofend | 34+ | Cikasel

Sent from Pinggiran JABODETABEK®

Abraham Ilyas

unread,
Jul 3, 2011, 3:36:22 AM7/3/11
to rant...@googlegroups.com
Sato ambo maulangi bakaba satantangan benteng Fort van der Capellen iko di http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=117
Untuak sanak nan alah mambaco silakan dilampaui sajo.

IV. Kota Batusangkar kerap digempur


Batusangkar ibukota kabupaten
Dahulu bernama Fort van der Capellen
Belanda mendirikan benteng permanen
Kokoh dan kuat karena disemen

Tentara Pusat bertahan di benteng
Di dalam bangunan beratap seng
Tiada aliran air ledeng
Hanya disiapkan makanan kaleng

Bila malam telah datang
Tentara Pusat tak lagi tenang
Setiap pekan gerilya menyerang
Korban yang luka mengerang erang

Inilah suasana yang sangat haru
Ketika tentara terkena peluru
Darah mengalir membasahi baju
Tole* berbisik memanggil ibu

Dijaga ibu sedari kecil
Kini menggeletak di samping bedil
Tubuh terasa dingin menggigil
Bunda disebut dipangil panggil

Dari Tanjung diatur serangan
Pejuang berbaris beriring iringan
Granat di pinggang, senapan di tangan
Kota Batusangkar sebagai tujuan

Serangan dipimpin para komandan
Bisa marah seperti kesetanan
Terhadap prajurit pelanggar aturan
Yang tak patuh perintah atasan

Terhadap komandan harus taat
Pimpinan mengatur taktik siasat
Perintah diucapkan tegas dan cermat
Tak boleh membantah atau mendebat

Kata dubalang, kata menderas
Kalimat pendek sangat ringkas
Ucapan terang harus jelas
Lama berucap satu nafas

Senjata moderen buatan bule
Banyak yang kecil, ada gede
Bazoka, Mortir dan L.M.G
Disertai Garrand, Springfield dengan L.E

Beriring-iringan T.P berjalan
Kepala regu ada di depan
Memberi arah tempat tujuan
Menunggu kode isyarat penyerangan

Agar PRRI tidak masuk kota
Batusangkar dilingkari kawat tembaga
Kawat dialiri arus terbuka
Bila tersentuh bisa celaka

Kalau tentara keadaannya panik
Kota dipagari arus listrik
Sifatnya arus, bolak balik
Siapa menyenggol langsung terpekik

Inilah kesalahan sangat besar
Ketika listrik dijadikan pagar
Orang sipil tak mampu menghindar
Konvensi perang telah dilanggar


* Tole, nama panggilan di Jawa, seperti buyung di MK.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages