Orang Aceh pindah agama.

473 views
Skip to first unread message

Saafroedin Bahark

unread,
Nov 19, 2013, 2:43:32 AM11/19/13
to Rant...@googlegroups.com
This is an email from (AcehShimbun.com | Menggali Kebenaran) sent by Saafroedin Bahark (Saafroed...@rantaunet.org). You may also find the following link interesting: http://www.acehshimbun.com/index.php/bandaacehas/2616-20-ribu-warga-aceh-keluar-dari-agama-islam

Dr. Saafroedin Bahar

unread,
Nov 19, 2013, 2:48:20 AM11/19/13
to rant...@googlegroups.com, Rant...@googlegroups.com
Benarkah berita ini ? Mengapa sampai terjadi perpindahan agama itu ? Apa kekurangan Islam kok sampai mulai ditinggalkan ( sebagian ) pengikutnya ?

Wassalam,
SB, 77, Jkt.

Sent from my iPad

> On 19 Nov 2013, at 14.43, Saafroedin Bahark <Saafroed...@rantaunet.org> wrote:
>
> This is an email from (AcehShimbun.com | Menggali Kebenaran) sent by Saafroedin Bahark (Saafroed...@rantaunet.org). You may also find the following link interesting: http://www.acehshimbun.com/index.php/bandaacehas/2616-20-ribu-warga-aceh-keluar-dari-agama-islam
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

fashrid...@gmail.com

unread,
Nov 19, 2013, 2:38:42 AM11/19/13
to Rantaunet, Saafroedin Bahar
Pak Saaf dan para sanak sa palanta yth

Terlihat bhw judul berita tersebut dibuat tidak lengkap oleh editor koran Aceh Shimbun itu. Kalau dibaca ternyata 20 ribu orang Aceh itu berpindah agama dalam kurun waktu 10 tahun terakhir...rata2 2000 orang/tahun.
Kutipan:

"Dalam 10 tahun terakhir, sekitar 20 ribu warga Aceh pindah agama dari Islam ke non-muslim. Data mengejutkan ini disampaikan mantan Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar"

Benarkah berita ini? Dari mana sumber data tersebut? Ini perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun kita tetap menyayangkan fenomena tersebut, terlepas jumlahnya, dan berdo'a semoga tidak berlanjut.

Pak Saaf menanyakan: "Mengapa sampai terjadi perpindahan agama itu ? Apa kekurangan Islam kok sampai mulai ditinggalkan ( sebagian ) pengikutnya ? "

Dari berita tersebut terlihat modus yg sama dengan adik tiri buya HAMKA, Abdul Wadud Amrullah yg kemudian menjadi pendeta Willy Amrull. Isterinya yg Indo mula2 bersedia jadi muallaf. Tapi ketika menghadapi kesulitan ekonomi di Indonesia kembali jadi kristen dan mengajak suaminya ikut. Kelihatan motifnya bukan "takut istri", tapi agar taraf hidup yg tinggi sesuai standar Amrik kembali dapat dijalani kembali. Hidupnya sekeluarga dijamin organisasi gereja sbg pendeta dan kemudian ditugaskan ke kampung halamannya utk menyebarkan agama barunya itu.

Pola yg sama telah terjadi di perbatasan Aceh dg Tapanuli. Laki2 atau perempuan kristen pura2 masuk Islam, memikat Muslim/Muslimah utk menikah, kemudian kembali ke agama kristen dan mengajak pasangannya masuk agama tsb.
Kutipan berita tersebut'

"Menurutnya, kebanyakan warga yang pihak agama tersebut adalah kaum muda dari berbagai suku dan kabupaten di Aceh, terutama di perbatasan. Modus kepindahan agama sejumlah warga Aceh itu didominasi melalui status perkawinan.

Dijelaskannya, banyak warga non-muslim yang berpura-pura masuk Islam kemudian menikahi wanita atau pria warga Aceh. Setelah memiliki anak, warga tadi kembali memeluk agama asal dan meminta istri atau suami ikut serta dengan alasan cinta."

Tidak jelas apakah faktor kesejahteraan ikut menentukan dan apakah organisasi gereja ikut berperan. Ini perlu penyelidikan lebih lanjut.

Faktor lain adalah kondisi internal masyarakat Muslim Aceh sendiri menurut sumber berita.
Kutipan:
"Apalagi, lanjut dia, sekarang ini sakralitas agama Islam di Aceh juga mulai hilang. “Provinsi Aceh kini dikenal di nusantara karena pemarah serta aksi premanisme. Bukan lagi karena Islam yang mengajarkan lemah lembut kepada saudara seimannya,” papar dia.

Parahnya lagi, tambah dia, posisi agama sekarang menjadi nomor dua di Aceh setelah politik. Dengan politik, orang mau melakukan apapun, seperti memfitnah, menudung orang lain kafir, serta membunuh."

Jadi pertanyaan pak Saaf tersebut perlu dikoreksi menjadi:

Apa kekurangan MASYARAKAT Islam DI ACEH kok sampai ISLAM mulai ditinggalkan ( sebagian ) pengikutnya ?
Dan itu sudah terjawab dalam berita tersebut

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

ZulTan

unread,
Nov 19, 2013, 4:10:33 AM11/19/13
to rant...@googlegroups.com

Pak Fashri NAH,

Sangat meragukan data ini.

Bayangkan 2000 orang setahun atau 5-6 orang murtad setiap minggu atau hampir 1 orang/hari, masak umat Islam khususnya Orang Atjeh tenang-tenang saja dengan fenomena ini.

Saya tidak tahu sumber datanya dari mana. Saya memang tidak membaca tautan ini.


Salam,
ZulTan, L, 53, Bogor

Saafroedin Bahar

unread,
Nov 19, 2013, 8:20:17 AM11/19/13
to fashrid...@gmail.com, RantauNet
Terima kasih Sanak Fasyrizal. Lantas apa kebijakan yang harus diambil ?

fashrid...@gmail.com

unread,
Nov 19, 2013, 7:49:53 AM11/19/13
to Rantaunet, Saafroedin Bahar
Pak Saaf dan para sanak sa palanta yth.

Yang berwewenang mengambil kebijakan tentulah pemda propinsi Nanggru Aceh Darussalam. Wakil gubernur telah menyampaikan saran sbg berikut:
"Di akhir khotbah Jumat, Muhammad Nazar meminta jamaah untuk kembali memperkuat uhkuwah islamiyah serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan bernegara.

”Jika ini mulai hilang. Maka, jangan salahkan tindakan anak cucu kita nantinya jika mereka mencari agama baru selain Islam,” katanya."

Karena perpindahan agama tersebut banyak terjadi di perbatasan Aceh dan Tapanuli, pemda Aceh kiranya perlu menugaskan suatu tim untuk menyelidiki secara mendalam fenomena ini. Perlu diketahui apakah pindah agama itu tindakan perorangan secara sporadis, ataukah ada kegiatan terorganisir yang menggerakkannya. Lebih lanjut, apakah ada bantuan yg diperoleh keluarga2 setelah berpindah agama atau apakah secara visual kesejahteraan mereka meningkat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut pemda dapat merumuskan tindakan2 pencegahan.

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65Bdg

Maturidi Donsan

unread,
Nov 19, 2013, 8:08:09 PM11/19/13
to rant...@googlegroups.com

Dinda Fashridjal M. Noor Sidin dan sanak di palanta  n.a.h

 

 

Kemungkinan yang pindah agama ini generasi para trasmigran, waktu DOM  di Aceh, kristenisasi agak leluasa menerobos aceh. Serupa tapi tak sama, kenapa  RS Yos Siudarso tak ada yang perotes waktu dibangun sekitar 1963 di Padang, Sumbar waktu itu masih dalam menghilangkan bau mesiu PRRI. Dalam situasi PRRI dan  DOM  tak banyak yang bisa diperbuat daerah.

 

Untuk Ranah Minang (Sumba), dalam era  kita bisa mengeluarkan isi hati ini, marilah kita bersuara jika ada yang secara umum tidak disukai akan dibangun dan akan ber efek negative  di ranah minang ini.

 

  Maturidi (75)
Asal Talang-Solok-Kutianyia
Duri Riau

fashrid...@gmail.com

unread,
Nov 19, 2013, 8:28:10 PM11/19/13
to Rantaunet, Maturidi Donsan
Pak Maturidi dan yth.

RS Yos Sudarso itu dibangun oleh lembaga yg berafiliasi dg gereja katolik. Sudah lama gereja katolik mengoperasikan sekolah2 mulai dari tk SD sampai SMA yg dikelola oleh frater2 dan suster2 asal Negeri Belanda. Mayoritas muridnya etnis Cina. Tidak tahu apakah mayoritas pengguna RS Yos sudarso itu juga etnis Cina.

Pembangunan RS Yos Sudarso itu kelihatannya memanfaatkan momentum strategis gugurnya Laksamana Yos (singkatan dari Yosafat) Sudarso (penganut katolik) bersama tenggelamnya RI Macan tutul dalam perang pembebasan Irian Barat (sekarang Papua) tahun 1962.

Pasca PRRI yg berakhir tahun 1961 memang masyarakat Minangkabau tidak mampu bereaksi terhadap pembangunan RS katolik dg nama pahlawan Trikora tsb.

Sekarang keadaan jauh berbeda. PRRI tinggal sejarah bagi generasi muda dan kenangan bagi Lansia. Mayoritas penduduk Sumbar lahir pasca PRRI. Tapi ternyata masyarakat Minangkabau terbelah menghadapi rencana pembangunan kompleks RS Siloam, sekolah, dan fasilitas komersial oleh Lippo Group. Banyak yg menentang sementara eksekutif dan legislatif kota Padang dan sebagian masyarakat setuju.

Barangkali perlu diteliti apakah beroperasinya RS Yos Sudarso selama 50 tahun (1/2 abad) sampai sekarang telah meningkatkan jumlah pemeluk katolik akibat perpindahan agama di kota Padang dan Sumbar.

Yang setuju mungkin perlu menunjukkan multiplier effects dari investasi tersebut dan kesediaan mengawal agar kalau terjadi kegiatan terselubung penyebaran agama kristen akan segera dicegah.


Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Maturidi Donsan <matur...@gmail.com>
Date: Wed, 20 Nov 2013 08:08:09 +0700

anwardjambak

unread,
Nov 19, 2013, 11:00:35 PM11/19/13
to Rant...@googlegroups.com

Nan jaleh kito lah ado YARSI dan setumpuk RS Islam lainnya, kenapa indak itu sajo nan digadangkan, dan kalau ndak ado investor lokal, undanglah investor nan dari lua (negara2 Islam, Arab, Malaysia dll)


Sangenek,




Wassalam,
anwardjambak 45+,
mudiak Pyk, kanakan Dt Rajo Malano(Maulana),

"Maminteh Sabalun Hanyuik....!!!

Sent from my BlackBerry® smartphone powered by U Mobile

Akmal Nasery Basral

unread,
Nov 19, 2013, 11:05:40 PM11/19/13
to rant...@googlegroups.com
Kanda ZulTan n.a.h, 
pernyataan 20.000 orang Aceh murtad itu disampaikan Wakil Gubernur Muhammad Nazar (2007-2012) dalam khutbah Jumat di Masjid Lamgugup, Syiah Kuala, Banda Aceh, pada 23 September 2011. M. Nazar sendiri lulusan S1 lAIN Ar-Raniry Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (ASA), Darussalam Banda Aceh. 

Jadi agak riskan juga kalau menduga sang (eks-)Wagub, dalam sebuah ibadah resmi, menyiarkan kabar tak berdasar, seperti diragukan kanda ZulTan. 

Salam,

ANB
45, Cibubur

Zaid Dunil

unread,
Nov 20, 2013, 7:13:11 PM11/20/13
to Rantaunet
Pak Saaf dan sanak sapalanta RN n a h
Berikut ambo sampaikan data statistik perkembangan penduduk Aceh menurut agama yang dianut, untuk menaggapi kekhawatiran atas " banyaknya orang aceh yang masuk kristen"

Perbandingan Penduduk Aceh berdasarkan agama Tahun 1993/1994 dengan thn 2010.

                       ( Kurun waktu 16 tahun ).

A c e h

1993/1994 *)

 2010  **)

Pertambahan

Pertumbuhan (%) 16 thn

Ptmbuhan

Rata rata /thn (%)

Islam

3,442,385

4 413 244

970.859

28,2

1,76

Kristen

46,513

50 309

  3.796

8,16

0,51

Katolik

5,073

3 315

  1.758 (-)

34,65 (-)

2,16 (-)

Hindu

582

136

   446 (-)

76,63 (-)

4,79 (-)

Budha

14,478

7 062

  7.416 (-)

51,22 (-)

3,2 (-)

Jmlh Penduduk

3.509.061

 

4 494 410

 

985.349

28,08

1,75

 *) Berdasarkan Rangkuman Peta Keagamaan di Indonesia – Edisi II di 10 Propinsi. Pemyusun Mubarok.    Departemen Agama RI –Badan penelitian dan Pengembangan Agama- Proyek Penelitian Agama- Jakarta !993/1994.

**) Berdasarkann data BPS tahun 2010.            

Tabel diatas memperlihatkan :

  1. Bahwa pertumbuhan umat islam di Aceh seirama dengan pertumbuhan penduduk, bahkan secara rata rata pertumbuhan penganut Islam melebihi pertumbuhan penduduk. Walaupun tidak banyak hal ini mengindikasikan bahwa ada non Muslim yang beralih menjadi penganut Islam.
  2. Bahwa pertumbuhan penganut kristen rata rata hanya 0,51 % pertahun atau dibandingkan dengan pertumbuhan  penganut Islam  pertumbuhan rata rata kristen ( 0,51 : 1,71) = 29,8 % dari pertumbuhan rata rata penganut Islam.  Dan jangan lupa bahwa perhitungan pertumbuhan umat kristen itu dihitung dari base figure yang kecil, sehingga jumlah absolut nya menjadi tidak signifikan dibandingkan pertumbuhan umat Islam di Aceh
  3. Umat Katolik , Hindu dan Budha tumbuh negatif, sehingga semakin tidak signifikan.
  4. Berdasarkan data data itu , menjadi  TIDAK MASUK AKAL pernyataan dan kekhawatiran bahwa Orang Aceh yang beralih agama menjadi  Kristen mencapai 20.000 orang .  Pernyataan itu  tidak ditunjang data. Dan saya cendrung itu ungkapan umum saja untuk menarik perhatian dengan tujuan tertentu. Kira kira sama dengan pernyataan seorang tokoh beberapa waktu yang lalu bahwa  umat kristen di Indonesia sudah mencapai 20 % dari jumlah penduduk . Dramatisasi ungkapan ungkapan umum itu tentu dengan tujuan tertentu yang hanya dia yang menyampaikannya lah yang tau apa tujuannya. Kalau di Sumbar tujuannya jelas untuk menggagalkan investasi Lippo. Di Aceh kita belum tahu apa tujuannya, bisa untuk pemenangan Pilkada atau lainnya. Wallahualam. 

Wassalam

Dunil Zaid, 70 + 9/12. Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia, Pdg. Tingga di Jakarta

 

 




2013/11/20 Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>

fashrid...@gmail.com

unread,
Nov 20, 2013, 6:58:30 PM11/20/13
to Rantaunet, Zaid Dunil, Saafroedin Bahar, Bakhtiar PhD
Pak Zaid dan para sanak sanak sa palanta yth.

Terima kasih atas data yang pak Zaid sampaikan. Perlu saya tekankan bahwa yang perlu diamati khusus adalah pertambahan pemeluk Kristen (protestan), agama mayoritas penduduk Tapanuli yg bersuku Batak yg berbatasan dg Aceh.

Dari data itu pertambahan penduduk Kristen di Aceh dalam kurun waktu 16 tahun adalah 3.796 orang. Jadi pernyataan wagub Aceh bhw skt 20.000 orang warga Aceh di perbatasan dg Tapanuli dg sendirinya terbantah.

Saya mohon bantuan pak Zaid untuk menampilkan kembali data pertumbuhan pemeluk Kristen dan Katolik di Sumbar pada periode yang sama. Beberapa waktu yang lalu pak Bakhtiar Muin PhD menyatakan bhw melihat pertumbuhan penganut Kristen&Katolik di Sumbar belakangan ini maka dalam waktu tidak terlalu lama jumlah penganut Islam dan Kristen/Katolik akan seimbang.

Juga tolong ditampilkan data jumlah dan pertumbuhan penganut Kristen&katolik di kota Bandung. Menurut pak Bakhtiar, Bandung itu pusat kristen dg proporsi penganutnya 30% dari jumlah penduduk.

Terima kasih

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Zaid Dunil <zdu...@gmail.com>
Date: Thu, 21 Nov 2013 07:13:11 +0700

HM Dt.Marah Bangso (56+)

unread,
Nov 20, 2013, 10:58:18 PM11/20/13
to rant...@googlegroups.com
Apak Zaid Dunil atau siapo sajo pemerhati agamo di kampuang awak nan ambo hormati, apo ado data nan salengkap iko pulo tentang perkembangan 5 agamo di Propinsi Sumatera Barat sampai ke akhir tahun 2013 ko ?.

Memang kito harus babicaro dengan data, kalau indak, hal itu bisa akan jadi fitnah dan kekacauan.

Mudah2an ahli2 statistik kito punyo data tersebut agar kito bisa mengantisipasi program kristenisasi seperti pembangunan RS Siloam dan investasi kaum kafir lainnyo.

Wassalam,
HM Dt.Marah Bangso (56+)
Sadang stay samantaro di Damansara KL Malaysia.
Sent from my BlackBerry® smartphone from DiGi. Kota Damansara Kuala Lumpur Malaysia

From: Zaid Dunil <zdu...@gmail.com>
Date: Thu, 21 Nov 2013 07:13:11 +0700

Dr. Saafroedin Bahar

unread,
Nov 21, 2013, 11:07:19 AM11/21/13
to rant...@googlegroups.com, Rantaunet
Terima kasih Sanak Zaid Dunil. Saya harapkan ada data statistik sejenis untuk daerah kita Sumatera Barat. Terlebih dahulu terima kasih .

Wassalam ,
SB, 77, Jkt. 

Sent from my iPad

Akmal Nasery Basral

unread,
Nov 27, 2013, 8:10:39 PM11/27/13
to rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih ateh data nan disampaikan Pak Zaid Dunil,
maaf ambo baru sampek manjawek dek karano pekan lalu sampai awal pekan ini mengikuti acara Perhimpunan Sastra Budaya Negara Serumpun nan diikuti delegasi 5 negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand/Selatan). 

Soal (validitas) data ko ambo taringek jo peristiwa saat Presiden SBY marah-marah di Kiktinggi saat Hari Pangan bulan silam, dek karano ado perbedaan data yang disampaikan ka liau. Data BPS beda dengan data Kementan, beda lagi dengan data dari Pemprov. (Dan bukankah silang sengkarut soal DPT kini ko, pada hakekatnya juga problem menyangkut validitas data?).

Ambo taringek jo garah Sutjipto Wirosardjono, mantan Wakil Ketua BPS di akhir 80-an/awal 90-an nan juo kolumnis produktif di sebuah harian nasional. Salah satu kolom Pak Tjip nan ambo ingek adolah "dari 10 ahli statistik, bisa muncul 11 pendapat". Wakatu mambaco kolom tu, ambo ikuik tasengeang pulo dek indak tahu bana karajo ahli statistik. Tapi kudian satalah sampek pulo menjadi asisten dosen untuk mata kuliah nan mengandalkan statistik sosial di FISIP UI, ambo raso Pak Tjip indak sapanuahnyo bagarah. Diubah saketek sajo parameter statistik, akan barubah banyak hasia nan muncua.

Jadi dalam konteks perpindahan keyakinan umat Islam di Aceh ka agamo lain, ambo kiro nan tasaji dalam data nan Pak Zaid kutip tu sangat mungkin baru "tip of the Iceberg" alieh puncak gunung es. Apolai untuak soal-soal sesensitif iko, alun tantu pulo urang nan bapindah agamo tu amuah malapor ke aparat. 

Di sisi lain, sinyalemen eks Wagub Muhammad Nazar, mungkin pulo talampau tinggi dan seperti dugaan Pak Zaid, boleh jadi ado motif pilkada, dll. Masuak aka pulo. 

Bara angko murtadin nan sabanonyo, wallahu a'lam, Mungkin di ateh data tatulih via BPS dan di bawah sinyalemen Nazar. Tapi itu cukuik untuk manjadi "lampu kuning". Kabatulan tahun 2011-2012 ambo agak acok ka Aceh saat riset novel "Napoleon dari Tanah Rencong" dan mandapek keluhan hampir seragam dari narasumber ambo bahwa sejak Tsunami 2004, standar akhlak masyarakat Aceh, tarutamo anak mudo di kota-kota besar, malah manurun jauah. 

Di tampek-tampek kupi (kawasan Ulee Kareng, umpamonyo) anak-anak padusi nan berjilbab bahkan alah banyak nan indak rikuh badempet-dempet duduk jo kawan lakinyo, alah saroman di cafe-cafe ibukota pulo. "Rusak, akhlak anak-anak sekarang makin rusak justru setelah tsunami," kecek Sahari Gani, dosen Fisipol dan anak mantan Menteri Sosial PRRI Ayah Gani, ka ambo nan mawawancarai,

Wassalam,

ANB
45, Cibubur

Riyan Permana Putra

unread,
Nov 27, 2013, 9:44:32 PM11/27/13
to rant...@googlegroups.com
Penanganan bencana yang lambat mengakibatkan penduduk aceh menjadi fakir... Di sinilah awal mula masuknya kristenisasi.. Aduah, miris bana. Semoga di nagari awak indag tajadi. Amin 

Zaid Dunil

unread,
Nov 30, 2013, 10:50:05 PM11/30/13
to Rantaunet
Sanak Akmal dan sanak sapalanta RN nah
Kawan ambo urang Aceh menginformasikan, kemungkinan yang bisa tajadi adalah di wilayah Aceh nan berbatasan jo  Kabupaten Dairy. Banyak urang Karo nan masih baragamo satangah animisme , yang masuk wilayah Aceh karena tanahnya lebih subur dan menjadi petani di wilayah aceh itu. Kemungkinan mereka itulah yang bisa dikristenkan , bahkan secara massal oleh Misionaris Kristen. Artinya mereka itu bukan orang Aceh tapi orang Karo yang bermukim di Aceh Bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Dairy . Menurut kawan itu, kalau orang Aceh yang sudah beragama Islam , sesulit sulitnya hidup indak mudah dia  akan beralih akidah menjadi kristen. Sayang data statistik yang ado hanyo s/d tahun 2010 . Data tahun 2011 dst nyo alun ado, sahinggo  kondisi terakhir belum bisa di confirm dengan data BPS.
Wassalam.
Dunil Zaid.


2013/11/28 Riyan Permana Putra <riy...@gmail.com>

fashrid...@gmail.com

unread,
Dec 1, 2013, 1:54:36 AM12/1/13
to Rantaunet, Zaid Dunil, Akmal Nasery Basral, Riyan Permana Putra
Pak Zaid, sanak Akmal, sanak Riyan, jo para sanak sa palanta yth

Penjelasan pak Zaid kironyo alah manjawek komentar sanak Akmal tentang angka2 statistik nan dipakai dalam berita tersebut. Kalau urang Batak Karo dari Dairi nan animis nan masuak agamo kristen tantulah indak tacatat sbg penduduk Aceh. Mereka masuak kategori "mobile migrants".

Ambo kutip komentar sanak Riyan:

"Penanganan bencana yang lambat mengakibatkan penduduk aceh menjadi fakir... Di sinilah awal mula masuknya kristenisasi.. Aduah, miris bana. Semoga di nagari awak indag tajadi. Amin "

Bencana tsunami dan gampo itu tajadi di wilayah pesisir pantai barat dan utara Aceh. Banyak bantuan pemerintah untuak penanggulangan bencana. Juo banyak lembaga sosial dengan aktifis dari daerah lain sarato dari lua nagari nan maagiah bantuan. Karano itu itu penduduk Aceh indak manjadi fakir.

Patuik diperhatikan bahaso wilayah pedalaman Aceh selatan nan babateh jo Dairi/Tapanuli/Sumut indak kanai bencana itu doh. Jadi eloklah nan ka datang sanak Riyan mamareso dulu -liek peta Aceh-sabalun manyampaikan komentar.

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Zaid Dunil <zdu...@gmail.com>
Date: Sun, 1 Dec 2013 10:50:05 +0700

Akmal Nasery Basral

unread,
Dec 2, 2013, 3:43:33 AM12/2/13
to Fashridjal Noor, Rantaunet, Zaid Dunil, Riyan Permana Putra
Pak Zaid Dunil dan Pak Fahridjal Noor n.a.h,

balik lagi ke cuplikan posting pertama, yang mengucapkan itu adalah (saat itu) wakil gubernur Aceh M. Nazar di sebuah khutbah Jumat, bukan dalam acara diskusi umum atau tampil di media, misalnya. Siapa sosok M. Nazar? Silakan cermati laman ini:



Apakah orang seperti M. Nazar tak bisa membedakan antara orang Batak Karo dari Dairi dan orang Aceh sendiri? 

Boleh saja logika kita mengatakan bahwa jumlah "20.000" orang Aceh yang murtad sejak 90-an itu terlalu tinggi, dan mempertanyakan motif Nazar mengumumkan hal seperti itu. Tetapi pernyataan Nazar sebagai aktifis SIRA yang rajin mengumpulkan data tentang Aceh (di mana kita sendiri di palanta ini tidak ada yang cukup ekspert tentang Aceh) sudah menjadi "wake up call" yang serius.

Ambo taringek duo tahun berkecimpung dengan masyarakat Aceh saat menyusun historical novel "Napoleon dari Tanah Rencong" itu, sebagian narasumber (semuanya asli Aceh) merasakan kualitas orang Aceh sekarang merosot jauh (samalah kira-kira dengan kekhawatiran sebagian orang Minang tentang kualitas etnis Minangkabau sekarang). Tapi yang lebih spesifik ada beberapa tokoh Aceh itu yang bilang kepada ambo (setelah mereka tahu ambo urang Minang), mereka berkata, "Orang Minang sekarang masih lebih hebat dari orang Aceh. Orang Minang sudah terbebas dari perasaan saling curiga, sementara kami masih terpisah dalam pola pemikiran Teungku versus Teuku," katanya. Teungku (Tgk) adalah kelompok ulama, sedangkan Teuku (T.) adalah kubu birokrat adat yang berdasarkan faktor kesejarahan di Aceh berdasarkan pakta Korte Verklaring, merupakan "kaki tangan" Hindia Belanda. 

Tentu bukan pada tempatnya di sini menyatakan benar tidaknya pendapat tokoh Aceh di atas tentang orang Minang "yang lebih hebat dari orang Aceh". (Sama juga halnya dengan sebagian orang Minang yang beranggapan orang Aceh lebih taat beragama karena pemberlakuan syariat di provinsi mereka yang lebih ketat). Tapi jika sudah tinggal di Banda Aceh minimal satu pekan saja, dan betul-betul turun ke lapangan, kekaguman itu mungkin akan terkikis dengan sendirinya. 

Jadi, meski data persis dari jumlah murtadin di Aceh mungkin tak akan pernah kita ketahui persisnya (saya selalu yakin untuk hal seperti ini selalu merupakan "puncak gunung es"), namun kecemasan M. Nazar itu murni adanya. 

Salam,

ANB
45, Cibubur


Zorion Anas

unread,
Nov 30, 2013, 11:03:24 PM11/30/13
to rant...@googlegroups.com

Assww. Sependapat dgn pak Zaid, urang aceh aqidahnyo lbh teruji dibanding urang Minang (pandapek pribadi). Salam

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages