"Petisi yang meminta agar status pahlawan nasionalnya dicabut lantaran
dianggap pemimpin Islam garis keras yang membunuh Sisingamangaraja X,"
Intinya, Pada Perang Paderi Raja Sisingamangaraja X, terbunuh oleh
Pasukan dalam perang untuk menguasai Tanah Batak.
Tadi saya baca di Waspada OnLine, seperti artikel dibawah, bahwa
"Wahidin Sudiro Husodo" adalah Orang Batak Bergelar Sisingamangaraja
X.
Berarti yang terbunuh waktu perang Paderi??? (katanya)..
Entahlahh......
Salam,
=====
Kamis, 06 Desember 2007 23:02 WIB
"Wahidin Sudiro Husodo", Orang Batak Bergelar Sisingamangaraja X
M.Daniel Sri Muda Di Waspada
Medan, WASPADA Online
Pahlawan Nasional DR Wahidin Sudiro Husodo cukup terkenal sebagai
tokoh Pergerakan Nasional 20 Mei 1908 juga dengan nama Budi Utomo,
tapi orang banyak yang tidak tahu berasal dari mana asal usul beliau
maupun tempat kelahirannya.
"Ternyata beliau adalah orang Batak bergelar Sisingamangaraja X Tahun
1817," kata M Daniel Sri Muda, SH, salah seorang keluarga alur cicit
dari pejuang bangsa Indonesia itu ketika berkunjung ke redaksi
Waspada, Jumat (30/11).
M.Daniel yang kini berdomisili di Jalan Duyung No.10 Pondok Bambu
13430, Jakarta Timur, ini datang ke Waspada ditemani Zulkarnaen
Brahmana, menuturkan Wahidin Sudiro Husodo orang banyak tahu berasal
dari tanah Jawa karena penampilan serta namanya berbau nama Jawa, tapi
nyatanya sangat berbeda dari kenyataan.
"Maka saya sebagai garis keturunan cicitnya yang ke-21 ingin
meluruskan sejarah, sebenarnya beliau memakai nama Wahidin Sudiro
Husodo mempunyai arti sendiri bagi beliau memakai nama itu dalam
perjalanan perjuangannya.
Dalam pengabdiannya menggusur penjajah Belanda, beliau tampil sebagai
prajurit panglima perang, tampil sebagai tokoh ulama Islam. Dalam
penyiaran Agama Islam, lanjutnya, Wahidin Sudiro Husodo pergi ke
berbagai penjuru daerah yang dilalui untuk menghimpun tokoh-tokoh
maupun suku-suku untuk melawan Belanda. Selain itu juga tampil sebagai
pendekar persilatan, tokoh raja dan tokoh politik dalam Kebangkitan
Nasional pada 20 Mei 1908.
Wahidin Sudiro Husodo dilahirkan di daerah Portibi, Gunung Tua,
Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 15 April 1791. Panggilan
kecilnya adalah Sukhat. Sedangkan nama besarnya dikenal dengan sebutan
Sutan Kali Alom atau Sutan Batara Guru Doli serta Haji Maruhum Kahar
Hasibuan.
Sebagai pejuang bangsa, Wahidin Sudiro Husodo memang memiliki banyak
nama dalam perjuangan mengusir penjajah Belanda. Meski bermarga
Hasibuan namun Wahidin tidak suka memakai marga di dalam berjuang,
karena perjuangannya bersifat nasional. Ayah Wahidin bernama Sutan
Manohan Dibata Oloan
atau Sutan Mangamar dan ibunya bernama Salbiah Siregar.
Seorang Raja
Orangtuanya adalah seorang raja di daerah Portibi yang terkenal dengan
nama Candi Portibi.
Masih kata M.Daniel Sri Muda, Wahidin Sudiro Husodo hanya mempunyai
penerus garis keturunannya hanyalah seorang putri tunggal dari
pernikahannya dengan cicit Sunan Kalijaga bernama Siti Ambar, dan
mempunyai garis cucu lima orang, cicit 24 orang serta garis buyut
lebih dari 75 orang.
Diakui M. Daniel, memang Wahidin Sudiro Husodo memiliki banyak istri
sesuai Syariat Islam untuk mencari keturunan laki-laki, tapi tidak
pernah terwujud maka beliau mengangkat anak laki-laki bernama
Soemantri bertempat tinggal di Desa Giri Jaya Cidahu Sukabumi dan
telah wafat tahun 1004. Sedangkan putri tunggal beliau bernama Taksiah
Boru Hasibuan semasa remaja berumur 14 tahun anaknya dibesarkan di
kampung halaman Wahidin Sudiro Husodo di Tapanuli Selatan. Anaknya
menikah dengan marga Harahap sekitar 1897.
Sekitar tahun 1910 Wahidin Sudiro Husodo menikah dengan Mak Iyok garis
keturunan cucu Prabu Siliwangi tanpa ada penerus keturunan, kemudian
menikah lagi dengan putri dari garis keturunan Raja Banten bernama
Ratu Syarifah dan memiliki dua anak wanita tapi keduanya meninggal
semasa kecil dan tidak ada penerus keturunan Wahidin Sudiro Husodo
lagi dari Ratu Syarifah.
"Semua ini saya sampaikan untuk meluruskan sejarah tentang asal usul
keturunan serta tempat beliau berjuang dengan memakai bermacam
namanya," katanya seraya menambahkan keturunan cicit beliau di dalam
mengabdi serta berjuang untuk Negara Republik Indonesia ini sejak
tahun 1945 adalah Kol. (Purn) Bahari Efendi Siregar (alm), mantan
Komandan Basis Jakarta Raya 1956, mantan Aspri, Jenderal M.Panggabean
(alm) tahun 1968, Letnan Satu CPM (Purn) Abdul Murad Siregar (alm) dan
Letda Alwisori Muda Siregar (alm).
Sedangkan M.Daniel Sri Muda adalah anak dari garis cucu beliau bernama
Aminah Boru Harahap. Dan M. Daniel juga aktif sebagai anggota Pejuang
Siliwangi Indonesia, anggota Organisasi Perintis Kemerdekaan Republik
Indonesia, serta Alumni Targati Bela Negara tahun 2003 Departemen
Pertahanan RI, kata M.Daniel yang telah menerbitkan buku Sekilas Kisah
Biografi dan Perjuangan Pahlawan Nasional Doktor Wahidin Sudiro Husodo
bergelar Sisingamangaraja X Pada Tahun 1817, Panglima Tuanku Rao pada
Tahun 1821-1837, Mangkunegara IV Pada Tahun 1853-1881.
M.Daniel mengimbau, para ahli buku sejarah dapat mengkaji lebih dalam
lagi siapa sebenarnya Wahidin Sudiro Husodo sebagai Pahlawan Nasional
dan juga sebagai bahan seminar untuk pelurusan sejarah bangsa
Indonesia yang selama ini penuh dengan silang pendapat umum demi
kepentingan tertentu.
Menurut M Daniel, untuk pemimpin negara ke depan, Daniel mengimbau
untuk merenung segala perjuangan yang dilakukan pejuang terdahulu.
Hendaknya apa yang dijanjikan kepada rakyat, harus diwujudkan.
"Jangan mengatasnamakan rakyat, jika mereka terlupakan," demikian
M.Daniel. (m25) (ags)
http://www.waspada.co.id/Search.html?searchword=wahidin