Menghidari Jerat Kapitalisme

0 views
Skip to first unread message

Armen Zulkarnain

unread,
Jul 30, 2010, 6:34:08 PM7/30/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr wb

Sebagai "rang mudiak" dari kabupaten 50 Koto, tentunya saya sering pulang ke kampung halaman dengan berbagai keperluan. Dari mulai baralek, meilhat rumah nenek saya yang sudah kosong lebih 15 tahun, melihat sawah, menjenguk keluarga hingga menghadiri batagak gala. Kebetulan jarak 135 km itu tidak terasa jauh dengan mulusnya sarana transportasi jalan & banyaknya angkutan umum yang tersedia.

Dari cerita-cerita keluarga & orang kampung pula saya sering mendengarkan mahalnya pupuk (terkadang hilang dipasaran), harga pakan ayam ras yang makin melangit hingga kurang menguntungkannya usaha ternak sapi simental saat ini. Padahal kampung halaman saya ini, apalagi kabupaten 50 Koto memang berbasis pertanian & pertenakan sebagai tumpuan hidup keluarga-keluarga di pelosok - pelosok nagari. Dengan hasil tani & ternak itu pula mereka membiayai anak-anaknya bersekolah hingga ke perguruan tinggi.

Syahdan, saya sering mendengar, bahwa hampir diseluruh perguruan tinggi ternama di Indonesia, terdapat guru besar, dosen terpelajar, ahli - ahli yang berasal dari Minangkabau yang mengajar di perguruan tinggi ternama. Mulai dari ITB, UI, IAIN Syarif Hidayatullah, UGM, IPB, Unpad hingga Universitas Brawijaya. Kalaulah Universitas Andalas bisa dikatakan seluruh dosennya "rang awak juo".

Terkadang saya sering mencari di belukar "mak google" bagaimana teknik membuatan pakan ayam ras, teknologi budidaya cacing tanah, bagaimana membuat hyase untuk pakan ternak sapi. Hingga pengolahan kompos yang bisa dilabel & dijual ke perkotaan di provinsi Riau. Alangkah indahnya masa depan masyarakat kita, diberkahi alam yang subur & tingginya animo merantau karena alasan "kurang cocok menjadi petani" sehingga lapangan pekerjaan di bidang ini nyaris tidak pernah kosong.

Entah mendapat berkah atau musibah, ketika saya berkenalan via internet dengan pak Saafroedin Bahar yang sedang mengusung KKM 2010, memaparkan perlunya Badan Kerjasama antar lembaga/instistusi/organisasi di Minangkabau yang didesain ter-link keseluruh nagari-nagari di Sumatera Barat yang berjumlah 624 nagari itu. Badan kerjasama ini nantinya akan membantu Pemda memberikan kajian - kajian ilmiah yang mungkin saja bisa merangkul para pakar-pakar itu untuk menyumbangkan ilmu pengetahuannya untuk masyarakat di Sumatera Barat hingga melahirkan perda - perda baru yang bisa "mamilin" antara Adat Budaya Minangkabau dengan lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semangat saya sebagai orang muda, yang dibesarkan dirantau & memiliki keinginan menetap di Sumbar (alhamdulillah sudah 10 tahun saya disini) melihat adanya secercah harapan untuk memindahkan kajian teknologi & riset dari pakar-pakar yang ada di universitas kenamaan itu ke nagari-nagari di Minangkabau. Mulai dari kajian Budaya Minangkabau, Agama, teknologi Pertanian & Peternakan, Pariwisata hingga Industri skala Rumah Tangga. Terbayang dimata saya, 5 tahun ke depan makalah - makalah dari ITB, UI, IAIN Syarif Hidayatullah, IPB, ITS, Unpad dan lain-lain bisa disebar ke berbagai Nagari - Nagari di Minangkabau, sehingga menciptakan masyarakat Madani yang lepas dari jeratan Kapitalisme. Masyarakat yang bisa membuat kapal sendiri, membuat pakan ternak sendiri, membuat usaha tani terpadu, dari sekandang ternak sapi yang bisa menghasilkan biogas untuk memasak rendang & gulai cipuik di dapur, hingga penerangan di rumah-rumah penduduk, yang hasil akhirnya bisa menjadi kompos sehingga urea tidak perlu kita beli lagi.

Tentu saja hal ini sangat mudah dilakukan, apabila disetiap kantor kanagarian bisa memiliki 1 unit komputer bekas sekelas Pentium 4, dilengkapi modem yang bisa menghubungkan nagari ke dunia maya, sehingga perantau yang jarang pulang pun bisa mendengar kabar dari kampung halamannya.

Semoga Angku, Mamak, Bundo sarato bisa memahami harapan saya ini, dan semoga Allah SWT bisa mengabulkan mimpi saya ini kelak dikemudian hari, amin amin ya Rabbal alamin. 

wasalam 
AZ 32 thn 
padang

noveri maulana

unread,
Jul 31, 2010, 7:16:36 AM7/31/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum wr.wb

Mamanda Armen dan Bapak, Ibu nan di Palanta..

Salam kenal sasamo urang mudiak Mak, ambo barasa dari Jorong Katinggian, Danguang-danguang.
Ambo pribadi sangat tertarik soal biogas ko Mak. Urang gaek di rumah lai ado bataranak bantiang (jawi), dan ado babarapo ikua di rumah. Kebetulan bisnis urang gaek di bidang perdagangan iko pulo Mak, kok kato urang awak, Toke Bantiang.

Cuma informasi soal Biogas ko di daerah awak alun banyak lai Mak. Kok potensi nan dikatoan, banyak potensi gadang nan ado di awak. Di Kab. 50 Kota dan Kota Payakumbuah, toke bantiang ko banyak barasa dari mudiak. Dari sakian banyak toke bantiang nan ambo kenal, indak ciek alahnyo nan punyo pola pengelolaan limbah ternak nan bisa diolah jadi Biogas ko do mak. Di rumah ambo, sahari limbah ko minimal ado 5 gerobak nan hanyo di buang di parak atau diagiahan ka urang nan baladang. Baitu pulo di toke-toke nan lain. Setidaknyo, 7 urang Bapak ambo badunsanak, 5 urang manjadi toke taranak dan punyo bantiang di rumahnyo. Cuma itu baliak Mak, alun banyak informasi nan diketahui dek para peternak daerah. Sahinggo sampai kini, potensi nan banyak di nagari awak ko alun tagali bana lai Mak. Kok ado informasi, pembinaan juo sarana dan prasarana dari pemerintah, mungkin urang gaek ambo jo toke taranak nan lain sangaik tertarik soal biogas ko. Itu sakadar tambahan informasi dari ambo pribadi Mak.

Wassalam,
Noveri-23- Banduang


Dari: Armen Zulkarnain <emenes...@yahoo.co.id>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sab, 31 Juli, 2010 05:34:08
Judul: [R@ntau-Net] Menghidari Jerat Kapitalisme

taufiq...@gmail.com

unread,
Jul 31, 2010, 7:37:26 AM7/31/10
to rant...@googlegroups.com
Soal Biogas iko, ambo sajak tahun 98 lah maliek dikabun Bob Hasan dan peternak sapi perah didaerah Bogor. Ukatu itu ado semacam starter microorganism dari IPB nan dipakai.

Kami ado juo membina peternak didaerah Kutai Kartanegara dalam menggunakan Biogas.

Minggu yang lewat ambo juo mancaliak proses Biogas tanpa starter di Jogja. Mereka sudah membangun ratusan bak utk proses biogas ini

Kalau tertarik nanti ambo cari alamat pembuat bak sampai menghasilkan biogas itu.

Tapi disekitar Bandung-Bogor lah sabananyo lah banyak juo

Salam
TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

noveri maulana

unread,
Jul 31, 2010, 9:41:38 AM7/31/10
to rant...@googlegroups.com
Mamanda Taufiq dan Bapak, Ibu nan di Palanta,

Iyo Mak, kok di daerah Banduang jo Bogor lai banyak. Di sebagian daerah awak pun mungkin lai ado juo Mak, cuma nan di kampuang ambo sendiri bantuaknyo alun ado lai Mak. Tapi dek maliek potensi limbah bantiang ko nan banyak nan indak dimanfaatkan oleh sebagian peternak awak, mungkin biogas ko bisa menjadi salah satu solusi nan mencerahkan. Ambo pribadi tertarik dan ingin mancubo hal iko di rumah urang gaek, tapi keterbatasan pengetahuan dan informasi selalu jadi penghalang. Mungkin kok ado pembinaan dari urang2 nan kompeten di bidangnyo, hal iko bisa menjadi salah satu upaya penanganan limbah nan masih menjadi barang yang kurang dimanfaatkan dek sebagian peternak di kampuang kito Mak.

Banyak maaf,
Wassalam,

Noveri-23-Bandung


Dari: "taufiq...@gmail.com" <taufiq...@gmail.com>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sab, 31 Juli, 2010 18:37:26
Judul: Re: Bls: [R@ntau-Net] Menghidari Jerat Kapitalisme

Abraham Ilyas

unread,
Jul 31, 2010, 7:59:12 PM7/31/10
to rant...@googlegroups.com
Dinda Armen Zulkarnain sarato Dunsanak di palanta nan ambo hormati.


Padahal kampung halaman saya ini, apalagi kabupaten 50 Koto memang berbasis pertanian & pertenakan sebagai tumpuan hidup keluarga-keluarga di pelosok - pelosok nagari.

Dengan hasil tani & ternak itu pula mereka membiayai anak-anaknya bersekolah hingga ke perguruan tinggi.

Walau sudah ada sebagian kecil yang terlibat dalam bidang jasa, akan tetapi pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan rakyat saat ini dan ke depan masih tetap akan menjadi tumpuan hidup lebih dari 60 persen anak nagari di SB.

Masalah yang dihadapi ialah, bagaimana meningkatkan pengetahuan/ilmu para petani, peternak tsb.

Mendidik anak anaknya (petani) di Fak pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan, Perkebunan akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, lagi pula tidak semua sarjana di Indonesia mau bekerja di jalur ilmu yang pernah dipelajarinya di PT.

Alhamdulillah kini semua orang dengan mudah mendapatkan semua ilmu pertanian tsb. dengan sedikit biaya melalui fasilitas internet.

Kini jaringan internet telah dikuasai negara negara maju pula, karena kita tidak cepat mengambil kesempatan. Bahkan telah menjadi sarana untuk mengambil uang kita sebelum kita memanfaatkan tehnologi itu. Dari artikel di koran kemarin disebutkan Google th. 2009 mendapatkan uang dari Indonesia sebesar Rp. 120.000.000.000,- (seratus dua puluh milyar rupiah) tentunya tamasuak pitih ambo tanpa ambo sadari.

Untuk memiliki komputer sarato jaringan internet di sebagian besar nagari, nan manuruik perasaan ambo bukan masalah lagi kini, tinggal lagi kemauan masyarakat kito yang paralu kito ingekkan.

Salam
Abraham Ilyas lk. 65
www.nagari.org

andi ko

unread,
Aug 1, 2010, 5:18:24 AM8/1/10
to rant...@googlegroups.com
Sanak Palanta

Judul pembahasan ini begitu besar "Menghindari Jerat Kapitalisme", tetapi kok pembahasannya dari awal jauh dari judul dan pembahasan selanjutnya semakin tersesat.

Sebagai referensi sedikit, ambo kirimkan bahan dasar dari internet di bawah, semoga berkenan

Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.

Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme).

Salam


Andiko



Augi Jusri Djalaluddin

unread,
Aug 1, 2010, 12:42:25 AM8/1/10
to rant...@googlegroups.com
Asslm.Wr.Wb.

Ikut sumbang saran mengenai komputer dan kapital.

Komputer di Kapital, Capital dalam arti harfiah Ibukota.
Penggunaan komputer pada permulaan untuk mempermudah administrasi penghitungan akuntansi dan tiket pesawat terbang.
Komputer dan jaringan internet aplikasi awalnya untuk pertukaran informasi akademisi dan tentara.

Kini masyarakat sipil, masyarakat umum sudah terbiasa dengan komputer.
Salah satu komputer yang banyak digunakan masyarakat umum adalah Handphone.
Handphone mempunyai sifat mini komputer. Bisa melakukan perhitungan sederhana seperti kalkulator.
Bisa menyimpan data (no telp dan nama), Bisa mengakses jaringan, jaringan telekomunikasi.
Bila handphone bisa mengakses Face Book, ini mendekati fungsional Netbook (Komputer ringan dengan prosesor cepat dan memori besar).

Kembali ke Kapital.
Di Kapital diatur masalah penggajian, distribusi uang kertas hasil pencetakan negara.
Disain uang kertas menggunakan komputer, dan pencetakannya tidak lagi manual seperti Oeang Republik Indonesia (ORI) namun telah terkomputerisasi.
Inilah sebagian kelebihan Kapital dibandingkan pegunungan dan pesisir. Mereka mempunyai komputer dan jaringan yang sudah berlangsung lama untuk mengatur ibukota, pembangunan jalan, jembatan, irigasi, aliran listrik, aliran sungai, jaringan transportasi, pembuatan alat-alat transportasi.

Bila Nagari telah memilik 1 Komputer, printer dan tersambung jaringan Internet.
Ini merupakan cikal bakal sistem administrasi perkantoran dengan jaringan internasional.
Kelebihan akses internet telah kita rasakan dengan kemudahan informasi dan silaturahmi.
Permasalahan nagari dari mana pencetakan uang kertasnya untuk penggajian ?
Bagaimana mengoptimalkan handphone penduduk, sebagai komputer mini ?
...
Menurut hemat saya dengan fenomena Global Village, Desa Global dan Nagari Global seperti www.nagari.org
Beberapa syarat untuk menciptakan Server Nagari
Aliran listrik yang abadi dari aliran batang air atau sinar matahari tropis di pegunungan menjadi listrik.
Aliran irigasi, bendungan irigasi yang baik bisa ditingkatkan menjadi sumber air minum perkotaan.
Jaringan telekomunikasi handphone pada penduduk nagari.
Printer untuk pencetakan kuitansi dan penggajian.

Bagaimana menciptakan pertanian, perikanan, peternakan, perikanan pesisir ditransaksikan menjadi uang untuk mengaji pegawai administrasi pengairan, listrik, telekomunikasi, kesehatan. Tentunya diperlukan pasar tempat transaksi. Pasar yang timbangannya baik terjaga, jujur, bersih dengan sistem syariah menurut hemat saya jalan keluarnya di Pakan Nagari, agar penyimpanan bisa kolektif harian dari pedagang-pedagang di pasar, mereduksi biaya keamanan penjagaan uang. Akan lebih baik bila ada fasilitas ATM untuk mempermudah pembayaran dan pengambilan uang. 

Transaksi melalui SMS, jasa keuangan Share-e Bank Muamalat, sistem bagi hasil dan Jaringan Nasional Pos dan Giro Pasar terdekat memungkinkan proses ini. Ibukota Kecamatan bisa menjadi 'Capital' dari Ummul Quraa Nagari-Nagari.

Semoga Bermanfaat.
Wass.Wr.Wb.
AUGI JD









Datuk Endang

unread,
Aug 1, 2010, 1:32:55 PM8/1/10
to rant...@googlegroups.com, minan...@yahoogroups.com
Saketek nak membagi pemahaman:
Kapitalisme mendasarkan pada pentingnya faktor modal (kapital) dalam mengembangkan kehidupan ekonomi dalam masyarakat. Dasar pemahamannya dapat kita lihat perbandingan paradigma yang berkembang (di daratan Eropah khususnya) di masa lampau. Kalangan ilmuwan gereja mulai Hugo Grotius hingga Paus di masa lampau memperkenalkan konsep 'use value' yang menyebutkan alam dapat dimanfaatkan sebatas kebutuhan. Hal ini memang banyak menggerakkan ekspedisi kolonialisme di masa lampau untuk mengambil berbagai sumber daya dari berbagai penjuru dunia untuk menopang kehidupan di daratan Eropah pada khususnya. Seiring dengan itu berkembang eksploitasi alam, merkantilisme, dan imprealisme. Namun konsep merkantil berbeda dengan eksploitasi, karena hanya memperhitungkan 'change value'.
Seorang moralis dan pemerhati norma yang bernama Adam Smith mencatat suatu fenomena di suatu tempat, ketika menemukan ada suatu proses produksi yang dapat 'menyimpan' sumber daya dan mengembangkannya untuk kebutuhan orang yang lebih banyak. Hal ini mengakibatkan setelah itu banyak orang mulai memikirkan tentang 'konsep modal/kapital'. Untuk masalah tanah/alam, tidak hanya sekedar dimanfaatkan sebatas kebutuhan; namun demi kepentingan kapital, maka tanah itu juga dapat 'dimiliki' sebagai salah satu faktor kapital, dengan cara mengolah terlebih dahulu dan baru dimiliki. Hal ini melahirkan konsep ekonomi modern yang berbasis pada kapital atau kepemilikan, dan menggeser pandangan sebelumnya yang menyatakan bila alam adalah 'milik Tuhan' (common goods) yang bisa dimanfaatkan sebatas kebutuhan. Salah seorang tokoh yang mengunci pandangan ini adalah John Locke.
Kapitalisme akhirnya berkembang sebagai upaya memperbesar kapital yang dilakukan dengan melakukan faktor produksi secara terus-menerus dan meluas. Pandangan kritis disampaikan oleh Karl Marx, yang menyebutkan bila produksi dapat merusak hubungan manusia dengan alam, karena adanya kecenderungan eksploitasi alam yang tak terbatas. Selain itu dalam sistem produksi, manusia sudah menjadi faktor kapital, sehingga permasalahan berikutnya adalah akan adanya eksploitasi terhadap manusia.
Dalam sistem ekonomi (asli) masyarakat Minangkabau, pemanfaatan tanah ulayat sebenarnya menggambarkan bentuk quasi kapitalisme-sosialisme; yaitu tanah ulayat dimanfaatkan sebagai 'ganggam bauntuak hiduik bapangadok'. Jadi tanah ulayat adalah 'modal/kapital' bagi kaum ibu dalam kehidupan, namun tidak untuk dimiliki, karena diturunkan pada generasi berikutnya sesuai ketentuan adat. Bila tidak dimanfaatkan atau belum mampu memanfaatkan, maka dapat disimpan untuk keluarga yang membutuhkan di kemudian hari; dan hal ini menjadi tugas bagi mamak kapalo warih/penghulu untuk mengatur dan membinanya. Namun akan selalu menjadi masalah bila: tanah tersebut terbagi-bagi hingga teralihkan menjadi hak milik, atau ada parasaian untuk mengeksploitasi untuk kepentingan ekonomi kapitalisme yang tidak sepakat kaum atau bermanfaat bagi masyarakat banyak. Karena itu ada 4 aturan dalam gadai tanah ulayat.
Untuk menghindari jerat kapitalisme bagi masyarakat Minangkabau adalah dengan kembali ke konsep usang adat Minangkabau.
Demikian sedikit penjelasan dan terakhir berbentuk pendapat, mudah-mudahan bermanfaat.
 
Wassalam,
-datuk endang
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages