Mungkin agak melebar ke aspek lain untuk menggambarkan pula kondisi urang awak waktu itu
----------------------------------
"Minang jo Minang disalasaikan dek Rang Batak"
Azan Magrib barusan menggema, beberapa orang dirumah kami masih ada yang sedang mengambil wuduk.
Sementara yang lain sudah ada yang sholat sendiri2 di ruang tengah.
Karena tidak tersedia ruangan yang cukup luas dirumah kami, hanya Apak dan Umi yang selalu shalat berjamaah dikamar
Rumah kami terletak dikompleks Kantor Sosial Bukittinggi yang berada antara Kantor Pos dan Gereja Katholik Bukittinggi.
Sisi kiri rumah berada dipinggir jalan/pagar Komplek Sekolah Xaverius, sementara dibelakang rumah yang ditanami terong, labu siam,kambas, kunyit, lengkuas, sipedas, bawang prei, seledri, serai dan bumbu dapur lain... berakhir pada pagar pembatas dengan asrama susteran.
Dibagian depan komplek ini terdapat pula Kantor Agama
Antara rumah dengan Kantor Agama ada bangunan yg dihuni pengungsi dan anak sekolah yang merupakan korban perang PRRI
Walau rumah kami tidak begitu besar, tapi senantiasa menjadi tempat singgah orang dari kampung yang berurusan ke Bukittinggi
Ada mereka yang mengurus berbagai surat karena mau merantau maupun kembali ke Kolang- Malaya atau Riau Kepulauan, ada yang mau sekolah ke Jawa, tapi yang paling banyak sedang menjalani skrening
Skrening ini diikutinya, supaya dapat kembali bekerja sebagai Pegawai Negeri atau Guru setelah mereka istirahat bekerja karena ada peristiwa PRRI. Ada mereka yang terlibat PRRI langsung, banyak pula yang istirahat saja dikampung
Untuk yang ingin merantau, selain yang bekerja informal dan melanjutkan pelajaran, ada famili Bapak yang kemudian masuk AURI di Bandung dan AAL di Surabaya
Sayang yang masuk AAL ini tidak dapat menyelesaikan pendidikannya. Karena mentalnya tidak cukup kuat , sebab tiap hari dihujat sebagai Pemberontak
Akhirnya dia drop-out dari Morok Rembangan dan pulang kampung jadi petani
Tapi perantau di Malaya dan Riau Kepulauan yang waktu itu dikenal sebagai daerah Dollar banyak yang sukses
Walau banyak dari mereka hanya sebagai pedagang kaki lima
Kiriman mereka selalu datang untuk sanak-keluarga di kampung semuanya via alamat Apak
Apalagi kalau mereka jadi pelaku smokel, penyelundup berbagai barang dari Luar Negeri, umumnya melalui Sungai Siak dan Pelabuhan Pekanbaru
Sebelumnya yang cukup terkenal via Sungai Rokan dan Pelabuhan Kecil Sungai Rangau
Walau Sungai Rangau ini cuma negeri kecil, tapi waktu itu sudah ada beberapa trayek bus langsung dari Sumbar/Bukittinggi kesana
Mungkin karena pendangkalan di Muaranya - Bagan Siapi-api, sehingga tidak ada lagi kapal besar yang bisa masuk.
Sekarang daerah itu kembali menjadi kampung yang sepi, tidak ada tanda2 disitu merupakan pelabuhan yang sibuk tahun 50an sampai awal 60an
Beberapa waktu yang lewat, penyelundupan sungai Siak dikenal dengan cangkuak.
Artinya perahu penyelundup dicangkokkan ke kapal yang sedang melaju kencang menuju Pekanbaru.
Ditengah malam itu berbagai barang electronic , textil halus dll berpindah dari kapal ke perahu.
Beberapa jam menjelang Pekanbaru, cangkok dilepas.
Kapal dan Perahu berlayar terpisah. Kapal menuju pelabuhan, sementara perahu biasanya bertambat dekat perumahan penduduk
Skrening ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai seminggu. Tergantung petugas di KMK yang mengurusnya
Ada yang datang pagi hari dan kembali ke kampung disore hari
Kalau mereka sudah kerumah sebelum jam 8 pagi berarti waktu Lohor mereka akan kerumah lagi untuk shalat dan makan siang bersama. Karena biasanya meletakkan beberapa barangnya dirumah, sebagai tanda mau datang lagi...he..he
Tapi lebih banyak yang datang sehari sebelumnya, supaya pagi2 bisa melapor
Sehingga acara makan dirumah yang diikuti oleh 15-20 orang bahkan sering lebih, sudah menjadi pemandangan biasa waktu itu
Beberapa famili lain seperti anak mamak Apak, bako Umi atau orang kampung lain ada yang menginap sampai dua-tingga minggu bahkan sampai berbulan-bulan karena mereka masih ada urusan di Bukittinggi terutama urusan wajib lapor serta mengurus kembali besleit dan penempatan kerja mereka
Lucunya lagi, yang datang itu, selain mereka yang sudah dikenal dikampung, sering pula mereka membawa kawannya orang Nagari tetangga untuk ikut nimbrung makan dan tidur dirumah
Saya yang waktu itu sudah sekolah TK, karena melihat teman sekolah punya album photo
Saya jadi ketularan juga dan lagi rajin2nya mengisi album foto tsb
Walau yang terbanyak isinya pas-photo utk screening dari para famili yang datang, tapi banyak juga yang memberikan photo mereka diperantauan atau tempat kerja maupun sekolahnya
Sebetulnya untuk urusan makan dan tempat tinggal tidak begitu memberatkan waktu itu
Sejumlah famili yang tinggal beberapa waktu banyak juga yang membawa bahan makanan mentah
Disamping rumah kami, Departemen Sosial menyiapkan semacam Panti yang menampung pengungsi non Minang termasuk sejumlah anak sekolah yang putus hubungan dengan orang tuanya dikampung karena ada peristiwa PRRI
Kalau pengungsi dewasa umumnya orang Jawa, sedang anak sekolah berasal dari sekitar Ranah Minang. Paling banyak dari Tapanuli , beberapa yang lain dari Jambi, Bengkulu dan Riau
Untuk anak sekolah yang masih tingkat SMP banyak yang dimasukkan ke Panti Asuhan Aisyiah di Simpang Limau Bukittinggi, tapi yang sudah besar2 ada yang sudah waktunya tamat PGA di Jirek dan umurnya sudah lebih dari dua puluh tahun, ditampung bersama pengungsi tsb
Selain itu Departemen Sosial juga sering membagikan beras dan sembako lain untuk warga miskin disekitar Bukittinggi
Beberapa pengungsi dan anak sekolah itu ada yang cukup akrab dengan kami.
Diran yang tambun, penggembira, suka menolong.
Tapi temannya Pardi yang kurus kering, sakit2an, pendiam- suka menyendiri dan kuat merokok. Wajah dinginnya dan perilakunya yang asing itu sering membuat anak2 ketakutan
Pardi sering berjemur dipagi hari dengan menggunakan selimut putih bergaris biru
Saya yang masih kecil menolak menggunakan jenis selimut Pardi itu, walau selimutnya masih baru.
Soalnya agak ngeri, membayangkan dia berjemur dipagi hari dengan senyum dan seringainya yang misterius itu
Dari beberapa anak-anak sekolah ini Nasution dan Simamora cukup akrab bergaul dengan kami. Mereka suka membacakan majalah Si Kuncung atau membuat berbagai mainan untuk ku
Tiba2.....pintu diketok lumayan keras
Setelah Ni Baya kakak perempuanku yang masih kelas 6 SR no 7 Bukittinngi membuka pintu, tampak tiga orang lelaki berperawakan kekar dan kepala plontos memasuki rumah
Tan Azwar orang kampung kami yang sedang ada urusan di Bukittinggi dan telah selesai shalat menyilakan mereka duduk dikursi tamu
Mereka memperkenalkan diri , menyatakan dari KMK dan mau menjemput Hamzah kakak lelaki tertuaku
Apak yang masih dikamar, buru2 keluar dan membaca surat penahanan itu dengan menggigil
Setelah semua agak berangsur tenang, uda Hamzah telah selesai shalat dan makan malam sedikit. Sambil menjinjing tas kecil berisi pakaian, dia berangkat diiringi ketiga petugas itu menggunakan Jeep Gaz-Rusia
Sebetulnya dia baru dua minggu didalam. Setelah sebelumnya dia ikut keluar
Dulu..setamat SMA di Bukittinggi, dia kuliah di FEKON-Unand Padang. Tapi karena pemberontakan PRRI pecah dia bersama teman2nya ikut latihan militer yang diadakan untuk Mahasiswa dan Pelajar, bahkan dia ikut menerima dan mengumpulkan berbagai bantuan senjata dan peralatan perang yang didaratkan di Pangkalan Udara Tabing Padang
Sesudah pendaratan APRI dan minimnya perlawanan PRRI, mereka menyingkir ke hutan Bukit Barisan. Mereka turun-naik bukit beberapa hari , akhirnya sampai di Solok.
Disini dilakukan konsolidasi pasukan, terbukti nanti kompi Mahasiswa dan Pelajar termasuk pasukan yang memberikan perlawanan yang lumayan merepotkan APRI.
Pada beberapa pertempuran mereka lebih militan dari pasukan reguler PRRI
Apak cukup terpukul karena penahanan ini, apalagi kalau sudah dijemput ke KMK ini jarang yang bisa pulang kembali
Sebetulnya tempat tinggal kami tidak begitu jauh dari pemusatan pasukan APRI
Diseberang jalan- dimuka kantor pos ada Markas Batalion A-Diponegoro. Gedung ini nanti menjadi Toserba milik Tentara. Sementara di seberang jalan kantor Agama terdapat Balai Prajurit.
Sehari-hari terutama sore hari cukup banyak para perwira yang bercengkerama disekitar jalan tsb
Saya sendiri sekolah TK dekat Kantor KMK , yang juga disponsori APRI lewat Persit nya
Sehingga mereka kenal juga dengan warga yang tinggal disekitar itu
Kami anak2 sering diajak naik Jeep Gas dengan bak terbuka yg lagi parkir, tapi sedang berhubungan dengan tempat lain melalui radio. Waktu itu radio penghubung dua arah ini disebut Marconi
Banyak juga jeep terbuka ini yang dipasang senapan mesin yg populer waktu itu adalah dari jenis 12,7
Untuk pengangkut pasukan umumnya digunakan truk berat "Reo" buatan USA.
Truk yang lebih tua banyak berhidung penyet. Karena mesinnya tidak didepan tapi dibawah tempat duduk pengemudi
Truk Rusia mulai banyak digunakan militer di Pekanbaru pada masa "Ganyang Malaysia"
Kalau Batalyon B dan kantor KMK berada disekitar Lapangan Kantin
Dengan penangkapan Uda Hamzah, ada juga beberapa mereka dari militer yang cukup simpati kepada kami. Tapi belum ada yang bisa membantu untuk membebaskannya
Sore hari besoknya diperoleh kabar pimpinan team pemeriksa seorang bermarga Aritonang.
Beberapa anak sekolah asal Tapanuli yang tinggal dirumah pengungsi, berusaha menemuinya melalui pengurus gereja Kristen-Protestan yang terletak dekat jalan antara Stasiun Kereta Api- Lapangan Kantin
Entah bagaimana usaha mereka, pada hari ketiga Apak menghadap ke KMK ditemani Nasution dan teman2nya
Menjelang tengah malam Uda Hamzah dibebaskan dan boleh pulang
Padahal sejak pemeriksaan siang hari, dia tidak dikembalikan lagi ke selnya semula yang berisi beberapa orang. Dia sudah diisolasi, biasanya kondisi seperti ini berujung dengan hukuman tembak mati didepan regu tembak
Selanjutnya statusnya berobah menjadi tahanan kota yg tiap hari harus melapor ke KMK
Setelah Uda dua hari dirumah , Apak-Umi dan saya mendatangi pak Aritonang di rumahnya.
Sebagai tanda terimakasih kami, kalung Ni Baya yang baru dibeli bulan yang lewat, berpindah keleher boru Aritonang yang juga masih kelas 6 SR
Tidak lama sesudah itu, terbetik kabar penahanan Uda adalah karena laporan tukang tunjuk
Walau bukan se Nagari dengan kami, tapi dia cukup sering datang dan menginap dirumah sewaktu APRI baru masuk dulu
Salah satu tempat berkumpulnya kelompok ini adalah disamping gudang stasiun Kereta Api Bukittinggi, antara Markas Batalion A dan RM Simpang Ampek yang cukup terkenal masa lalu
Dipelataran samping gudang, sebelah sisi ke jalan raya terdapat deretan tukang pangkas rambut
Sambil membawa "sayak" Apak mendekatinya.
Langsung bicara : "Salamo ko hubungan awak, apo salah kami. Tapi nan disitu acok karumah, muntahkan lah disiko. Indak ambo relakan nasi kami tamakan dek waang"
Dia langsung ngacir, tanpa menjawab apa2
Sejak saat itu dia tidak nampak lagi di Bukittinggi, kabarnya sudah pergi merantau ke Medan.
Begitulah kuasa Ilahi, belum tentu semua perbuatan baik kita langsung berbuah baik. Tapi dalam kondisi kritis bantuan bisa datang, dari tempat yg tidak kita sangka2
Sesuai janji Allah, yang tidak akan memberikan cobaan kepada manusia melebihi kemampuannya. Cuma kita yang sering salah mengartikannya.---
------
Rumbai , 26 February 2011
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Bisakah fersi wordnyo dikirim ?
andiko
----------------------------------
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wassalam
Buyuang Batuduang Ameh (44)
salam
andiko
Katarangan angku Taufiq manambahjalehkan bukan sajo tampek
nan agak detail di Pasa (baitu julukan kami di Kampuang tantang
Bukittinggi) sarato latar bulakang Kampuang Halaman baliau
nan ambo sangat jaleh mambayangkan, baiak dari sagi tampek
maupun tempo.
Waktu pulang kapatang ko MakNgah bajalan kaki di Panampuang
dari Baso jo Sungai Baringin, marancah bajalan surang
malinteh malalui Lundang, lapeh ka Lauik ka Induriang.
Lai mukasuik taruih ka Lurah, mancaliak Ranah Angku Taufiq,
tapi di Induriang basuo kawan MakNgah.
Rencana cross-country
seluruh Panampuang
tahanti di Rumah Nyiak Aguang,
kawan lamo MakNgah Rang Panampuang.
Maso PRRI bukanlah sabingkah Periode Sejarah pado detailnyo,
tapi batingkek-tingkek, bafase-fase manuruik tampek tempo kejadian
nan bavariasi.
Khusus di era 1960 adolah maso kritis nan mamuncak
hangek kejam di Ampek Angkek Canduang.
Waktu itu Warlord setempat, Buterpra-nyo
manjadi sosok nan ditakuti;
OPR dilapehnyo indak batali,
inyo babuek sakahandak hati.
Banyak carito tersembunuyi
nan dapek digali
untuak sumber Oral History.
Satangah abad sampai kini,
urang pun masih berhati-hati,
hanyo carito kalua sakali-sakali
kalaulah takana parasaian diri
manganangkan kanti-kanti
nanlah mati.
Carito Angku Taufiq hari ini
dapek MakNgah hayati
dengan teliti.
Satantang pandangan mato Angku Taufiq di Sekolah PSM wakatu itu,
walaupun baru masuak TK dapek ambo verifikasi.
Karano di waktu itu,
awal Juli rasonyo tanggal 5 Juli 1961,
kiro-kiro samninggu,
MakNgah ado di situ...
MakNgah melihat dan merupakan bagian Sejarah dari suasana itu.
Halaman Gedung PSM penuh Dunsanak Kerabat famili
dan kawan-kawan para pendatang baru dari Gunung Merapi
dan Rimbo-rimbo Gadang Bukit Barisan sekitar Bukittinggi.
Airmata berlinang bercururan, kegembiraan hati berlimpah ruah,
suka bercamapur duka, suasana perasaan tak tergambarkan.
Kenapa tidak; pemuda-pemuda harapan yang keluar dari rimba,
yang dipropandakan sudah babantuak karo, rambuik panjang
ikua karempeng, babaju compang campiang,
sekarang muncul di mata pengunjung
dalamkeadaan sebaliknya.
Mereka sehat dan gembira,
pulang pakai baju bersterika,
abuak basega,
baik-baik bahasanya,
wajah sehat lembut kulit mukanya
karena lingkungan hutan melindungi kulitnya
dari terik matahari yang biasa.
Wah Angku Taufiq, panjang cerita kenangan untuk sepekan itu.
Gedung dan halaman PSM seperti merupakan tempat hiburan
pesta ria penuh doa bagi peserta
semua handai tolan yang menunggu penuh rindu ...
Tentu saja Angku Taufiq yang anak baru masuk TK waktu itu,
tidak kan kenal MakNgah dalam masa remaja muda
dengan 26 tahun usia...
Sekian dulu sekedar ingat peristiwa semasa,
suatu pancuran cerita
tidak tersangka-sangka.
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Terkenang kisah setengah abad yang lalu ...
--- In Rant...@yahoogroups.com, taufiqrasjid@... wrote:
>
>
> Tarimo kasih pak Abraham,
>
> Ambo satuju kok judulnyo diubah sasuai usul Bapak
>
> Kampuang kami di Panampuang Ampek Angkek Canduang
>
> Ambo ba suku Sikumbang, sedang Bapak ambo Jambak sukunyo
>
> Tahun kejadian sekitar tahun 60 akhir, sabab ambo baru masuak TK
>
> Uda itu tapaso masuak kadalam, sabab taruih didesak Apak. Supayo bisa manaruihkan kuliahnyo baliak nanti
>
> Itu maso sabalun penyerahan besar2an "Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwi"
>
> Sabab kutiko penyerahan besar2an itu, kami babarapo kali manyilau banyak famili kami nan dikumpuakan dulu di SMA PSM Ateh Ngarai beberapa waktu, sebelum dipulangkan kedaerah masing2.
>
> Waktu penyerahan besar2an itu kami alah pindah dan tingga di daerah Manggih nan labiah selesa rumahnyo
>
>
> Wass
> TR
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: Abraham Ilyas <abrahamilyas@...>
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Sat, 26 Feb 2011 11:41:42
> To: <rant...@googlegroups.com>
> Reply-To: rant...@googlegroups.com
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Curito PRRI : Minang jo Minang disalasaikan dek Rang Batak
>
> Pak Taufiq Rasyid yth.
>
> Kalau bisa data tentang tahun kejadiaannyo (kira kira saja) sarato "suku dan
> nagari" pak TR tolong dituliskan, dan ambo usul judulnyo "*belum tentu
> semua perbuatan baik kita langsung berbuah baik" ?
>
> *Salam
> Abraham Ilyas lk. 65 th
>
> NB.
>
> Baru sajo ambo upload *2 kisah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di
> nagari *berbentuk syair yang dibuat oleh mahasiswa jurusan sejarah UNP
Untuak illustrasi katarangan Angku Taufiq dengan istilah
"aktor intelektualnyo" silakan perhatikan dan teliti
gambar penuh satu halaman di bagian depan salah satu
buku Mestika Zet. Tampak jaleh disitu aktor intelektual,
"Tukang Tunjuak Agung Utama" tu manunjuak Peta Detail
(literally dengan mampagunokan jari tunjuaknyo)
kepada Panglima Penyerbu Kampuang Halamannyo ...
Sungguh-sungguh data dan fakta sejarah menakjubkan
untuk dikenang para Angkatan Kemudian ... :)
Salam,
- Nyit Sungut
--- In Rant...@yahoogroups.com, taufiqrasjid@... wrote:
>
>
Pak Taufiq jo Sanak di lapau,
Menarik carito Pak Taufiq di bawah. Ingatan remeh temeh dan kecil2 seperti inilah yang mestinya dikumpulkan dalam buku tentang PRRI yang akan diedit oleh Dinda Andiko. Jelas cerita2 kecil seperti ini tak akan tersua dalam buku2 sejarah tentang PRRI yang ditulis oleh orang2 yg bergelar doktor atau professor. Carito Pak Taufiq ko layak masuak ka dalam buku tu mah, Sanak Andiko. Carito2 bantuak ko akan, kalau lah takumpua dalam bentuk buku, akan banyak manfaatnya di maso depan, untuk ilmu pengetahuan. Seperti nan ambo harapkan, kok dapek buku ko 'merekam' peristiwa2 kecil di seputar PRRI dari berbagai sudut pandang pelaku: baiak nan pro PRRI, nan pro Tantara Pusek, ataupun urang asiang nan kebetulan terperangkap di Sumatra Barat wakatu kajadian PRRI. Dek karano tu, ambo raso sangaik rancak kalau dalam buku ko mamak2 awak sarupo Pak Saaf jo Mak Ngah sato pulo sakaki. Kalau pengalaman tu ndak ditulihkan, hanyo dalam pikiran sajo,
kurang baramal pulo awak jadinyo untuak ilmu pengetahuan dan generasi maso datang.
Wassalam,
|
Catt : dek nenek ambo kurang luruih bahaso Indonesianyo, PRRI ko nyo
sabuik "Peri-Peri".
Salam
andiko
Pada tanggal 26/02/11, Lies Suryadi <niad...@yahoo.co.id> menulis:
Mamak2 sarato dunsanak di lapau,
Tampak e makin banyak carito soal PRRI. Mudah2an buku nan digagas dek Sanak Andiko jadi. Tapi melalui email ko ambo mintak info ka rang lapau tentang sorang tokoh nan takaik jo PDRI. Nan ambo mukasuik adolah Dr. Anas, nan konon ingin mendirikan negara Belanda Minangkabau. Dr. Anas jo keluarganyo akhirnyo hijrah ka Balando.
Ambo cubo manalusuri riwayat iduik Dr. Anas ko. Lah dapek dek babarapo fragmen informasi tantang keluarga baliau di Ulando. Ambo cubo menelusuri alamatnya di satu provinsi di Ulando Utara. Tapi tanyato keluarga baliau lah ndak tingga di situ lai. Mungkin ambo harus menelurusi labiah lanjuik melalui Lembaga Genealogi Balando. Kaba2 nan ambo danga, Dr. Anas ko ikuik basangkuik-pauik jo Persitiwa Situjuah nan berakibat pado penghilangan keluarga Tambiluak dek pasukan2 kito nan anti Ulando.
Apokoh ado dunsanak di lapau nan kenal jo keluarga Dr. Anas ko di Pikumbueh? Dan apokoh ado nan punyo informasi (lisan, tertulis ataupun visual) mengenai Tambiluak? Kalau ado, mohon kironyo babagi info tu jo ambo.
Wassalam,
Suryadi
(46 th) |
Salam
andiko
Pada tanggal 26/02/11, Reni Sisri Yanti <resy...@yahoo.com> menulis:
Wah....ini informan yang sangat penting. Basugirolah mewawancarai sang nenek. Picik2 kaki baliau....kalua mah curito lamo tu...
Salam,
|
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Salam
andiko
Pada tanggal 26/02/11, taufiq...@rantaunet.org
<taufiq...@rantaunet.org> menulis:
>
> Tantu baliau banyak info mengenai kedua belah pihak
>
> Jan..jan...baliau coki duo nokang nan ambo curitokan ndak ....he...he..
> peace...jan dibisiakkan pulo ka baliau...
>
> Beko dipungkangnyo ambo jo bika mariana tuuu.....
>
> Yang penting awak bisa mangatahui baa bana kejadian maso itu....
>
>
> ----TR
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
Tarimo kasih banyak ateh info dari Bundo Nismah. Apokoh kini masih ado gereja di Pikumbuah tu, Bundo? Kini jalan apo namonyo? Kalau masih ado info lain mengenai Dr. Anas ko, ambo mohon Bundo agiah ambo informasi tu.
Wassalam,
Suryadi
|
Batua, Pak Taufiq.
Raso2 ka sero mambaco buku ko isuak mah.
Salam,
Suryadi |
Ado salah satu thesis dari IKIP Padang mengenai Peristiwa Situjuh oleh seorang Putera Situjuh asli, Drs Sjamsir Djohary, nan MakNgah alun sempat baco. Mudah-mudahan ado tasabuik nan agak detail disinan, siatahu. Barangkali dapek ditalusua dalam kumpulan thesis di Leiden.
Untuk kenangan dan In Memorium, Sjamsir Djohary, alm, kawan dakek Makngah. Beliau adalah cucu Angku Lareh Situjuah. MakNgah sudah pernaha keSitujuh ke rumah Orang Tuanya menjelajah tmpat sekeitarnya di Masa Bergolak. Kami kuliah di Kursus B-I Sejarah Bukittinggi 1956-58 sabalun pergolakan PRRI. Sabalun Bagolak, kami pun samo-samo jadi Guru di Bukitinggi; baliau Guru SGB Negeri di Birugo, ambo Guru ST-2 Negeri di Lambau. Bundo Nismah Guru SMP-2 Negeri Di Ateh Ngarai.
Seusai Parang, sasudah carito Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi di PSM nan dikanakan Angku Taufiq dalam rentetan posting sebelumnya, MakNgah langsung dipangku kembali oleh Keluarga Guru-guru ST-2. Seminggu kalua rimbo, sementara kawan-kawan seperjuangan masih hilia mudiak di jalanan Bukittinggi, Makngah lah berdiri di muko kelas kembali. MakNgah pun kembali ke Bangku Kuliah di B-I Sejarah. Dalam minggu itulah Sjamsir Djohary sengaja mencari MakNgah.
Karena anjuran MakNgah sebelum perang usai supaya anak-anak sekolah kembali ke tempat sekolahnya sebelum perang, mengejar waktu yang hilang, Sjamsir Djohary pun kembali ke B-I. Kami tinggal bersama belajar keras selama setahun menyelesaikan programB-I SEjarah yang kami tinggalkan dahulu. Selesai B-I 1962 Sjamsir Djohary kembali ke Batusangkar karena beliau sudah berkeluarga. MakNgah meneruskan Jurusan Sejarah dan Budaya di FKIP UNAND Tjabang Bukittinggi sampai Sarjana Muda 1963.
Panjang Cerita, sesuah kunjungan MakNgah ke Batusangkar 1965, dalam suasana genting sesaat sebelumGestapu, kami tidak berjumpa lagi sampai 20 tahun kemudian dalam tahun 1965. Waktu itu Drs. Sjamsir Djohary menjabat Kepala SMA Negeri Batusangkar. Dua tiga tahunyanglalu, beliau dan kemudian isteri setianya Bidan Ummul Chair mengikutinya ke Alam Baqa. Namun, dengan masa lalu penuh dukasuka persahabatan, Situjuh tempat kelahiran beliau dengan Peristiwa Situjuhnya, dan Sungayang tempat kelahiran Ummul Charir, tidaklah terlupa dalam kenangan.
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, February 26, 2011
--- In Rant...@yahoogroups.com, Bunda Nismah <hayatunnismah@...> wrote:
>
> Assalamu Alaikum W. W.
> Ananda Suryadi - dokter Anas ko yo urang Koto Gadang. Rumahnyo di Payokumbuah didakek gereja didepan rumah sikola bundo samo mak Ngah SGA. Waktu clash pertama dan kedua dr Anas ko iyo NICA atau istilah katiko tu urang pro Balando. Jadi waktu sesudah KMB tapaso nyo pulang samo2 jo Balando tu demi keamanannyo. Bundo kurang tahu apokoh inyo perencana dare Peristiwa Situjuh yang menrwaskan 69 orang Republiken tsb.
> Wassalam
> Bundo Nismah (72+++)
>
> Sent from my iPad
>
Puisi Rusli Marzuki Saria di Padeks besok (Minggu, 27 Februari 2011). Puisi ini merefleksikan suasana ketika terjadinya PRRI.
Salam,
Suryadi
Balada Simpang Malalak mendaki jalan ke simpang malalak awan berarak di kaki singgalang rumahmerah disimpang balingka korogadang lurus jalannya jalan berkelok-kelok ke paritpanjang sungailindia di lembah-lembah sembun di ketiak-ketiak batangtebu “kita dalam perang,” katanya “ya, ya…. kita dalam perang saudara,” ganasnya oi, adik sirambun gadiang dalam nagari di ampek koto manurun jalan ka sungai tanang mesin listrik menggebu-gebu duo roket bazooka meliuk-liuk menghantam listrik padam di bukittinggi teringat adik nan seorang, entah pabila akan ketemu, perang saudara sangat ganasnya, rindu merimbun daun lada.” angin bersiul di lembah-lembah kampung pisang dan sianok di tebingnya bukit kepanasan di puncak-puncak jenjangbetung menuju ngarai ahai, di simpang malalak kami bertahan dingin malam subuh menggigil puncak-puncak bukit bagai gergajai leter “w” maninjau di bawahnya bazooka, bazooka kaku menyalaklah! ada tank waja di kelok itu bidik! operasi semut: tentara soekarno membebaskan matur lawang kemudian maninjau danau birunya airmu tengah hari beriak kami sedang perang gerilya inyiak junus ditembak tentara soekarno di simpang malalak kami bergerak di jalanan setapak salam, adiak: kita dalam perang saudara 14/1/2011, pk 06.30 pagi
--- Pada Sab, 26/2/11, Reni Sisri Yanti <resy...@yahoo.com> menulis: |
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, Reni Sisri Yanti <resy_2000@...> wrote:
>
> paliang uda takaka golak2 dek nenek reni ko ma,
> cubo uda tanyoan...apo rahasia umua panjang nenek ko/
> 1. jaan makan lado...
> 2 minum susu
> hahhahhaha, mato nenek ko masih mantap loh da...baco al qurán jo nonton tv masih
> mantap...!!!!!
>
> Renny,Setia Budi
>
> ________________________________
> From: andi ko <andi.ko.ko@...>
Waktu MakNgah pulang Desember 2010 - Januari 2011 ko MakNgah sengaja satu hari melingkari Singgalang Tandikat, arah berlawanan Jarum Jam dari Ampat Angkat. Pandangan mata dalam perjalanan, sekarang kembali jauh di Rantau, tersinggung oleh Puisi ini.
Operasi Semut di akhir Agustus 1958 yang disebutkannya menghunjam kenangan ke Utara; MakNgah sedang di Tantaman Palembayan bersama Angku Buchari Tamam, Rang Balingka, maksud ke Selatan ke Balingka dari Talu Pasaman ke Lawang dan Maninjau. Hanya terhalang karena telepon komandan APRI dari Lawang kepada Camat Palembayan bahwa mereka akan datang meyerang besok.
Perjalanan MakNgah terpaksa dibelokkan ke hutan raya memintas tuntas ke arah Maninjau, merupakan penerusan variasi perjalanan perjalanan beruntun kucing-kucingan di masa perang.
Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, February 26, 2011
> --- Pada Sab, 26/2/11, Reni Sisri Yanti <resy_2000@...> menulis:
Salam Mak Ngah,
Ondeh...rupoe ado bana skripsi ru di KITLV Leiden, Mak Ngah. Tarimo kasih banyak ateh info padek dari Mak Ngah. Namun samantang pun baitu, kalau ado info2 lanjutan mengenai Dr. Anas ko, bagi2 juoalah ka ambo, Mak Ngah.
iko skripsi tu, Mak Ngah:
Wassalam,
|
|
Mengenai Dr. Anas, walaupun MakNgah samo-samo di Payokumbuah jo Bundo Nismah, namo tu indak pernah mandanga, apolai terekam dalam kenangan. Mungkin sebabnya seusai perang revolusi sesudah masa PDRI, para Nica-nica itu sudah banyak menjelma menjadi petinggi-petinggi RIS dan NKRI. Walaupun demikian memang banyak yang emigrasi ke Belanda mengikuti bos mereka ke Negeri Tuan yang dianggap sorga. Sebagian besar adalah kaum Indo yang banyak mengikuti pola semasa. Namun sampai di Belanda,mereka yang tgadinya di masa kolonial dipandang elit di HIndia Belanda, jatuh menjadi kerak masyarakat bagian lapisan bawah. Bahasa kereseh-peseh yang dianggap berstatus Bahasa Belanda oleh Bumi Petera yang tidak paham bahasanya, seperti tidak laku di sana.
Itulah sebabnya sebagian besar Indo-indo ini remigrated ke Amerika Serikat dimana mereka membangun hidup baru dengan sejarahnya yang unik istimewa, ironiknya memperkenalkan Cinta Indonesia ke mata dunia ...
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz,California, February 26, 2011
--- In Rant...@yahoogroups.com, Lies Suryadi <niadilova@...> wrote:
>
> --- Pada Sab, 26/2/11, sjamsir_sjarif <hambociek@...> menulis:
MakNgah sadang minum kopi di Sabtu Pagi,
Apo Jomanih sadang mancongkong kini
manikmati Jeneifer :) di Kadai Kopi
melupakan kedinginan di malam panajang ini?
Salam,
-- MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, "sjamsir_sjarif" <hambociek@...> wrote:
>
> Oh sanangnyo awak, ado di Leiden seperti MakNgah ramalkan. Mungkin ado juo nanti di Melvyl nan dapek MakNgah akses melalui ILL (Interlibrary Loan).
>
-- MakNgah
> --- Pada Sab, 26/2/11, sjamsir_sjarif <hambociek@...> menulis:
>
>
> Dari: sjamsir_sjarif <hambociek@...>
| Aww. Duns sapalanta nan berbahagia. aaa) Kebetulan pembicaraan sejarah maso PDRI kami ingin mandapeikkan nama ortu sebagaimana tertera pada subyek diateh. bbb) Apokah mungkin ado Duns nan mengetahui dan kalau ado arsip foto2 dokumen pengangkatan beliau sebagai Wedana Militer wilayah Kabupaten Tanah Datar tasabuik? Namo beliau adolah alm. Ahmad Sju'eib gelar Malin Permato asal nagari Salimpaung. Beliau terakhir Perintis/Pahlawan Kemerdekaan R.I. eks Digoelist basamo jo Moh.Hatta, dan kawan2 di Tanah Merah. ccc) Data standboek Digoel :1328 tanggal tibo di Tanah Merah eks tertangkap Cubadak Afdeling Agam, Guru Ugamo tanggal tibo 14 Januari 1931. Untuk data dan bebeapa foto2 di Boven Digoel masih ado kami simpan sebagai arsip pribadi. Pabilo urang gaek Bupati nan kiniko masih ado pulo manyimpan dokumen2 tasabuik, dengan senang hati kami ingin mendapeikkan copy nyo. Atas bantuan jo perhatian Duns kami mengucapkan tarimo kasih, Wass., ASmun putera Malin Permato (Aspermato, MA / LK/66/Depok) --- Pada Ming, 27/2/11, taufiq...@rantaunet.org <taufiq...@rantaunet.org> menulis: |
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Nikmatilah kopimu selagi jantungmu masih kuat, sampai suatu saat kamu tahu itu gak ada gunanya
Nikmatilah rokok selagi parumu kuat dan bersih untuk menyaring oksigen, sampai suatu saat kau tahu bahwa kau tah metusak filter tubuhmu dengan asap raun
Kamu pemutus nasibmu, bukan orang lain yang mengubah peruntunganmu
Semoga tersentak sedang minum kopi dan menghirup asap
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message-----
From: taufiq...@rantaunet.org
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Sat, 26 Feb 2011 17:23:22
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] PDRI, bukan PRRI : soal Dr. Anas
He..he..masih minum kopi hari Sabtu makNgah yo
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Nikmatilah kopimu selagi jantungmu masih kuat, sampai suatu saat kamu tahu itu gak ada gunanya
Nikmatilah rokok selagi parumu kuat dan bersih untuk menyaring oksigen, sampai suatu saat kau tahu bahwa kau tah metusak filter tubuhmu dengan asap raun
Kamu pemutus nasibmu, bukan orang lain yang mengubah peruntunganmu
Semoga tersentak sedang minum kopi dan menghirup asap
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message-----
From: taufiq...@rantaunet.org
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Sat, 26 Feb 2011 17:23:22
To: <rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] PDRI, bukan PRRI : soal Dr. Anas
He..he..masih minum kopi hari Sabtu makNgah yo
| I |
| slam bukanlah mengobserve Percieve Value tetapi True Value atau Al Muflihuun (Al Bqrh ayat 5) |
| Yang mengobserve Percieve Value adalah Yahudi. |
Makanya tradisi Jenggot panjang, celana diatas mata kaki, baju ghamis, songkok putih, adalah Percieve Value, yang dikenakan orang Arab dan Yahudi |
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
http://public.fotki.com/ForumBahtera/album-anggota-forum/sjamsirsjarif.html
--- In Rant...@yahoogroups.com, taufiqrasjid@... wrote:
>
> He..he..masih minum kopi hari Sabtu makNgah yo
>
> Ambo juo sadang minum kopi di Lubuak Bangku- Pikumbuah ,lumayan dingin taraso
>
> Tapi kalender kami lah batuka ka hari Minggu
>
> ---TR
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "sjamsir_sjarif" <hambociek@...>
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Sat, 26 Feb 2011 16:44:27
> To: <rant...@googlegroups.com>
> Reply-To: rant...@googlegroups.com
> Subject: Re: [R@ntau-Net] PDRI, bukan PRRI : soal Dr. Anas
>
> Angku Suryadi,
>
> MakNgah sadang minum kopi di Sabtu Pagi,
> Apo Jomanih sadang mancongkong kini
> manikmati Jeneifer :) di Kadai Kopi
> melupakan kedinginan di malam panajang ini?
>
> Salam,
> -- MakNgah
>