
Baru saja saya sadari bahwa di daerah Minangkabau, yang disebut dendeng hadir dalam begitu banyak versi. Secara umum, setidaknya ada empat jenis dendeng yang berhasil saya identifikasi, yaitu: dendeng balado, dendeng batokok, dendeng lambok, dan dendeng baracik.
Tetapi, di dalam setiap jenis dendeng juga muncul berbagai varian. Setiap rumah makan di Sumatra Barat memiliki ciri-ciri dendengnya masing-masing. Standarisasi memang merupakan salah satu isu pelik dalam kuliner Indonesia.
Pada umumnya, hanya dendeng balado yang memakai cabe merah. Ketiga jenis dendeng lainnya memakai lado mudo atau cabe muda yang masih berwarna hijau. Cabe muda yang berwarna hijau ini tidak sepedas cabe yang sudah berwarna merah. Aromanya pun berbeda.
Yang disebut dendeng balado biasanya adalah dendeng tipis yang digoreng
garing, lalu disiram dengan sambal berwarna merah. Sekalipun “penampakan”-nya mungkin sama, tetapi masing-masing rumah makan di Sumatra Barat ternyata tidak membuat dendeng baladonya dengan “pakem” yang sama.
Pertama, dari sisi dendengnya. Sebagian memakai cara mengiris daging sapi tipis-tipis, dibumbui, dijemur sampai kering, kemudian digoreng. Bumbunya sendiri berbeda-beda. Ada yang memakai ketumbar, ada yang tanpa ketumbar. Versi lain justru tidak dijemur. Dagingnya direbus dengan bumbu-bumbu, lalu diiris tipis-tipis, dan langsung digoreng sampai garing. Ada pula yang tidak dijemur dan tidak direbus, tetapi langsung digoreng.
Kedua, dari sisi sambal yang dipakai sebagai topping-nya. Yang wajib ada dalam bumbu balado ini adalah garam, bawang merah, cabe merah, perasan jeruk nipis. Ada versi lain yang
menambahkan bawang putih. Kadang-kadang, ada pula yang menumis sebentar bahan-bahan tadi dengan minyak tanak atau minyak kelapa. Disebut minyak tanak karena dihasilkan dari santan kelapa yang ditanak.
Perbedaan proses itu membuat dendeng balado juga tampil dalam berbagai tingkat kerenyahan. Ada yang renyah sekali, tetapi ada juga yang alot dan keras. Ada yang mak nyuss, ada yang biasa-biasa saja.
Dalam “pencarian” dendeng balado yang paling juara, akhirnya saya harus mengakui keunggulan sajian Restoran “Kembang Goela” – baik yang di jakarta maupun yang di Bali. Harus diakui, proses pembuatannya tidak tradisional. Tetapi, hasil akhirnya sungguh dahsyat. Saya duga, di “Kembang Goela” dimulai dengan pilihan daging yang bagus. Mungkin daging direbus dulu dalam bumbu-bumbu lengkap, lalu dibekukan.
Dalam keadaan beku, daging diiris tipis (shaved) dengan mesin yang menghasilkan irisan setipis kertas. Setelah digoreng, hasilnya adalah dendeng renyah yang langsung hancur di mulut – dengan bumbu balado yang mendekati sempurna.
Maaf kalau saya masih memakai istilah “mendekati sempurna”. Soalnya, di “Kembang Goela” tidak dipakai bawang merah yang didatangkan dari Sumatra Barat. Harap dicatat, di ranah Minang, bawang merahnya berbeda dengan bawang merah di Jawa. Di sana bawang merahnya berukuran besar, rasanya pun khas – seimbang antara asam dan pedasnya. Bawang merah khas Minang inilah yang menjadi kunci keistimewaan dendeng balado.
Jenis dendeng lain yang populer di Sumatra Barat adalah dendeng batokok. Secara harafiah, ditokok berarti dipukul dengan palu. Proses pembuatan dendeng yang satu ini
memang harus ditokok-tokok.
Karena favorit dendeng batokok saya adalah dari Rumah Makan “Mintuo” di lintasan Padang-Solok, maka saya akan memakai referensi dendeng batokok yang top markotop ini. Daging sapi mentah, direndam selama dua jam dalam bumbu dan rempah yang cukup kaya, yaitu: bawang merah, bawang putih, daun jeruk nipis, kunyit, lengkuas, jahe, dan garam. Semua bumbu dan rempah itu dihaluskan, lalu ditambah asam jawa yang dilarutkan dalam air.
Daging mentah yang sudah direndam bumbu ini kemudian diiris-iris dengan ketebalan sekitar satu sentimeter, lalu ditokok-tokok dengan batu agar seratnya pecah dan menjadi lebih tipis serta lebar. Ketika menokok-nokok itu, bumbu pun ikut meresap ke dalam serat-serat daging. Lembaran-lembaran daging mentah ini kemudian dibakar di atas bara arang tempurung
kelapa. Setelah matang dan sebelum gosong, daging panggang dilumuri dengan minyak tanak.
Topping-nya adalah lado mudo, bawang merah, perasan jeruk nipis, dan garam. Lado mudo dan bawang merahnya tidak digiling halus, sehingga masih tampak lebar-lebar bertaburan di atas dendeng.
Di rumah-rumah makan lain, ada dendeng batokok yang mengalami proses perebusan terlebih dulu. Ada juga yang dagingnya tidak dibakar atau dipanggang, melainkan digoreng – sekalipun tidak sampai garing. Versi dendeng batokok goreng ini biasanya adalah jenis yang direbus sebelumnya.
Di “Mintuo”, cabe muda yang dipakai sangat muda, sehingga tingkat kepedasannya pun masih rendah. Ini membuat rasa bawang merah mencuat dengan indahnya. Secara warna,
dendeng batokok “Mintuo” juga tampil lebih cantik.
Versi dendeng yang ketiga adalah dendeng lambok. Dalam bahasa Minang, lambok berarti lembab. Dalam pengembaraan saya di ranah Minang, dendeng lambok inilah yang paling “kacau” atau paling banyak ragamnya. Salah satu elemen pembeda dendeng lambok dari dendeng balado dan dendeng batokok adalah digunakannya tomat hijau sebagai bahan bumbu baladonya.
Di satu rumah makan, saya melihat dendeng lambok dalam bentuk daging sapi rebus dalam bumbu balado yang agak berkuah, sehingga lebih mirip gulai. Di rumah makan yang lain, dendeng lamboknya tampil mirip dendeng batokok plus tomat hijau. Mungkin karena ragamnya yang tidak jelas, hingga kini saya belum menemukan dendeng lambok yang dapat saya jagokan.
Jenis dendeng terakhir – yaitu dendeng baracik – adalah favorit saya. Dendeng ini diperkenalkan kepada saya oleh JS-er Andrew Mulianto. Sepanjang pengetahuan saya, dendeng baracik hanya dapat dijumpai di satu lepau makan di lintasan Padang-Solok, tepatnya di Desa Talang, dekat Kayu Aro – kawasan penghasil teh terkenal. Menurut pemiliknya, Hajjah Emi, dendeng baracik memang eksklusif merupakan sajian di lepau nasinya. Resepnya diperoleh dari ayah mertuanya. Konon, ketika Emi muda sedang hamil, sang ayah mertua membuatkan dendeng khusus itu. Sensasi kelezatan itu tidak pernah dilupakan Emi, dan memicunya untuk membuat dendeng baracik sebagai sajian juara di kedainya.
Secara harafiah, baracik berarti diracik. Nomenklatur ini baru jelas maknanya bagi saya setelah nyelonong ke dapur untuk melihat bagaimana dendeng baracik itu dibuat. Ternyata, dendengnya
dibuat dari potongan tebal daging bagian dada sapi (disebut gajebo di Minang, atau sandung lamur di Jawa).
Bungkah-bungkah gajebo itu dilumuri bumbu – antara lain ketumbar – dan kemudian dijemur sebentar agar layu, tetapi tidak sampai kering. Daging berbumbu yang sudah layu ini kemudian dibawa ke dapur. Dalam dapur yang panas dan penuh asap, proses pelayuan dendeng berlanjut.
Bila ada tamu yang memesan dendeng baracik, Hajjah Emi akan memotong-motong gajebo layu dengan ketebalan sekitar dua milimeter, besarnya sekitar lima kali lima sentimeter. Anda harus berada di dapur untuk menikmati sensasi aroma dendeng yang digoreng dengan sedikit minyak tanak atau minyak kelapa. Tabiak salero!
Sementara dendengnya digoreng, Hajjah Emi merajang lado
mudo, bawang merah, dan tomat. Dendeng yang sudah digoreng setengah kering itu diletakkan di piring, ditaburi semua rajangan, lalu dikucuri dengan perasan asam sundai (mirip jeruk purut, tetapi berukuran besar dan isinya berwarna kuning muda). Langsung diaduk dan dimakan dengan nasi hangat. Tekstur dendengnya garing di luar, lunak di dalam, dengan aroma daging layu dan ketumbar yang sangat khas. Bagian lemaknya juga memberi sensasi rasa yang sulit digambarkan.
Onde mande, lamaknyo!
kalo reni...
hmmmm....dr patamo masou...sampai kini....agak...maaf...,.
kalo ado komentar2 di komentari...pasti yg anggota lamo2 yg lah dikenal....apo lai yg tuo2...kalo anggota baru apo lai masih...mudo....di cuekin...lapeh seh....
pernah diskusian,,,samo uda2 yg lah kenal di siko..( di lua mailist...cuma galak se jawabanyo..) pernah lo di ajak basobok...jo anggota2 siko...tp kato reni....sagan la mak, sagan la da....dimillist se awak di cuekin...apo lai kalo basobok....eh galak2 tu mamak jo uda tuh...
mungkin iyo kato urang2....yg mudo2 samo yg mudo...( dulu wakatu di ranahminang group...acok kami basobok ntuak sakadar silahturahmi sambia diskusi2...tp kini la ilang2 ciek2...sampai kapatang ado uda del yg telp...ren....ndak ado anak2 kumpua2 lai,.....?
( ndak do lai do...ala sibuk balaki,babini,baranak...jo bakarajo..)
yang tuo samo yg tuo....karana yg tuo2 saiyo sakato...kalo bacampua2...yg mudo2 banyak salengeg..an...
yo wes lah reni kan alun lamo bana di siko lai...mungkin itu yg reni rasoan...
renny,ancol
|
Lai maraso mudo eh masih mudo juo Da Miko yoh
Yo bana mah Reni, ukatu ambo kapatang ko basobok jo Da Miko di batam
baru-baru ko
Lai mudo juo Sang Katua wak ko..hehe
Lai balapir-lapir juo ota kami rami-rami katu tu..
Btw, ambo yakin Reni banyak punyo bahan untuak dilewakan di milis awak ko
Lewakanlah Ren...Lapau ko laweh mah..dari nan baru mangeak sampai nan ka
tangengek..
Manantian inboxnyo mahitam 1,2,3,4,5,6.........dst..
Walau tak sato mangecek tapi lai manyimak nyimak juo...
Walau dimapun dan barapun umuanyo..asalkan tadaftar..kan mantun
du...adidunsanak???
Banyak Maaf
Wass-Rina, 32, batam
Memang lah banyak nan lamo indak sato duduak di Lapau lai. Ado nan laha maningga misanyo MakBan dariBogor. Cuma MakNgah nan sajak Lapau dibangun masih dapek mangikutinyo kontinuiti saketek-saketek. Rangkayo Nismah lai duduak di suduaik, tapi kini sadang belasungkawa karano suami baliau angku Rumzy lah pai pulo maninggakan kito. Wakatu mulo-mulo, kami cuma barampek-balimo, (antaro lain-lain Rangkayo Hayatun Nismah, Rangkayo Yenny Rosa, Angku Gindo Aris, Angku Sutan Salim, Rangkayo Nurbaini, dan babarapo urang lai), kini lah 1600 anggotanyo. Ota pun lah batambah kian kumari indak tapiliahi amek lai.
Mancaliak Elisna lah masuak, Rita lah masuak, Fred lah masuak, dan tampak lo dek MakNgah Yenny lah masuak pulo baru-baru ko. MakNgah lah salamat ka nan baru-baru baliak ka Lapau. Ingin pulo manaruihkan salam salamat ka Dr. Elisna sarato Dr. Yenny Rosa. Dr. Yenny Rosa, kini di Pekanbaru, adolah salah seorang pandiri Lapau ko dengan accaount baliau tahun 1993 basamo suami baliau Dr. Arisman Adnan (Gindo Aris) nan dahulunyo mambukak Lapau ko di Kansas, November 1992.
Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
http://www.santacruzsentinel.com/localnews/ci_12030675