Batu bulek basagi!

29 views
Skip to first unread message

Hambo Ciek

unread,
May 29, 2009, 1:19:02 PM5/29/09
to Rant...@googlegroups.com
"Batu bulek basagi", kadang-kadang tadanga juo "Batu bulek basandiang" ko garah Urang Awak. Apokoh ado kaik-kaiknyo jo katarangan "O Bulek" jo "O Kotak" dalam ota kami di bawah ko? Di Awak nan huruf "O" iyo Bulek bantuaknyo, tapi di Jawa ruponyo ado lo "O" ko nan indak bulek, bantuak kotak. Jadi, di Urang Awak kalua garah, "Batu bulek basagi"; lah jaleh "bulek" tapi "basagi" pulo.

Mngkin koh iko juo nan ditaruihkan ka stereotip "Dalam duo tangah tigo" dalam gurindam

Dalam duo tangah tigo
Dalam iyo indak pulo ...  ?

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

Di bawahko ambo salin dari Bahtera:

[BT] Re: rawan paku

Aha, terima kasih keterangan detail antara "O Bundar" dengan "O Kotak". Bagi
kita di luar kawasan "> Jawanya orang wetan (Jogja ke timur), lain dengan basa
Jawanya orang ngapak" yang "O' ialah "O Bulat atau "O Bundar" saja. Pantas ada
beda ejaan o dan a antara "Bojonegoro" (wetan?) dengan "Banjarnegara" (ngapak?).
Wakktu saya ceritakan mertua saya dari Banjarnegara, orang keliru dengan
banjarnegara juga di daerah Sunda Jawa Barat.

Tetapi dalam kebanyakan berita-berita resmi di Media, banyak ditulis "O" untuak
Hamengku Bowono. lihat misalnya keinginan jadi Presiden:
http://www.flickr.com/photos/yanrf/2981455201/
Mungkikah karena keliru antara "o" dan "a" itu dalam papan besar itu terpampang
hanya hurf besar HB saja?

Salam,
-SS
--- In bah...@yahoogroups.com, "hugeT" <Tira0207@...> wrote:
>
> Tidak Pak Sjamsir. Ejaannya memang menggunakan 'a'. Dan jangan salah, basa
> Jawanya orang wetan (Jogja ke timur), lain dengan basa Jawanya orang ngapak
> (Banyumas dan sekitarnya) yang terpengaruh bahasa Sunda.
>
> Untuk basa Jawa wetan, tulisan dengan 'a' ini memang dibacanya agak 'o'
> tetapi bukan 'o' bundar. Misalnya, lara (sakit) dan loro (dua) dibacanya
> bagi orang luar mungkin terdengarnya sama, yaitu 'loro' tetapi sebenarnya
> 'o'-nya tidak sama. Yang satu 'o' kotak dan yang satunya 'o' bunder. Juga
> 'Moro' (nama tempat/toko) dan 'mara' (mendatangi). Juga 'buwana', orang luar
> bisa mengira itu dibaca 'buwono', tetapi sebenarnya tidak demikian. 'O' di
> situ 'o' kotak. Juga nama 'Kebo Kanigara' akan terdengar dilafalkan 'Kebo
> Kanigoro' padahal o di Kego dan o di Kanigara tidak sama bunyinya. Tetapi
> tentu saja tidak semua 'a' dibaca 'o' kotak, sebab kalau demikian, orang
> Jogja akan makan 'kenthong' instead of 'kenthang'.
>
> Untuk basa Jawa kulon/ngapak, memang tidak mengenal pelafalan seperti di
> atas itu. Kalau 'a' ya dibaca 'a' dan kalau 'o' dibaca 'o' bunder. Mungkin
> mirip Sunda ya. Makanya ada 'poyokan' (semacam ejekan guyonan) orang wetan
> yang mengatakan bahwa orang mBanyumas tidak doyan 'sega' (a dibaca dengan
> 'o' kotak) (sega = nasi). Mengapa? Karena mereka makannya sega (a dibaca a).
>
> Kalau paku yang bisa dimakan di sini juga banyak Pak.. dulu pas kecil sering
> nyari di pinggir kali, ditumis.. sekarang sudah banyak di supermarket. Enak
> memang.
> hgT
>
> ----- Original Message -----
> From: "sjamsir_sjarif" <hambociek@...>
> To: <bah...@yahoogroups.com>
> Sent: Friday, May 29, 2009 10:15 PM
> Subject: [BT] Re: rawan paku
>
>
> > Saya kira ejaannya Pakubowono dan Hamengku Buwono, pakai huruf "O" kareno
> > mereko Orang Jowo. Yang di"a"kan ejaannya itu biasanya Orang Sunda, atau
> > Jawa kesunda-sundaan...
> >
> > Paku bukan saja (English) Nail seperti yang semula dimaksud, tetapi juga
> > sebangsa sayuran biasa dibikin Gulai Paku, enak, Fnglish Fern.
> > Arti lain juga "tanda pangkat pada bahu".
> > --SS
> > --- In bah...@yahoogroups.com, "hugeT" <Tira0207@> wrote:
> >>
> >> Pakubuwana kalau tidak salah adalah gelar Sunan di Kasunanan Surakarta,
> >> yang
> >> merupakan salah satu dari dua pecahan awal Kasultanan Mataram bersama
> >> dengan
> >> Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sultan Yogya bergelar
> >> Hamengkubuwana
> >> dan Sunan Surakarta bergelar Pakubuwana. Saat ini Pakubuwana adalah ke
> >> XIII
> >> dan dijabat oleh dua orang bersaudara lain ibu, yang masing-masing
> >> mengklaim
> >> berhak mewarisi takhta. Pecahan berikutnya adalah Pakualaman, dipimpin
> >> Paku
> >> Alam, dan Mangkunegaran, dipimpin Mangkunegara, yang masing-masing
> >> merupakan
> >> daerah otonomi tetapi bukan kasultanan maupun kasunanan.
> >> salam,
> >> hgT

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages