Oleh: Marthias Dusky Pandoe*
Syekh
Abdul Karim Amarullah (1879-1945)
Lahir di Sungai Batang Maninjau. Semula bernama Mohammad
Rasul. Nama tersebut ditukar setelah menunaikan ibadah haji tahun 1894. Di
Makah selama tujuh tahun, menimba ilmu pada Syehk Ahmad Khatib. Beliau orangtua
Buya Hamka, dan mertua mantan Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah Abdul Rasjid
Sutan Mansyur. Berani membuang hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran dan
sunnah. Bersama Syekh Abdullah Ahmad memperoleh gelar doktor honoris kausa dari
Universitas Al Azhar, Kairo.
Ketika aliran Ahmadiyah dari India masuk Minangkabau, beliau
menerbitkan buku Al Qaulul shahih (kata yang sesat) untuk menyerang faham
tersebut, mencegah perkembangannya di daerah ini. Sebaliknya membawa
Muhammadiyah dari Jawa. Tahun 1930 beliau semarakkan kongres perserikatan ini
di Bukittinggi. Beliau tak setapak pun kompromi dengan Pemerintah Belanda. Bila
sudah ada di mimbar, sekali-kali jangan disensor pidatonya.
Terang-terangan pula menantang pemerintah Fasis Militer Jepang
yang menduduki Indonesia tahun 1942-1945 untuk melakukan sei keire, yakni
menundukkan kepala ke arah matahari terbit (Tokyo) tanda memberi hormat
kepada Kaisar Hirohito tempat tahta raja Jepang itu.
“Biar saya digantung tinggi-tinggi atau dibuang jauih-jauih,
saya tidak mau melakukan,” kata Karim Amarullah tegas.
Syekh Daud Rasyidi (1880-1948)
Lahir di Balingka, Kecamatan IV Koto Agam. Beliau orangtua kandung
Mansyur Daud Datuk Palimo Kayo, yang dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet
terakhir ulama-ulama besar Minangkabau. Inyiak Daud tak ada menempuh pendidikan
formal di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah. Pernah jalan kaki dari
kampungnya ke Kota Padang, dibekali ketrampilan menjahit, mengaji di beberapa
surau Sumatera Barat. Akhirnya pada Syekh Ahmad Khatib di Mekah selama
empat tahun, untuk ilmu tasauf, fiqih, tauhid dan bahasa Arab.
Tahun 1903 membuka pengajian di masjid Jembatan Besi
Padangpanjang. Masjid ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib. Waktu itu
penyakit kolera dan cacar mewabah disini. Puluhan korban meninggal setiap hari.
Dikubur begitu saja, tanpa dimandikan, dikafani dan disembahyangkan. Kata
beliau,
“Umat Islam akan menerima dosa karena tidak melaksanakan
fardhu kifayah”. Dengan berani beliau menyuruh bongkar kembali kuburan
mayat-mayat tadi. Namun, ditantang Asisten Residen Padangpanjang sebagai
penguasa. Tapi akhirnya tuntutan Syekh Daud dikabulkan. Sebelum dikubur
kembali, semua diproses menurut ajaran Islam. Beliau menantang membayar pajak
(belasting) kepada Pemerintah Belanda.
Syekh Ibrahim Musa (1882-1963)
Lahir 12 Syawal 1301. Setelah menjadi ulama besar, nama kampungnya
melekat pada beliau, dan tersohorlah sebagai Inyiak Parabek. Beliau
sebelumnya mengaji di beberapa surau di Sumatera Barat, tahun 1320
Hijriah menyambung ke Makkah belajar selama 6,5 tahun pada Syekh Ahmad Kathib.
Belum puas, tahun 1333 kembali lagi kesitu untuk memperdalam ilmu.
Waktu perang dunia pertama pecah, beliau kembali ke Parabek
Bukittinggi dan singgah lebih dulu di India. Di Parabek bersama dengan
murid-murinya membentuk persatuan pelajar Muzakaratul Ikhwan, wadah untuk
memperdebatkan berbagai masalah.
Wadah ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib School.
Pesantren termasyhur ke seantero nusantara. Sistem belajar dari halaqah
menjadi sistem klasikal, berkelas-kelas. Disamping ilmu pengetahuan agama,
diajarkan pula bahasa Inggris dan bahasa Belanda, ilmu ukur, aljabar, kopersi
dan lain-lain. Para guru tidak pakai sarung, disuruh pakai pantalon. jas, dasi
dan sepatu. Pemerintah Belanda menawarkan sejumlah uang subsidi, namun Inyiak
Parabek menolak mentah-mentah.
Syekh Abbas Abdullah (1883-1957)
Dilahirkan, dibesarkan dan mengabdi di negeri sendiri,
Padangjapang (Suliki), Payakumbuh. Nama negeri tersebut melekat pada
kepopuleran nama beliau Inyiak Abbas Padang Japang. Ayah beliau Syekh
Abdullah pernah terlibat dalam Perang Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol.
Ketika Abbas berusia 13 tahun, ikut paman ke Tanah Suci. Usai menunaikan ibadah
haji, Abbas tidak mau pulang, minta tinggal sendirian, lalu belajar dengan
Syekh Ahmad Khatib selama delapan tahun. Tahun 1924, sebelum pulang ke tanah
air, mengembara ke Mesir, Palestina, Libanon, Siria dan Swis di Eropa.
Pulang mengangkut buku-buku besar. Di kampung ditugaskan ayahnya jadi
guru bantu Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Haji Agus Salim (1884-1964)
Lahir 8 Oktober 1884 di Kotogadang, Kecamatan IV Koto,
Bukittinggi. Dengan nama yang diberikan ayahnya Masyhudul Haq. Negeri ini penuh
melahirkan kaum intelektual. Selain H Agus Salim, banyak lagi pemimpin bangsa
asal negeri ini, seperti Perdana Menteri Pertama RI Sutan Sjahrir, Emil Salim,
dan lain-lain. Orangtua Inyiak Agus, Sutan Mohammad Salim, seorang Jaksa.
Beliau ulama jenius. Mahasiswa Cornell Uniuversity (Amerika) Harry
J Benda waktu beliau memberi kuliah disana langsung mengggelari
Grand Old Man, bisa diterjemahkan sebagai Orang Tua Cemerlang. Delapan anak
beliau tidak pernah masuk sekolah formal, tapi diajar sendiri di rumah. Seorang
di antaranya Kolonel Islam Salim, pernah jadi atase militer Indonesia di Cina.
Mula masuk sekolah di Europesche Lager School (ELS) Kotogadang dan
tamat tahun 1898. Terus menyambung ke Hoogere Burger School (HBS) di Jakarta,
tapi gagal meneruskan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandshe). Kegagalan
masuk sekolah pamong ini menimbulkan kebenciannya terhadap Pemerintah Belanda.
Dendamnya bekerjasama dengan Belanda beliau nyatakan: “Biar makan krekel
dari pada menerima tawaran bekerkja dengan Belanda.”
Tapi pada satu kali ibunya memaksa bekerja di konsulat
Belanda di Saudi Arabia, maka kesempatan itu dimanfaatkan mendalami agama pada
sepupunya Syekh Ahmad Khatib, yang lebih dulu menetap di Masjidil Haram.
Awal kemerdekaan RI beliau memimpin misi ke beberapa negara Timur
Tengah. Hasilnya RI memperoleh pengakuan de jure dari negara-negara
tersebut. Beliau pernah beberapa kali jadi Menteri Luar Negeri.
Syekh Zainuddin Labay el Yunusy (1890-1924)
Lahir di Lubuk Mata Kucing, Padangpanjang, 12 Rajab 1308. Labai,
panggilan terhormat bagi seorang yang alim, sedang Yunusy, nama orangtuanya
Yunus. dikenal sebagai Tuanku Pandai Sikek, desa asal beliau di kaki gunung
Singgalang. Beliau anak sulung pasangan Yunus dan Rafi’ah, sedang
adik kedua Rahmah yang kemudian populer dengan nama Sitti Rahmah el Yunusiyah,
pendiri sekolah Diniyah Puteri Padangpanjang. Zainuddin mendirikan sekolah
Diniyah School tahun 1916 ketika berusia 26 tahun.
Nama sekolahnya kombinasi bahasa Arab dan Belanda, untuk memberi
gambaran ide pembaharuan Sistem pendidikannya, gandrung modern.
Beliau pun merevolusikan sistem halaqah ke sistem klasikal. Guru tidak
pakai sarung lagi. berkopiah tarbusy, dan sandal, tapi pakai pantalon, jas,
dasi, dan bersepatu. Beliau pun menolak tawaran uang subsidi Pemerintah
Belanda.
Syehk Abdul Hamid Hakim (1893-1959)
Beliau kemudian populer dengan nama Angku Mudo Hamid. Lahir di
Sumpu, tepi danau Singkarak tahun 1311 H atau 1893 M. Ikut ayah seorang
pedagang ke Kota Padang. Disini ia masuk Sekolah Dasar (SD) dan setamatnya
kembali ke kampung belajar tulis-baca Al Quran, lalu melanjutkan dua tahun di
Sungayang belajar pada Syekh Mohammad Thaib Umar.
Ketika berusia 16 tahun, belajar ke Maninjau pada Syekh Karim
Amarullah. Ketika itu tahun 1910, dengan Syekh Amarullah juga, pindah ke Padang,
dimana orangtuanya berdagang di kota ini. Waktu Amarullah pindah lagi ke
Padangpanjang, Hamid tetap ikut. Diangkat jadi guru bantu di masjid Jembatan
Besi. Sejak itulah beliau dipanggil sebagai Angku Mudo. Ahli fiqih (hukum
Islam) ini kemudian diangkat jadi Guru Kepala, mengganti Syekh Abdul Karim
Amarullah karena doktor ini pindah ke Jakarta.
Pernah seorang reserse bertanya kepada beliau: “Kenapa murid
aktif dalam dunia politik? Entahlah, saya juga heran. Satu saya ajarkan, empat
mereka dapat. Saya tak pernah menyuruh mereka aktif dalam politik,” jawab
Angku Mudo.
Murid beliau antara lain; Sutan Mansyur, mantan Ketua Pucuk
Pimpinan Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad mantan Wakil Ketua Parlemen, Buya
Datuk Palimo Kayo, ulama/sastrawan besar Hamka, Muchtar Yahya, guru besar IAIN
Yogya, Ali Hasymi mantan Gubernur Aceh, dan tokoh politik singa betina Rasuna
Said.
Syeikhah Rahmah el Yunusyiah (1900-1969)
Lahir 26 Oktober 1900. Beliau adalah adik kandung Zainuddin Labay
el Yunusy. Tahun 1915 mendirikan lembaga pendidikan khusus puteri Diniyah
Putri. Kiprahnya dalam dunia pendidikan Islam seperti ikut jejak kakaknya.
Murid-muridnya datang dari seantero Sumatera Barat. Juga dari provinsi lain,
bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura.
Beliau tidak menutup pintu untuk ilmu pengetahuan modern.
Disini tidak hanya diajarkan pengetahuan agama, juga keterampilan
jahit-menjahit dan masak-memasak, sehingga kelak mereka jadi ibu rumah tangga
Islami. Tahun 1955 Rektor Universitas Al Azhar Kairo, pernah mengunjungi
Diniyah Puteri. Kunjungan ini dapat balasan. Tahun 1956, Rahmah diundang
ke Mesir.
Syekh Zainuddin Hamidy (1907-1957)
Setelah tamat sekolah Governement (Sekolah Dasar lima tahun) di
Payakumbuh, melanjutkan pendidikan di Madrasah Darul Funuin Padangjapang,
Suliki. Beliau murid terpandai di madrasah tersebut. Tahun 1927 lebih kurang
lima tahun melanjutkan ke Mahad Islamy Makkah. Beliau siswa
Indonesia pertama disini. Karena pintar, beroleh pula beasiswa.
Tahun 1932, Zainuddin pulang kampung ke Payakumbuh. Dalam usia 25
tahun dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai ilmu. Hafal Al Quran
(hafizh), ahli hadist, tafsir, tauhid dan fiqih, sehingga beliau dapat julukan
Angku Mudo. Beliau membuka perguruan Mahad Islamy, nama kenangan tempat beliau
belajar di Makkah dulu.
Mahad Islamy berkembang dengan pesat. Selain siswanya datang dari
berbagai negeri di Sumbar, juga banyak dari Malaysia, dan Riau.
Masyarakat ringan memberi bantuan wakaf dan beberapa orang sebagai donatur.
Namun, sebaliknya datang hambatan pihak pemerintah jajahan. Cemburu
karena sukses. Ada di antara gurunya Johar Arifin dikenakan tidak boleh
mengajar. Bila menghadapi masalah yang amat sulit, pendapat Zainuddin Hamidy
jadi qaulun fashlun (kata pemutus).
Syekh Nazaruddin Thaha (1908-1979)
Lahir 4 Maret 1908 di Payakumbuh, putera tertua Syekh Thaha
Arsyad. Setelah tamat Sekolah Dasar Sambungan, melanjutkan ke Madrasah Sumatra
Thawalib Darul Funun Padangjapang. Tahun 1926 masuk perguruan tinggi Darul Ulum
dan Universitas al Azhari Kairo, seangkatan Mahmud Yunus, Muchtar Yahya dan
lain-lain.
Selama lebih kurang tujuh tahun di Mesir, beliau aktif di
Persatuan Pelajar Indonesia-Malaysia (Perpidom), organisasi pergerakan untuk
merebut kemerdekaan tanah air. Pulangnya sebagian besar putera-putera Minang
tahun 1930-an, membawa angin segar dunia pendidikan di daerah ini.
Tahun 1946, Nazaruddin Thaha ditunjuk pertama kali
mengepalai Kantor Agama Sumatera Tengah, meliputi daerah kerja Sumbar, Jambi
dan Riau. Beliau membentuk Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah-daerah. Pada
waktu itu pulalah pengarang buku-buku agama dalam bahasa Arab ini, merancang
Undang-undang Perkawinan. Buku-buku tersebut antara lain Abthalul Islam, al
Mahfuzadzat, Fanuttarbiyah, dan lain-lain. (*)
Penulis adalah Wartawan senior tinggal di Padang, Sumatera Barat
http://padang-today.com/?today=article&id=1279
RABU, 15/09/2010 14:03 WIB
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
ZulTan, L, 49+, Bogor. "Without change, we will not survive."
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Dulu urang Riau baraja ugamo ka Sumatra Barat. Terbukti banyak ustad jo pejabat di Riau alumni parabek jo Tawalib Padang panjang.
Iko baru sekedar perbandingan jo provinsi tetangga. Mudah-mudahan menjadi motivasi bagi kito untuak mambangkik batang tarandam.
wassalam,
Ibnu Mas'ud
.
Buya,
bisa dipajaleh bana ndak, apo bana kriteria untuak bisa disabuik ulama ko?
Harus S1, S2 atau S3?
Harus bisa bahaso Arab atau cukuik terjemahan sajo?
Sampai bara hafalan Qur'an jo haditsnyo?
Sampai bara dalam ilmu syariah/fiqihnyo?
dll.
Ciek lai, tantu indak samo antaro ulama jo dai atau ustadz.
Baa caro membedakannyo dan apo fungsinyo masiang?
Wassalam
fitr tanjuang
lk/35/albany NY
2010/9/17 Ibnu Mas'ud <ibnuk...@gmail.com>:
Ambo raso nan dibahas dan dikhawatirkan tu bukan kelangkaan "ulama" di
bidang ilmu2 dunia nan lain, tapi ulama syariah.
Atau, apokah kalau urang lah profesor di bidang komputer atau
kedokteran misalnyo, lah buliah mangaluakan fatwa soal2 syariah?
Atau nan labiah dakek, ahli sastra Arab jo filsafat misalnyo?
Ciek lai tanyo ambo, taqwa ko masalah amal atau masalah ilmu?
Wassalam
fitr tanjuang
2010/9/18 Arman Bahar <arman...@ymail.com>:
> Assalamualaikum ww
>
> Manuruik Murabbi ambo tu, Ulama adalah mereka2 yang ber-ilmu dan bertaqwa
> kepada Allah SWT, artinya Ilmu disini dalam pengertian bukan ilmu agama
> saja, bisa saja dia itu seorang fisikawan, ekonom, sarjana kimia, geologi,
> sosiologi, kedokteran ataupun ILMU apa saja yang difardhu kifayahkan untuk
> menuntutnya sebagaimana yang di amanatkan Rasulullah SAW dituntut kita untuk
> menuntutnya walau sampai kenegeri Cina sekalipun, kalau dia BERTAQWA maka
> dia disebut ULAMA
>
> Jadi dari uraian ustad ambo tu ada terdapat unsur ILMU sehingga dia disebut
> sebagai ALIIM namun dia juga adalah orang2 yang berTAQWA maka ULAMA lah dia,
> kan ba itu mungkin arati'e nan ambo tangkok
>
> Jadi itulah pamahaman ambo tantang ULAMA tadi, kok senteang nan ka
Rasulullah saw juga bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Darda: Ulama adalah pewaris para nabi (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Kini awak indak nabi bagai doh, tu kito karajokan pulo karajo nabi, lah ulama pulo kito namonyo tu mah, kan indak ado pulo nabi manyabuik "nan jagok komputer jo dotor kanduangan indak buliah jadi ulama"!
| Sahabat2 RN nan ambo hormati, Ambo ikut pulo mengomentari judul iko dengan mengutip buku yang pernah ambo baco (Fadhilah Amal: Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi). Manurut alim ulama, katonyo "untuk dapat menafsirkan al qur'an diperlukan 15 bidang ilmu". Saya akan meringkas kelima belas ilmu itu semata mata agar diketahui bahwa tidak mudah bagi setiap orang memahami makna bathin al qur'an ini. 1. Ilmu lughat (filologi) 2. Ilmu Nahwu 3. Ilmu sharaf 4. Ilmu isytiqaq (akar kata) 5. Ilmu ma ani (susunan kalimat) 6. Bayaan (permisalan kata) 7. Badi' (keindahan Bahasa) 8. Ilmu qiraat (perbedaan bacaan) 9. Ilmu Aqa'id (dasar dasar keimanan) 10 Usul fiqih (menggali hukum dari suatu ayat) 11. Ilmu Asbabun Nuzul 12. Ilmu Nasikh Mansukh 13. Ilmu Fiqih (hukum hukum yang rinci) 14. Ilmu Hadist 15. Ilmu Wahbi (ilmu yang diberikan khusus Allah kepada hambanya yang istimewa sesuai sabda rasul: "Barang siapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak dia ketahui" M Gifari S (lk 29 ) Tokyo |
Di dalam situs ini saya banyak belajar dan berkenalan dengan beragam ulama. Pertanyaannya, apakah di antara para ulama itu ada jenjang atau struktur kesenioran atau semacam tingkatan?
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau ada tingkatan atau level di kalangan ahli syariah, sebenarnya bukan derajat keimanan atau ketaqwaan, melainkan tingkat keahlian dan profesionalitas. Ibarat dunia kedokteran, ada dokter umum dan ada dokter spesialis. Tapi semua itu bukan jaminan bahwa dokter tidak akan terserang penyakit atau tidak bisa mati.
Syeikh Abu Zahrah, ulama besar Mesir mencoba membuat klasifikasi para ahli ijtihad menjadi beberapa klasifikasi, misalnya mujtahid mutlaq (mustaqil), mujtahid muntasib, mujtahid fil mazhab dan mujtahid fi at-tarjih.
1. Mujtahid mutlaq (mustaqil)
Ini adalah level mujtahid yang paling tinggi. Untuk sampai ke level ini, awalnya seseorang harus memenuhi dulu standar dasar yang harus dimiliki seorang mujtahid.
Kemudian tambahannya adalah dia harus bisa membuat metologi ijtihad (ushul fiqih) sendiri tanpa meniru atau mengadaptasi dari orang lain. Dari hasil konsepnya itu, dia melakukan ijtihad pada semua sisi kehidupan mulai dari urusan thaharah sampai urusan kenegaraan, yang kemudian disusun menjadi kumpulan hasil ijtihad yang murni hasil dari kesungguhan dirinya. Bukan kutipan juga bukan contekan dari mujtahid lain. Kecuali kalau kebetulan hasilnya sama.
Contoh mujtahid mutlak adalah 4 imam mazhab yang kita kenal:
Mereka yang merumuskan metodologi istimbath hukum dan sistem pengerjaannya, selain mereka juga menggunakannya untuk berijtihad, di mana sistem dan hasil ijtihadnya kemudian dijadikan rujukan oleh mujtahid di level bawahnya.
Kalau kita ibaratkan ilmu matematika, mereka ini kira-kira seperti orang yang menemukan rumus segi tiga siku-siku Phitagoras, a kuadrat sama dengan b kuadrat kali c kuadrat. Atau yang menemukan rumus luas lingkaran.
Siapa pun orang yang datang kemudian, kalau mau mengukur segi tiga siku-siku atau mengukur luas lingkaran, pasti tidak akan bisa lepas dari rumus dasar itu.
2.Mujtahid Muntasib
Pada level kedua, kita bertemu dengan para mujtahid yang disebut muntasib. Sesuai namanya, muntasib adalah orang yang melakukan instisab, yaitu berafiliasi kepada suatu mazhab tertentu.
Jadi mereka tidak menciptakan mazhab sendiri dalam arti tidak merumuskan sistem ijtihad dan istimbath. Mereka adalah orang yang datang belajar sistem itu hingga betul-betul menguasai sepenuhnya, setelah itu mereka menjadi pengguna langsung untuk melakukan berbagai ijtihad dalam masalah syariah.
Namun dari segi kemampuan, sesungguhnya mereka sudah bisa melakukan perumusan sistem ijtihad sendiri. Tapi biasanya mereka tidak melakukannya, karena apa yang sudah dirintis oleh guru mereka sudah lebih baik dan lebih maju.
Bahkan mereka malah menjadi tonggak yang ikut menguatkan suatu mazhab yang sudah ada, karena mereka menjadi pembela sekaligus berjasa mempopulerkannya kepada khalayak.
Kalau kita ibaratkan kira-kira mereka adalah para programer yang ikut pada OS Open Source semacam komunitas Linux. Walau pun mereka bisa bikin sendiri tapi umumnya mereka lebih banyak menjadi pengguna, meski sesekali ikut menyumbangkan karya. Di tangan mereka inilah OS Open Source bisa tetap eksis.
Menurut Ibnu Abidin, sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah, pada tiap-tiap mazhab dari keempat mazhab itu ada mujtahid dengan level muntasib.
2.1. Muntasib Mazhab Hanafi
Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah Muhammad bin Hasan As-Syaibani (131-189H) dari mazhab Abu Hanifah. Beliau adalah murid langsung Imam Mazhab dan menjadi muntasib pada mazhab yang beliau rintis, sekaligus menjadi pilar yang menguatkan mazhab ini.
Selain itu juga ada Al-Qadhi Abu Yusuf (113-182H) yang amat terkenal itu. Mereka berdua adalah pasangan ulama yang tidak bisa dilepaskan dari nama besar mazhab Abu Hanifah, biasa disebut singkat: Abu Yusuf dan Muhammad.
2.2. Muntasib Mazhab Maliki
Di dalam yang didirikan oleh Al-Imam Malik rahimahullah, kita mengenal ulama besar seperti Abdurrahman bin Al-Qasim (132-191H). Beliau ini levelnya sebenarnya mujtahid mutlak, karena sudah bisa membuat sistem mazhab sendiri.
Namun sebagai murid langsung Al-Imam Malik selama 20 tahun, lebih lebih senang menyempurnakan mazhab gurunya. Termasuk di antara jasa beliau adalah menyempurnakan kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra, kitab induk dalam mazhab ini.
2.3. Muntasib Mazhab Asy-Syafi''i
Nama yang bisa disebut untuk muntasib mazhab ini adalah Al-Muzani. Lengkapnya adalah Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzani (175-264H). Sang guru, Al-Imam Asy-Syafi''i sampai berkomentar begini, "Al-Muzani adalah pembela mazhabku."
Beliau memang berkarya besar untuk mazhab gurunya, di antaranya adalah kitab Al-Mabsuth (Al-Mukhtashar Kabir) dan Al-Mukhtashar Shaghir. Murid Al-Muzani tersebar di seantero khilafah Islamiyah sehingga mazhab gurunya ini dikenal dari ujung barat sampai ujung timur dunia.
Selain itu juga ada Al-Buwaithi (w.231 H) yang oleh As-Syafi''i diwariskan halaqoh di Baghdad dan menulis banyak tentang mazhab ini.
3. Mujtahid fil mazhab
Mereka ini adalah mujtahid yang tidak membuat sistem sendiri, juga tidak berijtihad sendiri. Mereka menggunakan sistem dari mazhab masing-masing dan mengikuti hasil ijtihadnya juga.
Mereka hanya berijtihad manakala di dalam mazhab mereka belum ada hasil ijtihad. Karena persolaan hukum akan terus ada dan tidak pernah berhenti.
Maka pada saat tidak hasil ijtihad dari mazhabnya yang sekiranya cocok dan bisa dijadikan jawaban, mereka barulah berupaya untuk berijtihad.
Dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, yang termasuk ulama mujtahid fil mazhab adalah Abul Hasan Al-Karkhi (260-340H) dan Hasan bin Az-Ziyad (w. 204H). Dari kalangan Maliki adalah Muhammad bin Abdullah Al-Abhari (89-375H). Dari kalangan mazhab Syafi''i adalah Ibnu Abi Hamid Al-Asfraini (344-406H).
4. Mujtahid fi at-tarjih
Pada level paling bawah, ada mujtahid fit tarjih. Peran mereka bukan membuat sistem, juga tidak berijtihad sendiri, juga tidak melakukan ijtihad yang belum ada ijtihad sebelumya.
Mereka 100% mengikuti sistem dan ijtihad dari para seniornya. Dan karena sudah banyak hasil ijtihad dari para senior dan terkadang hasilnya agak berbeda, maka peran mereka adalah melakukan tarjih.
Namun tarjih yang mereka lakukan bukan dalam arti mementahkan hasil ijtihad, melainkan mencoba melakukan studi komparasi antara semua hasil ijtihad dari keempat mazhab itu, lalu melakukan penelitian ulang atas dalil-dail yang digunakan serta analisa tentang keunggulan dari masing-masing mazhab.
Mengapa masih harus ada tarjih?
Salah satu sebabnya adalah perubahan zaman yang sangat dinamis serta kondisi tiap negeri yang selalu berbeda. Sehingga ada ijtihad yang cocok diterapkan di suatu negeri tapi barangkali kurang tepat kalau diterapkan di negeri yang lain.
Juga ada mazhab yang bisa diterapkan pada zaman tertentu dan kurang tepat untuk masa yang lain.
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Ulama iko aratino URANG NAN BA ILMU
Nah URANG NAN BA ILMU, bisa lari jadi Pamimpin Politik, Pamimpin Ekonomi, Pamimpin Teknologi, Pamimpin Sosial, Pamimpin Msyarakat.
Artino, JADI ULAMA DULU BARU JADI PAMIMPIN.
Untuak jadi ULAMA HARUS BARAJA DAN BAGURU SAMPAI JADI.
Jan bak pantun:
Ba buru ka padang data
Dapeklah ruso balang di kaki
Kok ba Guru kapalang aja
Bak bungo kambang indak jadi
Ba buru ka padang Alai
Baruak mamanjek takuik ta tembak
Ba Guru sampai salasai
Ilimu dapek untuak rang banyak
|
|
Suatu penjelasan nan terperinci tentang level ulama' syai'ah...tabik lo tanyo di kapalo ambo..kok ado di antaro kito nan berprinsip, ndak paralu bermazhab dlm syariat doh...tantu kito labiah tinggi levelnyo dari Mujtahid Muthlaq lai???
Jadi baa kesimpulannyo, pak Arman?
Lai banyak ulama di ranah Minang sahinggo indak adoh nan paralu dirisaukan.
Taingek dek ambo adoh kawan SMA nan paliang "siak" dan dari dulu kali
imbau "Buya."
Kini inyo dosen teknik mesin di Unand.
S1 di Unand, S2 di ITB sudah tu lah S3 pula di Japang.
Jadi lah masuak inyo ka barisan ulama sahinggo panggilan buya indak salah (?).
Kalau lai banyak ulama di Minang, tolong lah dikenalkan ka amerika
agak bara urang.
Di siko masiah diparalukan imam2 untuak musajik atau Islamic center.
Kriterianyo biasonyo; bisa bahaso arab, hafal Qur'an, tau ilmu hadits
jo ilmu fiqh.
Tantu harus pandai babahaso inggris dan bisa bergaul ko komunitas nan
baragam tamasuak non muslim.
Gajinyo sekitar 50ribu dolar/tahun lengkap jo benefit (ansuransi kesehatan dll).
Tugas paliang pokok tu manjadi Imam sumbayang 5 waktu, konsultasi syariah dll.
Di tampek kami sajak imam nan lamo pindah ka kota lain, alun adoh nan
bisa full time manggantikan.
Nan urang Ina pun nan ambo tau baru 2 urang nan jadi imam di USA ko.
Imam Syamsi Ali di NY city (rang Makasar), jo ustadz Joban di Seattle
(rang Jawa Barat).
indak adoh nan urang Minang doh....
Wassalam
fitr tanjuang
2010/9/19 Arman Bahar <arman...@ymail.com>:
> Assalamualaikum ww
>
> Kisanak FT sarato mamak 'n dusanak yang dirahmati Allah
> Kok kito urut kabalakang dari judul diateh kan masalah langkanyo ULAMA BESAR
> sekelas ulama2 besar sejaman buya Hamka atau Ahmad Chatib Al Minangkabawi
> nan urang minang di jaman kini
>
> Tantu kito cek pulo dulu apo bana nan ulama tu, kan baitu?
>
> .............
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Wr. Wb.
Sebagai bagian dari kepedulian kami baik sanak saudara yang terkait langsung atau sanak saudara seimam yang tidak langsung terkait dengan Minangkabau, kami sedikit sharing untuk pengentahuan sanak Palanta RN.
Usaha yang kami lakukan ini walaupun sangat kecil tapi mempunyai kepedulian yang sama dengan pokok bahasan yang kita bicarakan ini.
Ada 2 pokok antara tugas dan tanggung Jawab kami dari Rantau lihat Tugas dan Tanggung Jawab Forsil poin i & H yang diboldkan, serta Tugas dan Tanggung Jawab Nagari poin g,h,i, & j
Pada hari ini Jum'at tanggal 23 Februari 2010 telah ditanda tangani Perjanjian Kerjasama oleh dan antara:
i. Panitia Aksi Solidaritas Gempa dibentuk oleh Forum Silaturrahim Masjid-Masjid Bintaro dan Sekitar disebut FORSIL MBS suatu Forum Kumpulan masjid-masjid di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan yang bertekad merapatkan barisan dengan Visi MENJADIKAN FORSIL MBS SEBAGAI BENTENG KETAHANAN UMAT, khususnya dikawasan Bintaro dan Sekitarnya yang mempunyai sekretariat di Masjid Raya Bintaro Jaya Jl Maleo Raya, sektor 9. Tangerang Selatan.
ii. Pembentukan Panitia Aksi Solidaritas Gempa ini didukung oleh IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) sebuah organisasi Da’i yang dibentuk di Jakarta 1 Jumadil Ula 1423 H atau bertepatan tanggal 12 Juli 2002 bertujuan untuk memberikan kontribusi positif dan memberdayakan potensi ummat. Beralamatkan di Jl. Bantu Ampar III no. 19 Condet Jakarta Timur.
iii. Pembentukan Panitia Aksi Solidaritas Gempa didukung juga oleh PKPU (Program Kemandirian Pemberdayaan Ummat) yang yang didirikan tanggal 10 Desember 1999 serta beralamatkan di Jl. Condet Raya no. 87 G Jakarta Timur.
iv. Panitia Aksi Solidaritas Gempa dalam perjanjian ini diwakili oleh H. Ir. Darwin Chalidi, H. Muhammad Oya Mahmud. MBA, dan H. Haryadi Djalal masing-masing selaku Ketua dan Bendahara Umum Panitia Aksi Solidaritas Gempa FORSIL MBS, Ketua Presidium FORSIL MBS. (untuk selanjutnya disebut FORSIL MBS);
FORSIL MBS dan Paninjauan untuk selanjutnya secara bersama – sama disebut “ Para Pihak”.
Para Pihak telah sepakat untuk melakukan kerjasama dalam menegakkan Surau Paninjauan. Pokok pikiran dalam melakukan kerjasama ini adalah pembagian tugas yang termasuk dan tidak terbatas dalam hal sebagai berikut;
1. Tugas dan Tanggung Jawab FORSIL MBS
a. Penggalangan dana dari ummat untuk biaya penegakkan surau yang ditentukan melalui Bank Syariah Mega nomor rekening 1000-026-093 a/n Yayasan Amal Jaya QQ Masjid Raya.
b. Menegakkan kembali surau (masjid) yang runtuh dengan perencanaan bangunan surau yang tahan gempa dengan ukuran standar 12 X 12 Meter bangunan, bertingkat dua dan atau satu tingkat disesuaikan dengan jumlah jemaah normal surau (masjid), serta disesuaikan dengan kondisi lokasi Surau Paninjauan.
c. Menyiapkan detil perencanaan surau untuk dapat dipakai oleh kontraktor yang akan ditunjuk melaksanakan pembanguna surau
d. Menunjuk, menentukan, menanda tangani perjanjian untuk Pelaksana pembangunan surau.
e. Melakukan Pembelian dan pengangkutan bahan2 bangunan yang berdasarkan efisiensi lebih baik dibawa dari luar daerah surau paninjauan.
f. Melakukan kontrol biaya untuk pembangunan surau ini secara transparan dan akuntabel.
g. Membuka laporan penggunaan dana untuk pembangunan ini secara berkala dan/atau diperlukan oleh para pihak.
h. Menyiapkan para Da’i, memberangkatkan, memulangkan, memberikan biaya hidup selama bertugas di Surau Paninjauan setelah surau dinyatakan siap operasi secara lengkap selama jangka waktu yang akan ditentukan para pihak.
i. Memberikan bimbingan kepada DKM Surau Paninjauan untuk dapat mengelola surau secara modern sesuai dengan kaidah2 yang berlaku di Masjid unggulan Forsil MBS.
2. Tugas dan Tanggung Jawab Paninjauan
a. Melakukan penggalangan dana dari ummat untuk pembangunan surau.
b. Menyetorkan dana terkumpul untuk infaq pembangunan Surau Paninjauan, menyetorkan dana terkumpul sewaktu pembangunan surau sudah dimulai ke Bank Syariah Mega nomor rekening 1000-026-093 a/n Yayasan Amal Jaya QQ Masjid Raya.
c. Menyiapkan seluruh perizinan terkait dengan pembangunan surau ini dari pihak yang berwenang.
d. Memfasilitasi team lapangan FORSIL MBS termasuk dan tidak terbatas kepada kontraktor yang ditunjuk FORSIL MBS untuk kelancaran pembangunan Surau Paninjauan.
e. Memfasilitasi dalam melakukan pengecekan serta opname dilapangan atas pembelian bahan2 bangunan dilokasi oleh kontraktor yang ditunjuk Forsil MBS yang kemudian mencairkan dana dari Forsil MBS untuk pembelian tersebut.
f. Menerima laporan keuangan yang dikeluarkan Forsil terkait pembangunan surau paninjauan.
g. Membentuk DKM Surau Paninjauan yang akan mengelola kemakmuran surau ini dimasa depan
h. Membantu dan menerima Da’i yang dikirim oleh FORSIL MBS setelah bangunan selesai.
i. Membantu dan menerima petugas FORSIL MBS dalam proses bimbingan pengelolaan Surau secara modern, akuntabel, dan transparan.
j. Melakukan sosialisasi dan himbauan kepada jemaah Surau Paninjauan untuk meramaikan surau termasuk dan tidak terbatas kepada keharusan pemanfaatan Ruang Serba Guna Surau untuk acara2 nikah dan pesta perkawinan dalam rangka menghindari acara2 yang tidak bernuansa islami yang selama ini ditenggarai terjadi diperumahan jemaah surau Paninjauan.
Status Bangunan Surau Paninjauan ini sudah selesai 60% dan telah dimanfaatkan selama Ramadhan 1431H untuk sholat tharawih dan Idul Fitri disamping sholat fardhu 5 waktu.
Pembangunan surau ini akan diteruskan dengan menyelesaikan interior surau, MCK, Menara dengan ruang wudhu.
Insya Allah masih dibutuhkan dana sekitar 350jt lagi, yang sudah terpakai sebesar 450jt. Semoga Allah SWT memberi jalan kepada kami mengumpulkan dana2 dari para donatur.
Wassalam wr. wb. Darwin Chalidi 61, Tangerang Selatan.
| Assalamu'alaikum dunsanak sadonyo di Palanta...., Mengenai topik : Risau - Siapa Pelanjut Ulama Besar, ini..., ambo berkhayal sarupo ko ha. Kito paralu managakkan baliak surau nan alah roboh (mengutip judul Novel AA. Navis : Robohnya Surau Kami). Tapi Surau ko adalah Surau Modern. Terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Akses kepada website keagamaan dibuka seluas-luasnya. Akses ke situs-situs yg mubazir dan maksiat, ditutup habis. Pelajaran agama Islam yg salamo ko dilakukan di sekolah, dilakukan di Surau. Salah satu kurikulum pelajaran disekolah adalah Bahasa Arab, yg disusun untuk mencapai tujuan akhir : siswa bisa memahami Al-Qur'an. Pelajaran Bahasa Arab ini dimulai dari TK sampai, minimal SMA. Guru gurunya adalah guru-guru yg parlente, tapi alim, punya ilmu agama yg luas (eh... tapi ado ndak guru agama yg sarupo tu....??....ahhh.., beko lo lah itu kito etong....). Kito harus bisa memberi gaji yg bisa menaikkan gengsi guru-guru agama ko, dimata masyarakat yg sudah materialistis ko, sehingga profesi Guru Agama menjadi profesi yg membanggakan. Jangan seperti sekarang, gaji guru agama, yg mengajarkan anak-anak kita bisa membaca Al-Qur'an, jauh lebih kecil dari uang les Matematika...??.Apalagi dari uang les Piano...!!. Tamat TK, harus khatam Juz Amma. Tamat SD, harus khtam Juz Amma dengan Artinya. Tamat SMP harus khatam Al-Qur'an. Tamat SMA, harus khatam AlQuran, dan artinya (min 50% dari Surat yg ada dalam Al-Qur'an). Dari SMP sampai SMA, siswa harus membuat makalah mengenai ayat-ayat Al-Qur'an, tentu dsesuaikan tingkat kesulitannya dengan usia dan pelajaran Agama yg di pelajarinya. Setiap pelajaran lain, harus bisa dikorelasikan dengan Al-Qur'an. Misalnya, ketika belajar Biologi, Makhluk Hidup, harus bisa dirujuk ke ayat Al-Qur'an tertentu yg relevan. Atau ketika belajar ilmu ekonomi, harus bisa merujuk kepada ayat2 ekonomi yg relevan. Mudah2an dengan cara seperti itu, dari sekian ratus ribu murid sekolah, ada yg tertarik mendalami ilmu agama, yg kelak dikemudian hari menjadi Ulama Besar. Setidak tidaknya, nuansa agama bisa hidup dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di tengah masyarakat. Baa gak ati tu Sanak...?. Atau, terlalu jauah khayalan ambo ko...?? Salam, Marindo Palar |
--- Pada Sel, 21/9/10, Ibnu Mas'ud <ibnuk...@gmail.com> menulis: |
|
|
|
Marindo, iko gagasan rancak mah, tapi bisa gak dipraktekkan deg generasi Internet jaman sekarang??
Apokoh Marindo sandiri lai acok menelaah AlQur'an (bantuan Tafsir) sehingga menemukan "sesuatu" didalamnya?
Wassalam,
|
|
|
|
|
|
|
| Da Das...., ondeh...jadi sagan ambo... Gagok ambo ka manjawek ko Da Das..., tapi ambo cubo juo lah : Satantang pertanyaan, apakah mungkin diterapkan kepada Generasi Internet sekarang ini, manuruik ambo, bisa sajo Da Das, kalau Dinas Pendidikan dan Kanwil Dept Agama, punya goodwill dengan membuat aturan: pelajaran Agama dilakukan di Surau. (Da Das, waktu SMP dulu ambo sempat sekolah di SMP Frater Padang (pertengahan kelas duo, pindah ka SMP 1). Dek karano SMP Frater itu SMP Katolik, sekolah itu menjalin kerjasama dengan Madrasah untuk memberi pelajaran Agama Islam kepada murid-murid yg Islam. Jadi pelajaran agama kami jalani di Madrasah, 2x seminggu. Kurikulumnya, disesuaikan dgn kurikulum pelajaran Agama biasa. Sakali 2 minggu ado guru kami (yg Katolik) datang mengawasi). Pola ini bisa kita terapkan dengan menyesuaikannya dgn kondisi kekinian kita. Tentu saja Surau tersebut beserta Tuanku Tuo dan Tuanku Mudo (Guru Besar dan Guru Pengajar lainnya) harus disiapkan oleh Pemerintah dgn bantuan MUI. Pelajaran diberikan tidak dgn kaku dan searah. Barangkali lebih banyak diisi dgn diskusi, sesuai topik pada kurikulum yg disusun bersama tadi. Ruang kelasnya harus dilengkapi dgn peralatan multi media, termasuk jaringan internet. Mengenai mengkaitkan pelajaran-pelajaran lain dgn ayat-ayat Al-Qur'an (dan Hadist shahih), ambo pikir, itu bisa dgn mudah. Misalnya ketika pelajaran ekonomi. Mungkin bisa dikaitkan dgn ayat "anti korupsi" : "Janganlah kamu memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang bathil, dan janganlah kamu membawa urusan harta tersebut kepada hakim agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, sedangkan kamu mengetahui (QS : 2-188). Memakan harta orang lain dengan cara yg batil ini 'kan luas sekali pengertiannya. Al-Qur'an juga mengatur bagai mana membuat perjanjian. Mengenai Riba, dll. Kayaknya banyak lagi deh, Da Das. (Mungkin sebagian bisa dicaliak di buku Quraish Shihab : Membumikan Al-Qur'an, sebagian isi buku ko di bahas di link ini: http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Membumi/Riba.html). Begitu juga dgn ilmu2 yang lain : Bagaimana firman Allah mengenai hujan, peredaran matahari dan bulan, gunung2, besi, jagad raya, dan lain-lainnya. Dan jangan pula lupa, timbulkan kebanggaan kepada anak-anak muslim tsb, bahwa dalam Ilmu Pengetahuan, Islam mempunyai segudang Ilmuwan, Al-Jabar, Ibnu Sina, dll. Ambo raso, baitu Da Das...., mohon ma'af masih terlalu dangkal.... Salam, --- Pada Jum, 24/9/10, Dasriel Noeha <dasrie...@yahoo.com> menulis: |
Pak Arman,
PIPKA-PKS nan Apak sabuikkan itu karajonyo kebanyakan maurus baa
caronyo urang Ina nan di USA lai ka mamilih PKS kalau sadang pemilu.
Alun pernah tandanga dek ambo inyo maurus kegiatan Islam nan internasional doh.
Apo lo ka mancarian imam di musajik lokal.
Kalau muktamar IMSA (Indonesian Muslim Society in America) iyo paliang
rajin mencarikan pembicara dari PKS.
Tamasua gubernur Sumbar nan baru ko, pernah diundang tahun 2005.
Tanyo ka Ajo Duta kalau indak picayo.
Walau ajo Duta tatap mamiliah PKS, tapi kritiknyo ka PIPKA-PKS nan
labiah banyak maurus ka dalam Ina daripado masalah Islam di USA,
kancang tu mah.
Kok ambo, iyo alun pernah mamiliah PKS doh...:))
Contoh profil imam kami di musajik ICCD (Islamic Center of Capital
District) upstate New York saroman iko.
(Syaikh ko penghulu nan manikahkan ambo tahun 2007 dulu di musajik nan samo.
Kini jadi Director and Resident Scholar at the Islamic Learning
Foundation in College Point, NY)
http://islamiclearningfoundation.com/ilf/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=34
Shaikh Ahmed Kobeisy
Shaikh Kobeisy obtained his B.A. in Islamic Studies, College of Hadith
and Islamic Studies, Islamic University, Medina, Saudi Arabia, 1985.
His course work included Hadith, Qura'n, Doctrine, Comparative Islamic
Jurisprudence, Comparative Religions, Teaching Methodology,
Contemporary World, Research Methodology, and Arabic Language Art and
Literature.
He received his Diploma in religion and teaching methodology, College
of Da'wah and Graduate Studies, The Islamic University, Medina, Saudi
Arabia, 1985. He received his M.S. in Counselor Education/Educational
Psychology, School of Education, Syracuse University, 1993. He went on
to obtain his Ph.D. in Social Sciences from the Maxwell School of
Citizenship and Public Affairs, Syracuse University, 2001.
He wrote the first book on counseling American Muslims entitled:
“Counseling American Muslims: Understanding the Faith and Helping the
People”, 2004. He has served as an Adjunct Professor at many
universities and academic institutions including Syracuse University
and Hartford Seminary. He has also served the community as an Imam,
chaplain, and counselor in the Upstate NY area for the past several
years. Shaikh Ahmed Kobeisy is currently the Director and Resident
Scholar at the Islamic Learning Foundation in College Point, NY.
Wassalam
fitr tanjuang
2010/9/26 Arman Bahar <arman...@ymail.com>:
> Assalamulaikum ww
>
> Kisanak FT sarato mamak 'n dunsanak nan dirahmati Allah
>
> Kok kasimpulan nan sanak tanyokan ka ambo, hanyo kasimpulan samantaro yaitu
> bahwa negeri kita Indonesia pada umumnya Sumbar pada khususnya dikatakan
> kekurangan ulama tidak sependapat saya untuk itu karano ulama cukuik banyak
> kini hanyo mungkin alun seimbang antaro jumlah ulama dengan jumlah penduduk
> yang beragama Islam ambo C7 tentang itu
>
> Nan kaduo ULAMA BESAR sesuai judul diatas masih merisaukan kita
>
>
Pak Arman,
ambo sato halaqah lai 7 tahun di Japang, sabalun PK dibantuak ditambah
3 tahun di USA ko.
Jadi ambo kenal lah jo kebanyakan anggota2 PKS tu.
Ketum PIP-PKS Amerika jo Ketua dewan syura nan kini sampai nan sebelumnyo.
Tamasuak PIP-PKS Japang nan generasi partamo jo kaduo.
Sabuik lah namonyo dek Apak, ambo sabuik kan bara halai
jangguiknyo...heheh (kidding Pak).
Nan taraso dek ambo, indak banyak batambah ilmu kito deh.
Dek kaji tu baulang2 tiok tahun, mamakai buku karangan gubernur kito
(materi panah2 kato ustadz Syarwat..:)))
Jadi indak batambah ilmu tajwid ambo, indak batambah ilmu bahaso Arab
ambo, indak pulo hadits, fiqih, apolai perbandingan mazhab.
Musajik lokal nan malah banyak manyadiokan program2 untuak itu dengan
maundang ulama dari Syiria dll.
Nan banyak akhirnyo ajakan/parentah bilo ka sato bagabuang ka partai,
sahinggo ambo maraso indak di siko tampek mancari ilmu.
Tapi kalau mancari kawan baramal, iyo cocok mah, dek kebanyakan kuek
sumbayang sunatnyo, kuek puasonyo, banyak zikirnyo. Tapi kan adoh beda
antaro urang alim jo urang abid.
Kalau imam lokal kami salevel jo ketua MPR atau gubernur, baa agak hati tu?
Bayangkanlah kalau di tiok musajik kito dapek baimam2 jo nan salevel
HNW atau IP tiok sumbayang, bisa batanyo kapan sajo tiok adoh masalah
dll.
Minimal di ciek nagari (nan wajib punyo ciek musajik kan?) kito punyo
imam tatap nan salevel itu.
Baru lah bisa disabuik cukuik ulama di Minangkabau.
baitu bayangan ambo, pak...
Wassalam
fitr tanjuang
2010/9/27 Arman Bahar <arman...@ymail.com>:
Assalamualaikum ww
Kisanak FT sarato mamak 'n dunsanak nan dirahmati Allah
Alhamdulillah, tanyato sanak FT lai ba-baua2 juo jo ikhwah2 jamaah tarbiyah ko ..... cut .......
Assalamualaikum ww
Pak Ibnu sarato mamak 'n dunsanak nan dirahmati Allah
Nyo baitu mah pak, Islam ko kan lahia sabagai ugamo nan mabaok rahmat bagi
seluruh alam, baitu kato Allah dalam surek Al Anbiya (21): 106, mako dek itulah
implikasinyo adolah Islam tu bersifat Syumuliyyah (universal) lihat surek As
Saba' (34):28, dan bersifat takamuliyah (integral) kecek Allah dalam surek An
nahl (16):89 dan dalam sutek Albaqarah(2):208
Aratinyo Islam ko berlaku untuak seluruh manusia sepanjang maso sampai kiamat
dan mencakup seluruh segi kehidupan manusia baiak itu aqidah, ibadah, muamalah,
syiasah (politik), sosial, ekonomi, seni budaya kan baitu, pokonyo sado alah’e
deh, antah kok indak?
HR GIBB pakar dari Inggirih mangatokan "Islam is a complete civilization
(Islam itu adalah sebuah kebudayaan yang komplit atau lengkap) aratinyo sajak
dari masuak toilet (bilik tandas), makan, minum, lalok, bersenggama, mandi
junub, sampai ka ber-ekonomi, dagang, hukum, politik, parang, sabuiklah a nan
takana, kasado alahe tu diatur dalam agamo kito ko, baa gak ati?
Dek baitu bana kecek Tuhan tu ka kito nan manusia ko, kan indak salah pulo
ulama kelas dunia Yusuf Qhardawi mangato bahwa Islam itu adalah Aqidah, Ibadah,
Tanah Air, Nasionalisme, toleransi, moral, materi, undang2 dan kekuatan
(politic power)
Jadi Islam itu indak hanyo aspek aqidah dan fikih, rukuak dan tagak, doa ba-jikia2 sajo, kasurau kamusajik sajo tapi harus menyentuh semua sendi dalam kehidupan kito, kan baitu
DR. Shaikh Mustafa Masyhur lah panek dek basorak, “Adalah penting mengingatkan, BETAPA BESARNYA DOSA TERHADAP ISLAM oleh SEKELOMPOK ORANG yang katanya bergerak dibidang da’wah TAPI HANYA mengemukakan SATU ASPEK SAJA dalam Islam dan lupa aspek lainnya, disengaja atau tidak bahkan karena KEBODOHANnya patuh saja didikte orang2 zalim bahkan telah jadi boneka kaum kuffar tanpa disadarinya
Nah dari kerangka diatas mulai nyalang incek mato baa kedudukan POLITIK dalam Islam, tepatnya dalam da’wah, arati’e bana politik ko adolah bagian dari ajaran Islam dan sudah pasti bagian pulo dari da’wah, kan baitu matematikano dek Apak du?
Kok katam aluih’e, kasado bidang kehidupan dapek kito jadikan arena atau ranah da’wah, tamasuak ranah politik, nah sagalo kegiatan anak manusia dibumi Allah ko, kito jadikan sarana untuak da’wah, sekali lagi dan sekali lagi tamasuak politik dalam segala aspeknya
Kecek Amin Rais nan OELAMA partai PAN tu, “Bagi seorang Muslim, kegiatan politik harus menjadi kegiatan integral dari kehidupannya yang utuh, SANGAT MENGHERANKAN kalau ada seorang Muslim menjauhinya, apatah lagi ALERGI terhadapnya padahal kegiatan tersebut SANGAT MENENTUKAN ARAH KEHIDUPAN DAN NASIBNYA
Jadi kok indak awak kakok karajo politik ko, URANG LAIN NAN KA-MANGAKOK, urang lain tu lah nan ka manantukan apokah awak sarato anak cucu awak ka jadi kapia nasarani atau kapia majusi, dimurtadkan urang tu beko, picayolah, antah kok indak?
Kok kekuasaan politik dinagari nan 90% mayoritas Islam ko dipacik dek kaum kuffar atau sikuler ataupun liberel JIL tu mako salasai sado’e di’e tu mah, sadang kini sajo lai iduik juo awak, lai indak takuik indak sagan bagai we’e tu doh, walau berlindung dibalik HAM atau KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA, bukan apo2 mereka tu sangat CINGGALIA, caliak dek kito barisuak, kok indak dituka’e kapalo kito kapalo anak cucu kito ko jo mumbang, baru ngango awak sorang, rasain deh kecek’e galak ba-samo2
Jadi pak, Ulama sekelas HNW dan kawan2’e alah saisuak malihek masalah ko komah, sebagai sesuatu nan sangaik2 urgent, makanya mereka sekarang di plot untuk berperan sebagai ulama ditingkek makro, kok kito suruah baliak inyo tagak dimuko ruang kuliah, dimuko majlis taklim nan berskala mikro tu tantu kaciak ano baliak alias turun kelas, ok lah kok kareh bana ati, lai lanteh angan kito tagak manggantikan karajonyo nan makro tu, jadi kini pa bia sae lah inyo mengawal Islam ditingkat makro, kito sokong basamo ditingkek mikro, suai kito tu? ( suaaaaiiii…..! Alhamdulillah)
Yakinlah, kok indak juo kito insyaf, sudah ko isi kapalo awak ko dituka’e dek kaum kuffar nan dibantu uarang2 awak nan JIL dan Sikuler tu jo ongol2 atau onde2 sagu, kini caliak je lah dek kito, untuang lai ado FPI, kok indak tantu lah leluasa je urang mamuta pilem GAY ‘n LESBI di Goethe Institute, kan jahek utak’e tu, sadangkan binatang sajo indak namuah kawin sesamo jenis, ko lai manusia tantu labiah randah lo dari binatang, antah kok indak terselip pesan sponsor untuk menghancurkan moral dan akhlak anak2 mudo Islam, kok ditiru dek anak cucu awak bisuak, lai indak ka manyasa, panggak-an juo dek awak HAM ‘n kebebsan berekspresi tu buliah cucu gadih awak bisuak jadi lesbi atau gay rami2, kan kok lah rami2 kan lah jadi hal nan biaso je lai tanpa rasa berdosa, lah hala je sado’e lai
Co itu bana niaik kuffar tu ka bakeh awak nan bangga kini alah satu milyar labiah Islam didunia lah mayoritas Islam di Indonesiam, ABSSBK Minangkabau, kok lah bih tele jo pesong kito ko sadonyo bisuak, ka indak kanai galeh awak nan mangaku santiang jadi cendekiawan alias kaum cadiak pandai, jadi ustad malin buya atau alim ulama, inyiak, paman ataupun niniak mamak, biyai amai ataupun bundo kanduang, kok indak kito ditungok-an malaikat tajun sorang2 kadalam narako, patenjuan gai molah ambo bisuak
Mohon maaf banyak2 kok talongsong lo ambo
Wasalam
Abp58