Air Bangis, Nagari Maritim dari Ufuk Barat I

65 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 5, 2008, 5:38:33 AM3/5/08
to Rant...@googlegroups.com

Dimana Nagari Air Bangis ?

 

Nagari Air Bangis adalah sebuah Nagari yang terletak ditepi pantai barat Sumatera Barat dengan batas batas sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatas dengan Kec. Natal Kab. Madina Prop. Sumatera Utara

Sebelah Selatan berbatas dengan Nagari Parit

Sebelah Timur berbatas dengan Nagari desa Baru dan Nagari Silaping

Sebelah Barat berbatas dengan Samudera Indonesia.

 

Tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa batas nagari Air Bangis itu adalah :

Sebelah selatan sampai kedaerah pada daerah Ujuang Batu Kuduang (Ujung Sikabau)

Sebelah utara sampai kedaerah dengan Durian ditakuak rajo ( Teluk Sinatal Gadang)

Sebelah timur sampai kedaerah Rimbo tak Baacek (Daerah Sumatera Utara)

Sebelah Barat samapi di Ombak Nan Badabua (Pulau Pinia-Nias)

 

Nagari Air Bangis adalah sebuah nagari terbuka dan sangat pluralistik-heterogen yang terdiri dari enam buah suku diantaranya adalah:

1.Suku Malayu (Suku Raja) dengan beberapa pimpinan yaitu Rang Tuo Rajo, Dt. Bandaro, Dt. Magek Tigarang dan Dt. Mudo.

2.Suku Tanjung dengan pimpinan Dt. Rajo Amat

3.Sikumbang dengan pimpinan Dt. Rajo Mau

4.Chaniago beberapa pimpinan Dt. Rajo Sampono & Dt. Tan Maliputi.

5.Mandahiling (lubis-Sumut) yang dipimpin oeh Dt. Rajo Todung

6.Jambak yang dipimpin oleh Dt. Rangkayo Mardeso.

 

SEJARAH & PERKEMBANGAN NAGARI AIR BANGIS

 

Kerajaan Indrapura

Sama halnya dengan Nagari Punggasan, dipercaya juga bahwa yang mendirikan kerajaan Indrapura adalah juga Inyiak Dubalang Pak Labah yang turun dari Alam Surambi Sungai Pagu. Kerajaan Indrapura adalah sebuah kerajaan yang memainkan peranan penting dalam sejarah Minangkabau yang terletak diujung wilayah Minangkabau arah ke Bengkulu (Selebar) yang saat ini secara administratif tergabung kedalam wilayah Kab. Pesisir Selatan. Kerajaan ini kemudian menjadi kerajaan yang makmur sampai kemudian berbagai interfensi datang dari Aceh, VOC, Inggris, yang mana pergulatan kepentingan perdagangan ketiga eksponen tersebut ikut menentukan perjalanan kerajaan Indrapura.

 

Sebagai daerah rantau dari kerajaan Minang Kabau, kerajaan Indrapura diperintah oleh sultan-sultan, dimana salah satunya adalah Sultan Mohammadsyah yang memerintah sekitar tahun 1663-1687. Sultan Mohammadsyah memerintah ketika berumur sangat muda sekali. Untuk sementara diangkatlah ayahnya yang bernama Sultan Muzafarsyahsebagai pejabat sementara selama selama sultam mohammadsyah belum dewasa.

 

Dibawah pemerintahan Sultan Muzafarsyah, kerajaan Indrapura selalu berada dalam keadaan goyah. Hal ini diakibatkan karena Sultan Muzafarsyah sangat haus kekuasaan, dibenci rakyat dan sangat berpihak kepada VOC. Pada tahun 1687, pemberontakan rakyat berkobar, sehingga memaksa Sultan Mohammadsyah lari ke Majunta untuk minta perlindungan Inggris (EIC). Sedangkan pemerintahan kerajaan Indrapura kemudian dipimpin oleh sepupunya, seorang wanita yang bernama Tuanku Puti. Akhirnya Tuanku Puti digantikan kedudukannya oleh saudaranya Sultan Mansyursyah yang mendapatkan legitimasi dari VOC. Ketika Sultan Mansyursyah meninggal, ia digantikan oleh cucunya yang masih kecil yang bergelar Sultan Pesisir.

 

Tanggal 6 Juni 1701 kantor VOC diserbu rakyat dan semua pegawainya terbunuh. Sebagai balasannya, belanda melakukan pembantaian besar-besaran. Semua yang hidup kemudian melarikan diri keluar dari Indrapura termasuk raja dan keluarganya. Ketika keadaan mulai pulih, VOC kembali mengangkat Sultan Pesisir sebagai raja Indrapura.

 

Antara tahun 1792-1824, kerajaan Indrapura tidak henti-hentinya dilada pemberontakan rakyat. Raja dan keluarganya melarikan diri ke Muko-Muko, terus ke Bengkulu untuk meminta perlindungan kepada Inggris. Pada tanggal 6 Desember 1825, Ahmadsyah, keturunan terakhir raja Indrapura diangkat oleh pemerintahan kolonial Belanda sebagai Regen Indrapura dengan diberikan kekuasaan yang sangat kecil. Sesudah Ahmadsyah, tidak ada lagi pengangkatan raja-raja di Indrapura dan otomatis sejak saat itu, kerajaan Indrapura habis.

 

Kelahiran dan Perkembangan Air Bangis

 

Kemelut politik dan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Indrapura dekade abad XVII (1600-1700), merupakan salah satu penyebab perpindahan beberapa kelompok keluarga raja Indrapura dalam mencari daerah-daerah yang aman. Salah satu rombongan yang berpindah tersebut dipimpin oleh Urang Kayo Lanang Bisai. Ekspedisi ini kemudian sampai ke teluk Air Bangis kemudian memudiki sungai untuk mencari daerah pemukiman.

 

Rombongan Urang Kayo Lanang Bisai dalam perjalanannya memudiki sungai Air Bangis kemudian bertemu dengan salah satu rombongan penduduk yang bermaksud sama, yang dipimpin oleh Naruhum yang berasal dari daerah Padang Lawas yang saat ini terletak di Kab. Tapanuli Selatan Prop. Sumatera Utara. Naruhum di daerah asalnya berkedudukan sebagai “Natoras”, seorang cerdik pandai penasehat raja. Setelah beberapa waktu rombongan tersebut bermukim didaerah yang dinamakan dengan Koto Labu. Seiring dengan perjalanan waktu, kampung Koto Labu semakin berkembang dibawah kepemimpinan Urang Kayo Lanang Bisai yang dibantu oleh dua orang penghulu yaitu; Dt. Bandaharo dan Dt. Magek Tigarang.

 

Urang Kayo Lanang Bisai, selama beberapa waktu memerintah Koto Labu tanpa pendamping hidup. Kemudian berdasarkan usulan dari Naruhum, untuk melanjutkan keturunan yang nantinya diharapkan kembali menjadi pimpinan di Koto Labu, maka dicarilah pasangan hidup untuk Urang Kayo Lanang Bisai. Akhirnya terpilihlah seorang putri Raja Kotanopan (Namora Pandai Bosi). Dalam upacara perkawinannya, putri tersebut kemudian diberi nama Puti Reno Bulan. Perkawinan kedua orang inilah yang kemudian melahirkan raja-raja Air Bangis.

 

Dari perkawinan antara Urang Kayo Lanang Bisai dengan Puti reno Bulan, lahirlah dua orang anak yang diberi nama Urang Kayo Indra Bangsawan (laki-laki) dan Puti Sari Daeni (perempuan).

 

Urang Kayo Lanang Bisai kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Urang Kayo Indra Bangsawan. Dalam pemerintahannya, kerajaan diperluas dan pusat kerajaan dipindahkan kedaerah Bunga Tanjung. Sehingga Urang Kayo Indra Bangsawan kemudian diberi gelar Urang Kayo Bunga Tanjung I.

 

Urang Kayo Bungo Tanjung kemudian digantikan oleh ponakannya yang bergelar Urang kayo Batuah. Urang Kayo Batuah kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Urang Kayo Maharajo Indra. Dalam pemerintahan Urang Kayo Maharajo Indra, kemakmuran rakyat mencapai tingkat yang sangat berarti. Sehingga kemudian Urang Kayo Maharajo Indra diberi gelar Urang Kayo Bunga Tanjung II.

 

Urang Kayo Maharajo Indra digantikan oleh Urang kayo Hitam. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan kemudian dipindahkan lebih dekat kepantai. Istana raja kemudian dibangun di Bukit Limau Kaca.

 

Urang Kayo Hitam digantikan oleh adiknya yang bergelar Tuangku Batuah Sikarib Imamul Salim, seorang raja yang sekaligus ahli agama Islam. Seiring dengan itu, gelar Urang Kayo kemudian berubah menjadi Tuangku. Tuangku Batuah Sikarib Imamul Salim digantikan oleh Tuangku Manangah. Tuanku Manangah digantikan oleh adiknya yang bergelar Tuangku Panjang Sisungut, seorang raja gagah perkasa, ahli perang.

 

Tuangku Panjang Sisungut digantikan oleh Tuangku Mudo yang memindahkan pusat kerajaan berikut dengan istana kedaerah Koto IX. Pada masa pemerintahan Tuangku Mudo inilah terjadi Perang Paderi. Dimana bersama dengan pemerintahan kolonial Belanda, Tuanku Mudo bertahan dari serangan kaum Paderi.

Tuangku Mudo digantikan oleh adiknya yang bergelar Tuangku Rajo Mudo. Karena fitnah dari urang sumandonya yang menyebutkan bahwa Tuangku Rajo Mudo akan melawan Belanda, maka kemudian Tuangku Rajo Mudo dibuang ke Padang. Sebagai penggantinya, diangkatlah seorang keturunan raja yang masih kecil bernama Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek. Menjelang dewasa, pemerintahan Air bangis dijalankan oleh ayahnya yang bernama Ali Akbar gelar Sutan Ibrahim. Sedikit demi sedikit, kekuasaan raja dikebiri oleh Belanda. Sehingga ketika Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek mulai memerintah, kedudukannya hanyalah sebagai Tuangku Laras saja (tahun 1850) dengan kekuasaan terbatas pada wilayah Air Bangis saja. Sedangkan daerah Batahan melepaskan diri dan membentuk nagari sendiri. Berdasarkan Stb No. 321 tahun 1913, jabatan Kepala Laras dihapus dan Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek diberikan hak pensiun. Dehingga kemudian ia dikenal dengan gelar Tuangku Laras Pensiun.

 

Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek digantikan oleh Hidayatsyah gelar Tuangku Mudo dengan kedudukan sebagai Kepala Nagari selama 5 tahun. Beliau kemudian digantikan oleh saudara sepupunya yang bernama Abdullah Kala’an gelar Tuangku Rajo Mudo sebagai Kepala Nagari dengan masa jabatan 1917 s/d 1943. Pada masa pendudukan Jepang, Abdullah Kala’an gelar Tuangku Rajo Mudo digantikan oleh Sutan Balia gelar Tuangku Sutan yang dilantik Jepang sebagai Kepala Nagari (sancho).

 

Pada masa kemerdekaan, jabatan Kepala Nagari berubah menjadi jabatan Wali Nagari. Setelah diadakan pemilihan oleh rakyat Air Bangis, maka terpilihlah Sutan Balia gelar Tuangku Sutan sebagai Wali Nagari pertama. Diangkat berdasarkan SK Residen Sumatera Tengah No. 7/46-DPN tanggal 26 November 1946 jo. No. 25/47 tanggal 12 April 1947.

 

Pada perkembangan selanjutnya, Wali Nagari yang Memerintah Air Bangis tidaklah selalu dari keturunan raja saja. Akan tetapi sudah ada yang berasal dari kalangan kaum cerdik cendikia. Sedangkan keturunan raja-raja Air Bangis, lebih dikenal sebagai Pucuk Adat Negari Air Bangis. Beberapa Wali Nagari yang pernah memerintah Air Bangis adalah sebagai berikut:

1.Abdullah Kala’an

2.H. St. Balia

3.A. Mizlan

4.Syaripul

5.Rahmatsyah

6.Darulkutni

7.Abidin Mu’in

8.Amas Dt. Rajo Sampono

9.Khaidir

10.Ruslin St. Batuah

11.Mursal Dt. Magek Tagarang

12.Waisur (pjs)

13.Amirbakran (pjs)

14.Yusman Yahya (pjs)

15.Sukra Tanjung (pjs)

16.Anwar Sutan Mudo

17.Amirsyah

18.Mahiruddin

19.Ahralsyah.

 

Pada saat pemerintahan bernagari tersebut, nagari Air Bangis terbagi atas beberapa jorong sebagai pemerintahan langsung dibawah nagari. Jorong-jorong tersebut diantaranya adalah :

1.Jorong Silawai Timur

2.Jorong Silawai Tengah

3.Jorong Bungo Tanjuang

4.Jorong Pasar Pekan

5.Jorong Pasar Baru

6.Jorong Pasar Saok

7.Jorong Kampung Padang

8.Jorong Pasar Satu

9.Jorong Pulau Panjang

 

Setelah keluarnya UU 5 tahun 1979 yang merubah bentuk pemerintahan bernagari menjadi pemerintahan berdesa-desa maka Nagari Air Bangis pun berubah menjadi desa-desa. Jorong-Jorong yang ada di Nagari Air Bangis berubah menjadi desa-desa diantaranya:

1.Desa Pasar Baru

2.Desa Desa Koto jambua

3.Kampung Padang

4.Desa Koto Sambilan

5.Desa Silawai

6.Desa pulau Panjang

 

Seiring dengan itu, keluar pula Perda No. 13 tahun 1983 tentang Kerapatan Adat Nagari. Maka untuk menghindari dualisme kekuasaan antara keturunan raja yang bertindak selaku Pucuk Adat Nagari Air Bangis dengan jabatan Ketua KAN. Maka di Nagari Air Bangis, jabatan Ketua KAN selalu diisi oleh Pucuk Adat Nagari Air Bangis disamping beberapa jabatan fital lainnya dari susunan pengurus KAN. Terakhir, KAN Air Bangis terdiri atas pengurus-pengurus sebagai berikut:

Ketua: Ednarsyah, Bsc Rangkayo Tanjung

Wakil: Rusdar Ruslan Dt. Rajo Amai

Sekretaris/Manti: Khairman Dt. Bandaro

Mailizar Dt. Tan Malenggang

Bendahara: Asdarsyah Rang Tuo Rajo

 

Urusan Perdamaian & Sengketa Adat

Ketua: Syafrizal B Dt. Rangkayo Mardeso

Anggota: Ust. Zyafri Ahmad. BA

Namlisman Dt. Rajo Sampono

Urusan Pembinaan & Pengembangan Adat

Ketua: Zalsyafrinas Dt. Mudo

Anggota: Dahlia Dt. Tan Maliputi

Auzir Mantan Dt. Sampono

Urusan Kekayaan Nagari

Ketua: Afrizal Dt. Rajo Mau

Anggota: Yudi Fendra Dt. Magek Tagarang

Syafridal Dahlan

 

Urusan Peningkatan Kesejahteraan Nagari

Ketua: Basrul Hendri Dt. Rajo Todung

Anggota: Syafrinal Rangkayo Saramo

Asril Sidi Rajo

 

Urusan Pembangunan Nagari

Ketua: Yuheldy Rangkayo Basa

Anggota: Rosfan Yatim

Yuharlis

 

http://my.opera.com/andikosutanmancayo/blog/


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.4/1312 - Release Date: 04/03/2008 21:46

gafiko salif

unread,
Mar 6, 2008, 3:54:41 AM3/6/08
to Rant...@googlegroups.com
Ada beberapa bagian di keterangan anda tentang kerajaan inderapura yg SANGAT TIDAK BENAR & KURANG....!!!!!!!!!! raja diketerangan anda tdk disebutkan raja Inderapura yaitu Muhammad Baki gelar Sutan Firmansyah..padahal beliau adalah raja Inderapura yg sangat adil & bertanggung jawab kepada rakyatnya, makanya daerah inderapura memakai nama PANCUNG SOAL (yg merupakan kecamatan).
 
Artinya anda tau apa itu pancung soal..??? bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan oleh raja inderapura saat itu yaitu Muhammad Baki gelar Sutan Firmansyah...banyak raja-raja dari daerah lain/siapapun yg meminta bantuan dari raja inderapura utk menyelesaikan segala permasalahannya & dapat diselesaikan dengan baik.
 
PANCUNG SOAL berarti semua persoalan dapat dipancung (diselesaikan), jadi sangat tidak benar bahwa semua raja-raja inderapura adalah tdk memihak kepada rakyatnya, memang betul ada beberapa dari raja inderapura terdahulu yg memihak Belanda tapi masih ada raja inderapura yg menentang penjajah Belanda & sangat adil terhadap rakyatnya seperti Muhammad Baki gelar Sutan Firmansyah.
 
Bukti-bukti yg asli tentang kerajaan & silsilah dari keturunan raja inderapura sampai saat ini masih ada (makam, istana, dll).
 
Jadi, jangan berbicara tentang hal-hal yg tdk baik saja tentang kerajaan inderapura & tanya dulu sebelum anda memuatnya di milis ini....
 
 
Asnol Zen
Keturunan Raja Inderapura
outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.4/1312 - Release Date: 04/03/2008 21:46



Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Nofend St. Mudo

unread,
Mar 6, 2008, 4:11:46 AM3/6/08
to Rant...@googlegroups.com, gafiko salif

Ondeh Om.. lansung Tarabo Mah…

 

Mungkin caronyo sarupo iko kali yo om, nan tapek dalam mengomentarinyo, ambo ulangkan baliak dan kopi paste :

Ada beberapa bagian di keterangan Penulis Artikel ini tentang kerajaan inderapura yg SANGAT TIDAK BENAR & KURANG....!!!!!!!!!! ß [taberang nampaknyo] raja diketerangan penulis  tdk disebutkan raja Inderapura yaitu Muhammad Baki gelar Sutan Firmansyah.. padahal beliau adalah raja Inderapura yg sangat adil & bertanggung jawab kepada rakyatnya, makanya daerah inderapura memakai nama PANCUNG SOAL (yg merupakan kecamatan).

 

Artinya si Penulis tau apa itu pancung soal..??? bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan oleh raja inderapura saat itu yaitu Muhammad Baki gelar Sutan Firmansyah... banyak raja-raja dari daerah lain/siapapun yg meminta bantuan dari raja inderapura utk menyelesaikan segala permasalahannya & dapat diselesaikan dengan baik.

 

PANCUNG SOAL berarti semua persoalan dapat dipancung (diselesaikan), jadi sangat tidak benar bahwa semua raja-raja inderapura adalah tdk memihak kepada rakyatnya, memang betul ada beberapa dari raja inderapura terdahulu yg memihak Belanda tapi masih ada raja inderapura yg menentang penjajah Belanda & sangat adil terhadap rakyatnya seperti Muhammad Baki gelar Sutan Firmansyah.

 

Bukti-bukti yg asli tentang kerajaan & silsilah dari keturunan raja inderapura sampai saat ini masih ada (makam, istana, dll).

 

Jadi, jangan berbicara tentang hal-hal yg tdk baik saja tentang kerajaan inderapura & tanya dulu sebelum anda memuatnya di milis ini.... ç tarimo kasih sanak, atas nasehatnyo

 

Asnol Zen

Keturunan Raja Inderapura

 

Kok taberang sanak, tanggapan sanak jo caro macam taditu, sangek cocok di link nan ambo agiah sabalun : http://my.opera.com/andikosutanmancayo/blog/

 


From: gafiko salif [mailto:gaf...@yahoo.com]
Sent: 06 Maret 2008 15:55

"Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote:

Dimana Nagari Air Bangis ?

………………………


No virus found in this outgoing message.


Checked by AVG Free Edition.

Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.5/1314 - Release Date: 05/03/2008 18:38

Datuk Endang

unread,
Mar 9, 2008, 11:00:44 AM3/9/08
to Rant...@googlegroups.com, kebud...@yahoogroups.com, minan...@yahoogroups.com, suli...@yahoogroups.com
Sanak Nofend ysh,
Satu hal yang saya catat bila penyerangan awal Belanda tahun 1821 itu adalah ke negeri Sulit Air dan Air Bangis. Perlawanan di Air Bangis cukup seru karena sebagian besar pasukan Paderi pada masa itu dikerahkan ke daerah itu, di antaranya dipimpin Tuanku nan Renceh, Imam Bonjol dll. Tuanku nan Renceh dikabarkan syahid di Air Bangis, dan kepemimpinan Paderi beralih ke Tuanku Imam Bonjol.
Bila Belanda memulai serangan awal di daerah itu, patut dipertanyakan alasannya, yang mungkin menurut perkiraan saya bila Air Bangis merupakan salah satu pintu masuk ke Minangkabau dari barat/laut.
 
Pada dasarnya masyarakat Minangkabau itu adalah 'masyarakat gunung', sehingga bila disebutkan adanya pertemuan 2 rombongan di Air Bangis maka dapat dikatakan bertemunya 'masyarakat gunung/usali' dan 'masyarakat pesisir/Melayu', apalagi bila dikaitkan dengan Inderapura. Sebagai catatan, sebenarnya Raja Pagaruyung tidak begitu peduli dengan daerah pesisir. Namun ketika Raja Aceh mengundang penjagaan di pesisir barat, maka ditempatkanlah kerabat raja di Inderapura dengan proteksi Raja Aceh. Pada suatu masa memang pengaruh Raja Pagaruyung dominan di pesisir, terutama di titik-titik pelabuhan.
 
Pada masa itu lalu lintas di Selat Malaka dikuasai oleh Portugis, sehingga Belanda, Inggris, dll menggunakan perairan barat Sumatera sebagai perlintasan ke Indonesia Timur. Itupun akhirnya terhadang oleh Aceh yang gigih menjaga pesisir barat dan timur Sumatera.
 
Dalam konteks masa kini, memang hubungan 'darek-pasisia' perlu disusun kembali dalam tatanan adat Minangkabau.
 
Demikian sanak.
 
Wassalam,
-datuk endang


"Nofend St. Mudo" <nof...@rantaunet.org> wrote:


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages