Maaf tidak saya kudung, untuk memudahkan kronologis
postingan saya ini
Alhamdulillah, kalau KHI 1991 sudah mulai
dipertimbangkan kembali. Sebagaimana yang pernah saya
sampaikan pada Bapak Syaf sebelumnya, ada beberapa
point yang isi dari KHI itu tidak sesuai dengan hukum
Islam, itu sebabnya saya berat masuk didalam perumusan
Kompilasi ABS-SBK, karena berat tanggung jawabnya
kelak di hadapan Allah, karena kita termasuk bahagian
dari yang membuat suatu hukum diluar hukum yang telah
ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.Kalau bagi
saya Al Wala, dan Al Bara lah dipakai kalau kita dah
menyampaikan hal ini.(Saya berlepas diri kalau hal ini
masih dipakai, dan akan mendukung setiap kebenaran
yang sesuai dengan AlQuran dan Sunnah Rasulullah).
Setelah saya mengetahui, dari beberapa buku terbitan
dan berbahasa Indonesia(maaf karena masih diwarnet,
lupa saya menyebutkan nama buku tersebut, dan kalau
saya lihatpun, harus saya baca ulang, dibuku mana yang
saya baca itu, sementara sudah 2 minggu ini lebih dari
7 judul buku dah saya garap, bingung di buku mana
terdapat kritikan terhadap beberapa orang yang
menyusun KHI 1991, yang berfaham Liberal, atau berasal
dari JIL). Saya baru sadar setelah baca buku tersebut,
pantaslah sebelum pulang ke Kairo, saat Pak Syaf
mengirimkan file KHI 1991 itu ke saya, saya telah
mencoret-coret yang saya kira itu bertentangan dengan
hukum Allah sendiri, hanya saya heran, bukankah yang
menyusun disana para ustadza/ah ada yang prof, Dr.MA,
kenapa bisa sampai tidak memperhatikan hal ini?(ini
pikiran saya dari sebelum ke Indonesia)
Saya sebagai orang yang merasakan ngak pas, langsung
aja bilang ke Pak Syaf kala itu, kalau ada beberapa
hukum KHI 1991 yang bertentangan dengan hukum
Islam.Dan salah satunya mengenai warisan, kalau saya
ngak salah disana ada warisan pengganti istilah KHI,
untuk anak angkat. Jadi anak angkat mendapat warisan
sepertiga maksimal, meskipun tidak diwasiatkan oleh
ortu, sementara hukum Islam, anak adopsi(angkat),
tidak mendapatkan warisan sama sekali, kecuali harta
yang diberikan secara wasiat, atau hibah, karena bukan
nasab(keturunan), bukan pula musaharah(karena
perkawinan)bukan pula karena membebaskan budak.Tiga
hal itu yang menyebabkan orang dapat harta warisan.
Kemudian masalah warisan juga, dikatakan disana, cucu
mendapatkan warisan dikarenakan pengganti tertinggi
dari ayahnya yang telah meninggal(kalau ngak salah
istilahnya), padahal dalam islam cucu ngak dapat
warisan dari kakeknya sepanjang ada anak lelaki dari
kakek tersebut, karena itu dalam hukum warisan sang
cucu dinamakan mahjub(yang terhalang), dan yang
menghalanginya adalah anak laki-laki(Al Haajib)(yaitu
adik, atau abang dari ayah sang cucu tersebut, yang
mana ayah dari cucu tersebut telah meninggal,
maksudnya adalah saudara dari ayahnya sang cucu tadi
), nah oleh KHI 1991, agar sang cucu tadi tetap dapat
warisan dari kakeknya, karena ayahnya telah meninggal,
maka dibuatlah hukum baru yaitu pengganti warisan
tertinggi.
Begitupun masalah pernikahan, disana disebutkan bahwa
seorang suami haruslah meminta izin pada sang istrinya
bila akan menikah lagi, kalau ngak minta izin, maka
bila meningal sang suami, maka istri yang lainnya(yang
tidak minta izin istri pertama tadi), tidak berhak
mendapatkan warisan.
Sementara dalam Islam sendiri, seorang suami tidak
disyaratkan minta izin istri pertama kalau menikah
lagi, izin atau tidak izin, pernikahannya tetap sah,
tetapi kalau memberitahukannya mungkin itu lebih
baik.Kemudian sang istri yang lainpun mendapatkan
warisan bila suami mereka meninggal, pembagian mereka
dibagi rata(para istri), kalau yang meninggal ada
anak, maka sang para istri berbagi harta
seperdelapannya, bila yang meninggal tadi tak ada
anak, maka seperempatnya. dari seperempat harta itulah
para istri berbagi sama rata.Dan ada beberapa yang
lain, sayangnya coretan itu hilang, itu yang saya
ingat.
Nb. Pak Syaf, saya minta tolong buku dari hasil
seminar kemaren disisakan saja untuk saya, nantik saya
minta tolong dikirim ke alamat kakak saya di jakarta
saja, terlalu susah kalau Bapak mengirimkannya ke
Kairo. Meskipun begitu, saya berterimakasih banyak
atas tawaran Bapak hendak mengirimkannya ke Kairo.
Mudah-mudahan Allah membalasinya, nantik yah Pak, saya
kirim alamat kakak saya yang di Jakarta.
Wassalamu'alaikum. Rahima. Kairo 5 Pebruari 2008
--- bagindochaniago <myamin...@gmail.com> wrote:
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
>
===============================================================
>
> Website: http://www.rantaunet.org
>
===============================================================
>
> UNTUK DIPERHATIKAN:
> - Mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, lihat di
>
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika
> melakukan reply.
> - Posting email besar dari >200KB akan di banned,
> sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan
> mematuhi Peraturan yang berlaku.
> - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang
> berminat dan kirim melalui jalur pribadi.
>
===============================================================
>
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
Wa'alaykumus salaam,
> Dima ka dilatak'an (konsep) KAMANAKAN ko kalau kito taklid buto ka sistem
> hukum waris Islam?
>
Onde, apo tuh definisi taqlid? Nan namonyo taqlid tu manuruik sajo
tanpa dalil. Nan namonyo dalil tu Al-Qur'an, As-Sunnah samo ijma'.
Hukum waris tu ado dalilnyo. Kok urang mampaturuikan kato-kato Pak
Lies, itulah nan namonyo taqlid.
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)
Unsur2 penting dalam hukum Islam jelas tetap harus dipakai, dek kito urang Islam. Tapi jika ada hal2 yang bersifat kontekstual dalam hubungannya dengan sistem sosial Indonesia sendiri, kenapa tidak coba dikodifikasikan dalam hukum yang disusun di negeri ini, oleh bangsa ini, dan untuk bangsa ini (Indonesia)?Kalau dihubungan dengan Minangkabau bisa2 terulang lagi sejarah lamo: Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, orang Minang yang 'durhaka' itu. Tinggal di Mekah sampai mati, mengharamkan dirinya menjejak kembali tanah Minangkabau yang telah melahirkan dan membesarkannya, yang telah melahirkan dan membesarkan ibu-bapaknya, dan yang telah melahirkan dan membesarkan kakek dan neneknya, dan nenek moyangnya, karena dia bilang adat Minang yg matrilineal itu adat kafir, tak sesuai dg Islam. Masya Allah! Membaca karya2nya yang masih tersimpan di Perpustakaan Univ.Leiden sampai kini, saya bergidik juga (lihatlah thesis MA Yasrul Huda dari IAIN Imam Bonjol Padang tentang ulama ini yang dipertahankan di Univ.Leiden).
Wassalam,Suryadi yang daif
Lies Suryadi <niad...@yahoo.co.id> wrote:Unsur2 penting dalam hukum Islam jelas tetap harus dipakai, dek kito urang Islam. Tapi jika ada hal2 yang bersifat kontekstual dalam hubungannya dengan sistem sosial Indonesia sendiri, kenapa tidak coba dikodifikasikan dalam hukum yang disusun di negeri ini, oleh bangsa ini, dan untuk bangsa ini (Indonesia)?Kalau dihubungan dengan Minangkabau bisa2 terulang lagi sejarah lamo: Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, orang Minang yang 'durhaka' itu. Tinggal di Mekah sampai mati, mengharamkan dirinya menjejak kembali tanah Minangkabau yang telah melahirkan dan membesarkannya, yang telah melahirkan dan membesarkan ibu-bapaknya, dan yang telah melahirkan dan membesarkan kakek dan neneknya, dan nenek moyangnya, karena dia bilang adat Minang yg matrilineal itu adat kafir, tak sesuai dg Islam. Masya Allah! Membaca karya2nya yang masih tersimpan di Perpustakaan Univ.Leiden sampai kini, saya bergidik juga (lihatlah thesis MA Yasrul Huda dari IAIN Imam Bonjol Padang tentang ulama ini yang dipertahankan di Univ.Leiden).Wassalam,Suryadi yang daif
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
color=#00bf60>> http://profiles.friendster.com/lakaraza
| | |||||||||||||||||||||||
|
Apo thesis Yasrul Huda ko alah dibukukan dan ditabikkan, ataukah
masih tasimpan dalam bantuak koleksi thesis di Leiden sajo? Apokoh
Publisher: [S.l. : s.n.] penerbit khusus untuk koleksi theses sajo
di perpustakaan sinan?
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, Lies Suryadi <niadilova@...> wrote:
>
> Sanak Ronal jo sanak sudaro di lapau,
>
.........
> Tentang Syekh Ahmad Khatib, mungkin ada dalam buku2 Hamka,
semisal AYAHKU, dll. Juga jelas ada dalam thesis Yasrul Huda dibawah
ini.
Innaalillahiwainaailaihi Raaji'uun.
Dimana ke Arabic-an saya yah...Saya hanya berbicara
masalah hukum Islam. Hukum waris dalam islam yang
sedang saya bicarakan. karena KHI, ada pakai islamnya,
tentu harus sesuai dengan undang-undang Islam. Kalau
ngak, yah..jangan pakai islam. Itu aja sih. Saya ngak
terlalu peduli, kalau saja KHI(Kompilasi Hukum
Indonesia), kalau itu berseberangan dengan Islam,
karena saya sadar, namanya juga hidup di negara yang
berbagai macam ragam agamanya. begitupun dengan
Minangkabau. Karena pakai Kitabullahnyalah, maka saya
harus melihat, sesuai ngak dengan kitabullah. Kalau
ngak sesuai akan lebih baik tidak usah pakai kalmat
Kitabullah itu.Itu aja.
Tanggungjawabnya sangat berat. Karena segala sesuatu
meski seberat apapun perbuatan kita akan
dipertanggungjawabkan diakhirat sana, dihadapan Allah
Ta'ala. Segala sesuatu hukum, ibadah dalam islam,
harus berlandaskan dalil,atau penetapan datangnya dari
Allah dan rasulNya, kalau tidak itu namanya kita
mengada-ngada(bid'ah), atau kita dikatakan membuat
hukum agama selain hukum yang telah ditetapkan oleh
Allah dan rasulNya, ini adalah kedzaliman pada
Allah.Bukankah difirmankan Allah ta'ala dengan
peringatan yang cukup keras:
"Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum
Allah, maka mereka adalah orang yang dzalim..."
Itulah yang sangat saya pikirkan, itu yang selalu saya
ingat, karena manusia hidup didunia ini hanya bagaikan
musafir saja, singgah, kehidupan akhirat itu yang
kekal, makanya hendaknya segala sesuatunya kita selalu
berusaha menuju jalan yang sesuai dengan Hukum
Allah.Nah, bagi siapa saja yang tidak melakukan sesuai
dengan hukum Allah dan rasulNya, sebagai orang yang
tau, wajib menyampaikannya, kalau ngak diikuti, atau
didengarkan, yah..sikap orang yang menyampaikan itu
(Al Wala' dan Al bara.), berlepas diri dari tanggung
jawab itu kelak dikemudian hari, karena sudah
disampaikan.Tanggung jawab setiap muslim itu sama
saja, bukan para pendakwah saja.Silahkan berikan
kepada saya dalil-dalil AlQuran dan Sunnah masalah
warisan,atau ibadah dalam adat apa saja, mo Jawa kek,
mo Minang kek, mo Batak sekalipun, asal dah pakai
Islam, Kitabullah, sunnatu rasulullah. Itu saja yang
saya minta.
Wassalamu'alaikum. Rahima.(yang ngak mau dibilang
dhaif, karena Allah tidak suka orang yang dhaif,
tetapi Allah suka yang kuat, sesuai dengan hadits
Rasulullah : "Mukmin yang kuat lebih disukai Allah
ketimbang mukmin yang lemah", dan Firman Allah
ta'ala:"Dan takutlah kamu kalau meninggalkan keturunan
yang dha'if(lemah)..."
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
| Waalaikumsalam w.w. Ananda Rahima dan Sanak Bagindo Chaniago, Saya telah membaca baik-baik email Nanda dan Sanak, dan faham akan maksudnya. Izinkanlah saya menyampaikan kembali sekedar informasi tentang latar belakangnya. 1. Saya mengusulkan adanya Kompilasi Hukum ABS SBK itu karena dua sebab: a) amat sering disebut dan tidak pernah dibantah bahwa 'jati diri Minangkabau' itu adalah 'adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah' yang lazim disingkat sebagai 'ABS SBK'. Mudah-mudahan rumusan ini masih berlaku. b) oleh karena ketika 'dikejar' apa isinya 'ABS SBK' itu, bukan saja terdengar bermacam-macam tafsiran, tapi juga tidak ada kejelasan apa yang sungguhnya yang merupakan intinya, sehingga`timbul kesan bahwa 'ABS SBK' tersebut hanya 'pemanis bibir' saja, tidak sungguh-sungguh mau dilaksanakan. Sudah lama ditengarai bahwa yang dipersoalkan berkisar pada masalah hukum kekerabatan dan hukum kewarisan, karena ada hal-hal yang agak 'incompatible' atau 'kurang pas' antara ajaran adat Minangkabau dengan ajaran agama Islam. Saya tidak akan merinci hal-hal ini, karena ini bukan bidang saya. 2. Kompilasi Hukum Islam itu sendiri sudah ada sejak tahun 1991 dan sudah dipakai di seluruh Pengadilan Agama. Jadi paling tidak, unsur 'hukum syarak'-nya sudah ada bahan.Mengenai ada hal-hal dalam kompilasi tersebut yang dipandang masih belum sesuai dengan Islam, saya serahkan kepada yang ahli. Saya juga tidak akan berkomentar mengenai kompilasi ini, karena ini juga bukan bidang saya. 3. Ketidakjelasan dan ke-kurangpas-an norma sosial tersebut mempunyai pengaruh besar pada pembentukan pribadi orang Minangkabau, yang dalam tahun 1950-an dan 1960-an dahulu pernah ditengarai dihinggapi oleh sindrom psikosomatik -- semacam penyakit jiwa -- yang disebut oleh para pakar kedokteran jiwa sebagai 'Padangitis' atau 'Minangitis'. Nah kalau ini memang merupakan bidang kepedulian saya, karena sejak tahun 1966 saya ikut 'berminang-minang' dan memang melihat dan merasakan ada hal-hal khas yang memang perlu dijernihkan dalam kehidupan sosial budaya orang Minangkabau. Mengenai hal ini sudah lumayan banyak seniman, budayawan, ilmuwan, cendekiawan yang menulis. Saya hanya mengajak kita sekalin agar maju selangkah lagi, yaitu untuk mencoba merumuskan bagaimana jalan keluarnya. Hanya itu saja. Kalau kita memperhatikan sejarah Minangkabau, setidak-tidaknya masalah ini sudah berusia 205 tahun, kalau dihitung sejak bermulanya Gerakan Paderi pada tahun 1803. Sampai sekarang belum juga ada penyelesaian final. Orang Minangkabau masih berdebat terus mengenai masalah ini, bahkan sampai Semiloka di Fakultas Hukum Universitas Andalas bulan Juni 2007 yang lalu. Yang saya upayakan secara pribadi adalah mencoba mendorong segala fihak untuk mulai melakukan pembahasan bersama secara tenang agar 'ABS SBK" yang dipercaya merupakan 'jati diri Minangkabau' itu dapat dibuat lebih jernih, lebih lugas, lebih eksplisit. dan lebih bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut penglihatan saya pada saat ini sudah ada kemungkinan dan peluang untuk menyusun draft awal Kompilasi Hukum ABS SBK itu, antara lain oleh karena sudah semakin banyak fihak yang merasakan adanya kebutuhan itu, dan sudah tersedia berbagai bidang ilmu tentang bagaimana cara mengatasi konflik. Sehubungan dengan itu, izinkan saya mengajak kita sekalian untuk terlebih dahulu berlapang dada memberi kesempatan -- kalau bisa membantu -- tersusunnya draft awal itu -- yang sama sekali belum ada --- sebagai bahan untuk kita bahas bersama lebih lanjut. Yang tidak kita sepakati, ya kita tunda dulu. yang sudah kita sepakati, kita konsolidasikan. Seluruh kita yang berpeduli terhadap masalah ini, silakan untuk mengajukan saran bagaimana seyogyanya bunyi rumusan hukum ABS SBK itu. Itu tentu saja kalau kita masih bersepakat bahwa 'ABS SBK' memang 'jati diri Minangkabau'. Kalau tidak, atau tidak lagi, tentu lain lagi wacananya. Akhirulkalam, secara pribadi saya memang prihatin menyaksikan gejala kemunduran Minangkabau, yang saya coba menelaah akar penyebabnya yang terdalam, yang mungkin sekali memang berasal dari kurang menyatunya dua sumber norma keminangkabauan ini yaitu: adat Minangkabau dan agama Islam. Wallahualambissawab. Wassalam, Saafroedin Bahar PS: Bu Warni Darwis, tolong kirimkan buku Mahkamah Konstitusi yang memuat makalah-makalah semiloka di Universitas Padang bulan Juni 2007 kepada alamat kakak Nanda Rahima di Jakarta, diiringi ucapan terima kasih atas partisipasi beliau. Saya tidak meng-'cut' email-email sebelum ini, biar terlihat kaitannya satu sama lain. --- On Tue, 2/5/08, Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote: |
> takut dengan saya,? katanya. Said menegaskan,Departemen Agama |
|
~----~----~----~------~----~------~--~--- |
Sejujurnya, selama ini saya sangat salut atas
keilmuwan dan sikap Bapak dalam banyak hal. Dalam
menghadapi berbagai ulasan di milist, sikap tenang,
ilmu Bapak, benar-benar menjadi acuhan bagi saya.
Saya cukup mengerti maksud Bapak, dan alhamdulillah
bisa mengerti Bapak dari awal sampai saat ini saya
membaca emails Bapak selama ini. Tanggapan Bapak bisa
mengerti, dan saya salut pada kejujuran dan pengakuan
orang berilmu semacam Bapak, kalau memang bukan bidang
kita, kita mengakuinya dan menyerahkan kepada yang
ahlinya.
Ini benar-benar luar biasa, mungkin bukan dimata
manusia saja, terutamanya dimata Allah Ta'ala, karena
jarang sekali orang mau mengakui kalau itu dia tak
bisa, atau itu bukan bidangnya, kebanyakan orang
merasa Tau saja segalanya, banyaknya kehancuran ummat
Islam yang telahpun diperingatkan oleh /Rasulullah
Shallallhu'alaihiwasallam adalah menyerahkan urusan
pada yang bukan ahlinya.
Padahal manusia itu ilmunya sangat terbatas, dan tak
semua orang bisa menguasai segala macam bidang ilmu
didunia ini.Begitupun saya perhatikan di Indonesia
secara umum, mungkin juga Sumbar ini, kenapa
gagal/mundur? Bisa jadi salah satunya adalah yang
menduduki suatu jabatan, suatu bidang, bukanlah orang
yang ahli dibidang itu. Ahli Pertanian diberi jabatan
memegang Urusan pernikahan(KUA).Yang dah bidang atau
yang sudah urusannya saja sudah repot, apalagi yang
bukan bidangnya. Ahli matematika, disuruh mengajar
PPKN, atau IPS. Bukannya ngak boleh, tetapi alangkah
lebih tepatnya seseorang diberikan tempat sesuai
dengan keahliannya.
Pak Saaf, ngak papa saya berikan alamat kakak saya ini
di jalum saja, susah pula saya lagi bulak-balik
mencopy ID Bapak di Japri. Rahima d/a Rizana Hanim
Komp.Bukit Pamulang Indah, Block C-9 No.4
Tangerang.Jakarta Selatan
Telp. 21-7444889.
Makasih sebelumnya pak, juga pada yang mengirimkannya.
Oh yah, buku ini perlu bagi saya, juga beberapa buku
karangan Bapak, insyaAllah, dan kalau Bapak izinkan
akan saya jadikan referensi saya kelak dalam
melanjutkan program Doktoral, kalau judul ini diterima
di Al Azhar University.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
--- "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
---------------------------------
Wassalam
Tan Ameh (49+3+13)
| Wassalamualaikum w.w. Bundo jo Sanak Tasril Moeis, Tarimo kasih ateh tanggapan Bundo manganai soal ABS SBK ko. Sapanjang minat ambo sacaro pribadi memang hanyo tabateh pado kainginan supayo tatanan masyarakat Minang tu sacaro formal mangakomodasi ajaran Islam dan hukum nasional tentang keluarga nan tadiri dari ayah, ibu dan anak-anaknyo. Soal suku jo harato pusako ambo samo sakali indak bakabaratan dan indak baminat. Kok dek ambo, Islam sajo alah labiah dari cukuik, dunia dan akhirat. Tapi kan kito haruih mangharagoi adat Minang nan di Sumatera Barat alah ado labiah dahulu. Nan jadi masalah memang baa manyatukan kaduonyo [mungkin iko nan dinamokan urang sabagai 'akulturasi']. Tantang pertanyaan Sanak Tasril Moeis ko sangat menarik, dan memang rancak kito cermati. Kadang-kadang memang timbua pertanyaan dalam hati ambo: kok iyo bana ABS SBK itu 'jati diri Minangkabau" baa mako dipabiakan sajo salamo tu indak jaleh baa rumusan dan limbagonyo ? Sairiang jo pertanyaan Sanak Tasril Moies ko, itu paliang indak ado ampek pertanyaan lanjutan nan sairiang, yaitu: 1) baa mako indak basalero urang marumuskan ABS SBK ko ? 2) sia pulo nan paliang anti dirumuskannyo sacaro janiah masalah ABS SBK ko ? 3) kok indak kito rumuskan ABS SBK ko apo eloknyo dan apo pulo ruginyo ? 4) Apo manfaatnyo kalau ABS SBK ko kito janiahkan ? Wassalam, Saafroedin Bahar --- On Wed, 2/6/08, Hayatun Nismah Rumzy <hni...@yahoo.com> wrote: |
Assalamualaikum w.w. Nanda Rahima, Terima kasih atas apresiasi Nanda. Sejak awal saya memang mengatakan bahwa saya bukan ahli dalam adat dan bukan ahli dalam agama. Saya hanya sangat prihatin kok proses akulturasi antara adat Minangkabau dan agama Islam ini kurang berjalan mulus, khususnya dalam hukum kekerabatan dan hukum kewarisan, yang kelihatannya berdampak pada proses pembentukan kepribadian orang Minang. Peran saya terbatas pada mengajak, bahkan mendorong, beliau-beliau yang berkompeten untuk menyelesaikan keruwetan itu. Memang hanya itu saja. [Sekedar catatan: tanggal 22 Januari yang lalu saya ikut memprakarsai diskusi panel tentang Gerakan Paderi, 1803-1838, yang langsung atau tak langsung kan terkait dengan masalah kompleksnya proses akulturasi tersebut. Saya tidak pernah mendengar bahwa daerah lain yang juga menganut ABS SBK menghadapi keruwetan yang sama seperti di Minangkabau. seperti di Bengkulu, Riau, Jambi, Melaka, atau Gorontalo. Jadi ABS SBK sebagai masalah hanya ada di Minangkabau]. Kalau memang ada tulisan saya yang bermanfaat, silakan Nanda manfaatkan. Memang itu maksudnya. Bu Warni, Tolong dikirimkan beberapa copies buku Mahkamah Konstitusi, 2007, "Membangun Masa Depan Minangkabau dari Perspektif Hak Asasi Manusia" kepada alamat kakak Nanda Rahima di Jakarta seperti tersebut di bawah. Kalau kurang tolong diminta lagi ke Mahkamah Konstitusi. Wassalam, Saafroedin Bahar |
--- On Wed, 2/6/08, Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote: |
From: Rahima <rahim...@yahoo.com> |
> Assalamu Alaikum W. W.
> Pak Saaf, nanda Tasril Muis nan bundo hormati,
> Wak bukak kulik tampak isi apo2 bana nan salamoko
> nan bertentangan antara adat dan agama? Mungkin
> harus awak pilah ciek2. Salamoko manuruik ambo kami
> lai baradaik dan lai pulo baragamo, jadi indak ado
> adaik kami nan manyalahi agamo doh.
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuh.
Maaf Bundo, sangat tertarik membaca ulasan bundo
diatas. Bukan maksud hendak membantah bundo.
1). Masalah hukum warisan dalam Minangkabau, harta
dibagi menjadi dua(Harta Pusaka rendah, harta pusaka
tinggi, kalau boleh dari mana dalilnya pembagian harta
semacam itu, semenatara dalam Islam, tidak ada
pembagian harta warisan semacam itu), Dalilnya:"
Apa-apa saja harta yang ditinggalkan oleh ayah ibu,
kaum kerabatmu, maka Allahlah yang mengaturnya).
2), Katanya harta Pusaka tinggi jatuh kepada garis
keturunan ibu saja, sekali lagi, tolong disertakan
dalil dari AlQuran atau haditsnya, sementara dalam
Islam pembagian harta telah sangat jelas dalam AlQuran
secara terperinci di Surah Annisa.
3)Masalah kawin sesuku, meskipun ini terjadi hanya
disebahagian nagari di Minangkabau saja, memang yang
di kritik pun yang sebahagian nagari itu saja, yang
mana saya dengar, kalau kawin sesuku terjadi juga,
maka ada sanksinya, ngak diakui lah,,dibuanglah,
dikucilkanlah, pokonya ada sanksinya. Pelarangan dan
ada sanksinya ini yang menyalahi hukum Islam yang dah
jelas-jelas, diperbolehkan sepanjang memang halal
untuk dinikahi.
4).Saya masih ingat saat diskusi dulu, mengenai harta
suami istri. Kalau perpisahan masih dalam perpisahan
semasih hidup, alias bercerai, maka memang benar sang
suami ngak berhak mengambil harta bawaan istrinya,
tetapi bila telah meninggal, suami berhak mendapatkan
harta warisan sang istri, asal bawaan sang istri,
walaupun itu dari harta peninggalan orang tuanya, atau
saudara sang istri, sementara dalam Minang, yang saya
tau, dan via diskusi terdahulu, ngak boleh sang suami
mengambil harta warisan sang istri, tetapi harta
tersebut jatuh kepada saudara istri(bukankah ini
bertentangan dengan firman Allah,..bagi kamu wahai
para suami mendapatkan harta setengah kalau sang istri
tak punya anak, atau seperempat dari harta istri-istri
kamu bila sang istri yang meninggal tadi punya anak.
5), Mengenai acara Tabuik, apakah ini merupakan adat,
atau apa, saya ngak tau, tetapi terjadi di Minangkabau
setiap tahunnya dirayakan dengan pesta
besar-besaran,ini yang masih belum jelas disaya,
bagaimana acaranya, tetapi akan saya kaji juga ini,
untuk apa Sumbar merayakannya, dan kalau dilihat,
mereka mengagungkan Hasan,Husain ada patung, atau
apalah, saya belum mengkaji benar, yang pasti kalau
itu terjadi, apa tidak sama dengan acara-acara yang
terjadi di jawa, ziarah kekuburan para wali dengan
meminta berkah, sementara di Sumbar, memang tidak
ziarah kekuburan Hasan-Husain, tetapi membuat patung,
menghabiskan biaya, yang merupakan kemubaziran.
6. Memang ada baiknya dirumuskan betul apa itu
ABS-SBK, apa-apa saja isinya. Koq ada namanya, ngak
ada isinya? Kalau dalam tulisan Buya Mas'ud yang saya
baca ABSSBK, banyak mengenai adab sopan santun, cara
makan, tidur, dan adab-adab lainnya, yanh sudah jelas,
dalam hal ini adat Minang sangat banyak kesesuaiannya
dengan adab-adab yang diajarkan oelh islam, tengang
rasa, raso jo pareso, dllnya.
Sewaktu saya mengikuti seminar Internasional yang
diadakan oleh STAIB BKT-Padang-Malaysia, ternyata
Malaysia sistemnya ngak jauh beda dengan Minangkabau,
hanya saja masalah harta ini, mereka sesuai dengan
hukum warisan dalam Islam.Jadi satu hukum, ngak dua
hukum sebagaimana Minangkabau ada harta warisan berupa
pusaka tinggi, harta warisan berupa pusaka rendah, Nah
islam ngak ada pembagian semacam itu dalam masalah
warisan ini.
7), Syukur Alhamdulillah kalau sekarang ayah sudah
bertanggungjawab kepada anak kandungnya sendiri, kalau
dulu saya dengar ayah bertanggungjawab pada
kemenakannya, anak ditanggungjawapin oleh pamannya,
begitu sebaliknya, suami bagai ... diatas tungku,
berarti adat itu lama kelamaan berubah, alhamdulillah
bukan, semakin mengikuti apa yang diharapkan dalam
Islam. Islam juga ngak pernah melalaikan kemenakan,
karib kerabatpun diberikan hak mereka, melalui wasiat,
tetapi ngak boleh lebih dari sepertiga harta yang
meninggal.Tetap diutamakan ahli waris, yaitu anak,
suami/istri, ayah/ibu, dll yang meninggal.
8.Adat, atau tradisi jenazah, kematian menuju 7 hari,
10,40 hari, masih saya temukan di Sumbar, tetapi ini
juga lebih banyak saya temukan di daerah Jawa, jadi
saya ngak tau, ini merupakan adat Minang, tradisi,
atau apa atau hanya perorangan saja, tetapi itu tetap
terjadi disebahagian daerah Sumbar.Yang diinginkan
kalau bisa, dan memungkinkan Sumbar itu benar-benar
sesuai dengan hukum islam, alhamdulillah, karena
ABSSBK, hendaknya hal-hal yang menjurus kepada bid'ah,
syirik, penyimpangan hukum-hukum yang telah ditetapkan
oleh Allah ta'ala, yah sudah ngak ada lagi...tapi
apakah mungkin ini akan bisa terwujud..? Allahu a'lam.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile. Try it now.
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
| Waalaikumsalam w.w. Nanda Wita Abidin, Indak ado nan paralu ambo komentari tantang posting Nanda nan di bawah ko. Ambo satuju panuah. Memang nan saroman Nanda tulih tu keaadannyo. Nan jadi tantangan nan dihadoki kini dek para pakar adat, pakar agamo, dan pakar hukum adolah: baa manulihkan pokok-pokok kombinasi ajaran Islam nan disatukan jo 'Urf sahih ' Minangkabau nan sasuai jo ajaran Islam tu untuak dipakai dek kito urang Minang nan awam adat dan awam Islam dalam kehidupan kito sahari-hari, dan bisa pulo dipakai dek saluruah hakim pengadilan negeri jo pengadilan adat. Rasonyo kalau Kompilasi Hukum ABS SBK ko alah salasai, alah labiah jaleh ma nan atah ma nan bareh, sahinggo kito indak paralu batangka sarupo salamo ko.Manuruik pancaliakan ambo, urang awak nan awam adat dan awam agamo ko marupokan sabagian gadang urang awak. Mandalami adat dan mandalami agamo kan paralu sacaro sungguah-sungguah dan rasonyo akan makan wakatu panjang. Indak sadonyo urang awak bisa manyadiokan wakatu jo tanago untuak itu. Apolagi kalau kito alah mamiliah profesi di bidang lain. Ambo tamasuak kalompok ko. Kito basyukur momennyo kini adalah timbo. Dalam rangkaian wacana baminang-minang alah timbua samacam konsensus bahaso 'Kompilasi Hukum ABS SBK' memang paralu; Sairiang jo itu babarapo pakar di Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra Universitas Andalas alah siap turun tangan marumuskan, didukuang panuah dek pak Rektor. Pak Gubernur, pak Ketua DPRD Provinsi, dan Sekdaprov Sumbar satuju dan mandukuang. A juo lai nan kito tunggu ? Sasuai jo pepatah kito, karajo elok ko rancak dipapagehkan, sabab kalau liwat momentum ko, misalnyo kalau baganti pejabat, dan kalau pejabat baru nanti tu indak baminat ka masalah ko, tapaso pulo masyarakat Minangkabau mananti timbuanyo momentum baru. Samantaro tu nan mudo tacangang-cangang sajo jo 'claim' bahaso ABS SBK adolah 'jati diri Minangkabau'. A nan dapek kito buek sabagai urang awam ? Saran ambo: mulailah mambuek daftar apo nan paralu diatur dalam Kompilasi Hukum ABS SBK tu, ba baa rumusannnyo nan lugas dan sacaro hukum nan bisa kito tagakkan basamo. Apo tujuan disusunnyo Kompilasi Hukum ABS SBK ko ? Supayo Ranah Minangkabau bisa dikambangkan manjadi nagari nan bebas dari silang sengketo soal sako dan pusako, panduduaknyo saiyo sakato, mampu bakarajo samo mambangun maso datang nan aman, sejahtera, lahir bathin. Indak lai ragu bakapanjangan. Wassalam, Saafroedin Bahar --- On Wed, 2/6/08, Wita Abdin <hikm...@gmail.com> wrote: |
From: Wita Abdin <hikm...@gmail.com> |
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
Ambo ingin batanyo supayo klirt dihatiko, sbb:
1. Apokoh indak ado harta public dalam Islam?
2. Apakah Islam melarang harta public sekelompok orang?
3. Apakah ada perintah dalam Syara' untuk membagi habis harta public?
Menurut pandangan ambo nan singkekko, harta pusoko tinggi adolah harta
publik kelompok suku dalam adat Minangkabau. Sebab penggunaannya adalah
turun temurun digaris ibu. Dan harta ini adalah hak pakai, tidak boleh
diperjualbelikan. Harta ini adalah harta titipan dari nenek moyang untuk
menjaga harkat dan martabat kaum ibu yang adalah lemah kodratnya.
Wassalam
Darul Makmur
Ondeh takana lo ciek lai, bia nak sakali manjawab dek nan ahli syara'
Ambo ado menciptakan harta public kelompok tertentu lo, sbb:
1. Satiok urang (kampuang) nan ambo tolong mancarikan karajo (pelaut) mako mereka harus bajanji untuak manjadikan urang lain sebagai pelaut paliang kurang 3 urang, saumua hiduik urang nan ambo tolong cako. Walau iko hanyo barupo jasa tapi juo malibatkan harta (uang) ndak. Kalau sacaro perhitungan akan berkembang berbentuk deret dikamudian hari.
2. Kudian mabo terapkan pulo, untuak satiok urang nan ambo bantu uang sikola (kuliah) no, mako bajanji pulo untuak manyikolakan 3 urang lain nanti, saumua hiduik nan basangkutan. Ado usul dari salah surangno akan diabntuak yayasan untuak iko. Iko kalau sacaro teori dan dalam mimpi bisa bakambang manjadi gadang. Dan iko adolah harta publik kelompok lo komah.
Kini ingin batanyo baa nan iko manuruik syara’? Apo batantangan jo syara’ ndak ko? Apo harus ambo stop sabalun dilanjuikan, dan kudian buliah ndak dimaafkan janji urang nan alah manarimo bantuan tsb, sahinggo mereka indak usah mamanuahi janjino. Tolong yo, dek iko tamasuak harta publik sekelompok urang.
Salam
Darul Makmur
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com
[mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of Darul M
Sent: Thursday, February 07, 2008 11:25 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Harta Publik ---------->Sia nan paling berkepentingan
jo ABSSBK
Assalamulaikum
Best
Regards,
Mulyadi
Tenaga bantuan Engineer dari PT.Pusri pada :
Mechanical Dept.
PT. REKAYASA
INDUSTRI - Jakarta
Jl.Kalibata Timur I No.36, Jakarta -
12740
Phone : +62-21-7988700 ext. 2215
Fax :
+62-21-7988701
mobile : 08127834825 atau nomor baru 081932450588
email :
mul...@rekayasa.co.id
atau : mul...@pusri.co.id
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuh.
Pertanyaan yang sangat bagus sekali. Bukak kulik,
tanpak isi.
Pada hakikatnya pada isi pertanyaan kedua, bisa
menjurus pada isi pertanyaan pertama, kalau saja
setelah sang ayah mengamanahkan(mewasiatkan) kepada
sanak darwis bahwa satu-satunya rumah peninggalan
untuk ke 6 saudara perempuan sanak.Apakah mungkin asal
muasal dari isi pertanyaan pertama bersumber dari awal
kisah isi pertanyaan kedua?(kita lupakan tanah Ulayat,
karena tanah Ulayat bukan masuk dalam kedua pertanyaan
diatas, ini saya tekankan agar tidak menyinggung tanah
Ulayat yang didapat begitu saja oleh beberapa kaum,
atau suku).
Sebelum saya menjawabnya: saya ingin dijelaskan dulu:
1. Apakah sang ayah memberikan amanah, atau wasiat itu
disebutkan untuk ke 6 anak prnya sebagai harta
warisannya kelak, atau sebagai harta hibah kepada ke 6
anak padusinya.
2. Apakah harta hibah itu sudah dibagi-bagikan ketika
masih hidup sang ayah(maksudnya, sudah ditentukan ini
kamar utk si Anu, Ani, Ana, ataupun berbentuk
dijadikan semacam bentuk uang, kalau dijual rumah ini,
kira2 harganya sekian, maka masing2 ke 6 anak dapat
sekian2, kalau masing2 6 juta, lantas agar rumah itu
kekal, yang si Ana ingin menempati rumah tersebut,
maka si Ani dan si Anu digantikan dengan uang.
3. Ataukah kelak, rumah itu tetap begitu adanya,
sampai ayah wafat, rumah untuk ke 6 anaknya, ngak
dibagi-bagi, dibiarkan begitu saja, sehingga rumah itu
milik ke 6 anak pr, yang mana kelak, yang berhak juga
menerima peninggalan dari rumah itu adalah anak-anak
perempuan (saja) dari keturunan yang anak ke 6 tadi?
4. Dan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi,
nan saya lihat, harta pusaka tinggi di Minang sampai
berbuntut kepada pagang gadai yang bertahun-tahun,
karena ngak bisa dijual, akhirnya digadaikan saja
sampai tahunan hitungannya, dan ini terjadi pada
inyiak aki ambo, dia ngak bisa jual tanahnya, karena
itu pusaka tinggi, tetapi ia gadaikan seumur hidupnya,
sampai keturunannya, siapa yang bisa menebusnya, maka
tanah yang digadaikan itu milik sang penebus, itupun
tak pula boleh dijual. Bila dijawab hal ini,
insyaAllah akan saya jawab kedua pertanyaan diatas.
>
> Untuak nan lain2 masalah tabuik, kawin sasuku, baitu
> juo harato pusako,
> saran ambo ka sanak rahima, pelajari bana dulu
> adaiktu sacaro mandalam,
> sasudahtu buliah sanak mangecek itu ndak sasusai jo
> islam, jan manjadi
> fitnah beko karano ketidak tahuan awak.
> Karano nan sanak tahu baru "KATANYA", "SAYA DENGAR"
> "DARI DISKUSI", tapi
> sudah di klain ndak sasuai jo islam.
Untuk yang tabuik, kawin sesuku. saya rasa masalah
Tabuik dah saya jelaskan sebelumnya. Saya harus
mempelajarinya dulu, lihat apa tujuannya, kenapa
diadakan hal tersebut, untuk apa dan bagaimana
pelaksanaannya. Apakah ia dengan membuat patung, trus
diceburkan kesungai, atau bagaimana, saya ingin betul
tau bagaimana pelaksanaanya, kemudian tujuannya apa,
kalau ditinjau dari pelaksanaannya semacam membuat
bunga, dicemplungkan kelaut sebagai tanda suka cita
kepada Husain, ini semacam apa yah..kayak sesajean di
jawa itu, dan sesajean itu syirik lho. Atau dia
semacam perbuatan kaum Syi'ah saking cintanya kepada
Husain, diadakan acara semacam itu, bukankah sudah
disebutkan"man tasyabbaha biqaumin fahuwa
minhum"(Barang siapa yang menyerupai adat suatu kaum,
maka ia termasuk dari kaum tersebut).
Masalah kawin sesuku, saya rasa dah kita diskusikan
dulunya. Pertanyaan saya, kenapa dilarang kawin
sesuku, dan kenapa sampai mendapatkan sanksinya,
apakah ada Islam melarang kawin sesuku(kalau memang
halal lho), dimana dalil pelarangannya.
Dan kalau ini dikatakan masuk bagian dari pembagian
dari adat nan diadaikkan, atau masuk kategori adat
apalah..bagi saya memang itulah yang saya kritik tak
sesuai dengan islam, kalau ia masuk bagian adaik nan
diadaikkan, yang adaik nan diadaikkan itulah yang saya
katakan tak sesui dengan Islam, dan bukan sembarang
bicara apa-apa yang saya sebutkan diatas, tetapi
benar-benar setelah saya pelajari dalam Islam, makanya
saya cukup berani menyampaikannya. Ok.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
>
> Sebaiknya "SETELAH SAYA PELAJARI DARI BERBAGAI
> SUMBER" ternyata adat
> minangkabau bertengtangan dalam Islam, boleh lah
> mengklaim seperti ini.
>
> Sapendek nan ambo tahu adat minangtu banyak
> tingkeknyo, Adaik nan sabana
> adaik, adaik nan diadaikkan dll.
>
> Kok ado nan salah tolong ajai ambo.
>
> Salam
> Is St Marajo 39+
> www.cimbuak.net
> Kampuang nan jauah dimato dakek dijari
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> Looking for last minute shopping deals?
> Find them fast with Yahoo! Search.
>
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
>
>
>
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
sato ciek nimbrung
masalah wasiat, kok isi wasiat itu tidak melanggar apa
yan telah ditentukan di Alquran ya... dijalankan atau
dilaksanakan , kok melanggar ya jangan dijalankan
(cacat wasiat)..... kok wasiat nan tadi kayaknya
laksanakan perintah pembagian warisan (ada di alquran)
kok sanak merasa kini berkecukupan sedekah hak sanak
dalam hak warisan ke sanak padusi .... pertamo awak
menjalankan perintah Allah (pahala) dan kaduo
mensedekahkan hak sanak ka sanak padusi lah dapek
pahala ....
kok ado salah mohon maaf
--- Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:
=== message truncated ===
Pertama. Harta Publik(harta umum maksudnyakan?), ini
ada ketentuannya dalam Islam. Harta Umum ini haruslah
dipergunakan oleh umum dan kepentingan untuk umum
juga.Harta ini bisa dijual, demi kepentingan umum
juga.Bukan kepentingan perorangan.
Kedua: Kalau harta itu diwasiatkan, apakah wasiatnya
untuk umum, atau untuk pribadi. Bila untuk pribadi,
atau beberapa orang saja yang tertentu, maka dalam
islam, harta wasiat haruslah jelas, ada
syarat-syaratnya.
1)Ngak boleh lebih dari sepertiga harta secara
keseluruhan,
2)Kemudian yang diwasiatkan jelas orangnya(ada ijab
kabul). Harta saya ini saya wasiatkan kepada si Ali,
si Umar, si Anto(ingat wasiat itu ngak boleh lebih dr
sepertiga harta, tidak boleh seluruh harta)
3)Yang mewasiatkan dan diwasiatkan harus hidup
kedua-duanya(kedua pihak, yang mewasiatkan dan
diwasiatkan) saat terjadi transaksi wasiat tersebut.
Kalau meninggal yang diwasiatkan, maka wasiat batal.
Meskipun harta yang diwasiatkannya itu belum
dipakainya, atau sudah dipakainya, kalau yang
diwasiatkan telah meninggal dunia, maka wasiat yang
pertama tadi batal hukumnya. Sampai kalau sebelum ia
meninggal iapun mewasiatkan lagi, dengan ketentuan
point seperti diatas, ngak boleh seluruh harta, harus
sepertiganya.
Saya jawab yang ini dulu, saya rasa bisa sanak
mengambilnya dan mengkaitkan dengan persoalan yang
sanak hadapi.
Mengenai kata statemen saya, saya rasa, saya bukan
hanya mengatakan mendengar, melihat. Saya rasa juga
saya ada mengatakan melalui diskusi.
Jadi,justru statemen dan data-data saya cukup lengkap.
dari mulai mendengar, kemudian melihat sendiri,
akhirnya saya mendiskusikannya baik secara lisan
ataupun tulisan, setelah itu saya menganalisanya dari
sisi ilmu agama yang saya pelajarilah, maka saya
berani mengeluarkan statement itu. Sebenarnya cukup
lengkap mendengar, melihat dan menganalisa via diskusi
lisan dan tulisan.
Oh yah, kenapa harus pakai sanksi kawin sesuku.
Padahal pada diskusi yang lalu dikatakan melarang
kawin sesuku, bukan mengharamkannya, tiba saya katakan
melarang, dibilang lagi bukan melarang, tetapi hanya
diberi sangsi. Sekarang saya tanya lagi, kenapa ada
sangsinya apa landasan sangsi tersebut, dan apa
landasan hukum syara'nya memberikan sangsi itu.
Bukankah ABSSBK?
Ok. Pertanyaan lain satu2 saya jawab.Di lain waktu, dr
habis tahajjud tadi, trus subuh, ini saja kerjaan
saya, saya mempersiapkan sarapan dulu. Ok.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
Manuruit ambo harta warisan itu tagantuang kesepakatan
anak-anak nan tingga, kalo amanait wajib dijalankan
karano alah jadi kesepakatan, di keluarga ambo warisan
indak dibagi-bagi kan ,harato paninggalan urang tuo di
jadikan Aset keluarga nan bisa di kambangkan, dan di
harapkan batambah banyak, kalo di bagi batambah ketek
jadinyo kan?. kami sapakait di jadi perusahan/koperasi
keluarga sajo, jiko salah satu saudara atau urang lain
yang mengelola Perkebunan, sawah dll dia adolah
penyewa ke Perusahaan keluarga tadi, Uangnyo disimpan
di Bank dan bisa jadi simpan pinjam kalo ado nan
mambutuhkan tarutamo untuak anak2 basikola nantinyo
dan juo bali Aset nan baru, dari tanah nan sakapiang
manjadi duo kapiang dan mudah-mudahan balanjuit
taruih. Ambo tanyo pado ahli agamo dan adait di
kampuang ambo katonyo indak masalah dan rancak katonyo
pulo..
Kakak ambo nan tuo kawin Sasuku samo-samo Jambak tapi
beda kabupaten, Wakatu urang tuo ambo bicara dengan
Panghulu adait atau Mamak soko, kato makmak soko tu
dia merestui perkawinan tersebut karano indak masalah
dengan agamo, tapi sebagai ninik mamak inyo indak bisa
datang, dia datang hanya sebagai undangan pribadi
sajo, untuak acara adat diwakilkannyo ka mamak rumah
sajo. dan dari pihak kami manarimo dan indak di
jadikan masalah.
Kalo di patatangkan susah jadinyo, dikatokan indak
baradait..pasti berang atau indak ba agamo pasti juo
berang.. jadi cari sajo selusinyo.
Wassalam
Yoel
=== message truncated ===
Lautan Sati Rantau Batuah
Sutan Palito Alam
33 th
kok ado nan salah , mohon maaf
salam
----- Original Message ----
From: uda yoel <uda...@yahoo.com>
To: Rant...@googlegroups.com
Sent: Friday, February 8, 2008 2:56:32 PM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Sia nan paling berkepentingan jo ABSSBK
Asssalamu'alaykum w.w.D.N. Sutan Marajo
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Sanak Rahima,
Batanyo ambo saketek ka sanak rahima satantang harato pusako, karano pangetahuan agamo ambo buliah dikecekkan indak ado,
- Dulu nenek moyang kito manaruko (manggarap harato ndak batuan) sacaro bakaum (indak suami istri sajo tapi ado beberapa keluarga) dan mereka ndak pernah mambagi harato itu secara hak milik doh, dan untuak generasi bariukuikno sapakaik haratotu di turunkan ka garis padusi, dan bagi nan manarimo yang dapek hak garap indak hak milik doh. Alasan diturunkan ka garis padusi, karano diminangkabau kalau laki2 babini, inyo masuak jadi keluarga di kaum padusi, jadi inyo bisa manggarap bagian dari bininyo yang dapek warisan hak garap taditu (bukan hak milik), dan hak garap iko tajadi taruih manaruih sampai beberapa generasi. Bahkan haratoko alah mulai ditaruko sabalun islam masuak. Nan jadi pertanyaan ambo ba'a kedudukan haratoko manaruik Islam ?
- Nan kaduo, samaso apak ambo hiduik, baliau lai sempat mambali rumah, satu katiko dalam duduak2 basamo seluruh keluarga, apak ambo ba umanaik ka ambo, "waang surang laki2 adiak waang 6 urang padusi sadonyo, dek kamampuan den ndak ado, rumah ketek nan tabuek nyo, dari kini den kecekkan ka waang, indak ado hak waang dirumahko doh" dan ambo wakatu itu satuju jo ikhlas. nan jadi pertanyaan ambo ba'a pulo kedudukan amanaik rang gaek amboko dalam Islam ?
Untuk mamak2 nan lain, mak bandaro labiah, mak Azmi, mak datuak endang, mohon pitunjuak juo, kiro2 nan ambo tulih diateh jo amanaik keluarga ambo bisa dijadikan ilustrasi untuak harato pusako tinggi, dan amanaik rang gaek amboko bisa jadi ilustrasi mambuek pusako tinggi baru!
Untuak nan lain2 masalah tabuik, kawin sasuku, baitu juo harato pusako, saran ambo ka sanak rahima, pelajari bana dulu adaiktu sacaro mandalam, sasudahtu buliah sanak mangecek itu ndak sasusai jo islam, jan manjadi fitnah beko karano ketidak tahuan awak.
Karano nan sanak tahu baru "KATANYA", "SAYA DENGAR" "DARI DISKUSI", tapi sudah di klain ndak sasuai jo islam.
Sebaiknya "SETELAH SAYA PELAJARI DARI BERBAGAI SUMBER" ternyata adat minangkabau bertengtangan dalam Islam, boleh lah mengklaim seperti ini.
Sapendek nan ambo tahu adat minangtu banyak tingkeknyo, Adaik nan sabana adaik, adaik nan diadaikkan dll.
Kok ado nan salah tolong ajai ambo.
Salam
Is St Marajo 39+
www.cimbuak.net
Kampuang nan jauah dimato dakek dijari
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Kelapa gading 8 Februari 2008Assalamualaikum w.w.Angku St. Maraja Nan ambo hormati, sarato dunsanak SapalantaSabananyo masalah harato pusako ko lah acok awak diskusikan di milis ko, dan pernah ambo jo Angku Saafroedin Bahar St.Majolelo berdiskusi
Untuk yang diatas dua ini, meskipun ia termasuk suatu
harta, tetapi bukan harta yang akan diberikan, hanya
menyekolahkannya memakai uang. Yang mamak berikan
secara langsung padanyakan bukan uang, tetapi biaya
untuk dia sekolah, yang mana akhirnya uang tersebut
diberikan ke sekolahnya.
>
>
>
> Kini ingin batanyo baa nan iko manuruik syara'? Apo
> batantangan jo syara'
> ndak ko? Apo harus ambo stop sabalun dilanjuikan,
> dan kudian buliah ndak
> dimaafkan janji urang nan alah manarimo bantuan tsb,
> sahinggo mereka indak
> usah mamanuahi janjino. Tolong yo, dek iko tamasuak
> harta publik sekelompok
> urang.
Mak, kalau berjanji memang harus ditepati."penuhilah
janji-janjimu, karena janji itu kelak akan
dipertanggungjawaabkan".
Tetapi bagi yang menerima janji, harus ingat, apakah
ia mampu selesai kliyahnya, Oklah kalau selesai
kuliyahnya, apakah ia mampu juga kelak bekerja dan
menunaikan janjinya tersebut untuk menyekolahkan orang
lain, berjumlah tiga orang lagi? hati-hati kalau
berjanji. Dan ini bukan termasuk harta publik Mak, dan
bukan harta warisan, tetapi merupakan Janji.
Silahkan kalau merasa dengan janji tersebut ia mampu
memenuhinya kelak, tapi bagaimana kalau tidak bisa?
> Salam
>
> Darul Makmur
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Rant...@googlegroups.com
> [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
> Behalf Of Darul M
> Sent: Thursday, February 07, 2008 11:25 PM
> To: Rant...@googlegroups.com
> Subject: [R@ntau-Net] Harta Publik ---------->Sia
> nan paling berkepentingan
> jo ABSSBK
>
>
>
>
>
> Assalamulaikum
>
>
>
> Ambo ingin batanyo supayo klirt dihatiko, sbb:
>
> 1. Apokoh indak ado harta public dalam Islam?
Hmmm..ada Mak. tetapi dilihat kondisi bagaimana cara
mendapatkan harta publik itu, maka disesuaikan dengan
kaedah hukum islam pula pembagiannya.
>
> 2. Apakah Islam melarang harta public sekelompok
> orang?
Tidak Mak, asal sesuai dengan kaedah hukum islam pula.
dan kaedah hukum islam ini tergantung pula bagaimana
cara mendapatkan harta publik tersebut.
>
> 3. Apakah ada perintah dalam Syara' untuk membagi
> habis harta public?
Islam ngak menyuruh menghabiskan harta apakah harta
publik atau milik person. Tetapi islam memberikan
harta untuk ummatnya agar dengan harta tersebut demi
kepentingan. kalau harta pribadi, tergantung dari
pribadi tersebut, apakah dipergunakannya untuk
kemaslahatan pribadinya, atau untuk umum. Sementara
harta publik, maka harus dipergunakan untuk
kepentingan umum. Dan semuanya juga mempunyai
kaedah-kaedah hukum dalam Islam.
>
>
>
> Menurut pandangan ambo nan singkekko, harta pusoko
> tinggi adolah harta
>
> publik kelompok suku dalam adat Minangkabau. Sebab
> penggunaannya adalah
>
> turun temurun digaris ibu. Dan harta ini adalah hak
> pakai, tidak boleh
>
> diperjualbelikan. Harta ini adalah harta titipan
> dari nenek moyang untuk
>
> menjaga harkat dan martabat kaum ibu yang adalah
> lemah kodratnya.
Ini dianya. darimana landasan berpijak Minangkabau
harta turun temurun itu jatuh hanya pada garis
keturunan Ibu saja, sementara azas warisan dalam islam
adalah keadilan berimbang. yakni garis Bapak dan
Ibu.kalau Arab jahiliyah dulu sebelum islam, memang
harta mereka jatuh pada kaum lelaki saja, yakni
keturunan Bapak saja.
Dan dalam Islam, harta warisan, harta publik
boleh-boleh saja dijual belikan. Mana landasan hukum
syara'pelarangan memperjualbelikannya dalam adat
Minangkabau? Dalam islam, harta yang ngak boleh dijual
belikan adalah harta waqaf. Bisa dijual harta waqaf
dengan syarat diganti yang sama atau lebih baik dari
itu. Contoh sikap sahabat Umar radhiallahu 'anhu
menggantikan letak tanah ketempat yang jauh lebih
bermanfaat lagi.
Untuk jawaban selanjutnya agar lebih memahami masalah
harta ini, silahkan mamak ikuti ulasan jawaban saya
pada point nomor-nomor selanjutnya.
>
>
>
> Wassalam
>
> Darul Makmur
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
> Assalamu Alaikum W. W.
> Sabananyo bundo diam2 sajo indak menanggapi
> tulisan nanda Rahima dek karano bundo tahu ado anak2
> bundo nan ahli nan kan manjawab sagalo permasalahan
> yang dianggap nanda Rahima berlawanan dengan ABSSBK.
> Tarimo kasih nanda Benny, Dewis, Azmi Dt. Bagindo,
> dll.nya. Bundo menunggu yang competent kecek rang
> kini. Bundo tak kan menjawab tergesa2 karena hal2
> sbb.
>
>tu.
> Bundo tak kan berdebat dengan nanda Rahima - she
> is the expert in her knowledge about hadist. Bundo
> merasakan tidak menyalahi agama dan biarkanlah
> perbedaan pendapat tsb. Kami adalah dua garis
> sejajar yang tak kan bertemu didunia ini pendapatnya
> mudah2an kita sama2 diberi berkah oleh Allah SWT.
> Mudah2an adat yang tidak sesuai dengan agama
> Islam tsb. berubah dengan alami oleh masyarakatnya.
> Sebab perubahan harus datang dari dalam bukan top
> down. Kalau kita sudah dibenci masyarakat nanti
> diberi kacang miang atau dibuek biriang.
Alhamdulillah, makasih bundo. saya juga ngak ingin
berdebat dengan Bundo. saya menyadari itu sekali. dan
saya dah merasakan sebelumnya Bundo ngak akan
menjawabnya, dan saya yakin yang akan menjawabnya
adalah yang lebih mengerti. Bukan berarti bundo ngak
mengerti, tetapi bundo faham apa yang akan dilakukan.
saya juga ngak mau menghabiskan waktu bundo,
dihari-hari senja memang hendaknya diberi ketenangan,
jangan direpotkan lagi oleh kami yang muda-muda ini.
Tetapi bagi kami yang muda-muda ini, biarkanlah kami
berdiskusi, mencari ilmu dan mencari jati diri kami
sendiri, karena lama kelamaan kami kelak juga akan
menjadi seperti bundo juga, akan berumur juga,
InsyaAllah kalau dipanjangkan umur kami.
Saya hanya mencoba menanggapi kata-kata bundo kemaren,
merasa tidak ada adat Minang yang menyalahi agama.
namun alhamdulilah sekarang bundo merubah kata
tersebut dengan kata;"Bundo merasakan tidak menyalahi
agama".
Kalau kata-kata itu awalnya bundo katakan, pasti saya
ngak akan menanggapi postingan bundo kemaren, karena
itu masalah pribadi bundo, saya ngak akan ikut
campur.Tetapi karena kemaren kata-katanya adat Minang,
tentu umum, makanya saya tanggapi.
Saya juga mohon maaf, dan saya bukan ahli hadits
bundo, karena ilmu saya yang diberikan Allah sangat
sedikit, hanya saja rasa tanggungjawab pada Allah dan
agama yang kita cintai ini membuat saya menyampaikan
apa yang terasa janggal dan menyalahi agama, juga
hakikatnya rasa cinta saya pada tanah kelahiran ibu
saya sendiri.
Rasa sayang itukan ngak harus dipuja-puji, dibanggakan
terus, tetapi diberitahu juga mana salah, mana benar
menurut Islam.Apakah dengan mengkritik adat Minang
ini, lantas saya dikatakan membencinya. Salah sekali,
justru kecintaan saya yang cukup tinggi pada Minang,
makanya saya berani menyatakan kebenaran, walaupun
harus dihujat sana-sini.
Betapa Imam Ahmad dipenjara pemerintah saat itu,
karena tegasnya beliau mengatakan AlQuran bukan
makhluk, tetapi kalamullah, betapa para Nabi, rasul,
sahabat ulama mengalaami tekanan dari kaumnya akibat
menyampaikan sesuatu yang dianggap aneh bagi kaumnya,
karena kaum tersebut merasa hal tersebut dah menjadi
darah daging, dah menjadi adat mereka sejak dahulu
kala? Lantas kalau ditanya mana yang lebih kamu
cintai, adat Minangkah atau islam. Kedua-duanya saya
cintai sepanjang keduanya tak bertentangan, tetapi
kalau keduanya saling bertentangan, maka Islam lebih
saya cintai.Itu saja.
Saya mohon maaf, kalau ada kata-kata saya yang
menyinggung hati bundo atau terkasar.
Wassalamu'alaikum. Rahima
> Sekian mohon maaf
> Wassalam bundo,
> Hayatun Nismah Rumzy
>
> <azmi_libr...@yahoo.co.id> wrote:
>
> Kelapa gading 8 Februari 2008
> Assalamualaikum w.w.
> Angku St. Maraja Nan ambo hormati, sarato dunsanak
> Sapalanta
> Sabananyo masalah harato pusako ko lah acok awak
> diskusikan di milis ko, dan pernah ambo jo Angku
> Saafroedin Bahar St.Majolelo berdiskusi
>
>
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile. Try it now.
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
Itu sebabnya pada kalimat saya memakai kata "Apa
Mungkin", karena tidak pasti bagi saya, saya hanya
menduga kemungkinan harta pusaka tinggi asal muasalnya
semacam kisah kedua?
> nan pertamo harato nan didapek hasil manaruko
> sekelompok urang (Di
> minangkabau biasonyo sakaum) dan mereka tu ndak
> pernah mambagi sabagai hak
> milik, hanyo mambagi sabagai hak menggarap. dan iko
> taruih balanjuik dari
> generasi ka generasi. Bahkan mulainyo haratoko
> didapek sabalun islam
> masuak ka minangkabau. Iko nan dimukasuik mak darul
> harato publik atau
> dikampuang awak labiah dikenal pusako tinggi.
> Manuruik ambo sacaro pribadi
> pusako tinggi ndak samo jo warisan. Pusako tinggi
> harato publik.
Hmmm...kalau dikatakan pusaka tinggi, harta publik,
kenapa ada pembagiannya setelah yang menggarap itu
wafat. Padahal dalam Islam, setiap harta yang
dijatuhkan oleh generasi selanjutnya dengan pembagian,
itu dikatakan warisan.Dan kenapa kalau itu bukan harta
warisan, tetapi dalam pembagiannya diatur dalam adat,
dan kenapa harus jatuh pada garis keturunan padusi?
darimana landasan hukum Syara'nya(bukankah
ABSSBK).Kalaulah karena tidak ABSSBK ini, saya tidak
akan mempertanyakan landasan hukum syara'ini.Karena
saya tidak menemukan ada harta, apa saja, harta
warisan kek, harta publik kek, harta apa saja.Kalau
hanya menurutkan pendapat dari seorang ulama, atau
beberapa ulama, sayapun harus melihat landasan hukum
syara' dari ulama tersebut apa? Sebagaimana yang
pernah saya postingkan, kita dilarang untuk taqlid
buta.
Apakah ini hanya karena masalah keduaniawiyaan?
Tidak...kalau hanya masalah keduniawiyaan, kenapa
Allah menurunkan ayat-ayat mengenai warisan, ayat-ayat
mengenai harta.Begitupun hadits-hadist rasulullah.
Justru masalah harta ini sangat penting, sampai-sampai
kita ditanya kelak, darimana, kemana harta yang kita
dapatkan itu? itu pertanda, ini bukan masalah dunia
saja, tetapi menyangkut kehidupan akhirat kelaknya.
Karena adatnya matrilineal? Kalau adat Matrilineal
yang katanya berlandaskan ABSSBK boleh-boleh saja,
asal jangan sampai hukumnya bertentangan dengan hukum
Islam, karena slogan kita memakai kata Syara'
Kitabullah, maka haruslah sesuai dengan Kitabullah.
Karena hukum Islam, sistem pembagian hartanya adalah
berazaskan keadilan berimbang. Kaum garis keturunan
Bapak dan kaum garis keturunan kaum Ibu, apakah itu
sebagai hak milik, ataupun hak pakai(garap)
Ba'a mako
> padusi nan dapek pusako tinggi? karano adaik awak
> matrilinial, nan laki2
> kalau babini, inyo akan bagabuang di kaum padusi
> sabagai urang sumando.
> Untuak biaya hiduik keluarganyo dek mamak2 nan
> padusi di agiah hak garap
> tanah. Katiko keluargako alah mampunyoi keturunan
> pulo dan indak ado nan
> padusi dan keluargako alah maningga, hak garap nyo
> hilang, tanah nan
> dipakai dibaliakkan ka kaum.
> Iko pertanyaan pertamo ambo, ba'a kedudukan tanahko
> dalam Islam? sanada jo
> pertanyaan mak darul indak buliah di Islam punyo
> harato publik?
Saya dah jawab pada pertanyaan Mak Darul mengenai
kedudukan harta publik Siapa bilang ngak boleh dalam
islam, punya harta publik. Toh haditsnya saja ada"Air
Tanah, Udara/Gas, merupakan harta publik. Tetapi harus
dipakai untuk kepentingan publik, bukan person, dan
boleh saja dijual, tetapi syarat untuk kepentingan
publik juga, bukan perorangan. dan untuk menetukan
bagian mana dari harta publik ini, ditinjau dari sisi
bagaimana kondisi mendapatkan harta tersebut, karena
setiap kondisi punya hukum tersendiri.
Dalam Islam, ada harta yang didapat secara
syarikat(perkongsian), ada yang didapat harta itu
secara luqthah(dapatan saja, ngak jelas, siapa
pemiliknya), ada harta yang didapat secara
"iyaarah(pinjaman), ada juga harta yang didapat secara
AlWadii'ah(peninggalan). Mana diantara harta diatas
bagian dari harta pusaka tinggi didalam adat
Minangkabau?.
Apakah Allah dan rasulNya tidak meninggalkan solusi
dari macam-macam kondisi harta diatas? Rasanya jelas
ngak mungkin, karena Allah ta'ala sendiri
berfirman:"Hari ini telah aku sempurnakan bagi kamu
agama kamu...". Apakah kita harus membuat hukum baru
selain hukum yang telah di buat oleh Allah dan
rasulNya?.
Kalau kita berpatokan pada kaedah ushul Fiqh,:" Al
'Aadah, Al Hukmu"(Kebiasaan, atau adat istiadat itu
menjadi suatu hukum), perlu diketahui, bahwa kaedah
ushul Fiqh dalam Islam hanyalah sebagai alat pembantu
saja. Dan akan dipakai kalau ia memang diperlukan
sebab tidak ada alat utamanya.
Contoh, alat bantu telinga bagi orang yang sakit
telinga. Ia akan memakai alat bantu tersebut, disaat
beliau memerlukannya, dan ngak setiap saat ada
ditelinganya, ngak disaat tidur atau mandi.
Untuk diketahui, kaedah diatas timbul karena
permasalahan haid. Ketika itu Siti 'Aisyah ditanya,
akan haid seseorang perempuan yang biasanya dia
haidnya seminggu, ngak taunya kali ini lain, haidnya
sampai 10 hari. Bagaimana dengan hukum shalatnya.
Ibunda Siti 'Aisyah menjawab, silahkan kamu shalat,
batas haid perempuan itu sesuai dengan kebiasaannya
yaitu seminggu.
Kalau saja kaedah ushul Fiqh itu dipakai sesuka hati,
asal ada hukum pakai itu, yah ngak tepatlah. Kaedah
itu dipakai kalau jelas ngak ada hukumnya dalam
AlQuran atau hadits, atau Ijma'(ijma'pun tetap pakai
dalil, ngak sembarang Ijma' saja). Kalau kaedah itu
dipakai, bisa-bisa saja orang berdalih karena
kebiasaannya adalah merayakan hari kematian Husain,
maka adat atau kebiasaan itu dijadikan hukum, bukankah
kaedah "Al 'aadah al hukm", tetapi apakah sesuai
dengan ajaran islam, atau apakah tidak ada hukum Islam
dalam hal ini?
Atau kaedah ushul Fiqh:" Darurat itu membolehkan yang
dilarang", karena darurat ngak bisa nahan nafsu saat
melihat perempuan...maka terpaksalah memperkosanya,
atau nikah Mut'ah. Atau karena darurat harus bantu
ibu, terpaksa mencuri.Padahal kaedah ushul fiqh itu
dipakai kalau daruratnya sampai taruhannya mati orang
tersebut.
Atau kaedah ushul Fiqh"Maalaayatimmulwaajib illa bihi
fahuwa waajibun"(Apa-apa yang tidak mungkin
sempurnanya kewajiban selain memakai itu, maka alat
itupun dipakai), Apakah harus dengan memakai hukum
harta pusaka tinggi jatuh ketangan garis keturunan
padusi saja, maka kewajiban makan sanak kemenakan ngak
bisa dicapai? Apa mati kemenakan kalau ngak harus
makan harta pusaka tinggi dari garis keturunan ibu?
Bukankah masih ada dalam Islam pembagian harta dengan
cara Hibah, Wasiat, yang sesuai dengan ketentuan
Islam.Kalau kaedah diatas dipakai untuk orang yang
menuntut ilmu wajib, sementara ia harus pakai kaca
mata, kalau ngak pakai kaca mata, maka ia ngak bisa
baca, maka pakai kaca mata, wajiblah baginya. itupun
ia pakai kaca mata sebagai alat bantu, tidak sedang
lagi tidur, mandi, atau berlari2 kencang.
Nantik akan menyusul tulisan saya mengenai harta
warisan dalam Islam, juga tulisan saya saat seminar
kemaren, kalau memang diperlukan, kalau tidak, yah
ngak usah.
Untuk pertanyaan dibawah yang lainnya, saya kira dah
terjawab dunsanak nan lain.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
=== message truncated ===
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
| azmi abu kasim azmi abu
kasim <azmi_libr...@yahoo.co.id>
|
| Sent by: Rant...@googlegroups.com
08/02/2008 16:02
|
|
Sayangnya, kalau ada perselisaihan soal harato ko, pihak-pihak nan
berkepentingan, dengan semangat tamak, biasonyo suko bakariah
mariah, "itu harato apak den, itu pusako mamak den".
Kalau kaduo macam harato tu lah dibari beda dan bateh nan jaleh,
persoalannyo indak rumit doh. "Harta Pencaharian" disalasaikan jo
Hukum Islam sadangkan "Harato Pusako" diatur disalasaikan manuruik
Hukum Adat Minang Kabau. Di sinanlah Adat jo Syarak bergandingan.
Karauah nan bisa dijaniehkan,
kusuik nan bisa disalasaikan.
Salam,
MakNgah
-- Sjamsit Sjarif
| Wassalamualaiukum w.w. Sanak Bagindo Chaniago, Terima kasih atas apresiasi Sanak, Saya mencermati perkembangan wacana di RN akhir-akhir ini sekitar harato pusako ini, dan sama sekali tidak ingin terlibat. Yang menjadi perhatian saya sekarang adalah bagaimana merumuskan format penyelesaian 'konflik ideologis Minangkabau' ini secara lugas dan jernih dan bisa kita laksanakan bersama. Itu yang saya sebut sebagai 'Kompilasi Hukum ABS SBK'. Seiring dengan itu saya sungguh terheran-heran terhadap arah yang ingin kita tuju sebagai suatu suku bangsa. Pada saat suku-suku bangsa lain bergulat dengan perencanaan membangun masa depan yang lebih baik, eh kita sibuk bertengkar tentang cara membagi harta pusaka yang sudah ada, yang jumlahnya kelihatannya makin lama makin menciut akibat digadaikan atau dijual, pada hal jumlah anak kamanakan semakin kembang jua.[Sekedar catatan, membangun semacam 'harta pusaka baru' itulah yang diajarkan oleh adat Batak kepada warganya, dengan ajaran tentang 'sahala harajoan']. Maaf, saya tidak melihat seorang pun di antara pegiat RN -- termasuk para pemangku adat -- yang mengusulkan agar kita membangun 'harta pusaka tinggi' yang baru untuk anak cucu di masa datang. Membagi yang sudah ada, itulah yang jadi pusat seluruh perhatian. Rasanya kita-kita ini cenderung sangat konservatif, bahkan sangat reaksioner. Mudah-mudahan saya salah. Wassalam, Saafroedin Bahar --- On Fri, 2/8/08, bagindochaniago <myamin...@gmail.com> wrote: |
Untuk memahami apa ABS SBK sesungguhnya tidaklah sulit karena seperti
yang saya katakan ketika berdiskusi dengan Uni Rahima, ABS SBK
hanyalah slogan yang diletakkan ke jidat urang MInang bahwa segala
adat dan tradisi ornag MInang akan bersumber ke Alquran. Tentu saja
dalam praktiknya kembali berpulang ke diri masing2 individu yang
dinamakan orang MInang tersebut. Apakah akan melaksanakan consensus
tersebut atau tidak. Tidak ubahnya dengan umat Islam di aceh, jawa
barat hingga papua.
Jadi kalau ditanya siapakah yang paling berkepentingan ? ya jawaban
sejujurnya individu MInang itu sendiri. Meskipun kita tidak menutup
mata ada kepentingan pribadi dan kelompok tertentu yang
mempermasalahkan ataupun mengagumi jargon tersebut (dalam pilkada
jargon ini selalu jadi bahan kampanye, coba perhatikan)
Yang harus kita hindari adalah membahas sesuatu yang kita sendiri
sebetulnya belum mengusai secara lengkap apakah itu adat MInang dan
bagaimana Islam menyikapinya, apakah disuruh, dilarang, dibolehkan
atau malah membutuhkan ijtihad?.
Sedikit koreksi Nal, maaf kalau salah, ABS-SBK ini tidak sama dengan
kembali ke khittohnya NU. Bertolak belakang malah. NU terbentuk
karena kekhawatiran kalangan nadhliyin terhadap sepak terjang
muhammadiyah yang membid'ah kan segala tradisi nahdliyin. Sehingga
dibentuklah organisasi tersebut untuk mengcounter ajaran Muhamadiyah
yang menganjurkan kembali ke Al Quran dan Hadist. "core" dari
nadhliyin ini sendiri menyeimbangkan antara tradisi dengan agama.
Dalam konteks ABS SBK kurang lebih sama dengan Muhammadiyah yang
menarik kembali individu MInang dari adat yang jahiliyah kedalam
ajaran Islam yang bersumber dari Kitabullah.
Mengenai kodifikasi Al Quran dijaman Utsmani saya kira juga tidak
relevan dengan kompilasi ABS-SBK itu. Dijaman Utsmani Firman Tuhan
memang terserak-serak diatas daun, batu atau apapun media yang ada
saat itu sehingga langkah kodifikasi mushaf itu adalah langkah
brilian dan perlu untuk saat itu.
Dalam konteks umat beragama di MInangkabau sekarang apalagi yang
harus di kodifikasikan ? kalau sumber hokum Islam sudah ada Al Quran
dan hadist. Kalau sumber hokum adat sudah ada Kerapatan Adat Nagari
yang akan menyelesaikan masalah. Kalau ingin membuat aturan Islam
sendiri khusus MInang saya khawatir akan muncul pula nanti Hukum
Islam Minang yang hanya ada di Minang (atau malah Islam Minang?).
Mengenai ajaran adat atau budaya yang menyimpang seperti tahlilan,
tabuik dan semacamnya itu sudah terjadi perlawanan didalam masyarakat
sendiri terutama yang dilakukan Muhammadiyah dan organisasi lainnya.
Jadi belum cukup alasanlah buat saya untuk mengkodifikasikan hokum
Islam ala minang itu sekarang. Ga tau nanti..
Sekian dulu maaf kalau ada salah, saya menulis tergesa2 sembari
menunggu istri belanja di T. Abang
Ben
--- In Rant...@yahoogroups.com, Ronal Chandra <ronal_chandra@...>
wrote:
----- Original Message -----From: Ronal ChandraSent: Saturday, February 09, 2008 12:32 PMSubject: [R@ntau-Net] Re: Sia nan paling berkepentingan jo ABSSBK
| Assalamualaikum w.w. Sanak Tasril Moeis dan Nanda Ronal, Tak ada yang perlu saya tambahkan dari pendapat Sanak dan Nanda ini. Masalahnya: ayo kita tuliskan apa yang belum tertulis, kita luruskan apa yang belum lurus, kita amalkan apa yang sudah lurus. Itu saja. Mengapa ? Urang Minang alah kambang biak, paralu diagiah pegangan nan jaleh. Disuruah mandalami adat jo agamo tantu rancak, tapi kan indak tiok urang ado wakatu dan ado minat khusus untuak itu. Kini zamannyo untuak bapikia sacaro 'user friendly', untuak mamudahkan nan ka mamakai. Wassalam, Saafroedin Bahar --- On Sat, 2/9/08, Tasril Moeis <tasri...@banuacitra.com> wrote: |
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pak Datuak Endang, Pak Saaf dan dunsanak sapalanta,
Mengikuti diskusi tantang ABSSBK nan indak bisa salasai2 dan kadang2 sangat
panas, timbua pertanyaan: sia nan paling berkepentingan jo penerapan ABSSBK
ko.
Apo kaum adat, kaum ulama atau rakyat badarai.
Dan kalau sampai indak ado kasapakatan apo kiro2 nan katajadi. Salah satu
kemungkinan jo kasadaran ba agamo makin tinggi di masyarakat apo ndak
mungkin adaik ko makin di jauahi.
Wassalam
Tan Ameh (49+3+13)
Saya tidak tahu harus panggil apa dengan sanak
Bagindo.
Alhamdulillah, cukup bisa mengerti akan persoalan dan
mengerti apa yang saya maksudkan.
Maaf saya jawab secara keseluruhan, karena dua hari
ini saya sangat sibu sekali pelatihan-pelatihan.
Sebelumnya datang penyanyi remaja Gita Gutawa ke
Cairo, dan Indonesia mendapatkan penyanyi terbaik
INTERNASIONAL diseluruh peserta yang hadir, dan saya
diberi tugas untuk mewawancarainya, tetapi ngak bisa
banyak waktu, tetapi acara dengannya cukup lama.
Keesokan harinya, seharian saya ada pelatihan dengan
novelis The Best Seller, "Ayat-ayat Cinta"
Habiburrahman, keesokan harinya malam pertemuan dengan
beliau lagi di Mesjid Indonesia CAIRO, saya juga
diberi tugas mewawancarai beliau,selasanya saya
mengisi perenungan di pengajian Ibu2.Jadi benar-benar
sibuk, begitupun saya sempatkan untuk internet malam
harinya dirumah.
Untuk sanak Dewis, Saya bacakan hadits Rasulullah: "
Sesungguhnya segala amalan itu dimulai dari niat",
jadi terserah sanak apa niat untuk berdiskusi, karena
Allah membalasi sesuai pula dengan niat kita itu. Mo
saya dikatakan tidak tau adaik Minang, itu terserah
penilaian, saya hanya sekali lagi melihat, mendengar,
dan meneliti apa yang saya lihat itu, dan
alhamdulilllah saya menyampaikannya dengan memberikan
dalil-dalil yang jelas dalam AlQuran, bahwa saya
berani mengatakan harta pusaka tinggi itu, yang
pembagiannya hanya pada garis keturunan ibu, tidak
berlandaskan syariat, setiap saya bertanya mana
dalilnya ngak ada satupun yang menjawabnya.Padahal
saya berargumen dengan memakai dalil AlQuran dan
hadits terhadap statement saya pada harta pusaka
tinggi.
Jadi, saya ngak peduli, karena toh..rasulullah juga
ketika menyampaikan kesalahan tentang pembagian
warisan zaman jahiliyyah dulu hanya jatuh pada kaum
lelaki, sangat dikecam oleh orang Arab, macam-macam
yang diterima rasulullah, jadi bagi saya itu biasa
saja.Apakah adaik pusaka tinggi yang jatuh pada garis
keturunan Ibu itu benar sesuai dengan islam? silahkan
dijawab saja. Jawaban hanya dua, kalau tidak benar,
yah salah.Dalam Islam, kalau tidak halal, yah haram,
diantara keduanya yah syubhat.
Untuk dik Ronal, terimakasih, sejujurnya Uni ngak ada
menyinggung Hamka sama sekali, ada ngak tulisan saya
menyinggung Hamka? Kalau boleh sejujurnya saya
menyampaikan, dasar postingan saya kemaren adalah
bahwa ada sebuah Hadits rasulullah bersabda kira-kira
begini bunyinya, nantik saya lihat ada di riwayat
siapa:" Tetaplah kamu dalam kebenaran, meskipun
orang-orang banyak telah ijmak, atau sepakat dalam
kesalahan itu, karena kebenaran tidak dinilai dari
jumlah yang banyak"Dan juga hadits rasulullah:" Kelak
akan datang pada kaumku, dimana orang-orang akan
merasa asing dengan yang benar itu".
Dan saya selalu yakin dengan hadits rasulullah yang
lainnya lagi yang benar adalah yang berpegang pada
AlQuran dan Assunnah rasulullah juga yang berada di
atas jalan itu, Rasulullah dan salafusshalih. Jadi
patokan saya adalah yang diatas itu dalam ABSSBK, ngak
lebih dari itu.
--- bagindochaniago <myamin...@gmail.com> wrote:
>
>
> Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
> Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-ingginya
> kepada bapak Dr.
> Saafroedin BAHAR dan Sdri. Rahima yang peduli akan
> ABS SBK untuk
> menjadi jati diri Minangkabau yang sebenarnya.
> Nampak jelas bahwasanya ABS SBK yang diharapkan
> adalah Adat yang
> bersumberkan/berhubungan dengan Syarak dan Syarak
> yang bersumberkan /
> berhubungan dengan Kitabullah, dengan demikian Adat
> adalah tradisi
> dari penetrapan yang sesuai dengan Syariat Islam
> (Al-Quran dan
> Hadist).
Sanak bagindo, iyah ini yang saya harapkan.
> Adat yang bertentangan dengan Syariat Islam, tidak
> dapat dipaksakan
> atau dipakai untuk menjadi tradisi bagi seorang
> muslim, karena ini
> mempunyai sifat mendua atau mensekutukan terhadap
> Syariat Islam,
> artinya kita tidak dapat mencampurkan antara air dan
> minyak tanah
> dalam satu benjana. Adat yang bertentangan dengan
> Syariat Islam ini
> jelas tidak berhukumkan kepadanya melain berhukumkan
> diluar itu atau
> sebelum Islam masuk ke Minangkabau.
Benar, saya setuju ini.
> Bila kita tinjau dari lintasan sejarah Minangkabau,
> ABS SBK
> dihasilkan dari perjanjian dibukit marapalam antara
> kaum Adat dan Kaum
> Paderi, konon ketika itu kaum Adat telah beragama
> Islam aliran Syiah,
> sedangkan kaum Paderi kelompok Wahabi yang Islam
> beraliran Sunni, yang
> dibawakan Haji Miskin, Haji A.Rachman Piobang,
> Tuanku Lintau dan
> terakhir dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.
> Perihal harta pusaka tinggi, memang tidak
> disinggung atau ingin
> merombak pada waktu itu karena setelah itu kaum
> Paderi mengalami
> kekalahan dan kucar kacir, sehingga apa yang
> diharapakan untuk
> pemurniaan dan pelurusan islam di Minangkabau belum
> tercapai,
Mungkin, saya kira juga begitu.
akan
> tetapi hal ini kita tidak usah ada keterkantungan
> terhadapnya, karena
> kita masih ada putra/putri Minang yang peduli akan
> hal itu, demi
> penyempurnaan dan pelurusan "Adat Basandi Syarak,
> Syarak Basandi
> Kitabullah".
InsyaALLAH, Mudah-mudahan Allah menolong. janji Allah:
"Jika kamu menolong agama Allah, Allah akan menolong
kamu".
> Perlindungan dan pertahanan terhadap pusako tinggi
> hingga saat ini
> cukup alot karena ini merupakan periuk nasi untuk
> kelangsungan hidup
> atau buat nambah-nambah pemasukan bagi yang punya,
> walaupun secara
> jujur dengan hati nurani yang paling dalam
> mengatakan bahwa ini tidak
> sesuai dengan syariat Islam.
Iyah, kata-kata untuk sementara ini yang perlu, karena
ini berkaitan dengan masalah umum, bukan pribadi,
kalau pribadi, merubah kesalahan itu haruslah segera,
dan sering saya lihat, saya dengar juga, kalau secara
pribadi sebahagian orang Minang sering melontarkan
kata-kata kalau sudah masalah harta pusaka tinggi
ini:" wah...saya ngak begitu, saya mempergunakan harta
yang sudah dibagi-bagi secara islam, dllnya", secara
pribadi, bertaubat dengan segera sebelum datang maut
menyapa ini jauh lebih baik, lain dengan masalah umum,
ngak bisa langsung masak ayam gorengnya, harus
diungkap dulu, dibumbui dulu. dan ini bisa dimengerti.
PENGAKUAN ini yang penting bagi saya sebenarnya. Kita
mengakui dari hati nurani yang terdalam, kalau itu
ngak sesuai dengan Islam. Karena kalau kita sudah
mengakui, akan mudah merobahnya, walaupun lambat laun,
seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya lama
kelamaan akan hilang juga, yang sulit adalah Tidak mau
mengakuinya. Repot sekali kalau ini.
> Saya setuju apa yang dituliskan bapak Azmi
> Dt.Bagindo tentang
> beberapa manfaatnya; pertama sebagai wadah untuk
> berkumpul atau
> bersatu seluruh keluarga nan saparuik. Nan kaduo
> sebagai bukti hak
> asal usul nan bapandam bapa kuburan basasok
> bajarami. Nan katigo
> sebagai harta cadangan jika ada dunsanak kamanakan
> kita nan barada di
> rantau, kehidupan agak susah atau laki mati, hiduik
> marando kamalah
> badan ka bagantung, inyo ado tampek babaliak, yaitu
> harato pusako
> tinggi. Baliaklah ka kampung dan tinggalah di rumah
> gadang dan ambiak
> hasil harato pusako tu. Namun, kalaulah tabuka pulo
> kesempatan baik
> pai pulolah marantau.
Iyah, saya juga bisa mengerti manfaat yang disampaikan
pak Azmi, itu sebabnya saya ngak menanggapinya, karena
sejujurnya saya juga pakai pikiran dalam penyelesaian
masalah ini, hanya saja, yang benar itu harus saya
sampaikan, saya tak pandai menyembunyikan kebenaran
yang saya ketahui itu, dan ngak bisa secara sindiran,
tetapi benar-benar jelas, karena masalah harta ini
sangat penting tanggung jawab diakhirat sana, sekali
lagi Allah yang telah berfirman :
Hanya Allah yang mengatur permasalahan harta didunia
ini dengan harta-harta yang ditinggalkan oleh ayah
ibu, karib kerabat, karib kerabat baik pihak ibu atau
ayah, suami istri, harta pribadi, umum, perkongsian,
kaum, semua ada aturannya dalam islam, siapa bilang
tidak ada, ADA, hanya kita yang tidak mau mencarinya,
menelitinya secara mendalam, harta yang diwasiatkan
dari satu kaum kepada kaumpun ada ketentuannya dalam
ISLAM, apakah itu harta pribadi, kaum.
Saya juga tidak meminta "harus saat ini juga MINANG
ber Islam sesuai dengan ABSSBK", makanya juga pada Pak
saaf, saya sampaikan, saya cukup mengerti maksud pak
saaf.Karena masalah ini sudah ratusan tahun
berlangsung, makanya sangat sulit merobahnya, tapi
saya percaya, dengan melihat sendiri, kenyataan dari
tahun ketahun bagaimana yang terjadi di Minang ini,
adat istiadatnya banyak yang mulai berubah, dari suka
berjudi, minum, dari yang dulu suami bagai abu diatas
tungku, tanggungjawab ayah lebih dipegang oleh mamak,
mamak bertanggung jawab pada kemenakan,(ini pengakuan
suami, Da Sutan Sinaro, dan banyak orang Minang itu
sendiri)kini dah mulai ngak semacam itu lagi, juga
kawin sesuku, mulai berangsur-angsur, dan lainnya.
perlu
> juga kita kaji
> mudaratnya, saya tulis bawah ini bebearapa hal yang
> hanya saya
> ketahui;
> 1. Pusako tinggi merupakan warisan turun temurun dan
> pengusaanya bisa
> satu orang atau cara bergiliran tergantung
> musyawarah dan mufakat
> dalam satu generasi setingkat mamak, dan generasi
> selanjutnya
> setingkat kemenakan menunggu hingga sampai wafatnya
> dari generasi
> setingkat mamak. Peralihan ini perlu waktu panjang
> antara 60 s/d 90
> tahun, kalau dikaitkan dengan pembangunan dan
> kemajuan zaman maka
> tidak dapat mengikuti dari perubahan zaman, cendrung
> lamban.
>
> Selama proses penantian giliran diantara mereka ada
> yang sakit hati
> karena kurang bijaksana dalam pengelolaannya.
Bukan sekedar itu, seperti yang saya katakan inyiak
Aki saya. beliau dikarenakan ngak punya anak
perempuan, anaknya semua lelaki, maka keturunan,
maksudnya anak lelakinya ngak mungkin lagi bisa
mewarisi harta pusaka tersebut, ngak bisa lagi
memakainya, menggarapnya yang mana harta itu dulunya
adalah harta ibunya, yang ibunya dari ibunya lagi, dan
seterusnya, maka dipakailah cara satu-satunya, yaitu
Menggadainya. Karena apa, karena harta itu ngak bisa
dijualnya, bukan miliknya, tetapi milik kaumnya.
beliau hanya bisa menggarapnya, dan yang hanya bisa
menggarapnya pula hanyalah anaknya perempuan, kalau
ngak ada anak perempuan, maka habislah hak garapnya
tersebut.(Hal semacam ini sebenarnya saya katakan
sudah salah dari awalnya ditinjau dari sisi Islam,
kenapa? saya dah menjelaskan hal ini pada diskusi2
yang lalu)
Untuk diketahui, ketika dikatakan harta pusaka tinggi
merupakan harta kaum yang merupakan amanah, atau yang
sudah diwasiatkan oleh nenek moyang sejak dulunya
sejak puluhan tahun, bahwa harta ini harus jatuh pada
garis keturunan perempuan. Wasiat ini sebenarnya sudah
batal, tatkala yang menerima wasiat sudah meninggal
dunia(meskipun banyak orangnya, tetapi yang hidup saat
itu, walau jumlahnya banyak, tetap meninggal jugakan,
nah kalau sudah meninggal, batal wasiat pertama,
sampai ada wasiat, yang harus diucapkan juga secara
jelas, siapa orangnya, siapa kaumnya(ingat, jumlah
orang yang diwasiatkan dalam ketentuan Islam bila
bentuk kaum pun memiliki hitungan batas angka).
Kemudian, jujur saya katakan, kalau saja yang
berwasiat itu dulunya, apakah satu orang, atau bentuk
kaum, bila itu bukan hak orang tersebut, bukan milik
kaum tersebut, tetapi mereka hanya hak pakai saja,
yakni meminjam, pada hakikatnya kalau itu bukan milik
mereka, wasiat tidak sah dalam islam. JADI BATAL HUKUM
ORANG YANG MENGATAKAN TANAH PUSAKA TINGGI ADALAH TANAH
AMANAH, tidak sah mewasiatkan barang yang bukan milik
kita, bukan milik kaum tersebut? jadi ada berapa
kesalahan yang terjadi pada harta pusaka tinggi
MINANG?
Pertama: Ketentuan yang mengatakan harta jatuh pada
garis keturunan perempuan saja, dimana ketentuan ini
jelas salah dalam Islam, kemudian, kedua Dalam hal
pemberian amanah, atau wasiat harta tersebut, karena
tak ada wasiat kalau bukan milik pribadi atau kaum,
apakah itu wasiat memiliki, ataupun wasiat bentuk lain
semacam memakai, menggarap dllnya. Batal
hukumnya.Keterangan semacam ini, bisa dibaca dalam
buku Fiqh atas empat madzhab, bab wasiat, disana
dijelaskan macam-macam harta dalam Islam WASIAT<
HIBAH< Pinjaman, wakaf, peninggalan dllnya.
> 2. Ada alasan orang minang merantau karena tidak
> memperoleh giliran
> atas pusako tinggi sebagai jaminan kelangsungan
> hidupnya dikampung
> 3. Banyak pusako tinggi yang berakhir dengan status
> Quo, atau tergadai
> yang dikarenakan punahnya dari generasi itu atau
> ditinggalkanya begitu
> saja karena tidak ada yang menebusnya..
Saya rasa, ini akibat, dari awalnya harta pusaka
tinggi, tidak dibagi secara islam, juga memang sudah
salah mengamanahkannya, ngak ada amanah, kalau bukan
hak milik, dan amanah,batal setelah yang diamanahkan
itu meninggal,
Kemudian, penyebabnya juga adalah, terkadang seperti
contoh kasus, seorang ayah meninggal dan anak-anak,
merasa segan untuk membagi-bagi harta ayahnya, hal ini
ada perasaan malu, seakan-akan tamak akan harta,
padahal Islam menganjurkan agar setiap muslim
menyegerakan pembagian harta bila sang mayat telah
meninggal, betapa islam sangat telitinya dalam
berbagai hal, sampai-sampai meninjau sangat jauh, yang
mana kita tak memikirkan mudharat kepada keturunan
yang lebih jauh, (BENAR apa yang disampaikan dik Fazar
kemaren)lihatlah, apakah harta pusaka tinggi dapat
menyelesaikan masalah selama ini, yang saya lihat lagi
kenyataannya betapa banyaknya di Minang itu orang
berantam gara-gara harta ini, baik itu harta pusaka
tinggi, ataupun pusaka rendah, malah yang sering saya
lihat berantam adalah harta yang ditinggalkan secara
jalan semacam ini, bukan harta pusaka yang
ditinggalkan oleh pencaharian sang ayah.
Dan menurut penilaian saya akibat dari semua ini, maka
pembangunan diSumbarpun jauh ketinggalan dari daerah
lain. yah..malaslah orang membangun pabrik, membagun
investasi, karena banyak sekali problemanya. Lihat
saja gedung yang sudah hampir jadi dekat kampung Cina,
kalau saya ngak salah, diruntuhkan, karena
permasalahan harta pusaka tinggi tadi, saya tanya sama
orang disekitar atau tetangga disana, kenapa
diruntuhkan? Jawabnya: " Karena ada datuk-datuk yang
tak setuju..."
> Diakui bahwa karena pusako tinggi inilah salah satu
> kunci penyebab
> mengapa kita enggan untuk menetrapkan Syariat Islam
> di Minangkabau.
> Namun ada suatu bukti bahwa Mahkamah Agung dapat
> mengabulkan dan
> mengembalikan pusako tinggi kepada Anak, ketika ayah
> dan keturunannya
> yang saparuik telah tiada, hal ini mengacu kepada
> Syariat Islam.
Alhamdulillah kalau begitu. Sekali lagi benar kata
saya, kalau harta pusaka tinggi selama ini berlawanan
dengan hukum Islam, tetapi jarang yang mau
mengakuinya, bahkan ocehan yang saya terima saat saya
menyampaikan ini. Saya bilang Adat Minang tentang
pusaka, kawin sesuku, dan adatadat lainnya tak sesuai
dengan Islam(tentu khusus dengan adat-adat yang saya
sampaikan saja, yang lainnya tentu tidaklah, masih ada
yang sesuai dengan hukum islam koq), wah...macam-macam
yang saya terima, yah saya sabar dan biasa aja, bahkan
gara-gara diskusi dan permasalahan ini menjadikan
timbul ide briliant untuk pribadi saya,saya jadi ingin
menulis tentang ini, dan selama ini saya hanya meminta
kejelasan dalil syariatnya, karena ABSSBK. kalau tidak
karena slogan itu, sungguh, saya ngak minta dalilnya.
> Kalau nenek moyang kita pakai membuat sistem pusako
> tinggi kenapa kita
> tidak bisa merubah ke sistem yang lebih baik dan
> Islami.
> Demikian tulisan saya buat, atas keslahan dan
> kejanggalannya saya
> mohon maaf dan kepada Allah SWT saya mohon ampun,
BENAR, Lihatlah Islam masa sebelum turun ayat warisan.
Harta jatuh pada lelaki saja, baik itu harta pribadi
hasil pencarian mereka, harta perang mereka, harta
nenek moyang mereka, mereka bagikan khusus untuk kaum
lelaki saja, kenapa kita tak merubah sesuai dengan
syariat ISLAM? Bukankah Rasulullah menjadi tuntutan
kita, dan bukankah jadi pegangan kita apa-apa yang
ditinggalkan oleh beliau, dan bukankah keridhaan Allah
saja yang kita cintai. BUKANKAH Allah berfirman: "
Katakanlah wahai Muhammad, jika kamu mencintai aku,
maka ikutilah aku, Allah akan mencintai kamu, dan
mengampuni kesalahan kamu, dan Allah maha pengampun".
Apakah kita tidak ingin termasuk golongan yang
selamat. Ngak ada diantara kita yang mau masuk
golongan yang 72 itu, Ngak ada siapapun yang mau masuk
neraka, dan golongan yang selamat hanya berpatokan
pada apa yang disampaikan oleh Allah dan rasulnya
serta pemahaman salafusshalih, ngak lebih dari itu.
Saya aja secara pribadi, adalah manusia yang banyak
kekurangan, banyak kekhilafan, tetapi selalu berusaha
untuk kesana, kalau ada orang yang menyampaikan hadits
lebih kuat dari hadits yang saya sampaikan, atau saya
ngak berdalil, dia berdalil, terusterang, saya
mengikuti yang berdalil itu juga koq, meski saya ajak
diskusi sana sini dulu untuk mengorek ilmu yang ada
padanya. Sebab ciri-ciri dari sifat Ahlussunnah
waljamaah dengan pemahaman salafusshalih adalah
melihat kepada ayat qat'i, melihat ayat atau hadits
secara lahirnya, (Ayat-ayat warisan sangat jelas)
Juga saya akan teguh memegang pendapat saya, sepanjang
saya berdalil, dia ngak berdalil, karena saya ngak mau
masuk golongan yang 72, masuk neraka itu.Saya mau
masuk surga, saya rasa semua yang ada disini pasti
ingin masuk surga . Tetapi apakah segampang itu?
Tidak, banyak lika-liku, lukanya, banyak ujiannya. Dan
orang yang berhasil adalah orang yang lulus dari ujian
berat tersebut.
Semakin besar tingkat ilmu seseorang, semakin sarjana
seseorang,maka tingkat ujian yang diberikan Allah
kepadanya juga akan semakin tinggi. Apakah itu tingkat
keimanannya, tingkat ujiannya dalam menegakkan kalimah
illahi, ataupun cobaan yang menimpanya.Betapa Allah
memberikan derajat ulul azmi pada beberapa orang nabi,
itu semua karena kesabaran mereka dalam berdakwah.
Dan saya ingin mencapai jalan-jalan semacam itu, itu
sebabnya, ejekan, cacian makian, bahkan pujian, cobaan
atau apapun yang saya hadapi, alhamdulillah saya
menyikapinya dengan biasa saja, tenang aja, dan
serahkan pada Allah Subhanahu Wata'ala, saya berdakwah
hanya ingin dicintai oleh Allah, betapa indahnya hidup
dengan kecintaan Allah, melebihi dari kesenangan
apapun didunia ini.
Demikian, saya akhiri kalam saya dengan permohonan
maaf, kalau ada yang salah dari kata-kata saya,
sekarang terserah masing-masing kita, jalan mana yang
akan kita tempuh, jalan yang berdalillkah, atau tidak,
jalan yang ada tuntunannya dalam AlQuran sunnahkah,
atau tidak, jalan yang sudah ditentukan oleh Allahkah
atau tidak, tetapi sekali lagi, setiap perkataan kita,
perbuatan kita, bahkan ketetapan kita dan dukungan
kitapun semua akan dipertanggungjawabkan kelak
diakhirat sana.
Karena bukan dosa yang hanya peminum khamar saja
tetapi yang menyediakan, membawa, menanam dan yang
berhubungan dengan itu juga kena dosa getahnya.Segala
sesuatu didunia ini akan dipertanggungjawabkan kelak
dihadapan ALLAH ta'ala. Bukan yang menanyai kita ortu,
kaum, presiden, datuk, tetapi Allah yang bertanya
langsung pada kita. Sanggupkah kita menghadapi
pengadilan Allah ta'ala kelak dengan modal seadanya,
atau bahkan kurang, syukur kurang malah berhutang,
saking banyaknya dosa yang kita pikul, karena apa,
sebagaimana keluhan orang-orang ahli neraka ketika
ditanya Allah. "BUKANKAH telah datang kepada kamu
petunjuk para Rasul kami, Sudah ya Rabb, tetapi kami
mengindahkannya".Alias tak mengikutinya, kami hanya
mengikuti hawa nafsu kami, nenek-nenek moyang kami,
sementara nenek moyang kalian itu, jangankan untuk
membela keturunannya, dirinya sendiri susah
diperjuangkannya.
Wassalamu'alaikum. Rahima.Cairo 10 Pebruari 2008
>
> Wassalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
>
> Mybagindochaniago, Visit Musi 2008
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
Nak sato lo ambo snek, hah. Nan acok tajadi adolah sabagian urang nan cadiak
pandai dalam agamo basikareh manyalahan urang lain nan manyandaan argumennyo
ka adaik kalau dirasonyo batantangan jo konsep2 Quran dan Hadits atau sumber
hukum Islam lainnyo. Pasti iko ndak kan bisa batamu doh, dek perbedaan latar
belakang. Konsep Islam 100% indak mengenal sajuta adaik budaya banso lain di
dunia lua jazirah Arab sabab Islam kan lahia di Arab.
Jadi di sikolah suliknyo managakan ABSSBK ko, kok pakar Islam bakandak
sagalo konsep adaik harus dibuang kalau balawanan jo konsep sumber hukum
Islam. Rasonyo ndak mungkin basikareh takah tu. Paralu dipilah-pilah, nama
nan batua2 konsep dasar nan bisa mambateh biliak masuak dan kalua Islam.
Manuruik ambo nan bodoh dalam hal iko ko ha, konsep harato pusako tinggi nan
mawariskan harato dari dan ka padusi dari fihak ibu indak ka mambuek
praktisinyo kapia bagai doh.
Kok iyo laluan, kok ukan tukai.
Salam,
mak Sati (70+11+8)
Tabiang
----- Original Message -----
From: "hambociek" <hamb...@yahoo.com>
To: <Rant...@googlegroups.com>
mak Sati (L. 70+11+8)
Tabiang
Kan sulik maimbau apo ka Bagindo kan?
Jadi sagalo rang RN, apo bareknyo manulihan umua sasudah namo tandotangan,
dek sagalo awak lah maklum, maimbau urang badasarkan "Kato Nan Ampek" dan
umua adolah kriteria pokok nan dipagunokan untuak mamiliah Kato Nan Ampek
ko.
mak Sati (L. 70+11+8)
Tabiang
>
> AWW bundo. Bundo mano mungkin urang indak baradaik
> mampu mamahami tali kakarabatan sasuku. Indak pulo
> punyo kamamptan untuak manggunokan matematika. Dari
> pado buang energi badebat, rancak di pabanyak
> baibadah. Wass. Hanifah
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh.
Innaalillahiwainaailaihiraajiuun.
Kenapa yah susah sekali mengucapkan salam dengan
Assalamu'alaikum, tetapi masih juga memakai
AWW...Wass.. Padahal sudah dijelaskan oleh banyak
pihak akan hal ini yang berlandaskan argumen yang
kuat.
Saya teringat firman Allah ta'ala : " Wahai
orang-orang beriman, janganlah suatu kaum memperolok
akan kaum yang lain, juga perempuan akan perempuan
lain,bisa jadi orang yang kaum perolokkan itu jauh
lebih baik dari yang memperolokkan".
Wassalamu'alaikum. Rahima
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
| Mak Sati, Usul Mak Sati ko sangaik konkrit, dan ambo dukuang panuah. Hanyo karano ambo bukan pakar adat dan bukan pulo pakar agamo -- tapi hanyo sakadar urang nan risau sajo taradok indak jalehnyo baa caro malaksanakan ABS SBK ko -- mako ambo cari para sanak kito nan labiah ahli. [Minaik pribadi ambo sarato mato kuliah nan ambo paliharo di S2 UGM adolah Etnisitas dan Integrasi Nasional]. Syukur Alhamdullillah, baik dalam Semiloka Hak Masyarakat Hukum Adat Minangkabau di Unand Padang tanggal 19-21 Juni 2007, dalam Sarasehan Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta tanggal 10 Desember 2007, dan paliang akhir dalam Seminar Perang Paderi di gedung Arsip Nasional Jakarta tanggal 22 Januari 2008 alah nampak dan alah basadio babarapo tanago pakar nan siap manyingsiangkan langan baju. Izinkan ambo manyabuik baliak namo-namo baliau nan alah basadio, yaitu Ibu Dra Adriyetti Amir SU, Dr Gusti Asnan, Ilhamdi Taufik, SH., MH, Bachtiar Abna SH, MH, Kurnia Warman, SH. MH. Tantu saluruah baliau-baliau ko dikoordinasikan dek pak Rektor Unand, Prof Dr.Ir Musliar Kasim. [Ambo juo manyarankan Angku Azmi Dt Bagindo -- nan rajin mananggangapi masalah ABS ~SBK ko dalam RN-- untuak diikutkan]. Saparati kito katahui, dalam partamuan panguruih Gebu Minang jo pak Gubernur, Ketua DPRD Propinsi, dan Sekdaprov di Jakarta baru-baru ko, baliau-baliau bukan sajo satuju, tapi juo mandukuang panuah disusunnyo Kompilasi Hukum ABS SBK ko. Mungkin ado rancaknyo kalau di Ranah ado juo babarapo tanago pamaduli nan taruih manaruih mandorong kagiatan ko labiah lanjuik, sahinggo dalam wakatu paliang lamo duo tahun alah ada draft paratamo, nan kudian bisa disamparonokan labiah lanjuik. Adapun sacaro teknis, ado duo langkah nan bisa kito ambiak. Paratamo: himpun dulu apo sajo masalah nan ka dimasuakkan dalam Kompilasi Hukum ABS SBK tu. Di DPR RI, himpunan masalah ko dinamokan 'Daftar Inventarisasi Masalah' atau 'DIM'. Nampak dek ambo, nan agak seru dibahas dalam RN salamo ko adolah masalah harato pusako. Dalam taraf ko,pusek paratian adolah pado judul topik, alun masuak ka materi. Kaduo : sagalo saran rumusan nan sasuai jo ABS SBK ditampuang dulu, indak ado nan ditulak, tapi dilatakkan dalam 'bracket'. Sagalo pandapek, dari nan paliang kareh sampai nan paliang lunak, dicatat, baru kudian dikubak ciek-ciek. Mano-mano nan alah dimufakaiki, dikaluakan dari 'bracket'-nyo. P.S: kalau memang paralu, tapi hanyo sakadar contoh, dan untuak pamanciang sajo, dan kito latakkan dalam 'bracket', ambo cubo malah marumuskan agak duo tigo. Ambo inok-inokkan malah dulu, mak Sati. Wassalam, Saafroedin Bahar --- On Sat, 2/9/08, Sjamsir Alam <es...@telkom.net> wrote: |
From: Sjamsir Alam <es...@telkom.net> |
Ambo raso-raso (rosok-rosok) lo go ah, mungkin ambo manyonsang
aruih. Matrilineal indak ka mangapiakan Urang Minangkabau doh.
Bahkan subaliakno, dalam konsep Matrilneal ko lah Urang Minangkabau
tampakno labiah salangkah labiah maju mandahulukan mamuliakan Kaum
Ibu, manganggap Sarugo di Bawah Tapak Kaki Bundo.
Bapahalo malahan, karano Mamuliakan Bundo ko malah manjalankan
Sunnah. Takana lo di ambo saketek, kalau ndak salah, ado tigo kali
Rasulullah ditanyo manganai Adab Anak ka Urang Tuo, sia nan harus
awak cintoi. Jawab Baliau, tigo kali ka tigo tanyo tu, Bundo, Bundo,
Bundo!
Urang nan batanyo manyasakkan pulo salangkah lai, sudah Bundo sia
lai Ya Rasullullah? Ayah!
Salam,
Nyiak Sunguik
-- Sjamsir Sjarif
"Kenapa yah susah sekali mengucapkan salam dengan Assalamu'alaikum, tetapi
masih juga memakai AWW...Wass.. "
Jawabnyo cuma masalah praktis dalam manulih, ndak labiah ndak kurang. Jadi,
manuruik ambo, sapanjang mukasuiknyo samo dipahami dek nan manulih jo nan
mambaco dalam baimel ria ko, ndak paralu pulo dipersoalkan.
Kito harus ingek, bahwa tiok urang ingin nak capek. Malah banyak posting nan
manabrak kaidah penulisan baku dan sangat banyak tulisan asal jadi. Kadang2
bakarunyuik kaniang awak mamahaminyo dek baitu banyak kasalahan ketik dan
singkatan2 nan nyo buek surang. Apo lai dalam mangirim dan manarimo sms,
sakik kapalo awak mambaconyo.
mak Sati (70+11+8)
Tabiang
----- Original Message -----
From: "Rahima" <rahim...@yahoo.com>
To: <Rant...@googlegroups.com>
Sent: Sunday, February 10, 2008 7:49 AM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Balasan: [R@ntau-Net] Re: Sia nan paling
berkepentingan jo ABSSBK
>
>
Mengenai sistem matrilineal dalam Minang, benar
seperti kata Mak Ngah, tidakkan mengkafirkan orang
Minang bagai doh. Bahkan Islam sangat memuliakan
perempuan ketimbang lelaki, tetapi sellau dalam
konteks yang benar.Tidak ada rasanya bangsa lain yang
memuliakan perempuan selain di Minangkabau ini.
Hanya saja, saya khawatir, dan kekhawatiran itu bukan
ngak beralasan, sebab saya menijaunya dari sikap
Minangkabau terhadap harta pusaka tinggi, sikap kita
seharusnya jangan semacam Kaum yahudi, atau Nasrani
yang berlebih-lebihan terhadap agamanya.
Sikap kita hendaknya jangan sampai semacam kaum
Jahiliyyah yang memberikan semua hartanya pada lelaki.
Sementara kita adat di Minang ini, harta pusaka tinggi
jatuh pada garis keturunan pihak ibu saja, apa bedanya
kita dengan kaum Jahiliyyah sebelum Islam datang,
kalau begitu dari sisi substansinya, meski garisnya
saja yang lain, jahiliyah garis lelaki saja, kita,
garis Ibu saja.
Tidak ada hukum waris yang jauh lebih baik, lebih
adil,lebih memandang jauh kebelakang selain hukum
waris dalam Islam, yang telah ditetapkan oleh Allah
Subhanahu Wata'ala.
Soal bagaimana kaum Minang memuliakan perempuan dari
sisi kaum lelaki bisa mengalah, dan ini saya lihat
berdampak pada baiknya kaum lelaki, (tetapi setiap ada
dampak positif, tentu ada pula dampak negatifnya, baik
terhadap kaum lelaki, ataupun perempuan itu sendiri).
Saya selama ini cukup mengenal banyak kaum lelaki
Minang, luar biasa baiknya(mungkin ini juga penyebab
saya memilih menikah dengan lelaki Minang, bagaimana
cara penghormatan terhadap istri, pengalah, sabar,
tanggungjawab yang tinggi, dan segala macamnya, dan
itu bukan satu dua lelaki yang saya kenal
dekat,sampai-sampai saya berfikir, apakah ini dampak
positif dari sistem Matrilinial tersebut? makanya
dalam masalah ini, saya cukup mendukung.
Yang saya tidak dukung adalah yang saya lihat
bertentangan dengan ajaran islam yang telah
jelas-jelas ada ketentuannya dari Allah dan RasulNya.
lantas, okelah, kalau memang sistem kita ini tidak
menjadikan orang Minang sampai kafir, bisa bahaya
kalau kita katakan kafir, Allah malah marah besar
mengatakan seseorang kafir, apalagi suatu kaum tanpa
keterangan dari Allah ta'ala, atau rasulNya.Tetapi
bukankah Allah menyuruh kita hambaNya untuk masuk
dalam Islam secara kaffah dalam firmanNya:" Wahai
orang-orang beriman, masuklah kamu dalam agama islam
secara keseluruhan, dan janganlah kamu sampai mati
kecuali kamu dalam keadaan Islam".
Jangan sampai pula kita sebagaimana yang digambarkan
Allah dalam firmanNya:" Apakah kamu mempercayai
sebahagian kitab, kemudian mengingkari sebahagian
lainnya, lantas apakah balasan orang yang berbuat
semacam itu, selain kehinaan didunia, dan kelak dihari
kiamat akan dikembalikan kepada azab yang sangat
pedih".
Saya sangat bersyukur sekali terhadap tanggapan dari
sanak Bagindo, bahwa pada hakikatnya mengakui secara
hati nurani, bahwa adat Minang, masalah harta pusaka
tinggi yang jatuh pada garis keturunan ibu, diakui
dari dalam hati nurani yang terdalam, tidak sesuai
dengan hukum Islam. Alhamdulillah sekali. pengakuan
itu sangat perlu, walau yah..mungkin masih merasa
berat untuk mengakuinya secara terang-terangan, atau
bahkan ada juga yang mungkin merasa gengsi, atau
apalah namanya.Yang pentingkan apa yang ada didalam
hati dulu, yang diluar hati bisa menyusul belakangan
meskipun lambat laun.
Wassalamu'alaikum. Rahima.
--- hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote:
>
> Mak Sati,
>
> Ambo raso-raso (rosok-rosok) lo go ah, mungkin ambo
> manyonsang
> aruih. Matrilineal indak ka mangapiakan Urang
> Minangkabau doh.
> Bahkan subaliakno, dalam konsep Matrilneal ko lah
> Urang Minangkabau
> tampakno labiah salangkah labiah maju mandahulukan
> mamuliakan Kaum
> Ibu, manganggap Sarugo di Bawah Tapak Kaki Bundo.
>
Kan iko nan marisau di ambo. Sabagian awak di palanta ko indak mancari nan
akomodatif doh, tapi bapandapek sistem matrilinial indak sasuai jo agamo
Islam nan patrilinial. Kok sacaro ekstrim iko dijadikan pedoman, sagalo nan
indak sasuai jo konsep asli Islam (nan tantu dipangaruahi dek budaya Arab
zaman nabi saisuak,) indak sah, akibaiknyo sagalo rang Minang kan ndak
mungkin ba agamo Islam. Kan jadinyo kito musti mamiliah: Kok nak baagamo
Islam baranti jadi urang Minang, kok nak tatap jadi urang Minang, baranti ba
agamo Islam.
Runyam, ndak?
Nah, pendahulu awak lah mancubo bantuak nan akomodatif. Itu lah nyo ABS SBK.
mak Sati (70+11+8)
Tabiang
----- Original Message -----
From: "hambociek" <hamb...@yahoo.com>
To: <Rant...@googlegroups.com>
Bahkan ado kabiasaan manulih pendek "Ass" untuak mangucapkan salam
di muko postiang. Walaupun iko tampaknyo lah kabiasaan umum, banyak
urang Indonesia nan manulih pendek cando itu, namun dahulu lah panah
rasonyo ambo ingekkan di Lapau ko nan bahaso postiang awak tabukak
untuak urang-urang di Lua Lapau. Bagi urang nan babahaso Inggirih,
mancaliak kato "Ass" tu pasti malimbua darahnyo, atau bakarunyik
kanyiangnyo, atau galak nabi sajo saroman Nyit Sungut.
Mungkin banyak awak nan indak tahu, "Ass" itu dalam Caro Inggirih
aratinyo "Lubang Dubur"...
Bagi Urang Malaysia nan lah lamo mamakai bahaso Inggirih dari pado
Urang Indonesia, mareka manyinkgekkan "Akum" dalam salam sms mareka.
Salam,
--Nyit Sungut
75 jo th Islam, 73 jo th Gregori
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Sjamsir Alam" <esja@...> wrote:
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
Nyiak,
Kan iko nan marisau di ambo. Sabagian awak di palanta ko indak mancari nan
akomodatif doh, tapi bapandapek sistem matrilinial indak sasuai jo agamo
Islam nan patrilinial. Kok sacaro ekstrim iko dijadikan pedoman, sagalo nan
indak sasuai jo konsep asli Islam (nan tantu dipangaruahi dek budaya Arab
zaman nabi saisuak,) indak sah, akibaiknyo sagalo rang Minang kan ndak
mungkin ba agamo Islam. Kan jadinyo kito musti mamiliah: Kok nak baagamo
Islam baranti jadi urang Minang, kok nak tatap jadi urang Minang, baranti ba
agamo Islam.
Runyam, ndak?
Nah, pendahulu awak lah mancubo bantuak nan akomodatif. Itu lah nyo ABS SBK.
mak Sati (70+11+8)
Tabiang
--
Z Chaniago - Palai Rinuak
Sukseskan Peringatan Enam Dasawarsa SMPN 1 Maninjau Ikut Membangun Pendidikan di Indonesia (1948 - 2008), 3- 5 Oktober 2008
" Pertama SMPN di Kecamatan di Indonesia "
Padohal kabanyakan Urang Minangkabau mungkin labiah tunggang tunngik
sumbayang wajib, sunat, batahajud tangah malam bagai, rasono indak
ka kalah doh ibadaikno dari kabanyakan Urang Arab tu.
Ambo raso, Tuhan Allah Subhana huwa ta'ala indak ka sajaek tu bana
doh ka mahampokkan ummatNyo Urang Minangkabau nan matrilineal ko ka
dalam Api Garang tu. Kan Baliau juo nan manciptakan Urang Awak
saroman itu.
Jadi, fasabrun jamiil se lah awak mambaruik dado, mahadoki nan
ekstrim-ekstrim tu, karano bukan mereka nan manantukan, tapi Allah
Subhana huwa ta'ala:
"Sasungguahno kapado kami mareka 'kan kumbali,
Kami pulolah nan ka mamparetongkan nasib mareka."
"Inna ilainaa iyaabahum,
Tsumma inna 'alainaa hisaabahum."
Salam,
--Nyiak Sunguik
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Sjamsir Alam" <esja@...> wrote:
>
Assalamualaikum w.w. Mak Sati dan Ananda Hanifah, Tarimo kasih ateh dorongan Mak Sati. Sambia ambo mainok-inokan apo nan ka ambo tulih sabagai contoh, kalau alah ado bahan dari para sanak nan bisa kito kumpuakan, ambo tampuang dulu, untuak kudian ambo taruihkan kapado para pakarnyo. Labiah rancak lai kalau langsuang sajo kapado baliau-baliau, nan alamat emailnyo ado tacantum di ateh email ko.. Tolong dikalompok saran sanak dalam duo onggok gadang: 1. "Daftar Inventarisasi Masalah" (DIM), misalnyo: a. Hukum Kekerabatan: soal kawin mawin, dan nan sarupo itu. b. Hukum P[K]ewarisan: soal sia nan berhak di harato pusako atau harato pancaharian, dan nan sarupo itu. 2. Gagasan rumusan Hukum ABS SBK, buek dalam tando "[......]" sabagai tando bahaso rumusan tu baru gagasan, akan diparambuakkan kudian, alun final. Sabagai contoh: [ a. "Harta pusaka tinggi tidak dibagikan kepada warga buah paruik atau suku".] [ b. "Setelah bermusyawarah dengan seluruh warga buah paruik atau suku, penghulu suku menentukan hak pemanfaatan harta pusaka tinggi kepada warga buah paruik atau suku yang paling pantas memanfaatkannya. |
Assalamualaikum w.w. Mak Sati dan Ananda Hanifah,
|
Tarimo kasih ateh dorongan Mak Sati. Ambo satuju saratuih persen jo pandapek Mak Sati. Memang sudah saharuihnyo kito sarahkan ka nan ahli. Sambia ambo mainok-inokkan apo nan ka ambo tulih sakadar sabagai contoh, kalau alah ado bahan dari para sanak nan bisa kito kumpuakan, ambo cubo manampuang dulu, untuak kudian ambo taruihkan kapado para pakarnyo. Labiah rancak lai kalau saran tu langsuang sajo dikirimkan kapado baliau-baliau, nan alamat emailnyo ado tacantum di ateh email ko.
Tolong dikalompok saran sanak sa palanta dalam duo onggok gadang:
Kalompok 1. "Daftar Inventarisasi Masalah" (DIM), pendek-pendek sajo,misalnyo: a. Soal kawin mawin, dan nan sarupo itu. b. Soal sia nan berhak di harato pusako atau harato pancaharian, dan nan sarupo itu. c. Soal hutang piutang, dan nan s c. ..................
Kalompok 2. Gagasan awal rumusan Hukum ABS SBK nan sanak sarankan, buek dalam tando ["......"] sabagai tando bahaso rumusan tu baru gagasan, akan diparambuakkan kudian, alun final. Rancaknyo pakai bahaso Indonesia, supayo nanti dapek dimangarati dek sagalo pihak nan baminat, tamasuak urang sumando nan indak urang awak.Jan lupo, kalau kompilasi ko alah jadi, bisa dipakai dek para hakim di pengadilan negeri dalam mamutuih sengketa adat. Sabagai contoh:
[ a. "Harta pusaka tinggi tidak diwariskan secara perseorangan kepada warga buah paruik atau suku".] |
|
[ b. "Setelah bermusyawarah dengan seluruh warga buah paruik atau suku, penghulu suku menentukan hak pemanfaatan harta pusaka tinggi kepada warga buah paruik |
atau suku yang paling pantas memanfaatkannya."] [ c. " Kepada warga buah paruik atau suku yang mendapatkan hak untuk memanfaatkan harta pusaka tinggi diberikan sepucuk surat keterangan, yang memuat keterangan pribadi serta peta lokasi harta pusaka tinggi yang bersangkutan"]
Untuak Ananda Hanifah, Ananda batua sakali bahaso hukum adat tu di nagari kito surang-indak batulihkan do. Hal itu wajar karano di nagari kito surang-surang tu kito tahu jo tiok urang dan basuo tiok hari. Hukum adat tu kito katahui malalui pagaulan tiok hari sajo. Namun dek karano kito alah bakambang biak, salain ado nan masih tingga di Ranah juo banyak nan di Rantau -- bahkan ado nan alah bak 'marantau Cino' -- gadang manfaatnyo kalau hukum adat ko kito tulihkan, sahinggo bukan sajo bisa dibaco tapi juo bisa diaajakan dari generasi ka generasi. Apolagi baitu banyak penghulu baru nan alun tantu alah mahir tantang hukum adat ko, tautamo kalau dikaikkan jo ABS SBK nan indak mudah dicari kasapakatan tantang rumusannyo nan dapek ditarimo dek sagalo fihak, khususnyo kalau takaik jo masalah hukum kekerabatan dan hukum waris. Salain itu dalam RN ko sajo lumayan banyak nan mudo-mudo nan manyatokan bahwa baliau-baliau indak mangarati bana apo koh ABS SBK tu. [Jan kan nan mudo, ambo nan tuo ko sajo acok tacangang-cangang mancaliak kanyataan iduik kito urang Minang, sambia bapikia-pikia apo iyo itu masih tamasuak ABS SBK atau indak. Kan itu nan ambo bukukan ampek tahun nan lalu]. Nan paralu kito masuakkan ka dalam Kompilasi Hukum ABS SBK tu tantu nan samo kaidahnyo di saluruah Minangkabau. Tantang adat nan bana-bana salingka nagari, sarupo adaik 'bajapuik' di Piaman, bisa juo kito tampuang jo manjalehkan bahaso norma itu hanyo ado di Piaman sajo. Ambo picayo bana bahaso kalau Kompilasi Hukum ABS SBK ko alah ado -- bahkan walau masih dalam bantuak draft/konsep awal dan masih kito padebatkan pun -- lambek laun kito akan mulai maraso sabagai 'urang Minangkabau', indak lai sakadar kumpulan 'urang Selayo', 'urang Sulik Aia', 'urang Piaman', 'urang Pikumbuah', atau 'urang Kiktenggi'. Wallahualam bissawab. |
|
Wassalam, |
Assalamualaikum w.w. Mak Sati dan Ananda Hanifah,
Tarimo kasih ateh dorongan Mak Sati. Ambo satuju saratuih persen jo pandapek Mak Sati. Memang sudah saharuihnyo kito sarahkan ka nan ahli. Sambia ambo mainok-inokkan apo nan ka ambo tulih sakadar sabagai contoh, kalau alah ado bahan dari para sanak nan bisa kito kumpuakan, ambo cubo manampuang dulu, untuak kudian ambo taruihkan kapado para pakarnyo. Labiah rancak lai kalau saran tu langsuang sajo dikirimkan kapado baliau-baliau, nan alamat emailnyo ado tacantum di ateh email ko.
Tolong dikalompok saran sanak sa palanta dalam duo onggok gadang:
|
Kalompok 1. "Daftar Inventarisasi Masalah" (DIM), pendek-pendek dan umum sajo,misalnyo: a. Soal kawin mawin b. Soal sia nan berhak di harato pusako atau harato pancaharian. c. Soal hutang piutang. d. [dan lain-lain] .................. |
Assalamualaykum Warahmatullahiwabarokatuh...
MIFTSabri
-----Original Message-----
From: "Sjamsir Alam"
Date: Sun, 10 Feb 2008 14:14:38
To:
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
Assalamualaykum Warahmatullahiwabarokatuh...
MIFTSabri
-----Original Message-----
From: "Sjamsir Alam"
Date: Sun, 10 Feb 2008 14:14:38
To:
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
Try it now.
ambo takana tulisan Muhammad Husain Haekal pengarang buku "Sejarah Hidup
Muhammad".
inyo di serang urang2: manga manulihkan namo Muhammad indak
mamakai saw.
jaweknyo(intinyo): waden cukuik manyabuik ash-shalat/saw sekali sajo.
(baca ulasan baliau di "pengantar cetakan kedua, hal xcix)
ah, disiko ambo caliek mayoritas palanta ko, baitu juo.
tiok mangecek, tiok mangucapkan salam.
salah? manuruik himaik ambo, indak.
batue? alun tantu. pindapaiak ambo sbb:
kalau konsekuen mangucapkan salam, iyo panuah2 sajo,
kalau indak, kan indak lo ba a.(manilik ka alasan diateh)
kalau alasan, mahemat, aponyo nan dihemat?
tulisan? pulsa? aponyo?
lha, nan tulisan lain dipanuahi, dipajaleh, panjang2 mahota,
lantas AWW ko doa atau CEWEK atau apo ko? hahahahahaa (iko galak ko mah
Suryadi, bukan singkatan pulo)
salam dari ambo di toronto
boes
> ______________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile. Try it now.
> ______________________________________________________
kan contoh dari Inyiak Sunguik awak, "ASS", kabatulan
"AWW" dari Rang Kayo Hanifah . dan mungkin
macam2 dari nan lain indak ambo tulih...jadi jan
bangih/berang yo Rang Kayo Hanifah ka ambo.
nan ambo sigi, cuma alasan2 nan manulihkan
kato doa ba singke'i.
ambo yakin, awak disiko elok2 cari ba dunsanak,
bukti katiko basuo di darek, galak se nan labiah
kareh, ndak baitu?
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ