MENGAPA SAYA SUKA MENULIS TENTANG BOLA
By : Jepe
Mengapa saya suka dan tertarik menulis seputar bola, ini berawal dari catatan sepak bola Sindhunata yang saya baca di kolom khusus harian Kompas sekitar tahun 1990. Pada bulan Juni 2002 saat berlansung kejuaraan sepak bola antar Negara-negara Eropa saya membeli disebuah buku terkenal di Padang kumpulan catatan-catatan sepak bola Sindhunata yang ditulis di kompas dan dibukukan dalam Triloginya yang berjudul Bola di Balik Bulan (buku pertama), “Air Mata Bola (buku kedua) dan “Bola-bola Nasib (buku ketiga).
Jujur gaya penulisan bola Sindhunata yang lebih kepada sebuah karya sastra dari pada sebuah laporan jurnalis olah raga menjadi inspirasi saya untuk mencoba menulis seputar sepak bola dan melihatnya dari sebuah keindahan (sastra). Dari berbagai buku dan cerita seputar sepak bola yang saya baca., tulisan Sindhunata adalah sebuah karya dari sudut sastra yang paling indah saya baca. Begitu kaya tulisan atau catatan sepak bola Sindhunata baik dari segi philosopi, keindahan dalam cara-cara penulisan sebuah karya sastra sebagaimana lazimnya novel-novel atau cerpen yang bercerita seputar kehidupan.
Sindhunata berhasil memukau pembacanya dengan alur kisah dan cerita dari sebuah cabang olah raga yang paling digemari oleh umat manusia di dunia ini. Sebuah cabang olah raga lintas batas, agama, ras dan suku. Sebuah olah raga yang digemari oleh umat manusia tanpa mengenal status social, sebuah olah raga memakai bahasa Universal. Sindhunata dalam buku Triloginya berhasil mengungkapkan rekaman kekayaan, keindahan, keharuan dan kepesonaan sepak bola itu sendiri. Pemilihan kata-katanya dalam menulis sepakbola begitu indah dan menarik jika dilihat dari sudut sastra.
Kelebihan Sindhunata adalah kepiawaiannya dalam menghubungkan sepak bola dengan dunia luarnya. Ia bisa menulis sepak bola dalam hubungan dengan ekonomi atau krisis ekonomi, dengan politik, demokrasi dan reformasi. Ini semua memperlihatkan betapa luas bacaan dan pengetahuan diluar dunia sepak bola yang dipersiapkan oleh Sindhunata untuk menyajikan catatan sepak bola kepada pembacanya yang menyukai keindahan.Gaya penulisan Sindhunata berhasil mengangkat kejadian dan persoalan hidup dalam sepak bola dan menghubungkan keberbagai persoalan serta segala aspek kehidupan manusia “dalam sosoknya yang nyata, hidup, berdenyut, berdetak, berkeringat, berair mata, tersenyum bahagia, menangis sedih dan pengharapan”
Siapa Sindhunata?
Seorang Doctor filsafat tamatan Hochscule fur Philosophische Fakultat SJ Munchen Jerman, tahun 1986-1992. Karirnya berawal dari seorang Jurnalis yang bekerja sebagai wartawan Majalah Teruna terbitan PN Balai Pustaka Jakarta tahun 19974-1977 setelah menjadi pemimpin redaksi Majalah Basis Yogyakarta, Sindhunta yang dikenal juga sebagai Sastrawan itu lahir 12 Mei 1952 di Kota Batu, Jawa Timur kemudian ia menjadi wartawan di Harian Kompas Jakarta.Sindhunata juga menulis beberapa buku, novel dan karya sastra ilmiah. Itulah sedikit tentang figure Sindhunata yang menjadi “trend setter” saya dalam mencoba menulis bola bergaya sastra bukan sebuah reportase laporan berita-berita olah raga sepak bola sebagaimana dikolom-kolom olah raga di surat kabar atau tabloid olah raga.
Paling tidak lima tahun terakhir tidak ada lagi kolom khususnya di Harian Kompas seputar catatan sepak bola Sindhunata yang selalu saya tunggu kehadirannya.Tapi membaca Trilogi catatan sepak bola Sindhunata saya bisa melihat ada sisi-sisi lain diluar sepak bola itu sendiri yang ditulis begitu indah serta ada hal yang menarik jika dibahas lebih jauh lagi. Mungkin itu juga yang membuat sepak bola selalu menarik dan mempesona manusia seperti kata kolumnis bola Walter Lutz dalam kata pengantar buku Trilogi Sindhunata : Kendati perang, krisis, bencana, skandal permainan, suap menyuap perwasitan, pengkhiatan fair play, sepak bola tidak pernah lapuk dan mati, malahan senantiasa ada dan terus menghibur dunia, mungkin karena sepakbola bukan hanya telah menjadi olahraga rakyat tetapi juga hiburan umat manusia.
Nah salah satu umat manusia yang terhibur dengan segala hiruk pikuk sepak bola baik ketika dimainkan dilapangan hijau maupun diluar lapangan hijau itu adalah saya, dan saya ingin melihat sepakbola itu lebih jauh lagi dari berbagai aspek kehidupan serta menulisnya semaksimal mungkin dalam bahasa yang indah (bergaya sastra). Begitulah mengapa saya tertarik dan menggemari menulis bola sebagaimana tulisan Sindhunata.
Pekanbaru, 7 Mei 2009
Powered by Telkomsel BlackBerry®